Sahabat yang sejati

“Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu.” Yohanes 15: 14

Wow! Hampir 100 orang menghadiri acara reuni semalam, dan mereka adalah bekas teman SD, SMP dan SMA yang sudah cukup lama tidak bertemu. Acara berlangsung meriah dan semua orang tampak gembira. Bagaikan sahabat kental saja, mereka bergembira dan bercakap-cakap dengan asyik, sekalipun pada masa sekolah mereka jarang berbincang-bincang. Agaknya satu hal yang menyatukan mereka semua adalah faktor masa lalu yang dialami bersama di sekolah dan juga karena dengan bertambahnya usia, mereka lebih menghargai adanya teman lama.

Pepatah mengatakan bahwa teman yang sejati adalah teman di waktu kita dalam kesulitan. A friend in need is a friend indeed. Memang teman dalam kegembiraan belum tentu bisa menjadi teman sejati. Untuk memperoleh teman sejati kita membutuhkan waktu. Waktulah yang akan menentukan apakah teman yang kita temui saat ini bisa menjadi teman sejati kita di masa depan, dan juga sebaliknya agar kita bisa menjadi teman sejati orang lain untuk selamanya.

Kalau tidak mudah bagi seseorang untuk menjadi teman sejati orang lain, bagaimana pula untuk menjadi teman sejati Yesus? Ayat diatas menunjukkan bahwa untuk menjadi teman sejati Yesus, kita harus bisa menjalankan apa yang diperintahkanNya. Bukan hanya percaya kepadaNya, tetapi hidup sesuai dengan apa yang diajarkanNya. Bukan hanya melakukan beberapa perintahNya, tetapi semua yang pernah diajarkanNya. Hanya waktu yang akan membuktikan apakah kita benar-benar teman sejati Yesus sampai akhir.

Pagi ini kita disadarkan bahwa untuk menjadi teman sejati itu tidak mudah. Perlu adanya dedikasi dan pengurbanan. Demikian pula untuk menjadi sahabat Yesus, kita perlu mempunyai kesetiaan dan mau menyerahkan hidup kita sepenuhnya kepada Dia.

Dalam hal ini, dalam kitab Yakobus 2: 22-24 ada tertulis bahwa iman bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna. Karena itu jugalah Abraham disebut sebagai Sahabat Allah. Jadi kita bisa melihat bahwa manusia dibenarkan karena perbuatan-perbuatan yang muncul sebagai bukti dari iman kita dan bukan hanya karena iman yang kosong saja!

“Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati.” Yakobus 2: 26

Mengapa tidak berubah?

“Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” Roma 6: 23

Ayat diatas adalah sebuah ayat yang sangat terkenal dan sering dipakai untuk memperingatkan agar orang tidak melakukan hal-hal yang menentang hukum Tuhan. Mereka yang hidup dalam dosa pada akhirnya akan menghadapi penghakiman Tuhan dan masuk ke neraka. Sebaliknya, mereka yang mau menerima karunia keselamatan dalam Kristus akan memperoleh hidup kekal di surga.

Memang ayat ini cukup mudah dimengerti jika hanya menyangkut perbedaan antara akhir hidup orang yang tidak percaya dan akhir hidup orang percaya. Masalah yang lebih rumit adalah hal berbuat dosa setiap hari dan akibatnya. Semua manusia tidak dapat bebas dari berbuat dosa selama hidup. Mengapa orang Kristen begitu yakin bahwa mereka bisa bebas dari maut?

Orang Kristen percaya bahwa tidak ada seorangpun yang layak dihadapan Tuhan. Semua orang sudah berdosa dan hanya bisa diselamatkan semata-mata karena kasih anugerah Tuhan.

“Tetapi ketika nyata kemurahan Allah, Juruselamat kita, dan kasih-Nya kepada manusia, pada waktu itu Dia telah menyelamatkan kita, bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan, tetapi karena rahmat-Nya oleh permandian kelahiran kembali dan oleh pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus.” Titus 3: 3-4

Apa yang membedakan hidup orang yang tidak percaya dengan hidup orang percaya? Apakah bedanya hanya terletak pada kejakinan sepihak dan kesombongan orang Krisren, yang merasa mereka sudah dipilih oleh Tuhan untuk diselamatkan?

Ada orang Kristen yang berpendapat bahwa mereka sudah berusaha untuk mengurangi dosa mereka dan berkeyakinan bahwa Tuhan yang maha kasih tentu tahu bahwa sebagai manusia mereka punya kelemahan, dan karena itu Tuhan pasti selalu mau mengampuni dosa yang sama setiap hari.

Ada juga mereka yang berpendapat bahwa jika semua yang terjadi ada dalam kedaulatan Tuhan, tentulah dosa mereka juga sudah termasuk dalam rencana Tuhan yang tidak dapat mereka hindari.

Pagi ini kita harus sadar bahwa penebusan dosa kita oleh darah Kristus seharusnya bukan hanya sebuah even yang mengubah cara hidup kita dalam satu saat saja. Tetapi hidup kita harus selalu tumbuh dan mengalami pembaharuan dan pengudusan secara terus menerus yang dikerjakan oleh Roh Kudus.

Hidup yang sudah menerima Kristus tidak mungkin untuk tidak berubah karena adanya Roh Kudus yang tinggal didalam hati kita. Sebaliknya, jika pembaharuan hidup kita tidak terjadi, patutlah kita bertanya kepada diri kita sendiri: apakah kita benar-benar sudah menyerahkan hidup kita kepada Kristus?

“Tetapi sekarang, setelah kamu dimerdekakan dari dosa dan setelah kamu menjadi hamba Allah, kamu beroleh buah yang membawa kamu kepada pengudusan dan sebagai kesudahannya ialah hidup yang kekal.” Roma 6: 22

Tuhan itu maha tahu

“Mata TUHAN ada di segala tempat, mengawasi orang jahat dan orang baik.” Amsal 15: 3

Pagi ini saya bangun jam 3.30 pagi karena harus ke bandara Chengdu untuk kembali ke Surabaya. Petualangan di Sichuan sudah berakhir kemarin malam dengan acara shopping di pusat pertokoan Global Center yang terbesar di dunia.

Bandara Internasional Chengdu termasuk cukup besar tetapi tidak terlalu sibuk di pagi hari ini. Walaupun demikian, untuk bisa memasuki tempat boarding saya harus melalui 3 mesin x-ray untuk pemeriksaan bagasi. Memang dalam soal keamanan, bandara ini kelihatannya termasuk paling ketat di China. Saya bisa membayangkan betapa sibuknya bandara ini jika para penumpang harus mengantri pemeriksaan ketat seperti ini ketika hari mulai siang.

Semua pemeriksaan keamanan di bandara manapun bertujuan untuk mencegah adanya penumpang yang membawa benda-benda terlarang yang bisa membahayakan penerbangan. Tanpa pemeriksaan x- ray yang ketat, penumpang bisa saja, dengan sengaja atau tidak, membawa benda-benda berbahaya kedalam pesawat. Alat x-ray dalam hal ini memang menjadi alat yang sangat berguna, seperti mata yang mampu melihat apa yang tidak terlihat mata manusia. Hanya saja, alat itu tidak dapat membaca maksud dan pikiran penumpang. Karena itu, kadang-kadang ada saja orang yang sempat membuat kekacauan dalam penerbangan.

Berbeda dengan manusia dengan keterbatasannya, Tuhan mempunyai mata yang tidak hanya bisa melihat apa yang terjadi di dunia dan di jagad raya, tetapi juga bisa melihat apa yang ada dalam hati dan pikiran manusia. Tuhan juga tahu apa yang sudah lampau, yang sekarang ada, dan apa yang akan terjadi.

Sering manusia meragukan kemampuan Tuhan yang maha tahu ini karena seolah Dia tidak peduli dengan adanya orang-orang yang jahat di sekitarnya, dan terutama adanya orang-orang yang menjahatinya. Kalaupun Tuhan itu maha tahu, ada perasaan yang sering muncul bahwa Tuhan itu semena-mena dan kurang mau menunjukkan kasihNya dalam hidup setiap anakNya yang bergumul di dunia.

Pagi ini ayat diatas mengingatkan bahwa kita tidak perlu meragukan bahwa mata TUHAN ada di segala tempat, mengawasi orang jahat dan orang baik. Tuhan tidak pernah tertidur dan selalu tahu apa yang ada dalam hidup semua orang di dunia. Memang, jika kita sedang berada dalam kesulitan, iman kita mengalami ujian untuk bisa mempercayai kuasa dan kasihNya, karena dengan mata jasmani kita tidak dapat melihat apa arti semuanya dan mengetahui apa yang akan terjadi. Tetapi iman orang percaya adalah karunia Tuhan yang merupakan mata rohani, dengan itu kita bisa melihat apa arti hidup ini dan mempercayai bahwa apa yang akan terjadi di masa depan akan membawa berkat kepada kita.

“Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.” Ibrani 11: 1

Apakah Tuhan pencipta malapetaka?

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Roma 8: 28

Kemarin siang, dalam perjalanan kembali ke Chengdu, bis kami berhenti di suatu tempat yang merupakan pusat epicenter gempa besar berskala 8 Richter pada tahun 2008. Hampir 100 ribu orang tewas dan lebih dari 300 ribu orang mengalami luka-luka karena gempa itu. Tour leader kami mengungkapkan bahwa rakyat Chengdu merasa bahwa Tuhan memberikan dua hal yang bertentangan kepada mereka: keindahan alam dan bencana alam.

Untuk banyak orang lain, Kristen maupun bukan, memang sering muncul pertanyaan apakah Tuhan selalu dibalik semua bencana di dunia ini. Pertanyaan ini tidak mudah dijawab karena Alkitab banyak menceritakan saat- saat dimana Tuhan marah dan menjatuhkan hukuman kepada orang atau bangsa tertentu.

Tidak ada seorangpun yang dapat memberikan jawaban yang bisa memberikan jawaban yang memuaskan semua orang, terutama mereka yang tertimpa bencana. Namun ada beberapa pokok pemikiran yang bisa kita pelajari dari Alkitab.

  • Tuhan adalah Sang Pencipta dan maha kasih. Sebagai Tuhan yang mencipta dan menghargai ciptaanNya, Ia tidak mungkin menjadi Tuhan yang senang merusak ciptaanNya sendiri. Tuhan justru ingin agar umatNya hidup bahagia.
  • Tuhan maha kuasa dan maha suci, dan Ia ingin agar mereka yang dipilihNya untuk hidup sesuai dengan perintahNya. Karena itu, kadang-kadang Ia memberikan hajaran agar mereka bertobat.
  • Manusia sudah jatuh dalam dosa dan dunia itu bukan Firdaus lagi. Sesuatu yang buruk terjadi karena yang baik sudah hilang. Dunia ini menjadi kacau dan iblis selalu berusaha menghancurkan manusia.
  • Dalam keadaan khusus, bencana bisa terjadi sebagai hukuman Tuhan. Ini adalah karena kesalahan manusia sendiri, terutama jika pempimpin atau bangsa melakukan hal-hal yang jahat.
  • Bencana bisa terjadi kepada siapapun juga. Jika seorang mengalami bencana, itu belum tentu sehubungan dengan dosanya. Belum tentu itu menunjukkan bahwa dosanya lebih besar dari dosa orang lain.

Pagi ini, sebagai umat percaya kita diingatkan untuk selalu berdoa meminta perlindungan Tuhan agar bencana tidak terjadi dalam hidup kita, dalam keluarga, gereja, bangsa dan negara. Kita juga harus berdoa agar semua orang yang ada dalam hidup kita berjalan di jalan yang benar, untuk tidak menghujat nama Tuhan. Lebih dari itu, apapun yang terjadi dalam hidup kita, kita harus percaya bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu yang terjadi dalam hidup kita untuk mendatangkan kebaikan bagi kita.

Nafas kehidupan

“Ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup.” Kejadian 2: 7

Hari kemarin perjalanan kami dilanjutkan dengan bis menuju gunung Siguniang yang tingginya 6250 meter. Tentunya kami tidak dapat mengunjungi puncak gunung itu, tetapi tempat pemberhentian bis kami sudah berada pada ketinggian lebih dari 4000 meter. Kadar oksigen di udara sudah berkurang dan itu membuat orang sulit bernafas.

Memang hal bernafas adalah sesuatu yang biasa kita lakukan sehingga tidak pernah kita pikirkan; sampai tiba saat seperti kemarin yang membuat saya berpikir betapa ajaib ciptaan-ciptaan Tuhan itu, terutama jika kita membaca bagaimana Tuhan menciptakan manusia dan memberinya nafas hidup dan roh yang membedakan dirinya dengan mahluk lain.

Manusia bisa membuat segala sesuatu yang hebat dengan pikiran dan usahanya, tetapi kehidupan di dunia ini tidak dapat diciptakannya dari apa yang tidak ada, dan jika nafas hidup itu pada saatnya akan hilang, itupun tidak dapat dihindarinya.

Adalah suatu pertanyaan jika nafas hidup itu benar-benar penting, mengapa banyak manusia yang kurang memikirkan maknanya. Bahwa manusia adalah ciptaan khusus yang seharusnya mempunyai ikatan roh yang kuat dengan Sang Pencipta. Dalam kenyataannya, manusia seringkali melupakan bahwa sekalipun tubuh jasmani itu ada, tubuh rohani akan mati jika manusia tidak mencari kesempatan yang ada untuk selalu berhubungan intim dengan Tuhan, sumber kehidupannya.

Pagi ini kita diperingatkan bahwa bagaimanapun sibuknya hidup kita ini, biarlah kita tetap ingat bahwa Tuhanlah sumber kehidupan kita. Ialah yang sanggup membuat kita hidup dengan kuat, tidak hanya dari segi jasmani, tetapi juga dari segi rohani. Kita harus ingat bahwa Tuhan menciptakan kita di dunia ini sebagai satu paket yang utuh; dan demi kebahagiaan hidup kita sendiri, keduanya selalu memerlukan bimbingan dan kekuatan dari Tuhan!

“Roh Allah telah membuat aku, dan nafas Yang Mahakuasa membuat aku hidup.” Ayub 33: 4

Tuhan itu dekat

“TUHAN dekat pada setiap orang yang berseru kepada-Nya, pada setiap orang yang berseru kepada-Nya dalam kesetiaan.” Mazmur 145: 18

Dalam perjalanan berbis menuju kota Danba, kota yang dihuni suku Tibet di Sichuan kemarin, saya melihat padang rumput dengan latar belakang bukit-bukit karang yang tinggi. Terlihat sapi-sapi berbulu tebal, yak, yang merumput dan yang kadang-kadang menyeberangi jalan sehingga bis kami harus berhenti. Pemandangan cukup menarik, apalagi dengan adanya rumah-rumah penduduk yang bentuknya khas dan tempat-tempat yang dihiasi dengan kain berwarna-warni dan tulisan-tulisan sebagai bagian dari ritual untuk tuhan mereka.

Dalam banyak kepercayaan, memang manusia harus berusaha untuk mendekati sang pencipta yang maha kuasa dan menyembahnya agar hidup mereka diberkati. Dalam hal ini, umat Kristen tidak berbeda karena mereka boleh berdoa seberapa banyak dalam sehari untuk berkomunikasi dengan Tuhan di surga.

Sebagai manusia yang mempunyai berbagai kebutuhan, kita pun percaya bahwa Tuhan yang maha kasih selalu mengabulkan permintaan doa kita apabila itu sesuai dengan kehendakNya.

“Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.” Matius 7: 7

Walaupun demikian, berbeda dengan banyak kepercayaan lain, orang Kristen tidak perlu lagi bergantung kepada berbagai ritual untuk menghampiri Tuhan. Tuhan yang sudah pernah datang ke dunia dalam bentuk manusia yang bernama Yesus itu sekarang berada di surga, menantikan doa-doa setiap orang, dimana saja, yang berseru kepadaNya. Lebih dari itu, orang Kristen sudah dikaruniai dengan Roh Kudus, Tuhan yang hidup dalam tiap orang percaya, yang mau membantu mereka dalam berdoa.

Dalam kenyataannya, tanpa ritual banyak orang Kristen justru kurang bisa merasakan bahwa Tuhan yang maha besar itu betul-betul ada di setiap saat dalam hidup mereka. Dalam kesibukan hidup, mereka mungkin hanya jarang-jarang menghampiri Tuhan. Itupun dilakukan tanpa penyembahan dengan sepenuh hati. Bagi mereka Tuhan mungkin seperti seorang teman baik saja. Teman baik yang selalu sabar sekalipun mereka sering acuh tak acuh.

Memang benar bahwa kita tidak lagi mempunyai ritual-ritual khusus untuk memanggil Tuhan atau untuk menjumpaiNya. Itu karena Yesus sudah mati untuk memungkinkan hubungan langsung antara umat dan Tuhannya. Walaupun demikian, itu tidak berarti bahwa Tuhan tidak lagi Tuhan yang maha kuasa dan maha suci.

Pagi ini kita diingatkan bahwa adalah keliru jika kita berpikir bahwa Tuhan selalu menyertai hidup kita sekalipun kita hidup hanya untuk diri sendiri dan jarang berdoa kepada-Nya. Tuhan dekat pada setiap orang yang berseru kepada-Nya, pada setiap orang yang berseru kepada-Nya dalam kesetiaan!

Yesus itu Tuhan

“Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan, karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia.” Kolose 1: 16

Hari ketiga di China dipakai untuk mengunjungi tempat glacier di Hailuoguo. Daerah bergunung batu itu berada di ketinggian sekitar 3500m dari muka laut, dan karena itu pernafasan terasa sesak dengan tipisnya kadar oksigen di udara. Di daerah itu gunung-gunung batu dengan berbagai bentuk dapat dilihat di sepanjang jalan dan mau tidak mau membuat saya memuji kebesaran Tuhan Sang Pencipta.

“Betapa banyak perbuatan-Mu, ya TUHAN, sekaliannya Kaujadikan dengan kebijaksanaan, bumi penuh dengan ciptaan-Mu.” Mazmur 104: 24

Bagi orang percaya, bumi dan isinya memang menunjuk kepada kebesaran Tuhan. Iman kita memberi keyakinan bahwa seisi bumi yang kelihatan adalah diciptakan oleh Allah, Roh yang tidak kelihatan. Allah adalah Bapa yang maha kuasa dan maha kasih. Allah jugalah yang menjanjikan datangnya seorang Juruselamat untuk menebus dosa manusia, yaitu Yesus Kristus.

Jika Allah Bapa sering dibayangkan sebagai Tuhan dalam Alkitab perjanjian lama karena penciptaan alam semesta dan segala apa yang diperbuatNya bagi bani Israel, Yesus mungkin lebih mudah dibayangkan sebagai Juruselamat bagi umat manusia di era Perjanjian Baru. Benarkah “pembagian tugas” antara Allah Bapa dan Anak seperti ini?

Ayat dalam Kolose 1: 16 diatas menyatakan bahwa Yesus sudah ada dari awalnya. Yesus yang pernah muncul sebagai manusia di dunia adalah gambar Allah yang roh, lebih utama dari segala yang diciptakan, karena di dalam Yesuslah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi. Apapun yang berkuasa di bumi, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; semuanya diciptakan oleh Yesus dan untuk kemuliaan Yesus. Yesus dengan demikian adalah satu dengan Allah Bapa dan Roh Kudus.

Pada hari Minggu ini kita diingatkan bahwa dimanapun kita berada dan melihat kebesaran ciptaan Allah, kita harus bersyukur bahwa kita juga ciptaanNya yang sudah diperbaharui oleh Yesus Kristus dengan pengurbananNya di kayu salib untuk ganti dosa kita. Kita juga harus bersyukur karena Roh Kudus, Tuhan sendiri, juga hidup dalam diri kita. Marilah kita memuji Tuhan kita yang satu dan yang maha kasih dan maha bijaksana!

“Pujilah Tuhan, hai kamu semua bangsa-bangsa, dan biarlah segala suku bangsa memuji Dia” Roma 15: 11

Tuhan mencintai segala bangsa

“Simon telah menceriterakan, bahwa sejak semula Allah menunjukkan rahmat-Nya kepada bangsa-bangsa lain, yaitu dengan memilih suatu umat dari antara mereka bagi nama-Nya.” Kisah Para Rasul 15: 14

Kemarin adalah hari kedua saya di China. Perjalanan rombongan sebanyak 30 orang dengan bis melalui jalan pegunungan Sichuan yang berliku-liku sangat melelahkan. Dengan berkat perlindungan Tuhan kami sampai di hotel pada jam 9.30 malam.

Sepanjang perjalanan saya melihat kehidupan masyarakat di desa-desa, yang kebanyakan berciri agraris. Industri setempat yang banyak jumlahnya adalah industri pemecahan batu untuk dijadikan bahan bangunan.

Melihat adanya begitu banyak orang desa yang berlalu-lalang di tempat-tempat dimana bis kami sempat berhenti, mau tidak mau saya berpikir dalam- dalam. Apakah mereka ini adalah orang-orang yang sudah “ditakdirkan” Tuhan untuk tidak bisa ke surga?

Saya tidak percaya akan hal itu. Saya yakin bahwa James Hudson Taylor (21 Mei 1832 – 3 Juni 1905) pergi menginjil ke China dengan kepercayaan bahwa Yesus mencintai segala bangsa. Taylor menghabiskan 51 tahun di China, dan mampu berkhotbah dalam beberapa jenis bahasa setempat. Saya yakin bahwa Taylor paham akan ayat diatas, dimana Paulus mengulangi nasihat Simon bahwa Tuhan memilih bani Israel dari antara bangsa-bangsa, supaya semua orang lain yang mencari Tuhan dan segala bangsa yang tidak mengenal Allah menjadi milikNya.

Pagi ini, firman Tuhan menyatakan bahwa kalau anda sudah menerima Yesus, itu bukan hanya agar anda bisa masuk ke surga. Tuhan memilih anda untuk menjadi anakNya bukan hanya untuk menyelamatkan anda saja. Memang jika kita tahu bahwa kita telah diselamatkan, kita berbahagia karena kita sudah menerima kasihNya. Tetapi, jika kita tidak peduli akan keselamatan orang lain, itu berarti kasih Tuhan tidak ada dalam diri kita. Tuhan menghendaki kita untuk menjadi orang-orang Kristen yang menunjukkan hidup baru kita kepada semua orang, kepada semua bangsa, agar mereka bisa memuliakan nama Tuhan seperti kita.

Hal kelelahan

“Engkau akan menjadi sangat lelah, baik engkau baik bangsa yang beserta engkau ini; sebab pekerjaan ini terlalu berat bagimu, takkan sanggup engkau melakukannya seorang diri saja.” Keluaran 18: 18

Pagi ini saya berada di Chengdu, China. Perjalanan kesana cukup jauh dan melelahkan dan semalam saya hanya sempat tidur selama 4 jam. Karena itu sekarang saya merasa letih sekali. Kelelahan adalah keadaan yang tidak dapat kita hindari karena keterbatasan manusia.

Kelelahan sebenarnya bukan akibat dari dosa. Dari awalnya, Tuhan menciptakan siang dan malam, dan malam adalah waktu untuk beristirahat bagi manusia. Juga, hari ke tujuh adalah hari yang ditetapkan Tuhan sebagai hari bagi manusia untuk beristirahat.

Dosa memang membuat hidup di bumi ini menjadi berat, dan kelelahan bisa membuat manusia makin menderita. Tetapi, kelelahan bisa berguna untuk mengingatkan kita untuk berhenti bekerja untuk memulihkan kekuatan kita. Jika kita sering mengabaikan kelelahan kita, itu adalah dosa. Lambat laun kesehatan dan keseimbangan hidup kita akan terganggu karenanya.

Dalam ayat diatas, mertua Musa mengingatkan Musa agar berhati-hati dalam menjalankan tugasnya sebagai pemimpin agar ia tidak menjadi terlalu lelah. Sebagai pemimpin, Musa pada mulanya selalu menghadapi segala persoalan bani Israel seorang diri. Hal itu tentunya akan menghabiskan waktu dan tenaganya. Mertua Musa, dengan kebijaksanaan dari Allah, mengusulkan agar Musa memilih orang-orang yang pandai dan takut akan Allah untuk menolong Musa. Kelelahan membawa kesadaran akan keterbatasan kita dan mendorong kita untuk memohon kebjaksanaan dari Tuhan.

Pagi ini kita diingatkan bahwa kelelahan itu bisa menjadi berkat untuk kita jika kita tidak mengabaikannya. Banyak orang yang jatuh sakit karena mereka tidak bisa mengukur kekuatannya atau tidak bekerja dengan cara yang bijaksana. Seringkali juga orang menjadi lelah karena tidak mau menerima bantuan atau nasihat orang-orang lain. Lebih dari itu, kita juga sering menjadi lelah karena kita tidak mau menyerahkan persoalan kita kepada Tuhan.

“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” Matius 11: 28

Bertekun dalam doa

“Bertekunlah dalam doa dan dalam pada itu berjaga-jagalah sambil mengucap syukur.” Kolose 4: 2

Doa adalah komunkasi kita dengan Sang Pencipta. Untuk orang Kristen, kesempatan berdoa secara langsung kepada Tuhan adalah berkat karunia yang dimungkinkan oleh kematian Yesus Kristus untuk menebus dosa manusia.

Dalam doa yang diajarkan oleh Yesus, kita diajar untuk memanggil Tuhan sebagai Bapa kami. Itu menunjukkan adanya keeratan hubungan antara umat dan Tuhan. Itu juga menunjukkan bahwa sebagai anak-anak Allah, kita bebas berdoa dan bercakap-cakap denganNya setiap saat dan bukan hanya beberapa kali saja dalam sehari.

Berdoa bukan hanya kebiasaan saja, yang ditentukan oleh hukum Tuhan. Karena jika kita hanya berdoa dua kali sehari saja, seperti yang dibiasakan oleh sebagian orang Kristen, doa kita bisa menjadi sekedar ritual agama. Tetapi keKristenan bukanlah sebuah agama, melainkan sebuah iman kepercayaan bahwa kita mempunyai Bapa di surga. Karena itu kita bisa dan harus berdoa kapan saja, terutama jika kita merasa rindu bercakap dengan Bapa kita.

Kapankah kita merasa rindu kepada Tuhan? Itulah pertanyaan yang hanya bisa dijawab setiap pribadi. Tetapi jelas bahwa jika kita hanya berdoa dua kali sehari, itu menandakan bahwa diluar waktu berdoa itu kita mungkin melupakan bahwa Tuhan menunggu kita untuk bercakap secara intim dengannya.

Bagi kita yang mengalami masalah hidup yang berat, mungkin ada dorongan untuk kita agar lebih sering berdoa, karena kita membutuhkan pertolongan Tuhan. Tetapi, jika kita berada dalam keadaan nyaman dan aman, keinginan untuk berdoa mungkin berkurang.

Pagi ini kita diingatkan melalui ayat diatas bahwa dalam hidup ini kita harus bertekun dalam doa dan dalam pada itu berjaga-jaga sambil mengucap syukur. Rasa syukur adalah kunci iman yang harus kita nyatakan dalam doa kita dalam keadaan apapun. Rasa syukur membuat iman kita tetap kuat dalam menghadapi persoalan apapun. Karena itu, tidaklah ada alasan untuk kita membatasi saat berdoa. Jika kita beriman, kita harus bisa bersyukur setiap saat. Dan jika hidup kita penuh rasa syukur, pastilah kita ingin berkomunikasi dengan Tuhan sesering mungkin!