Manusia berusaha, Tuhan menentukan

Jadi sekarang, hai kamu yang berkata: “Hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu, dan di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung”, sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap. Sebenarnya kamu harus berkata: “Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu.” Yakobus 4: 13 – 15

Pada saat pandemi ini, semua negara di dunia berusaha keras untuk mengatasi dampaknya, yang bisa menyangkut bidang kesehatan, sosial, ekonomi, dan bahkan politik. Dampak kesehatan sudah jelas sangat besar; tetapi dengan banyaknya orang yang menjadi korban, kehidupan sosial pun menjadi berantakan. Sebagai akibatnya, ekonomi banyak negara mengalami kemunduran yang sangat besar dan bahkan resesi. Dalam kekacauan yang ada, keadaan politik pun bisa terpengaruh.

Terlalu banyaknya persoalan yang timbul sudah menyebabkan pemerintah mana pun menghadapi tantangan besar. Apa yang bisa diperbuat negara untuk menyelamatkan rakyatnya dari berbagai dampak di atas? Berbagai rancangan tentunya dibuat oleh para pemimpin untuk bulan-bulan mendatang, dan banyak yang berpendapat bahwa kunci keberhasilan adalah adanya vaksin. Jika vaksin sudah ada, masalah-masalah yang ada akan bisa diatasi. Walaupun demikian, banyak orang yang berpendapat bahwa adanya vaksin belum tentu dapat menyelesaikan berbagai persoalan yang ada.

Dalam kekacauan dunia saat ini, sudahlah wajar bahwa banyak orang Kristen yang berserah kepada kehendak Tuhan. Tetapi, dalam kenyataannya manusia lebih mudah untuk mengatakan kata “kehendakMu jadilah”, tetapi tetap merencanakan segala sesuatu yang dianggapnya baik. Manusia seringkali merencanakan segala sesuatu dengan tanpa benar-benar memikirkan kehendak Tuhan. Manusia sering melakukan sesuatu dan ingin agar Tuhan kemudian memberi “stempel” persetujuanNya. Manusia kebanyakan berusaha untuk mencapai apa yang diingininya dan hanya merasa perlu berdoa jika menemui halangan. Manusia sering tidak sadar bahwa kunci kehidupan adalah Tuhan.

Ayat di atas menyatakan bahwa kesombongan manusia membuat ia merencanakan segala sesuatu tanpa mencari kehendak dan pertolongan Tuhan. Begitulah banyak guru dan orangtua yang mengajarkan bahwa hidup ini ada di tangan setiap manusia pemiliknya. Menurut banyak orang, mereka yang tidak berani mengambil keputusan tidak akan mencapai apa yang diidamkannya.

Dalam kenyataannya, memang banyak orang yang kurang berhasil hidupnya karena mereka kurang mau bekerja keras atau kurang mau untuk membuat rencana masa depan. Sebaliknya, banyak juga orang yang sangat yakin akan kemampuannya dan berani melangkahkan kaki untuk mengejar cita-citanya, hanya untuk menemui berbagai kesulitan dan kegagalan.

Ayat di atas memperingatkan mereka yang yakin dan bahkan sombong akan hari depan yang cerah, bahwa hidup mereka bukan di tangan mereka sendiri. Apa yang akan terjadi belum tentu sesuai dengan apa yang mereka pikirkan karena Tuhanlah yang memegang kunci kehidupan. Mereka seharusnya menyadari bahwa hanya dengan mencari kehendak dan pertolongan Tuhan mereka akan bisa melaksanakan apa yang mereka rencanakan.

Sebagai umat Kristen, kita tidak dapat mengharapkan bahwa hidup di dunia bisa menjadi mudah dan selalu lancar. Kita tidak juga bisa berharap bahwa tanpa kita berbuat apa-apa Tuhan akan mendatangkan mukjizat yang kita ingini. Selama hidup ini kita justru perlu untuk membuat berbagai rencana dan keputusan. Ini harus dilakukan dengan penyerahan kita kepada kehendakNya. Dengan takut akan Tuhan, datanglah kebijaksanaan (Mazmur 111: 10). Ini seringkali tidak mudah untuk dilakukan. Tetapi kita bisa mengharapkan datangnya pertolongan Tuhan agar kita bisa melangkah dengan iman dan sanggup menghadapi berbagai jurang dan bukit untuk menuju ke arah yang Tuhan sudah tetapkan bagi kita.

“Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi Tuhanlah yang menentukan arah langkahnya.” Amsal 16: 9

Pilihlah apa yang berguna untuk kemuliaan Tuhan

“Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala, semuanya itu mendatangkan murka Allah (atas orang-orang durhaka). Kolose 3:  5 – 6.

Pada zaman pandemi ini, orang lebih diharapkan untuk memakai cara hidup yang baik. Menjaga jarak, rajin mencuci tangan, memakai masker, dan menutup mulut ketika bersin adalah sebagian tata cara kehidupan yang baik, yang bukan saja penting untuk kesehatan kita, tetapi juga untuk kesehatan orang lain.

Memang sudah sewajarnya jika orang mempunyai etika hidup yang baik, yang bisa membedakan apa yang baik dari apa yang buruk. Dalam melakukan sesuatu, kita harus memperhatikan apakah semua itu tidak merugikan atau membuat marah orang lain. Walaupun demikian, dalam kenyataannya banyak juga orang yang semaunya sendiri dan tidak mau menjalankan etika yang baik. Mungkin mereka merasa adanya kebebasan untuk menentukan cara hidup diri sendiri.

Untuk kesejahteraan umat manusia, setiap orang harus mempunyai etika. Etika bisa muncul dalam satu masyarakat, dan karena etika berhubungan dengan budaya, etika masyarakat yang satu mungkin bisa menjadi bahan pergunjingan dan geguyonan dalam masyarakat lain. Pada pihak yang lain, etika Kristen (dari bahasa Yunani ethos yang berarti  kebiasaan/ adat) adalah suatu cabang ilmu teologi yang membahas masalah tentang apa yang baik untuk dilakukan dari sudut pandang Kekristenan; jadi seharusnya berlaku untuk siapa saja, kapan saja dan  dimana saja.

Apabila dilihat dari sudut pandang Hukum Taurat dan Injil, maka etika Kristen adalah segala sesuatu yang dikehendaki oleh Allah dan itulah yang terbaik. Dengan demikian, maka etika Kristen merupakan satu tindakan yang bila diukur secara moral adalah baik dan memuliakan Dia saja. Saat ini, permasalahan utama yang dihadapi etika Kristen ialah perbedaan yang mungkin ada antara kehendak Allah terhadap manusia dan reaksi manusia (yang mungkin dipengaruhi budaya dan tradisi) terhadap kehendak Allah.

Etika dimaksudkan agar manusia tidak memilih apa yang buruk dan yang tidak berguna. Tetapi karena tidak semua apa yang dilakukan manusia dari jaman ke jaman dibahas secara langsung dalam Alkitab, permasalahan kedua dalam etika Kristen adalah bagaimana mengajarkan dan menerapkan etika menurut prinsip kekristenan jika itu tidak tertulis secara jelas dalam Alkitab. Dalam hal ini, mereka yang tidak mau atau kurang mampu berpikir akan kurang bisa melihat hubungan antara etika dan Firman. Sebaliknya, ada kemungkinan bahwa mereka yang pintar berdalih akan memakai etika atau kebiasaan yang bisa memuaskan diri sendiri.

Dalam ayat Kolose 3: 5 – 6 diatas disebutkan bahwa kita tidak boleh melakukan segala sesuatu yang sering dianggap lazim di dunia, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, karena semuanya itu sama dengan penyembahan berhala. Itu tidak sesuai dengan etika Kristen. Memang jika cara hidup, kebiasaan, tradisi kita bisa diterima orang lain, kita bisa lupa bahwa Tuhanlah yang berhak menentukan apa yang benar, yang harus kita lakukan.

Yesus pernah menjumpai orang-orang yang sepertinya sudah melakukan apa yang diharuskan oleh agama tetapi mengabaikan etika-etika hidup yang benar:

“Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan.” Matius 23: 23

Ahli-ahli Taurat dan orang Farisi mungkin merasa bahwa mereka sudah membayar kewajiban hidup mereka, tetapi melupakan bahwa ada hal-hal lain yang menyangkut keadilan, belas kasihan dan kesetiaan yang perlu dilaksanakan.

Mempunyai berhala bukan hanya keterikatan kepada apa yang jelas terlihat jahat. Dalam kenyataannya, ada banyak hal yang nampaknya baik tetapi bisa menjadi seperti berhala karena kita lebih sering atau lebih senang melakukannya daripada melakukan hal yang disenangi Tuhan. Kita sering dengan senang hati melakukan hal-hal yang terlihat indah di mata kita, tetapi mengabaikan perintah Tuhan untuk hidup bagi kemuliaanNya.

Hari ini kita diingatkan bahwa jika kita mau mengikut Yesus, kita sewajarnya memegang dan melaksanakan etika dan cara hidup Kristen yang berdasarkan Firman Tuhan. Etika Kristen adalah pelaksanaan perintah Tuhan dalam hidup sehari-hari, yang walaupun tidak disebutkan secara terperinci dalam Alkitab, adalah suatu tanda Roh Kudus bekerja dalam hidup kita sehingga kita mengerti dan taat kepada firmanNya.

Dengan etika yang berdasarkan Alkitab kita akan bisa memilih apa yang benar-benar berguna. Etika Kristen yang dilaksanakan akan membuat hidup kita memancarkan terang Kristus kepada masyarakat di sekeliling kita, sehingga makin banyak orang yang dibawa menuju Dia dan menerima keselamatan.

“Segala sesuatu halal bagiku, tetapi bukan semuanya berguna. Segala sesuatu halal bagiku, tetapi aku tidak membiarkan diriku diperhamba oleh suatu apapun.” 1 Korintus 6: 13

Alkitab adalah pedoman kita

“Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.” 2 Timotius 3: 16

Semakin tua, manusia akan makin berpengalaman karena makin banyak yang pernah dialaminya. Umumnya, pengalaman yang buruk bisa mencegah seseorang untuk melakukan hal yang sama di masa depan. Sebaliknya, pengalaman yang baik dan menyenangkan membuat orang tertarik untuk mencobanya lagi jika ada kesempatan. Pengalaman adalah guru yang terbaik, begitulah kata orang. Benarkah?

Untuk hal-hal tertentu, dalam keadaan tertentu, memang apa yang pernah dilihat, dirasakan dan dialami, dan apa yang sudah menjadi tradisi, bisa memberi pelajaran dan pengertian. Dengan demikian, pengalaman yang kita peroleh dari pandemi COVID-19 ini juga bisa berguna untuk masa depan. Dalam ilmu pengetahuan, hal semacam ini dikenal dengan pendekatan empiris, yang sering bertentangan dengan pendekatan rasionalis. Bukti empiris adalah informasi yang didapat melalui pengalaman, sedangkan bukti rasionalis berasal dari pemikiran akal budi.

Para pendukung metode empiris berpendapat bahwa informasi yang diperoleh secara empiris yaitu observasi, pengalaman dan percobaan, berguna sebagai pemisah antara pendapat-pendapat yang ada. Dengan pengalaman dan kebiasaan yang pernah dialami, orang bisa menolak pendapat orang lain, nasihat guru atau orang tua dan bahkan firman Tuhan. Apa yang pernah dialami dan lazim dilakukan akan cenderung dipercayai, sedangkan apa yang tidak pernah terjadi atau terlihat dalam hidup, sering diabaikan,

Dalam kehidupan iman, kita dihadapkan dengan berbagai ajaran dan praktik kekristenan yang beraneka ragam. Pada umumnya, keragaman adalah lumrah karena tiap manusia adalah individu yang berbeda, yang mempunyai pengalaman dan pengertian yang berlainan. Walaupun demikian, ayat diatas menjelaskan bahwa firman Tuhan yang tertulis dalam Alkitab, harus dipegang sebagai pedoman untuk memperoleh kebenaran.

Karena pengalaman seseorang belum tentu bisa dialami orang lain, dan juga karena pengalaman tergantung situasi dan kondisi, metode empiris mempunyai kelemahan bahwa apa yang dirasakan sebagai kebenaran di masa lalu, belum tentu benar di masa depan. Apa yang mungkin dianggap baik hari ini, belum tentu bisa diterima oleh generasi yang akan datang. Sebaliknya, apa yang dianggap buruk di zaman dulu, sekarang mungkin sudah dianggap biasa. Karena itu, pengalaman dan kebiasaan seseorang belum tentu membawa kebenaran dan belum tentu bisa menjadi guru yang terbaik.

Pagi ini kita harus sadar bahwa apa yang kita dengar dan saksikan di gereja mungkin bersumber pada pengalaman pribadi atau pendapat manusia, yang sehebat atau seajaib bagaimanapun, tidak dapat dianggap setara dengan firman Tuhan. Apalagi kalau pengalaman itu hanya mendatangkan kemuliaan bagi manusia dan bukannya Tuhan.

Perlu kita sadari bahwa metode empiris yang berdasarkan pengalaman manusia, jika dipakai untuk mempelajari Firman, bisa menghasilkan sesuatu yang kurang cocok dengan Firman itu sendiri. Begitu juga dengan metode rasional yang hanya berdasarkan akal budi, tidak akan dapat menjajaki kedalaman Firman Tuhan. Karena itu, setiap orang percaya harus mau mempelajari firman Tuhan dengan iman, menggumuli dan menerapkanNya dalam hidup dengan bimbingan Roh Kudus. Pengalaman hanya bisa menjadi guru yang terbaik sesudah dibandingkan dengan apa yang ada dalam Alkitab.

“FirmanMu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.” Mazmur 119: 105

Persekutuan orang Kristen haruslah secara nyata

“Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat.” Ibrani 10: 25

Hari ini hari Minggu. Sejak adanya pandemi di Australia, pergi ke gereja tidaklah semudah sebelumnya. Banyak gereja yang membatasi jumlah pengunjung, dan ada juga yang mengharuskan jemaat untuk mendaftarkan diri sebelum datang di gereja. Mereka yang tidak bisa hadir di gereja mungkin bisa melihat acara kebaktian gereja di layar komputer atau TV. Sebenarnya banyak orang yang ingin ke gereja, tetapi banyak juga alasannya. Begitu pula banyak orang tidak ke gereja dengan berbagai sebab. Banyak juga orang yang ke gereja atau tidak ke gereja tanpa sebab yang pasti.

Gereja bisa berarti persekutuan orang percaya, gereja juga bisa berarti rumah Tuhan, tetapi gereja sering diartikan sebagai gedung pertemuan orang Kristen. Orang bisa ke gereja sebagai orang Kristen tetapi tidak semua orang yang ke gereja menjumpai Tuhan. Sebagian orang ke gereja menjumpai manusia dan menikmati persekutuan dengan sesama. Sepertinya lumrah dan tidak ada salahnya. Ke gereja, mengikuti kebaktian, bertemu teman, lalu pulang. Sebagian orang Kristen malah bisa merasa ke gereja dengan mengikuti acara gereja di TV atau di YouTube.

Bagi mereka yang mengerti, gereja adalah tubuh kita karena Roh Kudus tinggal dalam diri tiap orang percaya:

“Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu?” 1 Korintus 3: 16

Karena itu setiap orang Kristen harus hidup dalam kekudusan setiap hari, dan bukan pada hari Minggu saja. Siapa yang menyia-nyiakan hidupnya berarti mengabaikan Tuhan dan menelantarkan gereja!

Gereja juga tempat yang kudus dan harus dipakai untuk memuliakan Tuhan dan bukan untuk meninggikan manusia. Bukan sebuah pertemuan organisasi untuk merencanakan suatu event atau merayakan kesuksesan organisasi atau perseorangan. Gereja bukanlah rumah sarang penyamun, bukan juga tempat bisnis!

“Bukankah ada tertulis: RumahKu akan disebut rumah doa bagi segala bangsa? Tetapi kamu ini telah menjadikannya sarang penyamun!” Markus 11: 17

Setiap orang percaya adalah gereja, dan pada hari Minggu mereka bersama-sama bersekutu untuk mendengarkan Firman, berdoa, saling menyapa dan menguatkan. Saling menasihati, agar mereka dapat hidup dengan baik sesuai dengan Firman. Untuk umat percaya, gereja adalah hidup dan hidup adalah gereja, dan karena itu tidak dapat digantikan dengan benda-benda mati seperti TV, internet dan radio. Tetapi, adanya pandemi mungkin bisa membuat sebagian orang Kristen menjadi malas untuk pergi ke gereja karena sudah terbiasa dengan kebaktian secara maya.

Hari ini kita diingatkan bahwa sebagai rumah Tuhan, kita harus bisa merasakan kehadiran Tuhan dalam hidup kita dan giat bersekutu dengan saudara seiman untuk memuliakan Tuhan kita. Selagi kita masih bisa, dan jika keadaan memungkinkan, janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, sekalipun dunia modern ini penuh dengan daya penariknya sendiri. Jangan juga kita bersekutu dengan hati yang mati dan dingin, tetapi marilah kita saling mengasihi, menguatkan, mendoakan dan menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat!

Yesus adalah Raja

Maka kata Pilatus kepada-Nya: “Jadi Engkau adalah raja?” Jawab Yesus: “Engkau mengatakan, bahwa Aku adalah raja. Untuk itulah Aku lahir dan untuk itulah Aku datang ke dalam dunia ini, supaya Aku memberi kesaksian tentang kebenaran; setiap orang yang berasal dari kebenaran mendengarkan suaraKu.” Yohanes 18: 37

Siapakah Yesus itu? Bagi mereka yang tidak mengenal Yesus secara pribadi, Yesus mungkin adalah manusia yang istimewa, yang bijaksana dan sudah mengajarkan cara hidup yang baik seperti banyak filsuf dan tokoh spiritual yang lain. Yesus bagi mereka bukanlah Tuhan, tetapi mungkin adalah nabi yang besar. Kebingungan seperti ini bukanlah hal yang baru, karena sewaktu Yesus lahir di dunia, orang tidak sadar bahwa Ia adalah Tuhan sendiri, Mesias yang datang untuk menyelamatkan manusia yang berdosa.

Orang Majus dan Herodes menyangka bahwa Yesus adalah seorang raja yang datang untuk bani Israel, dan banyak orang Israel juga berharap bahwa Ia akan menjadi pemimpin yang akan membebaskan bangsa Israel dari jajahan orang Romawi. Mereka kemudian kecewa melihat bahwa Yesus kemudian disalibkan bersama dengan dua orang penjahat.

Sebelum Yesus disalbkan, Ia harus menghadapi “pengadilan” Pilatus. Pilatus bertanya apakah Yesus adalah seorang raja, seperti apa yang diberitakan banyak orang kepadanya. Yesus tidak menjawab Pilatus secara langsung, tetapi Ia seolah mengiyakannya. Walaupun demikian, Yesus menjelaskan bahwa Ia lahir dan datang ke dalam dunia supaya Ia bisa memberi kesaksian tentang kebenaran Ilahi, agar mereka yang percaya kepadaNya akan beroleh keselamatan. Yesus bukanlah raja orang Yahudi, tetapi Raja semesta alam.

Bagi banyak orang Yahudi saat itu, kenyataan bahwa Yesus bukanlah “orang kuat” seperti apa yang diharapkan adalah sebuah kekecewaan yang besar. Bagi orang Farisi dan Saduki, pernyataan Yesus bahwa Ia dan Allah Bapa adalah satu membuat mereka marah dan membenci Dia (Yohanes 10: 30-31).

Pada saat itu bangsa Israel tidak mengerti bahwa kerajaan Yesus bukanlah kerajaan jasmani atau duniawi, tetapi adalah kerajaan rohani dan surgawi. Ia datang sebagai Tuhan hanya untuk disalibkan oleh manusia ciptaanNya dan kemudian bangkit dari kematian untuk menunjukkan bahwa Ia berkuasa atas segala sesuatu, termasuk hal hidup dan mati.

Jawab Yesus: “KerajaanKu bukan dari dunia ini; jika KerajaanKu dari dunia ini, pasti hamba-hambaKu telah melawan, supaya Aku jangan diserahkan kepada orang Yahudi, akan tetapi Kerajaan-Ku bukan dari sini.” Yohanes 18: 36

Patut disayangkan bahwa banyak orang yang saat ini masih meragukan keilahian Yesus. Bahkan sebagian orang menganggap bahwa jika orang Kristen memuja Yesus, itu adalah sebuah tindakan yang menghujat Allah yang di surga. Sebagian orang malahan tidak yakin apa manfaat sebuah doa yang dipanjatkan dalam nama Yesus. Mereka tidak sadar bahwa Yesus yang pernah berjalan di atas air dalam kegelapan malam (Matius 14: 25) adalah Allah yang sebagai Roh melayang-layang di atas permukaan air sebelum bumi diciptakan – ketika bumi belum berbentuk dan kosong gelap gulita (Kejadian 1: 2).

Yesus adalah Allah yang turun ke bumi sebagai manusia sepenuhnya tetapi juga sebagai Tuhan sepenuhnya. Seperti Allah yang membawa terang ke bumi dengan penciptaanNya, Yesus membawa terang kebenaran kepada umat manusia agar mereka bisa melihat jalan keselamatan.

Dimanakah Yesus sekarang ini, ketika dunia mengalami pandemi? Jika Ia benar-benar Tuhan mengapa Ia tidak bertindak secara langsung dan menolong kita? Sebagai orang Kristen kita tidak bisa berharap kepada manusia atau pemimpin kita. Jika kita berharap kepada kehendak kita sendiri, mungkin kita akan mengalami kekecewaan seperti apa yang dialami bangsa Yahudi. Dalam kekecewaan, orang Yahudi sulit untuk menerima bahwa Yesus adalah Tuhan semesta alam.

Yesus sekarang sudah kembali ke surga dan sebagai Tuhan Ia mengatur segala sesuatu yang ada di jagad raya. Segala sesuatu terjadi sesuai dengan rencanaNya. Seperti orang Yahudi pada zaman Yesus, mungkin kita tidak mengerti apa yang kehendakiNya. Tetapi Yesus sudah berfirman bahwa Ia datang ke dunia untuk membawa kebenaran Allah. Sebagai orang yang sudah diperbaharui dan mengenal Yesus sebagai Tuhan, kita akan bisa mendengar suaraNya. Yesus adalah Tuhan dan Raja kita, dan Ia tidak akan meninggalkan kita.

“Aku tidak akan meninggalkan kamu sebagai yatim piatu. Aku datang kembali kepadamu. Tinggal sesaat lagi dan dunia tidak akan melihat Aku lagi, tetapi kamu melihat Aku, sebab Aku hidup dan kamupun akan hidup. Pada waktu itulah kamu akan tahu, bahwa Aku di dalam BapaKu dan kamu di dalam Aku dan Aku di dalam kamu.” Yohanes 14

Tetap teguh dalam iman

“Walau seribu orang rebah di sisimu, dan sepuluh ribu di sebelah kananmu, tetapi itu tidak akan menimpamu.” Mazmur 91: 7

Ayat diatas sering dipakai sebagian orang Kristen untuk menegaskan bahwa sekalipun orang disekeliling mereka mengalami kehancuran, mereka tetap jaya dan tidak terpengaruh, karena adanya pemeliharaan Tuhan. Bahkan, sering diceritakan bahwa ketika ada bencana alam dan semua gedung hancur berantakan, gedung gereja dengan ajaib tetap bisa berdiri. Bukankah itu tanda kebesaran Tuhan? Orang yang benar selalu dibebaskan dari bencana, orang yang mengalami malapetaka adalah orang yang jahat. Begitu mungkin anggapan mereka.

Adanya pandemi COVID-19 membuka mata banyak orang sehingga mereka bisa melihat bahwa virus corona ternyata tidak memandang bulu. Tua atau muda, kaya atau miskin, negara maju atau negara terbelakang, semua orang bisa terjangkit wabah ini. Bahkan banyak orang Kristen yang sakit berat atau tewas akibat serangan virus ini.

Dimanakah Tuhan sewaktu hal itu terjadi? Dimanakah janji Tuhan untuk melindungi semua umatNya? Mereka yang mengartikan ayat diatas secara literal akan kecewa. Pada waktu banyak orang yang berdoa mohon kelepasan dari bencana pandemi ini, Tuhan seolah mengabaikan mereka. Tetapi Tuhan jelas tidak pernah meninggalkan umatNya. Malahan, semua yang terjadi di dunia berjalan sesuai dengan rencanaNya. Oleh karena itu, apapun yang ada, hal yang baik maupun yang buruk, seharusnya memberi kesempatan bagi kita untuk belajar lebih jauh untuk mengerti kehendakNya.

Benarkah Tuhan akan melindungi kita sekalipun ada ribuan orang tewas disekitar kita? Penulis Mazmur tidak secara terperinci menjelaskan keadaannya pada waktu itu. Mungkin pada waktu itu ia merasakan perlindungan Tuhan ketika ada kehancuran disekelilingnya. Tetapi, sebagai orang Kristen kita tidak bisa selalu luput dari penderitaan dan bencana. Bahkan dalam sejarah orang Kristen, banyak yang tersiksa, dianiaya dan dibunuh karena iman mereka. Yesus berkata bahwa itu adalah bagian dari panggilan iman kita. Tuhanlah yang memungkinkan kita untuk tetap teguh dalam iman, sekalipun keadaan disekeliling kita sangat menyedihkan.

“Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.” Matius 5: 10

Dengan keyakinan bahwa Tuhan menyertai umatNya, biarlah kita bisa menunjukkan kepada masyarakat di sekeliling kita bahwa Tuhan yang sudah memberi kita kekuatan dalam menghadapi kehancuran disekeliling kita, adalah Tuhan yang juga bisa menolong mereka. Melalui ketabahan dan keyakinan kita biarlah makin banyak orang yang mengenal Tuhan.

“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” Matius 5: 16

Hal kerukunan beragama

“Sebab ketika aku berjalan-jalan di kotamu dan melihat-lihat barang-barang pujaanmu, aku menjumpai juga sebuah mezbah dengan tulisan: Kepada Allah yang tidak dikenal. Apa yang kamu sembah tanpa mengenalnya, itulah yang kuberitakan kepada kamu.” Kisah Para Rasul 17: 23

Di negara mana pun kita tinggal kerukunan beragama adalah penting. Tetapi, sebagai orang Kristen kita harus tahu bagaimana kita harus bersikap dalam bergaul dengan orang-orang yang berbeda agama.

Pada waktu Paulus mengunjungi Atena, ia melihat begitu banyak patung dewa yang disembah oleh penduduk kota itu. Ia merasa terpanggil untuk memberitakan kabar keselamatan, yaitu Injil tentang Yesus dan kebangkitanNya. Walaupun demikian, ia tidak membuat penduduk kota itu marah dengan mencela dan menista agama mereka, atau membodohkan mereka. Paulus tidak juga berkata bahwa patung-patung yang ada harus dirobohkan.

Pada pihak yang lain, Paulus tidak bermaksud menyatakan bahwa semua dewa dan patung di Athena boleh disembah. Paulus tidak menampilkan Tuhan yang baru, tetapi berkata bahwa Tuhan yang mereka sembah tanpa mengenalNya adalah Tuhan yang diberitakannya. Apa yang ia katakan adalah jawaban praktis yang tepat.

Seperti yang terjadi di Atena, manusia di zaman ini mungkin berdoa dengan maksud baik yang sama, tetapi kepada tuhan atau dewa yang berlainan. Mereka saling menghormati dan berharap bahwa setiap doa membawa kebaikan bersama. Biasanya dalam keadaan sulit di suatu negara, seperti adanya pandemi sekarang ini, para pemimpin-pemimpin agama mengajak umat mereka untuk berdoa menurut keyakinan masing-masing dengan satu tema. Seolah mereka bersatu dalam doa-doa yang ditujukan kepada Tuhan yang sama.

Walaupun konsep tentang adanya satu Tuhan yang mahakuasa pada umumnya bisa dimengerti, ada juga orang-orang yang percaya kepada banyak dewa yang mengatur kehidupan manusia. Dengan demikian, dalam kepercayaan kepada Tuhan yang Maha Esa mungkin ada pertanyaan apakah manusia yang berlainan iman memang berdoa kepada Tuhan yang sama.

Memang orang bisa percaya atas adanya Tuhan dan beribadah menurut cara mereka sendiri. Tetapi dengan demikian mereka menyembah apa yang ada dalam pikiran mereka atau apa yang mereka ciptakan sendiri. Sebaliknya, Tuhan yang sebenarnya dan yang seharusnya mereka sembah dengan sepenuh hati adalah suatu oknum yang tidak dapat mereka kenal. Tuhan tidak dapat dikenal manusia, jika Ia tidak memperkenalkan diriNya dalam bentuk yang bisa dimengerti manusia, tetapi yang mempunyai kuasa Ilahi: Yesus Kristus.

Adalah fakta bahwa Tuhan sudah turun ke dunia sebagai Yesus Kristus yang sudah mati untuk menebus dosa manusia. Dengan keilahianNya Ia kemudian bangkit dan naik ke surga. Orang di Atena tidak dapat mengerti bahwa Tuhan yang tidak kelihatan adalah justru Tuhan yang benar. Begitu juga di zaman ini, banyak orang beragama yang tidak mengenal Kristus sebagai Tuhan. Mungkin mereka hanya menganggap Dia sebagai tokoh yang istimewa yang seperti kita, juga diciptakan oleh Tuhan pencipta alam semesta.

Hari ini, firman Tuhan mengingatkan kita bahwa sebagai orang Kristen kita harus bisa mengerti dan menerima adanya keragaman agama di negara kita. Sebagai pengikut Kristus kita tidak boleh segan untuk menyatakan kasih kita kepada sesama kita. Walaupun demikian, kita tidak boleh ragu untuk menyatakan apa yang benar, bahwa Kristus adalah Tuhan yang merupakan satu-satunya jalan keselamatan bagi umat manusia.

” Aku dan Bapa adalah satu” Yohanes 10: 30

Yesus adalah Tuhan

“Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan, karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia.” Kolose 1: 15 – 16

Siapakah Yesus itu? Ada orang yang berpendapat bahwa Yesus adalah nabi yang terbesar. Ada pula yang percaya bahwa Yesus adalah penjelmaan Allah dalam tubuh manusia. Tetapi, sebagian besar orang Kristen percaya bahwa Yesus adalah Allah sendiri yang turun ke dunia. Manakah yang benar?

Ayat diatas adalah ayat yang sering dipakai oleh golongan tertentu untuk menmbuktikan bahwa Allah menciptakan Yesus sebagai “yang sulung, yang lebih utama dari segala yang diciptakan”. Yesus diciptakan sebagai manusia yang istimewa, begitu kata mereka. Walaupun demikian, kalimat selanjutnya menyatakan bahwa “segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia”. Ini seirama dengan Yohanes 1: 1- 7 yang menjelaskan bahwa Yesus bukan diciptakan, tetapi Ia adalah Allah yang menciptakan segala sesuatu.

“Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan.” Yohanes 1: 3

Saat Yesus “muncul” di dunia mungkin dirayakan oleh umat Kristen pada hari Natal. Tetapi ada dua hal yang perlu kita ingat. Yang pertama, tanggal 25 Desember bukanlah hari ulang tahun Yesus sebagai manusia. Tidak ada seorang pun yang tahu kapan tepatnya hari itu. Yang kedua, Yesus yang adalah Allah, sudah ada sebelum apapun yang ada di alam semesta ini diciptakan olehNya. Tanpa Yesus, tidak akan ada makhluk dan benda apapun di alam semesta ini. Tanpa Yesus, tidaklah ada persekutuan orang percaya atau gereja. Lebih dari itu, tanpa Yesus tidak akan ada keselamatan untuk orang percaya.

Yesus adalah Allah yang turun ke dunia sebagai manusia. Ia persis sama seperti kita, hanya saja Ia tidak berdosa. Sebagai Juruselamat manusia, Ia sudah menjadi Imam Besar yang menghubungkan kita manusia yang berdosa dengan Allah yang mahasuci. Sebagai manusia, Ia bisa merasakan segala penderitaan dan kelemahan kita. Karena itu, sebagai Allah, Ia mengerti apa yang kita butuhkan dalam hidup ini dan mau serta sanggup menolong kita dalam segala persoalan kita.

“Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa.” Ibrani 4: 15

Pagi ini, firman Tuhan menegaskan bahwa Yesus adalah satu dengan Allah Sang Pencipta, dan segala sesuatu diciptakan Allah untuk Dia, untuk kemuliaanNya. Sebagai orang Kristen kita tidak boleh menurunkan derajatNya. Yesus bukanlah sekedar orang baik atau manusia istimewa. Yesus juga bukan manusia ciptaan Allah yang dihuni oleh Allah selama Ia hidup di dunia. Sebaliknya, Yesus adalah Allah sendiri dan sudah ada dari awalnya. Ia adalah Pencipta dan kita adalah ciptaanNya. Bukankah sudah sepatutnya setiap orang menyembah Dia, bergantung kepadaNya dan menjalani hidup ini untuk memuliakan Dia?

“Aku dan Bapa adalah satu.” Yohanes 10: 30

Tetaplah setia kepada Kristus

“Tetapi aku takut, kalau-kalau pikiran kamu disesatkan dari kesetiaan kamu yang sejati kepada Kristus, sama seperti Hawa diperdayakan oleh ular itu dengan kelicikannya.” 2 Korintus 11: 3

Dalam bepergian ketempat asing adalah kurang menyenangkan jika kita tidak dapat menemukan jalan untuk mencapai tujuan kita. Mungkin jalan yang kita pilih pada mulanya tidak memberi kesan bahwa jalan itu adalah jalan yang keliru, tetapi kemudian kita bisa sadar bahwa kita telah tersesat. Kesadaran itu mungkin timbul karena apa yang kita tuju tidak kunjung terlihat, atau karena suasana disekitar kita yang terasa asing, atau mungkin juga karena ada orang yang menyadarkan kita.

Kesadaran saja, bahwa kita harus berganti haluan, tidak bisa menjamin bahwa kita akan menemukan jurusan yang benar. Tanpa mengganti jurusan, kita mungkin tidak bisa mencapai tujuan kita. Juga, tanpa memakai suatu pedoman arah, tidaklah mudah untuk memastikan kemana kita harus pergi. Dan sekalipun kita mempunyai pedoman arah, pengertian kita mungkin keliru. Memang jika kita benar-benar berada di tempat yang asing, kita harus selalu berhati-hati dan mau mempelajari medan.

Seperti itu jugalah hidup kita sebagai orang Kristen yang menuju ke tempat yang asing untuk kita yaitu surga. Banyak orang Kristen yang masih percaya bahwa mereka menuju ke surga melalui jalan tertentu, tetapi orang lain juga bisa menuju ke tempat yang sama melalui jalan lain. Padahal, pedoman arah kita, Alkitab, menulis bahwa Yesus berkata:

“Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” Yohanes 14: 6

Jika kita tahu bahwa ada satu jalan menuju kearah keselamatan, ada sebuah pertanyaan yang sering menggelitik kita: apakah kita bisa tersesat dalam perjalanan hidup ini? Ayat yang ditulis rasul Paulus dalam kitab 2 Korintus 11: 3 diatas menunjukkan bahwa kita bisa saja tersesat dalam iman kita. Memang di zaman ini, dimana “semangat persahabatan” antar umat Kristen lagi sering didengung-dengungkan, orang mungkin ragu untuk menegur orang lain. Tetapi, Paulus jelas tidak ragu untuk mengingatkan jika kita tidak mempunyai kesetiaan sejati kepada Kristus saja, kita mungkin sudah jatuh kedalam tipuan iblis. Ternyata, umat Kristen yang percaya kepada Yesus bisa saja tersesat jika kepercayaan kita kepadaNya tidak lagi murni. Memang banyak orang yang percaya bahwa Kristus sekarang ada di surga, tetapi tidak yakin bahwa Ia adalah Tuhan yang menuntun umatNya kepada keselamatan.

Hari ini kita diingatkan bahwa menjalani hidup kekristenan itu tidak mudah. Jika kita tidak selalu awas akan arah iman kita dan selalu memakai pedoman arah kita, Alkitab, dengan benar, kita akan bisa tersesat. Ada begitu banyak orang yang menunjukkan berbagai arah dan jurusan menuju kearah surga, dan ada begitu banyak orang yang percaya perlunya untuk mempunyai hal-hal ekstra diluar Yesus; semua itu bisa-bisa adalah tipu daya iblis yang berusaha memperdayakan kita.

Kita harus sadar bahwa seperti dalam melakukan perjalanan wisata kita harus selalu mau mempelajari medan dan memakai pedoman arah, dalam perjalanan hidup keimanan kita harus selalu mau mempelajari apakah yang kita percayai sudah dan tetap sesuai dengan firman Tuhan.

“Ingatlah juga bahwa dari kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus. Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.” 2 Timotius 3: 15-16

Berdamai dalam kekudusan

“Berusahalah hidup damai dengan semua orang dan kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorangpun akan melihat Tuhan.” Ibrani 12: 14

Photo by Julian Jagtenberg on Pexels.com

Membaca media internasional pada minggu yang baru lalu saya terpaksa menghela nafas. Bagaimana tidak? Dimana-mana ada berita tentang kekerasan yang dilakukan oleh manusia terhadap sesamanya. Terlebih lagi, kekerasan dalam rumah tangga sekarang ini makin menjadi-jadi.

Mereka yang berusaha berlindung dibalik hukum, sekarang ini harus mempunyai modal uang yang cukup. Tanpa uang, perlindungan hukum mungkin tidak dapat diperoleh melalui pengadilan. Dengan demikian, mereka yang lemah dan miskin menjadi bulan-bulanan mereka yang lebih kuat dan lebih kaya. Dunia ini agaknya makin kacau saja.

Pada hakikatnya semua manusia tentunya mengerti bahwa kekacauan adalah sesuatu yang tidak dapat dinikmati. Kekerasan, perkelahian, permusuhan dan percekcokan memang sebaiknya dihindari.Walaupun demikian, bagi mereka yang mau berusaha untuk hidup damai selalu ada saja hal-hal yang tidak diharapkan, yang membuat kacau kehidupan.

Kejadian tragis dimana nyawa seseorang hilang karena persoalan yang sepele, bukanlah sesuatu yang mengherankan. Orang juga bisa didenda atau masuk penjara karena tuntutan hukum yang dilakukan orang lain. Manusia memang bisa menemukan alasan apa saja untuk membenci orang lain, entah itu karena perbedaan suku, agama, ras, golongan, seks, adat-istiadat, kebiasaan atau karena hal-hal lainnya.

Bagaimana ajaran Alkitab tentang hidup damai dalam masyarakat yang serba berbeda ini? Ayat di atas mengajarkan bahwa umat Kristen harus berusaha untuk hidup damai dengan semua orang. Permusuhan, rasa dendam, marah dan kebencian adalah bertentangan dengan ajaran kasih. Setiap orang Kristen dituntut untuk bisa mengasihi dan menghormati sesamanya, dan istilah “sesama” dalam hal ini bukanlah hanya orang-orang yang seiman, tetapi sesama ciptaan Tuhan.

Sebagai orang Kristen kita juga harus bisa mengasihi mereka yang berbeda paham atau yang memusuhi kita. Sedapat mungkin kita harus berusaha untuk menghindari permusuhan dengan siapapun, dimanapun dan kapanpun. Kita harus berusaha untuk memancarkan kasih Tuhan agar makin banyak orang yang mengenal Dia.

Pada pihak yang lain, ayat di atas mengatakan bahwa kita harus hidup dalam kekudusan. Tanpa kekudusan, kita tidak bisa berjumpa dengan Tuhan. Ini tentunya tidak berarti bahwa kita harus menjadi sama dengan Tuhan yang mahakudus. Tuhan menghendaki kita untuk kudus dalam darah Kristus.

Manusia tidak dapat dibenarkan tanpa darah Kristus yang menebus dosa mereka. Hanya karena penebusan Kristus, terbuka jalan bagi kita untuk bertumbuh terus dalam kekudusan. Dengan demikian, hidup berdamai dengan semua orang bukanlah berarti hidup dengan mengorbankan iman kepercayaan kita.

Jika kita berusaha mencapai perdamaian dengan cara duniawi, seringkali itu berarti bahwa kita harus membayarnya dengan kekudusan yang sudah kita terima dari Tuhan dan yang sudah tumbuh karena anugrahNya. Tetapi, jika kita berusaha mencari perdamaian dalam hidup melalui pendekatan kepada Kristus, sukacita yang penuh akan mengisi hati dan pikiran kita, sehingga kita tidak mudah terpancing kedalam kebencian.

“Jadi bagaimana sekarang: adakah kucari kesukaan manusia atau kesukaan Allah? Adakah kucoba berkenan kepada manusia? Sekiranya aku masih mau mencoba berkenan kepada manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus.” Galatia 1: 10