Laki-laki dan perempuan adalah sederajat

“Karena kamu semua, yang dibaptis dalam Kristus, telah mengenakan Kristus. Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus. Galatia 3: 27 – 28

Pagi ini saya membaca bahwa di daerah tertentu di dunia ini masih banyak anak-anak perempuan yang mengalami mutilasi genitalia atau female genital mutilation (FGM) yang sering juga disebut “sunat perempuan”. Pemotongan sebagian alat kelamin wanita ini sudah dilarang di banyak negara, dan di Australia pelakunya bisa dikenakan hukuman penjara sampai 14 tahun. Pasalnya, mutilasi alat kelamin itu bisa menyebabkan berbagai masalah kesehatan baik badani maupun kejiwaan kepada wanita yang mengalaminya. Sebaliknya, sebagian orang yang berusaha mempertahankan kebiasaan itu menyatakan bahwa mutilasi itu perlu untuk menjaga kemurnian badani dan rohani kaum wanita, terutama untuk bisa meredam nafsu seksuil mereka. Mereka yang sudah disunat tidak akan bisa sepenuhnya merasakan kenikmatan seks dan dengan demikian akan mempunyai pikiran yang jernih, begitu salah satu alasan yang banyak dikemukakan para pendukung FGM yang sebagian mengaku Kristen.

Terlepas dari pro dan kontra mengenai adat-kebiasaan yang ada dalam masyarakat tertentu, bagi banyak kaum wanita dan dokter di dunia FGM adalah suatu tindakan pelecehan dan penyiksaan karena tidak saja kaum wanita dianggap sebagai benda milik kaum pria, mereka harus mengalami prosedur yang tidak ada manfaatnya secara medis dan malahan bisa menghilangkan/mengurangi fungsi tubuh mereka serta menyebabkan rasa sakit sepanjang hidup mereka. Memang akibat sunat pada kaum wanita sangat berlainan dengan akibat sunat pada kaum pria karena pada kaum wanita, ini merupakan pemotongan bagian tubuh yang penting dan bukannya sekedar kulit yang tidak berguna.

Secara fisik tubuh wanita tidaklah sama dengan tubuh pria, tetapi sebagai manusia mereka mempunyai kemerdekaan dan hak azasi yang sama dengan orang lain. Sayang sekali bahwa dalam sejarah, kaum wanita sering mengalami pelecehan dalam berbagai bentuk karena perbedaan fisik itu. Mereka sering dianggap sebagai obyek permainan kaum pria dan dibatasi dalam hal kemerdekaan dan hak azasi sehingga mereka sering dipaksa untuk menuruti apa yang dikehendaki orang lain. Kaum pria yang sebenarnya diharapkan untuk mengasihi dan melindungi kaum wanita, justru sering muncul sebagai penguasa dan pemilik lawan jenisnya.

Ayat di atas sangat sering dibaca oleh umat Kristen dan biasanya dikaitkan dengan keselamatan dari Kristus yang diberikan kepada semua orang percaya tanpa memandang status mereka. Dalam hubungan vertikal, kasih Yesus tercurah kepada siapa saja yang mau menerimanya. Walaupun demikian, ayat itu juga mengingatkan kita bahwa sebagai orang percaya, kita harus memperlakukan semua orang sebagai orang yang sederajat di hadapan Tuhan. Semua orang sudah berdosa dalam mata Tuhan, dan semua orang sudah diberi kesempatan yang sama untuk diselamatkan. Karena itu, dalam hubungan horisontal, kita harus memperlakukan setiap orang, laki-laki maupun wanita, sebagai manusia yang mungkin sangat berbeda dalam penampilan tetapi mempunyai kedudukan/derajat yang sama. Pria dan wanita diciptakan dengan bentuk dan fungsi yang berbeda, tetapi semuanya diciptakan sebagai gambar Tuhan dan untuk kemuliaan Tuhan.

Pagi ini, marilah kita memikirkan hal-hal yang membedakan pria dan wanita. Sebagai orang Kristen kita tidak boleh terseret ke arah pandangan yang menganggap pria dan wanita adalah sama dalam segala hal. Perbedaan yang diciptakan Tuhan justru bisa untuk saling melengkapi. Walaupun demikian, kita tidak boleh  mempunyai pandangan bahwa manusia mempunyai hak dan kemerdekaan yang berbeda. Mereka yang sudah diselamatkan akan sadar bahwa mereka tanpa pandang bulu, sudah dikaruniai Tuhan hak untuk menjadi anak-anak Allah dan dimerdekakan dari kuasa dosa. Sebagai orang Kristen kita harus mau untuk berjuang untuk menyadarkan orang lain akan kebenaran dari Tuhan: bahwa semua manusia adalah sederajat dan harus saling menghargai.

Semua manusia adalah ciptaan Tuhan

Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. Kejadian 1: 27

Pada waktu saya mendarat di Melbourne pada bulan Juni tahun 1983, sangatlah sedikit pengertian saya tentang sejarah dan demografi Australia. Sselang beberapa bulan setelah itu, saya mulai menyadari bahwa Australia mempunyai penduduk dengan latar belakang etnis yang berbeda-beda. Belanda adalah bangsa asing yang pertama kali datang ke Australia, tetapi Inggris kemudian memutuskan untuk membuat Australia sebagai bagian negaranya pada tahun 1700an. Karena itu, sampai akhir tahun 1800an, sebagian besar orang yang dilahirkan di Australia adalah keturunan Inggris. Setelah perang dunia kedua, Australia membuka kesempatan bagi para pengungsi dari Eropa untuk menetap, tetapi banyak orang dari Asia juga ikut datang. Dari tahun 1945 sampai 1960, ada 1,6 juta pendatang baru yang menetap di Australia.

Pada saat ini kira-kira 67,4% penduduk Australia adalah keturunan Inggris, sedangkan penduduk aslinya hanya 3%. Mereka yang keturunan Irlandia ada 8,7%,  Italia sekitar 3,8%, Yunani sekitar 1,6%, dan Belanda 1,2%. Bagaimana dengan orang Indonesia? Menurut sensus 2011 ada sekitar 48.000 orang yang mengaku keturunan Indonesia di antara 22,3 juta penduduk Australia. Dari jumlah ini 59% mengaku beragama Kristen, 19,4% Islam, 10,3% Budha, dan 6.8% tidak beragama. Dengan melihat data statistik di atas bisa dibayangkan bahwa Australia sekarang adalah negara yang mempunyai beragam kebudayaan (multicultural) dan banyak kepercayaan (multifaith). Dengan banyaknya jenis manusia yang mempunyai latar belakang yang berbeda, susunan demografi Australia tentunya berubah secara dinamis tahun demi tahun.

Salah satu masalah dalam masyarakat Australia yang berbeda ragamnya adalah hal kerukunan. Tidak hanya kerukunan beragama yang diperlukan, tetapi juga kerukunan sosial dan politik. Walaupun demikian, kerukunan sosial atau kerukunan bermasyarakat itu sering dipengaruhi oleh oleh faktor-faktor agama, etnis dan politik. Mereka yang datang dari negara lain ke Australia, seringkali masih mempunyai ikatan dengan keadaan agama, etnis dan politik  di negara asalnya. Inilah yang kadang -kadang menimbulkan keadaan yang tidak menyenangkan. Memang orang sering lupa bahwa sesudah menjadi warga Australia, seharusnya mereka melupakan adanya perbedaan untuk bisa bersatu dan saling menghormati sebagai rakyat dari satu negara.

Dalam kenyataannya, perbedaan etnis seringkali membuat manusia bertengkar dengan sesama. Itu karena orang sering memandang orang lain yang berbeda penampilannya sebagai makhluk yang lebih rendah derajatnya atau lebih buruk kemampuannya. Sejarah membuktikan bahwa banyak kekejaman terjadi karena kebencian kelompok tertentu atas kelompok yang lain. Tetapi, bagi umat Kristen hal membeda-bedakan manusia itu tidak dapat dibenarkan. Menurut Alkitab, Tuhan pada mulanya menciptakan sepasang manusia. Sejak penciptaan Adam dan Hawa, manusia berkembang biak dan menjadi banyak dalam jumlah dan ragamnya.

Sebagian manusia yang tidak percaya kepada Tuhan memang mudah terpancing dalam keyakinan bahwa mereka adalah lebih baik dari orang lain. Tetapi, mereka yang percaya adanya Tuhan pun bisa terjebak dalam keyakinan bahwa Tuhan menciptakan kelompok-kelompok tertentu sebagai “manusia unggul” yang lebih baik, lebih murni dan lebih berharga dari orang lain. Ini mungkin bisa dilihat dalam kehidupan manusia dalam perjanjian lama yang seringkali membeda-bedakan perlakuan kepada sesama. Tetapi, kedatangan Yesus ke dunia mengubah semua itu. Ia mengajarkan kasih kepada sesama, kasih yang tidak memandang bulu, yang tidak memandang perbedaan ras, status sosial dan apapun. Lebih dari itu, Ia mengajarkan bagaimana  kita harus mengasihi musuh kita.

Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan umat manusia. Ia datang bukan untuk orang Yahudi, orang Yunani ataupun bangsa-bangsa tertentu saja (Yohanes 3: 16).  Yesus juga mengajarkan bahwa Allah menerbitkan matahari dan mendatangkan hujan untuk semua ciptaanNya (Matius 5: 45). Tambahan pula, Yesus memerintahkan kita untuk mengabarkan injil ke semua bangsa dan menjadikan mereka muridNya (Matius 28: 19). Yesus juga memberi Roh Kudus kepada para pengikutNya sehingga mereka dapat memakai berbagai bahasa (Kisah Para Rasul 2: 4). Dengan demikian, tidak ada alasan bagi manusia manapun untuk memandang orang lain lebih rendah atau lebih tidak berarti. Di hadapan Tuhan, semua manusia adalah sama: orang berdosa yang hanya bisa diselamatkan melalui darah Yesus (Roma 3: 23- 24).

Pagi ini, adakah rasa prihatin dalam hati anda melihat suasana di sekitar kita? Mengapa ada orang-orang yang memperlakukan orang lain dengan semena-mena? Mengapa ada orang yang menganggap orang lain sebagai makhluk yang kurang berarti? Mengapa ada orang yang merasa lebih unggul, lebih baik dan lebih berharga dari orang lain? Sebagai umat Kristen kita harus sadar bahwa Tuhan menciptakan semua manusia menurut gambarNya. Semua perlakuan yang tidak baik kepada sesama manusia pada hakikatnya adalah penghinaan terhadap Sang Pencipta.

Jangan hanya menonton

“Ikutlah menderita sebagai seorang prajurit yang baik dari Kristus Yesus.” 2 Timotius 2: 3

Tahukah anda apa yang dimaksudkan dengan istilah Tough Mudder? Tough Mudder adalah lomba lari halang rintang sepanjang 16-20 km. Para peserta Tough Mudder dituntut bekerja sama dalam timnya untuk melewati rintangan yang dirancang untuk menguji fisik dan mental. Tough Mudder berbeda dari kompetisi lari lainnya karena tujuan utama lomba ini adalah meningkatkan rasa kerja sama antara para peserta. Dalam perlombaan ini terdapat 20 hingga 25 halangan seperti pagar, tanah berlumpur dan lainnya yang harus dilewati para peserta. Untuk bisa menyelesaikan  lomba, para peserta harus mengutamakan kesatuan tim sambil belajar mengatasi rasa takut. Turnamen Tough Mudder hadir untuk pertama kali di Indonesia pada tahun 2016 di Jimbaran, Bali,.

Barangkali kehidupan orang Kristen di dunia bisa dibayangkan sebagai kompetisi olahraga. Paulus pada zamannya menggunakan ilustrasi pelari dan petinju untuk menggambarkan bagaimana orang Kristen harus berjuang untuk mencapai kemenangan dalam Kristus. Mereka yang menjadi pelari atau petinju tidak akan sembarangan berlari atau memukul, tetapi dengan penuh semangat dan perhatian akan berusaha untuk mendisiplinkan hidupnya agar tidak dikalahkan oleh lawan-lawan mereka. Seperti itulah, sebagai orang Kristen kita juga harus bisa melatih hidup kita agar kita tetap bisa setia mengikut Tuhan sampai akhir hidup.

Satu hal yang tidak bisa digambarkan melalui ilustrasi pelari atau petinju adalah pentingnya teamwork atau kerja tim. Pada lomba tough mudder, tiap peserta umumnya muncul sebagai tim yang terdiri dari 2 atau 4 orang. Dengan demikian, sekalipun kemampuan perseorangan penting, seorang peserta lomba yang baik tidak hanya harus mau berjuang, tetapi harus juga mau bekerjasama dengan anggota timnya untuk mencapai garis finis. Persis seperti seorang prajurit yang maju berperang. Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing. Senang dan susah dialami bersama.

Kehidupan orang Kristen sebenarnya seringkali lebih berat dan lebih menakutkan dari apa yang bisa dialami oleh seorang atlit. Mereka tidak hanya harus menghadapi kehidupan sehari-hari yang penuh dengan tantangan dan bahaya, tetapi juga harus menghadapi lingkungan, masyarakat dan bahkan pemerintah yang mungkin jahat atau hostile terhadap mereka. Kerapkali, karena tantangan dan bahaya yang harus dihadapi adalah terlalu besar , orang Kristen mungkin mengambil keputusan untuk tidak bertindak apa-apa atau tidak mau mengambil keputusan. Jika  ini dibayangkan seperti lomba lari halang rintang, orang Kristen yang sedemikian membiarkan peserta lainnya untuk berangkat berjuang, tetapi ia tidak beranjak dari tempat duduknya. Sebagai anggota tim Kristus, orang yang sedemikian memilih untuk tidak ikut-ikutan menderita.

Ayat di atas mengingatkan semua orang percaya bahwa mereka adalah anggota dari tim Kristus. Sebagai orang Kristen, kita harus sadar bahwa nama Tuhan akan dimuliakan melalui umatNya yang mau benar-benar berjuang seperti prajuritNya. Memang tiap orang memiliki beban hidup tersendiri, tetapi sebagai umat Kristen kita memiliki beban bersama. Karena itu kita harus bisa bersatu dalam kerja tim yang baik, harus sehati sepenanggungan.

Keadaan disekeliling kita mungkin bisa membuat hati kita menjadi kecil dan bayangan bahwa kita harus bisa menghadapi segala tantangan dan bahaya sebagai orang Kristen, mungkin membuat kita memutuskan untuk memilih jalan gampang. Tidak ikut-ikutan. Tidak ikut menderita. Biarlah orang lain yang melakukannya. Tetapi ini bukanlah apa yang dilakukan oleh Paulus ketika ia menulis ayat di atas. Ia menulis bahwa karena pemberitaan Injil ia menderita,  dibelenggu seperti seorang penjahat, tetapi firman Allah tidak dapat dihentikan oleh lawan-lawannya (2 Timotius 2: 9).

Pagi ini keadaan di sekeliling kita mungkin menunjukkan adanya ketidakadilan, ketimpangan sosial, hukum dan ekonomi. Semua itu adalah tantangan buat umat Kristen dan untuk itu Paulus mengundang agar kita sebagai anggota tim Kristus mau ikut berjuang untuk menegakkan kebenaran Kristus. Adakah kemauan kita untuk berjuang bersama-sama dengan umat Kristen lainnya? Ataukah kita tinggal membisu dan hanya menonton saudara-saudara seiman kita berjuang dan mengucurkan keringat dan bahkan darah untuk mencapai kemenangan dalam Kristus?

 

 

 

 

 

 

Diganjar untuk mendapat ganjaran

“Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya.” Ibrani 12: 11

Bagi saya yang sudah lebih dari 35 tahun hidup di luar negeri, bahasa Indonesia tidak lagi merupakan satu bahasa yang mudah dipakai. Banyaknya kata-kata dan ejaan baru sering membuat saya bingung untuk memakainya. Tambahan pula, dengan adanya berbagai kata gaul yang sekarang banyak dipakai anak muda, memaksa saya untuk lebih berhati-hati dalam memilih kata. Salah satu kata yang sudah lama ada tetapi jarang saya pakai adalah kata ganjaran. Menurut kamus besar bahasa Indonesia, ganjaran bisa berarti hukuman tetapi bisa juga berarti hadiah. Bagaimana satu kata bisa mempunyai dua arti yang saling bertentangan? Tentunya kata ini harus diartikan menurut konteksnya.

Pada ayat di atas, Paulus menulis bahwa ganjaran tidak mendatangkan sukacita. Sudah tentu ganjaran disini bukanlah hadiah. Jika sebuah hadiah biasanya mendatangkan rasa senang, ganjaran yang berarti hukuman tentunya akan membawa rasa duka. Walaupun demikian, dalam Alkitab berbahasa Inggris kata “ganjaran” diatas ternyata muncul sebagai kata “discipline” atau “chastening” yang bisa dihubungkan dengan tindakan mengajar (pendisiplinan) agar seseorang bisa hidup benar dan menghentikan perbuatan yang tidak semestinya.

Salahkah pilihan kata “ganjaran” diatas? Saya rasa tidak. Memang, jika disiplin merupakan perasaan taat dan patuh terhadap nilai-nilai yang dipercaya merupakan tanggung jawab seseorang, pendisiplinan adalah usaha-usaha untuk menanamkan nilai ataupun pemaksaan agar orang memiliki kemampuan untuk menaati sebuah peraturan. Pendisiplinan bisa juga menjadi istilah pengganti untuk hukuman ataupun instrumen hukuman di mana hal ini bisa dilakukan pada diri sendiri ataupun pada orang lain. Jadi, kata ganjaran diatas adalah sesuatu yang diberikan Tuhan kepada umatNya agar mereka bisa memiliki kemampuan untuk menuruti firmanNya.

“Jika kamu harus menanggung ganjaran; Allah memperlakukan kamu seperti anak. Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya?” Ibrani 12: 7

Banyak orang  yang mengalami kejadian yang tidak menyenangkan karena kesalahan mereka sendiri, tetapi banyak orang Kristen  yang mengalami hal yang serupa sekalipun  bukan karena mereka melakukan apa yang salah. Jika orang yang melakukan hal yang tidak baik pantas untuk mendapat hukuman, banyak orang Kristen yang berdukacita karena apa yang terjadi dalam hidup mereka seolah menunjukkan adanya kemarahan Tuhan.

Ayat-ayat diatas menyatakan bahwa Allah Bapa memberikan ganjaran kepada umatNya dengan maksud baik. Allah memperlakukan kita sebagai anakNya dan dengan demikian ingin agar kita berhasil dalam mengarungi tantangan kehidupan. Ganjaran datang dari Tuhan kepada umatNya, bukan sebagai hukuman tetapi pendidikan.  Seperti seorang murid yang mau menerima didikan gurunya dan mau melaksanakan tugas-tugas belajar agar ia bisa lulus dan mendapatkan sebuah ijazah, demikian pula umat Kristen yang diganjar atau dididik Allah akan menerima ganjaran atau hadiah yang berupa kedamaian hidup. Bagi mereka yang sudah menerima didikan Tuhan, hidup tidak lagi berupa perjuangan seorang diri, tetapi sebuah perjuangan yang dijalani bersama Tuhan.

Pagi ini, adakah perasaan dukacita dalam hati anda karena apa yang terjadi dalam hidup anda? Mungkinkah ada perasaan bahwa Tuhan sudah meninggalkan anda? Ataukah ada perasaan bersalah dalam hati yang membuat hidup terasa hampa? Firman Tuhan berkata bahwa Tuhan mencintai semua anakNya. Tetapi ini tidak berarti bahwa hidup kita akan menjadi mudah dan selalu lancar. Tuhan bisa mengganjar umatNya untuk membuat mereka lebih dekat kepadaNya, untuk lebih bergantung kepada Dia. Sebagai anak-anak Tuhan kita harus percaya bahwa Tuhan adalah setia dan kasihNya tidaklah berkesudahan. Apa yang kita rasakan sebagai ganjaran yang tidak menyenangkan saat ini pada akhirnya akan menghasilkan ganjaran yang membawa rasa sukacita. Pujilah Tuhan yang mahasih dan mahasetia!

Apa yang mereka pikirkan?

“Manusia, yang dengan segala kegemilangannya tidak mempunyai pengertian, boleh disamakan dengan hewan yang dibinasakan.” Mazmur 49: 20

Bacaan: Mazmur 49

Toowoomba adalah  kota kecil di negara bagian Queensland, Australia, dimana saya tinggal. Toowoomba dikenal sebagai daerah pertanian dan peternakan yang cukup besar. Statistik dari tahun 2015/2016 menunjukkan bahwa Toowoomba menghasilkan $900 juta dari pertanian dan peternakan, dan sekitar 30% dari pendapatan itu dihasilkan dari peternakan hewan potong.

Di sekitar kediaman saya, dapat dijumpai beberapa padang rumput tempat pemeliharaan sapi, dan yang terdekat hanya berada dalam jarak beberapa ratus meter saja dari rumah. Karena itu, sewaktu saya berjalan-jalan seringkali saya menjumpai beberapa sapi yang sedang merumput dan ada juga yang berdiri diam sambil menonton saya berjalan. Mata mereka terlihat kosong. Apa yang ada dalam pikiran mereka? Terkadang saya berpikir alangkah membosankan jika manusia hidup seperti sapi itu. Seekor sapi memang tidak merasa jemu untuk hidup seperti itu. Selama rumput hijau ada, seekor sapi tentunya merasa puas sekalipun esok hari ia akan dikirim ke rumah pemotongan. Sapi tidak mempunyai pengertian akan apa arti hidup dan masa depan.

Jika sapi adalah hewan yang sederhana cara berpikirnya, menurut pemazmur sebagian manusia juga hidup seperti itu. Mereka yang merasa sudah mencapai apa yang bisa dinikmati atau dibanggakannya, cenderung untuk hidup dalam kesempitan pikirannya. Apakah yang mereka pikirkan dalam hidup? Bagi orang seperti itu, hidup adalah kesempatan untuk menikmati kenyamanan, kekayaan, kuasa, kejayaan, kebebasan dan semacamnya. Di antara orang Kristen pun, hanya sebagian kecil yang mempunyai dedikasi tinggi untuk mengamalkan perintah Tuhan; sebagian besar justru lebih menyukai apa yang terlihat lebih mudah dijalani dan dinikmati.

Mereka yang masih muda mungkin sibuk mengejar kesempatan yang ada, dan mereka yang tua mungkin lebih senang menikmati apa yang sudah dicapainya. Selama apa yang diinginkan bisa dicapai, hidup mereka adalah kebahagiaan yang bisa dinikmati. Manusia yang sedemikian tidak mempunyai pengertian bahwa semua itu adalah kebahagiaan yang sementara, barangkali seperti rumput hijau dalam pandangan seekor sapi. Seperti seekor hewan yang akan dibinasakan, mereka tidak sadar bahwa hidup dan kebahagiaan mereka adalah singkat saja.

Pemazmur menyatakan bahwa sebagai orang beriman kita tidak perlu merasa iri bahwa ada orang-orang yang nampaknya hidup dalam kegemilangan, sebab pada suatu saat mereka akan mati dan semua yang ada tidak akan bisa dibawa mereka (ayat 17). Sekalipun ada orang yang menganggap dirinya berbahagia, dan sekalipun orang lain menyanjungnya, orang itu tidak akan mengalami itu seterusnya (ayat 18-19). Lebih-lebih lagi, bagaimanapun besarnya kekayaan sesorang, ia tidak akan bisa memberikan tebusan kepada Allah sebagai ganti nyawanya (ayat 7).

Mereka yang mempunyai pengertian akan apa arti hidup ini dan yang taat kepada Allah tahu bahwa Allah akan membebaskan nyawanya dari cengkeraman dunia orang mati sebab Ia akan menarik mereka kearah keselamatan (ayat 15). Bahkan sesungguhnya, semua itu sudah terjadi pada setiap orang percaya karena Kristus sudah menang atas maut dengan kebangkitanNya. Dengan demikian, bagi mereka yang mempunyai pengertian yang benar, hidup adalah untuk kemuliaan Tuhan dan untuk mengikut firmanNya. Bagi mereka, pandangan mata mereka tidaklah hampa, tetapi akan selalu tertuju ke surga dimana tempat sudah disediakan bagi mereka. Hidup manusia yang tidak mempunyai pengertian boleh terasa kosong, tetapi mereka yang percaya kepada Kristus, hidup selalu diisi dengan ketaatan kepada Tuhan dan sukacita yang abadi dan kekal.

Hal hutang berhutang

“Orang kaya menguasai orang miskin, yang berhutang menjadi budak dari yang menghutangi.” Amsal 22: 7

Kemarin malam saya menonton TV Netflix yang menampilkan kuliner rakyat (jajan pasar atau street food) dari berbagai negara. Berbeda dengan acara semacamnya, acara itu menggaris-bawahi peranan manusia yang membuat/menjual makanan dan bukan makanan yang dijual mereka. Salah satu penjual makanan yang ditampilkan adalah seorang ibu yang sudah berumur 100 tahun dari Indonesia, Mbah Lindu, yang menjual nasi gudeg selama 86 tahun dan dengan penghasilannya bisa menyokong beberapa anggota keluarganya.

Melihat bagaimana para penjual makanan yang bekerja keras mencari nafkah di pasar dan di pinggir jalan itu, saya tidak bisa tidak merasa kagum atas semangat mereka, terutama kaum ibu yang karena satu dan lain hal harus menjadi tonggak penopang ekonomi keluarga mereka.

Di antara mereka ada seorang ibu yang menjual makanan di sebuah pasar di Seoul, Korea. Ia terpaksa mencari nafkah karena suaminya yang bangkrut dan terlibat dalam hutang yang besar. Hutang itu menyebabkan seisi keluarga menderita karena ancaman penagih hutang yang datang setiap hari, dan akhirnya membuat sang suami mengalami depresi. Hutang yang bisa saja menghancurkan rumah tangga jika tidak karena kerja keras sang istri.

Alkitab tidak secara tegas melarang orang untuk berhutang ataupun menghutangi. Agaknya hal hutang menghutangi adalah bagian kehidupan manusia dari mulanya. Mereka yang berhutang dapat memakai uang yang dipinjam untuk mengembangkan suatu usaha bisnis, dan mereka yang menghutangi mendapat penghasilan dari bunga yang dibayar oleh orang yang berhutang. Walaupun demikian, keadaan bisa berbeda jika orang kemudian terlibat hutang besar yang tidak bisa terbayar.

Ayat di atas menulis bahwa dalam keadaan tertentu, hutang bisa menyebabkan masalah. Mereka yang kaya dan yang menghutangi kemudian bisa menguasai orang miskin yang berhutang, sehingga mereka menjadi “budak” dari yang menghutangi. Dalam hal ini ada orang-orang yang mempunyai maksud-maksud jelek dengan menghutangi orang lain, dan begitu juga ada orang yang berhutang tanpa mempunyai iktikad untuk membayarnya.

Sebagai orang Kristen kita tentu tahu bahwa iblis adalah oknum yang berusaha agar manusia berhutang kepadanya. Dengan segala tipu daya, ia juga berusaha untuk membuat manusia melakukan hal-hal yang tidak baik dalam hal hutang menghutangi. Dalam hal ini, manusia yang jatuh dalam perangkap iblis bisa kehilangan rasa tanggung jawab kepada sesama manusia. Orang juga bisa mengabaikan hukum, akal sehat dan etika jika uang sudah menguasai pikiran mereka.

Pada pihak lain, Allah yang mengutus Yesus Kristus untuk datang ke dunia tidak bermaksud untuk membuat umat manusia berhutang kepadaNya. Ia memberikan keselamatan dengan cuma-cuma karena tahu bahwa manusia tidak dapat membayar atau membalas kasihNya. Sebagai manusia seharusnya kita bersyukur atas kasihNya dengan membaktikan diri kita yang sudah dimerdekakan dari belenggu dosa. Kita yang sudah dibebaskan dari dampak “hutang” kita kepada iblis sudah sewajarnya bersyukur kepadaNya setiap hari.

Pagi ini kita yang sudah menerima kasih Allah harus mau belajar dari firmanNya. Kita yang bisa menghutangi harus ingat bahwa Allah mempunyai maksud mulia dengan mengurbankan AnakNya, yaitu untuk membebaskan manusia dari belenggu dosa. Dengan demikian, kita juga bisa menolong orang lain untuk bisa bebas dari belenggu kemiskinan. Dalam hal ini, kita ingat bahwa memberi adalah lebih berbahagia dari menerima. Bagi kita yang terpaksa berhutang, adalah bijaksana jika kita berusaha untuk mengurangi hutang yang ada dengan apa yang bisa dilakukan. Kita harus tetap bisa percaya bahwa Tuhan menilik setiap anakNya yang berseru minta tolong kepadaNya.

“Orang yang menabur kecurangan akan menuai bencana, dan tongkat amarahnya akan habis binasa. Orang yang baik hati akan diberkati, karena ia membagi rezekinya dengan si miskin.” Amsal 22: 8 – 9

Mengasihi tanpa pamrih

“Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih. Dalam hal inilah kasih Allah dinyatakan di tengah-tengah kita, yaitu bahwa Allah telah mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dalam dunia, supaya kita hidup oleh-Nya.” 1 Yohanes 4: 8 – 9

Teringat saya akan ucapan teman yang menyatakan pendapatnya tentang bagaimana orang beragama berusaha meyakinkan orang lain bahwa apa yang diimaninya adalah satu-satunya yang benar. Menurut teman itu, orang beragama tidaklah jauh berbeda dengan seorang penjual produk, salesman, yang berusaha menjajakan barangnya dengan slogan “nomer satu”. Kecap nomer satu.

Memang ada benarnya bahwa setiap agama umumnya bersifat ekslusif, karena keselamatan hanya tersedia untuk pengikutnya. Walaupun demikian, beberapa kepercayaan mengajarkan bahwa ada banyak jalan ke surga, dan ada juga yang mengajarkan bahwa manusia dapat menemukan Tuhan dalam dirinya. Wajarlah banyak orang bertanya: manakah ajaran yang benar dan siapakah Allah yang sebenarnya?

Iman Kristen mengajarkan bahwa Allah adalah Tuhan yang mahabesar, mahakuasa dan mahasuci, yang tidak dapat dijangkau oleh manusia dengan usaha sendiri. Manusia dengan keterbatasan dan dosa mereka tidak dapat mengenali atau mendekati Tuhan, sekalipun sudah berusaha menunaikan amal ibadah mereka. Manusia tidak dapat membeli tiket ke surga. Ini adalah ajaran yang sangat berbeda dari banyak agama lain.

Hanya karena kasih Allah, manusia dapat mengenalNya. Ia yang mahasuci, yang tidak dapat didekati manusia, sudah menyatakan diriNya kepada umat manusia melalui Yesus Kristus. Yesus adalah pernyataan kasih Allah yang memungkinkan manusia untuk mengenal Dia sebagai Allah yang mahakasih. Melalui pengurbanan Yesus di kayu salib, mereka yang percaya dapat memperoleh pengampunan atas dosa-dosa mereka.

“Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita.” 1 Yohanes 4: 10

Iman Kristen adalah iman yang percaya bahwa Allah itu kasih. Karena itu, orang yang sudah mengenal Allah akan terpanggil untuk mengasihi sesamanya. Banyak orang yang nampaknya saleh dan dermawan, dan mereka mungkin terlihat sering berkurban untuk Tuhan dan sesama. Tetapi mereka mungkin berbuat baik untuk keuntungan diri sendiri, supaya pahala mereka diterima Tuhan dan mereka bisa masuk ke surga. Selain itu, banyak orang cenderung untuk mengasihi orang-orang tertentu saja. Orang-orang yang sedemikian tentu bukanlah orang yang benar-benar mengenal Tuhan.

Orang yang mengenal Allah adalah mereka yang mengenal Yesus sebagai Juruselamatnya. Mereka tahu bahwa Allah mengasihi seisi dunia dengan mengurbankan AnakNya untuk ganti dosa mereka yang percaya. Karena itu, orang yang sudah diselamatkan bisa mengasihi Tuhan dan sesamanya tanpa pamrih karena Tuhan sudah lebih dulu mengasihi.

Merdeka dalam Tuhan

“Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih.” Galatia 5: 13

Setiap tahun bangsa Indonesia mengadakan peringatan kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus. Malam sebelumnya, yaitu pada tanggal 16 Agustus, ada tradisi di tengah-tengah masyarakat yang masih dilaksanakan hingga kini yang disebut malam tirakatan. Tirakatan dilaksanakan di setiap RT atau desa. Masyarakat tua-muda berkumpul sambil membawa makanan masing-masing. Tirakatan bukanlah acara yang formal tetapi acara sosial sebagai bentuk rasa syukur atas kemerdekaan yang telah diraih oleh bangsa Indonesia. Tirakatan  biasanya ditandai dengan kehadiran tumpeng yang diberi bendera merah putih berukuran kecil diatasnya.

Kemerdekaan atau freedom adalah sesuatu yang sangat berharga di dunia. Manusia memang diciptakan Tuhan sebagai makhluk yang merdeka untuk mengatur dunia (Kejadian 1: 28). Tetapi kemerdekaan manusia bukan berarti bahwa mereka boleh berbuat semaunya. Dalam kemerdekaan manusia, manusia bergantung kepada Tuhan sebagai sumber kehidupannya. Dalam kebebasannya, manusia harus taat kepada hukum dan perintah Tuhan yang sudah menciptakannya (Kejadian 2: 16-17). Tanpa ketaatan kepada sang Pencipta, manusia akan kehilangan hubungan dengan Dia, dan kehilangan sumber kehidupannya. Kemerdekaan manusia dengan demikian  adalah tanda kehidupan dalam Tuhan, karena tanpa ketaatan kepada Tuhan manusia jatuh ke dalam belenggu dosa yang membawa kematian.

Banyak orang yang mendambakan kemerdekaan dalam hidupnya dan bersedia untuk membayar dengan harga tinggi untuk memperolehnya. Tetapi seringkali, apa yang dipandang sebagai kemerdekaan adalah kesempatan untuk melakukan apa saja yang dikehendakinya. Dengan demikian, apa yang dianggap sebagai kemerdekaan bagi seseorang ialah keadaan dimana tidak ada orang, hukum, peraturan atau etika yang menghalangi apa yang akan diperbuatnya. Sebagai akibatnya, kemerdekaan yang ada di satu tempat belum tentu sama dengan kemerdekaan yang  ada pada tempat yang lain. Apa yang bisa diterima di satu tempat, belum tentu dianggap baik di tempat lain. Sebaliknya, apa yang dipandang buruk di satu tempat mungkin bisa diterima di tempat lain.

Karena setiap bangsa, suku dan masyarakat mempunyai standar, adat, etika, dan hukum yang berbeda dengan yang lain, orang mungkin berpendapat bahwa mereka boleh melakukan apa saja selama tidak melanggar peraturan yang berlaku. Banyak orang Kristen kemudian merasa “santai” untuk melakukan hal-hal yang dianggap “biasa” dalam masyarakat setempat. Jika mereka melakukan hal-hal itu, tidak ada orang yang bakal mengerutkan kening atau melarangnya. Dengan demikian, kemerdekaan bagi mereka ialah memanfaatkan kesempatan yang ada dalam lingkungan hidup mereka. Karena itu, Tuhan seolah mempunyai hukum yang berbeda di tempat yang berlainan.

Tuhan yang Maha Esa sudah tentu memiliki kehendak yang sama untuk seluruh umatNya. Apa yang difirmankanNya tidak mungkin disesuaikan dengan keadaan setempat. Hukum Tuhan seharusnya berlaku untuk setiap manusia tanpa memandang jenis, ras, budaya atau pendidikan. FirmanNYa tidak boleh dipengaruhi oleh kehendak manusia yang ingin mempunyai kemerdekaan untuk memilih cara hidup dan kebiasaan yang sesuai dengan keadaan setempat. Hanya ada satu tempat dimana seluruh umat manusia bisa menemukan hukum yang sama, tempat itu adalah Alkitab.

Masyarakat dan negara mungkin memperbolehkan orang untuk melakukan suatu hal, tetapi jika firman Tuhan melarangnya, sebagai orang Kristen kita harus lebih taat kepada Tuhan. Masyarakat mungkin menutup mata atas apa yang tidak baik, tetapi karena kita sadar bahwa Tuhan melihat dosa apapun yang diperbuat manusia, kita tidak boleh ikut-ikutan melakukannya. Pada pihak yang lain, ada tempat-tempat tertentu di dunia dimana masyarakat dan negara melarang orang Kristen untuk melakukan apa yang baik menurut firman Tuhan. Sebagai orang Kristen kita sadar bahwa kita sudah diberi kemerdekaan untuk memilih hidup yang sesuai firmanNya. Dengan demikian, kita harus sanggup untuk berjuang setiap hari untuk menegakkan perintahNya dalam hidup kita.

“Hiduplah sebagai orang merdeka dan bukan seperti mereka yang menyalahgunakan kemerdekaan itu untuk menyelubungi kejahatan-kejahatan mereka, tetapi hiduplah sebagai hamba Allah.” 1 Petrus 2: 16

Jangan tergoda dan jangan menggoda

“Maksudku ialah: hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging. Sebab keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging karena keduanya bertentangan sehingga kamu setiap kali tidak melakukan apa yang kamu kehendaki.” Galatia 5: 16 – 17

Apakah anda penggemar Instagram? Instagram (juga disebut IG atau Insta) adalah sebuah aplikasi handphone untuk berbagi foto dan video yang memungkinkan pengguna mengambil foto, mengambil video, menerapkan filter digital, dan membagikannya secara instan ke berbagai layanan jejaring sosial. Instagram adalah salah satu fenomena media yang sekarang sangat populer di kalangan kaum muda untuk melampiaskan perasaan “narsis” yaitu keinginan untuk mengagumi diri sendiri. Kaum narsis dikatakan suka membuat foto diri sendiri pada setiap kesempatan untuk disebarkan melalui akun Instagramnya.

Selain untuk mencari popularitas, orang bisa menggunakan Instagram untuk mencari penghasilan. Mereka yang mempunyai banyak pengikut (followers), bisa menggunakan akunnya untuk mereklamekan produk tertentu. Dengan menggunakan Instagram untuk marketing orang bisa memperoleh penghasilan karena banyaknya orang yang mau melihat foto-foto yang berisi pesan-pesan komersial yang dirilis secara teratur. Publik yang melihat instagram para influencer itu tidak perlu tahu tentang latar belakang mereka. Berbeda dengan pesan-pesan yang disampaikan oleh motivator, influencer tidak perlu banyak bersuara untuk mempengaruhi orang lain. Mereka tidak perlu mempunyai pendidikan tinggi, kebijaksanaan atau pola hidup yang baik. Asalkan instagram mereka cukup menarik dan sedap dipandang, orang bisa terpengaruh oleh pesannya.

Dalam kehidupan sehari-hari, instagram atau foto instan itu sebenarnya ada sejak adanya manusia. Setiap saat manusia bisa melihat orang lain dan apa yang dikerjakan orang itu. Setiap saat orang lain bisa melihat kita dan apa yang kita kerjakan. Melalui apa yang bisa dilihat dari orang lain, orang kemudian bisa terpengaruh (influenced)  dan melakukan hal yang serupa. Melalui “instagram” yang diterbitkan orangtua dalam keluarga, anak-anak mereka bisa menjadi orang -orang yang mempunyai cara dan pandangan hidup tertentu. Demikian pula, melalui “instagram” atau perilaku kita, orang lain bisa meniru apa yang mereka lihat.

Ayat diatas memperingatkan kita agar tidak menuruti keinginan daging. Banyak orang yang mengira bahwa ini adalah soal seks. Tetapi keinginan daging bisa berupa apa saja yang bertentangan dengan keinginan Tuhan. Apa yang kita lihat dari orang lain bisa membuat kita terpikat dan menginginkan hal yang serupa. Demikian juga, apa yang dilihat orang dari diri kita bisa membuat mereka meniru kita. Mungkin itu soal kekayaan, kesuksesan, kebencian, kebiasaan dan berbagai kenikmatan yang bisa membuat orang ingin untuk mendapatkannya sekarang juga, dan dengan cara apa saja.

Pagi ini, Firman Tuhan mengingatkan kita bahwa setiap orang harus bertanggung-jawab atas apa yang diperbuatnya, baik apa yang bisa dilihat orang lain atau apa yang ditiru dari orang lain. Sebagai umat Kristen, kita adalah ciptaan yang baru didalam Tuhan. Karena itu, seharusnya orang bisa melihat apa yang baik memancar dari hidup kita. Demikian juga, sebagai orang yang sudah menerima pengampunan Tuhan, kita harus bisa memilih apa yang baik, yang bisa ditiru dari saudara-saudara seiman kita. Kita harus berhati-hati dengan “instagram” yang kita sampaikan kepada masyarakat, dan tidak mudah terpengaruh oleh “instagram” yang ada dalam mayarakat.

 

Tuhan yang tidak mereka kenal

“Sebab ketika aku berjalan-jalan di kotamu dan melihat-lihat barang-barang pujaanmu, aku menjumpai juga sebuah mezbah dengan tulisan: Kepada Allah yang tidak dikenal. Apa yang kamu sembah tanpa mengenalnya, itulah yang kuberitakan kepada kamu.” Kisah Para Rasul 17: 23

Di Australia, sekarang ini banyak digalakkan hal keragaman agama atau multi faith melalui penyelenggaraan acara keagamaan dan sosial yang diorganisir dan diikuti oleh pengikut berbagai agama. Biasanya, dalam acara ini para pemimpin-pemimpin agama mendapat kesempatan untuk berdoa menurut keyakinan masing-masing dengan satu tema. Seolah mereka bersatu dalam doa-doa yang ditujukan kepada Tuhan yang sama.

Walaupun pandangan tentang adanya satu Tuhan pada umumnya bisa dimengerti, ada juga orang-orang yang percaya kepada banyak dewa yang mengatur kehidupan manusia. Dengan demikian, dalam acara multi faith mungkin ada pertanyaan apakah manusia yang berlainan iman memang berdoa kepada Tuhan yang sama. Jadi barangkali bukan itu yang dimaksudkan dengan doa bersama kaum beragama. Mereka berdoa dengan maksud baik yang sama, tetapi kepada tuhan atau dewa yang berlainan. Mereka saling menghormati dan berharap bahwa setiap doa membawa kebaikan bersama.

Kerukunan beragama adalah penting, tetapi sebagai orang Kristen kita harus tahu bagaimana kita harus bersikap dalam bergaul dengan orang-orang yang berbeda agama. Pada waktu Paulus mengunjungi Atena, ia melihat begitu banyak patung dewa yang disembah oleh penduduk kota itu. Ia merasa terpanggil untuk memberitakan kabar keselamatan, yaitu Injil tentang Yesus dan kebangkitanNya. Walaupun demikian, ia tidak membuat penduduk kota itu marah dengan mencela dan menista agama mereka. Paulus tidak juga berkata bahwa patung-patung yang ada harus dirobohkan.

Pada pihak yang lain, Paulus tidak bermaksud menyatakan bahwa semua dewa dan patung di Athena boleh disembah. Paulus tidak menampilkan Tuhan yang baru, tetapi berkata bahwa Tuhan yang mereka sembah tanpa mengenalNya adalah Tuhan yang diberitakannya. Apa yang ia katakan adalah jawaban praktis yang tepat.

Memang orang bisa percaya atas adanya Tuhan dan beribadah menurut cara mereka sendiri. Tetapi dengan demikian mereka menyembah apa yang ada dalam pikiran mereka atau apa yang mereka ciptakan sendiri. Sebaliknya, Tuhan yang sebenarnya dan yang seharusnya mereka sembah dengan sepenuh hati adalah suatu oknum yang tidak dapat mereka kenal. Tuhan tidak dapat dikenal manusia, jika Ia tidak memperkenalkan diriNya dalam bentuk yang bisa dimengerti manusia, tetapi yang mempunyai kuasa Ilahi.

Adalah fakta bahwa Tuhan sudah turun ke dunia sebagai Yesus Kristus yang sudah mati untuk menebus dosa manusia. Dengan keilahianNya Ia kemudian bangkit dan naik ke surga. Orang di Atena tidak dapat mengerti bahwa Tuhan yang tidak kelihatan adalah justru Tuhan yang benar. Begitu juga di zaman ini, banyak orang beragama yang tidak mengenal Kristus sebagai Tuhan. Mungkin mereka hanya menganggap Dia sebagai tokoh yang istimewa.

Sebagai orang Kristen kita bisa mengerti mengapa keragaman agama itu ada. Tetapi kita tidak boleh ragu untuk menyatakan apa yang benar, bahwa Kristus adalah satu-satunya jalan keselamatan.

Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” Yohanes 14: 6