Kemanakah anda akan pergi?

“Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan.” Roma 10: 9

Hari ini saja membaca data Covid-19 untuk seluruh dunia melalui situs Worldometer yang dikenal cukup akurat. Dari data yang ada, saya baca bahwa di dunia ini sudah hampir 170 juta orang yang terjangkit virus corona, dan hampir 3, 5 juta orang yang meninggal. Sungguh menyedihkan bahwa virus ini rupanya tidak pandang bulu, baik negara yang maju maupun yang terbelakang semuanya bisa mengalami dampaknya. Sekalipun majoritas dari jumlah yang terkena virus ini kemudian sembuh, adanya begitu banyak orang yang tewas mau tidak mau membuat saya prihatin.

Bagi mereka yang beragama Kristen, hidup manusia tidak berakhir di dunia. Mereka percaya bahwa ada hidup lain yang dimulai. Tubuh jasmani boleh lenyap, tetapi roh manusia tetap ada. Kemana roh itu akan pergi bergantung pada iman; bagi mereka yang beriman, roh mereka akan pergi menuju ke surga untuk bersekutu dalam kebahagiaan yang kekal bersama Tuhan. Tetapi bagaimana pula dengan orang yang lain, yang tidak percaya bahwa Kristus adalah Juruselamat? Bukankah banyak di antara mereka yang tewas adalah orang-orang yang baik hidupnya dan berguna untuk sesama, bangsa dan negara?

Ke manakah aku akan pergi sesudah kematian menjemputku? Pertanyaan ini tentu pernah muncul dalam pikiran setiap orang. Bagi mereka yang tidak percaya adanya hidup sesudah kematian, life after death, tentu saja kematian adalah akhir hidup. Tidak ada lagi yang perlu dipikirkan; manusia tidak berbeda dengan hewan atau tumbuhan.

Dengan janji Tuhan bahwa setiap orang yang percaya kepada Yesus Kristus akan diselamatkan dan beroleh hidup yang kekal, setiap orang yang mengaku Kristen mungkin merasa lega bahwa ada jaminan keselamatan yang diberikan Tuhan sendiri. Jaminan itu bukan diberikan oleh nabi, rasul atau pendeta, tetapi keluar dari mulut Yesus, Anak Allah, dan itu bukan terbatas pada jumlah 144 ribu yang sering dikumandangkan oleh sekte-sekte tertentu berdasarkan pengertian literal mereka atas kitab Wahyu 7: 4.

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Yohanes 3: 16

Jika kata “setiap orang yang percaya” secara tegas menyatakan bahwa keselamatan bukan hanya untuk bangsa atau suku tertentu, kata “percaya” mungkin lebih sulit untuk diartikan karena iblis pun percaya adanya Tuhan (Yakobus 2: 19). Kepercayaan yang membawa keselamatan (saving faith) bukannya sesuatu yang bisa dilakukan manusia sendiri, sekalipun mata dan pengalaman mungkin dapat membuat manusia percaya akan adanya sesuatu yang jauh lebih berkuasa dari penguasa-penguasa dunia.

Manusia memang diselamatkan hanya melalui iman kepada Tuhan, sola fide. Tetapi Tuhan yang mana dan yang bagaimana, manusia dengan usahanya sendiri tidak akan dapat mengerti jika Tuhan sendiri tidak menyatakan diriNya dalam hatinya. Roh Tuhanlah yang bekerja dalam diri manusia untuk menyadarkan bahwa semua manusia sudah berdosa dan tidak dapat diselamatkan jika Tuhan tidak mengampuni mereka. Roh jugalah yang mencelikkan manusia untuk bisa menyadari bahwa keselamatan adalah semata-mata adalah karunia Tuhan, sola gratia. Roh dengan demikian membuka jiwa, hati dan pikiran manusia untuk dapat mengenal Tuhan yang mahakasih. Manusia dengan usaha sendiri tidak akan bisa menjadi orang yang tidak berdosa dalam pandangan Tuhan.

Ayat pembukaan diatas menyatakan bahwa “percaya” bukanlah sesuatu yang hanya diucapkan, bukan hanya sesuatu yang bisa dilihat, dipikirkan dan dilakukan. Percaya bukanlah identik dengan apa yang dilihat manusia sebagai perbuatan baik selama hidup di dunia. Perbuatan baik manusia tidak bisa menolong manusia untuk mencapai keselamatan. Hanya melalui iman kepada Kristus kita bisa diselamatkan.

Iman harus bisa dinyatakan melalui hati, dan melalui seluruh segi kehidupan manusia. Ini meminta manusia untuk mau menyerahkan seluruh hidup mereka kepada Tuhan untuk menerima pengampunan, dan agar Roh Kudus sepenuhnya mengisi hidup mereka dan mengubah mereka menjadi ciptaan yang baru dalam Tuhan yang selalu memuliakan namaNya dalam setiap segi kehidupan mereka. Dengan demikian, hidup baik orang Kristen adalah ungkapan rasa syukur atas penyelamatan, tetapi bukan usaha untuk mendapatkan keselamatan. Bagaimana pula dengan hidup anda?

Tantangan untuk orang yang beriman

“Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati.” Yakobus 2: 17

Minggu yang lalu saya bertemu dengan seorang teman, dan kami berbincang-bincang mengenai perbedaan antara dua aliran Kristen yang paling sering diperdebatkan. Salah satu aliran sangat menekankan hal kedaulatan Tuhan sehingga segala sesuatu dilihat dari sudut pandang bahwa manusia hanya bisa berserah kepada Tuhan. Tuhan yang menetapkan siapa yang bisa menjadi umatNya dan menentukan segala sesuatu untuk umatNya, baik itu berupa hal yang meyenangkan maupun hal yang menyedihkan. Mereka percaya bahwa Tuhan mahakasih, tetapi keputusan Tuhan tidak bisa dipengaruhi cara hidup manusia. Sekalipun manusia berusaha untuk hidup menurut firmanNya, itu tidak menjamin keselamatan mereka. Orang diselamatkan karena iman, tetapi iman itu datang dari Tuhan tanpa terpengaruh perbuatan manusia.

Aliran yang lain menekankan sifat Tuhan yang mahakasih, yang mau mengampuni manusia jika mereka bertobat dan menyatakan pertobatan mereka. Tuhan bisa mengasihani mereka yang hancur hatinya dan mencari Tuhan dengan sepenuh hati. Tuhan memberikan iman kepada mereka yang mau bersunguh-sungguh memintanya. Tuhan mengasihi mereka yang percaya kepadanya dan rajin berbuat baik untuk Dia dan sesama. Dengan demikian, sikap Tuhan terhadap ciptaanNya dipengaruhi oleh perbuatan mereka. Tuhan bisa berubah pikiran dan itu karena kasihNya.

Kitab Yakobus agaknya berbeda dengan kitab-kitab lain dalam Alkitab. Bagi sebagian orang Kristen yang mengikuti aliran yang pertama, ada sedikit kesan bahwa Yakobus agaknya mementingkan perbuatan dan bahkan menyetarakan iman dengan perbuatan baik. Oleh karena itu, kitab Yakobus mungkin kurang disenangi oleh mereka, dan bahkan ada yang berpendapat bahwa kitab ini mungkin bukan bagian dari Alkitab. Pada pihak yang lain, ada aliran yang sering memakai kitab Yakobus untuk menekankan pentingnya perbuatan, dan bahkan mengharuskan perbuatan baik untuk menjamin adanya keselamatan. Bukankah menurut 1 Korintus 13: 13, kasih adalah lebih besar dari iman dan pengharapan?

Bagaimana manusia bisa mendapatkan keselamatan sesudah hidupnya berakhir di dunia adalah hal utama yang dibahas dalam semua aliran kepercayaan. Kalau ada orang yang hanya membahas bagaimana manusia bisa hidup berbahagia di dunia, orang itu bukan membahas kepercayaan tetapi falsafah hidup. Hidup di dunia memang dapat dilihat dan dirasakan, dan untuk itu kita tidak membutuhkan kepercayaan, tetapi perlu melakukan tindakan atau perbuatan.

Seorang mungkin percaya bahwa pada suatu saat manusia akan bisa pergi ke planet Mars, tetapi kepercayaan semacam itu bukanlah iman, melainkan keyakinan berdasarkan pengetahuan manusia. Tambahan pula, keyakinan itu tidak perlu mengubah cara hidup manusia saat ini, karena hal pergi atau tidak pergi ke Mars sepenuhnya adalah pilihan manusia. Karena itu, hal semacam itu tidak perlu membawa konsekuensi langsung pada cara hidup manusia di dunia.

Bagaimana pula dengan kemungkinan bahwa sesudah hidup di dunia ini berakhir, roh kita akan hidup di tempat lain? Ilmu pengetahuan tidak bisa membuktikan hal ini akan terjadi, dan karena itu kita membutuhkan sesuatu yang lebih dari sekedar keyakinan berdasarkan pengetahuan manusia. Untuk memercayai sesuatu yang tidak bisa dilihat dan diduga manusia, kita memerlukan iman; dan ini pasti tidak dapat bersumber dari manusia. Iman harus datang dari sumber yang bisa dipercayai. Dan melalui iman orang percaya bahwa keselamatan adalah sepenuhnya anugerah Tuhan.

Yesus adalah satu-satunya manusia yang sudah datang dari surga dan membawa berita tentang adanya kehidupan sesudah hidup kita di dunia ini berakhir. Yesus jugalah yang sudah kembali ke surga setelah tugasNya di dunia berakhir. Yesus jugalah yang pernah berkata bahwa hanya mereka yang percaya kepadaNya akan ke surga, sedangkan mereka yang menolakNya akan pergi ke neraka. Manusia yang diberi kemampuan untuk menyadari bahwa Yesus adalah Tuhan, pasti yakin bahwa hal ini adalah sesuatu yang penting, dan bahkan lebih penting daripada hal-hal yang lain di dunia. Hidup di dunia ternyata hanya sebagian kecil dari keseluruhan hidup yang ada.

Keyakinan akan adanya sesuatu yang akan datang, yang jauh lebih lama dan lebih signifikan daripada apa yang dialami di dunia, tidak mungkin untuk tidak mempengaruhi hidup kita yang sekarang. Hanya ada dua kemungkinan di masa depan: hidup bahagia atau hidup sengsara dan keduanya akan abadi. Karena itu, jika kita benar-benar beriman, tidaklah mungkin bagi kita untuk tidak merasakan adanya dorongan hati untuk bersyukur atas kasihNya, dan untuk mempersiapkan diri kita sebaik-baiknya untuk masa depan dengan menyempurnakan iman kita (Matius 5: 48). Memang kita diselamatkan hanya karena iman, tetapi iman yang benar akan nampak dalam hidup kita di dunia sebagai hidup yang taat kepada perintah Tuhan.

Hari ini kita dingatkan bahwa iman harus disertai dengan perbuatan yang seirama. Karena kita percaya bahwa kita akan hidup bersama Tuhan di surga, kita harus bisa memakai hidup kita yang sekarang ini untuk kemuliaan Tuhan dan untuk mengasihi sesama kita, baik mereka yang seiman atau pun mereka yang mempunyai kepercayaan yang berbeda.

Kamu lihat, bahwa iman bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna.” Yakobus 2: 22

Memikul salib adalah keharusan

“Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku.” Matius 10: 38

Dalam suasana saat ini semua orang mengeluh mengapa pandemi ini tidak kunjung berakhir. Mereka yang bekerja dalam bisnis merasa sulit untuk mencari keuntungan, dan karena itu berbagai perusahaan terpaksa mengurangi jumlah pegawai mereka untuk tetap bisa bertahan. Minggu lalu, boss sebuah maskapai penerbangan Australia mengemukakan kekesalannya atas larangan pemerintah untuk terbang ke luar negeri. Menurut dia, lockdown yang berkepanjangan tidak ada gunanya, dan karena itu rakyat harus membiasakan diri untuk hidup berdamai dengan virus. Memang nantinya ada yang tewas karena menjadi korban, tetapi ia berpendapat bahwa Covid 19 tidaklah banyak berbeda dengan virus influensa.

Menerima keadaan yang pahit dengan berani, dan hidup dengan kemauan berjuang, memang sering kali dipandang baik. Tetapi jika orang mengabaikan bahaya virus corona ini, dan kemudian menjalani hidup seakan-akan tidak ada bahaya yang mengancam, tentunya bukan tindakan yang bijaksana. Bagi orang Kristen, itu bukanlah apa yang dimaksudkan Yesus sebagai “memikul salib”. Lalu apa sebenarnya arti memikul salib dan mengikut Yesus?

Yang pertama, agar seseorang bisa membuat keputusan untuk mengikut Yesus, haruslah ada alasan yang kuat. Tanpa alasan yang kuat, tidaklah mungkin seseorang mau menjadi orang Kristen. Baik di zaman dulu maupun di zaman ini, hidup orang Kristen tidaklah berarti hidup yang bergemerlapan dan hidup yang mendapat perlakuan istimewa dari siapapun. Sebaliknya, memikul salib adalah kemauan untuk menghadapi segala penderitaan, tugas, dan rintangan dengan tujuan untuk memuliakan Tuhan.

Yang kedua, adalah umum jika orang mau mengambil keputusan untuk berbuat sesuatu, tetapi berharap agar ia tetap mempunyai kesempatan untuk berubah pikiran. Dengan janji untuk tidak ingkar, orang akan berpikir dua kali untuk menjadi pengikut Yesus karena keputusan yang diambil haruslah pasti, bukan hanya coba-coba. Ini berarti siap untuk menjadi pengikut Yesus di saat suka maupun duka, seumur hidup.

Dan yang ketiga, untuk menjadi pengikut Kristus orang harus meninggalkan hidup lama yang mementingkan hal-hal duniawi, dan menggantinya dengan hidup baru berpusat kepada Yesus. Hidup baru ini sering kali sulit dijalani karena adanya berbagai masalah yang datang dari orang-orang di sekitar kita dan bahkan dari keluarga kita sendiri. Dalam hal ini, banyak orang Kristen yang mengalami pelecehan dan penganiayaan di berbagai tempat di dunia.

Harii ini, ada tiga pertanyaan untuk anda:

1. Apakah tujuan anda untuk menjadi pengikut Kristus adalah untuk percaya kepadaNya, memuliakanNya dan menjalankan firmanNya?

2. Apakah anda benar-benar akan setia dalam suka maupun duka kepada Kristus sampai akhir hidup anda?

3. Apakah anda siap untuk memusatkan hidup anda kepada kemuliaan Tuhan dan siap menderita untukNya, dan bukannya hanya ingin untuk memperoleh berkat-berkatNya?

Ada begitu banyak orang yang mau menjadi pengikut Kristus dengan tujuan yang keliru, yang hanya bertalian dengan keinginan untuk menerima berkatNya. Ada juga mereka yang mengingkari imannya karena adanya godaan dan masalah dalam hidup. Dan ada juga mereka mengira bahwa sebagai pengikut Kristus mereka akan terlepas dari segala penderitaan. Tetapi Yesus berkata bahwa barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Dia, ia tidak layak bagi Dia. Hanya dengan menjawab ketiga pertanyaan diatas dengan benar, barulah kita bisa sungguh-sungguh menjadi pengikut Kristus!

Kegagalan membuat kita bisa melihat kasih Tuhan

Tetapi ia sendiri masuk ke padang gurun sehari perjalanan jauhnya, lalu duduk di bawah sebuah pohon arar. Kemudian ia ingin mati, katanya: “Cukuplah itu! Sekarang, ya TUHAN, ambillah nyawaku, sebab aku ini tidak lebih baik dari pada nenek moyangku.” 1 Raja-raja 19: 4

Pernahkah anda merasa bahwa apa yang sudah anda kerjakan adalah sia-sia, tidak berguna atau berakhir dengan kegagalan? Anda bukan orang satu-satunya! Semua orang, termasuk mereka yang terlihat berhasil dalam hidupnya, pasti pernah mengalami perasaan yang tidak menentu dan bahkan sangat pahit, ketika mengalami apa yang terlihat sebagai kegagalan. Perasaan menyesal, malu, marah, dan sedih mungkin kemudian muncul silih berganti.

Di sepanjang sejarah, kita bisa membaca kisah orang-orang ternama yang mengalami goncangan hidup karena apa yang mereka pandang sebagai “failure“, yaitu kegagalan. Dan pada saat pandemi ini, kita juga mendengar bagaimana banyak dokter dan jururawat yang merasa gagal karena mereka tidak dapat menyelamatkan pasien mereka dari kematian. Kita juga tahu bahwa mereka yang sangat tertekan dengan perasaan gagal itu bisa merasa putus asa dan bahkan kehilangan pikiran sehatnya.

Alkisah pada saat itu seorang nabi Tuhan yang bernama Elia baru saja menang bertanding. Ia mengajak nabi-nabi dewa Baal untuk bertanding dalam hal kurban bakaran. Elia membuat sebuah mezbah dengan kurban bakarannya, demikian pula nabi-nabi dewa Baal membuat tempat persembahan lengkap dengan kurban bakaran. Elia menantang mereka untuk memanggil Baal guna mendatangkan api keatas kurban mereka, supaya orang bisa melihat apakah dewa Baal memang ada. Mereka gagal total. Baal tidak menjawab! Sebaliknya, ketika Elia mempersembahkan kurban bakarannya, api dari Tuhan datang menyambar dan membakar kurban itu. Elia menang. Dan Elia tentunya yakin bahwa Tuhan ada di pihaknya. Kemenangan Elia bahkan diakhiri dengan tewasnya ratusan nabi-nabi Baal.

Kemenangan biasanya terasa manis. Dan mungkin Elia juga merasakannya saat itu. Aku menang! Begitu mungkin ia berpikir. Tetapi kegembiraan yang ada berubah menjadi kekecewaan. Bani Israel tidak bertobat sekalipun Baal sudah terbukti dewa palsu. Raja Ahab dan permaisurinya yang jahat, Izebel, tetap berjaya. Elia mungkin merasakan kekosongan dalam kemenangannya. Ia mulai meragukan apakah semua usahanya ada gunanya. Ia merasa bahwa semua jerih-payahnya untuk membuat bani Israel bertobat adalah sia-sia. Dalam kekecewaannya pikiran sehat Elia mulai hilang. Ia lupa bahwa Tuhan yang mahakuasa adalah Allah yang mempunyai rancangan, yang akan digenapi pada waktu yang Ia tentukan.

Ketika Izebel mengancam untuk menghabisi nyawa Elia sebagai pembalasan, Elia yang berada dalam keadaan lemah rohaninya, merasa sangat takut. Ia melarikan diri. Elia yang sebelumnya berani bertanding melawan nabi-nabi dewa Baal karena yakin akan penyertaan Tuhan, sekarang menjadi Elia yang merasa lemah dalam kesendiriannya. Elia mungkin saja mengalami depresi berat. Bukan karena Tuhan sudah meninggalkannya, tetapi karena ia merasa bahwa Tuhan sudah meninggalkannya. Elia menjadi orang yang kehilangan akal, mungkin seperti banyak orang ketika mengalami kegagalan dalam hidup mereka.

Elia melarikan diri dari Izebel. Takutkah ia akan kematian? Mungkin saja tidak. Ia merasa takut dan lari dari Izebel karena pikirannya yang goncang dalam kekecewaannya. Tetapi Elia justru mengharapkan kematian. Ia merasa gagal total seperti nenek moyangnya dalam usaha mereka untuk memimpin umat Israel kearah yang benar. Ia ingin mati karena ia merasa bertanggung jawab atas semua yang sudah terjadi. Ia lupa bahwa Tuhanlah yang memegang kendali.

Tetapi ia sendiri masuk ke padang gurun sehari perjalanan jauhnya, lalu duduk di bawah sebuah pohon arar. Kemudian ia ingin mati, katanya: “Cukuplah itu! Sekarang, ya TUHAN, ambillah nyawaku, sebab aku ini tidak lebih baik dari pada nenek moyangku.” 1 Raja-Raja 19: 4

Ketika Tuhan menjumpai Elia ditempat persembunyiannya, Tuhan mengerti mengapa Elia lari dari kenyataan. Apa yang Elia butuhkan adalah keyakinan bahwa Tuhan tetap mengasihinya dalam setiap keadaan. Tuhan tahu bahwa Elia tidak akan sanggup menghadapi tantangan kehidupan seorang diri. Tuhan kemudian memberikan Elia penghiburan dan kekuatan dengan mengirim malaikatNya (1 Raja-Raja 19: 5 – 8).

Dalam ayat pembukaan di atas, kita bisa melihat bahwa sebagai manusia, Elia tidak berbeda dengan kita. Dalam kesulitan, Elia merasa bahwa ia adalah satu-satunya hamba Tuhan yang tertinggal dan tidak ada orang lain yang bisa membantunya. Rasa belas kasihan kepada diri sendiri muncul, dan hidupnya terasa malang karena ia merasa dibenci oleh semua orang. Elia merasa tidak lagi berguna dan ingin mati. Ia lupa bahwa Tuhan yang mahakuasa adalah Tuhan yang pengasih, yang tetap menghargai umatNya dalam setiap keadaan.

Tuhan yang mengasihi Elia, kemudian mengutusnya untuk mengurapi tiga pemimpin bani Israel. Tuhan juga memberitahu Elia bahwa ada tujuh ribu orang yang masih taat kepadaNya. Tuhan jelas menyatakan bahwa Elia yang merasa kalah itu adalah orang yang justru berguna untuk Dia. Elia yang merasa sendirian dan merasa tidak dimengerti orang lain, ternyata masih mempunyai banyak teman seiman. Elia tidak sendirian, terutama karena Tuhan sudah menyatakan kasihNya.

Hari ini, jika kita merasa sedih, tertekan, atau juga depresi, mungkin kita merasa bahwa hidup kita tidak berguna lagi. Seperti Elia, mungkin kita merasa semua usaha baik kita sia-sia. Seperti Elia, kita mungkin lupa bahwa Tuhan yang menyertai kita pada saat yang lalu, adalah Tuhan yang sekarang beserta kita. Tuhan jugalah yang bisa dan mau memakai sisa hidup untuk kemuliaanNya di masa depan!

Keadaan yang buruk tidak dapat melenyapkan apa yang baik

“Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.” Galatia 5: 22 – 23

Bulan ini adalah bulan terakhir sebelum musim dingin datang di Australia. Musim dingin dimulai pada bulan Juni, dan berlangsung sampai akhir Agustus. Di depan kantor saya terlihat daun-daun yang mulai berguguran dan apa yang masih ada di pohon terlihat sangat indah berwarna-warni. Walaupun musim dingin mempunyai keindahan tersendiri, ada hal-hal yang membuat saya merasa masygul dalam memasuki musim dingin pada tahun ini. Pandemi Covid-19 yang sudah berlangsung lebih dari setahun, dan situasi keamanan dunia yang saat ini mulai digoncangkan oleh berbagai pergolakan dan pertentangan, membuat saya kurang yakin apakah keadaan akan bisa cepat membaik.

Dari apa yang digambarkan dalam Alkitab dalam kitab Kejadian, semua yang ada di taman Eden sebelum manusia jatuh ke dalam dosa terlihat nyaman dan indah dan itu membuat Tuhan menjadi senang (Kejadian 1: 31). Apa yang ada pada waktu itu adalah hubungan yang harmonis antara Tuhan sang Pencipta dan segala makhluk ciptaanNya. Dalam segala apa yang diciptakanNya, kebesaran Tuhan terlihat nyata dan dipermuliakan. Tetapi dengan terjadinya dosa segala keindahan itu menjadi rusak karena tipu daya iblis. Namun, keadaan yang buruk itu tidak dapat mengubah apa yang benar-benar baik, yaitu Tuhan dan kasihNya.

Sebagai Tuhan yang menciptakan segala sesuatu yang baik, Tuhan tentu mau agar segala ciptaanNya bisa membawa kemuliaan bagiNya. Kejatuhan manusia membuat itu tidak mungkin terjadi jika Ia tidak merencanakan sesuatu yang bisa mengalahkan iblis dan mengembalikan keadaan manusia kepada keadaan semula. Melalui kematian dan kebangkitan Kristus, iblis sudah dikalahkan dan manusia bisa memperoleh status sebagai anak Tuhan. Sejak itu, mereka yang percaya kepada Yesus bisa kembali mempunyai hubungan yang baik dengan Allah Bapa. Mereka yang menerima Kristus sebagai Juruselamat bisa menjadi anak-anak Allah.

Hubungan yang baik antara Sang Pencipta dan ciptaanNya memungkinkan segala apa yang baik kembali muncul dalam diri ciptaanNya. Mereka yang sudah menjadi ciptaan baru di dalam Tuhan dengan demikian akan berubah hari demi hari, makin lama makin menjadi seperti Dia. Dengan demikian, mereka yang hidup dalam Tuhan akan mengeluarkan apa yang baik: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri.

Tidaklah mudah bagi manusia untuk tetap bisa mengeluarkan apa yang baik, yang disukai Tuhan, jika keadaan di sekelilingnya menjadi buruk. Dalam keadaan yang kacau, tegang dan menguatirkan, manusia cenderung untuk menampilkan apa yang tidak disenangi Tuhan: kebencian, kebohongan, permusuhan, kesombongan dan sebagainya.

“Enam perkara ini yang dibenci TUHAN, bahkan, tujuh perkara yang menjadi kekejian bagi hati-Nya: mata sombong, lidah dusta, tangan yang menumpahkan darah orang yang tidak bersalah, hati yang membuat rencana-rencana yang jahat, kaki yang segera lari menuju kejahatan, seorang saksi dusta yang menyembur-nyemburkan kebohongan dan yang menimbulkan pertengkaran saudara.” Amsal 6: 16 – 19

Hari ini, pertanyaan kepada kita adalah apakah kita sudah benar-benar bertobat dari hidup lama kita dan menerima Kristus sebagai Juruselamat kita. Jika memang begitu, tentunya hidup kita sudah terlihat seperti pohon yang menghasilkan buah yang baik. Masalahnya, sebagai manusia kita tetap merupakan makhluk yang lemah. Jika suasana hidup terasa menekan, apa yang cenderung muncul adalah apa yang buruk.

Memang keadaan bisa membuat sebuah pohon terlihat kurang subur. Tetapi, pohon yang baik tidak mungkin membuahkan apa yang tidak baik sekalipun keadaan di sekitarnya menjadi buruk. Musim gugur boleh membuat pohon anggur kehilangan daunnya, tetapi ketika musim semi datang, daun yang hijau akan tumbuh lagi dan buah anggur yang lebih baik akan muncul. Jika kita tetap bersandar kepada Tuhan, Ia yang adalah sumber kehidupan akan bekerja dalam hidup kita melalui Roh Kudus dan memberi kemampuan kepada kita untuk membuahkan segala hal yang baik sekalipun keadaan di sekeliling kita sudah membuat banyak orang kehilangan arah dan harapan.

“Tidak mungkin pohon yang baik itu menghasilkan buah yang tidak baik, ataupun pohon yang tidak baik itu menghasilkan buah yang baik.” Matius 7: 18

Menikmati tantangan hidup

Tetapi jawab Tuhan kepadaku: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku. 2 Korintus 12: 9

Semalam saya hanya sempat tidur selama 4 jam saja, karena harus menyelesaikan tugas mengoreksi laporan murid-murid saya. Akibatnya, hari ini saya merasa lelah sekali. Karena itu, siang tadi saya menyempatkan diri untuk tidur siang, sekalipun itu bukan kebiasaan saya. Siapakah yang tidak pernah merasa lelah? Bagaimanapun kuatnya seseorang, tentu dalam keadaan tertentu ia akan merasa letih.Untunglah, jika kelelahan itu hanya dari segi jasmani, dengan beristirahat atau tidur kita mungkin akan dapat memulihkan kekuatan dan kesegaran kita kembali. Tetapi kelelahan rohani mungkin tidaklah mudah diatasi.

Kelelahan memang bisa dirasakan secara jasmani ataupun rohani. Sekalipun dalam hal jasmani orang mungkin masih kuat, rohaninya mungkin saja sudah mengalami tekanan yang berat. Kelelahan rohani yang tidak teratasi, bisa saja kemudian memengaruhi keadaan jasmani. Pada pihak yang lain, kelelahan atau persoalan jasmani yang terus-terusan bisa saja melemahkan kerohanian seseorang. Kita tahu bahwa keadaan rohani seseorang sering kali memengaruhi hidupnya, sedemikian rupa sehingga hal-hal yang menyedihkan mungkin saja terjadi jika ia tidak dapat lagi menahannya.

Adalah suatu kenyataan bahwa jika seseorang mengalami suatu tantangan, reaksi tubuh bergantung pada apa yang terjadi. Jika apa yang terjadi adalah suatu hal yang memang sudah diduga sebelumnya, dan sesuatu yang memang dicari, orang mungkin tidak terlalu mudah untuk merasa lelah atau menyerah. Mereka yang senang bertanding olahraga misalnya, tentunya sudah mempersiapkan diri untuk menghadapi kelelahan dan bahkan rasa sakit, sehingga mereka tetap saja bisa menikmati olahraga itu.

Hidup orang Kristen tidaklah jauh berbeda dengan hidup seorang pelari yang berlari menuju ke garis finis. Paulus pernah mengatakan bahwa ia berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah dari Tuhan (Filipi 3: 14). Paulus melupakan apa yang sudah terjadi dan mengarahkan diri kepada apa yang ada di masa depan, yaitu kemuliaan surgawi dari Tuhan. Ini bukannya mudah, karena Paulus juga mengalami berbagai penderitaan dan ancaman dalam hidupnya. Ia bahkan menulis bahwa ada utusan iblis yang mencoba untuk menghancurkan dia. Tiga kali Paulus meminta agar Tuhan membebaskannya dari penderitaan itu, tetapi Tuhan tidak menolong dia.

Dalam ayat diatas, Tuhan menjawab Paulus. Ia berkata bahwa Paulus sudah cukup menerima kasih karunia Tuhan dalam hidupnya. Tuhan juga berkata bahwa apa yang dialami Paulus sebenarnya juga berkat Tuhan yang memungkinkan Paulus untuk bisa menyadari bahwa ia harus bersandar kepada Tuhan saja. Karena itu, dalam penderitaannya, Paulus bisa bersyukur. Ia tahu bahwa kalau ia bisa tetap bertahan, itu karena Tuhan yang menguatkan dia. Seperti seorang pelari, Paulus bisa menerima segala penderitaannya karena ia tahu bahwa Tuhan ingin agar ia menang.

Mungkin saat ini kita mengalami berbagai hal yang membuat jasmani kita lelah. Atau mungkin juga ada persoalan berat yang membuat kita tertekan secara rohani. Itu mungkin berkaitan dengan suasana pandemi saat ini. Kepada siapa kita bisa berseru meminta pertolongan? Jika tidak ada lagi orang yang bisa menolong kita, tentunya hanya Tuhan yang bisa kita harapkan. Seperti Paulus, kita bisa dan harus berdoa memohon pertolongan dari Tuhan. Tidak cukup sekali atau dua kali, kita boleh saja terus berdoa. Tetapi kita harus sadar bahwa dalam penantian kita, Tuhan sebenarnya sudah mendengarkan doa kita dan bahkan tahu apa yang kita paling perlukan. Apa yang paling penting bagi umat Tuhan yang berada dalam kesulitan ialah kesadaran bahwa Tuhan yang mahakasih tidak pernah meninggalkan kita dalam keadaan apapun. Itulah sebabnya Paulus kuat menghadapi segala persoalan hidupnya. Memang dalam kelemahan kita bisa merasakan adanya kuasa Tuhan. Dialah yang membimbing kita sampai kita menyelesaikan semua tugas kita di dunia.

Precious Lord, take my hand
Lead me on, let me stand
I am tired, I’m weak, I am worn
Through the storm, through the night
Lead me on to the light
Take my hand, precious Lord
Lead me home

Mengapa kuatir?

“Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!” Ayub 1: 21

Memebaca berita minggu ini, hati saya makin gundah. Bagaimana tidak? Pandemi bukannya berkurang, sekarang malahan tambah merebak. Berita adanya sengketa antar negara juga mulai bermunculan. Belum lagi berita tentang adanya orang-orang yang tidak menghiraukan seruan pemerintah untuk membatasi aktivitas dan menjaga diri agar tidak tertular Covid-19. Seolah-olah manusia saling berlomba untuk mendapatkah “hak” mereka untuk memuaskan diri sendiri. Semua itu membuat saya memikirkan masa depan saya. Apa yang akan terjadi pada saya dan keluarga saya? Saya sadar bahwa perasaan ini juga dirasakan oleh banyak orang di dunia.

Ayat Alkitab diatas adalah ayat yang cukup dikenal umat Kristen, tetapi tidak terlalu sering dibahas karena ada latar belakang yang sedih. Diceritakan bahwa Ayub yang setia kepada Tuhan baru saja mengalami berbagai musibah, kehilangan ternak peliharaannya dan juga anak-anaknya. Bukannya ia menyesali nasibnya, Ayub justru mengakui kebesaran Tuhan, yang berhak untuk memberi dan mengambil apa saja yang dikehendakiNya. Ayub mengakui kedaulatan Tuhan. Ayub percaya bahwa apa yang dikehendaki Tuhan adalah baik.

Berbeda dengan sikap Ayub, pada zaman ini manusia makin terpukau pada materialisme. Karena itu manusia hanya melihat kebesaran Tuhan dari satu sisi saja, yaitu dari segi pemberianNya, berkat materi dan kenyamanan yang diberikanNya. Manusia, seperti anak kecil, memang lebih mudah untuk mengerti bahwa Tuhan itu kasih melalui berbagai hal yang menyenangkan yang diberikan Tuhan dalam hidupnya.

Bahwa kegagalan dan kesusahan bisa menjadi bagian paket berkat Tuhan, adalah sulit dimengerti oleh banyak orang. Mereka yang berpendapat bahwa Tuhan itu maha kasih dan karena itu tidak mungkin membiarkan anak-anakNya menderita, adalah kurang menyadari bahwa Tuhan menghendaki bahwa manusia dekat kepadaNya, bergantung kepadaNya dalam segala situasi. Tuhan adalah sumber kehidupan manusia dan melalui rancanganNya, Tuhan bermaksud untuk membuat manusia sadar bahwa Ia adalah Tuhan maha kuasa yang menghajar umat yang dikasihiNya agar mereka makin kuat dan beriman didalam Dia.

Pagi ini, jika hujan deras dan topan menghantam kehidupan kita, janganlah kita berkecil hati. Seperti Ayub yang setia, kita harus memahami bahwa paket berkat dari Tuhan tidak selalu membawa sesuatu yang kita harap-harapkan, tetapi bisa juga berupa hal-hal yang tidak pernah kita harapkan. Satu hal yang harus kita yakini adalah bahwa Tuhan selalu mempunyai rancangan yang baik untuk anak-anakNya yaitu kedamaian hidup kita dan kesatuan dalam kasih antara kita dengan Dia dalam keadaan apapun di hari-hari mendatang.

“Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya; karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak.” Ibrani 12: 5-6

Dibenarkan karena iman

“Karena kami yakin, bahwa manusia dibenarkan karena iman, dan bukan karena ia melakukan hukum Taurat.” Roma 3: 28

Agama adalah salah satu status yang penting di Indonesia, seperti juga status pekerjaan dan perkawinan. Mungkin saja sebagian besar penduduk Indonesia berpendapat bahwa mereka yang hidupnya berhasil adalah orang yang beragama, yang mempunyai pekerjaan tetap, dan yang rumah tangganya berjalan baik. Walaupun demikian, tentunya orang setuju bahwa tidak semua orang yang beragama itu adalah orang-orang yang saleh, atau mereka yang mempunyai pekerjaan itu pasti mendapat penghasilan yang cukup, atau mereka yang berstatus kawin itu pasti mempunyai rumah tangga yang bahagia. Dengan demikian, status yang bisa dilihat atau dibaca orang, belum tentu bisa menjelaskan keadaan yang sebenarnya.

Bagaimana dengan status beragama Kristen? Apakah ada artinya? Dalam Alkitab berbahasa Indonesia, kata “agama” muncul lebih dari 30 kali dalam Perjanjian Baru. Tetapi, dalam terjemahan-terjemahan berbahasa Inggris, kata “religion” hanya muncul kurang dari 10 kali. Memang dalam penerjemahan Alkitab dari bahasa-bahasa aslinya (Yahudi dan Yunani) beberapa kata yang sebenarnya berbeda artinya dengan arti kata “agama” yang sekarang, diterjemahkan sebagai “agama”. Kata yang dipilih penerjemah itu memang bisa menyebabkan perbedaan dalam pengertian. Oleh karena itu, dalam mempelajari firman Tuhan kita harus memakai beberapa terjemahan Alkitab dan menggunakan buku bimbingan Alkitab yang baik, yang bisa mengartikan setiap ayat dalam konteks yang benar.

Hal terjemahan Alkitab memang bisa membuat sebagian orang untuk mengabaikan bagian-bagian tertentu dari Alkitab. Lebih dari itu, ada beberapa golongan yang memakai “Alkitab” yang berbeda dengan apa yang kita pakai. Sebagian dari mereka mengajarkan bahwa Perjanjian Baru hanya dapat dimengerti melalui sudut pandang Ibrani, dan ajaran Rasul Paulus tidak dipahami secara jelas oleh para pendeta Kristen di zaman ini. Tidak sedikit dari mereka yang mengakui adanya Perjanjian Baru dalam bahasa Ibrani dan, dalam banyak kasus, merendahkan akurasi naskah Perjanjian Baru dalam bahasa Yunani. Ini secara halus menyerang integritas naskah Alkitab yang sekarang kita pakai. Jika naskah Yunani tidak dapat diandalkan dan telah dikorupsi, seperti tuduhan mereka, Gereja tidak dapat mempunyai tolok ukur kebenaran.

Di antara golongan-golongan ini ada banyak yang memercayai bahwa kematian Kristus di atas salib tidak mengakhiri Perjanjian Musa, melainkan memperbaruinya, menambah pesan dasarnya, dan menulisnya di atas hati para pengikut Kristus yang sejati. Mereka menuduh bahwa Gereja telah beralih dari akar Yahudinya dan tidak sadar bahwa Yesus dan para rasulNya merupakan orang Yahudi yang taat kepada hukum Taurat. Karena itu, pada umumnya mereka mendorong supaya setiap orang percaya menjalani hidup yang taat kepada ajaran Taurat. Ini berarti bahwa peraturan dalam Perjanjian Musa harus menjadi fokus utama dari hidup orang percaya pada zaman ini, sama seperti umat Yahudi di zaman Perjanjian Lama di Israel.

Mereka mengajar bahwa orang Kristen non-Yahudi telah dicangkok ke dalam Israel, dan oleh karena itu setiap orang yang lahir baru dalam Yesus Sang Mesias harus turut berpartisipasi dalam pemeliharaan cara hidup dan budaya orang Yahudi. Mereka mengajar bahwa pemeliharaan ini tidak dilakukan secara terpaksa, melainkan atas dasar kasih dan ketaatan. Pada pihak yang lain, mereka juga mengajar bahwa hidup yang berkenan pada Allah adalah hidup yang menaati hukum Taurat. Manusia tidak dapat diselamatkan tanpa menaati hukum Taurat.

Apa yang tertulis dalam Alkitab mengenai keselamatan kita? Ayat diatas menulis bahwa manusia dibenarkan karena iman, dan bukan karena ia melakukan hukum Taurat. Berdasarkan ayat ini, dan untuk zaman ini, kita bisa menafsirkan bahwa orang Kristen dibenarkan karena iman kepada Yesus Kristus, dan bukan karena ia melakukan kewajiban-kewajiban agama. Mereka yang rajin melakukan kewajiban agama saja adalah seperti mereka yang digolongkan sebagai orang Farisi dan ahli Taurat. Mereka yang merasa sudah diselamatkan karena kesalehannya adalah orang yang beragama, tetapi belum tentu beriman kepada Tuhan Yesus.

Apa yang membawa kepada keselamatan adalah iman kepada Yesus, yaitu Tuhan yang sudah turun ke dunia untuk menebus dosa manusia. Jika manusia ingin berbuat baik untuk bisa masuk ke surga melalui agama, itu adalah usaha yang sia-sia karena sebagai manusia kita tidak dapat memenuhi syarat kesucian Allah. Agama penuh dengan peraturan yang dibuat manusia, tetapi iman datang dari Allah. Lebih dari itu, jika ketaatan pada hukum Taurat merupakan bagian syarat keselamatan, itu berarti bahwa pengurbanan Kristus di kayu salib adalah kurang sempurna.

“Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.” Efesus 2: 8 – 9

Pagi ini, baiklah kita bertanya kepada diri kita sendiri, apakah kita sudah benar-benar beriman kepada Kristus. Apakah kita sudah memercayakan masa depan kita, baik di bumi maupun di surga, kepadaNya. Ataukah kita masih berusaha berbuat berbagai kebaikan untuk memastikan keselamatan kita? Jika kita memang beriman, kita tidak perlu menguatirkan masa depan kita. Sebaliknya, dengan rasa syukur kita bisa hidup dalam kedamaian, dan dengan itu kita mau memuliakan Tuhan yang mahakasih dengan membaktikan kasih kita kepadaNya dan sesama kita setiap hari.

“Sebab Kristus adalah kegenapan hukum Taurat, sehingga kebenaran diperoleh tiap-tiap orang yang percaya.” Roma 10: 4

Janji Kristus sebelum naik ke surga

“Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu.” Yohanes 14: 2

Di tengah suasana pandemi ini, warga Australia mengalami krisis perumahan. Banyak warga Australia yang saat ini tidak memiliki rumah dan tidak juga mampu menyewa tempat tinggal. Salah satunya adalah Majik, yang berusia 52 tahun. Biasanya, Majik selalu menyelinap ke sebuah taman kota sebelum taman tersebut dikunci pada malam hari, sehingga dia bisa tidur dengan aman. Namun, menjelang datangnya musim dingin, tidaklah mudah bagi dia untuk mencari tempat yang aman dan yang tidak terlalu dingin. Hidup bagi para tuna wisma di Australia sama saja dengan mereka yang hidup di negara lain sekalipun di Australia ada banyak badan sosial.

Jika untuk memiliki rumah di dunia sudah begitu sulit, bagaimana pula untuk memiliki tempat tinggal di surga? Bagi mereka yang tidak percaya adanya Tuhan dan surga, hal sedemikian tentunya tidak perlu dipikirkan. Untuk apa memikirkan apa yang belum tentu ada, begitu banyak orang berpikir. Hidup di dunia hanya sekali saja, dan mereka tentunya ingin agar apa yang bisa dinikmati sekarang ini, bisa dicapai secepatnya.  Tidaklah mengherankan bahwa banyak orang yang bekerja keras untuk mengumpulkan harta, guna menjamin kenyamanan hidup di dunia.

Bagi mereka yang mengenal Kristus, hidup yang ada sesudah hidup di dunia tentunya terkadang muncul dalam pikiran. Bagaimana rasanya hidup di surga? Benarkah bahwa segala sesuatu sangat indah dan nyaman ketika kita berada di surga? Memang, karena tekanan hidup yang besar di dunia ini, sebagian orang Kristen merasa gelisah karena apa yang diharapkan ada di surga tentunya belum bisa dilihat mata pada saat ini. Selain itu, dengan adanya pergumulan manusia selama di dunia melawan segala godaan, mungkin ada keraguan apakah Tuhan hanya memilih orang-orang tertentu saja untuk bisa memasuki tempat kediaman di surga. Mungkinkah Tuhan membatasi jumlah orang yang akan ke surga seperti yang diajarkan oleh beberapa sekte Kristen? Mungkinkah surga hanya untuk mereka yang sering beramal seperti yang diajarkan agama lain?

Pada hari ini kita memperingati kenaikan Tuhan Yesus ke surga. Dalam ayat di atas, Yesus menyatakan perlunya Ia untuk kembali ke surga. Ia mengatakan bahwa ada banyak tempat di surga, dan Ia pergi untuk mempersiapkan tempat kediaman bagi semua orang yang percaya kepadaNya.

Siapapun yang percaya kepada Yesus adalah percaya kepada Allah yang mengutus Yesus dan yang memiliki surga. Tidak perlu diragukan bahwa karena Yesus mengatakan bahwa ada banyak tempat kediaman di surga, surga tidak akan menjadi penuh jika semua orang menjadi pengikut Kristus. Karena itu jugalah Kristus memerintahkan semua muridNya untuk mengabarkan injil ke seluruh penjuru dunia, supaya siapapun yang percaya kepadanya akan bisa bersama Dia di surga.

“Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada.” Yohanes  14: 3

Hari ini, sebagai pengikut Kristus kita mendapat tantangan untuk bisa mempercayakan hidup kita, baik yang sekarang maupun yang akan datang, kepadaNya. Jika hidup kita saat ini terasa berat, Yesus yang sudah bangkit dan naik ke surga adalah Tuhan yang membimbing kita untuk bisa dengan iman, kuat menghadapi segala tantangan kehidupan sampai Tuhan menjemput kita dan membawa kita ke tempat di mana Ia sekarang berada.

“Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu.” Yohanes 14: 27

Kita tidak perlu menjadi orang Yahudi

“Tetapi orang Yahudi sejati ialah dia yang tidak nampak keyahudiannya dan sunat ialah sunat di dalam hati, secara rohani, bukan secara hurufiah. Maka pujian baginya datang bukan dari manusia, melainkan dari Allah.” Roma 2: 29

Sewaktu masih kecil, saya sering berpikir bagaimana bangsa Israel bisa menjadi umat pilihanNya. Tuhan memilih bangsa Israel dari mana Yesus Kristus akan dilahirkan sebagai Juruselamat umat manusia (Yohanes 3:16). Betapa beruntungnya bangsa Israel, bangsa pilihan Allah itu, begitu pikir saya. Tuhan pertama kali menjanjikan kedatangan Mesias selepas Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa (Kejadian 3). Tuhan kemudian meneguhkan bahwa Mesias akan datang melalui garis keturunan Abraham, Ishak, dan Yakub (Kejadian 12:1-3).

Yesus Kristus adalah alasan utama mengapa Tuhan memilih Israel untuk menjadi umat pilihan-Nya. Tuhan tidak perlu mempunyai umat pilihan, namun Dia memutuskan untuk melakukannya dengan cara itu. Pada pihak yang lain, alasan Tuhan memilih bangsa Israel bukan semata-mata untuk membawa Mesias. Tuhan juga bermaksud supaya mereka menjadi orang yang membimbing orang lain kepada Tuhan. Tetapi, bangsa Israel telah gagal dalam melaksanakan sebagian besar tugas ini. Malahan, sebagian bangsa Israel tidak akan memeroleh keselamatan karena mereka tidak memercayai Yesus sebagai Mesias (Matius 21: 43). Karena itu, saya sekarang tidak lagi menganggap bahwa bangsa Israel adalah bangsa yang beruntung.

Sejak kebangkitan Yesus, jumlah umat Kristen bertumbuh cepat di banyak negara. Tidak mengherankan bahwa ada orang-orang yang bukan Yahudi yang merasa bahwa untuk menjadi pengikut Yesus, mereka harus hidup seperti orang Yahudi. Pada saat itu Paulus melihat bahwa orang Kristen di Roma mulai menonjolkan hal-hal yang berbau Yahudi, seperti hal mengikuti hukum Taurat dan kebiasaan Yahudi. Ia menegur jemaat Roma dengan menjelaskan bahwa semua yang nampak dari luar itu tidaklah penting. Apa yang penting adalah yang ada dalam hidup mereka sehari-hari.

Hukum Taurat yang berat itu, memang dalam pelaksanaannya sering membuat orang mencari jalan untuk bisa melanggarnya secara “halus”, yaitu melalui apa yang diperbolehkan menurut pikiran dan keputusan para pemimpin agama. Mereka terpaksa untuk memakai siasat “pilih-pilih” atau “pick and choose” untuk mencari cara gampangnya. Itulah sebabnya mengapa Paulus, yang sebenarnya adalah orang Farisi yang mengenal seluk-beluk hukum Taurat dan kebiasaan orang Yahudi, mengatakan bahwa mereka yang bersikeras untuk menerapkan hukum Taurat tetapi melanggarnya adalah lebih buruk dari mereka yang hidup dalam kebenaran walaupun tidak mengenal hukum Taurat.

“Apabila bangsa-bangsa lain yang tidak memiliki hukum Taurat oleh dorongan diri sendiri melakukan apa yang dituntut hukum Taurat, maka, walaupun mereka tidak memiliki hukum Taurat, mereka menjadi hukum Taurat bagi diri mereka sendiri.” Roma 2: 14

Bagaimana orang percaya bisa berjalan dalam kebenaran tanpa memiliki hukum Taurat? Bagaimana mereka bisa menjadi orang Kristen sejati tanpa melalui hukum Taurat dan adat istiadat orang Yahudi? Yesus pernah berkata bahwa Ia tidak meniadakan hukum Taurat, tetapi menggenapinya. Ia menjelaskan bahwa seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi dapat diringkas menjadi hukum kasih (Matius 22: 37 – 40).

Pagi ini, jika kita meneliti hidup kita, biarlah Firman Tuhan bisa menyentuh hati kita. Bahwa bukannya kebiasaan dan ritual agama yang membuat kita menjadi orang Kristen sejati, karena apa yang kita pikir dan lakukan dalam hidup sehari-harilah yang lebih penting. Seperti bungkus tidak menentukan isi, begitu juga isi hidup kitalah yang lebih penting di hadapan Tuhan. Yesus sudah membayar hidup kita dengan harga termahal, dan pengurbananNya bukanlah agar kita mempunyai penampilan yang baik menurut hukum Taurat, tetapi agar kita memiliki hidup baru di dalam Dia.

“Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus.” Galatia 3:28: