Biarlah nama Tuhan yang dipuji

“Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.” Yohanes 3: 30

Di zaman modern ini orang bisa berkomunikasi dengan berbagai cara. Kebanyakan apa yang sekarang dipakai adalah media elektronik dan aplikasi internet, seperti handphone, Whatsapp, Twitter, email, Instagram dsb. Lebih dari itu, mereka yang ingin lebih menjangkau masyarakat bisa menggunakan kamera untuk membuat Vlog (video blog) dan menerbitkannya di Youtube.

Fenomena pemakaian internet untuk mencapai audiens di seluruh penjuru dunia memang luar biasa. Melalui berbagai aplikasi internet, orang bisa menyampaikan pesan-pesan baik melalui gambar, suara atau tulisan. Melalui sosial media, orang juga bisa menyebarkan berita aktuil, berita bohong, gosip dan kabar pribadi. Karena popularitas sosial media, orang juga bisa memperoleh kemasyhuran melalui kisah hidup dan foto pribadinya dalam bentuk foto narsisis, selfie atau swafoto yaitu jenis foto potret diri yang diambil sendiri dengan menggunakan kamera digital. Istilah narsis yang sebenarnya jelek artinya, sekarang dianggap lumrah dan bahkan “cool” untuk mereka yang mau dikagumi orang. Tetapi, jika kita tidak berhati-hati, kita akan jatuh kedalam dosa penyembahan manusia sebagai ilah.

Ayat diatas diambil dari Injil Yohanes yang menceritakan kisah Yohanes Pembaptis. Pada waktu itu Yesus pergi dengan murid-murid-Nya ke tanah Yudea dan Ia diam di sana bersama-sama mereka dan membaptis. Yohanes pun membaptis juga di daerah itu sebab di situ banyak air, dan orang-orang juga datang kesitu untuk dibaptis. Pengikut Yohanes yang pada mulanya banyak, kemudian berkurang jumlahnya karena sebagian kemudian pindah untuk mengikut Yesus. Atas kejadian itu, Yohanes berkata bahwa itu tidaklah menjadi soal karena Yesus adalah Anak Allah. Yohanes berkata bahwa Yesus , Anak Allah, sudah sepatutnya mendapat perhatian dan penghormatan dari manusia.

Jika Yohanes menyadari siapa Yesus itu dan tidak berusaha menjadi lebih besar atau lebih masyhur dariNya, banyak orang yang dengan sadar atau tidak, menikmati kemasyhuran mereka. Dalam kenyataannya, memang banyak orang yang justru berusaha menarik perhatian publik dan bangga atas banyaknya pengikut (follower) dari blog mereka, atau mendambakan kemasyhuran dari apa yang mereka kerjakan, karena kemasyhuran sering identik dengan pemasukan uang.

Di kalangan gereja pun, ada banyak pendeta dan penginjil yang karena saking masyhurnya, seolah mereka lebih ternama dari Yesus. Memang ada orang-orang yang karena apa yang pernah diperbuat mereka, menjadi selebriti yang setiap kali muncul akan mendapat jutaan tanda suka atau “like“. Mereka itu secara tidak sadar sudah bersaing dengan Yesus, karena segala kemuliaan yang mereka peroleh hanyalah untuk kepentingan diri sendiri.

Hari ini hari Minggu dan mungkin anda sudah atau akan pergi ke gereja. Gereja manapun yang anda tuju, tidaklah menjadi masalah. Tetapi anda harus yakin bahwa apa yang dipraktikkan di gereja anda adalah seperti yang dilakukan Yohanes Pembaptis, yaitu untuk memuliakan Tuhan sepenuhnya. Gereja yang nampaknya hebat dan meriah, belum tentu adalah pendukung Kristus karena mereka justru ingin lebih dikenal daripada Yesus dan firmanNya. Pendeta atau pimpinan gereja yang menyampaikan khotbah, mungkin saja tidak sadar bahwa kekaguman jemaat atas diri mereka adalah lebih dipentingkan dari kekaguman kepada Kristus.

Sebagai umat percaya, biarlah kita sadar bahwa Tuhan yang mahabesar tidak bisa disaingi. Marilah kita menjalani hidup kita ini dengan kerendahhatian, agar nama Tuhan semakin dipermuliakan. Lebih dari itu, biarlah kita menyandarkan iman kita kepada Kristus dan bukannya kepada orang-orang ternama.

“Barangsiapa percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal, tetapi barangsiapa tidak taat kepada Anak, ia tidak akan melihat hidup, melainkan murka Allah tetap ada di atasnya.” Yohanes 3: 36

Perlunya proses untuk mencapai kesempurnaan

“Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.” Matius 5: 48

Adakah orang yang sempurna di dunia ini? Kebanyakan orang berpendapat bahwa tidak ada orang pun yang sempurna, sekalipun mereka belum tentu percaya bahwa semua orang berdosa. Walaupun begitu, ada orang-orang yang mengajarkan bahwa kesempurnaan dapat dicapai manusia dengan melakukan hal-hal tertentu. Selain itu, ada yang percaya bahwa orang-orang tertentu adalah penjelmaan dewa-dewa, dan karena itu mereka adalah manusia yang sempurna.

Bagi umat Kristen, semua orang sudah berbuat dosa dan karena itu tidak ada yang sempurna. Hanya Tuhan yang sempurna, dan Ia pernah turun ke dunia dalam bentuk Yesus, manusia yang tidak berdosa.

Jika ayat diatas menuliskan firman Yesus agar kita menjadi sempurna seperti Allah Bapa, tentu saja ini bisa menimbulkan tanda tanya. Siapakah yang bisa menjadi manusia yang sempurna?

Sudah tentu ajakan Yesus untuk umatNya bukanlah ajakan agar kita berusaha untuk menjadi manusia yang suci. Kesempurnaan hanya terjadi jika Tuhan menyambut umatNya di surga. Selama di bumi, kita berusaha untuk menjadi umat Tuhan yang baik; dan pengampunan dosa ada melalui darah Kristus, tetapi itu tidak akan membuat kita menjadi orang yang sempurna. Lalu bagaimana kita bisa melaksanakan perintah Yesus itu?

Banyak orang Kristen yang yakin bahwa menjadi umat Tuhan cukup dengan iman. Mereka dengan mulut mengaku percaya, tetapi dalam hidup tetap menjalankan kebiasaan lama. Dengan demikian perlu dipertanyakan apakah tujuan mereka untuk menjadi umat Tuhan, jika tidak untuk hidup dalam kasih sesuai dengan perintah Tuhan dan untuk memuliakanNya?

Dalam hidup ini, seharusnya setiap orang mempunyai tujuan dan mau bekerja untuk mencapainya. Lebih dari itu, orang juga mengharapkan hasil yang sesuai dengan tujuan dan cara hidupnya. Memang ada tiga hal yang penting dalam hidup: tujuan, cara dan hasil. Jika kita mau menjadi umat Tuhan, kita harus mempunyai tujuan hidup yang benar, cara hidup yang benar dan dengan demikian berharap untuk mendapatkan hasil yang baik.

Dalam perspektif Alkitab, tujuan hidup yang utama berdasarkan ayat diatas adalah untuk menjadi seperti Yesus. Dengan tujuan ini, kita bisa memilih apa yang perlu dilakukan dan cara hidup yang harus dijalani. Ayat ini tidak menyatakan bahwa kita harus mencapai kesempurnaan agar dapat mencapai keselamatan. Kita tahu bahwa keselamatan adalah karunia Tuhan. Tetapi Yesus dengan ayat ini dan ayat-ayat sebelumnya dalam Matius 5 menetapkan tujuan hidup yang seharusnya dilaksanakan setiap orang Kristen, agar mereka menjadi manusia dewasa yang hidup dalam kasih seperti Tuhan mengasihi kita. Ada tujuan, ada pelaksanaan, ada hasil. Aim, process and product.

Tuhan Yesus menyuruh kita untuk menjadi sama seperti Tuhan yang mengasihi manusia. Bagaimana pula kita bisa melaksanakan perintah ini dalam keterbatasan kita? Tidakkah tujuan adalah terlalu sulit untuk dilaksanakan guna mencapai hasil yang diharapkan?

Tuhan Yesus dengan ayat ini bermaksud menetapkan tujuan hidup umat Tuhan. Tujuan ini memang terlalu berat dan tidak mungkin dicapai dengan kekuatan manusia sendiri. Kita harus berusaha tetapi Tuhan yang pada akhirnya akan menyempurnakan hasil perjuangan hidup kita.

Pagi ini marilah kita memikirkan hidup kita saat ini. Apakah yang menjadi tujuan hidup kita? Sudahkah kita hidup sesuai dengan tujuan kita? Maukah kita meminta pertolongan Tuhan agar kita bisa hidup sesuai dengan perintahNya? Sadarkah kita akan perlunya proses kedewasaan dalam iman kita sehingga makin hari kita makin serupa denganNya? Adakah kemauan kita untuk hidup dalam kasih agar nama Tuhan dipermuliakan melalui hidup kita?

“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” Matius 5: 16

Jangan menyembah allah lain

“Sebab janganlah engkau sujud menyembah kepada allah lain, karena TUHAN, yang nama-Nya Cemburuan, adalah Allah yang cemburu.” Keluaran 34: 14

Jika kita membaca berita di berbagai media, seringkali kita temui berita yang menyedihkan tentang akibat kecemburuan. Rasa cemburu seseorang berasal dari rasa iri karena merasa kurang atau tidak mendapat apa yang seharusnya. Orang mungkin cemburu kepada pasangannya karena soal cinta, tetapi orang juga bisa iri karena harta ataupun nama. Iri hati, secara umum seringkali bertalian dengan adanya rasa takut, kekuatiran, kekecewaan, kepentingan diri sendiri, kesombongan atau kebencian. Iri hati dengan demikian seringkali adalah dosa, dan karena itu cemburu juga begitu. Dengan demikian, tidaklah mengherankan bahwa akibat kecemburuan seringkali menyedihkan. Dosa memang selalu membawa bencana.

Jika rasa cemburu manusia seringkali adalah dosa, bagaimana mungkin Tuhan yang mahasuci adalah Tuhan yang cemburuan? Kecemburuan Tuhan justru timbul karena Ia adalah Tuhan yang mahasuci dan mahakuasa. Sebagai Tuhan satu-satunya yang menciptakan langit, bumi dan segala isinya, Tuhan menuntut ketaatan dari manusia. Ia tidak mengijinkan manusia menyembah diri sendiri, sesamanya, makhluk lain atau apapun yang juga diciptakanNya. Penyembahan yang dilakukan manusia yang tidak untuk Tuhan adalah penyembahan berhala.

Jika Tuhan berhak untuk merasa cemburu karena Ia adalah pemilik alam semesta, tidakkah kecemburuanNya bersifat mementingkan diri sendiri? Sama sekali tidak! Tuhan yang mahakasih justru dengan kecemburuanNya ingin agar manusia hidup bahagia dengan ketaatan kepada sumber kehidupan mereka. Tuhan ingin agar manusia tidak terjebak kedalam penderitaan karena memilih ilah-ilah yang tidak dapat membawa manusia kearah kebahagiaan dan keselamatan.

Sayang sekali bahwa dalam hidup sehari-hari, manusia mudah terperosok kedalam dosa penyembahan berhala. Dalam kehidupan bermasyarakat, orang sering mendewakan para pemimpin, selebriti dan “hero” yang nampaknya karismatik dan berwibawa; mengagumi penampilan dan pesona mereka, memuja apa yang sudah dicapai oleh mereka, terobsesi dengan pengalaman dan kisah hidup mereka yang hebat, dan menganggap prestasi yang mereka capai sebagai sesuatu yang terbaik dan diatas yang segalanya. Dalam hal ini, Alkitab menyebutkan bagaimana cemburu Tuhan menyebabkan datangnya berbagai hukuman kepada bani Israel. Sejarah juga membuktikan bahwa Tuhan menghancurkan mereka yang ditinggikan oleh manusia.

Bukan hanya terjadi dalam kehidupan bermasyarakat, pemujaan berhala juga terjadi dalam kehidupan gereja. Pemujaan para pemimpin gereja terjadi jika jemaat menempatkan mereka sebagai pusat perhatian. Mereka yang ke gereja karena liturgi, musik atau acara, tidak lagi menyembah Tuhan. Selain itu, banyak jemaat gereja yang secara langsung maupun tidak langsung meninggikan status kesuksesan hidup sebagai bukti iman. Banyak juga pendeta yang memakai pengalaman pribadi sebagai bumbu firman Tuhan, dan yang percaya bahwa pengalaman manusia adalah setara dengan Alkitab. Tambahan pula, ada orang-orang Kristen yang merasa bahwa ritual, bahasa dan etnis tertentu adalah apa yang dipilih Tuhan, dan karena itu ingin untuk meninggikannya.

Dalam hidup kita sehari-hari, penyembahan berhala sering tidak disadari. Apabila kita selalu menaruh kepentingan pribadi, suami, istri, dan anak diatas kepentingan Tuhan, itu bisa menjadi penyembahan ilah. Apabila kita selalu membanggakan apa yang kita capai dan miliki dalam keluarga, kita bisa lupa dari mana asalnya. Dan jika kita tunduk menyerah kepada keadaan dan keputusan dalam keluarga yang tidak sesuai dengan firman Tuhan, itupun merendahkan Tuhan.

Tuhan adalah Tuhan yang cemburu dalam kesucianNya. Ia tidak ingin manusia melupakan bahwa Ia adalah Tuhan semesta alam dan segala bangsa. Tuhan tidak menginginkan manusia mencoba-coba untuk mencari sesuatu yang bisa menggantikanNya, karena Tuhan tahu bahwa semua itu sia-sia dan justru akan membawa kehancuran. Hukum yang pertama adalah hukum yang terpenting untuk dilaksanakan manusia karena itu merupakan tali kehidupan yang menjamin kesejahteraan umatNya di bumi dan di surga.

“Atau maukah kita membangkitkan cemburu Tuhan? Apakah kita lebih kuat dari pada Dia?” 1 Korintus 10: 22

Bersukacitalah senantiasa!

“Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang, namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku. ALLAH Tuhanku itu kekuatanku: Ia membuat kakiku seperti kaki rusa, Ia membiarkan aku berjejak di bukit-bukitku.” Habakuk 3: 17 – 19

Kebahagiaan adalah sesuatu yang sebenarnya diingini semua orang. Tetapi, kebahagiaan adalah sesuatu yang sulit didapat. Seorang anak kecil jika ditanya tentang apa yang dicita-citakannya mungkin menjawab dengan salah satu pilihan diantara profesi yang membawa kekayaan, kepandaian dan kemasyhuran. Dengan kesuksesan dalam hidup, banyak orang mengharapkan adanya kepuasan dan kebahagiaan. Dengan mengukur kesuksesan hidup, orang sering menilai kebahagiaan orang lain. Tetapi semua itu adalah semu.

Sekalipun sulit untuk memperolehnya, adalah kekeliruan besar jika manusia tidak mau berbuat sesuatu untuk mendapatkan kebahagiaan. Kebahagiaan tidak datang dengan sendirinya, tetapi memerlukan keputusan pribadi. Kebahagiaan tidak datang dari luar, tetapi dari dalam diri sendiri. Dari hati, bukan dari mata. Karena mata sering melihat segala apa yang berkilau dan mengira bahwa semuanya adalah emas permata, tetapi pada akhirnya hanya kehampaan yang ditemui. Karena mata juga sering melihat adanya penderitaan, kekurangan, kesepian, kekecewaan, kegagalan dan ketakutan; dan semuanya membuat hidup ini terasa sangat berat. Tetapi hati bisa melihat sesuatu yang tidak terlihat oleh mata manusia: Tuhan.

Hati yang berduka adalah penyebab hilangnya kebahagiaan dalam hidup. Bagi mereka yang tidak mengenal Tuhan, hati yang kosong membuat usaha mencari kebahagiaan menjadi sia-sia. Jika Tuhan tidak ada dan manusia tidak dapat dipercaya, siapa lagi yang bisa diharapkan? Bagi mereka yang tahu adanya Tuhan tetapi tidak mengenalNya, bagaimana mereka bisa mengutarakan keluh kesah yang ada? Apakah Tuhan benar-benar mengasihi mereka? Akankah Dia akan berbuat sesuatu untuk mereka?

Nabi Habakuk dalam ayat diatas melukiskan pergumulan dalam hidup orang Israel. Mata Habakuk melihat bagaimana orang Israel harus berjuang dalam hidup untuk mencukupi kehidupan dan untuk tetap survive dalam suasana yang berbahaya. Bangsa Israel pada waktu itu (sekitar abad VII sebelum Masehi) berada dalam ancaman bangsa-bangsa lain dan hidup dalam kekurangan. Tetapi Habakuk mempunyai keyakinan bahwa kebahagiaan masih bisa diperoleh melalui iman kepada Tuhan. Happiness is the Lord. Tuhan adalah sumber kebahagiaan (baca Mazmur 37).

Dimanakah engkau, Tuhan? Aku mencari dan tidak melihatNya, aku menjerit tetapi Ia tidak menjawab! Itulah apa yang sering dikeluhkan manusia yang tahu bahwa Tuhan ada, tetapi tidak menemukanNya. Habakuk bukannya tidak pernah mempunyai perasaan yang serupa. Ia juga bergumul untuk dapat mengerti jalan pikiran Tuhan ketika ia dengan mata, melihat penderitaan disekelilingnya. Tetapi dengan hati Habakuk mendapat keyakinan bahwa ia bisa mendapat ketenteraman melalui iman kepada Tuhan. Tuhan ada, dan apa yang harus dilakukannya hanyalah percaya kepada kasih dan kuasaNya. Kebahagiaan datang dari Tuhan, yang tidak membiarkan Habakuk jatuh terpeleset dari bukit penderitaan hidupnya.

Pagi ini, mungkin dengan mata kita bisa melihat bahwa keadaan disekeliling kita tidaklah bisa memberi harapan. Kesedihan, kekecewaan dan ketakutan mungkin membuat hidup kita sangat tertekan. Tetapi, karena Tuhan sudah memberi kita iman dalam hati kita, kita bisa menghadapi semua tantangan itu dengan memusatkan perhatian kita tidak dengan mata, tetapi dengan hati. Tuhan sudah menyertai kita dalam keadaan apapun, dari dulu dan sampai sekarang. Ia juga yang tahu segala kebutuhan kita, baik dalam segi jasmani maupun rohani. Karena itu, seperti yang ditulis oleh rasul Paulus dalam Roma 8: 35, siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus di masa mendatang? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang? Jangan melihat ke hari depan dengan mata saja, karena dengan hati yang beriman kita bisa mendapatkan rasa sukacita yang sejati.

Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah! Filipi 4: 4

Jangan membuat Tuhan cemburu

“Kamu tidak dapat minum dari cawan Tuhan dan juga dari cawan roh-roh jahat. Kamu tidak dapat mendapat bagian dalam perjamuan Tuhan dan juga dalam perjamuan roh-roh jahat. Atau maukah kita membangkitkan cemburu Tuhan? Apakah kita lebih kuat dari pada Dia?” 1 Korintus 10: 21 – 22

Dalam perkembangan gereja akhir-akhir ini, melalui pengamatan media saya mendengar datangnya praktik-praktik kehidupan yang nampaknya bermanfaat bagi umat Kristen. Jika pada waktu yang silam orang Kristen lebih memusatkan perhatian pada hal-hal yang rohani, praktik-praktik Kristen yang nampaknya modern menampilkan pendekatan “holistic” yang menggabungkan pendekatan rohani dan jasmani. Menurut pengertian holistik ini, sebagai orang percaya kita harus berusaha untuk menjalani hidup yang baik dalam hal jasmani maupun rohani. Orang Kristen dianjurkan untuk mencapai kesuksesan dalam keduanya.

Kalau ditinjau dari segi keutuhan hidup orang Kristen selama hidup di dunia, memang ideal jika kita bisa merasakan berkat Tuhan yang berkelimpahan baik dalam hal jasmani maupun rohani. Mengingat peristiwa dimana Yesus memberi makan lima ribu orang, kita bisa menyimpulkan bahwa Yesus peduli atas keadaan jasmani orang-orang yang mendengarkan pengajaranNya. Manusia tidak dapat hidup tanpa makan, dan sudah tentu Tuhan yang mahapemurah memberikan seisi bumi untuk dikelola manusia, baik yang tergolong umatNya maupun yang belum mengenal Dia.

Yesus semasa di dunia juga peduli akan kesehatan manusia, sebagaimana Ia mengerti bahwa kebahagiaan manusia juga dapat dipengaruhi oleh keadaan tubuhnya. Karena itu Ia menyembuhkan banyak orang sakit, baik mereka yang percaya kepadaNya, maupun yang belum percaya kepadaNya. Lebih dari itu, Yesus memerintahkan murid-muridNya untuk pergi memberitakan Injil sambil menyembuhkan orang sakit dan mengusir setan-setan (Matius 10: 7 – 8). Mereka yang melihat segala apa yang diperbuat murid-murid Yesus itu kemudian banyak yang percaya kepada Tuhan yang mahakuasa. Bagi mereka yang mengerti, segala keajaiban itu terjadi hanya karena kuasa Tuhan, dan karena itu segala kemuliaan adalah untuk Dia.

Manusia pada hakikatnya tidak pernah berubah dalam hal kebutuhan hidupnya. Manusia ingin bahagia lahir dan batin dan berusaha sebisanya untuk mencapai kesuksesan dalam keduanya. Gereja pun mengerti akan panggilan Kristus untuk melayani, dan karena itu selain mengabarkan Injil, berbagai pelayanan kasih juga dijalankan. Memang iman yang benar harus disertai dengan perbuatan yang berdasarkan kasih. Walaupun demikian, kebanyakan gereja lebih mementingkan pelayanan kerohanian karena itu adalah juga misi Kristus selama di dunia. Mereka menyadari bahwa adalah lebih penting bagi manusia untuk memperoleh hidup yang kekal, daripada memperoleh segala sesuatu tetapi jiwanya binasa (Lukas 9: 24).

Sepintas lalu, cara hidup orang Kristen pada zaman kini kelihatannya serupa dengan apa yang terjadi pada zaman dulu, tetapi itu tidaklah sepenuhnya benar. Adanya kemajuan teknologi dan ekonomi membuat manusia pada zaman modern ini cenderung untuk mengutamakan kebutuhan jasmani, dan karena itu sebagian gereja juga ikut terpancing untuk menekankan pentingnya kesuksesan dalam hal jasmani. Sebagian yang lain mungkin menekankan pentingnya keseimbangan jasmani dan rohani dengan memakai alasan bahwa Tuhan menciptakan manusia secara utuh , kesatuan antara tubuh dan jiwa. Karena itu, pada zaman ini konsep hidup holistik atau kesatuan hidup jasmani dan rohani seringkali didengung-dengungkan di gereja.

Dari segi keseimbangan hidup, memang kelihatannya konsep holistik itu baik. Tetapi sebagai orang Kristen kita harus sadar bahwa kepuasan jasmani selama hidup di dunia adalah tidak mungkin terjadi. Adalah kesia-siaan bagi manusia untuk mengejar kebahagiaan jasmani, karena apa saja yang bisa dilihat manusia di bumi tidaklah kekal. Sebaliknya, kebahagiaan surgawi adalah suatu tujuan yang suci yang harus diutamakan semua orang Kristen.

Keinginan untuk mencapai kebahagiaan jasmani, seringkali terwujud dalam usaha untuk mencari harta, kesuksesan, kesehatan dan sebagainya. Orang Kristen dengan demikian sering terpikat untuk mengikut mereka yang mengajarkan bahwa semua yang bisa dinikmati itu adalah baik dan bukti iman. Karena itu jugalah timbul berbagai ajaran yang menggabungkan ajaran Alkitab dengan praktik-praktik budaya, psikologi dan mistik. Manusia mungkin berpikir bahwa selama hasilnya terlihat baik, semua itu bisa diterima.

Pagi ini, ayat diatas mengingatkan kita bahwa sebagai umat percaya, kita harus berhati-hati dalam memilih apa yang kita ikuti, pakai atau pelajari. Apapun yang kelihatannya baik, tetapi secara langsung atau tidak langsung bisa mengurangi kesadaran manusia akan kemuliaan dan kedaulatan Tuhan adalah dosa. Tuhan yang mahakuasa tidak ingin kita mendua hati dengan memuliakan sesama manusia, kemampuan manusiawi, benda-benda ciptaan manusia dan roh-roh yang  tidak kudus selama kita ingin menjadi umatNya. Atau maukah kita membangkitkan cemburu Tuhan? Apakah kita lebih kuat dari pada Dia?

“Memang dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan. Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang, karena terang hanya berbuahkan kebaikan dan keadilan dan kebenaran,dan ujilah apa yang berkenan kepada Tuhan. Janganlah turut mengambil bagian dalam perbuatan-perbuatan kegelapan yang tidak berbuahkan apa-apa, tetapi sebaliknya telanjangilah perbuatan-perbuatan itu.” Efesus 5: 8 – 11

Berdoalah untuk kesehatan

“Kalau ada seorang di antara kamu yang sakit, baiklah ia memanggil para penatua jemaat, supaya mereka mendoakan dia serta mengolesnya dengan minyak dalam nama Tuhan. Dan doa yang lahir dari iman akan menyelamatkan orang sakit itu dan Tuhan akan membangunkan dia; dan jika ia telah berbuat dosa, maka dosanya itu akan diampuni. Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh. Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya.” Yakobus 5: 14 – 16

Semua manusia tentunya pernah jatuh sakit selama hidupnya. Memang, berdasarkan iman Kristen, adanya penyakit dan rasa sakit adalah salah satu konsekuensi kejatuhan manusia kedalam dosa. Walaupun demikian, kita harus bersyukur bahwa Tuhan selalu menyertai umatnya baik dalam suka maupun duka, baik sewaktu sehat maupun sewaktu sakit. Kasih Tuhan tidak berubah dalam segala keadaan ataupun saat.

Sekalipun manusia sudah jatuh dalam dosa, Tuhan yang mahakasih tetap ingin memelihara seisi dunia dan bahkan seluruh jagad raya, sehingga semua ciptaanNya tetap berfungsi seperti apa yang dirancangNya. Karena itu, sesuai dengan rencana penyelamatanNya, Tuhan mengatur segala sesuatu supaya semuanya berjalan baik untuk kemuliaanNya. Tuhan tidak membiarkan dunia ini hancur berantakan, dan oleh sebab itu Ia juga mencukupi segala kebutuhan manusia, termasuk kesehatan mereka. Kesehatan bukan hanya diberikan kepada mereka yang percaya kepadaNya, tetapi kepada semua mahluk di bumi. Oleh karena itu, Ia juga memberi manusia kesadaran dan kemampuan untuk menghargai kesehatan mereka, baik jasmani maupun rohani, dan untuk menghargai semua ciptaan Tuhan yang lain.

Ayat diatas ditulis oleh rasul Yakobus mengenai kesehatan umat Tuhan. Pada saat itu, ilmu kedokteran dan kesehatan lingkungan belumlah semaju sekarang. Walaupun demikian, Yakobus tentunya sadar bahwa menjaga kesehatan adalah penting untuk bisa hidup dan bekerja secara optimal untuk kemuliaan Tuhan. Lebih dari itu, ia jelas sadar bahwa Tuhanlah yang mempunyai kuasa untuk memberi kesembuhan kepada orang yang sakit. Tuhanlah yang berhak untuk menolong siapa saja yang mengalami masalah, baik itu hal jasmani atau rohani. Pertanyaannya, apakah ayat ini tetap sepenuhnya relevan untuk masa kini?

Ayat diatas tidak secara spesifik menulis tentang jenis penyakit yang bisa didoakan untuk kesembuhan. Jika pengolesan dengan minyak dianjurkan untuk kesembuhan (kemungkinan besar minyak zaitun), rasul Yakobus tentunya tahu bahwa itu bukanlah obat untuk segala penyakit. Jadi, pemakaian minyak itu mungkin bertalian dengan ritual atau kebiasaan waktu itu, dan merupakan lambang penyertaan Tuhan. Bukan pengurapan, bukan doa dan bukan iman manusia yang membawa kesembuhan, tetapi Tuhan sendiri. Tuhan yang mahakuasa bisa secara total menyembuhkan segala penyakit jika itu sesuai dengan kehendakNya; bukan penyakit tertentu saja dan bukan hanya kesembuhan sementara.

Ayat diatas tidak menyebutkan apakah kesembuhan jasmani atau rohani yang dibahas, tetapi semua penyakit memang bisa disembuhkan Tuhan, seperti yang dilakukan Yesus selama di dunia. Walaupun begitu, dengan mempertimbangkan kefanaan jasmani manusia, ayat itu mungkin lebih cenderung menyangkut masalah rohani yang bersangkutan dengan cara hidup manusia di dunia. Ini juga lebih sesuai dengan misi penyelamatan Yesus selama di dunia.

Perlukah kita berdoa untuk kesembuhan seseorang? Bukankah Tuhan akan melakukan apa yang dikehendakiNya saja? Bukankah Tuhan tahu kebutuhan kita sebelum kita memintanya? Tidak mudah menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, tetapi kita harus menyadari bahwa kita hanya bisa hidup sebagai umat Tuhan dengan mempunyai hubungan yang intim dengan Dia.

Hubungan yang baik dengan Sang Pencipta seharusnya memberi pengertian bahwa kita tidak dapat memisahkan kehidupan jasmani dari kehidupan rohani, karena tubuh kita adalah rumah Tuhan. Karena itu kita harus memelihara keduanya sesuai dengan firman Tuhan. Seringkali orang mementingkan salah satu saja, dan ini bisa menimbulkan persoalan. Manusia bisa sakit karena faktor keturunan, lingkungan, atau kebiasaan. Selain itu, iblis pun bisa membawa berbagai gangguan. Dengan hubungan yang baik dengan Tuhan kita akan makin mampu untuk menyadari apa yang salah dan memperoleh pengampunanNya.

Tuhan bisa memberi kesembuhan dari penyakit apapun apabila sesuai dengan kehendakNya. Tetapi ayat ini mungkin lebih mengena dalam hal yang berhubungan dengan cara hidup seseorang. Mereka yang hidupnya jauh dari Tuhan seringkali merasa sakit, lemah, tertekan dan kesehatannya terganggu. Mereka yang terpaksa hidup dalam lingkungan yang kurang sehat, mungkin sering terkena penyakit. Selain itu, banyak orang di zaman ini yang harus dirawat di rumah sakit karena hidup kacau balau diluar Kristus. Kepada mereka ini, firman Tuhan berkata bahwa didalam Dia ada keselamatan dan kebangkitan. Tuhan bisa bekerja dalam hidup manusia, keluarga, masyarakat dan negara untuk kemuliaanNya.

Karena Tuhan mengasihi seisi dunia, mereka yang sakit boleh berharap dalam iman akan keringanan dan kesembuhan dariNya. Tetapi, lebih dari itu, mereka yang beriman akan yakin bahwa sekalipun tubuh jasmani mereka lemah, mereka adalah orang-orang yang sudah mendapat pengampunan Tuhan.

Haruskah kita berdoa memohon kesembuhan? Sudah tentu! Setiap orang Kristen adalah orang-orang yang sudah dikuduskan oleh Kristus. Dengan demikian, adalah panggilan bagi kita untuk selalu berdoa untuk kesehatan orang lain dan juga untuk kesehatan diri kita sendiri. Bagi orang yang dibenarkan, hidup baru didalam Yesus selalu membawa perubahan, baik dalam jasmani maupun rohani. Memang dalam darah Yesus ada kuasa yang besar.

Belas kasihan datang dari Tuhan

“Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala.” Matius 9: 36

Sejak umur berapa seseorang bisa merasakan penderitaan orang lain? Pertanyaan ini sulit dijawab, karena tiap orang mempunyai perkembangan pikiran, emosi dan spiritual yang berbeda. Selain itu, tiap orang juga mempunyai pengalaman yang berlainan. Kita mungkin melihat bahwa seorang anak bisa memiliki rasa sayang terhadap hewan peliharaan keluarga seperti anjing, kucing dan ayam sejak umur 3 tahun dan bahkan lebih awal dari itu. Walaupun demikian, seorang anak yang berumur 5 tahun belum tentu memiliki rasa belas kasihan atau compassion kepada orang lain.

Belas kasihan mengandung arti bahwa kita peduli akan orang lain, menanggapi keadaan orang lain dengan kelemahlembutan, dan merasakan dorongan yang kuat untuk menolong mereka. Belas kasihan yang benar adalah perasaan empati yang bekerja. Ini berbeda dengan perasan simpati yang hanya merasa kasihan karena melihat orang lain menderita tetapi tidak bisa  ikut merasakan apa yang diderita mereka. Untuk seorang anak yang berumur lima tahun, rasa belas kasihan bisa dilihat ketika ia merangkul orang lain, membuat kartu simpati, atau mengatakan sesuatu yang manis untuk menghibur teman atau anggota keluarga yang sedang mengalami kesulitan atau penderitaan.

Rasa belas kasihan muncul karena adanya penderitaan orang lain. Bagaimana itu bisa muncul dalam hati manusia? Jika kita bayangkan, seandainya manusia tidak jatuh kedalam dosa, manusia akan hidup bahagia selamanya. Rasa belas kasihan mungkin tidak dibutuhkan. Tetapi, justru dengan jatuhnya manusia kedalam dosa, hidup menjadi berat dan rasa belas kasihan bisa muncul dalam hati manusia yang berdosa. Dari mana datangnya?

Ketika Allah menghukum Adam dan Hawa dan mengusir mereka dari taman Firdaus, Ia bisa melihat apa yang akan terjadi. Ia berkata bahwa bumi menjadi tempat yang tidak menyenangkan dan manusia harus bergumul untuk bisa hidup di dunia, untuk kemudian kembali menjadi debu. Bagaimana Allah yang mahakasih bisa membiarkan ciptaanNya menderita seperti itu? Sudah tentu semua itu terjadi karena dosa manusia dan hukuman Allah sudahlah sepantasnya. Tetapi, bukankah Allah adalah Tuhan yang mahakasih?

Allah memang mahakasih. Karena kasihNya, dengan kejatuhan manusia Ia memulai sebuah proyek besar untuk menyelamatkan umat manusia. Sekalipun manusia akan mati secara fisik, Allah mengirimkan AnakNya yang tunggal, Yesus Kristus, untuk menebus dosa manusia sehingga mereka yang percaya kepada Yesus dapat bersatu kembali denganNya di surga. Ini adalah rasa belas kasihan Allah yang sangat besar, karena Ia mau mengurbankan diriNya sendiri demi manusia. Ia yang melihat bahwa manusia akan hidup menderita di dunia, mau memberikan kebahagiaan yang abadi kepada mereka yang tahan uji. Allah mempunyai compassion karena Ia peduli akan hidup manusia, menanggapi keadaan manusia dengan kelemahlembutan, dan merasakan dorongan yang kuat untuk menolong mereka.

Yesus sudah pernah menjadi manusia dan merasakan hidup yang berat seperti manusia yang lain. Dalam ayat pembukaan diatas, jelas terlihat bahwa Yesus mempunyai belas kasihan kepada manusia disekelilingNya, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala. Sebagai manusia, Ia bisa mengerti penderitaan kita baik jasmani maupun rohani.  Yesus yang adalah Anak Allah, adalah hadiah dari Allah untuk meringankan hidup manusia di dunia. Manusia yang dulunya tidak mempunyai harapan, sekarang bisa berharap akan bersatu dengan Tuhan di surga. Sekalipun keadaan dunia seringkali tidak tertahankan, dengan iman mereka yang percaya kepada Yesus akan dapat merasakan penyertaanNya.

“Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa.” Ibrani 4: 15

Kita bisa melihat bahwa Yesus juga mempunyai rasa belas kasihan.  Rasa belas kasihan yang berdasarkan kasih, dengan demikian adalah salah satu sifat pribadi Tuhan sendiri. Manusia yang sudah jatuh kedalam dosa seringkali tidak lagi mempunyai rasa belas kasihan yang berdasarkan kasih. Tetapi, karena apa yang dilakukan Yesus di dunia, karena cara hidupNya, dan terutama karena pengurbananNya di kayu salib, orang Kristen memperoleh gambaran bagaimana seharusnya mereka memperlakukan orang lain. Sebagaimana kita sudah dikasihi Tuhan dan menerima belas kasihanNya, begitu juga kita harus mempunyai kepekaan atas penderitaan orang lain. Seperti Tuhan sudah bermurah hati kepada kita, kita pun harus bisa hidup sejalan dengan firmanNya.

“Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran.” Kolose 3: 12

Orang sakit perlu dokter

Siapakah dapat berkata: “Aku telah membersihkan hatiku, aku tahir dari pada dosaku?” Amsal 20: 9

Bagi orang yang ingin memelihara kesehatannya, kunjungan ke dokter untuk full check-up adalah perlu, setidaknya setahun sekali. Jika pemeriksaan dokter menunjukkan adanya gejala penyakit tertentu, dokter biasanya akan melanjutkan pemeriksaan rutin itu dengan pemeriksaan khusus dan pengobatan sampai penyakit yang ada bisa disembuhkan atau diatasi.

Dalam kenyataannya, tidak semua orang mau pergi ke dokter secara rutin setiap tahun. Memang ada orang yang tidak atau kurang mampu untuk membayar biayanya; tetapi, sekalipun itu ditanggung asuransi, tetap saja ada orang-orang yang tidak mau ke dokter secara teratur. Mungkin mereka merasa sehat, atau mungkin merasa sudah betul-betul sembuh dari penyakit yang dialami sebelumnya. Mereka mungkin berpikir bahwa jika tidak ada tanda-tanda sakit, tubuh mereka sudah tentu sehat.

Tuhan Yesus datang ke dunia ini untuk menyelamatkan orang yang percaya kepadaNya. Mereka yang tua ataupun muda, pria maupun wanita, kaya ataupun miskin, semuanya adalah orang-orang berdosa yang seperti orang sakit, membutuhkan tabib yang bisa menyembuhkan mereka.

Yesus mendengarnya dan berkata: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit.” Matius 9: 12

Sayang sekali, tidak semua orang merasa bahwa ada sesuatu yang tidak benar dalam hidup mereka. Banyak orang yang merasa bahwa mereka mempunyai hidup yang baik, tidak pernah berurusan dengan hukum atau jikapun ada hal-hal yang kurang baik yang mereka lakukan, tidak ada seorang pun yang tahu akan hal itu. Dalam perumpamaan orang Farisi dan pemungut cukai, orang Farisi melambangkan orang yang sakit tetapi merasa sehat. Dalam banyak hal, jika kita tidak berhati-hati, hidup kita bisa menyerupai hidup orang Farisi itu.

“Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku.” Lukas 18: 11 – 12

Barangkali sebagai orang Kristen kita rajin ke gereja. Tetapi jika hidup kita di luar gereja tidak sejalan dengan firman Tuhan, kita mungkin masih tergolong orang yang sakit berat. Memang ada banyak orang Kristen yang merasa yakin bahwa karena mereka mengaku Kristen, sudah tentu hidup mereka berkenan kepada Tuhan. Tetapi, ayat pembukaan kita mempertanyakan keyakinan kita: Siapakah dapat berkata bahwa ia telah membersihkan hatinya, dan yakin bahwa ia bersih dari dosanya?

Alkitab menyebutkan bahwa semua orang dalam pandangan Tuhan adalah orang berdosa, seperti orang-orang yang sakit yang memerlukan perawatan dokter.

“Semua orang telah menyeleweng, mereka semua tidak berguna, tidak ada yang berbuat baik, seorangpun tidak.” Roma 3: 12

Setiap orang dengan demikian membutuhkan kesembuhan rohani melalui penebusan darah Kristus dan pemeliharaanNya setiap hari. Mereka yang sudah merasa pernah menerima Yesus dan kemudian dengan sengaja melupakanNya dalam hidup sehari-harinya, tidaklah berbeda dengan orang yang sudah merasa sehat untuk selamanya setelah menemui seorang dokter.

Pagi hari ini, jika kita mempersiapkan diri kita untuk ke gereja, biarlah kita mau meneliti hidup kita. Sudahkah kita hidup sebagai orang-orang yang pernah menerima kesembuhan dari penyakit dosa dalam hidup lama kita dan kini memiliki hidup baru bersama Kristus setiap hari?

Pernahkah Tuhan berubah pikiran?

“Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang; pada-Nya tidak ada perubahan atau bayangan karena pertukaran.” Yakobus 1: 17

Istilah “plin-plan” sudah lama dipakai di Indonesia, terutama untuk menggambarkan sifat seorang pemimpin yang kurang tegas dan sering berubah-ubah menurut situasi dan kondisi. Pemimpin yang sedemikian tentunya bukan pemimpin yang tegas dan bijaksana, karena keputusan yang dibuatnya sering dipengaruhi orang-orang yang disekitarnya. Oleh karena itu, mereka yang bekerja dibawah pimpinannya sering bingung dalam melaksanakan tugas mereka karena standar pemimpin yang berubah-ubah sesuai dengan arus angin. Apalagi, jika pemimpin itu tidak benar-benar kuat kedudukannya, ia mungkin juga harus sering mengubah keputusannya untuk menghindari komentar negatif dari bawahannya.

Jika ada banyak pemimpin dunia yang plin-plan, yang wishy-washy, bagaimana pula dengan Tuhan, Raja diatas segala raja? Tuhan yang mahakuasa, mahabijaksana dan mahatahu sudah tentu tidak pernah takut, ragu-ragu atau kuatir untuk melakukan tindakan apa saja yang perlu. Ia yang mahasempurna tentu bisa melakukan apa saja secara sempurna. Tambahan lagi, Ia yang mahabijaksana tidak membutuhkan nasihat manusia; dan karena Ia mahatahu, sudah tentu tidak perlu bagi umatNya untuk memberitahu Dia akan apa yang mereka butuhkan. Juga, karena Ia mempunyai rancangan agung untuk segala sesuatu, apapun yang terjadi di alam semesta tidak akan dapat mengubah rencanaNya.

Memang ada banyak orang Kristen yang percaya bahwa dengan tindakan tertentu Tuhan akan tergerak untuk melakukan sesuatu untuk mereka, misalnya dengan berdoa, berpuasa dan ritual-ritual lainnya. Dengan demikian, mereka seolah menyatakan bahwa mereka kurang puas dengan apa yang dilakukan Tuhan saat ini. Secara tidak langsung mereka mungkin merasa lebih tahu tentang apa yang diperlukan, saat yang tepat dan tempat yang sesuai bagi Tuhan untuk bertindak. Sekalipun mereka mungkin sadar bahwa Tuhan mungkin mempunyai rencana yang berlainan dengan keinginan mereka, mereka mungkin berharap kalau-kalau Tuhan berubah pikiran.

Hal mungkin tidaknya Tuhan berubah pikiran sudah sering diperdebatkan secara teologi. Banyak contoh dalam Alkitab yang dipakai sebagai dasar argumen bahwa jika kita bersungguh-sungguh meminta Tuhan untuk bertindak, Ia akan melakukannya. Tetapi, anggapan sedemikian adalah merendahkan Tuhan dan membuat Dia seolah sederajat dengan pimpinan dunia, manusia yang sering kuatir tentang popularitas mereka. Tuhan menurut ayat diatas adalah Tuhan yang baik, yang tidak pernah berubah-ubah keputusanNya atau plin-plan seperti manusia.

Pagi ini, jika kita berada dalam keadaan yang berat dan menanti-nantikan jawaban Tuhan, adalah mudah bagi kita untuk merasa bahwa kita perlu untuk berbuat sesuatu agar Tuhan sadar akan keadaan kita. Mungkin kita akan memanjatkan doa yang panjang kepada Tuhan. Atau mungkin kita pergi menemui seseorang untuk minta bantuan agar Tuhan mau mendengarkan permintaan kita. Mungkin saja orang itu dikenal sebagai hamba Tuhan yang doanya manjur, atau mempunyai karunia untuk melakukan mujizat. Tetapi kalau memang demikian, ada pertanyaan untuk kita apakah kita percaya bahwa Tuhan kita yang mahakuasa, mahakasih, mahatahu dan mahabijaksana bisa dipengaruhi oleh manusia yang penuh cacat-cela. Dalam hal ini, jika kita yakin bahwa Tuhan mempunyai rancangan yang baik, dan bahwa Ia adalah Pemimpin yang mahakuasa, doa kita tidak lain adalah penyerahan kita kepada bimbinganNya yang disertai dengan rasa syukur.

“Lagipula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan. Jadi janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya.” Matius 6: 7 – 8

Jangan selalu mengharapkan mujizat

“Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga?” Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!” Matius 7: 22 – 23

Pernahkah anda menonton pertunjukan sulap yang benar-benar hebat? Memang ada banyak orang yang mampu memukau penonton dengan berbagai trik sulap yang luar biasa. Mereka adalah pesulap professional yang mencari uang dengan melakukan show di gedung pertunjukan, TV dan media. Semua orang yang menonton tahu bahwa mereka hanya melakukan tipuan mata, tetapi mengagumi bagaimana mereka bisa membuat apa yang tidak mungkin atau sulit terjadi, menjadi suatu yang nampaknya mudah dilakukan.

Serupa tapi tak sama, pada sekitar 3500 tahun yang lalu, Musa dan Harun pergi menghadap Firaun; lalu Harun melemparkan tongkatnya di depan Firaun dan para pegawainya, maka tongkat itu menjadi ular (Keluaran 7: 10). Musa dan Harun melakukan semua itu sesuai dengan perintah Tuhan.

Firaun yang melihat tongkat Harun menjadi seekor ular, kemudian memanggil orang-orang berilmu dan ahli-ahli sihir dari Mesir; dan mereka pun, melemparkan tongkatnya, dan tongkat-tongkat itu menjadi ular-ular. Apa yang menakjubkan ialah tongkat Harun kemudian menelan tongkat-tongkat mereka.

Satu hal yang bisa kita pelajari dari mujizat yang terjadi di depan Firaun ialah bukan hanya Tuhan, setan pun bisa membuat hal yang tidak sesuai dengan hukum alam. Memang diantara mujizat yang ada di bumi, ada yang membawa pengenalan akan kuasa dan kasih Tuhan, tetapi ada juga yang hanya membawa kemasyhuran dan kekayaan bagi orang-orang yang melakukannya. Selain itu ada hal-hal luar biasa yang justru bisa mencelakakan manusia. Tetapi yang benar-benar merupakan mujizat Tuhan adalah apa yang membawa kebaikan kepada umatNya dan kemuliaan bagiNya.

Dengan perintah Tuhan, semua umatNya sebenarnya bisa mendapat kemampuan untuk melakukan sesuatu yang ajaib untuk tujuan Tuhan yang spesifik. Tuhan Yesus dari awalnya menyuruh murid-muridNya untuk memberitakan kabar keselamatan sambil melakukan berbagai mujizat. Tetapi mereka harus melakukan pelayanan itu tanpa pamrih- bukan untuk mencari uang.

“Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Sorga sudah dekat. Sembuhkanlah orang sakit; bangkitkanlah orang mati; tahirkanlah orang kusta; usirlah setan-setan. Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma.” Matius 10: 7 – 8

Mujizat dengan demikian bukan monopoli orang-orang “istimewa” saja. Mujizat tidak juga harus terjadi pada orang beriman saja. Mujizat adalah salah satu cara Tuhan untuk membawa orang-orang yang dipilihNya, kearah pertobatan dan penyerahan hidup kepadaNya.

Mujizat adalah sesuatu yang luar biasa, tetapi mujizat yang sungguh besar ialah ketika seorang bisa bertobat dari dosanya dan menerima keselamatan melalui darah Kristus. Mujizat tidak dilakukan Tuhan pada setiap saat untuk mereka yang sudah benar-benar mengenalNya dan mempunyai kekuatan iman; tetapi pada saat yang tertentu, Tuhan bisa mendatangkan mujizat untuk menolong orang yang masih terasing dan menderita, agar mereka dapat melihat kebesaran Tuhan dan mau menjadi pengikutNya.

“Lalu pergilah mereka memberitakan bahwa orang harus bertobat, dan mereka mengusir banyak setan, dan mengoles banyak orang sakit dengan minyak dan menyembuhkan mereka.” Markus 6: 12 – 13

Perlu kita sadari bahwa mujizat tidak selalu membawa orang kepada Tuhan karena bagi mereka yang mengeraskan hati seperti Firaun, apa yang jelas-jelas merupakan mujizat Tuhan tetap tidak dapat membawa perubahan hati. Pada pihak yang lain, mereka yang selalu mementingkan mujizat dan keajaiban seringkali terjebak kedalam kegembiraan dan pemujaan atas apa yang bisa dilihat mata saja.

Pada waktu Yesus menyembuhkan sepuluh orang kusta, hanya satu diantara mereka, yaitu orang Samaria, yang kembali menjumpai Yesus untuk memuliakan Allah. Hanya satu diantara sepuluh yang bisa melihat apa yang tidak bisa dilihat mata. Sembilan orang bergembira karena bisa melihat keajaiban, tetapi hanya satu yang bisa melihat Tuhan dibalik keajaiban. Karena itu Yesus berkata bahwa iman orang itu telah menyelamatkannya (Lukas 17: 15 – 19).

Pagi ini kita harus sadar bahwa Tuhanlah yang melakukan mujizat, bukan manusia. Karena itu, jika kita membutuhkan pertolongan dalam hidup, kita harus bergantung kepada Tuhan dan bukannya kepada orang-orang yang merasa sudah dipilih Tuhan untuk melakukan mujizatNya pada setiap saat yang mereka maui.

Sekalipun Tuhan tidak selalu membuat mujizat untuk umatNya, Ia mau memberi mereka ketabahan dan kekuatan. Tuhan tidak juga selalu membuat mujizat yang spektakuler untuk orang yang mencari Dia, tetapi tetap bisa membuka hati mereka sehingga bisa melihat keselamatan yang datang dari Kristus. Dengan demikian, pengharapan kita dalam hidup di dunia adalah kepada kasih Tuhan dan bukannya kepada mujizatNya saja. Kita harus juga sadar bahwa seringkali Tuhan bekerja dengan cara yang berbeda dengan apa yang kita harapkan. Karena itu biarlah kita mau selalu berdoa agar kehendak Tuhanlah yang terjadi.

“Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku; tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi.” Lukas 22: 42