Yesus pun pernah menderita seperti kita

“Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah.” Yesaya 53: 4

Siapakah Yesus itu? Pertanyaan yang serupa pernah diajukan Yesus kepada murid-muridNya. Jika orang lain ada yang mengatakan bahwa Yesus adalah Yohanes Pembaptis, dan ada yang mengatakan bahwa Ia adalah Elia, ada pula mereka yang menjawab Yeremia atau salah seorang dari para nabi. Tetapi Simon Petrus menjawab bahwa Yesus adalah Mesias, Anak Allah yang hidup (Matius 16: 14 – 16). Petrus bukan saja mengakui dengan mulutnya, tetapi Alkitab dan sejarah menyebutkan bahwa ia setia kepada Yesus sampai akhir hayatnya.

Siapakah Yesus itu bagi anda? Apakah jawaban anda seperti jawaban Petrus? Sebagai orang percaya dan dengan memakai Alkitab sebagai panduan, mungkin tidak terlalu sulit bagi kita untuk mengakui dengan mulut kita bahwa Yesus adalah Mesias, Anak Allah. Tetapi, yang sangat sulit adalah untuk mempercayakan hidup kita dengan sepenuhnya kepada Yesus seperti Petrus. Sulit juga bagi kita untuk mengerti bahwa selama Ia di dunia, Yesus adalah 100 persen manusia dan juga 100 persen Tuhan.

Banyak orang yang tidak mau percaya kepada Yesus karena mereka tidak dapat mengerti bagaimana Anak Allah mau turun ke dunia untuk menebus dosa manusia. Mereka mungkin bisa menerima bahwa Yesus adalah orang yang baik dan bahkan pantas untuk menjadi rasul, tetapi tidak bisa mengerti bagaimana Allah bisa dilahirkan sebagai manusia yang lemah, dan yang kemudian disiksa dan dibunuh di kayu salib di sebelah dua penjahat. Pikiran mereka tidak bisa menjangkau bagaimana selama hidup di dunia Yesus adalah Tuhan yang berupa manusia tetapi tidak berdosa.

“Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa.” Ibrani 4: 15

Menjadi seperti manusia adalah suatu aspek yang sangat penting dalam misi Yesus, karena dengan itu, Ia bukannya tidak bisa merasakan segala penderitaan kita. Ia pernah dicobai, dihina, diludahi, dipukuli serta merasa lapar dan haus seperti kita, dan karena itu kita tidak perlu menyangsikan kasih dan kepedulianNya atas penderitaan kita. Berbeda dengan pengertian orang lain mengenai Tuhan yang “nun jauh disana”, Yesus adalah Tuhan yang pernah hidup seperti manusia dan karena itu seharusnya bisa terasa dekat di hati kita.

Hari ini, mungkin ada kemasygulan dalam hidup kita karena adanya berbagai hal yang terasa berat. Pandemi sudah berlangsung lebih dari satu tahun, tetapi keadaan belum juga memungkinkan hidup yang normal. Hari demi hari kita mungkin mengalami pergumulan, kesulitan, penderitaan, kekurangan atau rasa kuatir. Karena itu, jika sekarang ada pertanyaan siapakah Yesus itu bagi kita, mungkin kita sulit untuk menjawabnya dengan keyakinan seperti Petrus.

Apa yang ditulis dalam kitab Yesaya diatas, jauh sebelum Yesus dilahirkan di dunia, mengingatkan kita bahwa sesungguhnya Yesus adalah Tuhan yang datang ke dunia untuk membawa kedamaian dalam hidup kita. Selama hidup di dunia, Ia peduli atas segala penderitaan dan kesengsaraan orang-orang disekitarnya, baik itu secara lahir maupun batin. Dengan demikian, Yesus sekarang ini bukan saja peduli akan keselamatan kita, tetapi Ia juga mau menolong kita selama kita masih hidup di dunia agar kita tetap bertahan dalam iman kita. Apa yang harus kita lakukan adalah bertekun dalam doa permohonan, dengan mengingat bahwa anugerah yang terbesar, yaitu keselamatan, sudah diberikanNya kepada kita. Semoga Ia menumbuhkan dan menguatkan iman kita!

“Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh.” Yesaya 53: 5

Bukan roh ketakutan

“Karena itulah kuperingatkan engkau untuk mengobarkan karunia Allah yang ada padamu oleh penumpangan tanganku atasmu. Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban.” 2 Timotius 1: 6 – 7

Pernahkah anda mengalami rasa takut yang besar sehingga tidak ingin pergi kemana-mana? Saya pernah. Banyak orang yang mengalami hal yang serupa pada pertengahan tahun yang lalu ketika puncak pandemi Covid-19 terjadi di Australia. Mungkin saja rasa takut pada saat itu lebih dipengaruhi oleh kekuatiran tertular virus corona daripada kemungkinan tertular. Tetapi bagi orang yang mengalaminya, tinggal di rumah terus mungkin adalah satu-satunya cara yang dikenalnya untuk menghilangkan ketakutan, sekali pun itu seringkali justru membuatnya merasa lebih takut ketika mengikuti berita media!

Rasa takut tertular penyakit tidaklah sama dengan rasa takut rohani yang sering dialami orang Kristen. Sebagai orang percaya, ketakutan rohani bukan sehubungan dengan suasana kehidupan di dunia, tetapi dengan adanya kekosongan yang mungkin terasa dalam hati karena hubungan yang kurang baik dengan Tuhan. Jika hidup kita terasa berat dan kacau, dan kita tidak dapat merasakan penyertaan Tuhan, di saat itulah kita merasa kecewa, lemah, takut dan kuatir. Pada saat yang demikian, mungkin kita tidak dapat merasakan adanya kasih Tuhan dan sesama. Mungkin kita pada saat itu sedang mengalami krisis rohani atau spiritual crisis.

Dalam kenyataannya, ada banyak orang yang mengalami krisis spiritual di saat ini karena perasaan tidak berdaya. Sekalipun vaksin sudah ada, tetap saja ketakutan dan kekuatiran tidak mudah dihilangkan. Bagaimana tidak? Beberapa negara yang sudah berhasil membagikan vaksin kepada rakyatnya secara besar-besaran, justru pada saat ini mengalami peningkatan penderita Covid-19 dan harus menjalankan lockdown lagi pada saat mendekati hari Paskah.

Paulus dalam suratnya kepada Timotius, mengingatkannya untuk tetap bersemangat dalam menempuh hidup sebagai umat Tuhan. Hidup sebagai orang Kristen tidaklah mudah, terutama untuk Timotius yang belum banyak berpengalaman. Karena itu, Paulus selalu mendoakan Timotius agar ia tetap teguh dalam iman. Paulus tahu bahwa ada keadaan tertentu yang bisa membuat Timotius merasa lelah, takut atau apatis. Seperti orang lain, memang Timotius bisa mengalami kelelahan dan ketakutan secara rohani. Tetapi Paulus mengingatkan Timotius bahwa ia sudah menerima karunia Tuhan yang disampaikan oleh Paulus. Karunia ini adalah berkat rohani yang harus dipelihara dan bahkan dikobarkan oleh Timotius, karena apapun yang diterima dari Tuhan haruslah dipupuk untuk menjadi makin kuat dan bukannya makin lemah dengan berjalannya waktu.

Hari ini, firman Tuhan mengingatkan kita bahwa kita harus mengobarkan semangat rohani kita dengan berpegang teguh pada apa yang sudah kita terima dari Tuhan. Mungkin kita belum lama menjadi orang Kristen, seperti Timotius. Mungkin juga kita sudah banyak makan asam-garam kehidupan rohani seperti Paulus. Tetapi, apapun status rohani kita, jika kita tidak rajin memupuk pertumbuhan iman, hidup kita akan perlahan-lahan diracuni oleh ketakutan dan kelelahan. Biarlah kita selalu mau mengobarkan segala karunia Tuhan yang sudah kita terima agar bisa membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban dalam hidup kita!

Menyalurkan kemarahan kita secara benar

“Tetapi sekarang, buanglah semuanya ini, yaitu marah, geram, kejahatan, fitnah dan kata-kata kotor yang keluar dari mulutmu.” Kolose 3: 8

Ayat ini adalah salah satu ayat yang cukup sering dikhotbahkan. Secara umum, apa yang ditulis rasul Paulus ini adalah nasihat yang baik kepada setiap orang Kristen. Dalam hidup sehari-hari, kita dinasihati bahwa apa yang buruk, seperti kemarahan, kegeraman, kejahatan, fitnah, sumpah-serapah dan lain-lainnya seharusnya dihilangkan dari kamus perbendaharaan kata kita.

Mengapa orang bisa menjadi sangat marah sampai melakukan perbuatan tercela? Biasanya kemarahan yang luar biasa disebabkan oleh harga diri yang terasa diinjak-injak oleh orang lain. Orang mungkin marah karena perlakuan orang lain, tetapi selama mereka tidak merasa tersudut atau sangat terhina, kemarahan itu biasanya dapat diredakan sebelum menjadi kegeraman. Sebaliknya, kemarahan yang didasari oleh kesombongan seringkali membuat orang murka dan mata gelap. Dengan demikian dosa terjadi karena munculnya pikiran dan tindakan jahat yang tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah (Yakobus 1: 20).

Tidak bolehkah orang Kristen marah? Tentu saja boleh jika itu pada tempatnya, misalnya ketika melihat adanya kejahatan atau ketidakadilan dalam hidup bermasyarakat. Walaupun demikian, kemarahan orang Kristen pada hakikatnya tidak boleh berdasarkan pada kebencian kepada individu atau golongan tertentu, tetapi kepada kejahatan yang mereka perbuat. Kemarahan yang pantas bukanlah untuk membenarkan atau menguntungkan diri sendiri, tetapi untuk menegakkan kebenaran bagi masyarakat, terutama bagi saudara-saudara seiman.

Kemarahan kita sebaiknya ditujukan kepada apa yang menyebabkan hal itu terjadi, seperti masalah hukum, pendidikan, hak asasi dan keadilan sosial yang merupakan tanggung jawab yang berwenang. Dengan demikian, jika kita tinggal berdiam diri dan tidak mau menyuarakan apa yang baik menurut Alkitab kepada yang berwenang, kita membiarkan segala faktor yang jelek untuk mempengaruhi banyak orang di masa mendatang.

Tuhan kita adalah Tuhan yang mahakasih, tetapi Ia juga Tuhan yang bisa marah kepada umat manusia. Kemarahan yang muncul dalam bentuk yang mengerikan pernah terjadi ketika sekelompok manusia atau bangsa secara sengaja tidak mau menghormatiNya sebagai Tuhan yang mahakuasa dan mahasuci. Karena itu, Alkitab menuliskan bagaimana orang-orang yang melawan atau mengabaikan firman Tuhan mengalami nasib yang menyedihkan. Walaupun demikian, Tuhan tidaklah terus membenci semua orang yang jahat. Kepada orang yang mau bertobat, pengampunan dan keselamatan juga tersedia untuknya. Sebab itu, adalah kurang tepat jika kita menumpahkan amarah dan kebencian kita kepada individu tertentu, sedangkan penyebabnya tidak kita perhatikan. Kita juga harus ingat bahwa dibalik apa yang jahat, sering kali iblislah yang menjadi biangnya.

Sebagai manusia kita memang boleh marah jika itu memang sesuai dengan kehendak Tuhan. Tetapi, kemarahan yang tidak pada tempatnya, yang berlama-lama, yang tidak membawa kebaikan, yang disebabkan oleh kesombongan pribadi, yang mengabaikan hukum kasih, yang tidak berdasarkan kebenaran firman Tuhan, dan yang tidak membawa kemuliaan bagi Tuhan adalah kemarahan yang harus kita hindari.

Sebagai umat Tuhan kita percaya bahwa Ia mahaadil dan karena itu kita yakin bahwa Tuhanlah yang pada akhirnya mengambil tindakan yang paling tepat. Sungguh berguna nasihat Paulus kepada jemaat di Filipi agar mereka memusatkan hidup mereka pada semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, dan semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji (Filipi 4: 8). Ini adalah tantangan bagi semua orang Kristen.

“Jangan marah karena orang yang berbuat jahat, jangan iri hati kepada orang yang berbuat curang; sebab mereka segera lisut seperti rumput dan layu seperti tumbuh-tumbuhan hijau.” Mazmur 37: 1 – 2

Hanya Tuhan yang berhak mengutuki

“Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah, sebab ada tertulis: Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan, firman Tuhan.” Roma 12: 19

Pernahkah anda memperhatikan bagaimana suatu negara atau organisasi menyampaikan “press release” atau “pernyataan resmi” yang berupa protes atas tindakan negara lain atau atas apa yang dilakukan seseorang? Dalam bahasa Inggris, biasanya istilah yang dipakai adalah “to condemn“, yang diartikan sebagai “menyatakan bahwa tindakan itu adalah jahat” atau “mengecam keras”. Untuk maksud yang sama, dalam bahasa Indonesia kata “mengutuk” sering dipakai, walaupun terjemahan bahasa Inggrisnya adalah “to curse“, yaitu mengirim kuasa ilahi untuk menjatuhkan hukuman.

Dalam Alkitab berbahasa Inggris, kata condemn memang bisa dipakai seperti kata curse untuk menyatakan hukuman Tuhan kepada ciptaanNya yang tidak menghasilkan apa yang diharapkanNya. Jika Tuhan kita bisa mengutuki ular, bumi dan manusia (Kejadian 3: 14-19), sebagai orang Kristen bolehkah kita mengutuki orang lain?

Suatu ketika, ketika sebuah desa di Samaria menolak kedatangan Yesus dan murid-muridNya, Yakobus dan Yohanes langsung ingin membalas dendam. “Tuhan,” mereka bertanya, “Apakah Engkau mau, supaya kami menurunkan api turun dari langit untuk membinasakan mereka?” (Lukas 9:54). Yesus tidak menginginkan itu, dan Dia “berpaling dan menegur mereka” (ayat 55). Yakobus dan Yohanes pada saat itu tidak sadar bahwa “Allah tidak mengutus AnakNya ke dunia untuk menghakimi dunia, tetapi untuk menyelamatkan umat manusia oleh (melalui) Dia” (Yohanes 3:17).

Memang dalam hidup ini banyak orang yang agaknya masih menganut paham “mata ganti mata”. Dengan demikian, mereka menyukai hal-hal yang berhubungan dengan pembalasan (revenge, avenge, vengeance). Alkitab memang mempunyai banyak ayat yang berhubungan dengan soal membalas dendam. Tetapi, seperti yang tertulis dalam ayat pembukaan diatas, baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, pembalasan dendam selalu dihubungkan dengan hak Tuhan.

Mengapa Tuhan menyatakan bahwa Ialah yang berhak membalas dendam? Itu karena Tuhanlah yang memiliki seluruh jagad raya, termasuk semua makhluk hidup dan manusia. Manusia secara pribadi bukanlah pemilik apapun di dunia, dan seperti Yesus, bukanlah wakil Tuhan yang ditugaskan untuk menjadi hakim dunia; karena itu ia tidak berhak menuntut balas. Umat Kristen adalah wakil Tuhan untuk membawa kabar baik yang bisa membawa orang yang sejahat apa pun untuk menerima keselamatan melalui Yesus. Selain itu, setiap orang dalam keterbatasannya tidak tahu sepenuhnya akan apa yang benar dan apa yang salah. Karena itu, hanya Tuhan yang pada hakikatnya berhak menjadi hakim yang menjatuhkan hukuman kepada mereka yang melawan Dia.

“Segala jalan orang adalah bersih menurut pandangannya sendiri, tetapi Tuhanlah yang menguji hati.” Amsal 16: 2

Tuhan Yesus bukan saja melarang pengikutNya membalas dendam, Ia malahan menyuruh mereka untuk melawan kejahatan dengan kesabaran.

Kamu telah mendengar firman: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi. Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu.” Matius 5: 38 – 39

Jika membalas dendam adalah dosa yang melanggar perintah Tuhan, mereka yang mudah naik darah biasanya mudah terpancing untuk melampiaskan kemarahannya dengan melakukan kekerasan. Memang kemarahan yang tidak segera dihentikan, lambat laun akan berlanjut dengan kebencian dan pertengkaran (Amsal 10: 12). Karena itu Yesus memberikan perintah agar murid-muridnya tidak membiarkan kemarahan yang ada untuk berlanjut-lanjut, apalagi dengan munculnya kata-kata kutukan, karena iblis menantikan kesempatan untuk menghancurkan hidup mereka yang dikuasai amarah, seperti apa yang terjadi pada Kain yang membunuh Habel saudaranya.

“Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu dan janganlah beri kesempatan kepada Iblis.” Efesus 4: 26 – 27

Pagi ini, jika kita bangun dan melihat matahari terbit, kita harus sadar bahwa satu hari sudah lewat dan hari yang baru sudah datang. Kesempatan untuk kita bisa menghilangkan rasa marah dan dendam sudah diberikan, dan apa yang selanjutnya terjadi dalam hidup kita akan menunjukkan apakah kita benar-benar sudah menjadi pengikut Yesus.

“Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.” Matius 6: 15

Semua orang sebenarnya sakit

Yesus mendengarnya dan berkata kepada mereka: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.” Markus 2: 17

Bagi banyak orang, masalah kesehatan adalah bahan pembicaraan yang sangat populer. Apalagi di saat pandemi ini, orang ingin tetap sehat dan menjaga imunitas agar tetap tinggi. Sering kali saya menerima kiriman nasihat dari teman-teman tentang khasiat jamu tertentu, cara memakai obat tertentu, cara hidup sehat untuk mencegah sakit, dan nasihat sejenisnya. Sepintas lalu, nasihat semacam itu seakan punya maksud baik, yaitu untuk menolong orang lain. Tetapi, jika diselidiki dan dipikirkan masak-masak, kebanyakan nasihat semacam itu tidak berdasarkan fakta atau penyelidikan medis yang benar. Karena itu, ada kemungkinan orang yang sebenarnya perlu nasihat dokter bisa-bisa memilih tindakan yang keliru gara-gara berita yang tidak jelas asal-usulnya.

Memang peringatan dan nasihat kesehatan yang benar itu perlu. Banyak orang yang sakit tetapi malu untuk mengaku sakit. Apalagi mereka yang terjangkit Covid19 sering merasa bahwa itu adalah sebuah stigma. Mereka bisa dikucilkan, dimusuhi atau dibenci orang lain. Karena itu, mereka yang sakit apa pun seringkali lebih suka minum “obat” pilihan sendiri. Ada juga yang sakit serius, tidak tahu kalau sakit dan tidak pernah ke dokter karena hidupnya sibuk . Selain itu ada juga orang sakit yang tidak mau mengaku sakit karena takut sakit. Ada pula yang merasa sehat karena melihat banyak orang lain yang jauh lebih tidak sehat jika dibandingkan dengan dirinya.

Hal sakit itu bukan saja mengenai jasmani tetapi juga bisa mengenai rohani. Banyak orang yang menderita depresi dan gangguan kejiwaan lainnya, tetapi tidak menyadari, tidak peduli atau tidak mau mengakui. Karena itu, sering terjadi bahwa orang-orang yang sedemikian pada akhirnya mengambil tindakan yang menyedihkan karena tidak ada orang yang bisa menolong mereka.

Pada waktu Yesus menjumpai para pemungut cukai dan orang-orang yang dimusuhi masyarakat, Ia memutuskan untuk makan bersama orang-orang itu (Markus 2: 14-16). Ketika para ahli Taurat dan kaum Farisi melihat hal itu, mereka menjadi tidak senang hati karena bagi mereka, orang pemungut cukai dan orang berdosa adalah seperti orang yang mempunyai penyakit menular yang harus dihindari. Tetapi Yesus dengan tepat menjawab bahwa seperti seorang tabib yang datang untuk orang yang sakit, Ia datang bukan untuk orang yang benar, tetapi untuk orang berdosa (Markus 2: 17).

Jika kita meneliti jawaban Yesus itu, mungkin kita bertanya-tanya apakah ada orang yang benar di dunia ini, Mungkinkah Yesus sebenarnya bermaksud untuk menjelaskan bahwa Ia datang untuk semua umat manusia? Benar! Memang semua manusia adalah orang berdosa, yang seperti orang sakit, semuanya memerlukan pertolongan.

“Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah.” Roma 3: 23

Walaupun demikian, tidak semua orang merasa atau ingat bahwa mereka adalah orang berdosa sekalipun menyebut diri sebagai orang Kristen. Seperti orang sakit, banyak juga orang yang tidak menyadari, tidak peduli atau tidak mau mengakui bahwa mereka adalah orang yang membutuhkan seorang Juruselamat. Seperti masalah kesehatan, sering kali, orang merasa bahwa hidup mereka masih lebih baik daripada orang lain dan karena itu tidak ada yang perlu dikuatirkan. Ada pula orang yang merasa beruntung karena sudah disembuhkan, kemudian justru menganggap bahwa keadaan orang lain sudah terlalu payah untuk bisa diselamatkan.

Pagi ini, kita harus sadar bahwa hidup dengan mengabaikan kenyataan adalah hidup dalam impian. Setiap orang adalah orang yang berdosa dan lemah, dan karena itu membutuhkan pertolongan. Biarpun hidup kita serasa nyaman dengan segala kekayaan, ketenaran, kedudukan dan kekuasaan dan bahkan dengan kesehatan tubuh yang prima saat ini, tidak ada seorangpun yang bisa menolong kita dalam hal hidup suci yang sesuai dengan perintah Tuhan.

Semua orang tidak dapat memenuhi syarat kesucian dan hidup baik menurut standar Allah, dan karena itu semua orang pada akhirnya akan menemui hukuman Tuhan, yaitu kematian abadi. Tetapi barangsiapa benar-benar percaya kepada Yesus sebagai Juruselamatnya dan menyadari segala kelemahan dan dosanya akan memperoleh hidup kekal melalui pertobatan dari hidup lamanya. Lebih dari itu, jika kita benar-benar mau menyerahkan hidup kita kepada Yesus, kita akan menerima bimbingan Roh Kudus sehingga makin lama hidup kita akan makin dipenuhi kasih Kristus. Dengan demikian, kita akan lebih mampu untuk membagikan kasih Kristus itu kepada orang lain yang belum sempat atau mau untuk menjumpai Sang Juruselamat.

Bukan karena kemampuan bernegosiasi

Kemudian bernazarlah ia, katanya: “TUHAN semesta alam, jika sungguh-sungguh Engkau memperhatikan sengsara hamba-Mu ini dan mengingat kepadaku dan tidak melupakan hamba-Mu ini, tetapi memberikan kepada hamba-Mu ini seorang anak laki-laki, maka aku akan memberikan dia kepada TUHAN untuk seumur hidupnya dan pisau cukur tidak akan menyentuh kepalanya.” 1 Samuel 1: 11

Kisah hidup Hana sudah sering disampaikan di gereja. Pada umumnya, makna yang ditampilkan adalah penderitaan, iman, doa dan pertolongan dari Tuhan yang terjadi dalam hidup Hana. Suami Hana, Elkana, sangat mencintai Hana yang mandul, bukan Penina sang istri kedua yang subur. Penina berharap kesanggupannya untuk menyediakan anak bagi suaminya akan membuatnya lebih dicintai daripada Hana. Hal ini menyebabkan kesedihan yang mendalam bagi kedua wanita tersebut. Seorang istri yang mandul dan menginginkan anak dan satu istri subur dan menginginkan cinta. Orang bisa bersimpati dengan penderitaan mereka. Alih-alih menghibur satu sama lain, kecemburuan Penina menyebabkan dia menyakiti hati Hana, terus-menerus mengejek ketidakmampuan Hana untuk hamil. Ini berlangsung selama bertahun-tahun. Namun, Hana menunjukkan rahmat dan martabat dengan menahan lidahnya dan terus berdoa kepada Tuhan memohon seorang anak.

Suatu hari, Hana mengunjungi bait suci dan berada dalam kesusahan sehingga dia mengucapkan doanya dalam hati dan dilihat oleh pendeta, Eli. Ketika Eli mendekatinya, Hana menjelaskan bahwa dia berdoa untuk seorang anak, dan dia berjanji kepada Tuhan bahwa jika dia memberinya seorang putra, dia akan mempersembahkannya kepada Tuhan. Sekalipun Hana sudah tidak dapat mempunyai anak karena Tuhan sudah menutup rahimnya (1 Samuel 1: 6), Hana rupanya masih percaya bahwa Tuhan memegang kunci hidupnya. Ia masih ingin bernegosiasi dengan Tuhan!

Tuhan menghargai ketekunan dan kesabarannya, dan Hana kemudian hamil dan melahirkan seorang putra, Samuel. Hana mengasuh Samuel sampai dia disapih pada usia sekitar tiga tahun. Ketika saatnya tiba, Hana membawanya ke Bait Allah, seperti yang dia janjikan, dan mendedikasikan Samuel untuk pelayanan Tuhan dalam sebuah upacara khusus. Perlu dicatat bahwa sebenarnya Hana dapat menebus nazarnya dengan membayar sejumlah uang kepada para pendeta, tetapi dia tetap menepati janjnya.

Apakah Tuhan memberi Hana seorang anak karena nazarnya? Apakah Hana pandai bernegosiasi dengan Tuhan sehingga Ia mau mengalah kepada Hana? Inilah pertanyaan yang mungkin kita ajukan. Kalau keputusan Tuhan bisa dipengaruhi oleh keinginan manusia, Tuhan bukanlah Oknum yang mahakuasa. Kalau Ia bisa dipengaruhi oleh pemberian dan janji manusia, Tuhan bukanlah Oknum yang mahakaya dan sumber kehidupan alam semesta.

Ide bahwa ada kuasa di dalam doa orang percaya merupakan ide yang amat populer. Menurut Alkitab, kuasa doa itu merupakan kuasa Tuhan yang mendengar dan menjawab doa. Ide populer lainnya terkait pada keyakinan bahwa tingkat iman kita menentukan apakah Tuhan akan menjawab doa-doa kita atau tidak. Ini tidak benar. Namun, Tuhan bisa menjawab doa manusia sekalipun kurang beriman. Tuhan memberi kepada siapa pun yang ingin Dia beri.

Dalam Kisah 12, gereja berdoa agar Petrus dibebaskan dari penjara (ayat 5), dan Allah menjawab doa mereka (ayat 7-11). Petrus datang ke tempat di mana kebaktian doa diadakan dan mengetuk pintu, namun orang-orang yang berdoa itu tidak percaya bahwa itu benar-benar adalah Petrus. Mereka berdoa agar dia dibebaskan, namun sebenarnya tidak mengharapkan doa mereka dijawab. Mereka sebenarnya bukan orang-orang yang ingin benar-benar bernego dengan Tuhan.

Hari ini firman Tuhan menyatakan bahwa kuasa doa tidak berasal dari kita; tidak ada kata-kata khusus yang bisa kita ucapkan atau cara-cara khusus untuk mengucapkannya atau bahkan berapa sering kita mengatakannya. Kuasa doa tidak berdasarkan ke mana kita menghadap ketika berdoa atau posisi tertentu dari badan kita. Kuasa doa tidak datang dari orang lain, baik yang masih hidup atau sudah mati, atau karena adanya tempat yang dianggap suci, atau juga karena adanya simbol-simbol keagamaan tertentu. Kuasa doa datang hanya dari Dia yang mahakuasa, yang mendengar doa kita dan menjawabnya. Doa adalah seperti upaya negosiasi rohani yang menghubungkan kita dengan Tuhan yang Mahakuasa. Kita harus mengharapkan hasil akhir yang baik, baik ketika Dia mengabulkan permohonan kita maupun tidak. Apapun jawaban atas doa kita, Tuhan, yang kepadaNya kita berdoa, adalah sumber dari kuasa doa. Dia bisa serta akan menjawab kita, sesuai dengan kehendak dan waktu-Nya yang sempurna.

Hal bernegosiasi dengan Tuhan

“Dan inilah keberanian percaya kita kepada-Nya, yaitu bahwa Ia mengabulkan doa kita, jikalau kita meminta sesuatu kepada-Nya menurut kehendak-Nya.” 1 Yohanes 5: 14

Baru-baru ini saya membaca sebuah tulisan keagamaan yang menganjurkan orang untuk berdoa pada waktu tertentu agar bisa memperbesar kemungkinan untuk dikabulkan Tuhan. Menurut tulisan itu, jika kita berdoa pada hari atau saat tertentu, makin besar kemungkinan untuk mendapat berkat Tuhan yang terbaik. Ini mirip cara orang untuk bernegosiasi dalam bisnis, pemerintahan dan hubungan antar negara. Salah pilih waktu memang bisa memperburuk suasana. Tidak jelas mengapa hal itu dianjurkan sedangkan Tuhan yang mahakuasa dan mahahadir tentunya selalu tahu kapan saja kita berdoa dan apa yang akan kita doakan. Tuhan yang selalu ada dan tidak pernah tidur tentunya selalu mau mendengarkan doa umatNya yang ingin “bernegosiasi”.

Di antara umat Kristen, memang ada yang percaya bahwa berdoa di tempat-tempat tertentu memberi kemungkinan yang lebih besar untuk mendapat jawaban Tuhan. Karena itu, tempat-tempat “keramat”sedemikian biasanya penuh sesak dengan orang yang datang untuk berdoa. Selain itu, ada pula orang yang mengajarkan cara berdoa tertentu atau melalui perantaraan orang tertentu, agar bisa lebih menjamin datangnya berkat dan pertolongan Tuhan. Walaupun demikian, kebanyakan orang Kristen percaya bahwa mereka bisa bernegosiasi langsung dengan Tuhan dimana saja dan kapan saja dalam nama Yesus.

Jika orang Kristen bebas untuk berdoa kapan saja dan dimana saja, biasanya orang memang lebih sering berdoa di tempat tertentu dan pada saat tertentu. Itu sekedar kebiasaan, dan bukan keharusan. Orang Kristen dianjurkan untuk berdoa atau berkomunikasi dengan Tuhan sesering mungkin, tetapi mungkin kita lebih merasakan dorongan untuk berdoa di tempat tertentu atau pada saat dimana kita membutuhkan Tuhan. Itu tidak ada salahnya. Walaupun demikian, apakah doa manusia menentukan apa yang akan terjadi? Adakah manfaat doa manusia dalam memengaruhi keputusan Tuhan? Inilah hal yang sering menjadi polemik di antara umat Kristen, antara mereka yang percaya bahwa kita bisa bernegosiasi dengan Tuhan dan mereka yang percaya bahwa kita tidak boleh bernegosiasi dengan Tuhan. Bagaimana kata Alkitab?

Ayat di atas menyatakan bahwa orang Kristen yakin dan percaya bahwa Tuhan akan mengabulkan permintaan mereka jika apa yang dipinta adalah sesuai dengan kehendakNya. Dengan demikian, kita tidak dapat mengharapkan bahwa usaha nego kita akan berhasil jika apa yang kita pinta tidak sesuai dengan apa yang direncanakan Tuhan. Dalam kenyataannya, Tuhan Yesus pernah mengajarkan dalam Doa Bapa Kami: “… datanglah kerajaanMu, jadilah kehendakMu di bumi seperti di surga“. Selain itu Tuhan Yesus berdoa di taman Getsemani: “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.” Dari sini dapat disimpulkan bahwa kita boleh ber-nego dan memohon sesuatu, tetapi kita tidak dapat memaksakan kehendak kita kepada Tuhan. Kita tidak dapat mengharapkan bahwa Tuhan yang selalu mendengarkan permohonan kita akan mengabulkan permintaan kita jika permintaan kita bertentangan dengan kehendakNya.

Adakah cara yang terbaik untuk memperoleh jawaban positif dari Tuhan? Ada! Jika kita memohon apa yang memang dikehendaki Tuhan, sudah pasti itu akan terjadi. Tetapi, jika Tuhan menghendaki sesuatu dan kita tidak dapat membatalkan atau mengubahnya, apakah perlunya kita berdoa? Inilah misteri hubungan antara umat dan Tuhan yang tidak dapat dimengerti orang yang bukan Kristen. Malahan sebagian orang Kristen juga masih percaya bahwa jika memang kita bersungguh-sunguh dan “ngotot” dengan doa kita, Tuhan pada akhirnya mungkin mengalah dan menyesuaikan rencanaNya dengan kehendak kita. Bukankah itu definisi negosiasi menurut kamus?

Rahasia suksesnya doa memang sulit dimengerti, sekalipun seharusnya dipahami oleh setiap orang Kristen. Satu-satunya jalan untuk memperoleh apa yang kita mohonkan adalah menyesuaikan permohonan kita dengan kehendakNya. Itu karena kehendakNyalah yang harus terjadi. Tetapi untuk mengerti apa yang dikehendaki Tuhan, kita harus dekat kepadaNya. Dan untuk dekat dengan Dia, kita harus rajin berdoa, berkomunikasi dengan Dia. Doa adalah nafas kehidupan rohani kita. Tanpa doa, hubungan kita dengan Tuhan akan pelan-pelan menjadi mati. Kita tidak boleh berdoa hanya pada waktu kita ingin bernegosiasi dengan Tuhan. Jika kita tidak sering berbincang-bincang dengan Dia, lama kelamaan kita tidak lagi bisa memahami apa yang dikehendakiNya. Kita harus sadar bahwa doa kita yang tidak terkabul mungkin adalah doa yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Lebih dari itu, jika kita mengalami atau memperoleh sesuatu, baik yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan, kita tetap harus berusaha mencari kehendak Tuhan di masa depan melalui doa yang tidak berkeputusan.

Bolehkah kita bernegosiasi dengan Tuhan?

“Jauhlah kiranya dari pada-Mu untuk berbuat demikian, membunuh orang benar bersama-sama dengan orang fasik, sehingga orang benar itu seolah-olah sama dengan orang fasik! Jauhlah kiranya yang demikian dari pada-Mu! Masakan Hakim segenap bumi tidak menghukum dengan adil?” Kejadian 18: 25

Bacaan: Kejadian 18: 23 – 33

Kata “nego” adalah salah satu kata yang populer di Indonesia. Arti kata ini adalah tawar-menawar. Kata nego berasal dari kata negosiasi yang berarti proses tawar-menawar dengan jalan berunding guna mencapai kesepakatan antara satu pihak dengan pihak yang lain. Proses ini bisa mempunyai beberapa tujuan seperti:

  • untuk mengatasi atau menyesuaikan perbedaan,
  • untuk memperoleh sesuatu dari pihak lain,
  • untuk mencapai kesepakatan yang dapat diterima kedua belah pihak dalam melakukan transaksi,
  • untuk menyelesaikan sengketa/perselisihan pendapat.

Di beberapa negara, hal tawar-menawar sudah menjadi norma dan bukan merupakan sesuatu yang tidak etis. Di kota Solo misalnya, ada pasar Klewer dimana kita bisa melakukan tawar-menawar harga pakaian batik, kain batik, pakaian anak dan orang dewasa, aksesoris hingga suvenir. Begitu juga kota Surabaya mempunyai pasar Atom, dan kota Jakarta mempunyai pasar Tanah Abang. Mereka yang tidak faham soal tawar-menawar atau tidak menyukai tawar-menawar di pasar tentunya tidak akan bisa memperoleh harga yang terbaik. Tidak mau menawar akan merugikan diri sendiri, kata orang.

Dalam kitab Kejadian 18:23 – 33 dikisahkan bagaimana Abraham melakukan negosiasi dengan Tuhan mengenai rencanaNya untuk menghukum penduduk kota Sodom yang sudah lama hidup dalam dosa dan mengabaikan perintahNya. Mungkin sebagai seorang pengusaha lahan pertanian dan peternakan, Abraham sudah terbiasa untuk melakukan tawar-menawar dengan banyak orang. Tetapi, pada kali ini ia mencoba ber-nego dengan Tuhan.

Tuhan menyatakan rencanaNya untuk menghancurkan Sodom dan penghuninya. Untuk Abraham, ini adalah sesuatu yang terlalu berat karena ia merasa ada orang-orang yang baik di kota itu yang tidak perlu dihukum bersama yang lain. Dari ayat-ayat bacaan di atas kita bisa membaca bahwa Abraham cukup ulet dan tidak sungkan-sungkan dalam melakukan tawar-menawar dengan Tuhan, Namun pada akhirnya Abraham tidak berhasil memperoleh apa yang diharapkannya. Semua usahanya sia-sia karena Tuhan sudah mempunyai rencana berdasarkan apa yang sudah diketahuiNya. Apakah tindakan Abraham keliru?

Barangkali apa yang diusahakan Abraham adalah serupa dengan apa yang kita lakukan ketika ada masalah besar yang kita hadapi. Mungkin kita memohon kepada Tuhan untuk mengubah apa yang terjadi dalam hidup kita. Dalam keadaan pandemi saat ini, dengan doa-doa yang tidak berkeputusan, doa bersama dengan orang beriman, atau dengan puasa, kita mungkin berusaha agar Tuhan melakukan sesuatu untuk menolong kita atau orang lain. Kita melakukan semua itu karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan dan apa yang akan Tuhan lakukan. Tetapi Tuhan yang mahatahu tentunya tahu apa yang akan terjadi dan pasti sudah mempunyai rencana untuk menghadapi semua itu.

Dalam keadaan putus asa, mungkin karena kita merasa bahwa Tuhan mempunyai pendapat yang berbeda dengan kita, seperti Abraham kita berusaha untuk mencapai kompromi dengan Tuhan, walaupun kita tahu bahwa Tuhan adalah mahabijaksana dan mahatahu. Sebagai manusia kita tidak tahu jalan pikiran Tuhan dan tidak dapat memberi nasihat kepadaNya agar Ia mengambil keputusan yang kita anggap baik.

“O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya! Sebab, siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan? Atau siapakah yang pernah menjadi penasihat-Nya?” Roma 11: 33-34

Satu hal yang mengherankan adalah kenyataan bahwa Tuhan mau mendengarkan tawaran Abraham dan tidak murka kepadanya. Sudah tentu Abraham kuatir bahwa Tuhan akan marah karena ia berani ber-nego, tetapi Tuhan tetap dengan sabar mendengarkan “tawaran” Abraham. Tuhan tidak juga menertawakan Abraham karena kebodohannya, Tuhan tahu bahwa Abraham adalah manusia yang terbatas kemampuannya. Tuhan justru seakan menikmati suasana “tawar-menawar” antara Dia yang mahabijaksana dengan manusia yang bodoh.

Hari ini, kita harus sadar bahwaTuhan menganjurkan umatnya untuk berdoa kepadaNya. Ia senang jika kita ber-nego dengan Dia. Sekalipun Dia tidak pernah keliru dalam rencana maupun keputusanNya, Tuhan tidak akan marah mendengarkan semua alasan dan tawaran kita. Mengapa demikian? Tuhan menghargai umatNya yang mau mendekatiNya sekalipun mereka bukanlah orang yang bijaksana. Tuhan senang kalau kita mendekati Dia dan berusaha mengerti apa yang dikehendakiNya. Melalui doa, kita bernegosiasi dengan Dia agar kita makin percaya kepada Dia dan yakin bahwa apa yang direncanakanNya adalah baik adanya. Sekalipun kita tahu bahwa sebagai manusia kita tidak dapat mengubah rencana dan keputusanNya, kita akan bisa lebih yakin akan masa depan karena adanya kesadaran bahwa Tuhan kita bukanlah Tuhan yang bisa melakukan kesalahan dan yang tindakanNya perlu dikoreksi oleh manusia ciptaanNya, tetapi Dia adalah Tuhan yang mahakuasa, mahatahu, mahabijaksana dan mahakasih.

“Karena itu berdoalah demikian: Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.” Matius 6: 9 – 10

Doa tanpa kebosanan adalah tanda hidup dalam iman

“Tetaplah berdoa” 1 Tesalonika 5: 17

Pesan Paulus mengenai doa dalam ayat di atas cukup singkat: kita harus tetap berdoa. Dalam bahasa Inggrisnya “continually” atau “unceasingly” yang artinya terus-terusan atau tidak berhenti. Apa maksud Paulus dalam menyuruh jemaat di Tesalonika untuk berdoa terus menerus? Tuhan yang Mahakuasa dan Mahabijaksana itu tentunya tahu apa yang kita butuhkan, memutuskan apa yang akan terjadi dan manusia tidak dapat melawan kehendakNya. Lalu apa gunanya berdoa? Dan apa guna berlama-lama berdoa?

Memang banyak orang Kristen yang kuat dan ulet dalam berdoa. Sebagian malah percaya bahwa makin kuat dan lama doanya, makin besar kemungkinan Tuhan akan mengabulkan doa mereka. Malahan ada yang percaya bahwa ritual-ritual dan doa-doa tertentu mempunyai khasiat besar pada kemungkinan terkabulnya doa. Ada juga mereka yang berdoa terus- terusan karena mereka percaya bahwa itulah yang dikendaki Tuhan dan karena itu harus dilaksanakan sekalipun mereka tidak mengerti apa maksud dan tujuannya. Mereka paling tidak mendapat kelegaan dan ketenangan karena sudah menjalankan perintah Tuhan. Dalam hal ini doa mungkin hanya merupakan keharusan dan kebiasaan saja.

Doa sebenarnya adalah sebuah percakapan antara seorang anak Allah dengan sang Bapa. Memang itu menunjukkan adanya hubungan antara kedua pihak. Hubungan yang baik membawa banyak percakapan, dan banyaknya percakapan seharusnya menunjukkan hubungan yang sehat. Walaupun demikian hubungan dalam hal ini adalah berbeda dengan hubungan antar manusia. Doa adalah komunikasi antara manusia dan sang Pencipta.

Doa yang baik adalah doa yang disertai dengan rasa hormat, syukur, jujur, rendah hati dan berserah kepada Tuhan. Doa bukanlah sekedar “omong-omong”, “omong kosong” atau “nodong” seperti yang sering kita lakukan kepada teman dekat kita. Doa adalah sebuah kesempatan untuk manusia agar bisa mengutarakan isi hatinya dan mendengarkan pendapat Allah tentang hal itu. Doa adalah sebuah komunikasi dua arah yang perlu dilakukan setiap saat dan sesering mungkin.

Setiap kali kita berdoa, kesulitan kita adalah dalam hal mendengar suara Tuhan. Kita cenderung mendengar suara kita sendiri dan suara-suara lain yang memengaruhi hati dan pikiran kita, sehingga sukar untuk bisa mendengar suaraNya. Dengan demikian, jika kita tidak mendengar jawaban Tuhan, lama-kelamaan kita akan bisa menjadi bosan dan bahkan marah kepada Tuhan. Tetapi dalam setiap doa kita, sebenarnya Tuhan selalu mendengar apa yang kita sampaikan karena Ia adalah Bapa yang baik. Ia senang jika kita mau menghampiri tahtaNya.

Melalui doa jugalah kita menyampaikan segala permohonan kita. Bukan untuk yang kita ingini, tetapi untuk apa yang kita butuhkan. Tetapi mungkin kita lebih sering berdoa untuk apa yang kita ingini; itu adalah lumrah. Karena keterbatasan kita sebagai manusia, kita sering sulit membedakan antara keinginan dan kebutuhan. Hanya Tuhan yang selalu tahu apa yang benar-benar kita butuhkan dan menjawab permohonan kita karena Dialah yang Mahatahu. Karena itu, semakin sering kita berdoa, semakin bisa kita mengetahui apa yang kita butuhkan karena melalui doa, Tuhan bisa menunjukkan apa yang dikehendakiNya. Melalui doa yang tetap kita lakukan, kita belajar menyesuaikan keinginan dan hidup kita dengan kehendakNya dan bersabar menunggu jawabNya.

Hari ini marilah kita mengambil keputusan untuk tetap berdoa sekalipun keadaan saat ini kurang bisa memberi semangat. Kita harus berdoa bukan dengan doa yang selalu mengutarakan keinginan kita, tetapi doa yang menunjukkan bahwa kita mau belajar mendengar apa yang dikatakan Tuhan. Doa yang mencerminkan ketundukan kita atas kehendakNya dan kemauan kita untuk menerima apa yang akan Dia berikan, karena Dialah yang tahu apa yang kita butuhkan. Dengan seringnya kita berdoa selama menunggu jawaban Tuhan, kesabaran dan iman kita juga akan terlatih.

“…., karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya.” Matius 6: 8b

Apa harapan anda saat ini?

“Sebab kita diselamatkan dalam pengharapan. Tetapi pengharapan yang dilihat, bukan pengharapan lagi; sebab bagaimana orang masih mengharapkan apa yang dilihatnya?” Roma 8: 24

Setahun sejak munculnya Covid-19, pandemi ini belum nampak mereda. Memang beberapa negara sudah berhasil mengurangi jumlah penambahan kasus positif harian mereka, tetapi selama vaksin belum bisa dibagikan secara meluas ancaman kembalinya virus ini akan tetap ada. Keadaan yang serba tidak menentu ini sudah pasti membuat banyak orang merasa gundah karena tidak dapat membuat rencana untuk masa depan. Dengan demikian, semua harapan manusia mungkin akan tetap tinggal sebagai harapan untuk jangka waktu yang cukup lama.

Dalam keadaan saat ini, apa harapan anda untuk masa depan? Apa juga harapan anda untuk sanak saudara anda? Semua orang tentu mengharapkan apa yang baik, untuk dirinya sendiri dan untuk semua orang yang dikasihinya. Apa yang diharapkan selagi hidup di dunia, tentunya berkisar pada kebahagiaan, kesehatan, kesuksesan dan sejenisnya. Itu adalah wajar. Tidak ada orang yang mengharapkan sesuatu yang buruk bagi dirinya atau kerabatnya. Walaupun demikian, pada saat ini hal-hal yang buruk bisa saja terjadi pada diri siapa saja sekalipun itu bukan karena kesalahan orang yang bersangkutan. Harapan yang bagaimanapun baiknya, belum tentu bisa terwujud dalam hidup kita.

Apa yang diharapkan manusia pada umumnya adalah hal yang bisa dilihat, karena apa yang bisa dilihat adalah mudah untuk dimengerti dan dinikmati. Tetapi apa yang bisa dilihat juga merupakan sesuatu yang mudah untuk membawa kekecewaan. Apa saja yang kita inginkan dan miliki di dunia ini, mungkin terlihat baik pada hari ini, tetapi bisa berubah rupa esok hari dan bahkan lenyap tidak berbekas. Apa yang bisa dilihat manusia adalah hal yang fana, yang tidak kekal adanya.

Ayat diatas menyebutkan pengharapan yang berbeda, karena pengharapan ini adalah untuk sesuatu yang tidak bisa kita lihat. Sesuatu yang hanya bisa dirasakan dalam hati selama kita ada di dunia. Tidak semua orang bisa mempunyai pengharapan akan apa yang tidak terlihat, tetapi itu adalah pengharapan yang benar. Apa yang tidak terlihat saat ini adalah keselamatan yang sudah dijanjikan Allah kepada setiap orang yang percaya kepadaNya. Allah adalah Bapa kita yang bukan seperti orang tua yang hanya bisa mengharapkan agar sesuatu yang baik terjadi pada diri anak-anaknya, tetapi Ia adalah Allah yang sanggup memberikan masa depan yang terbaik untuk mereka.

“Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia.” Roma 8: 17

Malam hari ini, jika kita bersiap untuk tidur, mungkin tidak mudah bagi kita untuk memejamkan mata. Mungkin kita masih sedih memikirkan masa depan kita dan juga hal-hal buruk yang dialami oleh teman dan sanak keluarga kita. Adakah harapan bahwa kita bisa mencapai apa yang kita idamkan dengan adanya pandemi yang berkepanjangan ini? Ataukah kita merasa bahwa hidup yang ada di saat ini adalah sebuah perjalanan tanpa tujuan dan harapan?

Mungkin kita sulit untuk tidur nyenyak karena pikiran kita terpaku pada hal-hal yang dapat kita lihat setiap hari: segala penderitaan, kekecewaan, kehilangan dan kegagalan. Kita mungkin lupa bahwa apa yang tidak terlihat sekarang ini sebetulnya adalah pengharapan yang benar dan terbesar. Kita mungkin tidak sadar bahwa apa yang tidak terlihat itu sebenarnya adalah rencana Bapa kita yang di surga. Ialah yang membimbing kita selama hidup di dunia dan memberi ketekunan dan kekuatan agar kita tetap bisa berharap dan berdoa untuk masa depan yang cemerlang bersama Dia. Sekalipun hidup di dunia ini penuh tantangan dan penderitaan, kita harus yakin bahwa Tuhan bisa dan mau menguatkan mereka yang menantikan saat itu dengan tekun.

“Tetapi jika kita mengharapkan apa yang tidak kita lihat, kita menantikannya dengan tekun. Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan.” Roma 8: 25 – 26