Mengatasi rasa takut dengan keyakinan

“Aku berkata kepadamu, hai sahabat-sahabat-Ku, janganlah kamu takut terhadap mereka yang dapat membunuh tubuh dan kemudian tidak dapat berbuat apa-apa lagi.” Lukas 12: 4

Dunia ini selalu penuh dengan hal-hal yang membuat orang kuatir, was-was atau ketakutan. Memang ada orang yang senang pergi ke tempat yang berbahaya, melakukan hal-hal yang membuat hati berdebar-debar, atau melakukan sesuatu tindakan yang mempunyai resiko besar. Mereka yang tergolong “thrill-seeker“, memang sengaja mencari kesempatan untuk menantang bahaya untuk memuaskan diri sendiri. Tetapi, tidak ada seorangpun yang menyukai sesuatu yang bisa membawa kecelakaan atau bencana yang diluar kontrol. Hanya orang yang bodoh atau gila yang sengaja mencari bencana untuk diri sendiri atau orang lain.

Apa yang terjadi di Surabaya pada hari Minggu kemarin, membuat orang kaget karena kekejaman yang dilakukan oleh beberapa orang terjadi secara tak terduga oleh siapapun. Hal ini membuat banyak orang merasa kuatir, was-was dan bahkan takut karena seakan manusia tidak berdaya menghadapi kejahatan. Bagi banyak orang Kristen, hal semacam itu memaksa mereka untuk mengevaluasi iman mereka. Patutkah mereka merasa kuatir atau takut dengan adanya kejahatan semacam itu? Apa yang harus atau bisa mereka lakukan untuk mengatasi rasa takut?

Rasa takut sebenarnya adalah sesuatu yang diberikan Tuhan sebagai berkat. Rasa takut bisa membuat orang menghindari bahaya. Selain itu, rasa takut kepada Tuhan, yaitu ketaatan kepada firmanNya, adalah satu hal yang dikehendaki Tuhan agar umatNya bisa menikmati hidup yang aman dan berbahagia. Ayub, sebagai contoh, adalah orang yang takut akan Tuhan sehingga Tuhan mengasihinya dan melindunginya dari serangan iblis (Ayub 1: 8 – 10). Selain itu, banyak ayat Alkitab lain yang mengatakan bahwa takut akanTuhan akan membawa hikmat kebijaksanaan dan berbagai berkat. Tuhan memang menyayangi semua orang yang takut akan Dia.

“Seperti bapa sayang kepada anak-anaknya, demikian TUHAN sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia.” Mazmur 103: 13

Dalam kenyataan zaman ini, orang yang benar-benar takut akan Tuhan mungkin tidaklah banyak. Di kalangan Kristen pun, orang cenderung untuk mengesampingkan Tuhan dalam kehidupan sehari-hari. Mungkin pada hari Minggu dan selama satu atau dua jam saja kita mengakui kedaulatan Tuhan dan berusaha meyakinkan Dia bahwa kita mempunyai rasa takut kepadaNya. Tetapi diluar itu, kita sering hidup seperti manusia bebas merdeka yang mempunyai hak dan kuasa atas diri kita dan juga orang lain.

Kejadian buruk yang tidak terduga dalam hidup manusia mungkin membuat banyak orang menjadi kuatir dan bahkan takut menghadapi masa depan karena kepercayaan kepada diri sendiri menjadi goyah. Kita jelas tidak berkuasa atas hidup kita, apalagi atas hidup dan perbuatan orang lain. Hal-hal yang sedemikian seharusnya membuat kita mencari pertolongan, tetapi jika kita tidak mempunyai iman kepada Tuhan, kepada siapa lagi kita bisa bergantung?

Pagi ini Tuhan mengingatkan kita bahwa hidup kita bukanlah hanya di dunia yang fana ini. Jika hidup di dunia adalah sementara, bagi kita hidup sesudah ini adalah hidup yang kekal di surga bersama Tuhan, Raja semesta alam yang kita sembah. Karena itu, jika kita benar-benar takut kepada Tuhan, kita tidak perlu takut kepada sesama manusia. Sama seperti kita, mereka hanyalah mahluk yang kecil dan tidak berdaya di hadapan Tuhan.

Walaupun demikian, dalam menghadapi bahaya, sebagai manusia kita tidak bisa bergantung pada kekuatan diri sendiri. Sebaliknya, kita tahu bahwa sebagai orang yang takut kepada Tuhan, kita mempunyai keyakinan bahwa kita bisa mendekatiNya dan memohon penyertaanNya. Biarlah kita mau memohon agar Tuhan memberi kita rasa damai dan sejahtera di saat yang sulit ini dan agar Ia menunjukkan kuasaNya untuk membawa mereka yang tersesat kepada jalan yang benar.

“Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.” Filipi 4: 6-7

Mempersembahkan apa yang terbaik kepada Tuhan

“Sebab itu marilah kita, oleh Dia, senantiasa mempersembahkan korban syukur kepada Allah, yaitu ucapan bibir yang memuliakan nama-Nya.” Ibrani 13: 15

Alkisah Adam dan Hawa mempunyai dua orang anak, Kain dan Habel. Sebagai petani, Kain mempersembahkan sebagian dari hasil tanahnya kepada Allah sebagai korban persembahan. Tetapi Habel yang penggembala kambing dan domba, mempersembahkan korban terbaik dari anak sulung kambing dombanya. Karena ketulusan Habel, Allah mengindahkan korban persembahannya, tetapi Kain dan korban persembahannya diabaikanNya. Karena iri hati, Kain kemudian menjadi sangat marah, dan ia akhirnya membunuh Habel.

Mengapa dua bersaudara sampai mengalami peristiwa yang menyedihkan seperti itu? Hal memberi persembahan kepada Allah pasti adalah bagian kehidupan mereka. Untuk Habel hal memilih dan mempersiapkan persembahan yang terbaik untuk kemuliaanTuhan adalah yang paling penting, sedang untuk Kain memberi persembahan kepada Tuhan mungkin hanyalah sekedar kebiasaan saja. Jika Kain kemudian marah kepada Habel, itu karena ia tahu bahwa Tuhan menolak persembahannya. Kain kemudian membunuh Habel karena ia memusatkan pikirannya pada diri sendiri: ia tersinggung dan merasa harga dirinya direndahkan. Itulah pikiran yang menghantui Kain.

Memang hal mempersembahkan sesuatu untuk Tuhan itu bukanlah soal remeh, karena Tuhan adalah Raja diatas segala raja. Walaupun demikian, di zaman ini banyak orang yang seperti Kain, kurang memperhatikan pentingnya persembahan kepada Tuhan yang maha kasih. Banyak orang yang merasa acuh tak acuh, dalam menyatakan syukur kepada Tuhan. Mereka hanya menjalankan ritual saja, tanpa usaha untuk memuliakanNya. Sebaliknya, banyak juga orang yang memberi persembahan dengan memusatkan pikiran kepada diri sendiri: mengharapkan balasan dari Tuhan dan membuat impresi untuk sekitarnya. Dan jika kemudian mereka tidak mendapat penghargaan untuk itu, mereka menjadi iri hati, tersinggung atau marah.

Jika Habel mempersembahkan bagian daging yang terbaik untuk Tuhan, kita yang sudah menerima karunia keselamatan dari Yesus Kristus sudah seharusnya mempersembahkan hidup kita sebagai persembahan yang terbaik. Hanya yang terbaiklah yang bisa kita persembahkan kepada Tuhan, karena tidak ada benda apapun yang bisa menyamai hidup kita sebagai persembahan kepada Tuhan Sang Pencipta.

“Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.” Roma 12: 1

Banyak orang yang mempersembahkan hidup mereka dengan melakukan berbagai kegiatan sosial. Dari luar semua itu nampaknya baik. Tetapi jika nama Tuhan tidak dipermuliakan, semua itu akhirnya hanya bisa untuk memuliakan diri sendiri saja.

Pagi ini biarlah kita sadar bahwa dalam hidup ini kita harus bisa menyatakan kasih kita kepada Tuhan dan sesama; tetapi apa yang kita lakukan, pikirkan dan ucapkan dalam keluarga, tempat bekerja, gereja dan negara haruslah merupakan pernyataan kasih yang benar melalui persembahan hidup kita sebagai sesuatu yang kudus dan yang berkenan kepada Allah.

Jangan bawa kami kedalam pencobaan

Apabila seorang dicobai, janganlah ia berkata: “Pencobaan ini datang dari Allah!” Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak mencobai siapapun. Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. Yakobus 1: 13-14

Kitab Kejadian 3 menceritakan bagaimana Adam dan Hawa jatuh kedalam dosa melalui tipu muslihat iblis. Iblis dengan kecerdikannya berhasil membuat Hawa melanggar perintah Tuhan untuk tidak memakan buah pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat. Hawa melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada Adam yang bersama-sama dengan dia (Kejadian 3: 6).

Adam dan Hawa jatuh kedalam pencobaan, tetapi siapakah yang sebenarnya bersalah? Allah yang menciptakan pohon itu, iblis yang menjerumuskan manusia, atau manusia yang jatuh kedalam perangkap iblis? Ada orang yang berpendapat bahwa Allahlah yang paling bersalah karena Ia yang menciptakan pohon itu dan Ia seharusnya bisa mencegah iblis dari menipu manusia atau mencegah manusia dari melanggar perintahNya.

Jika pada akhirnya Allah menjatuhkan hukumanNya kepada Adam, Hawa, dan juga iblis, menunjukkan bahwa mereka semuanya sudah bersalah di hadapan Allah. Sebagai keturunan Adam dan Hawa kita terkena getahnya dan harus mengalami berbagai penderitaan selama hidup di dunia. Jika Allah memang maha adil, hukuman itu adalah sudah sewajarnya, tetapi ada juga orang yang berpendapat bahwa manusia sudah jatuh kedalam pencobaan dari Allah.

Mengapa Allah menciptakan pohon pengetahuan tentang apa yang baik dan yang jahat? Apakah Ia ingin mencobai manusia, ingin menjebak mereka? Alkitab dalam ayat diatas mengatakan bahwa Allah tidak mencobai siapapun. Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. Dari mulanya Allah menetapkan hukum dan perintahNya agar manusia taat kepadaNya, tetapi bukan untuk menjebak mereka kedalam dosa. Dosa adalah keadaan dimana manusia gagal untuk menaati hukum dan perintah Tuhan.

Allah tidak pernah mencobai kita walaupun Ia mungkin menguji kita. Pencobaan dari iblis berbeda dengan ujian dari Allah. Mengapa Yesus mengajar kita untuk memohon agar Allah tidak membawa kita kedalam pencobaan?

“…dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat.” Matius 6: 13

Doa diatas sebenarnya dimaksudkan agar Allah sudi membimbing dan menguatkan kita agar kita tidak terseret kedalam pencobaan. Bisa terhindar dari godaan iblis sehingga tidak sampai dipengaruhi oleh keinginan dan hawa nafsu kita.

Yesus sebagai manusia yang lelah tubuhnya setelah berpuasa 40 hari di padang gurun, juga mengalami pencobaan (Matius 4: 1-11). Ia menghadapi pencobaan yang datang bukan dari Allah Bapa, tetapi dari iblis. Yesus sebagai manusia yang tidak berdosa, tidak dapat dicobai. Ia menghadapi tiga macam bujukan iblis, dan Ia menangkis semua itu dengan cara yang tepat. Pada akhirnya, kemenangan Yesus membawa kemuliaan kepada Allah. Dengan demikian, sekalipun pencobaan bukan dari Tuhan, adanya pencobaan membawa kemuliaan kepada Tuhan ketika umatNya bisa menghadapinya dan tidak jatuh kedalam dosa.

Pagi ini kita harus sadar bahwa seperti apa yang ditawarkan kepada Yesus, iblis sering menggoda manusia dengan tiga hal yaitu kenikmatan, kekuasaan dan kekayaan. Diantara ketiga hal ini, kekayaan adalah yang paling berbahaya karena bisa membuat manusia jatuh kedalam jerat dosa-dosa lain.

“Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan.” 1 Timotius 6: 9

Hidup di dunia ini tidak mudah karena adanya berbagai pencobaan dan tantangan. Mungkin pagi ini kita merasa lelah dan takut menghadapi keadaan hidup yang bisa membawa kejatuhan kita. Tetapi firman Tuhan berkata bahwa semua pencobaan itu sebenarnya tidak melebihi kekuatan kita. Biarlah kita selalu berdoa agar kita bisa menghindari pencobaan; tetapi jika kita harus menghadapinya, biarlah kekuatan dari Tuhan memberi kita kemenangan. Karena apakah suatu keadaan yang sulit akhirnya menjadi godaan yang menghancurkan kita atau ujian yang menguatkan kita, itu sering bergantung pada reaksi kita!

“Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.” 1Korintus 10: 13

Mengapa orang menjahati kita?

“Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku dari pada kamu.” Yohanes 15: 18

Jika kita membaca berita di media, selalu ada saja hal-hal yang membuat kita menghela nafas. Dunia ini seakan dipenuhi dengan kekerasan dan ketidakadilan. Herankah kita melihat adanya ketidakadilan di dunia? Mungkin saja tidak, karena dunia ini memang sudah jatuh kedalam dosa. Kejadian yang tidak menyenangkan dan yang tidak adil tentu bisa terjadi pada orang-orang disekitar kita.

Herankah kita mengapa kejadian yang tidak menyenangkan sering terjadi pada diri kita sekalipun kita tidak bersalah dan bahkan berusaha berbuat baik kepada orang lain? Inilah pertanyaan yang lebih sulit dijawab karena diri kita tersangkut secara langsung. Hal itu mungkin adalah sesuatu yang sangat tidak adil bagi kita. Sangat menyakiti hati kita. Mengapa aku? Why me? Itu tidak adil! It’s not fair!

Dua ribu tahun yang lalu, seorang bayi dilahirkan di kandang domba di Betlehem. Putra Raja semesta alam, tetapi tidak dihormati manusia. Setelah dewasa, Ia berkeliling memberitakan kabar baik, bahwa mereka yang mau mengikutNya akan memperoleh hidup kekal. Kabar baik ini justru diterima dengan kebencian oleh manusia, yang kemudian menyalibkanNya. Yesus Kristus, Juruselamat umat manusia, dibunuh oleh manusia yang ingin diselamatkanNya. Sungguh tragis. Itukah keadilan?

Yesus datang ke dunia ini tidak dengan harapan bahwa sebagai manusia yang tidak berdosa, Ia akan menerima perlakuan baik dan keadilan dari orang-orang disekitarNya. Sebaliknya, Ia tahu dari mulanya bahwa orang akan membenci, menyiksa dan membunuhNya. Karena itu dalam ayat diatas Yesus menasihati murid-muridNya bahwa jika mereka mengalami hal yang serupa di dunia, mereka harus ingat bahwa Ia telah lebih dahulu mengalaminya.

Pagi ini, marilah kita sejenak memikirkan mengapa Yesus mau berkurban untuk manusia yang durhaka. Tentu semua itu adalah karena ketaatanNya kepada Bapa dan kasihNya kepada manusia. Inilah yang membuat Yesus berbeda dengan pemimpin-pemimpin dunia. Yesuslah yang mengisi dunia ini dengan keadilan dan kasih surgawi. Dan Ia mengharapkan bahwa setiap muridNya bisa meniru Dia.

“Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan.” Matius 11: 29

Sebagai pengikut Kristus, kita harus memikul kuk dan belajar dari Dia. Dengan demikian, kita akan bisa tetap kuat dalam menghadapi hal-hal yang serupa dengan apa yang dialami Yesus. Jika kita bisa menjalankan tugas dalam hal keadilan dan kasih yang serupa dengan apa yang dilakukan Yesus, dunia tidak akan dipenuhi oleh ketidakadilan dan kekerasan, karena kitalah yang bisa membawa perbedaan.

Semoga kita mengerti mengapa ada orang-orang yang membenci kita, yang menyakiti kita, yang tidak adil dan menyusahkan kita dalam hidup ini. Semua itu termasuk dalam paket kehidupan kita sebagai pengikut Kristus selama kita masih di dunia agar nama Tuhan dipermuliakan.

“Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.” Matius 5: 44″

Melalui kehancuran datanglah keindahan

“Sebab jika kita telah menjadi satu dengan apa yang sama dengan kematian-Nya, kita juga akan menjadi satu dengan apa yang sama dengan kebangkitan-Nya.” Roma 6: 5

Dapatkah seorang manusia mengenal Tuhan jika hidupnya tak pernah kekurangan apapun dan tak pernah mengalami masalah yang berarti? Pertanyaan ini tidaklah mudah dijawab.

Memang kerinduan sebagian manusia akan Tuhan itu ada hubungannya dengan perasaan atau keyakinan bahwa hidup mereka tidak dapat sepenuhnya mereka kontrol. Orang-orang yang yakin bahwa hidup sepenuhnya ada di tangan mereka, sudah tentu tidak mau menyerahkan kemudi kehidupan kepada Tuhan. Tetapi, ada juga mereka yang sekalipun berada dalam keadaan yang sulit, tetap tidak mau percaya kepada Tuhan yang bisa menolong mereka; malahan ada orang-orang yang menolak Tuhan karena penderitaan yang ada. Sebaliknya, ada juga orang-orang yang hidupnya nyaman, tetapi justru bisa bersyukur dan taat kepada Tuhan – seperti Ayub sebelum diganggu iblis. Mengapa bisa begitu?

Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa. Hanya orang yang berdosa yang sadar bahwa ia tidak mempunyai jalan keluar untuk memperoleh keselamatan, dan orang yang hancur hatinya serta merasa hilang harapan, membutuhkan belas kasihan dan pertolongan Tuhan. Hanya orang yang sudah merasakan kasih dan anugerah Tuhan, bisa hidup bersyukur dalam setiap keadaan. Sebaliknya, mereka yang selalu merasa di atas angin karena usaha sendiri, sudah tentu tidak dapat memikirkan perlunya atau adanya Tuhan.

Memang Yesus pernah berkata bahwa hanya orang yang sakit memerlukan tabib. Dan tentunya orang yang bisa kembali sehat karena pertolongan tabib, tidak bisa melupakan pertolongan tabib itu.

“Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit.” Matius 9: 12

Kalau orang yang berdosa dan menderita memerlukan Yesus, mereka yang “saleh” dan nyaman hidupnya mungkin tidak terlalu merasakan kebutuhan itu. Walaupun begitu, sebenarnya tidak ada seorang pun yang bisa yakin bahwa ia tidak membutuhkan Yesus; karena semua orang adalah “sakit” dan memerlukan tabib dalam hidupnya. Orang yang tidak merasa bahwa ia berdosa dan lemah, sebenarnya sudah menipu dirinya sendiri. Dan orang yang merasa hidupnya baik dan nyaman karena usaha sendiri, sebenarnya sudah menolak kenyataan bahwa Tuhanlah sumber segala berkat.

“Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita.” 1 Yohanes 1: 8

Pagi ini, firman Tuhan mengingatkan kita bahwa jika kita ingin memperoleh hidup baru dalam Kristus, hendaknya kita sadar akan segala kelemahan dan dosa kita. Kita harus mengakui kegagalan kita dalam usaha mencapai standar kebaikan Tuhan. Kita harus mengakui bahwa sekalipun hidup kita terlihat indah dan nyaman dalam pandangan manusia, Tuhan melihat hidup kita sebagai reruntuhan yang perlu disingkirkan guna memberi tempat untuk bangunan baru. Kita harus mau mengakui bahwa hidup kita sepenuhnya bergantung kepada Tuhan, dan mau menyalibkan apa yang ada dalam hidup lama kita, untuk bisa dibangkitkan dalam hidup baru yang sepenuhnya bisa memuliakan Tuhan.

Marilah kita mau meneliti hidup kita saat ini dan mengakui bahwa bagaimanapun kita berusaha untuk mencari kebahagiaan sejati dengan usaha kita sendiri, apa yang kita peroleh seringkali hanyalah kekecewaan dan kehampaan. Tetapi, jika kita mau mempersilahkan Kristus menjadi Raja dalam hidup kita, apa yang dulunya tidak berguna dan berantakan akan bisa diubah menjadi sesuatu yang berharga dan indah di mata Tuhan. Demikian juga, Tuhan bisa mengubah segala penderitaan yang kita alami untuk menjadi kekuatan iman yang memberi kedamaian dalam hidup yang baru. Semoga kita mau mempersilahkan Tuhan untuk mengatur hidup kita sepenuhnya!

“Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” 2 Korintus 5: 17

Kesempatan dalam kesempitan

Kata-Nya kepada mereka: “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada Tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu.” Lukas 10: 2

Australia adalah salah satu negara yang menghasilkan banyak hasil perkebunan, seperti mangga, ceri, anggur, apel dan jeruk. Daerah perkebunan semacam ini biasanya terletak di pelosok desa yang jarang penduduknya. Karena itu, jika musim menuai datang, pemilik kebun harus mencari orang-orang yang mau bekerja sebagai penuai (fruit picker). Pekerjaan yang berat ini biasanya dilakukan oleh turis-turis dari luar negeri yang ingin menambah uang saku. Jika jumlah penuai kurang dari yang dibutuhkan, banyak hasil kebun terpaksa menjadi busuk karena tidak tertuai.

Dalam ayat diatas, Yesus menggambarkan bahwa ada banyak tuaian, yaitu orang-orang yang seharusnya bisa menjadi pengikutNya. Tetapi, orang-orang yang mau menuai, yaitu orang yang mau membimbing mereka ke arah yang benar, tidaklah cukup jumlahnya. Karena itu, kita harus berdoa meminta agar ada lebih banyak orang Kristen yang mau bekerja menuai di ladang Tuhan.

Ilustrasi yang menyangkut kegiatan pertanian dalam Alkitab memang cukup banyak. Kita bisa membaca bahwa Tuhan menabur benih di hati manusia yang berbagai ragam. Seperti tanah yang subur, hati mereka yang mau mendengar, mengerti dan melaksanakan Firman Tuhan akan mengeluarkan hasil yang berlipat ganda (Matius 13: 8).

Tuhan sebenarnya menghendaki setiap umatNya untuk bekerja di ladangNya, untuk membawa sebanyak mungkin orang menuju ke arah keselamatan yang sudah diberikan melalui penebusan Kristus. Tetapi tidaklah banyak orang Kristen yang benar-benar menyadari bahwa apa yang sudah diterimanya bukanlah hanya untuk dirinya sendiri. Tidak banyak orang yang mengerti bahwa sebagai orang yang sudah diselamatkan, mereka terpanggil untuk mengeluarkan hasil baik yang berlipat ganda.

Melalui Amanat AgungNya, Yesus menyuruh umatNya untuk membawa orang yang ada dimana saja untuk menjadi murid-muridNya.

“Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” Matius 28: 19-20

Karena itu, sebagai orang percaya kita seharusnya terpanggil untuk menjadi penuai di ladang Tuhan. Kita harus sadar bahwa waktu yang ada untuk menuai adalah terbatas. Tuhan yang sudah menumbuhkan benih-benih iman dalam diri setiap orang, adalah Tuhan yang ingin agar apa yang sudah ditumbuhkanNya bisa dituai pada waktu yang tepat, sebelum terlambat.

Kesempatan masih ada saat ini bagi kita untuk menjadi penuai sebelum Tuhan datang. Karena jika waktunya datang, akan terlambatlah orang-orang yang belum menerima Yesus untuk diselamatkan. Waktu untuk menuai juga terbatas karena kita tidak tahu berapa panjang kesempatan bagi orang-orang disekitar kita untuk menerima Yesus sebagai Juruselamat mereka. Lebih dari itu, kita tidak tahu berapa lama kita dapat memakai hidup kita dan segala kemampuan yang ada untuk bekerja di ladangNya.

Pagi ini kita diingatkan bahwa kesempatan yang ada untuk membawa banyak orang kepada iman yang benar tidaklah banyak. Walaupun demikian, dalam kesempitan yang kita alami saat ini -dimana iblis lebih giat bekerja mengacau kehidupan manusia dan berusaha membuat umat Kristen lalai akan perintah Tuhan – kita masih mempunyai kesempatan untuk bekerja keras untuk membawa banyak orang ke arah yang benar demi kemuliaan Tuhan. Pakailah kesempatan anda selagi masih ada!

“Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu. Sebab Aku pergi kepada Bapa” Yohanes 14: 12

Bagaimana bisa menjadi pengikut Yesus

Tetapi Yesus berkata: “Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah.” Lukas 9: 62

Sebagai orang Kristen kita mengaku bahwa kita adalah orang beriman dan pengikut Yesus. Agaknya, setiap orang yang mengaku percaya kepada Kristus, juga mengakui bahwa mereka juga pengikutNya. Apakah iman (faith) kepada Kristus adalah sama dengan menjadi pengikut (disciple) Yesus?

Dalam bahasa Yunani, kata yang dipakai untuk menjadi pengikut Yesus adalah mathetes, yang bukan saja berarti “murid”, tetapi adalah orang yang taat kepada perintah Tuhan dalam segala segi kehidupan mereka. Jika orang Farisi mengaku bahwa mereka adalah murid-murid Musa (Yohanes 9: 28), murid-murid Yesus dinamakan pengikut Yesus sebelum ada sebutan “orang Kristen”. Mereka menjadi pengikut Yesus ketika mereka mengambil keputusan untuk mengikutiNya (Matius 9:9). Menjadi pengikut Kristus adalah hidup dan bekerja untuk kemuliaan Tuhan.

Menjadi pengikut Kristus adalah keputusan kita. Jika kita pernah menyanyikan lagu terkenal “Mengikut Yesus keputusanku”, agaknya tidak sulit untuk sekedar mengakui bahwa kita adalah orang beriman yang menjadi pengikut Yesus. Tetapi, dalam kenyataannya, tidaklah semudah itu untuk menjalaninya.

Mengapa tidak mudah untuk menjadi pengikut Yesus? Apa syarat-syarat untuk menjadi pengikutNya? Memang sebagai pengikut Yesus kita harus mengasihi Tuhan dan sesama kita, tetapi untuk melaksanakan kedua hukum yang paling utama itu kita setidaknya memerlukan dua hal yang penting: kesiapan dan kesetiaan. Ada orang yang tidak pernah memiliki keduanya, sehingga ia tidak pernah bisa untuk menjadi pengikut Yesus, tetapi ada yang hanya memiliki salah satu saja, sehingga ia mungkin hanya tahan untuk menjadi pengikut Kristus dalam kurun waktu yang singkat saja.

Dalam kitab Lukas 9: 57-61 tertulis adanya seseorang yang berkata bahwa ia mau mengikut Yesus kemana saja, tetapi Yesus menolaknya karena ia belum siap untuk menghadapi perjuangan berat sebagai pengikut Yesus. Dalam ayat 58, Yesus berkata kepadanya “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.” Menjadi pengikut Yesus bukannya berarti hidup dalam kenyamanan dan berfokus pada kesuksesan pribadi, tetapi hidup dalam ketabahan dan berfokus pada kemuliaan Tuhan.

Ada orang-orang lain yang diajak Yesus untuk menjadi pengikutnya karena mereka tampak sudah siap berjuang, tetapi mereka menjawab bahwa masih ada hal-hal yang lebih penting yang harus mereka lakukan (Lukas 9: 59, 61). Kepada orang-orang itu Yesus berkata bahwa setiap orang yang siap untuk membajak , yaitu mengikut Dia, tetapi masih mempunyai prioritas-prioritas lain, tidaklah layak untuk mengikut Dia karena dedikasi yang salah (ayat 62).

Pagi ini, pertanyaan untuk kita yang mengaku beriman kepada Yesus adalah: Apakah kita sudah siap dan memang mau untuk menjadi pengikut Yesus? Siapkah kita untuk menjalani perjuangan hidup dengan ketaatan kepada perintahNya dan bekerja untuk kemuliaanNya? Menjadi orang beriman tidak bisa dipisahkan dari menjadi pengikut Kristus (Yakobus 2: 24) karena untuk menjadi orang Kristen tidaklah cukup dengan berdiam diri dan mengabaikan panggilanNya untuk menjadi seperti Dia, dan bekerja untuk memuliakan namaNya dengan setia, hari demi hari baik dalam suka maupun duka.

“Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.” Galatia 2: 20

Memuji Tuhan dalam semua keadaan

“Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.” 1 Tesalonika 5: 18

Kemarin pagi, dalam kebaktian gereja, lagu “As long as you are glorified” dinyanyikan. Dalam bahasa Indonesia, judul lagu ini bisa diterjemahkan sebagai “Asal Engkau (Tuhan) dipermuliakan”. Sebagian syairnya berbunyi;

Shall I take from Your hand Your blessings, yet not welcome any pain?

Bolehkah aku mengambil dari tanganMu berkat-berkat, tetapi menolak hak-hal yang menyakitkan?

Shall I thank You for days of sunshine, yet grumble in days of rain?

Bolehkah aku bersyukur kepadaMu untuk hari-hari yang cerah, tetapi bersungut-sungut untuk hari-hari hujan?

Memang dalam hidup ini selalu ada saja hal-hal yang kurang menyenangkan, yang muncul pada saat yang kurang tepat, yang membuat kita berpikir “hidup akan lebih enak seandainya itu tidak ada”. Tetapi lagu diatas menyatakan bahwa kita harus menerima semuanya dan tetap bisa memuliakan Tuhan. Sesuatu yang tidak mudah untuk dilakukan.

Mengapa Tuhan menciptakan hal-hal yang indah dan juga membiarkan munculnya hal-hal yang kurang bisa dinikmati? Banyak orang yang menghubungkan ini dengan kejatuhan manusia kedalam dosa. Dosa seolah membuat segala sesuatu yang tidak baik muncul di dunia, baik itu berupa keadaan, benda mati maupun mahluk hidup. Benarkah begitu?

Memang menurut Alkitab, sebagian hal-hal yang terlihat kurang baik terjadi karena manusia jatuh dalam dosa dan kemudian diusir dari taman Eden. Tetapi segala sesuatu yang diciptakan Tuhan, baik benda mati maupun mahluk hidup, selalu mempunyai fungsi dan keindahan yang tersendiri. Demikian juga, sekalipun rasa sakit dan penderitaan adalah salah satu akibat kejatuhan dalam dosa, hal-hal semacam itu bisa membuat kita lebih berhati-hati dalam hidup dan lebih percaya akan pemeliharaan Tuhan.

“Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan.” Yakobus 1: 2-3

Sebagai manusia, menikmati apa yang sesuai dengan kebutuhan dan selera kita adalah sesuatu yang kita dambakan. Hidup ini serasa nikmat jika kita bisa mengatur segalanya dan mendapat hasil yang baik sesuai dengan harapan kita. Tetapi, kenyataan hidup menunjukkan bahwa apa yang sudah kita rencanakan dan harapkan belum tentu terjadi. Dan itu seharusnya membuat kita sadar bahwa kehendak Tuhanlah yang harus terjadi dan bukan kehendak kita.

“Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN.” Yesaya 55: 8

Pagi ini Tuhan berfirman bahwa sekalipun hidup kita tidak berjalan sesuai dengan harapan kita, Tuhan tetap menyertai kita. Bagi setiap orang percaya, segala sesuatu terjadi dengan sepengetahuan dan ijin Tuhan. Lebih-lebih lagi, Yesus sudah turun ke dunia sebagai manusia untuk menebus dosa kita dan membawa kita keluar dari kematian yang disebabkan oleh dosa kita. Dengan demikian kita percaya bahwa Tuhan tidak akan membiarkan kita jatuh lagi kedalam dosa dan keputusasaan, karena Ia mengasihi semua anak-anakNya. Didalam kasihNya selalu ada pengharapan akan berkat dan penyertaanNya. Karena itulah kita harus dapat memuji dan memuliakan Dia dalam segala keadaan.

“Pujilah TUHAN, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya” Mazmur 103: 2

Dalam kesulitan, iman kita diuji

Lalu Ia berkata kepada mereka: “Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?” Markus 4: 40

Dalam kitab Markus 4: 35-41 dikisahkan bahwa para murid bersama Yesus ada dalam sebuah perahu di danau Galilea. Apa yang kemudian terjadi sudah sering dibahas dalam berbagai renungan dan khotbah, yaitu tentang kelemahan manusia dan kemahakuasaan Tuhan. Walaupun demikian, thema ini selalu populer karena sangat aktuil dalam kehidupan manusia.

Saat itu Yesus sedang tidur di buritan ketika angin ribut datang. Karena sangat ketakutan dan dalam ketidakberdayaan, murid-murid-Nya terpaksa membangunkan Dia dan berkata kepada-Nya: “Guru, Engkau tidak peduli kalau kita binasa?” Apa yang kemudian terjadi adalah diluar dugaan para murid. Yesus bangun dan menghardik angin itu, dan seketika itu angin pun reda dan danau menjadi teduh sekali. Para murid tidak menyangka bahwa Yesus mempunyai kuasa sebesar itu. Masalah manusia yang besar, bisa diatasi hanya dengan sebuah kata dari Tuhan.

Mengapa murid-murid merasa takut ketika perahu mereka diombang-ambingkan topan? Murud-murid Yesus adalah orang-orang yang sederhana, tetapi menyadari kekuatan alam. Apalagi beberapa diantara mereka adalah nelayan. Mereka tahu bahwa manusia harus menyegani kekuatan alam. Dan pada saat itu, mereka merasa bahwa apa yang mereka hadapi adalah lebih besar dari kekuatan dan kemampuan mereka.

Kisah murid-murid Yesus diatas menggambarkan keadaan hidup kita saat terombang-ambing dalam lautan masalah. Apa yang kita lakukan biasanya adalah berusaha sekuat tenaga untuk mengatasi gejolak ombak kehidupan dengan tenaga sendiri. Seperti murid-murid Yesus, kita berusaha mengemudikan perahu kehidupan kita dengan kemampuan yang ada.

Dalam kesulitan hidup yang besar, setidaknya ada tiga pertanyaan yang bisa muncul dalam hati kita.

  • Mengapa ini terjadi?
  • Dimanakah Tuhan?
  • Apakah Tuhan bisa dan mau menolong?

Masalah kehidupan yang kita hadapi seringkali adalah bagian kehidupan manusia di dunia. Jika kita percaya bahwa Tuhan itu ada tetapi merasa bahwa Ia tidak bertindak, Tuhan seakan jauh dari kita. Mungkin seperti Yesus yang tidur di buritan kapal dan yang sepertinya tidak dapat merasakan adanya bahaya yang dihadapi murid-muridNya.

Masalahnya, sekalipun kita sadar bahwa Tuhan ada dan tahu akan persoalan yang kita hadapi, sering tetap ada keraguan atas apa yang bisa dan tidak bisa dilakukanNya. Bukankah ada banyak kejadian yang terjadi di sekeliling kita tanpa menunjukkan adanya intervensi Tuhan? Mungkinkah Tuhan sudah menentukan apa yang dapat atau tidak dapat dilakukanNya untuk kita? Dan jika Ia tidak dapat atau tidak mau menolong kita, kita pun harus siap menerima itu sebagai nasib kita?

Membaca kisah murid-murid Yesus dalam perahu yang menghadapi topan, kita harus sadar bahwa Tuhan ada beserta kita. Ia bisa dan mau bertindak pada saat yang tepat, sesuai dengan rencanaNya. Dan jika Ia tidak terlihat segera bertindak, itu karena masalah apapun yang kita hadapi, tidaklah sebanding dengan kebesaran kuasa dan kasihNya. Dalam hidup ini, seringkali kita membuat kekeliruan dengan tidak menyadari bahwa hidup kita yang mengalami topan, adalah seperti perahu dimana Tuhan ada bersama kita. Kita seharusnya percaya bahwa selama Dia ada beserta kita, hidup kita akan tetap aman. God is in control.

“Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” Roma 8: 38-39