Gestur saja tidak cukup

“….Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu.” Matius 20: 26 – 27

Mungkin anda tahu, saat ini setiap kali kereta api jarak jauh hendak berangkat dari stasiun di Indonesia, sejumlah porter dan pegawai KAI yang bertugas berdiri menghadap gerbong kereta yang akan berangkat. Mereka meletakkan tangan di dada. Setelah itu, ketika kereta mulai beranjak, mereka menundukkan kepala hingga kereta benar-benar meninggalkan stasiun.

Gestur pegawai KAI seperti ini mirip dengan apa yang ada di Jepang. Sewaktu saya tinggal disana, pemandangan semacam itu adalah hal yang biasa. Menundukkan kepala adalah gestur untuk ucapan selamat jalan dan terima kasih. Hal seperti itu tidaklah lazim di negara barat; tetapi, di stasiun tertentu pegawai stasiun mungkin melambaikan tangan untuk mengucapkan selamat jalan kepada penumpang kereta pariwisata. Gestur yang sedemikian adalah baik, apalagi jika datang dari hati dan bukannya sekadar kebiasaan atau karena terpaksa.

Gestur (gesture) bisa diartikan sebagai gerakan tangan, raut muka dan lainya sebagai pernyataan perasaan atau pendapat. Gestur juga bisa diterjemahkan sebagai perbuatan yang menyatakan pikiran atau maksud seseorang, sekalipun tidak mempunyai kegunaan yang nyata. Gestur yang baik biasanya dapat memperkokoh hubungan antar manusia, sedangkan gestur yang buruk bisa menyebabkan perselisihan dan perpecahan dalam masyarakat.

Ayat diatas adalah ajaran Yesus kepada murid-muridNya untuk berbuat baik kepada sesama. Yesus berkata bahwa mereka yang ingin menjadi besar diantara sesamanya, haruslah mau menjadi orang yang siap melayani dan menolong orang lain. Paling tidak ada dua hal yang bisa kita pelajari dari ayat itu. Yang pertama, sebagai orang Kristen kita boleh saja berharap untuk nenjadi pemimpin. Orang Kristen bukanlah orang yang tidak diperbolehkan untuk mempunyai cita-cita besar. Yang kedua, orang Kristen yang ingin menjadi pemimpin haruslah mau untuk mengurbankan diri untuk pengikutnya. Jika kita sering melihat orang-orang yang berkuasa memerintah pengikut mereka dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas bawahan mereka (Matius 20: 25), orang Kristen yang ingin menjadi pemimpin diharuskan untuk menjadi “hamba” yang melayani pengikutnya. Hamba disini tentunya bukan berarti budak, tetapi orang yang benar-benar mau berkurban untuk orang lain.

“….sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” Matius 20: 28

Pagi ini, firman Tuhan mengingatkan bahwa setiap orang Kristen bisa menjadi pemimpin, dan bahkan sudah menjadi pemimpin dalam lingkungannya. Mungkin sebagai orang tua, suami atau istri, guru, pendeta dan sebagainya. Tiap-tiap hari kita ditantang untuk bisa menolong dan melayani mereka yang kita pimpin. Menolong dan melayani orang lain tidaklah cukup dengan kebiasaan membuat gestur yang baik; tetapi kita juga harus benar-benar menghasilkan hal-hal yang berguna untuk sesama, terutama bagi mereka yang terlupakan dalam lingkungan kita. Itu adalah sebagai pernyataan rasa syukur kita kepada Kristus yang sudah menebus dosa kita.

“Jika seorang saudara atau saudari tidak mempunyai pakaian dan kekurangan makanan sehari-hari, dan seorang dari antara kamu berkata: “Selamat jalan, kenakanlah kain panas dan makanlah sampai kenyang!”, tetapi ia tidak memberikan kepadanya apa yang perlu bagi tubuhnya, apakah gunanya itu.” Yakobus 2: 15 – 16

Apakah Tuhan itu benar mahakasih?

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Roma 8: 28

Teringat saya akan kejadian sewaktu saya masih di SMP. Seorang teman tiba-tiba meninggal dunia tanpa sebab yang jelas. Bagi orang luar, kejadian itu nampaknya sangat tragis karena teman saya adalah anak tunggal. Tetapi, orang tua teman saya waktu itu kelihatan tetap tabah dan tidak terpengaruh dalam kegiatan sehari-hari mereka.

Mengapa ada orang yang begitu tabah dalam menghadapi bencana kehidupan? Sebagian orang mungkin tidak mempunyai alternatif lain. Tuhan dipercaya sebagai Oknum yang menentukan dan bahkan membuat semua itu. Karena itu, tidak ada gunanya untuk bersusah hati. Siapa yang bisa melawan Tuhan? Malapetaka adalah nasib yang ditentukan Tuhan untuk orang-orang yang dipilihNya. Pandangan semacam itu dinamakan fatalisme.

Bagi umat Kristen, adanya bencana belum tentu datang dari Tuhan. Memang, jika orang hidup dalam dosa, Tuhan bisa memberi peringatan dan bahkan hukuman. Kekeliruan manusia dalam mengambil keputusan juga bisa menyebabkan datangnya bencana. Misalnya, pemerintah yang kurang memperhatikan kesejahteraan rakyatnya, bisa memungkinkan timbulnya korban bencana alam yang besar karena kurangnya persiapan.

Bagi orang Kristen, Tuhan adalah mahakasih. Ia tidak pernah bermaksud untuk memberi bencana bagi anak-anakNya yang taat. Ada kalanya Ia membiarkan adanya penderitaan dan malapetaka terjadi, seperti apa yang terjadi kepada Ayub. Tetapi Tuhan jugalah yang memberi kekuatan kepada mereka yang percaya, agar mereka tetap teguh selama hidup di dunia. Dunia ini penuh semak duri, tetapi Tuhan membimbing dan menguatkan orang beriman.

Ayat diatas sering dipakai untuk menghibur orang Kristen yang mengalami penderitaan. Tetapi ayat itu juga sering disalah tafsirkan sehingga orang bukannya terhibur, tapi justru sebaliknya. Mengapa begitu?

Memang dalam menghadapi bencana kehidupan, tidak mudah bagi kita untuk mengerti bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan. Kalau Allah itu baik, mengapa Ia membiarkan adanya malapetaka? Kalau Ia memelihara orang yang mengasihiNya, mengapa bencana bisa terjadi pada umat percaya?

Tuhan jelas mengasihi seluruh umat manusia dengan mengutus Yesus untuk menebus dosa orang yang percaya. Bagi orang-orang yang sudah menjadi anakNya, jaminan keselamatan sudah ada. Tetapi selama hidup di dunia, setiap orang bisa mengalami bencana. Penderitaan di dunia adalah bagian kehidupan semua orang. Apalagi, sebagai orang Kristen kita justru sering menderita karena iman kita kepada Kristus.

Apa yang dialami Yesus di dunia, bukan hanya sehubungan dengan penyelamatan orang percaya. Penderitaan di dunia yang dialamiNya adalah juga untuk meyakinkan kita bahwa Ia tahu apa yang kita rasakan dalam menghadapi bencana hidup. Yesus yang seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian (Yesaya 53: 7), sudah memberikan contoh ketabahan dengan mempercayakan diriNya kepada rencana Allah Bapa. Ia yakin bahwa rencana Allah adalah baik, dan Allahlah yang bisa membuat agar apa yang baik bisa timbul dari apa yang kelihatannya sangat buruk.

Pagi ini, dalam membaca ayat diatas, marilah kita meminta agar Roh Kudus membuka hati dan pikiran kita untuk dapat menyelaminya. Memang tidak mudah bagi kita untuk mengerti rencana Tuhan dalam hidup kita, tetapi satu hal yang harus kita yakini ialah kasihNya yang tidak pernah berubah.

“Allah, yang memanggil kamu kepada persekutuan dengan Anak-Nya Yesus Kristus, Tuhan kita, adalah setia.” 1 Korintus 1: 9

Aku mau menurutiMu

Simon menjawab: “Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga.” Lukas 5: 5

Bagi mereka yang senang membaca atau mendengar nasihat motivator, semboyan “Jika kamu belum berhasil, coba dan coba lagi” tentunya pernah dijumpai. Maksud semboyan ini adalah baik, karena kemauan keras dan usaha seringkali bisa membuat apa yang sulit dicapai, akhirnya bisa tercapai melalui semangat yang tidak kunjung padam. Walaupun demikian, seringkali orang dalam perjuangannya hanya memikirkan keinginan diri sendiri, tanpa memikirkan apakah yang dicarinya benar-benar sesuai dengan kehendak Tuhan.

Sebagai orang percaya, kita yakin bahwa konsep “ora et labora” atau ” berdoa dan bekerja” adalah baik adanya. Adalah realita hidup bahwa mereka yang ulet dan keras kepala pada akhirnya bisa lebih sukses daripada mereka yang gampang menyerah. Tetapi mereka yang “ngotot” untuk mencapai maksudnya belum tentu bisa bahagia atau puas dengan apa yang dicapainya, jika itu tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Disinilah pentingnya unsur doa itu, yaitu untuk mencari bimbingan dan pertolongan dari Tuhan dalam kita bekerja.

Dalam ayat diatas, diceritakan bahwa Simon Petrus bersama nelayan-nelayan yang lain sudah berusaha keras untuk mencari ikan di danau Genesaret. Tetapi, mereka tidak menangkap apa-apa sekalipun sudah bekerja sepanjang malam. Karena itu mereka berhenti bekerja dan pergi ke pantai. Adanya perahu di pantai memberi kesempatan bagi Yesus untuk menggunakannya guna mengajar orang-orang yang mengikutNya dari posisi lepas pantai.

Setelah Yesus selesai memberitakan firmanNya, Ia mengajak Simon untuk berlayar guna mencari ikan. Yesus tentu tahu apa yang terjadi sebelumnya, yaitu bahwa Simon dan nelayan lainnya sudah mengalami “nasib sial”, tidak berhasil menangkap ikan malam sebelumnya. Memang, penangkap ikan dimanapun tentu pernah mengalami “hari sepi” dimana ikan-ikan seolah bersembunyi, menghilang dari muka air. Tetapi Yesus mempunyai maksud lain, Ia ingin mengajar Simon dan rekan-rekannya, bahwa Ia berkuasa atas segala sesuatu.

Simon yang sudah ikut mendengarkan Yesus sewaktu Ia mengajar dari atas perahu, tentunya merasa bahwa Yesus mempunyai kharisma yang besar. Karena itu, walaupun ia ragu apakah ada gunanya untuk pergi mencari ikan lagi, ia menurut ajakan Yesus. Karena Yesus yang menyuruh, Simon mau menurutinya. Ketaatan Simon membawa hasil yang luar biasa; begitu banyak ikan yang ditangkap mereka, sampai perahu-perahu mereka hampir tenggelam.

Kisah Simon, Yakobus dan Yohanes yang kemudian menjadi penjala manusia adalah luar biasa. Disinilah kita melihat adanya unsur ketiga dalam hidup umat Kristen. Bukan hanya berdoa dan bekerja, tetapi juga ketaatan kepada perintah Tuhan. Tuhan tahu apa yang sudah terjadi dalam hidup kita, dan Ia juga tahu apa yang akan terjadi. Lebih dari itu, seperti Ia mempunyai rencana untuk menjadikan ketiga nelayan diatas untuk menjadi penjala manusia yang ulet, Ia mempunyai rencana yang baik untuk setiap umatNya.

Pagi ini marilah kita memikirkan hidup kita. Apakah kita selalu giat dalam bekerja? Itu baik, karena kemalasan bukanlah sesuatu yang disukai Tuhan. Apakah kita juga giat berdoa untuk memohon kekuatan dan bimbinganNya? Itupun baik, karena Tuhanlah sumber kekuatan dan kemampuan kita. Tetapi, ada satu hal lagi yang perlu kita pikirkan. Pertanyaan untuk kita pagi ini yaitu apakah kita sudah taat kepada perintah Tuhan dan bukannya hanya menuruti kemauan dan keinginan diri kita sendiri dalam berdoa dan bekerja. Bagaimana jawab kita? Dapatkah kita menjawab seperi Simon?

Tuhan aku tidak yakin bahwa itu baik bagiku. Tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan melakukannya juga.

Beda pria dan wanita

“Karena kamu semua, yang dibaptis dalam Kristus, telah mengenakan Kristus. Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus. Galatia 3: 27 – 28

Dalam sejarah manusia, kaum wanita seringkali mengalami hal-hal yang tidak nyaman dan bahkan berbagai bentuk pelecehan, sehubungan dengan penampilan dan kedudukan mereka dalam masyarakat. Keadaan sedemikian biasanya sering muncul di tempat dimana hukum dan hak azasi manusia belum sepenuhnya bisa diterapkan. Walaupun intensitasnya mungkin berbeda, hal ini bisa terjadi dimana saja di muka bumi, dan bukan hanya ditemui di negara-negara tertentu.

Mengapa kaum wanita sering mengalami hal yang sedemikian? Alkitab menulis bahwa sejak manusia jatuh kedalam dosa, hubungan pria dan wanita menjadi rusak. Wanita yang secara fisik biasanya lebih lemah dari pria, kemudian harus menghadapi kenyataan bahwa hidup di dunia adalah tidak seindah yang diharapkan.

Firman-Nya kepada perempuan itu: “Susah payahmu waktu mengandung akan Kubuat sangat banyak; dengan kesakitan engkau akan melahirkan anakmu; namun engkau akan berahi kepada suamimu dan ia akan berkuasa atasmu.” Kejadian 3: 16

Kedatangan Kristus ke dunia tidak hanya membawa keselamatan bagi mereka yang percaya, tetapi juga memberi nuansa baru bagi hubungan antara pria dan wanita. Apa yang rusak karena dosa, bisa diperbaharui dalam darahNya. Segala cara hidup yang lama, berubah menjadi hidup baru yang berintikan kasih kepada Tuhan dan sesama. Dengan pengurbanan Kristus yang tersedia untuk semua orang, di hadapan Tuhan tidak lagi ada lagi perbedaan hak diantara bangsa-bangsa, atasan dan bawahan, ataupun antara pria dan wanita. Inilah yang menjadi salah satu ajaran Kristen yang sudah membawa kemajuan sosial dan hukum di banyak negara.

Harus diakui bahwa adanya prinsip persamaan hak antar umat manusia, juga bisa membawa dampak yang negatif jika manusia melupakan bahwa setiap orang mempunyai kewajiban dan fungsi yang berbeda dalam masyarakat. Tuntutan untuk memperoleh hak yang sama bukanlah harus membuat pria dan wanita menjadi 100% sama, karena kedua jenis manusia itu diciptakan Tuhan dengan tujuan untuk saling melengkapi. Keduanya harus bisa saling menghargai, menghormati hak yang lain, dan saling menolong.

Pagi ini, jika kita mengingat bahwa dalam Kristus tidak lagi ada perbedaan diantara mereka yang percaya, marilah kita juga sadar bahwa adalah panggilan semua orang Kristen untuk menegakkan kebenaran dan keadilan diantara umat manusia. Dimulai dalam kehidupan keluarga kita, biarlah kita belajar untuk mengasihi dan menghargai setiap orang tanpa memandang apakah mereka pria atau wanita. Pada pihak yang lain, kita harus juga menyadari bahwa setiap orang mempunyai peranan khusus dalam hidup ini untuk bisa memuliakan Tuhan dengan sepenuhnya.

“Sebab kamu semua adalah anak-anak Allah karena iman di dalam Yesus Kristus.” Galatia 3: 26

Kenal tapi tak peduli?

“Sebab sekalipun mereka mengenal Allah, mereka tidak memuliakan Dia sebagai Allah atau mengucap syukur kepada-Nya. Sebaliknya pikiran mereka menjadi sia-sia dan hati mereka yang bodoh menjadi gelap.” Roma 1: 21

Apakah Australia adalah negara Kristen? Pertanyaan ini tidak mudah dijawab. Setelah tahun 1788, sejak tentara Inggris membawa orang-orang tahanan ke Australia, jumlah orang yang mengaku Kristen berkembang terus dan mencapai 96.1% pada saat negara Australia bersatu pada tahun 1901. Tetapi, hasil sensus tahun 2016 menunjukkan bahwa hanya 52.1% penduduk Australia sekarang mengaku sebagai orang Kristen.

Australia memang menjamin kebebasan beragama, tetapi tidak mempunyai agama resmi dalam hidup kenegaraan . Australia mempunyai hukum yang secara total memisahkan agama dari pemerintahan. Data dari tahun 2002 menunjukkan bahwa 24% penduduk Australia adalah atheis, walau survei kecil tahun 2009 menunjukkan bahwa 68% penduduk percaya adanya “tuhan” atau “kuasa ilahi”. Sebanyak 49% rakyat Australia saat ini merasa bahwa agama tidak lagi penting dalam kehidupan.

Di banyak negara, adanya Tuhan secara resmi diakui. Bahkan ada negara-negara yang pemerintahannya berdasarkan agama tertentu atau setidaknya berlandaskan kepercayaan bahwa Tuhan itu ada. Walaupun demikian, hal itu belum tentu menjamin bahwa negara-negara itu secara kolektif lebih baik dalam hal kesalehan dari negara lain. Memang, soal iman adalah soal pribadi, dan apa yang dipercayai oleh seseorang secara individual biasanya hanya berpengaruh pada hidupnya sendiri.

Ayat diatas ditulis oleh rasul Paulus kepada jemaat di Roma 2000 tahun yang lalu, tetapi tetap aktuil untuk zaman sekarang. Betapa tidak? Paulus berkata bahwa sekalipun banyak orang mengenal Tuhan, mereka tidak memuliakan Dia sebagai Tuhan atau mengucap syukur kepadaNya. Sebaliknya hidup mereka dibaktikan kepada hal-hal  yang sia-sia dan hati mereka yang bodoh menjadi gelap. Memang, sekalipun dalam beberapa negara kepercayaan kepada Tuhan itu digembar-gemborkan atau dipakai sebagai pedoman, itu tidak menjamin bahwa seluruh rakyat mereka mau memuliakan Tuhan dan hidup menurut jalan yang baik.

Kepercayaan kepada adanya Tuhan sebenarnya adalah hal yang sulit untuk dijabarkan.  Karena itu ada banyak orang yang merasa kenal akan Tuhan, tetapi sebenarnya tidak demikian. Yang pertama, adanya “tuhan” yang beraneka ragam menurut berbagai kepercayaan, bisa membuat bingung manusia. Manusia dengan demikian mungkin saja berbakti kepada “tuhan”  yang ada menurut pengertian, kebiasaan, atau adat-istiadat mereka saja. Kedua, seringkali “tuhan” yang dikenal manusia adalah oknum yang diharapkan untuk bisa memberi kehidupan yang nyaman kepada manusia. Tuhan untuk mereka bukanlah oknum yang mahakuasa dan mahasuci, yang membenci mereka yang merasa saleh tetapi tetap hidup dalam dosa. Dan yang ketiga, Tuhan bagi banyak umat manusia adalah oknum ilahi yang dapat dihampiri manusia dengan cara berbuat amal atau hidup menurut kaidah agama.

Pagi ini, firman Tuhan memperingatkan kita, bahwa kita jika benar-benar mengenal Tuhan, itu adalah karena Tuhan sudah memanggil kita dan memberikan pengertian secara pribadi kepada kita. Tuhan yang benar adalah Oknum yang mahakuasa dan mahasuci yang tidak dapat dicapai oleh usaha manusia sendiri. Hanya melalui darah Kristus, Tuhan dapat melupakan dosa-dosa yang pernah kita perbuat. Dengan pengampunanNya, kita harus mau  mempersilakan Dia untuk mengubah hidup kita; dari hidup lama yang mementingkan diri sendiri, menjadi hidup baru untuk memuliakan Tuhan. Kepercayaan kepada Tuhan yang benar adalah iman dan bukan agama, karena agama diciptakan manusia sedang iman adalah pemberian Tuhan. Karena itu, dalam hidup keKristenan, kita menjalankan firman Tuhan karena sebagai orang-orang yang sudah menerima keselamatan, kita mau memuliakan Tuhan. Perbuatan baik kita adalah tanda bahwa hidup kita sudah diubahNya dan bukanlah usaha untuk mendapatkan keselamatan di surga atau kenyamanan hidup di dunia.

“Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.” Matius 7: 21

Siapakah sahabatmu?

“Hai kamu, orang-orang yang tidak setia! Tidakkah kamu tahu, bahwa persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah? Jadi barangsiapa hendak menjadi sahabat dunia ini, ia menjadikan dirinya musuh Allah.” Yakobus 4: 4

Anda penggemar sosial media seperti Facebook atau WhatsApp? Mungkin anda sering melihat berbagai meme dan slogan yang mendukung persahabatan seperti “Sahabat sejati adalah sahabat di hari tua” dan semacamnya. Sekalipun hanya di dunia maya, nampaknya orang merindukan adanya sahabat yang setia.

Persahabatan sebenarnya selalu dirindukan oleh setiap insan di dunia, karena rasa kesepian akan datang jika tidak ada sahabat yang bisa diajak untuk berbincang-bincang atau menikmati aktivitas bersama. Mungkin bagi sebagian orang, sahabat yang terbaik adalah pasangan hidup mereka; tetapi, siapapun orangnya tentu orang itu mempunyai pengaruh atas hidup anda.

Rasul Yakobus dalam ayat diatas menyebutkan kata “persahabatan”, tetapi sebenarnya ia menggunakan kata itu sebagai kiasan. Ia tidak memakai kata itu dalam konteks teman, tetapi dalam konteks pengaruh. Walaupun demikian, seperti seorang teman dapat mempengaruhi tingkah laku kita, apa yang kita sukai di dunia ini dapat mempengaruhi hidup kita.

Keadaan dunia ini adalah sedemikian sehingga banyak orang yang terpikat untuk menikmatinya dan melupakan bahwa kita diciptakan Tuhan untuk memuliakan Dia. Dengan demikian, mereka yang bersahabat dengan dunia ini akan terpengaruh oleh apa yang biasa dilakukan oleh orang-orang dunia, yang tidak mau menuruti firman Tuhan.

Apa yang menjadi ciri-ciri orang dunia? Ayat diatas berhubungan dengan apa yang disebutkan dalam Yakobus 3. Dalam dunia ini, banyak orang yang ingin mencapai keinginannya dengan berbagai cara. Ada yang menggunakan lidahnya untuk melakukan hal-hal yang jahat dan berusaha menghancurkan orang lain demi untuk mencapai keberhasilan (Yakobus 3: 9 – 10). Mereka tidak menyadari bahwa sebagai ciptaan Tuhan, mereka harus menggunakan lidahnya untuk hal-hal yang baik yang berkenan di hadapan Tuhan.

Hidup a la dunia juga sering membuat orang untuk iri hati, menyombongkan diri dan melawan kebenaran. Adalah kenyataan bahwa hal-hal itulah yang mendorong manusia  cenderung  untuk mengejar kesuksesan duniawi dengan harga apapun, terutama mereka yang berstatus pemimpin. Mereka tidak sadar bahwa semua itu adalah perbuatan jahat yang dibenci Tuhan.

Persahabatan dengan nilai-nilai kebenaran Tuhan mengharuskan kita  untuk mempunyai iktikad yang murni, pendamai, peramah, penurut, penuh belas kasihan dan buah-buah yang baik, tidak berpihak dan tidak munafik (Yakobus 3:17). Tetapi, semua itu adalah kebodohan bagi mereka yang bersahabat dengan nilai-nilai duniawi. Bagi manusia duniawi, kesuksesan harus bisa dicapai dengan segala cara.

Apa yang kita lihat dalam hidup sehari-hari adalah adanya banyak orang yang siap untuk melukai dan bahkan membunuh sesamanya untuk mendapat apa yang diingininya. Mereka menjadi iri hati karena tidak mencapai keinginan mereka, dan kemudian bertengkar dan berkelahi dengan sesama (Yakobus 4: 2). Kekacauan terjadi dalam masyarakat karena mereka lupa bahwa Tuhan raja surga, juga berkuasa atas dunia. Manusia juga lupa bagaimana mereka harus memuliakan Tuhan yang membenci hal-hal yang jahat di dunia.

Pagi ini, mungkin kita tidak secara sengaja menjadikan diri kita musuh Tuhan. Sebab siapakah yang sadar, yang berani menjadi lawan Tuhan? Kita tahu bahwa Tuhan menghendaki manusia ciptaanNya untuk hidup menurut apa yang diperintahkanNya. Kita juga tahu bahwa Ia yang cemburu, ingin agar kita menghormati Dia dalam setiap langkah kehidupan kita. Ia jugalah yang menentang orang yang sombong, tetapi mengasihani orang yang rendah hati (Yakobus 4: 6).

Persahabatan kita dengan dunia pasti akan membawa bencana. Keinginan duniawi tidak hanya akan menyesatkan hidup kita di dunia, tetapi juga menjauhkan diri kita dari sumber kehidupan kita yang sebenarnya. Jika kita pagi ini sadar bahwa Tuhan kita adalah mahakuasa dan mahakasih, patutlah kita selalu taat kepada firmanNya setiap saat.

“Karena itu tunduklah kepada Allah, dan lawanlah Iblis, maka ia akan lari dari padamu!” Yakobus 4: 7

Mengapa terus kuatir?

“Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban.” 2 Timotius 1: 7

Tahukah anda bahwa bukan hanya manusia yang bisa mengalami anxiety atau perasaan kuatir? Anjing saya kemarin seharian tidak berani untuk mendekati dapur sewaktu saya sedang memakai oven yang mengeluarkan bunyi detik terus menerus. Rupanya bunyi aneh yang tidak dipahaminya itu membuatnya sangat takut. Saya merasa kasihan kepada anjing saya yang bodoh itu, tetapi kemudian dalam hati mengakui bahwa saya sendiri dalam hidup ini juga sering merasa kuatir tanpa alasan yang jelas.

Memang, kekuatiran bisa dialami manusia karena berbagai sebab. Ini biasanya bermula dengan kekuatiran kecil, tetapi yang lambat laun bisa menjadi besar jika tidak teratasi. Kekuatiran bisa saja terjadi karena kita berbuat salah, mengalami persoalan hidup atau terancam bahaya. Apapun sebabnya, kita mungkin kuatir karena kita tidak yakin untuk bisa mengatasinya. Selain itu, hal yang memperburuk situasi ialah kekuatiran bahwa iman kita masih belum cukup besar. Bukankah sebagai orang percaya seharusnya kita tidak kuatir akan apapun? Bukankah kita tahu bahwa kekuatiran hanya menambah kesusahan yang ada?

“Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?” Matius 6: 25

Sebenarnya kita tidak perlu merasa susah dengan adanya rasa kuatir yang timbul sewaktu-waktu. Kekuatiran adalah lumrah untuk manusia yang tidak dapat mengerti apa yang terjadi dan yang tidak dapat menentukan apa yang akan terjadi di masa depan. Tetapi, karena tiap hari ada kekuatirannya sendiri, kuatir untuk masa depan akan membuat kekuatiran yang ada terasa sangat besar untuk bisa dihadapi dengan keberanian dan iman yang kita punyai. Kekuatiran juga bisa menimbulkan dosa jika kita mulai meragukan kebesaran Tuhan.

“Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.” Matius 6: 34

Pagi ini ayat pembukaan diatas mengingatkan kita bahwa Tuhan sudah memberikan Roh Kudus kepada setiap umatNya, yang seharusnya makin kita pelihara apiNya, untuk bisa membangkitkan kekuatan, kasih dan disiplin untuk menghadapi segala tantangan hidup. Jika adanya kekuatiran bisa membawa ketakutan, kesadaran bahwa Tuhan kita adalah mahakuasa dan mahakasih akan menguatkan kita dan membuat kita lebih bisa mengasihi Tuhan dan sesama kita, melalui hidup dalam ketaatan kepada firman Tuhan.

“Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.” 1 Petrus 5: 7

Jangan terombang-ambing

“Sehingga kita bukan lagi anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan.“ Efesus 4: 14

Akhir pekan ini cuaca benar- benar kurang baik untuk mereka yang mengunjungi Brisbane dan Gold Coast. Hujan dan angin keras menerpa kota-kota itu sehingga banyak orang yang memilih untuk tinggal di rumah saja. Memang daerah sepanjang pantai terkadang mengalami angin keras (gale) untuk beberapa hari dalam setahun. Yang sekarang terjadi masih belum apa-apa jika dibandingkan dengan angin keras tahun lalu, yang membuat karam beberapa perahu.

Jika adanya angin keras adalah gejala alam yang terjadi karena adanya perbedaan tekanan udara, ayat diatas mengingatkan kita akan bahaya angin pengajaran yang ditiupkan oleh berbagai orang yang dianggap sebagai guru-guru kerohanian. Jika pada zaman rasul Paulus, kebingungan sering terjadi karena gereja masih berusia usia muda, sekarang itu gampang terjadi karena majunya komunikasi dan media. Seperti apa yang ditulis Paulus, sebagian dari pengajaran rohani yang ada hanyalah permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan.

Bagaimana kita harus menghadapi keadaan yang membingungkan saat ini? Apa pedoman kita untuk tidak terombang-ambing dalam berbagai pengajaran kerohanian yang keliru? Ada beberapa pedoman, diantaranya:

  1. Ajaran yang benar selalu berdasarkan Alkitab dan mengakui bahwa Allah adalah Tritunggal dan Yesus adalah Juruselamat manusia.
  2. Ajaran yang benar tidak berubah-ubah dengan datangnya iluminasi atau ilham baru yang datang dari Tuhan, yang lain dari apa yang ada dalam Alkitab.
  3. Ajaran yang benar adalah ajaran yang menyampaikan kabar baik yaitu penebusan dosa manusia yang percaya, dan bukan menyebarkan rasa takut, kegundahan dan kekacauan diantara umat Kristen.
  4. Pengajaran rohani yang benar bukan untuk mencari kemuliaan diri sendiri atau untuk mencari keuntungan atau penghasilan.
  5. Ajaran yang baik akan mempersatukan jemaat dan bukannya memecah belah keutuhan gereja.
  6. Mereka yang mengajarkan apa yang benar tidak terpengaruh oleh pendapat atau kebiasaan masyarakat zaman sekarang. Ajaran mereka juga tidak dipengaruhi oleh suasana politik yang ada.
  7. Pengajar yang baik adalah orang-orang yang menjalankan hidup yang sesuai dengan firman Tuhan. Apa yang di mulut, sama di hati.

Pagi ini kita mungkin bisa merasakan kencangnya angin yang berusaha mengombang-ambingkan iman kita. Jika kita adalah orang Kristen yang sudah dewasa, kebijaksanaan yang Tuhan berikan kepada kita tentunya sudah cukup untuk bisa membuat kita untuk bisa berdiri teguh. Walaupun demikian, jika angin masih terasa sangat kuat, kita tetap bisa berharap pada pertolongan Tuhan.

Tuhan yang sudah memberikan bimbinganNya kepada rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar, guna memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus, sampai sekarang tetap mau membimbing kita semua, untuk mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus (Efesus 4: 11 – 13).

Jangan lupakan berkat Tuhan

“Pujilah TUHAN, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya! Mazmur 103: 2

Adakah orang yang mengucapkan terima kasih tanpa sebab? Di dunia barat, ada ungkapan bernada sarkastik “thanks for nothing” atau “terima kasih untuk tidak adanya bantuan” yang diucapkan untuk menyindir orang yang diharapkan untuk membantu, tetapi ternyata tidak membantu sama sekali. Kebalikan dari kata ini, ada ucapan “thanks for everything” atau “terima kasih atas segalanya”, yang bisa dipakai untuk mengucapkan terima kasih atas berbagai macam pemberian yang sulit untuk disebut satu persatu, atau untuk sekedar basa-basi.

Bagi umat Kristen, sudah tentu kita tidak akan mengucapkan “thanks for nothing” kepada Tuhan, karena Tuhan selalu memberikan berbagai hal yang baik kepada umatNya. Umat Kristen mungkin lebih sering berdoa dan mengucap syukur atas segala berkat Tuhan. Paling tidak, dengan mensyukuri segala berkatNya secara ombyokan, kita tidak perlu mengingat-ingat dan menyebut apa saja yang sudah kita terima dalam hidup kita.

Untuk menghemat waktu, memang dalam doa pribadi orang cenderung untuk tidak berdoa panjang-panjang. Dengan demikian, bersyukur atas “segala sesuatu” sering dilakukan tanpa mengingat-ingat berkat-berkat Tuhan satu persatu. Berbeda dengan doa permohonan yang seringkali panjang lebar, doa syukur mungkin pendek saja. Pertanyaannya dalam hal ini, cukupkah kita bersyukur tanpa mengingat apa saja yang sudah dilakukan Tuhan kepada kita pada saat yang lalu? Perlukah kita untuk selalu ingat akan semua berkat Tuhan yang pernah datang selama hidup kita? Cukupkah bagi kita untuk merasa bahwa Tuhan itu baik?

Ayat diatas mengajarkan kita untuk selalu memuji Tuhan dan untuk tidak melupakan segala kebaikanNya. Sebuah lagu bertema serupa ditulis oleh Johnson Oatman pada tahun 1897, dan sudah diterjemahkan kedalam berbagai bahasa. Sebagian syair lagu “Hitung berkatmu” berbunyi:

Bila topan k’ras melanda hidupmu

Bila putus asa dan letih lesu

Berkat Tuhan satu-satu hitunglah

Kau niscaya kagum oleh kasih-Nya

Berkat Tuhan mari hitunglah

Kau kan kagum oleh kasih-Nya

Berkat Tuhan mari hitunglah

Kau niscaya kagum oleh kasih-Nya

Jelas bahwa kita harus bersyukur kepada Tuhan untuk semua berkatNya, for everything. Tetapi, lebih dari itu kita harus bisa dan mau untuk mengingat berkat Tuhan satu persatu untuk kebaikan diri kita sendiri. Berkat Tuhan sudah dilimpahkan dalam hidup kita pada saat-saat kita membutuhkannya, dan juga sampai saat ini, datang tiap-tiap hari. Dengan mengingat semua berkat Tuhan, terutama berkatNya yang membawa kita kepada keselamatan, kita akan selalu kuat menghadapi semua tantangan hidup sebab kita akan diyakinkan oleh kasihNya.

“Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.” 1 Tesalonika 5: 18

Jangan salah pilih

“Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah percaya akan setiap roh, tetapi ujilah roh-roh itu, apakah mereka berasal dari Allah; sebab banyak nabi-nabi palsu yang telah muncul dan pergi ke seluruh dunia.” 1 Yohanes 4: 1

Baru-baru ini muncul berita viral dalam sosmed bahwa ada kejadian luar biasa yang muncul di suatu daerah. Berbagai komentar disampaikan, dan sebagian orang menghubungkan peristiwa ini dengan suatu pertanda dari Tuhan. Memang, bagi mereka yang kurang memahami gejala alami, kejadian yang langka seperti ini sering dikaitkan dengan hal yang ilahi. Padahal, kejadian yang dinamakan sun dog ini tidak lain adalah refleksi matahari yang dipantulkan sekelompok awan yang mengandung butir-butir es di angkasa.

Dalam hidup manusia di dunia memang ada berbagai kejadian yang tidak atau belum bisa dijelaskan. Bagaimanapun pandainya manusia, selalu ada hal-hal yang membuat mereka mengeleng-gelengkan kepala. Tidak hanya hal-hal yang jasmani, tetapi juga dalam segi rohani orang bisa melihat atau merasakan sesuatu yang luar biasa pada saat-saat tertentu dalam hidupnya. Dalam hal ini, setiap orang tentunya bebas untuk memilih untuk percaya atau tidak bahwa itu benar-benar peristiwa yang luar biasa. Believe it or not.

Dalam ayat diatas, rasul Yohanes menulis bahwa sebagai tanda makin dekatnya akhir zaman, ada banyak orang yang mengaku sebagai utusan Tuhan dan pergi ke seluruh dunia. Mereka seolah membawa pesan atau injil baru kepada dunia dan melakukan berbagai hal yang ajaib. Orang-orang yang terpesona dengan pengajaran yang kelihatannya luar biasa, apalagi jika diiringi mujizat yang lebih besar dari apa yang dilakukan oleh Yesus Kristus, dengan mudah akan percaya bahwa mereka sudah menemukan sesuatu yang benar-benar dari Tuhan.

Manusia sering tidak sadar bahwa apa yang didengar dan dilihat belum tentu benar. Jika iblis menipu manusia, ia bisa memakai berbagai cara dan ilusi. Kita dalam keterbatasan yang ada, mudah tertipu dengan apa yang nampaknya benar, istimewa dan indah. Apalagi, jika kita terbuai dengan keyakinan bahwa ada orang-orang yang diberi kemampuan dan pengertian yang luar biasa, kita kemudian mudah percaya bahwa Tuhanlah yang mengutus mereka.

Pagi ini mungkin kita bisa melihat bahwa ada banyak hal yang terlihat luar biasa yang dilakukan orang-orang di sekitar kita. Ada yang terlihat hebat dalam kepemimpinan mereka. Ada juga yang sepertinya luar biasa dalam hal kebijaksanaan, kedermawanan, dan kesuksesan. Selain itu, ada orang-orang yang mampu memberi motivasi dan nasihat yang membawa semangat baru. Begitu juga ada banyak orang yang bisa berkhotbah dan membawakan firman yang bernada baru dan melakukan berbagai mujizat. Bagaimana kita bisa tahu kalau itu dari Tuhan? Bagaimana kita bisa menghindari jebakan kepalsuan?

Mereka yang benar-benar bisa melakukan pekerjaan Tuhan adalah orang-orang yang sudah diselamatkan melalui pengurbanan Kristus. Setiap manusia yang nampaknya bisa melakukan hal yang hebat dan baik tetapi tidak mempunyai Kristus, ia melakukan hal-hal duniawi untuk dirinya sendiri. Apa yang diperbuatnya bukanlah apa yang dilakukan Kristus melalui dirinya. Sebaliknya, mereka yang sudah dimiliki Roh Kristus, menjadi milik Kristus; dan karena itu, apa yang diperbuat dalam hidupnya, sekalipun nampaknya kecil, adalah dari Kristus dan untuk kemuliaan Kristus. Mereka yang mempunyai Roh Kristus juga akan sadar bahwa Yesus datang ke dunia sebagai manusia dengan segala kesederhanaanNya. Karena itu, orang yang mengaku sebagai pengikut Kristus tetapi filsafat hidupnya berbeda dengan Kristus, bukanlah murid Kristus yang sejati.

“Mereka berasal dari dunia; sebab itu mereka berbicara tentang hal-hal duniawi dan dunia mendengarkan mereka.” 1 Yohanes 4: 5