“Ya Allah, Engkau telah mengajar aku sejak kecilku, dan sampai sekarang aku memberitakan perbuatan-Mu yang ajaib; juga sampai masa tuaku dan putih rambutku, ya Allah, janganlah meninggalkan aku, supaya aku memberitakan kuasa-Mu kepada angkatan ini, keperkasaan-Mu kepada semua orang yang akan datang.” Mazmur 71: 17-18
Untuk sebagian orang, pensiun adalah saat yang dinantikan setelah bertahun-tahun bekerja keras. Bagi mereka ini, adanya uang pensiun yang cukup dan waktu luang membuka kesempatan untuk bisa menikmati apa yang sebelumnya hanya impian, seperti bepergian ke luar negeri, memakai aksesori dan pakaian yang mahal, ataupun pesta pora dan makan minum sepuasnya. Bagi orang lain, saat dipensiun adalah saat yang menyedihkan karena hilangnya pekerjaan dan teman bekerja membuat mereka bingung menghadapi hari-hari tanpa kegiatan rutin yang biasanya ada. Lebih menyusahkan lagi jika uang pensiun tidaklah cukup untuk menopang gaya hidup yang diinginkan.
Konsep pensiun tidak pernah secara jelas diutarakan dalam Alkitab, walaupun Tuhan berfirman kepada Musa bahwa setiap orang Lewi yang berumur dua puluh lima tahun ke atas harus memulai kewajiban untuk bekerja pada Kemah Pertemuan, tetapi jika ia berumur lima puluh tahun haruslah ia dibebaskan dari pekerjaan itu. Walaupun demikian, ia boleh membantu saudara-saudaranya di Kemah Pertemuan dalam menjalankan tugas mereka (Bilangan 8: 24-26). Ada kemungkinan bahwa dengan peraturan ini, semua orang Lewi bisa mendapatkan kesempatan yang sama untuk melayani Tuhan.
Memang pensiun sering ditentukan oleh pemerintah agar mereka yang muda bisa mendapat kesempatan untuk meniti karir dan juga untuk membuka kesempatan untuk memajukan negara dengan adanya hasil karya baru oleh mereka yang lebih muda. Walaupun begitu, di negara seperti Australia, usia pensiun tidak ditetapkan dan orang bisa bekerja selama mungkin asal masih bisa bekerja dengan baik.
Untuk orang Kristen, hidup ini adalah milik Kristus, oleh Kristus dan bagi Kristus. Oleh karena itu, apa yang didefinisikan manusia sebagai saat untuk pensiun tidaklah merubah kenyataan bahwa kita hidup sebagai anak-anak Tuhan yang harus terus memakai hidup kita sepenuhnya untuk kemuliaan Tuhan. Apabila saat bekerja adalah kesempatan orang tua untuk mengumpulkan harta bagi anak-anaknya (2 Korintus 12: 14), saat pensiun bukanlah awal kemerdekaan orang tua untuk menikmati harta yang tersisa hanya untuk kenikmatan diri sendiri. Sebaliknya, hidup kita dari awal hingga akhir harus digunakan untuk memuliakan Tuhan.
Pagi ini, firman Tuhan berkata bahwa selama kebesaran Tuhan bisa kita rasakan dalam hidup kita, kita tidak akan pernah pensiun untuk memuliakan dan memasyhurkan namaNya. Karena itu, berapapun umur kita dan apapun yang terjadi dengan pekerjaan duniawi kita, pekerjaan surgawi harus tetap berjalan. Apakah kita sadar bahwa sebagai milik Tuhan, kita hidup di dunia hanya karena Dia dan untuk Dia?
“Kiranya nama TUHAN dimasyhurkan, sekarang ini dan selama-lamanya.” Mazmur 113: 2
Pernahkah anda merasa bosan? Kebosanan mungkin disebabkan oleh adanya hal-hal yang sama yang terus menerus terjadi, atau karena tidak adanya sesuatu yang menarik perhatian kita. Karena kebosanan orang mungkin melakukan hal-hal yang tidak biasa dilakukan, yang mungkin merupakan hal yang bodoh, aneh, atau kurang berguna. Mungkin saja karena hidup yang monoton, seseorang melakukan sesuatu tindakan tanpa berpikir panjang, sekedar untuk menghilangkan kebosanan.
Menjadi satu daging. Apa pula itu? Banyak orang mengira bahwa ini berkaitan dengan hubungan seks ketika seorang pria menikah dengan seorang wanita, yang memungkinkan mereka untuk memperoleh keturunan. Ini tidak salah, tetapi belum semuanya. Tuhan menciptakan dua jenis manusia yang berlainan bukan saja untuk bersatu dalam satu keluarga secara fisik, tetapi juga secara emosional, spiritual, intelektual, finansial dan apapun juga. Walaupun begitu, mereka tetap berada dalam keadaan sebagai dua individu yang berlainan.
Bagaimana keadaan di surga? Apakah surga itu seperti sebuah kota atau sebuah negara? Ataukah itu seperti sebuah istana yang mempunyai banyak ruang? Tidak ada seorang manusia pun yang tahu jawabannya, walaupun Yesus pernah berkata bahwa di rumah Bapa ada banyak tempat tinggal.
Sebagai mahluk sosial, manusia membutuhkan orang lain dalam hidupnya. Baik itu sanak sudara, teman maupun kolega, mereka kita butuhkan dalam hidup sehari-hari untuk berkomunikasi dan berinteraksi. Tanpa orang-orang disekitar kita, hidup kita bisa menjadi sepi atau merana.
Dari mana datangnya cinta? Dari mata turun ke hati. Begitulah bunyi syair sebuah lagu lama. Hati sepertinya adalah tempat dimana cinta berada, dan dari mana cinta memancar. Walaupun demikian, gambar hati yang dipakai sebagai simbol cinta sebenarnya lebih mirip gambar jantung. Bagaimana hati muncul dalam bahasa Indonesia untuk menyatakan tempat cinta, sedangkan dalam bahasa Inggris kata jantunglah yang dipakai? Itu mungkin karena kebiasaan pemakaian kata yang sudah turun temurun.
Sebuah lagu gereja yang sangat terkenal adalah “What a friend we have in Jesus” yang aslinya ditulis oleh Joseph M. Scriven sebagai suatu syair pada tahun 1855 untuk menghibur ibunya yang berada di Irlandia sewaktu dia tinggal di Kanada. Lagu ini sudah diterjemahkan dalam banyak bahasa, dan salah satu versinya dalam bahasa Indonesia adalah sebagai berikut:
Percayakah anda bahwa Tuhan memberkati anda dengan kekuatan rohani? Pertanyaan ini tidaklah sukar dijawab jika anda percaya sepenuhnya kepada Tuhan. Tetapi, jika pertanyaan ini diubah menjadi soal diberkati dalam kekuatan jasmani, jawaban kita mungkin agak kurang pasti. Sebab mereka yang sehat dan kuat rohaninya belum tentu sehat dan kuat jasmaninya. Bagi banyak orang, kekuatan rohani adalah perubahan hidup yang disebabkan oleh karunia Tuhan yang ajaib, tetapi kekuatan jasmani seolah adalah sesuatu yang harus diterima manusia sebagaimana adanya, paling tidak karena faktor keturunan. Hidup baru tampaknya hanya menyangkut rohani saja. Betulkah begitu?
Dalam berpergian ketempat asing adalah kurang menyenangkan jika kita tidak dapat menemukan jalan untuk mencapai tujuan kita. Mungkin jalan yang kita pilih pada mulanya tidak memberi kesan bahwa jalan itu adalah jalan yang keliru, tetapi kemudian kita bisa sadar bahwa kita telah tersesat. Kesadaran itu mungkin timbul karena apa yang kita tuju tidak kunjung terlihat, atau karena suasana disekitar kita yang terasa asing, atau mungkin juga karena ada orang yang menyadarkan kita.