“Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!” Matius 11: 15
Ucapan “Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar” muncul beberapa kali dalam Alkitab Perjanjian Baru. Tuhan Yesus sendiri agaknya sering mengucapkannya untuk mengingatkan pentingnya apa yang diucapkanNya.
Pada umumnya, secara normal, untuk mendengar suara kita tidak memerlukan usaha khusus. Mereka yang tidak terganggu pendengarannya tentu bisa mendengar suara orang lain. Tetapi, banyak orang yang seharusnya mendengar, tidak dapat menangkap atau menanggapi apa yang didengarnya. Masuk di telinga kiri, keluar di telinga kanan, kata peribahasa.
Memang ada orang yang mempunyai kemampuan untuk menyeleksi apa yang akan didengarnya. Apa yang disukai akan didengar, apa yang tidak disukai akan dilupakan. Selective hearing, itulah istilahnya. Pada pihak yang lain, ada orang-orang yang biasa mendengarkan suara yang keras, dan karena itu terganggu pendengarannya. Selain itu, semua orang akan berkurang pendengarannya seiring dengan bertambahnya usia. Senile deafness.
Apa yang dimaksudkan oleh Yesus, sudah tentu bukan soal mendengarkan suara secara jasmani. Dalam konteks Firman Tuhan, pendengaran kita tidak ditentukan oleh keadaan jasmani kita, tetapi oleh kerohanian kita. Dalam hal ini, mereka yang tidak mempunyai pendengaran jasmani yang baik, tetap bisa mendengar suara Tuhan secara rohani. Dan sebaliknya, mereka yang sehat jasmaninya mungkin tuli secara rohani.
Pada waktu Samuel masih kecil, ia hidup bersama nabi Eli. Pada suatu malam, Samuel mendengar namanya dipanggil. Samuel mengira bahwa Eli memanggilnya dan karena itu ia pergi ke kamar Eli. Dua kali Tuhan memanggil, dua kali Samuel lari ke kamar Eli, hanya untuk menerima jawaban Eli bahwa ia tidak memanggil Samuel. Pada kali yang ketiga, Eli yang sudah tua dan mulai buta itu mengerti bahwa Tuhanlah yang memanggil Samuel. Karena itu, ia menyuruh Samuel untuk memohon agar Tuhan berbicara sebab Samuel siap untuk mendengar. Itulah yang kemudian dilakukan Samuel; dan karena ia mendengar nasihat Eli, ia kemudian bisa mendengar suara Tuhan.
Untuk mengerti dan menyadari suara Tuhan, memang kita harus membiasakan diri. Dengan adanya banyak pergumulan dan pengalaman, Eli bisa mengerti apa yang terjadi. Sebaliknya, Samuel yang masih kecil belum pernah mendengar suara Tuhan atau mendapat penglihatan sebelumnya. Samuel harus mau mendengar nasihat Eli untuk bisa mendengarkan suara Tuhan.
Pagi ini, mungkin kita sudah mulai mempersiapkan diri untuk menghadapi tugas sehari-hari. Pikiran kita sudah penuh dengan berbagai hal dan telinga kita sudah mendengar hiruk-pikuk kehidupan disekeliling kita. Dalam keadaan yang sedemikian, sulitlah bagi kita untuk mendengar suara Tuhan. Tanpa kemauan untuk secara selektif mematikan suara-suara yang membingungkan, kita tidak akan bisa menyadari bahwa Tuhan menunggu kita untuk menjawab panggilanNya. Dalam keadaan apapun, baik suka maupun duka, sehat ataupun sakit, usia muda maupun tua, Roh Kudus ada didalam hidup kita dan menantikan respons kita. Seperti Samuel, kita seharusnya menjawab dengan tulus hati.
“Berbicaralah, TUHAN, sebab hamba-Mu ini mendengar” (1 Samuel 3: 10).
Gempa bumi yang terjadi di berbagai tempat baru-baru ini membuat banyak orang kuatir. Sampai saat ini, sains belum bisa memastikan kapan datangnya gempa dan seberapa besarnya. Manusia mungkin bisa menduga kemungkinan terjadinya berbagai malapetaka dengan mengukur dan menganalisa berbagai data, tetapi apa yang akan terjadi biasanya ada diluar jangkauan pengetahuan mereka.
Membaca berita yang muncul di koran atau di TV pada zaman ini mungkin seringkali membuat kita menghela nafas atau menggelengkan kepala. Bagaimana tidak? Apa yang diberitakan biasanya adalah hal-hal yang jelek dan jahat, sedangkan hal-hal yang baik biasanya kurang ditonjolkan. Lebih dari itu, orang-orang yang dimunculkan dalam berita seringkali adalah mereka yang perbuatan, perkataan dan hidupnya kurang bisa ditiru. Sayang, banyak diantara mereka mengaku atau dikenal sebagai orang Kristen.
Pertanyaan diatas adalah pertanyaan yang sebenarnya sukar untuk dijawab. Secara teologi, pertanyaan ini sudah banyak diperdebatkan. Tetapi, untuk hidup sehari-hari, ada baiknya untuk kita renungkan dan simak.
Ingatkah anda akan lagu “Tiada maaf bagimu”? Lagu yang dinyanyikan oleh Broery Marantika ini sangat terkenal dan juga pernah dinyanyikan oleh penyanyi-penyanyi lain, diantaranya Tetty Kadi. Lagu dengan judul yang sama tapi berbeda lirik, belakangan juga muncul dan mencapai ketenaran melalui beberapa penyanyi lain. Agaknya bagi manusia, tidak adanya maaf untuk orang yang sudah menyakiti hati mereka adalah hal yang biasa.
Dari mana datangnya rasa cinta? Dari mata turun ke hati. Begitu bunyi sebuah pantun Melayu. Ada orang-orang yang percaya akan hal ini, terutama mereka yang jatuh cinta pada pandangan pertama. Tetapi, banyak orang yang sekarang tidak setuju. Mereka berpendapat bahwa cinta datang dari otak. Dengan memikirkan fakta-fakta, orang mengambil keputusan untuk mencintai atau tidak.
Membaca surat kabar dan media baik yang berasal dari Indonesia maupun dari luar negeri, kita tidak dapat tidak merasa sangat sedih. Betapa tidak? Gempa bumi yang menghacurkan kota Palu dan Donggala beserta daerah disekitarnya sungguh besar akibatnya pada infrastruktur dan kehidupan penduduk setempat.
Pernahkah anda berbohong? Pertanyaan itu jika diajukan kepada semua orang di dunia, pastilah dijawab dengan “ya”. Mungkin bukan bohong besar; tetapi bohong kecil pun adalah bohong. Mungkin jika kebohongan itu dianggap tidak berbahaya, orang menganggap white lies itu biasa dan dapat diterima. Malahan, di zaman ini banyak tokoh dan pimpinan negara yang kelihatannya ahli dalam hal membohongi rakyat.