Hal memanjakan orang yang dikasihi

“Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku.” Matius 10: 37

Hari Minggu mendatang adalah Hari Ayah di Australia (Father’s day). Hari Ayah adalah hari untuk menghormati ayah yang dirayakan pada pekan pertama di bulan September di negara Australia, Selandia Baru, Fiji dan Papua Nugini.  Sementara di Amerika, dan lebih dari 75 negara lain, seperti Kanada, Jerman, Italia, Jepang, Belanda, Turki, Pakistan, Malaysia, Singapura, Taiwan, Filipina, dan Hongkong, Hari Ayah dirayakan pada hari Minggu di pekan ke tiga bulan Juni. Di Indonesia Hari Ayah dirayakan pada tanggal 12 November sejak tahun 2006.

Biasanya Hari Ayah dirayakan dengan pemberian hadiah kepada ayah dan kegiatan kekeluargaan.  Pada banyak keluarga, kaum ayah dianggap sebagai tulang punggung, sandaran, dan pelindung, dan karena itu setahun sekali mereka boleh merasa “dimanjakan” oleh anggota keluarganya. Setahun sekali, seorang ayah boleh merasakan bahwa segala jerih payahnya dihargai oleh anak-istrinya. Perlu dicatat bahwa dalam masyarakat tertentu hal memanjakan orang tua, terutama yang sudah berumur, memang merupakan sesuatu yang diharuskan untuk dilakukan anak-anak setiap hari.

Siapa yang tidak mau dimanjakan? Agaknya semua orang akan senang jika orang lain memperlakukan mereka dengan penuh kasih sayang dan perhatian. Walaupun demikian, hal memanjakan dalam hidup sehari-hari bisa mempunyai konotasi yang kurang baik. Istilah “orang manja” bisa diartikan sebagai orang yang kurang baik adat kelakuannya karena selalu diberi hati, orang yang tidak pernah ditegur (dimarahi), atau orang dituruti semua kehendaknya. Dalam kenyataannya, setiap orang mempunyai potensial untuk menjadi orang manja karena adanya orang yang memanjakan.

Orang yang memanjakan orang lain biasanya tidak bermaksud buruk, karena mereka biasanya ingin menyatakan kasih sayangnya. Apa yang buruk biasanya berasal dari perasaan ketergantungan kepada orang lain sehingga pemanjaan dilakukan agar mereka menerima balasan atau perhatian dari orang yang dimanjakan. Selain itu, mereka yang memanjakan seringkali merasa bahwa orang yang dimanjakan adalah orang yang patut dikagumi dan dicintai sepenuh hati. Dengan kata lain, orang yang dimanjakan adalah orang yang menjadi pusat hidup mereka.  Ketergantungan dan kekaguman kepada orang lain inilah yang bisa membuat hubungan manusia dengan Tuhan menjadi hal yang kurang penting. Mereka yang selalu dimanjakan pada akhirnya akan merasa bahwa diri mereka adalah yang paling penting.

Dalam kehidupan keluarga, bukan saja suami yang bisa dimanjakan, istri atau anak juga bisa mengalami hal yang serupa. Selain itu, di gereja ada pendeta-pendeta tertentu mengalami pemanjaan jemaatnya, dan di negara-negara tertentu para pemimpin sangat diagung-agungkan rakyatnya. Mereka yang dimanjakan mungkin saja merasa senang dengan perlakuan yang mereka terima dari orang lain, tanpa menyadari bahwa mereka membiarkan terjadinya hal yang dibenci oleh Tuhan.

Pagi ini, ayat di atas menjelaskan bahwa mereka yang mengasihi bapa atau ibunya lebih dari Tuhan, ia tidak layak bagi Tuhan; dan barangsiapa mengasihi anaknya lebih dari pada Tuhan, ia tidak juga layak bagi Tuhan. Dengan demikian, mereka yang mengagumi orang lain lebih dari Tuhan, mereka yang menaati manusia lebih dari Tuhan, mereka yang bergantung pada manusia lebih dari Tuhan, mereka yang lebih takut kepada manusia lebih dari pada Tuhan, dan mereka yang siap mengurbankan diri untuk manusia lebih dari Tuhan, akan membuat Tuhan cemburu. Apa  yang mungkin dipandang sebagai pernyataan cinta kasih dan pengabdian kepada sesama manusia, bisa menjadi hal yang membuat mereka tidak pantas menjadi pengikut Tuhan.

“Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu.” Markus 12: 30

 

Membina hubungan suami istri

“Hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, sebagaimana seharusnya di dalam Tuhan. Hai suami-suami, kasihilah isterimu dan janganlah berlaku kasar terhadap dia.” Kolose 3: 18 – 19

old couple in black and white | Elderly couple reminiscing i… | Flickr

Beberapa minggu yang lalu, sepasang suami-istri dari suatu gereja merayakan hari ulang tahun perkawinan  yang ke 50. Lima puluh tahun bukanlah waktu yang singkat, dan karena itu mereka yang masih sehat dan sempat merayakan “kawin mas” atau golden wedding anniversary tentunya merasa sangat berbahagia, begitu pula dengan sanak keluarga mereka. Bagaimana tidak? Mereka yang berbahagia itu nampaknya tidak lelah, tetapi justru masih sanggup untuk saling memberi perhatian dan kasih sayang untuk tahun-tahun mendatang.

Dalam kenyataannya, perkawinan di Australia seringkali tidak berlangsung lama. Beberapa data mengenai hal ini:

  • Pada tahun 2017 ada 112954 perkawinan
  • Pada tahun 2017 ada 40032 perceraian
  • Ada 2 perceraian tiap 1000 orang penduduk
  • Lama perkawinan rata-rata 12 tahun
  • Usia pada saat perceraian yang paling umum 45,5 tahun (pria) dan 42,9 tahun (wanita).

Di Indonesia mungkin angka perceraian tidaklah seburuk itu karena perceraian sering dianggap membawa aib bagi keluarga. Sebab itu banyak orang yang sebenarnya sudah bercerai secara batin sekalipun masih tinggal di bawah satu atap.

Mengapa perceraian mudah terjadi? Pertanyaan ini tidak gampang dijawab karena adanya berbagai faktor yang bisa mempengaruhi hubungan antara suami dan istri. Selain faktor usia, ekonomi, pendidikan, kesehatan, agama, kebudayaan dan agama, ada juga faktor-faktor dari luar yang bisa menghancurkan perkawinan.

Adanya persoalan hidup yang berbagai ragam sebenarnya adalah jamak karena itu adalah bagian hidup manusia di dunia. Walaupun demikian, persoalan yang kecil bisa menjadi besar dan persoalan yang bagaimana pun bisa menghancurkan rumah tangga jika tidak segera diatasi.  Dengan demikian, jelas bahwa perkawinan akan mudah hancur jika tidak ada ikatan yang kuat antara suami dan istri dan komunikasi yang baik dan jujur di antara keduanya.

Ayat di atas adalah ayat yang sering dibahas sebagai pedoman hidup keluarga di kalangan orang Kristen, tetapi juga ayat yang sering menyebabkan perbantahan antara suami dan istri. Mengapa demikian? Dalam ayat itu ada disebutkan bahwa seorang istri harus tunduk kepada suami dan bahwa seorang suami harus mengasihi istrinya. Bagi sebagian kaum wanita, kata “tunduk” sering dipikirkan sebagai kesediaan untuk menjadi seperti hamba yang mau melakukan apa saja yang diminta tuannya. Lebih dari itu, sebagian orang menyangka bahwa istri harus menuruti apa saja yang dimaui suami, sekalipun itu bukan hal yang benar atau yang baik. Tambahan lagi, ada orang Kristen yang berpendapat bahwa tidaklah patut untuk seorang istri merasa lebih pandai, lebih mampu atau lebih bijaksana dari suaminya.

Di zaman modern ini banyak kaum wanita yang memandang bahwa ayat diatas sudah ketinggalan zaman. Bagi sebagian, keharusan untuk tunduk itu dianggap sebagai penyebab kekacauan rumah tangga. Pada pihak yang lain, ada yang berpendapat bahwa kekacauan rumah tangga terjadi karena istri yang selalu tunduk sehingga suami bebas untuk berbuat semaunya. Lalu bagaimana mungkin kata “tunduk” itu bisa muncul dalam Alkitab tidak hanya di kitab Kolose, tetapi juga di kitab Efesus dan Petrus? Dan mengapa “tunduk” merupakan perintah kepada istri, sedang “kasih” ditujukan kepada suami?

“Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, demikian jugalah isteri kepada suami dalam segala sesuatu. Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya” Efesus 5: 24 – 25

Hubungan antara suami dan istri dalam Alkitab ternyata dipakai untuk melambangkan hubungan antara jemaat dan Kristus. Seperti indahnya hubungan antara jemaat dengan Kristus, begitu juga hubungan antara istri dan suami bisa menjadi indah dan langgeng jika mereka menyadari fungsi masing-masing. Seorang suami mempunyai kewajiban untuk melindungi dan mengasihi istrinya seperti Kristus sudah lebih dulu mengurbankan diriNya untuk jemaatNya.

Seorang istri yang merasakan besarnya kasih dan dedikasi sang suami akan bisa dengan sungguh hati menghormati dia. Hal ini mirip dengan jemaat yang mengasihi Kristus karena Ia lebih dulu berkurban. Seorang istri dengan senang hati mau memberikan kesempatan kepada sang suami untuk memimpin rumah-tangga jika sang suami mau melakukan tugasnya. Ini seperti jemaat yang menurut kepada pimpinan Kristus.

Pada kenyataannya, banyak suami yang tidak sadar bahwa ia harus bisa mencontoh Kristus yang mau berkurban untuk jemaatNya. Mereka lupa bahwa jika mereka mau menjadi pemimpin, itu bukanlah berarti menjadi majikan. Seorang suami yang baik akan mengasihi istrinya sama seperti tubuhnya sendiri, sama seperti Kristus yang mengasihi jemaat (Efesus 5: 28 – 29). Pada pihak yang lain, ada juga istri yang selalu ingin untuk ikut berfungsi sebagai pemimpin dalam rumah tangga dan bahkan memandang rendah kemampuan sang suami.

Hubungan suami istri menurut Alkitab bukanlah seperti apa yang diajarkan oleh dunia. Pada saat ini orang cenderung untuk menuntut haknya dan dengan demikian mudah jatuh ke dalam pertikaian. Jika suami hanya menuntut ketaatan istri dan istri hanya menuntut kesabaran dan kasih sayang suami, hidup rumah tangga hanya berisi hal tuntut-menuntut. Sebaliknya, hidup suami istri menurut Alkitab adalah berdasarkan kewajiban.

Baik suami maupun istri harus ingat akan kewajiban mereka, dan berlomba-lomba untuk lebih dulu berbuat baik bagi yang lain. Baik suami maupun istri harus sadar bahwa setiap orang mempunyai kelemahan-kelemahan tersendiri. Dalam hidup berumah tangga kekuatan akan datang dari kasih dan kemurahan hati pasangan hidup kita. Inilah kunci kesuksesan dan kebahagiaan rumah tangga!

Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu, bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah dan harus mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan: Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima.” Kisah Para Rasul 20: 35

Mencari kebahagiaan dalam Tuhan

Berbahagialah orang-orang yang diam di rumah-Mu,yang terus-menerus memuji-muji Engkau. Mazmur 84: 4

Kemarin malam, dalam sebuah persekutuan doa saya dan teman-teman seiman membahas Mazmur 84 yang ditulis oleh anak-anak Korah. Korah bin Yizhar bin Kehat bin Lewi beserta tiga orang Ruben mengajak 250 orang lainnya untuk memberontak terhadap kepemimpinan sepupunya sendiri, Musa dan Harun, di padang gurun. Akibatnya ia dan para pengikutnya mati ditelan bumi dan dibakar api. Keturunan anak-anak Korah yang tidak ikut dalam pemberontakan, ternyata dibebaskan dari hukuman Tuhan dan kemudian aktif dalam pelayanan di Kemah Suci. Sejumlah nyanyian pengajaran dan nyanyian mereka dicatat sebagai Mazmur, termasuk Mazmur 84 yang ditampilkan oleh Daud.

Mazmur 84 adalah sebuah mazmur yang menarik karena berisi pemujaan kepada Tuhan yang merupakan matahari dan perisai bagi orang yang taat kepadaNya (Mazmur 84: 11). Tidaklah mengherankan bahwa ada beberapa lagu Kristen berdasarkan mazmur ini yang bisa ditemukan di Youtube. Lebih dari itu, di Australia ada sebuah band Kristen yang dinamakan Sons of Korah (putra-putra Korah) yang terbentuk pada tahun 1994 di Geelong, Victoria, Australia. Mereka dikenal sebagai pemusik yang menggubah mazmur sebagai lagu-lagu Kristen. Lirik lagu-lagu mereka hampir semuanya berdasarkan kitab Mazmur.

Ayat diatas buat saya adalah ayat yang paling menarik. Mengapa demikian? Ayat itu menyatakan bahwa mereka yang  diam di rumah Tuhan dan yang terus-menerus memuji-muji Dia adalah orang-orang yang berbahagia. Kebahagiaan yang dicari seluruh umat manusia bisa diperoleh dengan datang ke rumah Tuhan dan memuji Dia. Tidaklah mengherankan bahwa ada orang-orang Kristen yang secara khusus pergi ke gereja, bukan saja pada hari Minggu, untuk mendapatkan penghiburan, kekuatan dan kedamaian. Gereja untuk mereka adalah tempat suci kediaman Tuhan, dimana mereka bisa mencurahkan isi hati dan menyampaikan pujian syukur kepada Tuhan yang seperti matahari yang menghilangkan kegelapan dan seperti perisai yang melindungi mereka dari bahaya.

Apa yang mungkin kurang disadari oleh banyak orang Kristen ialah kenyataan bahwa Tuhan kita tidaklah tinggal di gedung gereja. Memang pada zaman Perjanjian Lama, Tuhan secara simbolik berdiam di Bait Allah, ke tempat mana orang-orang Israel pergi berbakti dan di tempat mana para imam mempersembahkan kurban bakaran. Tetapi, sejak kematian Kristus sebagai kurban penebusan dosa manusia yang sempurna, umat Tuhan bisa menghampiri tahtaNya secara langsung dan bisa mempunyai hubungan yang erat dengan Dia. Itu dimungkinkan karena tubuh orang yang percaya sudah menjadi bait Roh Kudus. Roh Kudus yang sudah dianugerahkan kepada setiap orang percaya, tinggal dalam hidup mereka.

Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri? 1 Korintus 6: 19

Walaupun demikian, kesadaran bahwa hidup mereka adalah bait Roh Kudus seringkali dilupakan banyak orang Kristen. Mereka lupa bahwa karena darah Kristus, hidup mereka sepenuhnya menjadi milik Kristus. Karena kita sudah dibeli dengan harga termahal, hidup kita bukan milik kita sendiri.

Tuhan tinggal dalam diri setiap orang percaya dan karena itu kita boleh yakin bahwa kita bisa bersekutu denganNya setiap hari, setiap saat dan dimana saja. Kita bisa menemukan ketenteraman dalam Tuhan jika kita selalu sadar bahwa Roh Kudus selalu siap untuk menolong kita dengan menjadi matahari kehidupan dan perisai yang melindungi kita dari serangan iblis.

Memang dalam hidup ini kita dihadapkan kepada dua pilihan. Kita bisa berjalan dalam kebenaran dan terus menerus memuji Tuhan yang ada dalam hati kita dan  meyakini kasihNya yang selalu hadir baik dalam suka maupun duka. Sebaliknya, kita juga bisa memilih untuk menjalani hidup ini menurut apa yang kita sukai, dan dengan demikian mendukakan Roh Kudus sehingga kita tidak dapat merasakan kehadiran Tuhan dan kasihNya. Manakah yang kita pilih?

Dan janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah, yang telah memeteraikan kamu menjelang hari penyelamatan. Efesus 4: 30

 

Mengobati kelelahan hidup

“Tidakkah kautahu, dan tidakkah kaudengar? TUHAN ialah Allah kekal yang menciptakan bumi dari ujung ke ujung; Ia tidak menjadi lelah dan tidak menjadi lesu, tidak terduga pengertian-Nya. Dia memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya.” Yesaya 40: 28-29

Tahukah anda bahwa salah satu obat yang paling disalahgunakan di Australia adalah obat penghilang rasa sakit atau pain killers? Diperkirakan ada 50 ribu orang tiap tahun menjadi pecandu obat yang hanya bisa diperoleh dengan resep dokter  dan yang lebih berbahaya dari heroin. Obat-obat opioid itu setiap tahunnya memakan banyak korban jiwa, kebanyakan melalui pemakaian yang di atas ambang aman (overdose). Obat-obat keras ini juga merusak tubuh pemakainya jika mereka meminumnya dengan dosis tinggi untuk waktu yang cukup lama. Seperti apa yang terjadi di Amerika, obat-obatan yang mengandung morphine, codeine dan sejenisnya sudah mempunyai banyak pecandu di Australia.

Mengapa begitu banyak orang yang memakai obat pain killer seperti itu? Ada berbagai sebabnya, antara lain karena orang ingin merasakan ketenangan pikiran, menghindari tekanan jiwa, mengurangi kelelahan tubuh atau sekadar mencari kenikmatan dalam ketidaksadaran. Memang, serupa dengan narkoba, obat-obatan ini bisa membuat pemakainya tidak sadar atas keadaan sekitarnya. Banyak pecandu obat semacam ini pada mulanya mungkin ingin mengurangi rasa lelah dan rasa sakit yang dideritanya dengan meminta resep dokter. Lambat laun dosis obat ini makin meningkat karena tubuh  menjadi kebal, dan tanpa disadari mereka menjadi pecandu obat keras.

Di dunia ini, kelelahan memang bisa terjadi pada siapa saja. Apalagi, karena situasi dunia yang makin semrawut, banyak orang yang merasa sangat lelah (fatigue) secara jasmani maupun rohani. Dalam masyarakat modern yang makin individualis, manusia kehilangan rasa aman yang dulu ada karena keeratan hubungan antar anggota keluarga, suku ataupun marga. Dengan demikian, manusia mudah kehilangan tujuan hidup dan harapan untuk memperoleh masa depan yang cerah. Bagi sebagian orang, jalan yang termudah untuk mengatasi segala penderitaan ini adalah meminum obat-obatan yang bisa untuk sementara menghilangkan rasa sakit. Bagi orang yang lain, mungkin doa permohonan kepada Tuhan masih bisa membawa sebuah harapan. Tetapi doa yang bagaimana?

Dalam keadaan yang sangat menekan, adalah mudah bagi orang untuk berdoa agar Tuhan menyingkirkan semua hal yang buruk dari hadapannya. Walaupun demikian, doa semacam itu bukanlah doa yang benar karena penderitaan manusia sebenarnya adalah bagian dari bumi yang sudah jatuh ke dalam dosa. Manusia manapun  tidak bisa menghindari datangnya kesulitan, penyakit ataupun malapetaka, jika itu harus terjadi dalam hidupnya. Walaupun demikian, ayat diatas menjelaskan bahwa Tuhan yang menciptakan bumi dari ujung ke ujung adalah Tuhan yang selalu ada dan tahu apa yang terjadi dalam hidup umatNya. Sekalipun begitu banyak persoalan yang terjadi di dunia, Ia tidak menjadi lelah dan tidak menjadi lesu. Sebagai Tuhan yang mahakuasa dan mahabijaksana, tidak terduga pengertian-Nya.

Hari ini, mungkin tidak ada seorang pun yang tahu bahwa anda mengalami penderitaan yang besar dalam hidup. Mungkin itu penderitaan jasmani yang tidak disadari orang yang terdekat, atau penderitaan rohani yang sudah berlangsung lama. Kemana anda harus lari? Adakah obat yang bisa membawa keringanan dan kesembuhan? Anda sudah mencoba berbagai cara, tetapi penderitaan yang ada tidak juga berkurang. Anda sudah berdoa memohon kelepasan, tetapi semua itu tetap anda derita.  Ayat diatas mengandung satu-satunya harapan bagi kita yang mengalami tekanan hidup. Tuhan yang tidak pernah lelah akan memberi kekuatan kepada mereka yang lelah, dan menambah semangat kepada mereka yang tiada berdaya. Sekalipun beban kita sangat besar, Tuhan adalah mahakasih dan sanggup memberi kita ketabahan dan kesabaran. Maukah kita mempercayakan hidup kita kepadaNya?

Rancangan manusia dan penyertaan Tuhan

Jadi sekarang, hai kamu yang berkata: “Hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu, dan di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung”, sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap. Sebenarnya kamu harus berkata: “Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu.” Yakobus 4: 13 – 15

Insya Allah. Kita sering mendengar kata yang berasal dari bahasa Arab dan mengerti bahwa itu mempunyai arti “jika Tuhan menghendaki”. Dalam bahasa Ibrani, kata yang serupa adalah B’ezrat HaShem yang berarti “dengan pertolongan Tuhan”. Memang, orang yang percaya adanya Tuhan yang mahakuasa tentunya sadar bahwa segala sesuatu hanya bisa terjadi dengan seizinNya. Lebih dari itu, untuk mencapai apa yang diingininya, manusia membutuhkan pertolongan Tuhan untuk membuka jalan.

Dalam kenyataannya, manusia lebih mudah untuk mengatakan kata “jika Tuhan menghendaki” daripada untuk melakukan apa yang semestinya. Manusia seringkali merencanakan segala sesuatu dengan tanpa memikirkan kehendak Tuhan. Manusia sering melakukan sesuatu dan ingin agar Tuhan kemudian memberi “stempel” persetujuanNya. Manusia kebanyakan berusaha untuk mencapai apa yang diingininya dan hanya merasa perlu berdoa jika menemui halangan.

Ayat di atas menyatakan bahwa kesombongan manusia membuat ia merencanakan segala sesuatu tanpa mencari kehendak dan pertolongan Tuhan. Bukankah pepatah mengatakan bahwa kita harus menggantungkan cita-cita kita setinggi langit? Begitulah banyak guru dan orangtua yang mengajarkan hal yang senada, bahwa hidup ini ada di tangan setiap manusia pemiliknya. Menurut banyak orang, mereka yang tidak berani mengambil keputusan tidak akan mencapai apa yang diidamkannya.

Dalam kenyataannya, memang banyak orang yang kurang berhasil hidupnya karena mereka kurang mau bekerja keras atau kurang mau untuk membuat rencana masa depan. Sebaliknya, banyak juga orang yang sangat yakin akan kemampuannya dan berani melangkahkan kaki untuk mengejar cita-citanya, hanya untuk menemui berbagai kesulitan dan kegagalan.

Ayat di atas memperingatkan mereka yang yakin dan bahkan sombong akan hari depan yang cerah, bahwa hidup mereka bukan di tangan mereka sendiri. Apa yang akan terjadi belum tentu sesuai dengan apa yang mereka pikirkan karena Tuhanlah yang memegang kunci kehidupan. Mereka seharusnya menyadari bahwa hanya dengan mencari kehendak dan pertolongan Tuhan mereka akan bisa melaksanakan apa yang mereka rencanakan.

Sebagai umat Kristen, kita tidak dapat mengharapkan bahwa hidup di dunia bisa menjadi mudah dan selalu lancar. Kita tidak juga bisa berharap bahwa tanpa kita berbuat apa-apa Tuhan akan mendatangkan mukjizat yang kita ingini. Selama hidup ini kita justru perlu untuk membuat berbagai rencana dan keputusan. Ini harus dilakukan dengan penyerahan kita kepada kehendakNya. Ini seringkali tidak mudah untuk dilakukan. Tetapi kita bisa mengharapkan datangnya pertolongan Tuhan agar kita bisa melangkah dengan iman dan sanggup menghadapi berbagai jurang dan bukit untuk menuju ke arah yang Tuhan sudah tetapkan bagi kita.

“Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi Tuhanlah yang menentukan arah langkahnya.” Amsal 16: 9

Dusta tidak bisa membawa kebenaran

“Karena itu buanglah dusta dan berkatalah benar seorang kepada yang lain, karena kita adalah sesama anggota.” Efesus 4: 25

Baru-baru ini saya mendapat kiriman sebuah video tentang seorang yang dikabarkan sudah bangkit dari kematian setelah dua tahun dikubur. Video yang ditampilkan memperlihatkan seorang pria yang kurus kering dan pada kulitnya terlihat luka-luka. Dalam ulasan berbahasa Indonesia, dikatakan bahwa orang ini sudah melihat mereka yang disiksa di neraka. Video dan ulasannya agaknya ditampilkan sebagai usaha penginjilan. Sayang sekali semua itu hanyalah kabar bohong saja.

Berita yang nampaknya bisa dipercaya tetapi sebenarnya hoaks muncul hampir tiap hari di berbagai media. Sekalipun orang mungkin bisa menduga adanya kemungkinan kabar bohong, mereka tetap saja suka membacanya dan kemudian meneruskannya ke orang lain. Bagi sebagian orang Kristen, menyampaikan kabar yang berbau rohani, mukjizat atau membawa rasa takjub adalah sesuatu yang biasa, karena mereka mungkin ingin mengabarkan kebesaran Tuhan. Ini bukan saja terjadi melalui media elektronik saja, tetapi juga melalui khotbah di gereja. Bagi mereka, benar atau tidaknya bukan soal, yang penting nama Tuhan dipermuliakan. Tujuan baik dianggap boleh menghalalkan cara.

Bagaimana orang bisa memberitakan kebenaran Tuhan melalui kebohongan? Bukankah dengan menyebarkan kebohongan apa yang benar akan dikaburkan? Benarkah bahwa orang boleh memakai segala cara untuk melebarkan kerajaan Tuhan? Sudah tentu mereka yang mengunakan khayalan dan kebohongan adalah orang-orang yang menghujat Tuhan. Dengan kebohongan mereka, banyak orang akan mempertanyakan kebenaran firman Tuhan.

Kebohongan memang adalah cara iblis untuk menipu manusia, agar mereka menyangsikan kebenaran Tuhan. Kejatuhan manusia ke dalam dosa di taman Eden adalah karena mereka mempercayai iblis. Sejak itu manusia harus hidup menghadapi segala kekejaman dan kebohongan di dunia. Semua manusia yang sudah terperosok dalam dosa, mudah jatuh kedalam hal membohongi dan dibohongi.

Pagi ini, firman Tuhan berkata bahwa sebagai orang Kristen kita harus menjauhi dusta dan sebaliknya menyampaikan apa yang benar seorang kepada yang lain, karena kita adalah sesama anggota tubuh Kristus. Kita tidak boleh hidup seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan pikirannya yang sia-sia. Mereka yang gemar menyebarkan dan mudah menerima kebohongan adalah orang-orang yang gelap pengertiannya, jauh dari hidup persekutuan dengan Allah. Mereka hidup dalam kebodohan dan kejahatan, perasaan mereka telah tumpul, sehingga mereka menyerahkan diri kepada tipu daya iblis. Karena iblis adalah pendusta, melalui dusta manusia menjadi anak-anaknya.

“Iblislah yang menjadi bapamu dan kamu ingin melakukan keinginan-keinginan bapamu. Ia adalah pembunuh manusia sejak semula dan tidak hidup dalam kebenaran, sebab di dalam dia tidak ada kebenaran. Apabila ia berkata dusta, ia berkata atas kehendaknya sendiri, sebab ia adalah pendusta dan bapa segala dusta.” Yohanes 8: 44

Laki-laki dan perempuan adalah sederajat

“Karena kamu semua, yang dibaptis dalam Kristus, telah mengenakan Kristus. Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus. Galatia 3: 27 – 28

Pagi ini saya membaca bahwa di daerah tertentu di dunia ini masih banyak anak-anak perempuan yang mengalami mutilasi genitalia atau female genital mutilation (FGM) yang sering juga disebut “sunat perempuan”. Pemotongan sebagian alat kelamin wanita ini sudah dilarang di banyak negara, dan di Australia pelakunya bisa dikenakan hukuman penjara sampai 14 tahun. Pasalnya, mutilasi alat kelamin itu bisa menyebabkan berbagai masalah kesehatan baik badani maupun kejiwaan kepada wanita yang mengalaminya. Sebaliknya, sebagian orang yang berusaha mempertahankan kebiasaan itu menyatakan bahwa mutilasi itu perlu untuk menjaga kemurnian badani dan rohani kaum wanita, terutama untuk bisa meredam nafsu seksuil mereka. Mereka yang sudah disunat tidak akan bisa sepenuhnya merasakan kenikmatan seks dan dengan demikian akan mempunyai pikiran yang jernih, begitu salah satu alasan yang banyak dikemukakan para pendukung FGM yang sebagian mengaku Kristen.

Terlepas dari pro dan kontra mengenai adat-kebiasaan yang ada dalam masyarakat tertentu, bagi banyak kaum wanita dan dokter di dunia FGM adalah suatu tindakan pelecehan dan penyiksaan karena tidak saja kaum wanita dianggap sebagai benda milik kaum pria, mereka harus mengalami prosedur yang tidak ada manfaatnya secara medis dan malahan bisa menghilangkan/mengurangi fungsi tubuh mereka serta menyebabkan rasa sakit sepanjang hidup mereka. Memang akibat sunat pada kaum wanita sangat berlainan dengan akibat sunat pada kaum pria karena pada kaum wanita, ini merupakan pemotongan bagian tubuh yang penting dan bukannya sekedar kulit yang tidak berguna.

Secara fisik tubuh wanita tidaklah sama dengan tubuh pria, tetapi sebagai manusia mereka mempunyai kemerdekaan dan hak azasi yang sama dengan orang lain. Sayang sekali bahwa dalam sejarah, kaum wanita sering mengalami pelecehan dalam berbagai bentuk karena perbedaan fisik itu. Mereka sering dianggap sebagai obyek permainan kaum pria dan dibatasi dalam hal kemerdekaan dan hak azasi sehingga mereka sering dipaksa untuk menuruti apa yang dikehendaki orang lain. Kaum pria yang sebenarnya diharapkan untuk mengasihi dan melindungi kaum wanita, justru sering muncul sebagai penguasa dan pemilik lawan jenisnya.

Ayat di atas sangat sering dibaca oleh umat Kristen dan biasanya dikaitkan dengan keselamatan dari Kristus yang diberikan kepada semua orang percaya tanpa memandang status mereka. Dalam hubungan vertikal, kasih Yesus tercurah kepada siapa saja yang mau menerimanya. Walaupun demikian, ayat itu juga mengingatkan kita bahwa sebagai orang percaya, kita harus memperlakukan semua orang sebagai orang yang sederajat di hadapan Tuhan. Semua orang sudah berdosa dalam mata Tuhan, dan semua orang sudah diberi kesempatan yang sama untuk diselamatkan. Karena itu, dalam hubungan horisontal, kita harus memperlakukan setiap orang, laki-laki maupun wanita, sebagai manusia yang mungkin sangat berbeda dalam penampilan tetapi mempunyai kedudukan/derajat yang sama. Pria dan wanita diciptakan dengan bentuk dan fungsi yang berbeda, tetapi semuanya diciptakan sebagai gambar Tuhan dan untuk kemuliaan Tuhan.

Pagi ini, marilah kita memikirkan hal-hal yang membedakan pria dan wanita. Sebagai orang Kristen kita tidak boleh terseret ke arah pandangan yang menganggap pria dan wanita adalah sama dalam segala hal. Perbedaan yang diciptakan Tuhan justru bisa untuk saling melengkapi. Walaupun demikian, kita tidak boleh  mempunyai pandangan bahwa manusia mempunyai hak dan kemerdekaan yang berbeda. Mereka yang sudah diselamatkan akan sadar bahwa mereka tanpa pandang bulu, sudah dikaruniai Tuhan hak untuk menjadi anak-anak Allah dan dimerdekakan dari kuasa dosa. Sebagai orang Kristen kita harus mau untuk berjuang untuk menyadarkan orang lain akan kebenaran dari Tuhan: bahwa semua manusia adalah sederajat dan harus saling menghargai.

Semua manusia adalah ciptaan Tuhan

Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. Kejadian 1: 27

Pada waktu saya mendarat di Melbourne pada bulan Juni tahun 1983, sangatlah sedikit pengertian saya tentang sejarah dan demografi Australia. Sselang beberapa bulan setelah itu, saya mulai menyadari bahwa Australia mempunyai penduduk dengan latar belakang etnis yang berbeda-beda. Belanda adalah bangsa asing yang pertama kali datang ke Australia, tetapi Inggris kemudian memutuskan untuk membuat Australia sebagai bagian negaranya pada tahun 1700an. Karena itu, sampai akhir tahun 1800an, sebagian besar orang yang dilahirkan di Australia adalah keturunan Inggris. Setelah perang dunia kedua, Australia membuka kesempatan bagi para pengungsi dari Eropa untuk menetap, tetapi banyak orang dari Asia juga ikut datang. Dari tahun 1945 sampai 1960, ada 1,6 juta pendatang baru yang menetap di Australia.

Pada saat ini kira-kira 67,4% penduduk Australia adalah keturunan Inggris, sedangkan penduduk aslinya hanya 3%. Mereka yang keturunan Irlandia ada 8,7%,  Italia sekitar 3,8%, Yunani sekitar 1,6%, dan Belanda 1,2%. Bagaimana dengan orang Indonesia? Menurut sensus 2011 ada sekitar 48.000 orang yang mengaku keturunan Indonesia di antara 22,3 juta penduduk Australia. Dari jumlah ini 59% mengaku beragama Kristen, 19,4% Islam, 10,3% Budha, dan 6.8% tidak beragama. Dengan melihat data statistik di atas bisa dibayangkan bahwa Australia sekarang adalah negara yang mempunyai beragam kebudayaan (multicultural) dan banyak kepercayaan (multifaith). Dengan banyaknya jenis manusia yang mempunyai latar belakang yang berbeda, susunan demografi Australia tentunya berubah secara dinamis tahun demi tahun.

Salah satu masalah dalam masyarakat Australia yang berbeda ragamnya adalah hal kerukunan. Tidak hanya kerukunan beragama yang diperlukan, tetapi juga kerukunan sosial dan politik. Walaupun demikian, kerukunan sosial atau kerukunan bermasyarakat itu sering dipengaruhi oleh oleh faktor-faktor agama, etnis dan politik. Mereka yang datang dari negara lain ke Australia, seringkali masih mempunyai ikatan dengan keadaan agama, etnis dan politik  di negara asalnya. Inilah yang kadang -kadang menimbulkan keadaan yang tidak menyenangkan. Memang orang sering lupa bahwa sesudah menjadi warga Australia, seharusnya mereka melupakan adanya perbedaan untuk bisa bersatu dan saling menghormati sebagai rakyat dari satu negara.

Dalam kenyataannya, perbedaan etnis seringkali membuat manusia bertengkar dengan sesama. Itu karena orang sering memandang orang lain yang berbeda penampilannya sebagai makhluk yang lebih rendah derajatnya atau lebih buruk kemampuannya. Sejarah membuktikan bahwa banyak kekejaman terjadi karena kebencian kelompok tertentu atas kelompok yang lain. Tetapi, bagi umat Kristen hal membeda-bedakan manusia itu tidak dapat dibenarkan. Menurut Alkitab, Tuhan pada mulanya menciptakan sepasang manusia. Sejak penciptaan Adam dan Hawa, manusia berkembang biak dan menjadi banyak dalam jumlah dan ragamnya.

Sebagian manusia yang tidak percaya kepada Tuhan memang mudah terpancing dalam keyakinan bahwa mereka adalah lebih baik dari orang lain. Tetapi, mereka yang percaya adanya Tuhan pun bisa terjebak dalam keyakinan bahwa Tuhan menciptakan kelompok-kelompok tertentu sebagai “manusia unggul” yang lebih baik, lebih murni dan lebih berharga dari orang lain. Ini mungkin bisa dilihat dalam kehidupan manusia dalam perjanjian lama yang seringkali membeda-bedakan perlakuan kepada sesama. Tetapi, kedatangan Yesus ke dunia mengubah semua itu. Ia mengajarkan kasih kepada sesama, kasih yang tidak memandang bulu, yang tidak memandang perbedaan ras, status sosial dan apapun. Lebih dari itu, Ia mengajarkan bagaimana  kita harus mengasihi musuh kita.

Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan umat manusia. Ia datang bukan untuk orang Yahudi, orang Yunani ataupun bangsa-bangsa tertentu saja (Yohanes 3: 16).  Yesus juga mengajarkan bahwa Allah menerbitkan matahari dan mendatangkan hujan untuk semua ciptaanNya (Matius 5: 45). Tambahan pula, Yesus memerintahkan kita untuk mengabarkan injil ke semua bangsa dan menjadikan mereka muridNya (Matius 28: 19). Yesus juga memberi Roh Kudus kepada para pengikutNya sehingga mereka dapat memakai berbagai bahasa (Kisah Para Rasul 2: 4). Dengan demikian, tidak ada alasan bagi manusia manapun untuk memandang orang lain lebih rendah atau lebih tidak berarti. Di hadapan Tuhan, semua manusia adalah sama: orang berdosa yang hanya bisa diselamatkan melalui darah Yesus (Roma 3: 23- 24).

Pagi ini, adakah rasa prihatin dalam hati anda melihat suasana di sekitar kita? Mengapa ada orang-orang yang memperlakukan orang lain dengan semena-mena? Mengapa ada orang yang menganggap orang lain sebagai makhluk yang kurang berarti? Mengapa ada orang yang merasa lebih unggul, lebih baik dan lebih berharga dari orang lain? Sebagai umat Kristen kita harus sadar bahwa Tuhan menciptakan semua manusia menurut gambarNya. Semua perlakuan yang tidak baik kepada sesama manusia pada hakikatnya adalah penghinaan terhadap Sang Pencipta.

Jangan hanya menonton

“Ikutlah menderita sebagai seorang prajurit yang baik dari Kristus Yesus.” 2 Timotius 2: 3

Tahukah anda apa yang dimaksudkan dengan istilah Tough Mudder? Tough Mudder adalah lomba lari halang rintang sepanjang 16-20 km. Para peserta Tough Mudder dituntut bekerja sama dalam timnya untuk melewati rintangan yang dirancang untuk menguji fisik dan mental. Tough Mudder berbeda dari kompetisi lari lainnya karena tujuan utama lomba ini adalah meningkatkan rasa kerja sama antara para peserta. Dalam perlombaan ini terdapat 20 hingga 25 halangan seperti pagar, tanah berlumpur dan lainnya yang harus dilewati para peserta. Untuk bisa menyelesaikan  lomba, para peserta harus mengutamakan kesatuan tim sambil belajar mengatasi rasa takut. Turnamen Tough Mudder hadir untuk pertama kali di Indonesia pada tahun 2016 di Jimbaran, Bali,.

Barangkali kehidupan orang Kristen di dunia bisa dibayangkan sebagai kompetisi olahraga. Paulus pada zamannya menggunakan ilustrasi pelari dan petinju untuk menggambarkan bagaimana orang Kristen harus berjuang untuk mencapai kemenangan dalam Kristus. Mereka yang menjadi pelari atau petinju tidak akan sembarangan berlari atau memukul, tetapi dengan penuh semangat dan perhatian akan berusaha untuk mendisiplinkan hidupnya agar tidak dikalahkan oleh lawan-lawan mereka. Seperti itulah, sebagai orang Kristen kita juga harus bisa melatih hidup kita agar kita tetap bisa setia mengikut Tuhan sampai akhir hidup.

Satu hal yang tidak bisa digambarkan melalui ilustrasi pelari atau petinju adalah pentingnya teamwork atau kerja tim. Pada lomba tough mudder, tiap peserta umumnya muncul sebagai tim yang terdiri dari 2 atau 4 orang. Dengan demikian, sekalipun kemampuan perseorangan penting, seorang peserta lomba yang baik tidak hanya harus mau berjuang, tetapi harus juga mau bekerjasama dengan anggota timnya untuk mencapai garis finis. Persis seperti seorang prajurit yang maju berperang. Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing. Senang dan susah dialami bersama.

Kehidupan orang Kristen sebenarnya seringkali lebih berat dan lebih menakutkan dari apa yang bisa dialami oleh seorang atlit. Mereka tidak hanya harus menghadapi kehidupan sehari-hari yang penuh dengan tantangan dan bahaya, tetapi juga harus menghadapi lingkungan, masyarakat dan bahkan pemerintah yang mungkin jahat atau hostile terhadap mereka. Kerapkali, karena tantangan dan bahaya yang harus dihadapi adalah terlalu besar , orang Kristen mungkin mengambil keputusan untuk tidak bertindak apa-apa atau tidak mau mengambil keputusan. Jika  ini dibayangkan seperti lomba lari halang rintang, orang Kristen yang sedemikian membiarkan peserta lainnya untuk berangkat berjuang, tetapi ia tidak beranjak dari tempat duduknya. Sebagai anggota tim Kristus, orang yang sedemikian memilih untuk tidak ikut-ikutan menderita.

Ayat di atas mengingatkan semua orang percaya bahwa mereka adalah anggota dari tim Kristus. Sebagai orang Kristen, kita harus sadar bahwa nama Tuhan akan dimuliakan melalui umatNya yang mau benar-benar berjuang seperti prajuritNya. Memang tiap orang memiliki beban hidup tersendiri, tetapi sebagai umat Kristen kita memiliki beban bersama. Karena itu kita harus bisa bersatu dalam kerja tim yang baik, harus sehati sepenanggungan.

Keadaan disekeliling kita mungkin bisa membuat hati kita menjadi kecil dan bayangan bahwa kita harus bisa menghadapi segala tantangan dan bahaya sebagai orang Kristen, mungkin membuat kita memutuskan untuk memilih jalan gampang. Tidak ikut-ikutan. Tidak ikut menderita. Biarlah orang lain yang melakukannya. Tetapi ini bukanlah apa yang dilakukan oleh Paulus ketika ia menulis ayat di atas. Ia menulis bahwa karena pemberitaan Injil ia menderita,  dibelenggu seperti seorang penjahat, tetapi firman Allah tidak dapat dihentikan oleh lawan-lawannya (2 Timotius 2: 9).

Pagi ini keadaan di sekeliling kita mungkin menunjukkan adanya ketidakadilan, ketimpangan sosial, hukum dan ekonomi. Semua itu adalah tantangan buat umat Kristen dan untuk itu Paulus mengundang agar kita sebagai anggota tim Kristus mau ikut berjuang untuk menegakkan kebenaran Kristus. Adakah kemauan kita untuk berjuang bersama-sama dengan umat Kristen lainnya? Ataukah kita tinggal membisu dan hanya menonton saudara-saudara seiman kita berjuang dan mengucurkan keringat dan bahkan darah untuk mencapai kemenangan dalam Kristus?

 

 

 

 

 

 

Diganjar untuk mendapat ganjaran

“Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya.” Ibrani 12: 11

Bagi saya yang sudah lebih dari 35 tahun hidup di luar negeri, bahasa Indonesia tidak lagi merupakan satu bahasa yang mudah dipakai. Banyaknya kata-kata dan ejaan baru sering membuat saya bingung untuk memakainya. Tambahan pula, dengan adanya berbagai kata gaul yang sekarang banyak dipakai anak muda, memaksa saya untuk lebih berhati-hati dalam memilih kata. Salah satu kata yang sudah lama ada tetapi jarang saya pakai adalah kata ganjaran. Menurut kamus besar bahasa Indonesia, ganjaran bisa berarti hukuman tetapi bisa juga berarti hadiah. Bagaimana satu kata bisa mempunyai dua arti yang saling bertentangan? Tentunya kata ini harus diartikan menurut konteksnya.

Pada ayat di atas, Paulus menulis bahwa ganjaran tidak mendatangkan sukacita. Sudah tentu ganjaran disini bukanlah hadiah. Jika sebuah hadiah biasanya mendatangkan rasa senang, ganjaran yang berarti hukuman tentunya akan membawa rasa duka. Walaupun demikian, dalam Alkitab berbahasa Inggris kata “ganjaran” diatas ternyata muncul sebagai kata “discipline” atau “chastening” yang bisa dihubungkan dengan tindakan mengajar (pendisiplinan) agar seseorang bisa hidup benar dan menghentikan perbuatan yang tidak semestinya.

Salahkah pilihan kata “ganjaran” diatas? Saya rasa tidak. Memang, jika disiplin merupakan perasaan taat dan patuh terhadap nilai-nilai yang dipercaya merupakan tanggung jawab seseorang, pendisiplinan adalah usaha-usaha untuk menanamkan nilai ataupun pemaksaan agar orang memiliki kemampuan untuk menaati sebuah peraturan. Pendisiplinan bisa juga menjadi istilah pengganti untuk hukuman ataupun instrumen hukuman di mana hal ini bisa dilakukan pada diri sendiri ataupun pada orang lain. Jadi, kata ganjaran diatas adalah sesuatu yang diberikan Tuhan kepada umatNya agar mereka bisa memiliki kemampuan untuk menuruti firmanNya.

“Jika kamu harus menanggung ganjaran; Allah memperlakukan kamu seperti anak. Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya?” Ibrani 12: 7

Banyak orang  yang mengalami kejadian yang tidak menyenangkan karena kesalahan mereka sendiri, tetapi banyak orang Kristen  yang mengalami hal yang serupa sekalipun  bukan karena mereka melakukan apa yang salah. Jika orang yang melakukan hal yang tidak baik pantas untuk mendapat hukuman, banyak orang Kristen yang berdukacita karena apa yang terjadi dalam hidup mereka seolah menunjukkan adanya kemarahan Tuhan.

Ayat-ayat diatas menyatakan bahwa Allah Bapa memberikan ganjaran kepada umatNya dengan maksud baik. Allah memperlakukan kita sebagai anakNya dan dengan demikian ingin agar kita berhasil dalam mengarungi tantangan kehidupan. Ganjaran datang dari Tuhan kepada umatNya, bukan sebagai hukuman tetapi pendidikan.  Seperti seorang murid yang mau menerima didikan gurunya dan mau melaksanakan tugas-tugas belajar agar ia bisa lulus dan mendapatkan sebuah ijazah, demikian pula umat Kristen yang diganjar atau dididik Allah akan menerima ganjaran atau hadiah yang berupa kedamaian hidup. Bagi mereka yang sudah menerima didikan Tuhan, hidup tidak lagi berupa perjuangan seorang diri, tetapi sebuah perjuangan yang dijalani bersama Tuhan.

Pagi ini, adakah perasaan dukacita dalam hati anda karena apa yang terjadi dalam hidup anda? Mungkinkah ada perasaan bahwa Tuhan sudah meninggalkan anda? Ataukah ada perasaan bersalah dalam hati yang membuat hidup terasa hampa? Firman Tuhan berkata bahwa Tuhan mencintai semua anakNya. Tetapi ini tidak berarti bahwa hidup kita akan menjadi mudah dan selalu lancar. Tuhan bisa mengganjar umatNya untuk membuat mereka lebih dekat kepadaNya, untuk lebih bergantung kepada Dia. Sebagai anak-anak Tuhan kita harus percaya bahwa Tuhan adalah setia dan kasihNya tidaklah berkesudahan. Apa yang kita rasakan sebagai ganjaran yang tidak menyenangkan saat ini pada akhirnya akan menghasilkan ganjaran yang membawa rasa sukacita. Pujilah Tuhan yang mahasih dan mahasetia!