Hal mengisi hati

“Sesungguhnya, orang bodoh dibunuh oleh sakit hati, dan orang bebal dimatikan oleh iri hati.” Ayub 5: 2

Apakah arti kata hati dalam Alkitab? Kata ini pada umumnya dipakai untuk menyatakan pusat kehidupan manusia. Hati dipandang sebagai tempat kemauan, kebijaksanaan dan perasaan manusia. Karakter, sifat dan pikiran adalah kata-kata yang mungkin bisa dipakai sekarang sebagai ganti kata hati. Hati dengan demikian sudah ada dalam diri manusia sejak lahirnya tetapi bertumbuh sesuai dengan cara hidup dan lingkungan. Setiap orang sudah dilahirkan dengan hati yang cacat karena dosa, tetapi melalui pertobatan hati mereka bisa diperbaharui oleh Roh Kudus sehingga hidup mereka berubah secara bertahap bisa menjadi semakin dewasa, dan dengan demikian hati mereka pun menjadi semakin baik.

Hidup manusia memang dipengaruhi keadaan hatinya. “Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang”, kata Solaiman dalam Amsal 17: 22. Mereka yang mengisi hatinya dengan kegembiraan akan tenang hidupnya – ini serupa dengan apa yang dikatakan para motivator yang sering mengajarkan orang untuk berpikir positif untuk mencapai kesuksesan dalam hidup. Walaupun demikian, Alkitab mengajarkan bahwa kegembiraan apapun yang diperoleh manusia adalah kegembiraan yang semu, jika tidak datang dari Tuhan. Manusia bisa berusaha untuk mengubah isi hatinya, tetapi jika perubahan itu  tidak datang dari Tuhan, itu tidak akan mempunyai akibat yang abadi karena manusia selalu mempunyai tendensi untuk memilih apa yang jahat.

“Sebab apa yang aku perbuat, aku tidak tahu. Karena bukan apa yang aku kehendaki yang aku perbuat, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku perbuat.” Roma 7: 15

Memang manusia sejak awalnya sering melakukan apa yang tidak baik, sekalipun Tuhan sudah memberikan peringatan. Ketika Kain melihat bahwa Tuhan menerima persembahan adiknya, Habel, ia menjadi sangat panas dan mukanya muram (Kejadian 4: 5 – 7). Tuhan kemudian berkata kepada Kain: “Mengapa hatimu panas dan mukamu muram? Apakah mukamu tidak akan berseri, jika engkau berbuat baik? Tetapi jika engkau tidak berbuat baik, dosa sudah mengintip di depan pintu; ia sangat menggoda engkau, tetapi engkau harus berkuasa atasnya.” Kain seharusnya tahu bahwa ia sudah berbuat apa yang tidak baik, tetapi ia tidak menghentikannya karena kebodohannya.

Apa yang terjadi pada Kain, bisa terjadi pada diri kita juga. Sekalipun kita sudah menjadi umat Allah, itu tidak berarti bahwa kita tidak bisa jatuh dalam dosa sakit hati dan iri hati. Apalagi dalam masyarakat yang cenderung bersifat materialistik dan kapitalistik, semboyan “greed is good” atau “keserakahan itu baik” seringkali mendorong untuk orang seakan berlomba untuk mencari berkat Tuhan. Akibatnya, banyak orang Kristen yang menjadi bodoh karena membiarkan hidupnya secara sadar atau tidak dikuasai dengan sakit hati dan iri hati karena orang lain yang nampaknya lebih sukses hidupnya. Hidup mereka kemudian kehilangan rasa syukur dan kebahagiaan, dan bahkan seolah terasa mati.

Pagi ini, ayat pembukaan dari Ayub 5: 2 mengatakan bahwa orang bodoh dibunuh oleh sakit hati, dan orang bebal dimatikan oleh iri hati. Ayub bisa mengatakan hal ini berdasarkan apa yang dialaminya. Karena jika ia hanya melihat keberuntungan orang lain dan menimbang penderitaan yang dialaminya, wajarlah ia menjadi sakit hati dan iri. Mengapa Tuhan membiarkan malapetaka datang kepadanya, padahal ia hidup dengan ketaatan kepada Tuhan?

Apa yang kita bisa simpulkan dari Ayub adalah bahwa ia bukanlah orang yang bodoh yang merasa dirinya lebih pandai dari Tuhan. Ayub tahu bahwa Tuhan yang mahakuasa adalah Tuhan yang mahakasih dan mahabijaksana. Ayub menghindari rasa iri dan sakit hati karena keduanya akan meracuni hatinya. Ayub tahu bahwa untuk tetap bisa mengasihi Tuhan dengan segenap hati dan dengan segenap jiwa dan dengan segenap akal budi, ia harus tetap memakai kebijaksanaan yang diperolehnya dari Tuhan. Ayub mengisi hatinya dengan rasa syukur, untuk menerima apa yang dikehendaki Tuhan, untuk percaya akan kasih pemeliharaanNya setiap hari, dan untuk berharap bahwa segala yang indah akan datang pada waktunya.

Siapakah Yesus itu bagi anda?

“Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah.” Yesaya 53: 4

Siapakah Yesus itu? Pertanyaan yang serupa pernah diajukan Yesus kepada murid-muridNya. Jika orang lain ada yang mengatakan bahwa Yesus adalah Yohanes Pembaptis, dan ada yang mengatakan bahwa Ia adalah Elia, ada pula mereka yang menjawab Yeremia atau salah seorang dari para nabi. Tetapi Simon Petrus menjawab bahwa Yesus adalah Mesias, Anak Allah yang hidup (Matius 16: 14 – 16). Petrus bukan saja mengakui dengan mulutnya, tetapi Alkitab dan sejarah menyebutkan bahwa ia setia kepada Yesus sampai akhir hayatnya.

Siapakah Yesus itu bagi anda? Apakah jawaban anda seperti jawaban Petrus? Sebagai orang percaya dan dengan memakai Alkitab sebagai panduan, mungkin tidak terlalu sulit bagi kita untuk mengakui dengan mulut kita bahwa Yesus adalah Mesias, Anak Allah. Tetapi, yang sangat sulit adalah untuk mempercayakan hidup kita dengan sepenuhnya kepada Yesus seperti Petrus.

Banyak orang yang tidak mau percaya kepada Yesus karena mereka tidak dapat mengerti bagaimana Anak Allah mau turun ke dunia untuk menebus dosa manusia. Mereka mungkin bisa menerima bahwa Yesus adalah orang yang baik dan bahkan pantas untuk menjadi rasul, tetapi tidak bisa mengerti bagaimana Allah bisa dilahirkan sebagai manusia yang lemah, dan yang kemudian disiksa dan dibunuh di kayu salib di sebelah dua penjahat. Pikiran mereka tidak bisa menjangkau bagaimana selama hidup di dunia Yesus adalah Tuhan yang berupa manusia tetapi tidak berdosa.

“Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa.” Ibrani 4: 15

Menjadi seperti manusia adalah suatu aspek yang sangat penting dalam misi Yesus, karena dengan itu, Ia bukannya tidak bisa merasakan segala penderitaan kita. Ia pernah dicobai, dihina, diludahi, dipukuli serta merasa lapar dan haus seperti kita, dan karena itu kita tidak perlu menyangsikan kasih dan kepedulianNya atas penderitaan kita. Berbeda dengan pengertian orang lain mengenai Tuhan yang “nun jauh disana”, Yesus adalah Tuhan yang pernah hidup seperi manusia dan karena itu seharusnya bisa terasa dekat di hati kita.

Pada hari Minggu ini, mungkin ada kemasygulan dalam hidup kita karena adanya berbagai hal yang terasa berat. Hari demi hari kita mungkin mengalami pergumulan, kesulitan, penderitaan, kekurangan atau rasa sakit. Karena itu, jika sekarang ada pertanyaan siapakah Yesus itu bagi kita, mungkin kita sulit untuk menjawabnya dengan keyakinan seperti Petrus.

Apa yang ditulis dalam kitab Yesaya diatas, jauh sebelum Yesus dilahirkan di dunia, mengingatkan kita bahwa sesungguhnya Yesus adalah Tuhan yang datang ke dunia untuk membawa kedamaian dalam hidup kita. Selama hidup di dunia, Ia peduli atas segala penderitaan dan kesengsaraan orang-orang disekitarnya, baik itu secara lahir maupun batin. Dengan demikian, Yesus sekarang ini bukan saja peduli akan keselanatan kita, tetapi Ia juga mau menolong kita selama kita masih hidup di dunia agar kita tetap bertahan dalam iman kita. Apa yang harus kita lakukan adalah bertekun dalam doa permohonan, dengan mengingat bahwa anugerah yang terbesar, yaitu keselamatan, sudah diberikanNya kepada kita. Semoga Ia menumbuhkan dan menguatkan iman kita!

“Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh.” Yesaya 53: 5

Mencapai kesuksesan yang benar

“Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.” 1 Timotius 6: 10

Seringkali, jika saya bertemu teman-teman lama, pembicaraan “ngalor-ngidul” akhirnya menjurus kearah kenangan masa lalu. Dengan mengingat-ingat saat-saat dimana kami masih berkuliah, kemudian percakapan melantur ke soal si A dan si B yang sudah lama tidak pernah berjumpa. Biasanya, seusia ini kemudian muncul komentar bahwa si A adalah orang yang sukses hidupnya, atau si B yang menderita suatu penyakit. Dalam hal ini, pembicaraan biasanya jarang menyinggung hal kebahagiaan, karena tidak ada orang yang tahu apakah orang lain berbahagia atau tidak.

Apa tanda bahwa seseorang mempunyai hidup yang sukses? Apakah karena mempunyai banyak mobil Ferrari? Mungkin saja, karena di negara tertentu mobil ini adalah simbol kekayaan. Di negara lain yang mempunyai sistem pemerintahan yang transparan, orang yang sukses sering dilaporkan sebagai orang yang mempunyai harta pribadi atau yang membayar pajak dalam jumlah besar. Kekayaan memang bisa menjadi ukuran dunia untuk kesuksesan seseorang, dan itu juga sering ditafsirkan oleh beberapa orang Kristen sebagai ukuran berkat Tuhan dan ukuran iman seseorang. Karena Tuhan itu mahakaya, umat Tuhan seharusnya kaya juga.

Tidak dapat disangkal bahwa keyakinan bahwa Tuhan ada untuk membuat umatNya sukses adalah daya tarik kuat yang membuat banyak orang mau ke gereja. Itu sebenarnya tidak ada salahnya. Tuhan memang berjanji untuk menyertai umatNya dan memberkati mereka. Yang sering dipermasalahkan adalah ukuran kesuksesan dunia yang sangat berbeda dengan ukuran kesuksesan Tuhan. Dalam kitab Ayub misalnya, dikatakan bahwa kesuksesan dan kebahagiaan tidak dapat dipisahkan dengan rasa takut akan Tuhan. Dengan demikian Ayub membaktikan hidupnya untuk Tuhan, bukan untuk kekayaannya. Ia lebih mencintai Tuhan daripada semua hartanya.

Lalu bertanyalah TUHAN kepada Iblis: “Apakah engkau memperhatikan hamba-Ku Ayub? Sebab tiada seorangpun di bumi seperti dia, yang demikian saleh dan jujur, yang takut akan Allah dan menjauhi kejahatan.” Ayub 1: 8

Dalam ayat pembukaan dari kitab Timotius diatas dikatakan bahwa mereka yang mengutamakan uang dan bukannya Tuhan, adalah orang yang telah menyimpang dari iman dan karena itu mengalami berbagai-bagai masalah. Itu karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Seperti itu jugalah, mereka yang mengejar kebahagiaan duniawi akan jatuh kedalam berbagai dosa; termasuk dosa mengilahkan kesuksesannya.

Kesuksesan bagi umat Tuhan sebenarnya tidak bisa diukur dengan segala bentuk kenyamanan duniawi. Ayub yang dulunya jaya, pada suatu saat kehilangan apapun yang dimilikinya. Tetapi ia tidak pernah kehilangan Tuhannya. Ia tidak memberontak dan melawan Tuhan; sebaliknya ia makin tunduk kepadaNya.

Pagi ini, jika kita berangan-angan betapa berbahagianya jika kita sukses dalam segala bidang kehidupan, kita harus sadar bahwa kebahagiaan tidak datang dari benda-benda yang bisa hilang dalam sekejap mata. Kebahagiaan sebaliknya datang dari rasa cukup karena adanya hubungan yang erat dengan Tuhan yang mahakuasa. Dengan demikian, kesuksesan bagi umat Tuhan ialah jika mereka bisa bersyukur kepada Tuhan dengan selalu hidup dalam keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran dan kelembutan.

“Tetapi engkau hai manusia Allah, jauhilah semuanya itu, kejarlah keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran dan kelembutan.” 1 Timotius 6: 11

Kenalilah gembalamu

“Akulah gembala yang baik dan Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku – sama seperti Bapa mengenal Aku dan Aku mengenal Bapa, dan Aku memberikan nyawa-Ku bagi domba-domba-Ku.” Yohanes 10: 14 – 15

Di banyak negara, domba diternakkan secara besar-besaran. Menurut data dari tahun 1993 – 2013, jumlah domba rata-rata per tahun yang dihasilkan China berada di urutan pertama (146.5 juta), Australia (101.1 juta), India (62.1 juta), Iran (51.7 juta), and Sudan (46.2 juta). Di zaman ini, peternakan domba memang merupakan bisnis besar dan karena itu  dijalankan secara intensif dengan memakai sarana dan teknik modern, sehingga jumlah domba yang dimiliki seorang peternak bisa berjumlah ratusan atau ribuan. Pada zaman Yesus masih di dunia, seorang gembala tidaklah mempunyai banyak domba, dan karena itu ia tentunya mengenal dombanya satu persatu.

Ayat diatas adalah ayat yang sangat terkenal, yang menggambarkan hubungan antara Yesus dan umatNya. Dalam ayat itu Yesus menggambarkan diriNya seperti seorang gembala yang baik, yang melindungi dan mencukupi kebutuhan domba-dombaNya. Sebagai gembala, Yesus mengenal setiap dombaNya dan begitu juga semua dombaNya mengenal Dia. Lebih dari itu, sebagai gembala yang baik, Yesus bersedia untuk mengurbankan nyawaNya untuk membela domba-dombanya dari serangan serigala-serigala yang jahat (Yohanes 10: 11-12). Memang, Yesus sudah mengurbankan diriNya di kayu salib untuk menebus dosa-dosa kita sehingga keselamatan kita tidak dapat diambil oleh iblis. Bagi semua umat Kristen, seharusnya tidak perlu diragukan bahwa Yesus adalah gembala yang baik.

Yesus gembala yang baik, dalam kenyataannya mungkin lebih mudah untuk dibayangkan daripada diamini. Jika rumput hijau terbentang luas di depan mata, memang tidaklah sulit untuk meyakini kasih Yesus yang sudah membawa kita ke padang yang subur. Tetapi, jika hanya kekeringan demi kekeringan yang terlihat sepanjang hidup, hati kita mungkin meragukan kasih dan pemeliharaanNya. Dalam keadaan sedemikian, adalah sulit bagi kita untuk bisa tetap bersyukur atas segala apa yang kita alami. 

Pada zaman Yesus di dunia, banyak orang  Yahudi yang mengharapkan Yesus bertindak sebagai seorang raja yang  bisa mengalahkan penjajahan Romawi. Pada zaman sekarang, banyak orang yang mengharapkan bahwa Yesus bisa bertindak sebagai Tuhan yang bisa membawa kebahagiaan lahir dan batin. Tetapi jika hidup mereka tidaklah seperti yang diharapkan, keraguan akan timbul.

Apakah Yesus gembala yang baik, yang bisa membawa damai sejahtera dalam hidup kita? Tentu saja! Yesus datang ke dunia untuk menyatakan  bahwa sebagai Tuhan ia mengasihi semua manusia. Bagi yang percaya kepadaNya, Ia memimpin mereka ke jalan yang benar, yang menuju keselamatan. Tidak hanya itu, Yesus juga memimpin mereka dalam hidup sehingga mereka bisa kuat dan tabah dalam menghadapi perjalanan hidup mereka. Baik ditempat dimana rumput hijau ada, ataupun pada waktu kekeringan datang melanda, Yesus sebagai gembala yang baik akan memimpin mereka yang mau menyadari bahwa mereka adalah domba-domba yang tidak bisa berjalan sendiri.

Yesus mengenal semua dombaNya, Ia mengenal kita satu persatu dengan segala keunikan kita. Ia mengerti apa yang kita butuhkan dan mendengarkan keluh-kesah kita. Lebih dari itu, Yesus juga mengasihi domba-domba lain sekalipun mereka belum mengenal suaraNya. Sayang sekali bahwa dalam kesulitan hidup, memang sulit bagi kita untuk bisa mendengarkan suaraNya. Kesibukan dan perjuangan hidup seringkali membuat kita seolah lupa siapakah Dia. Kita mungkin tidak lagi mengenal Dia, gembala yang baik, yang dengan setia memanggil mereka yang lelah dan menderita.

Pagi ini, apapun yang ada dalam kehidupan kita, marilah kita mau membuka hati kita. Suara Yesus gembala kita selalu memanggil dombaNya dan domba-domba lain, untuk mau datang kepadaNya dan mengikuti langkahNya. Gembala kita tidak penah menjanjikan bahwa rumput selalu hijau, tetapi Ia berjanji untuk menyertai kita dalam keadaan apapun untuk selama-lamanya.

“TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya. Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.” Mazmur 23: 1 – 4

Pikiran yang bisa menambah penderitaan

“Karena yang kutakutkan, itulah yang menimpa aku, dan yang kucemaskan, itulah yang mendatangi aku.” Ayub 3: 25

Teringat saya akan masa dimana saya bekerja sebagai konsultan teknik di Melbourne. Saya mempunyai seorang rekan kerja yang mengeluh bahwa mesin fotokopi di kantor “membenci dia” karena sering macet pada saat ia sangat harus menyerahkan laporan penting kepada kliennya. Ia bertanya: “Mengapa apa yang buruk justru terjadi pada saat yang tidak diharapkan?” Pernahkah anda mengalami kejadian serupa? Mengalami sesuatu yang tidak menyenangkan selagi anda berada dalam kesulitan? Itu adalah kesulitan berganda alias double trouble.

Macetnya mesin fotokopi ketika kita perlu memakainya tidak dapat dibandingkan dengan apa yang dialami Ayub. Mungkin dalam hidup ini, kita jarang melihat orang yang kehilangan harta, keluarga dan kesehatan secara berurutan secara cepat seperti yang terjadi dalam hidup Ayub, yang diakibatkan oleh pekerjaan iblis. Walaupun begitu, di dunia ini banyak juga orang yang kehilangan semua yang dimilikinya akibat perbuatan orang lain, bencana alam atau kecelakaan. Kita yang membaca pengalaman Ayub dan mendengar tentang penderitaan orang lain mungkin juga pernah mengalami hal yang serupa sekalipun tak sama. Tidaklah mengherankan jika kita bertanya-tanya. Mengapa semua ini harus terjadi? Mengapa Tuhan membiarkan semuanya?  Seiring dengan itu, hati kita menjadi sangat sedih.

Hal yang jelek bisa terjadi di dunia yang rusak karena kejatuhan manusia kedalam dosa. Malapetaka bisa juga terjadi karena pekerjaan iblis, seperti apa yang terjadi pada Ayub. Selain itu, seperti apa yang terjadi pada Ayub, terkadang Tuhan memperbolehkan penderitaan datang kepada umatNya. Tetapi Ayub yang mengalami berbagai malapetaka, tetap dilindungi Tuhan sampai akhir.

Sebagai orang Kristen kita harus sadar bahwa Tuhan tidak membuat malapetaka untuk umatNya. Tuhan justru ingin menyelamatkan semua orang yang percaya kepadaNya. Dengan pengurbanan Yesus di kayu salib, kita bisa menyadari betapa besar kasihNya. Karena itu, tidak boleh ada keraguan bahwa Tuhan selalu mempunyai rencana yang baik bagi kita, sekalipun hidup saat ini terasa berat.

Kesedihan atas apa yang menimpa kehidupan kita adalah normal tetapi tidak boleh mematikan hati. Kita terkadang boleh merasa sedih tetapi tidak terus hidup dalam kesedihan. Mengapa begitu? Karena kita tidak mau menghancurkan hidup kita sendiri. Kita tidak ingin untuk hidup dalam penderitaan karena merasa malang, karena merasa bahwa kita adalah orang yang termalang. Itu adalah sikap mengasihani diri sendiri atau self pity.

Jika ada perbedaan antara Ayub dan umat Tuhan lainnya, itu adalah dalam hal bagaimana Ayub tetap percaya dan setia kepada Tuhan sekalipun hidupnya dilanda malapetaka yang datang satu persatu. Ayub merasa sedih dan tertekan, tetapi tidak mempertanyakan kebijaksanaan Tuhan. Ayub tidak memberontak dan menghujat Tuhan, karena ia tetap yakin bahwa Tuhan adalah mahabijaksana dan mahakasih. Ayub tahu bahwa Tuhan yang memberi adalah Tuhan yang berhak untuk mengambil kembali (Ayub 1: 21). Ayub menyadari bahwa dengan memikirkan kemalangan hidupnya, penderitaannya tidak akan berhenti, tetapi justru membuatnya lelah dan gelisah. Penderitaan memang bisa bertambah besar karena pikiran negatif manusia.

“Aku tidak mendapat ketenangan dan ketenteraman; aku tidak mendapat istirahat, tetapi kegelisahanlah yang timbul.” Ayub 3: 26

Pagi ini, jika kita mengeluh bahwa apa yang buruk sering terjadi dalam hidup kita tanpa sebab yang jelas, kita mungkin lupa bahwa kita sudah menerima hal yang sangat baik padahal kita tidak pantas untuk memperolehnya. Kita manusia yang berdosa, tanpa sebab yang jelas, sudah memperoleh kasih karunia penebusan Yesus Kristus. Siapakah kita, sehingga Tuhan memilih kita untuk memperoleh pengenalan akan jalan keselamatan? Pikiran negatif memang bisa menghancurkan, tetapi pikiran yang positif akan membawa semangat baru.

“Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang.” Amsal 17: 22

Boleh khawatir tapi jangan takut

“Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.” Filipi 4: 6

Dalam bahasa Indonesia, rasa khawatir mungkin bisa diganti dengan kata cemas atau takut. Tetapi sebenarnya arti ketiga kata itu berbeda. Orang memang sering menyebutkan rasa khawatir atau kuatir akan sesuatu hal, tetapi belum tentu merasa cemas atau takut. Dalam bahasa Inggris pun ada istilah “worry” yang sering dipakai dalam percakapan sehari-hari – yang menunjuk kepada adanya kemungkinan akan terjadinya sesuatu yang tidak diharapkan – tetapi ini belum sampai menjurus kearah rasa cemas. Orang juga sering mengatakan bahwa keadaan bisa membuat kita was-was tetapi tidak perlu membuat kita cemas. Concerned but not alarmed.

Jika dalam ayat diatas dikatakan bahwa sebagai pengikut Kristus kita seharusnya tidak kuatir tentang apapun juga, agaknya ini bukan sehubungan dengan kekuatiran yang secara normal muncul jika kita melihat adanya sesuatu atau keadaan yang kurang baik, tetapi yang masih bisa kita hindari. Misalnya, kita memilih untuk naik kereta MRT daripada memakai mobil sendiri karena kuatir akan jalan yang macet. Kekuatiran disini adalah kekuatiran yang positif karena membuat kita bisa mengambil keputusan yang bijaksana.

Kekuatiran yang tidak baik adalah kekuatiran yang negatif, yang membuat kita merasa tidak berdaya. Rasa cemas yang membuat tubuh kita menjadi lemah, dan rasa takut yang membuat kita lumpuh. Sebagai umat Tuhan , sebenarnya agak aneh jika kita bisa merasa cemas dan takut karena kita merasa tidak bisa melakukan hal apapun dan tidak ada orang lain yang bisa menolong kita. Itu karena kita seharusnya percaya bahwa Tuhan adalah mahakuasa dan maha kasih: Ia sanggup melakukan hal apapun dan bisa menolong siapapun, terutama umatNya.

Memang suatu masalah yang kita hadapi dalam kekuatiran adalah adanya kemungkinan bahwa kekuatiran yang kecil, perlahan-lahan bisa menjadi besar, menjadi rasa was-was dan rasa cemas, dan kemudian menjadi rasa takut. Dalam penantian akan pertolongan Tuhan, seringkali kita menjadi ragu dan bertanya-tanya apakah Ia akan menolong kita dan jika itu benar, kapan Ia akan menolong kita. Dalam hal ini, ayat diatas mengatakan bahwa kita harus menyatakan keinginan kita dalam doa dan dengan rasa syukur sekalipun Ia belum menjawab doa kita.

Apa perlunya berdoa dan bersyukur? Doa tidak dimaksudkan untuk mengubah rencana Tuhan. Doa kita tidak selalu dikabulkan Tuhan. Tetapi doa berguna untuk kita, karena dengan doa kita membina hubungan yang baik dengan Tuhan, yang mengingatkan kita bahwa Ia adalah mahakuasa, mahakasih dan mahabijaksana. Doa membuat kita bisa berserah kepada Tuhan, suatu pilihan yang jauh lebih baik daripada usaha untuk mencari jalan keluar menurut keinginan kita sendiri. Doa juga membuat kita belajar untuk mengerti apa yang dikehendaki Tuhan dalam hidup kita, sehingga kita lebih bisa bersabar menantikan pertolonganNya. Jika rasa kuatir bisa menjauhkan kita dari Tuhan, doa bisa menghilangkan rasa was-was dan rasa takut. Doa yang disertai dengan rasa syukur bisa membawa kedamaian bagi kita karena adanya kesadaran bahwa Tuhan itu baik. Doa mungkin tidak mengubah keadaan, tetapi doa bisa mengubah reaksi kita terhadap keadaan – doa bisa mengubah hidup kita karena Tuhan bisa memberi rasa damai sejahtera dalam hidup kita.

“Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.” Filipi 4: 7

Merenungi roda kehidupan

“Aku, TUHAN, yang menyelidiki hati, yang menguji batin, untuk memberi balasan kepada setiap orang setimpal dengan tingkah langkahnya, setimpal dengan hasil perbuatannya.” Yeremia 17: 10

Bacaan: Yeremia 17: 5 – 10.

Sebagian orang di dunia membayangkan bahwa hidup ini berjalan seperti sebuah titik pada sebuah roda yang berputar, spinning wheel, yang bisa naik dan kemudian turun. Oleh sebab itu, bagi mereka, hidup adalah kesempatan untuk mencari keuntungan dan kenyamanan selagi bisa. Selagi roda kehidupan mereka berputar keatas, mereka memanfaatkannya dengan apa saja yang bisa dilakukan supaya hidupnya makin enak.

Memang jika kita lihat dalam hidup ini, manusia selalu berusaha untuk berhasil tanpa memperdulikan siapa yang menggerakkan roda kehidupan ini. Sebagian percaya bahwa mereka harus bisa mempertahankan posisi mereka pada roda kehidupan dengan segala cara.  Mereka lupa bahwa Tuhan yang memegang kontrol atas hidup kita di setiap saat, bahwa roda kehidupan itu tidak selalu berputar seperti apa yang diharapkan. Mereka tidak sadar bahwa dinamika hidup ini adalah sangat kompleks. Roda kehidupan bukanlah seperti roda yang berputar dengan kecepatan dan arah yang tidak pernah berubah.

Adakah yang bisa diharapkan dalam hidup ini? Adakah yang bisa dipastikan jika roda kehidupan selalu berputar? Yeremia 17 berisi peringatan bagi bangsa Israel bahwa mereka tidak dapat mengandalkan kekuatan mereka sendiri. Peringatan ini secara umum juga berlaku untuk setiap orang yang hidup di dunia, dari dulu sampai sekarang.  Tidak ada seorangpun yang bisa memastikan apa yang akan terjadi dalam hidupnya. Mereka yang merasa bahwa hidup dan hasil usaha mereka berada dalam tangan sendiri, pada suatu saat akan kecewa karena apa yang terjadi bisa diluar dugaan mereka. Tuhan melalui Yeremia dengan jelas menyatakan rasa tidak senangNya atas kesombongan manusia.

Beginilah firman TUHAN: “Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN!” Yeremia 17: 5

Sebagai umat Kristen, kita harus percaya bahwa Tuhan benar-benar  membenci manusia yang sombong, yang merasa bahwa ia dapat mengatur jalannya roda kehidupan dengan berbuat ini dan itu. Kita harus sadar bahwa Tuhanlah yang mempunyai rencana untuk seisi alam semesta, dan itu harus terjadi. Ini bukan berarti bahwa manusia tidak mempunyai kewajiban untuk bekerja sebaik mungkin dalam keadaan apapun yang mereka alami. Sebaliknya, kita harus berusaha untuk mengerti apa yang Tuhan kehendaki dalam hidup kita.

Manusia mungkin berusaha untuk bekerja dan mencapai kesuksesan. Itu adalah baik jika mereka seperti bekerja untuk Tuhan dan tidak lupa untuk memuliakan namaNya. Dalam kenyataannya, terlalu banyak orang yang sukses dalam hidupnya tetapi tidak sukses dalam usaha memuliakan Tuhan. Ada juga yang nampaknya bekerja untuk kemuliaan Tuhan, tetapi segala apa yang dicapainya sebenarnya hanya dipakai untuk kenikmatan diri sendiri. Ayat pembukaan kita berkata bahwa Tuhanlah yang  menyelidiki hati, yang menguji pikiran, untuk memberi balasan kepada setiap orang setimpal dengan tingkah langkahnya, setimpal dengan hasil perbuatannya. Ia tahu  apakah orang menyombongkan keberhasilannya; Ia juga tahu jika orang menyalahgunakan berkatNya. Tetapi Ia juga tahu jika orang menyia-nyiakan hidupnya dengan tidak berusaha untuk memuliakan Tuhan dalam setiap keadaan.

Pagi ini, biarlah kita memikirkan roda kehidupan yang kita jalani.  Mungkin roda kehidupan kita sekarang ini memberikan kesempatan untuk menikmati berkatNya. Kepada kita diingatkan bahwa semuanya datang dari Tuhan dan karena itu kita harus makin menaruh harapan kepada Tuhan. Kita harus dengan rendah hati mengakui bahwa hidup kita ada ditanganNya. Sebaliknya, jika kita pada saat ini berada dalam keadaan yang kurang menyenangkan, kita tidak boleh berputus asa karena Tuhan menilik hati dan pikiran kita. Ia tahu apa kebutuhan dan motivasi kita. Mereka yang mengandalkan Tuhan dan yang menaruh harapan mereka kepada Tuhan akan dikuatkan dan diberkati, sehingga dalam keadaan apapun mereka akan tetap berdiri teguh dan bisa merasakan kasihNya.

Puji Tuhan!

Statistik diatas menunjukkan bahwa jumlah mingguan pembaca Renungan Kristen terus meningkat, dan hanpir menyentuh 2000 minggu lalu.

Saya mengucapkan terima kasih atas kesetiaan dan dukungan anda sekalian.

Semoga Tuhan memberkati kita semua.

Salam,

Andreas

18/02/2019

Apa yang harus dikerjakan setelah kegagalan?

“Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” Filipi 4: 13

Sangatlah menarik bahwa di dunia ini sekarang ada banyak orang yang menjadi motivator. Agaknya karena banyaknya orang yang mengalami kesulitan hidup, apa yang dikumandangkan oleh orang-orang yang pandai berpidato ini menjadi barang komoditi yang laris. Pada umumnya mereka yang berkecimpung dalam bidang psikologi pemikiran positif ini, selalu menganjurkan agar orang selalu optimis dan positif dalam segala hal, dan tidak mudah berputus asa. Sebagian pendeta pun tidak segan-segan memakai pendekatan positive thinking dalam khotbah-khotbah mereka, dan berusaha meyakinkan jemaat bahwa jika Tuhan beserta mereka, mereka akan selalu sukses. Mereka mencoba menghapus kata ” gagal” dalam pikiran orang, karena pengaruh negatif yang bisa membuat orang kehilangan semangat. Tidaklah mengherankan bahwa ada banyak orang yang terbuai akan pesan-pesan seperti itu, dan semua itu membuat banyak motivator menjadi pembicara yang terkenal dan berpenghasilan tinggi.

Benarkah bahwa sebagai orang Kristen kita harus selalu memakai prinsip “pantang menyerah” dalam hidup ini? Memang banyak orang yang mengajarkan bahwa jika kita gagal, kita harus mencoba lagi dan terus mencoba sampai berhasil. If you fail, try  again, and again and again. Ini ada benarnya, bahwa tidak semua orang bisa berhasil dalam usaha pertamanya. Mereka yang cepat berputusasa dan mudah menyerah akan sulit untuk mencapai keberhasilan. Memang mereka yang berhasil dalam hidup mereka, biasanya adalah orang-orang yang ulet, dan orang Kristen yang berhasil biasanya membanggakan bahwa semua itu bisa terjadi karena iman. Tetapi, mereka yang gagal bisa saja merasa sangat terpukul karena tidak menyadari bahwa keuletan dan iman  tidak selalu menjamin keberhasilan.

Memang umat manusia adalah orang-orang yang harus berjuang dalam hidupnya setelah kejatuhan kedalam dosa. Dengan itu, kegagalan adalah bagian kehidupan yang dapat dialami oleh semua orang, tidak hanya oleh orang yang tidak beriman. Mereka yang mengajarkan bahwa mereka yang beriman teguh akan selalu memperoleh kesuksesan dalam hidup sebenarnya kurang mengerti bahwa baik keberhasilan maupun kegagalan bisa terjadi pada semua orang, seperti juga kematian.

“Manusia yang lahir dari perempuan, singkat umurnya dan penuh kegelisahan. Seperti bunga ia berkembang, lalu layu, seperti bayang-bayang ia hilang lenyap dan tidak dapat bertahan.” Ayub 14: 1 – 2

Jika kegagalan juga bisa terjadi pada semua orang, apakah untungnya untuk menjadi umat Kristen? Menjadi pengikut Yesus mempunyai keuntungan besar bahwa kita bisa meniru Dia yang baik dalam hidup dan matiNya sudah bekerja untuk kemuliaan Allah dan karena itu Ia memperoleh kemuliaan di surga. Selain itu, kita bisa belajar dari Dia yang mempunyai hubungan yang baik dengan Allah BapaNya, sehingga sekalipun hidup kita menjadi sangat berat, kita tetap bisa bertahan karena kekuatan yang diberikan Tuhan. Karena Yesus, kita bisa berani menghadapi hidup ini sekalipun kegagalan mendatangi. Kita tidak mudah putus asa atau melarikan diri dari kenyataan.

Yesus mengajarkan bahwa adakalanya kita harus menerima kegagalan sebagai suatu kenyataan yang harus terjadi. Lukas 9: 1- 5 menuliskan perintah Yesus kepada murid-muridNya untuk mengabarkan injil. Pekerjaan ini tidak ringan karena ada kemungkinan bahwa ada orang-orang di tempat tertentu  yang akan menolak mereka. Apa yang harus diperbuat murid-murid Yesus? Mencoba lagi dan mencoba lagi? Try again and try again? Bukan begitu. Yesus mengatakan bahwa dalam keadaan sedemikian, murid-muridNya sebaiknya meninggalkan tempat itu. Memang ada keadaan yang bisa kita ubah, tetapi ada juga yang tidak bisa kita ubah. Umat Tuhan harus bisa melihat perbedaannya dengan mencari apa yang dikehendaki Tuhan.

Menjadi pengikut Tuhan tidak berarti bahwa kita mudah menyerah dengan alasan bahwa semuanya sudah kehendak Tuhan. Ada kalanya kita memang harus mencoba lagi, dan mencoba lagi. Tetapi, jika kita berpikir bahwa kita akan bisa berhasil karena ketekunan dan iman kita saja, itu adalah keliru. Karena manusia bisa berusaha, tetapi Tuhan yang menentukan. Karena itu, dalam setiap keadaan, baik keberhasilan maupun kegagalan, kita harus sadar dan mengakui bahwa kita tidak dapat menghadapi tantangan hidup ini seorang diri. Tuhanlah yang memberi kekuatan untuk bisa berjuang, dan kekuatan untuk menerima kenyataan. Segala sesuatu dapat kita tanggung didalam Tuhan, apalagi karena kita tahu bahwa kemenangan yang terbesar yang berupa keselamatan abadi sudah dijamin melalui darah Yesus.

 

Haleluya setiap saat

Haleluya! Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.” Mazmur 106: 1

Kata haleluya atau pujilah Tuhan (praise the Lord) adalah kata yang dikenal semua orang Kristen walaupun hanya beberapa denominasi yang sering menggunakan atau mengucapkannya. Pada pihak yang lain, banyak orang yang mengucapkan kata ini hanya sebagai gurauan saja, tanpa kekhusyukan sama sekali.

Dari mana asal kata haleluya ini? Kata ini berasal dari kata hallĕlūyāh dalam bahasa Ibrani dan kata allēlouia dalam bahasa Yunani, yang kemudian dipakai dalam bahasa Latin sebagai kata alleluia, yang dalam bahasa Inggrisnya adalah halleluyah. Kata ini menjadi makin terkenal dengan adanya Halleluyah Chorus dari musik konser Messiah ciptaan Handel pada tahun 1741.

Jika ciptaan Handel itu dianggap sebagai lagu rohani yang memuji Tuhan, ada banyak lagu Halleluyah lain yang diciptakan berbagai komposer, termasuk sebuah lagu pop sekular yang mengandung unsur seks dan keduniawian yang diciptakan oleh Leonard Cohen pada tahun 1984 dan baru-baru ini menjadi populer lagi di berbagai negara, termasuk Indonesia. Berbeda dengan lagu yang asli, lagu pop ini sebenarnya bukan lagu pujian kepada Tuhan.

Bagi umat Kristen, tidak ada keraguan bahwa ayat diatas mengandung kata haleluya dalam konteks yang benar, yaitu pujian untuk Tuhan sebab Ia baik dan selalu mengasihi kita dengan setia. Pujian kepada Tuhan memang seharusnya kita sampaikan kepadaNya setiap hari karena Ia memelihara kita: dulu, sekarang dan untuk selamanya.

Lebih dari itu, haleluya juga sepatutnya kita ucapkan ketika kita ingat bahwa Yesus sudah datang dari surga untuk menebus dosa kita, dan Ia sudah mengalahkan maut dengan kebangkitanNya. Karena itu kita boleh berharap akan masa depan yang indah bersama Dia.

“Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang karena rahmat-Nya yang besar telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada suatu hidup yang penuh pengharapan” 1 Petrus 1: 3

Ucapan haleluya memang seharusnya keluar dari dalam hati dan mulut kita setiap saat, dan bukan hanya ketika kita sadar bahwa adalah keajaiban bahwa kita masih bisa bangun tidur dan melihat sinar matahari setiap hari. Tetapi memuji Tuhan secara tulus dan khusyuk memang tidak mudah dilakukan.

Pada saat-saat tertentu hidup kita mungkin terasa berat karena berbagai tekanan dan penderitaan. Rasa tertekan juga menjadi semakin besar jika kita sering merasa gagal untuk berjalan menurut perintahNya. Walaupun demikian, kita harus yakin bahwa sekalipun Yesus sudah di surga, Ia tetap menyertai kita hari demi hari.(Yohanes 14: 18). KasihNya yang besar juga memberi pengampunan jika kita mengakui dosa kita ( 1 Yohanes 1: 9).

Pagi ini, adakah alasan bahwa kita tidak perlu mengucapkan haleluya dalam hati kita?

Tuhan Yesus tidak berubah

Tidak berubah, tidak berubah

Tuhan Yesus tidak berubah

Tak berubah selama-lamanya

Haleluya haleluya haleluya haleluya

Haleluya haleluya haleluya