“Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku.” Matius 10: 37
Hari Minggu mendatang adalah Hari Ayah di Australia (Father’s day). Hari Ayah adalah hari untuk menghormati ayah yang dirayakan pada pekan pertama di bulan September di negara Australia, Selandia Baru, Fiji dan Papua Nugini. Sementara di Amerika, dan lebih dari 75 negara lain, seperti Kanada, Jerman, Italia, Jepang, Belanda, Turki, Pakistan, Malaysia, Singapura, Taiwan, Filipina, dan Hongkong, Hari Ayah dirayakan pada hari Minggu di pekan ke tiga bulan Juni. Di Indonesia Hari Ayah dirayakan pada tanggal 12 November sejak tahun 2006.
Biasanya Hari Ayah dirayakan dengan pemberian hadiah kepada ayah dan kegiatan kekeluargaan. Pada banyak keluarga, kaum ayah dianggap sebagai tulang punggung, sandaran, dan pelindung, dan karena itu setahun sekali mereka boleh merasa “dimanjakan” oleh anggota keluarganya. Setahun sekali, seorang ayah boleh merasakan bahwa segala jerih payahnya dihargai oleh anak-istrinya. Perlu dicatat bahwa dalam masyarakat tertentu hal memanjakan orang tua, terutama yang sudah berumur, memang merupakan sesuatu yang diharuskan untuk dilakukan anak-anak setiap hari.
Siapa yang tidak mau dimanjakan? Agaknya semua orang akan senang jika orang lain memperlakukan mereka dengan penuh kasih sayang dan perhatian. Walaupun demikian, hal memanjakan dalam hidup sehari-hari bisa mempunyai konotasi yang kurang baik. Istilah “orang manja” bisa diartikan sebagai orang yang kurang baik adat kelakuannya karena selalu diberi hati, orang yang tidak pernah ditegur (dimarahi), atau orang dituruti semua kehendaknya. Dalam kenyataannya, setiap orang mempunyai potensial untuk menjadi orang manja karena adanya orang yang memanjakan.
Orang yang memanjakan orang lain biasanya tidak bermaksud buruk, karena mereka biasanya ingin menyatakan kasih sayangnya. Apa yang buruk biasanya berasal dari perasaan ketergantungan kepada orang lain sehingga pemanjaan dilakukan agar mereka menerima balasan atau perhatian dari orang yang dimanjakan. Selain itu, mereka yang memanjakan seringkali merasa bahwa orang yang dimanjakan adalah orang yang patut dikagumi dan dicintai sepenuh hati. Dengan kata lain, orang yang dimanjakan adalah orang yang menjadi pusat hidup mereka. Ketergantungan dan kekaguman kepada orang lain inilah yang bisa membuat hubungan manusia dengan Tuhan menjadi hal yang kurang penting. Mereka yang selalu dimanjakan pada akhirnya akan merasa bahwa diri mereka adalah yang paling penting.
Dalam kehidupan keluarga, bukan saja suami yang bisa dimanjakan, istri atau anak juga bisa mengalami hal yang serupa. Selain itu, di gereja ada pendeta-pendeta tertentu mengalami pemanjaan jemaatnya, dan di negara-negara tertentu para pemimpin sangat diagung-agungkan rakyatnya. Mereka yang dimanjakan mungkin saja merasa senang dengan perlakuan yang mereka terima dari orang lain, tanpa menyadari bahwa mereka membiarkan terjadinya hal yang dibenci oleh Tuhan.
Pagi ini, ayat di atas menjelaskan bahwa mereka yang mengasihi bapa atau ibunya lebih dari Tuhan, ia tidak layak bagi Tuhan; dan barangsiapa mengasihi anaknya lebih dari pada Tuhan, ia tidak juga layak bagi Tuhan. Dengan demikian, mereka yang mengagumi orang lain lebih dari Tuhan, mereka yang menaati manusia lebih dari Tuhan, mereka yang bergantung pada manusia lebih dari Tuhan, mereka yang lebih takut kepada manusia lebih dari pada Tuhan, dan mereka yang siap mengurbankan diri untuk manusia lebih dari Tuhan, akan membuat Tuhan cemburu. Apa yang mungkin dipandang sebagai pernyataan cinta kasih dan pengabdian kepada sesama manusia, bisa menjadi hal yang membuat mereka tidak pantas menjadi pengikut Tuhan.
“Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu.” Markus 12: 30

Kemarin malam, dalam sebuah persekutuan doa saya dan teman-teman seiman membahas Mazmur 84 yang ditulis oleh anak-anak Korah. Korah bin Yizhar bin Kehat bin Lewi beserta tiga orang Ruben mengajak 250 orang lainnya untuk memberontak terhadap kepemimpinan sepupunya sendiri, Musa dan Harun, di padang gurun. Akibatnya ia dan para pengikutnya mati ditelan bumi dan dibakar api. Keturunan anak-anak Korah yang tidak ikut dalam pemberontakan, ternyata dibebaskan dari hukuman Tuhan dan kemudian aktif dalam pelayanan di Kemah Suci. Sejumlah nyanyian pengajaran dan nyanyian mereka dicatat sebagai Mazmur, termasuk Mazmur 84 yang ditampilkan oleh Daud.

Baru-baru ini saya mendapat kiriman sebuah video tentang seorang yang dikabarkan sudah bangkit dari kematian setelah dua tahun dikubur. Video yang ditampilkan memperlihatkan seorang pria yang kurus kering dan pada kulitnya terlihat luka-luka. Dalam ulasan berbahasa Indonesia, dikatakan bahwa orang ini sudah melihat mereka yang disiksa di neraka. Video dan ulasannya agaknya ditampilkan sebagai usaha penginjilan. Sayang sekali semua itu hanyalah kabar bohong saja.
Pagi ini saya membaca bahwa di daerah tertentu di dunia ini masih banyak anak-anak perempuan yang mengalami mutilasi genitalia atau female genital mutilation (FGM) yang sering juga disebut “sunat perempuan”. Pemotongan sebagian alat kelamin wanita ini sudah dilarang di banyak negara, dan di Australia pelakunya bisa dikenakan hukuman penjara sampai 14 tahun. Pasalnya, mutilasi alat kelamin itu bisa menyebabkan berbagai masalah kesehatan baik badani maupun kejiwaan kepada wanita yang mengalaminya. Sebaliknya, sebagian orang yang berusaha mempertahankan kebiasaan itu menyatakan bahwa mutilasi itu perlu untuk menjaga kemurnian badani dan rohani kaum wanita, terutama untuk bisa meredam nafsu seksuil mereka. Mereka yang sudah disunat tidak akan bisa sepenuhnya merasakan kenikmatan seks dan dengan demikian akan mempunyai pikiran yang jernih, begitu salah satu alasan yang banyak dikemukakan para pendukung FGM yang sebagian mengaku Kristen.
Pada waktu saya mendarat di Melbourne pada bulan Juni tahun 1983, sangatlah sedikit pengertian saya tentang sejarah dan demografi Australia. Sselang beberapa bulan setelah itu, saya mulai menyadari bahwa Australia mempunyai penduduk dengan latar belakang etnis yang berbeda-beda. Belanda adalah bangsa asing yang pertama kali datang ke Australia, tetapi Inggris kemudian memutuskan untuk membuat Australia sebagai bagian negaranya pada tahun 1700an. Karena itu, sampai akhir tahun 1800an, sebagian besar orang yang dilahirkan di Australia adalah keturunan Inggris. Setelah perang dunia kedua, Australia membuka kesempatan bagi para pengungsi dari Eropa untuk menetap, tetapi banyak orang dari Asia juga ikut datang. Dari tahun 1945 sampai 1960, ada 1,6 juta pendatang baru yang menetap di Australia.
Tahukah anda apa yang dimaksudkan dengan istilah Tough Mudder? Tough Mudder adalah lomba lari halang rintang sepanjang 16-20 km. Para peserta Tough Mudder dituntut bekerja sama dalam timnya untuk melewati rintangan yang dirancang untuk menguji fisik dan mental. Tough Mudder berbeda dari kompetisi lari lainnya karena tujuan utama lomba ini adalah meningkatkan rasa kerja sama antara para peserta. Dalam perlombaan ini terdapat 20 hingga 25 halangan seperti pagar, tanah berlumpur dan lainnya yang harus dilewati para peserta. Untuk bisa menyelesaikan lomba, para peserta harus mengutamakan kesatuan tim sambil belajar mengatasi rasa takut. Turnamen Tough Mudder hadir untuk pertama kali di Indonesia pada tahun 2016 di Jimbaran, Bali,.
Bagi saya yang sudah lebih dari 35 tahun hidup di luar negeri, bahasa Indonesia tidak lagi merupakan satu bahasa yang mudah dipakai. Banyaknya kata-kata dan ejaan baru sering membuat saya bingung untuk memakainya. Tambahan pula, dengan adanya berbagai kata gaul yang sekarang banyak dipakai anak muda, memaksa saya untuk lebih berhati-hati dalam memilih kata. Salah satu kata yang sudah lama ada tetapi jarang saya pakai adalah kata ganjaran. Menurut kamus besar bahasa Indonesia, ganjaran bisa berarti hukuman tetapi bisa juga berarti hadiah. Bagaimana satu kata bisa mempunyai dua arti yang saling bertentangan? Tentunya kata ini harus diartikan menurut konteksnya.