“Baiklah saudara yang berada dalam keadaan yang rendah bermegah karena kedudukannya yang tinggi, dan orang kaya karena kedudukannya yang rendah sebab ia akan lenyap seperti bunga rumput.” Yakobus 1: 9 – 10
Hari ini saya pergi ke sebuah museum di Copenhagen. Sebenarnya saya bukanlah orang yang gemar mengunjungi museum, tetapi saya menyempatkan diri karena kebetulan museum itu dibuka gratis untuk umum.
Dalam kunjungan itu, saya melihat koleksi patung-patung kuno dari beberapa kaisar Romawi yang dibuat pada zaman kelahiran Yesus sampai abad ketiga Masehi. Walaupun patung kaisar Romawi yang pertama, Augustus, tidak saya temukan, patung penggantinya yaitu kaisar Tiberius ternyata ada. Begitu juga patung kaisar ketiga yaitu Caligula, yang terkenal sangat kejam.
Melihat patung-patung kaisar yang dipamerkan dalam museum itu, pikiran saya mau tidak mau melayang ke zaman dimana mereka masih hidup dan berkuasa. Sudah tentu karena mereka pada saat itu adalah kaisar-kaisar yang berkuasa, patung-patung itu dibuat oleh artis-artis untuk mengabadikan “kebesaran” mereka. Dua ribu tahun kemudian, tidak hanya mereka sudah meninggalkan dunia ini, patung-patung mereka pun tidaklah terlihat lengkap bagiannya.
Begitulah nasib manusia yang fana di dunia ini. Mereka yang dulunya jaya, akhirnya akan lenyap seperti bunga rumput, tulis rasul Yakobus. Sebaliknya, Yakobus menulis bahwa mereka yang sekarang menderita boleh bermegah karena mereka akan dihargai Tuhan.
Rasul Yakobus sudah tentu tidak bermaksud bahwa umat Tuhan harus menghindari kejayaan dan kekayaan. Tetapi memang mereka yang perspektif hidupnya hanya untuk mencari kejayaan dan kekayaan akan direndahkan Tuhan karena hidup mereka yang tidak dipakai untuk memuliakanNya.
Tuhan membenci mereka yang sombong dan merasa yakin akan kemampuan diri sendiri. Mereka yang selalu mengejar kejayaan dan kekayaan, pada akhirnya akan kecewa karena semua yang mereka capai di dunia ini pada akhirnya akan hilang lenyap.
Pada pihak yang lain, mereka yang pada saat ini merasa bahwa dunia menempatkan mereka pada posisi yang rendah tidaklah perlu berkecil hati karena Tuhan akan meninggikan mereka jika mereka selalu mau hidup bergantung pada Tuhan. Bagaimana pula dengan perspektif hidup anda?
“Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.” Lukas 14: 11
Bagi saya, perjalanan ke luar negeri sering membawa berbagai kesan. Selain kesan yang baik, kesan yang kurang baik juga bisa muncul. Di beberapa negara jelas terlihat bahwa rakyat hidup dalam kecukupan, sehingga mereka yang tidak mempunyai posisi tinggi pun tetap dapat menikmati berbagai hal yang tergolong mewah di negara lain.
Siapa saja yang ke Eropa tentu bisa melihat bahwa banyak kota disana yang memiliki gedung-gedung gereja kuno yang sangat indah arsitekturnya. Walaupun demikian, kebanyakan gedung gereja yang besar dan megah itu sekarang cenderung berfungsi sebagai museum daripada sebagai tempat berbakti kepada Tuhan.
Dalam perjalanan ke negara-negara di sekitar laut Baltik baru-baru ini saya menyaksikan bagaimana kesehatan lingkungan terlihat terpelihara di negara-negara tertentu, tetapi agak kacau di beberapa negara lain. Pada umumnya negara-negara yang tidak terlalu besar dan ekonominya baik, lebih terlihat bersih dan rapi.
Di sebuah kota di Eropa, baru-baru ini saya menyaksikan bagaimana padatnya lalu-lintas pada waktu jam sibuk. Pada daerah tertentu, karena jalan macet orang memarkir mobil di tengah jalan sambil menyalakan lampu bahaya (hazard lights). Belum pernah saya melihat kejadian seperti itu di negara mana pun. Pada waktu itu polisi tidak terlihat dan kekacauan agaknya disebabkan oleh pengemudi mobil yang tidak peduli akan orang lain atau peraturan lalu lintas yang ada.
Apa yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya adalah adanya jasmani dan rohani dalam diri mereka. Jika makhluk lain hanya hidup dalam bentuk jasmani dan tidak mampu atau pernah memikirkan kemungkinan adanya kuasa Ilahi, kebutuhan spritual, keselamatan, kedamaian jiwa dan hal-hal kerohanian lainnya, Tuhan menciptakan manusia menurut peta dan teladanNya lengkap dengan jasmani dan rohani.
Kemarin dalam rangka perjalanan ke beberapa negara di Eropa, saya sempat berjalan-jalan di ibukota negara Denmark, Copenhagen. Bagi orang Indonesia, Denmark mungkin dikenal sebagai tempat tinggal penulis dari abad 19 yang terkenal di seluruh dunia: Hans Christian Andersen. Penulis ini dikenal sebagai penulis dongeng anak-anak yang berjumlah 3381 dan sudah diterjemahkan kedalam lebih dari 125 bahasa. Patung Hans yang terbuat dari tembaga ada di tengah kota Copenhagen.
Dalam kehidupan sehari-hari ada istilah “orang yang tidak berperasaan”, yang artinya orang yang tidak lagi sensitif atas suatu hal yang terjadi di sekelilingnya. Orang yang sedemikian adalah orang yang “kebal”, yang tidak lagi dapat merasakan hal-hal yang kurang baik yang dilakukan oleh dirinya sendiri atau orang lain.
Apa arti kata cinta buta? Cinta buta mungkin bisa diartikan sebagai rasa cinta yang tidak berdasarkan alasan yang bisa diterima akal sehat. Selain itu, kejadian dimana seseorang jatuh cinta kepada orang lain yang tidak benar-benar dikenal, dalam pandangan umum mungkin adalah sesuatu yang menunjukkan bahwa cinta itu buta. Love is blind.