“Justru karena itu kamu harus dengan sungguh-sungguh berusaha untuk menambahkan kepada imanmu kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan, dan kepada pengetahuan penguasaan diri, kepada penguasaan diri ketekunan, dan kepada ketekunan kesalehan, dan kepada kesalehan kasih akan saudara-saudara, dan kepada kasih akan saudara-saudara kasih akan semua orang.” 2 Petrus 1: 5 – 7
Keberhasilan adalah satu hal yang masih diidam-idamkan banyak orang. Walaupun dalam pandangan umum sebagian orang mungkin sudah cukup berhasil dalam hidupnya, banyak diantara mereka yang dianggap sukses masih belum juga puas dengan apa yang sudah dicapainya. Menggantungkan cita-cita setinggi langit mungkin adalah pedoman hidup mereka, dan karena itu seringkali rasa tidak puas timbul, secara sadar maupun tidak sadar. Dalam hal ini, keadaan yang lebih buruk bisa terjadi jika lingkungan yang ada selalu menekankan pentingnya kesuksesan lahiriah sebagai bukti kasih Tuhan.
Perasaan bahwa Tuhan kurang adil atau pertanyaan mengapa orang lain sukses sedangkan aku tidak, seringkali muncul dalam hati dan pikiran manusia. Hal ini tentu saja bisa membuat hidup orang yang bersangkutan menjadi suram hidupnya atau miserable. Apa salahku? Mengapa Tuhan tidak adil? Perasaan gundah bisa makin menjadi jika pemimpin gereja sering menghubungkan kesuksesan manusia dengan ukuran iman mereka. Perasaan bersalah bisa timbul karena iman yang dirasakan kecil. Manusia menjadi lupa bahwa iman datang dari Tuhan, dan kesuksesan menurut ukuran dan standar manusia tidaklah sama dengan apa yang dikehendaki Tuhan.
Pagi ini, kita mencoba memahami apakah Tuhan menghendaki umatNya sukses, dan jika itu benar, kesuksesan yang bagaimanakah yang dikehedakiNya? Apakah Tuhan mengukur kesuksesan anak-anakNya dari kekayaan, kepandaian, kemasyhuran dan kekuatan mereka? Dalam hal ini jawaban pertanyaan diatas mudah didapat jika kita ingat bahwa misi Yesus ke dunia sudah berhasil atau sukses bukan karena sebagai anak Allah ia sudah menunjukkan kekayaan dan kebesaranNya kepada seisi dunia. Kesuksesan Yesus adalah keberhasilanNya untuk menggenapi kehendak Allah Bapa untuk menjadi manusia yang sederhana tetapi taat kepada panggilanNya untuk menebus dosa manusia.
“Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.” Filipi 2: 5 – 7
Ayat diatas menunjukkan bahwa kita yang mengaku sebagai pengikut Kristus haruslah mau menjadi seperti Dia. Menjadi orang-orang Kristen yang bukan mementingkan kesuksesan dalam mengumpulkan harta, membina karir dan mencapai kemuliaan duniawi, tetapi mencari kesuksesan dalam usaha menambahkan iman kita dengan kebajikan, pengetahuan akan kebenaran, penguasaan diri, ketekunan, kesalehan, dan kasih akan semua orang. Berbeda dengan orang-orang yang mementingkan harta duniawi, orang Kristen sejati selalu mementingkan harta surgawi yang tidak bisa lenyap, yang membuat mereka makin sukses dalam hal mengenal Juruselamat mereka, Yesus Kristus.
“Sebab apabila semuanya itu ada padamu dengan berlimpah-limpah, kamu akan dibuatnya menjadi giat dan berhasil dalam pengenalanmu akan Yesus Kristus, Tuhan kita.” 2 Petrus 1: 8
Bagi mereka yang senang berolahraga atletik atau menontonnya, olahraga jalan cepat seringkali membawa kejutan. Atlit-atlit yang lagi “leading” atau berada didepan, belum tentu bisa memenangkan pertandingan. Jane Saville, seorang atlit pejalan kaki dari Sydney, pada saat mengikuti perlombaan di Olimpiade 2000 di Sydney, berada di posisi terdepan dan hampir mencapai garis finis ketika ia di-diskualifikasi. Kemenangan yang sudah di ambang pintu, tiba-tiba lenyap.
Di Australia ada organisasi yang dinamakan Royal Automobile Club yang ada di berbagai negara bagian. Organisasi ini kebanyakan sudah berumur lebih dari 100 tahun, dan mempunyai tujuan untuk menghimpun para pemilik dan pengemudi mobil dalam segala kegiatan dan kepentingan bermobil. Organisasi yang ada di Queensland misalnya (RACQ) , mempunyai jasa pelayanan di jalan (road assist) yang memberi bantuan kepada mereka yang mengalami kerusakan mobil di jalan, menyediakan asuransi kendaraan dan rumah, dan juga berbagai fasilitas kemudahan lainnya. Selain itu, RACQ menerbitkan majalah bulanan yang berisi ulasan mobil, cara mengemudi di medan tertentu, laporan perjalanan manca negara, dan juga membahas peraturan lalu lintas yang baru atau yang sering disalah-mengertikan.
Suatu perubahan yang terjadi dalam dunia pendidikan di luar negeri adalah adanya kuliah melalui internet. Dengan majunya teknologi, seorang murid tidak perlu menghadiri kuliah di universitas, tetapi cukup dengan memutar video rekaman kuliah melalui internet. Semua bahan-bahan kuliah juga tersedia secara elektronik, sehingga murid itu tidak perlu pergi ke perpustakaan atau ke toko buku.
Bacaan: 1 Samuel 2: 11 – 36
Pernahkah anda mempelajari ilmu filsafat? Filsafat adalah studi tentang seluruh fenomena kehidupan dan pemikiran manusia secara kritis. Filsafat dalam arti aslinya tidak didalami dengan melakukan eksperimen-eksperimen, tetapi dengan mengutarakan masalah secara terperinci dan mencari solusi untuk itu; dengan memberikan argumentasi dan alasan yang tepat untuk memperoleh solusi. Untuk mempelajari ilmu filsafat, mutlak diperlukan logika berpikir dan logika bahasa.
Kemarin saya mendapat kiriman sebuah rekaman Vlog, atau video blog, dari seorang motivator yang cukup populer. Dalam rekaman itu, si pembicara mengatakan bahwa cara berpikir kita akan menentukan nasib kita. Masa depan manusia tergantung pada pandangan hidup mereka. Mereka yang selalu berpikir negatif tentang dirinya sendiri, akan menemui masa depan yang suram; tetapi mereka yang bisa berpikir positif akan menemukan keberhasilan dalam hidup.
Tuhan adalah yang empunya segala sesuatu di jagad raya. Seperti bunyi ayat diatas, itu adalah pengakuan orang percaya. Sebuah kenyataan yang harus diterima, sekalipun dalam hidup sehari-hari orang sering melupakan atau mengabaikannya. Mengapa begitu? Itu karena manusia umumnya memandang bahwa segala sesuatu bisa diatur dan dikuasai dengan usaha manusia. Apa yang bisa dikelola manusia dan segala hasil budi daya manusia dianggap sebagai miliknya.