Bimbinglah aku, Tuhan!

“Dengan segenap hatiku aku mencari Engkau, janganlah biarkan aku menyimpang dari perintah-perintah-Mu.” Mazmur 119: 10

Bacaan: Mazmur 119

Bagi mereka yang tidak mengenal Tuhan, konsep ketuhanan adalah sesuatu yang tidak masuk di akal atau tidak ada gunanya. Bagi mereka seluruh alam semesta dan semua benda, flora, fauna dan manusia mempunyai fungsi dan kurun hidup yang tertentu, tetapi semua itu ada dan muncul dengan sendirinya tanpa memerlukan adanya Tuhan.

Memang tidak mudah bagi manusia untuk menyadari adanya Tuhan, dan bagi mereka yang percaya sekalipun, tidaklah mudah untuk mengerti apa yang dikehendakiNya. Oleh sebab itu, orang yang kacau hidupnya, mungkin membayangkan bahwa ia akan lebih mudah untuk taat jika Tuhan membuatnya tidak dapat menyimpang dari hukumNya.

Orang Kristen percaya bahwa Tuhan ada dan memegang kemudi kehidupan seisi alam semesta. Tetapi, Ia memberikan kesempatan, mandat dan kemampuan kepada manusia untuk memilih untuk menjalankan perintah dan hukumNya. Manusia harus mempertanggungjawabkan segala sesuatu yang dilakukannya dalam keadaan apapun.

Penulis Mazmur menyadari bahwa ia tidak dapat mempersalahkan Tuhan atau keadaan jika ia gagal untuk melaksanakan perintah-perintahNya. Tuhan sudah memberikan segala perintah, ketetapan dan hukumNya, karena itu ia tidak dapat menghindar dari kewajiban untuk berusaha dengan sepenuh hati untuk melaksanakan semuanya. Walaupun demikian, ia juga tahu bahwa sebagai manusia ia penuh kelemahan dan tidak akan sanggup untuk menaati perintah Tuhan.

Seperti pemazmur, kita seharusnya sadar bahwa menaati hukum Tuhan adalah keharusan setiap orang percaya dalam keadaan apapun. Ini tidaklah mudah karena dengan kekuatan sendiri kita tidak akan mampu untuk menjadi orang-orang yang taat. Dengan demikian, kita hanya bisa berharap bahwa dengan kasihNya, Tuhan tidak akan membiarkan kita menyimpang dari perintah-perintahNya. Seperti pemazmur, apa yang kita perlukan adalah kemauan untuk selalu mencari bimbingan Tuhan sehingga kita mempunyai kerinduan, dorongan dan kekuatan untuk menjadi umatNya yang patuh dan taat.

“Ajarkanlah kepadaku kebijaksanaan dan pengetahuan yang baik, sebab aku percaya kepada perintah-perintah-Mu.” Mazmur 119: 66

Tuhan adalah Pencipta dan Pemilik segala sesuatu

“Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi.” Kejadian 1: 1

Di zaman ini hak cipta adalah sesuatu yang dipandang penting. Jika dulu orang dengan mudah membuat copy sebuah buku atau CD dan kemudian menjualnya sebagai “barang bajakan”, sekarang hal semacam itu dianggap sebagai tindakan yang melawan hukum. Mereka yang membuat hasil karya asli baik berupa benda, cara ataupun ide bisa mendaftarkan ciptaan mereka supaya tidak bisa ditiru atau dicuri. Para pencipta itu tentunya ingin agar semua orang menghargai hak cipta mereka dan tidak mengurangi penghargaan masyarakat atas jerih payah mereka.

Ayat diatas menunjukkan bahwa jauh sebelum ada makhluk, benda atau tumbuhan apapun di dunia, Tuhan sudah menciptakan langit dan bumi. Tuhan mencipta segala sesuatu, termasuk surga, dengan tanpa memakai bahan dan tanpa bantuan siapapun. Tuhan menciptakan sesuatu dari apa yang tidak ada. Ex nihilo. Karena itu Tuhan adalah oknum yang mencipta dan memiliki hak cipta atas segala sesuatu di alam semesta. Tidak ada oknum lain atau manusia yang bisa mengklaim apapun sebagai hak miliknya dengan sepenuhnya.

Memang banyak manusia yang dengan bangga mengaku sebagai pencipta sesuatu. Selain itu ada juga orang yang mengklaim sebagai pemilik barang, tempat, flora/ fauna, dan bahkan sesama manusia. Walaupun demikian, Tuhan yang menciptakan alam semesta dengan segala isinya, sudah mendaftarkan semua ciptaanNya dalam Alkitab. Sebelum manusia ada Tuhan sudah menciptakan semua yang kemudian digunakan oleh manusia untuk membuat apa yang diperlukannya.

Manusia dengan demikian bukanlah pencipta, tetapi pengguna. Manusia bukanlah pemilik, tetapi peminjam. Manusia tidak dapat menciptakan sesuatu ex nihilo. Manusia tidak juga memiliki apapun, seperti Ayub yang berkata bahwa dengan lahir telanjang ia keluar dari kandungan ibunya, dengan telanjang juga ia akan kembali (Ayub 1: 21).

Jika segala sesuatu diciptakan dan dimiliki oleh Tuhan, adakah yang patut kita banggakan? Jika kita menggunakan dan meminjam apa yang dimiliki Tuhan, pantaskah kita menyia-nyiakan hidup kita? Dan jika kita sudah menerima segala berkatNya, tidakkah kita patut hidup dengan bersyukur kepadaNya? Baik hidup atau mati manusia adalah milik Tuhan. Dengan demikian, Tuhan yang menciptakan manusia adalah Tuhan yang memberi hidup yang seharusnya dipakai untuk memuliakan Tuhan. Dan jika kita mati, sebagai umatNya kita juga harus merasa beruntung karena kita akan bisa hidup di surga bersama dengan Dia.

“Sebab jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, dan jika kita mati, kita mati untuk Tuhan. Jadi baik hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan.” Roma 14: 8

Jangan lupakan Bapa yang di surga

“Dan Aku akan menjadi Bapamu, dan kamu akan menjadi anak-anak-Ku laki-laki dan anak-anak-Ku perempuan demikianlah firman Tuhan, Yang Mahakuasa.” 2 Korintus 6: 18

Pagi ini saya membaca ulasan tentang buku karangan John Marsden, seorang pendidik anak terkenal dan penulis buku yang pernah menjadi pendiri dan kepala dari dua sekolah di Australia. Dalam bukunya yang terbaru itu, John menguraikan masalah orangtua  zaman sekarang yang kurang bisa mendidik anak-anak mereka. Masalah ini sudah sangat berat dan menyebabkan epidemi penyakit kejiwaan di antara anak-anak. Selama ini, masalah ini sering diabaikan orang karena biasanya orang tidak mau mengkritik para orangtua dengan cara pendidikan masing-masing.

John Marsden menguraikan beberapa jenis sikap orangtua yang keliru dan penyebabnya:

  1. “Anakku adalah pahlawanku”: Orangtua yang memanjakan dan tidak peduli akan apa yang dilakukan anak.
  2. “Anakku adalah luar biasa”: Orangtua narsis yang merasa gagal dalam hidup mereka sendiri.
  3. “Aku percaya kebebasan anak”: Mereka yang tidak mau mengambil keputusan berat untuk mendisiplin anak.
  4. “Ia adalah anakku dan harus menurut apa saja yang aku katakan”: Orangtua yang sangat mengontrol anak.
  5. “Aku terlalu sibuk dalam hidupku”: Orangtua yang sering absen dari keluarga.
  6. “Aku dan anakku adalah teman baik”: Mereka yang ingin menjadi teman tetapi tidak mau menjadi orangtua.

Sebagai orang Kristen, kita mungkin setuju dengan pengamatan John Marsden di atas. Barangkali, item nomer 1, 2, 4 dan 5  lebih sering terjadi di antara keluarga di negara-negara Timur, tetapi dengan adanya pengaruh Barat, item 3 dan 6 juga mulai muncul.

Sebagai orang Kristen seharusnya kita tahu bahwa setiap orang percaya mempunyai orangtua di bumi, tetapi  juga orangtua di surga. Karena pengurbanan Kristus, setiap orang Kristen sudah diangkat menjadi anak Tuhan. Dalam hal ini, setiap orang percaya tentunya sadar bahwa Tuhan adalah Bapa yang mahakasih dan mahabijaksana. Dengan demikian, setiap orang percaya harus mau belajar dari orangtua mereka yang di surga, yaitu Tuhan, agar bisa membina hubungan yang baik dengan orangtua dan anak mereka yang di bumi.

Mereka yang tidak mengenal Tuhan sebagai Bapa tentunya akan mengalami kesulitan untuk mengerti apa yang harus dilakukan di bumi, baik sebagai orangtua maupun anak. Alkitab adalah buku pedoman bagi setiap orang percaya, bagaimana mereka bisa mengasihi sesama, mendidik mereka yang lebih muda dan menghormati orang yang lebih tua. Sayang bahwa banyak orang Kristen jarang membaca Alkitab dan mempelajari firmanNya. Mereka tidak dapat membayangkan Tuhan yang mahabesar tetapi juga yang mahakasih. Tuhan yang mahasuci tetapi juga yang mahasabar. Tuhan yang tidak dapat dipermainkan, tetapi juga yang penyayang. Tuhan yang ingin menyelamatkan setiap manusia, tetapi tidak memaksakan kehendakNya. Tidaklah mengherankan bahwa dalam keluarga Kristen pun, berbagai masalah bisa terjadi dalam hubungan antara orangtua dan anak.

Pagi ini, kita diingatkan bahwa ada berbagai teori pendidikan yang bisa kita pelajari untuk membina keluarga. Selain itu, ada begitu banyak motivator dan pendidik yang bisa memberikan pengarahan kepada orangtua  maupun anak. Tetapi, semua itu akan menjadi kesia-siaan jika kita tidak mau mempelajari firman Tuhan. Mempelajari fiman Tuhan dan melaksanakannya dalam hidup sehari-hari adalah kunci kesuksesan dalam pendidikan anak muda. Mereka yang sadar akan hal ini akan memperoleh kebijaksanaan untuk memilih apa yang baik dan menghindari apa yang buruk dalam kehidupan keluarga.

” TUHAN senang kepada orang-orang yang takut akan Dia, kepada orang-orang yang berharap akan kasih setia-Nya.” Mazmur 147: 11

Ketamakan adalah kunci bencana

Kata-Nya lagi kepada mereka: “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu.” Lukas 12: 15

Beberapa hari yang lalu saya menerima sebuah SMS yang berisi sebuah kabar gembira. Berita berbahasa Inggris itu itu berbunyi: “Nomer HP anda sudah memenangkan 3 juta poundsterling, untuk mengklaim silahkan kontak alamat web ini…”. Tentu anda tahu bahwa semua SMS semacam ini hanyalah tipuan saja. Di Indonesia banyak juga hal yang serupa, walaupun hadiahnya mungkin tidak sebesar yang dijanjikan kepada saya. Kabar gembira seperti itu setidaknya bisa membuat kita tertawa geli, karena kebohongan yang terang-terangan terlihat. Walaupun demikian, sebagian orang menanggapi kabar semacam itu dengan serius, dan karena itu mereka sering terjebak dalam hal-hal yang menimbulkan banyak masalah.

Di Australia, kasus penipuan melalui media elektronik sangat sering terjadi. Tidak semua penipuan berisi kabar gembira yang menjanjikan hadiah uang; sebagian malahan berisi ancaman agar orang membayar sejumlah uang karena mereka seolah terlibat dalam pelanggaran hukum. Dengan kabar buruk ini, orang yang merasa takut kemudian membayar sejumlah uang. Tahun lalu saja, orang membayar sekitar 3 juta dolar karena tertipu oleh kabar buruk palsu yang seolah berasal dari kantor pajak. Pada tahun itu juga, hampir 500 juta dolar diperkirakan lenyap akibat semua jenis penipuan eletronik di Australia. Gara-gara uang manusia menjadi tamak dan melakukan kejahatan, gara-gara uang juga orang bisa tertipu dan dirugikan.

Uang memang bisa membawa kebahagiaan, tetapi juga penderitaan. Banyak orang berpendapat bahwa jika ada uang, kebahagiaan akan mudah diperoleh. Bagi sebagian orang, uang mungkin identik dengan berkat dan kasih Tuhan. Sebaliknya, banyak orang yang merasa bahwa penderitaan hidup disebabkan oleh tidak adanya uang atau karena adanya uang yang harus dikeluarkan. Bagi mereka, kehilangan uang mungkin berarti kehilangan berkat dan kasih Tuhan. Bukankah Tuhan yang mahakaya dan mahakasih mengerti bahwa manusia memerlukan uang untuk hidup di dunia dan senang jika mempunyai banyak uang?

Menurut dunia, uang memang kunci kehidupan. Menurut dunia kebahagiaan dan penderitaan bisa diukur dengan uang yang masuk atau uang yang keluar.  Tetapi firman Tuhan di atas berkata bahwa hidup manusia tidak bergantung pada kekayaannya; sebab sekalipun seorang berlimpah-limpah hartanya, kebahagiaan belum tentu datang. Hal yang sebaliknya justru sering terjadi: karena harta yang berlimpah-limpah seorang bisa kehilangan Tuhannya dan mengalami kehampaan hidup. Walaupun demikian, tidak dapat dipungkiri bahwa mereka yang hidup dalam kekurangan bisa merasakan bahwa hidup ini sangat berat dan Tuhan itu tampak jauh.

Dengan demikian, manakah yang lebih baik: menjadi orang kaya atau orang miskin? Jika kemakmuran bisa membuat orang jauh dari Tuhan, kemiskinan juga bisa mempunyai akibat yang serupa. Menurut ayat di atas, apa yang penting bagi kita adalah untuk menghindari ketamakan. Ketamakan bukanlah monopoli orang yang kaya saja: mereka yang kaya bisa menjadi tamak karena kecintaan kepada harta, tetapi mereka yang berkekurangan bisa menjadi tamak karena kerinduan untuk memperoleh harta.

Pagi ini kita diingatkan bahwa ketamakan membuat orang lupa bahwa hidupnya hanya bergantung kepada Tuhan. Ini adalah bencana. Dengan mengejar kekayaan orang bisa jatuh kedalam berbagai pencobaan dan karena cinta akan uang orang bisa melakukan berbagai kejahatan (1 Timotius 6: 9 – 10). Mereka yang siang malam memikirkan harta, pada akhirnya bisa mendewakan harta dan kehilangan Tuhan. Karena itu, seperti Paulus kita harus mau melatih diri agar bisa merasa cukup dalam setiap keadaan, baik itu kelimpahan ataupun kekurangan.

“Kukatakan ini bukanlah karena kekurangan, sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan. Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan. Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” Filipi 4: 11 – 13

Dari mana datangnya percaya diri?

“Hai anakku, janganlah pertimbangan dan kebijaksanaan itu menjauh dari matamu, peliharalah itu, maka itu akan menjadi kehidupan bagi jiwamu, dan perhiasan bagi lehermu. Maka engkau akan berjalan di jalanmu dengan aman, dan kakimu tidak akan terantuk. Amsal 3: 21 – 23

Sebagai seorang dosen universitas, saya sudah menjumpai berbagai jenis murid. Ada yang pandai dan ada yang kurang pandai, ada yang rajin dan ada  juga yang cenderung malas. Walaupun demikian, saya merasa bangga dan berbahagia pada saat mereka di wisuda; karena seperti seekor burung yang siap untuk terbang, mereka semua siap untuk terjun bekerja dalam masyarakat. Apa yang mereka peroleh di universitas memang adalah bekal yang bisa mereka gunakan untuk menempuh hari-hari mendatang, sekalipun masa depan tentunya masih merupakan tanda tanya.

Kesuksesan seseorang dalam hidup memang dipengaruhi oleh apa yang sudah pernah dipelajarinya. Dalam proses pendidikan baik formal atau tidak formal, orang menerima berbagai ilmu yang sesuai dengan apa yang dipilihnya. Walaupun demikian, mereka yang ingin sukses dalam hidup tidak hanya perlu belajar ilmu pengetahuan (hard skills), tetapi juga harus memiliki kemampuan hidup sehari-hari (soft skills) yang seringkali tidak diperoleh dari tempat pendidikan. Dengan mempunyai kedua jenis kemampuan ini, rasa percaya diri manusia akan menjadi lebih kuat dalam mengambil keputusan penting dalam hidup.

Kepercayaan kepada diri sendiri (self confidence) memang seringkali dianggap sebagai hal yang berguna dalam hidup, yang bisa membuat orang berani menghadapi masa depan. Mereka yang  sudah mendapat pendidikan yang cukup, umumnya  bisa mempunyai rasa percaya diri yang lebih besar dari yang lain. Walaupun demikian, hidup manusia bukan hanya mengenai hal mencari solusi dari persoalan hidup, tetapi juga menyangkut hal menghadapi berbagai persoalan hidup sehari-hari yang belum tentu mempunyai penyelesaian. Hidup yang sedemikian harus diterima dan dijalani dengan iman, tetapi untuk itu kita seringkali kehilangan rasa percaya diri.

Ayat diatas adalah tulisan Salomo yang terkenal bijaksana. Tidaklah mengherankan bahwa Salomo yang sudah dikaruniai kemampuan itu oleh Tuhan, seringkali menulis berbagai nasihat yang berguna. Nasihat di atas ditujukan kepada mereka yang masih muda agar menyadari bahwa dalam hidup ini kepandaian saja belum tentu membawa kesuksesan dalam hidup. Dalam kenyataannya, banyak orang pandai yang hidupnya menderita, karena apa yang terjadi dalam hidup mereka tidaklah dapat dimengerti dan diterima dengan akal. Dengan demikian, manusia membutuhkan pertimbangan dan kebijaksanaan dari tempat lain untuk bisa mendapatkan kebahagiaan dalam hidup dan ketenteraman jiwa dalam segala keadaan.

Mereka yang mengenal Tuhan bisa memperttimbangkan hal apa yang penting dan apa yang tidak penting. Jika orang lain sibuk dengan hal mencari keberhasilan hidup, bagi mereka yang berada dalam Tuhan, hidup sudah merupakan kesuksesan karena kemenangan Yesus atas kematian. Dengan karunia keselamatan dari Tuhan, ketakutan atas hidup ini menjadi hilang karena apa yang akan datang adalah jauh lebih baik dari apa yang terlihat di masa kini. Dengan demikian, hidup mereka bukan diutamakan untuk mengejar apa yang bersifat duniawi, tetapi selalu mendahulukan apa yang baik sesuai dengan firmanNya. Soft skill inilah yang tidak dimiliki oleh semua orang.

Pagi ini, ada sebuah pertanyaan untuk kita. Apakah kita percaya bahwa kita akan mempunyai hari depan yang baik? Tidak ada seorang pun yang tahu apa yang akan terjadi pada diri kita di tahun-tahun mendatang. Kita bahkan tidak tahu apa yang akan terjadi esok hari atau sejam lagi. Tetapi, jika kita masih memakai pertimbangan sehat dan kebijaksanaan dari Tuhan, kita akan menghadapi semua rintangan dengan rasa percaya diri bahwa segala sesuatu akan berakhir dengan baik sesuai dengan janji Tuhan.

Antara cinta dan benci

“Tunjukkanlah belas kasihan kepada mereka yang ragu-ragu, selamatkanlah mereka dengan jalan merampas mereka dari api. Tetapi tunjukkanlah belas kasihan yang disertai ketakutan kepada orang-orang lain juga, dan bencilah pakaian mereka yang dicemarkan oleh keinginan-keinginan dosa.” Yudas 1: 22 – 23

Ingatkah anda hukum kedua yang disebutkan Yesus dalam Matius 22: 39? Hukum itu berbunyi “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri”. Setiap orang yang mempunyai pikiran yang sehat tentunya tahu bagaimana ia harus mengasihi dirinya, dan seperti itulah ia harus mengasihi orang lain. Ini lebih mudah untuk dikatakan daripada untuk dilakukan.  Memang biasanya orang tidak mudah mengasihi orang lain karena adanya perasaan bahwa orang lain tidak pantas untuk dikasihi. Jika mengasihi  orang seiman mungkin lebih mudah daripada mengasihi orang yang berbeda kepercayaan, hal itu tetap tidak mudah dilakukan jika kita tahu bahwa orang yang seiman itu ternyata tidak sebaik yang kita harapkan.

Mengapa kita harus mengasihi orang yang munafik? Mengapa kita harus mengasihi orang yang hidup dalam dosa? Mereka tidak pantas untuk dikasihi, begitu mungkin pikiran kita. Dengan kata lain,  kita tidak mengasihi mereka karena kita yakin bahwa mereka tidaklah sebaik diri kita. Pandangan semacam ini sudah tentu bukanlah pandangan Yesus. Selama hidup di dunia Yesus menunjukkan kasihNya kepada orang yang terasing dari masyarakat, marginalised people, seperti orang yang sakit kusta, pelacur, pemungut cukai dan penjahat. Yesus mengasihi mereka sebelum mereka mengasihi Dia. Yesus mengasihi mereka sekalipun mereka belum menjadi pengikutNya. Tuhan pun mengasihi kita ketika kita masih berada dalam dosa dengan mengirimkan Yesus untuk mati bagi kita (Roma 5: 8).

Satu hal yang sering dilupakan orang adalah fakta bahwa jika Yesus mengasihi semua umat manusia, Ia membenci dosa mereka. Kepada seorang perempuan yang berzinah Ia berkata: “Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang” (Yohanes 8: 11). Seperti itu jugalah, setiap orang percaya harus berusaha untuk tetap hidup sesuai dengan firmanNya. Setiap orang percaya juga harus bisa bersikap seperti Yesus: mengasihi sesama manusia tetapi membenci dosa mereka. Manusia tidak lagi hidup di bawah hukum Taurat, tetapi dalam hukum kasih mereka tetap harus menghindari dosa.

“Jadi bagaimana? Apakah kita akan berbuat dosa, karena kita tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia? Sekali-kali tidak!” Roma 6: 15

Inilah yang sering diputar-balikkan oleh iblis dalam usahanya untuk membuat manusia untuk memilih hidup semaunya sendiri. Iblis membuat orang percaya bahwa jika Tuhan mengasihi manusia, Ia mengasihi manusia sebagai mana adanya, tanpa mengharuskan mereka untuk meninggalkan dosa mereka. Iblis jugalah yang mengajarkan mereka yang hidup dalam dosa untuk menuduh umat Kristen sebagai orang yang tidak mengasihi sesamanya, melainkan orang munafik pembenci sesama yang suka menghakimi orang lain.

Membenci dosa tetapi tetap mengasihi orang yang berdosa adalah sesuatu yang diajarkan Alkitab. Ayat pembukaan kita berkata bahwa kita harus bisa menunjukkan belas kasihan kepada mereka yang ragu-ragu akan jalan kebenaran Tuhan, tetapi mau menyelamatkan mereka dari kematian dengan jalan merampas mereka dari api penghukuman. Kata “merampas” menyatakan bahwa ini bukanlah tugas yang ringan karena seringkali mengundang permusuhan dan kebencian mereka yang merasa diingatkan atau ditegur atas cara hidup mereka.

Pagi ini, sebagai umat Kristen kita harus berani untuk menyatakan apa yang jahat sebagai kejahatan yang dibenci Tuhan. Selain itu, kita harus juga bisa menyatakan belas kasihan yang disertai ketakutan bahwa apa yang mereka perbuat akan mencelakakan hidup mereka, dengan membenci apa yang dicemarkan oleh keinginan-keinginan dosa mereka. Sebagai orang Kristen kita yakin akan apa yang harus kita kasihi (sesama manusia) dan apa yang harus kita benci (dosa). Adalah kewajiban bagi semua umat Kristen untuk menyatakan kepada seisi dunia bahwa Tuhan yang mahakasih adalah Tuhan yang mahasuci, yang tidak dapat dipermainkan manusia.

Mengikut Yesus itu tidak mudah

Yesus berkata kepadanya: “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.” Matius 8: 20

Dalam perjalanan ke luar negeri baru-baru ini saya mendapat kesempatan untuk membandingkan keadaan sosial-ekonomi dari beberapa negara. Dalam beberapa negara yang ekonominya kuat, saya membayangkan tentunya tidak ada orang gelandangan (homeless people) di tengah kota. Harapan saya ternyata adalah hampa karena agaknya keadaan ekonomi sebuah negara belum tentu seirama dengan keadaan sosial rakyatnya.

Di beberapa negara yang termasuk kaya, saya bisa menjumpai adanya orang gelandangan yang meminta-minta. Sekalipun mungkin ada hukum setempat yang melarang orang hidup seperti itu, saya masih bisa melihat adanya orang-orang yang berjalan kaki dengan pakaian lusuh dan peralatan yang jelas menunjukkan bahwa mereka tidak mempunyai tempat tinggal tetap. Saya tidak dapat membayangkan betapa beratnya hidup mereka, apalagi jika musim dingin tiba.

Sudah tentu penyebab orang untuk menjadi gelandangan ada berbagai macam. Sebagian orang mungkin dipaksa oleh keadaan seperti kehilangan pekerjaan, kebangkrutan, adanya penyakit, atau kehancuran rumah tangga. Tetapi ada juga orang yang kehilangan rumah karena kesalahan sendiri, seperti pemakaian narkoba, kecanduan judi dan kemalasan.

Yesus dalam ayat di atas menjelaskan kepada orang- orang yang ingin mengikut Dia bahwa pada dasarnya mereka harus bisa hidup seperti Dia. Yesus adalah Anak Allah, tetapi selama Ia memberitakan kabar keselamatan di dunia, Ia tidak mempunyai tempat tinggal. Yesus adalah seorang tuna wisma. Karena itu, orang yang ingin mengikut Dia haruslah mau dan siap untuk menjadi homeless. Yesus direndahkan sedemikian rupa, bukan karena kesalahan yang diperbuatNya, tetapi karena dosa umat manusia yang perlu ditebusNya. Menjadi pengikut Yesus bukanlah gampang.

Di zaman ini, jika kita ingin mengikut Yesus dan menjadi umatNya, kita tidak lagi perlu menjadi gelandangan. Tuhan Yesus sudah menyelesaikan tugasNya. Tetapi inti ayat di atas tetap sama: menjadi pengikut Yesus bukanlah gampang. Jika kita ingin mengikut Dia, itu berarti mendahulukan kepentinganNya dan melupakan ambisi pribadi kita. Kita harus siap menjalankan tugas-tugas yang diberikanNya kepada kita. Kita tidak dapat berhamba kepada dua tuan (Matius 6: 24). Kita tidak dapat mengikut Yesus jika hidup, pikiran dan tenaga kita dipakai untuk mencari kebahagiaan dan kenyamanan duniawi saja.

Firman di atas berkata bahwa untuk mengikut Dia kita harus siap mengurbankan kepentingan pribadi kita. Jika kita ingin menjadi umatNya tetapi mengharapkan Tuhan akan membayar kita dengan berbagai kenikmatan hidup, kita akan kecewa. Harga yang termahal untuk menebus kita sudah dibayarNya, dan karena itu kita mempunyai kewajiban untuk membalas kasihNya dan melayaniNya dengan menempatkan kepentinganNya sebagai hal yang paling utama dalam hidup kita.

Tetaplah berpegang pada satu kebenaran

“Kamu harus berpegang kepada ketetapan-Ku. Janganlah kawinkan dua jenis ternak dan janganlah taburi ladangmu dengan dua jenis benih, dan janganlah pakai pakaian yang dibuat dari pada dua jenis bahan.” Imamat 19: 19

Pada zaman ini, pandangan orang tentang mereka yang lain latar belakangnya sudah mengalami banyak kemajuan. Dengan pengertian yang makin baik tentang hak azasi dan dengan majunya hubungan antar manusia, orang mulai bisa menghargai orang lain yang berbeda ras, bahasa, budaya, agama dan cara hidup. Dengan demikian, orang tidak gampang-gampang menolak atau merendahkan orang lain yang berbeda latar belakangnya.

Dengan perubahan yang terjadi di zaman modern, banyak orang yang merasa “maju” jika mereka bisa hidup bersama dengan damai bersama orang yang sebenarnya berpandangan hidup yang sangat berbeda. Hal yang sedemikian adalah baik, dan Alkitab memang menunjang prinsip kesamaan derajat antar umat manusia. Walaupun demikian, Alkitab mengajarkan bahwa tidak semua orang dapat digolongkan sebagai umat Tuhan. Ada orang yang dapat digolongkan sebagai domba Yesus dan gandum, tetapi ada pula yang bukan termasuk dombaNya (Yohanes 10: 26) dan mungkin bisa tergolong jenis lalang (Matius 13: 38).

Agama memang adalah salah satu hal yang dapat membedakan manusia yang satu dengan yang lain. Dalam lagu “Imagine“, John Lennon membayangkan betapa dunia akan tenteram jika tidak ada agama. Itu ada benarnya, tetapi dalam hal hidup beragama hal yang jahat biasanya bukan karena adanya perbedaan agama, tetapi karena adanya manusia yang memutar-balikkan ajaran agamanya sehingga timbul permusuhan antar sesama manusia. Adanya perbedaan dalam hidup tidaklah dapat dihilangkan, tetapi tidaklah harus menimbulkan kebencian. Pada pihak yang lain, mereka yang berusaha menghilangkan kebencian dengan menghilangkan perbedaan, bisa melenyapkan kebenaran.

Ayat di atas menunjukkan adanya perbedaan: ada dua jenis ternak, ada dua jenis benih dan ada dua jenis bahan pakaian. Walaupun demikian, isi ayat itu bukanlah mengenai 3 jenis perbedaan itu. Ayat itu menggambarkan perbedaan antara umat Tuhan dan orang yang tidak mengenal Tuhan. Kedua kelompok ini adalah ciptaan Tuhan yang sama derajatnya, tetapi sangat berbeda dalam hal iman, sehingga keduanya tidak boleh dicampur-adukkan. Mereka yang beriman, tetapi menerima cara hidup orang yang tidak beriman, lambat laun akan berubah gaya hidupnya dan menjalani hidup seperti orang yang tidak beriman. Mereka yang menerima Yesus sebagai Juruselamat, tetapi juga bisa menerima pendapat bahwa ada jalan lain menuju ke surga, lambat laun akan berpendapat bahwa Yesus bukanlah satu-satunya jalan.

Pagi ini firman Tuhan mengingatkan kita bahwa sebagai umat percaya kita harus menghargai semua ciptaan Tuhan, dan itu termasuk sesama manusia. Walaupun demikian, kita tidak boleh membiarkan diri kita dipengaruhi pandangan dunia, yang memperbolehkan pandangan apapun untuk dicampur-aduk demi terciptanya keadaan “harmonis” menurut pandangan manusia. Perbedaan antara terang dan kegelapan adalah suatu kenyataan yang harus diterima, tetapi apa yang terang tidak boleh dibuat menjadi remang-remang dengan adanya kegelapan. Sebaliknya, apa yang terang haruslah bisa membuat apa yang gelap berubah menjadi terang.

Semua manusia adalah ciptaan Allah

“Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.” Kejadian 1: 27

Di zaman ini, baik dalam media atau pergaulan sehari-hari, seringkali ada opini yang menyudutkan golongan etnis tertentu. Memang karena di dunia ada banyak bangsa, suku dan kelompok etnis, pandangan yang meninggikan golongan sendiri dan merendahkan kelompok lain itu sering muncul. Biasanya hal itu digolongkan sebagai rasisme, karena adanya keyakinan bahwa golongan tertentu adalah lebih baik dari yang lain. Bagaimana pandangan orang Kristen dalam hal ini?

Hal membeda-bedakan manusia tidak dapat dipisahkan dari kenyataan tentang adanya manusia yang berbeda penampilan, kebudayaan, bahasa dan cara hidupnya. Dari manakah asal umat manusia itu dan bagaimana pula mereka bisa menyebar dan menjadi manusia yang kelihatan berbeda adalah hal-hal yang sering dipertanyakan orang sejak dulu.

Bagi mereka yang percaya bahwa Tuhan menciptakan alam semesta, tentunya ada keyakinan bahwa semua umat manusia di dunia ini adalah sebuah ciptaan Tuhan. Dengan berlalunya waktu, perubahan perlahan-lahan terjadi, tetapi semua manusia pada hakikatnya adalah sejenis.

Bagi mereka yang mendalami ilmu genetika, manusia dengan segala bentuk badan, rupa dan warna kulit mereka, tidaklah menyatakan bahwa mereka adalah makhluk yang berlainan. Sebaliknya, manusia berdasarkan genetika adalah makhluk yang homogen dan hampir tidak berbeda. Kebanyakan bukti genetika dan arkeologi menunjuk pada satu tempat di sebelah timur Afrika, dari mana manusia kemudian menyebar ke seluruh dunia.

Jika satu kelompok manusia merasa lebih baik dari kelompok yang lain, biasanya itu disebabkan oleh ketidaksadaran atau ignorance bahwa semua manusia pada dasarnya berasal dari satu tempat, dan dengan demikian adalah sebangsa. Dengan kehendak Tuhan, manusia kemudian nenyebar ke seluruh penjuru dunia. Dengan demikian, bagi umat Kristen semua manusia dan dimanapun mereka berada adalah ciptaan Tuhan yang sederajat. Lebih dari itu, Tuhan mengasihi setiap orang dan mengurbankan AnakNya untuk menebus siapa saja yang percaya tanpa memandang asal usulnya (Yohanes 3: 16), sehingga pada saatnya semua umatNya akan dipersatukan di surga.

Adalah suatu hal yang menyedihkan bahwa ada orang-orang yang senang membesar-besarkan perbedaan dan asal usul umat manusia. Bagi umat Kristen, hal yang sedemikian seolah berarti bahwa Tuhan pada awalnya menciptakan manusia yang berbeda jenis dan kelas di berbagai tempat di dunia. Pandangan sedemikian juga membuat seolah Tuhan lebih mengasihi orang-orang atau bangsa-bangsa tertentu karena mereka lebih baik dari bangsa yang lain.

Pagi ini firman Tuhan mengingatkan seluruh umat manusia, dan terutama umat Kristen bahwa setiap insan adalah ciptaan Tuhan yang harus menerima perlakuan dan penghargaan yang sama dimana pun mereka berada. Lebih dari itu, sebagai umat Kristen kita terpanggil untuk menyampaikan kabar baik tentang Yesus Kristus kepada seluruh umat manusia yang tanpa perkecualian sudah jatuh kedalam dosa.

“Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.” Efesus 4: 32

Tidak semua orang mengenal Yesus

“Akulah gembala yang baik dan Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku.” Yohanes 10: 14

Cuaca hari ini sangat cerah dan memberi kesempatan bagi saya untuk bisa duduk di sebuah cafe, mengamati kesibukan orang yang berlalu-lalang di tengah kota. Segala jenis manusia bisa terlihat, baik tua atau muda, pria atau wanita, dan dari bermacam bangsa.

Melihat manusia yang berbagai jenis dan rupa itu, mau tidak mau saya menjadi kagum atas kebesaran Tuhan. Bukan saja Tuhan sudah menciptakan berbagai jenis binatang dan tumbuhan, Ia juga menciptakan manusia yang mempunyai ciri-ciri penampilan yang berbeda dan tersebar di seluruh penjuru dunia, sekalipun pada mulanya berasal dari ciptaanNya yang satu jenis di satu tempat saja.

Melihat banyaknya orang yang lewat di depan saya, saya mau tidak mau merasa bersyukur bahwa Tuhan jelas mengasihi seluruh umat manusia dan memberkati mereka sehingga mereka maju dalam segala bidang kehidupan selama abad-abad yang silam. Walaupun demikian, saya tahu bahwa tidak semua orang yang saya lihat mau dan bisa menyadari besarnya kasih pemeliharaan Tuhan dalam hidup mereka.

Jika Tuhan secara umum mengasihi setiap manusia, sebagian manusia memilih untuk melupakan Tuhan. Dari Alkitab dan juga sejarah kita bisa menyadari bahwa banyak orang yang tidak mau untuk percaya bahwa Tuhan Sang Pencipta itu ada dan perlu untuk disembah. Mereka memilih untuk hidup bebas menurut apa yang disukai.

Begitu banyak orang yang hidup di dunia, tetapi tidak semua orang akan diselamatkan. Ini adalah sebuah kenyataan yang mungkin bisa membawa rasa sedih dalam hati kita. Tuhan sebenarnya mengasihi semua orang dan segala bangsa, tetapi sebagian orang mengabaikan kasihNya yang sudah dinyatakan dalam pengurbanan Yesus. Selain itu, ada juga orang yang mengenal nama Tuhan dan Yesus tetapi tidak mau hidup sebagai dombaNya, yaitu orang yang menurut firmanNya. Tetapi, patutkah kita hanya melihat kehidupan orang lain?

Pagi ini, pertanyaan ada untuk kita semua: apakah kita sendiri sudah benar-benar menjadi domba-domba Kristus. Jika ya, tentunya hidup kita bukanlah menurut kehendak kita sendiri. Jika kita memang adalah domba Yesus, kita tentu bisa menyadari betapa besarnya kasih Tuhan dan mau mengikuti langkahNya setiap saat dan keadaan. Tidak semua orang benar-benar mengenal Yesus!