Tetap waspada dalam segala keadaan

“Serahkanlah segala kekuatiranmu kepadaNya, sebab Ia yang memelihara kamu. Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya”. 1 Petrus 5: 7 – 8

Saat ini, Australia seperti banyak negara lainnya mengalami berbagai masalah yang cukup besar. Adanya pandemi sudah membuat ekonomi negara menjadi kocar-kacir, dan dalam hal pendidikan pun kekacauan sudah terjadi karena banyak murid sekolah lanjutan yang tidak dapat menerima pendidikan yang seharusnya. Untunglah, untuk tingkat universitas pendidikan tetap bisa berjalan secara online.

Dalam menghadapi persoalan besar, manusia bisa saja menyerah pada keadaan. Karena usaha yang tidak kunjung membuahkan hasil yang baik, orang kemudian kehilangan harapan dan kemudian tenggelam dalam rasa putus asa. Pada pihak yang lain, ada orang yang mencoba melupakan apa yang terjadi dengan melarikan diri dari kenyataan, dan mencari apa saja yang bisa dipakai untuk menghibur diri. Pada hakikatnya, kedua reaksi manusia di atas adalah pernyataan menyerah karena tidak adanya hal yang baik yang dilakukan.

Ayat di atas mengatakan bahwa kita harus mau menyerahkan segala kekuatiran kita kepada Tuhan, sebab Ia yang memelihara kita. Ini lebih mudah untuk dikatakan daripada dijalankan. Karena itulah, banyak orang Kristen memilih untuk menyerah pada keadaan daripada berserah kepada Tuhan. Mungkin anda bertanya apakah kedua tindakan ini berbeda. Tentu saja! Tuhan tidak menghendaki umatNya untuk menyerah. Tuhan menghendaki umatNya untuk menyerahkan rasa takut dan kuatir kita, selagi kita berjuang. Tuhan tidak juga menghendaki kita melarikan diri dari kenyataan dan tidak mau mempersiapkan diri untuk menghadapi tantangan masa depan.

Menyerah adalah suatu kata yang seharusnya tidak ada dalam perbendaharaan kata orang Kristen. Itu karena mereka percaya bahwa Tuhan adalah Tuhan yang mahakuasa dan Bapa yang mengasihi anak-anakNya. Dengan demikian, sekalipun hidup di dunia bisa menjadi sangat berat karena satu dan lain hal, orang yang beriman bisa tetap teguh karena mereka bisa menyerahkan diri kepada Tuhan dan bukan menyerah kepada keadaan. Kita tentunya ingat bahwa sewaktu umat Israel berperang melawan orang Filistin, semua tentara Israel merasa takut karena adanya Goliat yang tinggi besar. Hanya Daud yang berani menghadapi Goliat dan dengan perlindungan Tuhan kemudian dapat mengalahkannya.

Hidup ini memang penuh tantangan dan bahaya. Terutama karena iblis yang berjalan berkeliling seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya. Jika kita menyerah dan tidak berbuat apa-apa, sudah tentu kita akan menjadi korbannya. Jika kita melarikan diri, sang singa akan menerkam kita dari belakang. Lalu apa yang seharusnya kita lakukan?

Ayat di atas menulis bahwa kita harus sadar dan berjaga-jaga. Ini berarti kita harus bertindak dan bukannya pasif. Untuk bisa selalu sadar dan berjaga-jaga, kita membutuhkan kekuatan dan kebijaksanaan dari Tuhan. Kita harus sadar akan apa yang terjadi dalam hidup kita, dan berhati-hati melangkahkan kaki kita. Tidak lengah, apalagi tidur rohani. Sebaliknya, kita harus makin dekat dengan Tuhan dan taat kepada firmanNya. Berserah bukan berarti menyerah. Dengan demikian, kita bisa menghadapi hidup ini dengan keberanian dan keyakinan bahwa Tuhan adalah yang membimbing kita ke arah kemenangan.

Mengapa harus mengalami banyak sengsara?

“Di tempat itu mereka menguatkan hati murid-murid itu dan menasihati mereka supaya mereka bertekun di dalam iman, dan mengatakan, bahwa untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah kita harus mengalami banyak sengsara.” Kisah Para Rasul 14: 22

Masihkah ayat di atas berlaku di zaman ini? Sebagian orang Kristen mungkin setuju bahwa dalam hidup, mereka sering mengalami tantangan dan bahkan kesengsaraan. Tetapi, sebagian lagi percaya bahwa ayat itu hanya berlaku untuk murid-murid Kristus pada waktu itu, ketika mereka mulai dikenal masyarakat. Malahan, ada orang Kristen yang percaya bahwa sebagai anak-anak Tuhan yang mahakuasa, kita tidak sepantasnya untuk mengalami kesengsaraan. Orang Kristen seharusnya adalah orang-orang yang diberkati, sukses, bahagia dan nyaman hidupnya.

Mereka yang hidup di negara yang maju, mungkin merasa hidupnya lebih baik daripada mereka yang hidup di negara lain. Mereka yang sukses usahanya, tentunya merasa bahwa hidup mereka tidaklah seberat hidup orang lain. Bagi mereka, bunyi ayat di atas mungkin terasa asing karena hidup mereka terasa cukup aman dan nyaman. Walaupun demikian, dengan adanya pandemi sekarang ini mungkin banyak orang Kristen yang sadar bahwa hidup ini banyak masalahnya. Manusia adalah kecil jika dibandingkan dengan tantangan kehidupan, dan orang Kristen tentu bisa mengalami berbagai kesengsaraan.

Mengapa ada orang-orang Kristen yang tidak menyadari bahwa dalam hidup ini ada banyak kesengsaraan yang harus dialami? Mungkin hidup mereka hanya terpusat pada diri sendiri. Jika perhatian mereka hanya terpusat pada kebutuhan sendiri, memang mungkin mereka tidak peka akan keadaan di sekeliling atau keadaan orang lain. Mereka tidak sadar bahwa apa yang bisa membuat Yesus sengsara jika Ia hidup di dunia saat ini, seharusnya juga bisa dirasakan sebagai kesengsaraan oleh mereka. Itu jika mereka benar-benar beriman kepadaNya.

Yesus merasakan berbagai kesengsaraan dan ketidakadilan selama Ia hidup di dunia. Tidak hanya merasa lapar dan haus, Ia juga pernah diancam, diserang, disiksa dan bahkan dibunuh. Lebih dari itu, Ia ikut merasakan kesengsaraan orang lain yang haus, lapar, sakit dan yang tidak mengerti arti kehidupan. Ia merasa sedih melihat adanya begitu banyak manusia yang seperti domba tanpa gembala. Kesengsaraan manusia adalah kesengsaraanNya. Karena itu Ia mau mengurbankan diriNya untuk menebus manusia.

Dalam hidup, barangkali kita sering kurang bisa merasakan kesengsaraan yang ada di sekitar kita. Kita jarang memikirkan apa yang dialami orang Kristen di tempat lain. Berbeda dengan Kristus, banyak orang Kristen tidak mau merasakan kesengsaraan orang lain atau menolong mereka. Pada pihak yang lain, sebagai orang Kristen kita seharusnya mengerti sepenuhnya bahwa dalam dunia ada banyak kesengsaraan baik yang bersifat jasmani maupun rohani.

Sebagai orang Kristen seharusnya kita merasa sengsara karena ada banyak orang yang tidak mengenal kasih Kristus. Sebagai umatNya, kita merasa sengsara karena nama Tuhan tidak dipermuliakan di tempat kita hidup. Kita juga merasa sengsara karena orang Kristen tidak bebas mengabarkan kabar baik tentang keselamatan kepada mereka yang haus akan kebenaran. Adanya orang-orang yang memusuhi umat Tuhan terlihat makin hari makin banyak jumlahnya. Hidup di dunia ini tidak nyaman dan orang yang benar-benar beriman tentunya rindu untuk ke surga. Walaupun demikian, bagi orang beriman adanya kesengsaraan di dunia itu perlu karena itu membuatnya bergantung pada kasih Allah. Semoga kita tetap bisa bertahan dalam iman pengharapan kita!

Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita. Roma 5: 3-5

Merdeka dalam Kristus

“Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan.” Galatia 5: 1

Hari ini saya membaca berita di berbagai media tentang perayaan hari kemerdekaan 17 Agustus 2020 di Indonesia. Sekalipun dengan adanya pandemi orang harus menjaga jarak dan lebih berhati-hati, perayaan -perayaan itu kelihatannya cukup meriah. Memang, kemerdekaan adalah sebuah hal yang didambakan setiap manusia di dunia, dimanapun mereka berada. Untuk menjadi merdeka orang mungkin mau membayar harga apapun, dan bahkan bersedia berjuang sampai mati. Karena itu, kemerdekaan yang sudah ada haruslah dipelihara dan dihargai.

Dari mulanya Tuhan sudah memberikan kemerdekaan kepada manusia ciptaanNya di taman Firdaus, dan dengan itu setiap manusia mengerti perlunya hal itu.

“Lalu TUHAN Allah memberi perintah ini kepada manusia: “Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas..” Kejadian 2: 16

Tuhan memberikan taman Firdaus kepada Adam dan Hawa untuk tempat hidup mereka, agar mereka bisa menjadi “pengurus taman” yang mengusahakan dan memelihara taman itu. Mereka bebas untuk menjalani hidup mereka dan boleh memakan buah apa saja, kecuali buah dari pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat.

“..tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.” Kejadian 2: 17

Jelas bahwa sekalipun kemerdekaan itu adalah hak azasi manusia, dengan kemerdekaan ada kewajiban dan batasan. Sayang sekali, karena Adam dan Hawa melanggar batasan itu, mereka kehilangan kemerdekaan mereka dan jatuh kedalam belenggu dosa. Oleh karena itu juga, semua manusia adalah mahluk yang berdosa sejak dilahirkan. Dengan demikian, tak ada satu manusia pun yang bisa bebas dari hukuman dosa, yaitu kematian abadi, jika Yesus Kristus tidak datang ke dunia untuk menebus dosa manusia.

Sebagai umat Kristen, kita adalah orang-orang yang sudah dimerdekakan dari belenggu dosa, dan menjadi manusia merdeka, seperti keadaan Adam dan Hawa pada mulanya. Harga kemerdekaan kita tidak mungkin terbayar oleh usaha kita sendiri. Harga yang termahal itu sudah dibayar oleh Tuhan, dengan mengurbankan AnakNya yang tunggal, Yesus Kristus.

Sekali merdeka, tetap merdeka! Itu adalah harapan kita. Kita harus bersyukur bahwa dengan adanya satu pengurbanan yang sempurna, semua dosa kita sudah diampuni Tuhan. Dengan kemerdekaan itu, kita harus ingat bahwa tidak ada kemerdekaan yang tidak berkaitan dengan tanggung jawab dan kewajiban untuk mempertahankannya. Karena setiap orang yang sudah merdeka, bisa jatuh lagi kedalam perhambaan dan kehilangan kemerdekaannya, jika tidak berhati-hati dalam hidup dan tingkah lakunya.

Pagi ini, kita diingatkan bahwa hidup sebagai manusia yang merdeka bukanlah berarti bahwa kita bisa dan boleh berbuat apa saja yang kita sukai. Kemerdekaan yang benar adalah kemerdekaan dalam batas-batas hukum yang ada. Kemerdekaan yang tanpa batas adalah sebuah anarki. Bagi kita umat Kristen, segala hukum yang ada bisa disimpulkan dalam dua hukum yang terutama, yaitu untuk menghormati Tuhan dan mengasihi sesama kita.

“Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih.” Galatia 5: 13

Diberkati karena iman

“Dan Kitab Suci, yang sebelumnya mengetahui, bahwa Allah membenarkan orang-orang bukan Yahudi oleh karena iman, telah terlebih dahulu memberitakan Injil kepada Abraham: “Olehmu segala bangsa akan diberkati.” Jadi mereka yang hidup dari iman, merekalah yang diberkati bersama-sama dengan Abraham yang beriman itu. Galatia 3: 8 – 9

Dalam keadaan dunia saat ini, banyak negara mengalami masalah serius. Tidak hanya masalah kesehatan yang disebabkan oleh pandemi, tetapi juga berbagai dampaknya yang sekarang sudah menyangkut berbagai hal seperti ekonomi, keamanan dan pendidikan. Baik negara besar maupun kecil, sekarang harus berusaha keras untuk mengatasi berbagai masalah yang bisa mempengaruhi kehidupan rakyatnya dalam tahun-tahun mendatang.

Di antara banyak negara di dunia, kita bisa melihat bahwa tiap negara mengalami persoalan yang berbeda. Sebagian mengalami persoalan yang sangat besar, yang terlihat jauh lebih parah daripada yang lain. Sebaliknya, sebagian yang lain kelihatannya tidak mengalami masalah yang terlalu besar. Bagi orang yang melihat adanya perbedaan yang terjadi di antara berbagai negara, mungkin ada pertanyaan mengapa hal itu bisa terjadi. Bagi orang yang beragama, pertanyaan yang sudah ada sejak dulu, sekarang muncul lagi: mengapa Tuhan kelihatannya lebih memberkati negara yang satu daripada yang lain? Apakah Tuhan lebih menyayangi negara-negara tertentu?

Dalam kitab Perjanjian Lama dikatakan bahwa bangsa Israel adalah bangsa pilihan Tuhan. Bangsa Israel adalah bangsa yang dibebaskan Tuhan dari perbudakan di tanah Mesir. Banyak bangsa lain yang mengalami hukuman Tuhan karena mereka berusaha mengganggu dan bahkan menghancurkan bangsa Israel pada waktu itu. Dengan demikian, dapatlah dimengerti banyak orang yang sampai sekarang menganggap bangsa Israel adalah tetap merupakan pilihan Tuhan: bangsa ini dikasihi Tuhan lebih dari bangsa lain. Tuhan sudah pilih kasih, dan itu nampaknya tidak adil, tetapi itu semata-mata hakNya. Begitu mungkin orang berpikir.

Alkitab memang menyatakan bahwa bangsa Israel adalah bangsa pilihan Tuhan. Tetapi bangsa ini dipilih untuk memenuhi rancangan penyelamatan Tuhan, bukan untuk diselamatkan. Ayat di atas menyatakan bahwa Allah menyelamatkan orang-orang bukan Yahudi oleh karena iman. Kita yang bukan termasuk bangsa Yahudi menjadi orang yang diselamatkan melalui darah Kristus. Siapa pun orangnya, ia akan diselamatkan jika mempunyai iman kepada Yesus Penebus.

Di dunia, kita mungkin bisa melihat bahwa ada bangsa-bangsa dan negara-negara yang mempunyai tingkat ekonomi, teknologi dan sosial yang lebih baik dari bangsa atau negara lain. Hal ini tentunya terjadi sesuai dengan rancangan Tuhan. Tetapi, ini tidak berarti bahwa Tuhan memilih negara-negara tertentu menjadi favoritNya. Tuhan mempunyai rencana tertentu di dunia dan adalah hakNya jika Ia memilih bangsa atau negara tertentu untuk berperan dalam rencanaNya di dunia.

Bangsa-bangsa (orang-orang) yang dipilih Tuhan adalah orang-orang yang percaya kepada Kristus. Mereka adalah orang-orang yang sudah dselamatkan melalui penebusan darah Yesus di kayu salib. Mereka adalah orang-orang berdosa yang sudah diampuni oleh Tuhan dan bebas dari kematian abadi. Umat Tuhan mungkin saja tidak mempunyai hidup senyaman mereka yang tidak percaya kepada Tuhan. Umat Tuhan mungkin saja harus menderita karena iman mereka. Tetapi semua itu terjadi selama hidup di dunia, dalam hidup jasmani.

Ayat di atas menyebutkan bahwa sebagai orang percaya kita sudah terbilang keturunan Abraham dalam hal rohani, yaitu dalam menerima janji keselamatan yang datang melalui Yesus Kristus (Galatia 3: 29). Bani Israel sudah dipilih untuk melaksanakan rencana Tuhan, termasuk kelahiran Yesus di dunia. Tetapi setelah itu, bangsa Israel sendiri yang menyebabkan Yesus disalb dan bahkan menolak Yesus sebagai Juruselamat atau Mesias. Dengan demikian, secara rohani bangsa Israel bukanlah orang-orang pilihan Tuhan. Orang Kristenlah yang menjadi orang pilihan Tuhan karena itulah yang dikehendakiNya.

Hari ini, jika kita menyadari bahwa kita sudah diangkat menjadi keturunan Abraham dalam hal menerima warisan keselamatan, haruslah kita hidup dalam sukacita. Sekalipun keadaan di sekeliling kita nampaknya tidak nyaman secara jasmani, itu bukanlah menunjukkan bahwa Tuhan tidak mengasihi kita. Sebaliknya, apa yang terlihat secara jasmani tidak dapat dibandingkan dengan kasih Allah yang sudah sudah memilih kita untuk diselamatkan secara rohani. Karena itu, keadaan jasmani apa pun yang saat ini kita alami tidak akan menutupi kebahagiaan kekal yang kita miliki.

Rencana Tuhan pasti akan terjadi

“TUHAN menggagalkan rencana bangsa-bangsa; Ia meniadakan rancangan suku-suku bangsa; tetapi rencana TUHAN tetap selama-lamanya, rancangan hati-Nya turun-temurun. Berbahagialah bangsa, yang Allahnya ialah TUHAN, suku bangsa yang dipilihNya menjadi milikNya sendiri!” Mazmur 33: 10 – 12

Esok hari, tanggal 15 Augustus, adalah hari berakhirnya perang dunia kedua dengan menyerahnya Jepang pada tahun 1945. Walaupun demikian, secara resmi Jepang baru menandatangani surat menyerah di atas kapal USS Missouri pada tanggal 2 September 1945.

Perang dunia kedua dimulai di Eropa pada tanggal 1 September 1939 ketika tentara Jerman menyerbu memasuki Polandia. Ribuan tentara dan penduduk Polandia menjadi korban keganasan tentara Jerman pada waktu itu. Jepang kemudian ikut memasuki perang dunia pada bulan September 1940 dan menyerang Pearl Harbor pada tanggal 7 Desember 1941. Inilah yang menyebabkan Amerika ikut memasuki perang besar ini.

Dengan berakhirnya perang dunia kedua, Amerika dan Rusia menjadi negara adikuasa dan Persatuan Bangsa-bangsa (PBB) serta negara Israel kemudian terbentuk.  Bagaimana perang yang terbesar di dunia itu bisa terjadi dan kemudian berakhir dengan hancurnya Hitler dan sekutunya, adalah sesuatu yang sulit untuk dibayangkan. Lebih sulit lagi untuk memikirkan apa yang Tuhan kerjakan selama berlangsungnya perang itu.

Adakah peranan Tuhan dalam hidup manusia dan apa yang dilakukanNya dalam menghadapi segala rencana bangsa-bangsa? Ayat di atas menulis bahwa  Tuhan menggagalkan rencana bangsa-bangsa, tetapi rencanaNya tetap selama-lamanya; rancangan hatiNya turun-temurun. Jelaslah bahwa Tuhan mempunyai rencana tertentu untuk seisi bumi dan jika ada bangsa-bangsa (orang-orang) yang berusaha untuk merencanakan sesuatu yang bertentangan dengan kehendakNya, Tuhan akan menghancurkan rencana-rencana itu. Bagi Tuhan, apa yang tidak sesuai dengan rencanaNya adalah sesuatu yang jahat dan buruk, dan Ia tidak akan memperbolehkan itu terjadi. Sebaliknya, apa yang dirancang Tuhan pasti terjadi sekalipun manusia berusaha menggagalkannya.

Benarkah bahwa Tuhan tetap bekerja mengatur semua orang dan semua bangsa di dunia sampai saat ini? Melihat keadaan dunia sekarang yang kacau-balau karena adanya pandemi COVID-19, mungkin ada orang yang menyangka bahwa Tuhan sedang tidur, dan bahkan ada orang yang percaya bahwa Tuhan sudah mati. Bagi kita umat Kristen, ini adalah sesuatu yang tidak dapat diterima.

Ayat di atas menegaskan bahwa Tuhan adalah Tuhan yang berkuasa. Sebagai Tuhan pemilik alam semesta, memang tidak ada yang bisa melarangNya untuk lebih mengasihi negara, bangsa dan orang tertentu. Walaupun demikian, dalam Perjanjian Lama Tuhan mengistimewakan Israel untuk maksud tertentu, bukan untuk keselamatan. Dari Galatia 3: 28 kita tahu bahwa dalam Yesus semua orang yang percaya akan diselamatkan. Dengan demikian, berbahagialah bangsa-bangsa (orang-orang) yang percaya kepada Tuhan, karena mereka yang dipilihNya menjadi milikNya sendiri. Mereka yang percaya kepadaNya akan diselamatkan, dan siapa pun yang hidup sesuai dengan firmanNya adalah orang-orang yang berbahagia.

Apa yang bisa kita pelajari dari perang dunia kedua adalah  adanya bangsa-bangsa (orang-orang) yang mengakui adanya Tuhan, tetapi tidak mau menaati perintahNya. Pada zaman ini, keadaan tetap saja seperti itu,  banyak bangsa (orang-orang) mengaku bahwa Tuhan itu ada tetapi dalam kenyataannya mereka tidak percaya kepada Tuhan yang sudah mengirim AnakNya, Yesus Kristus, untuk menebus dosa manusia. Hanya melalui darah Kristus, manusia bisa ditebus dari belenggu dosa dan menjadi milik Tuhan sepenuhnya. Hanya mereka yang menjadi milikNya akan menjadi milik Yesus dan menerima kebahagiaan kekal sebagai karunia Tuhan.

“Aku berdoa untuk mereka. Bukan untuk dunia Aku berdoa, tetapi untuk mereka, yang telah Engkau berikan kepada-Ku, sebab mereka adalah milikMu dan segala milikKu adalah milikMu dan milikMu adalah milikKu, dan Aku telah dipermuliakan di dalam mereka.” Yohanes 17: 9 – 10

Pentingnya hubungan suami-istri

“Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, demikian jugalah isteri kepada suami dalam segala sesuatu. Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya” Efesus 5: 24 – 25

Adanya persoalan hidup yang berbagai ragam sebenarnya adalah jamak karena itu adalah bagian hidup manusia di dunia. Walaupun demikian, persoalan yang kecil bisa menjadi besar, dan persoalan yang bagaimana pun bisa menghancurkan rumah tangga jika tidak segera diatasi. Apalagi, pada saat ini keadaan dunia agaknya menjadi kacau dengan adanya pandemi COVID-19. Dengan demikian, perkawinan akan mudah hancur jika tidak ada ikatan yang kuat antara suami dan istri dan komunikasi yang baik dan jujur di antara keduanya.

Di zaman modern ini banyak kaum wanita yang memandang bahwa ayat diatas sudah ketinggalan zaman. Bagi sebagian, keharusan untuk tunduk itu dianggap sebagai penyebab kekacauan rumah tangga. Pada pihak yang lain, ada yang berpendapat bahwa kekacauan rumah tangga terjadi karena istri yang selalu tunduk sehingga suami bebas untuk berbuat semaunya. Walaupun demikian, kata “tunduk” muncul dalam Alkitab tidak hanya di kitab Efesus, tetapi juga di kitab Kolose dan Petrus.

Dan mengapa “tunduk” merupakan perintah kepada istri, sedang “kasih” ditujukan kepada suami? Hubungan antara suami dan istri dalam Alkitab ternyata dipakai untuk melambangkan hubungan antara jemaat dan Kristus. Seperti indahnya hubungan antara jemaat dengan Kristus, begitu juga hubungan antara istri dan suami bisa menjadi indah dan langgeng jika mereka menyadari fungsi masing-masing. Seorang suami mempunyai kewajiban untuk melindungi dan mengasihi istrinya seperti Kristus sudah lebih dulu mengurbankan diriNya untuk jemaatNya.

Seorang istri yang merasakan besarnya kasih dan dedikasi sang suami akan bisa dengan sungguh hati menghormati dia. Hal ini mirip dengan jemaat yang mengasihi Kristus karena Ia lebih dulu berkurban. Seorang istri dengan senang hati mau memberikan kesempatan kepada sang suami untuk memimpin rumah-tangga jika sang suami mau melakukan tugasnya. Ini seperti jemaat yang menurut kepada pimpinan Kristus.

Pada kenyataannya, banyak suami yang tidak sadar bahwa ia harus bisa mencontoh Kristus yang mau berkurban untuk jemaatNya. Mereka lupa bahwa jika mereka mau menjadi pemimpin, itu bukanlah berarti menjadi majikan. Seorang suami yang baik akan mengasihi istrinya sama seperti tubuhnya sendiri, sama seperti Kristus yang mengasihi jemaat. Pada pihak yang lain, ada juga istri yang selalu ingin untuk ikut berfungsi sebagai pemimpin dalam rumah tangga dan bahkan memandang rendah kemampuan sang suami.

Hubungan suami istri menurut Alkitab bukanlah seperti apa yang diajarkan oleh dunia. Mereka yang sering menuntut haknya akan mudah jatuh ke dalam pertikaian. Jika suami hanya menuntut ketaatan istri dan istri hanya menuntut kesabaran dan kasih sayang suami, hidup rumah tangga hanya berisi hal tuntut-menuntut. Sebaliknya, hidup suami istri menurut Alkitab adalah berdasarkan kewajiban.

Apa yang akan terjadi pada bulan-bulan mendatang tidak ada seorang pun yang tahu. Keadaan ekonomi pada banyak negara sudah mulai goncang dan dengan itu keutuhan banyak rumah tangga ikut terancam. Dalam hal ini, baik suami maupun istri harus ingat akan kewajiban mereka, dan berlomba-lomba untuk lebih dulu berbuat baik bagi yang lain. Baik suami maupun istri harus sadar bahwa setiap orang mempunyai fungsi tersendiri. Dalam hidup berumah tangga kekuatan akan datang dari kasih dan kemurahan hati pasangan hidup kita. Inilah kunci kesuksesan dan kebahagiaan rumah tangga!

Yesus tetap beserta kita

“Dan berbahagialah orang yang tidak menjadi kecewa dan menolak Aku.” Lukas 7: 23

Pernahkah anda kecewa? Tentu setiap orang pernah. Mungkin kita malu untuk memperlihatkan rasa kecewa kita kepada orang lain, tetapi dalam hidup ini selalu ada hal yang membuat kita kecewa. Mungkin itu karena hal yang kecil seperti baru-baru ini terjadi pada diri saya, ketika saya pergi ke warung yang sering saya kunjungi hanya untuk menjumpai tempat makan itu sudah ditutup gara-gara lockdown yang baru-baru ini dijalankan pemerintah.

Kekecewaan biasanya terjadi jika orang tidak memperoleh apa yang diharapkan. Mereka kecewa karena apa yang seharusnya terjadi, ternyata tidak terjadi. Dan pada saat ini tentunya banyak orang yang kecewa karena adanya pandemi sudah membuat banyak rencana manusia menjadi berantakan. Bukan saja itu menyangkut kegiatan sekolah, pekerjaan dan usaha, kekecewaan juga terjadi dalam bidang sosial dimana orang tidak dapat lagi dengan bebas mengunjungi sanak dan teman ataupun pergi ke tempat pesiar. Tetapi semua itu tentunya tidak dapat dibandingkan dengan kekecewaan yang terjadi karena kehilangan orang yang dicintai karena virus corona. Kekecewaan yang besar mungkin datang karena apa yang seharusnya tidak terjadi kemudian terjadi.

Siapakah yang bersalah jika ada rasa kecewa? Umumnya orang yang kecewa mempersalahkan orang lain atau hal-hal tertentu yang membuatnya kecewa. Sekalipun ada kesalahan yang dibuat sendiri, rasa kecewa sering muncul dengan mempertanyakan mengapa semua itu terjadi? Mengapa orang lain agaknya tidak mengalami persoalan yang kita alami? Mengapa hidup ini terasa tidak adil? Mengapa tidak ada seorang pun yang menaruh belas kasihan atau menolong? Dan untuk puncaknya, orang mungkin mengeluh mengapa Tuhan seakan melupakan dirinya.

Ayat di atas diucapkan Yesus setelah mendengar bahwa Yohanes Pembaptis menyuruh muridnya untuk bertanya kepada Yesus, apakah Yesus adalah Mesias yang sudah dinanti-nantikan umat Israel. Sekalipun Yohanes mendengar bahwa Yesus sudah melakukan perbuatan yang ajaib, ia ingin mendapatkan kepastian dari mulut Yesus sendiri. Yesus menjawab bahwa mereka yang tidak kecewa dan menolak Dia adalah orang-orang yang berbahagia. Apa maksud Yesus? Apakah Ia merasa bahwa Yohanes sudah kecewa dan tidak percaya kepadaNya? Sudah tentu tidak.

Yohanes tidak kecewa ataupun bermaksud untuk menolak Yesus. Sebaliknya, Yohanes yang sudah mendengar bahwa Yesus mempunyai kuasa yang besar, ingin memastikan bahwa Yesus adalah benar-benar Mesias yang dinantikannya. Yohanes tidak ingin kecewa atau dikecewakan. Bagaimanapun juga Yohanes adalah manusia yang tidak sempurna seperti kita. Yesus kemudian menjawab bahwa orang yang tidak hidup dalam kesangsian akan keilahianNya adalah orang yang berbahagia. Orang Kristen yang tidak ragu-ragu akan kemahakuasaan dan kebesaran kasih Yesus adalah orang yang berbahagia.

Pada saat yang sulit saat ini, tentu banyak orang Kristen yang seperti Yohanes, bertanya-tanya apakah Yesus adalah Tuhan yang bisa mereka harapkan. Sudah terlalu banyak hal-hal yang mengecewakan kita dan kita mungkin ingin memastikan bahwa Yesus tetap adalah Tuhan yang mampu dan mau menolong umatNya. Sebagai orang pilihan Tuhan, kita tidak dapat menolak Dia atau kehilangan iman. Tetapi kata ‘menolak” di sini bisa diartikan bahwa kita meragukan bahwa Ia adalah Tuhan yang masih menyertai kita dalam setiap keadaan. Karena kita tidak ingin goncang dalam hidup karena adanya badai yang sekarang melanda kehidupan, kita bertanya kepada Tuhan: “Apakah Engkau masih menyertaiku, Tuhan?”. Yesus dengan pasti menjawab bahwa mereka yang tetap percaya kepadaNya tidak akan dikecewakan. Berbahagialah orang yang tidak meragukan Dia!

Kuasa Tuhan membuat kita kuat

Tetapi jawab Tuhan kepadaku: “Cukuplah kasih karuniaKu bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasaKu menjadi sempurna.” Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku. 2 Korintus 12: 9

Hari Minggu yang lalu saya diminta untuk memberi renungan melalui internet dalam sebuah pertemuan maya antar teman SMA. Dalam situasi saat ini jumpa tatap muka tidaklah mungkin, apalagi karena mereka tinggal di kota dan negara yang berlainan. Walaupun demikian, perjumpaan melalui layar komputer dan HP terasa cukup berkesan.

Renungan saya sampaikan dengan menggunakan komputer laptop yang saya miliki, dan untuk memungkinkan kualitas gambar dan suara yang lebih baik saya menggunakan tambahan microphone dan camera. Sayang sekali saya tidak menyadari bahwa microphone ekstra itu tidak bekerja selama pertemuan. Akibatnya, menurut beberapa teman, volume suara saya terdengar naik turun dan sebagian mungkin kurang jelas.

Rasa menyesal atas kekeliruan saya mungkin saya bawa sampai saat saya tidur. Menjelang pagi saya terbangun dengan perasaan kurang enak karena teringat bahwa kekeliruan itu sebenarnya bisa diatasi kalau saja saya lebih berhati-hati dalam mempersiapkan microphone itu. Tetapi karena nasi sudah menjadi bubur, saya kemudian sulit untuk melanjutkan tidur. Ajaib, pada waktu itu saya teringat akan ayat di atas yang seakan memberi teguran kepada saya. Sesudah itu saya bisa tidur lagi dengan lelap.

Sebagai manusia kita ingin mengendalikan jalan hidup kita. Kita berusaha untuk hidup baik, dari masa sekolah, masa kuliah sampai masa bekerja dan juga dalam masa pensiun. Kita berusaha untuk mencapai hasil yang terbaik dalam setiap usaha kita. Bukan saja mengenai pendidikan, pekerjaan, keuangan dan kesehatan, sebagai orang Kristen kita mungkin berusaha untuk menjalani hidup yang sesuai dengan firman Tuhan. Tetapi, sekalipun kita berusaha keras, terkadang kita merasa bahwa masih ada saja hal yang kurang baik yang terjadi dalam hidup kita. Kita mungkin merasa sedih dan menyesal akan apa yang tidak kita harapkan, tetapi semua itu sudah terjadi dan tidak dapat diperbaiki.

Paulus dalam ayat di atas menulis apa yang dikatakan Tuhan kepadanya. Pada waktu itu ia mengalami masalah yang sangat membebani dia yang seperti “duri dalam daging” rasanya (2 Korintus 12: 7). Sudah tiga kali Paulus berseru kepada Tuhan meminta pertolongan, tetapi tidak ada perubahan yang dialaminya. Tuhan malahan menjawab bahwa kasihNya sudah cukup bagi Paulus.

Ada banyak teori tentang apa sebenarnya duri ini – begitu banyak teori yang dikemukakan orang, sehingga mustahil untuk mendiagnosis situasi Paul dengan kepastian penuh. Beberapa orang berpendapat bahwa duri Paulus datang dalam bentuk penganiayaan orang Yahudi karena konteks sekitarnya berbicara tentang lawan. Yang lain berpendapat bahwa ingatan Paulus sendiri tentang masa lalunya adalah duri; mungkin masa lalu Paulus yang termasuk penganiayaan terhadap gereja terus menghantuinya. Beberapa bahkan mengusulkan bahwa Paulus mengalami masalah jasmani atau depresi.

Sekalipun kelemahan fisik tampaknya lebih mungkin terjadi di sini, kita tidak tahu jawaban yang tepat. Beberapa kelemahan fisik yang tampaknya sesuai dengan keadaan Paulus di antaranya adalah malaria, demam Malta, dan epilepsi. Banyak dari masalah kesehatan ini juga bisa memengaruhi penglihatan, dan tampaknya Paulus memang mengalami kesulitan dengan penglihatannya – jadi ini bisa jadi disebabkan oleh “duri” dalam dagingnya.

Apa pun yang terjadi pada Paulus, itu menunjukkan kelemahan manusia yang bisa terjadi pada siapa pun. Setiap orang mempunyai masalah dalam hidup yang bisa membuatnya merasa lemah dalam menghadapi hidup. Berbagai kesalahan yang kita perbuat pada masa yang lalu juga bisa membuat kita merasa sedih dan putus asa. Kita memang berharap agar Tuhan selalu mau menolong dan melindungi kita. Karena itu kita merasa terpukul jika ada hal-hal yang kurang baik terjadi dalam hidup kita. Mungkin kita sudah berusaha mati-matian untuk menghindari kesalahan, tetapi sebagai manusia yang tidak sempurna selalu ada masalah dan kegagalan yang terjadi.

Pagi ini, firman Tuhan mengingatkan kita bahwa kita adalah manusia yang lemah. Sebagai umat Kristen kita tidak bisa mengharapkan bahwa kita akan memperoleh kesuksesan dalam hidup, kesehatan yang lebih baik dan kenyamanan yang lebih daripada orang lain. Tuhan tidak selalu memberikan apa yang kita minta atau harapkan, tetapi Ia selalu memberi kita kekuatan dalam menghadapi semua masalah. Kasih karuniaNya sudah diberikanNya kepada semua orang percaya, agar dengan iman mereka dapat berserah kepada Tuhan yang mahakuasa. Biarlah kasih dan kuasa Tuhan tetap dapat kita rasakan dalam setiap masalah yang kita alami pada saat ini.

Bertahan untuk hidup

“Marilah kepadaKu, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” Matius 11: 28

Hidup ini berat. Mungkin kebanyakan orang mengiyakan pernyataan ini. Bagaimana tidak? Selama hidup selalu ada saja tantangan dan persoalan yang harus kita hadapi. Jika bukan hal pekerjaan, mungkin soal keuangan, keluarga, kesehatan atau hubungan antar manusia. Sekalipun ada orang-orang yang nampaknya selalu berjaya, pastilah ada masalah-masalah yang harus tetap dihadapi.

Orang berkata: “Ada hidup, ada masalah”, tetapi sebaliknya juga benar: “Ada masalah, ada hidup”. Selama manusia masih hidup pasti ada masalah, tetapi adanya masalah bisa juga membuat orang menjadi lebih kuat dan tetap hidup. Walaupun demikian, bagaimana orang bisa tetap hidup jika ada masalah yang sangat besar seperti pandemi saat ini? Banyaknya orang yang sakit, yang meninggal, yang kehilangan pekerjaan dan yang putus asa di sekitar kita, membuat kita ikut merasa kuatir dan tertekan. Dalam keadaan sedemikian, kita mungkin merasa mudah lelah dalam menghadapi perjuangan hidup sehari-hari.

Bagi orang yang lelah jasmaninya, istirahat atau tidur mungkin bisa memulihkan tenaganya. Tetapi, banyak orang yang lelah bukan karena jasmaninya, tetapi karena rohaninya. Dalam hal ini, kelelahan rohani tidak bisa dihilangkan dengan istirahat; sebaliknya, kelelahan rohani seringkali menyebabkan kita justru tidak bisa beristirahat dengan baik. Jika kelelahan jasmani mungkin bisa diatasi dengan obat-obatan; kelelahan rohani seringkali sulit untuk diobati dan malahan bisa menimbulkan masalah jasmani.

Jika kelelahan jasmani mudah terlihat, kelelahan rohani seringkali sulit dibaca orang lain. Lebih payah lagi, mereka yang mengalami kelelahan rohani seringkali tidak sadar kalau apa yang mereka alami adalah bersumber dari rohani. Mereka yang mengalami kelelahan rohani seringkali merasa hidup ini begitu berat, begitu hampa, tanpa harapan, dan tidak ada orang lain yang bisa mengerti atau bisa menolong. Mereka yang berada dalam keadaan ini mungkin berusaha menyembunyikan persoalannya dari pandangan orang lain dengan berpura-pura, seakan hidup mereka berjalan seperti biasa. Tetapi, pada saat tertentu hati mereka menangis dan pikiran mereka menjadi sangat keruh.

Ayat di atas adalah panggilan Yesus kepada semua orang yang merasa lelah rohaninya. Yesus mengerti bahwa jika manusia bisa mengatasi kelelahan jasmani,  mereka tidak mungkin menghilangkan kelelahan rohani dengan kekuatan diri sendiri. Kelelahan rohani hanya bisa dihilangkan oleh Tuhan yang bisa melihat apa yang ada dalam hidup, pikiran dan hati manusia.

Kelelahan rohani hanya bisa disembuhkan melalui iman kepada Tuhan yang mahakuasa, mahakasih dan mahabijaksana. Jika manusia tidak dapat menolong kita, tidak mau menolong kita atau tidak tahu bagaimana harus menolong kita; Tuhan kita adalah Tuhan yang mampu menolong, mau menolong, dan tahu apa yang terbaik untuk kita. Firman Tuhan diatas mengingatkan kita untuk percaya kepadaNya dengan segenap hati kita, dan tidak bersandar kepada pengertian kita sendiri. Maukah kita menyerahkan hidup kita sepenuhnya kepada Dia?

“Serahkanlah segala kekuatiranmu kepadaNya, sebab Ia yang memelihara kamu.” 1 Petrus 5: 7

Berdoa di masa pandemi

“Kalau ada seorang di antara kamu yang sakit, baiklah ia memanggil para penatua jemaat, supaya mereka mendoakan dia serta mengolesnya dengan minyak dalam nama Tuhan. Dan doa yang lahir dari iman akan menyelamatkan orang sakit itu dan Tuhan akan membangunkan dia; dan jika ia telah berbuat dosa, maka dosanya itu akan diampuni. Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh. Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya.” Yakobus 5: 14 – 16

Semua manusia tentunya pernah jatuh sakit selama hidupnya. Tetapi, jika seseorang jatuh sakit di masa pandemi ini dan harus ke rumah sakit, kekuatiran mungkin bisa menjadi lebih besar. Memang karena virus corona ini sangat menular, banyak orang yang takut untuk pergi ke rumah sakit.

Adanya penyakit dan rasa sakit adalah salah satu konsekuensi kejatuhan manusia kedalam dosa. Walaupun demikian, kita harus bersyukur bahwa Tuhan selalu menyertai umatnya baik dalam suka maupun duka, baik sewaktu sehat maupun sewaktu sakit. Kasih Tuhan tidak berubah dalam segala keadaan ataupun saat.

Ayat diatas ditulis oleh rasul Yakobus mengenai kesehatan umat Tuhan. Pada saat itu, ilmu kedokteran dan kesehatan lingkungan belumlah semaju sekarang. Walaupun demikian, Yakobus tentunya sadar bahwa menjaga kesehatan adalah penting untuk bisa hidup dan bekerja secara optimal untuk kemuliaan Tuhan. Lebih dari itu, ia jelas sadar bahwa Tuhanlah yang mempunyai kuasa untuk memberi kesembuhan kepada orang yang sakit. Tuhanlah yang berhak untuk menolong siapa saja yang mengalami masalah, baik itu hal jasmani atau rohani. Pertanyaannya, apakah ayat ini tetap sepenuhnya relevan untuk masa kini?

Ayat diatas tidak secara spesifik menulis tentang jenis penyakit yang bisa didoakan untuk kesembuhan. Jika pengolesan dengan minyak dianjurkan untuk kesembuhan (kemungkinan besar minyak zaitun), rasul Yakobus tentunya tahu bahwa itu bukanlah obat untuk segala penyakit. Jadi, pemakaian minyak itu mungkin bertalian dengan ritual atau kebiasaan waktu itu, dan merupakan lambang penyertaan Tuhan. Bukan pengurapan, bukan doa dan bukan iman manusia yang membawa kesembuhan, tetapi Tuhan sendiri. Tuhan yang mahakuasa bisa secara total menyembuhkan segala penyakit jika itu sesuai dengan kehendakNya; bukan penyakit tertentu saja dan bukan hanya kesembuhan sementara.

Ayat diatas tidak menyebutkan apakah kesembuhan jasmani atau rohani yang dibahas, tetapi semua penyakit memang bisa disembuhkan Tuhan, seperti yang dilakukan Yesus selama di dunia. Walaupun begitu, dengan mempertimbangkan kefanaan jasmani manusia, ayat itu mungkin lebih cenderung menyangkut masalah rohani yang bersangkutan dengan cara hidup manusia di dunia. Ini juga lebih sesuai dengan misi penyelamatan Yesus selama di dunia.

Hubungan yang baik dengan Sang Pencipta seharusnya memberi pengertian bahwa kita tidak dapat memisahkan kehidupan jasmani dari kehidupan rohani, karena tubuh kita adalah rumah Tuhan. Karena itu kita harus memelihara keduanya sesuai dengan firman Tuhan. Seringkali orang mementingkan salah satu saja, dan ini bisa menimbulkan persoalan. Manusia bisa sakit karena faktor keturunan, lingkungan, atau kebiasaan. Selain itu, iblis pun bisa membawa berbagai gangguan. Dengan hubungan yang baik dengan Tuhan kita akan makin mampu untuk menyadari apa yang salah dan memperoleh pengampunanNya.

Tuhan bisa memberi kesembuhan dari penyakit apapun apabila sesuai dengan kehendakNya. Tetapi ayat ini mungkin lebih mengena dalam hal yang berhubungan dengan cara hidup manusia. Mereka yang hidupnya jauh dari Tuhan seringkali merasa sakit, lemah, tertekan dan kesehatannya terganggu. Mereka yang terpaksa hidup dalam lingkungan yang kurang sehat, mungkin sering terkena penyakit. Selain itu, banyak orang di saat ini yang harus dirawat di rumah sakit sebagai akibat dari interaksi dengan masyarakat di sekitarnya. Kepada mereka ini, firman Tuhan berkata bahwa didalam Dia ada keselamatan dan kebangkitan. Tuhan bisa bekerja dalam hidup manusia, keluarga, masyarakat dan negara untuk kemuliaanNya.

Karena Tuhan mengasihi seisi dunia, mereka yang sakit boleh berharap dalam iman akan keringanan dan kesembuhan dariNya. Tetapi, lebih dari itu, mereka yang beriman akan yakin bahwa sekalipun tubuh jasmani mereka lemah, mereka adalah orang-orang yang sudah mendapat pengampunan Tuhan. Setiap orang Kristen adalah orang-orang yang sudah dikuduskan oleh Kristus. Dengan demikian, adalah panggilan bagi kita di masa pandemi ini untuk selalu berdoa untuk kesehatan orang lain dan juga untuk kesehatan diri kita sendiri. Lebih dari itu, kita harus juga berdoa untuk kesehatan mereka yang bekerja di rumah sakit: para dokter, jururawat dan pekerja yang lain. Kita harus percaya bahwa dalam darah Yesus ada kuasa yang besar!