“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Roma 8: 28
Kemarin siang, dalam perjalanan kembali ke Chengdu, bis kami berhenti di suatu tempat yang merupakan pusat epicenter gempa besar berskala 8 Richter pada tahun 2008. Hampir 100 ribu orang tewas dan lebih dari 300 ribu orang mengalami luka-luka karena gempa itu. Tour leader kami mengungkapkan bahwa rakyat Chengdu merasa bahwa Tuhan memberikan dua hal yang bertentangan kepada mereka: keindahan alam dan bencana alam.
Untuk banyak orang lain, Kristen maupun bukan, memang sering muncul pertanyaan apakah Tuhan selalu dibalik semua bencana di dunia ini. Pertanyaan ini tidak mudah dijawab karena Alkitab banyak menceritakan saat- saat dimana Tuhan marah dan menjatuhkan hukuman kepada orang atau bangsa tertentu.
Tidak ada seorangpun yang dapat memberikan jawaban yang bisa memberikan jawaban yang memuaskan semua orang, terutama mereka yang tertimpa bencana. Namun ada beberapa pokok pemikiran yang bisa kita pelajari dari Alkitab.
- Tuhan adalah Sang Pencipta dan maha kasih. Sebagai Tuhan yang mencipta dan menghargai ciptaanNya, Ia tidak mungkin menjadi Tuhan yang senang merusak ciptaanNya sendiri. Tuhan justru ingin agar umatNya hidup bahagia.
- Tuhan maha kuasa dan maha suci, dan Ia ingin agar mereka yang dipilihNya untuk hidup sesuai dengan perintahNya. Karena itu, kadang-kadang Ia memberikan hajaran agar mereka bertobat.
- Manusia sudah jatuh dalam dosa dan dunia itu bukan Firdaus lagi. Sesuatu yang buruk terjadi karena yang baik sudah hilang. Dunia ini menjadi kacau dan iblis selalu berusaha menghancurkan manusia.
- Dalam keadaan khusus, bencana bisa terjadi sebagai hukuman Tuhan. Ini adalah karena kesalahan manusia sendiri, terutama jika pempimpin atau bangsa melakukan hal-hal yang jahat.
- Bencana bisa terjadi kepada siapapun juga. Jika seorang mengalami bencana, itu belum tentu sehubungan dengan dosanya. Belum tentu itu menunjukkan bahwa dosanya lebih besar dari dosa orang lain.
Pagi ini, sebagai umat percaya kita diingatkan untuk selalu berdoa meminta perlindungan Tuhan agar bencana tidak terjadi dalam hidup kita, dalam keluarga, gereja, bangsa dan negara. Kita juga harus berdoa agar semua orang yang ada dalam hidup kita berjalan di jalan yang benar, untuk tidak menghujat nama Tuhan. Lebih dari itu, apapun yang terjadi dalam hidup kita, kita harus percaya bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu yang terjadi dalam hidup kita untuk mendatangkan kebaikan bagi kita.
Hari kemarin perjalanan kami dilanjutkan dengan bis menuju gunung Siguniang yang tingginya 6250 meter. Tentunya kami tidak dapat mengunjungi puncak gunung itu, tetapi tempat pemberhentian bis kami sudah berada pada ketinggian lebih dari 4000 meter. Kadar oksigen di udara sudah berkurang dan itu membuat orang sulit bernafas.

Kemarin adalah hari kedua saya di China. Perjalanan rombongan sebanyak 30 orang dengan bis melalui jalan pegunungan Sichuan yang berliku-liku sangat melelahkan. Dengan berkat perlindungan Tuhan kami sampai di hotel pada jam 9.30 malam.
Pagi ini saya berada di Chengdu, China. Perjalanan kesana cukup jauh dan melelahkan dan semalam saya hanya sempat tidur selama 4 jam. Karena itu sekarang saya merasa letih sekali. Kelelahan adalah keadaan yang tidak dapat kita hindari karena keterbatasan manusia.
Doa adalah komunkasi kita dengan Sang Pencipta. Untuk orang Kristen, kesempatan berdoa secara langsung kepada Tuhan adalah berkat karunia yang dimungkinkan oleh kematian Yesus Kristus untuk menebus dosa manusia.
Bersyukur. Rasa syukur. Lebih mudah mengucapkannya daripada melakukannya. Apalagi jika bencana atau kesulitan hidup datang menimpa. Orang mungkin bisa mengadakan acara syukuran akbar, tetapi hidupnya tidak sepenuhnya terisi rasa syukur. Orang juga bisa bersyukur, tetapi rasa syukur itu dinyatakan atas “nasib mujur” yang dialaminya.
Suatu pertanyaan bagi banyak orang yang hidup di dunia ini adalah soal keadilan sosial. Jika seorang mau melihat keadaan di sekitarnya, ia akan bisa melihat bahwa ada banyak ketimpangan keadaan dimana-mana. Ada banyak orang yang hidup menderita karena mereka tidak dapat memperoleh pekerjaan yang layak. Mungkin bukan karena kesalahan mereka jika begitu banyak orang yang harus bersaing untuk jumlah pekerjaan yang tidak cukup. Sebaliknya, ada orang-orang yang berkedudukan tinggi yang sebenarnya tidak pantas untuk menjabat, bukan saja karena kurangnya prestasi, tetapi juga karena berbagai hal yang tidak baik yang dilakukan mereka. Mengapa Tuhan membiarkan hal itu?
Di berbagai negara, orang Kristen merayakan Paskah, hari kebangkitan Kristus. Ada sebagian yang menyebutkannya sebagai Easter celebration atau Passover celebration, tetapi semuanya mempunyai maksud yang sama: merayakan Kristus yang sudah menang atas maut. Perayaan ini seharusnya adalah lebih penting dari perayaan Natal, karena kebangkitan Kristus itulah yang membuat iman kita tidak sia-sia (1 Korintus 15: 14, 17).