Hal menghindari kekacauan

“Sebab Allah tidak menghendaki kekacauan, tetapi damai sejahtera.” 1 Korintus 14: 33

Kota besar Jakarta, seperti juga Bangkok ataupun Sydney, selalu mempunyai jam-jam tertentu (rush hours) dimana kemacetan lalu lintas terjadi karena banyaknya mobil yang ada di jalan. Tetapi, kemacetan lalu lintas tidak hanya disebabkan oleh banyaknya kendaraan, tetapi bisa juga karena berbagai aktivitas manusia yang tidak biasa. Hal sedemikian tidak hanya membuat lalu lintas menjadi macet, tetapi juga menyebabkan kehidupan dan keamanan masyarakat menjadi terganggu.

Kalau kita pikirkan dalam-dalam, sebenarnya kekacauan apapun terjadi bukan hanya terjadi karena kebetulan. Berbagai sebab bisa mendatangkan kekacauan, tetapi sebab yang utama sebenarnya cara hidup atau tindakan manusia. Manusia yang seringkali lebih mementingkan kebutuhan pribadi biasanya melakukan tindakan tanpa pikir panjang, dan jika tindakan itu secara signifikan mempengaruhi banyak orang, kekacauan akan terjadi. Selain itu, kekacauan bisa terjadi karena hal yang sepele, tetapi karena banyaknya orang yang melakukan hal yang serupa, kekacauan kemudian timbul.

Pada ayat diatas tertulis bahwa Allah adalah Tuhan yang tidak menghendaki kekacauan. Ayat itu ditulis oleh Rasul Paulus kepada jemaat di Korintus yang pada waktu itu baru saja terbentuk dan berkembang. Kota Korintus pada waktu itu adalah kota yang cukup besar dengan berbagai kebudayaan dan kebiasaan yang bertentangan dengan ajaran kekristenan. Paulus bisa merasakan bahwa dalam kemudaannya, jemaat Korintus seringkali terombang-ambing diantara berbagai golongan masyarakat yang berbeda pendapat. Dalam kehidupan gereja pun, perbedaan pendapat itu sering terjadi. Tiap orang cenderung untuk menggunakan karunia yang dipunyainya  untuk dirinya sendiri dan bukan untuk kepentingan bersama. Tidaklah heran, kekacauan kemudian terjadi.

Paulus melalui surat kepada jemaat Korintus mengajarkan bahwa setiap orang Kristen harus bisa mengontrol dirinya sendiri. Setiap orang harus memikirkan kepentingan bersama untuk membangun, dan bukannya untuk mencari kepuasan diri sendiri. Setiap orang harus bisa mawas diri dan menghargai orang lain. Mengapa demikian? Karena Allah adalah Tuhan yang menghendaki ketertiban. Dalam kitab Kejadian kita seharusnya sudah tahu bahwa Tuhanlah yang menciptakan seluruh jagad raya sehingga dari apa yang tidak berbentuk, semua kemudian menjadi sesuatu yang teratur dan indah.

Pagi ini, jika kita bangun dan membaca koran atau media apapun, apa yang bisa kita baca kebanyakan adalah kekacauan yang terjadi dimana-mana. Mungkin itu berita tentang pandemi, kejahatan, kecelakaan, kebohongan, kemiskinan dan lain-lainnya. Sebagian orang memang senang mendengar atau membaca hal-hal semacam itu, bahkan mereka senang membagikannya ke orang lain. Selain itu, ada orang yang suka membuat kekacauan dengan melakukan tindakan-tindakan yang membuat orang lain kuatir, bingung ataupun marah. Lebih dari itu, ada orang-orang yang senang menyebarkan berita-berita yang tidak benar. Keadaan dunia saat ini memang tidak jauh berbeda dengan hingar-bingar kota Korintus pada abad pertama.

Apakah panggilan Tuhan untuk kita dalam keadaan sekarang? Sebagai orang Kristen kita harus sadar bahwa Tuhan menghendaki ketertiban di dunia. Jika iblis adalah sumber kekacauan, Tuhan adalah mahasuci dan Ia menghendaki kita untuk menjadi orang-orang yang tidak mempermalukan Dia. Sebaliknya, kita harus menjadi orang-orang yang memberi contoh kepada dunia bahwa kita adalah orang-orang yang sopan dan menghargai keteraturan. Kita adalah orang-orang yang mencintai kedamaian dan kesejahteraan dan ingin untuk membangun masyarakat di sekitar kita agar mereka mengenal dan memuliakan Tuhan kita.

“Tetapi segala sesuatu harus berlangsung dengan sopan dan teratur.” 1 Korintus 14: 40

Jangan lengah dalam menghadapi kekacauan

“Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya.” 1 Petrus 5: 8

Pada masa pandemi ini banyak orang yang hidup dalam berbagai tekanan, baik dalam hal kesehatan, sosial, dan ekonomi. Suasana tegang di beberapa negara memang sudah membawa kekuatiran akan apa yang akan terjadi di masa depan. Walaupun demikian, kita tahu bahwa bahaya dan kekuatiran itu selalu ada dimana saja. Itu adalah bagian hidup di dunia.

Sudah tentu pada saat ini kebanyakan orang tidak ingin untuk melakukan tindakan yang mempunyai risiko besar. Walaupun demikian, ada saja orang-orang yang justru berani melakukan hal-hal yang bisa membawa bahaya. Seperti itulah pada awalnya Adam dan Hawa jatuh dalam dosa karena berani “nyerempet-nyerempet” bahaya dengan mendengarkan bujukan si ular.

Dalam zaman ini, gaya hidup yang nyerempet bahaya juga sering dipunyai banyak orang Kristen. Mereka, karena yakin sudah terpilih untuk diselamatkan, seringkali mengabaikan kenyataan bahwa iblis selalu ingin menjatuhkan mereka, seperti ia ingin menjatuhkan Yesus yang lelah setelah berpuasa 40 hari di padang gurun.

Iblis seperti singa yang mengaum-aum, selalu mencari anak-anak Tuhan yang dapat ditelannya. Sayang bahwa ada umat percaya yang mengira bahwa iblis tidak dapat menyentuh mereka. Mereka mungkin menyangka bahwa iblis hanya menyerang mereka yang belum beriman kepada Yesus. Sebagian malah tidak percaya kalau iblis bisa menghancurkan tidak hanya kerohanian manusia, tetapi juga bisa memporak-porandakan jasmani manusia, seperti yang terjadi pada Ayub.

Sebagian orang membayangkan bahwa iblis yang mengaum-ngaum itu selalu muncul dalam berbagai bentuk khusus yang menakutkan dan mudah dikenali. Tetapi iblis adalah oknum yang pandai menyamar, yang bisa muncul sebagai sesuatu yang tidak terduga, sehingga manusia bisa terkecoh dan membuat keputusan yang salah. Iblis tidak hanya bisa membawa penderitaan dan malapetaka di dunia; dalam kesempitan yang dialami manusia, ia seringkali menawarkan kesempatan untuk memperoleh hadiah yang menggiurkan seperti harta, posisi, kekuatan, kebebasan dll. yang bisa menghancurkan manusia secara pelan-pelan.

Bagi anak-anak Tuhan, bahaya serangan iblis adalah lebih besar karena ia akan sangat senang jika bisa menjatuhkan orang-orang yang dikasihi Tuhan. Sekalipun ia tidak dapat mencuri keselamatan yang sudah diberikan Tuhan, iblis tetap ingin untuk mempermalukan Tuhan jika anak-anakNya jatuh.

Sebagai orang percaya, kita harus sadar bahwa pada saat ini, apa yang bisa dilakukan iblis adalah membuat berbagai keraguan, kebingungan, kekacauan, godaan dan persoalan dalam hidup orang percaya. Berbeda dengan orang yang belum diselamatkan, iblis tidak memiliki hidup orang percaya. Karena itu, jika kita jatuh dalam dosa, itu adalah tanggung jawab kita sendiri. Buat kita: ada pilihan, ada tanggung jawab.

Hidup menyerempet bahaya memang berisiko tinggi, dan karena itu kita harus sebisa mungkin menghindari semua hal yang buruk yang muncul dalam bentuk yang menarik. Kita harus rajin berdoa dan saling mendoakan agar kita bisa tetap tahan dalam menghadapi tantangan kehidupan. Dan kita wajib melawan iblis dengan iman yang teguh.

“Lawanlah dia dengan iman yang teguh, sebab kamu tahu, bahwa semua saudaramu di seluruh dunia menanggung penderitaan yang sama.” 1 Petrus 5: 9

Kurang apa?

“Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga.” Efesus 1: 3

Bacaan: Efesus 1: 3 – 14

Siapakah yang tidak ingin hidup berbahagia? Semua orang, termasuk orang Kristen, mendambakan hidup yang penuh kebahagiaan. Tentu saja, arti kebahagiaan buat orang Kristen seharusnya berbeda dengan apa yang dimengerti oleh mereka yang tidak mengenal Kristus. Kebahagiaan bagi orang Kristen tentunya bukanlah kebahagiaan yang disebabkan oleh adanya kemakmuran atau kenyamanan duniawi, tetapi karena hubungan yang baik dengan Tuhan. Walaupun demikian, orang Kristen mungkin merasa bahwa hidup ini masih “kurang” jika mereka tidak mendapat berkat jasmani yang mereka inginkan, dan dalam hal rohani mereka mungkin tidak puas jika belum memperoleh berbagai karunia Roh (1 Korintus 12: 8 – 11).

Patutkah kita merasa kurang puas dengan hidup kita? Tentu saja jawaban tiap orang akan berbeda. Ada orang menjawab bahwa ia bersyukur atas hidupnya, tetapi masih merasa kurang puas sebelum Tuhan mengabulkan permononannya. Ada juga orang yang sudah bertahun-tahun menantikan jawaban Tuhan atas permohonannya, tetapi jawaban itu tidak muncul sampai sekarang. Mengapa Tuhan tidak menjawab permohonan kita? Mengapa Ia tidak memberi penjelasan apapun? Hal-hal inilah yang bisa membuat hidup kita terasa belum “komplit”.

Surat kiriman Paulus kepada jemaat di Efesus memberi nasihat bahwa seharusnya setiap orang percaya puas akan hidupnya. Mengapa demikian? Karena mereka adalah orang-orang yang sudah terpilih untuk menerima berkat-berkat dari Tuhan. Ayat 3 dari Efesus 1 memulai bagian utama pertama dari surat Paulus, yang berlanjut sampai ayat 14. Paulus membuka dengan kata “Terpujilah” untuk menetapkan penekanan yang jelas pada Tuhan yang patut dipuji.

Setelah memuji Bapa dan Putra, Paulus mencatat bahwa Tuhan telah “memberkati kita di dalam Kristus dengan setiap berkat rohani di tempat surgawi.” Pernyataan yang mencakup semuanya ini menunjukkan bahwa setiap berkat yang kita butuhkan telah diberikan di dalam Kristus. Kristus datang dari surga ke bumi dari Bapa untuk memberi kita setiap berkat yang kita perlukan. Paulus selanjutnya menekankan fakta bahwa setiap berkat spiritual telah diberikan: predestinasi, adopsi, kehendak Tuhan, rahmat, penebusan, dan kemuliaan Tuhan, semua tema yang berhubungan dengan anugerah keselamatan kita.

Orang Yahudi membedakan berkat Tuhan dalam dua jenis: berkat yang bersifat sementara dan berkat spiritual. Berkat spiritual adalah berkat yang abadi dan jauh lebih berharga dari berkat jasmani yang bersifat temporal. Kita sudah dipilih oleh Tuhan dari mulanya untuk menerima keselamatan, dan melalui Kristus sudah diadopsi menjadi anak-anak Allah, bisa melihat bahwa Allah mempunyai kehendak yang baik untuk orang pilihanNya. Melalui pengurbanan Kristus di kayu salib kita menerima rahmatNya yang sangat luar biasa sebab kita orang yang seharusnya binasa, sudah ditebus dengan harga penuh. Semua ini seharusnya bisa membuat kita menyadari kemuliaan Tuhan dan kebesaran kasihNya.

Selama hidup di dunia, kita masih sering merasakan adanya berbagai penderitaan. Itu adalah lumrah karena dunia ini sudah jatuh kedalam dosa. Adanya pandemi dan berbagai masalahnya mungkin bisa membuat kita merasa sedih dan mengeluh, tetapi semua itu adalah sementara. Apa yang harus kita sadari ialah bahwa apa yang ada di dunia datang dan pergi, dan itu mencakup hal yang kita senangi maupun apa yang kita benci. Dengan demikian, perhatian kita seharusnya tidak terpusat pada apa yang bersifat temporal, tetapi pada apa yang bersifat kekal, yaitu keselamatan yang sudah diberikan kepada setiap orang yang percaya kepada Kristus. Jika kita menyadari betapa besar kasih Tuhan kepada kita, kita akan yakin bahwa tidak ada hal apa pun yang bisa membuat kita kurang bahagia. Biarlah Roh Kudus menolong dan menguatkan kita dalam menghadapi semua tantangan hidup kita, agar kita bisa selalu merasa puas menjadi anak-anak Tuhan.

“Di dalam Dia kamu juga karena kamu telah mendengar firman kebenaran, yaitu Injil keselamatanmu di dalam Dia kamu juga, ketika kamu percaya, dimeteraikan dengan Roh Kudus, yang dijanjikanNya itu. Dan Roh Kudus itu adalah jaminan bagian kita sampai kita memperoleh seluruhnya, yaitu penebusan yang menjadikan kita milik Allah, untuk memuji kemuliaanNya.” Efesus 1: 13 -14

Yang mana Tuhanmu?

Ketika tentara itu kembali ke perkemahan, berkatalah para tua-tua Israel: “Mengapa TUHAN membuat kita terpukul kalah oleh orang Filistin pada hari ini? Marilah kita mengambil dari Silo tabut perjanjian TUHAN, supaya Ia datang ke tengah-tengah kita dan melepaskan kita dari tangan musuh kita.” 1 Samuel 4: 3

Dalam kitab 1 Samuel 4 diceritakan bahwa bangsa Israel sedang berperang melawan bangsa Filistin. Pada perjumpaan pertama di medan perang , bangsa Israel kalah dengan korban 4 ribu prajurit. Karena itu, para pemimpin Israel menjadi bingung dan mengira bahwa Tuhan yang tidak mendukung mereka, sudah membuat mereka kalah dalam peperangan itu. Dalam pengertian mereka, Tuhan perlu dipaksa untuk berbuat sesuatu agar tentara Israel bisa menang pada kesempatan berikutnya.

Apa yang kemudian diperbuat pemimpin Israel adalah tindakan yang dipaksa keadaan. Kenekatan karena keputusasaan, mereka mengambil tabut perjanjian dari Silo dan mengaraknya ke medan perang dengan maksud agar Tuhan datang ke tengah-tengah mereka dan membawa kemenangan. Mereka membuat Tuhan seperti suatu yang bisa dipakai untuk memenuhi kebutuhan mereka. Mereka mengira bahwa Tuhan bisa diperintah untuk membawa kemenangan dalam perang. Bagaimana reaksi Tuhan atas perbuatan bangsa Israel itu? Dalam kitab 1 Samuel 4 kita bisa membaca bahwa Tuhan yang marah, membiarkan bangsa Israel kalah total dan kehilangan 30 ribu prajurit. Lebih parah lagi, tabut perjanjian jatuh ke tangan orang Filistin.

Apa yang dilakukan orang Israel pada waktu itu adalah kebodohan. Tetapi, kita mungkin pernah melakukan hal yang serupa dalam hidup ini. Mungkin sering kita berusaha untuk mendapatkan keberhasilan dengan segala cara, termasuk dengan usaha untuk memaksa dan menyandera Tuhan. Karena itu ada orang yang melakukan acara doa, penyembahan dan ibadah dengan cara-cara tertentu agar Tuhan memenuhi permohonan mereka. Ada pula yang menjalani ritual tertentu agar Tuhan memberi keselamatan kekal kepada mereka. Selain itu, banyak orang yang menafsirkan bahwa Tuhan yang benar adalah Tuhan orang Israel dan karena itu mereka harus hidup seperti orang Israel. Mereka tidak sadar bahwa orang Israel sendiri seringkali keliru.

Kegagalan orang Israel pada waktu itu adalah karena mereka sudah jauh dari Tuhan. Sampai-sampai mereka tidak ingat bahwa Tuhan yang mahakuasa tidak boleh diturunkan derajatnya sebagai sesuatu yang bisa dilihat dan dipikul. Apa yang mereka lakukan tidak berbeda dengan menyembah tabut perjanjian, dan bukannya Tuhan. Mereka lebih mementingkan ritual daripada pengenalan yang benar. Sebagai umat Kristen kita lebih beruntung dari orang Israel. Jika Yesus tidak turun ke dunia, kita tidak akan mengenal Tuhan dan menerima keselamatan. Melalui Yesus kita tahu bahwa hanya ada satu jalan untuk menjumpai Dia.

“Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan.” Roma 10: 9

Jangan suam-suam kuku

“Jadi karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas, Aku akan memuntahkan engkau dari mulutKu.” Wahyu 3: 16

Hari ini hari Minggu, hari dimana orang Kristen biasanya pergi ke gereja. Jalan raya di Gold Coast penuh dengan mobil, tetapi itu bukan karena banyaknya orang yang ke gereja. Esok hari, hari Senin, adalah hari libur; karena itu, sekalipun rasa was-was terhadap virus corona masih ada, sejak kemarin banyak orang yang datang dari berbagai tempat untuk berlibur.

Di Australia, hanya 15% penduduk yang ke gereja sedikitnya sekali sebulan, padahal 60% penduduknya mengaku beragama Kristen. Tidaklah mengherankan bahwa banyak gereja tradisionil sekarang ini hanya mempunyai jumlah jemaat yang kecil. Selain itu, jarang ada orang Kristen yang terang-terangan mengaku Kristen karena takut untuk dikatakan “fanatik”.

Orang Australia tidak berkeberatan jika disebut fanatik dalam hal menyukai suatu jenis olahraga. Mereka sangat antusias tentang hal apapun yang menyangkut olahraganya, seperti rugby atau Australian rules football. Tetapi, mereka tidak senang jika dianggap sebagai “religious fanatics”.

Kata fanatik sebetulnya bisa punya arti baik – memang kata Latin “fānāticus” berarti “diilhami Tuhan”. Sayang sekali bahwa kata fanatik sering digunakan untuk menunjuk kepada sesuatu yang ekstrim, lebih dari yang lumrah. Sebagai contoh, Bonek, grup “bondo nekad” penggemar fanatik sepakbola di Indonesia, seringkali terlibat dalam perbuatan-perbuatan yang kurang baik dan bahkan melawan hukum. Walaupun demikian kata fanatik masih sering dipakai untuk menunjuk kepada seseorang yang benar-benar bersemangat, sangat berdedikasi dan setia kepada apa yang disukainya.

Lalu apakah ada orang Kristen yang fanatik? Ada! Tetapi mungkin tidak seorangpun diantara kita yang mau disebut Kristen fanatik. Kenapa gerangan? Mungkin dari pengalaman kita, orang fanatik yang sedemikian tidak mempunyai toleransi kepada orang lain dan selalu merasa dirinya paling benar.

Dalam hal ini, Alkitab menjelaskan bahwa orang yang benar-benar cinta kepada Tuhan akan selalu memprioritaskan Tuhan diatas segala-galanya. Mereka akan berjalan dalam terang Tuhan dalam setiap keadaan. Dari hidup mereka jelas terlihat adanya: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu (Galatia 5: 22-23). Menjadi orang yang benar-benar Kristen sebenarnya adalah menjadi orang pengikut Kristus yang fanatik!

Apakah anda sudah menjadi orang Kristen fanatik? Belum? Tidakkah anda ingin menjadi anggota kelompok orang yang benar-benar beriman? Mungkinkah anda hanya ingin menjadi orang Kristen yang “biasa” yang “normal”? Bukan fanatik? Mungkin anda kuatir kalau-kalau anda menjadi pengikut agama yang fanatik, yang memusuhi orang yang tidak sepaham, yang siap menggunakan kekerasan untuk membuat orang lain tunduk. Tapi pengikut agama Kristen yang seperti itu bukanlah pengikut Kristus yang fanatik atau yang diilhami Tuhan.

Jika kita ingat bahwa Yesus begitu fanatik dalam pengurbananNya di kayu salib, kita akan sadar bahwa jika Yesus kurang dari fanatik dalam menaati perintah Allah Bapa, kita akan tetap tinggal dalam kebinasaan. Ayat renungan kita dari Wahyu 3: 16 diatas menunjukkan bahwa pengurbanan Kristus menuntut pengabdian umat Kristen kepada Allah secara penuh, secara penuh, secara fanatik. Jika kita hanya menjadi orang Kristen yang suam-suam kuku, menjadi orang yang hanya menyebut dirinya Kristen tetapi tidak menaati firmanNya, yang masih hidup dalam kepalsuan, kejahatan, dan yang malas untuk berbakti kepada Tuhan bersama saudara seiman, maka kita tidak dapat memperoleh keyakinan yang diisi dengan fanatisme bahwa Kristus hidup dalam diri kita. Hari ini kita diingatkan untuk setia dalam iman kita dan menjadi pengikut fanatik Yesus Kristus!

Untunglah ada Tuhan

“Aku adalah Alfa dan Omega, firman Tuhan Allah, yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang, Yang Mahakuasa.” Wahyu 1: 8

Pernahkah anda berpikir mengapa ada banyak kejadian yang menyedihkan di dunia ini? Seperti kekejaman, kelaparan, peperangan, dan sekarang ini Covid-19 dan resesi? Mengapa Tuhan membiarkan semuanya terjadi? Mengapa Ia membiarkan dosa menghancurkan manusia? Benarkah Tuhan itu mahasuci, mahakuasa, mahabijaksana, mahakasih dan mahaadil? Benarkah Ia mengirimkan Yesus untuk seisi dunia sehingga semua yang percaya dapat memperoleh hidup yang kekal (Yoh 3: 16)? Apakah Ia adalah Tuhan yang tidak mahakuasa walaupun mahakasih? Mungkinkah Ia adalah Tuhan yang mahakuasa tapi tidak mahakasih? Apakah dia hanya memilih orang-orang tertentu untuk mendapat keselamatan di surga dan kebahaagian di dunia? Mungkinkah dia Tuhan yang “pilih kasih”? Mungkinkah dia kurang bijaksana?

Pertanyaan-pertanyaan diatas sering sekali muncul diantara umat Kristen dan masyarakat umum. Adalah kenyataan bahwa banyak orang Kristen menjadi apatis dan tidak peduli akan keadaan dunia karena berpandangan bahwa Tuhan adalah mahakuasa dan membuat segala sesuatu terjadi di dunia. Sebaliknya, di kalangan masyarakat umum, banyak orang yang tidak mau menjadi Kristen karena beranggapan bahwa Tuhan tidak sepenuhnya mahakuasa, mahabijaksana, mahakasih dan mahaadil.

Ayat dari kitab Wahyu diatas jelas menyatakan bahwa Tuhan adalah mahakuasa, Ia yang mengatur segala sesuatu menurut rencana dan kebijakanNya dari awal sampai akhir. Tetapi, apakah Dia jugalah yang membuat segala sesuatu di dunia ini, termasuk hal-hal yang jelek seperti dosa, kejahatan dan penderitaan? Banyak orang Kristen, yang mungkin karena pengalaman-pengalaman yang dialami mereka, cenderung percaya bahwa semua itu terjadi karena kehendak Tuhan yang mahakuasa. Karena Tuhan sudah menetapkan segala sesuatu dari awalnya, tentu Dia yang menentukan hal-hal yang baik dan buruk untuk terjadi di dunia ini. Tuhan yang mahakuasa tentu bisa melakukan apapun. Benarkah itu?

Adakah sesuatu yang tidak dapat Tuhan lakukan? Ini pertanyaan yang seringkali dikemukakan oleh orang yang ingin menjebak orang Kristen. Jika jawabnya “tidak ada”, pertanyaan ini akan dilanjutkan dengan pertanyaan mengapa Tuhan tidak melakukan ini dan itu. Jika jawabnya “ada” maka Tuhan bukanlah maha kuasa.

Sebenarnya ada banyak yang tidak bisa dilakukan Tuhan. Aneh? Satu yang jelas Tuhan yang mahasuci tidak bisa berbuat dosa. Tuhan juga tidak bisa menjadi boneka atau patung di sudut rumah. Tuhan tidak bisa menjadi lembaran kertas yang bisa dimasukkan dompet. Tuhan juga tidak bisa menjadi kepandaian yang disimpan dalam otak kita. Tuhan tidak bisa menjadi pemimpin negara yang kita sanjung-sanjung. Tuhan adalah Tuhan yang mahasuci, mahakuasa, mahabijaksana, mahakasih dan mahaadil. Karena itu Tuhan tidak bisa bertindak seperti manusia yang terbatas. Apakah ketidak-bisaan Tuhan ini membuat Tuhan bukan Tuhan? Sudah tentu tidak.

Tuhan dalam kemahakuasaanNya telah menciptakan manusia dengan kemampuan untuk berpikir dan mengambil keputusan. Bahwa Adam dan Hawa mengambil keputusan untuk berbuat dosa, itu bukanlah kehendak Tuhan. Tuhan menghendaki manusia untuk taat kepada bimbinganNya dan hidup dalam kasihNya. Itu adalah rencanaNya dari awal dan karena itu Ia akan mewujudkan rencanaNya pada akhirnya. Penebusan darah Kristus adalah satu jalan yang ditentukannya untuk itu. Sebagai Tuhan yang mahakuasa Ia tidak dibatasi oleh apa pun dan Ia bisa mewujudkan rencanaNya tanpa bergantung kepada manusia dan perbuatan mereka.

Manusia dalam hidupnya bisa memilih untuk percaya kepada Yesus atau percaya kepada ilah-ilah yang lain. Mereka mempunyai kebebasan dan pilihan. Penderitaan dan kekacauan ada dimana-mana karena perbuatan atau kebodohan manusia sendiri. Ini bukan tanda bahwa Tuhan tidak mahakuasa tetapi sebagai Tuhan Ia tidak mau membuat manusia, peta dan teladanNya menjadi seperti mesin, karena Tuhan sendiri bukan mesin. Tetapi, dengan memberikan kebebasan bagi manusia dan dengan tetap mempunyai kontrol yang penuh akan jalannya alam semesta, Ia membuktikan bahwa diriNya adalah Alfa dan Omega. Tuhan tidak bisa menjadi Tuhan yang gagal sekalipun manusia dan iblis yang berusaha menggagalkan rancanganNya. Tuhan tetap memegang kemudi kehidupan dan alam semesta sekalipun keadaan saat ini terlihat kacau dan menyedihkan. Tetaplah percaya kepadaNya!

“Pujilah TUHAN, hai segala buatanNya, di segala tempat kekuasaanNya! Pujilah TUHAN, hai jiwaku!” Mazmur 103:22

Hanya Tuhan yang bisa berjalan di atas air

Dan ketika hari sudah mulai malam, murid-murid Yesus pergi ke danau, lalu naik ke perahu dan menyeberang ke Kapernaum. Ketika hari sudah gelap Yesus belum juga datang mendapatkan mereka, sedang laut bergelora karena angin kencang. Sesudah mereka mendayung kira-kira dua tiga mil jauhnya, mereka melihat Yesus berjalan di atas air mendekati perahu itu. Maka ketakutanlah mereka.Tetapi Ia berkata kepada mereka: “Aku ini, jangan takut!” Mereka mau menaikkan Dia ke dalam perahu, dan seketika juga perahu itu sampai ke pantai yang mereka tujui. Yohanes 6: 16 -21

Mukjizat Yesus berjalan di atas air, dicatat dalam tiga Injil (Matius 14: 22–36; Markus 6: 45–56; Yohanes 6: 16–21). Ceritanya terungkap di Laut Galilea atau Danau Tiberias, yang terletak di bagian bawah lembah Yordan di pegunungan yang menjulang hingga 4.000 kaki di atas permukaan laut. Danau itu sendiri berada 700 kaki di bawah Laut Mediterania. Salah satu aspek yang lebih penting dari laut ini adalah seringnya badai yang tiba-tiba datang. Badai ini disebabkan oleh udara dingin yang mengalir deras dari pegunungan yang mengelilinginya dan bertabrakan dengan udara hangat dan lembab yang naik dari permukaan air itu sendiri.

Ketika itu hari sudah mulai malam, murid-murid Yesus pergi ke danau, lalu naik ke perahu dan menyeberang ke Kapernaum. Meskipun mereka hanya melakukan perjalanan jarak pendek, badai itu begitu dahsyat sehingga, meskipun mereka telah berupaya keras untuk mengendalikan perahu mereka, badai telah membuat mereka terhanyut ke tengah-tengah laut. Setelah mendayung selama berjam-jam, mereka benar-benar kelelahan.

Markus memberi tahu kita bahwa, ketika para murid melihat Yesus berjalan di danau, mereka mengira Dia adalah hantu. Mereka berteriak, karena mereka semua melihat Dia dan ketakutan (Markus 6: 48–50). Dan ini membawa poin penting dari keajaiban ini. Yesus selalu datang kepada kita dalam badai kehidupan. Tuhan mungkin tidak datang pada saat kita berpikir Dia harus datang, karena Dia tahu kapan kita paling membutuhkan Dia.

“Apabila engkau menyeberang melalui air, Aku akan menyertai engkau,atau melalui sungai-sungai, engkau tidak akan dihanyutkan…” Yesaya 43:2

Yesus telah menunggu sampai perahu itu berada sejauh mungkin dari darat, ketika semua harapan mereka hilang. Jelas, Yesus sedang menguji iman para murid, dan ini berarti menyingkirkan setiap penyangga jasmani yang dimiliki mereka. Mengapa Yesus berjalan di atas air? Untuk menunjukkan kepada para muridNya bahwa hal yang mereka takuti, laut yang mengamuk dan mendidih, hanyalah serangkaian langkah bagiNya untuk datang kepada mereka. Seringkali kita takut akan pengalaman hidup yang sulit seperti penyakit, kehilangan orang yang dicintai, dan kesulitan keuangan hanya untuk menemukan bahwa pengalaman ini dapat membawa Yesus lebih dekat kepada kita.

Mengapa mereka tidak mengenali Yesus? Jawabannya adalah karena mereka tidak mencari Dia. Seandainya mereka menunggu dengan iman, mereka akan langsung mengenal Dia. Sebaliknya, mereka melompat ke kesimpulan yang salah bahwa penampakanNya adalah seperti hantu. Ini mengingatkan kita bahwa ketakutan dan iman tidak bisa hidup bersama dalam hati, karena rasa takut seringkali membutakan mata kita akan kehadiran Tuhan.

Yesus membuktikan diriNya menguasai kekuatan alam, sesuatu yang hanya dapat dilakukan oleh Tuhan. Dia mengungkapkan kebenaran ini kepada para murid yang kemudian mengakui keilahianNya dengan pengakuan iman kepada Yesus sebagai Tuhan.

Saat ini, perjalanan kita untuk mengatasi badai Covid-19 masih panjang tetapi ini adalah kesempatan bagi kita untuk bertumbuh dalam iman kepada Tuhan. Adanya badai bukan berarti Tuhan mengabaikan atau bermaksud menghukum kita. Tuhan mungkin bermaksud agar kita dapat lebih beriman kepadaNya dan mau menyerahkan hidup kita sepenuhnya dalam bimbinganNya. Inilah yang bisa menjadi perubahan cara hidup (game changer) bagi setiap orang percaya.

Kesempatan masih ada

Yesus menjawab, kata-Nya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah.” Yohanes 3: 3

Pernahkah anda mendengarkan pembicaraan orang Kristen mengenai hal lahir baru atau dilahirkan kembali (born again)? Mungkin anda mempunyai seorang teman yang rajin ke gereja, tetapi menurut kata orang masih belum lahir baru, alias masih hidup dalam dosa. Memang ada orang yang memakai istilah “Kristen lahir baru” untuk mereka yang sudah terlihat menjalani hidup yang menurut firman Tuhan. Apapun pengertian lahir baru itu, ayat diatas menyatakan bahwa hanya orang yang benar-benar dilahirkan kembali, akan menerima penyelamatan.

Apakah lahir baru itu? Apakah dilahirkan kembali itu adalah keadaan dimana seseorang mau bekerja keras untuk mempertahankan keselamatannya? Apakah lahir baru adalah keadaan dimana orang Kristen sudah terlihat baik hidupnya? Apakah mereka yang sudah percaya dan menyerahkan hidupnya kepada Tuhan harus berusaha mati-matian untuk hidup baik agar lahir baru? Itulah pertanyaan-pertanyaan yang mungkin muncul, seperti pertanyaan Nikodemus kepada Yesus pada waktu itu (Yohanes 3: 1 – 8).

Pada waktu Yesus disalib, disebelah kiri dan kananNya ada dua orang penjahat yang juga disalibkan. Seorang dari penjahat yang di gantung itu menghujat Dia, katanya: “Bukankah Engkau adalah Kristus? Selamatkanlah diri-Mu dan kami!” Tetapi penjahat yang lain menegor dia, katanya: “Tidakkah engkau takut, juga tidak kepada Allah, sedang engkau menerima hukuman yang sama?” (Lukas 23: 39 – 40). Penjahat yang menyadari bahwa Yesus adalah Tuhan adalah orang yang beruntung karena ia percaya kepada Yesus. Ia pada saat itu juga telah dilahirkan kembali, hidup lamanya yang penuh dosa, sudah menjadi putih bersih melalui pengampunan Tuhan.

Kata Yesus kepadanya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.” Lukas 23: 43

Jika penjahat yang mengaku percaya kepada Yesus itu dapat menerima keselamatan, itu adalah bukan karena usahanya sendiri. Dalam kenyataannya, waktunya sudah habis untuk bisa membuktikan kepada dunia bahwa ia adalah orang yang sudah bertobat. Tetapi, apa yang dilihat manusia bukanlah apa yang dilihat Tuhan. Apapun yang baik menurut manusia tidak akan bisa menyelamatkannya dari hukuman Tuhan yang mahasuci. Hanya Tuhan yang bisa memutuskan apakah kita “cukup baik” atau “good enough” bagi Dia, dan itu hanya bisa terjadi melalui darah Kristus. Jika kita mengakui dosa kita dan benar-benar percaya bahwa Yesus adalah satu-satunya jalan keselamatan, kita akan memperoleh jaminan keselamatan. Itulah lahir baru.

“Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” 1 Yohanes 1: 9

Memang, banyak orang Kristen yang beranggapan bahwa kita harus bekerja keras untuk lahir baru atau untuk mempertahankan keselamatan kita. Pengertian seperti itu adalah keliru, karena keselamatan sudah diberikan Tuhan secara cuma-cuma kepada orang yang percaya, bukan kepada orang yang dipandang baik dalam mata manusia. Lahir baru adalah karunia Tuhan. Lahir baru memungkinkan manusia untuk berubah dari hidup lamanya dan dengan berjalannya waktu bertumbuh menjadi dewasa dalam iman.

“Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus.” Roma 3: 23 – 24

Apakah Nikodemus tidak mendapatkan kesempatan untuk lahir baru? Ada orang yang berpikir begitu karena ia adalah orang Farisi yang secara sembunyi-sembunyi menjumpai Yesus dan tidak dapat memahami hal hidup baru. Tetapi Nikodemuslah yang bersama Yusuf dari Arimatea mempersiapkan penguburan Yesus setelah Ia mati disalibkan. Nikodemus jugalah yang membawa campuran minyak mur dan minyak gaharu dan mengapani serta membubuhi mayat Yesus dengan rempah-rempah menurut adat orang Yahudi (Yohanes 19: 38 – 40). Apakah itu sekadar penghormatan terakhir kepada Rabbi Yesus yang diberikan oleh Nikodemus? Ataukah itu adalah tanda hidup baru yang sudah diterima Nikodemus? Alkitab tidak memberikan kepastian tentang hal ini, tetapi banyak orang yang percaya bahwa Yusuf dari Arimatea dan Nikodemus adalah orang Yahudi yang kemudian percaya kepada Yesus.

Hari ini, tantangan untuk kita adalah untuk hidup baik sesuai dengan firman Tuhan, jika kita memang sudah dilahirkan kembali. Jika ada orang yang mempertanyakan mengapa kita berusaha untuk makin hari makin baik, kita tahu jawabnya. Perbuatan baik seperti apa yang dilakukan oleh Nikodemus bisa menunjukkan sambutan kita kepada kasihNya, sebagai rasa syukur kita kepada Tuhan. Kita juga tahu bahwa orang yang dengan sengaja tetap memilih untuk hidup bergelimang dalam dosa adalah orang yang tidak benar-benar percaya bahwa pengurbanan Yesus di kayu salib adalah karunia Allah yang terbesar untuk manusia, yang harus selalu disyukuri. Orang yang sedemikian adalah orang yang belum menerima karunia hidup baru dari Tuhan. Tidak ada kemungkinan lain.

“Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati.” Yakobus 2: 26

Bosan mendengar suaraNya?

“Hai anakku, janganlah engkau menolak didikan TUHAN, dan janganlah engkau bosan akan peringatan-Nya.” Amsal 3: 11

Dalam hidup ini siapakah yang tidak pernah bosan? Dari bosan makan makanan tertentu, bosan memakai jenis pakaian tertentu, bosan bekerja atau bersekolah, sampai bosan hidup dengan orang tertentu. Apalagi dengan adanya pandemi, orang menjadi kurang bebas untuk melakukan kegiatan sehari-hari, dan karena itu mudah merasa bosan.

Rasa bosan adalah keadaan emosi atau jasmani yang dialami seseorang karena kurangnya aktivitas, variasi, motivasi atau stimulasi. Tetapi bosan juga bisa disebabkan oleh kesulitan, tantangan dan penderitaan yang tidak kunjung berhenti seperti yang dialami Ayub:

“Aku telah bosan hidup, aku hendak melampiaskan keluhanku, aku hendak berbicara dalam kepahitan jiwaku.” Ayub 10: 1

Mengalami kebosanan belum tentu dosa, tetapi sikap, kelakuan dan perbuatan yang menyebabkan kebosanan atau yang terjadi sesudahnya mungkin dapat berakhir dengan dosa. Kebosanan dengan situasi hidup bisa membuat kita tidak peduli atas apapun yang terjadi dan bahkan bosan untuk mendengarkan suara Tuhan.

Pada waktu di padang gurun, umat Israel pada suatu saat merasa bosan memakan roti manna yang rasanya manis seperti kue madu. Maklum sudah bertahun- tahun mereka tidak pernah makan daging. Apa yang terjadi setelah itu? Mereka bersungut-sungut kepada Tuhan karena tidak adanya daging. Dari perasaan bosan, dosa kemudian muncul, dan akibat selanjutnya mengerikan. Beribu-ribu orang Israel mati karena kebanyakan makan burung puyuh yang didatangkan Tuhan (Bilangan 11).

Kita yang hidup di kota besar mungkin sering berpikir betapa membosankan hidup di desa. Memang sesekali bertamasya ke tempat sepi bisa membawa rasa damai. Tapi bagaimana kalau kita harus hidup di tempat dimana tidak ada mall, internet atau tempat kuliner? Mereka yang tiap hari “ngemall” pun lama-lama bosan juga. Yang suka “ngemal-ngemil” bosan juga akhirnya.

Kalau sudah bosan lalu bagaimana? Rasa kebosanan yang tidak diatasi akan bisa berlanjut dengan dosa karena hidup yang kehilangan tujuan. Begitu banyak orang yang terjerumus kedalam aktivitas dan hal-hal yang buruk karena bosan dengan apa yang ada. Bosan menghilangkan rasa syukur, kesabaran, kesetiaan dan kasih.

Pada pihak yang lain, ada orang yang tidak bosan-bosannya melakukan hal yang sama. Kalau yang dilakukan adalah hal yang baik, maka itu adalah keuletan. Tetapi jika apa yang diperbuat adalah tidak baik, itu bukan keuletan, tapi mungkin ambisi, adiksi atau kerakusan. Mereka yang tidak bosan-bosannya hidup untuk memuaskan diri sendiri akhirnya bisa jatuh dalam dosa, jatuh kedalam jerat iblis. Mereka yang tidak pernah bosan mengejar harta, kenyamanan dan kemuliaan akan jatuh kedalam berbagai kesengsaraan karena tidak sempat mendengar suara Tuhan.

“Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.” 1 Timotius 6: 10

Hari ini, sudahkah kita membuat rencana untuk mengerjakan sesuatu? Adakah rencana untuk mengisi hidup kita dengan sesuatu yang benar-benar bermanfaat bagi Tuhan dan sesama? Apakah kita merasa lelah dan bosan mengalami hal-hal yang tidak enak, yang selalu muncul setiap hari?Ataukah selama ini kita tidak bosan-bosannya mengerjakan sesuatu demi kepuasan diri sendiri? Marilah kita mengevaluasi hidup kita agar dalam segala yang kita alami dan lakukan, nama Tuhanlah yang dipermuliakan!

“Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah.” 1 Korintus 10:31

Hari Minggu bukanlah hari tanpa tujuan

Lalu kata Yesus kepada mereka: “Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat, jadi Anak Manusia adalah juga Tuhan atas hari Sabat.” Markus 2: 27-28

Hari Minggu, atau Sabtu untuk sebagian orang Kristen, adalah hari yang kudus, yang harus kita perhatikan dalam konteks yang benar – sekalipun bagi orang lain itu mungkin merupakan hari untuk jalan-jalan atau rileks saja. Hari Minggu bukan hari yang “kosong”, tetapi adalah hari yang “penuh”. Hari yang bukan berarti kosong dari segala kegiatan, tetapi hari yang diisi dengan kemauan untuk benar-benar bisa memperoleh ketenangan dan istirahat.

“Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat” Keluaran 20: 8

Mengapa kita harus mempunyai kemauan untuk memperoleh ketenangan dan istirahat? Karena jika tidak dengan kesadaran dan usaha yang benar, manusia tidak akan dapat beristirahat pada hari Minggu. Dunia ini penuh dengan atraksi yang bisa membuat manusia lupa bahwa hari Minggu diciptakan Tuhan untuk manusia agar mereka dapat beristirahat dari kegiatan sehari-hari dan memperoleh kesegaran rohani dengan mendekati Tuhan yang adalah sumber kekuatan manusia.

Setelah seminggu orang bekerja, malam Minggu di berbagai kota adalah kesempatan untuk berpesta pora dan bermalam panjang. Karena itu, bagi sebagian orang, hari Minggu adalah kesempatan untuk memperoleh ekstra tidur sesudah begadang. Begitu pula, sebagian manusia yang lain berpikir bahwa hari Minggu adalah hari yang bisa dipakai untuk tidak memikirkan apa-apa, selain rekreasi, makan dan tidur. Mereka tidak suka kalau satu hari yang tersisa dalam seminggu harus dipakai untuk memikirkan kebutuhan rohani. Itu sebelum datangnya pandemi…..

Sejak adanya Covid-19, hidup manusia terjungkir-balik. Banyak gereja yang tidak dapat melangsungkan kebaktian secara nyata, tetapi harus melakukannya melalui internet. Banyak orang Kristen yang mengeluh bahwa kebaktian secara maya tidaklah sama dengan kebaktian yang nyata. Hari Minggu yang biasanya bisa dinikmati, pada saat pandemi bisa menjadi hari yang membosankan. Mengapa demikian? Manusia adalah makhluk sosial dan karena itu membutuhkan orang lain. Panggilan untuk menguduskan hari Sabat bukan saja untuk berbakti kepada Tuhan, tetapi juga untuk bersekutu dengan saudara seiman.

Hari Minggu bukan diciptakan sebagai “hukuman” untuk manusia. Hari Minggu bukan diciptakan untuk memaksa manusia untuk berhenti bekerja dan untuk berbakti kepada Tuhan. Tuhan memberikan hari Minggu kepada manusia karena mereka tidak dapat bekerja terus menerus tanpa memperoleh kesempatan untuk mendapat penyegaran dan kekuatan baru dari Sang Pencipta. Adanya pandemi mungkin bisa mengingatkan kita bahwa hidup manusia akan pelan-pelan menuju kearah kehancuran jika jasmani dan rohani mengalami kelelahan.

Pada hari Minggu, umat Tuhan diingatkan untuk kembali memusatkan diri kepada Tuhan seperti seekor rusa yang haus, yang ingin meminum air sungai yang menyegarkan. Hari Minggu bukan berarti duduk di gereja untuk satu atau dua jam saja. Hari Minggu adalah hari dimana kita bisa bersungguh-sungguh berkomunikasi dengan Tuhan dan sesama manusia untuk memperkokoh iman dan menyegarkan hidup kita guna menghadapi minggu yang baru.

“Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah.” Mazmur 42: 1