Hal pemeliharaan Tuhan

“Hidup dan kasih setia Kaukaruniakan kepadaku, dan pemeliharaan-Mu menjaga nyawaku.” Ayub 10: 12

Beberapa tahun yang lalu, seorang sanak saya mengalami kecelakaan. Ketika ia mengendarai mobilnya disepanjang motorway, sebuah truk tiba-tiba memotong jalan dan menghantam mobilnya. Mobil kecil itu terhempas ke tengah jalur pemisah jalan, terguling dua kali sebelum tergeletak di tengah rerumputan. Banyak yang menduga bahwa mobil yang ringsek itu tentunya membuat penumpangnya luka berat. Tetapi heran, sanak saya keluar dari mobil itu tanpa luka sedikitpun.

Mujizat tidak terjadi setiap hari, tetapi kejadian seperti diatas jelas adalah ajaib. Hal yang supranatural. Bila satu hal yang semestinya terjadi, kemudian tidak terjadi, itu adalah keajaiban. Demikian pula dengan sesuatu yang seharusnya tidak terjadi, tetapi kemudian terjadi diluar dugaan; itu juga suatu yang ajaib. Bila orang yang tidak percaya akan adanya Tuhan akan menghubungkan hal-hal diatas dengan “nasib”, orang percaya mengatakan itu adalah kehendak Tuhan; yang jika membawa kebaikan, akan disebut sebagai mujizat.

Tuhan memang memelihara seisi semesta alam ini sehingga semuanya berjalan secara teratur menurut hukum yang berkaitan. Jika Tuhan tidak menciptakan berbagai sistim dan hukum alam, pastilah dunia dan segala isinya akan kacau balau. Kenyataan bahwa Tuhan menciptakan segala sesuatu dengan “aturan main” tertentu, menunjukkan bahwa Tuhan memberikan pemeliharaan kepada semua yang ada di jagad raya. Itu adalah pemeliharaan atau providensia Tuhan yang umum (general providence).

Banyak orang yang merasa jika hidupnya berjalan seperti biasa, Tuhan tidak menunjukkan keajaibanNya. Tetapi, bagi umat Kristen, matahari yang terbit setiap pagi dan udara yang segar adalah dimungkinkan karena pemeliharaanNya, seperti yang ditulis dalam kitab Kejadian.

Tuhan yang mahakuasa adalah yang menciptakan hukum fisika, hukum kimia, hukum astrofisika dan sebagainya. Tetapi, sebagai Tuhan, Ia tidak harus tunduk kepada hukum ciptaanNya. Ia bisa dan bebas untuk bekerja tanpa menuruti hukum-hukum itu, jika memang perlu. Itulah yang disebut pemeliharaan Tuhan yang khusus. Jika ini terjadi, keajaiban dikatakan terjadi. Keajaiban ada diluar pengertian manusia tentang hukum alam. Walaupun demikian, apa yang dikenal manusia sebagai keajaiban, mungkin saja sesuatu yang tidak atau belum dimengerti manusia. Karena itu ada orang-orang yang tertipu oleh adanya “mujizat” di sekelilingnya.

Memang banyak orang Kristen yang mendambakan datangnya mujizat. Maria ibu Yesus juga begitu ketika mereka menghadiri perjamuan kawin di Kana. Ia mengharapkan Yesus untuk berbuat sesuatu ketika tuan rumah kehabisan anggur. Tetapi Yesus berkata bahwa saatNya belum tiba. Mujizat adalah providensia Tuhan yang khusus, dan itu tidak dapat ditentukan atau dipaksakan oleh kehendak manusia.

Yesus mengubah air menjadi anggur di Kana, dan itu adalah mujizat karena bertentangan dengan akal budi manusia. Mengapa itu terjadi? Seperti halnya pemeliharaan umum, mujizat adalah pemeliharaan yang khusus, yang terjadi untuk kemuliaan Tuhan.

“Hal itu dibuat Yesus di Kana yang di Galilea, sebagai yang pertama dari tanda-tanda-Nya dan dengan itu Ia telah menyatakan kemuliaan-Nya, dan murid-murid-Nya percaya kepada-Nya.” Yohanes 2: 11

Pagi ini kita mungkin membaca koran dan merasa masygul karena adanya peristiwa-peristiwa yang menyedihkan. Mungkin itu sehubungan dengan bencana alam yang memakan banyak korban. Hati kita merasa sedih dan pikiran pun mulai bertanya-tanya: apakah Tuhan itu ada? Keadaan yang kocar-kacir seolah membutuhkan Tuhan untuk melakukan mujizatNya. Dimanakah Engkau Tuhan?

Seperti Ayub yang merasakan bahwa Tuhan seolah menjauhi dia, begitu juga kita mungkin merasa bahwa Tuhan membenci kita di saat malapetaka terjadi. Tetapi Ayub sadar bahwa jika ia masih tetap bisa hidup, itulah juga sebuah mujizat. “Hidup dan kasih setia Kaukaruniakan kepadaku, dan pemeliharaan-Mu menjaga nyawaku”, begitulah ia berpikir. Hidup kita adalah bukti adanya mujizat Tuhan, karena Yesus Kristus sudah mati untuk menebus dosa kita. Yesus adalah cukup bagi kita. Jesus is enough for us. Dengan itu, kita bisa selalu memuliakan Tuhan dan siap berjuang untuk menolong sesama kita yang dalam penderitaan. Kita tidak lagi selalu mendambakan mujizat Tuhan, karena mujizatNya yang luar biasa sudah terjadi pada setiap orang yang percaya kepada Yesus. Mereka yang belum percaya seharusnya bisa melihat mujizat Tuhan melalui hidup kita.

“…namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. ” Galatia 2: 20a

Tetap teguh dalam menghadapi masalah

“Walau seribu orang rebah di sisimu, dan sepuluh ribu di sebelah kananmu, tetapi itu tidak akan menimpamu.” Mazmur 91: 7

Graham Stuart Staines (1941 – 23 January 1999) adalah seorang misionaris Australia yang bersama dua putranya, Philip (umur 10) and Timothy (umur 6), dibakar hidup-hidup oleh sebuah kelompok ekstrim ketika mereka sedang tidur dalam mobil mereka di desa Manoharpur, distrik Odisha, India pada tanggal 23 January 1999. Pada tahun 2003, Dara Singh terbukti bersalah dalam memimpin gang yang membunuh Graham Staines dan kedua putranya, dan dijatuhi hukuman seumur penjara hidup.

Graham sudah bekerja di Odisha diantara penduduk desa yang miskin dan penderita kusta sejak tahun 1965. Beberapa kelompok agama setempat kemudian merasa kurang senang dan menuduh bahwa ia secara paksa membuat orang setempat untuk menjadi Kristen. Karena itu mereka membuat rencana untuk membunuh Graham.

Istri Graham, Gladys, membantah bahwa mereka memaksa penduduk untuk berganti agama. Walaupun Gladys mengalami peristiwa yang sangat menyedihkan itu, ia tinggal di India untuk melayani penderita kusta sampai ia kembali ke Australia pada tahun 2004. Pada tahun 2005, ia menerima penghargaan dari pemerintah India untuk jasanya dalam menolong penderita kusta di Odisha. Pada tahun 2016, ia menerima penghargaan the Mother Theresa International Award for Social Justice.

Apakah yang membuat orang Kristen seperti Gladys untuk tetap tabah dalam menghadapi bencana kehidupan? Bagaimana mereka bisa menerima kenyataan bahwa sebagai orang Kristen, mereka juga bisa mengalami malapetaka?

Ayat diatas sering dipakai sebagian orang Kristen untuk menegaskan bahwa sekalipun orang disekeliling mereka mengalami kehancuran, mereka tetap jaya dan tidak terpengaruh, karena adanya pemeliharaan Tuhan. Bahkan, sering diceritakan bahwa ketika ada bencana alam dan semua gedung hancur berantakan, gedung gereja dengan ajaib tetap bisa berdiri. Bukankah itu tanda kebesaran Tuhan? Orang yang benar selalu dibebaskan dari bencana, orang yang mengalami malapetaka adalah orang yang jahat. Begitu mungkin anggapan mereka.

Graham Stuart Staines dan kedua putranya tewas secara tragis di tangan orang jahat. Dimanakah Tuhan sewaktu hal itu terjadi? Dimanakah janji Tuhan untuk melindungi semua umatNya? Mereka yang mengartikan ayat diatas secara literal akan kecewa. Pada waktu banyak orang melakukan tarian kematian untuk Graham, Philip dan Timothy, Tuhan seolah mengabaikan mereka. Tetapi Tuhan jelas tidak pernah meninggalkan umatNya. Malahan, semua yang terjadi di dunia berjalan sesuai dengan rencanaNya. Oleh karena itu, apapun yang ada, hal yang baik maupun yang buruk, seharusnya memberi kesempatan bagi kita untuk belajar lebih jauh untuk mengerti kehendakNya.

Benarkah Tuhan akan melindungi kita sekalipun ada ribuan orang tewas disekitar kita? Penulis Mazmur tidak secara terperinci menjelaskan keadaannya pada waktu itu. Mungkin pada waktu itu ia merasakan perlindungan Tuhan ketika ada kehancuran disekelilingnya. Tetapi, sebagai orang Kristen kita tidak bisa selalu luput dari penderitaan dan bencana. Bahkan dalam sejarah orang Kristen, banyak yang tersiksa, dianiaya dan dibunuh karena iman mereka. Yesus berkata bahwa itu adalah bagian dari panggilan iman kita. Tuhanlah yang memungkinkan kita untuk tetap teguh dalam iman, sekalipun keadaan disekeliling kita sangat menyedihkan.

“Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.” Matius 5: 10

Dengan keyakinan bahwa Tuhan menyertai umatNya, biarlah kita bisa menunjukkan kepada masyarakat di sekeliling kita bahwa Tuhan yang sudah memberi kita kekuatan dalam menghadapi kehancuran disekeliling kita, adalah Tuhan yang juga bisa menolong mereka. Melalui ketabahan dan keyakinan kita biarlah makin banyak orang yang mengenal Tuhan.

“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” Matius 5: 16

Mengapa Tuhan membiarkan adanya bencana?

“Karena manusia tidak mengetahui waktunya. Seperti ikan yang tertangkap dalam jala yang mencelakakan, dan seperti burung yang tertangkap dalam jerat, begitulah anak-anak manusia terjerat pada waktu yang malang, kalau hal itu menimpa mereka secara tiba-tiba.” Pengkhotbah 9: 12

Gempa bumi yang terjadi di Indonesia secara berturut-turut baru-baru ini, membuat semua orang di dunia ikut prihatin. Salah satu pertanyaan rumit yang sering muncul jika ada hal-hal semacam ini adalah mengapa itu harus terjadi jika Tuhan itu ada.

Kebanyakan disaster yang terjadi di dunia ini bisa dicari sebabnya. Ilmu pengetahuan sudah sedemikian maju sehingga kita bisa mengerti mengapa bencana alam, kecelakaan dan berbagai malapetaka bisa terjadi. Kita juga tahu bahwa tidak semua bencana bisa dihindari. Tidak ada bencana yang terjadi tanpa sebab; tetapi, masalahnya adalah mengapa Tuhan membiarkan itu terjadi. Tuhan yang mahakuasa seharusnya bisa mencegah hal itu. Dengan demikian, ada orang yang beranggapan bahwa terjadinya bencana atau malapetaka membuktikan tidak adanya Tuhan.

Sekalipun kita percaya bahwa Tuhan itu ada, pergumulan hidup diatas  bisa menimbulkan berbagai keraguan:

  1. Apakah Tuhan itu mahakasih tetapi tidak mahakuasa?
  2. Apakah Tuhan itu mahakuasa tetapi tidak mahakasih?
  3. Apakah Tuhan itu mahakuasa dan mahakasih tetapi tidak mahaadil?
  4. Apakah Tuhan sekarang ini sudah mengabaikan ciptaanNya?

Karena adanya dosa, dunia yang diciptakan Tuhan sudah menjadi dunia yang harus kita diami dengan menghadapi berbagai masalah. Bencana alam sering terjadi sebagai bagian dinamika alam semesta. Tetapi, bagi Tuhan yang mahakasih, penderitaan manusia bukan sesuatu yang disenangiNya. Jika seluruh jagad raya dapat tetap berjalan seperti yang seharusnya dan tidak hancur berantakan, pastilah itu karena adanya pemeliharaan dan kasih Tuhan. Dengan demikian, Tuhan yang selalu menjagai seluruh ciptaanNya adalah Tuhan yang hidup, yang mahakuasa, mahakasih dan mahaadil.

Malapetaka bisa terjadi karena dosa dan kesalahan manusia yang kurang bisa mengantisipasi kemungkinan datangnya hal-hal itu. Dalam dunia manusia bisa memilih prioritas hidup, tetapi mereka yang hidup sesuai dengan kehendakNya, akan bekerja dengan sebaik-baiknya untuk mengatasi tantangan hidup, baik yang ada sekarang, maupun yang bisa terjadi di masa depan.

Walau hal-hal yang jahat bisa terjadi di dunia, Tuhan tetap mencintai  anak-anakNya dan tidak membiarkan malapetaka datang atas mereka tanpa alasan. Tuhan jugalah yang mau memberi mereka ketabahan. Adanya bencana justru seharusnya membuat manusia makin sadar bahwa segala sesuatu terjadi sesuai dengan rencana Tuhan.

Tuhan yang menciptakan taman Firdaus dulu, tidak  pernah berubah  sifatnya.  Namun kadangkala Ia mengizinkan kita mendapat pelajaran dari pengalaman kita, barangkali agar kita bisa lebih menurut kepada pimpinanNya dan tidak mengandalkan pikiran dan pilihan kita sendiri. Mungkin juga Tuhan memakai kejadian seperti itu untuk menggerakkan anak-anakNya untuk lebih bijaksana dalam hal menggunakan berkat-berkatNya yang sudah ada, dan lebih bisa untuk mengasihi mereka yang lagi menderita.

Pagi ini, kita tahu mengapa ada bencana di bumi, tetapi tidak ada seorangpun yang tahu dengan pasti apa maksud Tuhan jika hal-hal yang buruk terjadi pada hidup anak-anakNya. Jalan pikiranNya tidak terjangkau manusia dan rencanaNya tidak dibatasi oleh waktu. Hanya satu hal yang kita tahu, rencana Tuhan pasti terjadi pada waktunya dan maksud Tuhan adalah selalu baik untuk umatNya. Tuhan kita adalah Tuhan yang mahakuasa, mahakasih dan mahabijaksana!

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Roma 8: 28

Hal hutang menghutangi

“Janganlah kamu berhutang apa-apa kepada siapapun juga, tetapi hendaklah kamu saling mengasihi. Sebab barangsiapa mengasihi sesamanya manusia, ia sudah memenuhi hukum Taurat”. Roma 13: 8

Dalam kehidupan sehari-hari, hubungan antar manusia dalam hal keuangan selalu bisa dilihat. Jual-beli di pasar, transaksi bank ataupun kegiatan perdagangan selalu membutuhkan mata uang. Bagaimana pula dengan hal pinjam-meminjam? Bolehkah orang Kristen berhutang uang?

Memang soal pinjam meminjam adalah bagian kehidupan manusia. Bukan saja ada hutang perseorangan, tetapi ada juga hutang perusahaan dan hutang negara. Berhutang kadang-kadang perlu untuk bisa mencapai tujuan baik, tetapi jika ada salah perhitungan, adanya hutang bisa mendatangkan berbagai kesulitan dan persengketaan di masa depan.

Dalam Perjanjian Lama, hal berhutang sering dibicarakan. Alkitab secara umum tidak melarang kita dalam kegiatan hutang menghutangi, tetapi mengajarkan agar kita saling mengasihi, saling memberi. Jika hal hutang-piutang bisa membawa masalah, hal dikasihi dan mengasihi selalu akan membawa kebaikan.

Adanya rasa kasih antar umat Kristen dalam hubungan sosial juga memungkinkan timbulnya rasa empati, yang memungkinkan seseorang untuk bisa menempatkan diri kedalam situasi yang dialami orang lain. Rasa sepenanggungan ini memungkinkan seseorang untuk bisa mempunyai kepekaan atas penderitaan dan kebutuhan orang lain, dan dengan demikian bisa menyatakan kasihnya kepada orang itu.

“Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis!” Roma 12: 15

Rasa empati jelas lebih baik dari rasa simpati, yang hanya merupakan pernyataan belas kasihan kepada orang lain.

Dalam hidup manusia, hal memberi dan menerima, give and take, memang lumrah. Walaupun begitu, untuk orang Kristen, memberi dengan kasih adalah lebih baik dari menerima. Itu karena Tuhan sudah lebih dulu mengasihi kita dengan mengurbankan AnakNya. Tambahan lagi, rasul Paulus pernah menyatakan bahwa tugas orang Kristen adalah membantu mereka yang lemah.

“Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu, bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah dan harus mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan: Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima.” Kisah Para Rasul 20: 35

Berhutang budi dan menanam budi, dengan demikian adalah baik. Sebagaimana Tuhan sudah mengasihi kita dengan mengirimkan anakNya yang tunggal untuk menebus dosa kita, kita wajib mengasihi orang lain dengan memberi apa yang terbaik untuk mereka – yang belum tentu uang- dan itu bukannya sekedar menghutangi.

Dalam kenyataan hidup, ada orang-orang yang sulit untuk mengasihi dan kurang tertarik untuk menanam budi. Mereka mungkin mau memberi atau berbuat kebaikan hanya jika ada hasilnya. Jika memberi bantuan untuk sesama sering dikaitkan dengan mendapat laba atau keuntungan, memberi sesuatu kepada Tuhan pun selalu dengan pengharapan untuk mendapatkan pembalasan yang berlipat ganda dari Tuhan. Mereka yang mempunyai prinsip hidup seperti ini, tidak lain adalah orang yang percaya bahwa mereka bisa menghutangi Tuhan semesta alam yang sudah memberkati hidup mereka dengan berbagai hal.

Mereka yang sulit untuk menerima bantuan orang lain juga ada. Bagi mereka, rasa malu atau angkuh bisa menyebabkan mereka untuk tidak mau berhutang budi kepada orang lain. Sebagian mungkin mencurigai adanya “udang di balik batu”. Menolak kasih orang lain karena adanya pengalaman pahit di masa lalu bukanlah hal yang jarang. Begitu juga orang yang menolak uluran tangan kasih Tuhan karena adanya kepahitan hidup di masa lalu, atau karena kekuatiran bahwa mereka tidak akan mampu membalas kasih Tuhan dengan hidup menurut firmanNya.

Pagi ini kita belajar dari firman Tuhan bahwa dunia ini sudah dikuasai oleh prinsip hutang menghutangi, dan melupakan bahwa apa yang benar adalah prinsip kasih mengasihi. Jika prinsip dunia saat ini adalah dilandaskan kepentingan pribadi, prinsip surgawi adalah berdasarkan kasih kepada Tuhan dan sesama manusia. Yesus datang untuk membayar hutang yang tidak dimilikinya, karena kita memiliki hutang yang tidak dapat kita bayar. Bagaimana pula dengan sambutan kita?

Hal menempatkan diri

“Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini.” Lukas 18: 13

Di dunia ini ada berbagai manusia dan sifatnya. Ada orang yang sabar, tetapi ada juga yang mudah naik darah. Ada yang rendah hati, ada juga yang sombong. Tidak ada manusia yang sama, dan mungkin saja latar belakang, pendidikan, dan status mereka mempengaruhi tingkah laku dan kebiasaan mereka. Walaupun demikian, segala sifat, sikap dan tingkah laku yang bisa dilihat juga dipengaruhi oleh keadaan disekitarnya. Manusia bisa menempatkan dirinya untuk menyesuaikan diri dengan keadaan disekitarnya, dan dengan siapa ia berkomunikasi. Manusia yang bijak, selalu tahu diri dan mawas diri.

Dalam hubungannya dengan Tuhan yang mahakuasa, semua manusia adalah seperti tanah liat ditangan penjunan. Tanah liat yang tidak berharga, bisa dibentuk menjadi bejana yang indah hanya karena tangan pembuat periuk.

“Tetapi sekarang, ya TUHAN, Engkaulah Bapa kami! Kamilah tanah liat dan Engkaulah yang membentuk kami, dan kami sekalian adalah buatan tangan-Mu.” Yesaya 64: 8

Karena itu, manusia yang bijaksana akan sadar bahwa ia tidak dapat menempatkan dirinya sederajat dengan Penciptanya. Kesalahan yang diperbuat oleh Adam dan Hawa di taman Firdaus, tidaklah perlu diulangi lagi. Manusia yang sadar akan kebesaran Tuhan, akan selalu merendahkan dirinya di hadapan Tuhan Sang Pencipta, dan tidak juga menyombongkan diri di depan sesamanya.

Pada pihak yang lain, banyak orang yang tidak tahu bagaimana kedudukan mereka. Seperti seorang Farisi yang digambarkan Yesus, mereka merasa lebih baik dari orang lain.

Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku.” Lukas 18: 11 – 12

Dalam kehidupan gereja, kita mungkin melihat adanya orang-orang yang tinggi hati karena merasa bahwa mereka mempunyai hubungan yang istimewa dengan Tuhan, mempunyai karunia khusus dari Tuhan, atau kedudukan penting dalam organisasi. Ada juga yang merasa bahwa mereka saja yang mempunyai cara ibadah yang benar. Itulah kesombongan manusia.

Di hadapan Tuhan, semua umat manusia adalah sama, mereka adalah tanah liat. Karena itu, baik memuja atau merendahkan orang lain adalah keliru. Hanya Tuhan yang patut dipuja dan dikagumi. Sebagai manusia, kita semua adalah orang berdosa.

Sangat mudah kita melihat kesombongan orang lain. Tetapi, jika kita tidak mau merendahkan diri di hadapan Tuhan, itu juga berarti sebuah kesombongan. Pemungut cukai dalam perumpamaan diatas bukan saja sadar bahwa Tuhan adalah mahakuasa, ia juga tahu bahwa Tuhan adalah mahasuci. Karena itu ia tidak menganggap dirinya layak untuk menemui Tuhan di bait Allah. Ia berdiri jauh-jauh, tidak berani menengadah ke langit, dan meminta ampun akan segala dosanya.

Pagi ini, biarlah kita merenungkan bagaimana kita menempatkan diri kita di hadapan Tuhan. Apakah kita sering merasa bahwa Tuhan adalah oknum yang harus selalu mendengar doa kita dan memenuhi keinginan kita? Ataukah Dia Tuhan yang kita sembah dan muliakan sebagai Tuhan yang mahakuasa dan mahasuci? Kita harus bersyukur bahwa karena Yesus kita bisa memanggil Dia sebagai Bapa, tetapi itu bukan berarti bahwa kita tidak perlu menempatkan diri secara benar seperti si pemungut cukai di hadapan hadiratNya.

Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.” Lukas 18: 14

Aku membutuhkan Tuhan dalam hidupku

Kata Filipus kepada-Nya: “Tuhan, tunjukkanlah Bapa itu kepada kami, itu sudah cukup bagi kami.” Yohanes 14: 8

Apabila Tuhan adalah satu-satunya yang anda punyai, Tuhan adalah satu-satunya yang anda butuhkan. If God is all you have, you have all you need. Begitulah bunyi sebuah ungkapan yang cukup terkenal. Ungkapan ini rupanya berdasarkan ayat diatas.

Pada waktu itu, Tuhan Yesus menjelaskan kepada murid-muridnya bahwa Ia akan pergi meninggalkan mereka untuk menjumpai BapaNya yang mempunyai banyak tempat kediaman. Ia menghibur murid-muridNya dan berkata bahwa kemana Ia pergi, murid-muridNya akan kesana juga.

Kemana Yesus akan pergi? Tomas tidak tahu, dan karena itu bertanya bagamana mereka bisa kesana jika mereka tidak tahu kemana Yesus pergi. Yesus kemudian menjawab bahwa Ia akan pergi menjumpai BapaNya; dan hanya melalui Dia, manusia bisa menjumpai Bapa. Dengan jawaban Yesus itu, Filipus meminta agar Yesus menunjukkan Bapa itu, karena jika ia kenal Bapa, itu sudah cukup baginya. Apabila Tuhan adalah satu-satunya yang Filipus punyai, Tuhan adalah satu-satunya yang dibutuhkannya.

Jika Tuhan adalah satu-satunya yang kita miliki, itu mungkin diartikan oleh sebagian orang bahwa kita adalah orang yang miskin dan malang. Jika kita tidak mempunyai rumah, harta, karir, kesuksesan, kesehatan, keluarga dan segala yang dianggap kenikmatan di dunia ini, kita mungkin dianggap sebagai orang-orang yang tidak diberkati. Itu pendapat dunia. Sebaliknya, bisa kita lihat bahwa mereka yang mempunyai berbagai hal dalam hidup mereka, justru sering adalah orang-orang yang selalu merasa kurang puas atau tidak bahagia dalam hidup mereka. Hati mereka tidak terisi denganTuhan saja, tetapi juga dengan berbagai hal duniawi. Karena itu, mereka tidak pernah mengenal rasa cukup dalam hidup.

Di kalangan gereja pun, banyak yang percaya bahwa kita tidak dapat hidup dengan Tuhan saja. Kita harus bisa memperoleh kelimpahan dan kesuksesan dari Tuhan, begitu kata mereka. Padahal, Alkitab mengatakan bahwa kita tidak bisa berbahagia karena hal-hal duniawi.

Pada suatu ketika, Tuhan Yesus dibawa oleh Roh ke padang gurun untuk dicobai Iblis. Dan setelah berpuasa empat puluh hari dan empat puluh malam, akhirnya Yesus merasa sangat lapar. Lalu datanglah si pencoba itu dan berkata kepada-Nya: “Jika Engkau Anak Allah, perintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti.” Apa jawab Yesus?

“Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.” Matius 4: 4

Walaupun Yesus lapar, Ia tahu bahwa selama komunikasi dengan Allah tetap ada, hidupNya akan tetap terlindungi dan rasa bahagia tetap ada.

Adalah kekeliruan besar jika manusia merasa bahwa hidupnya bergantung kepada berkat Tuhan, dan bukannya kepada Tuhan. Adalah suatu dosa jika kita berkata bahwa kita tidak dapat hidup tanpa berkat Tuhan. Yang benar adalah kita tidak dapat hidup tanpa Tuhan. Hidup kita bergantung kepada Tuhan, bukan kepada apa yang diberikanNya. Kita memuji Tuhan, bukan memuji berkatNya.

Kita bisa hidup tanpa segala kekayaan dan kenikmatan, jika kita hidup didalam Tuhan yang tahu dan mau memberikan apa yang terbaik untuk kita. Tuhan jauh lebih besar daripada apa yang kita lihat dan kita terima. Karena itu motivasi utama kita dalam berbakti kepada Tuhan adalah untuk bisa dekat denganNya, dan bukan untuk memperoleh berkatNya.

Pagi ini, adakah yang anda sangat butuhkan dan rindukan? Mungkin ada sesuatu yang terasa sebagai kebutuhan yang harus ada dalam hidup anda saat ini. Anda mungkin merasakan tekanan hidup dan sangat menderita karena tidak adanya hal-hal itu. Tetapi, apakah anda tetap memiliki Tuhan dalam hidup ini? Jika benar begitu, anda mungkin seperti Filipus yang percaya jika ia bisa melihat adanya Tuhan, itu sudah cukup baginya.

Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah. Mazmur 42: 1

Buat apa peduli atas hidup orang lain?

“Saudara-saudara, kalaupun seorang kedapatan melakukan suatu pelanggaran, maka kamu yang rohani, harus memimpin orang itu ke jalan yang benar dalam roh lemah lembut, sambil menjaga dirimu sendiri, supaya kamu juga jangan kena pencobaan.” Galatia 6: 1

Di Indonesia istilah EGP (Emangnya Gue Peduli) adalah istilah yang sangat populer, yang dipakai untuk menyatakan bahwa orang yang mengucapkannya tidak mau memikirkan hal atau isu yang dibicarakan. Dalam bahasa Inggris, istilah “do I care” juga mengandung arti dan nada yang serupa. Walaupun istilah EGP seringkali ditulis dengan setengah bercanda, jika dipakai untuk mengomentari kesulitan yang dialami seseorang, nadanya terdengar sinis dan egois.

Sebenarnya sikap yang bernada EGP itu sering dipakai orang dalam hidup sehari-hari di Australia. Jika orang berjumpa dengan teman sekantor di pagi hari, mungkin mereka saling menyapa dengan “how are you” yang artinya “apa kabar”. Tetapi, dengan mengucapkan sapaan itu, sebenarnya mereka tidak mengharapkan untuk mendapat jawaban. Memang di zaman ini, orang tidak peduli atas apa yang terjadi pada orang lain, dan sapaan semacam itu hanya untuk sopan santun saja.

Ada banyak orang yang berpendapat bahwa sebagai manusia yang ingin hidup tenteram, sebaiknya mereka tidak melihat, mendengar atau membuat komentar apa-apa atas apa yang terjadi di sekelilingnya. Jika ada hal-hal yang tidak baik yang terjadi, lebih baik tidak ikut campur. See no evil, hear no evil, say no evil. Jika orang tidak usil, tidak mencampuri urusan orang lain, hidupnya akan terasa damai. Ignorance is bliss. Memang jarang orang yang mau menolong orang lain, persis seperti yang diungkapkan dalam perumpamaan orang Samaria yang baik hati (Lukas 10: 30 – 37).

Semua ketidakpedulian seperti diatas bukanlah sikap yang patut ditiru; tambahan lagi, ajaran dunia untuk “mind your own business” dalam hal-hal tertentu bisa bertentangan dengan prinsip kasih orang Kristen. Paulus menulis kepada jemaat di Galatia, bahwa sebagai orang percaya kita harus peduli atas apa yang terjadi pada orang lain dan mempunyai rasa empati dan simpati. Tidak hanya jika kita melihat orang yang menderita secara jamani, jika kita menjumpai orang yang sakit rohaninya, maka kita harus mau memimpin orang itu ke jalan yang benar dengan lemah lembut, sambil menjaga diri sendiri, supaya kita sendiri jangan kena pencobaan. Sikap EGP atas kerohanian orang lain bukanlah sikap orang Kristen yang baik, dan sikap peduli kepada orang lain bukan hanya tugas para pendeta.

Pagi ini, firman Tuhan mengingatkan kita bahwa jika kita tidak peduli atas cara hidup orang lain, kita secara tidak langsung membiarkan mereka jatuh dalam kesulitan atau hidup dalam dosa. Dapatkah kita melaksanakan hukum kasih selagi kita tidak peduli akan keadaan orang lain? Sudah tentu itu tidak mungkin. Yesus berkata bahwa hukum kasih yang kedua yang harus kita lakukan selagi kita hidup adalah untuk mengasihi sesama kita seperti kita mengasihi diri kita sendiri, dan dengan demikian kita harus selalu peduli akan keadaan orang lain dengan maksud untuk menolong mereka.

“Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman.” Galatia 6: 10

Isi lebih penting dari bungkus

“Tetapi orang Yahudi sejati ialah dia yang tidak nampak keyahudiannya dan sunat ialah sunat di dalam hati, secara rohani, bukan secara hurufiah. Maka pujian baginya datang bukan dari manusia, melainkan dari Allah.” Roma 2: 29

Di zaman ini, jika saya pergi ke shopping centre selalu ada saja produk baru yang kelihatannya menarik perhatian. Dari bungkusnya saja, saya sering bisa menduga berapa harganya. Produk yang harganya mahal pasti punya bungkus atau kotak yang didesain sedemikian rupa, sehingga orang yang melihatnya lebih tertarik untuk membeli.

Walaupun begitu, untuk sebagian orang isi lebih penting dari bungkus; dan kualitas tentunya lebih disenangi daripada penampilan. Memang, ada produk yang terlihat bagus bungkusnya, tetapi isinya mengecewakan. Tambahan pula, harga bungkus itu sudah pasti termasuk dalam harga yang harus dibayar pembeli. Rasa sayang sering muncul kalau akhirnya bungkus yang indah itu harus dibuang ke tempat sampah.

Dalam hidup beragamapun, ada orang-orang yang lebih mementingkan bungkus daripada isi. Pada saat itu Paulus melihat bahwa orang Kristen di Roma mulai menonjolkan hal-hal yang berbau Yahudi, seperti hal mengikuti hukum Taurat dan kebiasaan Yahudi. Ia menegur jemaat Roma dengan menjelaskan bahwa semua yang nampak dari luar itu tidaklah penting. Apa yang penting adalah yang ada dalam hidup mereka sehari-hari.

Hukum Taurat yang berat itu, memang dalam pelaksanaannya sering membuat orang mencari jalan untuk bisa melanggarnya secara “halus”, yaitu melalui apa yang diperbolehkan menurut pikiran dan keputusan para pemimpin agama. Mereka terpaksa untuk memakai siasat “pilih-pilih” atau “pick and choose” untuk mencari cara gampangnya. Itulah sebabnya mengapa Paulus ,yang sebenarnya adalah orang Farisi yang mengenal seluk-beluk hukum Taurat dan kebiasaan orang Yahudi, mengatakan bahwa mereka yang bersikeras untuk menerapkan hukum Taurat tetapi melanggarnya adalah lebih buruk dari mereka yang hidup dalam kebenaran walaupun tidak mengenal hukum Taurat.

“Apabila bangsa-bangsa lain yang tidak memiliki hukum Taurat oleh dorongan diri sendiri melakukan apa yang dituntut hukum Taurat, maka, walaupun mereka tidak memiliki hukum Taurat, mereka menjadi hukum Taurat bagi diri mereka sendiri.” Roma 2: 14

Bagaimana orang percaya bisa berjalan dalam kebenaran tanpa memiliki hukum Taurat? Bagaimana mereka bisa menjadi orang Kristen sejati tanpa melalui hukum Taurat dan adat istiadat orang Yahudi? Yesus pernah berkata bahwa Ia tidak meniadakan hukum Taurat, tetapi menggenapinya. Ia menjelaskan bahwa seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi dapat diringkas menjadi hukum kasih (Matius 22: 47 – 40).

Pagi ini, jika kita meneliti hidup kita, biarlah Firman Tuhan bisa menyentuh hati kita. Bahwa bukannya kebiasaan dan ritual agama yang membuat kita menjadi orang Kristen sejati, karena apa yang kita pikir dan lakukan dalam hidup sehari-harilah yang lebih penting. Seperti bungkus tidak menentukan isi, begitu juga isi hidup kitalah yang lebih penting di hadapan Tuhan. Yesus sudah membayar hidup kita dengan harga termahal, dan pengurbananNya bukanlah agar kita mempunyai penampilan yang baik menurut hukum Taurat, tetapi agar kita memiliki hidup baru didalam Dia.

Siapa yang mengerti kesedihanku?

“Janganlah jauh dari padaku, sebab kesusahan telah dekat, dan tidak ada yang menolong.” Mazmur 22: 11

Alkisah ada dua orang gadis yang sudah sejak lama berteman, dan merasa bahwa mereka bisa saling mengerti. Sebagai dua sahabat kental mereka saling mengenal apa yang disukai dan dibenci oleh sahabatnya. Mereka sering pergi bertamasya bersama, menikmati perjalanan sambil beryukur bahwa mereka mempunyai seorang sahabat yang bisa dipercaya.

Pada suatu hari, berita yang tidak terduga datang, bahwa gadis yang satu tiba-tiba meninggal dunia. Apa sebabnya, tidak ada yang tahu. Namun, sudah tentu kejadian ini diluar dugaan siapapun. Orang yang masih muda, secara mengejutkan dan tanpa menunjukkan gejala sakit, bisa secara mendadak kehilangan hidupnya.

Bagi gadis yang lain, berita ini adalah berita yang sangat buruk. Ia merasa bahwa bagian hidupnya ikut hilang lenyap bersama hilangnya seorang sahabat. Apa salah sahabatku, sehingga ia harus mati dalam usia muda? Mengapa harus dia dan bukan aku? Mengapa Tuhan membiarkan hal ini terjadi? Apakah Tuhan benar-benar ada? Jika Tuhan memang ada, mengapa Ia tidak bisa menolong?

Perasaan kesepian atau loneliness memang bisa timbul jika hidup kita mengalami badai. Bukan saja kesepian itu karena tidak adanya orang yang mengerti persoalan kita, tetapi juga karena kita merasa bahwa kita harus menghadapi badai itu seorang diri. Penulis Mazmur menulis ayat diatas ketika ia merasa bahwa Tuhan sudah mengecewakannya. Ia menjerit seperti Yesus sewaktu disalibkan: “Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku?” Pemazmur berseru, tetapi Tuhan serasa tetap jauh dan tidak menolongnya (Mazmur 22: 1).

Pagi ini kita melihat bahwa perasaan lonely itu adalah wajar jika timbul dari dalam hidup kita. Pemazmur dan Yesus pun mengalaminya. Tidak ada hal yang salah jika kita merasa sedih karena ditinggalkan orang yang kita kasihi, atau mengalami kesulitan hidup yang besar baik dalam hal kesehatan, pekerjaan, keuangan dan keluarga. Semua itu adalah bagian kehidupan di dunia. Baik orang Kristen maupun orang yang belum percaya bisa mengalaminya.

Walaupun demikian, perbedaan yang jelas terlihat dalam Mazmur diatas adalah bahwa pemazmur sebenarnya masih yakin bahwa Tuhan itu ada dan mau mendengar doanya. Karena itu, seperti Yesus di kayu salib, pemazmur menjerit kepada Tuhan; dan ia memohon agar Tuhan tetap menyertainya.

“Tetapi Engkau, TUHAN, janganlah jauh; ya kekuatanku, segeralah menolong aku!” Mazmur 22: 19

Apakah kesulitan yang anda alami saat ini sangat besar? Tidak adakah orang yang bisa menolong anda? Jika demikian, anda bukanlah orang satu-satunya yang mengalaminya. Yesus yang pernah merasakan penderitaan di kayu salib, adalah Tuhan yang mengerti apa yang anda derita dan rasakan. Ia jugalah yang mau mendengar seruan anda dan mampu menolong anda.

“Sebab Ia tidak memandang hina ataupun merasa jijik kesengsaraan orang yang tertindas, dan Ia tidak menyembunyikan wajah-Nya kepada orang itu, dan Ia mendengar ketika orang itu berteriak minta tolong kepada-Nya.” Mazmur 22: 24

Adakah persiapan kita?

“Setiap orang yang menaruh pengharapan itu kepada-Nya, menyucikan diri sama seperti Dia yang adalah suci.” 1 Yohanes 3: 3

Tahukah anda bahwa Prince Harry dan Meghan Markle, The Duke and Duchess of Sussex, akan melakukan tour luar negeri pertama ke Australia pada bulan Oktober tahun ini? Persiapan yang dilakukan Australia untuk menyambut kedatangan mereka di Sydney, Dubbo, Melbourne dan Fraser Island sudah dimulai. Mereka yang tinggal ditempat-tempat itu sangat bersemangat untuk memberikan acara welcome yang sebaik-baiknya karena mereka adalah anggota keluarga Ratu Inggris yang juga Ratu Australia.

Persiapan untuk kunjungan orang penting biasa dilakukan di kota besar seperti Sydney dan Melbourne, tetapi bagi kota kecil Dubbo yang berpenduduk sekitar 55 ribu orang, ini adalah sesuatu yang luar biasa. Karena itu,tentunya beberapa fasilitas yang akan dipakai atau dilihat para tamu agung ini tentunya harus dibersihkan atau diperbaiki sebelum mereka datang. Tidak adanya persiapan yang baik akan menunjukkan bahwa Dubbo tidak benar-benar menghargai kunjungan mereka yang sudah memilihnya diantara kota-kota lain yang lebih megah di Australia.

Bagi orang Kristen, kenyataan bahwa mereka sudah dipilih oleh Tuhan mungkin tidak terlalu sering diberitakan. Namun kita harus mengerti bahwa kita menjadi anak-anak Tuhan bukan karena kita yang memilih Dia, tetapi karena Dia yang sudah memilih kita. Tidak ada alasan lain bagi Tuhan untuk memilih manusia berdosa seperti kita untuk diselamatkan, kecuali karena kasihNya yang juga menjadikan kita orang-orang yang berkecukupan dalam segala hal yang baik.

“Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu.” Yohanes 15: 16

Sayang sekali, banyak orang yang merasa bahwa mereka sudah diselamatkan, merasa bahwa menerima keselamatan dari Tuhan adalah karena melakukan hal-hal yang baik. Dari dulu memang manusia cenderung untuk berusaha untuk mencapai surga dengan mengikuti berbagai ritual agama. Pada pihak yang lain, setelah memenuhi persyaratan agama, mereka cenderung untuk menjalani hidup mereka seperti biasa, dan tidak merasakan perlunya adanya kelahiran baru yang sebenarnya.

Percakapan Yesus dengan Nikodemus, orang Farisi yang taat kepada hukum Torat, menunjukkan bahwa manusia sering merasa bahwa mereka sudah memenuhi syarat untuk mencapai keselamatan melalui hukum agama, dan bukannya anugerah Tuhan. Mereka merasa bahwa hidup mereka sudah dibenarkan sekalipun mereka belum berubah dari dalam. Memang, hidup baru atau lahir baru hanya dimungkinkan melalui darah Yesus yang membawa pengampunan dosa dan Roh Kudus yang memimpin hidup umat Tuhan hari demi hari.

Yesus menjawab, kata-Nya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah.” Yohanes 3: 3

Manusia zaman now juga sering yang menunjukkan gejala sindrom Nikodemus, yaitu hidup dengan “ayem-tentrem” karena merasa bahwa mereka sudah menjadi orang percaya; dengan membaca Alkitab dan pergi ke gereja. Mereka tidak sadar bahwa mereka yang benar-benar sudah mengikut Yesus tentu akan membuat persiapan dan mengalami perubahan hidup. Dari hidup lama yang mementingkan diri sendiri, menjadi hidup baru yang penuh kasih dan menjauhkan diri dari dosa. Mereka akan berusaha untuk hidup suci, karena Yesus adalah suci.

Orang yang benar-benar percaya kepada Kristus adalah orang yang menantikan perjumpaan dengan Sang Juruselamat. Karena itu tidak mungkin baginya untuk tidak mempersiapkan dirinya dengan sebaik-baiknya. Orang Kristen yang tetap membiarkan hidupnya berjalan seperti biasa, yang tidak mau dipimpin Roh Kudus untuk disucikan, mungkin adalah orang-orang yang belum mengenal Kristus seperti halnya Nikodemus.

“Anak-anakku, janganlah membiarkan seorangpun menyesatkan kamu. Barangsiapa yang berbuat kebenaran adalah benar, sama seperti Kristus adalah benar; barangsiapa yang tetap berbuat dosa, berasal dari Iblis, sebab Iblis berbuat dosa dari mulanya. Untuk inilah Anak Allah menyatakan diri-Nya, yaitu supaya Ia membinasakan perbuatan-perbuatan Iblis itu.” 1 Yohanes 3: 7