Panggilan untuk saling melayani

“Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamupun wajib saling membasuh kakimu” Yohanes 13: 14

Pernahkah anda menonton upacara menginjak telur? Upacara ini adalah sebuah tradisi kuno dalam pernikahan adat Jawa. Satu hal yang dilakukan pada prosesi panggih, adalah menginjak telur atau ‘nincak endog‘. Dalam upacara ini, pengantin pria diharuskan menginjak telur hingga pecah tanpa menggunakan alas kaki. Kemudian setelah telur pecah, sang mempelai wanita harus membasuh dan membersihkan kaki sang suami dari sisa-sisa pecahan telur. Ini berarti bahwa seorang istri harus bersedia mengabdi kepada suami dan melayaninya dengan senang hati. Sekalipun tradisi ini masih ada, pada zaman sekarang mungkin banyak pengantin yang mengadopsi tradisi barat karena dinilai lebih sederhana dan lebih seimbang dalam hal kedudukan suami dan istri.

Apa yang dilakukan Yesus kepada murid-muridnya sebelum Ia disalibkan mungkin mirip dengan upacara menginjak telur di atas, walaupun Yesus membasuh kaki murid-muridNya yang kotor sebagai tanda pelayanan kasih dan bukan pengabdian. Yesus yang adalah Tuhan dan Raja mau mencuci kaki manusia yang hina sebagai Raja yang melayani atau the Servant King.

Hal membasuh kaki sudah tentu bukanlah sebuah ritual atau sakramen untuk dilakukan semua orang Kristen. Membasuh kaki bukanlah tugas yang diberikan oleh Yesus kepada murid-muridNya. Tetapi, apa yang diperintahkan Yesus kepada mereka adalah untuk saling melayani dengan tanpa memandang kedudukan.

Yesus memberi contoh bagaimana setiap orang Kristen harus bersedia untuk saling saling melayani dalam kasih. Ini bukan pelayanan dari mereka yang lebih muda, lebih lemah, lebih miskin kepada mereka yang lebih tua, lebih kuat dan lebih kaya. Perintah untuk saling membasuh kaki tidak memandang derajat, ras, seks atau kedudukan manusia, sebab di mata Tuhan semua manusia adalah sederajat. Ini sudah tentu berlawanan dengan kebiasaan dalam masyarakat dimana orang yang berada di tingkat atas mengharapkan pelayanan mereka yang di tingkat bawah.

Pada hari Minggu ini, firman Tuhan mengingatkan kita bahwa Yesus yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan. Sebaliknya, Ia telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia (Filipi 2: 6 – 7). Dengan demikian, jika kita memang adalah pengikut Kristus, kita juga harus mau meniru Dia; yakni mau melayani, mengasihi dan menghormati sesama kita tanpa pandang bulu. Kita akan selalu siap untuk merendahkan diri seperti Yesus, the Servant King yang sudah ditinggikan Allah dan dikaruniai nama di atas segala nama (Filipi 2: 9).

“Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.” Matius 23: 12

Belajar terus sampai akhir

“Hai anakku, janganlah engkau menolak didikan TUHAN, dan janganlah engkau bosan akan peringatan-Nya.” Amsal 2: 11

Pernahkah anda mendengar sebuah slogan yang berbunyi “Ancora imparo“? Slogan ini berasal dari Italia dan seringkali dihubungkan dengan seorang jenius dari abad Renaisans: Michelangelo. Menurut kepercayaan umum, ia membuat slogan ini pada waktu berumur 87 tahun. Benar atau tidaknya hal ini tentu tidak ada orang yang tahu, tetapi yang pasti apa yang dikatakannya ada benarnya.

Anda tidak tahu apa arti slogan itu? Saya pun tidak akan tahu kalau saja universitas saya tidak memakai slogan itu sebagai semboyan dari logonya. Arti semboyan itu adalah “saya masih belajar”. Kalau betul Michelangelo menemukan slogan itu ketika ia berumur 87 tahun, tentulah ia benar-benar hebat. Kebanyakan orang seumur itu tidak lagi mau atau mampu untuk belajar.

Sejak kapan manusia bisa belajar sesuatu? Menurut ilmu sains, seorang bayi yang masih berada dalam kandungan sudah bisa mendengarkan suara dan musik dari luar. Apa yang didengar bayi ini akan mempengaruhi hidupnya setelah dilahirkan. Sesudah itu, manusia tidak akan berhenti belajar selama ia masih mampu.

Memang dalam hidup ini ada banyak hal yang bisa dan harus dipelajari. Walaupun begitu, ada saja orang-orang yang tidak pernah mau belajar selama mereka masih bisa. Mereka adalah orang-orang yang merasa sudah tahu atau orang-orang yang sombong dan keras kepala, yang tidak mau belajar dari orang lain.

Sejak kapan manusia bisa belajar dari Tuhan? Sejak dapat melihat keindahan dan kebesaran ciptaan Tuhan, manusia tidak dapat berdalih untuk menolak adanya Tuhan. Walaupun demikian, mereka yang sudah melihat dengan mata adanya mujizat Tuhan, belum tentu akan percaya kepadaNya. Manusia tidak akan dapat mengenal Tuhan jika Ia tidak membuka mata rohani manusia.

Mereka yang mengenal Tuhan tentu akan mengenal suaraNya. Tetapi itu belum menjamin bahwa mereka akan mau mendengar segala perintah, didikan dan peringatan Tuhan. Manusia memang cenderung mau mendengar apa yang dikehendakinya saja. Manusia dari awalnya ingin untuk merdeka berbuat apa yang mereka ingini.

Ayat di atas memperingatkan semua umat Tuhan untuk berhati-hati. Jangan sampai kita menolak didikan Tuhan, dan jangan sampai kita merasa bosan akan peringatan-Nya. Selama kita hidup di dunia, Tuhan ingin agar kita selalu taat dan mau belajar dari Dia yang mahabijaksana.

Tidak peduli berapa umur kita atau setinggi apa pendidikan kita, kita harus dengan rendah hati mau belajar untuk menjadi pengikutNya yang setia setiap hari. Mereka yang mau belajar akan bertambah hikmatnya sehingga makin sadar bahwa mereka perlu untuk tetap setia belajar hari demi hari, tidak hanya dari firmanNya, tetapi juga dari nasihat orang tua, suami, istri dan saudara seiman, sampai saat terakhir. Hanya orang yang bodoh yang mengabaikan suara Tuhan dalam hidupnya dan itu akan membuatnya tersesat ke jalan yang keliru.

Gunakan hidup kita sebaik mungkin

“Karena setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan. Tetapi siapa yang tidak mempunyai, apapun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya.” Matius 25: 29

Kemarin malam saya menghadiri acara pesta ulang tahun departemen dari sebuah universitas. Di antara para hadirin, saya menjumpai banyak bekas kolega saya yang tidak pernah bertemu sejak 20 tahun yang lalu. Tidaklah mengherankan bahwa percakapan yang ada pada umumnya mengenai apa yang sudah dialami masing-masing sejak saat perpisahan. Di antara mereka ada orang yang kelihatan berhasil dalam karir, tetapi kurang berhasil dalam rumah tangga, dan sebaliknya ada yang nampak berbahagia sekalipun tidak terlihat kaya. Saya tidak meragukan bahwa setiap orang tentunya sudah berusaha untuk menggunakan hidup mereka sebaik mungkin. Tetapi sebaik bagaimana?

Perumpamaan tentang talenta adalah perumpamaan Yesus yang bisa ditemukan dalam Matius 25: 14 – 30 dan Lukas 19: 11 – 27. Perumpamaan ini sering dibahas dalam berbagai khotbah dan renungan, dan biasanya disampaikan sehubungan dengan hal menggunakan talenta atau kemampuan yang dimiliki setiap orang. Seringkali, moral yang diungkapkan adalah untuk tidak menyia-nyiakan berkat Tuhan. Walaupun demikian, perumpamaan ini mungkin lebih tepat untuk ditafsirkan sebagai hal menggunakan hidup dengan baik sebelum kedatangan Yesus yang kedua kalinya.

Apapun yang digaris-bawahi dalam mengartikan perumpamaan ini, tidak dapat diragukan bahwa perumpamaan ini dengan tegas menyatakan bahwa apa saja yang Tuhan berikan kepada kita, adalah barang pinjaman yang tidak boleh dipakai hanya untuk kepentingan diri kita sendiri. Dalam hal ini, Tuhan meminjami kita berbagai berkat, kecil maupun besar, yang sesuai dengan kehendakNya; kita harus menggunakan semua itu dengan percaya bahwa Tuhan itu adil.

Talenta diberikan kepada kita untuk mengasihi Tuhan dan sesama kita. Dengan demikian, keberhasilan dan kebahagiaan kita bukanlah hanya diukur dengan apa yang bisa dilihat mata manusia, sebab apa yang bisa kita ukur adalah apa yang sementara dan akhirnya akan musnah. Apa yang tidak bisa musnah adalah kasih, yang tidak akan berkesudahan (1Korintus 13: 8). Maukah kita memakai hidup ini untuk menyampaikan kasih Tuhan yang sudah kita terima kepada orang lain? Itu adalah satu-satunya cara untuk bisa merasakan kasihNya yang makin besar dalam hidup kita.

Mengapa Ayub harus menderita?

“Sebab adalah kasih karunia, jika seorang karena sadar akan kehendak Allah menanggung penderitaan yang tidak harus ia tanggung.” 1 Petrus 2: 19

Di Australia, diperkirakan gangguan kejiwaan yang dialami rakyat menghabiskan setengah juta dollar per hari sehubungan dengan ongkos perawatan dan kerugian ekonomi. Memang, gangguan kejiwaan adalah salah satu masalah kesehatan yang terbesar yang dialami masyarakat di banyak negara maju. Ini bukan saja berhubungan dengan gangguan medis, tetapi juga bisa bertalian dengan berbagai masalah sosial dan ekonomi. Apalagi, dalam masyarakat Barat hubungan manusia yang sangat individual dan mundurnya kerohanian membuat orang yang mengalami masalah kehidupan merasa bahwa hidup mereka sangat berat untuk bisa diatasi seorang diri.

Banyak orang yang mengalami masalah kehidupan yang berat bertanya-tanya mengapa itu harus terjadi, dan itu adalah hal yang wajar. Mereka yang harus menderita bukan karena perbuatan mereka, tentu saja sulit untuk mengerti mengapa ketidak-adilan harus mereka alami. Mereka yang tidak tahan menghadapi penderitaan hidup, kemudian bisa mengalami tekanan batin yang besar.

Ayub sebagai manusia yang mengalami penderitaan yang luar biasa karena berbagai malapetaka (Ayub 1: 13 – 20), tentunya tidak terluput dari perasaan sedih. Jika tidak, ia bukanlah manusia yang normal. Walaupun demikian, reaksi Ayub sungguh mengherankan. Katanya: “Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!” (Ayub 1: 21).

Bagaimana Ayub bisa menanggapi tragedi dalam hidupnya dengan tetap berpikir positif dan tidak mengalami kehancuran? Apakah Ayub adalah orang yang luar biasa, orang stoik yang sanggup menghadapi segala penderitaan dengan keteguhan hati?

Ayat pembukaan dari 1 Petrus 2: 19 menyebutkan bahwa adalah kasih karunia, jika seseorang karena sadar akan kehendak Allah menanggung penderitaan yang tidak harus ia tanggung. Ayub dapat menanggung penderitaannya dengan tenang karena Tuhan memberi Ayub kesadaran bahwa Ia menyukai sikap hidup yang menerima penderitaan dengan kesabaran. Tuhan memang menyukai orang-orang yang menyerahkan hidup mereka kepada kehendakNya.

Mereka yang tetap percaya kepada Tuhan dalam segala keadaan, adalah orang-orang yang percaya bahwa Tuhan yang mahakuasa tentu dapat juga mengubah penderitaan untuk menjadi sukacita. Bagi mereka, kasih dan kemuliaan Tuhan akan terlihat dengan nyata pada akhirnya. Ini jugalah yang terjadi dalam hidup Ayub dan dalam hidup setiap orang yang beriman.

Pentingnya menyadari kuasa Tuhan setiap saat

“Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita, bagi Dialah kemuliaan di dalam jemaat dan di dalam Kristus Yesus turun-temurun sampai selama-lamanya. Amin.” Efesus 3: 20 – 21

Yakinkah anda bahwa Tuhan berkuasa melakukan hal-hal yang luar biasa dalam hidup anda? Pertanyaan ini, jika diajukan kepada seorang yang beriman, tentunya dijawab dengan “ya”. Siapa pun yang percaya adanya Tuhan, tentunya percaya bahwa Ia bisa melakukan hal-hal yang hebat, yang tidak dapat dibayangkan oleh manusia. Memang Tuhan didefinisikan sebagai Oknum Ilahi yang Mahakuasa, yang menciptakan dan mengatur seluruh alam semesta. Jika Ia tidak dapat melakukan apa saja yang diinginkanNya, Ia bukanlah Tuhan.

Jika dalam hal  kemampuan Tuhan tidaklah dapat diragukan, orang sering ragu-ragu untuk menjawab pertanyaan ini: Apakah anda percaya bahwa Tuhan akan melakukan apa yang terbaik untuk anda? Pertanyaan ini kelihatannya sulit dijawab karena pengalaman hidup manusia yang menunjukkan adanya banyak hal-hal yang tidak menyenangkan yang sering terjadi. Mereka yang percaya kepada Tuhan tentunya yakin bahwa Ia yang mahakuasa sanggup menghindarkan umatNya dari hal-hal itu. Tetapi mengapa seringkali umat Tuhan harus mengalami hal-hal yang pahit? Jika Tuhan mahakuasa mengapa Ia seakan tidak peduli dan tidak mau menolong kita jika berada dalam kesulitan?

Alkitab mengajarkan bahwa selaku umat Tuhan kita harus menghilangkan rasa kuatir kita tentang apapun juga, dan senantiasa menyatakan keinginan kita melalui doa dan permohonan dengan ucapan syukur.

“Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.” Filipi 4: 6

Tetapi, jika kebutuhan dan keinginan kita tidak terpenuhi setelah lama berdoa dan memohon, bagaimana pula  kita harus bersikap? Bagaimana pula kita bisa tetap berdoa sambil bersyukur? Salahkah jika kita merasa bahwa Tuhan yang mahakuasa itu bukanlah Tuhan yang mahakasih? Salahkan kita jika kita merasa bahwa Tuhan yang mahakuasa itu tidak selalu mau melakukan hal-hal yang baik untuk umatNya?

Sebagai umat Kristen, kita tentu tahu bahwa doa adalah komunikasi antara seorang umat dan Tuhannya. Dengan doa kita mengucap syukur atas berkat Tuhan, dengan doa juga kita memohon berkatNya. Masalahnya, bagaimana kita harus bersikap dalam penantian akan jawaban Tuhan?  Ayat di atas menyatakan bahwa Tuhan dapat melakukan jauh lebih banyak daripada yang kita doakan atau pikirkan. Apa yang kita pikirkan adalah apa yang bisa kita terima dengan akal budi. Sebagai manusia kita hanya bisa membayangkan apa yang dapat ditangkap oleh pancaindera kita.  Karena itulah, kita cenderung untuk memikirkan apa yang terjadi pada saat ini saja. Kita tidak mengerti apa yang sudah terjadi pada masa lalu, dan tidak dapat membayangkan apa yang akan terjadi pada masa mendatang. Kita tidak dapat mengerti dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Tuhan.

O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya! Sebab, siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan? Atau siapakah yang pernah menjadi penasihat-Nya? Roma 11: 33 – 34

Apa yang sudah dilakukanNya dalam diri kita, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita, sudah membawa kita kepada iman yang menyelamatkan. Ini yang terpenting dalam hidup kita, tetapi juga apa yang sering dilupakan. Jika Ia yang mahasuci mau mengurbankan AnakNya yang tunggal untuk menebus kita yang berdosa, Ia adalah Tuhan yang tidak saja mahakuasa, tetapi juga Tuhan yang mahakasih. Karena kasihNya yang sudah dinyatakan kepada kita semasa kita masih hidup dalam dosa, kita boleh percaya bahwa Ia dapat melakukan hal-hal yang jauh lebih besar daripada apa yang kita doakan atau pikirkan saat ini. Maukah kita menyerahkan segala rasa kuatir kita kepadaNya? Biarlah kita boleh berharap kepadaNya sambil memuliakan namaNya dalam setiap saat dan keadaan!

“Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.” Filipi 4: 7

Kasih itu tidak buta

“Dan inilah doaku, semoga kasihmu makin melimpah dalam pengetahuan yang benar dan dalam segala macam pengertian, sehingga kamu dapat memilih apa yang baik, supaya kamu suci dan tak bercacat menjelang hari Kristus, penuh dengan buah kebenaran yang dikerjakan oleh Yesus Kristus untuk memuliakan dan memuji Allah.” Filipi 1: 9 – 11

Cinta itu buta. Love is blind. Ungkapan ini tentunya dikenal hampir semua orang dan mungkin  sudah ada sejak abad ke 15. Apa artinya? Sebagian besar orang mengartikan bahwa jika seseorang jatuh cinta, maka ia tidak memikirkan hal-hal lain selain keinginan untuk mendapatkan orang yang dicintainya. Ini ada benarnya, karena ada banyak orang yang mau mengurbankan apa saja yang dimilikinya agar ia mendapatkan orang yang dicintainya. Tetapi, cinta yang demikian sebenarnya  adalah keinginan untuk memenuhi keinginan diri sendiri.

Raja Edward VIII misalnya, melakukan sesuatu hal yang tidak pernah dibayangkan orang lain. Ia jatuh cinta kepada seorang wanita Amerika yang bersuami dan sebelumnya sudah pernah menjanda. Untuk bisa mengawini wanita itu, Raja Edward melepaskan tahta Inggris pada tanggal 10 Desember, 1936. Untuk sebagian orang,  ini adalah sesuatu kisah cinta (love story) yang paling utama dari abad ke 20. Tetapi, untuk orang lain, ini adalah sebuah scandal yang berpotensi untuk melemahkan kerajaan Inggris. Dalam kenyataannya, hal  ini pada akhirnya tidaklah menjadi kisah cinta terbesar ataupun skandal, tetapi menjadi kisah tentang seorang raja yang ingin hidup seperti orang kebanyakan. Edward sudah memilih apa yang baik menurut pendapatnya sendiri dan untuk kepentingan dirinya.

Apakah benar cinta itu buta? Ataukah manusia yang bisa menjadi seperti buta jika dilanda cinta? Ini adalah hal yang sering dibahas orang sepanjang masa. Dalam kehidupan rohani pun ada orang-orang yang dengan bersemangat menyatakan imannya tanpa merasa perlu untuk mendalami firman Tuhan. Bagi mereka, liturgi gereja, khotbah pendeta ataupun kegiatan keagamaan sudah bisa membuat semangat mereka menggebu-gebu untuk pergi ke gereja. Pada pihak yang lain, ada juga orang-orang yang “jatuh cinta” kepada pengajaran gereja, teologi atau organisasi gereja tertentu, sehingga mereka merasa bahwa pilihan mereka adalah yang terbaik dan benar. Apakah ini juga bisa dinamakan cinta buta?

Paulus dalam ayat diatas menulis tentang doanya untuk jemaat di Filipi agar kasih mereka makin melimpah dalam pengetahuan yang benar (knowledge), sehingga mereka dapat mempunyai kemampuan untuk memilih apa yang baik (discernment), dan supaya mereka bisa hidup dalam kejujuran (sincerity) dan tak hidup dalam dosa (blameless). Lebih dari itu, Paulus berdoa agar mereka bisa menghasilkan berbagai perbuatan yang baik melalui Yesus (good works) untuk memuliakan Allah. Kasih umat Kristen, berbeda dengan cinta duniawi, ternyata tidak buta. Kasih bertujuan untuk memuliakan Tuhan yang sudah lebih dulu mengasihi kita.

Kasih yang harus dipunyai setiap orang Kristen bukanlah suatu kewajiban yang harus dilaksanakan dengan membabi-buta tanpa pikir. Sebaliknya, jika umat Kristen ingin untuk bisa mengasihi sesamanya, mereka harus berdoa agar mereka bisa melakukannya dengan bijaksana agar bisa memilih apa yang baik dan berguna bagi hidup mereka dan bagi hidup orang lain. Kasih yang benar tidak akan mengurbankan prinsip-prinsip  kejujuran dan kesucian hidup yang dituntut Tuhan, dan kasih yang benar selalu dapat menghasilkan apa yang baik sesuai dengan firman Tuhan. Kasih tidak semudah atau semurah cinta. Kasih datang dari Allah dan kita harus mengerti apa yang dikehendakiNya untuk dapat mengasihi. Inilah yang juga pernah didoakan Paulus untuk jemaat di Efesus.

‘Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan. Aku berdoa, supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah.”  Efesus 3: 18 – 19

Pagi ini, mungkin kita ingin menyatakan kasih kita kepada orang lain, kepada teman, sanak atau pun keluarga. Mungkin kita ingin agar membuat mereka berbahagia dengan berbagai perhatian, pemberian atau pengurbanan. Tetapi firman Tuhan berkata bahwa untuk bisa memberi kasih yang benar kita harus mempunyai kebijaksanaan, dan bisa membedakan apa yang baik dan apa yang buruk. Kasih yang benar adalah kasih yang membangun hidup orang lain didalam Kristus, kasih yang seperti kasih Kristus adalah kasih yang membawa orang kearah keselamatan, bukan kearah kehancuran dalam impian. Kasih yang benar akan mempertahankan apa yang baik dan menhilangkan apa yang buruk dari hidup kita dan hidup orang lain, agar hidup kita dan orang-orang yang kita kasihi bisa membawa kemuliaan kepada Tuhan.

 

Carilah firman Tuhan yang asli

“Tetapi kami menolak segala perbuatan tersembunyi yang memalukan; kami tidak berlaku licik dan tidak memalsukan firman Allah. Sebaliknya kami menyatakan kebenaran dan dengan demikian kami menyerahkan diri kami untuk dipertimbangkan oleh semua orang di hadapan Allah.” 2 Korintus 4: 2

Beberapa tahun terakhir ini kita bisa banyak menjumpai begitu banyak berita palsu alias hoax, terutama di media sosial. Dalam hal ini, pemerintah negara mana pun berusaha untuk mengatasi peredaran berita-berita palsu yang bisa menimbulkan kekacauan dan kebingungan dalam hidup bernegara. Selain berita palsu, adanya berbagai berita-berita tendensius juga bisa menimbulkan kebencian antar golongan, dan ini pun harus bisa diatasi.

Jika berita palsu mengenai hal yang bersangkutan dengan politik dan hukum umumnya ditangani pemerintah, kebohongan yang menyangkut agama biasanya diabaikan pemerintah, selama itu tidak menimbulkan kekacauan dalam masyarakat. Dengan demikian, setiap orang beragama bisa saja mengungkapkan pendapat keagamaanya selama tidak melecehkan orang atau agama lain. Dengan demikian, tidaklah mengherankan jika banyak tokoh agama yang memakai cara mereka sendiri untuk menarik perhatian masyarakat. Mereka dengan tidak malu-malu, menggunakan prinsip-prinsip bisnis keduniawian untuk mencari keuntungan dan nama besar. Seringkali mereka menggunakan apa yang tidak sesuai dengan firman Tuhan, dan bahkan berbagai kebohongan dan sensasi untuk mencari pengagum dan pengikut.

Agaknya bukan di zaman ini saja kita menemui orang-orang Kristen yang kelihatannya rajin mengabarkan injil, tetapi apa yang disampaikan mereka belum tentu sesuai dengan firman Tuhan yaitu Alkitab. Paulus dalam ayat di atas mengingatkan jemaat di Korintus bahwa ia dan rekan-rekannya tidak pernah melakukan perbuatan tersembunyi yang memalukan; mereka tidak mau berlaku licik dan memalsukan firman Allah. Sebaliknya, mereka menyatakan kebenaran Tuhan tanpa tedeng aling-aling. Dengan demikian mereka menyerahkan diri mereka dengan segala pengajaran mereka untuk dipertimbangkan oleh semua orang di hadapan Tuhan.

Hari ini firman Tuhan menegaskan bahwa sebagai umat Tuhan kita harus berhati- hati menanggapi pengajaran mereka yang terkenal sebagai tokoh yang mempunyai karisma, yang terlihat bijak dan pandai menyampaikan firman Tuhan, yang mempunyai pengalaman pribadi yang nampaknya hebat. Sebagai umat Kristen kita harus mengukur semua pengajaran mereka dengan Alkitab. Dengan rajin mempelajari firman Tuhan, kita akan dapat menguji dan mempertimbangkan ajaran-ajaran mereka.

Mereka yang benar-benar hamba Tuhan adalah orang-orang yang tulus yang tidak mencari kehormatan atau kekayaan diri sendiri. Mereka tidak melakukan perbuatan tersembunyi atau hal-hal yang memalukan; mereka tidak memakai cara-cara licik dalam mengabarkan Injil dan tidak pernah memalsukan firman Allah dengan menggantinya dengan pikiran manusiawi. Mereka adalah orang-orang yang rendah hati dan mau mendengarkan pendapat orang lain dan tidak berpegang pada pengertian diri sendiri.

“Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah percaya akan setiap roh, tetapi ujilah roh-roh itu, apakah mereka berasal dari Allah; sebab banyak nabi-nabi palsu yang telah muncul dan pergi ke seluruh dunia.” 1 Yohanes 4: 1

Kobarkan semangatmu!

“Karena itulah kuperingatkan engkau untuk mengobarkan karunia Allah yang ada padamu oleh penumpangan tanganku atasmu. Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban.” 2 Timotius 1: 6 – 7

Pernahkah anda mengalami rasa lelah yang sangat besar sehingga anda tidak ingin meninggalkan tempat tidur? Banyak orang yang mengalami hal yang serupa, terutama pada hari Senin, tatkala mereka harus pergi bekerja setelah berlibur akhir pekan. Mungkin saja rasa lelah itu sehubungan dengan kelelahan psikologi daripada kelelahan jasmani. Tetapi bagi orang yang mengalaminya, melanjutkan tidur mungkin adalah satu-satunya cara yang dikenalnya untuk menghilangkan kelelahan, sekali pun itu seringkali justru membuatnya merasa lebih lelah!

Kelelahan kejiwaan seringkali sulit didiagnosa atau diatasi. Tetapi, kelelahan ini tidaklah sama dengan kelelahan rohani yang sering dialami orang Kristen. Sebagai orang percaya, kelelahan rohani bukan sehubungan dengan suasana kehidupan di dunia, tetapi dengan adanya kekosongan yang mungkin terasa dalam hati karena hubungan yang kurang baik dengan Tuhan. Jika hidup kita terasa berat dan kacau, dan kita tidak dapat merasakan penyertaan Tuhan, di saat itulah kita merasa kecewa, lemah, takut dan kuatir. Pada saat yang demikian, mungkin kita tidak dapat merasakan adanya kasih Tuhan dan sesama. Mungkin kita pada saat itu sedang mengalami krisis rohani atau spiritual crisis.

Paulus dalam suratnya kepada Timotius, mengingatkannya untuk tetap bersemangat dalam menempuh hidup sebagai umat Tuhan. Hidup sebagai orang Kristen tidaklah mudah, terutama untuk Timotius yang belum banyak berpengalaman. Karena itu, Paulus selalu mendoakan Timotius agar ia tetap teguh dalam iman. Paulus tahu bahwa ada keadaan tertentu yang bisa membuat Timotius merasa lelah, takut atau apatis. Seperti orang lain, memang Timotius bisa mengalami kelelahan rohani. Tetapi Paulus mengingatkan Timotius bahwa ia sudah menerima karunia Tuhan yang disampaikan oleh Paulus. Karunia ini adalah berkat rohani yang harus dipelihara dan bahkan dikobarkan oleh Timotius, karena apapun yang diterima dari Tuhan haruslah dipupuk untuk menjadi makin kuat dan bukannya makin lemah dengan berjalannya waktu.

Hari ini, firman Tuhan mengingatkan kita bahwa kita harus mengobarkan semangat rohani kita dengan berpegang teguh pada apa yang sudah kita terima dari Tuhan. Mungkin kita belum lama menjadi orang Kristen, seperti Timotius. Mungkin juga kita sudah banyak makan asam-garam kehidupan rohani seperti Paulus. Tetapi, apapun status rohani kita, jika kita tidak rajin memupuk pertumbuhan iman, hidup kita akan perlahan-lahan diracuni oleh ketakutan dan kelelahan. Biarlah kita selalu mau mengobarkan segala karunia Tuhan yang sudah kita terima agar bisa membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban dalam hidup kita!

Semua sama di hadapan Tuhan

“Dan mengenai mereka yang dianggap terpandang itu bagaimana kedudukan mereka dahulu, itu tidak penting bagiku, sebab Allah tidak memandang muka bagaimanapun juga, mereka yang terpandang itu tidak memaksakan sesuatu yang lain kepadaku.” Galatia 2: 6

Mengapa orang-orang tertentu dianggap terpandang? Di zaman ini orang sedemikian sering disebut orang elit, yaitu orang yang berderajat tinggi (kaum bangsawan, cendekiawan, dan jutawan dan sebagainya). Mereka biasanya dihormati atau dikagumi orang lain dan karena itu sering menuntut perlakuan istimewa dimana saja mereka berada.

Dalam masyarakat, orang yang dulunya bukan orang terpandang, bisa saja kemudian menjadi orang terpandang karena mendapat jabatan penting, diangkat sebagai anggota keluarga kaum bangsawan, atau memperoleh penghormatan khusus karena prestasinya. Orang menjadi terpandang biasanya karena masyarakat menempatkan mereka pada tempat yang lebih tinggi dari orang kebanyakan. Ini lebih sering terjadi di dunia Timur, tetapi masih ada juga di dunia Barat.

Dalam kehidupan beragama, orang yang terpandang biasanya adalah mereka yang menjadi pimpinan atau tokoh agama, yang dianggap sebagai orang yang lebih saleh hidupnya. Itu tidak hanya berlaku pada golongan non Kristen, tetapi juga dalam agama Kristen dari segala denominasi. Mereka yang terpandang bisa saja orang yang mengakui atau terlihat sebagai orang yang mempunyai karunia khusus atau pengalaman rohani yang istimewa.

Sebenarnya, semua orang Kristen adalah orang yang terpandang. Mengapa demikian? Karena mereka dulunya adalah orang durhaka yang sudah sepatutnya masuk ke neraka, tetapi karena menerima kemurahan Tuhan, mereka sudah menjadi anak-anak Tuhan yang berhak untuk masuk ke surga. Dengan demikian, dunia seharusnya bisa melihat bahwa mereka adalah orang yang mempunyai cara hidup dan tingkah laku yang berbeda.

Sayang sekali, mereka yang sebenarnya adalah “bangsawan”, yaitu umat Tuhan, seringkali masih bertindak-tanduk seperti orang dunia. Selain itu, ada juga orang-orang Kristen yang masih suka memandang muka, dengan secara berlebihan menghormati mereka yang terlihat terkemuka dalam gereja, sekalipun di hadapan Tuhan mereka sama derajatnya. Anehnya, terhadap orang lain yang kurang mampu atau terpandang, mereka tidak akan memandang sebelah mata.

Ayat tulisan Paulus kepada jemaat di Galatia mengingatkan kita bahwa sebagai orang Kristen kita tidak boleh memandang muka, karena Tuhan sendiri tidak membeda-bedakan umatNya. Sebagai orang terpilih kita juga tidak boleh meminta penghormatan atau perhatian istimewa dari orang lain karena kita menjadi umatNya semata-mata karena anugerah Tuhan. Selain itu, sebagai orang Kristen kita harus tetap rendah hati dan mau mengasihi siapa pun karena Tuhan juga mengasihi seluruh umat ciptaanNya.

“Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.” Filipi 2: 5 – 7

Cara berdoa yang baik

“Dan inilah keberanian percaya kita kepada-Nya, yaitu bahwa Ia mengabulkan doa kita, jikalau kita meminta sesuatu kepada-Nya menurut kehendak-Nya.” 1 Yohanes 5: 14

Baru-baru ini saya membaca sebuah tulisan keagamaam yang menganjurkan orang untuk berdoa pada waktu tertentu agar bisa memperbesar kemungkinan untuk dikabulkan Tuhan. Menurut tulisan itu, jika kita berdoa pada saat tertentu, makin besar kemungkinan untuk mendapat berkat Tuhan yang terbaik. Tidak jelas mengapa hal itu dianjurkan sedangkan Tuhan yang mahakuasa dan mahahadir tentunya selalu tahu kapan saja kita berdoa dan apa yang kita doakan. Tuhan yang selalu ada dan tidak pernah tidur tentunya selalu mau mendengarkan doa umatNya.

Di antara umat Kristen, memang ada yang percaya bahwa berdoa di  tempat-tempat tertentu memberi kemungkinan yang lebih besar untuk mendapat jawaban Tuhan. Karena itu, tempat-tempat sedemikian biasanya penuh sesak dengan orang yang datang untuk berdoa. Selain itu, ada pula orang yang mengajarkan cara berdoa tertentu atau melalui perantaraan orang tertentu, agar bisa lebih menjamin datangnya berkat dan pertolongan Tuhan. Walaupun demikian, kebanyakan orang Kristen percaya bahwa mereka bisa berdoa dimana saja, dengan siapa saja, dan kapan saja.

Jika orang Kristen bebas untuk berdoa kapan saja dan dimana saja, biasanya orang memang lebih sering berdoa di tempat tertentu dan pada saat tertentu. Itu sekedar kebiasaan, dan bukan keharusan.  Orang Kristen  dianjurkan untuk berdoa atau berkomunikasi dengan Tuhan sesering mungkin, tetapi mungkin kita lebih merasakan dorongan untuk berdoa di tempat tertentu atau pada saat dimana kita membutuhkan Tuhan. Itu tidak ada salahnya. Walaupun demikian, apakah doa manusia menentukan apa yang akan terjadi? Adakah manfaat doa manusia dalam mempengaruhi keputusan Tuhan? Inilah hal yang sering menjadi polemik di antara umat Kristen. Bagaimana kata Alkitab?

Ayat di atas menyatakan bahwa orang Kristen yakin dan percaya bahwa Tuhan akan mengabulkan permintaan mereka jika apa yang dipinta adalah sesuai dengan kehendakNya. Dengan demikian, kita tidak dapat mengharapkan bahwa doa kita akan terkabul jika apa yang kita pinta tidak sesuai dengan apa yang direncanakan Tuhan. Dalam kenyataannya, Tuhan Yesus pernah mengajarkan dalam Doa Bapa Kami: “… datanglah KerajkaanMu, jadilah kehendakMu di bumi seperti di surga“. Selain itu Tuhan Yesus berdoa di taman Getsemani: “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.” Dari sini dapat disimpulkan bahwa kita boleh berdoa dan memohon sesuatu, tetapi kita tidak dapat memaksakan kehendak kita kepada Tuhan. Kita tidak dapat mengharapkan bahwa Tuhan yang selalu mendengarkan permohonan kita akan mengabulkan permintaan kita jika permintaan kita bertentangan dengan kehendakNya.

Adakah cara yang terbaik untuk memperoleh jawaban positif dari Tuhan? Ada! Jika kita memohon apa yang memang dikehendaki Tuhan, sudah pasti itu akan terjadi. Tetapi, jika Tuhan menghendaki sesuatu dan kita tidak dapat membatalkan atau mengubahnya, apakah perlunya kita berdoa? Inilah misteri hubungan antara umat dan Tuhan yang tidak dapat dimengerti orang yang bukan Kristen. Malahan sebagian orang Kristen juga masih percaya bahwa jika memang kita bersungguh-sunguh dan “ngotot” dengan doa kita, Tuhan pada akhirnya mungkin mengalah dan menyesuaikan rencanaNya dengan kehendak kita.

Rahasia suksesnya doa memang sulit dimengerti, sekalipun  seharusnya dipahami oleh setiap orang Kristen. Satu-satunya jalan untuk memperoleh apa yang kita mohonkan adalah menyesuaikan permohonan kita dengan kehendakNya. Tetapi untuk mengerti apa yang dikehendaki Tuhan, kita harus dekat kepadaNya. Dan untuk dekat dengan Dia, kita harus rajin berdoa, berkomunikasi dengan Dia. Doa adalah nafas kehidupan rohani kita. Tanpa doa, hubungan kita dengan Tuhan akan pelan-pelan menjadi mati. Dengan demikian, kita tidak lagi bisa memahami apa yang dikehendakiNya. Kita harus sadar bahwa doa kita yang tidak terkabul mungkin adalah doa yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Lebih dari itu, jika kita  mengalami atau memperoleh sesuatu, baik yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan, kita tetap harus berusaha mencari kehendak Tuhan di masa depan melalui doa yang tidak berkeputusan.