Kenal tapi tak cinta?

“Sebab sekalipun mereka mengenal Allah, mereka tidak memuliakan Dia sebagai Allah atau mengucap syukur kepada-Nya. Sebaliknya pikiran mereka menjadi sia-sia dan hati mereka yang bodoh menjadi gelap.” Roma 1: 21

Sudah berpuluh tahun masyarakat Australia mengetahui adanya kasus kawin paksa diantara beberapa komunitas etnik tertentu. Dalam perkawinan semacam itu, biasanya gadis-gadis remaja (kadangkala anak lelaki) dipaksa untuk menikah dengan orang yang tidak dikenal mereka. Biasanya perkawinan semacam ini disebabkan oleh orang tua gadis yang bersangkutan, yang memaksa anaknya untuk menikah dengan orang yang jauh lebih tua dengan alasan keuangan, kehormatan, agama dan semacamnya. Banyak pernikahan semacam itu berakhir dengan masalah, karena tidak adanya cinta diantara suami dan istri. Selang berapa tahun, mereka bisa kenal satu dengan yang lain, tetapi tetap tidak bisa saling mencintai sebagaimana seharusnya. Perkawinan paksa bertentangan dengan hak asazi manusia dan prinsip kemerdekaan individu. Karena itu, pada tahun 2013, kawin paksa di Australia dimasukkan kedalam golongan kejahatan kriminal.

Seperti hal kawin paksa, memaksa seseorang untuk mengikuti kepercayaan tertentu adalah bertentangan dengan hukum. Setiap orang bebas untuk memilih kepercayaannya sendiri. Dalam hal ini, kita tahu bahwa Tuhan kita sendiri tidak pernah memaksa atau membuat manusia untuk percaya kepadaNya. Tuhan mengharapkan kesadaran manusia, dan keputusan untuk percaya kepada Tuhan adalah di tangan manusia. Tuhan memberikan berbagai kesempatan, masukan, bimbingan dan peringatan kepada manusia untuk percaya kepadaNya, tetapi tidak menjadikan manusia seperti robot yang hanya bisa mengiyakanNya.

Tuhan sudah cukup sering memperingatkan manusia agar mereka sadar akan kemuliaan dan kebesaranNya. Dimanapun manusia berada, mereka dapat menyadari bahwa Tuhan yang maha kuasa pasti ada, dan karena itu Ia harus dimuliakan. Apalagi, Alkitab sudah menjelaskan bahwa Tuhan sendiri sudah datang ke dunia untuk menebus dosa manusia. Karena itu orang tidak dapat berdalih bahwa ia tidak mengenal Tuhan.

“Karena apa yang dapat mereka ketahui tentang Allah nyata bagi mereka, sebab Allah telah menyatakannya kepada mereka. Sebab apa yang tidak nampak dari pada-Nya, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat nampak kepada pikiran dari karya-Nya sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih.” Roma 1: 19-20

Mengenal Tuhan bukanlah selalu berarti mengasihiNya. Sebab sekalipun manusia mengenal Tuhan, mereka belum tentu selalu memuliakan Dia sebagai Tuhan atau mengucap syukur kepada-Nya. Sebaliknya pikiran mereka seringkali menjadi sia-sia dan hati mereka menjadi gelap. Mereka berbuat seolah-olah mereka bijaksana, tetapi mereka sebenarnya telah menjadi bodoh. Mereka yang ada di zaman ini menggantikan kemuliaan Allah yang tidak fana dengan hal-hal duniawi, baik dalam kepercayaan kepada diri sendiri, kepada hal-hal mistik, kepada keserakahan ataupun kepada ilah-ilah lain (Roma 1: 21-23).

Bukan hanya mereka yang bukan Kristen yang membuat kesalahan semacam ini. Orang Kristen pun sering jatuh kedalam perangkap iblis. Akibatnya, banyak yang lebih mementingkan hidup pribadi, berusaha menikmati apa yang dapat mereka capai, dan membaktikan diri kepada hal-hal yang membawa kegembiraan sesaat. Sebaliknya, ada juga orang Kristen yang jatuh dalam depresi karena merasa bahwa Tuhan tidak peduli akan hidup mereka. Sebab sekalipun mereka mengenal Allah, mereka tidak memuliakan Dia sebagai Allah atau mengucap syukur kepada-Nya. Sebaliknya pikiran mereka penuh dengan keinginan untuk mencari kepuasaan duniawi saja.

Pagi ini kita harus sadar bahwa Tuhan tidak pernah memaksa kita untuk menjadi anak-anakNya. Tetapi karena kasihNya, Ia ingin agar setiap orang yang percaya kepadaNya bisa diselamatkan. Kepercayaan yang benar bukan hanya sekedar pengenalan, tetapi harus mencakup rasa hormat dan kasih. Apakah anda kenal kepada Tuhan dan selalu memuliakan Dia dan bersyukur kepadaNya? Ataukah anda kenal kepadaNya tetapi tidak mencintaiNya?

Menghadapi orang yang sulit

“Terhormatlah seseorang, jika ia menjauhi perbantahan, tetapi setiap orang bodoh membiarkan amarahnya meledak.” Amsal 20: 3

Banyak orang pernah mengalami masalah ketika menghadapi “orang yang sulit” yaitu orang yang tidak bisa diajak berunding, atau orang yang keras kepala, sombong, kasar, tidak tahu aturan, pemarah, pengomel atau cerewet. Pusing! Apalagi jika “orang yang sulit” bertemu dengan orang-orang yang serupa, suasana pasti menjadi bertambah keruh.

Dalam keluarga pun ada suami atau istri yang “sulit diatur” oleh yang lain. Jika keduanya sering bersitegang dan tidak mau saling mengalah, suasana rumah tangga pun akhirnya menjadi kacau dan orang-orang disekitarnya pun bisa ikut menderita.

Kebanyakan orang yang “sulit diatur”, tidak merasa atau tidak mau mengakui bahwa ia adalah orang yang bertemperamen sulit, atau dalam bahasa Inggrisnya disebut difficult people. Dalam hal ini, banyak juga orang mengaku Kristen, tetapi dalam hidupnya suka bertengkar dengan orang lain, sehingga pada hakikatnya gaya hidup dan sikapnya tidaklah berbeda dengan mereka yang belum mengenal Kristus.

Apakah pengenalan akan Kristus itu bisa secara nyata mengubah hubungan antara manusia sehingga mereka bisa saling menghormati, saling bersabar dan merendahkan diri dalam usaha untuk menyelesaikan masalah? Seharusnya begitu!

Karena Kristus dalam hidupNya di dunia juga sering menghadapi orang yang sulit diatur, sikap kita kepada orang-orang semacam itu seharusnya mencontoh Dia. Dalam Yesus berinteraksi dengan orang yang sulit, Ia tidak pernah menunjukkan sikap menang sendiri, kasar atau angkuh; tetapi Ia selalu menunjukkan kekuasaanNya secara terkontrol dan tidak dengan semena-mena. Kadang Ia menunjukkan kemarahanNya, tetapi Ia juga bisa berdiam diri atau memberi pertanyaan atau pengarahan berdasarkan firman Allah. Semua itu dilakukanNya karena kasihNya yang ingin menolong dan menyelamatkan manusia.

Pagi ini, kita mungkin sedang memikirkan bahwa hari ini kita harus menghadapi orang-orang sulit yang berada dalam keluarga, sekolah, kantor atau masyarakat. Cukup dengan membayangkan hal itu, kita bisa menjadi pusing karena memikirkan adanya kemungkinan untuk munculnya pertikaian atau percekcokan.

Ayat pembukaan diatas mengajak kita untuk menjadi orang terhormat dengan menjauhi perbantahan, dan tidak menjadi orang bodoh yang membiarkan amarah kita meledak tanpa alasan. Sanggupkah kita? Itu tergantung pada kita: apakah kita bisa selalu ingat dan bersyukur kepada Tuhan yang mengasihi kita. Dulu kita adalah orang-orang yang sulit untuk diselamatkan, tetapi karena kesabaran Tuhan kita menerima pengampunan dalam Yesus Kristus.

“Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran. Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian.” Kolose 3: 12-13

Menghindari kesia-siaan

“TUHAN mengetahui rancangan-rancangan manusia; sesungguhnya semuanya sia-sia belaka.” Mazmur 94: 11

Teringat saya akan seseorang yang dari mudanya ingin mencapai prestasi yang tinggi. Dilahirkan dari sebuah keluarga yang serba sederhana, ia adalah seorang yang senang merencanakan segala sesuatu dengan sangat berhati-hati. Karena hidupnya yang serba teratur, pemuda ini berhasil mencapai prestasi yang sangat baik dalam sekolahnya dan juga selama di universitas. Ia seringkali mendapatkan angka ulangan dan ujian yang terbaik diantara murid yang ada. Sampai pada suatu saat, pada ujian akhir universitas, ia gagal untuk lulus hanya karena satu mata pelajaran. Mereka yang tidak berprestasi sebaik dia justru lulus. Hati pemuda ini hancur, semua kebanggaannya lenyap, dan kepercayaan kepada diri sendiri pun pudar.

Mengapa kesulitan terjadi disaat yang tidak disangka? Hal ini sulit dijawab. Ada orang yang percaya adanya “Murphy’s Law” alias hukum Murphy, yang biasanya diartikan “Apa yang bisa gagal akan gagal pada suatu saat”. Manusia tidak bisa menghindari kesulitan, persoalan dan kegagalan, karena semua itu akan terjadi, jika ada kemungkinan untuk terjadi.

Apa yang bisa gagal akan gagal pada suatu saat. Bukankah apa yang ada dalam hidup manusia selalu mempunyai kemungkinan untuk gagal? Bukankah manusia tidak mempunyai kontrol yang penuh atas segala sesuatu? Bukankah apa yang megah, apa yang kuat, sehat, kaya ataupun bijak selalu mempunyai kelemahan yang bisa membawa kegagalan dan kehancuran? Karena tidak adanya kesempurnaan dan keabadian dalam hidup ini, agaknya apa yang dikerjakan manusia hanyalah sekedar usaha untuk memperkecil kemungkinan atau menunda terjadinya kegagalan.

Pagi ini jika kita bangun, mungkin kita siap melakukan apa yang sudah kita rencanakan, atau sibuk merencanakan apa yang akan kita lakukan. Tetapi pernahkah kita memikirkan bahwa sebagai manusia, kita hanya bisa merencanakan dan melakukan, tetapi Tuhanlah yang menentukan hasilnya? Ayat diatas bahkan berkata bahwa TUHAN mengetahui rancangan-rancangan kita; sesungguhnya semuanya sia-sia belaka. Karena apapun yang kita rencanakan, jika itu tidak sesuai dengan kehendakNya, tidaklah akan terjadi.

Adakah cara untuk menghindari kegagalan dalam hidup? Itu adalah pertanyaan semua orang di dunia. Dunia ini bukanlah surga, tetapi justru sebuah tempat yang sudah dikontaminasi dosa. Karena dosa manusia, bumi dan isinya sudah dikutuki; dan hanya dengan bersusah payah kita akan mencari rezeki dari tanah seumur hidup kita (Kejadian 3: 17). Hidup manusia menjadi sangat berat dan kegagalan demi kegagalan bisa terjadi. Tetapi itupun dengan seijin Tuhan yang maha kuasa.

Walaupun kegagalan bisa terjadi, sebagai orang percaya kita mempunyai satu harapan bahwa jika kita meminta Tuhan yang maha kasih untuk menyertai hidup kita, kita akan bisa melihat kemana dan bagaimana kita harus mengarahkan tujuan hidup kita. Kegagalan belum tentu menjadi kesia-siaan tetapi bisa menjadi kesempatan untuk mencari kehendak Tuhan. Hanya dalam iman kita mempunyai harapan untuk masa depan sekalipun mengalami kegagalan, dan harapan kita dalam iman itu tidaklah akan menjadi sia-sia.

“Harapan orang benar akan menjadi sukacita, tetapi harapan orang fasik menjadi sia-sia.” Amsal 10: 28

Kewajiban utama kita adalah memuliakan Tuhan

“Perkataan ini benar dan aku mau supaya engkau dengan yakin menguatkannya, agar mereka yang sudah percaya kepada Allah sungguh-sungguh berusaha melakukan pekerjaan yang baik. Itulah yang baik dan berguna bagi manusia.” Titus 3: 8

Mengapa sebagai orang Kristen kita harus dengan aktif berbuat baik? Ini sering dipertanyakan orang, baik oleh orang Kristen maupun non-Kristen. Jika orang Kristen diselamatkan karena iman, apakah ada motivasi bagi mereka untuk melakukan hal baik dan berguna bagi sesama?

Orang Kristen melakukan hal yang baik karena Kristus sudah lebih dulu berkurban untuk mereka. Mereka tentu tidak berusaha untuk berbuat baik guna dapat diselamatkan, karena tidak ada seorangpun yang bisa memenuhi standar kesucian Allah. Tetapi, karena kasih Tuhan yang begitu besar telah membawa keselamatan, umat Kristen seharusnya mempunyai keinginan yang kuat untuk hidup baik dan berbuat kebaikan agar orang lain juga melihat kasih Tuhan dan kemudian mau menerima karunia keselamatan. Pekerjaan yang baik dan hidup baik orang Kristen di dunia ini adalah identik dengan mengajak dunia untuk memuliakan Tuhan.

Untuk bisa hidup sebagai orang Kristen yang setia di dunia ini tidaklah mudah. Godaan dan bahaya selalu ada di dunia yang sudah dipenuhi dosa ini; sehingga sering mereka yang ingin untuk hidup baik, bisa gagal untuk menjalaninya. Banyak orang Kristen hidup dalam dua dunia, diluar kehidupan gereja mereka tidak berbeda dengan orang lain. Ada juga orang Kristen yang terlihat baik dalam masyarakat, tetapi tidaklah demikian dalam keluarga sendiri. Banyak orang Kristen yang berbuat baik untuk sesama tetapi tidak mempersembahkan kemuliaan yang diterima kepada Tuhan. Selain itu, ada juga orang Kristen yang kurang bisa melakukan pekerjaan yang baik karena adanya kesibukan dan kesukaran hidup. Hal-hal semacam ini sudah tentu tidaklah berguna bagi sesama untuk bisa mengenal Tuhan yang maha kasih.

Pada pihak yang lain, ada orang Kristen yang berusaha untuk hidup baik dengan cara mengisolir hidup mereka dari dunia. Bagi mereka, hidup suci adalah hidup di kalangan orang seiman, saling menolong dan menguatkan dalam lingkungan kekeluargaan dan persaudaraan. Tetapi, sudah tentu itu bukan maksud Tuhan ketika Ia memerintahkan kita untuk pergi keseluruh dunia untuk mengabarkan Injil. Hidup sebagai orang percaya tidak berarti bahwa kebahagiaan dan keselamatan yang ada hanya untuk dinikmati dalam lingkungan sendiri.

Lalu Ia berkata kepada mereka: “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.” Markus 16:15

Pagi ini, Tuhan berfirman bahwa orang Kristen harus menjadi terang dunia, terang yang menghilangkan kegelapan dunia. Karena itu, melakukan pekerjaan yang baik untuk sesama berarti memuliakan nama Tuhan, menunjukkan rasa syukur kita kepada Tuhan dan memberitakan kabar baik kemana saja, dimana saja dan kapan saja. Maukah kita berusaha untuk melakukan hal itu?

“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” Matius 5: 16

Salah satu karunia Tuhan yang terbesar adalah doa yang tidak terjawab

“Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya.” Matius 7: 11

Lagu berjudul “Unanswered prayers” (Doa yang tidak terjawab) adalah lagu country yang dinyanyikan oleh Garth Brooks pada tahun 1990 dan menduduki tangga pertama di Amerika pada tahun 1991. Lagu itu bukanlah lagu rohani, tetapi mengungkapkan pengalaman pribadi penyanyinya. Dalam syairnya ada tertulis bahwa terkadang ia bersyukur atas doa yang tidak dijawab Tuhan yang di surga, karena doa yang tidak terjawab bukanlah menunjukkan ketidakpedulian Tuhan.

Sometimes I thank God for unanswered prayers

Remember when you’re talkin’ to the man upstairs

That just because he doesn’t answer doesn’t mean he don’t care

Some of God’s greatest gifts are unanswered prayers

Lagu ini menjadi sangat populer waktu itu karena banyak orang yang merasakan hal yang serupa. Setelah berdoa cukup lama, tidak ada tanda-tanda bahwa Tuhan mau menjawab doa mereka. Walaupun sebagian orang menjadi kecewa dan bahkan putus asa dan meninggalkan iman mereka, ada orang-orang yang bersyukur karena Tuhan tidak menjawab doa mereka. Apa yang mereka minta kelihatannya tidak dikabulkan Tuhan, dan itu justru membawa kebaikan untuk mereka.

Benarkah Tuhan terkadang tidak menjawab permohonan anak-anakNya? Banyak orang Kristen yang mengajarkan bahwa Tuhan selalu menjawab doa mereka yang percaya. Doa yang tidak terjawab menunjukkan kelemahan iman, begitu kata mereka. Dan mereka memakai ayat Matius 7: 11 itu sebagai pedoman, bahwa Tuhan pasti menjawab doa-doa kita dan memberikan apa yang kita minta. Tetapi ajaran semacam itu tidaklah benar.

Doa terkadang tidak terjawab karena apa yang kita minta tidak sesuai dengan kehendakNya. Doa mungkin tidak terjawab karena hidup kita tidak sesuai dengan firmanNya. Doa mungkin tidak dijawab Tuhan agar kita bisa belajar bersabar dan bertekun dalam penderitaan kita serta bergantung kepadaNya. Dan mungkin juga Tuhan tidak menjawab doa kita agar dalam keadaan apapun, kita sadar bahwa Ia adalah Tuhan yang maha kuasa, maha adil dan maha bijaksana. Kehendak Tuhanlah yang terjadi, bukan kehendak kita.

“Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.” Roma 5: 3-5

Pagi ini, jika kita bangun dan merasa Tuhan itu jauh dan tidak mendengarkan doa-doa kita, kita tidak boleh merasa kecewa atau putus asa. Tuhan selalu mendengarkan doa-doa kita walaupun Ia belum tentu mengabulkan permohonan kita. Tuhan hanya memberikan apa yang terbaik kepada umatNya pada saat yang tepat.

Kita harus percaya bahwa Tuhan mengasihi kita dan dengan kebijaksanaanNya Ia belum tentu menjawab doa kita seperti apa yang kita harapkan. Kunci kebahagiaan bukanlah memperoleh apa yang kita minta, tetapi rasa cukup dengan apa yang sudah diberikanNya.

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Roma 8: 28

Apa balasmu?

“Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.” Roma 12: 1

Sebagai mahluk sosial, manusia umumnya tahu bagaimana membuat orang lain senang. Salah satu diantara hal-hal yang bisa dilakukan untuk menggembirakan orang lain ialah memberi sebuah hadiah, entah itu berkenaan dengan ulang tahun, tahun baru atau perayaan lainnya. Dalam hal ini, adat saling memberi adalah umum. Seseorang tidak dapat mengharapkan untuk selalu diberi, tetapi ia harus juga siap memberi sebagai balasan dan rasa terima kasih.

Dalam soal saling memberi, adalah lazim jika seseorang yang pernah menerima sebuah pemberian yang berharga, berusaha untuk membalas pemberian itu, jika bisa dan pada waktu tepat, dengan sesuatu yang pantas. Ini tidak harus dengan pemberian yang seharga dengan apa yang diterimanya, tetapi setidaknya dengan sesuatu yang menunjukkan apresiasi atas pemberian itu.

Bagi umat Kristen, pemberian Allah yang terbesar adalah AnakNya yang tunggal, Yesus Kristus, yang sudah mati untuk ganti dosa mereka. Karena itu, sikap yang benar dalam hidup orang Kristen sejati adalah rasa syukur dalam setiap keadaan. Mereka tidak lagi mengejar hal-hal duniawi seperti kesuksesan, kekayaan dan keternamaan lagi. Mereka tidak lagi sibuk meminta hadiah semacam itu dari Tuhan. Bagi mereka, Tuhan adalah baik dan bahkan sangat baik kepada mereka. Hanya mereka yang tidak mempunyai apresiasi yang cukup untuk karunia keselamatan itu, selalu sibuk memohon kepada Tuhan untuk mendapat berkat-berkat lain.

Bagaimana kita dapat membalas kasih Tuhan yang terbesar dalam diri Yesus Kristus, sebenarnya harus menjadi pemikiran kita sehari-hari. Karena dengan berhutang budi, hati kita seharusnya merasa bahwa kasih Tuhan yang sedemikian besar menuntut kasih yang serupa dari diri kita. Kasih yang dengan segenap hati dan dengan segenap jiwa dan dengan segenap akal budi dan dengan segenap kekuatan kita (Markus 12: 30).

Sudah tentu manusia tidak mungkin dapat membalas segala kebaikan Tuhan dengan sesuatu yang sama besarnya. Siapakah manusia itu, sehingga ia dapat menandingi Tuhan yang maha kasih? Tetapi, apakah itu alasan kita untuk tidak berusaha memberikan apa yang terbaik dari hidup kita kepadaNya?

Sebagai orang percaya kita tahu bahwa tidak hanya kita memperoleh anugerah keselamatan, kita juga menerima berkat-berkat yang tidak terhitung setiap hari. Jika demikian, adakah alasan bagi kita untuk hidup hanya untuk menikmati semua itu hari demi hari tanpa menyatakan rasa syukur kita kepadaNya secara nyata pada setiap saat dalam hidup kita?

Ayat diatas mengingatkan kita bahwa karena kita sudah menerima kemurahan Allah, kita harus memikirkan bagaimana kita dapat menggunakan hidup kita, sebagai persembahan yang berkenan kepada Allah. Itu adalah ibadah yang sejati, yang harus bisa kita laksanakan hari ini dengan kesungguhan hati dan pikiran, dan dengan sepenuh kekuatan kita. Karena apapun yang kurang dari itu, menunjukkan bahwa kita kurang menghargai kasihNya.

“Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang karena rahmat-Nya yang besar telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada suatu hidup yang penuh pengharapan.” 1 Petrus 1: 3

Yesus mencintai semua orang

“Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala.” Matius 9: 36

Ingatkah anda akan lagu sekolah minggu yang sangat terkenal ini?

Tuhan cinta semua anak

Semua anak di dunia

Kuning putih dan hitam

Semua dicinta Tuhan

Tuhan cinta semua anak di dunia

Lagu itu adalah terjemahan lagu himne “Jesus loves the little children” yang syairnya ditulis oleh C. Herbert Woolston (1856—1927) dan musiknya disusun oleh George F. Root. Lagu itu menunjukkan bahwa Yesus mencintai semua anak dari bangsa manapun.

Memang benar, karena Allah sangat kasih akan seisi dunia ini, Ia mengirim putraNya yang tunggal, Yesus Kristus, ke dunia untuk menyelamatkan semua orang yang percaya kepadaNya.

“Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia. Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah.” Yohanes 3: 17-18

Banyak orang yang berpikir bahwa jika Allah itu maha kasih, tentunya Ia akan menyelamatkan semua orang yang baik. Pandangan ini masuk akal, hanya saja tidak seorangpun di dunia ini yang cukup baik menurut ukuran Allah yang maha suci.

“Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus.” Roma 3: 23-24

Ayat pembukaan diatas menunjukkan perasaan Kristus ketika ia melihat begitu banyak orang yang seperti domba yang tersesat karena tidak mempunyai gembala. Ia merasa sedih karena begitu banyak orang yang sebenarnya bisa mengenal dan menerima Kristus, tetapi tidak dapat memperoleh kesempatan untuk itu. Karena itu, setiap orang Kristen diperintahkan untuk menjadi saksiNya di dunia ini, supaya makin banyak orang yang mau menerima Kristus.

Pada mulanya Injil Keselamatan diberitakan diantara umat Yahudi, namun kemudian Injil juga disebarkan untuk mereka yang bukan Yahudi. Karena kemurahan Allah, di zaman ini sangatlah jarang orang yang belum pernah mendengar kabar keselamatan Kristus. Lebih dari itu, melalui berbagai keajaiban, Allah bekerja agar semua orang di dunia mengalami perjumpaan secara pribadi dengan Kristus. Itu semua terjadi karena sejak mulanya, Allah mengasihi seisi dunia ini.

“Ada lagi pada-Ku domba-domba lain, yang bukan dari kandang ini; domba-domba itu harus Kutuntun juga dan mereka akan mendengarkan suara-Ku dan mereka akan menjadi satu kawanan dengan satu gembala.” Yohanes 10: 16

Pagi ini, jika kita berbakti di gereja, marilah kita ingat bahwa sebagaimana Allah sudah mengasihi semua orang, kita pun harus mengasihi sesama kita dengan tidak mempertimbangkan apakah orang itu cukup baik untuk ukuran kita. Dalam mengabarkan Injil kita pun harus mau mencapai orang-orang yang kita kenal sebagai orang yang sulit untuk diinjili. Mereka yang dengan sengaja menentang Kristus atau mereka yang dengan kenaifan menolak Kristus sebagai satu-satunya jalan keselamatan. Sebab Yesus mencintai semua orang dan itu termasuk kita dan orang-orang yang kita kasihi. Ia ingin agar semua orang datang kepadaNya untuk memperoleh keselamatan!

Mengapa Tuhan memiih aku?

“Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu.” Yohanes 15: 16

Mengapa Tuhan memilih aku sebagai anakNya? Begitu mungkin kita bertanya dalam hati kita. Tetapi, tunggu dulu! Siapa yang bilang bahwa kita orang-orang pilihan Tuhan? Apa tandanya? Apa buktinya? Karena hidup kita lebih baik dari hidup orang lain? Karena kita lebih sukses dari orang lain? Ataukah semua itu adalah perasan kita saja, bahwa Tuhan sudah memilih kita dari awalnya?

Memang bagi sebagian orang, soal dipilih Tuhan atau tidak adalah hal yang sulit dijawab. Jika Tuhan membiarkan kita merasa yakin akan keselamatan kita, tetapi pada akhirnya menolak kita, itu jelas bisa membuat kita hancur. Jika kita merasa yakin bahwa Tuhan memilih kita dan pada akhirnya kita membuat suatu kekeliruan yang besar, bagaimana kita bisa yakin bahwa Tuhan tetap memilih kita?

Alkitab dalam ayat diatas menyatakan bahwa Tuhanlah yang memilih kita dan bukan kita yang memilih Dia. Lebih-lebih lagi, Tuhan memilih kita sewaktu kita masih hidup dalam dosa, bukan ketika kita sudah cukup baik untukNya. Berbeda dengan ajaran-ajaran lain di dunia, apapun yang kita perbuat tidak akan membuat kita cukup baik untuk Dia yang maha suci.

“Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.” Roma 5: 8

Dengan demikian kita tidak perlu kuatir bahwa kasihNya menjadi padam ketika kita gagal untuk melakukan firmanNya.

Tuhan juga sudah memilih kita dari awalnya, bahkan sebelum kita dilahirkan, karena sebagai Tuhan yang maha tahu, Dia bisa melihat apa yang akan terjadi di masa depan. Ia bisa melihat bahwa pada suatu saat kita akan menjawab panggilan keselamatanNya dan mau memuliakan Dia.

“Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya. Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya.” Efesus 1: 4-5

Walaupun demikian, dalam hidup ini selalu ada goncangan yang mungkin membuat kita ragu akan kasihNya. Bagaimana kita bisa yakin bahwa Tuhan tidak mempertimbangkan apa yang diperbuat manusia sebelum menyelamatkan mereka? Bukankah ada orang-orang mengaku Kristen, tetapi sampai sekarang hidupnya amburadul? Kembali firman Tuhan secara tegas menyatakan bahwa manusia diselamatkan bukan karena perbuatan mereka, tetapi karena kasihNya dalam Yesus Kristus.

“Dialah yang menyelamatkan kita dan memanggil kita dengan panggilan kudus, bukan berdasarkan perbuatan kita, melainkan berdasarkan maksud dan kasih karunia-Nya sendiri, yang telah dikaruniakan kepada kita dalam Kristus Yesus sebelum permulaan zaman.” 2 Timotius 1: 9

Pagi ini, ayat-ayat diatas menyatakan bahwa Tuhanlah yang berhak untuk memilih siapa saja yang dikehendakiNya untuk menerima penyelamatan Yesus Kristus. Ini adalah misteri yang tidak dapat kita mengerti sepenuhnya selama kita hidup di dunia. Mereka yang dipilih Tuhan bukannya cukup baik untuk standarNya, tetapi justru orang berdosa yang mau menerima panggilan kasihNya. Mereka yang terpilih akan dapat merasakan kasih Tuhan dalam setiap saat dan setiap keadaan. Dimanapun mereka berada, dalam segala kelemahan, cacat-cela, dan perjuangan yang ada, mereka selalu mempunyai kerinduan untuk memuliakan Tuhan dan bisa bersyukur atas segala berkat Tuhan dalam hidup mereka. Keselamatan mungkin sulit terlihat dengan mata manusia, tetapi jelas bisa dirasakan oleh mereka yang menerimanya.

Hidupku bukannya aku lagi, tapi Yesus dalamku

Yesus hidup, Yesus hidup dalamku

Apa yang sebenarnya kita percayai?

Lalu Ia berkata kepada mereka: “Kamu berasal dari bawah, Aku dari atas; kamu dari dunia ini, Aku bukan dari dunia ini. Karena itu tadi Aku berkata kepadamu, bahwa kamu akan mati dalam dosamu; sebab jikalau kamu tidak percaya, bahwa Akulah Dia, kamu akan mati dalam dosamu.” Yohanes 8: 23-24

Disepanjang sejarah, selalu ada saja orang-orang yang mengajarkan cara hidup untuk mencapai kebahagiaan. Mereka menunjukkan hal-hal yang penting untuk dilakukan agar manusia bisa hidup tenteram, tidak hanya selama hidup di dunia, tetapi juga setelah itu. Kebahagiaan di surga sepertinya bisa dicapai dengan berbagai cara seperti yang diajarkan oleh berbagai agama.

Perbedaan ajaran berbagai agama seringkali membuat manusia bingung, terutama mengenai bagaimana manusia harus melakukan berbagai kebajikan agar mereka bisa masuk ke surga. Dalam hal ini, Kekristenan atau Kristianitas sebenarnya bukanlah agama; karena dalam Kekristenan, hanya iman kepada Yesus yang membawa keselamatan. Manusia tidak bisa mendapat keselamatan karena perbuatan baik apapun.

Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” Yohanes 14: 6

Walaupun demikian, di zaman ini makin banyak orang yang mengajarkan bahwa Yesus bukanlah satu-satunya jalan, the way, untuk menuju ke surga. Paham-paham semacam itu bisa berupa universalisme yang mengajarkan bahwa tiap orang bisa mencari jalan ke surga dengan caranya sendiri. Akibatnya, orang Kristen sekarang sering malu dan segan untuk menyatakan keyakinan bahwa Yesuslah satu-satunya jalan keselamatan.

Banyak orang Kristen yang dipengaruhi oleh paham universalisme di era pluralisme yang ada sekarang, sehingga mereka percaya bahwa Tuhan yang mahakasih tentunya menghargai iktikad baik setiap manusia yang berusaha sungguh-sungguh mencari Tuhannya. Seringkali orang mempunyai kepercayaan semacam ini karena adanya sanak saudara yang bukan orang Kristen. Mereka tidak bisa menerima kenyataan bahwa sanak saudara mereka tidak akan diselamatkan.

Ayat pembukaan diatas menunjukkan bahwa usaha manusia untuk mengenal Tuhan akan sia-sia karena Tuhan itu maha tinggi. Yesus datang dari surga sedang manusia berada di dunia. Pengertian manusia tidak akan dapat meraih kebesaran Yesus. Apa yang bisa dilakukan manusia hanyalah menerima Yesus sebagai Mesias dengan iman, percaya bahwa Yesus datang dari surga sebagai satu-satunya jalan keselamatan, sesuai dengan pernyataanNya.

Sebagai orang Kristen, kita harus sadar bahwa betapapun baiknya hidup seseorang, ia tetap adalah orang yang berdosa di hadapan Tuhan yang maha suci. Jika ada orang yang percaya bahwa mereka yang berbuat banyak kebajikan akan masuk ke surga, pada hakekatnya mereka tidak percaya bahwa Yesus adalah satu-satunya jalan keselamatan. Mereka dengan demikian menolak bahwa Yesus adalah Tuhan yang datang dari surga untuk menyelamatkan manusia.

Apa yang dikatakan Yesus dalam ayat pembukaan diatas seharusnya bisa menyadarkan mereka yang menolak bahwa Yesus adalah satu-satunya Juruselamat dan Tuhan sendiri. Bahwa dengan penolakan itu, mereka akan mati dalam dosa sekalipun mereka mengaku sebagai orang Kristen.

Pagi ini ada satu pertanyaan untuk kita. Apa yang sebenarnya kita percayai? Apakah kita percaya bahwa Kekristenan adalah salah satu cara mencapai surga? Mungkin kita percaya bahwa Yesus hanyalah salah satu guru agama yang masyhur di dunia? Ataukah kita percaya bahwa Yesus adalah Mesias yang datang dari surga untuk menebus dosa kita?

Pada waktu Yesus disalib, seorang penjahat yang disalib disampingNya berkata: “Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja.” Jawaban Yesus kepada penjahat itu seharusnya tidak mengherankan mereka yang percaya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus” (Lukas 23: 42-43). Yesus adalah Tuhan dan didalam Dia ada keselamatan. Tidak ada jalan lain diluar Dia!

“Sebab barangsiapa malu karena Aku dan karena perkataan-Ku, Anak Manusia juga akan malu karena orang itu, apabila Ia datang kelak dalam kemuliaan-Nya dan dalam kemuliaan Bapa dan malaikat-malaikat kudus.” Lukas 9: 26

Tidak semudah yang dibayangkan

“Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.” Matius 5: 20

Menjadi orang Kristen tidak perlu fanatik. Begitu komentar yang sering kita dengar dari orang yang mengaku beragama Kristen kepada orang Kristen yang lain. Mereka yang ingin mengikuti dan menjalankan firman Tuhan dengan sepenuhnya sering ditertawakan karena dianggap ektrimis, fundamentalis dan “sok”. Bagi mereka yang “terlalu Kristen” itu, julukan yang biasanya diberikan adalah “orang Farisi”.

Bagi banyak orang Kristen, istilah orang Farisi dipakai untuk menunjuk kepada satu golongan orang Jahudi yang tahu dan hafal seluruh bagian kitab Taurat, tetapi tidak menjalankannya dengan benar. Orang munafik. Tetapi ini bukanlah pengertian sepenuhnya.

Di dalam Talmud (catatan tentang diskusi para rabi yang berkaitan dengan hukum Yahudi, etika, kebiasaan dan sejarah) tertulis adanya beberapa tipe orang Farisi. Ada jenis orang Farisi yang menyombongkan kebaikan-kebaikannya. Ada juga orang Farisi yang memalingkan wajahnya untuk menghindari melihat perempuan. Ada orang Farisi yang sering mengangguk-anggukan kepalanya seolah-olah bijaksana. Ada orang Farisi yang selalu menghitung kebaikannya, Tetapi ada juga orang Farisi yang mematuhi Allah karena takut. Dan ada orang Farisi yang mematuhi Allah karena mengasihi Allah.

Rasul Paulus adalah salah satu contoh orang Farisi yang patuh kepada hukum Taurat tetapi melakukan penganiayaan terhadap orang Kristen pada waktu ia belum mengenal Kristus. Walaupun demikian, Paulus pada waktu itu merasa bahwa ia adalah penegak kebenaran hukum Taurat (Filipi 3: 4-6). Pandangannya berubah ketika ia berjumpa dengan Yesus sendiri dalam perjalanannya ke Damsyik (Kisah Para Rasul 9: 4-5).

Berdasarkan pengalaman orang Farisi yang bernama Paulus itu, apakah hukum Taurat itu sesuatu yang sebaiknya dilupakan? Tentu tidak! Yesus dalam mengajarkan hukum kasih pernah berkata Ia tidak datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi, sebaliknya Ia datang untuk menggenapinya (Matius 5: 17-18).

Kita memang tidak lagi hidup dibawah hukum Taurat, tetapi dalam hukum kasih. Kewajiban kita adalah untuk mengasihi Tuhan dengan segenap hati dan dengan segenap jiwa dan dengan segenap akal budi kita, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri kita sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi (Matius 22: 37-40). Pelaksanaan hukum ini adalah sebagai pencerminan hidup baru kita dalam Kristus.

Pagi ini, pertanyaan untuk kita adalah satu pertanyaan yang sulit dijawab. Apakah kita benar-benar orang Kristen? Jika kita mengaku bahwa kita adalah pengikut Yesus, kita harus melaksanakan perintah Tuhan lebih baik dari apa yang sudah dilakukan oleh kebanyakan orang Farisi. Ada banyak hal yang salah yang dilakukan mereka, dan seperti rasul Paulus kita harus mau memperbaikinya. Perjumpaan kita dengan Yesus tidak akan mengubah hidup kita jika kita tidak bisa mengikuti jejak Paulus dan menjadi seperti orang Farisi dalam mengenal adanya hukum-hukum Tuhan dalam hidup kita sehari-hari, dan bahkan lebih dari orang Farisi dalam melaksanakan hukum-hukum itu secara benar dan konsisten setiap hari.