Kaya atau miskin, yang penting tidak tamak

KataNya lagi kepada mereka: “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu.” Lukas 12: 15

Siapakah yang mau dikatakan tamak? Saya kira tidak ada seorang pun. Tamak mempunyai konotasi yang jelek sebab kata itu dihubungkan dengan keserakahan dan kerakusan akan uang. Memang, seringkali orang menghubungkan ketamakan dengan tingkah laku yang tercela untuk memperoleh keuntungan materi, seperti korupsi, penggelapan uang atau perampasan harta orang lain. Banyak orang yang berpikir bahwa orang kaya adalah identik dengan orang yang tamak. Karena tamak, orang bisa menjadi kaya, dan orang yang kaya tentunya tamak. Oleh karena itu ada orang Kristen yang berpendapat bahwa kekayaan adalah bertentangan dengan iman. Tentu saja, pendapat seperti itu adalah tidak benar.

Uang memang bisa membawa kebahagiaan, tetapi juga penderitaan. Banyak orang berpendapat bahwa jika ada uang, kebahagiaan akan mudah diperoleh. Bagi sebagian orang, uang mungkin identik dengan berkat dan kasih Tuhan. Sebaliknya, banyak orang yang merasa bahwa penderitaan hidup disebabkan oleh tidak adanya uang atau karena adanya uang yang harus dikeluarkan. Bagi mereka, kehilangan uang mungkin berarti kehilangan berkat dan kasih Tuhan. Bukankah Tuhan yang mahakaya dan mahakasih mengerti bahwa manusia memerlukan uang untuk hidup di dunia dan senang jika mempunyai banyak uang?

Menurut dunia, uang memang kunci kehidupan. Menurut dunia kebahagiaan dan penderitaan bisa diukur dengan uang yang masuk atau uang yang keluar.  Tetapi firman Tuhan di atas berkata bahwa hidup manusia tidak bergantung pada kekayaannya; sebab sekalipun seorang berlimpah-limpah hartanya, kebahagiaan belum tentu datang. Hal yang sebaliknya justru sering terjadi: karena harta yang berlimpah-limpah seorang bisa kehilangan Tuhannya dan mengalami kehampaan hidup. Walaupun demikian, tidak dapat dipungkiri bahwa mereka yang hidup dalam kekurangan bisa merasakan bahwa hidup ini sangat berat dan Tuhan itu tampak jauh.

Dengan demikian, manakah yang lebih baik: menjadi orang kaya atau orang miskin? Jika kemakmuran bisa membuat orang jauh dari Tuhan, kemiskinan juga bisa mempunyai akibat yang serupa. Menurut ayat di atas, apa yang penting bagi kita adalah untuk menghindari ketamakan. Ketamakan bukanlah monopoli orang yang kaya saja: mereka yang kaya bisa menjadi tamak karena kecintaan kepada harta, tetapi mereka yang berkekurangan bisa menjadi tamak karena kerinduan untuk memperoleh harta. Dengan demikian, baik kaya atau miskin, orang bisa saja menjadi tamak. Orang yang tamak selalu ingin memperoleh harta yang lebih dari apa yang sudah dimilikinya.

Pagi ini kita diingatkan bahwa ketamakan membuat orang lupa bahwa hidupnya hanya bergantung kepada Tuhan. Ini adalah bencana. Dengan mengejar kekayaan orang bisa jatuh kedalam berbagai pencobaan dan karena cinta akan uang orang bisa melakukan berbagai kejahatan (1 Timotius 6: 9 – 10). Mereka yang siang malam memikirkan harta, pada akhirnya bisa mendewakan harta dan kehilangan Tuhan. Karena itu, seperti Paulus kita harus mau melatih diri agar bisa merasa cukup dalam setiap keadaan, baik itu kelimpahan ataupun kekurangan.

“Kukatakan ini bukanlah karena kekurangan, sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan. Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan. Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” Filipi 4: 11 – 13

Tetaplah bertahan dalam iman

“Tetapi kami ingin, supaya kamu masing-masing menunjukkan kesungguhan yang sama untuk menjadikan pengharapanmu suatu milik yang pasti, sampai pada akhirnya, agar kamu jangan menjadi lamban, tetapi menjadi penurut-penurut mereka yang oleh iman dan kesabaran mendapat bagian dalam apa yang dijanjikan Allah.” Ibrani 6: 11 -12

Hari ini berita media di Australia mengabarkan terjadinya resesi di negara ini. Memang hal ini sudah bisa diterka sejak beberapa bulan yang lalu, tetapi data ekonomi hari ini benar-benar menunjukkan bahwa ekonomi sudah mundur sebanyak 7% sejak bulan Juni. Ini adalah rekor kemunduran ekonomi yang terburuk sejak tahun 1974 dan merupakan resesi pertama sejak tahun 1991. Apa yang terjadi membuktikan bahwa COVID-19 membuat rakyat mengurangi pengeluaran uang dan pembelian barang dan karena itu banyak perusahaan yang gulung tikar atau merugi. Bagaimana negara ini bisa bertahan di masa depan adalah suatu tanda tanya besar.

Siapakah yang tidak kuatir dengan keadaan dunia saat ini? Bukan saja adanya pandemi membuat orang menjadi sangat tertekan, keadaan ekonomi dunia yang makin memburuk bisa menyebabkan banyak orang yang akan jatuh dibawah garis kemiskinan. Hidup manusia di dunia ini memang tidak mudah. Kesukaran hidup, halangan, penyakit, kekurangan dan berbagai penderitaan lainnya bisa terjadi pada diri siapa pun. Bagi banyak orang Kristen, adanya beban hidup yang besar bisa membuat mereka menjadi lamban dan kurang bersemangat untuk hidup dalam iman.

Dalam perjalanan hidup yang panjang, memang orang sering sulit untuk membayangkan kapan semua masalah yang ada bisa diakhiri dengan kemenangan. Begitu juga ada banyak orang Kristen yang kemudian menjadi mundur dalam iman karena adanya kekuatiran dan kesulitan yang tidak teratasi. Mereka mudah terbenam dalam keraguan, kesusahan dan ketakutan. Tetapi, ayat di atas mengingatkan kita bahwa dalam kesulitan saat ini kita harus bisa melihat mereka yang sudah bertahan dalam iman dan menang dalam menghadapi tantangan kehidupan.

Dalam 1 Korintus 9: 24 Paulus menulis bahwa perjalanan hidup orang Kristen adalah mirip dengan apa yang dihadapi seorang atlit. Dalam sebuah pertandingan ada banyak peserta yang berlari, tetapi hanya satu orang saja yang mendapat hadiah. Dengan demikian, setiap orang Kristen juga harus tetap bersemangat dalam hidup yang memuliakan Tuhan, sehingga ia pada akhirnya dapat memperoleh hadiah kemuliaan di surga.

Bagaikan seorang pelari maraton, kita mungkin sering menghitung-hitung jumlah kilometer yang masih ada di depan kita dan merasa kuatir apakah kita sanggup untuk mencapai garis finis. Tetapi, kita bisa melihat begitu banyak umat Tuhan yang berlari terus dan bertahan hingga akhir. Itu bukan karena daya tahan mereka sendiri, tetapi karena adanya Tuhan yang memberi iman dan kesabaran. Bagaimana dengan diri kita? Biarlah kita bisa mencontoh mereka yang sudah menang dengan selalu memohon penyertaan Tuhan!

“Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.” Filipi 3: 13 – 14

Menjadi murid yang dewasa

“Dan sudah lupakah kamu akan nasihat yang berbicara kepada kamu seperti kepada anak-anak: “Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya; karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak.” Ibrani 12: 5 – 6

Sebagai seorang dosen, saya kadang-kadang merasa bahwa sikap mahasiswa kepada para dosen adalah sangat berbeda dengan sikap murid sekolah kepada guru-guru mereka. Mahasiswa seringkali kurang mempunyai rasa hormat atau segan kepada dosen, dan kadangkala justru menentang atau membantah instruksi dosen. Dalam hal ini, ada orang yang berpendapat bahwa itu disebabkan karena dosen mengajar mahasiswanya, sedangkan guru mendidik muridnya. Walaupun demikian, sebagai dosen saya tidak hanya mengajar tetapi juga mendidik para mahasiswa saya untuk menjadi warga negara dan tenaga profesional yang baik etikanya. Bagi saya, mahasiswa adalah murid yang sudah dewasa dan mengerti akan kewajiban dan tanggung jawabnya.

Sebagai murid atau mahasiswa, adanya tugas dan ujian merupakan hal yang tidak menyenangkan. Tidak hanya mereka harus mempelajari semua teori yang sudah diajarkan, mereka juga harus memakainya untuk menyelesaikan tugas dan ujian mereka. Semua itu adalah tantangan untuk bisa mencapai hidup yang baik di masa depan. Tidak ada keberhasilan tanpa perjuangan, begitu kata orang yang bijaksana.

Dengan contoh diatas, kehidupan orang Kristen juga bisa dibayangkan seperti kehidupan murid sekolah atau mahasiswa. Seperti tidak ada murid yang tidak menghadapi ujian untuk bisa lulus, begitu juga dalam hidup ini, kita harus menghadapi berbagai ujian agar kita bisa menjadi orang Kristen yang dewasa dan teguh beriman.

Memang ada banyak orang Kristen yang mengajarkan bahwa hidup anak-anak Tuhan seharusnya penuh kebahagiaan dan berkat, tetapi pandangan semacam itu adalah serupa dengan seorang murid yang mendapat sebuah ijazah walaupun tidak belajar. Sesuatu yang tidak masuk di akal, dan sesuatu yang tidak bisa dibenarkan.

Walaupun demikian, di dunia ini memang ada orang-orang yang mengaku sebagai sarjana ini dan itu, tetapi hanya bermodalkan ijazah palsu. Demikian juga ada orang yang mengaku orang Kristen, tetapi dari hidupnya terlihat bahwa ia belum pernah mendapat didikan Tuhan dan bahkan mungkin belum mengenal Tuhan.

Dari kemampuan seorang pekerja perusahaan dalam menghadapi persoalan kita bisa melihat pengetahuan dan pengalamannya. Begitu juga dengan melihat bagaimana orang Kristen menghadapi tantangan kehidupan, kita bisa melihat pengetahuan dan pengalamannya dalam hal menjadi pekerja Tuhan.

Memang menjadi pengikut Tuhan tidak hanya harus mengenal Dia dan firmanNya, tetapi harus juga bisa melaksanakannya. Karena iblis pun mengenal siapa Tuhan itu dan tahu setiap ayat dalam Alkitab, tetapi ia tidak pernah mau melaksanakan firman Tuhan. Dengan demikian, mereka yang mengaku sebagai anak Tuhan tetapi tidak mau atau tidak bersedia menghadapi kesukaran dalam hidup, belumlah sadar bahwa Tuhan sebagai Bapa adalah Tuhan yang mendidik semua anak-anakNya untuk bisa kuat menghadapi semua ujian kehidupan.

Pagi ini, jika kita merasa bahwa hidup kita sangat berat dan seakan Tuhan jauh dari kita, biarlah kita boleh sadar bahwa Tuhan tidak pernah melupakan atau mengalihkan pandangan mataNya dari semua anak-anakNya. Karena adanya Bapa yang mau mendidik kita untuk menjadi dewasa dalam iman, kita harus menghadapi berbagai ganjaran dalam hidup, agar makin hari kita makin dekat kepadaNya.

“Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya.” Ibrani 12: 11

Hari Minggu adalah untuk kita

“Lalu kata Yesus kepada mereka: “Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat, jadi Anak Manusia adalah juga Tuhan atas hari Sabat.” Markus 2: 27-28

Antri masuk ke gereja

Sudah beberapa bulan, kebaktian gereja di Indonesia dan Australia harus dilakukan secara online karena adanya pandemi. Sebagian gereja sekarang sudah dapat mengadakan kebaktian secara nyata, tetapi tentunya harus menerapkan cara ibadah yang berbeda. Dengan demikian, sebagian jemaat mungkin belum bisa melakukan ibadah sebagaimana mestinya dan harus puas dengan kebaktian secara maya. Untuk jangka panjang, adanya pandemi tentunya bisa membuat orang akhirnya malas untuk ke gereja.

Hari Minggu, atau Sabtu untuk sebagian orang Kristen, adalah hari yang kudus, yang harus kita perhatikan dalam konteks yang benar – sekalipun bagi orang lain itu mungkin merupakan hari untuk jalan-jalan atau rileks saja. Hari Minggu bukan hari yang “kosong”, tetapi adalah hari yang “penuh”. Hari yang bukan berarti kosong dari segala kegiatan, tetapi hari yang diisi dengan kemauan untuk benar-benar bisa memperoleh ketenangan dan istirahat.

“Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat” Keluaran 20: 8

Mengapa kita harus mempunyai kemauan untuk memperoleh ketenangan dan istirahat? Karena jika tidak dengan kesadaran dan usaha yang benar, manusia tidak akan dapat beristirahat pada hari Minggu. Dunia ini penuh dengan atraksi yang bisa membuat manusia lupa bahwa hari Minggu diciptakan Tuhan untuk manusia agar mereka dapat beristirahat dari kegiatan sehari-hari dan memperoleh kesegaran rohani dengan mendekati Tuhan yang adalah sumber kekuatan manusia.

Setelah seminggu orang bekerja, malam Minggu di berbagai kota adalah kesempatan untuk berpesta pora dan bermalam panjang. Karena itu, bagi sebagian orang, hari Minggu adalah kesempatan untuk memperoleh ekstra tidur sesudah begadang. Begitu pula, sebagian manusia yang lain berpikir bahwa hari Minggu adalah hari yang bisa dipakai untuk tidak memikirkan apa-apa, selain rekreasi, makan dan tidur. Mereka tidak suka kalau satu hari yang tersisa dalam seminggu harus dipakai untuk memikirkan kebutuhan rohani.

Hari Minggu bukan diciptakan sebagai “hukuman” untuk manusia. Hari Minggu bukan diciptakan untuk memaksa manusia untuk berhenti bekerja dan untuk berbakti kepada Tuhan. Tuhan memberikan hari Minggu kepada manusia karena mereka tidak dapat bekerja terus menerus tanpa memperoleh kesempatan untuk mendapat penyegaran dan kekuatan baru dari Sang Pencipta. Tanpa itu, hidup manusia akan pelan-pelan menuju kearah kehancuran karena baik jasmani maupun rohani mereka akan mengalami kelelahan.

Pada hari Minggu, umat Tuhan diingatkan untuk kembali memusatkan diri kepada Tuhan seperti seekor rusa yang haus, yang ingin meminum air sungai yang menyegarkan. Hari Minggu bukan berarti duduk di gereja untuk satu atau dua jam saja. Hari Minggu juga bukan untuk mengikuti kebaktian online saja. Hari Minggu adalah hari dimana kita bisa berkomunikasi dengan Tuhan dan sesama manusia untuk memperkokoh iman dan menyegarkan hidup kita guna menghadapi minggu yang baru.

“Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah.” Mazmur 42: 1

Menghadapi kekacauan di sekeliling kita

“…sehingga kita bukan lagi anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan, tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala.” Efesus 4: 14 – 15

Setiap hari saya meluangkan waktu untuk menonton TV, mendengarkan radio atau membaca berita-berita dunia di internet. Kebanyakan berita yang “ngetop” saat ini adalah berita tentang COVID-19, kejahatan, kecelakaan dan kerusuhan. Lebih dari itu, banyak juga berita tentang keadaaan politik, ekonomi dan hukum di banyak negara yang hanya menambah kesedihan dan kekuatiran. Bagaimana sikap kita dalam membaca kabar buruk semacam itu yang ada di media? Mungkinkah kita hidup damai tanpa terganggu atau terpengaruh oleh kabar buruk dan kabar burung? Adakah tindakan yang bisa mengurangi kekuatiran, kebingungan dan tekanan yang disebabkan media?

Memang tidak mudah kita membebaskan diri dari belenggu media. Sebabnya antara lain adalah:

  • Media adalah seperti magnet yang membuat kita senang melihat orang lain dan dilihat orang lain dimanapun kita berada dan kapan saja (mungkin setara dengan kecanduan).
  • Orang-orang dan hal-hal tertentu mempunyai kharisma atau daya penarik besar yang menuntut perhatian kita (seolah lebih menarik dari Tuhan Yesus dan firmanNya).
  • Kekuatiran masa depan menimbulkan rasa ingin tahu yang berlebihan dan munculnya harapan-harapan yang semu (seperti adanya berbagai analisa pakar dan ramalan atau nubuat tentang masa depan).
  • Banyak orang yang menikmati usaha untuk menipu orang lain karena adanya orang yang mudah dipengaruhi berita spekulatip (sesuai dengan hukum permintaan dan penawaran).
  • Dalam hidup yang kosong, adanya media seolah memberi kegiatan nyata (daripada menganggur).

Sebagai orang Kristen, bagaimana kita bisa melawan pengaruh jahat media?

Jumpailah Tuhan dan dapatkan kedamaian dariNya.

Tidak ada manusia atau hal yang benar-benar bisa kita percaya, yang bisa memberi jaminan hari depan – karena apa yang akan datang tidak ada orang yang tahu. Hanya Tuhan yang dapat memberi kedamaian dan kepuasan hidup.

Amsal 18:10 “Nama TUHAN adalah menara yang kuat, ke sanalah orang benar berlari dan ia menjadi selamat.”

Peganglah Firman Tuhan dalam tiap langkah.

Tidak ada orang atau hal yang benar di dunia. Setiap orang sudah berdosa dan kebijakan manusia adalah kebodohan untuk Tuhan. Karena itu kita harus lebih mau mendengar firman Tuhan.

Mazmur 119: 105 “Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.”

Sadarlah bahwa kita tidak dapat mengatasi masalah dan kekuatiran dengan kekuatan sendiri.

Hidup ini berat tetapi seharusnya terasa ringan dalam Yesus. Jika kita merasa bahwa hidup ini semakin berat dan dunia ini semakin kotor, itu tanda bahwa kita harus makin dekat kepadaNya.

Mazmur 55:22 “Serahkanlah kuatirmu kepada TUHAN, maka Ia akan memelihara engkau!”

Terimalah dan sampaikan berita yang benar dan menguatkan iman saja.

Salah satu keahlian iblis adalah menipu. Mereka yang lemah akan jatuh kedalam jebakannya. Mereka yang hidup dalam jebakan iblis akan berusaha menjebak orang lain. Karena itu kita harus hidup dalam Tuhan dan berhati-hati dalam menggunakan media.

 1 Tesalonika 5: 22 “Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik.”

Binalah hubungan dengan saudara seiman yang bijaksana, bukan dengan orang-orang yang menyesatkan.

Dunia ini dihuni anak-anak terang dan anak-anak kegelapan. Untuk sementara kita harus bisa hidup bersama dengan siapapun. Tetapi, jika kita tidak waspada, kita akan menerima gaya hidup dan kegemaran mereka yang tidak mengenal Tuhan. Jika kita tidak awas, kita akan hanyut dalam kabar kegelapan.

Amsal 13: 30 “Siapa bergaul dengan orang bijak menjadi bijak, tetapi siapa berteman dengan orang bebal menjadi malang.”

Ayat pembukaan kita menyatakan bahwa jika kita dekat dengan Tuhan dan mengerti akan firmanNya, kita bukan lagi anak-anak yang mudah diombang-ambingkan oleh berbagai pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan apa pun yang menyesatkan. Sebaliknya, dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih, kita bisa bertumbuh di dalam segala hal yang baik sehingga makin lama kita akan makin menyerupai Kristus. Semoga kita bisa merasakan kedamaian Tuhan di hari ini!

Berbeda pendapat tapi sama-sama percaya

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Roma 8: 28

Bacaan: Kisah Para Rasul 15: 35 – 41

Alkisah, ketika itu rasul Paulus dan rasul Barnabas sedang berhenti di Antiokhia. Tetapi  kemudian  Paulus mengajak Barnabas untuk mengunjungi umat Kristen yang tinggal di kota-kota yang pernah dikunjungi guna melihat bagaimana keadaan mereka. Barnabas ingin membawa juga Yohanes yang disebut Markus, tetapi Paulus dengan tegas menolak keinginan Barnabas. Persoalan yang agaknya sepele, tetapi kemudian menimbulkan perselisihan yang tajam sehingga mereka berpisah. Barnabas kemudian membawa Yohanes Markus berlayar ke Siprus, tetapi Paulus memilih Silas mengelilingi Siria dan Kilikia.

Anda tentunya pernah mendengar kisah diatas. Kisah yang membuat banyak orang Kristen merasa sedih karena ternyata mereka yang tergolong rasul pun bisa bertengkar dan akhirnya berpisah untuk tidak pernah berjumpa lagi. Walaupun demikian, sebagian orang Kristen berpendapat bahwa setiap orang bisa mengalami perbedaan pendapat dengan orang lain, sedemikian rupa sehingga lebih baik bagi mereka untuk berpisah. Pekerjaan Tuhan lebih penting untuk dilanjutkan daripada meneruskan perselisihan pribadi. Selain itu, Tuhan ternyata memakai keadaan yang nampaknya tidak sedap di mata itu menjadi sesuatu yang malah membuat namaNya dimasyhurkan di berbagai tempat.

Sebagai orang Kristen, mungkin kita sering mengalami persoalan yang serupa. Mungkin keadaan keluarga tidak atau kurang mendukung kita untuk lebih bisa melayani Tuhan. Mungkin adanya orang-orang di sekitar kita membuat kita menjadi ragu untuk lebih aktif di gereja. Mungkin juga orang tua, suami, istri atau anggota keluarga yang lain memiliki pendapat yang berbeda dalam hal berbakti kepada Tuhan. Barangkali, dalam suasana pandemi sekarang ini kita sering bertengkar dengan mereka mengenai soal prioritas kehidupan dan rencana masa depan. Keadaan yang sedemikian bisa membuat semangat kita kecil dan menimbulkan kemurungan dalam hubungan kita dengan orang-orang yang kita cintai.

Ada beberapa yang bisa kita pelajari dari pertengkaran Paulus dan Barnabas. Yang pertama adalah pertengkaran itu bukanlah soal pengajaran. Baik Paulus maupun Barnabas adalah  orang-orang pernah bersama-sama mengabarkan injil. Mereka sepaham dalam hal iman yang benar. Kedua, sekalipun dua orang mempunyai iman yang sama, mereka tetap adalah dua individu yang berbeda. Roh Kudus tidak mengubah semua orang Kristen sehingga mereka mempunyai kepribadian, cara bekerja dan cara berpikir yang sama. Karena itu, ketidaksesuaian pendapat bisa terjadi dan perpecahan terkadang tidak dapat dihindarkan.  Oleh sebab itu juga sampai sekarang kita bisa melihat adanya perbedaan pendapat antara orang percaya, baik di rumah dan bahkan di gereja.

Perbedaan pendapat tidak selalu berakhir dengan hal yang jelek. Apa yang jelek adalah perbedaan pendapat yang menyebabkan kemarahan yang berkelanjutan dan terganggunya pekerjaan Tuhan. Tuhan memberi umatNya kebijaksanaan untuk bisa menemukan cara penyelesaian yang terbaik. Melalui bimbingan Roh Kudus, umatNya bisa menghadapi semua persoalan yang ada tanpa kehilangan kasih kepada saudara seiman kita. Biarlah kita mau berdoa dengan giat agar dalam situasi yang sulit saat ini Tuhan tetap membimbing kita yang mengalami persoalan dalam hubungan kita dengan orang lain. Kita harus percaya bahwa seperti Tuhan sudah membimbing Paulus dan Barnabas, Ia juga akan membimbing kita, dan bahkan bekerja dalam segala keadaan untuk mencapai hasil yang lebih baik di masa depan sesuai dengan rencanaNya.

Berserah kepada kehendak Tuhan

“Ya BapaKu, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari padaKu; tetapi bukanlah kehendakKu, melainkan kehendakMulah yang terjadi.” Lukas 22: 42

Siapa yang tidak pernah kecewa? Dari kecil, manusia selalu menjumpai kekecewaan. Entah itu gara-gara janji teman yang tidak terpenuhi atau acara piknik yang terpaksa dibatalkan karena cuaca buruk, semua orang pernah mengalaminya. Pada umumnya, kekecewaan kecil tidaklah sulit untuk diatasi karena itu gampang dilupakan. Mungkin juga masih ada hal-hal lain yang bisa dipakai untuk mengobati luka di hati. Namun luka hati yang kecil bisa juga menumpuk jika tidak dihilangkan atau diobati. Begitu banyak orang yang mengalami kekecewaan karena hal-hal yang nampaknya sepele, tetapi karena sering mendatangi lama-lama kekecewaan menumpuk seperti bukit.

Sering juga dalam rumah tangga ada ketidak sepahaman atau pertikaian dengan anak, istri, suami, dan orang tua yang membuat seseorang merasa kecewa. Kekecewaan atas diri sendiri ataupun atas diri orang lain sering terjadi sedemikian rupa sehingga orang mempunyai luka hati yang dalam. Sekalipun kejadian yang mengecewakan sudah berlalu lama, kita mungkin masih mengingatnya, seolah itu terjadi hari kemarin. Bahkan kekecewaan yang besar bisa berlanjut dengan kekecewaan kepada Tuhan, yang diharapkan untuk menolong tapi tidak kunjung muncul atau tidak pernah terasa kasihNya. Banyak orang Kristen yang mundur dalam imannya atau meninggalkan Tuhannya karena kekecewaan hidup.

Tidak bolehkah kita kecewa dalam menghadapi suatu keadaan yang kurang baik? Tidak bolehkah kita kecewa kepada Tuhan karena kita tidak mengerti apa yang dilakukanNya dalam hidup kita? Apakah kita harus menerima apa pun yang terjadi sebagai nasib? Jika adanya pandemi membuat rencana hidup kita kocar-kacir, apakah itu tidak boleh membawa kekecewaan?

Yesus di taman Getsemane bergumul dalam penderitaan ketika menyadari bahwa waktunya sudah dekat untuk disalibkan. Ia menyuruh murid-muridNya untuk berdoa, tetapi Ia justru menjumpai mereka semuanya tidur karena kesusahan dan mungkin juga kekecewaan yang mereka alami. Yesus bukanlah Raja seperti yang mereka harapkan dan bayangkan.

“Lalu Ia bangkit dari doa-Nya dan kembali kepada murid-murid-Nya, tetapi Ia mendapati mereka sedang tidur karena dukacita.” Lukas 22: 45

Mungkinkah Yesus kecewa melihat murid-muridNya tertidur pulas? Yesus tahu muridNya lemah. Kalaupun Ia kecewa, Ia tidak menunjukkannya. Sebaliknya, apa yang keluar dari mulutNya adalah nasihat yang cocok untuk orang yang lelah, berduka dan kecewa dalam hidup mereka.

Kata-Nya kepada mereka: “Mengapa kamu tidur? Bangunlah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan.” Lukas 22: 46

Memang, siapapun yang jauh dari Tuhan akan mudah jatuh dalam hal-hal yang jelek.  Apalagi kekecewaan biasanya menjauhkan manusia dari Tuhan dan sesama. Seperti Yunus yang kecewa karena hal-hal yang berada di luar kuasanya.

“Segera sesudah matahari terbit, maka atas penentuan Allah bertiuplah angin timur yang panas terik, sehingga sinar matahari menyakiti kepala Yunus, lalu rebahlah ia lesu dan berharap supaya mati, katanya: “Lebih baiklah aku mati dari pada hidup.” Yunus 4: 8

Seperti murid-murid Yesus dan Yunus, mungkin kita merasa kecewa dan lelah sehingga hidup kita terasa hambar saat ini. Pandemi mungkin sudah membuat kita tidak bisa merencanakan masa depan. Apa yang bisa kita perbuat dalam hal ini?

Kekecewaan dan kesedihan adalah lumrah untuk manusia. Tetapi jika kita yakin bahwa Tuhan tahu apa yang terjadi dalam hidup kita dan Dia adalah Tuhan yang Mahakasih, beban kita akan bisa menjadi jauh lebih ringan. Apa yang diucapkan dalam doa Yesus di taman Getsemane bisa menjadi sumber kesabaran dan kekuatan kita dalam menghadapi segala persoalan hidup. Doa ini jugalah yang bisa menghilangkan kekecewaan kita di masa sulit sekarang ini.

Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah tantangan kehidupan ini dari padaku tetapi bukanlah kehendakku,  melainkan kehendak-Mulah yang terjadi. 

Tanpa mengasihi hidup kita hancur

“Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan.” Kolose 3: 14

Mukundane – AMASEZERANO.COM

Siapakah yang tidak mengenal nama Tom Jones? Penyanyi terkenal dari Inggris ini sudah membawakan banyak lagu-lagu yang menjadi “top hits” dunia dan sampai sekarang pun masih aktif menyanyi sekalipun sudah berusia 80 tahun. Salah satu lagunya yang terkenal adalah “Without love there is nothing” yang dirilis pada tahun 1970. Lagu patah hati ini menyatakan kepedihan seseorang yang ditinggal kekasihnya. Tanpa cinta hidup seseorang menjadi kosong, itulah arti judulnya.

Memang dalam pandangan umum, setiap manusia membutuhkan orang lain. Karena itu, jika seseorang merasa tidak dikasihi oleh orang lain, hidupnya terasa merana. Memang banyak orang yang hancur hidupnya karena merasa bahwa tidak ada seorang pun yang mengasihinya. Apalagi, jika mereka merasa bahwa banyak orang yang membenci mereka, kesedihan dan kemarahan mungkin bisa membuat mereka tidak tahan untuk terus hidup.

Dalam Alkitab ada orang yang seharusnya hidup merana karena banyak orang yang membencinya. Orang itu adalah Yesus yang turun ke dunia untuk menyelamatkan umat manusia. tetapi yang justru ditolak oleh kaumNya dan bahkan mati disalibkan. Walaupun demikian, Yesus tidak merana karena Ia dekat dengan Allah Bapa. Kasih dan penyertaan Allah Bapalah yang membuat Yesus tidak bergantung pada perhatian orang lain. Di taman Getsemane, Ia bergumul seorang diri sebelum disalibkan, tetapi Ia justru bisa mengatasi ketakutanNya dengan bertekad untuk memberikan kasihNya untuk menebus umat manusia yang berdosa.

Kesediaan untuk memberikan kasih adalah sesuatu yang membuat orang bisa bertahan untuk hidup. Ini adalah ajaran Alkitab. Sebaliknya, ajaran dunia adalah kita bisa hidup jika ada orang yang mengasihi kita. Bagi umat Kristen, kesadaran bahwa Tuhan mengasihi mereka adalah satu kunci kekuatan. Lebih dari itu orang Kristen percaya bahwa hidup manusia adalah untuk mengasihi. Mengasihi Tuhan yang sudah lebih dulu mengasihi kita, dan mengasihi sesama manusia karena Tuhan juga mengasihi semua ciptaanNya.

Banyak orang yang merasa hancur hidupnya ketika dilupakan atau diabaikan orang lain. Karena merasa tidak dikasihi orang lain, hidup terasa sia-sia. Ini banyak terjadi dalam hidup sehari-hari, dan bukan saja menyangkut hubungan antara dua kekasih. Orang bisa saja kehilangan motivasi hidup jika merasa bahwa teman-teman sekantor, sesekolah atau pun segereja sudah mengucilkan atau menganak-tirikan dirinya. Karena perasaan bahwa dirinya tidak diperhatikan atau disayangi orang lain, seseorang bisa patah hati.

Sebagai orang Kristen seharusnya kita berbeda dengan orang lain yang tidak mengenal Kristus. Orang yang beriman percaya bahwa ia sudah menerima kasih yang terbesar dari Kristus. Karena itu perlakuan orang lain kepadanya bukanlah sesuatu yang utama. Apa yang utama bagi orang Kristen adalah kesempatan untuk bisa mengasihi orang lain. Jika kita tidak mau atau bisa mengasihi orang lain, lambat laun hidup kita akan menjadi merana. Ayat di atas menyatakan bahwa mengasihi orang lain adalah suatu tindakan yang mempersatukan dan menyempurnakan kehidupan umat manusia. Oleh karena itu adalah lebih baik bagi kita untuk mengasihi daripada mengharapkan kasih orang lain. Kasih Tuhan sudah cukup bagi kita, tetapi dengan mengasihi orang lain kita akan membawa kemuliaan bagi Tuhan. Inilah yang membuat hidup kita menjadi berarti dan kuat dalam menghadapi keadaan apapun.

“Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihiNya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran. Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian.” Kolose 3: 12 – 13

Menghadapi suasana tidak menentu

“Karena itulah kuperingatkan engkau untuk mengobarkan karunia Allah yang ada padamu oleh penumpangan tanganku atasmu. Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban.” 2 Timotius 1: 6 – 7

Pagi ini saya bangun dan setelah mandi duduk di depan komputer untuk mempersiapkan renungan ini. Mata masih terasa berat, mungkin agak mengantuk. Walaupun demikian, saya bersyukur karena saya masih bisa menikmati udara pagi yang segar. Tuhan yang mahabaik tetap memberikan berkatNya.

Pernahkah anda mengalami rasa lelah yang sangat besar sehingga anda tidak ingin meninggalkan tempat tidur? Banyak orang mengalami hal yang serupa, terutama pada hari Senin, tatkala mereka harus pergi bekerja setelah berlibur akhir pekan. Mungkin saja rasa lelah itu sehubungan dengan kelelahan psikologi daripada kelelahan jasmani. Tetapi bagi orang yang mengalaminya, melanjutkan tidur mungkin adalah satu-satunya cara yang dikenalnya untuk menghilangkan kelelahan, sekali pun itu seringkali justru membuatnya merasa lebih lelah!

Kelelahan kejiwaan seringkali sulit didiagnosa atau diatasi. Apalagi dalam masa pandemi ini keadaan di sekeliling kita memang mudah untuk membuat orang menjadi masygul. Keadaan ekonomi dan kesehatan dalam negara memang sedang mengalami tantangan besar, dan ini dirasakan oleh rakyat. Rasa kuatir akan keadaan jasmani dan masa depan bisa membuat orang merasa lelah. Tetapi, kelelahan ini tidaklah sama dengan kelelahan rohani yang sering dialami orang Kristen.

Sebagai orang percaya, kelelahan rohani bukan sehubungan dengan suasana kehidupan di dunia, tetapi dengan adanya kekosongan yang mungkin terasa dalam hati karena hubungan yang kurang baik dengan Tuhan. Jika hidup kita terasa berat dan kacau, dan kita tidak dapat merasakan penyertaan Tuhan, di saat itulah kita merasa kecewa, lemah, takut dan kuatir. Pada saat yang demikian, mungkin kita tidak dapat merasakan adanya kasih Tuhan dan sesama. Mungkin kita pada saat itu sedang mengalami krisis rohani atau spiritual crisis.

Paulus dalam suratnya kepada Timotius, mengingatkannya untuk tetap bersemangat dalam menempuh hidup sebagai umat Tuhan. Hidup sebagai orang Kristen tidaklah mudah, terutama untuk Timotius yang belum banyak berpengalaman. Karena itu, Paulus selalu mendoakan Timotius agar ia tetap teguh dalam iman. Paulus tahu bahwa ada keadaan tertentu yang bisa membuat Timotius merasa lelah, takut atau apatis. Seperti orang lain, memang Timotius bisa mengalami kelelahan rohani. Tetapi Paulus mengingatkan Timotius bahwa ia sudah menerima karunia Tuhan yang disampaikan oleh Paulus. Karunia ini adalah berkat rohani yang harus dipelihara dan bahkan dikobarkan oleh Timotius, karena apapun yang diterima dari Tuhan haruslah dipupuk untuk menjadi makin kuat dan bukannya makin lemah dengan berjalannya waktu.

Hari ini, firman Tuhan mengingatkan kita bahwa kita harus mengobarkan semangat rohani kita dengan berpegang teguh pada apa yang sudah kita terima dari Tuhan. Mungkin kita belum lama menjadi orang Kristen, seperti Timotius. Mungkin juga kita sudah banyak makan asam-garam kehidupan rohani seperti Paulus. Tetapi, apapun status rohani kita, jika kita tidak rajin memupuk pertumbuhan iman, hidup kita perlahan-lahan akan diracuni oleh ketakutan, kelelahan dan kerancuan. Biarlah kita selalu mau mengobarkan segala karunia Tuhan yang sudah kita terima agar bisa membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban dalam hidup kita!

Jangan menyia-nyiakan hidup kita

“Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap kata sia-sia yang diucapkan orang harus dipertanggung-jawabkannya pada hari penghakiman.” Matius 12: 36

Salah satu masalah yang timbul dalam masyarakat karena adanya pandemi ini adalah banyaknya orang yang kehilangan pekerjaan. Seiring dengan itu, mereka yang baru lulus SMA sekarang agaknya bingung untuk menentukan arah pendidikan selanjutnya. Bagaimana tidak? Saat ini tidak ada seorang pun yang bisa menerka apa yang akan terjadi pada tahun-tahun mendatang. Pekerjaan atau karir apa yang terbaik, tidak ada yang tahu.

Menurut perkiraan, dalam keadaan sekarang ini akan ada banyak orang yang kehilangan tujuan hidup. Banyak orang yang merasa hidupnya kosong karena tidak ada yang bisa dikerjakan. Itu tidak hanya terjadi diantara kaum muda, tetapi juga dialami mereka yang sudah termasuk tua. Apalagi bagi mereka yang merasa tidak mempunyai harapan masa depan, hidup mereka mungkin tidak lagi mempunyai target yang nyata. Hari demi hari dilewati dan kebosanan tentunya datang karena hari yang terasa panjang.

Rasa bosan itu sendiri belum tentu dosa. Rasa bosan baru menjadi dosa jika itu menguasai hidup kita sehingga hidup kita tidak bisa menghasilkan apa yang baik. Rasa bosan adalah gejala hidup yang kurang sehat dimana kebahagiaan dan kepuasan tidak ada, atau makin berkurang. Rasa bosan bisa berakibat kesia-siaan dalam perkataan, perbuatan dan hidup sehari-hari. Rasa bosan yang tidak teratasi akan berkembang makin besar karena berkurangnya kegairahan hidup.

Apakah kebosanan itu ada sejak mulanya? Apakah kebosanan ditanamkan Tuhan dalam diri manusia ketika Ia menciptakan mereka? Rasa bosan sudah pasti tidak dipunyai Tuhan yang mahakasih dan mahasetia. Jika Tuhan bisa merasa bosan, tentu manusia tidak akan dapat melihat kesabaranNya yang ada sampai saat ini. Manusia yang diciptakanNya berbeda dengan Sang Pencipta, dan karena itu dalam keterbatasannya ia bisa merasa bosan dan kesepian. Rasa bosan juga sering timbul jika manusia hidup jauh dari Tuhan. Jika hubungan dengan Tuhan menjadi renggang, manusia akan kehilangan motivasi hidup karena ia tidak bisa mengerti apa yang dikehendaki Tuhan dan tidak dapat merasakan kasihNya.

Tuhan menghendaki kita untuk memuliakanNya melalui hidup kita. Memang banyak orang yang mencari makna kehidupan melalui pekerjaan, kemewahan dan kesuksesan; tetapi semua itu adalah sementara saja. Kenikmatan duniawi tidaklah dapat bertahan lama. Usia, penyakit, kegagalan, kerugian dan berbagai persoalan selalu ada dalam hidup manusia. Sebaliknya, jika orang dekat dengan Tuhan, selalu ada saja yang bisa dilakukannya untuk Tuhan dan sesamanya,

Saat ini tentu hanya anda yang tahu apakah anda merasa bosan; apakah anda merasa adanya kekosongan hidup. Mungkin anda jauh dari keluarga, atau merasa bahwa tidak ada hal apapun yang bisa menggairahkan hidup anda. Anda mungkin merasa bingung, bagaimana hari ini bisa dilalui tanpa kebosanan. Mungkin anda masih bisa merasa beruntung, jika ada orang-orang yang bisa diajak untuk berbincang-bincang tentang apa saja, sekedar omong kosong untuk mengisi waktu.

Ayat diatas dengan tegas berkata bahwa setiap orang yang memakai kata-kata yang kosong dan tidak berarti, haruslah mempertanggung-jawabkannya. Ini bukan berarti bahwa kita tidak bisa berkomunikasi dengan orang lain secara santai, tetapi berarti bahwa dalam apapun yang kita ucapkan dan lakukan dalam hidup ini, haruslah membawa kemuliaan bagi Tuhan dan kebaikan kepada sesama. Tuhan mendengar apa yang kita ucapkan dan melihat apa yang kita lakukan, dan karena itu kita harus bisa mengisi hidup kita dengan apa yang berguna.

“Sebab itu kukatakan dan kutegaskan ini kepadamu di dalam Tuhan: Jangan hidup lagi sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan pikirannya yang sia-sia dan pengertiannya yang gelap, jauh dari hidup persekutuan dengan Allah, karena kebodohan yang ada di dalam mereka dan karena kedegilan hati mereka.” Efesus 4: 17 – 18