Sulitnya menjadi prajurit

“Ikutlah menderita sebagai seorang prajurit yang baik dari Kristus Yesus. Seorang prajurit yang sedang berjuang tidak memusingkan dirinya dengan soal-soal penghidupannya, supaya dengan demikian ia berkenan kepada komandannya.” 2 Timoutius 2: 3 – 4

Akademi militer angkatan darat yang terkenal di Australia adalah The Royal Military College, Duntroon. Akademi yang juga dikenal dengan nama Duntroon, didirikan di Canberra, ibukota Australia pada tahun 1911. Lokasi akademi ini adalah di kaki gunung Pleasant dekat danau Burley Griffin. Akademi ini sebanding dengan the Royal Military Academy Sandhurst yang dimiliki Inggris and the Military Academy at West Point yang ada di Amerika.

Seorang kolega saya, Claude, yang pernah mengajar di sebuah universitas di Australia adalah lulusan Duntroon yang pernah dikirim ke perang Vietnam sebagai seorang prajurit. Seingat saya, Claude adalah orang yang tegas dan berdisiplin dengan suara yang lantang. Mungkin saja, karena selama bertahun-tahun ia bekerja sebagai tenaga militer, ia mempunyai karakter dan tingkah laku yang khas militer.

Bagaimana seorang bisa mempunyai penampilan khas militer sekalipun ia tidak memakai seragam militer? Orang tentu tidak dilahirkan dengan ciri-ciri itu, tetapi sesudah mengalami penggemblengan yang cukup lama dan kemudian mendapat kesempatan untuk mempraktikkan semua teori yang pernah diterimanya, lambat laun akan menjadi orang yang berbeda dalam cara dan ciri hidupnya.

Ayat di atas menyatakan bahwa sebagai orang percaya kita harus bersedia menderita dan berjuang sebagai seorang prajurit yang baik. Sebagai seorang prajurit yang sedang berjuang, kita seharusnya tidak memusingkan diri dengan soal-soal penghidupan kita, supaya bisa berkenan kepada komandan kita, Yesus Kristus. Pada pihak yang lain, jika kita hanya mementingkan kehidupan kita, pikiran kita selalu dibebani dengan kebutuhan kita dan selalu membayangkan apa yang kita ingini saja. Dengan demikian, sebagai seorang prajurit kita tidak akan bisa memusatkan perhatian kepada apa yang penting, yang sudah diperintahkan Tuhan.

Orang Kristen adalah seperti orang yang sudah lulus dari sebuah akademi militer. Ia adalah orang yang sudah menerima status yang baru sebagai seorang prajurit. Tetapi, apa yang sudah didengar dan dipelajarinya tidaklah akan berguna jika ia tidak mau maju berjuang bersama rekan-rekannya dan tidak mau mendengarkan perintah komandannya. Bagaimana kita bisa menjadi pengikut Tuhan jika kita hanya ingin menuruti kemauan kita? Bagaimana kita bisa bertahan dalam perjuangan jika kita tidak mau memusatkan hidup kita kepada apa yang difirmankanNya?

Tujuan hidup bukanlah sekedar konsep

“Aku hendak memuliakan TUHAN selama aku hidup, dan bermazmur bagi Allahku selagi aku ada.” Mazmur 146: 2

Apakah tujuan hidup atau purpose of life kita? Mungkin ada orang yang menjawab bahwa ia ingin menjadi orang yang sukses, orang yang pandai atau orang yang berguna untuk masyarakat dan negara. Semua ini adalah cita-cita. Tujuan hidup adalah sesuatu yang lebih luas dan menyeluruh jika dibandingkan dengan cita-cita dan karir. Tujuan hidup juga sering berbentuk abstrak dan tidak dapat dilihat atau diukur. Walaupun demikian, adanya tujuan hidup adalah penting untuk membuat orang kuat dalam menghadapi semua tantangan. Orang boleh mengejar cita-cita dan senang ketika itu tercapai, namun jika tujuan hidup tidak terwujud, semua yang dicapai mungkin tidak berarti. Sebaliknya, mereka yang tidak mencapai kedudukan tinggi atau mendapat kekayaan yang berlimpah bisa saja berbahagia jika tujuan hidupnya tercapai.

Dalam hidup ini memang kesibukan sehari-hari sering menyita waktu dan karena itu kita mungkin tidak sempat memikirkan apakah tujuan hidup kita sudah tercapai. Apakah kepuasan hidup sudah tercapai, sedang mendatangi ataukah belum terasa, mungkin tidak pernah dipikirkan dalam-dalam. Walaupun demikian, seringkali ketika orang mengalami suatu kejadian yang tidak menyenangkan dalam hidup, secara tiba-tiba ia mungkin terbangun dan sadar bahwa hidup yang ada sampai saat ini adalah hampa. Jika pada saat-saat yang lalu ia tidak memikirkan apa arti hidupnya, dengan  memeriksa realitas kehidupan kemudian timbul kesadaran bahwa apa yang dipunyainya bukanlah tujuan hidupnya.

Apakah kita sudah mencapai tujuan hidup kita?  Kita bisa memeriksa hidup kita sendiri. Reality check untuk apa yang sudah kita capai secara jasmani mudah dilakukan, tetapi bukan itu saja yang dituju dalam hidup manusia. Penulis Mazmur di atas menyatakan keinginannya untuk memuliakan Tuhan selama ia hidup, dan bermazmur bagi Dia selagi  masih bisa. Memuliakan Tuhan dan memuji Dia adalah suatu sikap yang harus diambil setiap orang Kristen dan seharusnya menjadi tujuan hidup kita juga. Tujuan hidup yang indah  ini seringkali lebih mudah dikatakan daripada dilaksanakan dalam kesibukan sehari-hari. Sekalipun sebagai orang percaya kita mungkin ingin hidup seperti pemazmur, bagaimana kita bisa memuliakan Tuhan dan bermazmur untuk Dia sepanjang waktu dalam hidup kita?

Untuk bisa mempunyai hidup yang memuliakan dan memuji Tuhan, tidaklah cukup dengan pergi ke gereja setiap minggu, atau aktif dalam kegiatan gereja. Jika itu adalah tujuan hidup kita, kita harus bisa melakukannya setiap saat. Dalam hal ini banyak orang Kristen yang berpikir bahwa mereka dapat mencapai tujuan ini secara rohani, melalui perenungan, pemikiran, dan perasaan. Itu benar, tetapi tidak sepenuhnya. Jika kita memang ingin untuk memuliakan dan memuji Tuhan di setiap waktu, itu berarti bahwa apa  saja yang kita kerjakan sehari-hari harus bisa menyatakan hal itu. Tujuan hidup orang Kristen bukan sekedar konsep rohani, tetapi sesuatu yang nyata.

Pagi ini, ayat di atas menantang kita untuk berpikir dalam-dalam. Jika kita memang mengasihi Tuhan dan sesama kita, apakah yang kita kerjakan hari ini yang bisa membuktikan hal itu? Jika kita ingin memuliakan dan memuji Tuhan, apakah yang bisa  kita lakukan pada setiap saat dalam hidup kita? Mungkin kita berpikir bahwa tidak ada hal-hal yang signifikan yang bisa kita lakukan dalam hidup kita saat ini. Mungkin karena umur, kesehatan, pendidikan, pekerjaan atau lingkungan, kita merasa tidak mampu untuk melakukan hal-hal yang “besar”. Tetapi, memuji Tuhan dan memuliakanNya tidak harus berarti berbuat sesuatu yang hebat dalam pandangan manusia. Tujuan hidup kita ini bisa dicapai dalam keadaan apa pun kalau saja kita sadar bahwa segala sesuatu yang kita perbuat, kita bisa melakukannya untuk memujiNya.

“Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita.” Kolose 3: 17

Pernahkah Tuhan menyesal?

“Allah bukanlah manusia sehingga Ia berdusta, bukan anak manusia sehingga Ia menyesal. Masakan Ia berfirman dan tidak melakukannya, atau berbicara dan tidak menepatinya?” Bilangan 23: 19

Nasi sudah menjadi bubur. Begitulah ungkapan yang kita kenal sejak SD, yang menyatakan penyesalan akan sesuatu yang sudah terjadi dan yang sudah terlambat untuk bisa diperbaiki. Dalam bahasa Inggris, ungkapan yang serupa adalah “it’s no use crying over spilt milk” yang artinya tidak ada gunanya menangisi susu yang sudah tumpah. Buku kamus yang memuat ungkapan ini untuk pertama kalinya adalah Oxford English Dictionary yang bersumber dari apa yang ditulis oleh James Howell pada tahun 1659. Sungguh menarik bahwa kedua ungkapan yang serupa artinya, mengutarakan rasa menyesal atas hilangnya apa yang lazim dimakan di negara itu sebagai cara untuk mengungkapkan rasa penyesalan yang sia-sia. Nasi yang sudah menjadi bubur dan susu yang sudah tumpah tidaklah dapat dikembalikan kepada keadaan yang semula.

Memang dalam keterbatasannya, manusia mana pun sering melakukan kekeliruan sehingga timbul rasa penyesalan yang dalam ketika ia menyadari apa yang sudah terjadi. Dengan itu, mungkin timbul keinginan untuk memperbaiki keadaan melalui perubahan rencana dan tindakan. Walaupun demikian, jika dipikirkan dalam-dalam semua itu bisa menimbulkan kekuatiran baru karena manusia

  • bisa melakukan berbagai kekeliruan
  • sering tidak mengerti apa yang terjadi dan mengapa itu harus terjadi
  • mempunyai kemampuan terbatas untuk mengatasi persoalan
  • tidak punya kesempatan baru di masa depan
  • tidak mampu melihat ke masa depan

Jika manusia bisa menyesali apa yang sudah terjadi dan ingin berubah pikiran, bagaimana pula dengan Tuhan? Kata “menyesal” dalam berbagai bentuk memang muncul berkali-kali dalam Alkitab, dan beberapa ayat memang agaknya menulis tentang Allah yang menyesal atas apa yang diperbuatNya dan tentang Allah yang menyesali apa yang terjadi, serta tentang Allah yang berubah pikiran. Sebagai contoh adalah Kejadian 6: 6,  dimana karena adanya kejahatan manusia Allah menyesal bahwa Ia sudah menciptakan mereka.

Banyak manusia yang berpikir bahwa Allah adalah seperti manusia yang menghadapi masalah kehidupan. Tetapi, mengapa Allah harus menyesal atas apa yang diperbuatNya? Bagaimana mungkin Allah menyesali apa yang sudah terjadi? Bagaimana pula Allah bisa berubah pikiran? Jika memang reaksi Allah adalah seperti reaksi manusia, tentunya Ia juga mempunyai lima kelemahan di atas. Allah dengan demikian bukanlah Oknum yang mahakuasa, mahatahu, mahakasih, mahabijak dan mahasuci. Jika Allah mempunyai rasa sesal, penyesalan dan pikiran yang berubah-ubah, Ia adalah Tuhan yang tidak sempurna.

Sebagian umat Kristen mungkin percaya bahwa Tuhan adalah Oknum yang menyesuaikan rancanganNya dengan apa yang terjadi di dunia. Setiap kejadian di dunia tidak akan luput dari pandangan mataNya dan karena itu Ia bisa berubah sikap sesuai dengan perubahan sikap manusia. Pandangan semacam itu adalah pandangan “Teisme terbuka”  atau “Open Theism” yang merendahkan derajat Tuhan karena Ia yang mahakuasa harus menyesuaikan diri dengan kehidupan manusia. Sebaliknya, Tuhan mampu melaksanakan rancanganNya di antara pergolakan dan dinamika yang ada dalam hidup manusia.

Tuhan memang bisa menyesal, tetapi penyesalanNya bukanlah karena Ia tidak mengerti apa yang terjadi. Ia tahu apa yang sudah terjadi, yang sedang terjadi dan apa akan terjadi, karena segala sesuatu terjadi sesuai dengan rancanganNya. Rasa sesal dan penyesalanNya adalah sebuah kemampuan yang dipunyaiNya karena Ia adalah Tuhan yang mempunyai hati yang penuh kasih sayang kepada semua ciptaanNya. Karena itu setiap kali timbul rasa sesal atau penyesalan Tuhan dalam Alkitab, kita selalu bisa melihat bahwa Tuhan ternyata sudah mempunyai tindakan untuk mengatasi apa yang terjadi. Tuhan tidak bisa melakukan kekeliruan karena Ia adalah Tuhan yang mahatahu dan mahakuasa. Apapun yang terjadi dalam hidup manusia, dari semula Ia sudah mempunyai solusi sebelum itu terjadi. Karena itu, apa guna kita memikirkan nasi yang sudah menjadi bubur dan susu yang sudah tertumpah? Semua itu hanyalah umgkapan hati manusia yang tidak mengenal Tuhan dan kebesaranNya. Bagi kita umat Tuhan, harapan kita selalu ada dan ditujukan kepada Dia yang mahabijaksana.

 

Hidup jujur itu tidak mudah

Jauhkanlah dari padaku kecurangan dan kebohongan. Jangan berikan kepadaku kemiskinan atau kekayaan. Biarkanlah aku menikmati makanan yang menjadi bagianku. Amsal 30: 8

Bersediakah anda untuk berbohong? Pertanyaan ini lebih sulit untuk dijawab daripada pertanyaan “Apakah anda pernah berbohong”. Setiap orang tentunya pernah berbohong, baik itu bohong kecil ataupun bohong besar, dan setiap orang bisa mengakuinya. Memang manusia tidak ada yang sempurna. Walaupun demikian, pertanyaan apakah kita mau berbohong tidaklah mudah dijawab. Dengan sejujurnya kita pernah berbohong di masa lalu karena suatu sebab; dan jika ada sebab yang kuat di masa depan, mungkin saja kita tidak ragu-ragu untuk berbohong lagi.

Berbohong terkadang dihubungkan dengan pekerjaan atau kedudukan seseorang di masyarakat. Menurut survey di Australia, penjual mobil (car salesmen) adalah orang yang paling tidak bisa dipercaya. Sebaliknya. mereka yang bekerja sebagai jururawat, apoteker dan dokter dianggap sebagai orang yang paling bisa dipercaya. Ini berbeda dengan keadaan di Indonesia, dimana banyak orang yang kurang bisa mempercayai dokter karena adanya anggapan bahwa mereka adalah orang kaya yang mata duitan. Tidaklah mengherankan bahwa ada orang yang tidak mau ke dokter sekalipun sudah sakit parah.

Memang orang sering jatuh ke dalam dosa kebohongan karena soal harta. Alkitab sendiri mengatakan karena cinta uang orang bisa jatuh ke dalam pencobaan.

“Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan. Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.” 1 Timotius 6: 9 – 10

Walaupun demikian, setiap orang dalam kenyataannya sering berbohong bukan saja sewaktu butuh uang, tetapi juga sewaktu kelebihan uang. Kebohongan di zaman ini agaknya sudah menjadi norma kehidupan manusia dari segala tingkatan, jika mereka ingin sukses dan ingin selalu menang bersaing dengan orang lain. Mereka yang ingin jujur terus, justru dianggap orang bodoh yang tidak mau memanfaatkan kesempatan. Ini bahkan bisa terlihat juga dalam pemerintahan di banyak negara, dimana mereka yang ingin berkuasa mungkin harus bisa melakukan berbagai tipu daya dan menutupi ketidak-jujuran. Sebaliknya, rakyat yang hidup dalam penderitaan seringkali juga terdesak untuk melalui jalan yang curang agar bisa tetap hidup.

Dalam ayat di atas, Agur bin Yake memohon kepada Tuhan untuk menjauhkan dirinya dari kecurangan dan kebohongan. Ia lebih lanjut meminta agar ia tidak mengalami kemiskinan atau kekayaan, karena keduanya bisa mendorongnya untuk berlaku curang dan melakukan kebohongan. Apa yang diharapkannya adalah kesempatan untuk menikmati apa yang ada, yang sudah menjadi bagian hidupnya. Ini tidak mudah, karena banyak orang yang justru tidak merasa puas dengan apa yang sudah dipunyainya.

Pagi ini, marilah kita memikirkan apa saja yang masih kita ingini dalam hidup ini.  Tidak ada salahnya jika kita memohon apa yang kita butuhkan dalam hidup kita. Tuhan yang mahakasih selalu mau mendengarkan doa-doa kita. Walaupun demikian, pernahkah kita memohon agar kita diberi kemampuan untuk merasa cukup dengan apa yang sudah kita terima? Rasa cukup atas apa yang ada akan menjauhkan kita dari dosa kebohongan dan kecurangan. Rasa cukup juga akan menghindarkan kita dari hidup Kristen yang penuh kepalsuan.

“Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan. Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” Filipi 4: 12 – 13

Kehendak Tuhanlah yang akhirnya terjadi

“Banyaklah rancangan di hati manusia, tetapi keputusan Tuhanlah yang terlaksana.” Amsal 19: 21

Tanggal 7 September yang baru lalu semestinya adalah hari yang membawa kebanggaan khusus bagi bangsa India. Pada hari itu, seharusnya sebuah pesawat pendarat buatan negara itu bisa mendarat di bulan. Tetapi, pagi di hari itu, ketika pesawat Vikram perlahan-lahan bergerak menuju permukaan bulan, hubungan komunikasi pesawat itu dengan pusat eksplorasi luar angkasa India tiba-tiba terputus. Pusat luar angkasa Amerika NASA kemudian memastikan bahwa Vikram sudah mendarat di bulan secara “keras”di lokasi yang belum diketahui. Ada kemungkinan pesawat itu rusak berat.

Tidak terbayangkan kekecewaan para ahli luar angkasa India dan juga rakyat India atas kegagalan itu. Segala jerih payah yang sudah dilakukan selama bertahun-tahun lenyap bagaikan asap yang ditiup angin. Semua rancangan yang sudah dibuat ahli-ahli menjadi berantakan. Bagaimana itu bisa terjadi?

Memang manusia manapun pernah mengalami kegagalan. Bangsa Amerika dan Rusia juga pernah mengalami kejadian tragis dalam usaha mereka untuk menaklukkan ruang angkasa. Walaupun demikian, kegagalan seringkali menunjukkan bahwa keberhasilan hanya bisa dicapai dengan keuletan. Lebih dari itu, kegagalan juga membawa pesan bahwa sekalipun ada banyak rancangan manusia, apa yang terjadi pada akhirnya harus sesuai dengan kehendak Tuhan dan berguna untuk kemuliaanNya.

Mengapa harus ada kegagalan atau kekecewaan? Apakah Tuhan yang membuat semua itu? Inilah pertanyaan manusia sejak dulu dan sering membuat manusia untuk mendekati Tuhan, atau juga bisa membuat manusia menjauhi Tuhan.

Mereka yang percaya bahwa keberhasilan dan kegagalan adalah bagian dari hidup di dunia, tetapi yakin bahwa semua itu ada dalam kontrol Tuhan, akan bisa merasa yakin bahwa pada akhirnya kehendakNya pasti terjadi. Jika mereka juga sadar bahwa Tuhan adalah mahakasih, kekuatiran untuk masa depan bisa dihilangkan.

Pada pihak yang lain, mereka yang merasa yakin bahwa segala sesuatu bisa dirancang dan dilaksanakan dengan memakai akal budi manusia, akan mendapat kekecewaan yang besar jika menemui kegagalan. Dan lambat laun mereka mungkin saja menjadi pembenci Tuhan.

Apa yang dimengerti manusia hanya sebagian kecil dari apa yang diciptakan Tuhan dalam alam semesta. Apa yang diketahui dan dirancang manusia tidak dapat menjamin keberhasilan. Tetapi, mengapa banyak manusia masih saja mengabaikan Tuhan yang mahakuasa sewaktu membuat rancangan hidupnya?

Firman Tuhan di atas mengingatkan kita bahwa sebagai manusia kita tidak dapat memperoleh garansi bahwa rancangan sebaik apa pun akan berhasil. Tuhan yang mahakuasa mempunyai rancangan yang mungkin berbeda dengan rancangan manusia. Dalam segala ketidakpastian yang ada dalam pengetahuan dan kuasa yang dimiliki manusia, Tuhan justru bisa bekerja untuk mewujudkan rencanaNya. Biarlah kita mau berharap kepada pertolonganNya dalam segala rancangan yang kita buat!

Mengapa iri kepada orang yang tidak mengenal Tuhan?

“Sesungguhnya Allah itu baik bagi mereka yang tulus hatinya, bagi mereka yang bersih hatinya. Tetapi aku, sedikit lagi maka kakiku terpeleset, nyaris aku tergelincir. Sebab aku cemburu kepada pembual-pembual, kalau aku melihat kemujuran orang-orang fasik.” Mazmur 73: 1 – 3

Mobil apakah yang anda impikan? Bagi banyak orang memiliki sebuah mobil yang sederhana saja sudah sulit, apalagi menginginkan mobil mewah. Tetapi, di banyak negara, memiliki mobil mewah adalah suatu tanda kejayaan seseorang. Di Jakarta misalnya, ada orang yang hobinya mengumpulkan mobil mewah Ferrari. Orang lain mungkin melihat kekayaan mereka dengan rasa takjub. Mereka itu tentunya orang kaya-raya, orang yang hidup dalam kenyamanan.

Melihat orang-orang yang hidupnya serba enak, mungkin timbul pertanyaan: mengapa aku tidak semujur mereka? Sekalipun ada kemungkinan bahwa orang-orang itu memperoleh kekayaan mereka dengan cara yang kurang baik, tetap saja rasa iri bisa muncul: bagaimana mungkin mereka itu tetap berjaya sekalipun hidup mereka jelas-jelas melawan hukum?

Penulis Mazmur di atas juga memikirkan hal yang serupa. Melihat orang-orang yang hidup nyaman, ia menjadi cemburu. Ia iri kepada orang-orang yang tidak jujur yang terlihat mujur hidupnya. Karena iri hati, pemazmur hampir tergelincir ke dalam dosa. Mungkin sedikit lagi ia akan marah dan mengutuki Tuhan, mungkin juga timbul rasa ingin untuk meniru orang-orang yang terlihat nyaman hidupnya. Buat apa taat kepada Tuhan jika hidupku penuh derita dan kekurangan?

Untunglah pemazmur kemudian sadar akan kekeliruannya. Ia sadar bahwa hidupnya bukan untuk disesali. Sekalipun ia mengalami berbagai kesulitan hidup, dengan iman ia justru bisa merasakan kasih Tuhan yang menyertainya. Ia kemudian sadar bahwa hal ini memberinya kemuliaan karena Tuhan yang mahakuasa justru menyayangi umatnya yang lemah dan bergantung kepadaNya (Mazmur 73: 24-26).

Walaupun Tuhan berpihak kepada umatNya, mengapa dunia tidak merasa iri kepada mereka? Jika mereka yang belum percaya kepada Tuhan tidak merasa cemburu kepada kemujuran kita, mungkin paling tidak ada dua sebabnya:

  • Mereka dalam kebodohannya tidak mengerti kebahagiaan hidup dalam Kristus, dan merasa bahwa kebahagiaan dapat diperoleh dari hal-hal yang fana, atau
  • Dalam kebodohan, kita tidak bisa menunjukkan kebahagiaan hidup kita kepada orang lain karena kita masih menginginkan hidup keduniawian seperti yang mereka punya.

Pada hari Minggu ini, seperti pemazmur, kita harus ingat dan bisa bersyukur bahwa Tuhan mengasihi kita. Mengapa kita harus iri atau cemburu kepada mereka yang hidup dalam dosa? Bukankah orang lain justru harus iri kepada kita yang dikasihi Tuhan?

Bertumbuhlah menjadi dewasa

“Ketika aku kanak-kanak, aku berkata-kata seperti kanak-kanak, aku merasa seperti kanak-kanak, aku berpikir seperti kanak-kanak. Sekarang sesudah aku menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu.” 1 Korintus 13: 11

Berbeda dengan Indonesia, di Australia orang tidak memiliki kartu penduduk. Penduduk Australia memang bebas untuk berpindah-pindah, mereka boleh tinggal dimana saja dan tidak perlu melaporkan diri kepada kantor pemerintah setempat. Walaupun demikian, mereka yang mengendarai kendaraan bermotor wajib mengganti alamat yang tertulis pada Surat Ijin Mengemudi (SIM).

Kartu SIM adalah salah satu bukti identitas seseorang, yang tidak hanya mencantumkan alamat tetapi juga tanggal lahir pemiliknya. Kartu ini adalah kartu yang penting karena banyak tempat yang mengharuskan pengunjungnya untuk membuktikan bahwa mereka sudah lewat usia 17 tahun. Mereka yang belum mencapai usia itu belum dapat digolongkan sebagai orang dewasa.

Jika seseorang tidak mempunyai kartu identitas, dapatkah umurnya diterka? Ini tentunya tidak mudah, perbedaan fisik antara orang dewasa dan anak-anak seringkali tipis. Ada anak-anak yang karena bentuk tubuh dan rupanya, bisa disangka sebagai orang dewasa. Sebaliknya, ada orang dewasa yang mempunyai penampilan seperti orang di bawah usia. Tanpa kartu identitas, orang bisa salah duga.

Kalau kartu penduduk dan SIM bisa dipakai untuk menentukan kedewasaan jasmani orang dewasa dan anak-anak, bagaimana pula dengan kedewasaan rohani? Tingkat kedewasaan rohani jauh lebih sulit untuk diterka atau ditentukan. Mereka yang sudah cukup tua unurnya, belum tentu mempunyai tingkat kerohanian yang lebih tinggi dari anak muda. Mereka yang sudah dewasa secara jasmani, mungkin saja belum mempunyai pengenalan yang mendalam tentang kebenaran Tuhan. Mereka yang sudah lama menjadi orang Kristen, belum tentu lebih bisa menjalankan firman Tuhan.

Ayat di atas menjelaskan bahwa mereka yang belum dewasa rohaninya, berkata-kata seperti kanak-kanak, merasa seperti kanak-kanak, dan berpikir seperti kanak-kanak. Ini tentunya dalam konteks rohani. Mereka itu tidak mempunyai kebijaksanaan yang cukup untuk bisa hidup dan bertingkah laku seperti orang yang sudah dewasa dalam imannya.

Manusia yang tidak dapat mengerti apa yang dikehendaki Tuhan, tidak akan dapat membedakan apa yang baik dan adil dari apa yang jahat. Orang-orang semacam itu selalu ingin untuk menjadi orang Kristen dengan cara yang semudah mungkin, yaitu cara mereka sendiri. Mereka adalah orang-orang yang seperti bayi, yang merasa puas dengan makanan yang lunak yang mudah ditelan dan dicerna. Bagaimana pula dengan hidup kekristenan kita?

“Sebab barangsiapa masih memerlukan susu ia tidak memahami ajaran tentang kebenaran, sebab ia adalah anak kecil. Tetapi makanan keras adalah untuk orang-orang dewasa, yang karena mempunyai pancaindera yang terlatih untuk membedakan yang baik dari pada yang jahat.” Ibrani 5: 13 – 14

Kesedihan adalah bagian kehidupan

“Berapa lama lagi, TUHAN, Kaulupakan aku terus-menerus? Berapa lama lagi Kausembunyikan wajah-Mu terhadap aku? Berapa lama lagi aku harus menaruh kekuatiran dalam diriku, dan bersedih hati sepanjang hari? Berapa lama lagi musuhku meninggikan diri atasku? Mazmur 13: 1 – 2

Apakah anda penggemar film layar putih? Film sedih mana yang pernah anda tonton di Indonesia?  Apakah itu “Surat kecil untuk Tuhan”? Ataukah  film yang berjudul  “Heart”? Saya hanya mendengar berita tentang film-film yang laris itu, tetapi belum pernah menontonnya.. Film melodrama terakhir yang pernah saya tonton di Indonesia adalah kisah cinta “Pengantin Remaja” yang diproduksi pada tahun 1971 dan disutradarai oleh Wim Umboh, dengan pemeran utama Sophan Sopian, Widyawati dan Fifi Young. Walaupun demikian, sejak hidup di luar negeri saya masih  sering menonton film drama yang sedih, dan yang paling berkesan buat saya adalah film epik  “Titanic” (1997) yang memenangkan rekor sebelas hadiah Oscar sebanyak yang diperoleh film “Ben Hur” (1959).

Mengapa orang suka menonton film-film yang bernada sedih? Saya kurang tahu, tetapi agaknya karena orang memiliki sebuah titik kelemahan dimana ia bisa ikut merasa terharu atau susah karena adanya hal-hal yang menyedihkan yang terjadi pada diri orang lain. Memang pada akhir film yang bernada sedih biasanya ada orang yang meninggalkan bioskop dengan mata yang agak merah dan dengan saputangan yang basah karena air mata. Sebagian orang  mungkin juga merasa sedih karena bisa membayangkan betapa beratnya jika kejadian serupa benar-benar terjadi dalam hidup mereka. Saya sendiri pernah menangis setelah menonton film “The Passion of Christ” (2004) yang mengisahkan penderitaan Yesus sebelum menemui kematian di kayu salib.

Sekalipun orang mungkin senang menonton film yang bernada sedih dan bisa membayangkan keadaan yang dilukiskan dalam film itu, tentunya tidak seorang pun yang mengingini agar kejadian semacam itu terjadi pada dirinya sendiri. Sekalipun kejadian serupa mungkin saja pernah dialami oleh penonton, itu bukanlah sesuatu yang bisa dinikmati. Kesedihan adalah sesuatu yang tidak disukai manusia, tetapi bisa datang tanpa diundang. Sebagian kesedihan bisa disebabkan karena kesalahan diri sendiri, tetapi banyak juga yang datang karena perbuatan orang lain atau karena adanya peristiwa-peristiwa yang terjadi di dunia.

Kesedihan adalah bagian kehidupan sejak manusia jatuh ke dalam dosa. Sekalipun kita berusaha keras untuk menghindari apa yang menyedihkan, hal yang buruk dapat terjadi dalam hidup kita. Banyak orang Kristen yang mengalami musibah yang bertanya-tanya mengapa Tuhan yang mahakasih membiarkan umatNya untuk merasakan kesedihan yang luar biasa. Mengapa Ia tidak memberikan pertolongan, penghiburan dan kekuatan? Daud merasakan hal ini ketika ia merasa ditinggalkan oleh Tuhan. Ia bertanya-tanya untuk berapa lama Tuhan akan melupakan dia. Hatinya gundah dan sedih sepanjang hari karena Tuhan seakan-akan menyembunyikan wajahNya. Daud juga takut dan kuatir karena musuh-musuhnya merendahkan dia. Daud kuatir bahwa hidupnya lambat laun akan hancur karena kesedihan yang menumpuk.

Adakah guna kesedihan sehingga Tuhan membiarkan umatNya untuk mengalaminya? Ada! Kesedihan bisa membimbing manusia untuk menyadari bahwa mereka tidak berkuasa atas apapun juga yang terjadi di dunia. Penderitaan bisa juga menginsafkan manusia untuk tidak mengulangi kekeliruan di masa lalu. Kesedihan bisa memperkuat iman kita agar kita mau bergantung kepada Tuhan. Kesesakan hidup juga bisa membuat kita untuk mau berjalan bersama Dia. Lebih dari itu, adanya kesedihan bisa memberi keyakinan kepada kita bahwa Yesus yang sudah mengalami penderitaan yang luar biasa, tidak akan membiarkan kita untuk pengalami penderitaan yang lebih besar dari kekuatan kita.

“Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.” 1 Korintus 10: 13

Hal berbalik arah

“Sebab jika mereka, oleh pengenalan mereka akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus, telah melepaskan diri dari kecemaran-kecemaran dunia, tetapi terlibat lagi di dalamnya, maka akhirnya keadaan mereka lebih buruk dari pada yang semula. Karena itu bagi mereka adalah lebih baik, jika mereka tidak pernah mengenal Jalan Kebenaran dari pada mengenalnya, tetapi kemudian berbalik dari perintah kudus yang disampaikan kepada mereka. Bagi mereka cocok apa yang dikatakan peribahasa yang benar ini: “Anjing kembali lagi ke muntahnya, dan babi yang mandi kembali lagi ke kubangannya.” 2 Petrus 2: 20 – 22

Suatu ciri masyarakat modern adalah berkurangnya keinginan untuk memakai apa yang ada  selama mungkin. Karena adanya banyak pilihan dan juga kemampuan atau kebebasan untuk memilih, banyak orang yang berganti-ganti pekerjaan, rumah, pakaian dan sebagainya, dan bahkan mungkin berganti-ganti pasangan. Mungkin sebagian orang beranggapan bahwa adanya kesempatan dalam hidup sebaiknya dipakai untuk mencoba-coba, atau ada juga yang berpendirian bahwa sebagai manusia yang bebas, setiap orang berhak menentukan cara hidupnya.

Sehubungan dengan itu, adalah hal yang menarik perhatian bahwa di Jepang, dulu orang biasanya bekerja di satu perusahaan sampai saat pensiun. Sekarang, banyak anak muda Jepang yang bekerja untuk beberapa tahun, kemudian melancong ke luar negeri, dan setelah itu pulang ke negaranya untuk mencari pekerjaan baru. Anak muda Jepang sekarang tidaklah jauh berbeda dengan anak muda Australia yang tidak mau terikat oleh satu pekerjaan saja untuk seumur hidup. Memang kesetiaan kepada perusahaan tidaklah lazim di Australia, karena mereka yang mau mengembangkan karir cenderung untuk berganti pekerjaan setiap 5 – 6 tahun, jika ada kesempatan baik.

Jika kesetiaan kepada satu pekerjaan tidak bisa diharapkan di Australia, bagaimana pula dengan kesetiaan ke gereja? Mereka yang secara teratur pergi ke gereja tidaklah besar jumlahnya, sekalipun lebih dari 50 persen penduduk Australia masih mengaku Kristen. Bagi mereka yang Kristen pun, banyak juga yang berganti-ganti gereja untuk mencari apa yang cocok dengan selera mereka. Walaupun demikian, mereka yang rajin ke gereja biasanya tidak mudah terpengaruh untuk berubah kepercayaan. Sebaliknya, mereka yang belum benar-benar Kristen memang adalah orang-orang yang sedang mencari-cari Tuhan dan karena itu bisa saja kemudian memilih agama atau kepercayaan lain.

Dengan perubahan zaman, memang dialog antar agama lebih sering terjadi di Australia. Perbedaan iman yang dulunya sering didengung-dengungkan sekarang mulai diganti dengan kemauan untuk menerima kepercayaan lain sebagai salah satu jalan menuju ke surga. Untuk bisa hidup damai dengan sesama, orang mulai membaurkan perbedaan yang dulunya terlihat jelas. Dengan demikian, banyak orang yang sekarang menggunakan kesempatan untuk mencoba-coba beberapa agama sebelum mau mengikut satu saja. Orang bilang “try befrore you buy“, dan itulah yang terjadi. Mereka mencoba-coba dulu sebelum memilih.

Jika hal memilih kepercayaan pada umumnya terjadi pada mereka yang baru mulai mencari Tuhan, ada juga orang-orang yang sudah lama mengaku Kristen tetapi kemudian berganti kepercayaan karena satu dan lain hal. Bagaimana itu bisa terjadi? Biasanya, itu terjadi jika seseorang melihat adanya hal-hal yang terlihat lebih baik atau lebih menguntungkan dalam kepercayaan lain. Mereka tidak berpindah agama karena melihat Tuhan yang berbeda, tetapi karena melihat orang yang berbeda, atau cara hidup manusia yang berlainan. Jika mereka merasa lebih cocok dengan hal-hal yang terlihat mata itu, mereka kemudian berubah pikiran. Tuhan bukanlah apa yang mereka utamakan, tetapi apa yang bisa dinikmati selama hidup di dunia.

Ayat di atas menunjuk kepada orang-orang yang sudah diperkenalkan kepada jalan keselamatan yang benar dalam Yesus Kristus, tetapi yang kemudian meninggalkan imannya untuk kembali bergabung dengan mereka yang belum mengenal Kristus.  Mereka adalah seperti hewan yang kembali ke kehidupan mereka yang lama dan bahkan menjadi hewan yang lebih kotor dari keadaan yang semula. Bagaimana hewan-hewan ini bisa berbuat demikian? Sudah tentu karena apa yang dilihat mereka dengan mata adalah sesuatu yang memikat yang terlihat indah atau nyaman. Mereka tidak sadar bahwa apa yang dilihat mata jasmani adalah kebodohan.

Manusia tidak dapat memilih apa yang baik. Manusia tidak dapat memilih Tuhan. Hanya Tuhan yang bisa membimbing manusia dengan RohNya ke arah yang baik. Hanya Tuhan yang dapat memilih umatNya. Jika Tuhan sudah memberi kesempatan kepada manusia untuk bisa melihat kasihNya yang besar dalam mengurbankan AnakNya yang tunggal, Tuhan juga mau membimbing mereka untuk lebih mengenalNya. Tetapi,  banyak manusia yang ingin untuk merdeka dalam mengambil keputusan dan kemudian memutuskan untuk menuruti jalan pikiran mereka sendiri. Mereka menjadi yakin bahwa Tuhanlah yang harus dipilih manusia dan surga haruslah dicapai dengan banyak berbuat baik.

Firman Tuhan di atas memperingatkan kita sebagai umat Kristen untuk berjaga-jaga. Godaan yang ditawarkan dunia seringkali sangat besar sehingga kita tidak dapat melihat adanya hal-hal yang dibenci Tuhan, dan kemudian terperosok kedalam lubang dosa. Jika kita tidak mau selalu dekat dengan Dia, perlahan-lahan kita akan kembali menjadi manusia lama yang serupa dengan hewan-hewan yang ditulis dalam ayat ini.

 

 

Tuhan membenci kekacauan

“Sebab Allah tidak menghendaki kekacauan, tetapi damai sejahtera.” 1 Korintus 14: 33

Jika kita memikirkan keadaan di surga, tentu bisa kita bayangkan bahwa semuanya serba indah, megah dan terang benderang.  Kenyataan bahwa Tuhan pada mulanya menciptakan langit dan bumi dan membuat terang berkuasa atas kegelapan (Kejadian 1: 1 – 5), dan kemudian menciptakan bumi dan segala isinya membuktikan bahwa Ia bekerja seperti seorang artis yang berkarya dan menghasilkan sesuatu yang sedap dipandang dan dinikmati. Lebih dari itu, Tuhan juga bekerja secara sistimatis sehingga semua yang ada di jagad-raya ini bisa saling mendukung dan saling menggenapi. Tuhan jelas membenci kekacauan.

Jika kekacauan terjadi di bumi karena dosa manusia, itu bukan kejutan untuk Tuhan yang mahatahu. Karena itu, Tuhan sudah mempersiapkan rencana agungnya untuk menyelamatkan manusia yang dikasihiNya dari awalnya. Tuhan ingin agar semua manusia yang mau  bertobat dari dosanya bisa hidup bersama Dia di surga pada waktunya. Selama hidup di dunia, mereka yang mau menjadi umatNya mengalami pertumbuhan rohani dan dipersiapkanNya untuk kehidupan kekal di surga. Pertumbuhan rohani yang hanya dimungkinkan oleh bimbingan Roh Kudus, tidak hanya memperbaiki hati dan pikiran manusia dalam hubungannya dengan Tuhan, tetapi juga mengubah cara hidup sehari-hari dengan hubungannya dengan sesama manusia.

Ayat di atas ditulis oleh Paulus sehubungan dengan adanya kekacauan di gereja Korintus yang disebabkan oleh adanya orang Kristen yang menggunakan karunia yang berbeda-beda pada waktu yang bersamaan, yang mana menimbulkan kebingungan dan kekacauan di antara jemaat yang hadir. Paulus kemudian menasihati mereka agar bisa menahan diri dan memakai sopan-santun dan tata-cara yang baik dalam berbakti, agar semua orang yang hadir dapat belajar dan memperoleh kekuatan (1 Korintus 14: 31). Disini kita bisa melihat bahwa apapun yang baik, jika tidak dilaksanakan dengan baik akan menimbulkan kekacauan dan tidak membawa kedamaian. Kita juga bisa menyadari bahwa apa yang baik secara rohani (karunia Roh) tidak boleh membuat apa yang jasmani (tata-cara, sopan-santun, disiplin) menjadi sesuatu yang boleh ditelantarkan.

Adalah kenyataan bahwa di zaman ini, manusia pada umumnya sudah mempunyai pendidikan yang lebih baik dari apa yang dimiliki jemaat Korintus. Walaupun demikian, pendidikan yang baik tidak menjamin kelakuan atau tingkah laku yang baik dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, banyak orang yang melakukan berbagai perbuatan tercela dalam masyarakat, yang merugikan sesama,  yang menimbulkan kekacauan, dan yang menghilangkan kedamaian hidup, karena mereka mendahulukan kepentingan diri sendiri di atas segalanya. Selain itu, ada juga orang yang menjalani hidupnya menurut apa yang disenanginya, tanpa menuruti sopan-santun dan hukum yang berlaku. Sekalipun mereka tidak secara langsung menimbulkan kegundahan dalam masyarakat, hidup mereka yang kacau bisa menghilangkan kedamaian hidup orang-orang di sekitarnya. Manusia tanpa bimbingan Roh Kudus memang sulit untuk hidup dalam ketertiban.

Ayat di atas mengajarkan bahwa sebagai orang Kristen kita harus mengerti bagaimana kita seharusnya hidup untuk Tuhan selama di dunia dan bisa membuat sesama kita berbahagia. Melalui hidup yang tertib, sopan dan berdisiplin kita memenuhi panggilan Tuhan untuk menghindari kekacauan dan mencari damai sejahtera.  Tetapi, bagaimana kita bisa mempraktikkan hal ini dalam hidup sehari-hari? Apa yang diajarkan Paulus kepada jemaat di Korintus barangkali bisa diringkas sebagai tindakan-tindakan praktis sebagai berikut:

  1. Selalu memilih waktu yang tepat.
  2. Mau menunggu giliran kita.
  3. Bisa menempatkan orang, sarana dan kegiatan yang cocok.
  4. Menjalani hidup yang rapi dan tidak berantakan.
  5. Tidak tergesa-gesa dalam mengambil keputusan.
  6. Menghormati orang lain, dan menghargai fungsi dan kedudukan mereka.
  7. Tidak menimbulkan kekacauan dan kebingungan.
  8. Setia dalam melakukan pekerjaan sehari-hari.

Biarlah hubungan rohani kita dengan Tuhan bisa  membuat kita lebih mampu dan mau menaati tata-cara, sopan-santun dan disiplin yang baik dalam hidup bermasyarakat untuk kemuliaanNya!