The two sides of Jesus

“All I want is to know Him and the power of His resurrection and the fellowship of His sufferings, in which I became like Him in His death, that I might be raised from the dead.” Philippians 3: 10-11

Which life do you want? A life full of comfort or a life full of suffering? Of course, for all people who are faced with just two choices, they will choose the first. Who wants to live in suffering? However, many wise people want them not to be too rich or too poor. Why is that?

Humans often face problems in two circumstances: too rich and too poor. Proverbs 30: 8 begs God that He does not give poverty or wealth. He asked God to let him have enough if he could enjoy the food that was part of it. Why is it so? The writer in the next verse explained: “So that if I am full, I will not deny you and say, Who is the LORD? Or, if I am poor, I steal, and defile the name of my God.”

Of course, the meaning of wealth and poverty is different for each person. Each person’s measure of sufficiency and deficiency is not the same. There are people who are already rich, but still want to be richer. There are people who are abundant but still do bad things to get even richer. Conversely, many people suffer so much that they deny God. In addition, there are also people who are poor but their lives are full of happiness.

Which do you want in life? Live in success and luxury or live simply and struggle? Maybe there are people who do not mind tough life , as long as there is happiness and peace. This is true, but how? How can we feel happy, feel enough, or not suffer if other people’s lives seem more comfortable in abundance? This question is not easy to answer.

The Apostle Paul in his letter to the Philippians wrote that he wanted to know Jesus so that he could get answers to the questions above. This is a wise act that returns to the basis of true faith. Back to the basics. As Christians, we are followers of Christ and therefore we should follow in His footsteps through this life.

What can we imitate from Jesus? Paul wrote that Jesus had two sides of life: suffering and glory. Through His suffering, Jesus received glory from God the Father. Through His sacrifice on the cross and His death, He was resurrected and ascended to heaven. Paul wanted such a life so that he could imitate Jesus. Paul desired to know Jesus and the power of His resurrection, and the fellowship in His sufferings, so that he would be like Him in His death, so that he could finally live in victory. Because Jesus had two sides of life, Paul also wanted to be like that.

This morning, if our lives have been filled with abundance and success, is there still willingness to struggle, suffer and sacrifice for others? Is there our desire to be like Jesus who obeyed the Father’s call to sacrifice Himself for human salvation? And if we are currently living in suffering, are we aware that Jesus, the Son of God, had experienced a far greater suffering to replace us? Like Jesus, every Christian must take up the cross and follow Him. Like Jesus who has received the glory, all our hard work will ultimately produce eternal happiness.

Mengenal Yesus dari dua sisi

“Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitanNya dan persekutuan dalam penderitaanNya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematianNya, supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan dari antara orang mati.” Filipi 3: 10 – 11

Manakah hidup yang anda kehendaki? Hidup yang penuh dengan kenyamanan ataukah hidup yang penuh dengan penderitaan? Tentunya bagi semua orang yang dihadapkan pada dua pilihan saja akan memilih yang pertama. Siapakah yang mau hidup dalam penderitaan? Walaupun demikian, banyak orang yang bijaksana ingin agar mereka tidak terlalu kaya atau terlalu miskin. Mengapa demikian?

Manusia sering menghadapi masalah dalam dua keadaan: terlalu kaya dan terlalu miskin. Amsal 30: 8 memohon kepada Tuhan agar Ia tidak memberikan kemiskinan atau kekayaan. Ia meminta Tuhan untuk membiarkannya merasa cukup jika ia bisa menikmati makanan yang menjadi bagiannya. Apa sebabnya? Penulis Amsal dalam ayat berikutnya menulis: “Supaya, kalau aku kenyang, aku tidak menyangkalMu dan berkata: Siapa TUHAN itu? Atau, kalau aku miskin, aku mencuri, dan mencemarkan nama Allahku.”

Sudah tentu, ukuran kekayaan dan kemiskinan itu berbeda untuk setiap insan. Ukuran tiap orang tentang kecukupan dan kekurangan itu tidak sama. Ada orang yang sudah kaya, tetapi masih ingin lebih kaya. Ada orang yang berkelimpahan tetapi masih juga melakukan hal-hal yang buruk untuk bisa lebih kaya. Sebaliknya, banyak juga orang yang sangat menderita sehingga ia menyangkali Tuhan. Selain itu, ada juga orang yang miskin tetapi hidupnya penuh kebahagiaan.

Manakah yang anda kehendaki dalam hidup? Hidup dalam kesuksesan dan kemewahan atau hidup sederhana dan penuh perjuangan? Mungkin ada orang yang menjawab hidup bagaimana pun baik, asal ada kebahagiaan dan kedamaian. Ini benar, tetapi bagaimana caranya? Bagaimana kita bisa merasa bahagia, merasa cukup, atau tidak menderita jika hidup orang lain terlihat lebih nyaman dalam kelimpahan? Pertanyaan ini tidak mudah dijawab.

Rasul Paulus dalam suratnya ke jemaat di Filipi menulis bahwa ia ingin mengenal Yesus agar ia bisa mendapatkan jawaban pertanyaan di atas. Ini adalah tindakan yang bijaksana yang kembali ke dasar iman yang benar. Back to the basics. Sebagai orang Kristen kita adalah pengikut Kristus dan karena itu sudah seharusnya mengikut jejakNya dalam mengarungi hidup ini.

Apa yang bisa kita tiru dari Yesus? Paulus menulis bahwa Yesus mempunyai dua sisi kehidupan: penderitaan dan kemuliaan. Melalui penderitaanNya, Yesus menerima kemuliaan dari Allah Bapa. Melalui pengurbananNya di kayu salib dan kematianNya, Ia dibangkitkan dan naik ke surga. Paulus menghendaki agar ia bisa meniru Yesus.

Yang dikehendaki Paulus ialah mengenal Yesus dan kuasa kebangkitanNya, dan persekutuan dalam penderitaanNya, supaya ia menjadi serupa dengan Dia dalam kematianNya, agar ia akhirnya beroleh hidup dalam kemenangan. Karena Yesus mempunyai dua sisi kehidupan, Paulus juga ingin bisa seperti itu.

Pagi ini, jika hidup kita sudah terisi dengan kelimpahan dan kesuksesan, masih adakah kemauan untuk pergumulan, penderitaan dan pengurbanan bagi orang lain? Adakah kerinduan kita untuk menjadi seperti Yesus yang menaati panggilan Bapa untuk mengurbankan diriNya demi keselamatan manusia? Dan jika saat ini kita hidup dalam penderitaan, sadarkah bahwa Yesus, Anak Allah, sudah mengalami penderitaan yang jauh lebih besar untuk ganti kita? Seperti Yesus, setiap orang Kristen harus memikul salib dan mengikut Dia. Seperti Yesus yang sudah menerima kemuliaan, segala susah payah kita pada akhirnya akan membuahkan kebahagiaan yang kekal.

Do you love your brothers and sisters in Christ?

“This is the sign that we love God’s children, that is, if we love God and do His commandments.” 1 John 5: 2

It is easier to get along with people who are not Christians but who look good in their lives, than making friends with Christians who are in chaos. Perhaps many people who think so because of their personal experience. Indeed, it seems difficult for us to like those who claim to be Christian but often disappoint us. Loving others is not easy, but loving people who believe is often more difficult, especially because of differences among groups and denominations.

How can we cultivate love for all believers? The first verse of 1 John 5 says that “Everyone who believes that Jesus is the Christ is born of God; and everyone who loves the one who gives birth loves also the one who was born of him.” Thus, if we on the one hand love Jesus who was born of God, we must realize that our difficulties in loving our fellow Christians who are also born of God, are actually contrary to our love for God. Moreover, if we can love the invisible God, we should be able to love the visible brother in the faith. Verse 1 John 4: 20 states that if someone says, “I love God,” and he hates his brother, he is a liar, because whoever does not love his brother whom he has seen, it is impossible to love God whom he has not seen.

Are there any indication that we love our brothers and sisters? Our opening verse says that the mark is reflected in how we love God and obey His commandments. This may sound like circular logic. But those who love God certainly do His commandments.

“If you love me, you will keep my commandments.” John 14: 15.

What God commanded His people was summarized in two ways: “Thou shalt love the Lord thy God with all thy heart, and with all thy soul, and with all thy mind, and with all thy strength: and the second commandment is, Thou shalt love thy neighbor as thyself. There is no other commandment greater than these.” Mark 12: 30 – 31. If we love one another, we will inevitably love everyone, including those we do not like and those who do not like us. Clearly love for one another should include love for fellow believers.

As sinful humans, the love we have is not love for others, but love for ourselves. We often love others when it brings us good fortune and happiness. However, since we have been adopted as children of God, we have the ability to love one another with pure love (agape). Thus, true love does not come from us, but must come from God. “My beloved brethren, let us love one another, for love is of God; and every one that loveth is born of God, and knoweth God.” 1 John 4: 7.

We may be ready and willing to love one another, but it is not complete if our love is not passed on to our fellow believers. Love for the brothers and sisters in Christ should be even more important because they are children of God just like us. Let our love grow in Him who has given us a new life!

“Therefore, as long as there is opportunity for us, let us do good to all, but especially to our fellow believers.” Galatians 6:10

Hal mengasihi saudara seiman

Inilah tandanya, bahwa kita mengasihi anak-anak Allah, yaitu apabila kita mengasihi Allah serta melakukan perintah-perintahNya. 1 Yohanes 5: 2

Lebih mudah bergaul dengan orang yang bukan Kristen tapi yang terlihat baik hidupnya, daripada berteman dengan orang Kristen yang kacau hidupnya. Mungkin banyak orang yang berpendapat begitu karena pengalaman pribadi yang dialaminya. Memang agaknya sulit bagi kita untuk menyenangi orang yang mengaku Kristen tetapi seringkali mengecewakan kita. Mengasihi sesama tidaklah mudah, tetapi mengasihi orang yang seiman seringkali lebih sukar, apalagi karena adanya perbedaan antar golongan dan antar aliran.

Bagaimana kita bisa memupuk kasih kepada semua orang percaya? Ayat pertama dari 1 Yohanes 5 mengatakan bahwa “Setiap orang yang percaya, bahwa Yesus adalah Kristus, lahir dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi Dia yang melahirkan, mengasihi juga Dia yang lahir dari padaNya.” Dengan demikian, jika kita pada satu pihak mengasihi Yesus yang lahir dari Allah, kita harus sadar bahwa kesulitan kita dalam mengasihi sesama umat Kristen yang juga lahir dari Allah, sebenarnya bertentangan dengan kasih kita kepada Allah.

Lebih dari itu, jika kita bisa mengasihi Allah yang tidak kelihatan, seharusnya kita bisa mengasihi saudara seiman yang kelihatan. Ayat 1 Yohanes 4: 20 menyatakan Jikalau seorang berkata: “Aku mengasihi Allah,” dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya.

Adakah tanda-tanda bahwa kita sudah mengasihi saudara seiman kita? Ayat pembukaan kita menyatakan bahwa tandanya terlihat dalam hal bagaimana kita mengasihi Allah serta melakukan perintah-perintahNya. Ini agaknya seperti logika yang berputar (circular logic). Tetapi memang orang yang mengasihi Allah tentu mau melakukan segala perintahNya.

“Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku.” Yohanes 14: 15

Apa yang diperintahkan Allah kepada umatNya diringkas oleh Yesus dalam dua hal:

“Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini.” Markus 12: 30 – 31

Jika kita mau mengasihi sesama kita, kita tidak dapat tidak mengasihi semua orang, termasuk mereka yang kurang kita sukai dan mereka yang tidak menyukai kita. Jelas kasih kepada sesama harus mencakup kasih kepada saudara-saudara seiman.

Sebagai manusia berdosa, kasih yang kita punyai bukanlah kasih untuk orang lain, tetapi kasih kepada diri sendiri. Kita sering mengasihi orang lain jika itu membawa kebaikan dan rasa senang untuk diri kita sendiri. Tetapi, karena kita sudah diangkat menjadi anak-anak Allah, kita memperoleh kemampuan untuk mengasihi sesama kita dengan kasih yang murni (agape). Dengan demikian, kasih yang benar bukan berasal dari diri kita, tetapi harus datang dari Allah.

“Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah.” 1 Yohanes 4: 7

Saat ini kita mungkin merasa siap dan sanggup untuk mengasihi sesama kita, tetapi itu belum lengkap jika kasih kita tidak diteruskan kepada saudara seiman. Kasih kepada saudara seiman malahan harus lebih diutamakan karena mereka adalah anak-anak Allah seperti kita. Biarlah kasih kita makin bertumbuh di dalam Dia yang sudah memberi kita hidup baru!

“Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman.” Galatia 6: 10

Biarlah engkau kuat dalam batinmu

“Aku berdoa supaya Ia, menurut kekayaan kemuliaan-Nya, menguatkan dan meneguhkan kamu oleh Roh-Nya di dalam batinmu, sehingga oleh imanmu Kristus diam di dalam hatimu dan kamu berakar serta berdasar di dalam kasih.” Efesus 3: 16 – 17

Besok pagi, pada hari Senin tanggal 17 Februari, kebanyakan universitas di Australia akan memulai tahun ajaran baru yaitu Semester 1, 2020. Bagi para murid baru, minggu depan belumlah saat untuk mulai kuliah, tetapi saat untuk orientasi. Mereka akan diperkenalkan dengan fasilitas dan staff pengajar universitas.

Untuk sebagian besar murid saya, minggu depan masih merupakan minggu santai. Tetapi, bagi banyak dosen minggu itu adalah kesempatan terakhir untuk mempersiapkan bahan ajaran, sebelum mulai memberi kuliah minggu berikutnya. Minggu depan bagi saya adalah minggu kerja keras dan seiring dengan itu ada juga rasa tegang yang muncul dalam hati saya karena adanya perasaan kurang siap.

Sebenarnya, jika anda bisa memilih, manakah yang lebih anda sukai: kelelahan fisik atau ketegangan batin? Banyak orang mungkin memilih kelelahan fisik karena itu lebih mudah mengatasinya. Dengan beristirahat atau tidur, memang kita bisa mengurangi dan bahkan menghilangkan kelelahan jasmani. Sebaliknya, kelelahan batin tidak mudah untuk dihilangkan. Kita juga tahu bahwa banyak orang yang hancur masa depannya atau goncang hidupnya karena persoalan batiniah atau rohani yang besar, dan yang tidak teratasi.

Jika kita lelah atau sakit secara jasmani, kita mungkin bisa meminta pertolongan orang lain, baik itu secara cuma-cuma atau dengan membayar jasa. Tetapi, jika kita lelah secara batin atau rohani, tidaklah mudah bagi orang lain untuk mengerti keadaan kita atau untuk menolong kita. Kelelahan batin jugalah yang banyak diderita di zaman ini sehingga orang sering kehilangan harapan.

Bukan saja kegiatan di luar rumah yang bisa membebani batin manusia. Kehidupan dalam rumah tangga justru sering membuat orang lelah secara batin dan putus asa. Bagaimana tidak? Istri mungkin tertekan batinnya, tetapi suami tidak menyadarinya. Suami mengalami depresi, tetapi istri tidak dapat menolong. Begitu juga hubungan antara anak dan orangtua bisa membawa tekanan batin yang besar pada kedua pihak.

Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Efesus yang tercantum di atas, berdoa supaya Tuhan menurut kekayaan kemuliaanNya, menguatkan dan meneguhkan mereka melalui Roh Kudus yang berdiam dalam batin mereka. Firman Tuhan ini mengingatkan kita bahwa jika kita mengalami kesulitan hidup dan penderitaan batin dan orang lain tidak dapat menolong kita, Roh Kudus yang ada dalam hati kita akan berdoa untuk kita. Roh Kudus yang merupakan Roh Penolong akan menguatkan kita sehingga kita selalu ingat akan kasih Yesus yang pernah menderita sebagai manusia. Ia adalah Tuhan yang mahakasih dan yang mengerti akan apa yang kita alami dan bisa menolong kita. Dialah yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan. Mengapa kita harus berkecil dan bersusah hati jika kita sadar akan kasihNya?

Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus” Efesus 3: 18

Anak-anak Allah

“Lihatlah, betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah, dan memang kita adalah anak-anak Allah. Karena itu dunia tidak mengenal kita, sebab dunia tidak mengenal Dia.” 1 Yohanes 3: 1

Salah satu masalah besar yang dihadapi kaum muda adalah krisis identitas. Menurut ilmu kejiwaan, krisis identitas adalah kegagalan dalam mencapai identitas ego yang umumnya terjadi sewaktu masa remaja. Pada saat itu kaum remaja menghadapi pertumbuhan badan dan perkembangan seksuil. Mereka juga berusaha menyatukan pandangan mereka tentang diri sendiri dan pandangan orang lain tentang mereka. Dalam hal ini, kerapkali mereka merasa bahwa orang lain tidak dapat mengerti tentang keadaan mereka. Karena itu tidaklah mengherankan jika masa remaja bagi mereka terasa membingungkan. Mereka mungkin merasa terkucil dari masyarakat dan hal ini bisa menimbulkan rasa sedih atau marah.

Krisis identitas tidak selalu membuat setiap remaja mengalami masalah. Mereka yang mempunyai orang tua yang bijaksana dan guru yang baik, harus merasa beruntung karena apa yang mereka pelajari bisa menumbuhkan rasa percaya diri. Sekalipun mereka sering merasa orang lain kurang dapat menyelami hati dan pikiran mereka, perhatian dan kasih yang diterima dari para pembimbing bisa membimbing mereka agar terus tumbuh ke arah kedewasaan.

Sebagai orang Kristen, kita mungkin pernah juga merasakan krisis identitas. Masyarakat yang tidak mengenal Tuhan sering memandang kita sebagai manusia yang aneh, sok atau munafik. Jika kita berusaha hidup jujur menurut firmanNya, dunia memandang kita aneh karena tidak mau menggunakan kesempatan untuk mencari keuntungan. Jika kita berusaha untuk hidup dalam kebenaran, orang mungkin memandang kita sebagai orang yang sok saleh. Dan jika kita menasihati orang lain agar mengubah cara hidup mereka, mungkin kita dituduh munafik.

Hidup di dunia di antara orang yang tidak berTuhan, yang tidak mengenal Juruselamat Yesus Kristus, dan yang menuruti keinginannya sendiri sering membuat kita bingung. Siapakah kita ini? Mengapa Tuhan menghendaki kita untuk menegaskan adanya perbedaan antara umatNya dan mereka yang tidak mengenal Dia? Bukankah dengan demikian kita justru mengundang banyak musuh, dan menjumpai banyak orang-orang yang tidak menyenangi kita?

Siapakah kita? Ayat di atas menjelaskan bahwa kita adalah anak-anak Allah. Kita disebut anak-anak Allah, dan memang kita adalah anak-anak Allah, karena kasihNya yang sudah mengurbankan AnakNya yang tunggal untuk menebus kita. Karena itu kita tidak boleh ragu akan identitas kita. Sekalipun dunia tidak mengenal kita sebab dunia tidak mengenal Allah Bapa, Yesus dan Roh Kudus, kita tidak boleh ragu atau gentar dalam menjalani hidup kita di dunia. Sebagai anak-anak Allah kita harus bisa bertumbuh dalam bimbingan Roh Kudus untuk menjadi dewasa dalam iman, dan bisa selalu hidup dalam kebenaranNya agar tidak terpengaruh atau terseret oleh arus dunia.

Hidup adalah sebuah perjalanan

Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.” Filipi 3: 13 – 14

Hidup adalah sebuah perjalanan. Life is a journey. Benarkah? Mungkin mereka yang sekarang ini berada di kapal pesiar Diamond Princess tidak setuju. Sampai saat ini, 3700 penumpang dan awak kapal masih dikarantina oleh pemerintah Jepang di pelabuhan Yokohama karena wabah coronavirus yang sudah menjangkiti lebih dari 200 orang di kapal itu. Karena itu, sejak tanggal 4 Febuari kapal itu tidak diperbolehkan untuk meninggalkan dermaga. Perjalanan yang diharapkan banyak orang, sekarang agaknya sudah kehilangan tujuan.

Mereka yang ingin menikmati perjalanan yang berkesan, mungkin hanya sekali seumur hidup, sekarang harus tinggal terkurung dalam kamar atau dalam kapal setidaknya selama 14 hari. Agak beruntung mereka yang mempunyai kamar yang berbalkon karena mereka masih bisa melihat pemandangan, tetapi bagi mereka yang tinggal di inside cabin, ruang yang di tengah kapal, hanya 4 tembok yang bisa mereka lihat setiap hari. Bagi mereka, hidup bukanlah sebuah perjalanan, tetapi sebuah kurungan.

Alkitab menyatakan bahwa hidup manusia di dunia memang seperti sebuah perjalanan. Itu karena hidup ini harus dijalani setiap orang untuk mencapai tujuan tertentu. Bagi sebagian orang, tujuan hidup selama di dunia adalah sesuatu yang tidak jelas. Bagi orang lain, mencapai tujuan hidup bisa dilakukan dengan santai. Mungkin hidup santai adalah apa yang diinginkan. Sebaliknya, sebagian orang mungkin percaya bahwa tujuan hidup adalah bekerja keras untuk mencapai keberhasilan di dunia. Dalam hal ini, jika tujuan hidup sulit dicapai, rasa sesal dan putus asa mungkin muncul.

Apa sebenarnya tujuan hidup orang Kristen? Orang Kristen yang mempunyai hubungan yang baik dengan Tuhan tentu percaya bahwa manusia diciptakan untuk memuliakan Tuhan. Mereka sadar bahwa karena Tuhan sudah lebih dulu menyatakan kasihNya dalam diri Yesus, mereka terpanggil untuk mengasihi Tuhan dan sesamanya. Dengan demikian tujuan hidup di dunia bukanlah untuk mencapai keuntungan dan kemegahan diri sendiri.

Hidup umat Kristen adalah suatu bagian perjalanan untuk menemui Tuhan di surga. Karena itu selama hidup di dunia, orang Kristen berusaha memusatkan pandangannya ke masa depan, ke arah persekutuan kekal dengan Tuhan dan seluruh umat percaya di surga. Dengan demikian, mereka berusaha untuk menjalani hidup dalam kebenaran. Ini tidak mudah dilakukan karena sebagai manusia yang tidak sempurna, kerapkali mereka mengalami masalah dan kegagalan.

Paulus dalam ayat di atas menyatakan bahwa ia juga harus berjuang untuk bisa hidup menurut kehendak Tuhan. Mungkin terkadang ia merasa lelah dan jemu karena perjalanan hidup yang berat, dan adanya kegagalan atau penderitaan. Walaupun demikian, ia melupakan apa yang di belakangnya dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapannya. Apa yang sudah terjadi dibiarkannya berlalu, tetapi dengan bersemangat ia berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu kemuliaan di surga bersama Allah karena kasihNya dalam Kristus Yesus. Hidup orang percaya memang adalah sebuah perjalanan dalam iman!

Teman sehati sependeritaan

“Bagi orang-orang yang lemah aku menjadi seperti orang yang lemah, supaya aku dapat menyelamatkan mereka yang lemah. Bagi semua orang aku telah menjadi segala-galanya, supaya aku sedapat mungkin memenangkan beberapa orang dari antara mereka.” 1 Korintus 9: 22

Dalam hidup ini mencari teman yang baik tidaklah mudah. Jika kita sedang berjaya, teman mungkin datang tanpa diundang. Tetapi, jika kita lagi dirundung malang, teman yang dulunya terlihat baik belum tentu mau datang. Karena itulah peribahasa menyebutkan bahwa teman sejati adalah teman dalam penderitaan. A friend in need is a friend indeed.

Menjadi teman sejati bagi orang lain adalah panggilan setiap orang Kristen karena perintah Tuhan kepada umatNya untuk mengasihi sesama manusia. Tetapi ini tidak mudah dilaksanakan dengan cara yang benar.

Kebanyakan orang memilih cara yang paling mudah untuk mengasihi orang lain, yaitu dengan menyumbang atau memberi sesuatu yang mungkin dibutuhkan mereka. Dengan demikian, banyak orang yang menempatkan dirinya sebagai penolong orang lain karena bisa membantu orang itu secara jasmani. Bagi gereja pun, cara yang termudah untuk mengasihi orang yang di luar gereja adalah dengan memberi secara materiil. Setiap ada kesempatan, jemaat mengumpulkan uang atau barang untuk diberikan kepada mereka yang terlihat miskin.

Mempunyai perasaan simpati adalah sudah seharusnya. Walaupun demikian, Paulus dalam ayat di atas menegaskan bahwa kita sebagai orang Kristen harus mempunyai rasa empati. Baik simpati maupun empati berasal dari kata Yunani pathos yang berkaitan dengan penderitaan dan perasaan. Tetapi kedua kata ini memiliki perbedaan inti: simpati menggambarkan perasan belas kasihan atas kejadian yang menimpa seseorang, sedangkan empati dapat menempatkan diri pada posisi orang tersebut dan merasakan secara langsung kesedihan mereka.

Kepada kita firman Tuhan mengingatkan bahwa jika kita ingin bekerja untuk Tuhan dalam membimbing orang lain ke arah yang benar, kita harus bisa menjadi orang yang sehati sependeritaan dengan mereka yang kekurangan, sakit, takut dan tertindas dan bukan hanya bisa mengulurkan tangan kita dari tempat yang tinggi.

Sebagai orang Kristen kita tidak cukup untuk menunjukkan belas kasihan kita untuk mereka yang menderita. Kita harus bisa menempatkan diri dalam keadaan mereka dan mempunyai empati atas kesedihan mereka. Sebagai orang Kristen kita dipanggil untuk bisa ikut menggumuli perjuangan mereka agar mereka bisa juga merasakan kasih yang sudah kita terima dari Tuhan. Semoga banyak orang bisa menjadi umat Tuhan melalui apa yang baik yang kita lakukan!

Makin lama makin kuat

“Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari. Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami.” 2 Korintus 4: 16 – 17

Tahukah anda bahwa salah satu penyakit yang jarang disadari orang adalah osteoporosis? Osteoporosis adalah kondisi saat kualitas kepadatan tulang menurun. Kondisi ini membuat tulang menjadi keropos dan rentan retak. Osteoporosis umumnya baru diketahui setelah ditemukan retak pada tulang, setelah pasien mengalami jatuh ringan. Retak pada pergelangan tangan, tulang pinggul, dan tulang belakang adalah kasus yang paling banyak ditemui pada penderita osteoporosis.

Seiring dengan pertumbuhan badan, sejak lahir kepadatan tulang manusia ikut bertambah sampai umur 25 tahun. Dalam tahun-tahun berikutnya, kepadatan tulang manusia cenderung tidak berubah sampai mencapai umur 50 tahun. Setelah itu tulang manusia mulai turun kepadatannya dan tidak ada sesuatu yang bisa dikerjakan manusia untuk menghentikan proses penuaan ini selain memperlambat proses penurunan kepadatan tulang dengan diet sehat dan olahraga. Proses penuaan dan kematian memang tidak bisa dihindari siapa pun.

Menjadi tua bagi banyak orang adalah sebuah penderitaan karena kemampuan fisik yang menurun. Bagi yang masih tergolong muda, tidaklah mudah menghadapi kenyataan bahwa orangtua mereka yang dulunya kuat dan sehat dan sekarang mulai terlihat lemah dan membutuhkan pertolongan mereka untuk berbelanja atau melakukan aktivitas yang lain. Rasa sedih mungkin muncul di hati kita mengapa keadaan lahiriah orang yang kita cintai harus mengalami kemerosotan, tetapi kita mungkin harus bersyukur jika mereka bertambah tua tetapi tetap mempunyai rasa damai dan  syukur. Memang banyak orang tua yang mengerti the art of growing old gracefully. Mereka yang tahu hal ini  biasanya bisa menerima keadaan dan tetap dapat menemukan apa yang baik dalam hidupnya.

Memang, jika kesehatan jasmani itu penting, kesehatan rohani itu ternyata jauh lebih perlu terutama ketika tubuh sudah mulai melemah. Kebahagiaan ternyata tidak identik dengan tubuh yang tegap dan tampang yang memikat. Mereka yang merasa bahwa masa muda adalah masa yang terbaik bagi mereka mungkin tidak sepenuhnya keliru. Masa muda adalah masa yang terbaik jika mereka tidak dapat menemukan apa yang baik di masa tua. Masa muda adalah masa yang terbaik jika orang tidak pernah memikirkan bahwa dengan bertambahnya umur mereka harus bisa mengalami pertumbuhan rohani.

Dalam ayat di atas Paulus menulis bahwa ia tidak menjadi sedih sekalipun manusia lahiriahnya semakin merosot, sebab manusia batiniahnya diperbaharui setiap hari. Ia makin hari makin dekat dengan Tuhannya. Sekalipun sering ia mengalami penderitaan fisik, kemajuan dalam hal kerohanian membuat dia makin sadar bahwa ia makin dekat kepada kemuliaan yang dijanjikan Tuhan di surga. Ini jauh lebih besar dari penderitaannya di dunia. Dengan kesadaran bahwa hidup di dunia ini hanya sementara dan jauh lebih pendek dari hidup kekal yang ada di surga, Paulus tidak merasa bahwa hidup di dunia adalah sesuatu yang harus disesali atau diisi dengan keluh kesah.

Hari ini firman Tuhan mengajak kita untuk lebih  memusatkan perhatian kepada hidup kerohanian kita. Mempunyai hidup batiniah yang baik adalah mutlak diperlukan agar kita makin mengenal Tuhan yang sudah menyatakan diriNya kepada kita dan makin bisa mengerti akan kasihNya. Manusia lahiriah kita mungkin makin merosot, dan tantangan kehidupan mungkin membuat tubuh jasmani kita lemah, tetapi manusia batiniah kita haruslah tumbuh semakin kuat. Sekalipun banyak tantangan dalam hidup kita, iman kita akan semakin besar dalam persekutuan rohani kita  dengan Tuhan yang mahakasih.

Dari manakah datangnya kekuatanku?

“Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa; kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa. Kami senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami.” 2 Korintus 4: 8 – 10

Berita media tentang wabah coronavirus pagi ini agaknya membuat gundah banyak orang di seluruh dunia. Bukan saja di China, virus ini juga makin menyebar dan memakan korban jiwa di berbagai negara. Memang hal semacam ini tidak bisa dianggap “monopoli” suatu bangsa saja. Di dunia ini selalu ada hal-hal yang membuat manusia dimana pun menderita, baik tua atau muda, lelaki atau wanita, miskin atau kaya.

Jika manusia dimana saja bisa jatuh dalam penderitaan, ada sebuah pertanyaan yang mungkin menggelitik hati nurani kita: apa gunanya menjadi pengikut Kristus? Bagi sebagian orang Kristen, pertanyaan ini mungkin sering ditepis dengan keyakinan bahwa sekalipun orang lain mengalami bencana, orang yang beriman tidak mungkin mengalami hal yang sama. Karena itu mereka mungkin percaya bahwa setiap penderitaan adalah hukuman atas dosa yang dilakukan orang. Di lain pihak, Tuhan selalu memagari umatNya dari semua kesulitan, penderitaan dan bencana. Ini adalah keyakinan yang keliru.

Dalam ayat di atas, Paulus menulis bahwa ia dan rekan-rekannya pernah dan sering mengalami penderitaan dalam hidup mereka. Dalam segala hal mereka ditindas, tetapi mereka tidak putus asa. Mereka dianiaya, namun tidak merasa ditinggalkan sendirian; mereka dihempaskan, namun masih bertahan hidup.

Hal yang sangat berat dalam hidup murid Tuhan pada waktu itu, tentunya masih terjadi di zaman ini sekalipun mungkin lain penyebabnya. Dalam hal ini, masyarakat yang cenderung individualistis saat ini seringkali membuat orang Kristen mudah mengalami hal-hal yang mengguncangkan iman mereka: Tuhan terasa jauh dan teman sehati sulit ditemukan.

Apa yang harus kita lakukan ketika ada masalah besar di depan kita? Bagaimana kita dapat bertahan dalam menghadapi penderitaan, kekurangan, ketakutan, dan rasa sakit? Paulus menulis bahwa ia dan rekan-rekannya senantiasa mengingat kematian Yesus di dalam hidupnya, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata.

Paulus dan rekan-rekannya selalu sadar bahwa Yesus sudah pernah mengalami penderitaan yang besar di kayu salib dan bahkan merasakan bagaimana sakitnya ketika Ia dipisahkan dari Allah Bapa. Walaupun Yesus merasakan derita yang luar biasa, Ia yakin akan kasih Bapa dan karena itu Ia tetap setia sampai akhir.

Dengan kebangkitanNya Yesus membuktikan bahwa maut tidak berkuasa atasNya. Bagi Paulus dan rekan-rekannya, Yesus adalah Tuhan dalam mati dan kebangkitanNya. Karena itu, dalam menghadapi segala penderitaan, mereka percaya bahwa pada akhirnya mereka akan menang seperti Yesus dan memperoleh mahkota kehidupan.

“Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia.” Yakobus 1: 12