Pencobaan bisa membentuk pribadi yang baik

“Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa.” Ibrani 4: 15

Bagi banyak orang, diagnosis coronavirus hanyalah permulaan impian yang buruk. Menurut penyelidikan, orang-orang yang pulih dari penyakit ini ternyata bisa mengalami berbagai gejala persisten: sesak napas, lemah, pikiran berkabut, kelelahan, dan depresi. Karena itu, negara-negara yang dilanda pandemi di Eropa telah mulai menawarkan layanan rehabilitasi kepada para penyintas COVID-19 sekalipun ilmu kedokteran belum tahu banyak tentang bagaimana tubuh manusia bisa pulih dari serangan virus di paru-paru, saluran pencernaan, jantung, ginjal, hati , otak, dan sistem saraf.

Bagi banyak orang, adanya pandemi membuat mereka berpikir dan merenung, kalau-kalau virus itu adalah sesuatu yang Tuhan berikan kepada manusia. Kalau betul demikian, untuk apa? Memang soal sakit, semua orang pernah mengalaminya. Itu adalah bagian hidup di dunia. Walaupun demikian, orang baru memikirkannya secara sungguh-sungguh ketika ia sudah jatuh sakit. Pertanyaan “mengapa aku” atau “why me” mungkin muncul disertai dengan rasa kuatir. Bagi mereka yang percaya kepada Tuhan, itu mungkin bisa menjadi permulaan dari permohonan dan doa yang khusyuk dan khusus untuk mendapatkan pertolongan Tuhan. Walaupun begitu, sering juga timbul keraguan apakah Tuhan akan menolong, apalagi jika pikiran bahwa Tuhan memang membiarkan mereka sakit.

Rasul Paulus juga pernah mengalami kejadian serupa. Dalam 2 Korintus 12: 7 -8 ia menulis bahwa Tuhan memberinya suatu “duri di dalam daging”, yaitu seorang utusan Iblis untuk menggocoh dia, supaya dia jangan meninggikan diri. Tentang hal itu rasul Paulus sudah tiga kali berseru kepada Tuhan, supaya utusan Iblis itu diusir, tetapi hal itu tidak terjadi. Paulus sadar bahwa dibalik sakitnya, Tuhan mempunyai rencana yang tersendiri. Tuhan memang bisa mengizinkan hal yang jelek terjadi atas diri kita agar kita makin bergantung kepadaNya.

Memang rasa sakit dan penyakit adalah bagian hidup di dunia yang penuh dosa. Tetapi, pada pihak yang lain, hal-hal sedemikian bisa membimbing kita agar kita tidak hidup “ugal-ugalan”. Supaya kita mau berusaha untuk menghindari bahaya dan penyakit, dan sadar bahwa sebagai manusia kita adalah lemah dan harus bergantung kepada pemeliharaan Tuhan.

Setiap manusia bisa mengalami sakit, baik itu sakit jasmani ataupun sakit rohani. Pada abad-abad berselang, sakit jasmani mungkin dianggap lumrah sedangkan sakit rohani seperti depresi dan penyakit kejiwaan lainnya dianggap seperti “aib” yang harus disembunyikan. Tetapi, di zaman sekarang orang mulai mengerti bahwa baik sakit jasmani maupun rohani bisa terjadi pada siapapun juga. Mereka yang sehat jasmaninya bisa sakit jiwanya, dan mereka yang sakit jasmaninya bisa sehat secara rohani.

Dari ayat diatas, kita bisa membaca bahwa Yesus sebagai Tuhan yang pernah menjadi manusia bisa merasakan segala kelemahan-kelemahan kita, dan bahkan sama dengan kita, Ia pernah dicobai. Bahkan, dalam penderitaanNya sewaktu disalibkan di bukit Golgota, Ia sampai berseru memanggil Allah BapaNya. Jeritan Yesus itu terjadi karena Ia sangat menderita secara jasmani maupun rohani, sebab Ia mewakili manusia yang seharusnya mati karena dosa mereka.

Dan pada jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: “Eloi, Eloi, lama sabakhtani?”, yang berarti: Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku? Markus 15: 34

Hari ini, jika kita merasakan hidup ini adalah terlalu berat untuk kita jalani karena beban jasmani ataupun rohani, biarlah kita ingat bahwa Tuhan Yesus tahu apa yang kita rasakan dan mengerti bagaimana kita menderita karenanya. Yesus yang sudah menebus dosa kita adalah Tuhan yang mengasihi kita dan tidak akan meninggalkan kita, karena Ia tahu bagaimana rasanya bagi kita jika Tuhan terasa jauh. Biarlah kita semua bisa dikuatkan olehNya dalam keadaan apapun, supaya kemuliaan Yesus bisa terlihat dalam hidup kita.

“Sebab kami, yang masih hidup ini, terus-menerus diserahkan kepada maut karena Yesus, supaya juga hidup Yesus menjadi nyata di dalam tubuh kami yang fana ini.” 2 Korintus 4: 11

Kita sudah menerima mukjizat terbesar

“Dialah yang menyelamatkan kita dan memanggil kita dengan panggilan kudus, bukan berdasarkan perbuatan kita, melainkan berdasarkan maksud dan kasih karunia-Nya sendiri, yang telah dikaruniakan kepada kita dalam Kristus Yesus sebelum permulaan zaman dan yang sekarang dinyatakan oleh kedatangan Juruselamat kita Yesus Kristus, yang oleh Injil telah mematahkan kuasa maut dan mendatangkan hidup yang tidak dapat binasa.” 2 Timotius 1: 9-10

Dengan adanya pandemi dan masalah ekonomi yang melanda semua negara di dunia saat ini, banyak orang yang merasa bahwa tanpa intervensi Tuhan, dunia ini akan mengalami kekacauan besar. Dalam keadaan yang sedemikian, tidak dapat diragukan bahwa banyak orang Kristen yang berdoa dan mengharapkan untuk datangnya mukjizat Tuhan. Mukjizat adalah sesuatu yang terjadi diluar apa yang bisa dijangkau dengan pikiran manusia, yang dipercayai sebagai suatu hal supranatural yang berasal dari Tuhan. Semua orang Kristen percaya adanya mukjizat yang dilakukan Tuhan, walaupun sering ada perbedaan pengertian tentang detilnya.

Diantara dua posisi ekstrim, ada orang Kristen yang percaya bahwa mukjizat bisa terjadi kapan saja dan di mana saja dalam setiap segi kehidupan manusia, dan ada yang percaya bahwa mukjizat hanya terjadi secara unik pada zaman sebelum Alkitab tertulis. Dengan demikian, golongan yang pertama adalah orang-orang yang selalu mengharapkan agar Tuhan melakukan mukjizatNya, dan golongan kedua adalah orang-orang yang tidak percaya bahwa Tuhan perlu untuk membuat mukjizat seperti dulu. Walaupun demikian, kebanyakan orang Kristen tidak menolak kenyataan bahwa mukjizat di zaman ini tetap bisa terjadi karena Tuhan tidak pernah berubah dari dulu sampai sekarang.

Memang dalam hidup di dunia, manusia sering mengalami saat-saat dimana kemampuannya tidak lagi dapat memecahkan persoalan yang dihadapi. Untuk mereka yang beriman, adalah normal jika mereka berseru meminta tolong kepada Tuhan. Seringkali jika hal yang diharapkan itu datang, orang menerimanya sebagai mukjizat Tuhan yang mengabulkan doa-doa mereka. Bagi orang lain, mukjizat belum tentu datang langsung dari Tuhan karena Ia bisa bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi orang percaya. Tuhan yang mahakasih dan mahakuasa bisa memakai apapun yang ada di dunia untuk menolong umatNya. Pertolongan yang terjadi karena usaha manusia tidaklah meniadakan kasih Tuhan yang memungkinkan hal itu terjadi.

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Roma 8: 28

Mereka yang mengharapkan mukjizat langsung dari Tuhan seringkali menekankan pentingnya iman yang teguh. Malahan, ada yang percaya bahwa jika apa yang diminta tidak terjadi, itu disebabkan oleh kelemahan iman. Padahal, Yesus mengajarkan kita untuk berdoa agar bukan kehendak kita yang terjadi, tetapi kehendakNya. Yesus juga mengajarkan bahwa ukuran iman tidak menentukan apa yang akan terjadi, tetapi adanya iman memberi keyakinan bahwa Tuhan bisa melakukan apa saja yang dikehendakiNya dan pada saat yang dipilihNya.

“Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, maka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu.” Matius 17: 20

Walaupun demikian, tidaklah benar jika manusia mengharapkan mukjizat terjadi di setiap saat dan tempat menurut kehendak mereka; karena jika memang demikian, mukjizat itu terjadi karena usaha manusia dan bukannya menurut kehendak Tuhan. Tuhan tidak dapat diperintah manusia untuk melakukan segala hal yang dimaui mereka. Dari awalnya, Tuhan melakukan suatu mukjizat untuk tujuan khusus sesuai dengan maksud dan waktu Tuhan sendiri, dan itu bisa terjadi pada siapa saja dan bukan hanya pada umatNya.

“Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir.” Pengkhotbah 3: 11

Satu hal yang pasti, mereka yang berharap akan pertolongan Tuhan dimanapun dan kapanpun, tidak akan dikecewakan jika pikiran mereka tidak hanya terpusat pada apa yang mereka maui.

Dalam kenyataannya, banyak orang Kristen yang selalu berharap atas datangnya intervensi Tuhan dalam segala segi kehidupan mereka. Mereka lupa bahwa Tuhan sudah melakukan mukjizat yang terbesar dalam hidup mereka. Setiap orang beriman adalah orang-orang yang sudah dimerdekakan dari belenggu dosa dan diselamatkan melalui darah Kristus dan sudah lahir baru. Ini adalah mukjizat terbesar yang tidak dapat dimengerti oleh dunia.

Hari ini firman Tuhan berkata bahwa Tuhanlah yang menyelamatkan kita dan memanggil kita dengan panggilan kudus, bukan berdasarkan perbuatan kita, melainkan berdasarkan maksud dan kasih karunia-Nya sendiri, yang telah dikaruniakan kepada kita dalam Kristus Yesus sejak mulanya. Dengan hidup baru ini kita seharusnya mempunyai perspektif baru tentang adanya tantangan kehidupan. Mukjizat demi mukjizat tetap terjadi, tetapi hidup baru kita tidak lagi bergantung padanya!

Giatlah berdoa di masa sulit

“Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan. Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa!” Roma 12: 11 – 12

Jika kita menyangka bahwa korban Covid-19 ini sudah terlalu besar, itu tentunya tak salah. Data yang ada menunjukkan bahwa di seluruh dunia sudah banyak orang yang terinfeksi virus corona dan di antaranya banyak yang tewas. Walaupun demikian, kita mungkin kurang menyadari bahwa di antara mereka yang tetap hidup, banyak yang mengalami masalah kesehatan untuk jangka panjang. Memang virus ini bisa membuat kerusakan yang luar biasa pada berbagai anggota tubuh. Selain itu, adanya pandemi dapat dipastikan sudah membuat banyak orang yang mengalami gangguan kejiwaan. Tetapi, saat ini data yang akurat belumlah diketahui karena gangguan kejiwaan ini umumnya tidak terjadi secara tiba-tiba, tapi meningkat secara perlahan-lahan.

Di antara mereka yang terpengaruh oleh keadaan gawat saat ini, ada banyak orang yang perlahan-lahan kehilangan semangat untuk beraktivitas, berinteraksi, bekerja dan bahkan untuk hidup. Adanya pembatasan sosial dan berita-berita yang kurang menyenangkan yang timbul setiap hari memang bisa menghancurkan perasaan orang yang setabah apa pun. Apalagi, pada saat ini apa yang biasanya dianggap bisa menguatkan hidup manusia tidaklah mudah dijumpai. Berbagai aktivitas sosial, budaya dan religi memang sudah menghilang sejak wabah ini menjadi besar. Manusia dalam keadaan ini mudah kehilangan arti hidup dan jatuh ke dalam depresi.

Bagaimana tindakan kita sebagai orang Kristen di tengah kekacauan saat ini? Bagi mereka yang biasanya sangat aktif di gereja dan sekarang hanya bisa mengikuti acara kebaktian yang sederhana melalui internet, tentunya merasakan adanya suatu kekosongan. Jika biasanya kita dapat memuji Tuhan dengan diiringi musik yang merdu dan bersama-sama berdoa dengan saudara seiman di gereja, sekarang banyak orang terpaksa tinggal di rumah dan hanya bisa menyanyi dan berdoa dengan orang yang serumah. Memang manusia sebagai makhluk sosial agaknya tidak dapat mengabaikan perlunya hidup bermasyarakat.

Sekalipun demikian, ayat di atas menyatakan bahwa di dalam menghadapi kesulitan hidup, kita tidak boleh membiarkan kerajinan kita kendor. Sebaliknya, kita harus mempertahankan semangat kita untuk tetap menyala-nyala, untuk tetap bisa melayani Tuhan. Di dalam kesulitan, kita tetap harus bersukacita dalam pengharapan, sabar dalam kesesakan, dan bertekun dalam doa. Mengapa demikian? Itu karena hubungan kita dengan Tuhan adalah hubungan rohani, bukan jasmani. Biarpun secara jasmani tubuh kita lemah dan keadaan di sekeliling kita tidak memungkinkan adanya interaksi jasmani antar umat Kristen, interaksi kita dengan Tuhan dan sesama umat percaya tetap bisa berlangsung secara rohani melalui doa dan persekutuan dari hati ke hati yang berlandaskan pengharapan, kesabaran dan ketekunan.

Saat ini, jika kita merasa lemah, letih, lesu dan padam semangat, mungkin itu suatu tanda yang harus kita sadari bahwa secara rohani kita sudah mengalami masalah yang besar. Waktunya sudah tiba bagi kita untuk mengingat bahwa bagaimana pun beratnya hidup ini, hubungan antara kita dengan Tuhan adalah satu-satunya yang bisa menyegarkan kita kembali. Keadaan yang kurang baik saat ini seharusnya mengingatkan kita untuk kembali kepada doa, yang merupakan nafas kehidupan spiritual kita. Hanya melalui hubungan yang baik dengan Tuhan yang mahakuasa, kita akan tetap dapat mempertahankan dan bahkan memperkuat semangat hidup kita di masa sulit ini.

Akulah Tuhanmu

“Sebab Akulah TUHAN, Allahmu, yang mengharubirukan laut, sehingga gelombang-gelombangnya ribut, TUHAN semesta alam namaNya.” Yesaya 51: 15

Aku percaya kepada Tuhan yang mahakuasa

Ada berapakah ayat yang mengandung kata-kata “Akulah Tuhan” dalam Alkitab? Ada banyak, mungkin ada sekitar 20. Barangkali kita heran mengapa Tuhan begitu sering memperkenalkan diriNya sebagai Tuhan kepada umat Israel. Tetapi semua itu wajar jika kita ingat bahwa umat Israel sering lupa atau sengaja melupakan Tuhan yang sudah banyak membuat berbagai keajaiban dalam hidup mereka. Tuhan yang tahu bahwa umatNya memerlukan Dia, sering mengingatkan mereka hanya bisa hidup bergantung kepadaNya.

Tuhan juga sering mengingatkan kita bahwa Ia adalah Tuhan kita. Melalui berbagai kejadian dalam hidup kita, mungkin kita ingat bahwa ada saat-saat tertentu dimana kita merasakan kehadiran atau campur tangan Tuhan. Jika itu terjadi, barangkali hati kita berdebar dan pikiran kita terisi kekaguman bahwa Tuhan itu adalah mahakuasa. Sayang sekali, kejadian semacam itu mungkin agak jarang terjadi; dan karena itu hari demi hari berjalan dan kita mungkin lupa bahwa Tuhan ada dan bekerja dalam kehidupan manusia.

Manusia sering lupa akan Tuhan jika hidupnya terasa tenang. Tetapi jika kesulitan hidup terjadi bagaikan ombak lautan yang bergelora, mungkin orang tersadar bahwa ia tidaklah berkuasa atas hidupnya. Melalui berbagai kejadian, Tuhan kembali menyatakan bahwa Ia berkuasa atas segala sesuatu, dan segala sesuatu terjadi sesuai dengan rencanaNya. Ia adalah Tuhan, Allah yang membuat laut, bergelora sehingga gelombang-gelombangnya ribut.

Jika Ia adalah Raja semesta alam, dimanakah Ia gerangan di saat ini, saat dimana banyak manusia mengalami penderitaan akibat pandemi Covid-19? Apakah Ia bersembunyi di balik semua kejadian di bumi? Ayat di atas menjelaskan bahwa apa yang terlihat menakutkan pun terjadi atas sepengetahuan dan seizinNya. Malahan, Ia bisa menggunakan kekacauan yang terjadi di bumi untuk mengingatkan umatNya bahwa Ia adalah Tuhan, Allah mereka.

Adalah manusia yang sering lupa atau sengaja melupakan adanya Tuhan jika laut tidak bergelora, dan hidupnya berjalan mulus. Tetapi keadaan yang sedemikian bisa membuatnya lupa akan ketergantungannya kepada Tuhan yang mahakuasa. Melalui adanya kekacauan dan persoalan di dunia, Tuhan ingin mengingatkan manusia untuk kembali bernaung dalam perlindunganNya.

Hari ini, apakah anda merasa bahwa Tuhan itu jauh karena Ia nampaknya tidak berbuat apa-apa ketika laut bergelombang mengeluarkan suara yang menakutkan? Ingatlah bahwa laut yang bergelora membuktikan bahwa Tuhan semesta alam adalah Tuhan yang mahakuasa. Ia telah memberi firmanNya kepada kita agar kita selalu ingat kepadaNya yang melindungi kita hari lepas hari.

“Aku menaruh firmanKu ke dalam mulutmu dan menyembunyikan engkau dalam naungan tanganKu, supaya Aku kembali membentangkan langit dan meletakkan dasar bumi, dan berkata kepada Sion: Engkau adalah umatKu!” Yesaya 51: 17

Tetap berbahagia sekalipun berdukacita

“Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur.” Matius 5: 4

Aku percaya akan kasihMu

Anda ingin merasa berbahagia dalam hidup? Menurut kata orang, ada beberapa resepnya. Diantaranya: 

  • Kebahagiaan timbul dari kesuksesan.
  • Kebahagiaan bisa timbul dari rasa puas dan cukup.
  • Rasa bahagia bisa dirasakan karena keadaan keluarga yang baik.
  • Kebahagiaan muncul jika kita merasa bisa menolong orang lain, dll.

Sekalipun kita pada suatu saat bisa memperoleh kebahagiaan melalui hal-hal di atas, adalah kenyataan bahwa kebahagiaan adalah sulit untuk diperoleh, dan jika pun bisa diperoleh itu seringkali tidak langgeng. Buktinya? Baru saja kita memasuki tahun 2020 dengan segala optimisme, keadaan dunia tiba-tiba berubah dan membuat banyak orang berdukacita.

Dalam kenyataannya, setiap orang dalam hidup ini sering mengalami pengalaman yang kurang menyenangkan, perlakuan orang lain yang kurang baik, kegagalan, atau rasa kurang puas dengan apa yang dialami dalam hidup. Rasa pahit yang timbul karena hal-hal ini seringkali meracuni hidup seseorang sehingga membuatnya kurang bisa melihat hidup dari segi positif. Tetapi, jika keadaan di sekitar kita memang nampak buruk, bagaimana kita bisa berbahagia? Salahkah kita jika kita merasa sedih?

Dalam Galatia 5: 22-23 dikatakan bahwa buah Roh ialah kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Dalam menerima keputusan Tuhan atas hidup kita, kita harus bisa menghadapinya dengan sabar sekalipun itu merupakan hal yang sulit diterima. Ini lebih mudah dikatakan daripada dijalankan karena untuk menerima keputusan Tuhan, kita harus mengenal Tuhan dan sifatNya, agar kita bisa percaya akan maksud baikNya.

Manusia hanya dapat mengenal Tuhan karena Tuhan sendiri yang membuka hati dan pikiran mereka. Karena itu, untuk bisa menerima keputusan Tuhan dalam hidup ini, kita memerlukan bimbingan Roh Kudus. Roh Kudus inilah yang bisa memberi penghiburan, yang kita perlukan untuk bisa dengan rasa damai dan rendah hati mendengarkan suara Tuhan tentang apa arti hidup ini, mengapa sesuatu harus terjadi, dan apa yang masih dan harus bisa dilakukan untuk diri kita sendiri dan orang lain.

Hari ini kita harus sadar bahwa Tuhan kita adalah Mahakasih. Tuhan mempunyai rencana khusus untuk setiap umatNya. Dalam keadaan dunia yang serba kacau saat ini, sebagai orang beriman kita harus percaya bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan kita. Dengan kerendahhatian, kita siap menerima bimbingan Tuhan untuk melangkah ke masa depan. Dengan keyakinan akan kasihNya kita akan dapat merasakan kebahagiaan karena tidak ada apa pun yang bisa memisahkan kita dari Dia.

“Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” Roma 8: 38-39

Tetaplah teguh dalam menghadapi masalah

Apabila seorang dicobai, janganlah ia berkata: “Pencobaan ini datang dari Allah!” Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak mencobai siapapun. Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. Yakobus 1: 13 – 14

Hidup ini penuh tantangan

Situasi di Melbourne, Australia, pada saat ini kurang baik. Sesudah berhasil menekan jumlah pertambahan harian kasus positif COVID-19 sampai kurang dari 5 orang per hari pada akhir bulan Mei yang lalu, sekarang pertambahan harian bisa mencapai 200-300 orang per hari. Dengan itu lockdown dimulai lagi di beberapa tempat dan semua orang di sana diharuskan memakai masker. Jika orang mengabaikan peraturan ini, denda sebesar $200 sudah menanti. Mengapa keadaan bisa berubah menjadi buruk lagi? Agaknya itu disebabkan oleh beberapa kelompok masyarakat yang kurang memahami pentingnya pembatasan jarak dan mungkin kurang berdisiplin dalam menerapkan anjuran pemerintah untuk membatasi kegiatan sosial. Sebagai akibatnya, sekarang ini ada sekitar 5 juta penduduk Melbourne harus merasakan ketegangan dan ketakutan karena mereka menghadapi masalah besar.

Hidup manusia adalah penuh tantangan dan setiap orang umumnya pernah mengalami masalah hidup yang serius. Dalam hal ini, sebagian orang merasa beruntung jika mereka pada akhirnya dapat mengatasi masalah mereka, mungkin setelah bergumul cukup lama. Tetapi sebagian lagi mungkin merasa bahwa mereka menghadapi persoalan yang tidak teratasi. Sebagai orang Kristen, tentunya kita yakin bahwa dengan berdoa kita bisa menyampaikan keluh-kesah kita kepada Tuhan untuk meminta pertolongan. Tetapi, kita tentunya sadar bahwa Tuhan sudah tahu apa yang kita derita sebelum kita berdoa. Doa memang bukan dimaksudkan untuk mengingatkan Tuhan akan kesulitan kita, tetapi sebaliknya untuk mengingatkan kita yang dalam kesulitan untuk selalu dekat kepadaNya.

Reaksi manusia dalam kesulitan memang ada berbagai rupa. Ada yang makin rajin berdoa dan percaya bahwa pertolongan Tuhan pasti datang jika mereka giat mengulangi permohonan mereka. Tetapi ada juga orang yang berdoa memohon pertolongan sambil berserah kepada kehendak Tuhan. Dalam hal ini, memang sebenarnya hal berserah kepada kehendak Tuhan itu diajarkan oleh Yesus dengan Doa Bapa Kami, dan karena itu kita tidak sepantasnya “memaksa-maksa” Tuhan untuk menolong kita. Di pihak lain, dalam kesulitan hidup ada orang yang merasa bahwa Tuhanlah yang mengizinkan datangnya semua masalah dan Tuhanlah yang bisa melenyapkannya. Selanjutnya, mereka yang sudah lama menderita mungkin saja mengira bahwa Tuhan yang mahakuasa menghendaki semua itu terjadi, dan karena itu mereka mungkin percaya bahwa doa adalah sesuatu yang sebenarnya sia-sia.

Secara garis besar, penderitaan di dunia ini adalah hal yang lazim. Manusia hidup di dunia yang sudah cacat dan karena itu hidup bisa menjadi sangat sulit dijalani. Walaupun demikian, kesulitan hidup bukanlah datang tanpa sebab. Ada orang yang mengalami kesulitan hidup sekalipun itu terjadi bukan karena kekeliruannya. Dalam hal ini, sebagai orang Kristen kita harus sadar bahwa Tuhan terkadang membiarkan hal itu terjadi untuk membuat kita mau bergantung sepenuhnya kepada Dia. Ini adalah sebuah tes kehidupan yang justru bisa membuat kita makin kuat dalam iman. Pada pihak yang lain, ada juga kesulitan hidup yang terjadi karena kekeliruan kita sendiri, sekalipun tidak mau kita akui. Mungkin sebagai pelarian, orang yang merasa tidak berdaya merasa bahwa Tuhanlah yang sudah mendatangkan semua hal yang buruk dalam hidup mereka.

Ayat di atas ditulis oleh Yakobus ratusan tahun yang lalu, tetapi tetap aktuil pada zaman ini. Yakobus menasihati umat Kristen pada zamannya bahwa mereka yang jatuh kedalam dosa karena pencobaan haruslah mau mengakui kesalahan mereka. Pencobaan yang membawa kejahatan dan dosa bukanlah datang dari Tuhan, tetapi manusialah yang karena keinginan mereka sendiri kemudian jatuh dalam dosa. Pada zaman modern  ini mungkin lebih banyak lagi orang yang merasa bahwa mereka jatuh kedalam dosa dan pencobaan karena Tuhan sudah membiarkan pengaruh jahat merajalela di dunia.

Dalam ayat di atas kita diperingatkan bahwa Tuhan tidak pernah mencobai umatNya agar mereka jatuh dalam dosa. Mereka yang jatuh dalam dosa tidaklah dapat mempersalahkan pengaruh orang lain atau lingkungan mereka. Mereka tidak dapat membuat alasan bahwa semua itu terjadi karena Tuhan membiarkan mereka mengalami pencobaan. Tiap-tiap orang harus menghadapi persoalan hidup mereka sendiri dan berusaha menghindari jebakan-jebakan yang memikat dan yang terlihat sebagai solusi yang mudah. Sebagai manusia kita seharusnya bisa membedakan apa yang baik dari apa yang buruk. Memang seringkali dengan tenaga sendiri kita tidak sanggup untuk mengatasi keinginan hati kita, tetapi dengan membina hubungan baik kita dengan Tuhan, kita akan mendapat kekuatan untuk bisa selalu menang dalam menghadapi pencobaan.

Hidup ini berat, tetapi kita bukan orang yang malang

“Karena yang kutakutkan, itulah yang menimpa aku, dan yang kucemaskan, itulah yang mendatangi aku.” Ayub 3: 25

Aku tetap percaya kepada Tuhanku

Berita media sore ini mengabarkan adanya dua anak yang berusia dibawah dua tahun yang ditemukan tenggelam di kolam renang di belakang sebuah rumah di sebelah barat-daya Sydney. Kedua anak itu segera dilarikan ke rumah sakit, tetapi keadaan mereka sudah kritis. Bagi orangtua anak-anak itu, kejadian di atas tentunya adalah suatu malapetaka yang tidak tersangka. Bagi orang lain, kejadian ini tentunya sangat menyedihkan karena terjadi pada anak-anak yang belum mengerti adanya bahaya.

Di dunia ini banyak orang yang kehilangan semua yang dimilikinya dan apa yang dicintainya akibat perbuatan orang lain, kesalahan sendiri, bencana alam, penyakit atau kecelakaan. Kita juga tahu bahwa saat ini jutaan orang di dunia kehilangan pekerjaan karena adanya wabah Covid-19. Kita yang membaca pengalaman Ayub dan mendengar tentang penderitaan orang lain mungkin juga pernah mengalami hal yang serupa sekalipun tak sama. Tidaklah mengherankan jika kita bertanya-tanya. Mengapa semua ini harus terjadi? Mengapa Tuhan membiarkan semuanya? Seiring dengan itu, hati kita menjadi sangat sedih.

Sebenarnya dalam hidup ini, orang tidak semestinya heran atau kaget melihat datangnya apa yang tidak nyaman dan bahkan malapetaka. Dunia sesudah kejatuhan manusia dalam dosa, adalah dunia yang sulit diterka dan karena itu harus siap dihadapi dengan peluh dan air mata. Walaupun demikian, mungkin dalam hidup ini kita jarang melihat orang yang kehilangan harta, keluarga dan kesehatan secara berurutan secara cepat seperti yang terjadi dalam hidup Ayub.

Hal yang jelek bisa terjadi di dunia yang rusak karena kejatuhan manusia kedalam dosa. Malapetaka bisa juga terjadi karena pekerjaan iblis, seperti apa yang terjadi pada Ayub. Selain itu, seperti apa yang terjadi pada Ayub, terkadang Tuhan memperbolehkan penderitaan datang kepada umatNya. Tetapi Ayub yang mengalami berbagai malapetaka, tetap dilindungi Tuhan sampai akhir.

Sebagai orang Kristen kita harus sadar bahwa Tuhan tidak membuat malapetaka untuk umatNya. Tuhan justru ingin menyelamatkan semua orang yang percaya kepadaNya. Dengan pengurbanan Yesus di kayu salib, kita bisa menyadari betapa besar kasihNya. Karena itu, tidak boleh ada keraguan bahwa Tuhan selalu mempunyai rencana yang baik bagi kita, sekalipun hidup saat ini terasa berat.

Kesedihan atas apa yang menimpa kehidupan kita adalah normal tetapi tidak boleh mematikan hati. Kita terkadang boleh merasa sedih tetapi tidak terus hidup dalam kesedihan. Mengapa begitu? Karena kita tidak mau menghancurkan hidup kita sendiri. Kita tidak ingin untuk hidup dalam penderitaan karena merasa malang, karena merasa bahwa kita adalah orang yang termalang.

Jika ada perbedaan antara Ayub dan umat Tuhan lainnya, itu adalah dalam hal bagaimana Ayub tetap percaya dan setia kepada Tuhan sekalipun hidupnya dilanda malapetaka yang datang satu persatu. Ayub merasa sedih dan tertekan, tetapi tidak mempertanyakan kebijaksanaan Tuhan. Ayub tidak memberontak dan menghujat Tuhan, karena ia tetap yakin bahwa Tuhan adalah mahabijaksana dan mahakasih. Ayub tahu bahwa Tuhan yang memberi adalah Tuhan yang berhak untuk mengambil kembali (Ayub 1: 21). Ayub menyadari bahwa dengan memikirkan kemalangan hidupnya, penderitaannya tidak akan berhenti, tetapi justru membuatnya lelah dan gelisah.

“Aku tidak mendapat ketenangan dan ketenteraman; aku tidak mendapat istirahat, tetapi kegelisahanlah yang timbul.” Ayub 3: 26

Saat ini, jika kita mengeluh bahwa apa yang buruk sering terjadi dalam hidup kita tanpa sebab yang jelas, kita mungkin lupa bahwa kita sudah menerima hal yang sangat baik padahal kita tidak pantas untuk memperolehnya. Kita manusia yang berdosa, tanpa sebab yang jelas, sudah memperoleh kasih karunia penebusan Yesus Kristus. Siapakah kita, sehingga Tuhan memilih kita untuk memperoleh pengenalan akan jalan keselamatan? Kita bukanlah orang yang malang, karena di dalam Kristus kita justru adalah orang yang beruntung!

Jika bahaya mendatangi

“Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti. Sebab itu kita tidak akan takut, sekalipun bumi berubah, sekalipun gunung-gunung goncang di dalam laut; sekalipun ribut dan berbuih airnya, sekalipun gunung-gunung goyang oleh geloranya.” Mazmur 46: 1-3

Tuhan penolongku

Barangkali setiap orang pernah menghadapi bahaya dalam hidupnya dan bahkan mungkin sedang mengalami bahaya di saat ini. Saya masih ingat akan sebuah film Australia yang pernah dibuat di Filipina, yang mengisahkan kehidupan rakyat Indonesia pada tahun 1965an. The Year of Living Dangerously adalah film drama Australia dari tahun 1982 yang dibintangi oleh Mel Gibson dan Sigourney Weaver dan diadaptasi dari sebuah novel dari tahun 1978 dengan judul yang sama. Memang pada saat itu negara Indonesia dan rakyatnya hidup dalam penderitaan dan bahaya. Ini tentunya adalah sebuah pengalaman yang tidak menyenangkan dan tidak mudah dilupakan.

Bagi setiap orang, menghadapi ancaman yang besar bisa membuat hati miris. Saat ini semua negara di dunia sedang menghadapi bahaya pandemi yang sudah menewaskan lebih dari setengah juta orang. Dengan demikian, kebanyakan orang saat ini merasa takut akan kemungkinan dirinya tertular. Walaupun demikian, dalam keadaan ini ada saja orang yang tidak merasa takut. Beberapa minggu yang lalu seorang pemuda datang ke pesta Covid-19 yang diadakan oleh seorang yang teridentifikasi positif untuk membuktikan bahwa virus ini tidak ada. Pesta tanpa pembatasan jarak itu ternyata mengakibatkan beberapa orang tertular virus corona, termasuk pemuda itu yang kemudian meninggal.

Bahaya yang tidak disadari orang memang bisa menjadi bahaya yang membawa celaka. Pada pihak yang lain, banyak orang yang seakan lumpuh hanya karena melihat adanya kemungkinan datangnya bahaya. Selain itu, orang juga seringkali ketakutan karena adanya sebuah ancaman atau tantangan yang terasa lebih besar dari apa yang bisa ditanggungnya. Dengan demikian, apa yang dianggap sebagai bahaya seringkali bergantung pada persepsi seseorang. Sayang sekali, persepsi manusia seringkali tidak bisa dipercaya. Karena itu, apa yang dilihat mata manusia seringkali tidak dapat membawa ketenteraman hidup.

Manusia memerlukan kemampuan untuk melihat apa yang berbahaya, mengerti apakah bahaya memang mendatangi dan keyakinan bahwa ia sanggup untuk menghadapi bahaya. Sayang sekali, dalam keterbatasannya manusia tidak dapat memiliki ketiga hal itu. Hanya Tuhan yang bisa mengetahui apa yang akan terjadi dan bisa mengatasi segalanya. Tuhan adalah mahatahu, mahabijaksana dan mahakuasa. Daud dalam ayat di atas jelas memahami hal ini karena ia bisa meyakini dengan iman bahwa Tuhan adalah tempat perlindungan dan kekuatan baginya, dan ia sudah membuktikan sendiri bahwa Tuhan adalah penolongnya. Sebab itu ia tidak akan takut, sekalipun bumi berubah, sekalipun gunung-gunung bergoncang di dalam laut; sekalipun ribut dan berbuih airnya, sekalipun gunung-gunung bergoyang oleh geloranya.

Hari ini, apakah perasaan anda gundah karena adanya sesuatu yang tidak anda mengerti, suatu bahaya yang mungkin datang dan sebuah masalah yang bisa lebih besar dari apa yang bisa anda tanggung? Seperti pemazmur kita harus bisa meyakini bahwa Tuhan tahu apa yang sedang terjadi, mengerti apa yang akan terjadi dan bisa mengatasi apapun yang terjadi, di dunia dan di alam semesta. Mengapa pula kita harus berharap kepada kemampuan diri kita sendiri? Tuhan adalah yang memegang kemudi di tengah gelombang kehidupan!

Tuhan adalah penuh kasih

“Segala jalan TUHAN adalah kasih setia dan kebenaran bagi orang yang berpegang pada perjanjianNya dan peringatan-peringatanNya.” Mazmur 25: 10

Bacaan: Mazmur 25

Tuhan mengasihi mereka yang takut akan Dia

Mazmur 25 adalah salah satu mazmur Daud yang terkenal. Mazmur ini adalah sebuah doa permintaan ampun dan perlindungan yang disampaikan Daud kepada Tuhan pada saat ia berusia lanjut, mungkin ketika ia mengalami pemberontakan putranya, Absalom. Dalam kesedihan dan kegundahannya, Daud teringat bahwa ia adalah manusia yang mempunyai berbagai cacat-cela dan dosa (ayat 7) dan sudah sepantasnya kalau Tuhan menghukum dia. Tetapi raja Daud juga percaya bahwa Tuhan adalah mahakasih, dan karena itu ia memohon agar Tuhan tetap mau menolong dia.

Apa yang dirasakan Daud pada waktu itu mungkin sering dialami manusia manapun ketika mereka mengalami penderitaan atau persoalan besar. Tetapi, jika orang sering merasa bahwa apa yang terjadi adalah sesuatu yang tidak adil, Daud tidaklah demikian. Daud merasa  bahwa ia adalah orang yang berdosa. Ia sadar bahwa ia pernah sesat dalam hidupnya dan sekarang mempunyai banyak musuh yang ingin menghancurkannya. Dengan kerendahan hati, Daud memohon pertolongan Tuhan.

Sebenarnya, apa yang dialami Daud tidaklah jauh berbeda dengan apa yang kita alami dalam hidup sehari-hari. Kita mungkin mengalami berbagai kesulitan dan ingin agar Tuhan menolong kita. Tetapi, apa yang mungkin berbeda ialah bahwa kita seringkali menganggap bahwa pertolongan Tuhan itu sudah sepantasnya karena kita adalah umatNya. Orang pilihan Tuhan. Jika kita baca dengan teliti dalam mazmur ini, Daud, raja yang dipilih Tuhan untuk mengambil bagian dalam rencana penyelamatanNya, tidak menggunakan statusnya untuk menuntut pertolongan Tuhan. Tetapi, ia dengan rendah hati mengakui kesesatannya dan meminta ampun kepada Tuhan.

Daud sadar bahwa Tuhan adalah mahakuasa dan karena itu ia takut kepadaNya; tetapi Daud juga percaya bahwa Tuhan adalah mahakasih dan mau membimbing dia (ayat 9 – 12). Raja Daud percaya bahwa Tuhan sudah membuka kesempatan bagi dia yang sebenarnya tidak layak, untuk mengenal Dia yang mahakasih dan mahabenar. Karena itu, Daud ingin berpegang pada perjanjianNya dan peringatan-peringatanNya.

Daud lebih lanjut percaya bahwa ia akan menerima kebahagiaan dari Tuhan dalam setiap keadaan, karena Tuhan dekat kepada mereka yang takut akan Dia (ayat 13 – 14). Tuhan memang mengasihi semua orang, tetapi Ia akrab dengan orang-orang yang taat kepadaNya. Karena itu, Daud yang sudah terperangkap dalam kesulitan besar (ayat 15,  kakinya sudah terperosok dalam jaring), tetap bisa berharap kepada Tuhan. Mata Daud hanya tertuju kepada Tuhan, bukan kepada orang-orang ataupun hal-hal yang ada disekitarnya. Ia menjerit kepada Dia saja, yang bisa memberi pertolongan.

“Berpalinglah kepadaku dan kasihanilah aku, sebab aku sebatang kara dan tertindas. Lapangkanlah hatiku yang sesak dan keluarkanlah aku dari kesulitanku!” Mazmur 26: 16 – 17

Hari ini, apakah anda mengalami kesulitan hidup yang besar? Apakah situasi lingkungan anda seolah tidak dapat memberi harapan masa depan? Apakah seperti Daud,  kaki anda terasa seperti sudah terperosok dalam jaring? Adakah pertanyaan mengapa semua ini harus terjadi pada hidup anda? Apa yang dialami Daud bisa memberi pelajaran kepada kita bahwa karena dunia ini penuh dosa, siapapun bisa mengalami saat-saat yang berat. Mungkin itu akibat kekeliruan kita sendiri, tetapi bisa juga karena kesalahan orang lain. Mungkin juga, itu adalah pelajaran yang kita terima dari Tuhan. Tetapi, bagaimana kita bisa tetap kuat bertahan?  Mazmur 25 menyatakan bahwa kunci kemenangan adalah takut kepada Tuhan. Bagi orang yang mau mengakui kesalahan mereka, Tuhan mau mengampuni mereka. Tuhan yang mahakasih juga mau memberi pertolongan kepada mereka yang bergantung sepenuhnya kepada kemurahan dan bimbinganNya. Lebih dari itu, jika kita memohon agar ketulusan dan kejujuran tetap ada selama kita menantikan pertolongan Tuhan (ayat 21), Ia pasti membebaskan kita dari kesesakan kita pada waktunya.

Apa yang kita prioritaskan?

“Marilah kepadaKu, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” Matius 11: 28

Hidup ini berat

Jika ada orang yang berharap bahwa pandemi COVID-19 ini akan segera berakhir, itu tentunya menunjukkan bahwa pandangan orang tersebut tidak realistis. Tetapi, memang ada orang yang merasa bahwa pandemi ini terlalu dibesar-besarkan. Malahan, ada orang yang yakin bahwa pandemi ini hanyalah sekedar tipu daya sekelompok orang yang berusaha mengambil keuntungan. Karena itu, banyak orang yang tidak mau menerapkan pedoman untuk menjaga jarak dan untuk menghindari penularan. Sebagai akibatnya, banyak negara saat ini mengalami pandemi babak kedua.

Mengapa hidup di zaman modern ini masih juga terasa sulit dan makin berat? Kemajuan teknologi, ekonomi, pengobatan, transportasi dan lain-lain, tidak dapat menutupi kemunduran sifat manusia. Justru dengan kemajuan teknologi, makin banyak manusia yang merasa bahwa hidup mereka ada di tangan sendiri. Mereka hanya hidup untuk mencapai kemegahan dan kenyamanan diri sendiri. Alkitab memang menulis bahwa hari-hari ini memang adalah masa yang sukar.

“Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Mereka akan membual dan menyombongkan diri, mereka akan menjadi pemfitnah, mereka akan berontak terhadap orang tua dan tidak tahu berterima kasih, tidak mempedulikan agama, tidak tahu mengasihi, tidak mau berdamai, suka menjelekkan orang, tidak dapat mengekang diri, garang, tidak suka yang baik, suka mengkhianat, tidak berpikir panjang, berlagak tahu, lebih menuruti hawa nafsu dari pada menuruti Allah.” 2 Timotius 3: 2-4

Hidup manusia terasa makin berat karena semakin banyak orang yang tidak mau lagi tunduk kepada Tuhan, sehingga mereka tidak lagi memperoleh bimbingan dan kekuatan dari Tuhan. Selain itu, ada banyak orang yang tidak lagi mau tunduk kepada pemerintah dan para pemimpin mereka. Mereka merasa bahwa hidup ada ditangan mereka sendiri dan harus bisa dinikmati tanpa memikirkan orang lain. Dengan demikian, banyak orang yang tidak hanya harus menderita karena dunia yang semakin padat, tetapi juga karena adanya orang-orang yang hidup semaunya sendiri.

Beban hidup setiap manusia sudah berat, apalagi jika mereka harus menanggung hasil perbuatan orang lain. Karena itu, mereka yang ingin hidup tenteram tidak akan mudah untuk mencapai tujuan hidupnya. Di tengah hingar-bingar dalam masyarakat, orang mudah kehilangan tujuan hidup yang baik dan terperosok kedalam kebingungan dan keputusasaan. Pada pihak yang lain, ada juga orang-orang yang lelah hidupnya karena selalu ingin menikmati apa yang ada seakan tidak ada hari esok.

Hari ini, jika kita merasa lelah dan berbeban berat, marilah kita meneliti hidup kita dalam semua seginya. Apa yang menjadi prioritas hidup kita seharusnya bisa membuat kita makin dekat kepada Tuhan. Jika hati dan pikiran kita selalu terikat kepada hal-hal duniawi, maka perlahan-lahan iman kita akan tergerus arus dosa sehingga tidak akan terasa lagi bahwa kita sudah menjauhi Tuhan sumber kekuatan kita. Dan oleh sebab itu, kita akan sering merasa lelah dan berbeban berat karena kita tidak mendapatkan kelegaan dari Tuhan. Marilah kita memasuki hari depan dengan prioritas hidup yang benar yaitu dengan selalu berjalan bersama Tuhan. Dengan itu, ketenangan hidup pasti akan datang.