“Bukankah burung pipit dijual lima ekor dua duit? Sungguhpun demikian tidak seekorpun dari padanya yang dilupakan Allah, bahkan rambut kepalamupun terhitung semuanya. Karena itu jangan takut, karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit.” Lukas 12: 6 – 7
Kekuatiran adalah musuh besar manusia yang bisa menghancurkan hidup orang yang terlihat tabah sekalipun. Setiap orang mempunyai rasa kuatir terhadap hal-hal tertentu; dan sekalipun seseorang mempunyai segala sesuatu, kekuatiran tetap ada. Mengapa begitu? Manusia sebenarnya sadar akan keterbatasannya, dan ia tahu bahwa ada hal-hal yang tidak dapat dikontrolnya. Orang yang mempunyai banyak harta mungkin kuatir kalau-kalau hartanya lenyap dicuri orang lain. Atau mungkin ia kuatir kalau-kalau ia mendapat penyakit tertentu. Begitu juga mereka yang tidak kaya mungkin kuatir tentang biaya besar yang dibutuhkan di hari tua, atau tentang kebutuhan anak cucu di masa depan. Kekuatiran tidak hanya melanda kaum tua; menurut survey, generasi sekarang justru lebih kuatir menghadapi masa depan, terutama mengenai hal lingkungan hidup (environment).
Kekuatiran sebenarnya tidak harus berupa hal yang jelek. Kekuatiran hanya menjadi hal yang merusak atau destruktif jika itu membuat kita lumpuh tidak berdaya. Jika kekuatiran bisa menginsafkan manusia atas kelemahannya sehingga ia mau berusaha untuk mencari penyelesaian atau pertolongan, kekuatiran justru mungkin bisa menjadi bagian pertahanan hidup yang baik. Dalam hal ini masalahnya adalah keterbatasan manusia yang membuat mereka tidak bisa melihat adanya jalan keluar, atau yang membuat mereka tidak mengerti bahwa ada jalan keluar yang tidak bisa dilihatnya. Itulah yang mendatangkan rasa takut. Bagaimana bisa begitu?
Orang Kristen yang kurang mengenal Tuhan sebagai oknum yang mahakasih tidak akan bisa mengerti bahwa Tuhan tidak membiarkan umatNya untuk berjuang sedirian di dunia ini. Karena itu, dalam menghadapi kesulitan hidup yang besar, ia akan merasa seorang diri dan mudah putus asa karena ia tidak bisa melihat adanya Tuhan yang mau menolong. Dalam hal ini, apa yang paling mudah untuk dilakukan untuk bisa bertahan hidup ialah menerima segala kesulitan hidup sebagai takdir. Sebaliknya, mereka yang kurang mengenal Tuhan sebagai oknum yang mahakuasa, cenderung percaya bahwa Tuhan akan memberikan pertolongan dalam bentuk seperti apa yang diinginkannya. Doa-doa permohonan kemudian disampaikan tanpa menyadari bahwa jalan Tuhan bisa berbeda dengan jalan manusia. Kekeliruan mudah terjadi ketika mereka tergesa-gesa memilih apa yang terlihat oleh mata, sekalipun itu mungkin bukan apa yang disenangi Tuhan.
Ayat diatas mengatakan bahwa Tuhan tahu jumlah rambut kita. Itu menunjukkan bahwa Tuhan yang mahatahu adalah Tuhan yang dekat dengan umatNya, yang peduli akan apapun yang terjadi dalam hidup mereka. Ia yang tahu jumlah rambut kita, juga tahu semua kebutuhan dan masalah kita dan tidak membiarkan kita mengalami kehancuran karenanya. Bagi Tuhan yang mahakasih, umatNya adalah jauh lebih berharga dari apapun juga. Karena itu jugalah, Tuhan sudah mengirimkan AnakNya, Yesus Kristus, untuk menebus dosa kita. Jika kita sadar akan besarnya kasihNya, tidaklah perlu ada keraguan bahwa Tuhan selalu memelihara umatNya.
Pagi ini mungkin kita percaya bahwa Tuhan benar-benar mengasihi kita. Tetapi keraguan mungkin masih ada, apakah Tuhan akan memberikan apa yang kita minta. Tuhan yang mahakuasa sudah tentu bisa memberi apa saja. Tetapi Tuhan yang mahabijaksana tidaklah selalu memberi apa yang sesuai dengan permohonan kita. Tuhan mempunyai rencana yang khusus bagi setiap umatNya. Ia yang tahu bahwa rambut setiap orang tidaklah sama jumlahnya, Ia jugalah yang memberikan apa yang baik bagi setiap umatNya sesuai dengan pertimbanganNya. Terkadang kita seolah kehilangan kesabaran dalam menunggu saat yang dipilihNya, tetapi selama dalam penantian kita harus tetap teguh dalam iman. Tuhan adalah mahatahu, mahakasih, mahakuasa dan mahabijaksana, karena itu kita tidak perlu takut dalam menghadapi masa depan.
Memperoleh upah dan penghargaan (reward) adalah salah satu tujuan orang dalam bekerja. Mereka yang ingin bekerja, tentunya ingin mencari pekerjaan yang bisa menghasilkan pendapatan yang cukup dan kepuasan. Begitu juga orang Kristen agaknya sudah terbiasa mendengar ungkapan “upahmu besar di surga”, yang mungkin bisa memberi semangat untuk bekerja makin giat bagi kemuliaan Tuhan.
Ayat ini adalah ayat yang tidak sepopuler Yohanes 3: 16, tetapi sering diperdebatkan diantara berbagai golongan Kristen maupun diantara orang yang bukan Kristen. Apakah Tuhan menghendaki semua orang selamat? Pertanyaan ini tidaklah mudah dijawab. Kalau jawabnya “ya”, tentunya Ia tidak mau seorang pun ke neraka. Tuhan yang mahakasih tentunya akan berusaha agar semua orang untuk bisa menemukan jalan ke surga melalui kepercayaan apapun, begitu pendapat sebagian orang. Walaupun demikian, adanya neraka tentunya menegaskan kenyataan bahwa sebagian orang akan menuju kesana. Karena itu, sekalipun Tuhan ingin agar semua manusia bisa ke surga, tidak semua orang akan percaya kepada Yesus Kristus sebagai Anak Allah yang merupakan satu-satunya jalan keselamatan.
Mengambil keputusan adalah suatu tindakan yang seringkali tidak mudah dilakukan. Sekalipun hal yang kelihatannya sederhana, seperti memilih menu makan siang, kadang-kadang bisa membingungkan. Karena itu ada orang-orang yang lebih senang untuk menyerahkan keputusan, kecil ataupun besar, kepada orang lain daripada pusing. Lebih dari itu, ada orang yang memang sering tidak mau mengambil keputusan karena takut menghadapi resikonya.
Minggu ini saya menerima banyak email dari murid-murid saya yang memohon perpanjangan waktu untuk menyerahkan tugas (assignment) mereka. Seharusnya tanggal 23 April adalah batas waktunya dan jika mereka terlambat menyerahkan tugas, mereka akan mendapat pemotongan angka (penalty) sebesar 5% dari angka mereka setiap harinya.
Kemarin malam saya menonton sebuah film dokumentasi di TV, mengenai kehidupan berbagai hewan di sebuah lembah di Afrika. Lembah yang kelihatannya cukup subur itu dihuni oleh berbagai jenis hewan, baik pemakan rumput/daun maupun pemakan daging. Berbagai hewan kecil dan besar hidup bersama di tempat itu sekalipun hidup mereka tidaklah seperti apa yang kita bayangkan di taman Firdaus. Adanya hewan-hewan tertentu yang hidup dengan memangsa hewan lain bisa membuat keadaan yang semula tenang menjadi kacau, dengan hewan-hewan seperti singa dan macan tutul yang memangsa rusa dan hewan kecil lainnya. Melihat seekor rusa yang tertangkap dan menjadi mangsa singa tentunya mengundang rasa sedih, tetapi semua itu adalah bagian kehidupan dunia ini.
Pada saat ini, sekitar 2400 juta orang yang menganut agama Kristen atau sekitar 33% dari penduduk dunia. Jika orang membaca kisah kematian dan kebangkitan Kristus, mungkin mereka heran bagaimana apa yang terjadi di Israel pada waktu itu kemudian bisa membuat banyak orang menjadi pengikut Kristus.
Teringat saya sewaktu berada di Jepang, dengan teman-teman seuniversitas saya sering berbincang-bincang tentang berbagai hal jika lagi senggang. Salah satu bahan pembicaraan adalah mengenai agama dan hidup sesudah mati (life after death). Walaupun kebanyakan teman saya bukan orang religius, seperti orang Jepang lainnya secara tradisi mereka mengaku beragama Shinto dan Budha. Agama Shinto karena itu bermanfaat untuk bisa hidup bahagia di dunia, agama Budha karena itu berguna untuk bisa hidup di surga sesudah mati. Dengan berbekal dua agama ini, mereka merasa siap untuk menghadapi masa kini dan masa depan.
Jika anda adalah penggemar opera, pertunjukan musik dan balet, mungkin anda ingat bahwa panggung pertunjukan tradisional umumnya mempunyai tabir (curtain). Tetapi banyak gedung pertunjukan modern di dunia yang sekarang tidak lagi mempunyai tabir seperti itu.