Tuhan membenci kekacauan

“Sebab Allah tidak menghendaki kekacauan, tetapi damai sejahtera.” 1 Korintus 14: 33

Jika kita memikirkan keadaan di surga, tentu bisa kita bayangkan bahwa semuanya serba indah, megah dan terang benderang.  Kenyataan bahwa Tuhan pada mulanya menciptakan langit dan bumi dan membuat terang berkuasa atas kegelapan (Kejadian 1: 1 – 5), dan kemudian menciptakan bumi dan segala isinya membuktikan bahwa Ia bekerja seperti seorang artis yang berkarya dan menghasilkan sesuatu yang sedap dipandang dan dinikmati. Lebih dari itu, Tuhan juga bekerja secara sistimatis sehingga semua yang ada di jagad-raya ini bisa saling mendukung dan saling menggenapi. Tuhan jelas membenci kekacauan.

Jika kekacauan terjadi di bumi karena dosa manusia, itu bukan kejutan untuk Tuhan yang mahatahu. Karena itu, Tuhan sudah mempersiapkan rencana agungnya untuk menyelamatkan manusia yang dikasihiNya dari awalnya. Tuhan ingin agar semua manusia yang mau  bertobat dari dosanya bisa hidup bersama Dia di surga pada waktunya. Selama hidup di dunia, mereka yang mau menjadi umatNya mengalami pertumbuhan rohani dan dipersiapkanNya untuk kehidupan kekal di surga. Pertumbuhan rohani yang hanya dimungkinkan oleh bimbingan Roh Kudus, tidak hanya memperbaiki hati dan pikiran manusia dalam hubungannya dengan Tuhan, tetapi juga mengubah cara hidup sehari-hari dengan hubungannya dengan sesama manusia.

Ayat di atas ditulis oleh Paulus sehubungan dengan adanya kekacauan di gereja Korintus yang disebabkan oleh adanya orang Kristen yang menggunakan karunia yang berbeda-beda pada waktu yang bersamaan, yang mana menimbulkan kebingungan dan kekacauan di antara jemaat yang hadir. Paulus kemudian menasihati mereka agar bisa menahan diri dan memakai sopan-santun dan tata-cara yang baik dalam berbakti, agar semua orang yang hadir dapat belajar dan memperoleh kekuatan (1 Korintus 14: 31). Disini kita bisa melihat bahwa apapun yang baik, jika tidak dilaksanakan dengan baik akan menimbulkan kekacauan dan tidak membawa kedamaian. Kita juga bisa menyadari bahwa apa yang baik secara rohani (karunia Roh) tidak boleh membuat apa yang jasmani (tata-cara, sopan-santun, disiplin) menjadi sesuatu yang boleh ditelantarkan.

Adalah kenyataan bahwa di zaman ini, manusia pada umumnya sudah mempunyai pendidikan yang lebih baik dari apa yang dimiliki jemaat Korintus. Walaupun demikian, pendidikan yang baik tidak menjamin kelakuan atau tingkah laku yang baik dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, banyak orang yang melakukan berbagai perbuatan tercela dalam masyarakat, yang merugikan sesama,  yang menimbulkan kekacauan, dan yang menghilangkan kedamaian hidup, karena mereka mendahulukan kepentingan diri sendiri di atas segalanya. Selain itu, ada juga orang yang menjalani hidupnya menurut apa yang disenanginya, tanpa menuruti sopan-santun dan hukum yang berlaku. Sekalipun mereka tidak secara langsung menimbulkan kegundahan dalam masyarakat, hidup mereka yang kacau bisa menghilangkan kedamaian hidup orang-orang di sekitarnya. Manusia tanpa bimbingan Roh Kudus memang sulit untuk hidup dalam ketertiban.

Ayat di atas mengajarkan bahwa sebagai orang Kristen kita harus mengerti bagaimana kita seharusnya hidup untuk Tuhan selama di dunia dan bisa membuat sesama kita berbahagia. Melalui hidup yang tertib, sopan dan berdisiplin kita memenuhi panggilan Tuhan untuk menghindari kekacauan dan mencari damai sejahtera.  Tetapi, bagaimana kita bisa mempraktikkan hal ini dalam hidup sehari-hari? Apa yang diajarkan Paulus kepada jemaat di Korintus barangkali bisa diringkas sebagai tindakan-tindakan praktis sebagai berikut:

  1. Selalu memilih waktu yang tepat.
  2. Mau menunggu giliran kita.
  3. Bisa menempatkan orang, sarana dan kegiatan yang cocok.
  4. Menjalani hidup yang rapi dan tidak berantakan.
  5. Tidak tergesa-gesa dalam mengambil keputusan.
  6. Menghormati orang lain, dan menghargai fungsi dan kedudukan mereka.
  7. Tidak menimbulkan kekacauan dan kebingungan.
  8. Setia dalam melakukan pekerjaan sehari-hari.

Biarlah hubungan rohani kita dengan Tuhan bisa  membuat kita lebih mampu dan mau menaati tata-cara, sopan-santun dan disiplin yang baik dalam hidup bermasyarakat untuk kemuliaanNya!

Untungnya menjadi orang Kristen

“Sekalipun kamu belum pernah melihat Dia, namun kamu mengasihiNya. Kamu percaya kepada Dia, sekalipun kamu sekarang tidak melihatNya. Kamu bergembira karena sukacita yang mulia dan yang tidak terkatakan, karena kamu telah mencapai tujuan imanmu, yaitu keselamatan jiwamu.” 1 Petrus 1: 8 – 9

Di zaman ini, orang selalu menghitung untung-ruginya semua rancangan atau tindakan.  Dalam perhitungan ekonomi sebuah proyek misalnya, angka rasio antara keuntungan dan biaya (benefit/cost ratio) seringkali dipakai untuk memutuskan apakah proyek itu akan bisa dilaksanakan. Jika rasio itu lebih besar dari satu, proyek itu mungkin akan dijalankan. Sebaliknya, jika biayanya diduga akan lebih besar dari keuntungan, orang akan membatalkan proyek itu. Ini adalah suatu prinsip bisnis yang umum.

Perhitungan untung -rugi secara materi agaknya juga sering muncul dalam kehidupan bermasyarakat, sampai-sampai untuk berteman ataupun berkeluarga, ada orang-orang yang mengambil keputusan berdasarkan besarnya keuntungan di masa depan. Jika hubungan antar manusia tidak bisa membawa keuntungan, orang mungkin akan kehilangan minat untuk meneruskannya. Dalam hal ini, adanya orang yang mempunyai kedudukan, pengaruh atau harta seringkali memberi insentif bagi orang lain untuk mau membina hubungan yang baik dengan mereka.

Jika untung rugi sering diperhitungkan dalam kehidupan bermasyarakat, ada orang -orang yang mempertimbangkan hal yang serupa dalam kehidupan rohani. Apa untungnya untuk menjadi Kristen? Buat apa rajin ke gereja atau membaca Alkitab? Bukankah untuk menjadi orang benar-benar Kristen itu tidak mudah? Jika orang sudah kurang punya waktu untuk menikmati hidup, mengapa pula mereka harus peduli dengan soal rohani?

Ayat di atas agaknya menmbenarkan bahwa menjadi orang Kristen bukanlah mudah. Mereka belum pernah melihat Yesus, namun mereka harus bisa mengasihiNya. Mereka harus bisa percaya kepada Dia, sekalipun tidak melihatNya. Apakah ini mungkin untuk dilakukan dan apa untungnya? Alkitab menjelaskan bahwa semua ini bisa dilakukan karena Yesus yang sudah turun ke dunia, dan mati di kayu salib untuk menebus mereka yang percaya kepadaNya. Kasih Yesus begitu besar membuat orang Kristen bisa mengasihiNya. Sekalipun orang Kristen tidak pernah berjumpa dengan Yesus, mereka bisa merasakan kehadiranNya dalam hidup mereka, dan karena itu mereka bisa percaya sekalipun belum melihatNya.

Orang Kristen merasa beruntung karena Yesus sudah menang atas kematian dan karena itu mereka tidak perlu bergantung kepada faktor “kemujuran” untuk bisa ke surga. Mereka tidak pula perlu bergantung kepada usaha yang sia-sia untuk menjadi orang yang cukup baik bagi Tuhan untuk bisa diselamatkan. Sebaliknya, orang Kristen bisa merasakan keuntungan yang sangat besar karena hanya melalui karunia Tuhan mereka bisa menerima keselamatan secara cuma-cuma. Karena itulah mereka yang masih hidup di dunia sudah bisa bergembira karena sukacita yang besar, karena mereka telah mencapai tujuan iman, yaitu keselamatan jiwa mereka. Sudah tentu untuk menjadi pengikut Kristus yang setia tidaklah mudah, tetapi keuntungannya jauh lebih besar dari segala kesulitan dan penderitaan yang kita alami selama hidup di dunia!

“Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus. Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus.” Filipi 3: 7 – 8

Jangan biarkan dirimu dikuasai orang lain

“Apakah kamu tidak tahu, bahwa apabila kamu menyerahkan dirimu kepada seseorang sebagai hamba untuk mentaatinya, kamu adalah hamba orang itu, yang harus kamu taati, baik dalam dosa yang memimpin kamu kepada kematian, maupun dalam ketaatan yang memimpin kamu kepada kebenaran?” Roma 6: 16

Seringkali saya heran mengapa ada orang yang diculik kemudian bisa “jatuh cinta” kepada penculiknya dan menjadi pengikutnya selama bertahun-tahun. Orang yang diculik itu bisa menjadi seperti robot yang mau diperlakukan dengan semena-mena dan bahkan ada yang sampai melahirkan anak dengan sang penculik. Banyak juga orang yang diculik kemudian tidak mau berusaha untuk melarikan diri dan bahkan tidak mau memperkarakan penculiknya setelah polisi menangkapnya. Fenomena ini dinamakan “Stockholm syndrome” dimana orang yang diculik secara kejiwaan menjadi terikat kepada penculiknya. Memang manusia yang sebenarnya adalah makhluk yang paling cerdas, bisa jatuh dalam penguasaan orang lain baik melalui pengaruh cinta ataupun hipnosis.

Hipnosis (bahasa Inggris: hypnosis) adalah suatu kondisi mental atau hal yang memungkinkan timbulnya  peran imajinatif . Orang yang melakukan proses hipnosis (memberikan sugesti) terhadap subjek disebut hipnotis (bahasa Inggris: hypnotist). Hipnosis biasanya disebabkan oleh prosedur yang umumnya terdiri dari rangkaian instruksi awal dan sugesti. Penggunaan hipnosis sebagai bentuk hiburan pentas dikenal sebagai stage hypnosis, sedangkan yang untuk terapi disebut hypnoteraphy.  Pada umumnya dalam  hipnosis orang bisa dikuasai pikiran dan jwanya oleh sang hipnotis untuk tujuan yang baik maupun yang buruk.

Dengan kemajuan zaman, seharang ini banyak orang yang mencari solusi alternatif atas berbagai masalah yang dihadapinya. Dalam hal ini, hipnosis ditawarkan oleh mereka yang ahli kepada orang-orang yang mengalami berbagai kesulitan hidup atau mereka yang terlibat dalam berbagai kebiasaan yang buruk, seperti merokok atau pemakaian narkoba. Hipnosis dipopulerkan bagi mereka yang  menginginkan hidup yang bebas dari tekanan atau pengaruh buruk tanpa harus bergulat jatuh-bangun untuk mengatasi persoalannya. Dalam hal ini, sudah tentu  hipnosis hanya bisa bekerja efektif  pada orang yang mau percaya dan mau menyerahkan jiwa dan pikirannya kepada sang hipnotis.

Banyak ahli hipnosis yang sekarang menjadi orang terkenal baik dalam pertunjukan ataupun terapi kejiwaan. Selain itu ada juga orang Kristen yang menggunakan hipnosis untuk menolong orang lain. Bagaimana pandangan Kristen akan hipnosis?

Ada orang yang beranggapan bahwa segala sesuatu yang bisa menghasilkan sesuatu yang nampaknya bagus tentu berasal dari Tuhan. Tidak peduli caranya, asal hasilnya baik tentu Tuhan suka. Benarkah begitu? Tentu tidak! Hipnosis memang nampaknya bisa membuat orang berubah dari keadaan semula yang kurang baik menjadi apa yang terlihat baik. Semua itu tanpa memerlukan hubungan yang benar dengan Tuhan Sang Pencipta. Manusia tidak perlu menyesali perbuatannya, memohon ampun atas dosanya, meminta pertolongan Tuhan ataupun bertumbuh dalam bimbingan Roh Kudus. Hipnosis bisa membuat hidup manusia yang kocar-kacir menjadi mulus hanya dengan cara kejiwaan. Mereka yang mau berubah hidupnya tidak perlu lagi bergantung kepada Tuhan.

Jika dipikirkan dalam-dalam, mereka yang melakukan hipnosis sebenarnya berusaha menguasai pikiran dan kejiwaan orang lain sekalipun untuk sementara waktu. Seorang hipnotis mengambil alih hak Tuhan untuk memimpin jiwa dan pikiran manusia dengan menggunakan teknik yang membuat orang lain tunduk kepadanya.  Dan jika orang Kristen membiarkan dirinya untuk dikuasai oleh seorang  hipnotis, itu berarti bahwa ia menyerahkan dirinya kepada seseorang dan sudah menjadi hamba orang itu. Baik pelaku hipnosis dan orang yang menerima hipnosis menghapus pengaruh dan peran Tuhan dari hidup manusia.

Manusia diciptakan Tuhan agar ia mau memuliakanNya. Manusia diciptakan Tuhan sebagai makhluk yang sepenuhnya bergantung kepada Dia. Manusia seharusnya mempunyai hubungan roh yang kuat dengan Penciptanya. Manusia seharusnya berkomunikasi dengan Tuhan secara rohani. Bagaimana mungkin manusia kemudian memilih jalan pintas untuk mencapai sesuatu tanpa melalui Dia? Bukankah itu suatu dosa?

 

 

Adakah rasa malu di zaman sekarang?

“Sebab yang sangat kurindukan dan kuharapkan ialah bahwa aku dalam segala hal tidak akan beroleh malu, melainkan seperti sediakala, demikianpun sekarang, Kristus dengan nyata dimuliakan di dalam tubuhku, baik oleh hidupku, maupun oleh matiku.” Filili 1: 20

Kapankah kata malu atau ashamed muncul untuk pertama kalinya di Alkitab? Dalam kitab Kejadian. Kejadian 2: 25 menyatakan bahwa Adam dan Hawa pada awalnya telanjang, tetapi mereka tidak merasa malu. Ini menggambarkan bahwa sebelum jatuh ke dalam dosa, manusia mempunyai pikiran yang bersih. Tidak ada pikiran yang buruk ataupun motivasi yang kurang baik, karena dosa belum mengotori hidup manusia.

Keadaan dunia sejak kejatuhan dalam dosa sudah berubah sedemikian rupa sehingga manusia tidak lagi jernih pikirannya dan menjadi kacau hidupnya. Itu adalah konsekuensi dosa yang sudah dilakukan manusia, yang sudah merusak hubungan manusia dengan Penciptanya. Apa yang seharusnya tidak membawa rasa malu, sekarang bisa membebani pikiran manusia. Sebaliknya, apa yang seharusnya membuat rasa malu, orang melakukannya tanpa rasa segan.

Di zaman modern ini orang beriman memang menghadapi berbagai tantangan dan perjuangan. Banyak orang yang menuduh orang Kristen sebagai orang yang kolot, fanatik atau tidak realistis. Iman Kristen yang mengharuskan pengikutnya untuk menghindari kelakuan dan perbuatan tertentu bisa saja dianggap sebagai ketinggalan zaman. Mereka yang berusaha menjalani hidup suci justru sering dipermalukan oleh orang-orang di sekitarnya dan dianggap sebagai orang bodoh. Oleh karena itu, banyak orang Kristen yang harus “berpura-pura” dan menyembunyikan kekristenannya dalam hidup bermasyarakat.

Sebagian orang Kristen segan menunjukkan kekristenannya mungkin juga karena dorongan untuk “hidup damai” dengan golongan lain. Apalagi, jika ada sanak keluarga yang belum mengenal Kristus, hal-hal yang berbau rohani kemudian terpaksa disembunyikan agar tidak menyinggung perasaan mereka. Pada pihak yang lain, mereka yang melakukan hal-hal yang bertentangan dengan firman Tuhan bisa mengemukakan semua itu tanpa rasa malu, sekalipun telinga orang Kristen menjadi merah karena rasa malu.

Paulus dalam ayat di atas menjelaskan bahwa ia ingin dalam segala hal untuk tidak akan beroleh malu karena ia tidak memancarkan sinar kekristenannya. Ia tidak ingin mendapat malu kalau hidupnya tidak secara jelas menunjukkan bahwa ia adalah pengikut Kristus. Sebaliknya, ia ingin untuk menyatakan imannya kepada semua orang dan memuliakan Kristus dalam tubuhnya, baik oleh hidupnya maupun oleh matinya. Paulus tahu bahwa jika ia malu untuk mengakui dan memberitakan kebenaran Tuhan dalam hidupnya, Tuhan juga akan menolak dia sebagai umatNya.

“Usahakanlah supaya engkau layak di hadapan Allah sebagai seorang pekerja yang tidak usah malu, yang berterus terang memberitakan perkataan kebenaran itu.” 2 Timotius 2: 15

Apakah anda benar-benar mengenal Dia?

“Dahulu, ketika kamu tidak mengenal Allah, kamu memperhambakan diri kepada allah-allah yang pada hakekatnya bukan Allah. Tetapi sekarang sesudah kamu mengenal Allah, atau lebih baik, sesudah kamu dikenal Allah, bagaimanakah kamu berbalik lagi kepada roh-roh dunia yang lemah dan miskin dan mau mulai memperhambakan diri lagi kepadanya?” Galatia 4: 8 – 9

Soal cinta adalah soal yang seringkali rumit. Sebuah peribahasa lama yang pernah saya kenal semasa di SMA ialah “Tak kenal maka tak sayang” yang artinya seseorang tidak dapat menyukai atau mencintai orang lain jika belum mengenalnya secara dekat. 

Peribahasa ini menarik buat saya karena justru waktu itu saya sering menjumpai adanya film yang bertemakan “cinta pada pandangan pertama”. Bagaimana orang bisa jatuh cinta sekalipun belum betul-betul mengenal orang yang dicintainya? Kemudian saya mendengar bahwa ada orang yang percaya bahwa “cinta itu buta”. Jadi mungkin ada orang yang mencintai orang lain sekalipun belum benar-benar kenal. Aneh bukan?

Dalam kenyataannya, banyak orang yang merasa kecewa kepada orang yang dicintainya, setelah benar-benar mengenal orang itu. Memang dengan berjalannya waktu, agaknya mata orang yang buta menjadi celik dan perasaan sayangnya menjadi hilang karena memang dari mulanya tidak ada rasa kenal.

Dalam ayat di atas Paulus bertanya kepada jemaat di Galatia bagaimana mungkin mereka yang mengaku kenal kepada Allah, bisa meninggalkan Dia untuk kembali kepada hidup lama mereka. Benarkah mereka mengenal dan mengasihi Allah jika mereka kembali memilih ilah-ilah yang dulunya mereka puja? Apakah ini berarti bahwa mereka tidak benar-benar mengenal Allah? Apakah mata mereka masih buta dan tidak dapat melihat kebesaran dan kasih Allah?

Memang mereka yang belum mengenal Allah tidak akan dapat mengasihiNya. Dengan kemampuan sendiri, kita tidak dapat mengenalNya. Tetapi Allah yang mahakasih sudah membuat mata kita yang dulunya buta untuk bisa melihat Dia. Karena kita bisa melihat kasihNya melalui pengurbanan Kristus, kita bisa mengenal Dia. Karena kita mengenal Dia, kita bisa mengasihiNya. Jika kita benar-benar mengasihiNya, tidak mungkin kita kembali kedalam kegelapan hidup lama yang penuh dosa. Mereka yang tak sayang adalah orang yang tak kenal.

Mengambil kesempatan untuk berbuat baik

“Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman.” Galatia 6: 10

Masa kecil adalah masa yang mengesankan; masa yang sering diisi dengan kenakalan, tetapi juga masa yang dipakai orangtua untuk membentuk perilaku anak-anak mereka. Dalam hal ini, orangtua saya sering menasihati agar saya tidak mengambil barang tanpa seizin pemiliknya. Sampai sekarang rasa malu masih timbul jika saya teringat akan saat dimana saya melanggar larangan mereka.

Kata “mengambil sesuatu” mempunyai arti memegang suatu barang untuk kemudian dibawa pergi. Jika itu adalah barang milik kita, itu adalah hal yang lumrah, tetapi jika itu barang orang lain tentunya kita harus meminta ijin pemiliknya agar tidak dikatakan mencuri.

Bagaimana pula jika kita mengambil barang berharga yang sudah diberikan orang kepada kita? Sudah tentu kita boleh membawa pulang pemberian itu, tetapi kita tidak boleh lupa untuk mengucapkan terima kasih kepada si pemberi. Selain itu, tentunya kita mau menghargai pemberian itu dengan tidak menyia-nyiakannya.

Sebagai orang Kristen, kita percaya bahwa Tuhan yang mahakasih sudah memberikan berbagai karunia, termasuk karunia terbesar yaitu keselamatan melalui darah Kristus. Dalam hidup sehari-hari, Tuhan juga memberikan kesempatan kepada setiap umatNya untuk bersyukur kepadaNya dengan berbuat baik kepada semua orang, karena Ia sudah lebih dulu berbuat baik bagi kita.

Setiap orang sudah diberikan Tuhan kesempatan untuk hidup baik. Mengambil kesempatan untuk hidup tanpa mau memikirkan dari mana itu datang, sudah tentu merupakan hal yang tidak pantas. Menggunakan kesempatan hidup tanpa mau mengerti apa arti pemberian itu adalah pencerminan sikap mementingkan diri sendiri. Dan tindakan mengambil kesempatan dari Tuhan hanya untuk kemuliaan diri sendiri, tidaklah jauh berbeda dengan mencuri.

Ayat di atas mengingatkan kita bahwa kesempatan untuk berbuat baik sudah disediakan Tuhan bagi kita selama kita hidup. Karena itu adalah pemberian Tuhan, kita tidak perlu ragu-ragu untuk memakainya. Sebaliknya, karena kesempatan itu diberikan kepada setiap umatNya, kita harus bersedia untuk mengambil kesempatan itu untuk bisa digunakan sesuai dengan kehendakNya, yaitu untuk membawa kemuliaan bagi Dia. Maukah kita mengambil kesempatan yang masih ada untuk berbuat baik kepada semua orang dan terutama kepada saudara-saudara seiman kita?

Selama hidup di dunia, bekerjalah untuk Tuhan

“Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” Kolose 3: 23

Menurut media, di Australia secara umum kaum pria mendapat gaji yang lebih besar, dan dapat mencapai posisi yang lebih tinggi dari pada kaum wanita. Ini adalah sesuatu yang tidak adil dalam pandangan umum. Karena itu, pada saat ini usaha membuka lowongan untuk kaum wanita sedang digalakkan dalam semua lapangan melalui program persamaan kesempatan atau equal opportunity.

Sekalipun ada kesadaran tentang persamaan hak dan kedudukan manusia, adalah mengherankan bahwa di negara barat seperti Australia, masih banyak orang yang berpendapat bahwa kaum wanita yang sudah menikah sebaiknya tinggal di rumah sebagai ibu rumah tangga. Mereka yang secara tradisi menganggap bahwa kaum wanita sebaiknya memakai hidup mereka untuk mengasuh anak dan bukannya untuk mencari nafkah, memang merasa bahwa semua itu adalah apa yang diperintahkan Tuhan.

Karena pandangan tradisional itu, banyak kaum pria yang merasa bahwa tugas sehari-hari di rumah sebaiknya dipegang oleh para istri. Mereka kurang mau ikut campur tangan dalam urusan “domestik” karena mereka sudah bekerja keras untuk mencari nafkah. Dengan demikian, di antara kaum wanita banyak yang merasa bahwa itu bukanlah keadilan. Memang dalam hidup ini seringkali ada perasaan bahwa pekerjaan tertentu adalah lebih berharga atau lebih dihargai orang lain.

Adalah kenyataan bahwa sebagian manusia sering memandang bahwa Tuhan sudah menentukan pekerjaan dan tugas yang berbeda untuk kaum pria dan wanita. Mereka tidak menyadari bahwa tugas untuk menguasai dunia adalah ditujukan bagi semua manusia, baik pria dan wanita, dan itu berarti bahwa pria dan wanita mempunyai tanggung jawab yang serupa dalam masyarakat. Mereka sering lupa bahwa jika manusia bekerja, mereka bekerja untuk Tuhan, dan karena itu apapun pekerjaan mereka, mereka haruslah bisa bersyukur bahwa Tuhan mau memakai mereka sebagai hambaNya.

Pria dan wanita adalah ciptaan yang berbeda, dan dalam rumah tangga mereka mempunyai fungsi yang tidak sama. Walaupun demikian, dalam semua segi kehidupan, baik pria maupun wanita boleh bekerja sama dalam bidang apapun. Kerja sama dan persamaan hak adalah perlu baik dalam pekerjaan di luar maupun di dalam rumah. Selama hidup manusia harus bekerja untuk memuliakan Tuhan yang sudah menciptakan segala sesuatu.

Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.” Kejadian 1: 28

Jika Tuhan marah dalam masyarakat

“Dan karena mereka tidak merasa perlu untuk mengakui Allah, maka Allah menyerahkan mereka kepada pikiran-pikiran yang terkutuk, sehingga mereka melakukan apa yang tidak pantas: penuh dengan rupa-rupa kelaliman, kejahatan, keserakahan dan kebusukan, penuh dengan dengki, pembunuhan, perselisihan, tipu muslihat dan kefasikan.” Roma 1: 28 – 29

Manakah yang lebih anda takuti, iblis atau Tuhan? Pertanyaan yang sederhana ini mungkin belum pernah anda terima dari siapapun. Walaupun demikian, jika kita melihat keadaan di sekeliling kita, agaknya manusia lebih takut kepada iblis dan kuasanya. Mengapa begitu? Karena manusia tahu bahwa iblis mempunyai maksud-maksud yang jahat. Dalam bayangan sebagian orang, iblis atau setan juga mempunyai penampilan yang mengerikan, seperti dalam film-film horror yang digemari penonton. Pada pihak yang lain, manusia tahu bahwa Tuhan adalah oknum yang mahakuasa, tetapi justru kurang mempunyai rasa takut kepadaNya.  Apa sebabnya? Tuhan yang mahakasih bukanlah oknum yang mengerikan dan jahat, karena itu banyak manusia yang mengabaikan atau melupakanNya. Tuhan yang dikenal dengan kasih, berkat dan karuniaNya justru sering dilupakan oleh manusia.

Dari Alkitab kita tahu bahwa Tuhan tidak pernah bermaksud jahat kepada manusia dan tidak pernah membuat bencana tanpa sebab yang jelas. Namun, ada keadaan-keadaan tertentu yang menyebabkan orang yang mengabaikan Tuhan mengalami hidup yang yang kurang menyenangkan. Bukanlah hal yang mengherankan bahwa mereka yang  tidak mengenal Tuhan kemudian mengalami berbagai persoalan. Ayat di atas menulis bahwa Tuhan sendiri mungkin tidak perlu menjatuhkan hukuman secara langsung, tetapi Ia bisa menyerahkan orang-orang yang melupakan Dia kepada pikiran-pikiran yang terkutuk, sehingga mereka melakukan apa yang tidak pantas: penuh dengan rupa-rupa kelaliman, kejahatan, keserakahan dan kebusukan, penuh dengan dengki, pembunuhan, perselisihan, tipu muslihat dan kefasikan. Jika pada suatu tempat manusia tidak mengakui Tuhan, Ia membiarkan iblis untuk mengacaukan hidup mereka. Kekacauan dan bahkan malapetaka bisa terjadi karena Tuhan melepas tangan atas kehidupan masyarakat yang tidak takut kepadaNya.

Takut akan Tuhan memang agaknya sulit dipraktikkan manusia jika manusia tidak menyadari mengapa Yesus Kristus perlu turun ke dunia. Bagi sebagian orang, manusia tidaklah seburuk yang dilihat, mereka percaya bahwa dalam diri setiap manusia selalu ada unsur-unsur yang baik dan itu bisa menyenangkan Tuhan.  Tuhan yang mahakasih tentunya tidak pernah marah dan membiarkan masyarakat menemui persoalan hidup yang terlalu besar. Tetapi, itu adalah pandangan keliru. Mata Tuhan yang mahasuci tidak tahan melihat semua manusia yang sudah berbuat durhaka kepadaNya. Karena itu, Ia harus mengurbankan AnakNya untuk memadamkan amarahNya. Mereka yang menyadari betapa besar pengurbanan Tuhan untuk manusia, akan sadar bahwa Tuhan tidak dapat dipermainkan. Jika murka Tuhan hanya bisa dipadamkan dengan darah AnakNya, Ia adalah Tuhan yang tidak dapat diabaikan.

Bagi banyak orang Kristen, rasa puas mungkin sudah ada bahwa mereka adalah orang-orang yang diselamatkan. Dengan itu, hidup berjalan seperti biasa dan Tuhan dipersilakan untuk berada di latar belakang. Umat Kristen dan Gereja mungkin secara religius mengakui eksistensi Tuhan, tetapi dalam hidup sehari-hari mereka tidak cukup berusaha untuk membimbing masyarakat agar mereka takut akan Tuhan dan memilih jalan kebenaran melalui Kristus. Mereka kurang mau atau kurang berani menyatakan bahwa apa yang dipandang sebagai kebaikan untuk manusia tidak akan mencapai hasil yang baik jika Tuhan bukanlah yang diutamakan.  Masyarakat yang hanya mementingkan kesibukan sehari-hari, lambat laun melupakan Tuhan dan segala firmanNya. Masyarakat yang lebih mementingkan hak manusia dan bukannya hak Tuhan, lambat laun akan tenggelam dalam kekacauan dan masalah. Inilah yang harus kita sadari, bahwa Tuhan bukan saja menghendaki  kita untuk taat kepadaNya, tetapi Ia juga menghendaki  masyarakat di sekeliling kita untuk menyadari dosa mereka dan takut akan Dia.

Mungkinkah semua orang baik akan diselamatkan?

Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” Yohanes 14: 6

Ayat di atas adalah ayat yang sangat terkenal yang berisi klaim Yesus bahwa Ia adalah satu-satunya jalan bagi manusia untuk bisa menuju ke surga. Sekalipun ayat ini jelas menunjukkan bahwa iman kepada Kristus adalah mutlak perlu untuk bisa diselamatkan, di zaman ini banyak orang Kristen yang ragu-ragu bahwa keselamatan adalah ekslusif untuk mereka yang percaya kepada Yesus.

Kepercayaan bahwa Yesus adalah satu-satunya jalan (the way) memang sudah sering membuat orang yang bukan Kristen menjadi tersinggung. Mereka yang Kristen pun sekarang banyak yang segan untuk menekankan pentingnya ayat ini, demi menjaga keakraban dengan teman, saudara atau sanak yang beragama lain. Mereka yang ingin membina dialog antar agama (interfaith dialogue) seringkali menghindari penggunaan ayat ini.

Memang orang Kristen yang mengasihi sesama seringkali ingin agar semua orang yang hidupnya baik bisa juga memperoleh keselamatan. Tuhan yang mahaadil tentu harus mau menerima mereka yang sudah berusaha untuk hidup baik, begitu kilah mereka. Jika Tuhan memang adil, Ia tentu tidak hanya memilih orang Kristen untuk ke surga. Apalagi, orang Kristen belum tentu lebih baik hidupnya jika dibandingkan dengan orang yang bukan Kristen.

Tidaklah mengherankan bahwa di zaman ini, paham relativisme mulai muncul. Paham ini yang juga dikenal dengan istilah “multifaith” mengajarkan bahwa manusia pada hakikatnya cenderung untuk mencari Tuhan dengan cara mereka sendiri, yang dipengaruhi oleh kebudayaan, latar belakang, kebijaksanaan dan pengalaman mereka. Karena itu, manusia harus saling menghargai dan menghormati kepercayaan orang lain. Semua agama pada hakikatnya baik dan bisa membawa keselamatan. Menurut mereka, itu adalah cara untuk hidup damai dengan semua orang, seperti yang dikehendaki Tuhan.

Apa yang sering dilupakan orang adalah kenyataan bahwa tidak ada orang yang baik dan suci di hadapan Tuhan. Semua orang sudah berdosa dan harus menemui kematian abadi jika mereka tidak menerima pengampunan Tuhan. Kemahasucian Tuhan membuat orang sebaik bagaimana pun terlihat sebagai orang yang penuh cacat cela. Dalam hal ini, darah Yesus adalah satu-satunya jalan untuk membasuh dosa manusia. Mereka yang sudah menerima pengampunan bukanlah orang yang hidupnya baik, tetapi orang yang menerima anugerah Tuhan dengan cuma-cuma.

Sore ini, firman Tuhan mengingatkan agar kita tetap berpegang pada iman bahwa hanya ada satu jalan menuju keselamatan. Itu bukan dengan berbuat baik dan menjadi orang yang saleh, karena semua itu hanyalah ilusi manusia. Manusia yang berdosa hanya bisa mendapat pengampunan melalui iman kepada Kristus.

“Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya.” Matius 7: 13- 14

Berlindunglah dalam kemah Tuhan

“Biarlah aku menumpang di dalam kemah-Mu untuk selama-lamanya, biarlah aku berlindung dalam naungan sayap-Mu!” Mazmur 61: 4

Pada saat bencana alam atau malapetaka terjadi di suatu daerah di Australia, biasanya gereja-gereja yang berada disekitarnya segera bereaksi dengan memberikan berbagai bantuan guna menolong para korban. Jika bantuan pemerintah tidak dapat diperoleh dengan segera, gereja dan umat Kristen setempat bisa lebih cepat beraksi. Diantara apa yang dapat dilakukan gereja adalah membuka aula gereja (church hall) untuk tempat pengungsian dan mengadakan dapur umum untuk memberi makan para pengungsi.

Memang banyak gereja di Australia memiliki aula yang bisa dipakai untuk berbagai acara sosial. Dengan demikian, aula gereja mungkin berukuran cukup besar dan bahkan cukup mewah. Tetapi, para pengungsi tentunya tahu bahwa mereka hanya bisa berlindung di aula itu untuk sementara waktu saja. Jika situasi membaik, tentunya para pengungsi itu harus pulang ke tempat masing-masing dan menghadapi realita kehidupan.

Ayat di atas ditulis oleh Daud yang menyatakan keinginannya untuk tinggal di Kemah Suci Tuhan. Kemah Suci, dalam bahasa Ibrani disebut Mishkan yang artinya tempat tinggal Allah, adalah rumah ibadah yang diperintahkan Tuhan kepada Musa untuk didirikan pada saat bangsa Israel berada di kaki Gunung Sinai. Dalam bahasa Inggris Kemah Suci diterjemahkan dengan kata Tabernacle, berasal dari bahasa Latin Tabernaculum yang artinya kemah, gubuk atau pondok.

Sudah tentu Daud sadar bahwa ia tidak dapat tinggal menumpang dalam Kemah Suci. Tetapi, Kemah Suci dalam bayangan Daud adalah suasana dan keadaan di mana ia bisa merasakan kasih dan perlindungan Tuhan. Seperti seorang pengungsi yang membutuhkan pertolongan, Daud mengharapkan bantuan yang bukan hanya untuk sementara. Jika manusia tidak dapat memberi Daud perasaan damai dan tenteram, Tuhan bisa dan mau untuk memberi tempat berlindung yang abadi.

Hari ini, adakah kekuatiran yang anda rasakan? Adakah masalah besar yang harus anda hadapi? Sekalipun anda tidak dapat mengharapkan bantuan orang lain, Tuhan selalu siap menolong anda. Datanglah dan tinggallah di kemah Tuhan, maka Ia akan memberikan pertolonganNya!