Tinggal sertaku, Tuhan!

“Pada hari mujur bergembiralah, tetapi pada hari malang ingatlah, bahwa hari malang inipun dijadikan Allah seperti juga hari mujur, supaya manusia tidak dapat menemukan sesuatu mengenai masa depannya.” Pengkhotbah 7: 14

Hari ini saya membaca media yang melaporkan bahwa pandemi COVID-19 ini agaknya akan berlangsung cukup lama. Sekalipun vaksin sudah ada, belum tentu itu akan membawa kekebalan terhadap virus yang terus bermutasi. Tambahan lagi, karena jumlah vaksin yang ada pada satu negara mungkin belum cukup atau tidak bisa disebarkan dengan merata, kemungkinan adalah kecil untuk bisa mencapai imunitas masyarakat secara cepat. Dengan demikian, akan ada banyak negara yang masih terus mengalami dampak pandemi ini untuk tahun-tahun mendatang. Bagi banyak manusia di dunia, masa depan adalah sesuatu yang tidak dapat diterka atau direncanakan.

Masa depan yang bagaimanakah yang anda inginkan? Bagi mereka yang masih tergolong muda, mungkin ada banyak yang diidamkan untuk masa depan. Tetapi, bagi mereka yang sudah berumur, masa depan yang mereka impikan dulu adalah masa kini. Mereka mungkin sudah menyerah dan mau menerima apa saja yang bakal terjadi. Walaupun begitu, banyak orang tetap melihat ke masa depan dengan usaha dan pengharapan bahwa pada suatu saat mereka masih akan dapat mengalami sesuatu yang baik dan indah.

Memang agaknya aneh bahwa ada orang yang selalu sibuk memikirkan dan menguatirkan masa depan, sedangkan mereka tidak tahu apa yang akan terjadi esok hari. Tetapi, kita tentu bisa mengerti kalau dalam keadaan darurat saat ini manusia dan negara yang mampu berlomba-lomba untuk membeli bahan kebutuhan pokok dan obat-obatan untuk bisa ditimbun guna menghadapi hari depan yang tidak menentu. Dalam kehidupan sehari-hari orang memang sering kuatir akan apa yang terjadi karena kemungkinan datangnya kejadian-kejadian yang tidak terduga. Hidup adalah penuh dengan misteri, begitu kata orang.

Ayat diatas menunjukkan bahwa apa yang terlihat nyaman dan tidak nyaman terjadi karena kehendak Tuhan. Tuhan yang mahakuasa memang bisa mengizinkan  terjadinya hal apapun, yang tidak bisa diduga manusia, supaya manusia mengakui bahwa mereka hanya dapat bergantung kepada Sang Pencipta. Walaupun demikian, banyak orang yang tetap merasa mampu untuk menentukan hari depan mereka melalui usaha dan kerja; mereka mungkin berpikir bahwa masa depan setiap orang ada ditangan sendiri. Memang banyak guru yang mengajarkan bahwa jika kita bersikap positif untuk menghadapi hidup dan mau bekerja keras, masa depan yang cemerlang menunggu kita. Tetapi itu belum tentu terjadi.

Memandang masa depan yang tidak dapat diduga, sering kali membuat kita ragu. Jika semuanya tidak ada yang pasti, bagaimana pula kita bisa mempunyai harapan untuk hal apapun. Mereka yang mengajarkan manusia untuk berpikir positif selalu menekankan hal percaya diri; sebaliknya mereka yang mengajarkan bahwa Tuhan adalah kunci kehidupan, menekankan hal percaya kepada Tuhan. Dalam hal ini, seakan lebih mudah bagi seseorang untuk mempercayai kemampuan manusia karena Tuhan dan kehendakNya adalah sulit untuk dimengerti. Kehendak Tuhan adalah suatu misteri.

“Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.” Yesaya 55: 8 – 9

Walaupun demikian, mereka yang benar-benar mengenal Tuhan akan mempunyai pengertian tentang cara kerja Tuhan. Sepanjang sejarah, Tuhan selalu bekerja agar umatNya mau menyerahkan hidup mereka sepenuhnya kepadaNya. Ia tahu bahwa manusia tidak dapat hidup dengan bergantung pada diri mereka sendiri. Ia juga tahu bahwa manusia tidak dapat menyelamatkan diri dari dosa dan akibatnya. Karena itu, melalui firmanNya dan berbagai kejadian yang ada di dunia, Tuhan tidak jemu-jemunya mengingatkan bahwa jika kita hanya percaya kepada diri sendiri selama hidup di dunia ini, kehancuranlah yang menunggu kita. Jika itu tidak terjadi sekarang, pastilah itu terjadi di masa depan.

Pagi ini, perlulah kita pikirkan apa yang kita harapkan dari masa depan. Apakah kita mengharapkan datangnya hari-hari gembira yang penuh suka cita? Tidak ada salahnya jika kita mengharapkannya dari Tuhan. Jika itu datang, kita boleh menikmatinya sambil bersyukur kepadaNya. Tetapi, jika hari-hari yang penuh tantangan dan kesulitan datang, kita pun harus sadar bahwa hari-hari itu juga datang dengan seizin Tuhan. Dalam hal ini, mereka yang tidak mengenal Tuhan akan mengeluh dan bahkan mungkin menghujat Tuhan; tetapi mereka yang mengenal kasih Tuhan yang sudah memberi keselamatan yang kekal di surga tidaklah menjadi kecewa, melainkan makin merasakan betapa besar kuasa dan kasih Tuhan. Bagi kita, hidup ini tidak lagi sebuah misteri. Tuhan senantiasa menyertai kita.

“Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.” Filipi 4: 6 – 7

Merasakan kedamaian di tengah kekacauan

“Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.” Filipi 4: 6

Mendengar berita tentang India, mau tidak mau saya merasa sangat sedih. Dengan jumlah penduduk yang hampir 1,4 miliar, negara ini berada dalam urutan kedua sedunia sesudah China. Menurut berita, negara besar ini sekarang kehilangan kira-kira 117 penduduk setiap jam akibat COVID -19. Bagaimana ini bisa terjadi di negara yang paling banyak memproduksi obat-obatan generik sedunia dan yang sebelumnya mengirimkan jutaan vaksin corona ke negara-negara lain?

Berbagai negara sekarang mulai mengirimkan bantuan darurat ke India untuk perawatan pasien yang berupa mesin-mesin pembantu pernafasan dan obat-obatan. Dalam keadaan ini, banyak orang Kristen yang berdoa agar India, yang secara mayoritas beragama Hindu, agar dapat mengatasi bencana ini secepatnya. Selain itu, orang di negara lain juga berdoa agar Tuhan melindungi mereka dari ancaman penularan virus dari India.

Tetapi, apa gunanya kita berdoa? Banyak orang di zaman ini yang sudah tidak percaya bahwa doa itu ada manfaatnya. Mereka yang tidak percaya adanya Tuhan, sudah tentu tidak pernah berdoa. Tetapi, mereka yang masih yakin bahwa Tuhan itu ada, belum tentu mau berdoa atau bisa berdoa secara teratur. Doa itu membutuhkan waktu dan tenaga, dan ditengah kesibukan yang ada, orang mungkin lebih senang memakai waktunya untuk hal-hal lain yang dirasa lebih perlu.

Sebagian orang berpikir bahwa doa itu tidak berguna karena tidak akan membuat Tuhan mengubah rencanaNya. Ada juga yang beranggapan bahwa terlalu banyaknya doa menandakan kekurangan manusia dalam usaha dan tanggung jawab atas hidupnya. Orang yang lain berpendapat bahwa doa adalah ibarat candu yang hanya mendatangkan perasaan nyaman karena kebiasaan saja.

Ayat diatas jelas menunjukkan bahwa bagi orang percaya, pendekatan yang benar adalah perlu agar hidup kita tenteram. Itu dimulai dengan anjuran agar kita tidak kuatir tentang apapun juga. Ini tidak mudah dilakukan, karena setiap orang cenderung kuatir atas apa yang tidak dapat dikontrolnya. Mereka yang menderita dan membutuhkan sesuatu, sering merasa Tuhan itu jauh dan tidak terjangkau sekalipun dengan doa yang sering diucapkan. Sebaliknya, mereka yang kelihatannya nyaman hidupnya belum tentu tidak pernah kuatir. Malahan, jika sesuatu yang tidak terduga datang, mereka sering merasakan berbagai ketakutan; apalagi jika mereka sebelumnya jarang berdoa dan tidak tahu bagaimana harus berdoa.

Ayat diatas yang ditulis oleh Rasul Paulus bunyinya seakan mirip dengan “positive thinking” yang diajarkan oleh banyak guru dan motivator di zaman ini. Lupakan kekuatiranmu! Tetaplah positif! Tetapi ayat ini juga mengajarkan agar kita menyatakan segala keinginan kita kepada Tuhan dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Doa yang sedemikian seharusnya menggantikan segala kekuatiran kita. Ini seakan lebih mudah dikatakan daripada dijalankan, apalagi bagi mereka yang hidupnya dalam penderitaan. Tetapi, penulis ayat ini adalah orang yang mengalami berbagai penderitaan dan kekurangan; jadi, apa yang ditulisnya sudah tentu bukan hanya kata-kata kosong tak berarti.

Hari ini, jika kita mempunyai kekuatiran tentang apapun juga, biarlah kita pertama-tama berusaha menguranginya. Sebaliknya, kita harus bisa menyadari bahwa dalam keadaan apapun, Tuhan selalu lebih besar dari masalah kita. KasihNya kepada kita juga sangat besar, dan Ia mempunyai rencana yang baik untuk kita semua. Dengan mengingat bahwa Tuhan itu mahakuasa dan mahakasih, kita akan mendapatkan rasa damai sejahtera sekalipun keadaan di sekeliling kita terlihat suram dan menakutkan.

Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus. Filipi 4: 7

Bencana selalu ada di dunia

Atau sangkamu kedelapan belas orang, yang mati ditimpa menara dekat Siloam, lebih besar kesalahannya dari pada kesalahan semua orang lain yang diam di Yerusalem? Tidak! kata-Ku kepadamu. Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian.” Lukas 13: 4 – 5

Berita tentang makin parahnya kasus penularan COVID-19 di India belakangan ini membuat banyak orang kuatir. Jumlah penambahan kasus positif per hari di India saat ini sudah melampaui apa yang pernah terjadi di Amerika. Orang menduga hal itu terjadi karena kurangnya usaha lockdown dan juga karena munculnya varian virus yang baru. Bagi manusia, kemungkinan terjadinya berbagai bencana bisa diramalkan dengan mengukur dan menganalisa berbagai data, tetapi apa yang akan terjadi biasanya ada diluar jangkauan pengetahuan mereka.

Apa yang dirasakan banyak manusia jika bencana terjadi, biasanya berupa ketakutan atau kekuatiran bahwa Tuhan mungkin sudah membuat semua itu terjadi karena dosa yang diperbuat manusia. Mungkin itu ada benarnya jika membaca kisah bahtera Nuh dan banjir besar yang melanda dunia. Tetapi, Ayub yang baik di mata Tuhan juga tertimpa bencana yang luar biasa dengan seijin Tuhan.

Memang kecenderungan manusia dalam melihat adanya bencana adalah untuk mencoba menduga mengapa itu terjadi. Tetapi, seperti manusia sering tidak dapat menduga kapan bencana akan terjadi, mereka juga sering tidak tahu mengapa itu terjadi. Selain itu manusia juga sering mengira bahwa:

  1. Penderitaan manusia adalah seimbang dengan dosanya.
  2. Adanya bencana selalu menunjukkan kemarahan dan hukuman Tuhan.
  3. Bencana hanya terjadi pada orang yang jahat.

Pada waktu itu datanglah kepada Yesus beberapa orang membawa kabar tentang orang-orang Galilea, yang darahnya dicampurkan Pilatus dengan darah korban yang mereka persembahkan. Mereka yang menemui Yesus, menyangka bahwa karena besarnya dosa orang-orang Galilea itu, mereka mengalami nasib yang tragis. Tetapi, Yesus menjawab bahwa pandangan itu tidaklah benar.

Sebagai umat Kristen kita percaya bahwa Tuhan kita mahakasih, dan karena itu tidak mendatangkan bencana untuk umatNya. Manusia yang hidup dalam dunia sesudah kejatuhan Adam dan Hawa, memang harus menghadapi berbagai bencana karena dunia yang tidak lagi sempurna. Manusia, baik mereka yang jahat maupun yang baik, bisa menerima berkat Tuhan seperti sinar matahari. Karena itu, semua manusia juga bisa mengalami bencana yang terjadi sebagai bagian dari hukum alami.

Adanya bencana belum tentu sehubungan dengan hukuman atau peringatan Tuhan akan dosa korban bencana. Tetapi itu seharusnya mengingatkan bahwa kita hidup dalam dunia yang penuh dosa. Bahwa manusia tidak dapat bergantung kepada dunia atau sesama, tetapi kepada Dia yang memiliki alam semesta. Hidup manusia tidak boleh dihakimi berdasarkan apa yang terjadi pada mereka, sebab semua orang bisa mengalaminya. Semua orang sudah berdosa di hadapan Tuhan dan semua orang bisa membuat kekeliruan.

Mereka yang mengalami bencana di dunia, bukanlah selalu akan mengakhiri hidupnya secara sia-sia. Bagi yang percaya kepada Kristus, hidup ini adalah bukan apa yang terlihat mata, tetapi adalah sesuatu yang akan datang. Bencana juga bisa memberi pelajaran dan kesempatan bagi mereka yang diluputkan, agar mereka mau mengakui kebesaran Tuhan dan menerima keselamatan yang kekal melalui Yesus Kristus.

“Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal.” 2 Korintus 4: 18

Doa adalah penyerahan dalam iman

“Tetapi jawab perwira itu kepada-Nya: “Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh.” Matius 8: 8

Ketika itu Tuhan Yesus sedang di Kapernaum. Agaknya luar biasa bahwa ada seorang perwira Romawi yang menemui Dia dan memohon Yesus untuk menyembuhkan hambanya yang terbaring di rumah karena sakit lumpuh. Sudah dapat dipastikan, keadaan hambanya benar-benar serius. Yesus yang sedang sibuk, menjawab bahwa Ia akan datang ke rumah perwira itu untuk menyembuhkan hambanya. Kisah nyata ini akan berakhir disini jika si perwira mengiyakan Yesus. Yesus sudah berkali-kali menyembuhkan orang sakit dan Ia pasti dapat menyembuhkan si hamba. Tetapi, apa yang tertulis dalam Alkitab sungguh mengherankan. Bukannya meminta atau menerima Yesus untuk datang ke rumahnya, perwira itu justru berkata bahwa ia tidak layak menerima Yesus di rumahnya. Permintaan perwira itu dimulai dengan kerendahan hati dan pengakuan bahwa ia bukanlah orang yang pantas untuk menerima Yesus.

Walaupun demikian, perwira itu kemudian berkata kepada Yesus bahwa sebagai seorang perwira, yang mungkin berkuasa atas 80 prajurit, perintahnya akan diturut oleh anak buahnya. Demikian juga, ia percaya bahwa apa yang dikatakan oleh Yesus akan terjadi. Yesus bisa menyembuhkan hambanya yang sakit cukup dengan satu kata saja. Permintaan perwira itu jelas diiringi dengan pengakuan atas kebesaran dan kedaulatan Tuhan. Apa reaksi Yesus? Yesus berkata bahwa Ia tidak pernah menjumpai iman semacam itu diantara orang Israel. Iman yang sedemikian besar justru ada pada orang yang tidak disangka, yang bukan orang Israel. Dan karena iman itu, kesembuhan hamba perwira itu terjadi.

Apa yang bisa kita pelajari dari kejadian diatas? Ada orang-orang yang mengatakan bahwa iman adalah keberanian untuk menghadapi kenyataan dengan pengharapan, tetapi perwira itu menunjukkan bahwa iman adalah keberanian untuk menghadapi kenyataan dengan keyakinan. Iman adalah keyakinan bahwa Tuhan yang mahakuasa selalu mau mendengar keluhan mereka yang menderita. Dengan keyakinan itu timbul pengharapan bahwa Tuhan akan mengabulkan permohonan kita. Tetapi, jikapun Tuhan tidak mengabulkan permintaan kita, kita tetap yakin bahwa Tuhan tahu apa yang terbaik untuk kita. Itu karena kita yakin bahwa Tuhan selain mahakuasa juga mahakasih dan mahabijaksana.

Sangat penting, dalam meminta segala sesuatu kepada Tuhan, kita menempatkan diri pada posisi yang benar. Kita adalah orang-orang yang sebenarnya tidak pantas untuk menerima perhatian Tuhan. Adalah kenyataan bahwa dalam hidup ini terlalu sering orang Kristen mengharapkan Tuhan akan menjawab segala doa mereka persis seperti yang apa yang mereka pinta. Sering kali mereka merasa bahwa sebagai manusia pilihan Tuhan, mereka adalah orang yang istimewa yang harus mendapatkan perlakuan khusus dari Tuhan. Berbeda dengan si perwira Romawi, mereka merasa pantas untuk menarik Tuhan dengan paksa untuk menyelesaikan masalah mereka, dan bukannya menyerahkan segala sesuatu kepada Tuhan sambil percaya dengan penuh keyakinan akan kebesaranNya. Jika si perwira mengakui bahwa ia adalah manusia yang tidak layak, seringkali umat Kristen merasa layak untuk mendikte Tuhan untuk melakukan sesuatu yang mereka ingini.

Hari ini firman Tuhan mengingatkan kita bahwa sebagai ciptaan Tuhan kita wajib menyadari bahwa kita tidak dapat memaksa Tuhan untuk menuruti kemauan kita. Apapun kedudukan kita dalam masyarakat dan bagaimanapun hubungan kita dengan Tuhan, Tuhan adalah mahabesar dan mahasuci dan karena itu harus kita muliakan. Dalam persoalan hidup yang bagaimanapun besarnya, kita tidak boleh menganggap bahwa Tuhan ada untuk memberikan apa yang kita ingini. Tuhan yang memberi kita iman bahwa Ia mahakuasa dan mahabijaksana, pasti memberi apa yang terbaik untuk kita pada saat yang tepat. Karena itu biarlah dalam menyampaikan permohonan dalam doa, kita selalu dengan rendah hati mengakui kedaulatanNya di bumi dan di surga.

Doa adalah sebuah komunikasi langsung antara umat percaya dengan Tuhannya. Doa yang berakhir dengan kata “amin” sebenarnya adalah sebuah pengakuan. Pengakuan bahwa Tuhan kita adalah Tuhan yang mahatahu dan mahakuasa. Ia tahu apa yang terbaik untuk kita. Jika doa kita berakhir dengan kata “amin”, itu seharusnya berarti “jadilah seperti kehendakMu” dan bukannya “biarlah yang kita doakan digenapi Tuhan”.

“Amin” juga dapat diartikan sebagai “dengan sesungguhnya”. Dalam doa kita dengan sejujurnya benar-benar mengakui Tuhan dengan segala atributNya. Dengan sesungguhnya kita juga mengakui kelemahan kita dan ketergantungan kita kepada Tuhan. Doa dengan kata amin seharusnya juga merupakan penyerahan seluruh hidup kita kepada pimpinanNya.

Pagi ini jika kita berdoa dan mengakhiri doa kita dengan kata “amin”, hendaknya kita sadar bahwa kata ini bukanlah dimaksudkan untuk berbunyi “kabulkanlah doaku”; tetapi sebaliknya berarti “aku menyerahkan hidupku”. Hanya Tuhan yang tahu apa yang terbaik untuk hidup kita!

“Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.” Matius 6: 9-10

Memang banyak yang bisa dikuatirkan

“Dengan tenteram aku mau membaringkan diri, lalu segera tidur, sebab hanya Engkaulah, ya TUHAN, yang membiarkan aku diam dengan aman.” Mazmur 4: 8

Adakah yang anda kuatirkan saat ini? Apakah anda sering kurang bisa tidur karena adanya hal-hal yang membawa kekuatiran? Dulu saya pernah mengalami masalah kurang bisa tidur lelap karena sering bangun di tengah malam, sebab otak saya bekerja memikirkan tugas-tugas esok hari. Saya tidak bisa tidur enak karena adanya kekuatiran bahwa saya akan melupakan hal-hal penting itu. Berdoa memohon tidur yang nyenyak sudah saya lakukan, tetapi saya kemudian sadar bahwa sayalah yang harus mengubah cara hidup saya dalam menghadapi tantangan.

Tuhan memang memberi kita kemampuan untuk merasa sakit, takut atau kuatir agar bisa menghindari berbagai macam ancaman atau bahaya, tetapi rasa kuatir atau takut yang berlebihan bisa membuat hidup kita sengsara. Baik ancaman dari luar maupun dari dalam tubuh kita sendiri bisa membuat kita sulit untuk tidur lelap atau hidup dengan tenteram. Tidak mengherankan, suasana pandemi yang tidak kunjung membaik saat ini sudah membuat banyak orang merasa resah.

Banyak orang yang mengalami kesulitan kronis untuk bisa tidur, yang sering disebut insomnia. Penyebabnya ada bermacam-macam, karena faktor medis, faktor lingkungan dan juga faktor kejiwaan memang bisa mempengaruhi kualitas tidur kita. Alkitab tidak membahas insomnia secara langsung, tetapi menghubungkan kegundahan hati (yang jelas bisa membuat orang sulit untuk tidur) dengan ketakutan, kekuatiran dan dosa. Tuhan memberikan manusia firmanNya untuk menghadapi hal-hal itu, dan tergantung kepada manusia apakah mereka mau menjalankannya.

Firman Tuhan berkata bahwa kita tidak perlu takut kepada apapun yang tidak berkuasa membunuh jiwa.

“Dan janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka. Matius 10: 28

Yesus juga sudah mengajarkan bahwa sekalipun kita melihat adanya kemungkinan untuk mengalami kesulitan di hari esok, kita tidak perlu kuatir bahwa Tuhan akan meninggalkan kita. Kesulitan hari ini kita hadapi bersama Dia, demikian juga kesulitan esok hari, itulah yang dinamakan berjalan dengan Yesus setiap hari.

“Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.” Matius 6: 34

Tidak dapat diragukan bahwa adanya dosa bisa membuat kita sulit tidur. Berbuat dosa adalah sesuatu yang dianjurkan iblis kepada manusia di taman Firdaus dan bahkan kepada Yesus di padang gurun. Baik kemarahan yang belum hilang, maupun adanya hal-hal yang jahat yang sudah atau akan dilakukan, atau rasa bersalah karena sudah melanggar firman Tuhan, bisa membuat orang sulit untuk tidur nyenyak atau hidup dengan tenteram.

“Kejahatan dirancangkannya di tempat tidurnya, ia menempatkan dirinya di jalan yang tidak baik; apa yang jahat tidak ditolaknya.” Mazmur 36: 4

Pagi ini kita harus sadar bahwa apapun penyebab kekuatiran dan ketakutan, kita harus berusaha mencari penyebabnya. Dalam banyak hal, kita harus dengan bijaksana mau menilai apakah reaksi kita terhadap apa yang mengancam tidaklah berlebihan. Faktor medis mungkin bisa diatasi dengan pengobatan yang tepat dan bukannya dengan memakai obat terlarang atau cara mistis tertentu. Faktor lingkungan mungkin bisa diatasi dengan memperbaiki suasana lingkungan di mana kita tidur. Sedangkan untuk penyebab kejiwaan yang berhubungan dengan dosa, kita harus mau mengevaluasi dan memperbaiki hidup kita dengan bimbingan Tuhan. Selain itu, dalam keadaan apapun kita boleh berdoa seperti ayat pembukaan diatas: “Dengan tenteram aku mau membaringkan diri, lalu segera tidur. Biarlah Engkau ya TUHAN, yang membiarkan aku diam dengan aman”.

Satu Bapa, satu Pemimpin

“Dan janganlah kamu menyebut siapapun bapa di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di sorga. Janganlah pula kamu disebut pemimpin, karena hanya satu Pemimpinmu, yaitu Mesias.” Matius 23: 9 – 10

Mungkin banyak orang yang tidak sadar bahwa pemakai bahasa Arab dari semua agama zaman Abraham, termasuk Kristen dan Yahudi, menggunakan kata “Allah” yang berarti “Tuhan”. Orang-orang Arab Kristen sampai saat ini tidak memiliki kata lain untuk “Tuhan” selain dari kata “Allah”. Kata Allah dalam tradisi Kristen Asyria juga digunakan daalam liturgi berbahasa Arab. Demikian juga Gereja Syria dan Koptik Mesir yang sama-sama telah menyebar sejak abad 1, semenjak Yesus mengutus para muridNya ke berbagai daerah.

Orang Kristen Arab, menggunakan istilah “Allāh al-ab” untuk Allah Bapa, “Allāh al-ibn” untuk Allah Putra, dan “Allāh al-rūḥ al-quds” untuk Allah Roh Kudus di dalam banyak ritual gereja, seperti tradisi membuat tanda Salib untuk berdoa, memasuki ruang ibadah, dan juga pembaptisan. Mereka mengadopsi salam pembukaan bismillāh Muslim, dan juga menciptakan bismillāh mereka sendiri di awal abad ke-8. Jika bismillah Muslim berbunyi: “Dengan nama Allah, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, bismillāh Trinitias berbunyi: “Dalam nama Allah Bapa dan Allah Putra dan Allah Roh Kudus, Satu Tuhan.” Jadi jelas ada perbedaan yang sangat besar.

Sangat menarik bahwa sebutan Allāh al-ab adalah identik dengan sebutan Allah Bapa di Indonesia. Seorang ayah adalah figur yang selayaknya dicintai dan dihormati oleh anak-anaknya karena ayah yang baik adalah bapa yang melindungi dan memimpin anak-anaknya. Walaupun demikian Yesus dalam ayat diatas melarang murid-muridNya memanggil siapa pun sebagai bapa karena hanya Tuhan di surga yang pantas disebut Bapa. Mengapa demikian?

Bapa yang disebutkan dalam Matius 23: 9 adalah Abba dalam bahasa Ibrani. Dalam konteksnya, Abba adalah oknum yang mempunyai kuasa, otoritas dan kontrol atas hidup manusia. Abba jugalah yang bisa memberkati manusia yang menurut perintahNya dan menghukum mereka yang durjana. Oleh karena itu, panggilan Abba dalam arti yang sepenuhnya hanya patut diberikan kepada Tuhan.

Jika panggilan Abba yang dilandasi dengan penyerahan total adalah hanya untuk Allah, sudah tentu Ia menuntut ketaatan dari umatNya yang lebih besar dari ketaatan yang diberikan manusia kepada ayah mereka. Sayang sekali bahwa tidak semua orang menyadari kemahabesaran Tuhan. Sebab sekalipun banyak orang mengenal Allah, mereka tidak memuliakan Dia sebagai Allah atau mengucap syukur kepada-Nya (Roma 1: 21).

Bagaimana pula dengan ketaatan kepada para pemimpin masyarakat, seperti pemimpin, sekolah, perusahaan, gereja, partai dan negara? Matius 23: 10 menyatakan bahwa kita hanya mempunyai satu Pemimpin yang sejati, yaitu Yesus Kristus. Pemimpin kita adalah Oknum Ilahi yang sudah berkurban untuk menebus dosa kita dengan darahNya.

Dalam hal ini, Filipi 2: 6 – 11 menyatakan bahwa Yesus yang adalah Allah, telah mengosongkan diriNya sendiri dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan itu, Ia telah merendahkan diriNya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepadaNya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi. dan segala lidah mengaku bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan. Jelaslah bahwa Yesus Kristus adalah Pemimpin sejati umat Kristen.

Firman Tuhan hari ini mengingatkan kita akan siapa yang harus kita muliakan dalam hidup ini: Tuhan. Jika manusia cenderung untuk mengagumi, menghormati, menaati dan mengasihi orang-orang yang mereka pandang luar biasa, Tuhan yang maha esa, mahabesar, mahakuasa dan mahakasih adalah jauh lebih mulia dari semuanya. Kepada Allah saja kita patut memanggil Abba, dan kepada AnakNya yang tunggal kita menyerahkan hidup kita sepenuhnya agar bisa dipimpin melalui Roh KudusNya.

YAHWEH: Bukan sekedar nama

Firman Allah kepada Musa: “AKU ADALAH AKU.” Lagi firman-Nya: “Beginilah kaukatakan kepada orang Israel itu: AKULAH AKU telah mengutus aku kepadamu.” Selanjutnya berfirmanlah Allah kepada Musa: “Beginilah kaukatakan kepada orang Israel: TUHAN, Allah nenek moyangmu, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub, telah mengutus aku kepadamu: itulah nama-Ku untuk selama-lamanya dan itulah sebutan-Ku turun-temurun.” Keluaran 3: 14 – 15

Yahweh adalah pengucapan dari nama perjanjian Tuhan, YHVH atau YHWH. Tuhan pertama kali menggunakan nama ini ketika Dia berbicara dengan Abram (Abraham) dalam Kejadian 15: 7. Nama YHVH juga diturunkan kepada Musa di Gunung Sinai ketika Tuhan menampakkan diri kepada Musa di semak yang terbakar. Musa menanyakan nama-Nya dan Tuhan menjawab “Aku adalah Aku”(Keluaran 3:14).

Sebenarnya, Tuhan dikenal dengan berbagai nama dalam kitab Kejadian. Dia disebut “El Elyon” (Tuhan Yang Maha Tinggi), “El Shaddai” (Tuhan Yang Maha Kuasa), “El Roi” (Tuhan yang melihatku), dan nama-nama lainnya. Walaupun demikian, Abraham, Nuh, Ishak, Yakub, dan Laban mengenal Tuhan sebagai YHWH, atau Yahweh.

Yahweh adalah nama yang Tuhan nyatakan kepada Musa agar diingat oleh umat-Nya, Israel, pada saat itu. Selalu diingat, tidak boleh dilupakan. Tuhan memang sedang mempersiapkan umat-Nya untuk mengenali Mesias yang akan datang, “benih” yang dijanjikan di taman Firdaus (Kejadian 3:15). Dari Alkitab kita bisa membaca tentang Tuhan yang mengungkapkan banyak segi dari tujuan dan rencana penebusan-Nya dan lebih banyak lagi tentang siapa Dia, yang tidak pernah berubah. Karena itu, Tuhan adalah Tuhan. Yahweh yang tidak ada duanya.

Dalam kitab Keluaran agaknya nama YHWH sudah dilupakan. Itulah sebabnya tidak disebutkan nama ilahi dalam Keluaran 1 dan 2. Kita harus ingat bahwa umat Israel telah menjadi budak di Mesir selama 400 tahun. Musa telah berada di Midian dengan ayah mertuanya yang tidak mengenal Tuhan selama 40 tahun. Walaupun ada orang-orang yang takut akan Tuhan, dan juga orang-orang yang berseru dalam penderitaan mereka kepada Tuhan, tidak ada yang memanggil nama YHWH. Dengan melupakan Tuhan yang tidak pernah berubah dan Tuhan yang mahakuasa, dan yang rancangan penyelamatan-Nya pasti terjadi, dalam penderitaan umat Israel tidak bisa mengerti siapakah Tuhan mereka, YHWH, yang akan membawa mereka keluar dari tanah Mesir.

Untuk kita, implikasi dari nama yang luar biasa ini, AKU ADALAH AKU, adalah bahwa Allah yang tak terbatas, mutlak, dan menentukan nasib sendiri ini telah datang untuk kita di dalam Yesus Kristus. Dalam Yohanes 8: 56–58, Yesus menjawab kritik dari para pemimpin Yahudi. Dia berkata, “Abraham bapamu bersukacita bahwa ia telah melihatnya dan ia bersukacita. ” Orang-orang Yahudi kemudian berkata kepadanya, “UmurMu belum sampai lima puluh tahun, dan Engkau telah melihat Abraham?” Yesus kemudian berkata kepada mereka, “Aku berkata kepadamu, sebelum Abraham jadi, Aku telah ada. AKU ADALAH AKU!

Haruskah kita sekarang memanggil Tuhan dengan nama Yahweh? Di zaman Perjanjian Lama, Tuhan berbicara melalui para nabi-Nya dan bernubuat tentang Mesias yang akan datang. Selama pelayanan-Nya di bumi, Yesus memberikan penjelasan lebih lanjut tentang tujuan dan rencana Bapa yang tidak berubah. Setelah Yesus datang ke dunia dan mati di kayu salib, mereka yang percaya kepada-Nya akan menerima keselamatan. Mereka diangkat menjadi anak-anak Allah. Sebab itu, kita tidak memiliki roh yang membuat kita takut lagi; tetapi karena Yesus sudah memperdamaikan kita dengan Tuhan, kita tidak boleh lupa bahwa kita telah menerima Roh yang menjadikan kita anak Allah. Oleh Roh itu kita memanggil: “ya Abba, ya Bapa!”

Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah. Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: “ya Abba, ya Bapa!” Roma 8: 14 – 15

Persembahan yang tidak layak itu yang bagaimana?

“Janganlah engkau mempersembahkan bagi TUHAN, Allahmu, lembu atau domba, yang ada cacatnya, atau sesuatu yang buruk; sebab yang demikian adalah kekejian bagi TUHAN, Allahmu.” Ulangan 17: 1

Memberi kepada orang lain adalah sesuatu yang dilakukan beberapa orang secara teratur. Sering kali terlihat baik dan bahwa mereka sangat murah hati, sampai apa yang mereka berikan terlihat oleh banyak orang. Tetapi ada banyak orang yang membawa barang-barang ke badan sosial apa yang tidak layak diberikan. Mereka sering memberi pakaian usang atau barang-barang rusak kepada mereka yang membutuhkan. Jarang, dan bahkan tidak pernah, bahwa apa terbaik diberikan kepada orang yang membutuhkan. Biasanya, hanya yang tersisa atau diapkir yang diberikan.

Ini sering terjadi di gereja dengan cara yang sama. Ada banyak orang yang memberikan persembahan kepada Tuhan, tetapi mereka hanya memberikan yang apa yang tersisa atau yang tidak pantas kepada Tuhan. Mereka tidak memberikan yang terbaik. Ada juga yang memberi gereja uang yang berlimpah dari apa yang diperoleh dengan cara yang tidak benar.

Persembahan ini bukan hanya persembahan uang tunai, tetapi bisa berupa waktu dan tenaga. Dalam hal ini, waktu dan pikiran tidak digunakan untuk kemuliaan Tuhan. Fokus banyak orang adalah diri sendiri atau dunia ini, bukan pada Tuhan dan kerajaanNya. Kesibukan dunia ini seringkali membuat orang memberikan yang seadanya, dan bukan yang terbaik. Mreka mungkin merasa bahwa gereja sudah senang dengan persembahan apa pun dari jemaatnya. Mungkin sebagian merasa bahwa gereja tidak akan berkembang tanpa sumbangan uang dan tenaga mereka. Mereka juga merasa bahwa seharusnya pengurus gereja menghargai semua sumbangan mereka. Mereka lupa bahwa Tuhan tidak membutuhkan apa yang dihasilkan manusia, karena semua yang ada di bumi berasal dari Dia.

Pada waktu itu, Tuhan telah memberi tahu orang Israel untuk tidak mempersembahkan korban yang memiliki cacat di dalamnya. Selama waktu itu, mereka mempersembahkan hewan kurban secara fisik. Apa yang akan dilakukan orang-orang adalah mempersembahkan domba atau lembu yang cacat kepada Tuhan sebagai persembahan mereka kepada-Nya untuk salah satu perayaan. Tuhan akan menganggap ini menjijikkan, karena mereka memberi apa yang patut dibuang, bukan apa yang bisa menunjukkan kemauan mereka untuk menghormati dan memberkati Tuhan.

Setiap orang percaya perlu memberikan yang terbaik kepada Tuhan dan mempercayai Tuhan untuk sisanya. Berikan waktu, uang, dan tenaga terbaik. Luangkan waktu hari ini untuk difokuskan pada apa yang anda berikan kepada Tuhan. Ijinkan Tuhan untuk memiliki yang pertama dan terbaik dari semua yang anda miliki, waktu, energi, kemampuan, dan uang anda. Jangan berikan hanya sisa makanan atau apa yang sebenarnya tidak anda inginkan karena itu adalah dosa.

Alkitab juga mengisahkan bahwa anak-anak imam Eli adalah orang-orang dewasa yang suka menjarah kurban persembahan untuk Allah. Bukannya mereka menunggu sampai upacara persembahan selesai dan kemudian mengambil bagian daging bakaran yang sesuai dengan hukum yang ada, mereka sebaliknya mengambil apa saja yang mereka mau, kalau perlu dengan jalan kekerasan. Lebih dari itu mereka juga berzinah dengan perempuan-perempuan Israel yang melayani di depan pintu Kemah Pertemuan.

Jika kesalahan anak-anak Eli adalah sangat besar menurut standar kepercayaan umat Israel pada waktu itu, semuanya adalah suatu dosa besar yang membuat Allah sangat murka. Segala kesalahan itu dapat disimpulkan sebagai tidak adanya rasa takut kepada Tuhan. Mereka yang seharusnya mengenal Tuhan yang mahasuci, justru mengabaikan adanya Tuhan dengan berbuat semaunya dan dengan tidak menghiraukan teguran Eli, ayah mereka.

Bagi kita, adalah mudah untuk berkata bahwa sudah sepantasnya bahwa Tuhan menghukum anak-anak Eli untuk kedursilaan mereka, dan juga menghukum Eli yang tidak bisa berbuat apa-apa selain menegur mereka. Dalam hal ini, sungguh menarik perhatian bahwa Eli seakan pasrah kepada Tuhan dan tidak lagi peduli akan kemarahan Tuhan yang merasa terhina atas segala apa yang terjadi (1 Samuel 2: 29). Keacuhan kita akan adanya dosa di sekitar kita, adalah termasuk dosa kita juga.

Mungkin kita berpikir bahwa kita tidak akan melakukan hal yang sama seperti yang diperbuat anak-anak Eli. Kita barangkali yakin bahwa perbuatan seperti menjarah, merampok, mencuri, membuli dan berselingkuh tidak pernah kita lakukan dalam hidup ini. Tetapi, apa yang menjadi penyebab utama kemarahan Tuhan adalah sikap hidup manusia yang mengabaikanNya. Perbuatan-perbuatan jahat hanyalah manifestasi hati dan pikiran yang menaruh Tuhan di satu sudut hidup kita untuk bisa dilupakan. Persembahan yang dihargai Tuhan ialadh persembahan hidup kita baik jasmani maupun rohani, sebagai kurban bakaran yang kudus (Roma 12: 1).

Mengabaikan Tuhan tidak selalu berupa tindakan dursila yang jelas terlihat. Eli yang tidak merasa terbeban untuk menghentikan kejahatan anak-anaknya, juga melakukan dosa besar dalam pandangan Tuhan yang mahasuci. Karena itu, kita harus sadar bahwa jika hidup kita berjalan cukup “normal” untuk ukuran manusia dan kita merasa senang karenanya, itu belum tentu merupakan keadaan yang disukai Tuhan. Mungkin kita tidak pernah merasa bersalah mempersembahkan uang yang berasal dari usaha bisnis kita yang melibatkan kegiatan yang tdak baik. Jika hal itu tidak terlihat orang lain, atau dianggap biasa dalam masyarakat, mungkin anda merasa bahwa semua hasil anda adalah halal dan berasal dari Tuhan yang memberkati anda sebagai hadiah iman anda.

Sungguh tidak sukar bagi kita untuk menjadi manusia dursila! Orang yang dursila adalah manusia yang tidak lagi menempatkan Tuhan yang mahasuci di tempat yang tertinggi dalam hidupnya. Orang sedemikian sering mengabaikan firman Tuhan, tidak lagi sadar akan kebesaranNya, dan tidak lagi menghormatiNya dalam setiap segi kehidupannya. Mereka lupa bahwa untuk menebus dosa manusia, Allah menghendaki darah AnakNya yang tidak berdosa, Yesus Kristus.

Bagaimana pemberian anda kepada Tuhan hari ini? Semoga anda mau memberi kepada Tuhan dengan hati yang rela; bahwa anda akan memberikan diri anda sendiri kepada Tuhan; bahwa anda akan memberikan yang terbaik kepada Tuhan; dan bahwa anda akan menghormati Tuhan dalam semua pemberian anda.

“Sebab siapa yang menghormati Aku, akan Kuhormati, tetapi siapa yang menghina Aku, akan dipandang rendah.” 1 Samuel 2: 30

Sebatang kara?

“Berpalinglah kepadaku dan kasihanilah aku, sebab aku sebatang kara dan tertindas.” Mazmur 25: 16

Bagi saya yang sudah jarang menggunakan bahasa Indonesia yang baku, sering kali kata-kata yang saya pakai membuat rasa geli muncul di antara teman-teman yang mendengarnya. Itu tentunya karena saya sudah agak lupa akan arti atau cara penggunaannya. Kata “sebatang kara” misalnya, adalah ungkapan yang saya fahami artinya, tetapi saya tidak mengerti mengapa orang yang tidak mempunyai sanak saudara dikatakan seperti kara yang tinggal sebatang. Setelah melihat kamus, barulah saya sadar kalau kara adalah sejenis kacang-kacangan. Jadi mungkin orang yang sendirian digambarkan seperti satu tumbuhan yang hidupnya merana, kesepian, karena tinggal sebatang saja.

Memang masalah kesepian itu masalah yang sangat umum di kalangan apapun. Mereka yang muda mungkin kesepian karena hidup jauh dari orang tua atau karena ditinggal teman/pacar. Mereka yang berkeluarga mungkin kesepian setelah ditinggal atau dilupakan oleh suami, istri atau anak tersayang. Dalam kesepian, seseorang mungkin hidup di tengah keramaian, tetapi tetap merasakan bahwa hati dan pikirannya serasa kosong dan karena itu hidup pun serasa tidak ada artinya. Kesepian memang adalah salah satu penyebab utama penyakit kejiwaan, terutama di saat pandemi ini.

Pemazmur diatas merasakan kesepian karena sebatang kara dan tertindas. Memang manusia sebagai mahluk sosial selalu membutuhkan teman. Jika teman yang baik tidak dipunyai, serasa hidup kita sebatang kara. Apalagi jika kita berada dalam kesulitan. Yesus pun merasakan kesepian di taman Getsemani sebelum disalibkan karena semua orang, termasuk murid-muridNya, meninggalkan atau melupakan Dia.

Kesepian jugalah yang membuat seseorang mencari jalan keluar berupa berbagai aktivitas-aktivitas sosial untuk menghilangkan kebosanan, atau dengan sibuk mengumpulkan harta benda, membeli pakaian, makanan dan minuman secara berlebihan, memakai obat-obat terlarang, memiliki banyak mainan atau hewan peliharaan dsb.

Kesepian sebenarnya adalah tanda jauhnya Tuhan dari hidup manusia. Yesus merasa kesepian di taman Getsemane karena Allah Bapa membiarkan Yesus bergumul dalam usaha untuk menebus dosa manusia. Manusia mungkin merasa kesepian karena mereka telah hidup sesat, jauh dari Tuhan. Ada juga mereka yang kesepian karena belum mengenal Tuhan. Mereka yang kenal Tuhan sering juga merasa Tuhan itu jauh dan lambat bereaksi. Dan banyak juga manusia yang merasa kesepian karena iblis yang berusaha menghancurkan hidup mereka. Memang manusia mudah dikalahkan melalui kesepian.

Sulit bagi manusia jika tantangan hidup ini harus dihadapi seorang diri. Sejak dari awalnya Tuhan tahu bahwa manusia tidak dapat hidup seorang diri (Kejadian 2: 18). Tetapi, dalam kenyataan hidup ini masih banyak orang yang harus berjuang seorang diri baik di keluarga, sekolah, kantor dan bahkan di lingkungan gereja. Manusia agaknya sukar untuk mengerti perasaan orang lain. Manusia juga sulit diharapkan untuk mau atau dapat menolong sesamanya.

Kesepian adalah salah satu musuh besar manusia modern. Manusia yang makin individualis. Tiap orang, tua maupun muda, harus bisa menangani hidupnya sendiri. Teman, anak dan keluarga tidak dapat lagi diharapkan untuk memberi dukungan. Kekecewaan mungkin datang silih berganti dan segala aktivitas pelarian ternyata hanya memberi kebahagiaan semu yang bersifat sementara. Hanya satu yang tidak pernah berubah: Tuhan itu ada dan Ia tetap mengasihi umatNya. KepadaNya kita berharap, didalam Dia kita menemukan kedamaian.

“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” Matius 11: 28

Mengapa bisa malu menjadi anak Tuhan?

“Sebab yang sangat kurindukan dan kuharapkan ialah bahwa aku dalam segala hal tidak akan beroleh malu, melainkan seperti sediakala, demikianpun sekarang, Kristus dengan nyata dimuliakan di dalam tubuhku, baik oleh hidupku, maupun oleh matiku.” Filipi 1: 20

Pernahkah anda merasa malu? Tentunya setiap orang pernah mengalami peristiwa yang memalukan dalam hidupnya. Mungkin itu hanya soal kecil seperti memakai pakaian yang kurang sesuai ke pesta, atau hal yang lebih besar seperti lupa mengerjakan tugas penting yang diberikan atasan.

Untuk hal yang kecil, biasanya orang lebih mudah melupakan rasa malunya, tetapi ada hal-hal lain yang signifikan yang membuat rasa malu sulit hilang dari pikiran. Dalam hal ini, ada hal yang sekalipun terasa kecil untuk seseorang, merupakan hal yang besar untuk orang lain. Walaupun demikian, ada orang yang tidak pernah merasa malu sekalipun ia melakukan hal-hal yang membuat orang lain merasa sangat malu. Tidak tahu malu, istilahnya. Tetapi rasa malu adalah soal pribadi, dan tiap orang agaknya mempunyai kesadaran yang berbeda.

Di zaman sekarang orang mudah merasa malu jika mobil sudah nampak tua, atau rumah yang tidak sebesar rumah tetangga. Tetapi, banyak orang tidak merasa malu ketika ketahuan sudah menyalah-gunakan uang perusahaan atau uang negara. Mereka yang bisa memperoleh banyak uang dengan cara menjual diri pun tidak merasa malu mempertunjukkan hasil jerih payahnya.

Pada pihak yang lain, ada anggapan sebagian orang bahwa mereka yang hidupnya enak adalah orang-orang yang diberkati Tuhan. Bahkan, ada banyak pendeta yang mengajarkan bahwa anak-anak Tuhan harus merasa malu kalau Tuhan belum memberikan berkatNya dengan berlimpah. Mereka mengajarkan jemaat untuk banyak berdoa guna memperoleh berkat dari surga. Semua anak Tuhan bisa makmur hidupnya, kalau saja mereka mau meminta dari Tuhan yang mahakaya, begitu saran mereka.

Bagi orang Kristen yang benar-benar hidup dalam Tuhan, rasa malu bukanlah karena merasa kalah dengan orang lain dalam hal duniawi. Tuhan bukanlah yang menimbulkan rasa malu, tetapi umat Tuhan bisa merasa malu karena apa yang kurang baik yang diperbuatnya. Pada waktu Adam dan Hawa melanggar larangan Tuhan di taman Firdaus, mereka tiba-tiba sadar akan ketelanjangan mereka (Kejadian 3: 7). Mereka merasa malu bukan karena Tuhan membuatnya muncul, dan bukan juga karena adanya bentuk tubuh yang berlainan, tetapi karena adanya kesadaran bahwa mereka sudah mengkhianati kasih Tuhan.

Dalam kehidupan umat Kristen, penebusan oleh darah Kristus sudah mencuci bersih dosa kita (Yesaya 1: 18). Apa yang dulunya gelap, sekarang menjadi terang; apa yang dulunya kotor sekarang menjadi putih bersih. Dengan itu semua rasa bersalah, rasa malu dan rasa pahit dari masa lalu kita seharusnya bisa dihilangkan dari pikiran kita. Karena pengampunan Tuhan, kita juga wajib mengampuni diri kita dan juga orang lain, melupakan hal-hal memalukan dari masa lalu.

Walaupun demikian, ayat diatas menyatakan jika kita tidak memuliakan Kristus sepenuhnya, patutlah kita merasa malu. Hidup baru orang yang sudah diselamatkan seharusnya bisa terlihat dari apa yang diperbuatnya dan apa yang dihasilkannya. Karena kita sudah diselamatkan bukan karena usaha kita, kita harus selalu memuliakan Kristus Juruselamat kita, baik oleh hidup kita maupun oleh mati kita. Selama hidup ini kita harus memuliakan Kristus dalam segala apa yang kita kerjakan, sehingga jika tiba waktunya untuk kita meninggalkan dunia ini, Tuhan akan menerima kita dengan ucapan selamat atas segala jerih payah kita (Matius 25: 21).

Hari ini, marilah kita menganalisa hidup pribadi kita. Marilah kita memikirkan apa yang sudah kita lakukan dalam hidup kita sampai sekarang. Apakah kita sudah memakai segala apa yang kita punyai untuk memuliakan Tuhan dalam segala kesempatan yang diberikanNya? Apakah kita merasa puas dengan pujian orang lain atas hidup kita yang terlihat indah di depan umum? Ataukah kita secara pribadi mengakui bahwa kita masih sering mementingkan apa yang kita senangi saja dan melupakan rasa malu kepada Tuhan yang sudah mencurahkan kasihNya yang sungguh besar kepada kita? Semua itu hanya bisa dijawab oleh setiap orang percaya secara pribadi sesuai dengan panggilan Tuhan dan bukannya dengan mendengarkan pendapat dunia. Semoga pencerahan Roh Kudus bisa kita rasakan dan sadari dalam hidup kita.

“Tetapi manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah, karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan; dan ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohani. Tetapi manusia rohani menilai segala sesuatu, tetapi ia sendiri tidak dinilai oleh orang lain.” 1 Korintus 2: 14 – 15