Rencana Tuhan pasti akan terjadi

“TUHAN menggagalkan rencana bangsa-bangsa; Ia meniadakan rancangan suku-suku bangsa; tetapi rencana TUHAN tetap selama-lamanya, rancangan hati-Nya turun-temurun. Berbahagialah bangsa, yang Allahnya ialah TUHAN, suku bangsa yang dipilihNya menjadi milikNya sendiri!” Mazmur 33: 10 – 12

Esok hari, tanggal 15 Augustus, adalah hari berakhirnya perang dunia kedua dengan menyerahnya Jepang pada tahun 1945. Walaupun demikian, secara resmi Jepang baru menandatangani surat menyerah di atas kapal USS Missouri pada tanggal 2 September 1945.

Perang dunia kedua dimulai di Eropa pada tanggal 1 September 1939 ketika tentara Jerman menyerbu memasuki Polandia. Ribuan tentara dan penduduk Polandia menjadi korban keganasan tentara Jerman pada waktu itu. Jepang kemudian ikut memasuki perang dunia pada bulan September 1940 dan menyerang Pearl Harbor pada tanggal 7 Desember 1941. Inilah yang menyebabkan Amerika ikut memasuki perang besar ini.

Dengan berakhirnya perang dunia kedua, Amerika dan Rusia menjadi negara adikuasa dan Persatuan Bangsa-bangsa (PBB) serta negara Israel kemudian terbentuk.  Bagaimana perang yang terbesar di dunia itu bisa terjadi dan kemudian berakhir dengan hancurnya Hitler dan sekutunya, adalah sesuatu yang sulit untuk dibayangkan. Lebih sulit lagi untuk memikirkan apa yang Tuhan kerjakan selama berlangsungnya perang itu.

Adakah peranan Tuhan dalam hidup manusia dan apa yang dilakukanNya dalam menghadapi segala rencana bangsa-bangsa? Ayat di atas menulis bahwa  Tuhan menggagalkan rencana bangsa-bangsa, tetapi rencanaNya tetap selama-lamanya; rancangan hatiNya turun-temurun. Jelaslah bahwa Tuhan mempunyai rencana tertentu untuk seisi bumi dan jika ada bangsa-bangsa (orang-orang) yang berusaha untuk merencanakan sesuatu yang bertentangan dengan kehendakNya, Tuhan akan menghancurkan rencana-rencana itu. Bagi Tuhan, apa yang tidak sesuai dengan rencanaNya adalah sesuatu yang jahat dan buruk, dan Ia tidak akan memperbolehkan itu terjadi. Sebaliknya, apa yang dirancang Tuhan pasti terjadi sekalipun manusia berusaha menggagalkannya.

Benarkah bahwa Tuhan tetap bekerja mengatur semua orang dan semua bangsa di dunia sampai saat ini? Melihat keadaan dunia sekarang yang kacau-balau karena adanya pandemi COVID-19, mungkin ada orang yang menyangka bahwa Tuhan sedang tidur, dan bahkan ada orang yang percaya bahwa Tuhan sudah mati. Bagi kita umat Kristen, ini adalah sesuatu yang tidak dapat diterima.

Ayat di atas menegaskan bahwa Tuhan adalah Tuhan yang berkuasa. Sebagai Tuhan pemilik alam semesta, memang tidak ada yang bisa melarangNya untuk lebih mengasihi negara, bangsa dan orang tertentu. Walaupun demikian, dalam Perjanjian Lama Tuhan mengistimewakan Israel untuk maksud tertentu, bukan untuk keselamatan. Dari Galatia 3: 28 kita tahu bahwa dalam Yesus semua orang yang percaya akan diselamatkan. Dengan demikian, berbahagialah bangsa-bangsa (orang-orang) yang percaya kepada Tuhan, karena mereka yang dipilihNya menjadi milikNya sendiri. Mereka yang percaya kepadaNya akan diselamatkan, dan siapa pun yang hidup sesuai dengan firmanNya adalah orang-orang yang berbahagia.

Apa yang bisa kita pelajari dari perang dunia kedua adalah  adanya bangsa-bangsa (orang-orang) yang mengakui adanya Tuhan, tetapi tidak mau menaati perintahNya. Pada zaman ini, keadaan tetap saja seperti itu,  banyak bangsa (orang-orang) mengaku bahwa Tuhan itu ada tetapi dalam kenyataannya mereka tidak percaya kepada Tuhan yang sudah mengirim AnakNya, Yesus Kristus, untuk menebus dosa manusia. Hanya melalui darah Kristus, manusia bisa ditebus dari belenggu dosa dan menjadi milik Tuhan sepenuhnya. Hanya mereka yang menjadi milikNya akan menjadi milik Yesus dan menerima kebahagiaan kekal sebagai karunia Tuhan.

“Aku berdoa untuk mereka. Bukan untuk dunia Aku berdoa, tetapi untuk mereka, yang telah Engkau berikan kepada-Ku, sebab mereka adalah milikMu dan segala milikKu adalah milikMu dan milikMu adalah milikKu, dan Aku telah dipermuliakan di dalam mereka.” Yohanes 17: 9 – 10

Pentingnya hubungan suami-istri

“Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, demikian jugalah isteri kepada suami dalam segala sesuatu. Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya” Efesus 5: 24 – 25

Adanya persoalan hidup yang berbagai ragam sebenarnya adalah jamak karena itu adalah bagian hidup manusia di dunia. Walaupun demikian, persoalan yang kecil bisa menjadi besar, dan persoalan yang bagaimana pun bisa menghancurkan rumah tangga jika tidak segera diatasi. Apalagi, pada saat ini keadaan dunia agaknya menjadi kacau dengan adanya pandemi COVID-19. Dengan demikian, perkawinan akan mudah hancur jika tidak ada ikatan yang kuat antara suami dan istri dan komunikasi yang baik dan jujur di antara keduanya.

Di zaman modern ini banyak kaum wanita yang memandang bahwa ayat diatas sudah ketinggalan zaman. Bagi sebagian, keharusan untuk tunduk itu dianggap sebagai penyebab kekacauan rumah tangga. Pada pihak yang lain, ada yang berpendapat bahwa kekacauan rumah tangga terjadi karena istri yang selalu tunduk sehingga suami bebas untuk berbuat semaunya. Walaupun demikian, kata “tunduk” muncul dalam Alkitab tidak hanya di kitab Efesus, tetapi juga di kitab Kolose dan Petrus.

Dan mengapa “tunduk” merupakan perintah kepada istri, sedang “kasih” ditujukan kepada suami? Hubungan antara suami dan istri dalam Alkitab ternyata dipakai untuk melambangkan hubungan antara jemaat dan Kristus. Seperti indahnya hubungan antara jemaat dengan Kristus, begitu juga hubungan antara istri dan suami bisa menjadi indah dan langgeng jika mereka menyadari fungsi masing-masing. Seorang suami mempunyai kewajiban untuk melindungi dan mengasihi istrinya seperti Kristus sudah lebih dulu mengurbankan diriNya untuk jemaatNya.

Seorang istri yang merasakan besarnya kasih dan dedikasi sang suami akan bisa dengan sungguh hati menghormati dia. Hal ini mirip dengan jemaat yang mengasihi Kristus karena Ia lebih dulu berkurban. Seorang istri dengan senang hati mau memberikan kesempatan kepada sang suami untuk memimpin rumah-tangga jika sang suami mau melakukan tugasnya. Ini seperti jemaat yang menurut kepada pimpinan Kristus.

Pada kenyataannya, banyak suami yang tidak sadar bahwa ia harus bisa mencontoh Kristus yang mau berkurban untuk jemaatNya. Mereka lupa bahwa jika mereka mau menjadi pemimpin, itu bukanlah berarti menjadi majikan. Seorang suami yang baik akan mengasihi istrinya sama seperti tubuhnya sendiri, sama seperti Kristus yang mengasihi jemaat. Pada pihak yang lain, ada juga istri yang selalu ingin untuk ikut berfungsi sebagai pemimpin dalam rumah tangga dan bahkan memandang rendah kemampuan sang suami.

Hubungan suami istri menurut Alkitab bukanlah seperti apa yang diajarkan oleh dunia. Mereka yang sering menuntut haknya akan mudah jatuh ke dalam pertikaian. Jika suami hanya menuntut ketaatan istri dan istri hanya menuntut kesabaran dan kasih sayang suami, hidup rumah tangga hanya berisi hal tuntut-menuntut. Sebaliknya, hidup suami istri menurut Alkitab adalah berdasarkan kewajiban.

Apa yang akan terjadi pada bulan-bulan mendatang tidak ada seorang pun yang tahu. Keadaan ekonomi pada banyak negara sudah mulai goncang dan dengan itu keutuhan banyak rumah tangga ikut terancam. Dalam hal ini, baik suami maupun istri harus ingat akan kewajiban mereka, dan berlomba-lomba untuk lebih dulu berbuat baik bagi yang lain. Baik suami maupun istri harus sadar bahwa setiap orang mempunyai fungsi tersendiri. Dalam hidup berumah tangga kekuatan akan datang dari kasih dan kemurahan hati pasangan hidup kita. Inilah kunci kesuksesan dan kebahagiaan rumah tangga!

Yesus tetap beserta kita

“Dan berbahagialah orang yang tidak menjadi kecewa dan menolak Aku.” Lukas 7: 23

Pernahkah anda kecewa? Tentu setiap orang pernah. Mungkin kita malu untuk memperlihatkan rasa kecewa kita kepada orang lain, tetapi dalam hidup ini selalu ada hal yang membuat kita kecewa. Mungkin itu karena hal yang kecil seperti baru-baru ini terjadi pada diri saya, ketika saya pergi ke warung yang sering saya kunjungi hanya untuk menjumpai tempat makan itu sudah ditutup gara-gara lockdown yang baru-baru ini dijalankan pemerintah.

Kekecewaan biasanya terjadi jika orang tidak memperoleh apa yang diharapkan. Mereka kecewa karena apa yang seharusnya terjadi, ternyata tidak terjadi. Dan pada saat ini tentunya banyak orang yang kecewa karena adanya pandemi sudah membuat banyak rencana manusia menjadi berantakan. Bukan saja itu menyangkut kegiatan sekolah, pekerjaan dan usaha, kekecewaan juga terjadi dalam bidang sosial dimana orang tidak dapat lagi dengan bebas mengunjungi sanak dan teman ataupun pergi ke tempat pesiar. Tetapi semua itu tentunya tidak dapat dibandingkan dengan kekecewaan yang terjadi karena kehilangan orang yang dicintai karena virus corona. Kekecewaan yang besar mungkin datang karena apa yang seharusnya tidak terjadi kemudian terjadi.

Siapakah yang bersalah jika ada rasa kecewa? Umumnya orang yang kecewa mempersalahkan orang lain atau hal-hal tertentu yang membuatnya kecewa. Sekalipun ada kesalahan yang dibuat sendiri, rasa kecewa sering muncul dengan mempertanyakan mengapa semua itu terjadi? Mengapa orang lain agaknya tidak mengalami persoalan yang kita alami? Mengapa hidup ini terasa tidak adil? Mengapa tidak ada seorang pun yang menaruh belas kasihan atau menolong? Dan untuk puncaknya, orang mungkin mengeluh mengapa Tuhan seakan melupakan dirinya.

Ayat di atas diucapkan Yesus setelah mendengar bahwa Yohanes Pembaptis menyuruh muridnya untuk bertanya kepada Yesus, apakah Yesus adalah Mesias yang sudah dinanti-nantikan umat Israel. Sekalipun Yohanes mendengar bahwa Yesus sudah melakukan perbuatan yang ajaib, ia ingin mendapatkan kepastian dari mulut Yesus sendiri. Yesus menjawab bahwa mereka yang tidak kecewa dan menolak Dia adalah orang-orang yang berbahagia. Apa maksud Yesus? Apakah Ia merasa bahwa Yohanes sudah kecewa dan tidak percaya kepadaNya? Sudah tentu tidak.

Yohanes tidak kecewa ataupun bermaksud untuk menolak Yesus. Sebaliknya, Yohanes yang sudah mendengar bahwa Yesus mempunyai kuasa yang besar, ingin memastikan bahwa Yesus adalah benar-benar Mesias yang dinantikannya. Yohanes tidak ingin kecewa atau dikecewakan. Bagaimanapun juga Yohanes adalah manusia yang tidak sempurna seperti kita. Yesus kemudian menjawab bahwa orang yang tidak hidup dalam kesangsian akan keilahianNya adalah orang yang berbahagia. Orang Kristen yang tidak ragu-ragu akan kemahakuasaan dan kebesaran kasih Yesus adalah orang yang berbahagia.

Pada saat yang sulit saat ini, tentu banyak orang Kristen yang seperti Yohanes, bertanya-tanya apakah Yesus adalah Tuhan yang bisa mereka harapkan. Sudah terlalu banyak hal-hal yang mengecewakan kita dan kita mungkin ingin memastikan bahwa Yesus tetap adalah Tuhan yang mampu dan mau menolong umatNya. Sebagai orang pilihan Tuhan, kita tidak dapat menolak Dia atau kehilangan iman. Tetapi kata ‘menolak” di sini bisa diartikan bahwa kita meragukan bahwa Ia adalah Tuhan yang masih menyertai kita dalam setiap keadaan. Karena kita tidak ingin goncang dalam hidup karena adanya badai yang sekarang melanda kehidupan, kita bertanya kepada Tuhan: “Apakah Engkau masih menyertaiku, Tuhan?”. Yesus dengan pasti menjawab bahwa mereka yang tetap percaya kepadaNya tidak akan dikecewakan. Berbahagialah orang yang tidak meragukan Dia!

Kuasa Tuhan membuat kita kuat

Tetapi jawab Tuhan kepadaku: “Cukuplah kasih karuniaKu bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasaKu menjadi sempurna.” Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku. 2 Korintus 12: 9

Hari Minggu yang lalu saya diminta untuk memberi renungan melalui internet dalam sebuah pertemuan maya antar teman SMA. Dalam situasi saat ini jumpa tatap muka tidaklah mungkin, apalagi karena mereka tinggal di kota dan negara yang berlainan. Walaupun demikian, perjumpaan melalui layar komputer dan HP terasa cukup berkesan.

Renungan saya sampaikan dengan menggunakan komputer laptop yang saya miliki, dan untuk memungkinkan kualitas gambar dan suara yang lebih baik saya menggunakan tambahan microphone dan camera. Sayang sekali saya tidak menyadari bahwa microphone ekstra itu tidak bekerja selama pertemuan. Akibatnya, menurut beberapa teman, volume suara saya terdengar naik turun dan sebagian mungkin kurang jelas.

Rasa menyesal atas kekeliruan saya mungkin saya bawa sampai saat saya tidur. Menjelang pagi saya terbangun dengan perasaan kurang enak karena teringat bahwa kekeliruan itu sebenarnya bisa diatasi kalau saja saya lebih berhati-hati dalam mempersiapkan microphone itu. Tetapi karena nasi sudah menjadi bubur, saya kemudian sulit untuk melanjutkan tidur. Ajaib, pada waktu itu saya teringat akan ayat di atas yang seakan memberi teguran kepada saya. Sesudah itu saya bisa tidur lagi dengan lelap.

Sebagai manusia kita ingin mengendalikan jalan hidup kita. Kita berusaha untuk hidup baik, dari masa sekolah, masa kuliah sampai masa bekerja dan juga dalam masa pensiun. Kita berusaha untuk mencapai hasil yang terbaik dalam setiap usaha kita. Bukan saja mengenai pendidikan, pekerjaan, keuangan dan kesehatan, sebagai orang Kristen kita mungkin berusaha untuk menjalani hidup yang sesuai dengan firman Tuhan. Tetapi, sekalipun kita berusaha keras, terkadang kita merasa bahwa masih ada saja hal yang kurang baik yang terjadi dalam hidup kita. Kita mungkin merasa sedih dan menyesal akan apa yang tidak kita harapkan, tetapi semua itu sudah terjadi dan tidak dapat diperbaiki.

Paulus dalam ayat di atas menulis apa yang dikatakan Tuhan kepadanya. Pada waktu itu ia mengalami masalah yang sangat membebani dia yang seperti “duri dalam daging” rasanya (2 Korintus 12: 7). Sudah tiga kali Paulus berseru kepada Tuhan meminta pertolongan, tetapi tidak ada perubahan yang dialaminya. Tuhan malahan menjawab bahwa kasihNya sudah cukup bagi Paulus.

Ada banyak teori tentang apa sebenarnya duri ini – begitu banyak teori yang dikemukakan orang, sehingga mustahil untuk mendiagnosis situasi Paul dengan kepastian penuh. Beberapa orang berpendapat bahwa duri Paulus datang dalam bentuk penganiayaan orang Yahudi karena konteks sekitarnya berbicara tentang lawan. Yang lain berpendapat bahwa ingatan Paulus sendiri tentang masa lalunya adalah duri; mungkin masa lalu Paulus yang termasuk penganiayaan terhadap gereja terus menghantuinya. Beberapa bahkan mengusulkan bahwa Paulus mengalami masalah jasmani atau depresi.

Sekalipun kelemahan fisik tampaknya lebih mungkin terjadi di sini, kita tidak tahu jawaban yang tepat. Beberapa kelemahan fisik yang tampaknya sesuai dengan keadaan Paulus di antaranya adalah malaria, demam Malta, dan epilepsi. Banyak dari masalah kesehatan ini juga bisa memengaruhi penglihatan, dan tampaknya Paulus memang mengalami kesulitan dengan penglihatannya – jadi ini bisa jadi disebabkan oleh “duri” dalam dagingnya.

Apa pun yang terjadi pada Paulus, itu menunjukkan kelemahan manusia yang bisa terjadi pada siapa pun. Setiap orang mempunyai masalah dalam hidup yang bisa membuatnya merasa lemah dalam menghadapi hidup. Berbagai kesalahan yang kita perbuat pada masa yang lalu juga bisa membuat kita merasa sedih dan putus asa. Kita memang berharap agar Tuhan selalu mau menolong dan melindungi kita. Karena itu kita merasa terpukul jika ada hal-hal yang kurang baik terjadi dalam hidup kita. Mungkin kita sudah berusaha mati-matian untuk menghindari kesalahan, tetapi sebagai manusia yang tidak sempurna selalu ada masalah dan kegagalan yang terjadi.

Pagi ini, firman Tuhan mengingatkan kita bahwa kita adalah manusia yang lemah. Sebagai umat Kristen kita tidak bisa mengharapkan bahwa kita akan memperoleh kesuksesan dalam hidup, kesehatan yang lebih baik dan kenyamanan yang lebih daripada orang lain. Tuhan tidak selalu memberikan apa yang kita minta atau harapkan, tetapi Ia selalu memberi kita kekuatan dalam menghadapi semua masalah. Kasih karuniaNya sudah diberikanNya kepada semua orang percaya, agar dengan iman mereka dapat berserah kepada Tuhan yang mahakuasa. Biarlah kasih dan kuasa Tuhan tetap dapat kita rasakan dalam setiap masalah yang kita alami pada saat ini.

Bertahan untuk hidup

“Marilah kepadaKu, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” Matius 11: 28

Hidup ini berat. Mungkin kebanyakan orang mengiyakan pernyataan ini. Bagaimana tidak? Selama hidup selalu ada saja tantangan dan persoalan yang harus kita hadapi. Jika bukan hal pekerjaan, mungkin soal keuangan, keluarga, kesehatan atau hubungan antar manusia. Sekalipun ada orang-orang yang nampaknya selalu berjaya, pastilah ada masalah-masalah yang harus tetap dihadapi.

Orang berkata: “Ada hidup, ada masalah”, tetapi sebaliknya juga benar: “Ada masalah, ada hidup”. Selama manusia masih hidup pasti ada masalah, tetapi adanya masalah bisa juga membuat orang menjadi lebih kuat dan tetap hidup. Walaupun demikian, bagaimana orang bisa tetap hidup jika ada masalah yang sangat besar seperti pandemi saat ini? Banyaknya orang yang sakit, yang meninggal, yang kehilangan pekerjaan dan yang putus asa di sekitar kita, membuat kita ikut merasa kuatir dan tertekan. Dalam keadaan sedemikian, kita mungkin merasa mudah lelah dalam menghadapi perjuangan hidup sehari-hari.

Bagi orang yang lelah jasmaninya, istirahat atau tidur mungkin bisa memulihkan tenaganya. Tetapi, banyak orang yang lelah bukan karena jasmaninya, tetapi karena rohaninya. Dalam hal ini, kelelahan rohani tidak bisa dihilangkan dengan istirahat; sebaliknya, kelelahan rohani seringkali menyebabkan kita justru tidak bisa beristirahat dengan baik. Jika kelelahan jasmani mungkin bisa diatasi dengan obat-obatan; kelelahan rohani seringkali sulit untuk diobati dan malahan bisa menimbulkan masalah jasmani.

Jika kelelahan jasmani mudah terlihat, kelelahan rohani seringkali sulit dibaca orang lain. Lebih payah lagi, mereka yang mengalami kelelahan rohani seringkali tidak sadar kalau apa yang mereka alami adalah bersumber dari rohani. Mereka yang mengalami kelelahan rohani seringkali merasa hidup ini begitu berat, begitu hampa, tanpa harapan, dan tidak ada orang lain yang bisa mengerti atau bisa menolong. Mereka yang berada dalam keadaan ini mungkin berusaha menyembunyikan persoalannya dari pandangan orang lain dengan berpura-pura, seakan hidup mereka berjalan seperti biasa. Tetapi, pada saat tertentu hati mereka menangis dan pikiran mereka menjadi sangat keruh.

Ayat di atas adalah panggilan Yesus kepada semua orang yang merasa lelah rohaninya. Yesus mengerti bahwa jika manusia bisa mengatasi kelelahan jasmani,  mereka tidak mungkin menghilangkan kelelahan rohani dengan kekuatan diri sendiri. Kelelahan rohani hanya bisa dihilangkan oleh Tuhan yang bisa melihat apa yang ada dalam hidup, pikiran dan hati manusia.

Kelelahan rohani hanya bisa disembuhkan melalui iman kepada Tuhan yang mahakuasa, mahakasih dan mahabijaksana. Jika manusia tidak dapat menolong kita, tidak mau menolong kita atau tidak tahu bagaimana harus menolong kita; Tuhan kita adalah Tuhan yang mampu menolong, mau menolong, dan tahu apa yang terbaik untuk kita. Firman Tuhan diatas mengingatkan kita untuk percaya kepadaNya dengan segenap hati kita, dan tidak bersandar kepada pengertian kita sendiri. Maukah kita menyerahkan hidup kita sepenuhnya kepada Dia?

“Serahkanlah segala kekuatiranmu kepadaNya, sebab Ia yang memelihara kamu.” 1 Petrus 5: 7

Berdoa di masa pandemi

“Kalau ada seorang di antara kamu yang sakit, baiklah ia memanggil para penatua jemaat, supaya mereka mendoakan dia serta mengolesnya dengan minyak dalam nama Tuhan. Dan doa yang lahir dari iman akan menyelamatkan orang sakit itu dan Tuhan akan membangunkan dia; dan jika ia telah berbuat dosa, maka dosanya itu akan diampuni. Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh. Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya.” Yakobus 5: 14 – 16

Semua manusia tentunya pernah jatuh sakit selama hidupnya. Tetapi, jika seseorang jatuh sakit di masa pandemi ini dan harus ke rumah sakit, kekuatiran mungkin bisa menjadi lebih besar. Memang karena virus corona ini sangat menular, banyak orang yang takut untuk pergi ke rumah sakit.

Adanya penyakit dan rasa sakit adalah salah satu konsekuensi kejatuhan manusia kedalam dosa. Walaupun demikian, kita harus bersyukur bahwa Tuhan selalu menyertai umatnya baik dalam suka maupun duka, baik sewaktu sehat maupun sewaktu sakit. Kasih Tuhan tidak berubah dalam segala keadaan ataupun saat.

Ayat diatas ditulis oleh rasul Yakobus mengenai kesehatan umat Tuhan. Pada saat itu, ilmu kedokteran dan kesehatan lingkungan belumlah semaju sekarang. Walaupun demikian, Yakobus tentunya sadar bahwa menjaga kesehatan adalah penting untuk bisa hidup dan bekerja secara optimal untuk kemuliaan Tuhan. Lebih dari itu, ia jelas sadar bahwa Tuhanlah yang mempunyai kuasa untuk memberi kesembuhan kepada orang yang sakit. Tuhanlah yang berhak untuk menolong siapa saja yang mengalami masalah, baik itu hal jasmani atau rohani. Pertanyaannya, apakah ayat ini tetap sepenuhnya relevan untuk masa kini?

Ayat diatas tidak secara spesifik menulis tentang jenis penyakit yang bisa didoakan untuk kesembuhan. Jika pengolesan dengan minyak dianjurkan untuk kesembuhan (kemungkinan besar minyak zaitun), rasul Yakobus tentunya tahu bahwa itu bukanlah obat untuk segala penyakit. Jadi, pemakaian minyak itu mungkin bertalian dengan ritual atau kebiasaan waktu itu, dan merupakan lambang penyertaan Tuhan. Bukan pengurapan, bukan doa dan bukan iman manusia yang membawa kesembuhan, tetapi Tuhan sendiri. Tuhan yang mahakuasa bisa secara total menyembuhkan segala penyakit jika itu sesuai dengan kehendakNya; bukan penyakit tertentu saja dan bukan hanya kesembuhan sementara.

Ayat diatas tidak menyebutkan apakah kesembuhan jasmani atau rohani yang dibahas, tetapi semua penyakit memang bisa disembuhkan Tuhan, seperti yang dilakukan Yesus selama di dunia. Walaupun begitu, dengan mempertimbangkan kefanaan jasmani manusia, ayat itu mungkin lebih cenderung menyangkut masalah rohani yang bersangkutan dengan cara hidup manusia di dunia. Ini juga lebih sesuai dengan misi penyelamatan Yesus selama di dunia.

Hubungan yang baik dengan Sang Pencipta seharusnya memberi pengertian bahwa kita tidak dapat memisahkan kehidupan jasmani dari kehidupan rohani, karena tubuh kita adalah rumah Tuhan. Karena itu kita harus memelihara keduanya sesuai dengan firman Tuhan. Seringkali orang mementingkan salah satu saja, dan ini bisa menimbulkan persoalan. Manusia bisa sakit karena faktor keturunan, lingkungan, atau kebiasaan. Selain itu, iblis pun bisa membawa berbagai gangguan. Dengan hubungan yang baik dengan Tuhan kita akan makin mampu untuk menyadari apa yang salah dan memperoleh pengampunanNya.

Tuhan bisa memberi kesembuhan dari penyakit apapun apabila sesuai dengan kehendakNya. Tetapi ayat ini mungkin lebih mengena dalam hal yang berhubungan dengan cara hidup manusia. Mereka yang hidupnya jauh dari Tuhan seringkali merasa sakit, lemah, tertekan dan kesehatannya terganggu. Mereka yang terpaksa hidup dalam lingkungan yang kurang sehat, mungkin sering terkena penyakit. Selain itu, banyak orang di saat ini yang harus dirawat di rumah sakit sebagai akibat dari interaksi dengan masyarakat di sekitarnya. Kepada mereka ini, firman Tuhan berkata bahwa didalam Dia ada keselamatan dan kebangkitan. Tuhan bisa bekerja dalam hidup manusia, keluarga, masyarakat dan negara untuk kemuliaanNya.

Karena Tuhan mengasihi seisi dunia, mereka yang sakit boleh berharap dalam iman akan keringanan dan kesembuhan dariNya. Tetapi, lebih dari itu, mereka yang beriman akan yakin bahwa sekalipun tubuh jasmani mereka lemah, mereka adalah orang-orang yang sudah mendapat pengampunan Tuhan. Setiap orang Kristen adalah orang-orang yang sudah dikuduskan oleh Kristus. Dengan demikian, adalah panggilan bagi kita di masa pandemi ini untuk selalu berdoa untuk kesehatan orang lain dan juga untuk kesehatan diri kita sendiri. Lebih dari itu, kita harus juga berdoa untuk kesehatan mereka yang bekerja di rumah sakit: para dokter, jururawat dan pekerja yang lain. Kita harus percaya bahwa dalam darah Yesus ada kuasa yang besar!

Hal meningkatkan kekuatan

“Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku”. Filipi 4: 13

Beberapa hari ini banyak media Indonesia yang menyorot klaim seseorang bahwa ia berhasil menemukan obat COVID-19. Obat ini dikatakan dapat menyembuhkan penderita dalam waktu dua hari dengan meningkatkan antibodi untuk melawan virus corona. Sudah tentu berita ini sangat menarik perhatian masyarakat karena dalam suasana saat ini semua orang ingin mendapat kabar baik tentang obat dan vaksin untuk mengatasi masalah pandemi. Sayang sekali, agaknya berita ini tidak didukung dengan bukti-bukti ilmiah yang bisa menunjukkan bahwa produk itu benar-benar obat dan bukannya ramuan herbal untuk kesehatan. Memang sejak munculnya COVID-19 pada bulan Maret yang lalu, berbagai ramuan jamu sudah dipasarkan, yang dikatakan berguna untuk meningkatkan kesehatan, kekuatan dan imunitas tubuh.

Siapakah manusia yang tidak tertarik untuk meningkatkan daya tahan tubuhnya? Sekalipun demikian, kita tentunya tidak ingin menjadi seperti Simson. Dalam Alkitab, orang yang dikatakan mempunyai kekuatan jasmani yang luar biasa adalah Simson yang menjadi salah satu hakim umat Israel (Hakim-Hakim 14). Simson dapat mencabik seekor singa, menangkap tiga ratus anjing hutan dan membunuh banyak orang, semuanya dengan tangannya. Tetapi Simson bukan benar-benar orang yang kuat dalam segala hal, karena ia mempunyai kelemahan terhadap rayuan wanita. Karena kelemahan rohani itulah ia akhirnya mati bersama ribuan orang Filistin.

Sebagai manusia, kita mungkin membayangkan betapa enaknya jika kita bisa hidup sehat-kuat sampai hari tua. Berbagai hal yang bisa dilakukan manusia untuk memelihara kesehatannya seperti minum berbagai obat, vitamin, berolahraga, berdiet sehat dan sebagainya, yang di zaman ini menjadi pusat perhatian mereka yang mampu. Walaupun demikian, tidak ada seorang pun yang bisa dalam jasmaninya mencapai tingkatan sempurna. Jasmani kita adalah sesuatu yang terbatas dan fana sifatnya. Seperti Simson, semua orang akhirnya akan mati dan lebih dari itu, tidak ada seorang pun yang tahu kapankah itu akan terjadi.

Sebagai karunia Tuhan dari mulanya, kekuatan jasmani memang penting untuk dapat menjalankan tugas manusia di dunia , dan lebih dibutuhkan lagi setelah kejatuhan mereka ke dalam dosa – karena hanya dengan susah payah saja manusia bisa tetap berkembang biak dan hidup (Kejadian 3: 16-17). Walaupun demikian, kekuatan yang diutamakan Tuhan adalah kekuatan rohani melalui hubungan yang baik denganNya. Kekuatan rohani ini seharusnya tetap ada seandainya manusia tidak jatuh ke dalam dosa. Namun, karena kejatuhan dalam dosa, manusia tidak akan memperoleh kekuatan rohani jika mereka tidak mau kembali membina hubungan yang baik dengan Sang Pencipta.

Mungkin kita sering merasa capai setelah bekerja seharian. Barangkali kita merasa lelah dalam hidup yang penuh tantangan saat ini. Mungkin juga usia sudah mulai mempengaruhi kekuatan jasmani kita. Dalam hal ini ada orang yang sedih karena merasa bahwa rasa segan orang lain kepadanya sudah mulai berkurang karena kekuatannya yang makin merosot. Mungkin semua hal itu pernah dirasakan oleh Simson. Seperti Simson, kita tidak dapat menghindari semua masalah itu karena kekuatan jasmani kita yang bersifat sementara.

Hari ini kita harus sadar bahwa adalah kebodohan jika kita selalu memprioritaskan keadaan jasmani kita. Dalam keadaan apa pun manusia tidak dapat bergantung kepada tubuh, kepandaian, kekuatan dan harta mereka. Dalam soal rohani, manusia juga harus tetap bergantung kepada Tuhan yang membawa keselamatan melalui Yesus Kristus. Walaupun demikian, jika kita mempunyai kekuatan rohani dari Tuhan, kita boleh yakin bahwa kita bisa menjadi sempurna dalam Yesus untuk bisa menghadapi semua tantangan hidup. Dalam kelemahan jasmani kita, kita boleh bermegah bahwa Yesus sudah memberikan kita kekuatan rohani yang abadi.

Tetapi jawab Tuhan kepadaku: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasaKu menjadi sempurna.” Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku. 2 Korintus 12: 9

Kita adalah hamba Allah

“Hiduplah sebagai orang merdeka dan bukan seperti mereka yang menyalahgunakan kemerdekaan itu untuk menyelubungi kejahatan-kejahatan mereka, tetapi hiduplah sebagai hamba Allah.” 1 Petrus 2: 16

Keadaan di kota Melbourne, Australia saat ini cukup kritis. Pertambahan kasus positif COVID-19 dua minggu terakhir ini membuat lockdown diterapkan lagi. Bahkan, lebih dari itu jam malam juga diberlakukan dan setiap orang sekarang diharuskan memakai masker. Banyak toko-toko yang diharuskan tutup, kecuali penjual barang kebutuhan pokok seperti supermarket dan apotik. Dalam keadaan yang gawat sekarang ini, adalah aneh jika ada sekelompok orang yang sengaja menentang keharusan untuk memakai masker. Kelompok anti-masker ini mencari gara-gara dengan polisi dan bahkan ada yang berani menganiaya polisi. Mereka itu menamakan kelompoknya sebagai “sovereign citizen” atau warga merdeka. Mereka tidak mau tunduk kepada peraturan dan hukum.

Kemerdekaan atau freedom adalah sesuatu yang sangat berharga di dunia. Manusia memang diciptakan Tuhan sebagai makhluk yang merdeka untuk mengatur dunia (Kejadian 1: 28). Tetapi kemerdekaan manusia bukan berarti bahwa mereka boleh berbuat semaunya. Dalam kemerdekaan manusia, manusia bergantung kepada Tuhan sebagai sumber kehidupannya. Dalam kebebasannya, manusia harus taat kepada hukum dan perintah Tuhan yang sudah menciptakannya (Kejadian 2: 16-17). Tanpa ketaatan kepada sang Pencipta, manusia akan kehilangan hubungan dengan Dia, dan kehilangan sumber kehidupannya. Kemerdekaan manusia dengan demikian  adalah tanda kehidupan dalam Tuhan, karena tanpa ketaatan kepada Tuhan manusia jatuh ke dalam belenggu dosa yang membawa kematian.

Banyak orang yang mendambakan kemerdekaan dalam hidupnya dan bersedia untuk membayar dengan harga tinggi untuk memperolehnya. Tetapi seringkali, apa yang dipandang sebagai kemerdekaan adalah kesempatan untuk melakukan apa saja yang dikehendakinya. Dengan demikian, apa yang dianggap sebagai kemerdekaan bagi seseorang ialah keadaan dimana tidak ada orang, hukum, peraturan atau etika yang menghalangi apa yang akan diperbuatnya.

Pada pihak yang lain, ada juga orang yang menaati peraturan pemerintah karena terpaksa. Jika ada kesempatan, mereka akan mengabaikan adanya hukum dan peraturan, dan merasa puas jika mereka dapat melakukan hal itu. Tetapi, sebagai umat Kristen, kita semua dipanggil untuk menghormati pemerintah dan hukum yang ada karena pemerintah yang baik adalah wakil Tuhan di dunia (Roma 13: 1).

Orang mungkin berpendapat bahwa mereka boleh melakukan apa saja selama tidak melanggar peraturan setempat yang berlaku. Banyak orang Kristen kemudian merasa “santai” untuk melakukan hal-hal yang dianggap “biasa” dalam masyarakat setempat. Jika mereka melakukan hal-hal itu, mungkin tidak ada orang yang bakal mengerutkan kening atau melarangnya. Dengan demikian, kemerdekaan bagi mereka ialah memanfaatkan kesempatan yang ada dalam lingkungan hidup mereka. Karena itu, Tuhan seolah mempunyai hukum yang berbeda di tempat yang berlainan.

Tuhan yang Maha Esa sudah tentu memiliki kehendak yang sama untuk seluruh umatNya. Apa yang difirmankanNya tidak mungkin disesuaikan dengan keadaan setempat. Hukum Tuhan seharusnya berlaku untuk setiap manusia tanpa memandang jenis, ras, budaya atau pendidikan. FirmanNya tidak boleh dipengaruhi oleh kehendak manusia yang ingin mempunyai kemerdekaan untuk memilih cara hidup dan kebiasaan yang sesuai dengan keadaan setempat. Hanya ada satu tempat dimana seluruh umat manusia bisa menemukan hukum yang sama, tempat itu adalah Alkitab.

Masyarakat dan negara mungkin memperbolehkan orang untuk melakukan suatu hal, tetapi jika firman Tuhan melarangnya, sebagai orang Kristen kita harus lebih taat kepada Tuhan. Masyarakat mungkin menutup mata atas apa yang tidak baik, tetapi karena kita sadar bahwa Tuhan melihat dosa apapun yang diperbuat manusia, kita tidak boleh ikut-ikutan melakukannya.

Pada pihak yang lain, ada tempat-tempat tertentu di dunia dimana masyarakat dan negara melarang orang Kristen untuk melakukan apa yang baik menurut firman Tuhan. Sebagai orang Kristen kita sadar bahwa kita sudah diberi kemerdekaan untuk memilih hidup yang sesuai firmanNya. Dengan demikian, kita harus sanggup untuk berjuang setiap hari untuk menegakkan perintahNya dalam hidup kita. Kita adalah orang-orang yang sudah dimerdekakan dari dosa untuk menjadi hamba Allah.

Sekalipun kabar buruk ada dimana-mana

“Ia tidak takut kepada kabar celaka, hatinya tetap, penuh kepercayaan kepada TUHAN.” Mazmur 112: 7

Adakah kabar baik yang disampaikan media saat ini? Mungkin tidak ada, atau jarang sekali ada. Apa yang muncul setiap hari umumnya kabar buruk, kabar celaka, sedangkan kabar baik yang ada seringkali palsu atau mengada-ada. Sebagai contoh, media memberitakan bahwa ada pertambahan jumlah orang yang tertular virus corona sebanyak 1000 orang, tetapi kabar baiknya adalah ada 500 orang yang sembuh pada hari yang sama. Tentu saja kabar baik yang benar-benar bisa dinikmati ialah jika tidak ada pertambahan jumlah orang yang tertular. Tidaklah mengherankan bahwa ada banyak orang yang tertipu dengan adanya berita baik yang sebenarnya adalah berita buruk. Dengan demikian, ada orang-orang yang mengabaikan bahaya penularan karena memandang enteng dampaknya. Sebaliknya, ada juga orang yang selalu merasa kuatir karena jarang adanya kabar yang benar-benar baik di saat ini.

Sebenarnya, apa yang kita alami saat ini bukanlah barang baru. Berbagai krisis sudah pernah dialami umat manusia pada waktu yang silam. Baik krisis pandemi, krisis moneter ataupun krisis politik yang besar pernah terjadi di dunia. Semua itu bisa menggoncangkan rasa percaya diri yang dimiliki orang, masyarakat maupun negara. Bagi orang percaya, adanya krisis seringkali diartikan sebagai peringatan untuk kembali memohon perlindungan dan kekuatan dari Tuhan, dengan iman melalui doa permohonan yang disampaikan kepadaNya. Umat Kristen sadar bahwa kerapkali krisis terjadi karena manusia yang mementingkan diri sendiri dan melupakan adanya Tuhan dan hukum-hukumNya.

“Aku tahu bahwa segala sesuatu yang dilakukan Allah akan tetap ada untuk selamanya; itu tak dapat ditambah dan tak dapat dikurangi; Allah berbuat demikian, supaya manusia takut akan Dia.” Pengkhotbah 3: 14

Umat Tuhan sadar bahwa Tuhan adalah Oknum yang mahakuasa dan mahasuci dan karena itu mereka percaya bahwa hidup manusia seharusnya dijalani dengan rasa takut kepada Tuhan. Rasa takut ini bukanlah rasa takut kepada Tuhan yang siap menghukum mereka; karena melalui pengurbanan Yesus, dosa mereka sudah diampuni. Tetapi rasa takut ini adalah rasa hormat kepada Dia yang berkuasa atas langit dan bumi. Umat percaya dengan demikian seharusnya memprioritaskan Tuhan dan firmanNya dalam hidup mereka. Adanya krisis bisa mengingatkan mereka bahwa Tuhanlah yang memegang kendali kehidupan dalam alam semesta.

Keyakinan bahwa Tuhan adalah mahakasih selalu ada pada setiap umat percaya. Jika Tuhan tidak mahakasih, pastilah Ia tidak mau mengurbankan AnakNya untuk menebus dosa umat manusia. Sebaliknya, bagi orang Kristen, Tuhan yang mahakuasa adalah Tuhan yang ingin agar setiap manusia yang percaya kepadaNya untuk tidak menemui kebinasaan, tetapi memperoleh hidup yang kekal. Bagi mereka yang percaya, apa yang terlihat menakutkan di dunia bukanlah sesuatu yang dapat membuat mereka gentar dan mundur dari iman kepada Tuhan.

Ayat pembukaan dari Mazmur di atas mengatakan bahwa barangsiapa percaya kepada Tuhan, ia tidak takut kepada kabar buruk, karena hatinya tetap penuh kepercayaan kepada Tuhan. Apa yang terjadi di dunia selalu ada dalam kendali Tuhan yang mahakuasa. Tidak ada satu peristiwa yang bisa terjadi tanpa seizin Tuhan. Dengan demikian, bagi umat Kristen, sekalipun mereka tidak mengerti apa arti semua yang terjadi, mereka tetap percaya akan kasih Tuhan. Tuhan kita adalah Tuhan yang mahakuasa dan mahakasih, yang tidak pernah meninggalkan kita!

Mengapa kamu begitu takut?

“Iapun bangun, menghardik angin itu dan berkata kepada danau itu: “Diam! Tenanglah!” Lalu angin itu reda dan danau itu menjadi teduh sekali.” Markus 4: 39

Sore hari ini saya berjalan-jalan sepanjang pantai sambil menikmati pemandangan. Ketika itu langit biru dan air sangat tenang sehingga banyak orang yang berperahu dan berolahraga air. Pikiran saya teringat akan keadaan dua bulan yang lalu, saat saya tidak dapat mengunjungi tempat ini karena adanya lockdown. Saya bersyukur bahwa keadaan sesudah itu mulai membaik. Pada pihak yang lain, saya juga kuatir bahwa ada kemungkinan keadaan bisa memburuk lagi dalam minggu-minggu mendatang. Kekuatiran saya menjadi lebih intens jika saya ingat bahwa tidak ada seorang pun yang bisa menduga apa yang akan terjadi.

Murid-murid Yesus menurut kitab Markus diatas mungkin juga berperahu sambil  menikmati pemandangan ketika mereka menyeberangi laut Galilea yang juga dinamakan laut Tibereas. Laut ini sebenarnya adalah danau air tawar terbesar di Israel, sekitar 20 km panjangnya dan 10 km lebarnya dengan kedalaman 45 meter. Ketenangan danau itu tiba-tiba berubah diganti dengan kekacauan dan ketakutan ketika angin topan datang, yang membuat perahu mereka hampir karam.

Datangnya topan dan ombak membuat murid-murid menjadi was-was. Tetapi, sebagai penangkap ikan, sebagian mungkin sudah terbiasa menghadapi ombak besar seperti itu. Mungkin mereka pada awalnya berusaha untuk mengatasi keadaan. Tetapi sekalipun mereka kuat dan berpengalaman dengan ombak besar, ternyata keadaan menjadi sangat buruk sehingga dalam kekuatiran mereka membangunkan Yesus.

Sekuat-kuatnya manusia, tentu ada keadaan yang membuat mereka kuatir. Dengan pikiran sehat kita tentu pernah mengalami bahwa ada saatnya kita merasa takut dan kuatir karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi dalam hidup kita. Orang-orang disekitar kita mungkin bermaksud baik dengan menyokong kita, membesarkan hati kita. Tetapi siapakah yang berani mengaku bahwa dirinya kuat dalam menghadapi gelombang hidup yang besar? Saat ini, kita adalah manusia yang sebenarnya kecil dibandingkan dengan gunung persoalan dan tantangan yang kita hadapi. Seperti murid-murid Yesus kita merasa lemah dan tak berdaya. Tidak ada orang lain yang bisa menolong kita. Tidak ada nasihat dan semboyan yang bisa membesarkan hati kita.

Pada waktu murid-murid menyadari ketidak-berdayaan mereka, mereka menjerit memanggil Yesus.  Mereka membangunkan Dia dan berkata kepada-Nya: “Guru, Engkau tidak peduli kalau kita binasa?” Dalam keadaan darurat seperti itu mereka sadar bahwa harapan satu-satunya adalah pada Ia yang benar- benar berkuasa, Tuhan Yesus.

Hari ini kita diingatkan bahwa kita tidak diharapkan untuk selalu menang dan selalu bersemangat untuk bisa menang dalam hidup ini. Bukan seperti yang dipidatokan banyak motivator di TV dan seminar. Adakalanya kita harus merasa kalah, ada saatnya kita menyerah, untuk bisa ingat adanya Tuhan dan agar mau menjerit kepadaNya. Dan Ia akan menghardik topan kehidupan kita dan berkata: “Diam! Tenanglah!”

Mungkin kita sudah mengalami berbagai topan kehidupan di masa lalu. Dan kita ingat bahwa ketika topan itu reda, hidup kita terasa teduh kembali. Biarlah kita juga ingat bahwa Yesus berkata kepada kita: “Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?” Kita harus percaya bahwa Tuhan akan menolong kita pada waktu yang tepat. Semoga Tuhan menguatkan kita yang saat ini sedang menghadapi masalah hidup yang besar.