Siapakah yang anda kagumi?

“Berbahagialah orang, yang menaruh kepercayaannya pada TUHAN, yang tidak berpaling kepada orang-orang yang angkuh, atau kepada orang-orang yang telah menyimpang kepada kebohongan!” Mazmur 40: 4

Australia pada saat ini mendapat kunjungan dari seorang tamu agung. Bukan ratu, bukan presiden dan bukan pemimpin agama. Ia adalah Shah Rukh Khan dari India. Anda belum pernah mendengar nama itu? Namanya tersohor di antara penggemar layar perak. Ia adalah bintang film Bollywood nomer satu yang sudah membintangi lebih dari 90 film dan dikagumi oleh tua dan muda.

Anda mungkin tersenyum geli. Bollywood? Mengapa orang begitu tertarik untuk menyambutnya? Karena tidak kenal, anda tidak mencintainya. Tetapi orang yang senang menonton film India tentunya berpendapat bahwa ia jauh lebih masyhur dari Ario Bayu, Iqbaal Ramadhan, Brad Pitt ataupun Harrison Ford. Karena suka, orang menjadi kagum.

Kekaguman manusia adalah normal, tetapi bisa membawa persoalan. Karena kagum orang bisa kehilangan akal sehat dan kemudian jatuh cinta setengah mati. Karena dikagumi, orang juga bisa menjadi sombong setengah mati. Ini bukan saja terjadi di dunia musik, film, bisnis, politik dan teknologi, tetapi juga bisa dilihat dalam bidang keagamaan.

Banyak pemimpin agama yang dikagumi oleh pengikutnya. Entah itu karena hidupnya yang terlihat suci, karena hikmat kebijaksanaan yang terlihat dari luar, atau karena pelayanan sosial yang dilakukan mereka. Selain itu ada juga orang yang dikagumi karena pengalaman spiritual istimewa yang mereka klaim. Bagi banyak orang, mereka tidaklah berbeda dari para nabi atau rasul yang ada dalam Alkitab. Karena itu, tidaklah mengherankan jika tokoh-tokoh seperti itu menjadi seperti magnet yang mempunyai daya tarik besar. Adalah lumrah bahwa karena dikagumi banyak orang, banyak yang terlihat bangga dan sombong atas “keistimewaan” mereka.

Sungguh menyedihkan karena adanya tokoh-tokoh yang mempunyai daya pesona, banyak orang ingin menjumpai mereka. Mereka seolah menaruh kepercayaan kepada orang-orang yang angkuh, atau kepada orang-orang yang telah menyimpang kepada kebohongan. Apapun yang mereka lihat dan dengar dari tokoh-tokoh itu selalu terasa benar dan “sreg” untuk dinikmati.

Pagi ini, kita membaca dari ayat di atas bahwa manusia harus menaruh kepercayaan pada TUHAN saja. Tuhan kita adalah Tuhan yang cemburu, yang tidak mengizinkan umatNya mendewakan manusia atau benda apapun, karena semua itu adalah ciptaanNya.

Tuhan juga membenci orang-orang yang menyombongkan pengalaman rohani mereka, yang membuat diri mereka dikagumi orang lain. Orang-orang semacam itu adalah pencuri kemuliaan Tuhan karena membuat orang lain percaya kepada mereka dan bukannya kepada Tuhan. Biarlah kita sadar bahwa hanyalah kebesaran Tuhan yang patut kita kagumi, sembah dan muliakan dalam hidup kita!

Kemerdekaan bukan untuk menerjang bahaya

“Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.” Mazmur 1: 1 – 2

Kemerdekaan atau kebebasan (freedom) adalah sesuatu yang didambakan setiap manusia. Kebebasan dari apa dan dalam hal apa? Menurut presiden Amerika yang bernama Franklin D. Roosevelt ada empat macam kebebasan yang seharusnya bisa dinikmati oleh orang di seluruh dunia:

  • Kebebasan untuk menyatakan pendapat
  • Kebebasan untuk beragama
  • Kebebasan dari kebutuhan
  • Kebebasan dari ketakutan

Apa yang diusulkan oleh presiden Roosevelt pada tahun 1941 itu adalah baik jika dipandang dari hak azasi manusia, dan karena itu disetujui oleh berbagai negara. Walaupun demikian, di zaman sekarang kebebasan sedemikian sering disalah-artikan atau disalah-gunakan. Bagaimana tidak?

  • Manusia menghendaki kebebasan untuk menghasut, menista dan membenci orang lain
  • Manusia ingin bebas untuk memilih apa yang akan disembahnya
  • Manusia ingin merdeka untuk berbuat apa saja untuk memenuhi keinginannya
  • Manusia ingin merdeka dari rasa takut kepada yang berwenang atau hukum.

Bertalian dengan hal di atas, ayat-ayat dalam Mazmur 1 membagi manusia dalam dua grup: mereka yang memilih untuk tinggal dalam Tuhan (godly people) dan mereka yang mau bebas dari Tuhan (ungodly people).

Dunia mungkin memandang orang yang beriman sebagai orang yang malang, yang tidak merdeka dalam hidupnya. Mereka terlihat membosankan karena dalam hidup mereka selalu mempertimbangkan firman Tuhan. Jika firman Tuhan melarang, orang yang sedemikian tidak berusaha mencari kesempatan untuk mencari jalan pintas.

Bagi mereka yang tidak mengenal Tuhan, kebebasan untuk melakukan segala sesuatu menurut kata hati mereka adalah sesuatu yang dipandang sangat berharga. Mereka yakin bahwa setiap manusia mempunyai hak untuk menentukan masa depannya. Mereka mencemooh orang-orang yang taat kepada firman Tuhan karena bagi mereka orang-orang itu diperbudak oleh Tuhan. Bagi mereka, orang-orang beriman adalah orang-orang bodoh yang tidak menghargai kehendak bebas (free will) yang seharusnya dipakai oleh setiap manusia untuk memilih apa saja yang dikehendakinya.

Apa yang tidak disadari manusia yang ingin bebas dari Tuhan adalah kenyataan bahwa manusia bergantung sepenuhnya kepada Tuhan. Mereka tidak sadar bahwa free will bukan berarti bebas untuk berbuat dosa, free to sin. Mereka yang ingin merdeka dari Tuhan justru akan jatuh kedalam bahaya dosa dan masuk kedalam perangkap iblis yang membawa kebinasaan. Kemerdekaan manakah yang kita pilih?

“Sebab TUHAN mengenal jalan orang benar, tetapi jalan orang fasik menuju kebinasaan” Mazmur 1: 6

Jangan mendua hati

“Mendekatlah kepada Allah, dan Ia akan mendekat kepadamu. Tahirkanlah tanganmu, hai kamu orang-orang berdosa! dan sucikanlah hatimu, hai kamu yang mendua hati!” Yakobus 4: 8

Pernahkah anda melihat hewan berkepala dua? Keabnormalan seperti itu disebut bichephaly dan kadang-kadang terjadi pada ular, sapi, kambing, anjing dan kucing. Walaupun ada, jarang sekali hewan yang seperti itu dapat hidup lama. Umumnya hewan seperti itu cepat mati.

Ayat diatas menulis tentang orang yang mendua hati. Sudah tentu itu bukan orang yang mempunyai dua hati, tetapi adalah orang yang mempunyai pikiran bercabang, double-minded, menurut Alkitab terjemahan bahasa Inggris. Seperti makhluk yang berkepala dua, keadaan ini juga bukanlah normal.

Tuhan menciptakan manusia menurut peta dan teladanNya, dan karena itu Ia mengingini agar manusia tidak mendua hati atau mempunyai pikiran yang bercabang. Sebaliknya, Ia menciptakan manusia dan menghendaki mereka untuk mempercayai Dia saja. Itulah yang seharusnya. Itulah keadaan yang normal sebelum kejatuhan manusia. Apa yang normal adalah ketergantungan manusia kepada Penciptanya.

Jika kemudian Adam dan Hawa melanggar perintahNya, itu karena mereka mendua hati dan mempercayai apa yang dikatakan iblis. Manusia merasa bahwa mereka tidak lagi memerlukan Tuhan. Sejak kejatuhan Adam dan Hawa, semua manusia tidak akan hidup lama. Jika Tuhan tidak memberi pertolongan, pastilah manusia akan menuju ke arah kematian yang abadi.

Sekalipun ayat diatas memberi peringatan keras kepada orang yang mendua hati, yaitu mereka yang mengaku percaya tetapi juga masih hidup dalam dosa, ayat itu juga memberi jalan keluar. Kepada mereka yang pikirannya bercabang, ingin menaati Tuhan tetapi juga ingin mengikuti dunia, Tuhan mengingatkan agar mereka segera bertobat. Jika manusia merasa tergantung kepada Tuhan, Tuhan akan mengasihani mereka. Jika mereka mau mendekati Tuhan, Tuhan akan mau mendekati dan menolong mereka.

Mereka yang menyadari bahwa sampai saat ini hidup mereka terombang-ambing diantara Tuhan dan iblis, haruslah berusaha untuk meninggalkan hidup lamanya dan kemudian berbalik arah untuk mendekati Tuhan. Tuhan yang melihat mereka yang benar-benar ingin bertobat, akan datang mendekati dan memberikan kemampuan agar mereka dengan sepenuh hati, single-minded, bisa bertahan sebagai umatNya untuk selamanya. Bersediakah kita untuk mendekati Dia?

Hanya ada satu cara untuk menjadi bersih

“Bersihkanlah aku dari pada dosaku dengan hisop, maka aku menjadi tahir, basuhlah aku, maka aku menjadi lebih putih dari salju!” Mazmur 51: 7

Pada saat ini, hampir semua bagian dunia mengalami perubahan iklim yang luar biasa. Australia juga mengalami perubahan iklim atau climate change itu. Minggu ini, daerah yang biasanya tidak pernah mengalami hujan salju secara mengherankan bisa tertutup salju. Rumah, mobil, pohon dan tanah semuanya berubah warna menjadi putih untuk beberapa saat.

Warna putihnya salju memang menarik dan terlihat bersih memikat. Karena itu, di daerah yang mengalami hujan salju banyak orang bermain dengan salju, saling melempar bola salju, dan membuat orang-orangan dari salju. Walaupun demikian, salju yang jatuh di tanah tidak tetap bisa berwarna putih. Selang berapa lama, ketika salju mulai melunak, warnanya berubah menjadi kecoklatan karena bercampur dengan lumpur.

Ayat di atas adalah seruan Daud yang memohon pengampunan Tuhan. Daud tahu bahwa apapun yang dilakukannya tidak akan bisa membersihkan dirinya dari dosa. Perbuatan baik, amal ibadah, ataupun persembahan kurban bakaran tidak akan bisa membuat dirinya yang berdosa untuk menjadi bersih dan diterima oleh Tuhan yang mahasuci. Karena itu, Daud hanya bisa memohon agar Tuhan sendiri yang membuat dia menjadi bersih dan layak untuk diterimaNya. Hanya Tuhan yang bisa mengampuni dosanya dan menjadikannya lebih putih dari salju.

Berbeda dengan Daud, bagi kita yang sudah mendengar hal Kristus, apa yang perlu kita lakukan adalah percaya kepada Dia yang sudah mati menebus dosa kita. Darah Yesuslah yang bisa mencuci dosa kita, seperti hisop yang dipakai sebagai lambang penghapusan dosa pada zaman Daud.

Hanya ada satu hal yang sudah membuat kita lebih putih dari salju. Kita sudah di tebus dengan darah Anak Allah yang tunggal. Pengurbanan Kristus adalah sempurna sehingga kita bisa diterima oleh Allah sebagai anak-anakNya.

Masih adakah keraguan kita bahwa Allah sudah mengampuni dosa-dosa kita dan karena itu kita sudah menjadi ciptaan yang baru? Jika kita memang yakin akan pengampunanNya, maukah kita menyampaikan kabar gembira ini kepada semua orang?

What can wash away my sin?

Nothing but the blood of Jesus

What can make me whole again?

Nothing but the blood of Jesus

Oh, precious is the flow

That makes me white as snow

No other fount I know

Nothing but the blood of Jesus

Prinsip meditasi Kristen

“Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.” Filipi 4: 8

Pernahkah anda memikirkan soal pensiun? Belum? Memang bagi yang belum setengah umur, soal pensiun mungkin belum terpikir. Tetapi mereka yang mendekati usia senja, mungkin mulai memikirkan kapan dan bagaimana mereka akan pensiun.

Bayangan akan keadaan dimana hari demi hari dilewati tanpa tujuan yang pasti bisa membuat orang kurang tertarik untuk pensiun. Tambahan pula, orang yang tidak memiliki persiapan keuangan yang baik untuk pensiun sudah tentu berharap agar hari pensiun bisa ditunda.

Memang mereka yang sudah terbiasa dengan hidup yang sibuk dan produktif, pensiun adalah momok yang ditakuti. Sebagian orang yang terpaksa atau dipaksa pensiun, bisa saja mengalami stres dan cepat menurun kemampuan otaknya.

Pada pihak yang lain, jika orang selalu hidup dalam kesibukan, kelelahan tubuh dan pikiran bisa datang. Karena itu banyak orang yang kemudian berusaha untuk mencari ketenteraman dengan mempraktikkan pengosongan pikiran. Dengan bermeditasi, mereka percaya bahwa kekuatan dan kesegaran akan dapat dipulihkan kembali.

Benarkah cara bermeditasi dengan mengosongkan pikiran itu? Dalam sudut iman Kristen, pengosongan pikiran itu bukanlah hal yang baik, sebab apa yang kosong akan mudah diisi atau dipengaruhi hal yang jahat. Mungkin ini seperti raja Daud yang pada waktu petang berjalan-jalan di atas sotoh istana. Pikiran Daud yang kosong membuat ia terpikat oleh pemandangan yang kemudian membawanya jatuh ke dalam dosa perzinahan dengan perempuan cantik yang bernama Betsyeba, yang berlanjut dengan pembunuhan suaminya yang bernama Uria.

Ayat di atas adalah apa yang harus kita pegang sebagai prinsip meditasi Kristen. Meditasi Kristen bukannya mengosongkan pikiran, tetapi justru memusatkan pikiran kepada apa yang benar, apa yang mulia, apa yang adil, apa yang suci, apa yang manis, apa yang sedap didengar, apa yang disebut kebajikan dan patut dipuji. Semua itu dapat kita temukan di dalam kasih Tuhan dan firmanNya.

Hari ini, jika kita merasa resah, lelah ataupun susah, haruslah sadar bahwa kita tidak boleh membiarkan pikiran dan hati kita menjadi kosong. Usaha melarikan diri dari masalah kehidupan adalah sesuatu yang sia-sia. Sebaliknya, kita harus mengisi hidup kita dengan apa yang baik yang bersumber dari Tuhan kita. Semoga RohNya membimbing kita untuk mendapatkan apa yang benar, apa yang mulia, apa yang adil, apa yang suci.

Berjuang hari demi hari

“Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.” Matius 6: 34

Pagi ini kebetulan saya menemukan lagu “One day at a time” yang dibawakan oleh Lynda Randle di YouTube. Syairnya sungguh menarik, terutama refrainnya yang sebagian berbunyi:

Just give me the strength to do everyday

What I have to do

Yesterday’s gone, sweet Jesus

And tomorrow may never be mine

Lord, help me today

Show me the way

One day at a time

Lagu ini berisi permohonan kepada Yesus untuk memperoleh kekuatan agar bisa melewati hari demi hari tanpa memikirkan hari kemarin yang sudah lenyap, atau hari esok yang belum tentu datang.

Alangkah benarnya syair lagu itu, bahwa kita hanya membutuhkan kekuatan dari Tuhan untuk melakukan apa yang harus kita kerjakan hari ini. Memang Tuhan Yesus berkata dalam ayat di atas bahwa kita tidak perlu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.

Sekalipun demikian, adalah kenyataan bahwa orang sering memikirkan hari yang telah lalu dan hari yang akan datang. Hari yang telah lalu dengan segala kegagalan dan kekecewaannya, dan hari yang akan datang dengan segala ketidakpastian dan kekuatirannya. Oleh sebab itu, orang kemudian lupa bahwa pada hari ini ada tugas-tugas yang harus diselesaikan.

Setiap orang dikaruniai 24 jam dalam sehari. Memakai waktu yang terbatas itu dengan bijaksana adalah hal yang tidak mudah. Karena itu, jika kita sibuk memikirkan apa yang telah lalu dan apa yang mungkin datang, kita tidak akan mempunyai waktu yang cukup untuk menghadapi hari ini. Hari ini kemudian akan berlalu dan menjadi hari kemarin dengan segala penyesalannya.

Menghadapi persoalan hari ini dengan bersandar kepada Tuhan adalah bukti iman. Itu membuktikan bahwa kita percaya bahwa Tuhan bersama kita Sebaliknya, menyesali apa yang sudah terjadi pada masa lalu membuat kita jauh dari Tuhan karena seolah Tuhanlah yang membuat atau membiarkan semua itu terjadi. Pada pihak lain, menguatirkan masa depan membuat kita lemah karena seolah kuasaTuhan tidak dapat diharapkan. Biarlah kita sadar bahwa Tuhan mempunyai rencana khusus untuk setiap umatNya, dan kewajiban kita adalah untuk percaya kepadaNya.

Bagaimana mengasihi saudara seiman

“Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman.” Galatia 6: 10

Bayangkan anda sedang mengikuti acara trivia di sebuah retret gereja. Trivia yang dapat disebut kuis atau permainan pertanyaan adalah sebuah acara game dimana beberapa kelompok bertanding untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan oleh pembawa acara. Berbagai pertanyaan yang berhubungan dengan isi Alkitab mungkin muncul:

  • Siapakah yang harus kita kasihi? Jawab: Tuhan dan sesama kita.
  • Mengapa kita harus mengasihi sesama manusia? Jawab: karena Tuhan mengasihi seisi dunia.
  • Apakah Tuhan mengasihi seluruh umat manusia tanpa membeda-bedakan? Jawab: Tuhan lebih mengasihi orang yang percaya dan taat kepadaNya.

Semua pertanyaan di atas mungkin mudah untuk dijawab. Tetapi bagaimana dengan pertanyaan ini: Apakah orang Kristen patut untuk “pilih kasih” dengan lebih mengasihi sesama orang beriman? Pertanyaan ini mungkin bisa membuat peserta trivia untuk berpikir dalam-dalam.

Sebagian orang Kristen yakin bahwa mereka harus mengasihi sesama manusia tanpa pandang bulu. Bukankah Yesus berkata bahwa kita harus mengasihi mereka yang tidak kita kenal dan juga musuh kita? Lukas 10: 30 – 37 menyatakan bahwa kita harus bisa menjadi seperti orang Samaria yang bisa bermurah hati kepada siapa pun.

Memang benar bahwa kita harus bisa mengasihi semua orang dari mana pun asalnya, bagaimana pun penampilan, sikap serta sifatnya. Walaupun demikian, Alkitab dalam ayat di atas menyatakan bahwa kita harus mau berbuat baik kepada semua orang, terutama kepada kawan-kawan kita seiman.

Jelas bahwa kasih kita kepada sesama orang beriman haruslah lebih besar jika dibandingkan dengan kasih kita kepada orang lain. Mengapa demikian? Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Korintus menulis bahwa sebagai anggota tubuh Kristus kita adalah sepenanggungan.

“Karena itu jika satu anggota menderita, semua anggota turut menderita; jika satu anggota dihormati, semua anggota turut bersukacita. Kamu semua adalah tubuh Kristus dan kamu masing-masing adalah anggotanya.” 1 Korintus 12: 26 – 27

Mengasihi saudara seiman adalah kewajiban, tetapi dalam kenyataannya orang Kristen mungkin lebih sering menyatakan rasa kurang suka dan bahkan rasa benci kepada mereka yang sebenarnya seiman. Selain itu, kebanyakan orang Kristen hanya peduli atas saudara seiman yang segereja, segolongan, sedoktrin, sesuku dan senegara. Bagaimana ini bisa terjadi? Bukankah kita seharusnya dapat ikut merasakan penderitaan, kesulitan dan perjuangan yang dialami oleh saudara-saudara seiman?

“Jika ada orang merasa lemah, tidakkah aku turut merasa lemah? Jika ada orang tersandung, tidakkah hatiku hancur oleh dukacita?” 2 Korintus 11: 29

Percaya dan menurut adalah kunci kebahagiaan

Jawab Yesus: “Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia.” Yohanes 14: 23

Tahukah anda akan lagu himne Trust and Obey? Lagu yang juga dikenal dengan judul When we walk with the Lord dan yang sudah diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia dengan judul Siapa Yang Berpegang ini, diciptakan oleh John H. Sammis pada tahun 1887. John dilahirkan pada tahun 1846, di Brooklyn, New York dan meninggal pada tahun 1919 di Los Angeles, California.

Dalam bahasa Indonesia, syair lagu ini berbunyi:

Siapa yang berpegang pada sabda Tuhan dan setia mematuhinya,

hidupnya mulia dalam cah’ya baka bersekutu dengan Tuhannya.

Refrein

Percayalah dan pegang sabdaNya:

hidupmu dalam Yesus sungguh bahagia!

Siapakah yang tidak mau hidup berbahagia? Tentunya semua orang, Kristen maupun bukan, ingin untuk mempunyai hidup bahagia. Tetapi bagaimana caranya untuk mencapai kebahagiaan? Lagu di atas menyatakan bahwa orang yang percaya kepada Tuhan dan menurut perintahNya akan benar-benar berbahagia. Tidak ada jalan lain, there is no other way. Manusia harus percaya kepada Tuhan dan mau menurut perintahNya jika mau hidup berbahagia.

Ayat di atas menegaskan bahwa jika seorang mengasihi Yesus, orang itu akan menuruti firmanNya. Karena itu Allah Bapa akan mengasihi dia dan akan datang kepadanya bersama Yesus dan akan diam bersama-sama dengan orang itu. Barangsiapa percaya kepada Yesus dan menurut perintahNya akan disertai Tuhan. Tuhan selalu mendampinginya.

Sesudah membaca ayat di atas, tentunya kita tidak heran mengapa kebahagiaan itu sulit didapat. Tidak semua orang mengenal dan percaya kepada Yesus sebagai Anak Allah, dan mereka yang mengaku percaya belum tentu mau menurut perintahNya. Untuk memperoleh kebahagiaan, manusia perlu keduanya: percaya dan menurut, trust and obey. Satu saja tidak cukup. Tidak ada orang yang benar-benar percaya yang tidak mau menurut firmanNya, dan tidak ada orang yang bisa menuruti perintahNya tanpa percaya kepadaNya.

Berbeda dengan orang lain, orang yang percaya dan menurut firmanNya akan disertai oleh Tuhan sepanjang hidupnya. Tuhan yang mahakasih dan mahakuasa akan hidup bersama-sama dengan dia dalam keadaan apapun dan pada setiap saat. Tidaklah mengherankan bahwa orang yang benar-benar berbahagia adalah orang istimewa yang disebut anak-anak Allah!

“Lihatlah, betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah, dan memang kita adalah anak-anak Allah. Karena itu dunia tidak mengenal kita, sebab dunia tidak mengenal Dia.” 1 Yohanes 3: 11

Dari mana datangnya kejahatan?

“Dan karena mereka tidak merasa perlu untuk mengakui Allah, maka Allah menyerahkan mereka kepada pikiran-pikiran yang terkutuk, sehingga mereka melakukan apa yang tidak pantas: penuh dengan rupa-rupa kelaliman, kejahatan, keserakahan dan kebusukan, penuh dengan dengki, pembunuhan, perselisihan, tipu muslihat dan kefasikan.” Roma 1: 28 – 29

Dua pembunuhan masal dalam seminggu di Amerika bukanlah berita yang bisa diabaikan. Berita sedih seperti ini ingin kita hindari, tetapi rupanya sudah menjadi hal yang biasa muncul di media dari negara manapun. Mengapa bisa timbul rasa kebencian yang luar biasa yang membuat orang tega untuk mencelakai sesama manusia yang tidak mereka kenal atau bersalah terhadap mereka? Mengapa ada orang-orang yang mendapat kepuasan dengan mencelakakan orang lain?

Hal-hal ini memang patut kita renungkan, karena dunia ini kelihatannya bertambah jahat. Memang secara keseluruhan dunia ini makin sadar akan nilai-nilai kemanusiaan. Tetapi pada lain pihak, manusia di zaman ini makin terbiasa untuk merasa bahwa hidup mereka ada di tangan mereka sendiri. Tuhan jika memang ada, bukanlah Oknum yang harus disegani dan dihormati.

Manusia dimana saja memang selalu ingin untuk merdeka dalam hidup. Jika dulu orang mendambakan kemerdekaan dari kungkungan orang lain dan dari jajahan negara lain, sekarang orang yang hidup di banyak negara maju dan merdeka, dengan sengaja menginginkan kemerdekaan dari Tuhan dan hukumNya.

Dengan memikirkan adanya Tuhan, manusia mungkin merasa terhambat untuk bisa hidup sebagaimana yang mereka maui. Karena itu, banyak orang yang sengaja melupakan adanya Tuhan. Dalam banyak keluarga, orangtua tidak lagi mendidik anak-anak mereka hal takut akan Tuhan. Jika Tuhan bisa dilupakan, anak-anak mereka akan lebih bisa mencapai apa saja yang mereka cita-citakan. Benarkah begitu?

Ayat di atas menyatakan bahwa jika manusia merasa tidak perlu mengakui Allah, maka Allah tidak mau mengakui mereka sebagai umatNya. Allah tidak akan membimbing mereka yang tidak mau percaya kepadaNya. Terhadap mereka yang dengan sengaja mengabaikan Dia, Tuhan akan menolak mereka dan membiarkan mereka jatuh kedalam berbagai dosa yang membawa ke arah kehancuran hidup mereka.

Kembali ke soal kejahatan manusia yang makin marak, bagaimanakah kita harus mengambil sikap dalam situasi seperti ini? Sebagai orang Kristen kita harus tetap berani untuk meyakinkan orang lain bahwa takut akan Tuhan adalah kunci perdamaian antar umat manusia dan antara manusia dan Tuhannya. Takut akan Tuhan haruslah ditanamkan pada setiap insan sejak kecil dan dipelihara sampai akhir hayat.

“Kami tahu apa artinya takut akan Tuhan, karena itu kami berusaha meyakinkan orang” 2 Korintus 5: 12

Bersatu dalam Tuhan

“Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat.” Ibrani 18: 25

Akhir pekan ini saya mengikuti sebuah retret gereja yang diadakan di sebuah tempat camping di gunung Tamborine, Queensland. Seperti yang kita ketahui, retret (retreat)  pada umumnya diartikan sebagai gagasan untuk sementara waktu menjauhkan diri kita dari kegiatan sehari-hari.

Retret dapat berarti sebuah pengalaman mengasingkan diri bersama dengan sebuah kelompok/komunitas orang seiman. Dalam arti luas, ini bisa berupa pertemuan doa, kebaktian kebangunan rohani atau kebaktian gereja. Kegiatan semacam ini dipandang perlu untuk membawa pembaharuan atau penyegaran hidup rohani. Walaupun demikian, tidak semua orang Kristen menyadari perlunya retret. Lebih parah lagi, ada orang Kristen yang tidak sadar akan pentingnya untuk ke gereja setiap hari Minggu.

Banyak orang Kristen mengeluh bahwa di zaman ini, sangat sulit untuk mempraktikkan cara hidup yang sesuai dengan firman Tuhan. Jika di negara-negara tertentu orang Kristen tidak bebas untuk beragama, di tempat lain orang Kristen justru bisa mengalami berbagai masalah karena adanya kebebasan beragama.

Dengan kesibukan manusia dan kebebasan manusia untuk memilih kepercayaannya, datanglah kebebasan manusia untuk tidak mengamalkan imannya. Karena itu di negara yang maju, orang kurang merasakan keharusan untuk bersekutu dalam Tuhan. Dengan kata lain, kebebasan beragama adalah identik dengan kebebasan untuk tidak beragama. Dan di antara orang yang mengaku Kristen, mungkin ada yang yakin bahwa mereka tidak perlu untuk pergi ke gereja atau ke persekutuan orang seiman yang lain.

Ayat di atas ditulis oleh rasul Paulus yang mengingatkan kita untuk tidak menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah, seperti retret atau kebaktian gereja. Memang banyak orang sudah terbiasa untuk menggunakan segala kesempatan untuk mencari kegembiraan duniawi. Apalagi karena mereka sehari-harinya sudah sibuk bekerja mencari nafkah. Walaupun demikian, karena kita sadar bahwa kedatangan Tuhan bisa terjadi sewaktu-waktu, kita harus selalu berjaga-jaga dan mau saling menasihati dalam hal menumbuhkan kerohanian kita, dan semakin giat untuk melakukan apa yang baik untuk membina hubungan kita dengan Tuhan dan sesama. Dengan demikian, biarlah kita makin bersemangat dalam mengikuti persekutuan orang percaya dalam bentuk apapun.