Tidak ada iman tanpa rasa syukur

“Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.” 1 Tesalonika 5: 18

Bersyukur. Rasa syukur. Lebih mudah mengucapkannya daripada melakukannya. Apalagi jika bencana atau kesulitan hidup datang menimpa. Orang mungkin bisa mengadakan acara syukuran akbar, tetapi hidupnya tidak sepenuhnya terisi rasa syukur. Orang juga bisa bersyukur, tetapi rasa syukur itu dinyatakan atas “nasib mujur” yang dialaminya.

Mengapa harus selalu bersyukur? Kita bersyukur karena itu yang dikehendaki Tuhan kepada setiap umatNya. Mungkin banyak orang tidak sadar bahwa rasa syukur itu bertautan dengan iman kepada Tuhan yang membimbing umatNya baik dalam suka maupun duka.

Mereka yang tidak mengenal Tuhan, tidak akan menjalankan perintahNya. Mereka yang tidak dapat merasakan bimbingan Tuhan dalam hidupnya, akan sulit untuk bersyukur. Tidak ada iman, tidak ada rasa syukur. Adanya rasa syukur menunjukkan adanya iman kepada Tuhan yang memegang kontrol.

Ada banyak orang Kristen yang bersyukur jika hidupnya berkelimpahan, kesehatan baik, dan segala sesuatu berjalan mulus. Bersyukur atas keadaan yang menyenangkan memang mudah. Tetapi, adanya tantangan kehidupan membuat orang merasa sulit untuk bersyukur. Padahal, jika iman itu masih ada, tentunya kita masih bisa bersyukur atas kekuatan dan penyertaan Tuhan yang masih bisa dirasakan. Dengan demikian, jika seorang tidak dapat bersyukur dalam hidupnya, patut dipertanyakan apakah masih ada iman dalam hatinya.

“Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” Filipi 4: 13

Pagi ini kita diingatkan bahwa Tuhan menghendaki kita untuk mempercayai Dia secara penuh dalam setiap keadaan sehingga kita tidak hancur dalam menghadapi tekanan kehidupan. Agar kita bisa bersyukur dalam setiap keadaan dan mempunyai iman bahwa Tuhan memegang kemudi kehidupan anak-anakNya. God is in control.

“Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah! Aku ditinggikan di antara bangsa-bangsa, ditinggikan di bumi! TUHAN semesta alam menyertai kita,kota benteng kita ialah Allah Yakub.” Mazmur 46: 10-11

Hal keadilan di dunia

Ada suatu kesia-siaan yang terjadi di atas bumi: ada orang-orang benar, yang menerima ganjaran yang layak untuk perbuatan orang fasik, dan ada orang-orang fasik yang menerima pahala yang layak untuk perbuatan orang benar. Aku berkata: “Inipun sia-sia!” Pengkhotbah 8: 14

Suatu pertanyaan bagi banyak orang yang hidup di dunia ini adalah soal keadilan sosial. Jika seorang mau melihat keadaan di sekitarnya, ia akan bisa melihat bahwa ada banyak ketimpangan keadaan dimana-mana. Ada banyak orang yang hidup menderita karena mereka tidak dapat memperoleh pekerjaan yang layak. Mungkin bukan karena kesalahan mereka jika begitu banyak orang yang harus bersaing untuk jumlah pekerjaan yang tidak cukup. Sebaliknya, ada orang-orang yang berkedudukan tinggi yang sebenarnya tidak pantas untuk menjabat, bukan saja karena kurangnya prestasi, tetapi juga karena berbagai hal yang tidak baik yang dilakukan mereka. Mengapa Tuhan membiarkan hal itu?

Pertanyaan ini adalah pertanyaan klasik yang sudah ada sejak dulu. Pertanyaan yang sama dilontarkan oleh penulis kitab Pengkhotbah. Ia membandingkan mereka yang hidupnya jujur dan baik dengan orang-orang lain yang tidak jujur dan jahat, dan Ia melihat ketidakadilan.

Tuhan seolah membiarkan ketimpangan terjadi di dunia ini. Menurut cara berpikir manusia, adalah mudah bagi Tuhan untuk meyakinkan manusia kepada kebesaranNya di dunia: dengan memberi hidup sengsara kepada orang jahat dan hidup nyaman kepada orang baik. Ini memang juga diajarkan oleh sebagian hamba Tuhan, bahwa Tuhan selalu memberi kesuksesan dan kelimpahan kepada orang yang benar.

Walaupun demikian, pandangan sedemikian tidak dapat dipertahankan setidaknya karena beberapa hal:

  1. Alkitab menunjukkan bahwa belum tentu orang yang mengasihi dan dikasihi Tuhan mempunyai hidup yang selalu mulus.
  2. Dalam sejarah manusia, banyak orang Kristen yang dianiaya karena iman mereka.
  3. Dunia ini sudah jatuh kedalam dosa sehingga seringkali manusia tergoda untuk menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya.
  4. Dalam kenyataannya, tidaklah ada orang yang baik di hadapan Tuhan. Semua manusia sudah berdosa dan tidak patut mendapat perlakuan istimewa dari Tuhan.
  5. Tuhan yang maha kuasa adalah Tuhan yang berhak memberi apa yang sesuai dengan kehendakNya.

Bagaimana manusia bisa mengeluh bahwa Tuhan itu tidak adil jika seisi dunia ini melalui dosa Adam dan Hawa sudah memilih untuk menjauhkan diri dari bimbinganNya? Salahkah Tuhan ketika Ia mengusir mereka dari taman Firdaus?

Pagi ini kita harus sadar bahwa karena kesalahan manusia sendiri, hidup ini menjadi berat (Kejadian 3: 17-18). Dengan itu, manusia pun bertambah jauh dari Tuhan dan bahkan tidak mempercayai adanya Tuhan yang tetap berkuasa atas mereka. Tetapi kematian dan kebangkitan Kristus adalah bukti nyata bahwa Tuhan masih tetap berkuasa atas dunia dan bahkan Ia sudah mengalahkan kuasa iblis. Bagi mereka yang percaya kepada Yesus, keadilan Tuhan pada saatnya akan dinyatakan.

“Ia tidak membiarkan orang fasik hidup, tetapi memberi keadilan kepada orang-orang sengsara; Ia tidak mengalihkan pandangan mata-Nya dari orang benar, tetapi menempatkan mereka untuk selama-lamanya di samping raja-raja di atas takhta, sehingga mereka tinggi martabatnya.” Ayub 36: 6-7

Buang saja sampah itu!

“Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus” Filipi 4: 8

Di berbagai negara, orang Kristen merayakan Paskah, hari kebangkitan Kristus. Ada sebagian yang menyebutkannya sebagai Easter celebration atau Passover celebration, tetapi semuanya mempunyai maksud yang sama: merayakan Kristus yang sudah menang atas maut. Perayaan ini seharusnya adalah lebih penting dari perayaan Natal, karena kebangkitan Kristus itulah yang membuat iman kita tidak sia-sia (1 Korintus 15: 14, 17).

Setelah kita merayakan Paskah pada hari Minggu, penduduk beberapa negara masih mempunyai satu hari libur tambahan yaitu hari Senin Paskah atau Easter Monday. Tetapi, di Indonesia orang kembali bekerja pada hari Senin sesudah Paskah. Hidup kembali berjalan seperti biasa.

Hidup yang kembali normal umumnya berarti menjalankan tugas sehari- hari seperti biasa. Mereka yang bekerja di kantor, pabrik, sekolah, universitas, dan gereja dan juga yang bekerja di rumah, harus menghadapi segala hal rutin dan tidak rutin, yang harus diselesaikan. Segala cara hidup yang sudah biasa dilakukan, harus dijalankan seperti sebelumnya. Dunia berputar dan tidak ada yang berubah. Benarkah?

Kebangkitan Kristus sebenarnya adalah suatu hal yang tidak masuk akal untuk ukuran manusia. Manusia sudah seharusnya mati pada saatnya, dan kematian itu merupakan akhir segalanya. Yesus merubah persepsi yang salah itu dengan menyatakan bahwa kematian tubuh adalah permulaan segala yang indah dan baik bagi mereka yang percaya. Selain itu, hidup baru di dalam Kristus bisa dimulai di dunia, setelah kita mengerti apa arti kematian dan kebangkitanNya.

Apa arti kematian dan kebangkitan Kristus dalam hidup sehari-hari? Mati dalam Kristus, seperti yang Paulus tulis dalam Filipi 4: 8, adalah menanggalkan cara hidup yang lama, yang menggantungkan diri pada hal-hal yang serupa sampah (atau kotoran binatang dalam bahasa Yunani). Mungkin itu berupa cara hidup atau bekerja yang kurang jujur, tingkah laku yang kurang sopan, kecintaan akan kesenangan duniawi, dan pikiran yang dipenuhi hal-hal yang tidak patut.

Pagi ini kita diingatkan bahwa perayaan Paskah itu bukan hanya sekali setahun, tetapi sesuatu yang harus kita rayakan dan rasakan setiap hari dan setiap saat. Kemenangan Yesus atas kuasa dosa harus dapat menjadi nyata dalam hidup kita!

“Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.” Filipi 4: 8

Haleluya!

“Dan jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam dosamu.” 1 Korintus 15: 17

Hari ini kita merayakan Paskah, hari kebangkitan Kristus. Teringat saya akan lagu lama dari buku Nafiri Kemenangan yang refrainnya berbunyi:

Haleluya! Yesus sudah menang

Putuskan kuasa kematian

Haleluya! Sungguh Dia Allah

Yang menang atas maut s’lamanya

Memang hari ini adalah hari yang istimewa; karena jika Yesus tidak bangkit, harapan iman kita untuk bisa hidup selamanya bersama Dia akan musnah.

Orang Kristen, berbeda dengan pengikut agama lainnya, percaya bahwa apapun yang manusia lakukan untuk mendapat pengampunan Tuhan atas dosa manusia adalah sia-sia. Tuhan adalah maha suci sehingga dosa manusia tidak mungkin bisa diampuni dengan perbuatan amal ibadah. Hanya melalui pengurbanan Kristus manusia bisa diampuni, dan melalui kebangkitanNya manusia yang percaya bisa memperoleh hidup yang kekal.

Bagaimana Yesus, Anak Allah itu bisa turun ke dunia, mati di kayu salib dan kemudian bangkit kembali, adalah sebuah kisah nyata yang sering dimunculkan dalam berbagai media. Tetapi, bagi sebagian orang, kisah itu adalah hanya sebuah cerita khayal, sebuah dongeng yang indah dan menarik. Too good to be true. Sebuah drama kemanusiaan yang berisi banyak nasihat hidup baik. Itu saja, seperti banyak cerita lain yang disampaikan secara turun-temurun dalam berbagai masyarakat.

Apakah semua orang yang mengaku Kristen bisa merasakan makna pengurbanan Kristus itu? Mungkin tidak. Sebab lahirnya Yesus , hidupnya yang relatif singkat di dunia dan kebangkitanNya terdengar seperti cerita yang sulit diterima dengan akal budi. Tetapi bagi mereka tidak ada salahnya untuk dipakai sebagai pedoman hidup baik.

Banyak orang yang tidak sadar bahwa jika mereka hanya menjadi Kristen agar menjadi “orang baik” saja, itu tidaklah berarti bahwa mereka beriman kepada Yesus, Tuhan yang sudah bangkit itu. Kepercayaan kepada Yesus yang mengalahkan kematian, harus disertai keyakinan bahwa seperti Yesus yang hanya hidup selama 33 tahun di dunia, hidup yang sementara di dunia ini tidaklah dapat dibandingkan dengan hidup dalam kemuliaan di surga untuk selamanya.

Pagi ini, dalam memperingati kebangkitan Kristus kita diingatkan bahwa hidup di dunia ini singkat saja. Karena itu, seperti Yesus kita harus bisa memakainya untuk bekerja keras guna memuliakan nama Tuhan dan untuk memberitakan jalan keselamatan kepada semua orang. Hidup kita tidak seharusnya didedikasikan untuk mencari kenyamanan dan kesuksesan di dunia seperti orang yang belum mengenal Kristus dan arti kebangkitanNya. Kebangkitan Kristus yang kita rayakan hari ini, haruslah menjadi mercu suar yang membimbing kita ke tujuan hidup yaitu memuliakan Tuhan di bumi dan di surga!

“Inilah hari yang dijadikan TUHAN, marilah kita bersorak-sorak dan bersukacita karenanya!” Mazmur 118: 24

Aku Petrus, bukan Yudas

Tetapi Petrus menyangkal, katanya: “Bukan, aku tidak kenal Dia!” Lukas 22: 57

Nama Petrus adalah nama Kristen yang sangat populer, tidak hanya untuk pria, tetapi juga untuk wanita. Dalam berbagai bahasa nama Petrus bisa ditulis sebagai Peter, Pedro, Peta, Peder dan sebagainya. Mengapa orang senang memakai nama Petrus walaupun Petrus adalah murid Yesus yang pernah menyangkaliNya?

Petrus adalah tokoh Kristen yang mempunyai karakter yang menarik. Petrus bisa dikatakan sebagai seorang yang blak-blakan dan tidak suka berpura-pura. Tetapi ia juga seorang yang sering tidak berpikir panjang.

Pada malam tatkala Yesus ditangkap, Petrus tidak hanya berusaha membela Yesus dengan memakai sebuah pedang, ia juga menyelundup ke istana imam besar, tempat berkumpul orang-orang yang menangkap Yesus. Memang, diantara murid-murid Yesus Petrus terlihat sebagai murid yang paling setia. Petruslah yang secara tegas pernah mengakui Yesus sebagai Mesias dari Allah. Tetapi pada malam itu, Petruslah yang menyangkal Yesus tiga kali.

Yesus jelas menyayangi Petrus sebagaimana adanya. Yesus tahu kelemahan Petrus, tetapi Ia dari awalnya meminta Petrus untuk menggembalakan pengikutNya. Yesus pasti tahu bagaimana kualitas iman Petrus yang sekalipun sering terombang ambing, selalu diiringi dengan keinginan untuk menjadi lebih baik.

Pada malam itu, Petrus teringat bahwa Yesus sudah pernah berkata sebelumnya bahwa Petrus akan menyangkali tiga kali sebelum ayam berkokok. Itu membuatnya sangat menyesal atas apa yang sudah diperbuatnya. Ia menangis dan menyesali perbuatannya. Mungkinkan peristiwa itulah yang membuat Petrus menjadi murid Yesus yang setia sampai akhir hidupnya?

Berbeda dengan Yudas, penyesalan Petrus bukan atas kesalahannya terhadap manusia yang bernama Yesus. Yudas menyesali pengkhianatannya, tetapi tidak sadar bahwa Yesus adalah Tuhan yang maha kasih. Petrus menyesali pengkhianatannya karena Ia sadar bahwa ia menyangkali Yesus, yaitu Mesias yang mengasihinya sejak awal sekalipun ia penuh cacat cela.

Seperti Petrus kita juga mempunyai berbagai kelemahan. Kita pun seringkali mengingkari Yesus untuk mengikuti jalan duniawi. Mungkin kita terkadang menyesali perbuatan-perbuatan kita dari segi etika manusia, tetapi jika itu tidak diiringi dengan kesadaran bahwa Yesus itu Tuhan yang maha kasih, penyesalan itu tidak bisa membuat kita kembali ke jalan yang benar. Kita sendirilah yang bisa memutuskan apakah kita bisa menjadi seperti Petrus yang akhirnya bisa kembali hidup sesuai dengan apa yang dikehendaki Tuhan.

“Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.” Matius 16: 18

Hidup adalah sebuah perjalanan

“Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru.” Roma 6: 4

Jam 4 pagi di hari Jumat Agung ini saya bangun tidur, dan sejam kemudian saya sudah di jalan raya, bermobil menuju ke bandara Brisbane. Matahari belum keluar, tapi beberapa mobil sudah terlihat melaju dengan kecepatan tinggi bersama para penumpangnya. Saya tidak tahu mengapa dan kemana orang-orang itu pergi, tetapi jelas bahwa mereka ada dalam perjalanan menuju ke suatu tempat dan bukannya sekedar bermobil tanpa tujuan.

Hidup ini sering juga dibayangkan seperti sebuah perjalanan menuju ke suatu tujuan. Tiap orang yang ada di dunia ini tentunya mempunyai, atau setidaknya pernah mempunyai tujuan hidup. Untuk mereka yang percaya bahwa hidup di dunia ini adalah satu-satunya kehidupan yang ada, perjalanan hidup itu mudah diterka. Ada yang dari kecil ingin untuk melanglang buana, ada juga yang ingin untuk menjadi orang ternama, dan banyak juga yang ingin untuk menjadi kaya raya. Perjalanan hidup yang mereka lakukan adalah usaha untuk mencapai tujuan hidup itu. Dan setelah itu tercapai, hidup hanyalah untuk melewati hari-hari tanpa tujuan berarti. Sebaliknya, mereka yang gagal untuk mencapai tujuan hidup mereka, rasa kecewa dan putus asa mudah datang karena tidak adanya tujuan hidup yang lain.

Bagi umat Kristen, hidup di dunia ini bukanlah tujuan karena mereka mempunyai tujuan yang mulia yaitu hidup bersama Tuhan di surga. Hidup di dunia adalah sebuah perjalanan. Pada hari Jumat Agung dua ribu tahun yang lalu, sebagai manusia Yesus menunjukkan bahwa perjalanan hidup seorang manusia di dunia memang berakhir dengan kematian. Tetapi apa yang sudah dilakukanNya selama hidup bukanlah sia-sia. Dalam perjalanan hidupnya menuju Golgota untuk menebus dosa manusia, Ia memakai hidupNya untuk menolong mereka yang menderita dan mengajarkan jalan kebenaran. Kematian Yesus di kayu salib, kemudian membuka babak baru dalam kehidupan Yesus dengan kebangkitanNya pada hari yang ketiga dan kemuliaan yang diterimaNya di surga.

Pagi ini kita belajar dari Tuhan Yesus bahwa hidup kita di dunia adalah sebuah perjalanan yang harus kita alami dan bukanlah tujuan hidup. Seperti Yesus, kita harus memakai hidup kita untuk memuliakan Tuhan, melayani sesama, serta memberitakan injil kebenaran sampai akhir hayat kita. Hidup kita harus juga berangsur-angsur berubah selama dalam perjalanan, mematikan hidup lama yang penuh dosa untuk menjadi orang yang semakin dekat kepada Tuhan. Dan bila tiba saat kita untuk meninggalkan dunia ini, pada saat itulah kita mencapai tujuan perjalanan hidup kita!

“Sebab jika kita telah menjadi satu dengan apa yang sama dengan kematian-Nya, kita juga akan menjadi satu dengan apa yang sama dengan kebangkitan-Nya.” Roma 6: 5

Yang terbaik masih akan datang

“Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia.” 1 Korintus 2: 9

Adanya cita-cita membedakan manusia dengan mahluk lainnya. Jika mahluk lain hidup menurut naluri mereka, tiap orang mempunyai hidup yang berbeda untuk mencapai tujuan mereka masing-masing. Adanya cita-cita bisa memberi semangat hidup untuk menantikan apa yang diinginkan, tetapi juga bisa memberi kekecewaan atas apa yang tidak kunjung datang.

Cita-cita bukan hanya keinginan untuk diri sendiri, tetapi juga untuk sanak keluarga. Mungkin kita sudah merasa cukup puas dengan hidup kita sendiri, tetapi masih terus memikirkan apa yang akan terjadi pada orang-orang yang kita cintai. Seringkali mudah bagi seseorang untuk merasakan adanya kekosongan dalam hati karena pertanyaan: Inikah semua yang bisa dicapai? Ataukah masih ada yang lebih baik?

Sangatlah mudah bagi kita untuk mengalami frustrasi dan kekecewaan bahwa apa yang ada belumlah sesuai dengan apa yang diinginkan. Sebagai orang Kristen, kita terjebak diantara keinginan untuk berusaha dan kesadaran untuk berserah. Dalam hal ini kunci pertanyaannya adalah apa yang Tuhan mau dalam hidup manusia. Apakah cita-cita Tuhan untuk kita?

Dari awalnya, Tuhan menghendaki agar manusia bisa tinggal dekat denganNya dan memuliakan Dia. Dengan begitu, hidup manusia akan bahagia karena kemuliaan dan kasih Tuhan juga terpancar untuk mereka. Kejatuhan manusia membuat situasi berubah, kehidupan manusia menjadi berat. Tetapi cita-cita Tuhan tidak berubah, yaitu untuk memberikan apa yang terbaik kepada manusia yang dikasihiNya, di bumi dan di surga.

Sebagai orang percaya, kita percaya bahwa hidup di dunia ini adalah sementara saja. Hidup yang lama kita sudah diperbaharui oleh darah Kristus. Karena itu, pusat perhatian kita adalah untuk hidup baru yang semakin lama semakin baik dalam hal menyerupai Kristus.

“Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.” Galatia 2: 20

Pagi ini, jika kita bangun dan sempat memikirkan apa arti hidup kita saat ini, biarlah kita sadar bahwa selama kita hidup di dunia, kita tetap harus melanjutkan perjuangan hidup kita; bukan untuk mencari kemuliaan dan kepuasan diri sendiri, tetapi untuk menjadi anak-anak Tuhan yang makin lama makin menyerupai Dia. Kita harus bersyukur atas apa yang baik yang sudah ada, dan percaya bahwa apa yang terbaik masih akan datang. The best is yet to come!

“Ia yang memanggil kamu adalah setia, Ia juga akan menggenapinya.” 1 Tesalonika 5: 24

Dongeng dan bahayanya

“Tetapi jauhilah takhayul dan dongeng nenek-nenek tua. Latihlah dirimu beribadah.” 1 Timotius 4: 7

Masih ingat saya akan saat-saat menjelang tidur di masa kecil, dimana ibu saya sering membacakan dongeng-dongeng tradisional. Walau dongeng-dongeng itu sering dibaca ulang, tak jemu-jemunya saya mendengarkannya.

Memang dalam sejarah manusia dari mana saja, dongeng adalah bagian dari kebudayaan setempat yang diteruskan dari generasi ke generasi. Dongeng juga sering dipakai untuk menceritakan kebesaran kuasa-kuasa di balik alam semesta. Dongeng yang sedemikian sering berisi cerita-cerita takhayul dan mistis.

Dalam Alkitab memang ada tertulis hal-hal yang serupa dongeng, yaitu perumpamaan yang disampaikan oleh beberapa orang termasuk Tuhan Yesus. Tetapi, berbeda dengan dongeng, perumpamaan jelas dipakai untuk mengemukakan masalah kehidupan dan pengajaran Tuhan secara tidak langsung.

Jika perumpamaan dalam Alkitab adalah “dongeng” yang berguna untuk orang Kristen, ada hal-hal lain di luar Alkitab yang bisa membuat kekacauan. Dari awal sejarah umat Kristen, ada orang-orang yang mengajarkan firman Tuhan dengan memakai pengertian mereka sendiri. Karena itu, dalam ayat diatas Paulus mengingatkan Timotius untuk berjaga-jaga, agar tidak disesatkan. Segala pengajaran yang tidak benar tidaklah perlu didengar, sekalipun bunyi dan isinya sedap di telinga atau memukau perasaan seperti sebuah dongeng yang membuat orang kagum dan terpesona.

Di gereja zaman modern, ada juga pendeta yang senang mengungkapkan cerita-cerita dan pengalaman pribadi untuk mendukung penyampaian firman Tuhan. Tetapi, seringkali hal-hal itu hanyalah dongeng belaka karena kebenaran firman Tuhan tidak dinyatakan. Bagi umat Kristen, Alkitab seharusnya menjadi tolok ukur untuk segala segi kehidupan.

Pagi ini kita diingatkan, bahwa jika kita terbiasa dengan mendengarkan berbagai dongeng, lambat laun kita kehilangan kepekaan. Pengalaman pribadi dan cerita pendek yang kelihatannya bagus bisa menjauhkan kita dari kebenaran, jika kita tidak berhati-hati. Pengajaran moral dan etika adalah semata-mata dongeng ciptaan manusia jika tidak berdasarkan pengertian Alkitab. Jika kita sempat membaca, mempelajari dan mengagumi hal-hal semacam itu, mengapa kita tidak punya waktu untuk mempelajari firman Tuhan?

“Ingatlah juga bahwa dari kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus. Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.” 2 Timotius 3: 25-16

Tuhanlah yang memungkinkan

“Dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan.” 2 Korintus 9: 8

Sewaktu saya belajar di sekolah menengah di Surabaya, mata pelajaran yang paling saya sukai adalah fisika. Ilmu fisika bagi saya saat itu sangatlah menarik karena ilmu itu sangat berguna dalam hidup sehari-hari. Segala yang bisa kita lihat selalu berfungsi menurut hukum fisika. Lebih tepatnya, hukum fisika ada karena segala sesuatu yang kita lihat berfungsi secara sistimatik, sesuai dengan kehendak Tuhan.

Salah satu hukum fisika yang saya ingat sampai sekarang adalah hukum konservasi energi yang berbunyi:

“Tenaga atau energi tak dapat diciptakan dan tak pula dapat dimusnahkan, sehingga senantiasa dalam kuantitas tetap atau konstan, tapi dapat diubah dari satu bentuk energi ke bentuk energi atau energi-energi lain, yang dalam kuantitas total selalu setara.”

Dalam kenyataan hidup paska SMA, saya merasakan sendiri bahwa hukum konservasi energi ini ternyata juga berlaku dalam kehidupan sehari-hari saya. Uang yang saya peroleh hanya cukup untuk pengeluaran yang setara; dan jika pengeluaran saya melebihi pemasukan, saya harus mencari uang tambahan atau hutangan! Apa yang saya keluarkan tidak dapat melebihi apa yang saya terima.

Dalam hidup bermasyarakat, hukum konservasi energi ini secara naluriah sudah tertanam dalam pikiran setiap orang. Dengan pikiran sehat, manusia selalu berusaha bertindak secara konservatif, untuk menyesuaikan diri dengan situasi dan kondisi. Mereka yang hidupnya sederhana, mungkin tidak berharap untuk bisa hidup seperti mereka yang berlebihan.

Mereka yang masih berjuang dalam hidup, mungkin tidak bisa membayangkan untuk bisa menolong orang lain. Dan bagi orang Kristen, mungkin kita berpikir bahwa kita tidak dapat membantu orang lain karena Tuhan tidak memberi kesempatan atau talenta yang cukup kepada kita. Jika kita tidak merasakan adanya berkat Tuhan yang besar, sulit untuk bisa membagikan kebahagiaan kepada sesama. Benarkah?

Pagi ini kita dihadapkan dengan firman Tuhan yang seolah menolak adanya keseimbangan energi dalam hidup manusia. Paulus menulis bahwa Tuhan memberi kecukupan kepada umatNya, agar mereka dapat berkelebihan dalam segala apa yang baik. Bagaimana ini mungkin? Pikiran manusia selalu cenderung berkata: apa yang ada, membatasi apa yang bisa dihasilkan. Jika Tuhan tidak memberi kita berkat yang berkelimpahan, kita tidak dapat memberi dengan kemurahan. Itu jugalah alasan hamba yang diberi oleh tuannya satu talenta dan merasa bahwa itu tidak cukup untuk menghasilkan sesuatu yang berguna (Matius 25: 24-35).

Ayat diatas menyatakan bahwa segala sesuatu dimungkinkan karena adanya Tuhan sebagai sumber kehidupan kita. Tuhanlah yang bisa memberi kemampuan untuk merasa cukup dalam hidup kita, untuk merasa puas dan bahagia dengan berkatNya; dan dengan itu kita bisa dengan bersemangat menghadapi masa depan kita, untuk bisa berkelimpahan dengan hal-hal yang baik, yang memuliakan Tuhan dan yang membawa kasih dan damai kepada sesama kita.

“Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar.” 1 Timotius 6: 6

Tubuh boleh melemah tetapi iman harus menguat

“Janganlah membuang aku pada masa tuaku, janganlah meninggalkan aku apabila kekuatanku habis.” Mazmur 71: 9

Usia tua. Siapa yang senang membicarakannya? Mereka yang masih tergolong muda tidak mau memikirkan apa yang masih jauh dimata. Mereka yang sudah tua, barangkali merasa bahwa sudahlah terlambat untuk membicarakannya, apalagi untuk berbuat sesuatu.

Pemazmur dalam Mazmur 71 barangkali dengan rasa tidak menentu menulis tentang penderitaannya, sebagai orang yang tidak berdaya dalam usia tua. Perasaan ini sulit untuk digambarkan, apalagi untuk dimengerti mereka yang belum atau tidak pernah mengalaminya.

Usia tua pada umumnya datang dengan perasaan bahwa tubuh mulai melemah dan kurangnya keinginan untuk menikmati hidup yang ada. Masalah keuangan adalah salah satu diantara yang paling umum dijumpai, tetapi masalah kesehatan yang menurun dan masalah keluarga yang kurang harmonis juga bisa membuat orang yang berumur tidak bisa merasakan ketenteraman. Apalagi jika ada perasaan bahwa orang disekitarnya sudah tidak membutuhkannya lagi.

Mazmur 71: 9 adalah permohonan pemazmur agar Tuhan tidak meninggalkannya jika ia sudah tidak bertenaga. Ia teringat bahwa ketika ia masih muda, banyak kegiatan yang bisa dilakukannya dan serasa tidak ada yang perlu ditakutkan dalam hidupnya. Tetapi, dengan menanjaknya usia, satu persatu temannya pergi meninggalkannya. Lebih-lebih lagi, dalam kelemahannya selalu ada orang-orang yang ingin mengganggu dan mencelakakannya.

Tidak dapat diingkari bahwa masa tua adalah masa yang penting untuk seseorang bisa menikmati hidup dalam kedamaian. Tetapi kedamaian tidak akan diperoleh tanpa hubungan yang baik dengan Tuhan, yang dipupuk sejak muda. Hubungan dengan Tuhan yang tidak diperkuat sejak muda bisa mengakibatkan kerenggangan dengan meningkatnya usia. Hal ini mirip dengan hubungan antara suami dan istri yang harus dipererat sejak mereka kenal satu dengan yang lain.

“Ingatlah akan Penciptamu pada masa mudamu, sebelum tiba hari-hari yang malang dan mendekat tahun-tahun yang kaukatakan: “Tak ada kesenangan bagiku di dalamnya!” Pengkhotbah 12: 1

Dengan mempunyai kebiasaan untuk mau mengenali sifat Tuhan, kita bisa mempunyai iman yang makin hari makin kuat karena adanya kesadaran akan penyertaan Tuhan yang maha kuasa, maha kasih dan maha bijaksana selama hidup kita sampai saat ini. Dengan itu kita bisa menumbuhkan kepercayaan dan pengharapan kepada Dia untuk hari depan kita. Hidup yang sedemikian tidak bisa dicapai jika kita tidak merasa benar-benar bersyukur atas kasihNya selama ini.

Kekeliruan yang terbesar yang mungkin terjadi dalam hidup adalah menunggu sampai saat dimana kita sudah tidak berdaya untuk mulai mendekati Tuhan dan berusaha membina hubungan yang baik dengan Dia. Ini bisa diibaratkan seperti mereka yang menunggu hari tua untuk bisa benar-benar mengenal pasangan hidupnya. Hidup orang yang percaya adalah hidup yang melibatkan Tuhan dari awalnya, baik dalam suka maupun duka, dan dengan itu kita akan memperoleh ketenteraman hidup di hari tua. Jangan menunda-nunda kesempatan, pakailah itu selagi masih bisa!

“Engkau yang telah membuat aku mengalami banyak kesusahan dan malapetaka, Engkau akan menghidupkan aku kembali, dan dari samudera raya bumi Engkau akan menaikkan aku kembali.” Mazmur 71: 20