Apakah kita juga harus ikut prihatin?

“Tetapi kamu, kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka dan pinjamkan dengan tidak mengharapkan balasan, maka upahmu akan besar dan kamu akan menjadi anak-anak Allah Yang Mahatinggi, sebab Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat.” Lukas 6: 35

Sudah satu setengah tahun pandemi Covid-19 ini merajarela di bumi. Banyak negara yang sudah mengalami berbagai masalah sebelum pandemi terjadi, sekarang rakyatnya makin menderita karena banyaknya dampak yang ada. Mungkin kita merasa heran bagaimana pandemi ini menghantam berbagai negara tanpa pandang bulu. Malahan, negara-negara yang termasuk maju dan kaya, justru saat ini terlihat kurang bisa mengendalikan situasi. Apakah semua itu menunjukkan bahwa Tuhan sedang murka kepada sebagian umat manusia dan memberikan hukuman-Nya?

Tuhan itu mahakasih dan kasih-Nya kepada umat-Nya tidaklah dapat diukur. Seperti nyanyian “Jesus loves me” kita percaya bahwa Yesus mengasihi kita. Itu adalah apa yang diyakini setiap orang percaya, yang sudah merasakan betapa besar kasih Tuhan yang sudah mengurbankan Anak-Nya yang tunggal untuk menebus dosa mereka. Tetapi, apakah Tuhan juga mengasihi mereka yang tidak percaya kepada Yesus? Pertanyaan ini mungkin mudah dijawab jika Yesus datang ke dunia hanya untuk menyelamatkan orang tertentu. Adanya orang yang tidak percaya dan yang tidak akan menerima keselamatan mungkin bisa ditafsirkan sebagai kebencian Tuhan kepada mereka.

Jika Tuhan memang membenci orang-orang tertentu, umat Kristen mungkin dengan mudah bisa meniru Dia – mengasihi orang tertentu dan membenci yang lain. Lalu bagaimana dengan perintah Yesus agar kita mengasihi sesama kita seperti kita mengasihi diri kita sendiri? Apakah sesama kita adalah orang yang seiman, orang yang segolongan dan orang yang baik kepada kita? Ayat di atas dan ayat-ayat sebelumnya menunjukkan bahwa orang Kristen bukan hanya harus mengasihi orang yang baik kepada kita, tetapi juga  musuh-musuh kita. Itu karena Tuhan baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat. Tuhan yang mahakasih ternyata adalah Tuhan yang mengasihi semua orang tanpa perkecualian. Tuhan yang mahakasih adalah Tuhan yang bukan hanya mengasihi mereka yang mengasihiNya. Tuhan yang mahakasih adalah Tuhan yang memelihara semua orang dan memberi kesempatan kepada mereka untuk bertobat dan menjadi pengikut-Nya.

Jika Tuhan adalah mahakasih, sebagai manusia kita mempunyai keterbatasan. Tidak mudah bagi kita untuk meniru Dia. Bagaimanapun kita berusaha mengasihi sesama kita, tidaklah mudah bagi kita untuk melupakan bahwa ada orang-orang tertentu yang kelihatannya tidak pantas untuk menerima kasih kita. Jika kita dengan mudah mau mendoakan orang yang seiman atau yang sudah berbuat baik kepada kita, perasaan segan ada dalam hati kita untuk mengharapkan apa yang baik bagi mereka yang kita anggap kurang baik atau kurang pantas untuk menjadi teman kita. Dalam hidup sehari-hari, mungkin sulit bagi kita untuk melupakan mereka yang pernah berlaku semena-mena dan menjahati kita, dan karena itu tidaklah sukar untuk melupakan mereka dalam doa kita. Kita mungkin juga sering merasa bahwa jika banyak orang yang saat ini menderita, itu adalah karena kesalahan dan kebodohan mereka sendiri.

Apa yang kita pikirkan  tidaklah sama dengan apa yang Tuhan pikirkan. Jika kita tidak bisa mengasihi orang-orang tertentu, kita akan heran membaca dalam Alkitab bahwa Yesus mengunjungi orang-orang yang dianggap parasit masyarakat dan bahkan makan bersama mereka.

Pada waktu ahli-ahli Taurat dari golongan Farisi melihat, bahwa Ia makan dengan pemungut cukai dan orang berdosa itu, berkatalah mereka kepada murid-murid-Nya: “Mengapa Ia makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?” Markus 2: 16

Yesus tahu apa yang kita rasakan dan berkata: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.” Semua orang, termasuk kita, adalah orang berdosa patut menerima kebinasaan. Tetapi Tuhan sudah menebus dosa kita dengan darah Yesus. Ia yang mengasihi semua manusia, ingin agar banyak orang mau mengikut Dia ketika mereka melihat betapa besar kasih Tuhan yang memancar dari dalam hidup kita. Biarlah dalam keadaan saat ini kita tetap bisa ikut merasakan penderitaan orang lain dan ikut prihatin, dan dengan rela mau menolong mereka yang menderita.

Jangan biarkan mereka mati

“Tunjukkanlah belas kasihan kepada mereka yang ragu-ragu, selamatkanlah mereka dengan jalan merampas mereka dari api. Tetapi tunjukkanlah belas kasihan yang disertai ketakutan kepada orang-orang lain juga, dan bencilah pakaian mereka yang dicemarkan oleh keinginan-keinginan dosa.” Yudas 1: 22 – 23

Ingatkah anda hukum kedua yang disebutkan Yesus dalam Matius 22: 39? Hukum itu berbunyi “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri”. Setiap orang yang mempunyai pikiran yang sehat tentunya tahu bagaimana ia harus mengasihi dirinya, dan seperti itulah ia harus mengasihi orang lain. Ini lebih mudah untuk dikatakan daripada untuk dilakukan. Memang biasanya orang tidak mudah mengasihi orang lain karena adanya perasaan bahwa orang lain tidak pantas untuk dikasihi. Apalagi, jika orang lain itu sudah terbukti pernah melakukan kekejian, mungkin ada perasaan dalam hati kita bahwa orang itu sebaiknya tidak dibiarkan hidup. Lebih dari itu, kita mungkin berharap agar Tuhan membinasakan orang tersebut. Benarkah sikap ini? Sebagian orang Kristen mungkin berpendapat begitu.

Dalam pandangan sebagian orang Kristen yang lain, adanya hukuman bukanlah suatu pembalasan, walaupun hukuman diperlukan untuk mengurangi adanya kejahatan. Hukuman seberat apa pun tidak akan menghentikan adanya kekejian. Selanjutnya dalam pandangan mereka, orang Kristen seharusnya dapat mengampuni karena Allah telah mengampuninya.

Tidak dapat dihindari bahwa terkait dengan hukuman pidana mati, terdapat dua pandangan yakni yang mendukung dan yang menolak diterapkannya hukuman pidana mati. Bagi yang mendukung (menerima) diterapkannya hukuman pidana mati, dasarnya adalah penjahat yang telah melakukan kejahatan pantas dihukum, bahkan dengan hukuman mati. Hukuman mati merupakan pembalasan. Seseorang bisa menjadi abdi Allah dan menjalankan hukuman Allah kepada mereka yang melakukan kejahatan, dan terlebih lagi Allah memberi kuasa kepada negara untuk menghukum bagi siapa saja yang berbuat kejahatan. Dalam perwujudan akan hal tersebut dituangkan dalam bentuk undang-undang dengan pandangan agama yang diyakini. Di sisi lain, bagi yang menolak (tidak setuju) diterapkannya pidana mati beralasan bahwa hukuman mati tidaklah efektif dalam menangani kejahatan, dan karena itu hukuman seumur hidup lebih tepat digunakan daripada hukuman mati. Selain itu, hukuman mati berarti menutup kesempatan bagi narapidana untuk bertobat dengan alasan Tuhan sudah menghendakinya.

Dilema antara pro dan kontra hukuman mati mungkin mirip dengan apa yang dialami dokter yang harus memutuskan untuk menghentikan mesin pembantu jantung atau pernafasan dari seorang pasien yang sakit parah. Tetapi, jika dokter sudah tidak bisa menolong lagi, dan keajaiban ilahi tidak terjadi, apakah yang bisa dilakukan? Dalam hal ini, mungkin bisa diterima bahwa sang pasien sudah waktunya untuk meninggalkan dunia. Pada pihak yang lain, seorang penjahat yang segar bugar tentu saja bisa bertobat jika Tuhan menghendakinya. Dengan demikian, jika kita memutuskan bahwa orang itu harus dihukum mati, kita sudah mencoba berperan sebagai Tuhan.

Mengapa kita harus bisa untuk tetap menghargai nyawa orang yang berbuat jahat? Mengapa kita harus mengasihi orang yang hidup dalam dosa? Mereka tidak pantas untuk dikasihi, begitu mungkin pikiran kita. Dengan kata lain, kita tidak mengasihi mereka karena kita yakin bahwa mereka tidaklah sebaik diri kita. Pandangan semacam ini sudah tentu bukanlah pandangan Yesus. Selama hidup di dunia Yesus menunjukkan kasih-Nya kepada orang yang terasing dari masyarakat, marginalised people, seperti orang yang sakit kusta, pelacur, pemungut cukai dan penjahat. Yesus mengasihi mereka sebelum mereka mengasihi Dia. Yesus mengasihi mereka sekalipun mereka belum menjadi pengikut-Nya. Tuhan pun mengasihi kita ketika kita masih berada dalam dosa dengan mengirimkan Yesus untuk mati bagi kita (Roma 5: 8).

Satu hal yang sering dilupakan orang adalah fakta bahwa jika Yesus mengasihi semua umat manusia, Ia membenci dosa mereka. Kepada seorang perempuan yang berzinah Ia berkata: “Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang” (Yohanes 8: 11). Seperti itu jugalah, setiap orang percaya harus berusaha untuk tetap hidup sesuai dengan firman-Nya. Setiap orang percaya juga harus bisa bersikap seperti Yesus: mengasihi sesama manusia tetapi membenci dosa mereka. Manusia tidak lagi hidup di bawah hukum Taurat, tetapi dalam hukum kasih mereka tetap harus menghindari dosa.

“Jadi bagaimana? Apakah kita akan berbuat dosa, karena kita tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia? Sekali-kali tidak!” Roma 6: 15

Membenci dosa tetapi tetap mengasihi orang yang berdosa adalah sesuatu yang diajarkan Alkitab. Ayat pembukaan kita berkata bahwa kita harus bisa menunjukkan belas kasihan kepada mereka yang ragu-ragu akan jalan kebenaran Tuhan, tetapi mau menyelamatkan mereka dari kematian dengan jalan merampas mereka dari api penghukuman. Kata “merampas” menyatakan bahwa ini bukanlah tugas yang ringan karena sering kali mengundang permusuhan dengan orang yang merasa bahwa mereka yang dipandang jahat itu sudah tidak pantas untuk menerima pengampunan Tuhan.

Pagi ini, sebagai umat Kristen kita harus berani untuk menyatakan apa yang jahat sebagai kejahatan yang dibenci Tuhan. Selain itu, kita harus juga bisa menyatakan belas kasihan yang disertai ketakutan bahwa apa yang mereka perbuat akan mencelakakan hidup mereka, dengan membenci apa yang dicemarkan oleh keinginan-keinginan dosa mereka. Sebagai orang Kristen kita yakin akan apa yang harus kita kasihi (sesama manusia) dan apa yang harus kita benci (dosa). Adalah kewajiban bagi semua umat Kristen untuk menyatakan kepada seisi dunia bahwa Tuhan yang mahakasih adalah Tuhan yang mahasuci, yang tidak dapat dipermainkan manusia.

Mata ganti mata?

“Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.” Matius 6: 14 – 15

Masih ingatkah anda akan kejadian 9/11 di Amerika? Pada tanggal 11 September 2001, 19 militan yang terkait dengan kelompok ekstremis membajak empat pesawat dan melakukan serangan bunuh diri terhadap sasaran di Amerika Serikat. Dua dari pesawat diterbangkan ke menara kembar World Trade Center di New York City, pesawat ketiga menabrak Pentagon di luar Washington, D.C., dan pesawat keempat jatuh di sebuah lapangan di Shanksville, Pennsylvania. Hampir tiga ribu orang tewas selama serangan teroris 9/11, yang memicu inisiatif besar negara Amerika untuk memulai Perang Melawan Teror dalam upaya untuk melenyapkan beberapa sel teroris dan rezim jahat di seluruh dunia. Ribuan tentara Amerika tewas dalam dua dekade pertama Perang Melawan Teror, dan banyak lagi yang pulang dengan luka fisik dan psikologis.

Adakah hasil yang baik dari sebuah perang? Ini tentu adalah topik yang sering didiskusikan antara dua kubu: mereka yang pro dan mereka yang kontra perang. Bagaimana pula pandangan orang Kristen tentang perang? Sudah tentu perang yang terjadi untuk memenuhi hasrat pemimpin negara saja, bukanlah suatu yang bisa dibenarkan. Perang yang sedemikian akan membawa banyak penderitaan bagi banyak orang yang tidak berbuat salah. Seperti itu, ada juga “perang” antar individu: ada perang mulut, ada perang dingin dan sebagainya, yang bisa terjadi di rumah, di kantor dan di mana saja dalam kehidupan sehari-hari. Sudah umum, perang apa pun terjadi karena adanya perselisihan, kemarahan atau kebencian yang tidak bisa diatasi. Apalagi, banyak orang yang masih percaya bahwa tindakan “mata ganti mata” adalah cara yang paling tepat untuk melenyapkan kejahatan.

Prinsip mata ganti mata dalam kehidupan sehari-hari di zaman ini, mungkin tidak mudah dilakukan secara perseorangan karena adanya hukum negara. Walaupun demikian, sering kali orang yang merasa diperlakukan secara tidak baik, kemudian merasa dendam. Banyak orang yang berkata bahwa mereka bisa mengampuni orang tetapi tidak dapat melupakan perbuatannya. Dengan demikian, bayangan tentang orang itu dan kejahatannya selalu ada dalam pikiran dan tentunya setiap kali muncul bisa menimbulkan kemarahan atau rasa benci yang membuat diri mereka sangat menderita. Tetapi, ada juga orang yang benar-benar bisa mengampuni dan melupakan kesalahan orang lain. Itu tentu ada sebabnya.

Jika hal mengampuni kesalahan orang lain adalah sesuatu yang sulit dilakukan manusia, bagi Allah yang mahasuci tentunya akan lebih sulit lagi  untuk mengampuni manusia yang berdosa kepada-Nya. Karena standar kesucian Allah yang mahatinggi, tidak akan ada seorang pun yang bisa diampuni-Nya, jika tidak ada penebusan oleh darah Yesus. Karena Yesus sudah mati ganti kita, Tuhan mau mengampuni kita dan melupakan  dosa kita sekali pun kita mempunyai dosa sebesar apa pun.

“Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba.” Yesaya 1: 18

Bagaimana Tuhan yang mahakuasa dan mahatahu dapat melupakan sesuatu peristiwa? Banyak orang berpikir bahwa jika Tuhan bisa lupa, Ia bukanlah Oknum yang mahakuasa. Dalam hal ini, Tuhan bisa mengampuni dan melupakan dosa kita karena Ia dengan sengaja tidak mau memikirkan hal itu. Sebagai Tuhan yang mahakasih Ia mengambil keputusan untuk memberikan keselamatan kepada mereka yang percaya kepada Yesus yang sudah dikaruniakan-Nya.

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Yohanes 3:16

Dengan demikian, Tuhan yang sudah lebih dulu mengasihi kita patutlah menghendaki agar manusia mau mengasihi Dia dan sesama kita karena Tuhan mengasihi seisi dunia ini. Dalam hal ini, selama hidup di dunia tentu lebih mudah bagi manusia untuk mengasihi sesama manusia yang bisa dilihatnya daripada mengasihi Tuhan.

Bagi manusia, tidaklah mudah untuk mengasihi Tuhan yang tidak kelihatan. Tidak ada seorang pun yang pernah melihat Allah yang Roh dan karena itu jika ada orang yang berkata bahwa ia mengasihi Allah, itu terjadi karena Allah sudah membuka mata rohaninya. Orang yang sedemikian sudah menjadi ciptaan baru yang mengenal apa yang dikehendaki Allah dan melaksanakan perintah-Nya. Dengan demikian, mereka yang mengaku mengasihi Allah tetapi membenci sesamanya, perlu bertanya kepada diri sendiri bagaimana ia bisa mengasihi Allah tanpa melakukan apa yang diperintahkan-Nya.

Jikalau seorang berkata: “Aku mengasihi Allah,” dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya. 1 Yohanes 4: 20

Firman Tuhan hari ini mengingatkan kita akan pentingnya hubungan kita dengan Tuhan dan sesama. Yesus sudah datang untuk menebus dosa kita dan karena itu seluruh dosa kita sudah diampuni Tuhan. Mengapa pula kita merasa berat untuk mengampuni sesama kita jika mereka juga dikasihi Tuhan dan diberi kesempatan untuk menerima keselamatan jika mereka mau bertobat?

Tuhan tidak pernah kaget

“Bukankah burung pipit dijual lima ekor dua duit? Sungguhpun demikian tidak seekorpun dari padanya yang dilupakan Allah, bahkan rambut kepalamupun terhitung semuanya. Karena itu jangan takut, karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit.” Lukas 12: 6 – 7

Kemarin saya mendapat pesan SMS dari seorang anggota persekutuan doa saya yang mengabarkan bahwa salah satu anggota yang lain harus masuk ke rumah sakit karena adanya tanda-tanda serangan jantung. Tentu saja saya kaget, karena tidak terbayangkan bahwa ibu yang bekerja sebagai perawat rumah sakit itu mempunyai masalah jantung. Tetapi, seperti banyak penyakit lain, datangnya penyakit bisa secara tiba-tiba karena gejalanya yang tidak jelas atau tidak dirasakan. Kita orang Kristen, tentunya percaya bahwa Tuhan tahu apa yang akan terjadi pada diri setiap insan, dan segala yang terjadi di alam semesta pasti sesuai dengan rencana-Nya. Tuhan tidak pernah kaget melihat apa yang terjadi.

Ayat di atas adalah ayat yang cukup terkenal dan sering dikhotbahkan untuk menunjukkan bahwa Tuhan mengatur alam semesta dan juga hidup manusia sampai ke detail yang sekecil-kecilnya. Tuhan agaknya menghitung jumlah rambut kita satu persatu dan tidak membiarkan sehelai rambut pun rontok tanpa seizin-Nya. Tuhan dengan demikian membuat segala sesuatu berjalan persis seperti apa yang dikehendaki-Nya. Pengertian yang sedemikian biasanya cenderung mengarah ke pandangan bahwa Tuhan adalah pencipta dan penyebab terjadinya segala sesuatu, termasuk apa yang baik dan jahat.

Sekalipun secara literal bunyi ayat itu menggaris-bawahi kedaulatan Tuhan yang mutlak, banyak penafsir Alkitab yang menyatakan bahwa Yesus dalam ayat itu memakai sebuah kiasan untuk menyatakan bahwa Tuhan adalah mahatahu dan mahakuasa. Dalam hal ini, Tuhan tidak perlu untuk menghitung jumlah rambut kita setiap detik, tetapi Ia yang mahatahu selalu bisa memegang kemudi jalan kehidupan manusia.

Dalam kenyataannya, dunia yang sudah jatuh ke dalam dosa sudah tentu tidak selalu berjalan sesuai dengan apa yang disenangi Tuhan. Berbeda dengan kehidupan di taman Firdaus, dosa manusia menyebabkan berbagai kejahatan dan penyelewengan sering terjadi. Selain itu, berbagai penderitaan, kemalangan, kecelakaan dan penyakit muncul dan ada di dunia sekalipun itu bukan ciptaan Tuhan. Walaupun demikian, Tuhan yang mahakuasa tidak akan terkejut melihat apa yang terjadi, karena Ia yang memegang kemudi dan sanggup mengatur segalanya sehingga pada akhirnya kehendak-Nya yang terjadi.

Bagaimana dengan kita sendiri, jika kita melihat sesuatu terjadi di luar dugaan atau rencana kita? Karena kita bukan Tuhan, sudah tentu reaksi kita akan berbeda dengan reaksi-Nya. Kita mungkin heran, kaget, kuatir atau takut. Jika itu menyangkut masa depan dan rencana kita, mungkin saja kita merasa sedih, depresi, kuatir ataupun putus asa. Adalah wajar bahwa sebagai manusia kita menyadari bahwa kemampuan kita terbatas dan karena itu kita bisa kehilangan harapan. Tidaklah mengherankan bahwa sejak munculnya Covid-19, jutaan orang di dunia mengalami gangguan kejiwaan berat yang membutuhkan perawatan serius.

Sudah enam bulan kita memasuki tahun 2021, kita tentu mempunyai harapan bahwa tahun ini akan dapat dilalui dengan baik. Kita berharap bahwa pandemi ini bisa diatasi secepatnya. Tetapi, dalam hati kita mungkin mengakui adanya kemungkinan bahwa hal-hal yang tidak kita harapkan bisa terjadi. Makin banyaknya orang yang terkena dampak pandemi dan munculnya berbagai varian virus corona membuat orang menjadi was-was. Adakah hal yang bisa kita lakukan untuk menghindarinya?

Ayat di atas meyakinkan kita bahwa tidak ada hal yang terlalu kecil untuk diabaikan Tuhan, dan tidak ada hal yang terlalu besar untuk bisa diatasi-Nya. Tuhan mahatahu tidak mungkin untuk tidak melihat masalah apa pun yang terjadi di dunia dan Ia tahu bagaimana hal yang kecil bisa berkembang menjadi besar. Tuhan yang mahakuasa tentunya mampu untuk mengatasi masalah apa pun pada waktu yang tepat. Tuhan pastilah bisa membuat apa saja untuk menjadi kebaikan untuk umat-Nya sehingga semua orang bisa memuliakan Dia yang mahakuasa. Biarlah kita terus menjalani tahun ini dengan keberanian dari Tuhan!

Makin dekat Tuhan

“Janganlah jauh dari padaku, sebab kesusahan telah dekat, dan tidak ada yang menolong.” Mazmur 22: 11

Siapakah orang Kristen yang tidak mengenal lagu “Nearer my God to Thee“? Penggubah lagu ini, Sarah Adams, adalah anak dari seorang jurnalis dan politikus Benjamin Flower. Ia menikah dengan William Bridges Adams pada tahun 1834. Sarah mempunyai cita-cita untuk menjadi seorang aktris, tetapi Tuhan mempunyai rencana yang berbeda untuk hidupnya. Cita-citanya untuk tampil di panggung kandas karena kesehatan yang kurang baik, sehingga ia mulai berfokus ke bidang menulis. Ia banyak menulis untuk artikel Kristen dan banyak lagu pujian. Sering ia mempelajari Alkitab untuk mendapatkan gagasan atau buah pikiran yang baru.

Pada suatu hari ia tertarik akan kisah Yakub dalam kitab Kejadian pasal 28. Ia membaca tentang masa hidup Yakub yang serba sulit. Tentu Yakub merasa kesepian, sedih, dan kuatir, karena ia terpaksa meninggalkan rumah dan melarikan diri dari kakaknya, Esau, yang marah karena telah mengambil hak dan berkat kesulungannya. Di Bethel Yakub tidur dengan berbantalkan batu. Di situ pun ia bermimpi tentang suatu tangga ke Surga dan para malaikat Allah turun naik di atasnya. Yakub kemudian sadar bahwa Tuhan masih dekat padanya, sama seperti dahulu di rumah orang tuanya. Dengan diilhami cerita Alkitab itu, pada tahun 1841 Sarah Flower Adams menulis suatu nyanyian rohani yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sebagai “Makin dekat Tuhan“.

  1. Makin dekat Tuhan, kepadaMu;
    walaupun saliblah mengangkatku,
    inilah laguku: Dekat kepadaMu;
    makin dekat, Tuhan, kepadaMu.
  2. Berbantal batu pun ‘ku mau rebah,
    bagai musafir yang lunglai, lelah,
    asal di mimpiku dekat kepadaMu;
    makin dekat, Tuhan, kepadaMu.
  3. Buatlah tanggaMu tampak jelas,
    dan para malakMu yang bergegas
    mengimbau diriku dekat kepadaMu;
    makin dekat, Tuhan, kepadaMu.
  4. Batu deritaku ‘kan kubentuk
    menjadi Betelku, kokoh teguh.
    Jiwaku berseru, dekat kepadaMu;
    makin dekat, Tuhan, kepadaMu.

Perasaan kesepian seperti yang dialami Yakub memang bisa timbul jika hidup kita mengalami badai kehidupan. Bukan saja kesepian itu karena tidak adanya orang yang mengerti persoalan kita, tetapi juga karena kita merasa bahwa kita harus menghadapi badai itu seorang diri. Penulis Mazmur menulis ayat di atas ketika ia merasa bahwa Tuhan sudah mengecewakannya. Ia menjerit seperti Yesus sewaktu disalibkan: “Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku?” Pemazmur berseru, tetapi Tuhan serasa tetap jauh dan tidak menolongnya (Mazmur 22: 1).

Hari ini kita melihat bahwa perasaan lonely itu adalah wajar jika timbul dari dalam hidup kita. Pemazmur dan Yesus pun mengalaminya. Tidak ada hal yang salah jika kita merasa sedih karena ditinggalkan orang yang kita kasihi, atau mengalami kesulitan hidup yang besar baik dalam hal kesehatan, pekerjaan, keuangan dan keluarga. Semua itu adalah bagian kehidupan di dunia. Baik orang Kristen maupun orang yang belum percaya bisa mengalaminya.

Walaupun demikian, perbedaan yang jelas terlihat dalam Mazmur di atas adalah bahwa pemazmur sebenarnya masih yakin bahwa Tuhan itu ada dan mau mendengar doanya. Karena itu, seperti Yesus di kayu salib, pemazmur menjerit kepada Tuhan; dan ia memohon agar Tuhan tetap menyertainya.

“Tetapi Engkau, TUHAN, janganlah jauh; ya kekuatanku, segeralah menolong aku!” Mazmur 22: 19

Apakah kesulitan yang anda alami saat ini sangat besar? Tidak adakah orang yang bisa menolong anda? Jika demikian, anda bukanlah orang satu-satunya yang mengalaminya. Yesus yang pernah merasakan penderitaan di kayu salib, adalah Tuhan yang mengerti apa yang anda derita dan rasakan. Ia jugalah yang mau mendengar seruan anda dan mampu menolong anda, jika anda mau dekat kepada-Nya.

“Sebab Ia tidak memandang hina ataupun merasa jijik kesengsaraan orang yang tertindas, dan Ia tidak menyembunyikan wajah-Nya kepada orang itu, dan Ia mendengar ketika orang itu berteriak minta tolong kepada-Nya.” Mazmur 22: 24

Semua umat Tuhan adalah sederajat

“Karena kamu semua, yang dibaptis dalam Kristus, telah mengenakan Kristus. Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus. Galatia 3: 27 – 28

Jika anda adalah penggemar tenis dan sering mengikuti laporan pandangan mata pertandingan tenis internasional, tentunya anda tahu bahwa pada saat ini kejuaraan tenis di lapangan tanah liat sedang berlangsung di Prancis. Beberapa hari yang baru lalu dikabarkan bahwa seorang pemain wanita tingkat atas memutuskan untuk mengundurkan diri karena adanya masalah depresi. Sudah tentu banyak pecandu tenis yang merasa kecewa karena hilangnya seorang petenis yang diharapkan untuk mencapai final. Selain itu ada banyak orang yang mengemukakan pendapat negatif tentang tingkat kedewasaan petenis itu. Tidak lama sesudah itu, seorang pemain pria juga mengundurkan diri dengan alasan kesehatan. Tetapi, pendapat umum tentang pengunduran diri petenis pria itu nampaknya positif dan mendukung keputusan petenis itu. Karena itu, tidaklah mengherankan bahwa ada banyak orang yang merasa adanya ketidakadilan terhadap pemain tenis wanita.

Dalam sejarah manusia, kaum wanita memang sering kali mengalami hal-hal yang tidak nyaman dan bahkan berbagai bentuk pelecehan, sehubungan dengan penampilan dan kedudukan mereka dalam masyarakat. Keadaan sedemikian biasanya sering muncul di tempat di mana hukum dan hak azasi manusia belum sepenuhnya bisa diterapkan. Walaupun intensitasnya mungkin berbeda, hal ini bisa terjadi dimana saja di muka bumi, dan bukan hanya ditemui di negara-negara tertentu.

Mengapa kaum wanita sering mengalami hal yang sedemikian? Alkitab menulis bahwa sejak manusia jatuh ke dalam dosa, hubungan pria dan wanita menjadi rusak. Wanita yang secara fisik biasanya lebih lemah dari pria, kemudian harus menghadapi kenyataan bahwa hidup di dunia adalah tidak seindah yang diharapkan.

Firman-Nya kepada perempuan itu: “Susah payahmu waktu mengandung akan Kubuat sangat banyak; dengan kesakitan engkau akan melahirkan anakmu; namun engkau akan berahi kepada suamimu dan ia akan berkuasa atasmu.” Kejadian 3: 16

Kedatangan Kristus ke dunia tidak hanya membawa keselamatan bagi mereka yang percaya, tetapi juga memberi nuansa baru bagi hubungan antara pria dan wanita. Apa yang rusak karena dosa, bisa diperbaharui dalam darah-Nya. Segala cara hidup yang lama, berubah menjadi hidup baru yang berintikan kasih kepada Tuhan dan sesama. Dengan pengurbanan Kristus yang tersedia untuk semua orang, di hadapan Tuhan tidak lagi ada lagi perbedaan hak di antara bangsa-bangsa, atasan dan bawahan, ataupun antara pria dan wanita. Inilah yang menjadi salah satu ajaran Kristen yang sudah membawa kemajuan sosial dan hukum di banyak negara, termasuk negara-negara yang bukan berazaskan kekristenan.

Harus diakui bahwa adanya prinsip persamaan hak antar umat manusia, juga bisa membawa dampak yang negatif jika manusia melupakan bahwa setiap orang mempunyai kewajiban dan fungsi yang berbeda dalam masyarakat. Tuntutan untuk memperoleh hak yang sama bukanlah harus membuat pria dan wanita menjadi 100% sama, karena kedua jenis manusia itu diciptakan Tuhan dengan tujuan untuk saling melengkapi. Keduanya harus bisa saling menghargai, menghormati hak yang lain, dan saling menolong.

Hari ini, jika kita mengingat bahwa dalam Kristus tidak lagi ada perbedaan di antara mereka yang percaya, marilah kita juga sadar bahwa adalah panggilan semua orang Kristen untuk menegakkan kebenaran dan keadilan di antara umat manusia. Dimulai dalam kehidupan keluarga kita, biarlah kita belajar untuk mengasihi dan menghargai setiap orang tanpa memandang apakah mereka pria atau wanita. Pada pihak yang lain, kita harus juga menyadari bahwa setiap orang mempunyai peranan khusus dalam hidup ini untuk bisa memuliakan Tuhan dengan sepenuhnya.

“Sebab kamu semua adalah anak-anak Allah karena iman di dalam Yesus Kristus.” Galatia 3: 26

Di tengah kegelapan ada perlindungan

“Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.” Mazmur 23: 4

Mungkin semua orang pernah mengalami lampu mati, alias listrik yang terputus, karena adanya masalah teknis dalam penyediaan listrik. Ini bukan hanya terjadi di Indonesia tetapi juga ada di negara-negara lain, termasuk negara yang maju. Sewaktu saya masih kecil, seingat saya acara “petengan” alias lampu mati sangat sering terjadi di Surabaya, dan karena itu setiap rumah selalu siap dengan lilin, lampu tempel, atau lampu petromak. Bagi saya waktu itu, gelapnya ruangan bisa membuat hati menjadi kecil, karena adanya bayang-bayang yang bisa berbentuk seperti makhluk yang aneh dan menakutkan. Sesudah agak besar, biasanya rasa takut karena lampu mati menjadi berkurang; tetapi sampai dewasa pun banyak orang merasa tidak aman jika harus berjalan di tempat yang gelap tidak berlampu, karena adanya bahaya yang mungkin terjadi.

Ayat diatas adalah ayat yang sangat terkenal dan bisa dipakai untuk menguatkan hati mereka yang berjalan dalam lembah kekelaman alias mengalami kesulitan hidup. Malahan, ada orang-orang yang menghafalkannya agar mereka dapat langsung menyebutkannya ketika ada ancaman yang datang. Dalam terjemahan bahasa Indonesia, memang ayat itu seolah menggambarkan bagaimana pemazmur merasa terhibur ketika ia “berjalan dalam lembah kekelaman” atau “berjalan dalam lembah kegelapan”. Sekalipun tidak sukar untuk mengartikan kata-kata itu sebagai “mengalami kesulitan besar”, dalam beberapa terjemahan berbahasa Inggris bunyi ayat ini agak berbeda:

“Even though I walk through the valley of the shadow of death, I will fear no evil, for you are with me; your rod and your staff, they comfort me.”

Memang kata Ibrani untuk “bayang-bayang maut” adalah sal-ma-wet, yang artinya “kegelapan” atau “bayang-bayang kekelaman”. Kata itu serupa dengan kata Ibrani yang dipakai untuk “kematian” atau ma-wet. Karena itu tidaklah mengherankan bahwa ada terjemahan yang menghubungan kata kegelapan dengan kata kematian atau maut.

Sayang sekali, karena pemakaian kata-kata “the valley of the shadow of death” yaitu “lembah bayang-bayang maut”, orang lebih sering memakai ayat ini dalam upacara penguburan orang Kristen. Ini tentunya kurang tepat. Bagi orang Kristen, kematian tidaklah menakutkan karena itu adalah perjumpaan dengan Kristus. Sebaliknya, rasa takut sering muncul selama kita masih hidup karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi pada diri kita.

Dalam ayat ini, dapat dirasakan bahwa pemazmur menempatkan dirinya sebagai seekor domba yang merasa aman karena sang gembala yang mempunyai gada dan tongkat yang bisa dipakai untuk mengusir binatang-binatang buas yang mengancamnya. Memang, sebagai orang percaya, kita adalah domba-domba Kristus yang mengenal Dia dan mengikut Dia. Yesus adalah gembala yang baik, yang ingin untuk membaringkan kita di padang yang berumput hijau dan membimbing kita ke air yang tenang (Mazmur 23: 2).

Tetapi, adalah kenyataan hidup bahwa setiap orang bisa mengalami berbagai masalah kehidupan. Kesulitan, kekurangan, penyakit, kecelakaan dan berbagai musibah bisa terjadi pada setiap orang termasuk orang Kristen. Apalagi, dengan adanya pandemi saat ini, semua masalah itu seperti bayang-bayang kegelapan yang sangat menakutkan.

Pemazmur menggambarkan bagaimana kita berjalan bersama gembala kita, Yesus. Perjalanan hidup memang tidak mudah dan bahkan penuh resiko, karena jika medan berubah menjadi berat dan gelap, hati kita mudah menjadi kecil dan kita pun menjadi takut. Hidup yang penuh ketakutan dan kekuatiran sudah tentu bukanlah hidup yang mudah dijalani. Jika kita bayangkan, domba yang mengalami ketakutan yang luar biasa bisa saja berusaha melarikan diri sekalipun ia tidak tahu kemana ia harus pergi. Ia mungkin saja lari menjauh dan akhirnya justru menjadi mangsa binatang buas.

Hari ini, kesulitan dan bahaya apakah yang sedang anda hadapi? Dalam keadaan bahaya, sebenarnya lebih baik agar setiap domba untuk tetap dekat dengan domba-domba yang lain yang dilindungi sang gembala. Demikian juga, dalam keadaan sulit, tidaklah bijaksana bagi kita untuk menghindari persekutuan kita dengan saudara-saudara seiman. Selain itu, untuk ketenteraman hidup kita, kita harus selalu ingat bahwa Yesus gembala yang baik selalu menyertai dan menguatkan domba-domba-Nya. Begitulah, sebagai domba yang mempunyai keyakinan akan kasih dan kuasa Gembala kita, marilah kita menghadapi masa depan kita dengan keberanian dan rasa damai karena Ia selalu beserta kita.

Segala kemuliaan untuk Yesus

“Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.” Yohanes 3: 30

Ayat di atas diambil dari Injil Yohanes yang menceritakan kisah Yohanes Pembaptis. Pada waktu itu Yesus pergi dengan murid-murid-Nya ke tanah Yudea dan Ia diam di sana bersama-sama mereka dan membaptis. Yohanes pun membaptis juga di daerah itu sebab di situ banyak air, dan orang-orang juga datang kesitu untuk dibaptis. Pengikut Yohanes yang pada mulanya banyak, kemudian berkurang jumlahnya karena sebagian kemudian pindah untuk mengikut Yesus. Atas kejadian itu, Yohanes berkata bahwa itu tidaklah menjadi soal karena Yesus adalah Anak Allah. Yohanes berkata bahwa Yesus , Anak Allah, sudah sepatutnya mendapat perhatian dan penghormatan dari manusia.

Jika Yohanes menyadari siapa Yesus itu dan tidak berusaha menjadi lebih besar atau lebih masyhur dari-Nya, banyak orang yang dengan sadar atau tidak, menikmati kemasyhuran mereka. Dalam kenyataannya, memang banyak orang yang justru berusaha menarik perhatian publik dan bangga atas banyaknya pengikut (follower) dari blog atau vlog mereka, atau mendambakan kemasyhuran dari apa yang mereka kerjakan, karena kemasyhuran sering identik dengan pemasukan uang.

Di kalangan gereja pun, ada banyak pendeta dan penginjil yang karena saking masyhurnya, seolah mereka lebih ternama dari Yesus. Memang ada orang-orang yang karena apa yang pernah diperbuat mereka, menjadi selebriti yang setiap kali muncul akan mendapat jutaan tanda suka atau “like“. Mereka itu secara tidak sadar sudah bersaing dengan Yesus, karena segala kemuliaan yang mereka peroleh hanyalah untuk kepentingan diri sendiri. Dalam hal ini, banyak umat Kristen yang yakin bahwa ada orang-orang tertentu yang dapat melakukan mukjizat setiap saat, dan agaknya lebih sering dan lebih hebat dari apa yang sudah dilakukan oleh Yesus dan murid-murid-Nya. Orang-orang yang sedemikian biasanya sangat terkenal dan banyak yang hidup dalam kemewahan.

Hari ini hari Minggu dan mungkin anda sudah atau akan pergi ke gereja. Gereja mana pun yang anda tuju, tidaklah menjadi masalah. Tetapi anda harus yakin bahwa apa yang dipraktikkan di gereja anda adalah seperti yang dilakukan Yohanes Pembaptis, yaitu untuk memuliakan Tuhan sepenuhnya. Gereja yang nampaknya hebat dan meriah, belum tentu adalah pendukung Kristus karena mereka justru ingin lebih dikenal daripada Yesus dan firman-Nya. Pendeta atau pimpinan gereja yang menyampaikan khotbah, mungkin saja tidak sadar bahwa penghormatan dan kekaguman jemaat atas diri mereka adalah lebih dipentingkan dari penyembahan kepada Yesus, Anak Allah dan Tuhan kita. Orang yang senang dikagumi dan dihormati orang lain sering kali adalah orang-orang yang lupa bahwa hanya Tuhan yang patut dimuliakan.

Kita mungkin ingat bahwa Musa diperintahkan melepaskan sandalnya ketika Allah berbicara kepadanya dari semak duri yang menyala (Keluaran 3: 5). Jika melepaskan sandal adalah tanda rasa hormat, orang Yahudi menganggap hal membawa atau membuka tali sandal orang lain suatu tugas yang hina. Ketika Yohanes Pembaptis berbicara tentang kedatangan Kristus, ia berkata, “Dia, yang datang kemudian daripadaku. Membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak” (Yohanes 1: 27).

Sebagai umat percaya, biarlah kita sadar bahwa Tuhan yang mahabesar tidak bisa disaingi. Marilah kita menjalani hidup kita ini dengan kerendahhatian, agar nama Tuhan semakin dipermuliakan. Lebih dari itu, biarlah kita menyandarkan iman kita kepada Kristus dan bukannya kepada orang-orang ternama.

“Barangsiapa percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal, tetapi barangsiapa tidak taat kepada Anak, ia tidak akan melihat hidup, melainkan murka Allah tetap ada di atasnya.” Yohanes 3: 36

Doa yang menyenangkan Tuhan

Doa yang bagaimana yang seharusnya kita panjatkan? Silahkan menonton video di atas.

“Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan.” Matius 7: 8

Ayat diatas adalah ayat yang sangat terkenal, terutama di kalangan tertentu. Ayat ini sering dipakai untuk memberi semangat kepada umat Kristen untuk rajin berdoa guna memohon kepada Tuhan apa saja yang diinginkan mereka. Baik itu untuk kesuksesan, kekayaan, kesembuhan dan apa pun, umat diyakinkan bahwa kalau mereka bersiteguh dalam iman, niscaya Tuhan menuruti permintaan mereka. Karena itu, sebagai orang Kristen, mereka diajarkan bahwa kesempatan untuk meminta sesuatu kepada Tuhan yang mahapemurah haruslah digunakan tanpa keraguan.

Siapa bilang Tuhan tidak mendengarkan doa orang yang benar? Tuhan mau memenuhi permintaan kita, jika itu`mengenai kebutuhan kita dan bukan keinginan kita, dan itu sesuai dengan kehendakNya. Lebih-lebih lagi jika doa kita tidak selalu berpusat pada materi dan kenyamanan hidup semata, tetapi berguna untuk kemuliaan Tuhan dan kepentingan sesama manusia.

“Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” Matius 6: 33