Jangan pensiun dulu!

“Ya Allah, Engkau telah mengajar aku sejak kecilku, dan sampai sekarang aku memberitakan perbuatan-Mu yang ajaib; juga sampai masa tuaku dan putih rambutku, ya Allah, janganlah meninggalkan aku, supaya aku memberitakan kuasa-Mu kepada angkatan ini, keperkasaan-Mu kepada semua orang yang akan datang.” Mazmur 71: 17-18

Untuk sebagian orang, pensiun adalah saat yang dinantikan setelah bertahun-tahun bekerja keras. Bagi mereka ini, adanya uang pensiun yang cukup dan waktu luang membuka kesempatan untuk bisa menikmati apa yang sebelumnya hanya impian, seperti bepergian ke luar negeri, memakai aksesori dan pakaian yang mahal, ataupun pesta pora dan makan minum sepuasnya. Bagi orang lain, saat dipensiun adalah saat yang menyedihkan karena hilangnya pekerjaan dan teman bekerja membuat mereka bingung menghadapi hari-hari tanpa kegiatan rutin yang biasanya ada. Lebih menyusahkan lagi jika uang pensiun tidaklah cukup untuk menopang gaya hidup yang diinginkan.

Konsep pensiun tidak pernah secara jelas diutarakan dalam Alkitab, walaupun Tuhan berfirman kepada Musa bahwa setiap orang Lewi yang berumur dua puluh lima tahun ke atas harus memulai kewajiban untuk bekerja pada Kemah Pertemuan, tetapi jika ia berumur lima puluh tahun haruslah ia dibebaskan dari pekerjaan itu. Walaupun demikian, ia boleh membantu saudara-saudaranya di Kemah Pertemuan dalam menjalankan tugas mereka (Bilangan 8: 24-26). Ada kemungkinan bahwa dengan peraturan ini, semua orang Lewi bisa mendapatkan kesempatan yang sama untuk melayani Tuhan.

Memang pensiun sering ditentukan oleh pemerintah agar mereka yang muda bisa mendapat kesempatan untuk meniti karir dan juga untuk membuka kesempatan untuk memajukan negara dengan adanya hasil karya baru oleh mereka yang lebih muda. Walaupun begitu, di negara seperti Australia, usia pensiun tidak ditetapkan dan orang bisa bekerja selama mungkin asal masih bisa bekerja dengan baik.

Untuk orang Kristen, hidup ini adalah milik Kristus, oleh Kristus dan bagi Kristus. Oleh karena itu, apa yang didefinisikan manusia sebagai saat untuk pensiun tidaklah merubah kenyataan bahwa kita hidup sebagai anak-anak Tuhan yang harus terus memakai hidup kita sepenuhnya untuk kemuliaan Tuhan. Apabila saat bekerja adalah kesempatan orang tua untuk mengumpulkan harta bagi anak-anaknya (2 Korintus 12: 14), saat pensiun bukanlah awal kemerdekaan orang tua untuk menikmati harta yang tersisa hanya untuk kenikmatan diri sendiri. Sebaliknya, hidup kita dari awal hingga akhir harus digunakan untuk memuliakan Tuhan.

Pagi ini, firman Tuhan berkata bahwa selama kebesaran Tuhan bisa kita rasakan dalam hidup kita, kita tidak akan pernah pensiun untuk memuliakan dan memasyhurkan namaNya. Karena itu, berapapun umur kita dan apapun yang terjadi dengan pekerjaan duniawi kita, pekerjaan surgawi harus tetap berjalan. Apakah kita sadar bahwa sebagai milik Tuhan, kita hidup di dunia hanya karena Dia dan untuk Dia?

“Kiranya nama TUHAN dimasyhurkan, sekarang ini dan selama-lamanya.” Mazmur 113: 2

Usaha mengatasi kebosanan

“Segala sesuatu diperbolehkan.” Benar, tetapi bukan segala sesuatu berguna. “Segala sesuatu diperbolehkan.” Benar, tetapi bukan segala sesuatu membangun.” 1 Korintus 10: 23

Pernahkah anda merasa bosan? Kebosanan mungkin disebabkan oleh adanya hal-hal yang sama yang terus menerus terjadi, atau karena tidak adanya sesuatu yang menarik perhatian kita. Karena kebosanan orang mungkin melakukan hal-hal yang tidak biasa dilakukan, yang mungkin merupakan hal yang bodoh, aneh, atau kurang berguna. Mungkin saja karena hidup yang monoton, seseorang melakukan sesuatu tindakan tanpa berpikir panjang, sekedar untuk menghilangkan kebosanan.

Apakah kebosanan adalah dosa? Belum tentu. Rasa bosan sebenarnya adalah reaksi normal dari tubuh atau pikiran atas keadaan yang kurang menarik atau memberi semangat. Tetapi apa yang diperbuat manusia untuk mengatasi kebosanan memang bisa membawa dosa. Karena dengan kebosanan bisa muncul rasa benci, iri, malas, marah dan sebagainya. Dari rasa bosan mungkin juga timbul keinginan untuk melakukan sesuatu yang tidak baik.

Jika saja manusia cukup berhati-hati dalam usaha untuk mengatasi kebosanan, mungkin hal-hal yang tidak baik bisa dihindari. Suatu perubahan mungkin tetap harus dilakukan untuk mengalihkan pikiran dan memberi semangat baru kepada tubuh yang bosan. Dalam hal ini, ayat diatas mengingatkan bahwa jika kita bermaksud untuk melakukan sesuatu, kita harus memikirkan gunanya dan akibatnya. Memang, jika di satu sisi kita boleh saja melakukan suatu tindakan atau mengambil suatu keputusan, di sisi lain apa yang akan kita lakukan haruslah membawa manfaat yang baik bagi Tuhan dan sesama.

Pagi ini, pertanyaan kepada kita adalah apakah saat ini ada rasa bosan dalam hidup kita. Mungkin hidup kita serba cukup tetapi hati kita kosong. Mungkin juga kita masih mendambakan sesuatu yang tidak kunjung datang. Atau mungkin kita bosan dengan segala persoalan yang kita hadapi. Dalam hal ini kita boleh yakin bahwa kita tidaklah seorang diri. Hampir setiap orang pernah merasakan hal yang sama dalam hidupnya.

Tuhan tahu bahwa manusia bisa merasa bosan. Karena itu Tuhan memberi manusia kebijaksanaan dan kemampuan untuk mengambil keputusan. Kebosanan harus diatasi dengan tindakan yang benar dengan mengubah cara hidup atau lingkungan hidup kita. Marilah kita pagi ini, dalam mengambil tindakan untuk menyegarkan hidup kita, kita mulai dengan bersyukur atas segala yang ada dalam hidup kita, dan kemudian dengan tekun berdoa agar apa yang akan kita lakukan di masa depan adalah hal yang baik dan berguna demi kasih kita kepada Tuhan dan sesama kita!

“Bertekunlah dalam doa dan dalam pada itu berjaga-jagalah sambil mengucap syukur.” Kolose 4: 2

Menjadi satu daging

“Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging.” Kejadian 2: 24

Menjadi satu daging. Apa pula itu? Banyak orang mengira bahwa ini berkaitan dengan hubungan seks ketika seorang pria menikah dengan seorang wanita, yang memungkinkan mereka untuk memperoleh keturunan. Ini tidak salah, tetapi belum semuanya. Tuhan menciptakan dua jenis manusia yang berlainan bukan saja untuk bersatu dalam satu keluarga secara fisik, tetapi juga secara emosional, spiritual, intelektual, finansial dan apapun juga. Walaupun begitu, mereka tetap berada dalam keadaan sebagai dua individu yang berlainan.

Pernikahan tidak dapat menjadikan dua individu menjadi satu individu dengan segala sesuatunya melebur menjadi satu, tetapi sebagai dua individu yang bisa saling melengkapi dan menguatkan. Karena tiap individu tidaklah mempunyai kemampuan yang sama dalam segala hal, mereka yang hidup sebagai suami dan istri dapat menggabungkan kemampuan mereka sehingga dengan kebersamaan yang ada, mereka dapat menghadapi tantangan hidup dengan saling menopang dan menguatkan.

Adalah akibat dosa bahwa hubungan antara suami dan istri itu menjadi rusak. Kejadian 3: 16 mengungkapkan bahwa sejak jatuhnya manusia, kaum wanita menjadi obyek kepuasan pria dan jatuh dibawah penguasaan pria. Memang sampai sekarang kita bisa melihat bahwa kaum wanita sering dieksploitir oleh kaum pria. Dengan kemajuan kebudayaan dan etika, terutama dengan pengaruh agama Kristen, hal ini menjadi berkurang, tetapi sungguh menyedihkan bahwa ketimpangan ini belum juga hilang.

Mungkin kisah penciptaan Hawa dari tulang rusuk Adam bisa memberi kita suatu pengertian bahwa status Hawa tidak lebih tinggi atau lebih rendah dari Adam. Mereka adalah mahluk yang berbeda tetapi sederajat. Selanjutnya iman Kristen, berbeda dengan kepercayaan lain, juga mengajarkan bahwa dalam Yesus tidak ada perbedaan status antara pria dan wanita. Dan karena itu kita wajib mengasihi dan menghormati semua orang yang sudah dipersatukan dalam Kristus.

“Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus.” Galatia 3: 28

Adalah manusia yang di sepanjang sejarah seringkali membuat perbedaan antara status pria dan wanita. Pada umumnya, sebagian suami memakai ayat dalam Efesus 5: 22 untuk menuntut agar istri mereka tunduk kepada mereka. Mereka tidak sadar bahwa “tunduk” disini adalah dalam fungsi rumah tangga, yaitu memberikan kesempatan kepada suami untuk memimpin rumah tangga. Sudah tentu ada kemungkinan bahwa seorang suami merasa bahwa dalam hal-hal tertentu, istrinya dapat berprestasi lebih baik darinya, dan untuk itu suami yang baik akan memberikan kesempatan kepada sang istri untuk memimpin. Menjadi pemimpin yang baik memerlukan kebijaksanaan untuk bisa mendelegasikan tugas untuk kepentingan dan kesatuan rumah tangga.

Adalah kenyataan hidup bahwa banyak kekacauan dalam rumah tangga Kristen timbul karena soal kepemimpinan itu. Mungkin karena suami ingin untuk istri tunduk dalam segala hal, mungkin juga karena istri merasa bahwa suami sudah bertindak dengan semena-mena. Memang hingga sekarang, kasus pelecehan dan penganiayaan dalam rumah tangga Kristen masih sering terjadi, mungkin tidak selalu melalui cara fisik, tetapi bisa juga secara emosi, spiritual dan finansial.

Pagi ini ayat dari kitab Kejadian diatas menegaskan bahwa suami dan istri adalah satu daging, satu tubuh secara jasmani. Lebih lanjut, ayat dari kitab Galatia menjelaskan bahwa dalam Kristus kita adalah satu secara rohani. Hubungan antara suami dan istri dengan demikian adalah hubungan antara anggota dari satu tubuh, jasmani dan rohani. Dengan demikian, hubungan antara keduanya harus dilandasi kesadaran bahwa mereka adalah sama derajatnya dan saling membutuhkan, saling menghormati dan saling mengasihi. Mereka harus sadar bahwa Tuhan memberi manusia bentuk, kemampuan dan fungsi yang berbeda-beda, tetapi dengan satu panggilan yaitu untuk memuliakanNya.

Surga adalah tujuan kita

“Tetapi sekarang mereka merindukan tanah air yang lebih baik yaitu satu tanah air sorgawi. Sebab itu Allah tidak malu disebut Allah mereka, karena Ia telah mempersiapkan sebuah kota bagi mereka.” Ibrani 11: 16

Bagaimana keadaan di surga? Apakah surga itu seperti sebuah kota atau sebuah negara? Ataukah itu seperti sebuah istana yang mempunyai banyak ruang? Tidak ada seorang manusia pun yang tahu jawabannya, walaupun Yesus pernah berkata bahwa di rumah Bapa ada banyak tempat tinggal.

“Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu.” Yohanes 14: 2

Satu hal yang jelas adalah bahwa surga adalah tempat yang besar dan indah dimana pengikut Yesus bisa merasakan keagungan Tuhan. Surga adalah tempat dimana Yesus dipermuliakan dan tempat dimana pengikutNya merasakan kebahagiaan bersama Dia.

Hidup di surga bukanlah kelanjutan hidup di dunia, karena apa yang akan kita alami di surga berpusat kepada Tuhan, bukan kepada diri kita sendiri. Di surga, umat yang sudah diselamatkan mengalami kepenuhan hidup, kebahagiaan dalam hubungan yang langsung dengan Tuhan yang Roh. Segala kebutuhan jasmani di dunia, seperti uang, mobil, kesehatan, seks dan sebagainya tidak lagi diperlukan di surga.

Dengan demikian, kita mengerti bahwa ada orang-orang di sekitar kita yang keliru menafsirkan bahwa kehidupan di surga adalah seperti kehidupan di dunia, dan bahwa kebutuhan jasmani dan kenikmatan duniawi di bumi juga dibutuhkan di surga. Mereka jelas mempunyai konsep yang salah dan berbeda mengenai Tuhan dan surga. Tuhan dan surga tidaklah sama dengan apa yang fana di dunia.

Walaupun demikian, banyak juga orang Kristen kurang mengerti bahwa hidup di surga adalah hidup yang berpusat kepada Tuhan, seperti sewaktu manusia belum jatuh kedalam dosa. Di surga, umat percaya dari segala penjuru dunia bersatu dalam menikmati kebahagiaan surgawi, dengan hidup bersama Tuhan dan memuliakan Dia setiap saat. Bagaimana mereka dapat mengerti hal itu dan menikmatinya jika mereka sekarang hanya hidup dalam lingkungan sendiri dan untuk kebutuhan diri sendiri? Dapatkah mereka bayangkan bahwa di surga, sekalipun mereka akan dapat mengenali sanak saudara, suami istri dan teman, mereka tidak lagi membutuhkan hubungan duniawi yang lama, karena semua orang akan menjadi saudara-saudara baru didalam Yesus?

Hidup didunia seharusnya merupakan persiapan untuk hidup di surga. Jika kita masih hidup di dunia, itu sebenarnya bukanlah hanya untuk menikmati kebahagiaan duniawi yang fana selagi masih bisa, tetapi untuk menjalankan tugas-tugas kita guna membawa sebanyak mungkin orang-orang yang ada disekitar kita untuk bisa bersama kita di surga, selagi masih ada kesempatan. Hidup di dunia juga merupakan kesempatan untuk melatih diri kita untuk menyesuaikan diri dengan kehidupan di surga yang berpusat kepada Kristus.

Pagi ini, sadarkah kita bahwa apa yang kita punyai dan nikmati saat ini akan hilang dan diganti dengan sesuatu yang berbeda dan jauh lebih berharga di surga? Ataukah kita tetap memusatkan hidup kita kepada hal-hal yang kelihatannya saja menyenangkan dan membuai di dunia ini?

“Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi. Sebab kamu telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah. Apabila Kristus, yang adalah hidup kita, menyatakan diri kelak, kamupun akan menyatakan diri bersama dengan Dia dalam kemuliaan.” Kolose 3: 2-4

Bolehkah kita berdiam diri saja?

“Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa.” Yakobus 4: 17

Ayat diatas adalah ayat yang mudah dimengerti, tetapi sukar untuk dilaksanakan sepenuhnya. Karena itu banyak orang Kristen yang mengabaikannya.

Dalam hidup bermasyarakat ada berbagai hukum, aturan dan etika yang tertulis dan yang tidak tertulis. Apa yang tertulis biasanya lebih sering dipatuhi, apalagi jika ada sanksinya; tetapi apa yang tidak tertulis biasanya sering dilupakan orang. Sebuah contoh adalah hal mengantri dan menjaga kesehatan, dimana kesadaran tiap orang adalah berbeda-beda. Hal tidak menggunakan sabuk pengaman mobil atau tidak membayar pajak adalah contoh lain dimana sekalipun ada aturan tertulis, orang mungkin sering kurang patuh, apalagi jika tidak ada orang yang tahu.

Dalam hal membangkitkan kesadaran hukum dan etika dalam masyarakat, kebanyakan orang Kristen memilih untuk bersikap pasif, dan menyesuaikan diri dengan situasi dan kondisi setempat. Mungkin dengan alasan untuk menghindari kesulitan atau permusuhan, ada orang Kristen dan juga pemimpin gereja yang berpandangan bahwa lebih enak berdiam diri dari pada ikut mencampuri urusan orang lain atau melakukan hal yang benar. Itu karena adanya kemungkinan untuk dituduh sebagai orang usil, atau untuk menjadi orang yang tidak disenangi orang lain. Selain itu, jika kita menegur orang lain mungkin ada tuduhan bahwa kita sudah menghakimi mereka. Mind your own business (kerjakan urusanmu sendiri) mungkin adalah prinsip yang sering dipakai untuk tidak mencampuri urusan orang lain dan untuk menolak campur tangan orang lain.

Rasul Paulus pun pernah mengalami pengalaman pahit ketika jemaat di Galatia menjadi kurang senang sebab ia mengutarakan perubahan yang terjadi dalam kehidupan mereka. Karena itu ia bertanya kepada jemaat Galatia:

“Apakah dengan mengatakan kebenaran kepadamu aku telah menjadi musuhmu?” Galatia 4: 16

Walaupun demikian, Alkitab menunjukkan bahwa rasul Paulus adalah orang yang selalu “blak-blakan” dan berpegang pada prinsip kebenaran. Ia tahu bahwa sebagai pengikut Kristus apa yang ya, hendaklah dikatakan: ya, dan jika tidak, hendaklah dikatakan: tidak (Matius 5: 37). Dengan berpegang teguh kepada kebenaran Tuhan di dalam kasih, umat Kristen justru bisa makin bertumbuh di dalam segala hal ke arah Kristus (Efesus 4: 15).

Pagi ini, kita semua dihadapkan pada sebuah pertanyaan: apakah kita boleh pasif, berdiam diri melihat adanya ketimpangan-ketimpangan dalam masyarakat di sekitar kita. Bolehkah kita mengabaikan hal yang seharusnya kita lakukan, untuk diri kita sendiri dan juga untuk orang lain, karena tidak ada orang yang berkeberatan dan juga karena tidak ada sanksinya? Ataukah sebagai orang Kristen kita selalu mau berusaha untuk menegakkan kebenaran karena hal itulah yang dikehendaki Tuhan? Ayat pembukaan kita berkata jika kita tahu apa yang baik tetapi tidak melakukannya, kita sudah dengan sengaja memilih untuk berbuat dosa. Karena itu dalam hidup bermasyarakat, sebagai orang Kristen kita tidak boleh bersikap acuh tak acuh akan semua hal yang baik yang harus dikerjakan!

Apakah yang kau cari?

“Karena itu, kalau kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus, carilah perkara yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah.” Kolose 3: 1

Sebagai mahluk sosial, manusia membutuhkan orang lain dalam hidupnya. Baik itu sanak sudara, teman maupun kolega, mereka kita butuhkan dalam hidup sehari-hari untuk berkomunikasi dan berinteraksi. Tanpa orang-orang disekitar kita, hidup kita bisa menjadi sepi atau merana.

Ada banyak contoh dimana orang terpaksa atau dipaksa hidup menyendiri selama bertahun-tahun. Di penjara, mungkin ada tempat khusus untuk menyekap orang-orang yang dianggap berbahaya, solitary confinement, dimana sang narapidana hanya menghadapi empat sisi tembok dan kegelapan setiap hari. Di alam bebas, ada juga orang yang menyekap diri dalam rumah atau kamar karena tidak mempunyai orang-orang yang bisa diajak berteman. Kebanyakan orang-orang yang hidup sedemikian lambat laun menjadi gila atau mengalami depresi berat.

Manusia merindukan adanya orang lain, membutuhkan apresiasi dan atensi sesama, dan karena itu sering berusaha sekuat tenaga agar orang disekitarnya bisa memberikan apa yang dibutuhkannya. Melalui hubungan suami- istri, persahabatan, kegiatan bisnis, sosial dan sebagainya, manusia menikmati adanya kepuasan tersendiri karena adanya perhatian yang diberikan orang-orang disekitarnya. Dan jika situasi dan kondisi hidup berubah, manusia berusaha mengobati kesepiannya dengan mencoba berbagai kegiatan baru. Mereka yang baru pensiun misalnya, bisa mengalami retirement syndrome atau post-power sydrome dan karena itu berusaha mencari aktifitas sosial yang baru. Sayang, seringkali kegiatan baru itu, baik makan-minum, pesta-pora ataupun hal-hal yang lain, justru bisa menambah kesepian hidupnya.

Apa yang mereka cari adalah kebahagiaan sejati, yang sebenarnya tidak pernah dipunyai sebelumnya. Kegiatan-kegiatan yang dipunyai disaat yang telah lalu memang bisa membuai mereka, seperti obat bius yang membuat mereka lupa bahwa semua itu adalah bagian hidup lama kita yang sudah seharusnya disalibkan.

Pagi ini ayat diatas mengingatkan kita bahwa kita harus selalu mengutamakan hubungan kita dengan Tuhan, supaya kita selalu merasa kuat dalam iman sebagai orang yang sudah bangkit bersama Kristus. Memang mungkin ada saat-saat dalam hidup dimana kita akan merasa kesepian dalam hidup kita. Apalagi jika usia mulai menanjak, dan orang-orang yang dulu dekat kita, satu persatu menghilang dari pandangan mata. Tetapi, jika kita selalu memusatkan hidup kita kepada Kristus, kita akan selalu merasakan bahwa Ia beserta kita dalam keadaan apapun.

“Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi. Sebab kamu telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah.” Kolose 3: 2-3

Mengasihi bukan dengan hati saja

“Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu.” Markus 12: 30

Dari mana datangnya cinta? Dari mata turun ke hati. Begitulah bunyi syair sebuah lagu lama. Hati sepertinya adalah tempat dimana cinta berada, dan dari mana cinta memancar. Walaupun demikian, gambar hati yang dipakai sebagai simbol cinta sebenarnya lebih mirip gambar jantung. Bagaimana hati muncul dalam bahasa Indonesia untuk menyatakan tempat cinta, sedangkan dalam bahasa Inggris kata jantunglah yang dipakai? Itu mungkin karena kebiasaan pemakaian kata yang sudah turun temurun.

Hati atau jantung? Keduanya penting untuk hidup manusia. Apapun kata yang dipakai untuk menunjukkan tempat beradanya cinta-kasih, jelas dari kata itu bahwa cinta harus tumbuh didalam hidup kita. Cinta kasih yang hanya terlihat diluar saja belumlah bisa menjamin kesungguhan jika tidak dimulai dari dalam hidup kita sehari-hari. Sebaliknya, cinta yang dipendam dalam hidup pribadi saja tidaklah cukup karena tidak ada faedahnya untuk orang yang dicintai. Cinta juga harus memancar keluar dari hati kita.

Ayat diatas adalah bagian yang pertama dari hukum yang paling utama, the greatest commandment, dalam Alkitab. Seluruh umat Kristen mengerti bahwa perintah untuk mengasihi Tuhan dan sesama manusia adalah satu perintah utama yang harus dijalankan dalam menjalani hidup di dunia ini. Walaupun perintah untuk mengasihi Tuhan sangat penting, dalam kenyataannya banyak orang Kristen yang tidak mau memikirkannya dalam-dalam.

Perintah untuk mengasihi Tuhan yang tidak kelihatan, jelas jauh lebih sulit dari perintah untuk mengasihi sesama manusia yang bisa kita lihat. Apalagi ada empat persyaratan yang harus kita penuhi: dengan segenap hati, dengan segenap jiwa, dengan segenap akal budi dan dengan segenap kekuatan. Kata “segenap” menunjuk pada keseluruhan dan kepenuhan, bukan hanya sebagian atau seadanya.

Manusia memang bisa mengakui adanya Tuhan dalam hatinya. Setidaknya karena manusia dapat melihat kasih dan kebesaran Tuhan yang memelihara hidupnya hari demi hari. Tetapi apakah itu cukup untuk membuat hatinya dipenuhi oleh rasa syukur dan kasih kepada Tuhan sehingga seluruh cara hidup, cara berpikir dan cara bekerja bisa sepenuhnya dipakai untuk mengasihi Tuhan?

Pagi ini firman Tuhan berkata bahwa mengasihi Tuhan tidaklah cukup dengan menyimpan Dia dalam hati kita. Kasih kepada Tuhan harus ditunjukkan keluar melalui segala sikap dan pandangan hidup kita, melalui segenap pikiran kita dan semua yang kita kerjakan. Hati yang bersyukur saja tidak cukup untuk menyatakan kasih kita kepada Tuhan!

Siapa sahabatmu?

“Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.” Yohanes 15: 13

Sebuah lagu gereja yang sangat terkenal adalah “What a friend we have in Jesus” yang aslinya ditulis oleh Joseph M. Scriven sebagai suatu syair pada tahun 1855 untuk menghibur ibunya yang berada di Irlandia sewaktu dia tinggal di Kanada. Lagu ini sudah diterjemahkan dalam banyak bahasa, dan salah satu versinya dalam bahasa Indonesia adalah sebagai berikut:

Yesus Sobat Yang Sejati,

tanggung s’gala dosaku,

tiap hal ‘ku boleh bawa,

dalam doa padaNya.

Bila hatiku gelisah,

percumalah berlelah,

bersandarlah pada Yesus,

berdoalah padaNya.

Lagu itu memang indah karena syairnya yang memberi kekuatan dan penghiburan di saat kita berada dalam kesulitan dan merasa bahwa tidak ada seorangpun yang bisa atau mau menolong kita.

Memang dalam hidup ini, setiap manusia membutuhkan teman sejati yang bisa dan mau menyertai kita baik dalam suka maupun duka. Barangkali, teman yang sedemikian muncul sebagai pasangan hidup, yang sudah berjanji di depan altar untuk sehidup semati dalam pernikahan. Tetapi, dalam kenyataannya banyak juga hidup pernikahan yang tidak langgeng atau tidak bahagia, karena kemampuan manusia untuk menjadi teman sejati orang lain adalah terbatas.

Apakah ada orang yang bisa menjadi teman sejati? Yang mau dan bisa hidup bersama kita untuk menghadapi semua suka dan duka dalam kehidupan kita? Tentu ada, walaupun tidak banyak. Seorang istri atau suami yang baik tentu mau menyertai pasangannya dalam menghadapi tantangan hidup, tetapi belum tentu bisa menolong pasangannya. Begitu juga, jarang ditemui orang yang bersedia untuk mati ganti orang lain.

Adalah kenyataan hidup bahwa jika kita berada dalam keadaan gembira, banyak teman yang mau beserta kita untuk bergembira bersama-sama. Tetapi, teman baik pun bisa meninggalkan kita ketika kita mengalami kesulitan hidup.

“Sahabat-sahabatku dan teman-temanku menyisih karena penyakitku, dan sanak saudaraku menjauh.” Mazmur 38: 11

Pagi ini, firman Tuhan menegaskan bahwa Yesus adalah sahabat kita yang sudah mati untuk ganti kita. Jika mungkin ada orang yang mau mengurbankan hidupnya untuk menggantikan orang lain yang baik, tidak ada orang yang mau mengurbankan dirinya untuk orang durhaka dan jahat. Hanya Yesus yang mau mati ganti kita selagi kita masih hidup dalam dosa.

Hari-hari mendatang mungkin adalah hari-hari yang penuh tanda tanya bagi kita. Akankah kita tetap berada dalam keadaan sehat, cukup dan bahagia? Ataukah kita akan jatuh sakit, hidup dalam kekurangan dan penderitaan? Itu bukanlah sesuatu yang harus kita pikirkan jika kita mempunyai sobat yang sejati, Yesus Kristus!

Pentingnya menjaga kesehatan

“Saudaraku yang kekasih, aku berdoa, semoga engkau baik-baik dan sehat-sehat saja dalam segala sesuatu, sama seperti jiwamu baik-baik saja.” 3 Yohanes 3: 1

Percayakah anda bahwa Tuhan memberkati anda dengan kekuatan rohani? Pertanyaan ini tidaklah sukar dijawab jika anda percaya sepenuhnya kepada Tuhan. Tetapi, jika pertanyaan ini diubah menjadi soal diberkati dalam kekuatan jasmani, jawaban kita mungkin agak kurang pasti. Sebab mereka yang sehat dan kuat rohaninya belum tentu sehat dan kuat jasmaninya. Bagi banyak orang, kekuatan rohani adalah perubahan hidup yang disebabkan oleh karunia Tuhan yang ajaib, tetapi kekuatan jasmani seolah adalah sesuatu yang harus diterima manusia sebagaimana adanya, paling tidak karena faktor keturunan. Hidup baru tampaknya hanya menyangkut rohani saja. Betulkah begitu?

Memang firman Tuhan lebih menekankan pentingnya keadaan rohani kita sebab itulah yang memungkinkan kita untuk menjumpai Tuhan di surga setelah tugas kita di dunia berakhir. Kita yang sudah dilahirkan dalam dosa sebagai keturunan Adam dan Hawa, bisa menerima keselamatan surgawi dalam Kristus. Karena itu, secara rohani tubuh kita sudah diperbaharui.

“Manusia pertama berasal dari debu tanah dan bersifat jasmani, manusia kedua berasal dari sorga.” 2 Korintus 15: 46

Walaupun demikian, hal itu tidak berarti bahwa kita boleh menyia-nyiakan tubuh jasmani kita; karena selama kita hidup di dunia, kita juga dapat memuliakan Tuhan dengan kemampuan jasmani kita. Jika kita mengabaikan kesehatan dan menelantarkan tubuh jasmani kita, sudah tentu kita mengurangi kesempatan untuk dapat memuliakan Dia yang menciptakan kita.

Banyak orang Kristen yang menggebu- gebu dalam kerohanian tetapi kurang mau memperhatikan kesehatan jasmaninya. Padahal, sebagai manusia kita diciptakan dalam satu paket yang terdiri dari roh dan tubuh. Hidup baru dalam Kristus seharusnya tidak hanya mengubah pandangan kita akan bagaimana memelihara kehidupan rohani kita tetapi juga pandangan kita tentang hal menjaga kehidupan jasmani kita.

Pagi ini, jika kita bangun dan merasa bahwa tubuh kita lemah dan semangat kita berkurang karena usia, penyakit atau kebiasaan hidup yang kurang baik, marilah kita memikirkan apa yang bisa kita perbuat untuk memperbaiki keadaan. Kita harus selalu berdoa memohon agar Tuhan memberi kita kebijaksanaan agar tidak meniru mereka yang menyia-nyiakan kesempatan yang ada untuk mempunyai kesehatan yang baik. Sebaliknya kita harus memilih cara hidup yang sehat, healthy living, agar kita dapat memakai kekuatan tubuh jasmani kita selama mungkin untuk tujuan-tujuan yang baik demi kemuliaan Tuhan. Itulah yang dikehendaki Tuhan selama kita hidup di dunia ini.

“Sebab yang sangat kurindukan dan kuharapkan ialah bahwa aku dalam segala hal tidak akan beroleh malu, melainkan seperti sediakala, demikianpun sekarang, Kristus dengan nyata dimuliakan di dalam tubuhku, baik oleh hidupku, maupun oleh matiku.” Filipi 1: 20

Mungkinkah kita tersesat?

“Tetapi aku takut, kalau-kalau pikiran kamu disesatkan dari kesetiaan kamu yang sejati kepada Kristus, sama seperti Hawa diperdayakan oleh ular itu dengan kelicikannya.” 2 Korintus 11: 3

Dalam berpergian ketempat asing adalah kurang menyenangkan jika kita tidak dapat menemukan jalan untuk mencapai tujuan kita. Mungkin jalan yang kita pilih pada mulanya tidak memberi kesan bahwa jalan itu adalah jalan yang keliru, tetapi kemudian kita bisa sadar bahwa kita telah tersesat. Kesadaran itu mungkin timbul karena apa yang kita tuju tidak kunjung terlihat, atau karena suasana disekitar kita yang terasa asing, atau mungkin juga karena ada orang yang menyadarkan kita.

Kesadaran saja, bahwa kita harus berganti haluan, tidak bisa menjamin bahwa kita akan menemukan jurusan yang benar. Tanpa mengganti jurusan, kita mungkin tidak bisa mencapai tujuan kita. Juga, tanpa memakai suatu pedoman arah, tidaklah mudah untuk memastikan kemana kita harus pergi. Dan sekalipun kita mempunyai pedoman arah, pengertian kita mungkin keliru. Memang jika kita benar-benar berada di tempat yang asing, kita harus selalu berhati-hati dan mau mempelajari medan.

Seperti itu jugalah hidup kita sebagai orang Kristen yang menuju ke tempat yang asing untuk kita yaitu surga. Banyak orang Kristen yang masih percaya bahwa mereka menuju ke surga melalui jalan tertentu, tetapi orang lain juga bisa menuju ke tempat yang sama melalui jalan lain. Padahal, pedoman arah kita, Alkitab, menulis bahwa Yesus berkata:

“Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” Yohanes 14: 6

Jika kita tahu bahwa ada satu jalan menuju kearah keselamatan, ada sebuah pertanyaan yang sering menggelitik kita: apakah kita bisa tersesat dalam perjalanan hidup ini? Ayat yang ditulis rasul Paulus dalam kitab 2 Korintus 11: 3 diatas menunjukkan bahwa kita bisa saja tersesat dalam iman kita. Memang di zaman ini, dimana “semangat persahabatan” antar umat Kristen lagi sering didengung-dengungkan, orang mungkin ragu untuk menegur orang lain. Tetapi, Paulus jelas tidak ragu untuk mengingatkan jika kita tidak mempunyai kesetiaan sejati kepada Kristus saja, kita mungkin sudah jatuh kedalam tipuan iblis. Ternyata, umat Kristen yang percaya kepada Yesus bisa saja tersesat jika kepercayaan kita kepadaNya tidak lagi murni.

Pagi ini kita diingatkan bahwa menjalani hidup kekristenan itu tidak mudah. Jika kita tidak selalu awas akan arah iman kita dan selalu memakai pedoman arah kita, Alkitab, dengan benar, kita akan bisa tersesat. Ada begitu banyak orang yang menunjukkan berbagai arah dan jurusan menuju kearah surga, dan ada begitu banyak orang yang percaya perlunya untuk mempunyai hal-hal ekstra diluar Yesus; semua itu bisa-bisa adalah tipu daya iblis yang berusaha memperdayakan kita.

Kita harus sadar bahwa seperti dalam melakukan perjalanan wisata kita harus selalu mau mempelajari medan dan memakai pedoman arah, dalam perjalanan hidup keimanan kita harus selalu mau mempelajari apakah yang kita percayai sudah dan tetap sesuai dengan firman Tuhan.

“Ingatlah juga bahwa dari kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus. Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.” 2 Timotius 3: 15-16