“Sebab sekalipun mereka mengenal Allah, mereka tidak memuliakan Dia sebagai Allah atau mengucap syukur kepada-Nya. Sebaliknya pikiran mereka menjadi sia-sia dan hati mereka yang bodoh menjadi gelap.” Roma 1: 21
Sudah berpuluh tahun masyarakat Australia mengetahui adanya kasus kawin paksa diantara beberapa komunitas etnik tertentu. Dalam perkawinan semacam itu, biasanya gadis-gadis remaja (kadangkala anak lelaki) dipaksa untuk menikah dengan orang yang tidak dikenal mereka. Biasanya perkawinan semacam ini disebabkan oleh orang tua gadis yang bersangkutan, yang memaksa anaknya untuk menikah dengan orang yang jauh lebih tua dengan alasan keuangan, kehormatan, agama dan semacamnya. Banyak pernikahan semacam itu berakhir dengan masalah, karena tidak adanya cinta diantara suami dan istri. Selang berapa tahun, mereka bisa kenal satu dengan yang lain, tetapi tetap tidak bisa saling mencintai sebagaimana seharusnya. Perkawinan paksa bertentangan dengan hak asazi manusia dan prinsip kemerdekaan individu. Karena itu, pada tahun 2013, kawin paksa di Australia dimasukkan kedalam golongan kejahatan kriminal.
Seperti hal kawin paksa, memaksa seseorang untuk mengikuti kepercayaan tertentu adalah bertentangan dengan hukum. Setiap orang bebas untuk memilih kepercayaannya sendiri. Dalam hal ini, kita tahu bahwa Tuhan kita sendiri tidak pernah memaksa atau membuat manusia untuk percaya kepadaNya. Tuhan mengharapkan kesadaran manusia, dan keputusan untuk percaya kepada Tuhan adalah di tangan manusia. Tuhan memberikan berbagai kesempatan, masukan, bimbingan dan peringatan kepada manusia untuk percaya kepadaNya, tetapi tidak menjadikan manusia seperti robot yang hanya bisa mengiyakanNya.
Tuhan sudah cukup sering memperingatkan manusia agar mereka sadar akan kemuliaan dan kebesaranNya. Dimanapun manusia berada, mereka dapat menyadari bahwa Tuhan yang maha kuasa pasti ada, dan karena itu Ia harus dimuliakan. Apalagi, Alkitab sudah menjelaskan bahwa Tuhan sendiri sudah datang ke dunia untuk menebus dosa manusia. Karena itu orang tidak dapat berdalih bahwa ia tidak mengenal Tuhan.
“Karena apa yang dapat mereka ketahui tentang Allah nyata bagi mereka, sebab Allah telah menyatakannya kepada mereka. Sebab apa yang tidak nampak dari pada-Nya, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat nampak kepada pikiran dari karya-Nya sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih.” Roma 1: 19-20
Mengenal Tuhan bukanlah selalu berarti mengasihiNya. Sebab sekalipun manusia mengenal Tuhan, mereka belum tentu selalu memuliakan Dia sebagai Tuhan atau mengucap syukur kepada-Nya. Sebaliknya pikiran mereka seringkali menjadi sia-sia dan hati mereka menjadi gelap. Mereka berbuat seolah-olah mereka bijaksana, tetapi mereka sebenarnya telah menjadi bodoh. Mereka yang ada di zaman ini menggantikan kemuliaan Allah yang tidak fana dengan hal-hal duniawi, baik dalam kepercayaan kepada diri sendiri, kepada hal-hal mistik, kepada keserakahan ataupun kepada ilah-ilah lain (Roma 1: 21-23).
Bukan hanya mereka yang bukan Kristen yang membuat kesalahan semacam ini. Orang Kristen pun sering jatuh kedalam perangkap iblis. Akibatnya, banyak yang lebih mementingkan hidup pribadi, berusaha menikmati apa yang dapat mereka capai, dan membaktikan diri kepada hal-hal yang membawa kegembiraan sesaat. Sebaliknya, ada juga orang Kristen yang jatuh dalam depresi karena merasa bahwa Tuhan tidak peduli akan hidup mereka. Sebab sekalipun mereka mengenal Allah, mereka tidak memuliakan Dia sebagai Allah atau mengucap syukur kepada-Nya. Sebaliknya pikiran mereka penuh dengan keinginan untuk mencari kepuasaan duniawi saja.
Pagi ini kita harus sadar bahwa Tuhan tidak pernah memaksa kita untuk menjadi anak-anakNya. Tetapi karena kasihNya, Ia ingin agar setiap orang yang percaya kepadaNya bisa diselamatkan. Kepercayaan yang benar bukan hanya sekedar pengenalan, tetapi harus mencakup rasa hormat dan kasih. Apakah anda kenal kepada Tuhan dan selalu memuliakan Dia dan bersyukur kepadaNya? Ataukah anda kenal kepadaNya tetapi tidak mencintaiNya?
Banyak orang pernah mengalami masalah ketika menghadapi “orang yang sulit” yaitu orang yang tidak bisa diajak berunding, atau orang yang keras kepala, sombong, kasar, tidak tahu aturan, pemarah, pengomel atau cerewet. Pusing! Apalagi jika “orang yang sulit” bertemu dengan orang-orang yang serupa, suasana pasti menjadi bertambah keruh.
Teringat saya akan seseorang yang dari mudanya ingin mencapai prestasi yang tinggi. Dilahirkan dari sebuah keluarga yang serba sederhana, ia adalah seorang yang senang merencanakan segala sesuatu dengan sangat berhati-hati. Karena hidupnya yang serba teratur, pemuda ini berhasil mencapai prestasi yang sangat baik dalam sekolahnya dan juga selama di universitas. Ia seringkali mendapatkan angka ulangan dan ujian yang terbaik diantara murid yang ada. Sampai pada suatu saat, pada ujian akhir universitas, ia gagal untuk lulus hanya karena satu mata pelajaran. Mereka yang tidak berprestasi sebaik dia justru lulus. Hati pemuda ini hancur, semua kebanggaannya lenyap, dan kepercayaan kepada diri sendiri pun pudar.
Mengapa sebagai orang Kristen kita harus dengan aktif berbuat baik? Ini sering dipertanyakan orang, baik oleh orang Kristen maupun non-Kristen. Jika orang Kristen diselamatkan karena iman, apakah ada motivasi bagi mereka untuk melakukan hal baik dan berguna bagi sesama?
Sebagai mahluk sosial, manusia umumnya tahu bagaimana membuat orang lain senang. Salah satu diantara hal-hal yang bisa dilakukan untuk menggembirakan orang lain ialah memberi sebuah hadiah, entah itu berkenaan dengan ulang tahun, tahun baru atau perayaan lainnya. Dalam hal ini, adat saling memberi adalah umum. Seseorang tidak dapat mengharapkan untuk selalu diberi, tetapi ia harus juga siap memberi sebagai balasan dan rasa terima kasih.
Ingatkah anda akan lagu sekolah minggu yang sangat terkenal ini?

Menjadi orang Kristen tidak perlu fanatik. Begitu komentar yang sering kita dengar dari orang yang mengaku beragama Kristen kepada orang Kristen yang lain. Mereka yang ingin mengikuti dan menjalankan firman Tuhan dengan sepenuhnya sering ditertawakan karena dianggap ektrimis, fundamentalis dan “sok”. Bagi mereka yang “terlalu Kristen” itu, julukan yang biasanya diberikan adalah “orang Farisi”.