Hidup damai dengan kebijaksanaan

“Jangan menjawab orang bebal menurut kebodohannya, supaya jangan engkau sendiri menjadi sama dengan dia. Jawablah orang bebal menurut kebodohannya, supaya jangan ia menganggap dirinya bijak.” Amsal 26:4-5

Banyak orang pernah mengalami masalah ketika menghadapi “orang yang sulit” yaitu orang yang tidak bisa diajak berunding, atau orang yang keras kepala, sombong, kasar, tidak tahu aturan, pemarah, pengomel atau cerewet. Pusing! Apalagi jika “orang yang sulit” bertemu dengan orang-orang yang serupa, suasana pasti menjadi bertambah keruh.

Kebanyakan orang yang “sulit diatur”, tidak merasa atau tidak mau mengakui bahwa ia adalah orang yang bertemperamen sulit. Dalam hal ini, banyak juga orang mengaku Kristen, tetapi dalam hidupnya suka bertengkar dengan orang lain, sehingga pada hakikatnya gaya hidup dan sikapnya tidaklah berbeda dengan mereka yang belum mengenal Kristus. Tidak jarang, karena mereka mempunyai sifat sedemikian, orang menilai mereka sebagai orang yang bodoh.

Dalam keluarga pun ada suami atau istri yang “sulit diatur” oleh yang lain. Jika keduanya sering bersitegang dan tidak mau saling mengalah, suasana rumah tangga pun akhirnya menjadi kacau dan orang-orang disekitarnya pun bisa ikut menderita. Apakah pengenalan akan Kristus itu bisa secara nyata mengubah hubungan antara manusia sehingga mereka bisa saling menghormati, saling bersabar dan merendahkan diri dalam usaha untuk menyelesaikan masalah? Seharusnya begitu!

Ayat pembukaan diatas mengajak kita untuk menjadi orang terhormat dengan menjauhi perbantahan, dan tidak menjadi orang bodoh yang membiarkan amarah kita meledak tanpa alasan. Sanggupkah kita? Itu tergantung pada kita: apakah kita bisa selalu ingat dan bersyukur kepada Tuhan yang mengasihi kita. Dulu kita adalah orang-orang yang sulit untuk diselamatkan, tetapi karena kesabaran Tuhan kita menerima pengampunan dalam Yesus Kristus.

Saat ini kita mungkin harus menghadapi orang-orang sulit yang berada dalam keluarga, sekolah, kantor atau masyarakat. Cukup dengan membayangkan hal itu, kita bisa menjadi pusing karena memikirkan adanya kemungkinan untuk munculnya pertikaian atau percekcokan.

Kristus dalam hidupNya di dunia juga sering menghadapi orang yang sulit diatur, sikap kita kepada orang-orang semacam itu seharusnya mencontoh Dia. Dalam Yesus berinteraksi dengan orang yang sulit, Ia tidak pernah menunjukkan sikap menang sendiri, kasar atau angkuh; tetapi Ia selalu menunjukkan kekuasaanNya secara terkontrol dan tidak dengan semena-mena. Dengan demikian, kita pun harus bisa bersabar dan menghindari pertikaian yang tidak ada gunanya.

Pada pihak yang lain, adakalanya kesabaran kita membuat orang yang bodoh dan sombong merasa bahwa dirinya adalah orang yang paling benar. Dalam hal ini, jika kita berdiam diri ataupun selalu mengiyakan orang sedemikian, orang itu tidak akan pernah menyadari kebodohan dan kesalahannya. Sebagai orang Kristen kita wajib menegur mereka yang tidak benar hidup maupun pandangannya. tetapi tidak melakukannya dengan kekasaran, melainkan dengan kasih. Kristus juga pernah menunjukkan kemarahanNya, tetapi semua itu dilakukanNya karena kasihNya yang ingin menolong dan menyelamatkan manusia.

“Terhormatlah seseorang, jika ia menjauhi perbantahan, tetapi setiap orang bodoh membiarkan amarahnya meledak.” Amsal 20: 3

Kita bukan Yahudi tetapi terhitung sebagai anak-anak Allah

“…yaitu bahwa orang-orang bukan Yahudi, karena Berita Injil, turut menjadi ahli-ahli waris dan anggota-anggota tubuh dan peserta dalam janji yang diberikan dalam Kristus Yesus” Efesus 3: 6

Adanya orang tua yang pilih kasih, yang mempunyai anak favorit, adalah hal yang sering membuat ketegangan dalam keluarga. Kebanyakan orang tua menolak tuduhan bahwa mereka berat sebelah, lebih menyayangi seorang anak daripada yang lain. Tetapi dalam kenyataannya memang ada berbagai faktor yang menyebabkan seorang bapa atau ibu untuk lebih menyayangi salah satu anaknya. Sebagai contoh dalam Alkitab adalah Yakub dan Esau. Yakub disayangi ibunya, dan Esau lebih disenangi oleh bapanya (Kejadian 25: 28).

Soal favoritisme orang tua itu agaknya bisa dimengerti karena setiap orang tua mempunyai kelemahan. Mungkin sebagai orang tua seharusnya berlaku adil kepada semua anak-anaknya dan tidak pilih kasih. Tetapi setiap orang tua juga mempunyai sifat yang mungkin lebih kompatibel dengan anak tertentu, dan dengan demikian, secara emosi, lebih mudah menyayanginya.

Jika hal pilih kasih diantara manusia adalah hal yang sering kita temui dan bisa dimengerti, pertanyaan apakah Tuhan juga pilih kasih terhadap manusia ciptaanNya seringkali menjadi soal sensitif dan tidak mudah dijawab. Tuhan tentunya mengasihi seluruh manusia di dunia sehingga Ia berusaha untuk menyelamatkan mereka dari hukuman dosa (Yohanes 3: 16). Secara umum, Tuhan yang Mahaadil dan Mahakasih juga memberikan berkat yang sama kepada seisi dunia. Matahari bersinar untuk semua orang, baik bagi mereka yang baik maupun yang jahat (Matius 5: 45).

Walaupun demikian, dari Alkitab Perjanjian Lama kita membaca bahwa Tuhan mengasihi bangsa Israel lebih dari bangsa-bangsa lain. Bangsa Israel sudah dipilihNya untuk berperan dalam rencana keselamatanNya. Dari bangsa Israel lahirlah Yesus, Anak Allah, yang kemudian mati di kayu salib untuk menghapus kemarahan Allah atas umat manusia. Satu hal yang harus kita perhatikan adalah kenyataan bahwa bangsa Israel bukanlah satu bangsa yang dipilihNya untuk diselamatkan. Tuhan Yesus tidak datang untuk bangsa Israel atau bangsa tertentu, tetapi untuk semua umat manusia (Yohanes 3:16).

Ayat pembukaan di atas menyatakan bahwa kita, orang-orang bukan Yahudi, karena berita Injil, turut menjadi ahli-ahli waris dan anggota-anggota tubuh dan peserta dalam janji yang diberikan dalam Kristus Yesus. Keselamatan ada karena Yesus yang sudah lahir sebagai orang Yahudi, tetapi kita tidak perlu untuk menjadi orang Yahudi atau pun mengikuti adat orang Yahudi. Dalam Yesus, keadilan Allah dinyatakan kepada seluruh umat manusia.

“Sebab yang disebut Yahudi bukanlah orang yang lahiriah Yahudi, dan yang disebut sunat, bukanlah sunat yang dilangsungkan secara lahiriah. Tetapi orang Yahudi sejati ialah dia yang tidak nampak keyahudiannya dan sunat ialah sunat di dalam hati, secara rohani, bukan secara hurufiah. Maka pujian baginya datang bukan dari manusia, melainkan dari Allah” Roma 2: 28 -29

Walaupun demikian, jika kita berada dalam keadaan yang kurang menyenangkan jika dibandingkan dengan anak-anak Tuhan lainnya, pertanyaan akan muncul apakah Tuhan benar-benar adil kepada semua umatNya. Kita tentu percaya bahwa kita semua diselamatkan karena karunia kasih Tuhan yang sama besarnya karena kita semua adalah manusia yang dulunya sama-sama berdosa. Tetapi, apakah Tuhan masih mengasihi bangsa tertentu seperti dalam kitab Perjanjian Lama?

Tuhan memang melihat hidup tiap umatNya secara individual. Ia bereaksi atas kehidupan dan ketaatan setiap orang. Sejarah manusia dalam Alkitab menunjukkan adanya orang-orang tertentu yang dipilihNya karena ketaatan mereka. Mereka yang karena setia dan kuat dalam iman, mendapat “perhatian khusus” dari Tuhan. Abraham, Daud, Petrus, Paulus adalah sebagian kecil dari umat Israel yang membuat Tuhan senang. Sampai sekarang pun kita bisa melihat bahwa Tuhan juga menunjukkan perhatian khususNya kepada mereka yang mengasihiNya. Mereka yang diberiNya kesempatan, kemampuan dan semangat untuk memasyhurkan namaNya. Ini bukan karena suku, bangsa, negara, adat-istiadat, bahasa atau kemampuan mereka, tetapi karena kesetiaan mereka dan kemauan untuk memakai apa yang sudah dikaruniakan Tuhan untuk kemuliaanNya.

Hari ini kita harus sadar bahwa Tuhan mengasihi semua umatNya, tetapi Ia juga menghargai bagaimana kita hidup. Untuk mereka yang dengan setia mengikut Dia, Tuhan akan memberi mereka karunia -karunia yang memungkinkan mereka untuk bisa kuat dan merasa cukup dalam semua keadaan. Tuhan tidak menjanjikan hidup mulus tanpa masalah, tetapi kemampuan untuk menghadapi masalah. Lebih dari itu Tuhan seringkali memberikan kesempatan yang lebih besar bagi mereka yang mau memakai karunia yang ada untuk memuliakan Tuhan dan melayani sesama sebagaimana adanya.

Sebagai orang pilihan Allah, kita tahu bagaimana kita harus hidup di tempat kita masing-masing supaya berkenan kepada Allah. Kita tidak perlu menjadi orang lain, bangsa lain atau memakai adat istiadat dan bahasa lain untuk bisa terhitung sebagai anggota-anggota tubuh Kristus.

Perlunya menjaga mulut

Tetapi apa yang keluar dari mulut berasal dari hati dan itulah yang menajiskan orang. Karena dari hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu dan hujat.” Matius 15: 18 – 19

Pemilihan umum di Amerika sudah berakhir, tetapi mungkin kita masih ingat suasana sebelumnya. Banyak orang yang kuatir bahwa karena adanya permusuhan antara dua partai besar yang didukung masyarakat yang mempunyai pandangan berbeda-beda, perang saudara mungkin bisa muncul. Untunglah itu tidak terjadi dan keadaan sekarang mulai menjadi tenang.

Memang dalam saat kampanye, kedua kubu politik saling menyerang dengan berbagai pernyataan yang seolah membagi negara itu menjadi dua bangsa. Berbagai pernyataan lisan maupun tertulis dikeluarkan untuk menyerang, mengolok, menghina dan merendahkan lawan politik. Sudah tentu, sebagian ucapan atau kata-kata yang kita dengar bisa membuat kita merasa risi atau malu sekalipun kita tidak tinggal di Amerika.

Jika kecerobohan dalam memilih kata-kata bisa melukai hati seseorang, ada orang orang yang justru tidak peduli akan apa yang dikatakannya. Mereka memakai perkataan yang tidak sepatutnya, tetapi tidak terpengaruh atas apa yang diperbuatnya. Dalam bahasa Inggris, orang yang ceroboh dalam memakai kata-kata dan perbuatan, yang bisa membuat malu atau menyakiti orang lain, sering disebut sebagai meriam lepas ikatan atau loose cannon. Mengapa begitu? Pada abad 17-19, kapal perang yang terbuat dari kayu mempunyai meriam sundut sebagai senjata utamanya. Meriam ini dipasang diatas beberapa roda dan diikat dengan tali ke dinding kapal agar tidak terhentak ke belakang sewaktu dipakai untuk menembak kapal musuh. Menurut cerita, meriam yang lepas ikatannya dapat mencelakai pemakainya dan juga merusak kapal itu sendiri.

Sebagai manusia kita adalah makhluk yang istimewa karena kita adalah satu-satunya makhluk yang mempunyai tata bahasa dan tata suara untuk berkomunikasi. Banyak makhluk lain bisa berkomunikasi dengan sesamanya melalui suara, bau atau gerakan tubuh, tetapi tidak ada yang bisa menggunakan bahasa dan suara untuk menyampaikan pesan secara sistimatis. Dengan kelebihan manusia dalam hal berkomunikasi, manusia bisa menggunakan kata-kata secara tertulis atau lisan untuk menyatakan perasaannya, entah itu rasa senang ataupun rasa berang. Bahasa, selain dipakai untuk memuji, menghibur dan menyenangkan orang lain, juga bisa digunakan untuk memaki, menipu dan bahkan memfitnah orang lain. Jika lidah dikatakan seperti pedang (Amsal 12: 18), di zaman internet ini perkataan kita bisa membawa akibat yang jauh lebih besar melalui berbagai sosial media seperti Twitter, Facebook dan Whatsapp. Apa yang dinyatakan atau diberitakan orang dalam sosial media bisa dengan mudah menghancurkan hidup orang lain.

Apa yang kurang disadari manusia adalah kenyataan bahwa Tuhan yang mahatahu adalah Tuhan yang bisa mendengar apa saja yang kita ucapkan, baik secara lisan maupun tertulis. Ia tahu jika kita memakai lidah kita secara sembarangan untuk mengeluarkan apa yang ada dalam hati kita. Sebagai orang Kristen, kita mungkin ingat bahwa Yesus pernah berkata bahwa perkataan kita adalah pencerminan isi hati yang bisa membuat hubungan kita dengan Tuhan yang mahasuci menjadi renggang.

Sayang sekali, di zaman ini kita justru sering melihat para pemimpin dan tokoh masyarakat yang seakan berlomba-lomba untuk menyatakan pendapatnya dengan tanpa berpikir dalam-dalam baik secara langsung maupun melalui berbagai media.. Dalam kehidupan sehari-hari kita tahu bahwa perkataan yang keliru akan sukar untuk ditarik kembali, dan apa yang sudah dirusakkan oleh sebuah loose cannon adalah sukar untuk diperbaiki.

Firman Tuhan kali ini jelas mengingatkan bahwa sebagai orang percaya, sebaiknya kita lebih berhati-hati dalam menggunakan mulut kita. Panggilan kita sebagai orang Kristen dalam hal ini adalah untuk mawas diri, dan selalu hidup dalam bimbingan Tuhan, sehingga hati kita diisi dengan apa yang baik dan berkenan kepada Tuhan. Hari demi hari, sebagai orang Kristen kita harus bertumbuh dalam iman dan kasih melalui bimbingan Roh Kudus. Dengan demikian, apa yang ada dalam hati kita akan selalu terpancar dari mulut kita sebagai ucapan kasih yang menghibur dan menguatkan orang lain.

Hendaklah kata-katamu senantiasa penuh kasih, jangan hambar, sehingga kamu tahu, bagaimana kamu harus memberi jawab kepada setiap orang.” Kolose 4: 6

Persembahan yang terbaik

“Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.” Roma 12: 1

Pagi ini saya menerima sebuah video yang melaporkan kesuksesan suatu pelayanan masyarakat yang dilakukan oleh suatu tempat ibadah. Dalam video itu, seorang pemimpin agama berpidato dan menceritakan bahwa organisasinya sudah mencapai kesuksesan yang besar dalam mengumpulkan dana dari para anggotanya sehingga mampu memberi makan banyak orang secara gratis. Walaupun kegiatan sosial seperti itu adalah baik, terasa adanya kesombongan bahwa mereka adalah kelompok yang kaya-raya dan istimewa.

Bagaimana dengan konsep memberi persembahan dalam agama Kristen? Umumnya, gereja-gereja yang besar mempunyai jemaat yang loyal dan mampu memberi persembahan yang banyak. Terlepas dari jenis gereja, aliran teologi maupun tingkat ekonomi jemaat, persembahan harus diberikan dengan motif yang benar, melalui cara yang benar dan digunakan untuk tujuan yang benar.

Apa prinsip-prinsip utama dalam persembahan umat Kristen?

Kita memberi karena Tuhan lebih dulu memberi pemberian yang terbesar.

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Yohanes 3: 16

Persembahan kita merupakan pernyataan kasih dan syukur kita secara pribadi kepada Tuhan kita.

“Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.” Matius 6: 4

Melalui persembahan kita memuliakan nama Tuhan.

“Siapa yang mempersembahkan syukur sebagai korban, ia memuliakan Aku” Mazmur 50: 23

Persembahan kita dapat menjadi penyaluran kasih Tuhan kepada sesama manusia.

“Barangsiapa mempunyai harta duniawi dan melihat saudaranya menderita kekurangan tetapi menutup pintu hatinya terhadap saudaranya itu, bagaimanakah kasih Allah dapat tetap di dalam dirinya?” 1 Yohanes 3: 17

Dengan persembahan kita memperkuat iman kita.

“Kamu lihat, bahwa iman bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna.” Yakobus 2:22

Apa yang keliru:

Kesombongan: Kalau pemberian kita didasari keinginan untuk dihormati orang, jelas motif kita keliru. Bagaimana kalau pemberian seseorang membuat seisi gereja bangga? Sama saja. Jika bukan nama Tuhan yang dipermuliakan, itulah kesombongan. Persembahan sebaiknya dilakukan secara pribadi dan hasil persembahan jemaat sebaiknya tidak dijadikan simbol kesuksesan gereja. Memberi bukan untuk mendapatkan hadiah penghargaan. Pemberian juga tidak boleh dijadikan usaha mempengaruhi gereja.

Ketamakan: Memberi dengan mengharapkan balasan Tuhan yang berupa materi yang berlipat ganda adalah kekeliruan besar. Segala sesuatu berasal dari Tuhan, karena itu jika kita memberikan sebagian kepadaNya kita tidak boleh mengharapkan bahwa Ia akan mengembalikan dengan bonus. Begitu juga dengan ajakan agar jemaat memberi yang disertai “janji” bahwa Tuhan akan mengembalikan “hutangNya” dengan “bunga” yang besar. Kita memberi karena Tuhan sudah lebih dulu memberi dan bukan karena menginginkan balasan. Dan tentunya kita memberi dalam batas kemampuan kita.

Rasa bersalah: Ada orang yang memberi karena merasa harus. Apalagi jika ada nazar yang pernah diucapkan di masa lalu. Walau ini kelihatannya baik, Tuhan mengingini persembahan nazar yang disertai syukur dan kerelaan, bukannya dengan rasa takut atau bersalah. Bagaimana kalau gereja menganjurkan jemaat untuk memberi dengan cara menakut-nakuti mereka? Jelas itu keliru. Bacalah 2 Korintus 9:7.

Rasa rendah diri: Memberi harus dengan rasa bersyukur. Tuhan menghargai persembahan yang sekalipun kecil tapi sesuai dengan kemampuan kita. Bagaimana kalau gereja hanya menghargai jemaat yang mampu dan persembahan yang besar saja? Bacalah Yakobus 2:1-9.

Persembahan harus berupa uang: Uang adalah salah satu bentuk persembahan. Yang lain bisa berupa barang, tenaga, waktu, pelayanan, perhatian, dll. Kasih mempunyai banyak ragam.

Hanya untuk orang seiman: Banyak orang berpikir bahwa Tuhan hanya mengasihi anak-anakNya. Yang benar adalah Tuhan mengasihi seisi dunia. Karena itu kita wajib menolong siapapun yang memerlukan bantuan.

Persembahan yang terbaik:

Persembahan apakah yang terbaik? Ayat pembukaan di atas menyatakan bahwa kita harus mempersembahkan tubuh kita sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah karena itu adalah ibadah kita yang sejati. Dengan kata lain, jika kita benar-benar ingin membawa persembahan untuk Allah, kita harus memakai seluruh hidup kita sebagai persembahan yang membawa kemuliaan bagi Allah dan bukannya untuk kemuliaan diri sendiri.

Kejujuran yang semakin jarang

“Baiklah setiap orang berjaga-jaga terhadap temannya, dan janganlah percaya kepada saudara manapun, sebab setiap saudara adalah penipu ulung, dan setiap teman berjalan kian ke mari sebagai pemfitnah.” Yeremia 9: 4

Di zaman ini soal menipu dan ditipu orang adalah soal biasa. Tiap hari di media ada berita penipuan ini dan itu, yang pada umumnya menunjukkan bahwa sekalipun masyarakat sudah maju dalam banyak hal dan bisa berkomunikasi lewat berbagai cara, seringkali orang tidak sadar akan adanya trik-trik baru yang bisa menyebabkan kerugian baik materi, perasaan maupun nama baik. Malahan, dalam berbagai media kita bisa menjumpai berbagai berita yang tidak jelas asal-usulnya atau kebenarannya, namun masyarakat menerima itu sebagai sesuatu yang menarik dan bisa dinikmati, setidaknya sebagai lelucon.

Pepatah berbahasa Inggris mengatakan “honesty is the best policy“, yang berarti “kejujuran adalah sikap yang terbaik”. Memang hal yang tidak jujur atau tidak benar, yang diperbuat, dikatakan atau ditampilkan seseorang bisa menimbulkan kesulitan untuk diri orang itu. Walaupun demikian, banyak orang yang merasa bahwa mereka boleh saja tidak jujur atau mengabaikan kebenaran, selama tidak merugikan orang lain. Ada juga yang merasa bahwa mereka bebas untuk menyampaikan berita apa saja yang dianggap menarik, dan tidak bertanggung jawab atas reaksi orang lain atas apa yang mereka sampaikan. Sikap ini tentu saja bertentangan dengan firman Tuhan.

Sebagai orang Kristen, kita diperintahkan untuk mengasihi sesama kita. Dengan demikian, selalu jujur dan waspada atas berita-berita yang tidak jelas asal-usulnya dan berita-berita yang dapat menyebabkan kegundahan, kekacauan dan penderitaan orang lain. Sebagai orang Kristen kita harus waspada akan adanya kemungkinan bahwa apa yang kita sampaikan kepada orang lain bukanlah sesuatu yang bisa dipercaya.

“Engkau tentu mengetahui segala perintah Allah: Jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, jangan mengurangi hak orang, hormatilah ayahmu dan ibumu!” Markus 10: 19

Berita yang tidak benar bukan saja muncul diantara masyarakat umum, tetapi juga sering muncul di kalangan orang Kristen. Malahan, banyak pemimpin dunia yang memberitakan kabar yang tidak jelas asal-usul atau kebenarannya. Dalam hal ini, sekalipun maksudnya baik, kekeliruan ini tidak dapat dibenarkan. The end does not justify the means.

“Enam perkara ini yang dibenci TUHAN, bahkan, tujuh perkara yang menjadi kekejian bagi hati-Nya: mata sombong, lidah dusta, tangan yang menumpahkan darah orang yang tidak bersalah, hati yang membuat rencana-rencana yang jahat, kaki yang segera lari menuju kejahatan, seorang saksi dusta yang menyembur-nyemburkan kebohongan dan yang menimbulkan pertengkaran saudara.” Amsal 6: 16-19

Pagi ini, kita membaca dari ayat pembukaan Yeremia 9: 4 bahwa kita harus berhati-hati atas apa yang kita dengar dan terima dari orang di sekeliling kita, sebab ada banyak orang yang mempunyai maksud yang kurang baik. Banyak orang yang hanya mencari perhatian orang lain, mencari nama dalam menyebarkan berita-berita yang tidak benar. Memang kita tidak bertanggung jawab atas apa yang mereka perbuat, tetapi kita bertanggung jawab atas apa yang kita lakukan dalam menghadapi hal-hal itu. Kita tidak boleh menganggap bahwa kebohongan yang diperbuat untuk mencapai hasil yang baik atau pun kebohongan yang tidak membawa kesusahan bagi orang lain (white lies) adalah sesuatu yang bisa diterima oleh Tuhan.

“Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.” Filipi 4: 8

Tujuan tidak menghalalkan cara

“Dan inilah doaku, semoga kasihmu makin melimpah dalam pengetahuan yang benar dan dalam segala macam pengertian, sehingga kamu dapat memilih apa yang baik, supaya kamu suci dan tak bercacat menjelang hari Kristus, penuh dengan buah kebenaran yang dikerjakan oleh Yesus Kristus untuk memuliakan dan memuji Allah.” Filipi 1: 9 – 11

Pernahkah anda membaca cerita tentang Robin Hood? Menurut legenda, Robin Hood hidup pada abad 13-14 masehi. Itu merupakan masa di mana Inggris masih dipimpin oleh Raja Richard dan pemimpin sementara yakni, Raja John. Robin Hood tinggal di hutan Sherwood, salah satu hutan yang paling luas di Britania Raya. Di sana dia hidup bersama sekelompok penjahat yang bersembunyi dari kejaran otoritas kerajaan. Mereka dijuluki “Merry Men”.

Di hutan Sherwood, Merry Men kerap berburu kaum elite dan merampok pelancong kaya yang melewati hutan. Mereka mengenakan pakaian hijau, dipersenjatai dengan busur dan anak panah; dan terkadang mereka membawa tombak kayu serta pedang. Setiap kali beraksi, hasil rampasan akan dibawa ke Robin Hood, pria yang mereka anggap sebagai raja. Robin Hood kemudian membagi harta rampasan secara adil pada setiap anggota kelompoknya. Robin Hood tak pernah membiarkan anak buahnya mencelakakan siapa pun kecuali orang-orang kaya yang tinggal di rumah besar dan sama sekali tidak bekerja. Dia selalu baik pada orang miskin, dan sering mengirim bantuan kepada mereka. Karena alasan itulah rakyat jelata memandang Robin Hood sebagai pahlawan. Dan banyak orang yang membaca cerita ini mungkin juga setuju bahwa Robin Hood adalah orang yang baik hati. Benarkah bahwa tujuan yang baik menghalalkan cara?

Paulus dalam ayat diatas menulis tentang doanya untuk jemaat di Filipi agar kasih mereka makin melimpah dalam pengetahuan yang benar (knowledge), sehingga mereka dapat mempunyai kemampuan untuk memilih apa yang baik (discernment), dan supaya mereka bisa hidup dalam kejujuran (sincerity) dan tak hidup dalam dosa (blameless). Lebih dari itu, Paulus berdoa agar mereka bisa menghasilkan berbagai perbuatan yang baik melalui Yesus (good works) untuk memuliakan Allah. Kasih umat Kristen, berbeda dengan cinta duniawi, ternyata tidak buta. Adanya kasih tidak menghalalkan segala cara untuk menyatakannya. Kasih bertujuan untuk memuliakan Tuhan yang sudah lebih dulu mengasihi kita. Karena itu kita harus bisa memilih cara yang benar untuk menyatakannya.

Kasih yang harus dipunyai setiap orang Kristen bukanlah suatu kewajiban yang harus dilaksanakan dengan membabi-buta tanpa pikir. Sebaliknya, jika umat Kristen ingin untuk bisa mengasihi sesamanya, mereka harus berdoa agar mereka bisa melakukannya dengan bijaksana agar bisa memilih apa yang baik dan berguna bagi hidup mereka dan bagi hidup orang lain. Kasih yang benar tidak akan mengurbankan prinsip-prinsip kejujuran dan kesucian hidup yang dituntut Tuhan, dan kasih yang benar selalu dapat menghasilkan apa yang baik sesuai dengan firman Tuhan. Kasih surgawi tidak semudah atau semurah cinta duniawi. Kasih datang dari Allah dan kita harus mengerti apa yang dikehendakiNya untuk dapat mengasihi. Inilah yang juga pernah didoakan Paulus untuk jemaat di Efesus.

‘Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan. Aku berdoa, supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah.”  Efesus 3: 18 – 19

Pagi ini, mungkin kita ingin menyatakan kasih kita kepada orang lain, kepada teman, sanak atau pun keluarga. Mungkin kita ingin agar membuat mereka berbahagia dengan berbagai perhatian, pemberian atau pengurbanan. Tetapi firman Tuhan berkata bahwa untuk bisa memberi kasih yang benar kita harus mempunyai kebijaksanaan, dan bisa membedakan apa yang baik dan apa yang buruk. Kasih yang benar adalah kasih yang membangun hidup orang lain didalam Kristus, kasih yang seperti kasih Kristus adalah kasih yang membawa orang kearah keselamatan, bukan kearah kehancuran dalam impian. Kasih yang benar akan mempertahankan apa yang baik dan menghilangkan apa yang buruk dari hidup kita dan hidup orang lain, agar hidup kita dan orang-orang yang kita kasihi bisa membawa kemuliaan kepada Tuhan.

Kita bisa memilih yang baik

Tetapi Tuhan menjawabnya: “Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya.” Lukas 10: 41 – 42

Tak terasa bulan November sudah datang dan sebentar lagi semester 2 universitas akan berakhir. Dalam dua minggu terakhir ini saya menerima banyak email dari murid-murid saya yang memohon perpanjangan waktu untuk menyerahkan tugas mereka. Tiap tugas harus diselesaikan dalam waktu tertentu, dan jika terlambat mereka akan mendapat pemotongan angka sebesar 5% dari angka mereka setiap harinya.

Banyak alasan yang diajukan murid-murid itu. Ada yang mengaku sakit, atau terkena isolasi mandiri, dan ada yang mengemukakan sibuknya hidup mereka; bahkan ada juga yang mengalami kerusakan komputer secara tiba-tiba. Herannya, semua itu sering terjadi hanya beberapa hari sebelum batas waktu. Kelihatannya, murid yang sering mengajukan permohonan perpanjangan waktu adalah mereka yang kurang pandai mengatur waktu.

Ayat diatas berasal dari bagian Alkitab yang menceritakan bagaimana Yesus dan murid-murid-Nya mampir ke desa Marta dan saudaranya, Maria. Barangkali ada sekitar 70 orang yang bersama Yesus saat itu, dan mungkin banyak juga yang bertamu di rumah kedua perempuan itu. Jika kunjungan itu hanyalah sekedar untuk bertamu, bisa dibayangkan betapa ramainya suasana disana, mungkin mirip sebuah pesta dan Yesus adalah tamu agungnya.

Apa yang terjadi ternyata bukanlah seperti yang kita bayangkan. Yesus menggunakan kesempatan itu untuk mengajar. Maria duduk didekat kaki Tuhan untuk mendengarkan perkataan-Nya. Sebaliknya, Marta tidak menyempatkan diri untuk mendengarkan pengajaran Yesus. Ia sibuk sekali melayani tamu-tamu dan mungkin juga sibuk dengan mempersiapkan hidangan. Ia tidak senang melihat Maria yang tidak mau membantunya. Ia mendekati Yesus dan berkata: “Tuhan, tidakkah Engkau peduli, bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri? Suruhlah dia membantu aku.”

Sebagai pengikut Yesus, kita mungkin pernah menghadapi hal yang serupa. Kesibukan sehari-hari seringkali mengharuskan kita untuk membagi waktu yang ada untuk bisa melaksanakan berbagai tugas. Apalagi di saat pandemi ini, keadaan di sekeliling kita agaknya kurang nyaman. Mungkin karena terlalu sibuk atau terlalu banyak yang dipikirkan, kita memilih untuk melakukan apa yang kita anggap lebih penting atau lebih menyenangkan, dan itu mungkin bukan untuk mempelajari firmanNya atau untuk berdoa kepada Tuhan dengan teratur. Kita menunda kewajiban kita untuk berbakti kepada Tuhan, persis seperti seorang murid yang akhirnya terpaksa meminta perpanjangan waktu untuk menyerahkan tugasnya.

Hari ini kita harus sadar bahwa waktu adalah sebuah sarana yang terbatas. Umur kita bukan di tangan kita dan karena itu kita harus mengatur hidup kita sebaik-baiknya dengan mengutamakan apa yang terbaik. Kita tidak sepatutnya berpikir bahwa Tuhan sudah memilih kita sebagai anak-anakNya dan Ia menerima hidup kita sebagaimana adanya, tanpa mau berubah dari hidup lama kita. Memang ada hal-hal dalam hidup ini yang diluar kendali kita seperti adanya resesi saat ini, tetapi mengatur cara hidup adalah di tangan setiap individu. Tuhan memberikan kesempatan bagi kita untuk bisa memilih untuk menjadi seperti Maria yang menggunakan waktu yang ada untuk mendengarkan apa yang dikatakan Tuhan, atau menjadi seperti Marta yang selalu sibuk dengan hal-hal duniawi. Manakah yang menjadi pilihan anda?

Loving fellow human beings

“But you, my friends, keep on building yourselves up on your most sacred faith. Pray in the power of the Holy Spirit, and keep yourselves in the love of God, as you wait for our Lord Jesus Christ in his mercy to give you eternal life. Show mercy toward those who have doubts; save others by snatching them out of the fire; and to others show mercy mixed with fear, but hate their very clothes, stained by their sinful lusts. Jude 1: 20-23 (GNT)

The Apostle Jude was one of the twelve apostles of Jesus Christ. In the Bible it is recorded as “Judas the son of James” or “Judas son of James”. He was known by another name, Thaddaeus, or Judas Thaddaeus. In the above verse the Apostle Jude writes to the church so that they have compassion, compassion, towards others. This is not an easy thing to do.

Maybe to feel sorry for those who look good enough in life, we can do it. Aren’t they good enough to be Christians? But, to be able to have mercy on people who are seen living in sin, we may feel less able. They are less likely to be followers of Christ. So maybe we think.

Is it important that we learn to be compassionate? The answer to this question is a certainty: Yes. This world is full of people who are suffering, both physically and spiritually. If we really want to love our neighbor as it is written in the law of love, we do not want to have to learn to be able to cry with people who cry. We must also be able to mourn those who live in sin but do not realize it or are unable to correct it. The ability to have compassion and empathy is not something we easily acquire, if that is indeed based on true love and not just to pretend.

How can we learn to have compassion and empathy? We must learn from the Lord Jesus who came down to earth as a human being. Jesus could not only weep when Lazarus, His beloved, died. Jesus also wept when He saw Jerusalem because the people of the city did not realize their sin when they rejected the Savior, and they did not know the calamity that was to come (Luke 19: 41-42).

For many Christians today it may not be difficult to have compassion and empathy if a family member or church member is in trouble. However, this manifestation of love is often hindered if those affected by the disaster are not Christians, not loved ones, not relatives or friends, or perhaps living far away. In this case, it is as if there is a wall that limits their love.

This morning, the word of God reminds us not to limit our compassion and empathy to those around us. God does not command us to love, help and pray for our friends or relatives only. All men have sinned and need forgiveness through the blood of Christ. Thus, our love is not just for people of the same family, religion, church, heaven or country. Instead, we must be able to channel the love of God we have received to everyone, including those who hate us, so that they too can be saved. What we hate is their sin, not the persons. Just as we once needed the help of others to lead us to Christ, they need us to lead them to the right path.

“But now I tell you: love your enemies and pray for those who persecute you, so that you may become the children of your Father in heaven. For he makes his sun to shine on bad and good people alike, and gives rain to those who do good and to those who do evil.” Matthew 5: 44 – 45 (GNT)

Mengasihi sesama manusia

“Akan tetapi kamu, saudara-saudaraku yang kekasih, bangunlah dirimu sendiri di atas dasar imanmu yang paling suci dan berdoalah dalam Roh Kudus. Peliharalah dirimu demikian dalam kasih Allah sambil menantikan rahmat Tuhan kita, Yesus Kristus, untuk hidup yang kekal. Tunjukkanlah belas kasihan kepada mereka yang ragu-ragu, selamatkanlah mereka dengan jalan merampas mereka dari api. Tetapi tunjukkanlah belas kasihan yang disertai ketakutan kepada orang-orang lain juga, dan bencilah pakaian mereka yang dicemarkan oleh keinginan-keinginan dosa.” Yudas 1: 20 – 23

Rasul Yudas adalah salah satu dari kedua belas rasul Yesus Kristus. Dalam Alkitab dicatat dengan nama “Yudas anak Yakobus” atau “Yudas bin Yakobus”. Ia dikenal dengan nama lainnya Tadeus, atau Yudas Tadeus. Dalam ayat diatas Rasul Yudas menulis kepada jemaat agar mereka mempunyai rasa belas kasihan, compassion, kepada orang lain. Ini bukanlah hal yang mudah dilakukan.

Mungkin untuk berbelas kasihan kepada mereka yang terlihat cukup baik hidupnya, kita bisa melakukannya. Bukankah mereka cukup baik untuk menjadi umat Kristen? Tetapi, untuk bisa berbelas kasihan kepada orang yang terlihat hidup dalam dosa, kita mungkin merasa kurang sanggup. Mereka adalah orang yang kurang pantas untuk menjadi pengikut Kristus. Begitu mungkin kita berpikir.

Pentingkah kita belajar untuk bisa mempunyai rasa belas kasihan? Jawaban pertanyaan ini adalah sebuah kepastian: Ya. Dunia ini penuh dengan orang-orang yang menderita, baik secara jasmani maupun rohani. Jika kita memang mau mengasihi sesama kita seperti apa yang tertulis dalam hukum kasih, kita mau tidak mau harus belajar untuk bisa menangis dengan orang yang menangis. Kita juga harus bisa menangisi orang yang hidup dalam dosa tetapi tidak menyadarinya atau tidak mampu untuk memperbaikinya. Kemampuan untuk mempunyai rasa belas kasihan dan empati bukanlah sesuatu yang gampang kita peroleh, jika itu memang didasari rasa kasih yang benar dan bukan hanya untuk berpura-pura.

Bagaimana kita bisa belajar untuk mempunyai rasa belas kasihan dan empati? Kita harus belajar dari Tuhan Yesus yang sudah turun ke dunia sebagai manusia. Yesus bukan saja bisa menangis ketika Lazarus, yaitu orang yang dikasihiNya, meninggal. Yesus juga menangis ketika Ia melihat Yerusalem karena orang-orang di kota itu tidak menyadari dosa mereka ketika mereka menolak Sang Juruselamat, dan mereka juga tidak tahu malapetaka yang akan terjadi di masa depan (Lukas 19: 41 – 42).

Bagi orang Kristen di zaman ini mungkin tidak sukar untuk mempunyai rasa belas kasihan dan empati jika ada anggota keluarga atau teman segereja yang mengalami musibah. Tetapi, seringkali perwujudan rasa kasih ini menjadi terhambat jika mereka yang tertimpa bencana adalah bukan orang Kristen, bukan orang yang disukai, bukan sanak atau teman, atau mungkin jauh dimata. Dalam hal ini, seakan ada tembok yang membatasi kasih mereka.

Pagi ini, firman Tuhan mengingatkan kita untuk tidak membatasi rasa belas kasihan dan empati kita kepada orang disekitar kita. Tuhan tidak memerintahkan kita untuk mengasihi, menolong dan berdoa bagi teman atau sanak kita saja. Semua manusia sudah berdosa dan membutuhkan pengampunan melalui darah Kristus. Dengan demikian, kasih kita tidak hanya untuk orang yang serumah, seagama, segereja, semarga atau senegara. Sebaliknya, kita harus bisa menyalurkan kasih Tuhan yang sudah kita terima kepada siapa saja, termasuk mereka yang membenci kita, agar mereka bisa diselamatkan juga. Apa yang kita benci adalah dosa mereka, bukan orangnya. Seperti kita yang dulu membutuhkan pertolongan orang lain untuk membawa kita kepada Kristus, mereka membutuhkan kita untuk membawa mereka ke jalan yang benar.

“Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.” Matius 5: 44 – 45

Hidup kita untuk kemuliaan Tuhan

“Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diriNya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.” Filipi 2: 5 – 7

Siapakah Yesus itu? Bagi sebagian orang Yesus adalah seorang guru yang bijaksana, yang sudah mengajarkan berbagai cara hidup yang baik. Bagi orang lain, Yesus adalah salah satu dari banyak nabi utusan Allah yang berasal dari Israel. Walaupun demikian, semua itu tidak sebanding dengan apa yang diyakini umat Kristen: Yesus adalah Anak Allah yang sudah merendahkan diriNya untuk menebus manusia.

Lebih dari itu Yesus adalah Tuhan, yang bersama-sama dengan Allah Bapa dan Roh Kudus adalah merupakan satu Tuhan dengan tiga pribadi. Mengapa satu? Itu karena Bapa, Anak dan Roh adalah suatu kesatuan Ilahi: bahwa mereka dari mulanya selalu ada, dan bersatu dalam segala pertimbangan, rencana dan tindakan. Mempunyai 3 pribadi yang berbeda, mereka adalah satu derajat dan harus disembah dan dihormati oleh umatNya karena Tuhan adalah pencipta dan sumber kehidupan manusia.

Bagaimana mungkinTuhan adalah sumber kehidupan manusia? Tuhan Yesus dalam ayat di bawah menggambarkan orang Kristen sebagai ranting-ranting pohon anggur yang bergantung pada pokok anggur untuk bisa hidup.

“Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.” Yohanes 15: 5

Kita yang sudah diangkat sebagai anak-anak Allah karena pengurbanan Yesus tidak boleh menganggap bahwa sesudah menjadi anak-anak Allah kita adalah orang-orang pilihan yang sudah diselamatkan, dan karena itu tidak perlu memikirkan apa yang perlu kita lakukan untuk memuliakan Tuhan.

Tanpa kesadaran bahwa kita bergantung kepada Tuhan dan harus hidup untuk Tuhan, hidup kita akan tidak berbuah apa yang baik. Seperti itulah, orang-orang Kristen yang hanya mau menerima berkat Tuhan tetapi tidak mau mengubah hidupnya untuk bisa memuliakan Tuhan dan menolong sesama. Seperti itulah orang-orang Kristen yang dalam hidupnya tidak mau memasyhurkan nama Tuhan. Mereka yang nampaknya sudah bekerja keras, mengambil segala kemuliaan untuk diri sendiri. Ini berbeda dengan Yesus yang bekerja di dunia – mengurbankan diri untuk kemuliaan Bapa. Mereka yang hidup untuk diri sendiri adalah seperti ranting-ranting yang tidak berbuah, yang akan dipotong dari pokok anggur karena tidak berguna untuk kerajaan Tuhan.

Pagi ini firman Tuhan mengingatkan kita akan kedudukan kita sebagai ranting-ranting pohon anggur, sebagai bagian dari gereja Tuhan. Sebagai orang Kristen tidak saja kita harus berbuah dalam hal-hal yang baik, tetapi juga harus makin bisa memuliakan Tuhan dan makin bisa melayani sesama. Hari lepas hari, sebagai ranting yang baik, haruslah kita makin banyak berbuah dan makin membawa kemuliaan bagi Dia sumber hidup kita.

“Barangsiapa tidak tinggal di dalam Aku, ia dibuang ke luar seperti ranting dan menjadi kering, kemudian dikumpulkan orang dan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar.” Yohanes 15: 6