“Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.” Matius 6: 34
Kalau saya mengingat masa kecil saya, tidak dapat tidak saya bersyukur atas berkat Tuhan. Pada saat itu keadaan ekonomi keluarga saya tidaklah dapat dikatakan sehat, begitu pula keadaan banyak keluarga yang lain. Tahun-tahun itu adalah saat dimana orang hidup dalam bahaya. The years of living dangerously. Setiap hari kebanyakan orang tidak tahu apa yang akan terjadi esok hari. Kalau sekarang keadaan di Indonesia sudah jauh lebih baik, itu tentunya menunjukkan kasih dan pemeliharaan Tuhan.
Adakah orang yang tidak pernah kuatir? Setiap orang mempunyai kuatirnya sendiri, dan itu adalah pencerminan keadaan dunia yang sudah jatuh kedalam dosa. Bagi banyak orang yang sekarang hidup dalam kecukupan, seringkali terasa bahwa masa depan masih juga belum bisa dipastikan. Uang mungkin bukan lagi masalah, tetapi situasi kesehatan, keluarga, pekerjaan dan lain-lainnya tetap bisa membawa rasa ragu dalam menghadapi masa depan. Apalagi, jika kita rajin membaca berita, seolah keadaan di dunia ini menjadi buruk dengan kemungkinan adanya kegoncangan politik, ekonomi maupun sosial.
Memang seringkali apa yang belum terjadi itu justru bisa terasa lebih berat dari apa yang sudah terjadi. Kekuatiran memang sudah menjadi “penyakit umum” umat manusia sedunia. Kekuatiran bisa menyebabkan berbagai penyakit badani maupun kejiwaan. Kekuatiran juga bisa membuat manusia jatuh kedalam jurang keputusasaan.
Pada waktu Yesus akan disalibkan, pergumulanNya di taman Getsemani mengambarkan segi kemanusiaanNya. Yesus bisa merasakan penderitaan dan kekuatiran dalam menghadapi apa yang akan terjadi, persis seperti kita umat manusia. Walaupun demikian, ada perbedaan antara sikap manusia dan sikap Yesus dalam menghadapi masa depan. Sejak lama Yesus sudah tahu bahwa Ia harus mati disalibkan, tetapi Ia baru bergumul dengan kenyataan pada waktunya. Sebelum saat itu datang, Ia memusatkan perhatianNya bukan pada masalah yang akan datang, tetapi pada tugas berat yang harus dilakukanNya setiap hari.
Pagi ini, kita melihat dari ayat diatas bahwa Yesus mengajarkan bahwa sebagai umat percaya, kita tidak perlu kuatir akan apa yang belum terjadi, karena tiap hari kita mempunyai berbagai tantangan dan masalah yang harus kita hadapi. Setiap hari, ada hal-hal yang bisa kita ubah, tetapi ada juga hal-hal yang harus kita terima. Sebagai manusia kita mempunyai batas-batas kekuatan yang harus kita sadari. Jika kita mulai menguatirkan apa yang belum terjadi, perjuangan kita menjadi terlalu berat dan apa yang harus kita lakukan hari ini justru bisa berantakan. Tambahan pula, mengapa harus kuatir, sedangkan kita tahu bahwa Tuhan selalu menyertai kita?
“Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu” 1 Petrus 5: 7

Beberapa tahun yang lalu saya mengunjungi Fraser Island, sebuah pulau pasir sebelah timur Brisbane. Pulau dengan pemandangan alami yang indah ini termasuk salah satu World Heritage yang harus dipertahankan kelestariannya. Baru-baru ini Prince Harry dan Meghan Markle juga mengunjungi pulau itu sehubungan dengan kunjungan resmi mereka ke Australia.
Mungkin anda tahu, saat ini setiap kali kereta api jarak jauh hendak berangkat dari stasiun di Indonesia, sejumlah porter dan pegawai KAI yang bertugas berdiri menghadap gerbong kereta yang akan berangkat. Mereka meletakkan tangan di dada. Setelah itu, ketika kereta mulai beranjak, mereka menundukkan kepala hingga kereta benar-benar meninggalkan stasiun.
Bagi mereka yang senang membaca atau mendengar nasihat motivator, semboyan “Jika kamu belum berhasil, coba dan coba lagi” tentunya pernah dijumpai. Maksud semboyan ini adalah baik, karena kemauan keras dan usaha seringkali bisa membuat apa yang sulit dicapai, akhirnya bisa tercapai melalui semangat yang tidak kunjung padam. Walaupun demikian, seringkali orang dalam perjuangannya hanya memikirkan keinginan diri sendiri, tanpa memikirkan apakah yang dicarinya benar-benar sesuai dengan kehendak Tuhan.
Apakah Australia adalah negara Kristen? Pertanyaan ini tidak mudah dijawab. Setelah tahun 1788, sejak tentara Inggris membawa orang-orang tahanan ke Australia, jumlah orang yang mengaku Kristen berkembang terus dan mencapai 96.1% pada saat negara Australia bersatu pada tahun 1901. Tetapi, hasil sensus tahun 2016 menunjukkan bahwa hanya 52.1% penduduk Australia sekarang mengaku sebagai orang Kristen.
Anda penggemar sosial media seperti Facebook atau WhatsApp? Mungkin anda sering melihat berbagai meme dan slogan yang mendukung persahabatan seperti “Sahabat sejati adalah sahabat di hari tua” dan semacamnya. Sekalipun hanya di dunia maya, nampaknya orang merindukan adanya sahabat yang setia.