Tujuan tidak menghalalkan cara

“Dan inilah doaku, semoga kasihmu makin melimpah dalam pengetahuan yang benar dan dalam segala macam pengertian, sehingga kamu dapat memilih apa yang baik, supaya kamu suci dan tak bercacat menjelang hari Kristus, penuh dengan buah kebenaran yang dikerjakan oleh Yesus Kristus untuk memuliakan dan memuji Allah.” Filipi 1: 9 – 11

Pernahkah anda membaca cerita tentang Robin Hood? Menurut legenda, Robin Hood hidup pada abad 13-14 masehi. Itu merupakan masa di mana Inggris masih dipimpin oleh Raja Richard dan pemimpin sementara yakni, Raja John. Robin Hood tinggal di hutan Sherwood, salah satu hutan yang paling luas di Britania Raya. Di sana dia hidup bersama sekelompok penjahat yang bersembunyi dari kejaran otoritas kerajaan. Mereka dijuluki “Merry Men”.

Di hutan Sherwood, Merry Men kerap berburu kaum elite dan merampok pelancong kaya yang melewati hutan. Mereka mengenakan pakaian hijau, dipersenjatai dengan busur dan anak panah; dan terkadang mereka membawa tombak kayu serta pedang. Setiap kali beraksi, hasil rampasan akan dibawa ke Robin Hood, pria yang mereka anggap sebagai raja. Robin Hood kemudian membagi harta rampasan secara adil pada setiap anggota kelompoknya. Robin Hood tak pernah membiarkan anak buahnya mencelakakan siapa pun kecuali orang-orang kaya yang tinggal di rumah besar dan sama sekali tidak bekerja. Dia selalu baik pada orang miskin, dan sering mengirim bantuan kepada mereka. Karena alasan itulah rakyat jelata memandang Robin Hood sebagai pahlawan. Dan banyak orang yang membaca cerita ini mungkin juga setuju bahwa Robin Hood adalah orang yang baik hati. Benarkah bahwa tujuan yang baik menghalalkan cara?

Paulus dalam ayat diatas menulis tentang doanya untuk jemaat di Filipi agar kasih mereka makin melimpah dalam pengetahuan yang benar (knowledge), sehingga mereka dapat mempunyai kemampuan untuk memilih apa yang baik (discernment), dan supaya mereka bisa hidup dalam kejujuran (sincerity) dan tak hidup dalam dosa (blameless). Lebih dari itu, Paulus berdoa agar mereka bisa menghasilkan berbagai perbuatan yang baik melalui Yesus (good works) untuk memuliakan Allah. Kasih umat Kristen, berbeda dengan cinta duniawi, ternyata tidak buta. Adanya kasih tidak menghalalkan segala cara untuk menyatakannya. Kasih bertujuan untuk memuliakan Tuhan yang sudah lebih dulu mengasihi kita. Karena itu kita harus bisa memilih cara yang benar untuk menyatakannya.

Kasih yang harus dipunyai setiap orang Kristen bukanlah suatu kewajiban yang harus dilaksanakan dengan membabi-buta tanpa pikir. Sebaliknya, jika umat Kristen ingin untuk bisa mengasihi sesamanya, mereka harus berdoa agar mereka bisa melakukannya dengan bijaksana agar bisa memilih apa yang baik dan berguna bagi hidup mereka dan bagi hidup orang lain. Kasih yang benar tidak akan mengurbankan prinsip-prinsip kejujuran dan kesucian hidup yang dituntut Tuhan, dan kasih yang benar selalu dapat menghasilkan apa yang baik sesuai dengan firman Tuhan. Kasih surgawi tidak semudah atau semurah cinta duniawi. Kasih datang dari Allah dan kita harus mengerti apa yang dikehendakiNya untuk dapat mengasihi. Inilah yang juga pernah didoakan Paulus untuk jemaat di Efesus.

‘Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan. Aku berdoa, supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah.”  Efesus 3: 18 – 19

Pagi ini, mungkin kita ingin menyatakan kasih kita kepada orang lain, kepada teman, sanak atau pun keluarga. Mungkin kita ingin agar membuat mereka berbahagia dengan berbagai perhatian, pemberian atau pengurbanan. Tetapi firman Tuhan berkata bahwa untuk bisa memberi kasih yang benar kita harus mempunyai kebijaksanaan, dan bisa membedakan apa yang baik dan apa yang buruk. Kasih yang benar adalah kasih yang membangun hidup orang lain didalam Kristus, kasih yang seperti kasih Kristus adalah kasih yang membawa orang kearah keselamatan, bukan kearah kehancuran dalam impian. Kasih yang benar akan mempertahankan apa yang baik dan menghilangkan apa yang buruk dari hidup kita dan hidup orang lain, agar hidup kita dan orang-orang yang kita kasihi bisa membawa kemuliaan kepada Tuhan.

Kita bisa memilih yang baik

Tetapi Tuhan menjawabnya: “Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya.” Lukas 10: 41 – 42

Tak terasa bulan November sudah datang dan sebentar lagi semester 2 universitas akan berakhir. Dalam dua minggu terakhir ini saya menerima banyak email dari murid-murid saya yang memohon perpanjangan waktu untuk menyerahkan tugas mereka. Tiap tugas harus diselesaikan dalam waktu tertentu, dan jika terlambat mereka akan mendapat pemotongan angka sebesar 5% dari angka mereka setiap harinya.

Banyak alasan yang diajukan murid-murid itu. Ada yang mengaku sakit, atau terkena isolasi mandiri, dan ada yang mengemukakan sibuknya hidup mereka; bahkan ada juga yang mengalami kerusakan komputer secara tiba-tiba. Herannya, semua itu sering terjadi hanya beberapa hari sebelum batas waktu. Kelihatannya, murid yang sering mengajukan permohonan perpanjangan waktu adalah mereka yang kurang pandai mengatur waktu.

Ayat diatas berasal dari bagian Alkitab yang menceritakan bagaimana Yesus dan murid-murid-Nya mampir ke desa Marta dan saudaranya, Maria. Barangkali ada sekitar 70 orang yang bersama Yesus saat itu, dan mungkin banyak juga yang bertamu di rumah kedua perempuan itu. Jika kunjungan itu hanyalah sekedar untuk bertamu, bisa dibayangkan betapa ramainya suasana disana, mungkin mirip sebuah pesta dan Yesus adalah tamu agungnya.

Apa yang terjadi ternyata bukanlah seperti yang kita bayangkan. Yesus menggunakan kesempatan itu untuk mengajar. Maria duduk didekat kaki Tuhan untuk mendengarkan perkataan-Nya. Sebaliknya, Marta tidak menyempatkan diri untuk mendengarkan pengajaran Yesus. Ia sibuk sekali melayani tamu-tamu dan mungkin juga sibuk dengan mempersiapkan hidangan. Ia tidak senang melihat Maria yang tidak mau membantunya. Ia mendekati Yesus dan berkata: “Tuhan, tidakkah Engkau peduli, bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri? Suruhlah dia membantu aku.”

Sebagai pengikut Yesus, kita mungkin pernah menghadapi hal yang serupa. Kesibukan sehari-hari seringkali mengharuskan kita untuk membagi waktu yang ada untuk bisa melaksanakan berbagai tugas. Apalagi di saat pandemi ini, keadaan di sekeliling kita agaknya kurang nyaman. Mungkin karena terlalu sibuk atau terlalu banyak yang dipikirkan, kita memilih untuk melakukan apa yang kita anggap lebih penting atau lebih menyenangkan, dan itu mungkin bukan untuk mempelajari firmanNya atau untuk berdoa kepada Tuhan dengan teratur. Kita menunda kewajiban kita untuk berbakti kepada Tuhan, persis seperti seorang murid yang akhirnya terpaksa meminta perpanjangan waktu untuk menyerahkan tugasnya.

Hari ini kita harus sadar bahwa waktu adalah sebuah sarana yang terbatas. Umur kita bukan di tangan kita dan karena itu kita harus mengatur hidup kita sebaik-baiknya dengan mengutamakan apa yang terbaik. Kita tidak sepatutnya berpikir bahwa Tuhan sudah memilih kita sebagai anak-anakNya dan Ia menerima hidup kita sebagaimana adanya, tanpa mau berubah dari hidup lama kita. Memang ada hal-hal dalam hidup ini yang diluar kendali kita seperti adanya resesi saat ini, tetapi mengatur cara hidup adalah di tangan setiap individu. Tuhan memberikan kesempatan bagi kita untuk bisa memilih untuk menjadi seperti Maria yang menggunakan waktu yang ada untuk mendengarkan apa yang dikatakan Tuhan, atau menjadi seperti Marta yang selalu sibuk dengan hal-hal duniawi. Manakah yang menjadi pilihan anda?

Loving fellow human beings

“But you, my friends, keep on building yourselves up on your most sacred faith. Pray in the power of the Holy Spirit, and keep yourselves in the love of God, as you wait for our Lord Jesus Christ in his mercy to give you eternal life. Show mercy toward those who have doubts; save others by snatching them out of the fire; and to others show mercy mixed with fear, but hate their very clothes, stained by their sinful lusts. Jude 1: 20-23 (GNT)

The Apostle Jude was one of the twelve apostles of Jesus Christ. In the Bible it is recorded as “Judas the son of James” or “Judas son of James”. He was known by another name, Thaddaeus, or Judas Thaddaeus. In the above verse the Apostle Jude writes to the church so that they have compassion, compassion, towards others. This is not an easy thing to do.

Maybe to feel sorry for those who look good enough in life, we can do it. Aren’t they good enough to be Christians? But, to be able to have mercy on people who are seen living in sin, we may feel less able. They are less likely to be followers of Christ. So maybe we think.

Is it important that we learn to be compassionate? The answer to this question is a certainty: Yes. This world is full of people who are suffering, both physically and spiritually. If we really want to love our neighbor as it is written in the law of love, we do not want to have to learn to be able to cry with people who cry. We must also be able to mourn those who live in sin but do not realize it or are unable to correct it. The ability to have compassion and empathy is not something we easily acquire, if that is indeed based on true love and not just to pretend.

How can we learn to have compassion and empathy? We must learn from the Lord Jesus who came down to earth as a human being. Jesus could not only weep when Lazarus, His beloved, died. Jesus also wept when He saw Jerusalem because the people of the city did not realize their sin when they rejected the Savior, and they did not know the calamity that was to come (Luke 19: 41-42).

For many Christians today it may not be difficult to have compassion and empathy if a family member or church member is in trouble. However, this manifestation of love is often hindered if those affected by the disaster are not Christians, not loved ones, not relatives or friends, or perhaps living far away. In this case, it is as if there is a wall that limits their love.

This morning, the word of God reminds us not to limit our compassion and empathy to those around us. God does not command us to love, help and pray for our friends or relatives only. All men have sinned and need forgiveness through the blood of Christ. Thus, our love is not just for people of the same family, religion, church, heaven or country. Instead, we must be able to channel the love of God we have received to everyone, including those who hate us, so that they too can be saved. What we hate is their sin, not the persons. Just as we once needed the help of others to lead us to Christ, they need us to lead them to the right path.

“But now I tell you: love your enemies and pray for those who persecute you, so that you may become the children of your Father in heaven. For he makes his sun to shine on bad and good people alike, and gives rain to those who do good and to those who do evil.” Matthew 5: 44 – 45 (GNT)

Mengasihi sesama manusia

“Akan tetapi kamu, saudara-saudaraku yang kekasih, bangunlah dirimu sendiri di atas dasar imanmu yang paling suci dan berdoalah dalam Roh Kudus. Peliharalah dirimu demikian dalam kasih Allah sambil menantikan rahmat Tuhan kita, Yesus Kristus, untuk hidup yang kekal. Tunjukkanlah belas kasihan kepada mereka yang ragu-ragu, selamatkanlah mereka dengan jalan merampas mereka dari api. Tetapi tunjukkanlah belas kasihan yang disertai ketakutan kepada orang-orang lain juga, dan bencilah pakaian mereka yang dicemarkan oleh keinginan-keinginan dosa.” Yudas 1: 20 – 23

Rasul Yudas adalah salah satu dari kedua belas rasul Yesus Kristus. Dalam Alkitab dicatat dengan nama “Yudas anak Yakobus” atau “Yudas bin Yakobus”. Ia dikenal dengan nama lainnya Tadeus, atau Yudas Tadeus. Dalam ayat diatas Rasul Yudas menulis kepada jemaat agar mereka mempunyai rasa belas kasihan, compassion, kepada orang lain. Ini bukanlah hal yang mudah dilakukan.

Mungkin untuk berbelas kasihan kepada mereka yang terlihat cukup baik hidupnya, kita bisa melakukannya. Bukankah mereka cukup baik untuk menjadi umat Kristen? Tetapi, untuk bisa berbelas kasihan kepada orang yang terlihat hidup dalam dosa, kita mungkin merasa kurang sanggup. Mereka adalah orang yang kurang pantas untuk menjadi pengikut Kristus. Begitu mungkin kita berpikir.

Pentingkah kita belajar untuk bisa mempunyai rasa belas kasihan? Jawaban pertanyaan ini adalah sebuah kepastian: Ya. Dunia ini penuh dengan orang-orang yang menderita, baik secara jasmani maupun rohani. Jika kita memang mau mengasihi sesama kita seperti apa yang tertulis dalam hukum kasih, kita mau tidak mau harus belajar untuk bisa menangis dengan orang yang menangis. Kita juga harus bisa menangisi orang yang hidup dalam dosa tetapi tidak menyadarinya atau tidak mampu untuk memperbaikinya. Kemampuan untuk mempunyai rasa belas kasihan dan empati bukanlah sesuatu yang gampang kita peroleh, jika itu memang didasari rasa kasih yang benar dan bukan hanya untuk berpura-pura.

Bagaimana kita bisa belajar untuk mempunyai rasa belas kasihan dan empati? Kita harus belajar dari Tuhan Yesus yang sudah turun ke dunia sebagai manusia. Yesus bukan saja bisa menangis ketika Lazarus, yaitu orang yang dikasihiNya, meninggal. Yesus juga menangis ketika Ia melihat Yerusalem karena orang-orang di kota itu tidak menyadari dosa mereka ketika mereka menolak Sang Juruselamat, dan mereka juga tidak tahu malapetaka yang akan terjadi di masa depan (Lukas 19: 41 – 42).

Bagi orang Kristen di zaman ini mungkin tidak sukar untuk mempunyai rasa belas kasihan dan empati jika ada anggota keluarga atau teman segereja yang mengalami musibah. Tetapi, seringkali perwujudan rasa kasih ini menjadi terhambat jika mereka yang tertimpa bencana adalah bukan orang Kristen, bukan orang yang disukai, bukan sanak atau teman, atau mungkin jauh dimata. Dalam hal ini, seakan ada tembok yang membatasi kasih mereka.

Pagi ini, firman Tuhan mengingatkan kita untuk tidak membatasi rasa belas kasihan dan empati kita kepada orang disekitar kita. Tuhan tidak memerintahkan kita untuk mengasihi, menolong dan berdoa bagi teman atau sanak kita saja. Semua manusia sudah berdosa dan membutuhkan pengampunan melalui darah Kristus. Dengan demikian, kasih kita tidak hanya untuk orang yang serumah, seagama, segereja, semarga atau senegara. Sebaliknya, kita harus bisa menyalurkan kasih Tuhan yang sudah kita terima kepada siapa saja, termasuk mereka yang membenci kita, agar mereka bisa diselamatkan juga. Apa yang kita benci adalah dosa mereka, bukan orangnya. Seperti kita yang dulu membutuhkan pertolongan orang lain untuk membawa kita kepada Kristus, mereka membutuhkan kita untuk membawa mereka ke jalan yang benar.

“Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.” Matius 5: 44 – 45

Hidup kita untuk kemuliaan Tuhan

“Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diriNya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.” Filipi 2: 5 – 7

Siapakah Yesus itu? Bagi sebagian orang Yesus adalah seorang guru yang bijaksana, yang sudah mengajarkan berbagai cara hidup yang baik. Bagi orang lain, Yesus adalah salah satu dari banyak nabi utusan Allah yang berasal dari Israel. Walaupun demikian, semua itu tidak sebanding dengan apa yang diyakini umat Kristen: Yesus adalah Anak Allah yang sudah merendahkan diriNya untuk menebus manusia.

Lebih dari itu Yesus adalah Tuhan, yang bersama-sama dengan Allah Bapa dan Roh Kudus adalah merupakan satu Tuhan dengan tiga pribadi. Mengapa satu? Itu karena Bapa, Anak dan Roh adalah suatu kesatuan Ilahi: bahwa mereka dari mulanya selalu ada, dan bersatu dalam segala pertimbangan, rencana dan tindakan. Mempunyai 3 pribadi yang berbeda, mereka adalah satu derajat dan harus disembah dan dihormati oleh umatNya karena Tuhan adalah pencipta dan sumber kehidupan manusia.

Bagaimana mungkinTuhan adalah sumber kehidupan manusia? Tuhan Yesus dalam ayat di bawah menggambarkan orang Kristen sebagai ranting-ranting pohon anggur yang bergantung pada pokok anggur untuk bisa hidup.

“Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.” Yohanes 15: 5

Kita yang sudah diangkat sebagai anak-anak Allah karena pengurbanan Yesus tidak boleh menganggap bahwa sesudah menjadi anak-anak Allah kita adalah orang-orang pilihan yang sudah diselamatkan, dan karena itu tidak perlu memikirkan apa yang perlu kita lakukan untuk memuliakan Tuhan.

Tanpa kesadaran bahwa kita bergantung kepada Tuhan dan harus hidup untuk Tuhan, hidup kita akan tidak berbuah apa yang baik. Seperti itulah, orang-orang Kristen yang hanya mau menerima berkat Tuhan tetapi tidak mau mengubah hidupnya untuk bisa memuliakan Tuhan dan menolong sesama. Seperti itulah orang-orang Kristen yang dalam hidupnya tidak mau memasyhurkan nama Tuhan. Mereka yang nampaknya sudah bekerja keras, mengambil segala kemuliaan untuk diri sendiri. Ini berbeda dengan Yesus yang bekerja di dunia – mengurbankan diri untuk kemuliaan Bapa. Mereka yang hidup untuk diri sendiri adalah seperti ranting-ranting yang tidak berbuah, yang akan dipotong dari pokok anggur karena tidak berguna untuk kerajaan Tuhan.

Pagi ini firman Tuhan mengingatkan kita akan kedudukan kita sebagai ranting-ranting pohon anggur, sebagai bagian dari gereja Tuhan. Sebagai orang Kristen tidak saja kita harus berbuah dalam hal-hal yang baik, tetapi juga harus makin bisa memuliakan Tuhan dan makin bisa melayani sesama. Hari lepas hari, sebagai ranting yang baik, haruslah kita makin banyak berbuah dan makin membawa kemuliaan bagi Dia sumber hidup kita.

“Barangsiapa tidak tinggal di dalam Aku, ia dibuang ke luar seperti ranting dan menjadi kering, kemudian dikumpulkan orang dan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar.” Yohanes 15: 6

Jangan sampai tertipu

“Tetapi aku takut, kalau-kalau pikiran kamu disesatkan dari kesetiaan kamu yang sejati kepada Kristus, sama seperti Hawa diperdayakan oleh ular itu dengan kelicikannya.” 2 Korintus 11: 3

Membaca surat kabar mengenai hal vasin Covid-19, mau tidak mau saya menghela nafas. Di berbagai negara, dijumpai banyak orang yang tidak mau menerima suntikan vaksin Covid-19 jika vaksin itu sudah tersedia. Memang ada banyak berita-berita miring yang menyebabkan orang ragu untuk mempercayai guna dan keamanan vaksin. Ada berita yang menyebarkan berita bahwa virus corona itu sebenarnya tidak ada, dan ada pula hoax yang menyatakan bahwa orang justru bisa terkena Covid-19 kalau disuntik vaksin. Saya kuatir kalau-kalau banyak orang yang tertipu oleh berbagai ajaran yang keliru dari orang-orang yang mengaku berjabatan dokter atau pakar kesehatan.

Seperti keadaan di zaman ini, Rasul Paulus dalam ayat diatas menyatakan kekuatirannya atas kemungkinan bahwa jemaat Kristen di Korintus diperdayakan oleh beberapa pengajar yang menyesatkan mereka dari ajaran yang benar. Pengajar-pengajar yang sesat itu diumpamakan seperti ular, si iblis,  yang dengan kelicikannya  sudah membuat Adam dan Hawa jatuh kedalam dosa di taman Eden.

Ada tiga hal yang penting yang bisa kita simak dari ayat itu. Yang pertama, tiap orang Kristen masih bisa dan mungkin malah sering diserang oleh iblis. Kedua, iblis sering muncul dalam bentuk yang penuh pesona sehingga orang yang tidak awas akan terjebak. Dan yang ketiga, iblis sering muncul pada tempat dan waktu yang tidak terduga, selagi umat Tuhan lengah atau lemah.

Bagaimana iblis berusaha memperdayai umatNya di Korintus? Korintus adalah kota niaga yang cukup besar dan karena itu banyak orang datang dari berbagai tempat. Dengan itu, Korintus dari mulanya mudah sekali menerima budaya atau agama lain, mungkin melalui praktek toleransi agama dan multikulturalisme yang sering didengung-dengungkan saat ini. Diantara berbagai ajaran diluar agama Kristen yang bisa melemahkan dan bahkan menyesatkan orang Kristen pada waktu itu dan juga sering ditemui sampai saat ini adalah ajaran bahwa keselamatan adalah berdasarkan apa yang kita perbuat dalam hidup, dan ajaran bahwa pedoman hidup baik adalah berdasarkan pikiran sehat manusia.

Di zaman ini banyak manusia yang tidak puas dengan ajaran Kristen yang menyatakan bahwa keselamatan adalah semata-mata adalah karunia Tuhan. Mereka kemudian mengikuti ajaran lain yang menekankan humanisme, yang mengajarkan bahwa keselamatan manusia ada di tangan mereka sendiri, yang harus melakukan hal-hal tertentu untuk mencapai surga. Selain itu, ada berbagai pengajar yang mengajarkan bahwa hidup bahagia dapat dicapai dengan cara-cara tertentu, yang  membuat orang memperoleh kepercayaan diri untuk bergantung kepada kekuatan dan jalan pikirannya sendiri dan bukannya kepada Tuhan.

Iblis juga sering muncul pada saat dan keadaan dimana umat Kristen mengalami kelengahan atau kesulitan. Bagi sebagian orang, kelengahan terjadi ketika segala sesuatu berjalan lancar dan hidup terasa nikmat. Pada saat itu kesadaran akan Tuhan dan kasihNya mungkin menjadi samar karena orang lebih tertarik untuk menghabiskan waktunya untuk menikmati hidupnya. Selain itu, mudah bagi mereka untuk merasa bahwa Tuhan pastilah menyukai cara hidup mereka. Kelengahan juga bisa terjadi dalam keadaan yang sulit dan penuh perjuangan. Ketika keadaan yang menekan lagi menguasai hidup, orang menjadi terlalu sibuk berusaha melewati hari-harinya dengan rasa tegang, kuatir atau kecewa. Pada saat-saat dimana manusia lagi lemah seperti itu, iblis bekerja lebih giat untuk menggoda manusia agar mereka jatuh kedalam dosa dan menolak Tuhan.

Pagi ini, seperti jemaat Korintus kita diingatkan oleh Rasul Paulus bahwa iblis selalu mengintai umat Tuhan dan siap untuk menyesatkan kita. Karena itu, dalam keadaan apapun yang kita alami saat ini, baik susah maupun senang, sakit maupun sehat, miskin ataupun kaya, kita harus tetap rajin berdoa dan membaca firmanNya agar kita tidak tertipu oleh iblis yang berusaha menghancurkan kita.

“Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya. 1 Petrus 5: 8

Yakinlah bahwa Yesus adalah Tuhan

Mereka menjadi sangat takut dan berkata seorang kepada yang lain: “Siapa gerangan orang ini, sehingga angin dan danaupun taat kepada-Nya?” Markus 4: 41

Tidak terasa, sebulan lagi hari Natal akan datang. Bagi sebagian besar orang Kristen, hari Natal adalah hari yang dipakai untuk memperingati kelahiran Yesus sekalipun hari itu bukan hari kelahiran yang sebenarnya. Kelahiran Tuhan Yesus di dunia adalah sesuatu yang sudah direncanakan Allah jauh bertahun-tahun sebelum hal itu terjadi. Kitab Perjanjian Lama penuh dengan berbagai ayat yang menyebutkan tentang kedatangan si Juruselamat itu. Walaupun demikian, ketika Yesus dilahirkan, tidak ada orang yang menduga bahwa bayi yang lemah, yang lahir dalam palungan, adalah Anak Allah, Mesias, yang sudah dinantikan umat Israel.

Hanya melalui petunjuk Allah, sejumlah manusia langsung tahu bahwa Mesias sudah datang. Jusuf dan Maria, para gembala, orang Majus, dan Simeon adalah sebagian orang yang tahu akan hal itu. Namun orang lain, termasuk murid-murid Yesus, membutuhkan waktu yang cukup lama sebelum mengenali bahwa Yesus adalah Mesias. Mereka tahu bahwa Yesus adalah orang yang baik dan suka menolong orang lain, mempunyai kharisma dan pengetahuan yang luar biasa, tetapi mereka tidak tahu atau yakin bahwa Ia adalah Tuhan.

Kita yang merayakan hari Natal setiap tahun, sudah tentu tidak pernah bertemu dengan Yesus secara jasmani. Yesus sekarang di surga, sedang kita masih di dunia. Semua orang yang merayakan hari Natal dengan alasan apapun, hanya mendengar tentang kelahiran Yesus dari orang lain atau membaca kisahnya dari buku atau sumber-sumber lain. Sebagian kecil manusia mungkin pernah memperoleh penglihatan atau pengilhaman tentang Yesus, tetapi semua itu tidaklah sempurna.

Adalah mudah bagi semua orang untuk menyadari bahwa Yesus adalah tokoh yang besar pada zamanNya, guru yang baik, orang yang mempunyai rasa sosial yang besar dan memiliki etika yang tinggi. Bukan hanya orang Kristen saja yang mengakui hal-hal itu, orang yang beragama lain pun percaya bahwa Yesus adalah orang baik. Tetapi, tidak semua orang tahu atau mengakui bahwa Yesus adalah Tuhan yang turun ke dunia, jalan keselamatan satu-satunya.

Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku. Yohanes 14: 6

Adalah sesuatu yang menyedihkan kalau mereka yang sudah mendengar bahwa Yesus yang lahir sebagai manusia biasa, tidak dapat mengerti bahwa Ia bukan manusia biasa, tetapi Tuhan yang mahakuasa. Malahan, ada orang yang mengaku Kristen tetapi tidak mengakui bahwa sebagai Tuhan, Yesus bukan ciptaan Allah tetapi sudah ada sejak awalnya. Yesus adalah satu-satunya jalan keselamatan karena hanya Tuhan sendiri yang bisa menghindarkan umat manusia dari kebinasaan.

Kitab Markus 4 menceritakan bahwa para murid bersama Yesus ada dalam sebuah perahu di danau Galilea. Saat itu Yesus sedang tidur di buritan ketika angin ribut datang. Murid-muridNya membangunkan Dia dan berkata kepada-Nya: “Guru, Engkau tidak peduli kalau kita binasa?” Yesus kemudian bangun, menghardik angin itu. Lalu angin itu reda dan danau menjadi teduh sekali. Para murid tidak menyangka bahwa Yesus mempunyai kuasa sebesar itu. Mereka menjadi sangat takut akan kuasa Tuhan yang dinyatakan di hadapan mereka.

Hari ini kita diingatkan bahwa bagaimanapun besarnya persoalan hidup yang kita hadapi, kita harus yakin bahwa Yesus yang pernah lahir sebagai manusia, bukanlah manusia biasa. Bukti-bukti tertulis menyebutkan dengan jelas bahwa Ia adalah Tuhan. Karena itu kita tidak perlu mengeluh mengapa Ia membiarkan kita bergumul dengan penderitaan dan persoalan kita saat ini. Yesus adalah Tuhan yang tahu keadaan kita, dan dengan kasihNya pasti mengulurkan tanganNya pada saat yang tepat.

Lalu Ia berkata kepada mereka: “Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?”Markus 4: 40

Yesus adalah Tuhan, jalan kebenaran dan hidup

“Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” Yohanes 14: 6

Soal salah pilih adalah soal biasa. Misalnya, jika kita membeli baju dari toko dan setelah dicoba di rumah ternyata kekecilan. Itulah gara-gara malas mencoba. Kalau baju mungkin bisa ditukar, soal pasangan hidup lain lagi karena sekali pilih diharapkan cocok untuk seumur hidup sekalipun tanpa coba-coba!

Bagaimana pula dengan iman kepercayaan kita? Mungkinkah kita memilih kepercayaan tertentu dan kemudian ternyata salah pilih? Mungkin juga! Kebanyakan mereka yang mau mencari Tuhan akhirnya menganut ajaran agama tertentu. Namun setelah menganut ajaran itu, adakalanya mereka kemudian meninggalkan agamanya dan menjadi tidak beragama lagi atau masuk agama lain.

Selanjutnya ada orang Kristen yang sudah lama ke gereja tertentu, tetapi karena adanya daya tarik dari gereja lain kemudian meninggalkan gereja yang lama. Jika itu karena merasa bahwa bahwa gereja yang baru memiliki pengajaran kerohanian yang lebih baik, tentu itu tidak ada salahnya. Tetapi, sering terjadi bahwa orang pindah gereja karena adanya hal yang secara tiba-tiba menjadi sesuatu yang memikat hati dan pikiran.

Mengapa ada orang Kristen yang kemudian meninggalkan hidup kekristenan? Mengapa ada orang Kristen yang meninggalkan gerejanya untuk kemudian, tanpa berpikir panjang, mengikuti sebuah aliran yang aneh? Ada berbagai sebabnya, seperti perumpamaan benih yang ditabur (Matius 13: 19-23).

  • Kurang pengertian: Kepada setiap orang yang mendengar firman, tetapi belum tentu ia bisa atau mau mengertinya. Kemudian datanglah iblis dalam bentuk yang memikat hati, yang merampas apa yang ditaburkan dalam hati orang itu. Jika ada pendeta yang mengajarkan “wahyu baru”, orang yang kemudian merasa bahwa itu adalah lebih baik dari apa yang lama.
  • Kurang kuat: Ada orang yang mendengar firman itu dan segera menerimanya dengan gembira. Tetapi ia tidak berakar dan tahan sebentar saja. Apabila datang penderitaan atau goncangan hidup, orang itupun segera berubah imannya.
  • Godaan duniawi: Ada orang yang mendengar firman itu, lalu kekuatiran dunia ini dan tipu daya kenikmatan menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah dan akibatnya hidup orang itu menjadi jauh dari Tuhan.

Selain itu, banyak orang yang kecewa melihat hidup orang Kristen seolah tidak ada bedanya dengan orang yang tidak beriman. Apalagi, agama lain mengajarkan bahwa keselamatan manusia harus diraih melalui hidup yang baik, dengan amal dan sedekah, dengan ritual dan doa tertentu yang lain daripada yang lain. Mereka yang dulunya tidak yakin akan keselamatan mereka, kemudian memilih agama atau aliran gereja yang mengharuskan mereka untuk berbuat sesuatu. Mereka kemudian merasa puas karena merasa bahwa mereka mendapatkan kesadaran baru.

Ada pula orang yang dulunya memilih agama karena ikut-ikutan suami, istri, teman atau orang tua. Barangkali mereka melihat bahwa semua agama baik adanya. Menurut mereka, tidak ada agama yang mengajarkan hal-hal yang buruk. Malahan agama-agama lain lebih terlihat lebih toleran dari agama Kristen, dan pemimpinnya lebih bijak dan berpengetahuan. Karena itu konsep beragama bagi mereka tidaklah jauh berbeda dengan pergi berbelanja.

Hari ini kita ditantang dengan sebuah pertanyaan: apakah kita yakin tidak salah pilih. Apakah kita yakin bahwa kita sudah diselamatkan dan apa buktinya? Kita harus yakin bahwa Allah kita adalah Allah yang benar yang mahasuci, yang tidak dapat dicapai dengan usaha manusia. Mereka yang mengajarkan bahwa kita bisa mencapai pilihan yang benar dengan usaha kita sendiri adalah keliru. Allah orang Kristen bukan allah-allahan yang kecil.  Manusia hanya bisa diselamatkan karena menjawab panggilan Tuhan. Manusia tidak dapat meraih Tuhan dengan berbuat baik. Tuhan sendirilah yang harus datang ke dunia dengan merendahkan diriNya untuk menebus dosa manusia.

“Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.” Efesus 2: 8-9

Iman seharusnya membuat kita hidup untuk Kristus

Tetapi Yesus berkata: “Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah.” Lukas 9: 62

Minggu-minggu ini adalah saat yang menarik dalam dunia politik di Australia maupun Amerika. Di Australia, pemilihan umum untuk negara bagian Queensland akan berlangsung pada tanggal 31 Oktober, sedangkan di Amerika pemilihan presiden akan dilaksanakan pada tanggal 3 November 2020. Di Australia, pemilihan umum adalah sebuah keharusan untuk setiap warga, sedangkan di Ameria pemilihan umum tidaklah merupakan keharusan. Bagi mereka yang ikut berpartsipasi dalam pemilu, kesempatan ini adalah sebuah cara untuk menyatakan kepercayaan mereka kepada orang tertentu dengan menyatakan diri sebagai pendukungnya melalui cara demokrasi.

Sebagai orang Kristen kita mengaku bahwa kita adalah orang beriman yang percaya kepada Yesus dan juga pengikut Yesus. Sebagian orang berpendapat bahwa setiap orang yang mengaku percaya kepada Kristus, juga mengakui bahwa mereka juga pengikutNya. Apakah kepercayaan kepada Kristus adalah sama dengan menjadi pendukung Yesus? Apa bukti bahwa setelah kita mengaku percaya, kita kemudian menjadi pengikutNya?

Dalam bahasa Yunani, kata yang dipakai untuk menjadi pengikut Yesus adalah mathetes, yang bukan saja berarti “murid”, tetapi adalah orang yang taat kepada perintah Tuhan dalam segala segi kehidupan mereka. Jika orang Farisi mengaku bahwa mereka adalah murid-murid Musa (Yohanes 9: 28), murid-murid Yesus dinamakan pengikut Yesus sebelum ada sebutan “orang Kristen”. Mereka menjadi pengikut Yesus ketika mereka mengambil keputusan untuk mengikutiNya (Matius 9:9). Menjadi pengikut Kristus adalah hidup dan bekerja untuk kemuliaan Tuhan.

Menjadi pengikut Kristus adalah keputusan kita. Jika kita pernah menyanyikan lagu terkenal “Mengikut Yesus keputusanku”, agaknya tidak sulit untuk sekedar mengakui bahwa kita adalah orang yang dikaruniai iman oleh Tuhan dan kemudian secara otomatis menjadi pengikut Yesus. Tetapi, dalam kenyataannya, tidaklah semudah itu untuk menjalaninya.

Mengapa tidak mudah untuk menjadi pengikut Yesus? Apa syarat-syarat untuk menjadi pengikutNya? Memang sebagai pengikut Yesus kita harus mengasihi Tuhan dan sesama kita, tetapi untuk melaksanakan kedua hukum yang paling utama itu kita setidaknya memerlukan dua hal yang penting: kesiapan dan kesetiaan. Ada orang yang tidak pernah memiliki keduanya, sehingga ia tidak pernah bisa untuk menjadi pengikut Yesus, tetapi ada yang hanya memiliki salah satu saja, sehingga ia mungkin hanya tahan untuk menjadi pengikut Kristus dalam kurun waktu yang singkat saja.

Dalam kitab Lukas 9: 57-61 tertulis adanya seseorang yang berkata bahwa ia mau mengikut Yesus kemana saja, tetapi Yesus menolaknya karena ia belum siap untuk menghadapi perjuangan berat sebagai pengikut Yesus. Dalam ayat 58, Yesus berkata kepadanya “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepalaNya.” Menjadi pengikut Yesus bukannya berarti hidup dalam kenyamanan dan berfokus pada kesuksesan pribadi, tetapi hidup dalam ketabahan dan berfokus pada kemuliaan Tuhan.

Ada orang-orang lain yang diajak Yesus untuk menjadi pengikutnya karena mereka tampak sudah siap berjuang, tetapi mereka menjawab bahwa masih ada hal-hal yang lebih penting yang harus mereka lakukan (Lukas 9: 59, 61). Kepada orang-orang itu Yesus berkata bahwa setiap orang yang siap untuk membajak , yaitu mengikut Dia, tetapi masih mempunyai prioritas-prioritas lain, tidaklah layak untuk mengikut Dia karena dedikasi yang salah (ayat 62).

Pagi ini, pertanyaan untuk kita yang mengaku beriman kepada Yesus adalah: Apakah kita sudah siap dan memang mau untuk menjadi pengikut Yesus? Siapkah kita untuk menjalani perjuangan hidup dengan ketaatan kepada perintahNya dan bekerja untuk kemuliaanNya? Menjadi orang beriman tidak bisa dipisahkan dari menjadi pengikut Kristus (Yakobus 2: 24) karena untuk menjadi orang Kristen tidaklah cukup dengan berdiam diri dan mengabaikan panggilanNya untuk menjadi seperti Dia, dan bekerja untuk memuliakan namaNya dengan setia, hari demi hari baik dalam suka maupun duka.

“Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diriNya untuk aku.” Galatia 2: 20

Allah adalah Bapa kita

Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah. Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: “ya Abba, ya Bapa!” Roma 8: 14 – 15

Baru-baru ini saya mengikuti sebuah diskusi mengenai nama panggilan untuk Tuhan kita. Topiknya adalah nama apa yang harus kita pakai untuk tidak mengabaikan keinginan Tuhan. Nama apa yang diinginkanNya? Apakah Tuhan mengharuskan kita memanggil Dia dengan nama tertentu? Diskusi yang menarik ini sebenarnya bukan baru, karena banyak orang Kristen yang percaya bahwa Tuhan menghendaki kita memanggil Dia dengan nama YHVH (Yahweh).

Yahweh adalah pengucapan dari nama perjanjian Tuhan, YHVH (Yehovah adalah pengucapan lainnya). Tuhan pertama kali menggunakan nama ini ketika Dia berbicara dengan Abram (Abraham) dalam Kejadian 15: 7. Nama YHVH juga diturunkan kepada Musa di Gunung Sinai ketika Tuhan menampakkan diri kepada Musa di semak yang terbakar. Musa menanyakan namaNya dan Tuhan menjawab “Aku adalah Aku”(Keluaran 3:14). Dalam Keluaran 3:15 Tuhan berfirman lebih lanjut kepada Musa: “Beginilah kaukatakan kepada orang Israel: Tihan, Allah nenek moyangmu, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub, telah mengutus aku kepadamu: itulah namaKu untuk selama-lamanya dan itulah sebutanKu turun-temurun.”

Haruskah kita memanggil Tuhan dengan nama Yahweh? Kita harus ingat bahwa Alkitab adalah buku wahyu progresif. Di zaman Perjanjian Lama, Tuhan berbicara melalui para nabiNya dan bernubuat tentang Mesias yang akan datang. Selama pelayananNya di bumi, Yesus memberikan penjelasan lebih lanjut tentang tujuan dan rencana Allah dalam menebus manusia dan memulihkan segala sesuatu. Kemudian, setelah kenaikan Yesus ke Surga, Tuhan mengirimkan Roh Kudus untuk menginspirasi penulisan firman Tuhan yang kita miliki dalam Perjanjian Baru, dengan demikian memberikan wahyu lebih lanjut dan melengkapi Alkitab.

Dengan wahyu yang penuh, kita memahami bahwa AKU YANG ESA yang berbicara kepada Musa adalah Allah Tritunggal – satu Allah dalam tiga Pribadi yang berbeda: Allah Bapa, Allah Putra dan Allah Roh Kudus. Ketiga Pribadi itu kekal, sederajat, dan hidup berdampingan dalam satu Ketuhanan. Oleh karena itu, ketika Tuhan mengungkapkan namaNya sebagai Yahweh kepada Musa, itu adalah wahyu dari nama Tuhan Tritunggal kita. Kita memahami sifat tritunggal Tuhan; tetapi sebelum inkarnasi Yesus, orang Israel tidak mungkin memahami ini.

Yahweh adalah nama yang Tuhan nyatakan kepada Musa, dan persis apa yang Dia ingin agar dipahami oleh umatNya, Israel, pada saat itu. Tuhan sedang mempersiapkan umatNya untuk mengenali Mesias yang akan datang, “benih” yang dijanjikan di taman Firdaus. Dia yang akan datang dan menyelamatkan manusia yang jatuh (Kejadian 3:15). Dari awal di taman, dan berlanjut sepanjang Perjanjian Lama, kita membaca tentang Tuhan yang mengungkapkan lebih dan lebih banyak lagi dari tujuan dan rencana penebusanNya dan lebih banyak lagi tentang siapa Dia, termasuk namaNya.

Setelah Yesus datang ke dunia dan mati di kayu salib, mereka yang percaya kepadaNya akan menerima keselamatan. Mereka diangkat menjadi anak-anak Allah. Ayat pembukaan kita berkata bahwa semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah. Sebab itu, kita tidak memiliki roh yang membuat kita takut lagi; tetapi karena Yesus sudah memperdamaikan kita dengan Tuhan, kita telah menerima Roh yang menjadikan kita anak Allah. Oleh Roh itu kita memanggil: “ya Abba, ya Bapa!”

Saya tahu nama ayah saya. Tapi entah saya tahu namanya atau tidak, itu bukanlah nama yang saya gunakan. Saya memanggilnya sebagai ayah atau bapa. Saya bahkan tidak menggunakannya saat berbicara dengan orang lain yang mengenalnya. Saya berkata, “ayah saya,” atau “bapa saya.” Dan orang lain juga menyebutnya sebagai “ayahmu.” Dengan demikian, untuk saya lebih akrab jika saya memanggil ayah dengan nama relasional daripada dengan nama resminya. Itu adalah hal yang sama dengan Bapa kita di surga. Sekarang, kita tdak perlu memanggil Dia dengan namaNya, bahkan jika kita tahu persis bagaimana mengatakannya karena semua itu bisa membuat kita lupa bahwa Bapa, Anak dan Roh Kudus adalah satu dari awalnya, dan sudah merencanakan penyelamatan umat manusia sejak mulanya. Pujilah Tuhan yang Maha Kuasa dan Maha Kasih!