Apa perlunya kesetiaan dalam berdoa?

“TUHAN dekat pada setiap orang yang berseru kepadaNya, pada setiap orang yang berseru kepadaNya dalam kesetiaan.” Mazmur 145: 18

Doa adalah komunikasi

Dalam hidup ini, orangtua yang baik adalah orangtua yang tahu kebutuhan anak-anaknya dan bijaksana dalam memberikan kasih sayang kepada mereka. Sebaliknya, anak yang bijaksana adalah seorang anak yang mau mengutarakan kebutuhan mereka kepada orangtua dan bersabar serta percaya atas kebijaksanaan orangtua.

Seperti hubungan seorang anak dengan orangtuanya, seperti itu jugalah hubungan umat percaya dengan Tuhan mereka. Dalam banyak kepercayaan, memang manusia harus berusaha untuk mendekati sang pencipta yang mahakuasa dan menyembahNya agar hidup mereka diberkati. Dalam hal ini, umat Kristen tidak berbeda karena mereka boleh berdoa seberapa banyak dalam sehari untuk berkomunikasi dengan Tuhan di surga. Tetapi, mereka percaya bahwa Tuhan tahu apa yang terbaik dan apa yang mereka butuhkan. Tuhan yang mahakasih hanya akan mengabulkan permintaan doa kita apabila itu sesuai dengan kehendakNya.

“Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.” Matius 7: 7

Tuhan yang sudah pernah datang ke dunia dalam bentuk manusia yang bernama Yesus itu sekarang berada di surga, menantikan doa-doa setiap orang, dimana saja, yang berseru kepadaNya. Lebih dari itu, orang Kristen sudah dikaruniai dengan Roh Kudus, Tuhan yang hidup dalam tiap orang percaya, yang mau membantu mereka dalam berdoa. Tuhan senang jika makhluk ciptaanNya dekat padaNya dan Ia mengasihi setiap orang yang berseru kepadaNya dalam kesetiaan.

Dalam kenyataannya, banyak orang Kristen yang kurang bisa merasakan bahwa Tuhan yang mahabesar itu betul-betul ada di setiap saat dalam hidup mereka. Dalam kesibukan hidup, mereka mungkin hanya jarang-jarang menghampiri Tuhan. Doa mereka hanya disampaikan jika mereka membutuhkan sesuatu. Itupun sering dilakukan tanpa penyembahan dengan sepenuh hati. Kesetiaan kepada Tuhan tidak terlihat dalam hidup kerohanian mereka.

Sebenarnya, untuk mempunyai hubungan yang baik dengan Tuhan tidaklah terlalu sulit. Kita tidak lagi memerlukan ritual-ritual khusus untuk memanggil Tuhan atau untuk memohon pertolonganNya. Itu karena Yesus sudah mati untuk memungkinkan hubungan langsung antara umat dan Tuhannya. Tetapi, tentu saja umat Tuhan harus mengerti perlunya berdoa, yaitu untuk dekat dengan Sang Pencipta. Dengan demikian, dalam keadaan apa pun mereka akan merasakan adanya penyertaan Tuhan.

Hari ini kita diingatkan bahwa adalah keliru jika kita berpikir bahwa Tuhan selalu menyertai kita sekalipun kita hidup hanya untuk diri sendiri dan jarang berdoa kepadaNya. Tuhan dekat pada mereka yang berseru kepadaNya, pada setiap orang yang berdoa kepadaNya dengan setia.

Yesus tahu keadaan kita

“Maka kataNya kepada perempuan itu: “Hai anakKu, imanmu telah menyelamatkan engkau. Pergilah dengan selamat dan sembuhlah dari penyakitmu!” Markus 5: 34

Percayalah kepada kuasa dan kasih Tuhan

Apa yang akan kita lakukan jika kita mengalami keadaan darurat? Tentu jawabnya tergantung pada keadaan darurat yang bagaimana. Jika itu menyangkut keamanan pribadi, mungkin kita akan menelpon polisi. Tetapi, kalau itu mengenai kesehatan, tentunya kita bisa menelpon ambulans. Di Australia, nomer “triple zero” atau “000” adalah nomer yang bisa dikontak untuk memanggil polisi, ambulans atau pemadam kebakaran. Selain itu ada beberapa nomer khusus yang bisa dipakai untuk konsultasi, jika seseorang merasakan tekanan hidup besar yang bisa mengakibatkan terjadinya hal-hal yang tidak dingini.

Walaupun kita tahu adanya orang-orang tertentu yang bisa menolong kita dalam keadaan darurat di atas, ada kalanya kita merasa tidak yakin apakah ada orang yang bisa atau mau menolong kita jika ada kesulitan besar lain yang kita alami. Misalnya hal kehilangan pekerjaan, kekurangan dana dan gagalnya usaha adalah keadaan darurat yang bisa dialami semua orang, terutama pada saat pandemi yang kini terjadi di semua negara di dunia. Mereka yang mengalami kesulitan besar seperti ini seringkali harus berusaha untuk mencari penyelesaian sendiri.

Alkitab menceritakan bahwa pada waktu itu ada seorang perempuan yang sudah dua belas tahun lamanya menderita sakit perdarahan. Ia telah berulang-ulang berobat kepada berbagai tabib, sehingga telah habis uangnya, namun keadaannya justru semakin memburuk. Perempuan itu sudah mendengar berita-berita tentang Yesus, orang luar biasa yang sudah menyembuhkan banyak orang sakit. Ia pada saat itu melihat Yesus ada di tengah-tengah orang banyak. Dalam keadaannya, perempuan itu hanya bisa mendekati Yesus dari belakang dan menjamah jubahNya. Ia berpikir: “Asal kujamah saja jubahNya, aku akan sembuh.” Ajaib, seketika itu juga berhentilah pendarahannya dan ia merasa sudah sembuh dari penyakitnya.

Seketika itu juga Yesus mengetahui bahwa ada tenaga yang keluar dari diriNya, lalu Ia berpaling di tengah orang banyak dan bertanya: “Siapa yang menjamah jubahKu?” Perempuan itu, yang menjadi takut dan gemetar ketika mengetahui apa yang telah terjadi atas dirinya, kemudian tampil dan tersungkur di depan Yesus dan dengan tulus memberitahukan segala sesuatu kepadaNya. Perempuan itu sadar bahwa Yesus pastilah bukan manusia biasa. Tetapi apa yang lebih menakjubkan adalah apa yang dikatakan Yesus setelah itu: “Hai anakKu, imanmu telah menyelamatkan engkau. Pergilah dengan selamat dan sembuhlah dari penyakitmu!” Hanya Tuhan yang bisa berkata bahwa ia sudah diselamatkan dan disembuhkan.

Pada saat ini, apakah anda merasakan adanya keadaan darurat dalam hidup anda? Apakah anda merasakan bahwa tidak ada seorang pun yang bisa menolong dan menghibur anda? Mungkinkah anda merasa gundah dalam menghadapi hari depan? Yesus yang sudah menyembuhkan dan membawa keselamatan bagi perempuan itu adalah Yesus yang sama bagi setiap umatNya. Perempuan itu dengan imannya berani menjamah Yesus, memohon pertolongan dariNya. Dan karena imannya, ia menjadi manusia yang baru, yang merdeka dari penderitaan yang dialaminya.

Yesus yang sama menunggu kita untuk berpegang kepada iman kita dan mau menjerit kepadaNya. Yesus yang sudah mati untuk kita dan membawa keselamatan kepada kita yang dulunya orang berdosa, adalah Yesus yang sekarang hidup di surga sebagai Anak Allah yang berkuasa atas hidup kita. Dengan demikian, jika anda percaya bahwa oleh bilur-bilurnya kita telah diselamatkan, biarlah kita yakin bahwa oleh kuasa dan kasihNya kita akan dapat menghadapi hari depan dengan ketabahan dan keberanian!

Apakah anda mengenal Allah?

“Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan. Aku berdoa, supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah.” Efesus 3: 18 -19

Kasih Allah kepada manusia

Sebuah pertanyaan yang sering disampaikan kepada mereka yang sudah lama menikah adalah mengenai hal mengenal pasangan mereka. Apakah mereka yang sudah hidup bersama puluhan tahun sudah saling mengenal kebiasaan dan sifat pasangannya sehingga mereka bisa saling menerka segala apa yang akan diperbuat pasangannya? Pada umumnya jawaban pertanyaan ini adalah antara “ya” dan “tidak”. Hidup bersama orang lain dalam suatu pernikahan dalam waktu yang lama tidaklah membuat seseorang bisa mengerti semua apa yang dipikirkan pasangannya. Walaupun demikian, biasanya orang bisa mengerti bahwa pasangannya adalah orang yang seringkali berbeda dalam kebiasaan dan cara berpikir, sehingga ia tidak lagi terkejut atau heran jika pasangannya melakukan sesuatu hal baru. Mereka yang sudah hidup bersama cukup lama tentunya saling mengasihi dan saling memercayai.

Dalam Roma 11: 33 Paulus menulis kepada jemaat di Roma ketika ia berada di Korintus sekitar tahun 50 Masehi: “O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusanNya dan sungguh tak terselami jalan-jalanNya!” Ayat ini sering dipakai dalam khotbah untuk menggarisbawahi kebesaran Tuhan yang tidak dapat diselami manusia. Manusia sebagai ciptaan tidak dapat menyelami jalan pikiran Sang Pencipta. Ini adalah hal yang diajarkan dalam banyak agama. Dengan demikian, tidaklah mengherankan jika manusia sering bertanya-tanya mengapa suatu hal harus terjadi dalam hidupnya, terutama jika hal itu adalah sesuatu yang tidak diinginkannya.

Apa yang terjadi di dunia saat ini adalah sesuatu yang membuat banyak orang menderita, dan dengan itu banyak orang yang mempertanyakan mengapa hal itu harus terjadi. Malahan, ada orang yang bertanya apakah Tuhan itu memang ada jika manusia harus mengalami berbagai malapetaka. Adalah menyedihkan bahwa di dalam kesusahan, manusia tidak dapat mengenali Tuhan yang mahakuasa. Terlebih menyedihkan jika ada orang yang sudah lama merasa kenal dengan Tuhannya, tetapi tidak dapat mengerti bagaimana sifat Tuhan.

Dalam ayat pembukaan di atas, Paulus menulis sesuatu yang agaknya berbeda dengan apa yang ditulisnya dalam Roma 11: 33. Dalam ayat Efesus 3: 18-19 ini ia justru berdoa agar jemaat Efesus bersama dengan segala orang percaya dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan. Apakah ini bukannya doa yang sia-sia jika Tuhan adalah Allah yang tak terselidiki keputusan-keputusanNya dan tak terselami jalan-jalanNya?

Paulus berdoa agar mereka dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah. Ini menunjukkan bahwa kepenuhan Allah adalah penting untuk bisa memahami sifat dan tindakan Tuhan. Memang setiap orang percaya mengerti bahwa Allah sudah mengaruniakan AnakNya yang tunggal untuk menebus manusia yang seharusnya binasa. Dalam Kristus, kasih dan kebijaksanaan Allah sudah dinyatakan sepenuhnya. Dalam Kristus kita bisa melihat Allah yang tidak bisa kita lihat dengan mata. Allah adalah mahakuasa, mahatahu, mahabijaksana dan Ia juga mahakasih.

Pagi ini, jika anda merasakan jauhnya Tuhan dan betapa hidup ini terasa berat saat ini, firmanNya berkata bahwa Tuhan dapat kita lihat sepenuhnya dalam diri Kristus yang sudah membawa kita kepada keselamatan. Jika kita mengerti bahwa tidak ada hal lain yang lebih berharga dari karunia kasih Allah dalam diri Kristus, itu berarti bahwa kita sudah mengenal KasihNya yang melampaui segala pengetahuan. Jika demikian, adakah hal yang masih membuat kita ragu akan Dia yang memegang kendali hidup kita dan segala sesuatu yang ada dalam alam semesta?

Tetaplah teguh dalam pekerjaan Tuhan

“Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia.” 1 Korintus 15: 58

Saat ini keadaan yang suram di dunia mempengaruhi segala aktivitas manusia. Dengan tidak adanya kepastian kapan pandemi COVID-19 ini akan berakhir, keadaan ekonomi dan sosial hampir semua bangsa di dunia sudah dapat dipastikan mengalami kemunduran. Lebih dari itu, ada kemungkinan bahwa keadaan dunia setelah pandemi ini akan menjadi lebih kacau karena semua negara akan berusaha keras untuk secepatnya bangkit kembali, dan dengan demikian persaingan dan pertentangan antar negara akan makin terlihat.

Dalam keadaan yang kacau saat ini, tidak dapat diragukan bahwa banyak gereja juga mengalami goncangan. Karena kegiatan gereja sudah terhenti cukup lama, saat ini kas keuangan banyak gereja sudah menjadi kosong. Tidak itu saja, banyak jemaat yang sudah lama tidak dapat berbakti bersama-sama di gereja sekarang ini mulai berkurang dalam semangat untuk melayani sesama. Sayang bahwa dalam suasana yang suram saat ini gereja justru tidak dapat memelihara jemaatnya dengan optimal. Kemunduran lebih lanjut yang akan terjadi pada umat Kristen dan misi gereja di masa mendatang sudah tentu sulit untuk dihindari.

Keadaan dunia dan negara memang bisa membuat orang yang pemberani dan bersemangat tinggi menjadi orang yang seringkali kuatir dan tidak yakin dalam menghadapi masa depan. Keadaan yang serupa mungkin dihadapi oleh orang-orang Kristen yang pertama. Tetapi, kita tahu bahwa pada saat itu umat Kristen justru kuat bertahan dalam iman sekalipun harus menghadapi penganiayaan dan berbagai penderitaan. Itu dinyatakan oleh Rasul Paulus dalam kitab Korintus.

“Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa; kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa.” 2 Korintus 4: 8 – 9

Apa yang bisa kita kerjakan dalam masa yang sulit saat ini untuk bisa menghasilkan sesuatu yang baik, yang berguna untuk Tuhan dan sesama? Paulus dalam ayat pembukaan di atas menulis kepada jemaat di Korintus agar mereka tetap berdiri teguh, tidak goyah, dan selalu giat dalam pekerjaan Tuhan. Mengapa demikian? Itu karena kita tahu bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payah kita tidak sia-sia. Tuhan selalu menyertai dan memberkati umatNya yang mau memakai hidup mereka untuk kemuliaanNya.

Penderitaan di saat ini membawa harapan untuk masa depan

“Sebab kita tahu, bahwa sampai sekarang segala makhluk sama-sama mengeluh dan sama-sama merasa sakit bersalin.” Roma 8: 22

Kapankah pandemi COVID-19 ini akan berakhir? Tentunya tidak ada orang yang tahu. Di Australia, dua minggu yang lalu keadaan yang sangat membaik memberi harapan bahwa PSBB di seluruh negara bisa di tinggalkan. Tetapi, setelah itu banyak kasus positif yang ditemukan di kota Melbourne. Akibatnya, sekarang sepuluh kecamatan di Melbourne dinyatakan tertutup. Kelihatannya, keadaan seperti ini juga terjadi di negara lain. Memang dengan kemajuan teknologi, ternyata manusia masih tidak mampu untuk menghindari penderitaan.

Dalam keadaan sekarang ini, umat percaya sangat berharap agar Tuhan menyatakan kuasaNya. Mereka membayangkan bagaimana indahnya keadaan di masa depan ketika mereka menerima kemuliaan surgawi dan dibebaskan dari penderitaan manusiawi dan kerusakan dunia. Dengan kata lain, semua akan diperbaiki. Manusia akan dikembalikan ke keadaan yang didudukinya ketika ia pertama kali diciptakan, sebelum dosa masuk ke dunia (1 Yohanes 3: 2). Tetapi, saat yang berbahagia itu masih terasa jauh. Saat ini, Tuhan seakan membiarkan seluruh makhluk menderita.

Dalam ayat di atas, Paulus menjelaskan bahwa kita belum sampai di surga. Di saat sekarang ini, semua ciptaan Tuhan terus mengerang karena penderitaan yang dialami dalam kerusakan semesta yang telah terjadi sejak dosa masuk ke dunia. Paul juga menggambarkan penderitaan makhluk yang merintih ini seperti merasakan sakit di saat melahirkan. Dengan kata lain, rasa sakit itu nyata, jelas, dan intens, tetapi itu mengarah ke momen “kelahiran” yaitu pada saat semua akan dikoreksi dan rasa sakit akan dilupakan.

Ini mirip dengan analogi yang digunakan oleh Yesus, dalam Yohanes 16: 21-22:

“Seorang perempuan berdukacita pada saat ia melahirkan, tetapi sesudah ia melahirkan anaknya, ia tidak ingat lagi akan penderitaannya, karena kegembiraan bahwa seorang manusia telah dilahirkan ke dunia. Demikian juga kamu sekarang diliputi dukacita, tetapi Aku akan melihat kamu lagi dan hatimu akan bergembira dan tidak ada seorangpun yang dapat merampas kegembiraanmu itu dari padamu.”

Dari ayat di atas, kita melihat bahwa Tuhan tidak mengabaikan penderitaan manusia. Rasa sakit itu nyata, dan manusia mengalami penderitaan dalam kehidupan ini. Intinya di sini bukan bahwa rasa sakit itu menyenangkan — sebaliknya, itu adalah hal yang menyedihkan. Apa yang bisa membuat kita melewati rasa sakit adalah mengetahui apa yang ada pada sisi yang lain. Ini seperti seorang wanita dalam persalinan untuk melahirkan bayi. Tidak ada wanita yang menginginkan rasa sakit itu sendiri, tetapi dia rela menanggungnya karena hasil sesudahnya yang menggembirakan.

Hari ini mungkin anda merasakan betapa besar penderitaan yang di alami seisi dunia. Penderitaan ini bisa menjadi hal yang sia-sia, jika tidak ada yang bisa diharapkan di masa depan. Tetapi bagi umat Tuhan, penderitaan di dunia ini justru memberi kita kerinduan dan pengharapan akan apa yang akan datang.

“…..tetapi dalam pengharapan, karena makhluk itu sendiri juga akan dimerdekakan dari perbudakan kebinasaan dan masuk ke dalam kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah.” Roma 8: 21

Roh Kudus adalah jaminan

“Karena kami tahu, bahwa jika kemah tempat kediaman kita di bumi ini dibongkar, Allah telah menyediakan suatu tempat kediaman di sorga bagi kita, suatu tempat kediaman yang kekal, yang tidak dibuat oleh tangan manusia. Selama kita di dalam kemah ini, kita mengeluh, karena kita rindu mengenakan tempat kediaman sorgawi di atas tempat kediaman kita yang sekarang ini, sebab dengan demikian kita berpakaian dan tidak kedapatan telanjang. Sebab selama masih diam di dalam kemah ini, kita mengeluh oleh beratnya tekanan, karena kita mau mengenakan pakaian yang baru itu tanpa menanggalkan yang lama, supaya yang fana itu ditelan oleh hidup. Tetapi Allahlah yang justru mempersiapkan kita untuk hal itu dan yang mengaruniakan Roh, kepada kita sebagai jaminan segala sesuatu yang telah disediakan bagi kita.” 2 Korintus 5: 1 -5

Aku yakin akan masa depanku

Pernahkah anda pergi berkemah? Sewaktu masih kecil saya ingin pergi berkemah di pengunungan, tetapi kesempatan itu tidak ada. Memang, berkemah mungkin hanya dilakukan oleh mereka yang aktif berkelana di alam terbuka, seperti pendaki gunung, pramuka atau tentara. Walaupun demikian, sesudah dewasa saya sering juga pergi berkemah bersama teman segereja atau keluarga.

Teringat saya pada saat berkemah bersama keluarga di Brunswich Heads di dekat perbatasan antara negara bagian Queensland dan New South Wales. Pada waktu itu saya menggunakan kemah kecil yang hanya mempunyai satu ruang dengan kapasitas 4 orang. Pada malam hari menjelang pagi datanglah hujan deras ketika kami masih tidur. Air hujan ternyata bisa menembus kain kemah yang berlapis dua dan membuat kami basah kuyup di dalam kemah. Kemah itu ternyata tidak dapat melindungi kami dari hujan; tidur dalam kemah kecil seperti itu ternyata tidak banyak berbeda dengan tidur di alam terbuka. Setelah kejadian itu saya sadar bahwa saya harus menutupi kemah kecil saya dengan selembar plastik tebal agar air hujan tidak memasukinya.

Ayat di atas adalah tulisan Rasul Paulus kepada jemaat di Korintus. Paulus menggambarkan bahwa hidup di dunia ini adalah seperti hidup dalam kemah yang tidak dapat melindungi kita. Kita ingin agar Tuhan menutupi kemah kita yang lemah dan fana ini dengan sesuatu yang kuat dan kekal, supaya kita bisa merasakan hidup yang tenteram. Keinginan dan kerinduan untuk merasakan tempat kediaman surgawi selama kita masih hidup di dunia ini tentunya tidak mungkin terjadi, dan karena itu kita hanya bisa mengeluh dan berharap. Hidup di dunia ini memang berat dan penuh dengan tekanan, tetapi kita sekarang hanya bisa menunggu saat di mana kita akan masuk ke dalam tempat tinggal yang sudah disediakan Yesus untuk kita.

“Di rumah BapaKu banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu.” Yohanes 14: 2

Bagaimana kita bisa bertahan selama kita hidup dalam kemah duniawi sekarang ini? Keadaan mungkin sudah tak tertahankan karena adanya berbagai hal yang membuat kita menderita, kuatir, takut dan putus asa. Mungkin kita merasa bahwa hidup didunia ini sudah tidak bisa menawarkan apa pun yang bisa memberi kita kedamaian dan ketenangan. Walaupun kerinduan untuk bisa merasakan kebahagiaan surgawi di masa mendatang mungkin besar, kita mungkin kurang yakin apakah kita akan mengatasi semua yang ada sekarang dan tetap berteguh dalam iman. Dalam hal ini Paulus menulis bahwa Tuhan justru membiarkan kita untuk hidup di kemah dunia ini agar Ia bisa mempersiapkan kita untuk hidup di surga. Tuhan membiarkan kita hidup dalam tubuh ini, tetapi Ia sudah mengaruniakan RohNya kepada kita agar kita tidak ragu untuk hari depan, karena RohNya adalah jaminan segala sesuatu yang telah disediakan bagi kita. Dengan demikian, selama kita masih hidup dalam kemah duniawi ini biarlah kita tetap yakin bahwa Ia akan menyertai kita sampai saatnya kita bisa menempati tempat kediaman kekal yang sudah disediakanNya. Apakah anda masih ragu akan janjiNya?

Kesatuan jiwa dan raga

“Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya dan semoga roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak bercacat pada kedatangan Yesus Kristus, Tuhan kita.” 1 Tesalonika 5: 23

Tuhan, kuatkanlah jiwa dan ragaku

Apakah yang bisa membuat orang kuatir dengan adanya pandemi di saat ini? Tentunya semua orang ingin menghindari serangan virus corona terhadap tubuhnya. Sudah banyak korban virus yang jatuh sakit, sebagian cukup parah sehingga harus mendekam di rumah sakit untuk waktu yang lama. Tetapi, korban virus bukan saja menyangkut jasmani, karena banyak orang yang harus mengalami isolasi di rumah atau tempat lain kemudian mengalami gangguan kejiwaan. Dengan demikian, COVID-19 ini bisa menyerang baik jasmani maupun rohani kita.

Mereka yang tidak percaya akan adanya Tuhan, umumnya percaya bahwa manusia hanya berbentuk jasmani atau raga. Memang, jika Tuhan adalah roh, orang yang tidak percaya adanya roh tentu tidak bisa membayangkan adanya Tuhan. Bagi mereka, manusia ini adalah suatu makhluk yang seperti makhluk lainnya di dunia, hanya hidup untuk satu kurun waktu tertentu, dan yang kemudian mati dan hilang lenyap.

Manusia memang terdiri dari dua aspek yaitu rohani dan jasmani atau jiwa dan raga. Karena adanya pembagian atas dua aspek yaitu tubuh dan roh, ini disebut pandangan dikotomi. Tetapi, ada juga orang yang kemudian membagi aspek rohani menjadi dua komponen, yaitu jiwa dan roh. Dengan demikian ada tiga aspek manusia yaitu tubuh, jiwa dan roh. Pandangan sedemikian disebut trikotomi.

Menurut pandangan dikotomi, raga mewakili segala sesuatu yang tampak, sementara jiwa mewakili semua yang tak terlihat. Dalam hal ini, istilah soul (jiwa) dan spirit (roh) adalah dua aspek yang ditilik dari dua sudut pandang yang berbeda. Dalam menilai dikotomi, soal penciptaan merupakan argumen terkuat. Kejadian 2:7 mencatat bahwa manusia menjadi raga yang diberi nafas kehidupan oleh Tuhan.

Menurut pemikiran trikotomi, manusia terdiri dari tiga unsur berbeda, yaitu tubuh, jiwa, dan roh. Jiwa mencakup nyawa dan kemampuan yang dimiliki manusia, seperti pikiran, hati, dan kehendak. Sebaliknya, roh adalah kemampuan rohani untuk berhubungan dengan Tuhan. Pandangan trikotomi bisa menjelaskan mengapa seseorang dapat dikatakan hidup secara jasmaniah namun mati secara rohaniah. Oleh sebab itu, banyak juga penyajian Injil yang dilakukan berdasarkan pandangan trikotomi.

Mengenai 1 Tesalonika 5:23, kita perlu mengamati bahwa Paulus sedang sibuk berdoa. Ia tidak membicarakan aspek apa yang membentuk manusia. Sebaliknya, Paulus memakai kata kerja “terpelihara” dan kata sifat “seluruhnya” yang secara bersamaan menunjuk kepada sesuatu yang tunggal. Dengan demikian, ayat di atas tidak dimaksudkan untuk membagi manusia dalam beberapa aspek. Sebaliknya, ayat itu menunjukkan pentingnya untuk mendapat damai sejahtera dari Tuhan sehingga hidup kita sepenuhnya dipelihara dengan sempurna sampai kedatangan Yesus yang kedua kalinya.

Hari ini, adakah perasaan gundah dalam diri anda dalam menghadapi hari-hari mendatang? Apakah kerisauan hati itu sehubungan dengan ancaman penyakit, keadaan ekonomi atau kebutuhan hidup kita? Apakah anda tidak merasakan kekuatiran bahwa keadaan saat ini bisa juga mempengaruhi keadaan rohani anda di masa depan? Jika anda berusaha keras untuk bisa mempertahankan kesehatan jasmani anda, adakah usaha anda untuk mempertahankan bahkan memperkuat keadaan rohani anda? Firman Tuhan di atas menyatakan pentingnya bagi kita untuk menyadari bahwa kita harus tetap berdoa memohon penyertaan Tuhan bagi hidup kita secara keseluruhan agar kita bisa merasakan damai sejahtera yang penuh dariNya.

Bagaimana masa depanmu?

Tetapi sesuai dengan janjiNya, kita menantikan langit yang baru dan bumi yang baru, di mana terdapat kebenaran.” 2 Petrus 3: 13

Aku tetap berharap pada Tuhan

Setiap orang yang ditanya bencana apa yang sekarang terjadi di dunia tentu akan menjawab “COVID-19”. Sudah memakan korban lebih dari 500 ribu jiwa (128 ribu di antaranya di Amerika Serikat) dalam waktu kurang dari 6 bulan, wabah ini mungkin tidak sedahsyat wabah flu Spanyol yang terjadi pada tahun 1918-1919 yang memakan korban setidaknya 500 juta jiwa di seluruh dunia (675 ribu di antaranya di Amerika Serikat). Walaupun demikian, COVID-19 belum sepenuhnya menjalar ke seluruh penjuru dunia. Pandemi ini jelas belum mencapai puncaknya atau melambat perkembangannya, tetapi justru makin menjadi parah dengan lebih cepat menyebar dari pada bulan-bulan yang lalu. Dengan demikian, tidaklah mengherankan jika banyak manusia yang mulai bertanya-tanya apakah manusia masih bisa berharap untuk mempunyai masa depan yang baik.

Sebagian manusia memang sangat menguatirkan kemungkinan bahwa keadaan yang buruk saat ini akan menjadi makin buruk dan mempengaruhi keadaan ekonomi, sosial dan politik banyak negara. Dengan demikian, ada kemungkinan bahwa kekacauan akan terjadi di berbagai tempat. Walaupun demikian, ada juga orang yang percaya bahwa krisis seperti ini pernah terjadi sebelumnya dan manusia pasti akan bisa mengatasinya. Menurut mereka, manusia cukup tangguh dalam menghadapi masalah dan akan tetap bisa bertahan dalam hidup.

Bagaimana dengan pendapat anda sendiri? Apakah anda termasuk orang yang merasa pesimis dengan penanganan krisis di tempat anda? Ataukah anda tetap merasa optimis bahwa segala sesuatu akan berakhir dengan baik? Mungkin anda sulit untuk menjawabnya, dan lebih ingin untuk berserah kepada Tuhan. Anda tidak mau memikirkan hal itu karena percaya sepenuhnya bahwa Tuhan yang akan mengambil keputusan. Mungkin anda merasa takut untuk memikirkan apa yang bisa terjadi, dan karena itu ingin melupakannya. Memang lebih mudah bagi kita yang menghadapi masalah untuk mengabaikan segala sesuatu yang bisa membuat kita bingung atau pusing. Ketidaktahuan adalah suatu kedamaian, begitu kata orang. Ignorance is a bliss.

Alkitab tidak pernah menyatakan bahwa ketidaktahuan akan membawa kedamaian. Jika kita tidak tahu apa yang benar dan apa yang tidak benar, itu akan membawa hidup yang kacau. Jika kita tidak tahu apa yang akan terjadi, itu tidak akan memberi perasaan tenang. Sebaliknya, jika kita bisa membedakan apa yang benar dari apa yang tidak benar, kita tentunya akan dapat memilih apa yang benar. Jika kita tahu apa yang akan terjadi, maka kita bisa membuat persiapan yang baik untuk menghadapinya. Masalahnya, bagaimana kita bisa membedakan apa yang benar dari apa yang tidak benar? Dan bagaimana pula kita bisa tahu apa yang akan terjadi?

Alkitab adalah firman Tuhan yang berisi kebenaranNya. Dari firman Tuhan kita bisa belajar untuk mengerti apa yang baik dan apa yang buruk dalam pandangan Tuhan. Dari Alkitab kita belajar bahwa Tuhan mempunyai maksud yang baik untuk umatNya. Tuhan tidak pernah bermaksud buruk kepada mereka yang taat kepadaNya. Dari Alkitab kita juga sadar bahwa apa pun yang terjadi di dunia, pada akhirnya akan membawa kemuliaan bagi Tuhan. Dengan demikian, Tuhan yang mahakuasa dan mahakasih akan dapat mengatasi segala sesuatu yang terjadi saat ini, sehingga semua orang bisa melihat bahwa Ia adalah Tuhan tidak pernah meninggalkan umatNya.

Ayat di atas menyatakan bahwa sesuai dengan janjiNya, kita saat ini menantikan langit yang baru dan bumi yang baru, di mana terdapat kebenaran. Ini berarti bahwa sebagai umat Kristus kita percaya bahwa hidup di dunia ini bukanlah satu-satunya hidup yang kita punyai. Sebaliknya, hidup di dunia ini adalah suatu jalan yang harus kita tempuh sambil menunggu saat dimana kita dapat bersatu dengan Dia yang sudah menyelamatkan kita. Hidup di dunia adalah kesempatan bagi kita untuk bisa makin mengenal kebenaran Tuhan dan untuk bisa makin taat kepada firmanNya. Dalam hal ini, keadaan apa pun yang terjadi tidak akan membuat kita goncang. Kita tetap sanggup menghadapi segala tantangan hidup karena kita sudah menerima kemenangan di dalam Dia. Biarlah kita berani menghadapi hari-hari mendatang karena adanya pengharapan di dalam Dia!

Dekatlah dengan gembalamu

“Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gadaMu dan tongkatMu, itulah yang menghibur aku.” Mazmur 23: 4

Yesus gembala yang baik

Apakah yang bisa membuat anda takut? Banyak orang merasa takut jika dihadapkan pada sebuah ancaman yang besar yang bisa membawa celaka. Tetapi banyak juga yang merasa takut ketika mereka harus menghadapi kejadian atau hal yang tidak dikenalnya. Perasaan kurang yakin akan apa yang akan terjadi memang bisa membuat jantung berdebar. Pada saat ini, kebanyakan orang takut menghadapi ancaman pandemi dan juga karena tidak tahu apa yang akan terjadi dalam bulan-bulan mendatang. Maklum, bukan saja kesehatan kita yang bisa terpengaruh, tetapi juga keuangan dan kebutuhan kita sehari-hari. Barangkali keadaan kita adalah seperti seekor domba yang harus melalui sebuah hutan yang gelap.

Dalam ayat di atas, dapat dirasakan bahwa pemazmur menempatkan dirinya sebagai seekor domba yang merasa aman karena sang gembala yang mempunyai gada dan tongkat yang bisa dipakai untuk mengusir binatang-binatang buas yang mengancamnya.  Memang, sebagai orang percaya, kita adalah domba-domba Kristus yang mengenal Dia dan mengikut Dia. Yesus adalah gembala yang baik, yang ingin untuk membaringkan kita di padang yang berumput hijau dan membimbing kita ke air yang tenang (Mazmur 23: 2). Tetapi, adalah kenyataan hidup bahwa setiap orang bisa mengalami berbagai masalah kehidupan. Kesulitan, kekurangan, penyakit, kecelakaan dan berbagai musibah bisa terjadi pada setiap orang termasuk orang Kristen. Semua itu seperti bayang-bayang kegelapan yang menakutkan.

Pemazmur menggambarkan bagaimana kita berjalan bersama gembala kita, Yesus. Perjalanan hidup memang tidak mudah dan bahkan penuh resiko, karena jika medan berubah menjadi berat dan gelap, hati kita mudah menjadi kecil dan kitapun menjadi takut. Hidup yang penuh ketakutan dan kekuatiran sudah tentu bukanlah hidup yang mudah dijalani. Jika kita bayangkan, domba yang mengalami ketakutan yang luar biasa bisa saja berusaha melarikan diri sekalipun ia tidak tahu kemana ia harus pergi. Ia mungkin saja lari menjauh dan akhirnya justru menjadi mangsa binatang buas.

Saat ini, kesulitan dan bahaya apakah yang sedang anda hadapi? Dalam keadaan bahaya, sebenarnya lebih baik agar setiap domba untuk tetap dekat dengan sang gembala. Demikian juga, dalam keadaan sulit, tidaklah bijaksana bagi kita untuk menjauhkan diri dari doa dan persekutuan dengan Tuhan. Sebaliknya, untuk ketenteraman hidup kita, kita harus selalu ingat bahwa Yesus gembala yang baik selalu menyertai dan menguatkan domba-dombaNya. Begitulah, sebagai domba yang mempunyai keyakinan akan kasih dan kuasa Gembala kita, marilah kita menghadapi masa depan kita dengan keberanian dan rasa damai karena Ia selalu beserta kita.

Kita adalah milik Allah yang berharga

“Bukankah burung pipit dijual lima ekor dua duit? Sungguhpun demikian tidak seekorpun dari padanya yang dilupakan Allah, bahkan rambut kepalamupun terhitung semuanya. Karena itu jangan takut, karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit.” Lukas 12: 6 – 7

Tuhan selalu menjaga hidupku

Kekuatiran adalah musuh besar manusia yang bisa menghancurkan hidup orang yang terlihat tabah sekalipun. Setiap orang mempunyai rasa kuatir terhadap hal-hal tertentu; dan sekalipun seseorang mempunyai segala sesuatu, kekuatiran tetap ada. Mengapa begitu? Manusia sebenarnya sadar akan keterbatasannya, dan ia tahu bahwa ada hal-hal yang tidak dapat dikontrolnya. Dengan adanya pandemi, banyak orang kuatir akan kemungkinan tertular virus corona. Pada pihak yang lain, banyak juga orang yang kuatir kalau-kalau perekonomian dunia menjadi goncang. Kekuatiran tidak hanya melanda kaum tua; kaum muda mungkin justru lebih kuatir dalam menghadapi masa depan, terutama karena sulitnya mendapat pekerjaan yang layak dalam situasi saat ini.

Kekuatiran sebenarnya tidak harus berupa hal yang jelek. Kekuatiran hanya menjadi hal yang merusak atau destruktif jika itu membuat kita lumpuh tidak berdaya. Jika kekuatiran bisa menginsafkan manusia atas kelemahannya sehingga ia mau berusaha untuk mencari penyelesaian atau pertolongan, kekuatiran mungkin bisa menjadi bagian pertahanan hidup yang baik. Sebagai contoh, mereka yang kuatir tertular virus corona akan lebih berhati-hati dalam hidup bermasyarakat di saat ini. Dalam hal ini, masalah mungkin timbul kalau ketakutan yang besar kemudian muncul sebagai akibatnya. Keterbatasan manusia memang bisa membuat manusia tidak bisa melihat adanya jalan keluar, atau bisa membuat mereka tidak mengerti bahwa ada jalan keluar yang tidak bisa dilihatnya. Inilah yang biasanya mendatangkan ketakutan yang melumpuhkan.

Orang Kristen yang kurang mengenal Tuhan sebagai oknum yang mahakasih tidak akan bisa mengerti bahwa Tuhan tidak membiarkan umatNya untuk berjuang sendirian di dunia ini. Karena itu, dalam menghadapi kesulitan hidup yang besar, ia akan merasa seorang diri dan mudah putus asa karena ia tidak bisa melihat adanya Tuhan yang mau menolong. Dalam hal ini, apa yang paling mudah untuk dilakukan untuk bisa bertahan hidup ialah menerima segala kesulitan hidup sebagai takdir. Sebaliknya, mereka yang kurang mengenal Tuhan sebagai oknum yang mahakuasa, cenderung percaya bahwa Tuhan akan memberikan pertolongan dalam bentuk seperti apa yang diinginkannya. Doa-doa permohonan kemudian disampaikan tanpa menyadari bahwa jalan Tuhan bisa berbeda dengan jalan manusia. Kekeliruan mudah terjadi ketika dalam kekuatiran mereka tergesa-gesa memilih apa yang terlihat indah, sekalipun itu mungkin bukan apa yang disenangi Tuhan.

Ayat diatas mengatakan bahwa Tuhan tahu jumlah rambut kita. Itu menunjukkan bahwa Tuhan yang mahatahu adalah Tuhan yang dekat dengan umatNya, yang peduli akan apapun yang terjadi dalam hidup mereka. Ia yang tahu jumlah rambut kita, juga tahu semua kebutuhan dan masalah kita dan tidak membiarkan kita mengalami kehancuran karenanya. Bagi Tuhan yang mahakasih, umatNya adalah jauh lebih berharga dari apapun juga. Karena itu jugalah, Tuhan sudah mengirimkan AnakNya, Yesus Kristus, untuk menebus dosa kita. Jika kita sadar akan besarnya kasihNya, tidaklah  perlu ada keraguan bahwa Tuhan selalu memelihara umatNya.

Pagi ini mungkin kita percaya bahwa Tuhan benar-benar mengasihi kita. Tetapi keraguan mungkin masih ada, apakah Tuhan akan memberikan apa yang kita minta. Tuhan yang mahakuasa sudah tentu bisa memberi apa saja. Tetapi Tuhan yang mahabijaksana tidaklah selalu memberi apa yang sesuai dengan permohonan kita. Tuhan mempunyai rencana yang khusus bagi setiap umatNya. Ia yang tahu bahwa rambut setiap orang tidaklah sama jumlahnya, Ia jugalah yang memberikan apa yang baik bagi setiap umatNya sesuai dengan pertimbanganNya. Terkadang kita seolah kehilangan kesabaran dalam menunggu saat yang dipilihNya, tetapi selama dalam penantian kita harus tetap teguh dalam iman. Tuhan adalah mahatahu, mahakasih, mahakuasa dan mahabijaksana, karena itu kita tidak perlu takut dalam menghadapi masa depan.