“Dengan segenap hatiku aku mencari Engkau, janganlah biarkan aku menyimpang dari perintah-perintah-Mu.” Mazmur 119: 10
Bacaan: Mazmur 119
Bagi mereka yang tidak mengenal Tuhan, konsep ketuhanan adalah sesuatu yang tidak masuk di akal atau tidak ada gunanya. Bagi mereka seluruh alam semesta dan semua benda, flora, fauna dan manusia mempunyai fungsi dan kurun hidup yang tertentu, tetapi semua itu ada dan muncul dengan sendirinya tanpa memerlukan adanya Tuhan.
Memang tidak mudah bagi manusia untuk menyadari adanya Tuhan, dan bagi mereka yang percaya sekalipun, tidaklah mudah untuk mengerti apa yang dikehendakiNya. Oleh sebab itu, orang yang kacau hidupnya, mungkin membayangkan bahwa ia akan lebih mudah untuk taat jika Tuhan membuatnya tidak dapat menyimpang dari hukumNya.
Orang Kristen percaya bahwa Tuhan ada dan memegang kemudi kehidupan seisi alam semesta. Tetapi, Ia memberikan kesempatan, mandat dan kemampuan kepada manusia untuk memilih untuk menjalankan perintah dan hukumNya. Manusia harus mempertanggungjawabkan segala sesuatu yang dilakukannya dalam keadaan apapun.
Penulis Mazmur menyadari bahwa ia tidak dapat mempersalahkan Tuhan atau keadaan jika ia gagal untuk melaksanakan perintah-perintahNya. Tuhan sudah memberikan segala perintah, ketetapan dan hukumNya, karena itu ia tidak dapat menghindar dari kewajiban untuk berusaha dengan sepenuh hati untuk melaksanakan semuanya. Walaupun demikian, ia juga tahu bahwa sebagai manusia ia penuh kelemahan dan tidak akan sanggup untuk menaati perintah Tuhan.
Seperti pemazmur, kita seharusnya sadar bahwa menaati hukum Tuhan adalah keharusan setiap orang percaya dalam keadaan apapun. Ini tidaklah mudah karena dengan kekuatan sendiri kita tidak akan mampu untuk menjadi orang-orang yang taat. Dengan demikian, kita hanya bisa berharap bahwa dengan kasihNya, Tuhan tidak akan membiarkan kita menyimpang dari perintah-perintahNya. Seperti pemazmur, apa yang kita perlukan adalah kemauan untuk selalu mencari bimbingan Tuhan sehingga kita mempunyai kerinduan, dorongan dan kekuatan untuk menjadi umatNya yang patuh dan taat.
“Ajarkanlah kepadaku kebijaksanaan dan pengetahuan yang baik, sebab aku percaya kepada perintah-perintah-Mu.” Mazmur 119: 66
Di zaman ini hak cipta adalah sesuatu yang dipandang penting. Jika dulu orang dengan mudah membuat copy sebuah buku atau CD dan kemudian menjualnya sebagai “barang bajakan”, sekarang hal semacam itu dianggap sebagai tindakan yang melawan hukum. Mereka yang membuat hasil karya asli baik berupa benda, cara ataupun ide bisa mendaftarkan ciptaan mereka supaya tidak bisa ditiru atau dicuri. Para pencipta itu tentunya ingin agar semua orang menghargai hak cipta mereka dan tidak mengurangi penghargaan masyarakat atas jerih payah mereka.
Pagi ini saya membaca ulasan tentang buku karangan John Marsden, seorang pendidik anak terkenal dan penulis buku yang pernah menjadi pendiri dan kepala dari dua sekolah di Australia. Dalam bukunya yang terbaru itu, John menguraikan masalah orangtua zaman sekarang yang kurang bisa mendidik anak-anak mereka. Masalah ini sudah sangat berat dan menyebabkan epidemi penyakit kejiwaan di antara anak-anak. Selama ini, masalah ini sering diabaikan orang karena biasanya orang tidak mau mengkritik para orangtua dengan cara pendidikan masing-masing.
Beberapa hari yang lalu saya menerima sebuah SMS yang berisi sebuah kabar gembira. Berita berbahasa Inggris itu itu berbunyi: “Nomer HP anda sudah memenangkan 3 juta poundsterling, untuk mengklaim silahkan kontak alamat web ini…”. Tentu anda tahu bahwa semua SMS semacam ini hanyalah tipuan saja. Di Indonesia banyak juga hal yang serupa, walaupun hadiahnya mungkin tidak sebesar yang dijanjikan kepada saya. Kabar gembira seperti itu setidaknya bisa membuat kita tertawa geli, karena kebohongan yang terang-terangan terlihat. Walaupun demikian, sebagian orang menanggapi kabar semacam itu dengan serius, dan karena itu mereka sering terjebak dalam hal-hal yang menimbulkan banyak masalah.

Dalam perjalanan ke luar negeri baru-baru ini saya mendapat kesempatan untuk membandingkan keadaan sosial-ekonomi dari beberapa negara. Dalam beberapa negara yang ekonominya kuat, saya membayangkan tentunya tidak ada orang gelandangan (homeless people) di tengah kota. Harapan saya ternyata adalah hampa karena agaknya keadaan ekonomi sebuah negara belum tentu seirama dengan keadaan sosial rakyatnya.
Pada zaman ini, pandangan orang tentang mereka yang lain latar belakangnya sudah mengalami banyak kemajuan. Dengan pengertian yang makin baik tentang hak azasi dan dengan majunya hubungan antar manusia, orang mulai bisa menghargai orang lain yang berbeda ras, bahasa, budaya, agama dan cara hidup. Dengan demikian, orang tidak gampang-gampang menolak atau merendahkan orang lain yang berbeda latar belakangnya.
Di zaman ini, baik dalam media atau pergaulan sehari-hari, seringkali ada opini yang menyudutkan golongan etnis tertentu. Memang karena di dunia ada banyak bangsa, suku dan kelompok etnis, pandangan yang meninggikan golongan sendiri dan merendahkan kelompok lain itu sering muncul. Biasanya hal itu digolongkan sebagai rasisme, karena adanya keyakinan bahwa golongan tertentu adalah lebih baik dari yang lain. Bagaimana pandangan orang Kristen dalam hal ini?