Ajarlah aku untuk mau mendengar

“Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!” Matius 11: 15

Ucapan “Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar” muncul beberapa kali dalam Alkitab Perjanjian Baru. Tuhan Yesus sendiri agaknya sering mengucapkannya untuk mengingatkan pentingnya apa yang diucapkanNya.

Pada umumnya, secara normal, untuk mendengar suara kita tidak memerlukan usaha khusus. Mereka yang tidak terganggu pendengarannya tentu bisa mendengar suara orang lain. Tetapi, banyak orang yang seharusnya mendengar, tidak dapat menangkap atau menanggapi apa yang didengarnya. Masuk di telinga kiri, keluar di telinga kanan, kata peribahasa.

Memang ada orang yang mempunyai kemampuan untuk menyeleksi apa yang akan didengarnya. Apa yang disukai akan didengar, apa yang tidak disukai akan dilupakan. Selective hearing, itulah istilahnya. Pada pihak yang lain, ada orang-orang yang biasa mendengarkan suara yang keras, dan karena itu terganggu pendengarannya. Selain itu, semua orang akan berkurang pendengarannya seiring dengan bertambahnya usia. Senile deafness.

Apa yang dimaksudkan oleh Yesus, sudah tentu bukan soal mendengarkan suara secara jasmani. Dalam konteks Firman Tuhan, pendengaran kita tidak ditentukan oleh keadaan jasmani kita, tetapi oleh kerohanian kita. Dalam hal ini, mereka yang tidak mempunyai pendengaran jasmani yang baik, tetap bisa mendengar suara Tuhan secara rohani. Dan sebaliknya, mereka yang sehat jasmaninya mungkin tuli secara rohani.

Pada waktu Samuel masih kecil, ia hidup bersama nabi Eli. Pada suatu malam, Samuel mendengar namanya dipanggil. Samuel mengira bahwa Eli memanggilnya dan karena itu ia pergi ke kamar Eli. Dua kali Tuhan memanggil, dua kali Samuel lari ke kamar Eli, hanya untuk menerima jawaban Eli bahwa ia tidak memanggil Samuel. Pada kali yang ketiga, Eli yang sudah tua dan mulai buta itu mengerti bahwa Tuhanlah yang memanggil Samuel. Karena itu, ia menyuruh Samuel untuk memohon agar Tuhan berbicara sebab Samuel siap untuk mendengar. Itulah yang kemudian dilakukan Samuel; dan karena ia mendengar nasihat Eli, ia kemudian bisa mendengar suara Tuhan.

Untuk mengerti dan menyadari suara Tuhan, memang kita harus membiasakan diri. Dengan adanya banyak pergumulan dan pengalaman, Eli bisa mengerti apa yang terjadi. Sebaliknya, Samuel yang masih kecil belum pernah mendengar suara Tuhan atau mendapat penglihatan sebelumnya. Samuel harus mau mendengar nasihat Eli untuk bisa mendengarkan suara Tuhan.

Pagi ini, mungkin kita sudah mulai mempersiapkan diri untuk menghadapi tugas sehari-hari. Pikiran kita sudah penuh dengan berbagai hal dan telinga kita sudah mendengar hiruk-pikuk kehidupan disekeliling kita. Dalam keadaan yang sedemikian, sulitlah bagi kita untuk mendengar suara Tuhan. Tanpa kemauan untuk secara selektif mematikan suara-suara yang membingungkan, kita tidak akan bisa menyadari bahwa Tuhan menunggu kita untuk menjawab panggilanNya. Dalam keadaan apapun, baik suka maupun duka, sehat ataupun sakit, usia muda maupun tua, Roh Kudus ada didalam hidup kita dan menantikan respons kita. Seperti Samuel, kita seharusnya menjawab dengan tulus hati.

“Berbicaralah, TUHAN, sebab hamba-Mu ini mendengar” (1 Samuel 3: 10).

Apakah malapetaka selalu terjadi karena dosa?

“Atau sangkamu kedelapan belas orang, yang mati ditimpa menara dekat Siloam, lebih besar kesalahannya dari pada kesalahan semua orang lain yang diam di Yerusalem? Tidak! kata-Ku kepadamu. Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian.” Lukas 13: 4 – 5

Gempa bumi yang terjadi di berbagai tempat baru-baru ini membuat banyak orang kuatir. Sampai saat ini, sains belum bisa memastikan kapan datangnya gempa dan seberapa besarnya. Manusia mungkin bisa menduga kemungkinan terjadinya berbagai malapetaka dengan mengukur dan menganalisa berbagai data, tetapi apa yang akan terjadi biasanya ada diluar jangkauan pengetahuan mereka.

Apa yang dirasakan banyak manusia jika malapetaka terjadi, biasanya berupa ketakutan atau kekuatiran bahwa Tuhan mungkin sudah membuat semua itu terjadi karena dosa yang diperbuat manusia. Mungkin itu ada benarnya jika membaca kisah nabi Yunus dalam perahu yang dilanda topan. Tetapi, Ayub yang baik di mata Tuhan juga tertimpa malapetaka yang luar biasa dengan seijin Tuhan.

Memang kecenderungan manusia dalam melihat adanya malapetaka adalah untuk mencoba menduga mengapa itu terjadi. Tetapi, seperti manusia sering tidak dapat menduga kapan malapetaka akan terjadi, mereka juga sering tidak tahu mengapa itu terjadi. Selain itu manusia juga sering mengira bahwa:

  1. Penderitaan manusia adalah seimbang dengan dosanya.
  2. Malapetaka selalu menunjukkan kemarahan dan hukuman Tuhan.
  3. Malapetaka hanya terjadi pada orang yang jahat.

Pada waktu itu datanglah kepada Yesus beberapa orang membawa kabar tentang orang-orang Galilea, yang darahnya dicampurkan Pilatus dengan darah korban yang mereka persembahkan. Mereka yang menemui Yesus, menyangka bahwa karena besarnya dosa orang-orang Galilea itu, mereka mengalami nasib yang tragis. Tetapi, Yesus menjawab bahwa pandangan itu tidaklah benar.

Sebagai umat Kristen kita percaya bahwa Tuhan kita mahakasih, dan karena itu tidak mendatangkan bencana untuk umatNya. Manusia yang hidup dalam dunia sesudah kejatuhan Adam dan Hawa, memang harus menghadapi berbagai bencana karena dunia yang tidak lagi sempurna. Manusia, baik mereka yang jahat maupun yang baik, bisa menerima berkat Tuhan seperti sinar matahari. Karena itu, semua manusia juga bisa mengalami bencana yang terjadi sebagai bagian dari hukum alami.

Adanya bencana belum tentu sehubungan dengan hukuman atau peringatan Tuhan akan dosa korban bencana. Tetapi itu seharusnya mengingatkan bahwa kita hidup dalam dunia yang penuh dosa. Bahwa manusia tidak dapat bergantung kepada dunia atau sesama, tetapi kepada Dia yang memiliki alam semesta. Hidup manusia tidak boleh dihakimi berdasarkan apa yang terjadi pada mereka, sebab semua orang bisa mengalaminya. Semua orang sudah berdosa di hadapan Tuhan.

Mereka yang mengalami bencana di dunia, bukanlah selalu akan mengakhiri hidupnya secara sia-sia. Bagi yang percaya kepada Kristus, hidup ini adalah bukan apa yang terlihat mata, tetapi adalah sesuatu yang akan datang. Bencana juga bisa memberi pelajaran dan kesempatan bagi mereka yang diluputkan, agar mereka mau mengakui kebesaran Tuhan dan berjalan dalam kebenaran menuju kearah keselamatan yang sebelumnya mungkin tidak disadari.

“Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal.” 2 Korintus 4: 28

Kita adalah duta besar kerajaan Allah

“Demikian juga orang-orang muda; nasihatilah mereka supaya mereka menguasai diri dalam segala hal dan jadikanlah dirimu sendiri suatu teladan dalam berbuat baik. Hendaklah engkau jujur dan bersungguh-sungguh dalam pengajaranmu, sehat dan tidak bercela dalam pemberitaanmu sehingga lawan menjadi malu, karena tidak ada hal-hal buruk yang dapat mereka sebarkan tentang kita.” Titus 2: 6 – 8

Membaca berita yang muncul di koran atau di TV pada zaman ini mungkin seringkali membuat kita menghela nafas atau menggelengkan kepala. Bagaimana tidak? Apa yang diberitakan biasanya adalah hal-hal yang jelek dan jahat, sedangkan hal-hal yang baik biasanya kurang ditonjolkan. Lebih dari itu, orang-orang yang dimunculkan dalam berita seringkali adalah mereka yang perbuatan, perkataan dan hidupnya kurang bisa ditiru. Sayang, banyak diantara mereka mengaku atau dikenal sebagai orang Kristen.

Mengapa orang senang menonton dan membaca berita-berita “miring” tentang orang-orang lain? Mungkin karena hal-hal itu bisa dijadikan bahan pergunjingan. Memang membicarakan kejelekan dan kebodohan orang lain itu mempunyai daya pikat tersendiri. Tetapi, jika kita sendiri yang menjadi bahan pergunjingan masyarakat, itu bisa membawa rasa tidak enak dan malu. Kecuali jika kita sudah terbiasa dalam melakukan hal yang kurang baik, dan tidak lagi peka atas komentar orang lain.

Dalam ayat diatas, rasul Paulus menulis agar para pengikut Yesus bisa menjadi contoh yang baik untuk semua orang, terutama bagi kaum muda, dalam hal menguasai diri. Semua orang Kristen seharusnya hidup jujur dan memberi teladan kepada orang lain dengan cara hidup dan kelakuan yang sehat dan tidak bercela. Hidup mereka seharusnya justru membuat orang lain menjadi malu karena tidak ada hal-hal buruk yang dapat disebarkan dan dipergunjingkan.

Adalah kenyataan, bahwa sebagai orang Kristen, kita adalah orang-orang yang mendapat sorotan masyarakat di sekeliling kita. Bermula dari cara hidup dalam keluarga, sekolah, dan tempat pekerjaan, sampai apa yang kita lakukan di tempat lain, baik secara nyata maupun maya, semuanya memungkinkan datangnya komentar yang baik atau buruk dari orang lain.

Jika seseorang mendapat malu karena perbuatan atau sifat buruknya, itu adalah sudah sepantasnya. Tetapi banyak orang yang tidak lagi merasa malu atau terpengaruh atas komentar orang lain. Aku adalah aku, itu judul sebuah lagu terkenal. I am what I am. Aku tidak peduli dengan apa yang dikatakan orang lain. Aku merasa damai dengan diriku sendiri.

Bagi kita orang Kristen, hidup kita sebenarnya bukanlah milik kita lagi. Oleh sebab itu, jika kita melakukan hal yang tercela, nama Tuhan ikut dipermalukan. Mungkin kita tidak melakukan hal yang buruk dengan sengaja, mungkin kita hanya terbawa suasana atau kurang waspada. Tetapi pagi ini kita diingatkan bahwa sebagai orang Kristen, kita adalah duta besar kerajaan surga untuk dunia. Karena itu kita tidak boleh mempermalukan Dia yang sudah mengutus kita.

“Janganlah ada di antara kamu yang harus menderita sebagai pembunuh atau pencuri atau penjahat, atau pengacau. Tetapi, jika ia menderita sebagai orang Kristen, maka janganlah ia malu, melainkan hendaklah ia memuliakan Allah dalam nama Kristus itu.” 1 Petrus 4: 15 – 16

Apakah kasihNya sama untuk setiap orang?

“Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.” Matius 5: 45

Pertanyaan diatas adalah pertanyaan yang sebenarnya sukar untuk dijawab. Secara teologi, pertanyaan ini sudah banyak diperdebatkan. Tetapi, untuk hidup sehari-hari, ada baiknya untuk kita renungkan dan simak.

Sebagian orang Kristen akan menjawab pertanyaan diatas dengan “ya”, karena kasih Tuhan yang memelihara dunia dan isinya, dan bahkan seluruh jagad raya. Tanpa penciptaan dan pemeliharaan (providensia) Tuhan, dunia ini akan kacau balau jadinya.

Tuhan memang mahakasih dan mahaadil, karena itu Ia memberikan kesempatan bagi seluruh umat manusia untuk bisa hidup, bekerja dan bermasyarakat dengan menggunakan semua berkatNya. Seluruh umat manusia diberi kesempatan yang sama untuk bisa menikmati apa yang sudah diciptakanNya di alam semesta. Ini jugalah salah satu yang mendorong manusia untuk menerapkan prinsip keadilan dalam sebuah negara.

Yesus dalam menyatakan hukum yang kedua, berkata:

“Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Matius 22: 39

Dalam hal ini, jelas bahwa umat Kristen harus mengasihi sesamanya, baik mereka yang seiman maupun yang belum menerima Yesus sebagai Juruselamat. Kita harus mengasihi sesama kita, dan bukan hanya orang-orang tertentu, seperti Tuhan yang sudah mengasihi seluruh ciptaanNya.

Walaupun kasih Tuhan itu mahabesar, keadilanNya mengharuskan semua umat manusia yang sudah jatuh dalam dosa untuk menerima hukuman yang setimpal. Dalam hal ini, Tuhan tetap menunjukkan kasihNya kepada seisi dunia (kosmos) dengan mengirimkan AnakNya yang tunggal untuk menyelamatkan mereka yang mau percaya kepadaNya.

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Yohanes 3: 16

Sekalipun Tuhan itu senang melihat seluruh ciptaanNya (Kejadian 1: 31), Ia mengasihi manusia lebih dari yang lain. Ia memberikan mandat kepada Adam dan Hawa untuk memelihara segala yang ada (Kejadian 2: 15). Tuhan yang mahakasih ternyata membeda-bedakan kasihNya. Dari awalnya, Tuhan mengasihi mereka yang bisa taat kepadaNya dan memuliakanNya. Tuhan memang menciptakan manusia menurut gambarNya untuk kemuliaanNya.

Jika Tuhan lebih mengasihi manusia daripada hewan dan tumbuhan atau apapun yang diciptakanNya, itu menunjukkan bahwa Tuhan menghargai hubungan mesra yang seharusnya selalu ada antara manusia dan Tuhan. Dengan jatuhnya manusia kedalam dosa, tidak semua manusia bisa merasakan pentingnya hal itu. Sekalipun di kalangan orang percaya, tidak semuanya sadar bahwa Tuhan lebih menghargai mereka yang taat dan dekat kepadaNya. Obedience is the key to God’s heart, ketaatan manusia adalah kunci hati Tuhan.

Umat Kristen adalah bagian tubuh Kristus. Oleh sebab itu, Tuhan lebih mengasihi mereka yang taat kepadaNya daripada mereka yang hidup menurut jalan mereka sendiri. Ia selalu memelihara, mengasuh dan merawat umatNya, baik dalam suka maupun duka.

“Sebab tidak pernah orang membenci tubuhnya sendiri, tetapi mengasuhnya dan merawatinya, sama seperti Kristus terhadap jemaat, karena kita adalah anggota tubuh-Nya.” Efesus 5: 29 – 30

Pagi ini, jika hati kita bertanya-tanya, apakah Tuhan mencintai umatNya lebih dari orang lain, kita tahu apa jawabnya. Mungkin kita heran mengapa mereka yang hidupnya ugal-ugalan, justru terlihat nyaman dan jaya. Dalam hal ini, kita harus sadar bahwa Tuhan menciptakan manusia sedemikian rupa sehingga kebahagiaan sejati hanya bisa diperoleh melalui hubungan yang baik denganNya. Kepada yang taat kepadaNya, Ia adalah Tuhan yang sanggup dan siap untuk melimpahkan damai sejahtera dalam hidup mereka.

“Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu.” Yohanes 14: 27

Hal menaati hukum

“Karena pemerintah adalah hamba Allah untuk kebaikanmu. Tetapi jika engkau berbuat jahat, takutlah akan dia, karena tidak percuma pemerintah menyandang pedang. Pemerintah adalah hamba Allah untuk membalaskan murka Allah atas mereka yang berbuat jahat.” Roma 13: 4

Pernahkah anda membayangkan apa jadinya jika listrik di kota besar seperti New York padam secara total? Kemungkinan bahwa listrik di seluruh kota itu untuk padam adalah kecil di zaman ini karena adanya genset yang banyak dipakai oleh berbagai gedung dan juga karena kemajuan teknologi. Tetapi, ketika itu benar-benar terjadi pada tahun 1977, kota New York dilanda kekacauan. Penjarahan dan perampokan banyak terjadi, dan kekacauan lalu lintas dan komunikasi menyulitkan para penegak hukum untuk bertindak.

Memang kekacauan dan kejahatan selalu ada dimanapun, terutama di daerah dimana masyarakat hidup dalam kekurangan. Mereka yang senang mengail di air keruh, yang sering menggunakan kesempatan untuk melakukan kejahatan, akan muncul dan mengganggu keamanan masyarakat. Dalam hal ini, adanya penegak hukum tentunya akan membuat situasi bisa dikontrol. Memang, menurut teori kenegaraan, hukum dan penegak hukum adalah perlu untuk melindungi masyarakat.

Bagaimana kata firman Tuhan akan hal hukum negara dalam hidup sehari-hari? Ayat diatas menjelaskan bahwa sebagai orang Kristen kita harus menaati hukum pemerintah dan tunduk kepada pemerintah yang ada untuk mewakili Tuhan di negara kita. Pemerintah ada dengan seizin Tuhan yang mempunyai rancangan untuk seisi bumi. Tunduk kepada pemerintah bukan hanya ketika pemerintah sudah terpilih sesuai dengan apa yang kita harapkan. Berbeda dengan apa yang diajarkan oleh beberapa aliran lain, ajaran Kristen mengatakan bahwa selama ada pemerintah yang sah, orang Kristen harus tunduk dan menuruti semua hukum yang ada. Orang Kristen bukan hanya tunduk kepada pemerintah dan hukum yang cocok dengan keinginan atau harapan pribadi.

“Bayarlah kepada semua orang apa yang harus kamu bayar: pajak kepada orang yang berhak menerima pajak, cukai kepada orang yang berhak menerima cukai; rasa takut kepada orang yang berhak menerima rasa takut dan hormat kepada orang yang berhak menerima hormat.” Roma 13: 7

Adanya pemerintah juga dimaksudkan untuk membawa ketenteraman dalam masyarakat. Tetapi di dunia ini, mereka yang tidak menyukai pemerintah dan hukum yang ada, seringkali menyatakan pendapatnya melalui jalan yang tidak benar dan yang bisa menimbulkan keresahan dalam masyarakat. Berbagai berita palsu dan surat berantai sering muncul dalam media, dan orang Kristen seringkali terpancing untuk ikut-ikutan. Sebagai orang beriman, kita sebenarnya harus sadar bahwaTuhan kita tidak menghendaki kekacauan.

“Sebab Allah tidak menghendaki kekacauan, tetapi damai sejahtera.” 1 Korintus 14: 33

Jika kita harus tunduk kepada pemerintah dan hukum yang ada, apakah itu berarti kita harus berdiam diri saja jika ada penyelewengan dan kekeliruan pemerintah? Tentu saja tidak! Sebagai orang beriman, kita harus menjadi terang dunia. Menjadi contoh kebaikan, kejujuran dan keadilan. Dengan demikian, orang Kristen yang ingin menyatakan pendapat mereka, haruslah melalui jalan yang sesuai dengan firman Tuhan dan tidak melanggar hukum.

Satu hal yang penting untuk diingat adalah karena pemerintah adalah wakil Tuhan di dunia, itu berarti bahwa apa yang dilakukan pemerintah tidak boleh menentang hukum Tuhan. Di Australia, perdebatan sengit masih berlangsung antara kelompok Kristen yang anti aborsi dengan pemerintah yang mengusulkan izin aborsi baru. Dalam hal seperti ini, seperti rasul Petrus umat Kristen memang sudah seharusnya berani menentang kebijaksanaan pemerintah.

“Tetapi Petrus dan rasul-rasul itu menjawab, katanya: “Kita harus lebih taat kepada Allah dari pada kepada manusia.” Kisah Para Rasul 5: 29

Pagi ini, marilah kita renungkan kehidupan kita masing-masing di negara kita. Apakah kita tunduk kepada pemerintah yang sah, yang ada saat ini? Apakah kita bisa menerima kenyataan bahwa pemerintah adalah wakil Tuhan di negara kita? Apakah kita hanya takut kepada hukum manusia dan bukannya kepada hukum Tuhan? Sebagai orang Kristen dan umat Tuhan, kita tetap mempunyai tanggung jawab pribadi kepadaNya.

Kesalahan yang tak dapat diampuni

“Tetapi apabila seorang menghujat Roh Kudus, ia tidak mendapat ampun selama-lamanya, melainkan bersalah karena berbuat dosa kekal.” Markus 3: 29

Ingatkah anda akan lagu “Tiada maaf bagimu”? Lagu yang dinyanyikan oleh Broery Marantika ini sangat terkenal dan juga pernah dinyanyikan oleh penyanyi-penyanyi lain, diantaranya Tetty Kadi. Lagu dengan judul yang sama tapi berbeda lirik, belakangan juga muncul dan mencapai ketenaran melalui beberapa penyanyi lain. Agaknya bagi manusia, tidak adanya maaf untuk orang yang sudah menyakiti hati mereka adalah hal yang biasa.

Jika manusia sering sulit untuk mengampuni sesamanya, Tuhan mengingatkan bahwa mereka yang tidak mau mengampuni sesamanya, tidak akan menerima pengampunan Tuhan atas dosanya (Matius 18: 35). Orang Kristen yang sadar bahwa Tuhan sudah lebih dulu mengampuni setelah mereka mengaku dosa, harus selalu mau mengampuni orang lain.

“Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” 1 Yohanes 1: 9

Apakah Tuhan selalu mau mengampuni dosa manusia sekalipun dulunya mereka adalah penghujat Allah Bapa dan Yesus Kristus? Tentu! Jika mereka dengan pengarahan Roh Kudus mau mengaku dosa dan bertobat, mereka akan diampuni dan menerima keselamatan. Banyak orang yang dulunya penghujat Kristus, seperti halnya rasul Paulus, bisa diterima sebagai anak-anak Allah dan menjadi pengikut Kristus.

Jika setiap orang yang benar-benar bertobat akan diampuni Tuhan, ayat pembukaan diatas bunyinya terasa janggal. Kalau dibaca secara literal, seolah ayat itu mengatakan bahwa hanya satu dosa yang tidak bisa diampuni sekarang dan selamanya, yaitu dosa kepada Roh Kudus! Bagaimana bisa? Apakah Roh Kudus lebih tinggi dari Allah Bapa dan Yesus Kristus? Bukankah Tuhan itu satu adanya, sekalipun mempunyai tiga persona?

Mereka yang menghujat Roh Kudus adalah orang-orang yang belum percaya kepada Tuhan dan belum menerima Kristus, yang dengan sengaja menolak bekerjanya Roh dalam hidup mereka. Jika Roh Kudus mengingatkan mereka untuk bertobat dari dosa dan memohon pengampunan, mereka menolakNya dengan keyakinan bahwa tidak ada yang salah dalam hidup mereka; mereka percaya bahwa mereka adalah orang-orang baik yang sudah berjalan dalam kebenaran. Mereka menolak kenyataan bahwa Yesus adalah Anak Allah yang datang ke dunia untuk menyelamatkan orang yang bertobat.

Mereka yang menghujat Roh Kudus itu tidak akan dapat menyadari betapa besar dosa mereka, dan karena itu tidak mau untuk memohon ampun kepada Tuhan dan mengakui Yesus sebagai Juruselamat mereka. Dengan demikian, orang yang menolak Roh Kudus akan menjadi orang-orang yang tidak dapat diampuni untuk selamanya.

Pagi ini, jika kita percaya kepada Allah dan PutraNya yang tunggal, Yesus Kristus, keselamatan sudah diberikan kepada kita. Itu adalah hasil pekerjaan Roh Kudus. Roh Kudus tidak akan meninggalkan kita dan Ia akan bekerja secara luar biasa dalam hidup kita jika kita tidak mendukakanNya.

Pada pihak yang lain, mereka yang belum benar-benar percaya dan terus menerus mengabaikan suara Roh Kudus akan kehilangan kesempatan untuk menerima keselamatan. Tanpa Roh Kudus orang tidak akan bisa menjadi pengikut Kristus dan memperoleh mahkota kehidupan dari Allah seperti yang sudah diterima Yesus.

Biarlah Roh Kudus bisa bekerja makin hebat dalam diri kita, agar melalui hidup kita, mereka yang belum percaya mau mendengarkan suara Roh Kudus yang membawa mereka kearah pertobatan dan keselamatan.

“Dan jika Roh Dia, yang telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati, diam di dalam kamu, maka Ia, yang telah membangkitkan Kristus Yesus dari antara orang mati, akan menghidupkan juga tubuhmu yang fana itu oleh Roh-Nya, yang diam di dalam kamu.” Roma 8: 11

Tambahkanlah imanku, Tuhan!

“Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.” Efesus 3: 8 – 9

Dari mana datangnya rasa cinta? Dari mata turun ke hati. Begitu bunyi sebuah pantun Melayu. Ada orang-orang yang percaya akan hal ini, terutama mereka yang jatuh cinta pada pandangan pertama. Tetapi, banyak orang yang sekarang tidak setuju. Mereka berpendapat bahwa cinta datang dari otak. Dengan memikirkan fakta-fakta, orang mengambil keputusan untuk mencintai atau tidak.

Dari mana datangnya rasa cinta dan iman kepada Tuhan? Dari mata juga? Atau dari otak kita? Murid-murid Yesus dan pengikut lainnya memang bisa melihat bagaimana Ia mengajar, membuat berbagai mujizat, dan mati di kayu salib. Tetapi kita sekarang hanya bisa membayangkan saja karena tidak bisa melihat dengan mata kepala. Kita mungkin bisa memikirkan kebesaran Tuhan dengan melihat berbagai ciptaanNya. Tetapi orang-orang pandai yang juga melihat hal-hal itu belum tentu bisa percaya.

Ada orang-orang yang merasakan kehadiran Tuhan pada saat mereka mengalami bencana, tetapi ada juga yang tidak mau percaya kepada Tuhan karena mereka tidak melihat adanya pertolongan Tuhan. Ada orang yang bersyukur dan beriman kepada Tuhan dalam kebahagiaan hidupnya, tetapi ada juga yang merasa bahwa segalanya ada karena usahanya sendiri.

Memang jika manusia percaya adanya Tuhan sekalipun tidak melihat, itu adalah sesuatu yang ajaib. Banyak orang yang menyelidiki mengapa orang bisa percaya kepada hal-hal spiritual, dan kemudian mengajukan beberapa teori. Manusia membutuhkan adanya sesuatu yang mahakuasa dalam ketidakberdayaan mereka dan menciptakan “Tuhan” dalam pikiran mereka, begitu sebagian berspekulasi.

Bagi umat Kristen, iman adalah jelas diluar jangkauan manusia. Iman tidak diciptakan manusia atau timbul karena usaha manusia. Tuhan yang mahabesar dan yang mengirimkan AnakNya yang tunggal ke dunia, tidak bisa dijangkau oleh pikiran manusia jika tanpa bimbingan Roh Kudus. Karena itu, bagi mereka yang bukan Kristen hal ini adalah sesuatu yang tidak masuk akal.

“Tetapi manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah, karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan; dan ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohani.” 1 Korintus 2: 14

Bagaimana Tuhan yang mahakasih bisa membiarkan adanya malapetaka di dunia? Pertanyaan ini juga sering membuat manusia mengingkari adanya Tuhan yang mahakuasa dan mahakasih. Mereka tidak menyadari bahwa dunia ini bukanlah surga, dan Tuhan selalu mempunyai rencana di balik semua peristiwa.

Jadi bagaimana kita bisa percaya adanya Tuhan dan beriman kepada Tuhan yang benar? Yesus berkata bahwa mereka yang percaya kepadaNya sekalipun tidak melihat Dia adalah orang-orang yang berbahagia (Yohanes 20: 29). Mereka yang sudah dibimbing Roh Kudus yang membuka hati mereka untuk mengaku bahwa mereka adalah orang berdosa, memperoleh iman bahwa mereka hanya bisa diselamatkan oleh darah Kristus. Mereka adalah orang-orang yang terpilih, bukan orang-orang yang memilih Tuhan.

Tuhan bekerja dalam segala aspek kehidupan seluruh umat manusia. AjakanNya kepada setiap orang, untuk menjawab panggilan keselamatanNya, selalu disertai dengan kasih karunia yang cukup untuk menumbuhkan iman. Hanya Tuhan yang bisa memberi iman dan hanya Dia yang bisa mempertahankan dan menumbuhkannya.

Kehidupan ini bisa terasa sangat berat, dan iman kita terasa kecil. Tetapi jika kita ingat bahwa iman bukan karena usaha kita sendiri, satu-satunya yang bisa kita minta dalam doa adalah agar Tuhan membuka hati kita untuk bisa tetap merasakan kasihNya dalam perjuangan hidup kita, dan untuk menambahkan iman kita dalam menghadapi masa depan.

Lalu kata rasul-rasul itu kepada Tuhan: “Tambahkanlah iman kami!” Lukas 17 : 5

Bagaimana dengan masa depanku?

“Perhatikanlah orang yang tulus dan lihatlah kepada orang yang jujur, sebab pada orang yang suka damai akan ada masa depan.” Mazmur 37: 37

Membaca surat kabar dan media baik yang berasal dari Indonesia maupun dari luar negeri, kita tidak dapat tidak merasa sangat sedih. Betapa tidak? Gempa bumi yang menghacurkan kota Palu dan Donggala beserta daerah disekitarnya sungguh besar akibatnya pada infrastruktur dan kehidupan penduduk setempat.

Kejadian yang bisa menggoncangkan kehidupan manusia tentu saja tidak harus berupa gempa bumi. Dalam hidup ini, seringkali kita mengalami berbagai goncangan yang membuat hidup ini terasa berat. Entah itu karena persoalan ekonomi, keluarga, pekerjaan, persahabatan dan lain-lainnya, terkadang hidup manusia terlihat porak-poranda. Dan jika kita yang mengalami hal-hal itu, sudah sewajarnya kita bertanya-tanya: adakah masa depan bagiku? Apa yang harus aku lakukan untuk memperbaiki keadaan?

Ayat diatas adalah ayat yang sederhana dan mudah dimengerti. Walaupun demikian, orang di zaman sekarang mungkin sudah jarang mengindahkannya. Ayat itu mengajarkan agar kita mengambil contoh dari orang yang tulus dan yang jujur. Lebih dari itu, kita harus berusaha untuk hidup dalam damai, karena bagi mereka yang suka damai akan ada masa depan yang baik.

Bagi banyak orang, ayat diatas agaknya sudah bernada kuno, sudah ketinggalan zaman. Dunia sekarang seolah mengajarkan bahwa mereka yang ingin untuk sukses di dunia harus siap dan bisa untuk melakukan apa saja. Karena itu, mereka yang mempunyai ambisi untuk mencapai kesuksesan sering terlihat memakai taktik dan cara yang tidak jujur, dan bahkan siap untuk mengorbankan perdamaian dan ketenteraman untuk mencapai maksudnya.

Dalam hidup ini, manusia memang selalu mengalami goncangan kecil dan besar. Bagi banyak orang sudah jauh dari Tuhan, hidup serasa ada dalam tangan mereka sendiri. Dalam kebodohan mereka, mereka merencanakan segala sesuatu yang baik menurut keinginan mereka, dan merasa bangga karena dapat melakukan hal itu. Mereka tidak sadar bahwa hidup ini ada di tangan Tuhan.

“Janganlah memuji diri karena esok hari, karena engkau tidak tahu apa yang akan terjadi hari itu.” Amsal 27: 1

Masa depan umat manusia sepenuhnya bergantung pada rencana Tuhan. Tidak ada seorangpun yang terkecuali, dan tidak ada satu bangsa pun yang bisa bebas dari rancangan Tuhan untuk seisi bumi ini. Mereka yang berusaha untuk mencari kehendak Tuhan adalah orang-orang yang bijaksana. Mereka yang menuruti kehendak sendiri dan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan adalah orang-orang yang bodoh.

Pagi ini biarlah kita mau berdoa untuk masa depan kita, masa depan bangsa dan keadaan dunia. Kesadaran bahwa Tuhan yang mahakuasa mencintai orang-orang yang tulus, jujur dan suka damai, seharusnya menambah keyakinan kita bahwa sekalipun awan tebal menutupi langit saat ini, pada waktunya kita akan melihat sinar matahari lagi.

“Orang-orang benar diselamatkan oleh TUHAN; Ia adalah tempat perlindungan mereka pada waktu kesesakan” Mazmur 37: 39

Berdusta berarti belum mengenal Tuhan

“Jangan lagi kamu saling mendustai, karena kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya” Kolose 3: 9

Pernahkah anda berbohong? Pertanyaan itu jika diajukan kepada semua orang di dunia, pastilah dijawab dengan “ya”. Mungkin bukan bohong besar; tetapi bohong kecil pun adalah bohong. Mungkin jika kebohongan itu dianggap tidak berbahaya, orang menganggap white lies itu biasa dan dapat diterima. Malahan, di zaman ini banyak tokoh dan pimpinan negara yang kelihatannya ahli dalam hal membohongi rakyat.

Bagaimana kata Firman Tuhan mengenai hal berbohong? Ayat diatas menunjukkan bahwa kebohongan atau dusta adalah ciri manusia lama, mereka yang belum diperbaharui dalam darah Kristus. Seperti ular yang membohongi Adam dan Hawa di taman Firdaus, manusia lama kita cenderung untuk meniru iblis dengan segala tipu-dayanya.

“Iblislah yang menjadi bapamu dan kamu ingin melakukan keinginan-keinginan bapamu. Ia adalah pembunuh manusia sejak semula dan tidak hidup dalam kebenaran, sebab di dalam dia tidak ada kebenaran. Apabila ia berkata dusta, ia berkata atas kehendaknya sendiri, sebab ia adalah pendusta dan bapa segala dusta.” Yohanes 8: 44

Walaupun demikian, ada orang yang berbohong dengan dalih bermaksud baik. Corrie ten Boom, misalnya, menulis dalam bukunya The Hiding Place bahwa ia membohongi tentara Jerman yang menemui dia untuk mencari orang-orang Yahudi. Corrie menyembunyikan orang-orang itu dirumahnya dan membantu mereka untuk melarikan diri. Tanpa berbohong, orang-orang Yahudi itu pastilah akan ditangkap dan dimasukkan kamp konsentrasi.

Dalam Alkitab, hanya ada dua contoh mengenai hal berbohong yang nampaknya tidak dipandang sebagai hal yang salah. Yang pertama adalah bidan-bidan Mesir yang berbohong untuk menyelamatkan bayi laki-laki keluarga Ibrani (Keluaran 1: 17 – 18). Yang kedua adalah Rahab yang menyembunyikan dua pengintai Israel di kota Yerikho (Yosua 2: 1 – 15). Dalam kedua kisah ini kelihatannya dusta tidak ditulis sebagai hal yang jahat karena bertautan dengan usaha menyelamatkan umat Tuhan dari bencana. Tetapi, Alkitab tidak mengajarkan dusta sebagai hal yang baik dalam situasi apapun. Keadaan dimana dusta diperlukan untuk menghindari bencana besar pada umat manusia adalah jarang. Kebanyakan dusta dalam hidup sehari-hari adalah untuk mencari keuntungan atau mencapai tujuan manusia.

Mereka yang biasa berdusta dalam hal yang kecil, lambat laun akan terbiasa membuat dusta besar. Dari kebiasaan yang kecil, tumbuh kejahatan yang besar. Di balik semua alasan untuk berdusta, ada kenyataan bahwa orang yang berdusta tidak menyadari atau mengabaikan adanya Tuhan yang mahatahu. Mereka yang berdusta tentunya tidak mempunyai rasa takut kepada Tuhan yang mahasuci, yang tidak pernah berdusta dan membenci adanya dusta. Sebuah contoh yang tercatat dalam Alkitab tentang akibat dusta yang tragis adalah apa yang dialami oleh Ananias dan Safira, yang kehilangan nyawa mereka karena berdusta dalam hal persembahan (Kisah Para Rasul 5: 1 – 11).

“…..Mengapa engkau merencanakan perbuatan itu dalam hatimu? Engkau bukan mendustai manusia, tetapi mendustai Allah.” Kisah Para Rasul 5: 4b

Pagi ini, jika kita bangun dan membaca berita dalam media apapun, kita melihat bahwa banyak orang di dunia ini membuat berbagai dusta untuk mencapai berbagai maksud. Semua dusta dibenci Tuhan, dan mereka yang sering atau selalu melakukannya untuk mencapai apa yang direncanakan mereka, adalah orang-orang yang belum mengenal Tuhan. Bagi kita yang sudah mengenal Tuhan, kita harus berhenti melakukan kebiasaan yang sering kita lakukan dalam hidup lama kita.

Pernahkah Tuhan berduka?

“Berapa kali mereka memberontak terhadap Dia di padang gurun, dan menyusahkan hati-Nya di padang belantara!” Mazmur 78: 40

Seorang sanak saya baru-baru ini menerima kabar buruk tentang temannya yang meninggal dunia secara tiba-tiba pada usia muda. Kejadian yang tidak tersangka itu membuat sanak saya merasa sangat sedih; apalagi, ia bertemu dengan temannya belum lama berselang dan pada saat itu tidak ada firasat jelek apapun.

Kesedihan manusia jelas bisa membuatnya lemah, putus asa ataupun depresi. Apalagi, jika ada masalah yang besar yang kelihatannya tidak mungkin bisa diatasi. Bencana alam yang baru-baru ini terjadi misalnya, membuat banyak orang mengalami kesedihan yang luar biasa. Sudah tentu, penderitaan mereka bukan hanya dalam hal fisik dan materi, tetapi yang lebih sukar ditangani adalah penderitaan moril atau rohani.

Bagi mereka yang percaya adanya Tuhan, keyakinan bahwa Tuhan dapat melihat apa yang terjadi pada diri manusia, mungkin membuat mereka bertanya-tanya, apakah Tuhan bisa merasa sedih seperti manusia. Jika Tuhan memang bisa merasa sedih, apakah Ia bisa berbelas kasihan kepada mereka yang mengalami kesusahan dan kemudian berbuat sesuatu untuk mereka?

Sebagai Tuhan yang menciptakan manusia menurut gambarNya, sudah tentu Tuhan mempunyai sifat dan reaksi yang mirip dengan apa yang dipunyai manusia. Yesus, Anak Allah yang turun ke dunia, adalah Tuhan yang berwujud manusia; hanya saja Ia sempurna dan tidak berdosa. Dengan demikian, Tuhan dalam segala perasaanNya adalah mirip manusia, hanya saja Dia adalah Tuhan yang mahasuci dan mahatahu. Dia tidak akan kaget jika ada sesuatu yang terjadi dalam hidup manusia.

Kesedihan Tuhan adalah murni karena kasihNya. Dia tahu apa yang akan terjadi dan bisa mengutarakan perasaaanNya ketika hal itu terjadi; tetapi, Ia sudah mempunyai rencana tentang apa yang akan diperbuatNya. Tuhan tidak perlu menyesali apa yang terjadi, dan kemudian mengambil keputusan untuk berbuat sesuatu sesuai dengan situasi dan kondisi; karena apapun yang terjadi sudah ada dalam rancanganNya.

Tuhan yang mahatahu, tahu apa yang akan dilakukan manusia, bisa melihat apa yang akan terjadi dalam hidup tiap manusia. Ia bisa membaca pikiran manusia, melihat apa yang diperbuat manusia dan tahu apa kesalahan manusia. Karena itu, Ia merasa sedih jika apa yang terjadi dalam kehidupan manusia tidak sesuai dengan apa yang dikehendakiNya.

Kesedihan Tuhan adalah sesuatu yang suci dan bukan seperti kesedihan manusia yang seringkali terisi dosa. Kesedihan manusia seringkali menimbulkan berbagai hal yang negatif, seperti kekecewaan, perasaan putus asa, tidak peduli akan orang lain atau masa depan, dan kebencian. Sebaliknya, kesedihan Tuhan selalu disertai dengan rencana untuk meneruskan kasih pemeliharaanNya untuk manusia yang percaya kepadaNya.

Kesedihan Tuhan yang pertama kali muncul ketika Adam dan Hawa melanggar perintahNya untuk tidak memakan buah pengetahuan hal yang baik dan buruk. Tidak tahukah Tuhan bahwa manusia sanggup dan akan melanggar perintahNya? Sudah tentu Ia tahu! Ia tahu bahwa manusia dalam kemerdekaannya untuk mengambil keputusan yang membuat mereka jatuh kedalam dosa. Tetapi, justru karena Ia tahu, rencana penyelamatan manusia sudah disiapkanNya.

Pagi ini, jika kita merasa sedih karena berbagai hal, dan berpikir bahwa tidak ada seorangpun yang bisa ikut merasakannya, kita harus ingat bahwa Tuhan juga ikut berduka bersama kita. Mungkin kita menyesali apa yang terjadi dalam hidup ini, merasa kecewa akan tindakan orang lain, atau mungkin merasa malu atas kesalahan kita sendiri. Tuhan tahu semua itu akan terjadi. Jika kita berduka, Ia pun bisa ikut merasakannya. Tetapi Ia yang mahatahu dan mahakuasa, Ia jugalah yang sudah mempunyai rencanaNya untuk kita. Keputusan, kehendak dan rencanaNya adalah sempurna, tidak bisa diubah atau perlu diubah. Semuanya akan terjadi pada waktunya. Apa yang harus kita lakukan dalam kesedihan kita adalah percaya bahwa Tuhan yang mengasihi kita, adalah seperti Yesus, Imam Besar kita, yang mengerti perasaan kita dan yang akan memberikan apa yang terbaik untuk kita.

“Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa. Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya.” Ibrani 4: 15 – 16