Kira-kira jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: “Eli, Eli, lama sabakhtani?” Artinya: Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” Matius 27: 46

Hari ini adalah hari Jumat Agung, hari dimana umat Kristen di seluruh dunia dengan khusyuk memperingati kematian Yesus di kayu salib. Kematian Kristus adalah suatu hal yang tidak mudah dimengerti oleh orang yang bukan Kristen, karena agaknya sulit diterima bahwa Anak Allah yang mahakuasa harus mati secara tragis karena ulah manusia.
Pada ayat diatas diungkapkan apa yang terjadi pada diri Anak Allah yang datang ke dunia dalam bentuk manusia yang bernama Yesus. Manusia yang berdosa bukannya menyambut kedatanganNya dengan rasa hormat, tetapi sebaliknya justru membenci Dia. Karena itu, Ia yang tidak berdosa akhirnya mengalami kematian di kayu salib sebagai ganti umat manusia.
Penderitaan Yesus dimulai dengan segala hinaan dan cacian yang dilontarkan kepadaNya dan berbagai siksaan jasmani. Seperti layaknya seorang hukuman, Yesus dipaksa untuk memikul kayu salib menuju ke Golgota, bukit tengkorak. Dan di situ Ia disalibkan bersama-sama dengan dua orang penjahat, sebelah-menyebelah, dan Yesus ada di tengah-tengah. Pilatus, wakil pemerintahan Romawi pada waktu itu, menyuruh memasang tulisan di atas kayu salib Yesus, bunyinya: “Yesus, orang Nazaret, Raja orang Yahudi”.
Penderitaan fisik dan mental yang dialami Yesus yang tidak berdosa tidaklah bisa dibandingkan dengan penderitaan yang dialami kedua penjahat disampingNya. Yesus adalah Tuhan tetapi harus mengalami penderitaan ditangan manusia ciptaanNya. Lebih dari itu, karena Yesus harus merasakan semua penderitaanNya seorang diri di kayu salib dan menanggung murka Allah, secara spiritual Ia juga sangat menderita. Ia mengungkapkan penderitaan rohaniNya dengan ucapan Eli, Eli, lama sabakhtani. Yesus setia kepada tugas penyelamatanNya sampai titik kulminasi dimana Ia merasa bahwa semua yang Ia punyai sudah dikurbankanNya untuk menebus dosa manusia.
Pagi ini kita membaca dan mengenang apa yang sudah terjadi pada diri Yesus di Golgota dengan rasa kagum atas kasihNya kepada umat manusia. Karena begitu besar kasihNya, Ia mau untuk mengalami semua itu. Karena begitu besar kasihNya, apapun yang terjadi pada diriNya tidak dapat menutupi atau menghilangkan pancaran kasihNya kepada kita.
Dalam hidup ini, saat ini kita mungkin sedang mengalami berbagai tantangan hidup dan penderitaan. Tetapi kematian Yesus di kayu salib membuktikan bahwa Ia bukanlah Tuhan yang jauh disana. Semoga kita bisa selalu menyadari bahwa Yesus yang sudah pernah mengalami hal yang serupa tidak akan meninggalkan kita!
Australia adalah negara peternak domba nomer dua sedunia. Banyak domba yang diekspor ke luar negeri melalui jalur laut, kemudian di proses oleh abatoar setempat guna dijadikan daging konsumsi manusia. Sekalipun tujuan akhir dari ekspor itu adalah pengadaan daging, pemerintah Australia cukup dibuat rikuh dengan adanya berita yang muncul akhir-akhir yang menunjukkan adanya malpraktek terhadap domba-domba Australia di beberapa negara yang mengimpor domba itu. Domba-domba yang seharusnya dipelihara dengan baik sebelum saat penyembelihan sering diperlakukan dengan tidak semestinya, dan cara penyembelihannya juga dianggap tidak manusiawi. Domba-domba yang malang itu seringkali terlihat seperti makhluk yang tidak berdaya dalam cengkeraman manusia yang kejam.
Kejadian terbakarnya katedral Notre Dame di Paris kemarin dulu adalah berita yang membuat banyak orang merasa masygul. Sebagian orang merasa sedih karena bangunan yang sudah berumur ratusan tahun itu merupakan bentuk arsitektur yang luar biasa. Mereka yang merasa ikut memiliki gedung gereja itu merasa sedih karena kerusakan berat yang sudah terjadi.
Pernahkah anda menonton pertandingan gulat? Pertandingan gulat (wrestling) yang ada di TV seringkali hanyalah untuk konsumsi mereka yang senang menonton pertunjukan atau entertainment. Pertandingan gulat yang asli menghadapkan dua orang yang benar-benar bertanding dan bukan hanya berpura-pura bertanding. Karena itu, dalam pertandingan gulat seperti itu cedera sering terjadi.
Tanggal 17 April yang akan datang bangsa Indonesia akan menghadapi pemilihan umum. Sebulan kemudian, tepatnya pada tanggal 18 Mei, Australia akan mengalami hal yang serupa. Pemilihan umum adalah pelaksanaan demokrasi yang paling nyata dalam sebuah negara, untuk mana manusia harus bersyukur karena adanya kemerdekaan setiap warga untuk menyatakan pendapatnya. Kemerdekaan atau freedom yang dipunyai sebuah bangsa, seringkali hanya bisa dicapai dengan pengorbanan besar. Karena itu, pemilihan umum adalah suatu pesta demokrasi yang harus kita nikmati bersama.
Tiap hari di media selalu ada berita tentang orang-orang yang ditangkap polisi karena diduga terlibat dalam suatu kejahatan atau pelanggaran hukum. Mereka itu pada saatnya akan menghadapi hakim di pengadilan, dimana tim penuntut dan tim pembela beradu pendapat mengenai kesalahan si terdakwa. Apakah terdakwa memang melakukan pelanggaran hukum? Apakah ia sadar akan adanya hukum? Apakah ia dengan sengaja melanggar hukum? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu adalah sebagian dari apa yang diperdebatkan di depan hakim.
Ingatkah anda akan lagu Gang Kelinci? Lagu lama yang pernah dinyanyikan Lilis Suryani dan Titik Puspa ini menceritakan kehidupan di satu gang di Jakarta. Gang Kelinci yang berada di samping Pasar Baru, Jakarta, adalah daerah yang padat penduduknya dan sempit jalannya. Walaupun demikian, dalam nyanyian itu diutarakan adanya rasa bahagia karena penduduknya rukun dan damai.
Setiap pagi saya mempunyai kebiasaan untuk makan pagi sebelum mandi. Pagi ini, saya mengambil keputusan untuk mandi dulu sebelum makan pagi di sebuah cafe. Ada pertanyaan dalam pikiran saya: apakah ini keputusan saya ataukah Tuhan yang mengambil keputusan untuk saya? Pertanyaan yang mungkin dianggap aneh oleh banyak orang, tetapi memang ada juga orang Kristen yang percaya bahwa Tuhan yang mengatur segala tindakan manusia, baik kecil maupun besar, melalui penentuan Ilahi atau “devine determinism“.