“Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya.” Ibrani 12: 11
Bulan November adalah bulan sibuk bagi para mahasiswa dan dosen di Australia, karena adanya ujian semester 2. Pada bulan itu biasanya pohon Jacaranda berbunga lebat; bunganya yang berwarna ungu hanya bertahan satu atau dua minggu sebelum rontok. Sekalipun bunganya indah, ada takhayul bahwa pohon Jacaranda membawa sial kepada mahasiswa yang kejatuhan bunganya, karena mereka akan mengalami masalah dalam ujian.
Adanya ujian bagi sebagian siswa adalah seperti momok. Jika ujian pada saat yang lalu merupakan keharusan yang harus diterima, pada zaman ini seringkali muncul berita tentang adanya depresi diantara kaum siswa yang harus menghadapi ujian. Karena itu ada orang-orang yang mengusulkan ditiadakannya ujian-ujian tertentu yang dirasakan berat. Ujian sebuah mata kuliah yang dulu bisa berlangsung selama 4-5 jam, sekarang pada umumnya dibatasi untuk 2 jam saja.
Tidak dapat disangkal bahwa adanya ujian itu tetap perlu sebelum seseorang dinyatakan memenuhi syarat untuk naik kelas atau naik pangkat. Walaupun demikian, mengapa ujian itu seringkali terasa sebagai hukuman berat dan bukannya kesempatan untuk mencapai keberhasilan? Kebanyakan orang takut adanya ujian karena kuatir tidak lulus. Ujian sendiri bukan masalah jika tidak ada konsekuensinya. Tetapi, adakah ujian yang menjamin semua peserta untuk lulus? Kalau ada, itu bukanlah ujian atau exam namanya. Mungkin itu bisa dinamakan latihan atau exercise. Dalam konteks pendidikan, baik ujian maupun latihan adalah perlu. Mereka yang tidak cukup berlatih, biasanya akan menemui kesulitan dalam ujian. Mereka yang kurang berdisiplin dalam berlatih, akan mengalami masalah dalam menghadapi ujian. Disiplin dalam berlatih adalah kunci kekuatan dan keyakinan akan keberhasilan di masa depan.
Dalam ayat diatas, kita membaca bahwa tiap orang percaya akan mengalami masalah dalam hidup ini. Seperti apa yang dialami para siswa, adanya masalah hidup tidak membawa sukacita kepada orang yang mengalaminya. Tidak hanya rasa kuatir, tetapi juga rasa sakit baik secara badani maupun batin, bisa muncul ketika kita menghadapi persoalan yang berat. Apa artinya semua ini? Haruskah aku mengalaminya? Apa yang akan terjadi? Sanggupkah aku menjalaninya? Bagaimana pula kalau aku gagal?
Pagi ini, firman Tuhan berkata bahwa setiap masalah yang kita hadapi adalah sebuah exercise kehidupan yang pada akhirnya bisa menghasilkan rasa damai kepada mereka yang dilatih olehnya. Dengan demikian, setiap kali kita menghadapi masalah kehidupan, kita harus bersyukur bahwa selama ada latihan yang kita hadapi bersama Tuhan, kesempatan ada bagi kita untuk tumbuh makin kuat dalam iman. Mereka yang berdisiplin dalam menghadapi masalah, akan bisa hidup dalam keyakinan, yang makin lama makin kuat, atas kemenangan yang sudah dijamin oleh darah Yesus.
“Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.” 1 Petrus 5: 7
Tahukah anda bahwa dengan kemajuan teknologi, orang sering merasa lebih sulit untuk mengatur waktu? Dulu sebelum ada mobil, orang harus berhari-hari naik kereta kuda untuk pergi ke kota lain. Sekarang dengan mobil atau pesawat terbang, orang hanya membutuhkan beberapa jam untuk pergi ke tempat yang jauh. Dulu sebelum ada internet, surat dari Australia ke Indonesia memakan waktu hampir seminggu. Sekarang dengan email atau WhatsApp, dua orang dapat saling berkirim kabar secara instan seolah mereka saling berhadapan muka. Walaupun demikian, orang di zaman ini sering kehabisan waktu karena banyaknya kegiatan hidup dan tingginya frekwensi komunikasi antar manusia. Dengan majunya teknologi, orang mempunyai banyak acara dan tugas yang membuat waktu yang 24 jam sehari itu seakan menguap dengan cepat.
Pada saat saya baru menikah, istri saya yang gemar memasak mengalami sedikit kesulitan. Ia senang makanan pedas, sedang saya tidak dapat mencerna makanan yang agak pedas. Karena itu, ia merasa perlu untuk mengurangi kepedasan makanan apapun yang dipersiapkannya. Tentu saja, baginya makanan-makanan itu menjadi kurang sedap. Tetapi bagi saya, makanan yang dikatakannya tidak pedas, seringkali tetap terasa pedas! Ajaib ajaib, setelah hampir 40 tahun hidup bersama, saya menyadari bahwa selera saya sudah berubah. Saya sekarang senang makanan yang pedas. Saya suka karena terbiasa. Tresno mergo kulino, kata pepatah Jawa.
Dalam hidup ini selalu ada saja kejadian yang membuat timbulnya kekacauan dan kebingungan. Jika di beberapa negara adanya kabar bohong, inuendo dan perang hoax adalah bagian hidup sehari-hari yang bisa menyebabkan kegelisahan; di Australia, apa yang benar-benar terjadi dan diberitakan secara resmi (misalnya legalisasi aborsi baru-baru ini) seringkali membuat orang Kristen merasa terpojok. Mengapa hal-hal sedemikian harus terjadi? Mengapa nampaknya semakin sulit untuk umat Kristen untuk mempertahankan iman mereka?
Mengasihi sesama manusia. Suatu hal yang indah jika bisa dilakukan, tetapi tidaklah mudah untuk dilaksanakan. Mengapa begitu? Pada umumnya manusia membeda-bedakan apapun yang ada dalam lingkungannya. Jika mengenai makanan dan pakaian, seseorang mungkin mempunyai sebuah favorit, begitu juga mengenai teman, sejak kecil orang sering memilih siapa yang paling cocok dan disenangi. Kisah kehidupan dua bersaudara, Esau dan adiknya Yakub, menunjukkan bahwa sekalipun orang tua mereka mencintai kedua anak itu, masing-masing mempunyai “anak kesayangan” yang tersendiri. Dalam hal ini Ishak sayang kepada Esau, tetapi Ribka kasih kepada Yakub (Kejadian 25: 19 – 28).
Kemacetan lalu lintas di Australia sekarang mulai menjadi salah satu norma kehidupan. Di kota besar seperti Sydney, Melbourne dan Brisbane tiap pagi di hari kerja, mereka yang pergi ke kantor harus berangkat lebih pagi untuk mengantisipasi kemacetan di jalan. Memang angka kepemilikan mobil yang tinggi dan kurang populernya transportasi publik di Australia membuat jalan raya penuh dengan mobil.
Kalau saya mengingat masa kecil saya, tidak dapat tidak saya bersyukur atas berkat Tuhan. Pada saat itu keadaan ekonomi keluarga saya tidaklah dapat dikatakan sehat, begitu pula keadaan banyak keluarga yang lain. Tahun-tahun itu adalah saat dimana orang hidup dalam bahaya. The years of living dangerously. Setiap hari kebanyakan orang tidak tahu apa yang akan terjadi esok hari. Kalau sekarang keadaan di Indonesia sudah jauh lebih baik, itu tentunya menunjukkan kasih dan pemeliharaan Tuhan.
Beberapa tahun yang lalu saya mengunjungi Fraser Island, sebuah pulau pasir sebelah timur Brisbane. Pulau dengan pemandangan alami yang indah ini termasuk salah satu World Heritage yang harus dipertahankan kelestariannya. Baru-baru ini Prince Harry dan Meghan Markle juga mengunjungi pulau itu sehubungan dengan kunjungan resmi mereka ke Australia.