Perhatian kita harus sepenuhnya kepada Kristus

“Tetapi aku takut, kalau-kalau pikiran kamu disesatkan dari kesetiaan kamu yang sejati kepada Kristus, sama seperti Hawa diperdayakan oleh ular itu dengan kelicikannya.” 2 Korintus 11: 3

Dalam bepergian ketempat asing adalah kurang menyenangkan jika kita tidak dapat mencapai tujuan kita. Mungkin jalan yang kita pilih pada mulanya tidak memberi kesan bahwa jalan itu adalah jalan yang keliru, tetapi kemudian kita bisa sadar bahwa kita telah tersesat. Kesadaran itu mungkin timbul karena apa yang kita tuju tidak kunjung terlihat, atau karena suasana di sekitar kita yang terasa asing, atau mungkin juga karena ada orang yang menyadarkan kita.

Kesadaran saja, bahwa kita harus berganti haluan, tidak bisa menjamin bahwa kita akan menemukan jurusan yang benar. Tanpa mengganti jurusan, kita mungkin tidak bisa mencapai tujuan kita. Juga, tanpa memakai suatu pedoman arah, tidaklah mudah untuk memastikan ke mana kita harus pergi. Dan sekalipun kita mempunyai pedoman arah, pengertian kita mungkin keliru. Belum lagi kalau ada hal-hal yang mengalihkan perhatian kita dari arah yang benar. Memang jika kita benar-benar berada di tempat yang asing, kita harus selalu berhati-hati dan mau mempelajari medan.

Seperti itu jugalah hidup kita sebagai orang Kristen yang menuju ke tempat yang asing untuk kita yaitu surga. Dalam perjalanan hidup, banyaklah hal-hal yang bisa mengalihkan kita dari arah yang benar. Banyak orang Kristen yang sepertinya mempelajari firman Tuhan, tetapi sebenarnya lebih memusatkan perhatian pada sejarah, humanisme, kebudayaan dan bahasa yang dipakai umat Tuhan yang ditampilkan dalam Alkitab. Padahal, pedoman arah kita, Alkitab, menulis bahwa Yesus berkata:

“Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” Yohanes 14: 6

Jika kita tahu bahwa ada satu jalan menuju ke arah keselamatan, ada sebuah pertanyaan yang sering menggelitik kita: apakah kita bisa tersesat dalam perjalanan hidup ini? Ayat yang ditulis rasul Paulus dalam kitab 2 Korintus 11: 3 di atas menunjukkan bahwa kita bisa saja tersesat dalam iman kita. Paulus jelas tidak ragu untuk mengingatkan jika kita tidak mempunyai perhatian yang dipusatkan kepada Kristus dan firmanNya saja, kita mungkin sudah jatuh kedalam tipuan iblis. Umat Kristen yang merasa percaya kepada Yesus, bisa saja tersesat jika pusat perhatian mereka berubah menjadi perhatian pada ajaran manusia yang selalu berubah-ubah di sepanjang masa.

Hari ini kita diingatkan bahwa menjalani hidup kekristenan itu tidak mudah. Jika kita tidak selalu awas akan arah iman kita dan selalu memakai Alkitab dengan benar, kita akan bisa tersesat. Ada begitu banyak orang yang menunjukkan berbagai arah dan jurusan menuju ke arah surga, dan ada begitu banyak orang yang percaya perlunya untuk mempunyai hal-hal ekstra di luar Yesus; semua itu bisa-bisa adalah tipu daya iblis yang berusaha memperdayai kita.

Kita harus sadar bahwa seperti dalam melakukan perjalanan wisata, kita harus selalu mau mempelajari medan dan memakai pedoman arah; dalam perjalanan hidup kita harus selalu memusatkan perhatian kepada Yesus dan anugerah keselamatanNya sesuai dengan firman Tuhan.

“Ingatlah juga bahwa dari kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus. Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.” 2 Timotius 3: 15-16

Menyimak indahnya kepalsuan

“Bahkan dari antara kamu sendiri akan muncul beberapa orang, yang dengan ajaran palsu mereka berusaha menarik murid-murid dari jalan yang benar dan supaya mengikut mereka.” Kisah Para Rasul 20: 30

Usaha membuat sesuatu lebih baik dari aslinya bukan saja dalam hal jual-beli barang, tetapi juga dalam hal keagamaan. Sejarah membuktikan adanya banyak orang yang jatuh ke dalam jebakan pemimpin-pemimpin agama atau sekte, yang mengajarkan hal-hal yang tidak benar, yang dibungkus sedemikian rupa sehingga terlihat indah dan berguna. Orang yang terbujuk sering kali terjerumus sangat dalam dan sulit untuk disadarkan.

Sebenarnya sejak Yesus meninggalkan dunia ini sudah ada pemimpin-pemimpin kerohanian yang berusaha menarik orang-orang dari jalan yang benar supaya mengikut mereka. Paulus dalam ayat di atas mengingatkan pengikut Kristus bahwa orang-orang semacam itu harus diwaspadai karena mereka bukannya muncul sebagai orang yang tidak mengenal Kristus, tetapi justru terlihat sebagai pengikut Kristus.

Pada zaman sekarang, penyesat-penyesat seperti itu sangat sering muncul dalam kalangan Kristen, dan bahkan dalam gereja-gereja besar. Mereka yang mengajarkan hal-hal yang tidak berdasarkan Alkitab, yang menekankan pengertian mereka sendiri, yang menonjolkan pengalaman pribadi, semuanya untuk menarik umat supaya mengikut mereka, dan bukannya untuk mengikut Kristus. Mereka sering kali terlihat penuh dengan kebijaksanaan yang seolah datang dari Tuhan, tetapi semua itu adalah kepalsuan.

Mengenai Alkitab, beberapa golongan yang mengaku Kristen ternyata tidak mengakuinya sebagai satu-satunya firman Tuhan. Ada yang mempersoalkan penggunaan kata-kata tertentu dalam Alkitab, dan ada juga yang menambahkan ayat-ayat dari kitab-kitab kuno lain untuk “melengkapi” Alkitab. Salah satu kitab yang pernah dianggap sebagai bagian dari Alkitab adalah kitab Yasar yang berarti “kitab orang jujur”.

Ada sebuah buku yang disebut “The Book of Jasher” hari ini, meskipun itu bukan buku yang sama seperti yang disebutkan dalam Perjanjian Lama. Ini adalah pemalsuan abad kedelapan belas yang dituduh sebagai terjemahan dari Buku Jasher yang “hilang” oleh Alcuin, seorang sarjana Inggris abad kedelapan. Ada juga buku yang lebih baru berjudul “The Book of Jashar” oleh penulis fiksi ilmiah dan fantasi Benjamin Rosenbaum. Buku ini adalah karya fiksi yang lengkap.

Kitab Orang Jujur ( “Kitab al Mustakim”; “Buku Yasar”; bahasa Inggris: Book of Jasher atau Book of Jashar); juga dinamakan Book of the Upright (“Kitab Orang yang Benar”) atau Book of the Just Man adalah sebuah kitab non-kanonik yang disebutkan dalam Alkitab Ibrani (Perjanjian Lama di Alkitab Kristen). Terjemahan “Kitab Orang Jujur” merupakan terjemahan tradisional bahasa Yunani dan Latin, sedangkan bentuk transliterasi “Jasher” ditemukan dalam Alkitab King James version tahun 1611.

Buku lain dengan nama yang sama, disebut oleh banyak orang “Pseudo-Jasher,” sementara ditulis dalam bahasa Ibrani, juga bukan “Book of Jasher” yang disebutkan dalam Alkitab. Ini adalah buku legenda Yahudi dari penciptaan hingga penaklukan Kanaan di bawah Yosua, tetapi para ahli berpendapat bahwa itu tidak ada sebelum 1625 M. Selain itu, ada beberapa karya teologis lain oleh para rabi dan sarjana Yahudi yang disebut “Sefer ha Yashar, ”Tetapi tidak satupun dari ini yang mengklaim sebagai Kitab Jasher yang asli.

Pada akhirnya, kita harus menyimpulkan bahwa sebagai umat Tuhan kita harus berhati-hati untuk tidak terperosok ke dalam apa yang kurang benar. Firman Tuhan mengingatkan kita bahwa jika kita mengagumi seorang yang nampak hebat dalam mengajarkan firman Tuhan, tetapi sering membicarakan apa yang baik dan buruk menurut pengertian dan pengalaman mereka sendiri, kita harus mau menguji apa yang disampaikan mereka bersama dengan saudara-saudara seiman yang lain. Kita harus sadar bahwa dengan kekuatan sendiri tidaklah mudah bagi kita untuk membedakan apa yang benar dari apa yang tidak benar. Karena itu kita harus mau untuk saling mendoakan, menguatkan dan mengingatkan agar kita bisa menjauhi guru-guru palsu yang ada di sekitar kita.

“Sebab orang-orang itu adalah rasul-rasul palsu, pekerja-pekerja curang, yang menyamar sebagai rasul-rasul Kristus.” 2 Korintus 11: 13

Hambar menjadi manis

“Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu. Dan apa yang telah kamu pelajari dan apa yang telah kamu terima, dan apa yang telah kamu dengar dan apa yang telah kamu lihat padaku, lakukanlah itu. Maka Allah sumber damai sejahtera akan menyertai kamu.” Filipi 4: 8 – 9

Hidup yang manis, yang penuh madu, tentunya adalah idaman semua orang. Dari kecil sampai tua, semua orang mendambakan kebahagiaan. Bagi sebagian orang yang pernah merasakan saat-saat di mana mereka mengalami kegembiraan, tentunya tidak mudah melupakan hal itu. Walaupun demikian, karena banyaknya pergumulan hidup, banyak orang yang merasa bahwa hidup ini berat.

Memang ada benarnya bahwa manis-pahitnya hidup ini tergantung pada diri kita sendiri. Mereka yang berkelimpahan, belum tentu bisa merasakan kebahagiaan. Sebaliknya, mereka yang berkekurangan belum tentu tidak mempunyai kebahagiaan dalam hidup. Rasul Paulus sendiri pernah menulis bahwa ia berusaha untuk mencukupkan diri dalam setiap keadaan (Filipi 4: 11).

Orang Kristen seharusnya bisa merasa damai dan tenteram dalam setiap keadaan. Ini lebih mudah dikatakan daripada dilakukan. Bagaimana orang bisa menjadikan apa yang pahit untuk menjadi manis? Hanya keajaiban yang bisa membuat itu terjadi! Kita tahu bahwa hanya keajaiban yang bisa membuat air tawar menjadi anggur yang terbaik, dan itu karena Yesus. Karena itu, kita harus bergantung kepada Dia untuk mendapatkan kemampuan untuk membuat hidup yang hambar dan bahkan pahit, untuk menjadi hidup yang terasa manis.

Yesus tidak hanya membuat keajaiban selama Ia hidup di dunia. Ia yang sekarang di surga, tetap bisa menolong kita seperti Ia sudah menolong tuan rumah perjamuan kawin di Kana dengan mengubah air menjadi anggur. Dengan Roh Kudus yang telah dikaruniakanNya, banyak orang Kristen yang dianiaya tetap bisa bertahan dalam hidup mereka dengan keteguhan iman. Dengan bimbingan Roh juga, kita yang mengalami kepahitan hidup dapat melihat kepada kasih kemurahan Tuhan yang sudah memberikan keselamatan kekal kepada kita yang sebenarnya tidak layak menerimanya.

Roh Kudus memang ada dalam hidup kita dan membimbing kita untuk memilih cara hidup yang benar. Tetapi Roh Kudus tidak membuat kita menjadi robot-robot yang hanya bisa menurut perintah Tuhan. Setiap orang sudah diberi Tuhan kebijaksanaan dan kesadaran akan apa yang baik dan yang buruk. Karena itu, apa yang kita pilih bisa menentukan apakah kita akan bisa merasakan manisnya hidup ini. Kekusutan pikiran tentu membuat orang murung, dan orang yang membiarkan hidup mereka untuk diisi kemurungan memang sulit untuk dapat merasakan kasih Tuhan.

Ayat diatas ditulis oleh Paulus dan Timotius kepada jemaat di Filipi untuk menguatkan hidup mereka. Apa yang diajarkan? Jemaat di Filipi dianjurkan untuk memikirkan semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji. Ini bukan cara berpikir positif, positive thinking, tetapi adalah cara hidup positif, positive action, yang bisa membawa damai sejahtera. Sebagai orang Kristen kita tidak berlarut-larut tinggal dalam pikiran yang tidak baik, tetapi selalu memusatkan pikiran dan harapan kita kepada Tuhan. Maukah anda hidup sesuai dengan firman Tuhan?

Tuhan menjadi manusia, mata hati kita melihat, dan kita bertindak

“Lalu Ia naik ke perahu mendapatkan mereka, dan anginpun redalah. Mereka sangat tercengang dan bingung, sebab sesudah peristiwa roti itu mereka belum juga mengerti, dan hati mereka tetap degil.” Markus 6: 51 – 52

Banyak orang yang percaya bahwa apa pun yang kita lakukan, itu bukan 100 persen barang baru. Mereka percaya bahwa setiap tindakan manusia bukanlah berasal dari kehendak sendiri, karena setiap keputusan pasti dipengaruhi oleh apa yang sudah ada dalam pikiran mereka atau apa yang sudah mereka alami. Psikologis juga mengutarakan hal yang sama, bahwa tindakan manusia sering kali tidak logis karena pikiran mereka sudah dipengaruhi oleh apa yang sudah pernah dialami atau pengalaman sebelumnya. Pertanyaan untuk kita: Apakah ada orang yang mengambil keputusan tanpa mempertimbangkan apa yang pernah dialaminya?

Mungkin anda menjawab: Apakah pengalaman adalah guru yang terbaik? Banyak orang yang berkata begitu. Tetapi, jika pengalaman adalah sesuatu yang berguna, dalam kenyataannya tidak semua orang mau atau bisa belajar darinya. Mereka yang keras kepala misalnya, tidak mau gampang-gampang menyerah dengan adanya hasil yang kurang baik dari usahanya, dan karena itu ingin terus mencoba usaha yang sama dengan harapan bahwa lain kali hasilnya akan lebih baik. Selain itu, ada orang yang tidak bisa mengerti bahwa apa yang sudah pernah dilakukannya dan gagal adalah sesuatu yang kurang baik, dan karena itu ia tetap ingin melakukannya.

Memang pengalaman yang dialami seseorang belum tentu bisa dipakai sebagai pedoman untuk masa depan. Pengalaman seseorang yang bersangkutan dengan hubungannya dengan orang lain atau situasi tertentu memang bisa memberi pelajaran berharga, tetapi belum tentu bisa dipakai untuk mengatasi persoalan yang serupa di masa depan. Itu karena keadaan bisa berubah: orang dan situasi yang dihadapi di masa depan mungkin saja berbeda dan itu memerlukan pendekatan yang berbeda. Pengalaman memang memberi pengetahuan empiris, tetapi itu belum tentu bisa dipakai untuk masa depan karena apa yang terjadi di dunia selalu berubah-ubah. Manusia bisa melihat dengan mata, dan dengan otaknya harus memutuskan apa yang akan dilakukannya.

Pada waktu itu, murid-murid Yesus baru saja menyaksikan suatu mukjizat dimana Yesus memberi makan lima ribu orang dengan modal lima roti dan dua ikan. Sesuatu yang tidak bisa dilakukan manusia di dunia, tetapi Yesus sudah memungkinkannya. Apa yang dipikirkan murid-murid Yesus ketika itu? Tentunya mereka heran dan takjub melihat bagaimana Guru mereka bisa melakukan sesuatu yang sebelumnya hanya bisa terjadi dalam alam mimpi. Pengalaman yang luar biasa itu tentunya membekas dalam pikiran dan hati mereka. Jika mereka mau dan bisa belajar dari pengalaman mereka, tentu mereka akan berubah menjadi orang yang percaya bahwa tidak ada yang mustahil bagi Yesus.

Tidak setiap orang mau dan bisa belajar dari pengalaman. Murid-murid Yesus ternyata tergolong kedalam jenis orang yang sedemikian. Mereka adalah orang yang tidak bijaksana. Karena itu, ketika mereka kemudian berperahu dan ditimpa angin badai, mereka menjadi takut. Mereka sudah lupa bahwa Yesus yang baru saja memberi makan lima ribu orang itu tentunya bukan manusia biasa. Pengalaman luar biasa yang dialami mereka sebelumnya ternyata tidak ada gunanya. Dengan kehendak mereka sendiri mereka menolak apa yang sudah dialami sebelumnya.

Kita yang percaya bahwa pengalaman belum tentu merupakan guru yang terbaik karena semua itu bersifat empiris dan hanya berlaku untuk keadaan waktu itu, mungkin ingin membela murid-murid Yesus. Bagaimana mereka bisa percaya bahwa Yesus bisa berjalan di atas air dan menenangkan angin badai? Memang benar Yesus sudah membuat mukjizat dengan lima roti dan dua ikan, tetapi apakah Yesus bisa membuat keajaiban yang menundukkan hukum alam? Yesus sebagai manusia, tidak akan bisa berjalan di atas air dan menghentikan topan! Begitu pikir mereka.

Dalam kehidupan kita di tengah pandemi saat ini, mungkin kita tahu batas-batas di mana pengalaman kita yang lalu bisa berguna untuk menghadapi hari depan. Kita mungkin bisa mengekstrapolasi apa yang kita alami pada masa yang lalu untuk bisa diterapkan di masa depan. Tetapi, kita mungkin sadar bahwa situasi yang ada sekarang ini membuat kita tidak bisa memegang pengalaman kita sebagai guru yang terbaik. Keterbatasan manusia dan perbedaan situasi sering kali membuat kita meragukan manfaat pengalaman kita. Itu bisa dimengerti, kecuali untuk satu pengalaman.

Pengalaman yang kita alami dalam hidup karena campur tangan Tuhan tidak boleh diabaikan karena Tuhan adalah Oknum yang mahakuasa yang tidak bisa dikalahkan oleh situasi dunia dan keterbatasan manusia. Jika Tuhan yang membimbing kita pada waktu yang silam, Ia juga dapat melakukannya di masa depan jika Ia menghendakinya.

Mungkin mata kita melihat apa yang ada di sekeliling kita, dan semua itu membuat kita gundah. Di manakah Tuhan saat ini? Tuhan memang tidak terlihat dengan mata kita, tetapi Tuhan seharusnya dapat dilihat oleh mata hati kita.

Hari ini, adakah kemasygulan di hati kita karena adanya banyak masalah di sekeliling kita? Adakah kekuatiran dan ketakutan karena bahaya yang muncul di mana-mana? Pengalaman hidup kita mungkin mencoba meyakinkan kita untuk tidak kuatir, tetapi pikiran kita tidak dapat meyakini bahwa Tuhan akan dapat menolong kita. Seperti murid-murid Yesus yang sudah melihat satu mukjizat besar tetapi tetap tidak sadar siapakah Yesus itu, kita mungkin tidak mengerti bahwa manusia dan situasi dunia yang berubah-ubah tidak dapat mengurangi kasih dan kuasa Tuhan.

Keputusan ada di tangan kita, apakah kita bertindak menurut apa yang kita lihat, atau menurut apa yang ada dalam hati kita. Biarlah pengalaman kita yang lalu di mana Yesus dengan kasihNya menebus kita dan membawa kita ke jalan keselamatan, bisa meyakinkan kita untuk mengambil keputusan untuk tetap beriman kepadaNya!

Tetap teguh dalam kasihNya

“Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” Roma 8: 38 – 39

Pernahkah anda mengalami pengalaman yang menakutkan? Jika pertanyaan ini diajukan 2 tahun yang lalu, mungkin ada orang yang menjawab “tidak”. Tetapi, setelah datangnya pandemi dan orang bisa melihat bagaimana wabah ini sudah menyebabkan penderitaan dan bahkan kematian di seluruh dunia, mungkin banyak orang akan menjawabnya dengan “ya”.

Kebanyakan orang tentu merasa takut jika ada hal yang terjadi, yang tidak dapat dikontrol. Ketakutan memang bisa muncul ketika ada bahaya yang mendatangi, apalagi jika kita merasa bahwa itu ada di luar kemampuan kita untuk mengatasinya. Dalam hal ini, sekalipun orang percaya akan adanya Tuhan yang mahakuasa, rasa takut sering muncul karena apa yang akan dilakukan Tuhan adalah suatu yang tidak mudah dimengerti.

Sesudah kejatuhan manusia ke dalam dosa, dunia menjadi satu tempat yang penuh dengan semak duri (Kejadian 3: 17 – 19). Walaupun demikian, manusia eksis selama berabad-abad dan hidup sampai sekarang sekalipun banyak makhluk lain yang musnah. Jelas bahwa setiap manusia memang diberi kemampuan untuk bertahan dalam hidup oleh Tuhan yang mahakasih. Lebih dari itu, Tuhan memberi berbagai berkat khusus kepada mereka yang mengasihiNya.

Walaupun demikian, jika kita hidup menurut perintahNya, itu bukan berarti bahwa hidup kita akan selalu tenang. Apa yang Tuhan janjikan adalah penyertaanNya kepada kita sekalipun ada angin topan mendatangi dan gelombang laut yang menggoncang kaki kita. Kunci keberanian orang Kristen adalah keyakinan bahwa Tuhan tidak akan meninggalkan mereka dalam keadaan apapun.

Para murid Yesus pun mengalami berbagai penderitaan. Di antara apa yang tercatat dalam sejarah gereja, Matius dibunuh dengan pedang setelah disiksa terlebih dahulu. Yakobus anak Zebedeus, meninggal karena dipenggal di Jerusalem. Bagaimana dengan Petrus? Ia meninggal dengan cara disalibkan terbalik dengan kepala menghadap ke bawah. Andreas juga meninggal dengan cara disalib seperti Petrus di Yunani. Thomas meninggal karena dihujani tombak, dan sebelumnya dia sempat dilempar kedalam perapian, tetapi tidak meninggal. Matias, yang merupakan Rasul pengganti Yudas Iskariot, meninggal karena dihukum rajam dan akhirnya dipenggal kepalanya.

Apa yang membuat orang Kristen bisa bertahan dalam menghadapi tantangan kehidupan dan bahaya dan lebih tabah dari orang lain? Ayat diatas yang ditulis rasul Paulus kepada jemaat di Roma menyebutkan kunci kekuatan umat Kristen yaitu kasih Allah. Bahwa tidak ada kuasa atau keadaan yang akan dapat memisahkan umat Kristen dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus. Rasul Paulus sendiri disiksa dengan kejam dan dipenggal kepalanya oleh Kaisar Nero pada abad pertama. Ia adalah rasul yang paling lama mengalami penyiksaan di penjara dan karena itu kebanyakan suratnya dibuat dan dikirim dari penjara.

Bagi umat Kristen yang mempunyai hubungan yang erat dengan Tuhan, kasihNya yang mereka rasakan hari demi hari dalam hidup mereka, membuat mereka selalu tabah dan tidak takut menghadapi goncangan dalam hidup. Sekalipun keadaan di dunia saat ini makin mencekam, mereka sadar bahwa hidup di dunia hanyalah sebagian kecil dari hidup keseluruhan. Bagi mereka, hidup yang ada sesudah hidup di dunia adalah yang paling penting.

Hari ini, suasana disekitar kita mungkin terasa suram dan kekuatiran mulai muncul dalam pikiran kita. Apa yang akan terjadi pada diri kita, dan apa pula yang akan muncul di hari-hari mendatang? Kita tidak tahu apa yang akan terjadi dan Tuhan tidak selalu memberikan kita petunjuk yang jelas akan masa depan kita. Tetapi, apa yang pasti adalah kasih dan kuasaNya. Tuhan yang mahakasih selalu memberi kita kekuatan dan Ia yang mahakuasa pasti memberi apa yang terbaik untuk kita. Dengan itu kita boleh yakin bahwa pada akhirnya rencana agung Tuhan akan terjadi dan itu adalah baik untuk kita!

Hidup di tengah pandemi

“Sebab tidak pernah orang membenci tubuhnya sendiri, tetapi mengasuhnya dan merawatinya, sama seperti Kristus terhadap jemaat” Efesus 5: 29

Di zaman modern ini manusia pada umumnya sudah mempunyai kesadaran akan perlunya kesehatan tubuh untuk bisa menjalankan berbagai aktivitas kehidupan. Hari-hari dimana kita boleh makan apa saja yang terasa enak, menghirup asap rokok sendiri atau asap rokok orang lain, atau membuang sampah secara sembarangan sudah berlalu, dan orang bisa ditegur jika melakukan hal-hal semacam itu. Walaupun demikian, setiap hari mungkin kita masih bisa melihat adanya orang-orang yang tidak peduli; bukan saja di Indonesia, tetapi juga di berbagai tempat di dunia.

Jika ada orang-orang yang melakukan hal-hal di atas tanpa merasa bersalah, mungkin kita berpikir bahwa mereka mungkin kurang sadar akan dampaknya. Barangkali kita berpikir bahwa tiap orang boleh memilih apa yang sesuai dengan kehendak mereka. Mungkin juga ada orang yang berpikir bahwa orang-orang semacam itu sudah ditakdirkan untuk hidup seperti itu. Hidup dalam realitas sehari-hari. Karena banyaknya orang yang menderita penyakit, mungkin orang merasa biasa, dan bahkan kebal, dalam melihat apa yang seharusnya terasa menyedihkan, yang terjadi dalam masyarakat. Begitu juga orang Kristen, banyak diantara mereka yang kurang sadar akan peran mereka dalam meningkatkan kesehatan masyarakat.

Beberapa hari yang telah lalu kita melihat di media adanya puluhan ribu orang yang menyerbu sebuah pasar di Jakarta untuk membeli barang-barang yang murah. Mereka tidak peduli bahwa pada saat pandemi ini, orang harus berwaspada akan kemungkinan tertular atau menulari orang lain. Di negara barat, kejadian yang serupa juga ada walaupun untuk maksud yang lain, seperti menghadiri acara-acara atau melakukan aktivitas yang mengundang ribuan orang. Asal diri sendiri puas, peduli amat dengan orang lain!

Masalah kesehatan umum adalah masalah yang sangat penting, tetapi jarang dibahas di gereja. Mungkin ini disebabkan oleh anggapan bahwa hal ini termasuk dalam domain hukum dan medis, bukan agama. Walaupun begitu, ayat di atas menunjukkan bahwa kita harus memikirkan hal kesehatan orang lain dalam setiap tindakan kita. Itu karena Tuhan berkata bahwa kita harus mengasihi orang lain seperti mengasihi diri sendiri (Matius 22: 39).

Dalam hal ini, banyak orang yang merasa bahwa apa yang mereka lakukan untuk diri mereka sendiri, sudah cukup baik untuk orang lain. Padahal, belum tentu apa yang kita rasakan baik untuk diri kita akan membawa kebaikan untuk orang lain. Tidaklah mengherankan jika banyak orang berpendapat bahwa apa yang aman untuk dirinya, juga aman dan tidak berbahaya untuk orang lain.

Memang, untuk bisa mengasihi orang lain, kita harus bisa dengan secara benar mengasihi diri kita sendiri. Mereka yang serampangan dengan hidupnya, tidak mungkin bisa mengasihi orang lain dengan cara yang benar. Mereka yang sering membahayakan diri sendiri, sering juga membahayakan orang lain. Mereka yang sering berani mengambil risiko, pastilah kurang bisa mempertimbangkan risiko bagi orang lain, terutama risiko bagi mereka yang kurang dalam hal kepandaian dan kemampuan.

Hari ini, dalam mengerjakan kegiatan kita sehari-hari, marilah kita memikirkan perbuatan apa saja yang kita biasa lakukan, yang bisa membahayakan diri kita. Lebih dari itu, kita harus mengerti apa saja yang bisa mencelakakan orang lain. Selain itu kita harus bisa memperhitungkan hal yang terburuk, yang mungkin terjadi pada diri kita dan orang lain. Jika kita enggan untuk memikirkan hal-hal itu, perlulah kita bertanya kepada diri kita sendiri: Benarkah kita sudah mengasihi sesama kita seperti mengasihi diri sendiri?

Kita adalah pekerja Tuhan

“Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” Kolose 3: 23

Hari ini adalah hari libur untuk ganti hari buruh di negara bagian Queensland karena hari buruh 1 Mei 2021 kebetulan jatuh pada hari Sabtu yang sudah merupakan hari libur umum. Dengan demikian, hari Senin ini adalah pengganti hari Sabtu yang lalu. Secara tradisi, pada hari buruh banyak anggota serikat buruh yang berbaris ke kota untuk menyuarakan berbagai tuntutan kepada negara agar memperbaiki nasib kaum buruh.

Manusia memang diciptakan Tuhan untuk bekerja. Pada mulanya, pekerjaan bukanlah sesuatu yang berat ataupun hal kurang bisa dinikmati. Manusia tidak diciptakan untuk menjadi budak pekerjaan atau orang lain, sebaliknya untuk menjadi penguasa bumi, sebagai wakil Tuhan.

Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.” Kejadian 1: 28

Walaupun manusia tidak dapat dibandingkan dengan Tuhan penciptaNya, dalam batas-batas tertentu manusia bisa membuat atau menciptakan sesuatu yang baik atau indah bagi sesamanya. Itu memang tugas yang diberikan Tuhan kepada manusia sejak mulanya, untuk mengatur isi bumi ini sebagai utusanNya. Manusia, berbeda dengan makhluk lainnya, memang diberiNya kemampuan untuk melakukan apa yang perlu untuk jalannya kehidupan di bumi.

Sebagai manusia yang bisa berkarya, salah satu kewajiban manusia dalam membuat sesuatu hasil, baik itu kecil ataupun besar, adalah untuk merampungkan tugasnya dengan baik sehingga mereka yang memakai atau menggunakannya akan mendapat manfaat dan bukannya masalah.

Apapun peranan kita dalam hidup sehari-hari, kita harus bisa menjadi orang yang berguna untuk orang lain. Ini, jika dilihat dari sudut pandangan kekristenan, adalah sesuatu yang seharusnya karena Tuhan yang menciptakan manusia juga mempunyai prinsip yang sama: jika Ia bekerja, Ia bekerja sampai tuntas. Jika Ia mencipta, Ia menciptakan segala sesuatu sampai selesai dan berfungsi dengan baik.

“Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari keenam.” Kejadian 1: 31

Orang Kristen yang sadar bahwa Tuhan menciptakan manusia untuk memuliakan Sang Pencipta tentu mengerti bahwa apapun yang mereka kerjakan, haruslah membawa kebaikan – seperti Tuhan yang sudah menciptakan segala sesuatu sehingga terlihat sangat baik dan berfungsi dengan sempurna. Dalam hal ini, pria maupun wanita yang mengurus rumah tangga sudah tentu adalah contoh pekerja yang baik, yang membawa kebahagiaan bagi pasangan dan anak-anak mereka.

Dalam kenyataannya, banyak manusia yang bekerja hanya untuk uang, sebagai keharusan, atau demi keuntungan dan kemasyhuran diri sendiri. Mereka sering kali bekerja secara asal-asalan dan tanpa memikirkan resiko untuk dirinya dan orang yang disekitarnya; dan karena itu bisa mendatangkan kekacauan dan penderitaan bagi orang lain. Manusia juga sering merasa malang karena harus bekerja keras untuk “mencari sesuap nasi”.

Hari ini marilah kita memikirkan apa yang perlu kita persiapkan dan lakukan di hari-hari mendatang. Firman Tuhan berkata bahwa Ia sudah menciptakan apa yang baik untuk kita, dan karena itu kita harus bisa memakai dan mengelolanya dengan baik. Biarlah kita mau bekerja untuk kemuliaan Tuhan dan bukan sekadar memenuhi kewajiban kita!

Manusia bergantung kepada Tuhan

“Aku tahu bahwa segala sesuatu yang dilakukan Allah akan tetap ada untuk selamanya; itu tak dapat ditambah dan tak dapat dikurangi; Allah berbuat demikian, supaya manusia takut akan Dia.” Pengkhotbah 3: 14

Sabtu terasa baru saja berlalu, sekarang sudah hari Sabtu lagi! Kemana hari-hari ini pergi berlalu? Orang bilang: waktu cepat berlalu menunjukkan kesibukan hidup, itu ada benarnya. Tetapi, sekalipun kita tidak terlalu sibuk, hidup manusia terasa berubah cepat dengan adanya pandemi Covid-19 yang berkepanjangan. Kebebasan manusia dalam menentukan arah dan tujuan studi, karir, dan bisnis misalnya, sekarang terpaksa disesuaikan dengan keadaan yang tidak menentu. Banyak murid saya yang berasal dari luar Australia, sekarang terpaksa belajar on-line karena tidak bisa terbang ke Australia. Mereka yang tidak menyukai cara belajar jarak jauh ini, ada yang memilih untuk menunda masuk ke universitas.

Sebenarnya, sebelum adanya pandemi sudah banyak perubahan yang harus kita terima saja, tanpa bisa berbuat sesuatu. Itulah yang membuat kita sering merasa prihatin, terutama jika perubahan nampaknya tidak membawa kebaikan. Perubahan itu bisa datang dari dalam diri kita sendiri sebagai faktor internal, ataupun dari orang lain atau faktor eksternal lainnya. Bertambahnya umur yang untuk sebagian orang adalah sesuatu faktor internal yang membawa kematangan, untuk orang lain mungkin mendatangkan berbagai masalah, terutama kesehatan. Masalah eksternal yang datang dari luar diri kita, seperti adanya virus corona, sudah tentu lebih sulit diduga akibatnya, tetapi selalu terjadi sebagai bagian dari dinamika kehidupan.

Penulis ayat diatas adalah Raja Salomo yang terkenal karena kebijaksanaannya. Ia menulis bahwa segala sesuatu yang ditentukan dan dilakukan Tuhan tidaklah dapat diubah manusia. Segala sesuatu ada masanya, ada waktunya, dan kita tidak dapat menghindari kenyataan ini. Ada waktu untuk bergembira, ada waktu untuk berduka. Ada saat kita sehat, tetapi ada saat kita sakit. Apa yang terjadi mungkin sering dipandang sebagai kehendak Allah yang tidak dapat dihindari dan karena itu sebagian orang hanya bisa menerima semuanya dengan pasrah.

Sebagai orang percaya, memang kita yakin bahwa Tuhan berkuasa atas alam semesta. Apapun yang terjadi dalam hidup kita adalah dengan sepengetahuanNya. Tuhan adalah Tuhan yang mahatahu. Tuhan juga mahakuasa, yang sudah menetapkan hal-hal tertentu untuk terjadi pada saatnya. Walaupun demikian, manusia yang diciptakanNya di dunia, bukanlah seperti robot-robot yang hanya bisa melakukan sesuatu dengan perintah Tuhan. Tuhan memberikan kebebasan kepada manusia untuk mengambil keputusan, dan iblis pun tahu bahwa dengan adanya kebebasan manusia, ia masih mempunyai kesempatan untuk menghancurkan kebahagiaan mereka.

Ayat diatas menegaskan bahwa adanya perubahan dalam hidup kita di dunia ini haruslah bisa kita terima. Jika kita membaca seluruh pasal dalam kitab Pengkhotbah 3, kita akan menyadari bahwa sekalipun kita tidak mengerti arti perubahan dalam hidup kita dan apa yang terjadi di sekitar kita, kita harus percaya bahwa Tuhanlah yang berkuasa atas segalanya.

“Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir.” Pengkhotbah 3: 11

Kitab Pengkhotbah 3 juga menjelaskan bahwa sebagai manusia, kita harus sadar akan keterbatasan kita. Kerapkali, kita menerima kebebasan dan kemampuan yang kita terima dari Tuhan sebagai mandat untuk memaksakan kehendak kita. Kita lupa bahwa manusia bisa, boleh dan bahkan harus berusaha, tetapi kehendak Tuhanlah yang akhirnya akan terjadi. Karena itulah, setiap umat percaya seharusnya mencari kehendak Tuhan dan tidak menyia-nyiakan hidup mereka untuk berusaha menemukan apa yang mereka kehendaki.

Bagi kita yang percaya akan kemurahan Tuhan, kitab Pengkhotbah 3 menulis bahwa hidup ini adalah sebuah kesempatan untuk menikmati apa yang kita sudah terima dari Tuhan. Kegalauan hati dan pikiran tidak akan menolong kita karena kita memang tidak sepenuhnya bisa mengerti apa maksud Tuhan dalam hidup kita. Tetapi berbagai tokoh Alkitab seperti Jusuf, Abraham dan Musa, menyerahkan semua kekuatiran mereka dalam menjalani hidup di tanah yang asing. Mereka bisa menikmati hidup di dunia dengan menyerahkan hidup mereka kedalam bimbingan Tuhan.

“Dan bahwa setiap orang dapat makan, minum dan menikmati kesenangan dalam segala jerih payahnya, itu juga adalah pemberian Allah.” Pengkhotbah 3: 13

Hari ini, mungkin kita merasa bahwa kita kehilangan kontrol atas hidup kita. Pengkhotbah 3 bertanya adakah yang bisa kita lakukan untuk mengatasi rasa putus asa yang mungkin timbul dalam hidup kita. Adakah sesuatu yang bisa kita andalkan? Salomo menulis bahwa tidak ada seorang pun yang bisa menguasai jalannya semua peristiwa kehidupan, tetapi bagi mereka yang takut akan Tuhan, hidup ini adalah suatu kepastian: Tuhan akan membimbing kita dalam keadaan apa pun. Apa yang harus kita lakukan adalah tetap tekun dalam melaksanakan tugas-tugas kita dan bersabar menunggu pertolongan Tuhan yang akan datang pada saatnya.

“Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya.” Pengkhotbah 3: 1

Mencuri bukan hanya berarti mengambil milik orang lain

“Jangan mencuri” Keluaran 20: 15

Tiap hari media selalu menampilkan beberapa kasus pencurian atau penyelewengan dana. Malahan, akhir-akhir ini makin banyak tersangka yang bisa digolongkan orang berpendidikan, dan bahkan termasuk orang-orang “kelas tinggi”. Herannya, banyak di antara mereka yang nampaknya tidak merasa malu atas perbuatan mereka. Memang di zaman ini, orang sering mencuri tanpa sadar bahwa mereka sudah berbuat salah.

Apa arti mencuri? Apakah mencuri selalu merupakan dosa? Inilah beberapa hal yang sering dipertanyakan, sekalipun orang tentunya menyadari bahwa definisi umum kata “mencuri” adalah mengambil barang orang lain tanpa izin atau mengambil sesuatu yang bukan haknya. Mencuri bisa berupa mengambil mangga dari pohon tetangga, meminjam pakaian atau HP teman tanpa izin, mencontoh solusi ujian/riset orang lain, atau tidak membayar hutang atau pajak, sampai hal yang bisa menjadi pokok berita heboh di media, seperti melarikan pasangan orang lain atau menggelapkan uang orang lain atau uang negara, alias korupsi.

Jika kita melihat apa yang tertulis dalam ayat diatas, yang merupakan salah satu dari sepuluh hukum Tuhan, kita mungkin dengan mudah berkata bahwa mencuri dalam segala bentuknya adalah dosa. Baik mencuri barang yang kecil maupun besar adalah dosa. Tetapi, bagaimana jika kita mengambil barang seseorang karena kita merasa bahwa orang yang empunya tidak berkeberatan? Bagaimana pula jika kita mengambil barang orang lain yang sudah tidak dipakai? Atau jika orang mencuri karena terpaksa, karena keadaan yang berat yang dialaminya?

Bagi sebagian orang, mencuri adalah sesuatu yang mempunyai kepuasan tersendiri. Orang yang bisa menggunakan fasilitas atau sarana secara gratis sering merasa senang dan puas sekalipun mereka sanggup membayar. Orang mampu yang menemukan barang berharga yang tertinggal di tempat umum, mungkin masih bisa tergoda untuk mengambilnya. Bagi mereka, kalau orang lain berbuat hal yang sama, dan tidak ada hukum setempat yang melarangnya, itu bukan mencuri. 

Memang ada situasi yang berat, yang memaksa seseorang untuk mencuri. Misalnya, mereka yang kelaparan dan tidak mempunyai uang untuk membeli makanan, mungkin terpaksa untuk mencuri. Ini pun dosa yang tidak seharusnya dilakukan. Hal ini juga bisa menyebabkan orang di sekitarnya berbuat dosa juga karena membiarkan hal ini sampai terjadi. Perintah Yesus untuk mengasihi sesama kita, membuat kita ikut bertanggung jawab jika seseorang terpaksa mencuri, sedangkan kita mampu untuk memberi pertolongan.

Mencuri tidak selalu berupa kegiatan “mengambil”, tetapi juga bersangkutan dengan kegiatan “memberi”. Mereka yang tidak memberikan apa yang seharusnya diberikan/dibaktikan kepada seseorang, masyarakat, negara, dan dunia adalah mencuri hak orang lain.  Sebagai contoh, setiap orang Kristen diwajibkan untuk membayar pajak kepada pemerintah. Tidak membayar pajak atau sengaja mengurangi jumlah pajak yang seharusnya dibayar kepada pemerintah adalah mencuri hak pemerintah.

Mencuri juga bisa berupa penyalahgunaan apa yang diberikan Tuhan kepada kita untuk maksud-maksud tertentu. Tidak menggunakan waktu kita untuk melakukan hal yang baik adalah mencuri waktu yang diberikan Tuhan, sebab Tuhan memberi kita kehidupan bukan untuk dipakai secara sembarangan, tetapi untuk memuliakanNya. Segala berkat yang dilimpahkanNya bukannya untuk kemuliaan kita, tetapi untuk kebesaranNya. Karena itu, dalam keadaan apapun kita tidak boleh lupa untuk menyatakan rasa syukur kita kepadaNya. Jika tidak, kita sebenarnya mencuri kemuliaan Tuhan.

Pada zaman pandemi ini, mencuri juga bisa berupa pengabaian larangan untuk berkerumun atau ketidak-pedulian untuk memakai masker. Mengapa begitu? Jelas itu karena orang sedemikian menggunakan kesempatan untuk memuaskan diri sendiri tanpa memikirkan akibatnya pada orang lain. Mereka yang tidak berhak untuk melakukan hal-hal terlarang itu, merasa bahwa semua itu adalah kemerdekaan yang mereka punyai.

Kita bisa melihat bahwa ayat diatas adalah singkat, tetapi sulit untuk dimengerti dan dilaksanakan. Ketika Adam dan Hawa memakan buah terlarang di taman Eden, agaknya mereka mengambil sesuatu tanpa seizin pemiliknya. Tuhan jelas melarang mereka untuk memakannya. Tetapi, dosa mereka adalah bukan semata-mata karena mencuri, dan bukan juga karena terbujuk ular, tetapi karena mereka pada dasarnya tidak mau tunduk kepada Tuhan. Kita yang adalah keturunan Adam dan Hawa, tetapi sudah menerima anugrah keselamatan dari Tuhan, seharusnya mau sepenuhnya tunduk kepadaNya!

Menghadapi hari depan tanpa kebosanan

“Biarlah matamu memandang terus ke depan dan tatapan matamu tetap ke muka.” Amsal 4: 25

Sudah pasti bahwa kebanyakan orang sudah merasa bosan dengan keadaan saat ini. Pandemi yang tidak kunjung reda membuat orang tidak bebas untuk bepergian, berekreasi, atau melakukan aktivitas di tempat yang ramai. Tidaklah mengherankan bahwa banyak orang yang saat ini merasa tertekan karena hidup seperti burung dalam sangkar. Bagi banyak orang, termasuk saya, menunggu memang bukan pekerjaan yang menyenangkan. Kebosanan sering datang, dan waktu yang sejam saja mungkin terasa seperti seminggu. Apalagi, pandemi ini sudah berlangsung selama lebih dari setahun, dan sekarang bukannya mereda tetapi makin menjadi.

Mengapa timbul kebosanan? Kebosanan adalah keadaan emosi atau psikologis yang gundah karena tidak adanya sesuatu yang bisa dinikmati atau dikerjakan. Kebosanan bisa timbul pada setiap orang, baik yang sibuk atau pun yang menganggur. Bagi yang sibuk tetapi kurang bisa menikmati kegiatannya, kebosanan bisa datang. Sebaliknya, mereka yang tidak mempunyai kegiatan tertentu, sudah tentu mudah menjadi bosan.

Kebosanan dapat mendorong seseorang mencari sesuatu yang lebih berguna untuk dirinya ataupun orang lain, dan juga untuk menciptakan suasana baru. Kebosanan bisa membawa seseorang untuk lebih dekat kepada Tuhan. Tetapi, kebosanan bisa juga membuat orang jatuh dalam dosa. Tidaklah mengherankan, pada saat ini di banyak negara orang mulai melanggar larangan pemerintah untuk menghindari kerumunan. Mereka ingin bebas karena sudah bosan hidup dalam keterbatasan. Tentu saja hal ini berakibat makin banyaknya orang yang terjangkit.

Satu contoh kebosanan yang membawa dosa adalah pengalaman Raja Daud. Ketika Daud bertambah tua, ia menjadi kurang aktif dalam memimpin bani Israel. Tak terasa, hidupnya menjadi membosankan dan karena itu ia membuat petualangan cinta dengan Batsyeba, istri seorang prajuritnya yang bernama Uria. Dengan usaha Daud, Uria gugur di medan perang. Setelah itu, Daud mengawini Batsyeba. Dosa besar raja Daud ini berawal dari kebosanannya.

Bagaimana dengan hal mengikut Kristus? Apakah kita juga bisa bosan menjadi umatNya? Sudah tentu! Jika hubungan kita dengan Tuhan tidak berkembang baik, komunikasi dengan Dia menjadi jarang dan hidup kekristenan kita menjadi membosankan. Dalam keadaan sedemikian, iblis justru dengan tidak bosan-bosannya berusaha menjerumuskan kita kedalam dosa. Selain itu, jika kita lengah, dalam menghadapi keadaan saat ini iblis mungkin membisikkan pesan bahwa hidup saat ini tidak lagi ada gunanya jika kita tidak dapat beraktivitas secara normal. Hidup hanya sekali dan itu harus bisa dinikmati.

Hari ini, jika kita merasa hidup ini mulai membosankan, dan mata serta pikiran kita mulai mencari-cari sesuatu yang bisa menghilangkan kebosanan kita, ayat diatas mengajarkan agar kita tetap memandang terus ke depan dan tatapan mata kita tetap ke muka. Dalam keadaan apapun, kita harus selalu memusatkan perhatian kita apa yang baik dan benar menurut perintah Tuhan. Tetaplah berharap kepada pertolonganNya!

“Tempuhlah jalan yang rata dan hendaklah tetap segala jalanmu. Janganlah menyimpang ke kanan atau ke kiri, jauhkanlah kakimu dari kejahatan.” Amsal 4: 26 – 27