Tuhan tidaklah jauh dari kita

“Ke mana aku dapat pergi menjauhi roh-Mu, ke mana aku dapat lari dari hadapan-Mu?” Mazmur 139: 7

Sudah lebih dua minggu polisi di Canada mencari dua anak muda yang diduga sudah menembak mati tiga orang di daerah pegunungan di British Columbia yang lebat hutannya. Tragisnya, salah satu korban adalah putra dari petinggi kepolisian Australia. Tentunya sang ayah merasa sangat frustrasi karena sekalipun ia adalah polisi yang biasa menangani kasus berat di Australia, kali ini ia harus menjadi penonton saja karena kasusnya terjadi di negara lain. Bagaimana kedua penjahat itu bisa menembus tempat-tempat pemeriksaan polisi (checkpoints) yang ada dimana-mana dan menyembunyikan diri sampai sekarang adalah sebuah tanda tanya besar untuk polisi Canada.

Mereka yang melanggar hukum biasanya melakukan kejahatan secara tersembunyi.  Jika apa yang mereka lakukan diketahui polisi mereka akan melarikan diri supaya tidak tertangkap. Dalam kenyataannya, polisi tidak selalu bisa menyelesaikan kasus kejahatan karena adanya hal-hal yang tidak dapat ditemukan, seperti bukti kejahatan, saksi kejahatan dan pelaku kejahatan itu sendiri. Selang beberapa tahun, polisi mungkin saja terpaksa menutup kasus itu karena tidak adanya kemungkinan untuk mencari jawabannya. Kasus itu kemudian menjadi cold case. Kasus sulit yang belum terselesaikan dan yang terpaksa dikesampingkan untuk sementara waktu.

Banyak kasus cold case yang akhirnya tidak terselesaikan. Orang kemudian melupakan kasus-kasus itu. Setelah bertahun-tahun, ada kemungkinan bahwa pelaku kejahatan itu sendiri sudah meninggal dunia. Mereka tidak pernah mendapat hukuman atas kejahatan yang pernah dilakukan dan dengan demikian tidak ada seorang pun yang tahu pasti siapa dan dimana pelaku kejahatan itu. Kecuali Tuhan.

Tuhan yang mahatahu tentunya bisa melihat siapa yang berbuat kejahatan. Ia juga tahu apa yang terjadi. Tuhan sering dikatakan orang sebagai Tuhan yang mengawasi manusia dari jauh. God is watching us from a distance, begitulah syair sebuah lagu yang terkenal. Memang, diantara mereka yang percaya adanya Tuhan, sebagian merasa bahwa Tuhan itu jauh dan tidak melibatkan diri dalam kehidupan manusia. Tidaklah mengherankan bahwa banyak orang tidak merasa takut jika mereka melakukan apa yang jahat. Tidaklah aneh jika ada orang Kristen yang mengabaikan Tuhan dalam hidup dan tingkah lakunya karena Tuhan itu jauh dan tidak terlihat.

Ayat di atas ditulis oleh Daud yang menyadari bahwa Tuhan tidaklah “nun jauh di sana”. Tuhan ada di mana saja dan Ia tahu segala apa yang terjadi dan kita lakukan dalam hidup kita. Daud juga menyadari bahwa Roh Tuhan menyertai dia, kemana pun ia pergi.

Seperti Daud, sebagai orang Kristen kita tentunya bisa merasakan kehadiran Tuhan dalam hidup kita. Jika tidak demikian, mungkin kita belum yakin bahwa Tuhan yang mahakasih senantiasa menyertai umatNya. Tuhan tidak saja mengikuti apa yang kita jalani dalam hidup ini, Ia juga tinggal dalam hati kita. Roh Kudus adalah Roh Allah yang mau membimbing kita dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.

Kita harus sadar bahwa Tuhan yang dekat tidaklah boleh diabaikan. Tuhan tahu apa yang kita lakukan dan Ia tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Bagi Tuhan tidaklah ada cold case. Tuhan selalu bisa melihat segala sesuatu, menyelesaikan semua perkara dan menentukan apa yang akan terjadi. Karena itu biarlah kita boleh menyerahkan hidup kita sepenuhnya kepada Dia yang dekat.

“Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku; lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!” Mazmur 139: 23 – 24

 

 

Jangan merasa terpaksa

“Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita.” 2 Korintus 9: 7

Pernahkah anda didatangi oleh orang yang meminta sumbangan? Di Australia, biasanya tiap tahun ada orang dari gereja tertentu yang berkunjung dari rumah ke rumah untuk mencari sumbangan bagi mereka yang hidup dalam kekurangan. Gereja ini memang terkenal dengan aktivitas sosialnya yang sangat menolong mereka yang tidak mempunyai rumah atau pekerjaan. Selain itu, terkadang ada juga orang yang meminta sumbangan atas nama sebuah rumah sakit atau badan riset penyakit tertentu. Mereka yang dengan senang hati memberi sumbangan biasanya adalah orang yang sadar akan hasil baik yang sudah dicapai oleh badan-badan sosial itu.

Sekalipun menyumbang badan sosial adalah sesuatu yang dipandang baik, banyak orang yang kurang tertarik untuk melakukannya. Bagi mereka, menyumbang adalah kehilangan uang dan itu tidak memberi manfaat apa-apa. Untuk mendorong agar orang mau menyumbang, badan-badan sosial bisa meminta izin khusus pemerintah sehingga para penyumbang bisa memperoleh potongan pajak pendapatan. Dengan demikian, para penyumbang tidak terlalu merasa kehilangan, tetapi sebaliknya memperoleh keuntungan walaupun tidak sebesar jumlah yang disumbangkan.

Berbagai organisasi lain yang bukan badan sosial, juga sering mencari sumbangan untuk maksud-maksud tertentu. Mereka mungkin membuat undian berhadiah atau mengadakan acara-acara tertentu yang dikarciskan. Dengan demikian, orang memberikan sumbangan dengan mengharapkan balasan. Selain itu, ada organisasi-organisasi yang mengharuskan pemakai jasa mereka untuk membayar uang iuran. Orang dengan demikian terpaksa membayar karena itu sudah menjadi keharusan.

Ayat diatas sering dibacakan di gereja ketika kantung persembahan akan diedarkan. Ayat itu menganjurkan agar setiap jemaat memberikan menurut kerelaan hatinya, tidak dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Tuhan mengasihi orang yang memberi dengan sukacita. Ayat ini agaknya menyuruh jemaat untuk memberikan persembahan sebagai pilihan dan dengan sukacita, bukan karena adanya keharusan atau keuntungan.

Bagaimana kita bisa memberi persembahan kepada Tuhan sebagai pilihan dan dengan sukacita? Kita memilih untuk memberi persembahan karena kita ingin menyatakan kasih kita kepadaNya. Kita tahu bahwa Tuhan sudah membuat berbagai kebaikan buat umatNya. Tuhan  sudah lebih dulu mengurbankan AnakNya untuk menebus dosa kita. Tuhan juga sudah membimbing kita tiap hari dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan. Dengan demikian, kita tidak perlu mengharapkan balasan dari Tuhan. Kita percaya bahwa Tuhan akan memakainya untuk berbagai maksud yang baik sesuai dengan rencanaNya. Kita memilih untuk memberi, bukannya karena terpaksa dan bukan juga karena kita ingin mencari keuntungan yang lebih besar.

Tuhan tidak membutuhkan persembahan manusia karena sebagai Tuhan yang mahakaya, Ia jugalah yang sudah memberikan berkatNya kepada umat manusia. Tuhan tidak perlu menawarkan suatu hadiah insentif agar manusia mau mempersembahkan sesuatu kepadaNya. Tuhan tidak juga memaksa umatNya untuk membayar “upeti” karena kita sudah menerima kasihNya. Karena itu, semua persembahan kita haruslah dilandaskan pada rasa terima kasih atas segala yang sudah diberikanNya. Dalam hal ini, persembahan yang paling layak kita berikan adalah hidup kita karena Yesus sudah mati untuk menebusnya.

“Sebab itu jadilah penurut-penurut Allah, seperti anak-anak yang kekasih dan hiduplah di dalam kasih, sebagaimana Kristus Yesus juga telah mengasihi kamu dan telah menyerahkan diri-Nya untuk kita sebagai persembahan dan korban yang harum bagi Allah.” Efesus 5: 1 – 2

Apakah anda menanti-nantikan kedatangan Yesus untuk kedua kalinya?

“Dan sama seperti manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi, demikian pula Kristus hanya satu kali saja mengorbankan diri-Nya untuk menanggung dosa banyak orang. Sesudah itu Ia akan menyatakan diri-Nya sekali lagi tanpa menanggung dosa untuk menganugerahkan keselamatan kepada mereka, yang menantikan Dia.” Ibrani 9: 27 – 28

Pernahkah anda mendengar nama Hachikō? Hachikō adalah seekor anjing jantan jenis Akita yang dilahirkan pada tahun 1923 di Prefektur Akita, Jepang. Pada tahun 1924, professor Hidesaburō Ueno mengambilnya sebagai binatang peliharaan untuk hidup bersamanya di Shibuya, Tokyo. Setiap hari kerja, Profesor Ueno  naik kereta api dari stasiun Shibuya untuk ke universitas Tokyo dan jika ia pulang, Hachikō  sudah menunggunya di depan stasiun. Kebiasaan ini berlanjut sampai 21 Mei 1925, ketika sang majikan tidak pulang ke rumah. Pada hari itu Profesor Ueno meninggal dunia karena perdarahan otak. Setelah majikannya meninggal, Hachikō terus menunggu majikannya yang tidak kunjung pulang di tempat yang sama selama 9 tahun, 9 bulan dan 15 hari.

Patung Hachikō di depan Stasiun Shibuya telah menjadi salah satu marka tanah di Shibuya. Hachikō dianggap sebagai contoh anjing yang sangat setia. Tetapi, apakah Hachikō sebenarnya mengerti arti  kesetiaan? Saya kurang tahu. Yang jelas, Hachikō tidak mengerti bahwa majikannya sudah meninggal dunia. Ia menunggu karena berharap bahwa Profesor Ueno akan pulang ke rumah. Ia mencintai majikannya dan sudah terbiasa untuk menunggu dia muncul dari stasiun. Bagi Hachikō tidak ada tugas lain yang lebih penting dari menanti-nantikan kedatangan sang majikan. Suatu kesetiaan dan pengharapan yang mengesankan tetapi tidak ada gunanya. Sampai Hachikō mati, sang majikan tidak pernah muncul kembali.

Bagi kita manusia, pekerjaan menunggu seringkali adalah sesuatu yang membosankan. Apalagi jika kita harus menantikan sesuatu yang belum pasti terjadi, atau belum diketahui kapan akan terjadi. Bagi kita, mempunyai kesetiaan seperti Hachikō mungkin diartikan sebagai kesetiaan yang buta, tanpa makna. Tentunya hanya orang bodoh yang mau menantikan sesuatu yang pasti tidak akan terjadi.

Bagaimana pula dengan menantikan hal kedatangan Kristus untuk kedua kali? Banyak orang Kristen yang menganggap ini sebagai sesuatu yang tidak bisa diterka kapan akan terjadi. Bagaimana Kristus akan muncul lagi juga sulit dibayangkan. Malahan ada yang percaya bahwa semua itu adalah kiasan saja. Karena itu, ada orang Kristen yang sama sekali tidak mau memikirkan pentingnya hal ini. Hidup ini penuh dengan tugas dan kegiatan; menunggu sesuatu yang tidak pasti bukanlah sesuatu yang perlu dipikirkan sekarang, begitu mungkin ujar mereka. Sebaliknya, ada orang Kristen yang seolah selalu menantikan kedatangan Kristus. Kristus bisa muncul sewaktu-waktu dan karena itu mereka selalu sibuk mencari tanda-tanda kedatanganNya. Bagi orang-orang seperti ini, hidup kekristenan adalah seperti hidup Hachikō sepeninggal majikannya. Menanti-nantikan kedatangan Kristus yang kedua kali adalah satu-satunya tugas yang utama.

Ayat di atas menyatakan bahwa  Kristus hanya satu kali saja mengorbankan diriNya untuk menanggung dosa banyak orang. Sesudah itu Ia akan menyatakan diriNya sekali lagi untuk menganugerahkan keselamatan kepada mereka, yang menantikan Dia. Majikan kita, tuan kita, Tuhan kita, akan datang lagi guna memberikan kita hadiah keselamatan kekal yang sudah dijanjikanNya. Ini adalah saat yang istimewa yang seharusnya sudah dinanti-nantikan oleh mereka yang benar-benar percaya dan setia kepada Tuhan. Bukti kesetiaan kita adalah keinginan untuk dengan sungguh-sungguh (eagerly) menantikan kedatangan Tuhan Yesus. Mereka yang tidak tertarik untuk menantikan Dia, mungkin mempunyai prioritas lain dalam hidupnya.

Menantikan kedatangan Kristus bukan hanya menunggu, membayangkan dan mengharapkan Kristus untuk datang dengan kemuliaanNya. Menantikan kedatanganNya juga bukan berarti hanya mengharap-harapkan “hadiah” kemuliaan yang akan diberikan kepada umatNya yang setia. Menantikan kedatangan Kristus berarti percaya dengan sungguh-sungguh bahwa Kristus adalah Raja di atas segala raja. Menantikan Dia yang kita kasihi juga menuntut agar kita membagikan kasih kita kepada orang lain. Karena itu, sebelum Ia datang lagi, kita harus bekerja dengan giat untuk memasyhurkan namaNya di antara orang-orang yang belum mengenal Dia. Menunggu sang Raja, kita juga harus mempersiapkan diri dengan menata hidup kita supaya kelihatan tidak bercacat di hadapan Dia.  Menunggu berarti hidup sesuai dengan FirmanNya dan siap untuk menyambutNya kapan saja.

“Turutilah perintah ini, dengan tidak bercacat dan tidak bercela, hingga pada saat Tuhan kita Yesus Kristus menyatakan diri-Nya. 1 Timotius 6: 14

Tuhan tidak membuat kita berdosa

“Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia.” 1 Yohanes 2: 16

Pada saat ini polisi di Canada sedang sibuk mencari dua orang pemuda yang diduga sudah membunuh tiga orang di daerah terpencil. Kedua pemuda ini dilaporkan sebagai orang yang berbahaya karena selain membawa senjata api, mereka mempunyai latar belakang yang tidak baik. Mengapa kedua pemuda itu menembak ketiga orang yang tidak mempunyai hubungan dengan mereka? Tidak ada seorang pun yang bisa menjawabnya saat ini, selain menduga bahwa mereka menjadi orang buronan karena keinginan mereka sendiri. Mereka mungkin memperoleh kepuasan tersendiri dengan melakukan kejahatan.

Memang sering orang melakukan apa yang jahat, tetapi menyalahkan orang lain, lingkungan atau keadaan. Jarang orang mau mengaku jika berbuat salah, bahwa itu karena pilihan sendiri. Lebih parah lagi, ada orang yang seolah menyalahkan Tuhan jika mereka jatuh kedalam kesulitan. Tuhan yang berkuasa seharusnya bisa menghindarkan mereka dari kesulitan hidup, begitu pikir mereka. Jika Tuhan membiarkan adanya kesulitan hidup, godaan dan hal-hal yang jahat, tentunya manusia tidak dapat sepenuhnya dituntut untuk bertanggung-jawab, demikianlah pendapat sebagian orang. Pada pihak yang lain,  ada yang percaya bahwa apa yang jahat pun dibuat oleh Tuhan untuk menggenapi rencanaNya, tetapi manusialah yang harus tetap bertanggung-jawab untuk kejahatan mereka.

Ayat di atas menjelaskan bahwa semua yang jahat dan ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia. Tuhan bukanlah Oknum Ilahi yang membuat manusia jatuh kedalam dosa. Sekalipun Tuhan mempunyai rencana-rencana tertentu, Ia tidak perlu memaksa manusia untuk melakukan hal-hal yang tidak disukaiNya.

Tuhan adalah Tuhan yang mahakasih dan mahasuci, dengan demikian Ia bukanlah sumber kekejian dan dosa. Allah adalah terang dan di dalam Dia sama sekali tidak ada kegelapan (1 Yohanes 1: 5). Manusialah yang memilih jalan hidup mereka sendiri, dan karena itu harus bertanggung-jawab atas segala dosa yang diperbuatnya. Manusia cenderung melakukan apa yang jahat karena mereka hidup di dunia yang sudah jatuh dalam dosa.

Memang dalam kenyataannya, banyak orang ingin bebas untuk melakukan apa saja yang diingininya. Jika kemudian mereka diminta untuk mempertanggung-jawabkan tingkah laku dan cara hidup mereka, segala alasan akan mereka kemukakan agar apa yang sudah diperbuat bisa diterima sebagai sesuatu yang lumrah, yang bisa terjadi pada semua orang.

Sebagai manusia yang lemah, kita pun sering melakukan hal yang sama, melupakan apa yang buruk dan menganggap semua itu bisa diampuni Tuhan. Kita mungkin melatih diri  untuk menjadi kebal atas apa yang biasa dilakukan dalam masyarakat, dan tidak mudah merasa bersalah (guilty) akan apa yang jelas-jelas melanggar perintah Tuhan. Jika semua orang melakukannya, tentunya itu juga OK untuk kita.

Firman Tuhan berkata bahwa apa yang jahat bukanlah berasal dari Tuhan. Tuhan justru membenci apa yang jahat, apa yang kotor, dan apa yang culas. Karena itu, Ia bukanlah penyebab timbulnya masalah dalam hidup kita. Masalah yang kita hadapi seringkali adalah karena kita kehilangan kemampuan untuk membedakan apa yang baik dari apa yang buruk – karena kita hidup jauh dari Tuhan. Sebaliknya, jika kita hidup di dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang, darah Yesus bisa memberi kita kesempatan untuk menjalani hidup baru.

“Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” 1 Yohanes 1: 9

Antikristus di zaman ini

“Siapakah pendusta itu? Bukankah dia yang menyangkal bahwa Yesus adalah Kristus? Dia itu adalah antikristus, yaitu dia yang menyangkal baik Bapa maupun Anak.” 1 Yohanes 2: 22

Kata antikristus atau antichrist sering dipakai untuk menyebutkan suatu sosok atau oknum yang menjadi musuh besar Kristus pada akhir zaman. Oknum ini dan anak buahnya akan menyerang orang-orang percaya dengan tujuan untuk menjadi penguasa dunia. Siapakah yang akan menjadi tokoh antikristus ini? Di sepanjang sejarah, orang berusaha menerka-nerka dan selama ini berbagai ramalan sudah terbukti salah.

Orang memang mudah terpaku akan sosok antikristus ini. Bahkan di berbagai gereja, topik antikristus ini sering dibahas dan dijadikan bahan penarik jemaat. Mirip ramalan Jayabaya dan Nostradamus, banyak orang berusaha membuat ramalan tentang akhir zaman dan antikristus, biasanya dengan menafsirkan kejadian-kejadian yang muncul, yang dipandang luar biasa.

Ayat di atas, yang ditulis oleh rasul Yohanes juga menyebutkan hal antikristus. Tetapi ia bukannya meramalkan siapa yang akan datang sebagai musuh Kristus di masa mendatang. Rasul Yohanes menyebutkan adanya antikristus yang ada di sekitarnya. Antikristus adalah orang-orang yang tidak percaya kepada Tuhan, yang menyangkal baik Allah Bapa maupun Anak, yang tidak mengakui Yesus sebagai Kristus atau Mesias.

Bagi kita umat Kristen, tentu saja kita mengenal dan bahkan mengakui bahwa Yesus adalah Mesias dan Anak Allah. Jika ada antikristus di sekitar kita, itu tentunya orang-orang yang belum mengenal Allah Bapa dan PutraNya, begitu tentunya pendapat kita. Tetapi, rasul Yohanes menyatakan bahwa barangsiapa mengenal dan mengasihi Yesus, ia tentu menjalankan firmanNya. Sebaliknya, antikristus adalah pendusta karena apa yang dikatakan berbeda dengan apa yang dilakukan.

“Barangsiapa berkata: Aku mengenal Dia, tetapi ia tidak menuruti perintah-Nya, ia adalah seorang pendusta dan di dalamnya tidak ada kebenaran.” 1 Yohanes 2: 4

Pada hari Minggu ini, firman Tuhan mengingatkan kita bahwa jika kita mengaku sebagai umat percaya dan secara rutin pergi ke gereja, tetapi hidup dan tingkah laku sehari-hari kita tidak mencerminkan apa yang di firmankan Tuhan, semua itu berarti kebohongan saja. Menjadi orang Kristen pada hari Minggu tetapi hidup seperti bukan orang Kristen di luar gereja adalah suatu kepalsuan yang menjadi ciri antikristus.

Benarkah kita percaya kepada Yesus dan mengasihiNya? Jika benar, tentunya kita akan memegang perintahNya, setiap hari dan setiap saat, dimana saja dan kapan saja. Hanya dengan menjadi orang Kristen yang tulus, kita akan menerima berkat dan penyertaan Tuhan.

“Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku. Dan barangsiapa mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku dan Akupun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya.” Yohanes 14: 21

Bimbinglah aku, Tuhan!

“Dengan segenap hatiku aku mencari Engkau, janganlah biarkan aku menyimpang dari perintah-perintah-Mu.” Mazmur 119: 10

Bacaan: Mazmur 119

Bagi mereka yang tidak mengenal Tuhan, konsep ketuhanan adalah sesuatu yang tidak masuk di akal atau tidak ada gunanya. Bagi mereka seluruh alam semesta dan semua benda, flora, fauna dan manusia mempunyai fungsi dan kurun hidup yang tertentu, tetapi semua itu ada dan muncul dengan sendirinya tanpa memerlukan adanya Tuhan.

Memang tidak mudah bagi manusia untuk menyadari adanya Tuhan, dan bagi mereka yang percaya sekalipun, tidaklah mudah untuk mengerti apa yang dikehendakiNya. Oleh sebab itu, orang yang kacau hidupnya, mungkin membayangkan bahwa ia akan lebih mudah untuk taat jika Tuhan membuatnya tidak dapat menyimpang dari hukumNya.

Orang Kristen percaya bahwa Tuhan ada dan memegang kemudi kehidupan seisi alam semesta. Tetapi, Ia memberikan kesempatan, mandat dan kemampuan kepada manusia untuk memilih untuk menjalankan perintah dan hukumNya. Manusia harus mempertanggungjawabkan segala sesuatu yang dilakukannya dalam keadaan apapun.

Penulis Mazmur menyadari bahwa ia tidak dapat mempersalahkan Tuhan atau keadaan jika ia gagal untuk melaksanakan perintah-perintahNya. Tuhan sudah memberikan segala perintah, ketetapan dan hukumNya, karena itu ia tidak dapat menghindar dari kewajiban untuk berusaha dengan sepenuh hati untuk melaksanakan semuanya. Walaupun demikian, ia juga tahu bahwa sebagai manusia ia penuh kelemahan dan tidak akan sanggup untuk menaati perintah Tuhan.

Seperti pemazmur, kita seharusnya sadar bahwa menaati hukum Tuhan adalah keharusan setiap orang percaya dalam keadaan apapun. Ini tidaklah mudah karena dengan kekuatan sendiri kita tidak akan mampu untuk menjadi orang-orang yang taat. Dengan demikian, kita hanya bisa berharap bahwa dengan kasihNya, Tuhan tidak akan membiarkan kita menyimpang dari perintah-perintahNya. Seperti pemazmur, apa yang kita perlukan adalah kemauan untuk selalu mencari bimbingan Tuhan sehingga kita mempunyai kerinduan, dorongan dan kekuatan untuk menjadi umatNya yang patuh dan taat.

“Ajarkanlah kepadaku kebijaksanaan dan pengetahuan yang baik, sebab aku percaya kepada perintah-perintah-Mu.” Mazmur 119: 66

Tuhan adalah Pencipta dan Pemilik segala sesuatu

“Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi.” Kejadian 1: 1

Di zaman ini hak cipta adalah sesuatu yang dipandang penting. Jika dulu orang dengan mudah membuat copy sebuah buku atau CD dan kemudian menjualnya sebagai “barang bajakan”, sekarang hal semacam itu dianggap sebagai tindakan yang melawan hukum. Mereka yang membuat hasil karya asli baik berupa benda, cara ataupun ide bisa mendaftarkan ciptaan mereka supaya tidak bisa ditiru atau dicuri. Para pencipta itu tentunya ingin agar semua orang menghargai hak cipta mereka dan tidak mengurangi penghargaan masyarakat atas jerih payah mereka.

Ayat diatas menunjukkan bahwa jauh sebelum ada makhluk, benda atau tumbuhan apapun di dunia, Tuhan sudah menciptakan langit dan bumi. Tuhan mencipta segala sesuatu, termasuk surga, dengan tanpa memakai bahan dan tanpa bantuan siapapun. Tuhan menciptakan sesuatu dari apa yang tidak ada. Ex nihilo. Karena itu Tuhan adalah oknum yang mencipta dan memiliki hak cipta atas segala sesuatu di alam semesta. Tidak ada oknum lain atau manusia yang bisa mengklaim apapun sebagai hak miliknya dengan sepenuhnya.

Memang banyak manusia yang dengan bangga mengaku sebagai pencipta sesuatu. Selain itu ada juga orang yang mengklaim sebagai pemilik barang, tempat, flora/ fauna, dan bahkan sesama manusia. Walaupun demikian, Tuhan yang menciptakan alam semesta dengan segala isinya, sudah mendaftarkan semua ciptaanNya dalam Alkitab. Sebelum manusia ada Tuhan sudah menciptakan semua yang kemudian digunakan oleh manusia untuk membuat apa yang diperlukannya.

Manusia dengan demikian bukanlah pencipta, tetapi pengguna. Manusia bukanlah pemilik, tetapi peminjam. Manusia tidak dapat menciptakan sesuatu ex nihilo. Manusia tidak juga memiliki apapun, seperti Ayub yang berkata bahwa dengan lahir telanjang ia keluar dari kandungan ibunya, dengan telanjang juga ia akan kembali (Ayub 1: 21).

Jika segala sesuatu diciptakan dan dimiliki oleh Tuhan, adakah yang patut kita banggakan? Jika kita menggunakan dan meminjam apa yang dimiliki Tuhan, pantaskah kita menyia-nyiakan hidup kita? Dan jika kita sudah menerima segala berkatNya, tidakkah kita patut hidup dengan bersyukur kepadaNya? Baik hidup atau mati manusia adalah milik Tuhan. Dengan demikian, Tuhan yang menciptakan manusia adalah Tuhan yang memberi hidup yang seharusnya dipakai untuk memuliakan Tuhan. Dan jika kita mati, sebagai umatNya kita juga harus merasa beruntung karena kita akan bisa hidup di surga bersama dengan Dia.

“Sebab jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, dan jika kita mati, kita mati untuk Tuhan. Jadi baik hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan.” Roma 14: 8

Jangan lupakan Bapa yang di surga

“Dan Aku akan menjadi Bapamu, dan kamu akan menjadi anak-anak-Ku laki-laki dan anak-anak-Ku perempuan demikianlah firman Tuhan, Yang Mahakuasa.” 2 Korintus 6: 18

Pagi ini saya membaca ulasan tentang buku karangan John Marsden, seorang pendidik anak terkenal dan penulis buku yang pernah menjadi pendiri dan kepala dari dua sekolah di Australia. Dalam bukunya yang terbaru itu, John menguraikan masalah orangtua  zaman sekarang yang kurang bisa mendidik anak-anak mereka. Masalah ini sudah sangat berat dan menyebabkan epidemi penyakit kejiwaan di antara anak-anak. Selama ini, masalah ini sering diabaikan orang karena biasanya orang tidak mau mengkritik para orangtua dengan cara pendidikan masing-masing.

John Marsden menguraikan beberapa jenis sikap orangtua yang keliru dan penyebabnya:

  1. “Anakku adalah pahlawanku”: Orangtua yang memanjakan dan tidak peduli akan apa yang dilakukan anak.
  2. “Anakku adalah luar biasa”: Orangtua narsis yang merasa gagal dalam hidup mereka sendiri.
  3. “Aku percaya kebebasan anak”: Mereka yang tidak mau mengambil keputusan berat untuk mendisiplin anak.
  4. “Ia adalah anakku dan harus menurut apa saja yang aku katakan”: Orangtua yang sangat mengontrol anak.
  5. “Aku terlalu sibuk dalam hidupku”: Orangtua yang sering absen dari keluarga.
  6. “Aku dan anakku adalah teman baik”: Mereka yang ingin menjadi teman tetapi tidak mau menjadi orangtua.

Sebagai orang Kristen, kita mungkin setuju dengan pengamatan John Marsden di atas. Barangkali, item nomer 1, 2, 4 dan 5  lebih sering terjadi di antara keluarga di negara-negara Timur, tetapi dengan adanya pengaruh Barat, item 3 dan 6 juga mulai muncul.

Sebagai orang Kristen seharusnya kita tahu bahwa setiap orang percaya mempunyai orangtua di bumi, tetapi  juga orangtua di surga. Karena pengurbanan Kristus, setiap orang Kristen sudah diangkat menjadi anak Tuhan. Dalam hal ini, setiap orang percaya tentunya sadar bahwa Tuhan adalah Bapa yang mahakasih dan mahabijaksana. Dengan demikian, setiap orang percaya harus mau belajar dari orangtua mereka yang di surga, yaitu Tuhan, agar bisa membina hubungan yang baik dengan orangtua dan anak mereka yang di bumi.

Mereka yang tidak mengenal Tuhan sebagai Bapa tentunya akan mengalami kesulitan untuk mengerti apa yang harus dilakukan di bumi, baik sebagai orangtua maupun anak. Alkitab adalah buku pedoman bagi setiap orang percaya, bagaimana mereka bisa mengasihi sesama, mendidik mereka yang lebih muda dan menghormati orang yang lebih tua. Sayang bahwa banyak orang Kristen jarang membaca Alkitab dan mempelajari firmanNya. Mereka tidak dapat membayangkan Tuhan yang mahabesar tetapi juga yang mahakasih. Tuhan yang mahasuci tetapi juga yang mahasabar. Tuhan yang tidak dapat dipermainkan, tetapi juga yang penyayang. Tuhan yang ingin menyelamatkan setiap manusia, tetapi tidak memaksakan kehendakNya. Tidaklah mengherankan bahwa dalam keluarga Kristen pun, berbagai masalah bisa terjadi dalam hubungan antara orangtua dan anak.

Pagi ini, kita diingatkan bahwa ada berbagai teori pendidikan yang bisa kita pelajari untuk membina keluarga. Selain itu, ada begitu banyak motivator dan pendidik yang bisa memberikan pengarahan kepada orangtua  maupun anak. Tetapi, semua itu akan menjadi kesia-siaan jika kita tidak mau mempelajari firman Tuhan. Mempelajari fiman Tuhan dan melaksanakannya dalam hidup sehari-hari adalah kunci kesuksesan dalam pendidikan anak muda. Mereka yang sadar akan hal ini akan memperoleh kebijaksanaan untuk memilih apa yang baik dan menghindari apa yang buruk dalam kehidupan keluarga.

” TUHAN senang kepada orang-orang yang takut akan Dia, kepada orang-orang yang berharap akan kasih setia-Nya.” Mazmur 147: 11

Ketamakan adalah kunci bencana

Kata-Nya lagi kepada mereka: “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu.” Lukas 12: 15

Beberapa hari yang lalu saya menerima sebuah SMS yang berisi sebuah kabar gembira. Berita berbahasa Inggris itu itu berbunyi: “Nomer HP anda sudah memenangkan 3 juta poundsterling, untuk mengklaim silahkan kontak alamat web ini…”. Tentu anda tahu bahwa semua SMS semacam ini hanyalah tipuan saja. Di Indonesia banyak juga hal yang serupa, walaupun hadiahnya mungkin tidak sebesar yang dijanjikan kepada saya. Kabar gembira seperti itu setidaknya bisa membuat kita tertawa geli, karena kebohongan yang terang-terangan terlihat. Walaupun demikian, sebagian orang menanggapi kabar semacam itu dengan serius, dan karena itu mereka sering terjebak dalam hal-hal yang menimbulkan banyak masalah.

Di Australia, kasus penipuan melalui media elektronik sangat sering terjadi. Tidak semua penipuan berisi kabar gembira yang menjanjikan hadiah uang; sebagian malahan berisi ancaman agar orang membayar sejumlah uang karena mereka seolah terlibat dalam pelanggaran hukum. Dengan kabar buruk ini, orang yang merasa takut kemudian membayar sejumlah uang. Tahun lalu saja, orang membayar sekitar 3 juta dolar karena tertipu oleh kabar buruk palsu yang seolah berasal dari kantor pajak. Pada tahun itu juga, hampir 500 juta dolar diperkirakan lenyap akibat semua jenis penipuan eletronik di Australia. Gara-gara uang manusia menjadi tamak dan melakukan kejahatan, gara-gara uang juga orang bisa tertipu dan dirugikan.

Uang memang bisa membawa kebahagiaan, tetapi juga penderitaan. Banyak orang berpendapat bahwa jika ada uang, kebahagiaan akan mudah diperoleh. Bagi sebagian orang, uang mungkin identik dengan berkat dan kasih Tuhan. Sebaliknya, banyak orang yang merasa bahwa penderitaan hidup disebabkan oleh tidak adanya uang atau karena adanya uang yang harus dikeluarkan. Bagi mereka, kehilangan uang mungkin berarti kehilangan berkat dan kasih Tuhan. Bukankah Tuhan yang mahakaya dan mahakasih mengerti bahwa manusia memerlukan uang untuk hidup di dunia dan senang jika mempunyai banyak uang?

Menurut dunia, uang memang kunci kehidupan. Menurut dunia kebahagiaan dan penderitaan bisa diukur dengan uang yang masuk atau uang yang keluar.  Tetapi firman Tuhan di atas berkata bahwa hidup manusia tidak bergantung pada kekayaannya; sebab sekalipun seorang berlimpah-limpah hartanya, kebahagiaan belum tentu datang. Hal yang sebaliknya justru sering terjadi: karena harta yang berlimpah-limpah seorang bisa kehilangan Tuhannya dan mengalami kehampaan hidup. Walaupun demikian, tidak dapat dipungkiri bahwa mereka yang hidup dalam kekurangan bisa merasakan bahwa hidup ini sangat berat dan Tuhan itu tampak jauh.

Dengan demikian, manakah yang lebih baik: menjadi orang kaya atau orang miskin? Jika kemakmuran bisa membuat orang jauh dari Tuhan, kemiskinan juga bisa mempunyai akibat yang serupa. Menurut ayat di atas, apa yang penting bagi kita adalah untuk menghindari ketamakan. Ketamakan bukanlah monopoli orang yang kaya saja: mereka yang kaya bisa menjadi tamak karena kecintaan kepada harta, tetapi mereka yang berkekurangan bisa menjadi tamak karena kerinduan untuk memperoleh harta.

Pagi ini kita diingatkan bahwa ketamakan membuat orang lupa bahwa hidupnya hanya bergantung kepada Tuhan. Ini adalah bencana. Dengan mengejar kekayaan orang bisa jatuh kedalam berbagai pencobaan dan karena cinta akan uang orang bisa melakukan berbagai kejahatan (1 Timotius 6: 9 – 10). Mereka yang siang malam memikirkan harta, pada akhirnya bisa mendewakan harta dan kehilangan Tuhan. Karena itu, seperti Paulus kita harus mau melatih diri agar bisa merasa cukup dalam setiap keadaan, baik itu kelimpahan ataupun kekurangan.

“Kukatakan ini bukanlah karena kekurangan, sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan. Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan. Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” Filipi 4: 11 – 13

Dari mana datangnya percaya diri?

“Hai anakku, janganlah pertimbangan dan kebijaksanaan itu menjauh dari matamu, peliharalah itu, maka itu akan menjadi kehidupan bagi jiwamu, dan perhiasan bagi lehermu. Maka engkau akan berjalan di jalanmu dengan aman, dan kakimu tidak akan terantuk. Amsal 3: 21 – 23

Sebagai seorang dosen universitas, saya sudah menjumpai berbagai jenis murid. Ada yang pandai dan ada yang kurang pandai, ada yang rajin dan ada  juga yang cenderung malas. Walaupun demikian, saya merasa bangga dan berbahagia pada saat mereka di wisuda; karena seperti seekor burung yang siap untuk terbang, mereka semua siap untuk terjun bekerja dalam masyarakat. Apa yang mereka peroleh di universitas memang adalah bekal yang bisa mereka gunakan untuk menempuh hari-hari mendatang, sekalipun masa depan tentunya masih merupakan tanda tanya.

Kesuksesan seseorang dalam hidup memang dipengaruhi oleh apa yang sudah pernah dipelajarinya. Dalam proses pendidikan baik formal atau tidak formal, orang menerima berbagai ilmu yang sesuai dengan apa yang dipilihnya. Walaupun demikian, mereka yang ingin sukses dalam hidup tidak hanya perlu belajar ilmu pengetahuan (hard skills), tetapi juga harus memiliki kemampuan hidup sehari-hari (soft skills) yang seringkali tidak diperoleh dari tempat pendidikan. Dengan mempunyai kedua jenis kemampuan ini, rasa percaya diri manusia akan menjadi lebih kuat dalam mengambil keputusan penting dalam hidup.

Kepercayaan kepada diri sendiri (self confidence) memang seringkali dianggap sebagai hal yang berguna dalam hidup, yang bisa membuat orang berani menghadapi masa depan. Mereka yang  sudah mendapat pendidikan yang cukup, umumnya  bisa mempunyai rasa percaya diri yang lebih besar dari yang lain. Walaupun demikian, hidup manusia bukan hanya mengenai hal mencari solusi dari persoalan hidup, tetapi juga menyangkut hal menghadapi berbagai persoalan hidup sehari-hari yang belum tentu mempunyai penyelesaian. Hidup yang sedemikian harus diterima dan dijalani dengan iman, tetapi untuk itu kita seringkali kehilangan rasa percaya diri.

Ayat diatas adalah tulisan Salomo yang terkenal bijaksana. Tidaklah mengherankan bahwa Salomo yang sudah dikaruniai kemampuan itu oleh Tuhan, seringkali menulis berbagai nasihat yang berguna. Nasihat di atas ditujukan kepada mereka yang masih muda agar menyadari bahwa dalam hidup ini kepandaian saja belum tentu membawa kesuksesan dalam hidup. Dalam kenyataannya, banyak orang pandai yang hidupnya menderita, karena apa yang terjadi dalam hidup mereka tidaklah dapat dimengerti dan diterima dengan akal. Dengan demikian, manusia membutuhkan pertimbangan dan kebijaksanaan dari tempat lain untuk bisa mendapatkan kebahagiaan dalam hidup dan ketenteraman jiwa dalam segala keadaan.

Mereka yang mengenal Tuhan bisa memperttimbangkan hal apa yang penting dan apa yang tidak penting. Jika orang lain sibuk dengan hal mencari keberhasilan hidup, bagi mereka yang berada dalam Tuhan, hidup sudah merupakan kesuksesan karena kemenangan Yesus atas kematian. Dengan karunia keselamatan dari Tuhan, ketakutan atas hidup ini menjadi hilang karena apa yang akan datang adalah jauh lebih baik dari apa yang terlihat di masa kini. Dengan demikian, hidup mereka bukan diutamakan untuk mengejar apa yang bersifat duniawi, tetapi selalu mendahulukan apa yang baik sesuai dengan firmanNya. Soft skill inilah yang tidak dimiliki oleh semua orang.

Pagi ini, ada sebuah pertanyaan untuk kita. Apakah kita percaya bahwa kita akan mempunyai hari depan yang baik? Tidak ada seorang pun yang tahu apa yang akan terjadi pada diri kita di tahun-tahun mendatang. Kita bahkan tidak tahu apa yang akan terjadi esok hari atau sejam lagi. Tetapi, jika kita masih memakai pertimbangan sehat dan kebijaksanaan dari Tuhan, kita akan menghadapi semua rintangan dengan rasa percaya diri bahwa segala sesuatu akan berakhir dengan baik sesuai dengan janji Tuhan.