Bertumbuh bersama dalam iman dan pengetahuan

“Karena apa yang dapat mereka ketahui tentang Allah nyata bagi mereka, sebab Allah telah menyatakannya kepada mereka. Sebab apa yang tidak nampak dari pada-Nya, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat nampak kepada pikiran dari karya-Nya sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih.” Roma 1: 19 – 20

Pernahkah anda mempertanyakan mengapa untuk satu hal yang sama ada banyak pendapat yang berbeda? Itulah karena manusia adalah makhluk yang istimewa! Dalam segi yang baik maupun yang buruk, manusia adalah makhluk yang unik. Manusia diciptakan sebagai gambar Allah dan karena itu mempunyai kemampuan yang berbeda dari makhluk-makhluk yang lain. Manusia memiliki pikiran, perasaan dan perhatian yang jauh lebih tinggi dari makhluk yang lain. Jika makhluk lain bergantung pada naluri, manusia menggunakan akal budinya untuk menilai keadaan dan orang di sekitarnya. Karena itu, tiap manusia bisa mempunyai pengertian dan perasaan yang berlainan terhadap hal yang sama.

Roma 1: 19-20 menunjukkan bahwa kepada semua manusia Tuhan sudah memberi pernyataan-Nya, dan karena itu tidak ada seorang pun yang bisa menolak kenyataan bahwa Tuhan itu ada. Mereka yang mencoba menolak adanya Tuhan dengan memakai berbagai dalih, adalah orang-orang yang dengan sengaja mengabaikan Tuhan dan karena itu harus bertanggung-jawab sepenuhnya atas keputusan mereka. Walaupun demikian, penyataan Tuhan itu bukan hanya melalui apa yang bisa dilihat mata manusia dan dipikirkan manusia secara umum, tetapi lebih bisa diterima melalui iman yang diberikan Tuhan kepada setiap orang percaya.

Bagaimana pula dengan pengertian umat percaya akan firman-Nya? Walaupun manusia mempunyai kemampuan intelegensi yang tinggi, ia tidak dapat mengenal Sang Pencipta. Bagaimanapun kita berusaha menyelami jalan pikiran Tuhan, tidaklah mungkin memahami-Nya jika Tuhan sendiri tidak menyatakan hal itu. Pengenalan akan Tuhan yang sudah ada pada zaman Perjanjian Lama, makin bertambah setelah Tuhan turun ke dunia dalam bentuk manusia Yesus Kristus. Memang, Yesus semasa tinggal di dunia sudah menggenapi apa yang disebut dalam Perjanjian Lama dan membuka hati dan pikiran banyak orang untuk memahami Perjanjian Baru dalam darah-Nya. Setelah Yesus naik ke surga, Roh Kudus diberikan kepada setiap orang yang percaya kepada Kristus agar mereka dapat terus belajar tentang apa yang dikehendaki Tuhan.

Roh Kudus tidak menghilangkan pribadi manusia, tetapi memperbaikinya. Karena itu jugalah, tiap anak Tuhan, baik yang baru maupun yang sudah lama, mempunyai sikap, pengertian dan hubungan yang berbeda terhadap Tuhan yang sama. Sekalipun berbeda dalam cara dan bentuk hubungan mereka akan Tuhan, setiap orang percaya adalah anak-anak-Nya. Kepada masing-masing telah dianugerahkan kasih karunia menurut ukuran pemberian Kristus (Efesus 4: 3-7).

Cara bekerja Roh Kudus dalam hidup anak-anak Tuhan tidaklah mematikan pola berpikir dan kehidupan mereka secara total dan drastis. Roh bekerja sesuai dengan keadaan manusia yang dihuni-Nya. Perubahan hidup manusia karena Roh Kudus terkadang cepat, tetapi bisa juga lambat tergantung pada sikap manusia (Efesus 4: 30). Karena itu, tingkat kedewasaan dalam iman tiap orang tidaklah sama.

Berapa lama anda sudah mengenal Tuhan? Apakah pengenalan itu sudah bertumbuh sejak anda menerima Dia? Apakah anda merasakan bahwa iman anda makin kuat sejak saat perjumpaan anda dengan Tuhan untuk pertama kalinya? Dapatkah anda merasakan adanya penyataan yang datang dari Tuhan melalui Roh Kudus setiap hari? Pada waktunya, semua orang percaya akan bisa mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Yesus, dan memperoleh kedewasaan penuh yang sesuai dengan kepenuhan Kristus (Efesus 4: 13-15). Tetapi perbedaan yang sekarang ada, bisa membuat komunikasi antar umat Tuhan terkadang sulit. Salah pengertian dan perbedaan yang sering terjadi, bisa juga menimbulkan pertikaian antar umat percaya.

Berbeda dengan penyataan Tuhan kepada dunia, hubungan umat Tuhan dan umat-Nya adalah hubungan yang khusus, yang seperti hubungan antara suami dan istri, mengalami pencerahan hari demi hari. Tuhan menyatakan diri-Nya, sifat-Nya, kehendak-Nya dan rencana-Nya kepada mereka yang beriman kepada-Nya. Jika iman adalah satu sisi dari sebuah mata uang, pernyataan Tuhan ada pada di sisi yang lain. Iman yang benar selalu bertumbuh bersama dengan pengertian dan pengetahuan tentang Tuhan. Iman tidak dapat bertumbuh dengan baik jika kita tidak mau mendengar suara-Nya.

Bagaimana kita dapat menerima pengertian tentang Tuhan agar dapat menumbuhkan iman kita? Ini hanya dapat terjadi dengan kemauan kita untuk menerima kebenaran-Nya. Tuhan selalu menunjukkan bimbingan dan kuasa-Nya dalam hidup setiap umat-Nya, tetapi tidak semua orang mau hidup untuk Dia. Mereka yang terlalu sibuk dengan kesibukan diri sendiri cenderung mengabaikan firman Tuhan dalam hidupnya. Karena itu, walaupun seseorang sudah mengenal Tuhan sejak lama, mungkin saja pengertian dan imannya tidak bertumbuh sebagaimana seharusnya.

Semakin lama kita hidup sebagai umat-Nya, seharusnya kita makin dapat mengenal kasih, kuasa, kebijaksanaan, kesabaran dan kesucian Tuhan. Dengan demikian, seharusnya hidup kita bisa berubah, makin lama makin sesuai dengan apa yang dikehendaki-Nya. Biarlah dengan makin dalamnya pengertian kita akan kebesaran Tuhan, kita bisa bertumbuh dalam kesatuan orang percaya. Dengan itu, iman kita juga tumbuh semakin kuat sehingga kita bisa menempuh tahun-tahun yang akan datang dengan keyakinan bahwa kasih-Nya akan senantiasa menyertai semua anak-anak-Nya.

“Akan tetapi kita tahu, bahwa Anak Allah telah datang dan telah mengaruniakan pengertian kepada kita, supaya kita mengenal Yang Benar; dan kita ada di dalam Yang Benar, di dalam Anak-Nya Yesus Kristus. Dia adalah Allah yang benar dan hidup yang kekal.” 1 Yohanes 5: 20

Hari Sabat dan hari Minggu

“Lalu kata Yesus kepada mereka: “Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat, jadi Anak Manusia adalah juga Tuhan atas hari Sabat.” Markus 2: 27-28

Hari Minggu, atau Sabtu untuk sebagian orang Kristen, adalah hari yang pentng, yang harus kita perhatikan dalam konteks yang benar – sekalipun bagi orang lain itu mungkin merupakan hari untuk beristirahat atau rileks saja. Hari Minggu bukan hari yang “kosong”, tetapi adalah hari yang “penuh”. Hari yang bukan berarti kosong dari segala kegiatan, tetapi hari yang diisi dengan kemauan untuk benar-benar bisa memperoleh ketenangan dalam berkomunikasi dengan Tuhan dan sesama.

Dalam Perjanjian Lama, perintah Tuhan untuk menguduskan hari Sabat diberikan kepada umat Israel pada saat Musa menerima dua loh batu yang berisi sepuluh hukum Tuhan.

“Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat” Keluaran 20: 8

Mengapa orang Israel harus mempunyai kemauan untuk memperoleh ketenangan dan istirahat? Karena jika tidak dengan kesadaran dan usaha yang benar, mereka tidak akan dapat beristirahat pada hari Sabat. Hari Sabat diciptakan Tuhan untuk manusia agar mereka dapat beristirahat dari kegiatan sehari-hari dan memperoleh kesegaran rohani dengan mendekati Tuhan yang adalah sumber kekuatan manusia.

Ayat pembukaan di atas menjelaskan bahwa hari Sabat sebenarnya bukan ditentukan sebagai hari untuk Tuhan. Tetapi, Tuhan memberikan hari Sabat kepada manusia karena mereka tidak dapat bekerja terus menerus tanpa memperoleh kesempatan untuk mendapat penyegaran dan kekuatan baru dari Sang Pencipta. Hari Sabat digunakan oleh orang Israel untuk berdoa dan memuji Tuhan. Tanpa kegiatan kerohanian itu, hidup manusia akan pelan-pelan menuju kearah kehancuran karena baik dalam jasmani maupun rohani mereka akan mengalami kelelahan.

Sesudah kebangkitan Kristus, orang Kristen mulai mengadakan kebaktian pada hari Minggu. Hari ini kemudian disahkan oleh kaisar Konstantin pada tahun 321 Masehi. Perlu dicatat bahwa hari Minggu bukanlah hari yang dipilih manusia untuk mengganti hari Sabtu, hari Sabat yang ditentukan Allah untuk bani Israel. Hari Minggu menjadi hari peringatan kebangkitan Kristus yang sudah membawa keselamatan bagi umat-Nya, yang datang dari segala bangsa. Hari untuk berbakti pada Tuhan itu sudah ada sejak munculnya orang – orang Kristen yang pertama (Kisah 20: 7).

Hari Minggu bukan berarti duduk di gereja untuk satu atau dua jam saja. Hari Minggu adalah hari dimana kita dalam ketenangan bisa berkomunikasi dengan Tuhan dan sesama manusia untuk memperkokoh iman dan menyegarkan hidup kita guna menghadapi minggu yang baru. Lebh dari itu, orang Kristen harus bisa mengingat kemurahan-Nya setiap hari, Tuhan yang sudah mengampuni dosa-dosa kita. Pada hari itu, umat Tuhan diingatkan untuk kembali memusatkan diri kepada Tuhan seperti seekor rusa yang haus, yang ingin meminum air sungai yang menyegarkan. Sebaliknya, hari Sabat seharusnya kita jalani setiap hari, dengan cara hidup yang sesuai dengan firman-Nya.

“Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah.” Mazmur 42: 1

Apakah Tuhan hanya mengasihi umat-Nya?

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Yohanes 3: 16

Pagi ini saya melihat film dokumenter tentang penginjilan yang dilakukan oleh Billy Graham, seorang penginjil abad ke 20 dari Amerika yang sangat terkenal. Dalam video itu Billy Graham menyatakan bahwa melalui ayat di atas kita bisa melihat bagaimanaTuhan mengasihi seisi dunia dan karena itu Ia ingin menyelamatkan siapa saja yang mau menjawab panggilan-Nya. Seperti Billy Graham, banyak orang Kristen yang memakai ayat itu sebagai landasan iman mereka. Melalui ayat di atas, kepercayaan mereka diperkuat karena adanya keyakinan bahwa:

  • Allah adalah mahakasih.
  • Allah mengasihi seluruh umat manusia.
  • Semua manusia sudah berdosa.
  • Keselamatan hanya dimungkinkan melalui anugerah Allah.
  • Allah sudah mengurbankan Yesus untuk menyelamatkan umat manusia.
  • Siapa saja yang percaya kepada Yesus akan selamat.

Walaupun begitu, dalam hati kita mungkin ada pertanyaan apakah kasih Allah adalah sama kepada semua orang. Bukankah dalam Perjanjian Lama (Maleakhi 1: 2 – 3) kita membaca bahwa Tuhan mengasihi keturunan Yakub lebih dari keturunan Esau? Apakah Tuhan pilih kasih?

Pertanyaan ini sering muncul dan tidak mudah dijawab, terutama jika kita melihat ada orang, suku atau bangsa yang nampaknya lebih kaya, lebih jaya atau lebih berbahagia daripada yang lain. Apakah penderitaan, bencana dan malapetaka yang terjadi pada orang-orang tertentu adalah tanda kebencian Tuhan?

Ayat Yohanes 3: 16 diatas menunjukkan bahwa Tuhan mengasihi seisi dunia tanpa membeda-bedakan manusia, baik suku bangsa, status sosial ekonomi ataupun apa saja. Tuhan Yesus datang ke dunia agar siapa saja yang percaya kepada-Nya akan diselamatkan. Dengan demikian, dalam hal keselamatan, semua manusia sudah menerima kasih yang sama.

“Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia.” Yohanes 3: 17

Selain itu, Tuhan dengan kasih-Nya juga memelihara seisi dunia ini sehingga segala sesuatu berjalan menurut rencana-Nya. Walaupun demikian, Tuhan tidak membuat seluruh umat manusia mengalami hal-hal yang sama selama hidup. Adanya perbedaan di dunia justru membuat manusia sadar akan adanya Tuhan yang mahakuasa. Alkitab jelas menunjukkan adanya bangsa Israel dan orang-orang pilihan Tuhan yang menerima perlakuan yang berbeda dari Tuhan. Mereka yang dipakai Tuhan untuk maksud dan rencana-Nya bisa mengalami hal-hal yang baik maupun yang buruk, sesuai dengan rencana-Nya. Perlakuan khusus yang dialami orang-orang tertentu terjadi karena Ia mempunyai rencana tertentu, bukan karena karena “keistimewaan” orang-orang itu. Rencana baik dari Tuhan bisa tercapai sekalipun ada manusia yang berusaha menggagalkannya.

Alkitab juga dengan jelas menyatakan bahwa kasih Tuhan kepada umat manusia dalam menghadapi perjuangan hidup adalah lebih besar kepada domba-domba-Nya daripada kepada orang-orang yang menolak Dia. Mereka yang mau menerima uluran tangan-Nya, diberi-Nya hak untuk memanggil “Bapa” dan kepada mereka diberi-Nya Roh Kudus yang menyertai mereka dalam setiap keadaan.

Pagi ini, jika kita bangun tidur dan bisa menghirup udara segar, biarlah kita bisa bersyukur bahwa Tuhan mencintai segala bangsa dan seluruh umat manusia tanpa perkecualian. Dengan itu, kita yang sudah menjadi umat-Nya juga terpanggil untuk menyatakan kasih Tuhan kepada mereka yang belum menerima Kristus. Kita yang sudah menerima perlakuan istimewa karena kasih Tuhan yang memberi kita keselamatan, mempunyai kewajiban untuk memancarkan kasih Tuhan itu kepada semua orang, agar mereka juga mau menjadi pengikut Tuhan seperti kita.

“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” Matius 5: 16

Batu sontohan yang berbahaya

“Karena itu janganlah kita saling menghakimi lagi! Tetapi lebih baik kamu menganut pandangan ini: Jangan kita membuat saudara kita jatuh atau tersandung!: Roma 14:13

Dalam kehidupan modern saat ini, di mana sulit bagi kita untuk mengucapkan satu-dua kata tanpa menyinggung seseorang, ayat di atas bisa ditafsirkan sebagai peringatan keras. Mungkin itu terasa sedikit ekstrem untuk pelanggaran yang mungkin berasal dari kata-kata atau perbuatan yang tidak disengaja atau disalahartikan. Tetapi, hal tuntut menuntut di pengadilan memang makin marak saja di seluruh dunia.

Dalam bahasa asli Perjanjian Baru, kata yang Yesus gunakan untuk “pelanggaran” adalah skandalon—kata Yunani yang merujuk pada pemicu, atau “tongkat penggantung umpan,” yang akan menyebabkan sebuah jebakan menutup. Dalam hal ini,“batu sandungan” adalah sesuatu yang menjegal atau merintangi orang lain untuk mempunyai hubungan baik dengan Allah. Di dalam Matius 18: 5-7, Yesus berkata: “Tetapi barangsiapa menyesatkan salah satu dari anak-anak kecil ini yang percaya kepada-Ku, lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya lalu ia ditenggelamkan ke dalam laut. Celakalah dunia dengan segala penyesatannya: memang penyesatan harus ada, tetapi celakalah orang yang mengadakannya.”

Apa yang diungkapkan Yesus menunjukkan sesuatu yang lebih jahat daripada “pelanggaran” seperti yang kita kenal sekarang. Yesus tidak perlu memperingatkan kita tentang risiko menghina perasaan seseorang. Dia memperingatkan tentang memasang jebakan, memikat dan menjerat korban yang tidak curiga, membawa “si kecil” menjauh dari kebenaran dan ke dalam kegelapan.

Menurut Yesus Kristus, siapa pun yang pergi membuat skandalon untuk umat Allah akan lebih baik ditenggelamkan di dasar laut. Paulus memperingatkan tentang pelayan iblis, yang menyamar sebagai pelayan-pelayan kebenaran. Kesudahan mereka akan setimpal dengan perbuatan mereka. (2 Korintus 11:15). Paulus menggunakan kata “tersandung” (yaitu skandalon) ketika dia menegur orang-orang percaya di Roma.

“Karena itu janganlah kita saling menghakimi lagi! Tetapi lebih baik kamu menganut pandangan ini: Jangan kita membuat saudara kita jatuh atau tersandung!” Roma 14: 13

Tidak ada keraguan bahwa sebagai orang Kristen, kita semua adalah satu tubuh di dalam Kristus, dan masing-masing adalah anggota satu sama lain” (Roma 12:5). Tidak ada manfaat bagi kita untuk membuat hidup lebih sulit bagi anggota tubuh yang lain, dan sebaliknya ada keuntungan dalam memperkuat dan mendukung mereka. Dalam hal ini, pertanyaannya adalah bagaimana kita menjaga agar tindakan kita tidak menjadi batu sandungan dan skandalon bagi rekan-rekan Kristen kita? Menghindari pelanggaran membutuhkan kesadaran.

Langkah pertama untuk tidak menjadi batu sandungan adalah kesadaran bahwa kita dan apa yang kita lakukan bisa menjadi batu sandungan. Sayang, tidak semua orang menyadari hal itu atau peka akan akibat buruk apa yang bisa dihasilkan untuk orang lain. Sangat mudah untuk melihat bagaimana tindakan orang lain memengaruhi kita, tetapi lebih sulit untuk mengingat bahwa tindakan kita sendiri dapat memengaruhi orang lain. Hanya dengan mengalihkan perhatian kita kepada orang lain, kita sudah membuat langkah besar untuk meletakkan batu sandungan di depan mereka.

Yang kedua, kita harus sadar bahwa batu sandungan tidak selalu tentang hal “benar” dan “salah”. Sebagai orang Kristen yang berusaha untuk tidak menjadi batu sandungan, hal terbaik yang dapat kita lakukan adalah mengurangi fokus pada apa yang paling benar jika tidak ada hal yang nyata-nyata melanggar firman Tuhan, tetapi berusaha agar kita bisa memperkuat saudara-saudari seiman. Tindakan memakan daging yang sudah dipersembahkan kepada dewa-dewa, misalnya, dapat dengan mudah menjadi batu sandungan, atau skandalon, bagi orang Kristen yang baru mengenal iman. Meskipun orang Kristen memiliki kebebasan untuk memakan daging itu, mereka juga memiliki tanggung jawab untuk mempertimbangkan bagaimana hal itu akan berdampak pada iman orang-orang di sekitar mereka (1 Korintus 8: 13).

Demikian pula, dalam Roma 14: 12-13, Paulus menunjukkan bahwa dalam cara hidup Kristen, hanya Allah yang boleh menghakimi; kita sendiri tidak boleh menghakimi saudara seiman kita agar kita tidak menyebabkan mereka jatuh atau tersandung. Menahan diri dari menjadi batu sandungan berarti tidak membawa orang lain ke dalam dosa. Misalnya, menahan diri untuk tidak bertengkar akan menghindari kemungkinan untuk jatuh dalam rasa marah atau dendam. Sudah tentu, bagi kita umat Kristen, itu adalah sesuatu yang harus dihindari. Tentu saja, bagaimana kita mencapai hal ini tergantung pada situasi dan hati orang-orang di sekitar kita. Untuk itu kita perlu berdoa untuk meminta bimbingan Roh Kudus.

Kesejahteraan yang kita miliki dalam kasih karunia Tuhan, baik sekarang maupun di masa depan, memungkinkan kita untuk menunjukkan kepedulian kepada mereka yang lebih lemah – mereka yang membutuhkan dorongan khusus untuk memahami siapa Tuhan itu. Dalam beberapa situasi, itu berarti mendorong terciptanya keadilan sosial dan penegakan hak azasi untuk menunjukkan bahwa Tuhan adalah Tuhan yang penuh kasih karunia. Pada orang lain, itu berarti mendisiplinkan diri kita sendiri untuk dapat menguatkan mereka yang lebih lemah dan tidak mendorong mereka ke dalam kebebasan sebelum mereka siap. Dalam semua keadaan, itu berarti tidak membuat orang lain untuk menjauhi Tuhan karena kita sudah menjadi batu sontohan bagi mereka. Pagi ini kita harus bersyukur bahwa Tuhan tetap membimbing kehidupan setiap umat-Nya, sehingga kasih-Nya terlihat nyata oleh mereka yang belum percaya.

Memandang ke masa depan dengan keyakinan

Jawab mereka: “Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu.” Lalu mereka memberitakan firman Tuhan kepadanya dan kepada semua orang yang ada di rumahnya. Kisah 16: 31-32

Ayat di atas (Kisah 16: 13-34) mengisahkan pengalaman Paulus dan Silas yang mengabarkan Injil dan mengusir setan di Filipi. Dengan hasutan beberapa penduduk Filipi, mereka berkali-kali didera dan bahkan dilemparkan ke dalam penjara. Kepala penjara diperintahkan untuk menjaga mereka dengan sungguh-sungguh, dan sesuai dengan perintah itu, ia memasukkan mereka ke ruang penjara yang paling tengah dan membelenggu kaki mereka dalam pasungan yang kuat. Tetapi kira-kira tengah malam Paulus dan Silas berdoa dan menyanyikan puji-pujian kepada Allah dan orang-orang hukuman lain mendengarkan mereka. Kemudian, terjadilah gempa bumi yang hebat, sehingga sendi-sendi penjara itu goyah; dan seketika itu juga terbukalah semua pintu penjara dan terlepaslah belenggu mereka semua.

Ketika kepala penjara itu terjaga dari tidurnya dan melihat pintu-pintu penjara terbuka, ia menghunus pedangnya hendak membunuh diri, karena ia menyangka, bahwa orang-orang hukuman itu telah melarikan diri. Tetapi Paulus berseru dengan suara nyaring, katanya: ”Jangan celakakan dirimu, sebab kami semuanya masih ada di sini!”. Lalu Paulus dan Silas memberitakan firman Tuhan kepadanya dan kepada semua orang yang ada di rumahnya. Dan ia sangat bergembira, bahwa ia dan seisi rumahnya telah menjadi percaya kepada Allah. Happy ending.

Pertobatan dan penyerahan kepala penjara itu tampaknya seperti akhir sebuah film yang bisa membuat para penonton merasa gembira dan melihat bahwa semua penderitaan Paulus dan Silas ternyata ada gunanya. Menjadi orang percaya yang akan masuk ke surga ternyata tidak sukar. Tetapi, bagi banyak orang Kristen, perasaan yakin bahwa mereka akan menuju ke surga pada akhir hidup mereka mungkin belum terasa. Apalagi, semakin tua usia kita, mungkin kita makin sadar bahwa kita belum betul-betul berhasil untuk menjadi umat-Nya yang baik. Jika kita membandingkan hidup kita dengan hidup mereka yang dermawan atau penuh dengan pengetahuan Alkitab, kita mungkin merasa minder atau putus asa, karena takut kalau-kalau Tuhan menolak kita. Kita mungkin merasa bahwa kita tidak cukup saleh untuk menjadi orang percaya yang akan masuk ke surga.

Bagi banyak orang non-Kristen, perasaan gundah karena tidak adanya jaminan keselamatan adalah disebabkan oleh pengertian yang keliru, bahwa manusia hanya bisa masuk ke surga setelah dapat sepenuhnya mengubah hidupnya, dari hidup yang mementingkan diri sendiri menjadi hidup untuk kemuliaan Allah. Dalam agama lain memang diajarkan bahwa karena Tuhan itu suci, Ia hanya dapat menerima mereka yang suci hidupnya atau yang telah bersedekah dengan murah hati. Oleh karena itu banyak orang yang tidak dapat yakin kalau mereka akan dinyatakan cukup baik oleh Allah setelah meninggalkan dunia.

Dalam agama Kristen pun ada banyak orang percaya yang tidak yakin akan keselamatan mereka, bukan karena mereka merasa belum cukup suci atau beramal, tetapi karena pikiran Tuhan yang sulit diduga. Apalagi mereka yang sangat menonjolkan aspek kemahakuasaan Tuhan mungkin percaya bahwa adalah hak Tuhan kalau Ia sudah memutuskan dari awalnya untuk mencampakkan orang-orang tertentu ke neraka. Mereka mungkin percaya bahwa apa pun yang mereka perbuat dalam hidup ini, atau bagaimana pun kuatnya iman mereka, adalah Tuhan yang sudah memutuskan siapa yang akan ke surga. Dengan demikian, Injil bagi sebagian orang Kristen adalah bukan kabar baik, tetapi kabar buruk; dan itu karena mereka tidak tahu apakah Tuhan benar-benar mengasihi mereka. Bukan happy ending, tapi sad ending.

Ayat mas kita di atas sebenarnya adalah sebuah contoh kabar baik dalam Alkitab. Bagaimana seseorang yang tidak mengenal Kristus sudah diberikan kesempatan oleh Tuhan untuk melihat jalan kebenaran. Kepala penjara yang dulunya merasa bahwa hidupnya sudah tamat karena semua tawanan diduganya sudah melarikan diri, kemudian bisa melihat kebesaran Tuhan melalui Paulus dan Silas. Mengapa begitu? Tentunya semua itu terjadi karena Tuhan bermaksud untuk menyelamatkan dia, dan juga keluarganya. Mengapa begitu mudah bagi mereka itu untuk menerima “karcis” ke surga? Semua orang yang percaya kepada Kristus dapat menyadari dosa mereka dan perlunya penebusan dengan darah Kristus, ketika mereka mendapat bimbingan Roh Kudus yang membuat mereka sadar akan adanya satu-satunya jalan menuju keselamatan. Yesus menerima kepala penjara itu dan seisi rumahnya sebagaimana adanya. Mereka tidak dapat membuktikan bahwa mereka sudah layak untuk diselamatkan, tetapi mereka yakin akan keselamatan dari Yesus.

Seperti kepala penjara itu, keselamatan kita bukan tergantung pada pengetahuan alkitab, perbuatan baik dan hidup saleh kita. Tidak ada seorang pun yang baik di hadapan Tuhan, dan tidak ada orang yang bisa diselamatkan jika Tuhan menuntut kesempurnaan hidup kita. Sekalipun kita sudah rajin ke gereja atau mempelajari firman Tuhan, itu tidak akan bisa membuat kita tergolong sebagai umat- Nya jika bukan Tuhan sendiri yang memilih kita dan membimbing kita sehingga kita mempunyai kesadaran bahwa Tuhan adalah mahasuci dan mahakasih. Tidak ada seorang pun yang bisa menjadi cukup layak untuk berdiri di hadapan Tuhan yang mahasuci, tetapi Tuhan yang mahakasih sudah memberikan Yesus sebagai jaminan untuk ganti dosa kita.

Pagi ini, jika kita mengharapkan jaminan keselamatan Tuhan, kita harus bisa berpikir positif – bahwa jika kita benar-benar percaya kepada Yesus, itu sudah cukup untuk menyatakan bahwa kita adalah milik Tuhan. Tuhanlah yang dengan Roh Kudus-Nya akan membimbing kita dalam menjalani hidup kita dan membuat kita ingat akan kasih-Nya. Dengan itu kita tidak ragu untuk melalui jalan kehidupan kita sebagai umat-Nya, dan pada waktunya menuju tempat tujuan akhir kita, yaitu surga,

Karena satu tubuh

“Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman.” Galatia 6: 10

Di dunia ini ada berbagai ragam agama dan kepercayaan yang mempunyai pandangan dan pengajaran yang berbeda. Walaupun demikian, agama Kristen mempunyai pengajaran yang khas karena menekankan unsur “kasih”. Karena itu, bagi orang Kristen semua pertanyaan di bawah ini mungkin mudah untuk dijawab.

  • Siapakah yang harus kita kasihi? Jawab: Tuhan dan sesama kita.
  • Mengapa kita harus mengasihi sesama manusia? Jawab: karena Tuhan mengasihi seisi dunia.
  • Apakah Tuhan mengasihi seluruh umat manusia tanpa membeda-bedakan? Jawab: Tuhan lebih mengasihi orang yang percaya dan taat kepada-Nya.

Tetapi bagaimana dengan pertanyaan ini: Apakah orang Kristen patut untuk “pilih kasih” dengan lebih mengasihi sesama orang beriman? Pertanyaan ini mungkin bisa membuat kita berpikir dalam-dalam.

Sebagian orang Kristen yakin bahwa mereka harus mengasihi sesama manusia tanpa pandang bulu. Bukankah Yesus berkata bahwa kita harus mengasihi mereka yang tidak kita kenal dan juga musuh kita? Lukas 10: 30 – 37 menyatakan bahwa kita harus bisa menjadi seperti orang Samaria yang bisa bermurah hati kepada siapa pun.

Memang benar bahwa kita harus bisa mengasihi semua orang dari mana pun asalnya, bagaimanapun penampilan, sikap serta sifatnya. Walaupun demikian, Alkitab dalam ayat pembukaan di atas menyatakan bahwa kita harus mau berbuat baik kepada semua orang, terutama kepada kawan-kawan kita seiman.

Jelas bahwa kasih kita kepada sesama orang beriman haruslah lebih besar jika dibandingkan dengan kasih kita kepada orang lain. Mengapa demikian? Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Korintus menulis bahwa sebagai anggota tubuh Kristus kita adalah sepenanggungan. Metafora tubuh untuk menggambarkan kesatuan bukanlah hal yang asing. Banyak penulis Yunani-Romawi kuno yang menggunakannya. Pada umumnya mereka memakainya dalam konteks politik atau negara. Dengan demikian, jemaat di Korintus juga pasti sudah terbiasa dengan metafora ini.

“Kamu semua adalah tubuh Kristus dan kamu masing-masing adalah anggotanya” 1 Korintus 12: 27

Mengasihi sesama anggota tubuh, yakni saudara seiman, adalah kewajiban; tetapi, dalam kenyataannya orang Kristen mungkin lebih sering menyatakan rasa kurang suka dan bahkan rasa benci kepada mereka yang sebenarnya seiman dalam Kristus Yesus. Selain itu, kebanyakan orang Kristen hanya peduli atas saudara seiman yang segereja, segolongan, sedoktrin, sesuku dan senegara. Bagaimana ini bisa terjadi? Bukankah kita seharusnya dapat ikut merasakan penderitaan, kesulitan dan perjuangan yang dialami oleh saudara-saudara seiman?

“Karena itu jika satu anggota menderita, semua anggota turut menderita; jika satu anggota dihormati, semua anggota turut bersukacita. Kamu semua adalah tubuh Kristus dan kamu masing-masing adalah anggotanya.” 1 Korintus 12: 26 – 27

Keragaman sering kali menjadi ancaman bagi kesatuan. Ini terjadi karena banyak orang cenderung lebih menekankan perbedaan yang superfisial (hanya di permukaan) daripada menggali kesamaan yang lebih esensial (ada di dalam). Mereka lebih terpaku pada kuantitas perbedaan daripada kualitas kesamaan. Tidak heran, ejek-mengejek dan pertikaian sering muncul atas nama perbedaan. Persoalan seperti ini sangat disayangkan. Satu kesamaan esensial (kematian dan kebangkitan Yesus) seharusnya cukup untuk menyisihkan banyak perbedaan superfisial.

Paulus menggunakan ungkapan “adalah tubuh Kristus”. Bukan sekadar “adalah tubuh”. Bukan sembarang tubuh. Kristus adalah kepala yang memimpin dan mempersatukan seluruh bagian tubuh. Kebenaran ini tampaknya dengan mudah dilupakan atau diabaikan.

Gereja sebenarnya adalah sebuah organisme, bukan organisasi. Bukan perkumpulan, tetapi persekutuan. Keanggotaan bukan sekadar terdaftar, melainkan kedekatan. Yang ditawarkan dalam persekutuan ini bukan hanya keramahan, namun juga persahabatan. Hubungan tidak dibatasi oleh bangunan dan kebaktian, tetapi mencakup seluruh kehidupan.

Kesamaan secara spiritual seharusnya melampaui semua perbedaan rasial, personal, maupun kultural. Kesamaan ini seharusnya membuat semua orang Kristen untuk menjadi “senasib sepenanggungan”. Bisakah kita hidup damai dengan semua orang, terutama dengan saudara seiman? Maukah kita saling menolong dan saling menguatkan?

“Jika ada orang merasa lemah, tidakkah aku turut merasa lemah? Jika ada orang tersandung, tidakkah hatiku hancur oleh dukacita?” 2 Korintus 11: 29

Tanggung jawab siapa?

“Demikianlah setiap orang di antara kita akan memberi pertanggungan jawab tentang dirinya sendiri kepada Allah.” Roma 14: 12

Hari Natal dan tahun baru sudah di ambang pintu, dan suasananya sudah mulai terasa di berbagai pusat pertokoan. Memang menyambut datangnya akhir tahun adalah tradisi hampir semua bangsa, tetapi tidak semua orang yang ingin merayakannya memakai kesempatan itu untuk mulai menganalisa hidupnya selama tahun ini. Jika masih ada beberapa minggu sebelum datangnya musim perayaan, festive season, mungkin tidak banyak orang yang sudah mulai memikirkan rencana hidup untuk tahun depan.

Apa yang sudah aku capai sampai sekarang dalam tahun ini? Apakah aku sudah memperoleh apa yang sudah direncanakan pada akhir tahun lalu? Adakah hal yang belum tercapai selama tahun ini? Mungkin begitu pertanyaan seseorang kepada diri sendiri, jika ia mau meneliti hidupnya menjelang akhir tahun. Tetapi ada banyak orang yang memilih untuk tidak memikirkan hal-hal itu, terutama jika apa yang diharapkan belum, atau mungkin tidak bisa, tercapai. Apalagi mereka yang sudah mengalami berbagai badai kehidupan gara-gara pandemi Covid-19, mungkin hanya ingin melupakan semua itu.

Dari renungan yang lalu kita mengerti bahwa Tuhan mungkin mengizinkan kita untuk membuat rencana kita sendiri tanpa berkonsultasi dengan-Nya. Dia bahkan mungkin mengizinkan kita untuk membuat rencana kita sendiri ketika kita tidak terlalu menyukai kehendak-Nya. Dia akan memungkinkan kita untuk memutuskan untuk melakukan hal-hal dengan cara kita sendiri. Tetapi kita harus sadar bahwa terlepas dari apa yang kita rencanakan, Tuhan akan menjadi satu-satunya Oknum yang bisa mengarahkan setiap langkah yang kita ambil. Dan jika karena kesombongan dan keras kepala kita, kita memilih untuk melakukan hal-hal dengan cara kita sendiri, Tuhan akan tetap bisa mewujudkan kehendak ilahi-Nya. Tetapi jalan kita menuju ke sana mungkin tidak akan menjadi jalan yang bisa kita nikmati.

Kebebasan manusia dan kedaulatan Tuhan mempunyai hubungan yang sulit dibayangkan, karena manusia 100% bertanggung jawab atas hidupnya dan Tuhan 100% berdaulat atas hidup manusia. Ada banyak orang Kristen yang masih mementingkan kesuksesan duniawi, dan merasa kecewa atau kuatir jika hidup tidak berjalan seperti yang dikehendaki. Ada juga yang selalu mengejar keuntungan dan kenikmatan dengan menghalalkan segala cara. Dan bahkan ada juga orang yang menggunakan firman Tuhan untuk mencari keuntungan pribadi. Semua itu menunjukkan hidup dan tanggung jawab manusia yang belum sepenuhnya dipakai untuk memuliakan Tuhan. Tidaklah mengherankan bahwa hidup orang semacam itu tidak dapat membawa kebahagiaan, kepuasan, atau rasa cukup.

Bagi mereka yang beriman, sebenarnya kesuksesan secara jasmani bukanlah hal yang utama.. Bagi mereka, mencapai kesuksesan hidup duniawi bukanlah sesuatu yang harus didambakan. Sebaliknya, orang Kristen seharusnya lebih mementingkan ketaatan kepada Tuhan yang mahakuasa. Oleh sebab itu, akhir tahun adalah kesempatan bagi setiap orang percaya untuk meneliti apa yang sudah dilakukan selama setahun ini, sehubungan dengan apa yang diperintahkan Tuhan. Apakah kita selalu mencari kehendak Tuhan dalam hidup kita selama tahun ini?

Ada banyak orang Kristen yang tidak pernah bertumbuh secara rohani. Tahun demi tahun lewat, tetapi mereka tetap hidup seperti orang yang belum dewasa secara iman. Mereka mungkin bertumbuh secara jasmani, bertumbuh dalam hal kekayaan dan kemasyhuran, atau makin berkuasa. Mereka mengaku Kristen karena ke gereja atau sesekali membaca Alkitab, tetapi tidak hidup menurut firman-Nya. Baik dalam kelakuan, perkataan, pikiran , dan perbuatan, mereka hampir tidak dapat dibedakan dengan mereka yang tidak mengenal Kristus.

Akhir tahun adalah kesempatan yang baik bagi kita untuk meneliti hidup kita, sampai di mana kita sudah berusaha untuk hidup dalam terang Kristus. Setiap orang sudah diberikan kebebasan oleh Tuhan untuk memilih jalan dan cara hidupnya. Jalan yang manakah yang sudah kita pilih? Jalan yang lebar yang membawa kematian iman atau jalan yang sempit yang menuju kepada kehidupan dalam Kristus? Firman Tuhan berkata bahwa setiap orang akan memberi pertanggungjawaban sepenuhnya atas semua pilihannya kepada Allah!

Bagaimana Tuhan menentukan arah langkah manusia

Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi TUHANlah yang menentukan arah langkahnya.”Amsal 16:9

Ayat di atas adalah ayat yang sangat terkenal dan sering dipakai untuk menekankan bahwa Tuhan yang mahakuasa menentukan setiap detil kehidupan manusia. Ada beberapa pertanyaan mengenai ayat ini:

  1. Apakah ayat ini berlaku untuk seluruh umat manusia ataukah hanya orang Kristen?
  2. Apakah Tuhan melarang kita untuk berusaha dan membuat rencana?
  3. Apakah Tuhan selalu membuat manusia bertindak sesuai dengan kehendak-Nya?

Ayat ini sebenarnya berlaku untuk semua orang, tetapi dalam segi yang berlainan. Manusia adalah makhluk yang berakal budi yang memiliki kemampuan merancang segala sesuatu untuk kebutuhan dirinya sendiri. Dengan memakai pikirannya, ia merancang jalan, menentukan tujuan, dan memproyeksikan cara dan sarana menuju tujuan itu, dan ini berbeda dengan makhluk lainnya yang diatur oleh naluri alami.

Bagi umat Kristen, tentunya menyedihkan jika mereka yang tidak bisa memikirkan cara bagaimana bisa menyenangkan Tuhan selama hidup di dunia. Walaupun demikian, tidak ada orang dapat mengerti bagaimana mereka bisa membuat Tuhan senang jika Tuhan tidak menyatakan hal itu kepadanya. Dengan demikian, sebagai makhluk yang bergantung, dan yang tunduk pada arahan dan kekuasaan Penciptanya, jika umat percaya merancang jalan mereka untuk mendatangkan kemuliaan bagi Allah, mereka seharusnya berdoa agar Dia mengarahkan langkah-langkah mereka dengan Roh dan kasih karunia-Nya, sehingga mereka tidak akan tersesat atau gagal mencapai tujuan mereka.

Pada pihak yang lain, jika manusia merancang urusan duniawi mereka dengan sangat berhati-hati dan mengharapkan sukses besar, Tuhan yang mengatur alam semesta terkadang mengarahkan langkah mereka ke arah yang tidak mereka inginkan. Dengan demikian, setiap manusia diajar untuk mengarahkan pandangan mereka kepada Allah, mempunyai rasa takut dan hormat kepada-Nya, tidak hanya dalam hidup sehari-hari, tetapi juga dalam setiap langkah yang mereka ambil.

Sepanjang sejarah, umat manusia telah membuat rencana untuk apa yang akan harus dilakukan setiap hari. Ketika saya bermaksud untuk bermobil ke luar kota, saya perlu merencanakan jam berapa saya harus pergi. Saya menggunakan GPS saya untuk merencanakan rute saya. Seperti itu juga, seorang pilot harus membuat rencana penerbangannya dan seorang nakhoda kapal harus memetakan arah kapalnya untuk mencapai tujuan. Tidak ada yang salah dengan perencanaan. Malahan, sebenarnya adalah baik bagi semua orang untuk menetapkan tujuan dan rencana. Jika tidak, hidup mereka akan kacau dan tidak akan membuahkan apa yang berguna. Perencanaan jelas merupakan hal yang baik.

Namun, sebagai orang Kristen, rencana kita harus selalu dimulai dengan doa dan mencari kehendak Tuhan untuk hidup kita. Jika Tuhan telah disertakan dalam proses perencanaan, kita dapat yakin bahwa rencana kita akan berhasil, bahkan jika kita mengalami beberapa rintangan dan harus berputar jalan. Sebaliknya, jika rencana kita bertentangan dengan kehendak Tuhan, kita berdosa kepada-Nya.

Bagi setiap orang, rasul Yakobus menulis,

Jadi sekarang, hai kamu yang berkata: “Hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu, dan di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung”, sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap. Sebenarnya kamu harus berkata: “Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu.” Tetapi sekarang kamu memegahkan diri dalam congkakmu, dan semua kemegahan yang demikian adalah salah. Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa. Yakobus 4:13-17

Mereka yang bermegah dalam kesombongan akan membuat Allah marah. Semua kesombongan manusia seperti itu adalah jahat. Maka itu, bagi orang Kristen yang tahu bagaimana mereka seharusnya bisa menempatkan diri di hadapan Allah tetapi tidak mengerjakannya, hal itu juga berakhir dengan dosa.

Tuhan mungkin mengizinkan kita untuk membuat rencana kita sendiri tanpa berkonsultasi dengan-Nya. Dia bahkan mungkin mengizinkan kita untuk membuat rencana kita sendiri ketika kita tidak terlalu menyukai kehendak-Nya. Dia akan memungkinkan kita untuk memutuskan untuk melakukan hal-hal dengan cara kita sendiri. Tetapi kita harus sadar bahwa terlepas dari apa yang kita rencanakan, Tuhan akan menjadi satu-satunya Oknum yang bisa mengarahkan setiap langkah yang kita ambil. Dan jika karena kesombongan dan keras kepala kita, kita memilih untuk melakukan hal-hal dengan cara kita sendiri, Tuhan akan tetap bisa mewujudkan kehendak ilahi-Nya. Tetapi jalan menuju ke sana mungkin tidak akan menjadi jalan yang bisa kita nikmati!

Yunus adalah contoh seseorang yang tidak menyukai apa yang Tuhan perintahkan sehingga dia membuat rencananya sendiri. Tuhan ingin Yunus pergi berkhotbah di Niniwe dan Yunus tidak mau pergi. Dia justru naik perahu dan pergi ke arah yang berlawanan dari Niniwe. Akibatnya, badai besar datang dan semua orang di kapal menjadi takut kalau-kalau mereka akan mati di laut. Mereka mulai membuang muatan untuk meringankan beban kapal dan kemudian Yunus mengatakan kepada mereka bahwa mereka harus membuangnya juga ke laut agar badai akan berhenti. Para pelaut mengira Yunus gila, tetapi setelah beberapa saat, mereka terpaksa melempar Yunus ke dalam gelombang badai. Tuhan tidak hanya mengarahkan langkah Yunus, tetapi Dia juga membuat seekor ikan besar yang datang pada saat yang tepat untuk menelan Yunus. Setelah tinggal tiga hari di dalam perut ikan, akhirnya Yunus bertobat. Tuhan kemudian membuat ikan itu memuntahkan Yunus yang akhirnya mau pergi ke Niniwe dan berkhotbah di sana.

Yeremia 29:11 memberi tahu kita bahwa Tuhan tetap sama, Ia memiliki rencana yang baik untuk kita – rencana untuk kesejahteraan kita dan bukan kehancuran. Jika kita benar-benar percaya akan hal ini, maka kita tidak akan kesulitan memulai perencanaan kita dengan menyediakan waktu untuk berdoa dan mencari kehendak Tuhan – untuk memastikan bahwa rencana yang kita buat selaras dengan kehendak Tuhan. Jika kita melakukannya, maka kita dapat menyerahkan rencana kita ke dalam tangan-Nya dan percaya bahwa meskipun jalan untuk mencapai apa yang kita rencanakan terlihat berbeda dari yang kita rencanakan, pada akhirnya Tuhan akan membawa kita ke sana, bahwa Ia akan mengerjakan segala sesuatu untuk kebaikan kita (Roma 8:28), dan Ia akan menyertai kita di setiap langkah.

Tetapi jika kita mencoba untuk menempuh jalan kita sendiri seperti Yunus, kita mungkin menemukan diri kita dalam beberapa masalah seperti Yunus dan kemudian menemukan diri kita tepat di tempat yang Tuhan inginkan. Seandainya Yunus hanya bekerja sama dengan rencana Tuhan sejak awal, dia bisa menyelamatkan dirinya dari penderitaan selama tiga hari di dalam perut ikan. Seperti itu juga, jika kita mau bekerja sama dengan rencana Tuhan untuk hidup kita, kita dapat terhindar dari konsekuensi yang tidak menyenangkan.

Mungkin anda merasa bahwa apa yang anda alami saat ini sangat tidak menyenangkan karena adanya orang-orang yang menjahati anda. Apakah ini juga dibuat oleh Allah? Barangkali anda harus membaca lagi kisah Jusuf yang dijual oleh saudara-saudaranya sebagai budak dan kemudian menjadi perdana menteri di Mesir (Kejadian 37 – 41)? Jika anda, seperti Jusuf, merasa bahwa apa yang Tuhan inginkan bagi anda adalah berbeda dari yang anda harapkan, dan anda terperosok ke dalam berbagai “lubang” atau “penjara” di sepanjang jalan, ingatlah bahwa Tuhan selalu bersama anda. Jika “istana” memang adalah rencana Tuhan bagi anda, percayalah bahwa Ia akan membawa anda ke sana pada saat yang tepat sehingga anda bisa berada dalam posisi untuk melakukan apa yang Tuhan inginkan.

Pagi ini, adakah rencana yang anda pikirkan? Firman Tuhan menyatakan bahwa adalah baik jika anda melanjutkan atau membuat rencana anda. Tetapi mulailah setiap rencana dengan doa, carilah kehendak Tuhan terlebih dahulu. Buatlah rencana anda berpusat pada kehendak-Nya, mintalah agar rencana anda bisa membawa kehormatan dan kemuliaan bagi-Nya.

Manusia memang ingin bebas

“Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa.” Lukas 15: 18 – 19

Suasana di balapan kuda Melbourne dengan segala keramaian duniawi.

Melbourne Cup adalah balapan kuda yang menghentikan seluruh kegiatan rakyat di Australia, the race that stops the nation. Untuk tahun 2021, acara ini berlangsung pada hari Selasa 2 November di kota Melbourne. Mereka yang tinggal di luar kota Melbourne juga ikut mengikuti acara ini melalui televisi, dan biasanya disertai dengan acara taruhan dan makan-minum bersama.

Pada hari itu, mereka yang ikut merayakan hari itu biasanya sudah mempersiapkan pakaian yang indah dan unik. Kaum wanita memang biasanya berusaha tampak lebih cantik dengan memakai pakaian mahal dan make-up yang istimewa. Dan seharian, mereka yang hadir di tempat balapan kuda itu bisa makan minum sepuasnya, bahkan sampai mabuk dan melakukan hal-hal yang tidak pantas. Hal ini mengingatkan saya kepada sebuah perumpamaan terkenal di Alkitab.

Semua orang Kristen tentunya pernah membaca atau mendengar perumpamaan anak yang hilang atau the prodigal son. Perumpamaan ini diceritakan oleh Yesus untuk melambangkan hubungan antara Allah Bapa dan manusia ciptaan-Nya. Manusia yang memberontak dari kasih Allah digambarkan sebagai anak bungsu yang meninggalkan bapanya untuk berfoya-foya dengan menggunakan warisannya. Selang berapa tahun, sesudah uang warisannya habis, anak itu bermaksud untuk pulang kembali ke rumah bapanya. Anak itu menyesali apa yang sudah diperbuatnya dan hanya ingin untuk bisa menjadi hamba bapanya.

Ayat di atas adalah apa yang dipikirkan oleh anak yang hilang dalam perumpamaan itu. Kita bisa membaca kelanjutan kisah itu yang menyatakan besarnya kasih bapa yang kemudian menerima kembalinya si anak yang hilang dengan tangan terbuka. Si bapa yang sudah berharap sejak lama agar anaknya bertobat dan kembali ke jalan yang benar, bisa terlihat dengan jelas sebagai bapa yang penuh kasih, tidak hanya kepada anaknya yang hilang, tetapi juga kepada anaknya yang lain, yang tidak pernah meninggalkan dia. Kasih bapa itu adil dan abadi, dan itu tidak terpengaruh oleh apa yang dilakukan anak-anaknya; ia hanya ingin agar semua anaknya berbahagia.

Satu bahan pemikiran yang juga bisa diperoleh dari ayat di atas adalah bagaimana anak yang hilang itu menempatkan dirinya di hadapan bapanya. Ia menyesali dosanya dengan sungguh-sungguh dan meminta kemurahan sang bapa untuk menerimanya kembali, bukan sebagai anak, tapi sebagai hamba.

Dalam konteks iman Kristen, ayat ini menunjuk kepada kenyataan bahwa kita orang yang berdosa, adalah orang-orang yang tidak layak di hadapan Allah dan sudah kehilangan kemuliaan kita sebagai ciptaan-Nya. Kita sudah kehilangan hak untuk dipanggil umat Allah.

“Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah…” Roma 3: 23

Apa pun yang akan dan sudah kita lakukan, tidaklah dapat membuat kita kembali menjadi orang yang layak untuk menemui Bapa kita. Karena dosa kita, kita tidak bisa menuntut hak apa pun di hadapan Tuhan. Hanya karena kasih karunia Allah (grace), kita telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus. Pengakuan sola gratia ini tidak memberi kesempatan bagi kita untuk menyombongkan apa yang bisa kita perbuat dalam hidup kita.

“…dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus.” Roma 3: 24

Hari ini, jika orang pergi ke suatu tempat untuk berpesta pora, itu memang adalah keputusan mereka. Itu bukan karena Tuhan yang sudah membuat mereka berbuat demikian. Memang manusia yang selalu ingin menggunakan kehendak bebasnya, sering terperosok dalam berbagai dosa.

Dalam kita hidup dan bekerja, banyak dosa-dosa yang kita perbuat, secara sengaja atau tidak sengaja. Jika dibandingkan dengan standar kesucian Tuhan, hidup kita bisa dipadankan dengan hidup anak yang hilang, yang sudah menyia-nyiakan hidupnya dan mempermalukan bapanya.

Sebagai manusia mungkin kita berusaha untuk melupakan hal-hal yang jahat yang telah kita perbuat. Mungkin kita ingin menebusnya dengan banyak berbuat amal. Mungkin kita berusaha menutupinya dengan usaha untuk mencari hal-hal yang berbau kerohanian. Mungkin kita sudah berusaha untuk mengubah cara hidup kita, supaya bisa dikagumi oleh orang lain. Atau mungkin saja Tuhan sudah memberi kita berbagai karunia rohani yang hebat. Tetapi, semua itu tidak bisa mengubah status kita: kita adalah anak yang hilang, yang sudah tersesat dan kehilangan hak untuk menjadi anak-Nya. Hanya dengan kerendahan hati kita bisa menghampiri Tuhan dan meminta pengampunan-Nya hari demi hari, dan berjanji untuk menjalani hidup kita sesuai dengan firman-Nya sebagai pernyataan rasa syukur kita atas kasih-Nya.

“Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.” Efesus 2: 8 – 9

Menyesuaikan pilihan kita dengan kehendak Tuhan

“Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi TUHANlah yang menentukan arah langkahnya”. Amsal 16: 9

Selama berabad-abad, umat Kristen telah memperdebatkan apa artinya manusia diciptakan menurut gambar Allah (Kejadian. 1:26-27). Sampai sekarang belum ada definisi yang bisa diterima secara universal, tetapi ada kesepakatan setidaknya untuk beberapa aspek gambar ilahi. Salah satu aspeknya adalah bahwa manusia memiliki pikiran dan kehendak. Seperti Tuhan, kita memiliki niat, kita membuat rencana, dan kita memilih tindakan tertentu. Tidak peduli bagaimana kita mencoba untuk menyangkalnya, kita semua bertanggung jawab atas pilihan kita (Roma 1: 18 – 20).

Tentu saja, Alkitab tidak pernah mengajar kita untuk percaya bahwa kitalah yang menentukan semua pilihan kita untuk mencapai apa yang kita ingini. Ada satu kehendak yang selalu bisa menggantikan kehendak kita, yaitu kehendak Tuhan. Allah “yang di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak-Nya” (Efesus 1:11). Tuhan memiliki keputusan akhir karena Dia menentukan langkah-langkah kita, seperti yang kita baca dalam dalam ayat pembukaan di atas. Apa arti menentukan?

Penulis buku tafsiran Alkitab, Matthew Henry, mencatat bahwa setiap manusia adalah “makhluk yang berakal, yang memiliki kemampuan untuk merancang untuk dirinya sendiri” dan “makhluk yang bergantung, yang tunduk pada arahan dan kekuasaan Penciptanya.” Kita harus mengerti bahwa manusia memiliki kebebasan untuk membuat keputusannya sendiri, sementara pada saat yang sama pilihan mereka berada di bawah kedaulatan Tuhan. Ini menuntut apa yang disebut pandangan kompatibilistik tentang kebebasan manusia.

Memang banyak situasi yang tidak memberi kita pilihan yang baik. Walaupun demikian, jika kita berada dalam situasi seperti itu, kita selalu memilih opsi yang menurut kita paling baik. Misalnya, beberapa tahun yang lalu saya harus memilih antara menjalani operasi untuk mengangkat usus buntu yang meradang atau meninggal dunia karena radang usus buntu. Pilihan saya untuk menjalani operasi menunjukkan bahwa saya masih lebih suka hidup daripada mati. Saya memilih operasi karena berdasarkan nasihat dokter saya merasa bahwa itu yang paling baik untuk saya.

Menyangkut kedaulatan Tuhan, pilihan kita terkadang sesuai dengan apa yang telah Dia tetapkan, dan karena itu kita bisa mencapai apa yang kita inginkan. Pada kesempatan lain, tindakan kita yang telah diizinkan Tuhan tidaklah sesuai dengan hasil yang telah Dia tetapkan, dan karena itu rencana kita digagalkan. Tetapi dalam kedua kasus tersebut, tujuan Allah tidak pernah gagal. Langkah-langkah kita bisa terjadi kalau sesuai dengan apa yang telah Dia rancang, karena Dia tahu apa yang akan terjadi dan memiliki keputusan akhir atas semua ciptaan-Nya.

Kebebasan manusia dan kedaulatan ilahi ada dalam hubungan yang kompleks dan misterius. Meskipun Tuhan mengizinkan semua pilihan kita – bahkan pilihan yang akhirnya digagalkan karena tidak sesuai dengan hasil yang telah Dia tetapkan – kita tidak bisa menyalahkan Dia atas dosa kita. Kita juga tidak bisa lepas dari tanggung jawab atas pilihan kita. Kita telah salah memahami Alkitab jika kita berpikir bahwa pilihan kita adalah penentu akhir dari jalan hidup kita, tetapi kita juga telah salah memahaminya jika kita menyangkal adanya Tuhan yang memberi kebebasan kepada manusia.

Masalahnya, jika Tuhan mengatur alam semesta dengan keputusan-Nya yang berdaulat, bagaimana mungkin manusia menjalankan kebebasannya? Dan jika dia tidak bisa menjalankan kebebasan memilih, mengapa dia harus bertanggung jawab atas perilakunya? Bukankah dia hanya boneka yang tindakannya ditentukan oleh Tuhan di balik layar yang menarik tali sesuka hati-Nya?

Tuhan secara berdaulat menetapkan bahwa manusia harus bebas menjalankan pilihan moral, dan manusia sejak awal telah memenuhi ketetapan itu dengan membuat pilihannya antara yang baik dan yang jahat. Manusia tidak bisa abstain. Mereka yang tahu bagaimana harus berbuat baik tetapi tidak melakukannya, telah berbuat dosa (Yakobus 4: 17). Ketika manusia memilih untuk melakukan kejahatan, dengan demikian dia tidak melawan kehendak Tuhan yang berdaulat tetapi memenuhinya, karena keputusan Tuhan bukanlah mengharuskan pilihan mana yang harus dibuat manusia tetapi bahwa manusia harus bebas untuk membuatnya. Kebebasan manusia untuk memilih terjadi karena Tuhan berdaulat.

Mungkin ilustrasi dari seorang pendeta Amerika terkenal yang bernama Aiden Wilson Tozer (1897 – 1963) berikut ini dapat membantu kita memahaminya. Sebuah kapal pesiar meninggalkan kota New York. Tujuannya, kota Liverpool, telah ditentukan oleh perusahaan yang memliki kapal itu. Di atas kapal ada banyak penumpang tetapi tidak ada satu pun yang bisa mengubah tujuannya. Para penumpang tidak dirantai, dan bisa makan, tidur, bermain, bersantai di geladak, membaca, berbicara, semuanya sesuka mereka; tapi kapal besar itu membawa mereka terus melaju menuju pelabuhan-pelabuhan yang telah ditentukan.

Seperti itulah, Allah bergerak tanpa gangguan dan tanpa hambatan menuju pemenuhan tujuan-tujuan kekal yang Dia maksudkan di dalam Kristus Yesus sebelum dunia dimulai. Walaupun kita tidak tahu seluruh detil dari tujuan-tujuan itu, cukup banyak yang telah diungkapkan oleh Roh Kudus untuk memberi kita garis besar yang luas tentang hal-hal yang akan datang dan untuk memberi kita harapan yang baik dan jaminan yang kuat akan masa depan.

Pagi hari ini, dalam menghadapi masa depan dan untuk kesejahteraan kita sendiri, sebagai umat-Nya kita harus selalu mencari kehendak Tuhan dan menyelaraskan apa yang kita inginkan dengan apa yang Tuhan kehendaki. Kita harus mau dan berani mengambil keputusan, dan juga mau menyerahkan semuanya agar terjadi seperti apa yang dikehendaki-Nya.

“Tuhan, beri saya keteduhan untuk menerima hal-hal yang tidak dapat saya ubah. Keberanian untuk mengubah hal-hal yang saya dapat ubah. Dan kebijaksanaan untuk mengetahui perbedaannya.”