Tetap memuji Tuhan dalam segala keadaan

“Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang, namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku. ALLAH Tuhanku itu kekuatanku: Ia membuat kakiku seperti kaki rusa, Ia membiarkan aku berjejak di bukit-bukitku.” Habakuk 3: 17 – 19

Kebahagiaan adalah sesuatu yang sebenarnya diingini semua orang. Tetapi, kebahagiaan adalah sesuatu yang sulit didapat. Seorang anak kecil jika ditanya tentang apa yang dicita-citakannya mungkin menjawab dengan salah satu pilihan diantara profesi yang membawa kekayaan, kepandaian dan kemasyhuran. Dengan kesuksesan dalam hidup, banyak orang mengharapkan adanya kepuasan dan kebahagiaan. Dengan adanya pandemi Covid-19, pandangan seperti ini mulai goncang. Tentunya orang lebih berharap agar ia dapat melalui masa sulit ini dengan selamat daripada memikirkan kesuksesan. Nyawa lebih penting daripada harta. Walaupun demikian, orang tetap ingin berbahagia. Mungkinkah?

Bagaimana kita bisa tetap berbahagia dalam keadaan saat ini? Kebahagiaan tidak datang dengan sendirinya, tetapi memerlukan keputusan pribadi. Kebahagiaan tidak datang dari luar, tetapi dari dalam diri sendiri. Dari hati, bukan dari mata. Karena mata sering melihat segala apa yang berkilau dan mengira bahwa semuanya adalah emas permata, tetapi pada akhirnya hanya kehampaan yang ditemui. Karena mata juga sering melihat adanya penderitaan, kekurangan, kesepian, kekecewaan, kegagalan dan ketakutan; dan semuanya membuat hidup ini terasa sangat berat. Tetapi hati bisa melihat sesuatu yang tidak terlihat oleh mata manusia: Tuhan.

Hati yang berduka adalah penyebab hilangnya kebahagiaan dalam hidup. Bagi mereka yang tidak mengenal Tuhan, hati yang kosong membuat usaha mencari kebahagiaan menjadi sia-sia. Jika Tuhan tidak ada dan manusia tidak dapat dipercaya, siapa lagi yang bisa diharapkan? Bagi mereka yang tahu adanya Tuhan tetapi tidak mengenal-Nya, bagaimana mereka bisa mengutarakan keluh kesah yang ada? Apakah Tuhan benar-benar mengasihi mereka? Akankah Dia akan berbuat sesuatu untuk mereka?

Nabi Habakuk dalam ayat di atas melukiskan pergumulan dalam hidup orang Israel. Mata Habakuk melihat bagaimana orang Israel harus berjuang dalam hidup untuk mencukupi kehidupan dan untuk tetap survive dalam suasana yang berbahaya. Bangsa Israel pada waktu itu (sekitar abad VII sebelum Masehi) berada dalam ancaman bangsa-bangsa lain dan hidup dalam kekurangan. Tetapi Habakuk mempunyai keyakinan bahwa kebahagiaan masih bisa diperoleh melalui iman kepada Tuhan. Happiness is the Lord. Tuhan adalah sumber kebahagiaan (baca Mazmur 37).

Di manakah engkau, Tuhan? Aku mencari dan tidak melihat-Nya, aku menjerit tetapi Ia tidak menjawab! Itulah apa yang sering dikeluhkan manusia yang tahu bahwa Tuhan ada, tetapi tidak menemukan-Nya. Habakuk bukannya tidak pernah mempunyai perasaan yang serupa. Ia juga bergumul untuk dapat mengerti jalan pikiran Tuhan ketika ia dengan mata, melihat penderitaan di sekelilingnya. Tetapi dengan hati Habakuk mendapat keyakinan bahwa ia bisa mendapat ketenteraman melalui iman kepada Tuhan. Tuhan ada, dan apa yang harus dilakukannya hanyalah percaya kepada kasih dan kuasa-Nya. Kebahagiaan datang dari Tuhan, yang tidak membiarkan Habakuk jatuh terpeleset dari bukit penderitaan hidupnya.

Hari ini, mungkin dengan mata kita bisa melihat bahwa keadaan di sekeliling kita tidaklah bisa memberi harapan. Kesedihan, kekecewaan dan ketakutan mungkin membuat hidup kita sangat tertekan. Tetapi, karena Tuhan sudah memberi kita iman dalam hati kita, kita bisa menghadapi semua tantangan itu dengan memusatkan perhatian kita tidak dengan mata, tetapi dengan hati. Tuhan sudah menyertai kita dalam keadaan apa pun, dari dulu dan sampai sekarang. Ia juga yang tahu segala kebutuhan kita, baik dalam segi jasmani maupun rohani. Karena itu, seperti yang ditulis oleh rasul Paulus dalam Roma 8: 35, siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus di masa mendatang? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang? Jangan melihat ke hari depan dengan mata saja, karena dengan hati yang beriman kita bisa mendapatkan rasa sukacita yang sejati.

Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah! Filipi 4: 4

Tempat persembunyian dan perlindungan

Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti. Sebab itu kita tidak akan takut, sekalipun bumi berubah, sekalipun gunung-gunung goncang di dalam laut; sekalipun ribut dan berbuih airnya, sekalipun gunung-gunung goyang oleh geloranya. Mazmur 46: 1 – 3

Bacaan: Mazmur 119

Manusia manakah yang tidak pernah takut? Setiap manusia yang normal dan sehat pikirannya tentu pernah merasa takut. Rasa takut adalah mekanisme kehidupan yang membuat orang bisa mengatasi adanya bahaya, dan itu yang sering mendorong orang untuk berusaha membela diri, menyembunyikan diri atau lari dari bahaya. Walaupun demikian, keadaan sering kali membuat orang kehilangan harapan, karena mereka bisa melihat bahwa baik dengan melawan, bersembunyi ataupun melarikan diri, mereka tidak akan dapat melepaskan diri dari ancaman yang ada.

Sejarah menuliskan berbagai pengalaman manusia dalam menghadapi bahaya besar. Adanya kebakaran hutan (bushfire) di Eropa dan Amerika saat ini menunjukkan adanya orang-orang yang berani dengan mati-matian mempertahankan rumahnya dari serangan api, tetapi ada juga yang mengambil keputusan untuk melarikan diri. Mereka yang tidak mempunyai kemampuan untuk melawan serangan api dan terlambat untuk melarikan diri, terpaksa bersembunyi di tempat yang dirasa paling aman. Tragisnya, kebakaran yang demikian besar biasanya tidak memandang bulu dan orang yang bagaimanapun bisa menjadi korbannya.

Bagaimana jika kita dihadapkan kepada bahaya yang besar dalam hidup kita? Bagaimana perasaan kita jika kita melihat adanya banyak orang yang menjadi korban pademi dan kita pun mungkin mengalami hal yang serupa? Jika kita tidak mempunyai harapan apa pun untuk bisa menghindari hal itu, mungkin kita terpaksa untuk hidup dan bekerja seperti biasa tetapi dengan lebih berhati-hati dan menjaga diri. Tetapi, bagaimana pula jika kita tidak yakin bahwa kita akan bisa menjaga diri sepenuhnya? Mungkin kita memutuskan untuk sebisa mungkin tinggal di rumah dan tidak kemana-mana. Tetapi, ini pun belum tentu 100 persen aman karena setiap orang tentunya perlu membeli bahan makanan dan sebagainya.

Mazmur 119 adalah bab yang terpanjang dari Alkitab karena mempunyai 176 ayat. Penulis mazmur ini kurang diketahui, tetapi diduga Ezra, Daud atau Daniel. Tetapi yang jelas adalah penulisnya mengalami penderitaan atau masalah yang sangat besar. Seluruh ayat yang ada menunjukkan pergulatan jasmani maupun rohani yang dialaminya. Walaupun demikian, dalam setiap kesempatan si penulis menyatakan kerinduan dan pujian kepada Tuhan, sumber pengharapannya. Ia juga menyatakan bahwa dalam Tuhan ia bisa menemukan tempat persembunyian dan perlindungan.

“Engkaulah persembunyianku dan perisaiku; aku berharap kepada firman-Mu.” Mazmur 119: 114

Mazmur 119 jelas menunjukkan perbedaan antara orang yang memiliki (atau lebih tepat, dimiliki) Tuhan dengan orang lain yang tidak mengenal Tuhan dalam menghadapi masalah kehidupan. Adanya Tuhan dalam hidup seseorang membuat perspektif hidupnya berubah sama sekali. Beruntunglah orang yang mengalami masalah tetapi masih mempunyai harapan. Malanglah orang yang mengalami penderitaan dan tidak mendapat penghiburan.

Ayat pembukaan di atas menyatakan bahwa Tuhan itu bagi orang percaya adalah tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti. Sebab itu orang yang beriman tidak akan takut, sekalipun bumi berubah, sekalipun gunung-gunung goncang di dalam laut; sekalipun ribut dan berbuih airnya, sekalipun gunung-gunung goyang oleh geloranya. Itu karena Tuhan adalah Sang Pencipta yang berkuasa atas langit dan bumi dan segala isinya.

Hari ini, adakah rasa takut dan kuatir dalam diri anda? Adakah masalah yang besar yang seakan tidak akan dapat anda atasi atau hindari? Tuhan yang memiliki kita adalah Tuhan yang mahakuasa dan mahakasih. Ia mau mendengarkan doa kita dan sanggup memberi kita keteguhan hati dalam menghadapi semuanya. Kasih-Nya tidak pernah berubah dalam keadaan apa pun, dan kepada-Nya saja kita boleh berharap akan datangnya pertolongan, perlindungan dan penghiburan.

Satu-satunya yang bisa kita andalkan

“Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu.” Yohanes 14: 27

Pagi ini saya membaca artikel di media bahwa ada banyak orang yang tergolong muda sekarang ini terpapar Covid-19. Memang, gara-gara munculnya varian Delta, keadaan mulai berubah dengan adanya banyak negara yang sudah melonggarkan aturan pembatasan sosial sekarang mulai menerapkan lockdown lagi. Salah satu alasan untuk memperketat lockdown adalah kemungkinan meningkatnya angka penularan dalam masyarakat umum karena mereka yang muda tentunya lebih aktif dan mobil dalam kehidupan sehari-hari. Lebih dari itu, kenyataan menunjukkan bahwa mereka yang muda dan merasa sehat mungkin percaya bahwa mereka tidak perlu kuatir untuk tertular virus corona. Karena itu, sering kali timbulnya klaster-klaster Covid-19 adalah disebabkan oleh pesta, kerumunan dan perjalanan yang secara ilegal diadakan oleh kelompok ini.

Hidup di dunia ini sebenarnya penuh tantangan dan setiap orang mempunyai tanggung-jawab pribadi untuk menggunakan hidupnya dengan sebaik-baiknya. Apalagi, untuk orang Kristen hidup adalah untuk memuliakan Tuhan yang mahakuasa, dan bukan untuk mencari kepuasan atau kenyamanan pribadi. Sebaliknya, hidup yang nyata adalah hidup yang sering kali mengandung hal-hal yang tidak menyenangkan. Itu sebenarnya tidaklah mengherankan karena dunia ini adalah dunia yang sudah jatuh ke dalam dosa (Kejadian 3: 17 – 19).  Yang justru aneh ialah jika orang ingin melarikan diri dari kenyataan dan ingin untuk menikmati hidup tanpa mempedulikan adanya bahaya. Tidak hanya diri sendiri yang bisa dirugikan, tetapi juga keluarga, gereja, masyarakat dan negara.

Dalam menghadapi segala kesulitan hidup di saat ini kita tentu saja mudah menjadi takut. Kita sering gelisah dan gentar karena masa depan yang tidak menentu. Keadaan sosial, ekonomi, lingkungan dan hukum yang kita alami dalam hidup ini juga sering membuat kita menjadi kecil hati. Apa lagi yang bisa kita lakukan? Murid-murid Yesus mungkin merasakan hal yang serupa ketika mereka ditinggalkan Yesus. Tetapi Yesus yang pernah menjadi manusia tahu bahwa jika manusia harus berjuang sendirian, mereka akan merasa lemah karena sumber kekuatan mereka bukanlah diri mereka sendiri. Manusia memang sering tidak tahu bahwa sumber kehidupan mereka adalah Tuhan. Jika saja mereka mau belajar dari masalah kehidupan yang sudah lewat, mereka akan sadar bahwa Tuhan yang memegang kendali atas alam semesta akan memberi mereka kekuatan dan kedamaian dalam menghadapi masalah yang ada di saat ini.

Hari ini, ayat di atas mengingatkan kita bahwa Yesus sudah berjanji kepada murid-murid-Nya – dan itu termasuk kita – bahwa Ia akan memberikan damai sejahtera yang tidak serupa dengan apa yang ditawarkan dunia. Kenyamanan yang ditawarkan oleh dunia adalah bersifat sementara, sedang damai sejahtera yang diberikan Yesus adalah kekal. Apa yang nampak gampang, indah dan nikmat di dunia justru sering kali adalah fantasi yang membawa malapetaka, tetapi damai sejahtera yang dijanjikan Kristus seharusnya bisa membuat kita sadar bahwa kepada Tuhan kita boleh menyerahkan hidup kita sepenuhnya. Yesus tahu apa yang kita butuhkan, Ia jugalah yang akan memberi kita keberanian untuk menghadapi hidup ini agar kita bisa menjadi umat-Nya yang berguna untuk Dia dan sesama kita. Ialah satu-satunya yang bisa kita andalkan dalam hidup ini.

Hidup ini adalah kesempatan

“Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah. Jadi mana yang harus kupilih, aku tidak tahu. Aku didesak dari dua pihak: aku ingin pergi dan diam bersama-sama dengan Kristus itu memang jauh lebih baik; tetapi lebih perlu untuk tinggal di dunia ini karena kamu.” Filipi 1: 21-24

Pandemi yang sudah berlangsung hampir satu tahun di dunia ini sudah membuat membuat resah banyak orang. Jika tahun lalu kebanyakan korban COVID-19 adalah orang-orang yang sudah berumur atau mereka yang mempunyai penyakit bawaan, saat ini banyak orang yang masih muda dan bahkan anak-anak yang meninggal karena terpapar virus corona. Karena itu ada orang yang sadar bahwa mereka harus bersiap untuk menghadapi kemungkinan terburuk: kematian.

Barangkali, Paulus dalam menulis ayat di atas merasakan hal yang serupa bagi dirinya. Usia yang mulai melanjut dan tahanan rumah yang dialaminya tentunya membuat dia memikirkan apa yang mungkin terjadi di masa depan. Sebagai orang yang percaya kepada Tuhan dan yakin atas keselamatannya, Paulus tentu tidak sangsi kemana ia akan pergi pada akhir hidupnya. Ia akan ke surga. Dengan demikian, keadaan terburuk yang banyak dipikirkan orang lain yang mengalami pergumulan hidup, justru merupakan keadaan yang terbaik bagi Paulus. Kematian akan membawa dia ke perjumpaan dengan Kristus.

Paulus menulis bahwa mati adalah keuntungan. Mengapa demikian? Sebagai orang beriman, Paulus percaya bahwa karena imannya, ia sudah menerima keselamatan yang datang melalui darah Kristus. Tetapi, selama hidup di dunia, ia hanya bisa membayangkan keindahan surga. Hanya melalui kematian tubuh jasmaninya, ia akan menerima tubuh rohani yang abadi di surga. Membayangkan saat di mana ia bisa berjumpa muka dengan muka dengan Kristus, Paulus berkata bahwa ia akan merasa beruntung jika itu terjadi sekarang juga karena itu jauh lebih baik daripada hidup di dunia yang gelap ini.

Keyakinan bahwa hidup di surga itu lebih baik dari hidup di dunia barangkali dipunyai oleh setiap orang percaya. Memang orang percaya bahwa dalam Kristus ada kebangkitan yang memungkinkan mereka untuk hidup bersama Kristus untuk selamanya. Walaupun demikian, mungkin tidak ada orang Kristen yang memilih untuk mati secepatnya. Kebanyakan orang Kristen mungkin mengakui bahwa saat untuk meninggalkan dunia ini ditentukan oleh Tuhan; tetapi, mereka akan memilih hidup panjang di dunia jika itu mungkin.

Alkitab menyatakan hidup manusia itu seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap (Yakobus 4: 13-14). Kita tidak dapat memperpanjang hidup kita sedetik pun. Tetapi itu bukan berarti bahwa kita harus mengharapkan perjumpaan dengan Kristus untuk datang secepat mungkin. Mengapa demikian? Paulus menjelaskan bahwa sekalipun hidup di surga itu jauh lebih baik, ada perlunya untuk hidup di dunia untuk bekerja dan berbuah, yaitu untuk kemuliaan Tuhan. Dalam hal ini, apa yang harus kita kerjakan dalam masyarakat di sekitar kita selagi kesempatan masih ada?

Kita tentunya tahu bahwa Tuhan Yesus pernah menyatakan bahwa hukum yang terutama bagi orang Kristen adalah:

Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusi seperti dirimu sendiri. ” Matius 22: 37-39

Mereka yang siap untuk mati adalah orang-orang beriman yang percaya bahwa iman mereka tidak sia-sia. Mereka akan menyambut kematian dengan tanpa rasa takut karena mereka sudah siap untuk menjumpai Tuhan yang mereka kasihi dan ingin hidup dalam kemuliaan-Nya di surga. Tetapi, orang-orang yang benar imannya adalah orang yang juga percaya bahwa selama hidup di dunia, mereka harus berusaha sebisa mungkin untuk mengasihi sesamanya. Dalam hal ini, mungkin kita tidak mengalami kesulitan untuk mengasihi mereka yang seiman, sealiran, segereja atau serumah. Tetapi, lain halnya dengan mengasihi mereka yang berbeda latar belakangnya dengan kita. Apalagi, kita mungkin merasa sulit untuk mengasihi musuh-musuh kita walaupun Yesus sudah berfirman sedemikian.

“Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.” Matius 5: 43 – 44

Pagi ini, pertanyaan untuk kita adalah: “Apakah kita siap untuk mati?”. Apakah kita benar-benar siap untuk menjumpai Tuhan di surga? Jika kita memang siap untuk mati, itu berarti kita juga siap untuk hidup di dunia ini sebagaimana Tuhan menghendakinya. Kita harus tetap percaya, bahwa sekalipun keadaan saat ini kurang baik, kita harus tetap bersemangat untuk hidup guna melaksanakan perintah-Nya (Yakobus 4: 15).

“Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa.” Yakobus 4:17

Ujian adalah perlu untuk naik kelas

“Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun.” Yakobus 1: 2-4

Di zaman modern, pendidikan pada umumnya dianggap sebagai kunci untuk kesuksesan. Anak-anak dari kecil sudah diajarkan untuk mau giat belajar agar dapat memperoleh ijazah universitas supaya bisa memperoleh pekerjaan yang enak, yang menghasilkan banyak uang setelah lulus. Tetapi untuk dapat memasuki sebuah universitas yang baik dan lulus dengan hasil bagus, mereka tentunya harus mau bekerja keras untuk lulus ujian. Sekalipun kemungkinan tidak lulus ujian itu selalu ada, mereka yang tetap ulet dan bertahan, pada akhirnya akan berhasil dan bisa hidup berbahagia. Itu harapan manusia, tetapi kenyataan hidup bisa berbeda.

Satu hal yang sering tidak kita sadari sebelum terjadinya masalah kehidupan seperti yang kita alami saat ini ialah kenyataan bahwa manusia sebenarnya tidak memegang kemudi kapal kehidupan. Bagaimanapun manusia berusaha dan bekerja, kejadian-kejadian yang tidak diharapkan tetap bisa bermunculan pada setiap saat. Bagi mereka yang hidupnya kosong, datangnya kesulitan hidup akan dapat membawa kehancuran karena kepercayaan kepada diri sendiri akan tergoncang dan harapan masa depan menjadi suram. Pengertian tentang kebahagiaan yang mereka yakini sejak lama, sekarang menjadi tanda tanya besar.

Memang, menurut Alkitab hidup orang percaya tetap dihadapkan kepada berbagai tantangan dan kesulitan. Ini bukan pencobaan dalam arti godaan iblis untuk berbuat dosa. Tetapi, ini adalah segala masalah kehidupan yang harus kita hadapi. Kita boleh berbahagia dalam menghadapinya sebab kita tahu, bahwa dalam mengalami jatuh-bangun, ujian iman seperti itu menghasilkan ketekunan yang membentuk kita sebagai orang yang sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apa pun.

Bagi umat Kristen, kebahagiaan adalah karunia Tuhan. Semua hal yang baik adalah datang dari Tuhan. Kebahagiaan tidak dapat dicapai dengan usaha manusia. Sekalipun kesuksesan, kekayaan, keamanan dan kesehatan ada tersedia dalam hidup kita, kekosongan hati masih sering muncul. Malahan kita tahu bahwa banyak orang ternama yang mengakhiri hidup mereka secara tragis karena hidup yang berkekurangan dalam kemewahan. Hidup kosong yang tidak menyadari adanya Tuhan.

Hari ini kita diingatkan bahwa hidup kita akan berjalan tanpa kemudi jika kita tidak membiarkan Tuhan membimbing kita. Sebaliknya, menyerahkan hidup kita kepada-Nya akan memberi keyakinan bahwa apa pun yang terjadi dalam hidup ini, Tuhan akan membawa kita ke tempat yang baik. Keyakinan inilah yang memberi kita ketekunan dan kesabaran dalam menghadapi segala tantangan hidup, yang pada akhirnya akan memberi kebahagiaan sejati dalam rasa kecukupan pada setiap saat!

“TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang.” Mazmur 23: 1-2

Tuhan adalah Alfa dan Omega

“Aku adalah Alfa dan Omega, firman Tuhan Allah, yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang, Yang Mahakuasa.” Wahyu 1: 8

Pernahkah anda berpikir mengapa ada banyak kejadian yang menyedihkan di dunia ini? Seperti kekejaman, kelaparan, pandemi dan peperangan? Mengapa Tuhan membiarkan semuanya terjadi? Mengapa Ia membiarkan dosa menghancurkan manusia? Benarkah Tuhan itu mahasuci, mahakuasa, mahabijaksana, mahakasih dan mahaadil? Benarkah Ia mengirimkan Yesus untuk seisi dunia sehingga semua yang percaya dapat memperoleh hidup yang kekal (Yoh 3.16)? Apakah Ia adalah Tuhan yang tidak mahakuasa walaupun mahakasih? Mungkinkah Ia adalah Tuhan yang mahakuasa tapi tidak mahakasih? Apakah dia hanya memilih bangsa-bangsa tertentu untuk mendapat keselamatan di surga dan kebahagiaan di dunia? Mungkinkah dia Tuhan yang “pilih kasih”? Mungkinkah dia kurang bijaksana?

Pertanyaan-pertanyaan di atas sering sekali muncul di antara umat Kristen dan masyarakat umum. Adalah kenyataan bahwa banyak orang Kristen yang tidak peduli akan keadaan dunia karena berpandangan bahwa Tuhan adalah mahakuasa dan membuat segala sesuatu terjadi di dunia. Sebaliknya, di kalangan masyarakat umum, banyak orang yang tidak mau menjadi Kristen karena beranggapan bahwa Tuhan tidak sepenuhnya mahakuasa, mahabijaksana, mahakasih dan mahaadil.

Ayat dari kitab Wahyu diatas jelas menyatakan bahwa Tuhan adalah mahakuasa, Ia yang mengatur segala sesuatu menurut rencana dan kebijakan-Nya dari awal sampai akhir. Tetapi, apakah Dia jugalah yang membuat segala sesuatu di dunia ini, termasuk hal-hal yang jelek seperti dosa, kejahatan dan penderitaan? Banyak orang Kristen, yang mungkin karena pengalaman-pengalaman yang dialami mereka, cenderung percaya bahwa semua itu terjadi karena kehendak Tuhan yang mahakuasa. Karena Tuhan sudah menetapkan segala sesuatu dari awalnya, tentu Dia yang menentukan hal-hal yang baik dan buruk untuk terjadi pada saat yang dikehendaki-Nya di dunia ini. Tuhan yang mahakuasa tentu bisa melakukan apa pun. Benarkah itu?

Adakah sesuatu yang tidak dapat Tuhan lakukan? Ini pertanyaan yang sering kali dikemukakan oleh orang yang ingin menjebak orang Kristen. Jika jawabnya “tidak ada”, pertanyaan ini akan dilanjutkan dengan pertanyaan mengapa Tuhan tidak melakukan ini dan itu. Jika jawabnya “ada” maka Tuhan bukanlah Oknum yang mahakuasa.

Sebenarnya ada banyak yang tidak bisa dilakukan Tuhan. Aneh? Satu yang jelas, Tuhan yang mahasuci tidak bisa berbuat dosa. Tuhan juga tidak bisa dijadikan boneka atau patung di sudut rumah. Tuhan tidak bisa menjadi lembaran kertas berharga yang bisa dimasukkan ke dalam dompet. Tuhan juga tidak bisa menjadi kepandaian yang disimpan dalam otak kita. Tuhan tidak bisa menjadi pemimpin negara yang kita sanjung-sanjung. Tuhan adalah Tuhan yang mahasuci, mahakuasa, mahabijaksana, mahakasih dan mahaadil. Karena itu Tuhan tidak hidup dan bisa bertindak seperti manusia yang terbatas dalam hal kemampuan, keadilan, kebijaksanaan dan kesucian. Apakah ketidakbisaan Tuhan ini membuat Tuhan bukan Tuhan? Sudah tentu tidak.

Tuhan dalam kemahakuasaan-Nya telah menciptakan manusia dengan kemampuan untuk berpikir dan mengambil keputusan. Bahwa Adam dan Hawa mengambil keputusan untuk berbuat dosa, itu bukanlah kehendak Tuhan. Tuhan menghendaki manusia untuk taat kepada bimbingan-Nya dan hidup dalam kasih-Nya. Itu adalah rencana-Nya dari awal dan karena itu Ia akan mewujudkan rencana-Nya pada akhirnya. Penebusan darah Kristus adalah satu jalan yang ditentukan-Nya untuk itu, karena Ia tahu bahwa manusia dalam kebodohan mereka mau menurut bujukan iblis. Sebagai Tuhan yang mahakuasa Ia tidak dibatasi oleh apa pun dan Ia bisa bertindak untuk mewujudkan rencana-Nya kapan saja, tanpa bergantung kepada manusia dan perbuatan mereka.

Manusia dalam hidupnya bisa memilih untuk percaya kepada Yesus atau percaya kepada ilah-ilah yang lain. Mereka bisa lebih memercayai kebohongan daripada kebenaran. Mereka memang mempunyai kebebasan dan pilihan. Kekejian dan kekacauan ada di`mana-mana karena perbuatan manusia. Ini bukan tanda bahwa Tuhan tidak mahakuasa, tetapi sebagai Tuhan Ia tidak dapat untuk membuat peta dan teladan-Nya untuk menjadi seperti mesin, karena Tuhan bukan mesin. Tuhan tidak dapat membuat diri-Nya bukan Tuhan. Tuhan tidak dapat membohongi diri-Nya sendiri. Dia tidak dapat merendahkan diri-Nya sendiri. Tetapi, dengan memberikan kebebasan bagi manusia dan dengan tetap mempunyai kontrol yang penuh akan jalannya alam semesta, Ia membuktikan bahwa diri-Nya adalah Alfa dan Omega, yang memulai dan yang mengakhiri. Tuhan tidak bisa menjadi Tuhan yang gagal sekalipun manusia dan iblis berusaha menggagalkan rancangan-Nya. Biarlah kita tetap percaya akan kebesaran-Nya sekalipun dalam hidup ini terkadang kita tidak mengerti apa maksud dan rencana-Nya.

“Pujilah TUHAN, hai segala buatan-Nya, di segala tempat kekuasaan-Nya! Pujilah TUHAN, hai jiwaku!” Mazmur 103:22

Pandemi ini seharusnya membuat kita lebih bergantung kepada Tuhan

“Sebab janganlah engkau sujud menyembah kepada allah lain, karena TUHAN, yang nama-Nya Cemburuan, adalah Allah yang cemburu.” Keluaran 34: 14

Adanya pandemi Covid-19 mungkin dipandang oleh banyak orang sebagai malapetaka yang sama sekali tidak ada gunanya. Malahan, pandemi ini terasa seperti sebuah malapetaka yang hanya membawa kepedihan dan derita bagi umat manusia. Memang, peradaban manusia di masa lalu berkembang karena adanya berbagai tantangan hidup; tetapi jika apa yang dihadapi adalah lebih besar dari kemampuan untuk mengatasinya manusia bisa saja hilang harapan.

Bagi umat Kristen, segala apa yang terjadi di dunia adalah dengan seizin Tuhan. Umat percaya tentunya juga yakin bahwa Tuhan mempunyai maksud yang baik untuk umat-Nya dalam setiap keadaan. Walaupun demikian, jika apa yang terjadi adalah sesuatu yang sangat berat, orang mungkin merasa bahwa Tuhan bukanlah Oknum yang mahakuasa dan mahakasih, kepada siapa mereka bisa berharap. Tidaklah mengherankan bahwa banyak orang Kristen yang sekarang goncang imannya, dan bingung mencari-cari jalan apa pun untuk dapat bertahan atau survive. Mereka lupa bahwa Tuhan tetap memegang kontrol atas seisi alam semesta. Mereka bisa saja lebih bergantung kepada nasihat orang lain dan usaha sendiri untuk mengatasi segala kekuatiran mereka. Mereka secara tidak sadar sudah meninggalkan iman kepada Tuhan dan mencoba bersandar pada pikiran dan pengetahuan manusia. Ini tentunya bisa membuat Tuhan merasa cemburu.

Jika rasa cemburu manusia sering kali adalah dosa, bagaimana mungkin Tuhan yang mahasuci adalah Tuhan yang cemburuan? Kecemburuan Tuhan justru timbul karena Ia adalah Tuhan yang mahasuci dan mahakuasa. Sebagai Tuhan satu-satunya yang menciptakan langit, bumi dan segala isinya, Tuhan menuntut ketaatan dan penyerahan dari manusia. Ia tidak mengizinkan manusia menyembah diri sendiri, sesamanya, makhluk lain atau benda apa pun yang juga diciptakan-Nya. Penyembahan dan penyerahan yang tidak kepada Tuhan adalah penyembahan berhala.

Jika Tuhan berhak untuk merasa cemburu karena Ia adalah pemilik alam semesta, tidakkah kecemburuan-Nya bersifat mementingkan diri sendiri? Sama sekali tidak! Tuhan yang mahakasih justru dengan kecemburuan-Nya ingin agar manusia hidup bahagia melalui ketaatan kepada sumber kehidupan mereka. Tuhan ingin agar manusia tidak terjebak ke dalam kekacauan dan penderitaan di saat ini karena berharap kepada ilah-ilah yang tidak dapat membawa manusia ke arah kebahagiaan dan keselamatan.

Sayang sekali bahwa dalam keadaan terdesak, manusia makin mudah terperosok ke dalam dosa penyembahan berhala. Dalam kehidupan bermasyarakat, orang sering mendewakan para pemimpin, selebriti dan “influencer” yang nampaknya karismatik dan berwibawa; mengagumi penampilan dan pesona mereka, memuja apa yang sudah dicapai oleh mereka, terobsesi dengan anjuran dan ajaran mereka yang hebat, dan menganggap apa yang kelihatan oleh mata sebagai sesuatu yang terbaik dan yang di atas segalanya. Pada pihak yang lain, manusia juga mudah terperangkap dalam keyakinan bahwa hidup-mati mereka ada di tangan mereka sendiri. Adanya pandemi yang seharusnya bisa mengingatkan kita untuk makin dekat dengan Tuhan sumber kehidupan kita, bisa membuat kita ragu untuk bergantung kepada-Nya. Ini tentu saja serupa dengan pemujaan berhala.

Alkitab menyebutkan bagaimana cemburu Tuhan menyebabkan datangnya berbagai hukuman kepada bani Israel. Sejarah juga membuktikan bahwa Tuhan menghancurkan apa dan siapa yang ditinggikan oleh manusia. Bukan hanya terjadi dalam kehidupan bermasyarakat, pemujaan berhala juga terjadi dalam kehidupan gereja. Pemujaan para pemimpin gereja terjadi jika jemaat menempatkan mereka sebagai pusat pengharapan dan mengharapkan mujizat terjadi melalui doa-doa mereka. Pemujaan diri sendiri terjadi jika kita lupa untuk mengakui bahwa kehendak-Nya yang harus terjadi, bukan kehendak kita.

Dalam hidup kita sehari-hari, penyembahan berhala sering tidak disadari. Apabila kita selalu menaruh kepentingan pribadi, suami, istri, dan anak di atas kepentingan Tuhan, itu bisa menjadi penyembahan ilah. Apabila kita selalu membanggakan apa yang kita capai dan miliki , kita bisa lupa dari mana asalnya. Dan saat ini, jika kita tunduk dalam ketakutan dan mengambil keputusan atau tindakan yang tidak sesuai dengan firman Tuhan, itupun merendahkan Tuhan karena kita seolah lupa bahwa hanya Tuhan yang memegang kontrol.

Tuhan adalah Tuhan yang cemburu dalam kesucian-Nya. Ia tidak ingin manusia melupakan bahwa Ia adalah Tuhan semesta alam dan segala bangsa. Tuhan tidak menginginkan manusia mencoba-coba untuk mencari sesuatu yang bisa menggantikan-Nya dalam keadaan darurat saat ini, karena Tuhan tahu bahwa semua itu sia-sia dan justru akan membawa kehancuran. Hukum yang pertama untuk menghormati dan percaya kepada Dia adalah hukum yang terpenting untuk dilaksanakan manusia karena itu merupakan tali kehidupan yang menjamin kesejahteraan umat-Nya di bumi dan di surga.

“Atau maukah kita membangkitkan cemburu Tuhan? Apakah kita lebih kuat dari pada Dia?” 1 Korintus 10: 22

Kewajiban kita kepada pemerintah

“Pertama-tama aku menasihatkan: Naikkanlah permohonan, doa syafaat dan ucapan syukur untuk semua orang, untuk raja-raja dan untuk semua pembesar, agar kita dapat hidup tenang dan tenteram dalam segala kesalehan dan kehormatan.” 1 Timotius 2: 1 – 2

Adanya pandemi sudah membawa berbagai masalah di berbagai negara dan membuat banyak manusia mengalami berbagai penderitaan. Semua negara berusaha mati-matian untuk mengatasi segala persoalan, tetapi tiap negara tentunya mempunyai situasi dan kemampuan yang berbeda. Karena itu, ada negara-negara yang bisa mengatasi dampak pandemi ini, tetapi lebih banyak lagi yang kalang kabut karena keadaan yang tidak teratasi. Salah satu masalah yang dihadapi setiap negara adalah hal ketaatan rakyatnya kepada peraturan kesehatan setempat. Rakyat yang sudah merasa lelah dengan berbagai lockdown, cenderung untuk kurang tunduk kepada pemerintah. Inilah yang membuat keadaan di negara-negara itu sulit untuk membaik sekalipun vaksin sudah ada.

Bagaimana dengan tanggung jawab orang Kristen dalam kehidupan bernegara? Alkitab menekankan pentingnya agar setiap umat Tuhan untuk tunduk kepada pemerintahnya.

“Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang di atasnya, sebab tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan oleh Allah.” Roma 13: 1

Karena pemerintah negara mana pun seharusnya mewakili Tuhan, sudah sewajarnya kalau setiap umat Kristen memilih pemimpin yang takut akan Tuhan. Ini adalah syarat utama, bahwa pemimpin yang baik, sekalipun bukan orang Kristen, adalah orang yang mau dan bisa mempertahankan nilai-nilai kemanusiaan yang penting, seperti kerohanian, hak asasi, perdamaian, keamanan, keadilan, kejujuran, dan sebagainya.

Adalah baik jika semua orang yang duduk dalam pemerintahan adalah orang-orang yang takut akan Tuhan. Tetapi, dalam kenyataan hidup, orang-orang yang jahat dan tidak disenangi Tuhan bisa saja terpilih sebagai pemimpin-pemimpin negara. Dan kalau itu terjadi, seisi negara harus bertanggung jawab di depan Tuhan.

“Mereka telah mengangkat raja, tetapi tanpa persetujuan-Ku; mereka mengangkat pemuka, tetapi dengan tidak setahu-Ku. Dari emas dan peraknya mereka membuat berhala-berhala bagi dirinya sendiri, sehingga mereka dilenyapkan.” Hosea 8: 4

Apa yang terjadi di muka bumi ini tentunya dengan seizin Tuhan, tetapi apa yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan tentunya tidak akan menyenangkan Tuhan. Karena itu, Tuhan tidak akan memberkati adanya pemerintah yang menentang hukum-Nya, dan yang tidak berfungsi seperti yang diharapkan-Nya.

Hari ini, firman Tuhan mengingatkan kita bahwa sebagai orang Kristen kita mempunyai Tuhan yang hidup, Tuhan yang mahakuasa dan mahabijaksana. Karena itu, umat Kristen harus selalu mau menaikkan permohonan dan doa syafaat agar orang-orang yang terpilih dalam pemerintahan dapat memberi rakyat mereka hidup yang tenang dan tenteram. Lebih lanjut, sebagai orang Kristen, kita harus ikut berpartisipasi dalam memikirkan, dan dalam mengemukakan pendapat kita secara kritis , tentang apa yang akan dan sudah dilakukan oleh para pemimpin kita – agar mereka dapat mawas diri dan bisa melaksanakan mandat mereka dengan baik. Kita harus berdoa agar mereka dapat mempunyai kebijaksanaan untuk bisa menciptakan kehidupan yang tenang dan tenteram bagi seluruh rakyat, seperti yang dikehendaki Tuhan kita. Biarlah kita boleh mengingat pesan terakhir Raja Daud kepada rakyatnya:

“Allah Israel berfirman, gunung batu Israel berkata kepadaku: Apabila seorang memerintah manusia dengan adil, memerintah dengan takut akan Allah, ia bersinar seperti fajar di waktu pagi, pagi yang tidak berawan, yang sesudah hujan membuat berkilauan rumput muda di tanah.” 2 Sanuel 23: 3 – 4

Tuhan itu tidak jauh dari umat-Nya

“TUHAN dekat pada setiap orang yang berseru kepada-Nya, pada setiap orang yang berseru kepada-Nya dalam kesetiaan.” Mazmur 145: 18

Dalam agama Hindu, sapi adalah simbol suci kehidupan dan bumi. Selama berabad-abad umat Hindu di India menggunakan kotoran sapi untuk membersihkan rumah dan untuk ritual doa. Baru-baru ini, di negara bagian Gujarat, beberapa orang percaya dan pergi ke tempat penampungan sapi seminggu sekali untuk melumuri tubuh mereka dengan kotoran dan air kencing sapi. Mereka berharap ritual itu dapat meningkatkan kekebalan tubuh, atau membantu mereka pulih dari infeksi virus corona.

Para dokter dan ilmuwan di India serta di seluruh dunia telah berulang kali memperingatkan agar tidak mempraktikkan pengobatan alternatif untuk melawan Covid-19, tetapi masih banyak juga yang mengabaikan peringatan itu. “Kami melihat bahwa dokter pun datang ke sini. Mereka yakin ritual ini bisa meningkatkan kekebalan tubuh dan mereka dapat merawat pasien tanpa rasa takut,” kata seorang manajer di perusahaan farmasi. Dia mengatakan bahwa dalam kenyataannya praktik tersebut membantunya pulih dari Covid-19 pada tahun lalu. Kemanjuran “terapi” itu baginya adalah evidence based atau berdasarkan kenyataan.

Dalam banyak kepercayaan, memang manusia harus berusaha untuk mendekati sang pencipta yang mahakuasa dan menyembahnya agar hidup mereka diberkati. Pada saat ini, tentu ada banyak orang yang memohon kepada tuhan-tuhan mereka untuk dilindungi dari wabah Covid-19. Dalam hal ini, umat Kristen tidak berbeda karena mereka juga berdoa meminta perlindungan atau kesembuhan dalam nama Yesus Kristus. Sebagai manusia yang mempunyai berbagai kebutuhan, kita pun percaya bahwa Tuhan yang mahakasih selalu mengabulkan permintaan doa kita apabila itu sesuai dengan kehendak-Nya.

“Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.” Matius 7: 7

Walaupun demikian, berbeda dengan banyak kepercayaan lain, orang Kristen tidak perlu lagi bergantung kepada berbagai ritual untuk menghampiri Tuhan. Mereka tidak juga membutuhkan keajaiban untuk bisa percaya bahwa Tuhan itu ada dan Ia mengasihi umat-Nya. Tuhan yang sudah pernah datang ke dunia dalam bentuk manusia yang bernama Yesus itu sekarang berada di surga, menantikan doa-doa setiap orang, di mana saja, yang berseru kepada-Nya. Lebih dari itu, orang Kristen sudah dikaruniai dengan Roh Kudus, Tuhan yang hidup dalam tiap orang percaya, yang mau membantu mereka dalam berdoa.

Dalam kenyataannya, tanpa ritual banyak orang Kristen yang kurang bisa merasakan bahwa Tuhan yang mahabesar itu betul-betul ada di setiap saat dalam hidup mereka. Dalam kesibukan hidup, mereka mungkin hanya jarang-jarang menghampiri Tuhan. kalau mereka sempat untuk berbakti kepada Tuhan, itu pun dilakukan tanpa penyembahan dengan sepenuh hati. Bagi mereka Tuhan mungkin seperti seorang teman baik saja yang bisa memenuhi keinginan mereka. Walaupun demikian, pandemi yang berkepanjangan ini membuat mereka merasa bahwa Tuhan sudah melupakan mereka.

Memang benar bahwa kita tidak lagi mempunyai ritual-ritual khusus untuk memanggil Tuhan atau untuk menjumpai-Nya. Itu karena Yesus sudah mati untuk memungkinkan hubungan langsung antara umat dan Tuhannya. Walaupun demikian, itu tidak berarti bahwa Tuhan tidak lagi Tuhan yang mahakuasa dan mahasuci. Jika kita membutuhkan Tuhan, itu tidak hanya pada saat kita mengalami masalah besar, tetapi pada setiap saat kita harus bergantung kepada-Nya.

Pagi ini kita diingatkan bahwa adalah keliru jika kita berpikir bahwa Tuhan selalu menyertai hidup kita sekalipun kita sudah terbiasa untuk hidup bagi diri sendiri dan jarang berdoa kepada-Nya. Tuhan dekat pada setiap orang yang berseru kepada-Nya, pada setiap orang yang berseru kepada-Nya dalam kesetiaan!