“Dan supaya aku jangan meninggikan diri karena penyataan-penyataan yang luar biasa itu, maka aku diberi suatu duri di dalam dagingku, yaitu seorang utusan Iblis untuk menggocoh aku, supaya aku jangan meninggikan diri.” 2 Korintus 12: 7
Jika kita jujur kepada diri kita sendiri, tentu kita harus mengaku bahwa dalam hidup ini kita sering kecewa karena berbagai sebab. Diantara kekecewaan yang ada, mungkin ada yang besar atau yang kecil, dan mungkin disebabkan oleh apa yang terjadi pada diri kita, orang lain atau lingkungan.
Kekecewaan terjadi ketika apa yang kita harapkan tidak terjadi, atau jika apa yang tidak kita harapkan terjadi. Bagi orang yang percaya kepada Tuhan yang mahakasih, pertanyaan mereka mungkin bertalian dengan kenyataan bahwa Tuhan seakan membuat umatNya kecewa. Doa yang diucapkan sejak lama misalnya, tidak kunjung terjawab; dan itu membuat manusia merasa dikecewakan.
Pada intinya, bagi manusia kekecewaan adalah rasa sedih karena kita tidak mengerti mengapa sesuatu berjalan tidak sesuai dengan pengharapan kita. Kekecewaan belum tentu dosa, karena Tuhan juga sering dikecewakan oleh manusia sekali pun Ia tahu segala yang akan terjadi dan penyebabnya. Jika kekecewaan Tuhan adalah karena kebodohan manusia, kekecewaan manusia adalah juga karena hal yang sama. Kekecewaan manusia menjadi dosa jika manusia tidak mengakui bahwa kebodohan manusia adalah penyebabnya dan itu mungkin termasuk kebodohan dirinya sendiri.
Mereka yang tidak mengerti bahwa segala sesuatu berjalan menurut rancangan Tuhan adalah orang-orang yang bodoh. Mereka yang kecewa adalah orang-orang bodoh yang kemudian bisa membenci orang lain, keadaan di sekelilingnya atau dirinya sendiri. Mereka yang kecewa bisa saja melakukan hal-hal yang lebih bodoh lagi dengan melakukan kekerasan atau kebencian kepada orang lain, lingkungan dan dirinya sendiri. Mereka yang sangat kecewa bisa saja mengutuki Tuhan.
Salah satu orang yang hampir kecewa adalah rasul Paulus, yang menderita karena suatu sebab. Apakah penderitaan itu adalah penderitaan fisik, spiritual atau emosional, tidaklah ada orang yang bisa memastikan. Tetapi ia jelas sangat menderita karena ia mengatakan bahwa ia mempunyai suatu “duri dalam daging”. Jika duri itu tidak mematikan tubuh jasmaninya, jelas bahwa ia merasa sakit sekali. Karena itu ia sudah berseru tiga kali untuk memohon pertolongan. Tetapi seakan Tuhan tidak mendengar.
Tuhan malahan memberi Paulus pengetahuan bahwa Ia sendiri sudah menyurus utusan iblis untuk menyiksa Paulus. Bagaimana Tuhan yang mahakasih bisa membiarkan iblis untuk mengganggu Paulus adalah hal yang menakutkan semua orang percaya. Tetapi itu bukanlah hal yang tidak mungkin, karena Ayub yang sangat taat kepada Tuhan juga mengalami penderitaan yang sangat besar ketika Tuhan mengizinkan iblis untuk menyerang Ayub (Ayub 1: 12). Tetapi Ayub bukanlah orang yang bodoh; ia mengerti bahwa Tuhan mempunyai maksud tertentu dalam semua yang dialaminya. Tuhan adalah Tuhan yang mahakasih dalam semua keadaan.
Tahukah Paulus maksud Tuhan dengan membiarkan dirinya menderita? Mungkin saja ia pada mulanya tidak mengerti hal itu. Karena itu, Paulus memohon sampai tiga kali agar Tuhan melepaskannya dari duri itu. Jika ia mengerti apa maksud Tuhan dari mulanya, tentu Paulus sebagai rasul tidak perlu memohon kelepasan. Tetapi, melalui pergumulannya, Paulus kemudian mengerti bahwa semua itu terjadi agar ia tidak meninggikan diri. Sebagai anak Tuhan, Paulus bisa saja merasa sombong jika Tuhan selalu memberikan kenyamanan, kesuksesan dan kemakmuran kepadanya.
Pagi ini, jika kita mengalami penderitaan dan kekecewaan karena orang lain, karena lingkungan, atau karena diri kita sendiri, kita harus menyadari bahwa seperti Ayub dan Paulus, kita pun pengikut Tuhan. Bagi pengikut Tuhan, penderitaan hidup adalah hal yang biasa. Berlawanan dengan apa yang diajarkan oleh sebagian orang Kristen, kita harus menghindari kebodohan manusia yang merasa bahwa Tuhan harus selalu melimpahkan berkatNya dalam bentuk apa yang enak saja. Sebab Tuhan yang mahakasih mempunyai rencana yang besar dalam diri setiap umatNya, dan melalui pergumulan hidup kita bisa menerima berkat yang besar yaitu iman yang makin teguh kepada Dia. Jangan mudah kecewa!
“Jika kamu harus menanggung ganjaran; Allah memperlakukan kamu seperti anak. Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya?” Ibrani 12: 7
Tidak dapat dipungkiri bahwa sebenarnya setiap orang ingin hidup berbahagia. Hanya saja, tiap orang mempunyai pengertian yang berbeda tentang apa yang disebut kebahagiaan. Ada falsafah Jawa yang berbunyi “mangan ora mangan waton kumpul” (makan tidak makan asal kumpul). Artinya, lebih baik hidup susah di desa atau di kampung daripada harus berpisah dengan keluarga dan kerabatnya untuk sekedar mencari makan ditempat lain. Kebahagiaan agaknya bukan ditentukan oleh adanya harta atau kenyamanan. Tetapi, orang yang tidak setuju dengan falsafah itu bisa saja berpendapat bahwa untuk bisa hidup bersama dengan keluarga dan kerabat, orang tetap harus mempunyai penghasilan yang cukup, setidaknya untuk bisa makan.
Banyak orang yang percaya bahwa hantu itu ada. Anehnya, hanya sebagian dari orang-orang itu yang percaya bahwa Tuhan itu ada. Jadi, sekalipun mereka percaya bahwa dunia roh itu ada, hanya sebagian orang yang percaya bahwa roh yang mahakuasa itu ada.
Hal mendidik bukanlah soal mudah. Sejak dulu orang tua, guru dan majikan selalu harus berusaha keras untuk membimbing anak, murid dan bawahan, agar mereka menjadi orang-orang yang berguna. Jika pada zaman yang telah silam orang seakan menggunakan teknik atau cara yang sederhana untuk mendidik kaum muda, di zaman sekarang berbagai teori muncul untuk memberikan cara pendidikan yang terbaik. Walaupun demikian, kenyataan menunjukkan bahwa hal mendidik bukannya semakin mudah dilaksanakan.
Teringat saya akan pertandingan sepakbola piala dunia 2018 antara Prancis dan Kroasia. Banyak orang pada saat itu memperkirakan bahwa tim Prancis akan kalah menghadapi tim Kroasia yang pada babak-babak sebelumnya bermain kompak dan cantik. Tim Prancis memang secara umum bermain dengan baik, tetapi sebelum final prestasi mereka tidak terlihat istimewa.
Salah satu keluhan rakyat dari sebuah negara maju biasanya bertautan dengan kenyataan bahwa kemakmuran yang terlihat belum tentu dapat dirasakan oleh semua orang. Bahkan, keluhan rakyat biasanya sehubungan dengan keadaan dimana orang yang kaya bertambah kaya, sedangkan orang yang miskin bertambah miskin. Suatu ketidakadilan sosial yang sering dijumpai di negara-negara besar di dunia.
Salah satu makanan Indonesia yang sangat saya sukai adalah nasi campur. Di Australia, nasi campur tidaklah mudah ditemui. Karena itu, sebagai gantinya saya biasanya memesan nasi lemak, yang serupa dengan nasi campur. Apa yang saya sukai dengan nasi campur atau nasi lemak adalah adanya berbagai lauk dengan berbagai rasa sedap yang disajikan bersama semangkuk nasi.
Ada banyak pengurbanan yang dilakukan manusia untuk orang lain. Bagi banyak orang, semua pengurbanan baik moril maupun materiil adalah kebaikan. Dalam hal ini, kesediaan untuk mati sering dipandang sebagai pengurbanan yang terbesar yang bisa dilakukan manusia.
Di zaman modern ini, banyak kebaktian gereja yang ditayangkan melalui TV. Selain itu tidak terhitung jumlah pendeta dan penginjil yang membuat Vlog (Video Blog) yang berisi pesan-pesan Kristiani. Dengan mengikuti acara gereja di TV dan berbagai rekaman khotbah yang ada di internet, banyak orang Kristen di negara maju yang beranggapan bahwa menghadiri kebaktian gereja adalah suatu aktivitas yang tidak penting.
Pernahkah anda mengalami pengalaman yang menakutkan? Kebanyakan orang tentu merasa takut jika ada hal yang terjadi, yang tidak dapat dikontrol. Mungkin seperti sebuah bis yang menuruni sebuah jalan berliku-liku, yang tidak lagi dapat dikendalikan oleh sang supir. Semua penumpang bis itu tentunya hanya bisa menjerit atau berdoa.