Apakah Tuhan pencipta malapetaka?

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Roma 8: 28

Kemarin siang, dalam perjalanan kembali ke Chengdu, bis kami berhenti di suatu tempat yang merupakan pusat epicenter gempa besar berskala 8 Richter pada tahun 2008. Hampir 100 ribu orang tewas dan lebih dari 300 ribu orang mengalami luka-luka karena gempa itu. Tour leader kami mengungkapkan bahwa rakyat Chengdu merasa bahwa Tuhan memberikan dua hal yang bertentangan kepada mereka: keindahan alam dan bencana alam.

Untuk banyak orang lain, Kristen maupun bukan, memang sering muncul pertanyaan apakah Tuhan selalu dibalik semua bencana di dunia ini. Pertanyaan ini tidak mudah dijawab karena Alkitab banyak menceritakan saat- saat dimana Tuhan marah dan menjatuhkan hukuman kepada orang atau bangsa tertentu.

Tidak ada seorangpun yang dapat memberikan jawaban yang bisa memberikan jawaban yang memuaskan semua orang, terutama mereka yang tertimpa bencana. Namun ada beberapa pokok pemikiran yang bisa kita pelajari dari Alkitab.

  • Tuhan adalah Sang Pencipta dan maha kasih. Sebagai Tuhan yang mencipta dan menghargai ciptaanNya, Ia tidak mungkin menjadi Tuhan yang senang merusak ciptaanNya sendiri. Tuhan justru ingin agar umatNya hidup bahagia.
  • Tuhan maha kuasa dan maha suci, dan Ia ingin agar mereka yang dipilihNya untuk hidup sesuai dengan perintahNya. Karena itu, kadang-kadang Ia memberikan hajaran agar mereka bertobat.
  • Manusia sudah jatuh dalam dosa dan dunia itu bukan Firdaus lagi. Sesuatu yang buruk terjadi karena yang baik sudah hilang. Dunia ini menjadi kacau dan iblis selalu berusaha menghancurkan manusia.
  • Dalam keadaan khusus, bencana bisa terjadi sebagai hukuman Tuhan. Ini adalah karena kesalahan manusia sendiri, terutama jika pempimpin atau bangsa melakukan hal-hal yang jahat.
  • Bencana bisa terjadi kepada siapapun juga. Jika seorang mengalami bencana, itu belum tentu sehubungan dengan dosanya. Belum tentu itu menunjukkan bahwa dosanya lebih besar dari dosa orang lain.

Pagi ini, sebagai umat percaya kita diingatkan untuk selalu berdoa meminta perlindungan Tuhan agar bencana tidak terjadi dalam hidup kita, dalam keluarga, gereja, bangsa dan negara. Kita juga harus berdoa agar semua orang yang ada dalam hidup kita berjalan di jalan yang benar, untuk tidak menghujat nama Tuhan. Lebih dari itu, apapun yang terjadi dalam hidup kita, kita harus percaya bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu yang terjadi dalam hidup kita untuk mendatangkan kebaikan bagi kita.

Nafas kehidupan

“Ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup.” Kejadian 2: 7

Hari kemarin perjalanan kami dilanjutkan dengan bis menuju gunung Siguniang yang tingginya 6250 meter. Tentunya kami tidak dapat mengunjungi puncak gunung itu, tetapi tempat pemberhentian bis kami sudah berada pada ketinggian lebih dari 4000 meter. Kadar oksigen di udara sudah berkurang dan itu membuat orang sulit bernafas.

Memang hal bernafas adalah sesuatu yang biasa kita lakukan sehingga tidak pernah kita pikirkan; sampai tiba saat seperti kemarin yang membuat saya berpikir betapa ajaib ciptaan-ciptaan Tuhan itu, terutama jika kita membaca bagaimana Tuhan menciptakan manusia dan memberinya nafas hidup dan roh yang membedakan dirinya dengan mahluk lain.

Manusia bisa membuat segala sesuatu yang hebat dengan pikiran dan usahanya, tetapi kehidupan di dunia ini tidak dapat diciptakannya dari apa yang tidak ada, dan jika nafas hidup itu pada saatnya akan hilang, itupun tidak dapat dihindarinya.

Adalah suatu pertanyaan jika nafas hidup itu benar-benar penting, mengapa banyak manusia yang kurang memikirkan maknanya. Bahwa manusia adalah ciptaan khusus yang seharusnya mempunyai ikatan roh yang kuat dengan Sang Pencipta. Dalam kenyataannya, manusia seringkali melupakan bahwa sekalipun tubuh jasmani itu ada, tubuh rohani akan mati jika manusia tidak mencari kesempatan yang ada untuk selalu berhubungan intim dengan Tuhan, sumber kehidupannya.

Pagi ini kita diperingatkan bahwa bagaimanapun sibuknya hidup kita ini, biarlah kita tetap ingat bahwa Tuhanlah sumber kehidupan kita. Ialah yang sanggup membuat kita hidup dengan kuat, tidak hanya dari segi jasmani, tetapi juga dari segi rohani. Kita harus ingat bahwa Tuhan menciptakan kita di dunia ini sebagai satu paket yang utuh; dan demi kebahagiaan hidup kita sendiri, keduanya selalu memerlukan bimbingan dan kekuatan dari Tuhan!

“Roh Allah telah membuat aku, dan nafas Yang Mahakuasa membuat aku hidup.” Ayub 33: 4

Tuhan itu dekat

“TUHAN dekat pada setiap orang yang berseru kepada-Nya, pada setiap orang yang berseru kepada-Nya dalam kesetiaan.” Mazmur 145: 18

Dalam perjalanan berbis menuju kota Danba, kota yang dihuni suku Tibet di Sichuan kemarin, saya melihat padang rumput dengan latar belakang bukit-bukit karang yang tinggi. Terlihat sapi-sapi berbulu tebal, yak, yang merumput dan yang kadang-kadang menyeberangi jalan sehingga bis kami harus berhenti. Pemandangan cukup menarik, apalagi dengan adanya rumah-rumah penduduk yang bentuknya khas dan tempat-tempat yang dihiasi dengan kain berwarna-warni dan tulisan-tulisan sebagai bagian dari ritual untuk tuhan mereka.

Dalam banyak kepercayaan, memang manusia harus berusaha untuk mendekati sang pencipta yang maha kuasa dan menyembahnya agar hidup mereka diberkati. Dalam hal ini, umat Kristen tidak berbeda karena mereka boleh berdoa seberapa banyak dalam sehari untuk berkomunikasi dengan Tuhan di surga.

Sebagai manusia yang mempunyai berbagai kebutuhan, kita pun percaya bahwa Tuhan yang maha kasih selalu mengabulkan permintaan doa kita apabila itu sesuai dengan kehendakNya.

“Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.” Matius 7: 7

Walaupun demikian, berbeda dengan banyak kepercayaan lain, orang Kristen tidak perlu lagi bergantung kepada berbagai ritual untuk menghampiri Tuhan. Tuhan yang sudah pernah datang ke dunia dalam bentuk manusia yang bernama Yesus itu sekarang berada di surga, menantikan doa-doa setiap orang, dimana saja, yang berseru kepadaNya. Lebih dari itu, orang Kristen sudah dikaruniai dengan Roh Kudus, Tuhan yang hidup dalam tiap orang percaya, yang mau membantu mereka dalam berdoa.

Dalam kenyataannya, tanpa ritual banyak orang Kristen justru kurang bisa merasakan bahwa Tuhan yang maha besar itu betul-betul ada di setiap saat dalam hidup mereka. Dalam kesibukan hidup, mereka mungkin hanya jarang-jarang menghampiri Tuhan. Itupun dilakukan tanpa penyembahan dengan sepenuh hati. Bagi mereka Tuhan mungkin seperti seorang teman baik saja. Teman baik yang selalu sabar sekalipun mereka sering acuh tak acuh.

Memang benar bahwa kita tidak lagi mempunyai ritual-ritual khusus untuk memanggil Tuhan atau untuk menjumpaiNya. Itu karena Yesus sudah mati untuk memungkinkan hubungan langsung antara umat dan Tuhannya. Walaupun demikian, itu tidak berarti bahwa Tuhan tidak lagi Tuhan yang maha kuasa dan maha suci.

Pagi ini kita diingatkan bahwa adalah keliru jika kita berpikir bahwa Tuhan selalu menyertai hidup kita sekalipun kita hidup hanya untuk diri sendiri dan jarang berdoa kepada-Nya. Tuhan dekat pada setiap orang yang berseru kepada-Nya, pada setiap orang yang berseru kepada-Nya dalam kesetiaan!

Yesus itu Tuhan

“Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan, karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia.” Kolose 1: 16

Hari ketiga di China dipakai untuk mengunjungi tempat glacier di Hailuoguo. Daerah bergunung batu itu berada di ketinggian sekitar 3500m dari muka laut, dan karena itu pernafasan terasa sesak dengan tipisnya kadar oksigen di udara. Di daerah itu gunung-gunung batu dengan berbagai bentuk dapat dilihat di sepanjang jalan dan mau tidak mau membuat saya memuji kebesaran Tuhan Sang Pencipta.

“Betapa banyak perbuatan-Mu, ya TUHAN, sekaliannya Kaujadikan dengan kebijaksanaan, bumi penuh dengan ciptaan-Mu.” Mazmur 104: 24

Bagi orang percaya, bumi dan isinya memang menunjuk kepada kebesaran Tuhan. Iman kita memberi keyakinan bahwa seisi bumi yang kelihatan adalah diciptakan oleh Allah, Roh yang tidak kelihatan. Allah adalah Bapa yang maha kuasa dan maha kasih. Allah jugalah yang menjanjikan datangnya seorang Juruselamat untuk menebus dosa manusia, yaitu Yesus Kristus.

Jika Allah Bapa sering dibayangkan sebagai Tuhan dalam Alkitab perjanjian lama karena penciptaan alam semesta dan segala apa yang diperbuatNya bagi bani Israel, Yesus mungkin lebih mudah dibayangkan sebagai Juruselamat bagi umat manusia di era Perjanjian Baru. Benarkah “pembagian tugas” antara Allah Bapa dan Anak seperti ini?

Ayat dalam Kolose 1: 16 diatas menyatakan bahwa Yesus sudah ada dari awalnya. Yesus yang pernah muncul sebagai manusia di dunia adalah gambar Allah yang roh, lebih utama dari segala yang diciptakan, karena di dalam Yesuslah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi. Apapun yang berkuasa di bumi, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; semuanya diciptakan oleh Yesus dan untuk kemuliaan Yesus. Yesus dengan demikian adalah satu dengan Allah Bapa dan Roh Kudus.

Pada hari Minggu ini kita diingatkan bahwa dimanapun kita berada dan melihat kebesaran ciptaan Allah, kita harus bersyukur bahwa kita juga ciptaanNya yang sudah diperbaharui oleh Yesus Kristus dengan pengurbananNya di kayu salib untuk ganti dosa kita. Kita juga harus bersyukur karena Roh Kudus, Tuhan sendiri, juga hidup dalam diri kita. Marilah kita memuji Tuhan kita yang satu dan yang maha kasih dan maha bijaksana!

“Pujilah Tuhan, hai kamu semua bangsa-bangsa, dan biarlah segala suku bangsa memuji Dia” Roma 15: 11

Tuhan mencintai segala bangsa

“Simon telah menceriterakan, bahwa sejak semula Allah menunjukkan rahmat-Nya kepada bangsa-bangsa lain, yaitu dengan memilih suatu umat dari antara mereka bagi nama-Nya.” Kisah Para Rasul 15: 14

Kemarin adalah hari kedua saya di China. Perjalanan rombongan sebanyak 30 orang dengan bis melalui jalan pegunungan Sichuan yang berliku-liku sangat melelahkan. Dengan berkat perlindungan Tuhan kami sampai di hotel pada jam 9.30 malam.

Sepanjang perjalanan saya melihat kehidupan masyarakat di desa-desa, yang kebanyakan berciri agraris. Industri setempat yang banyak jumlahnya adalah industri pemecahan batu untuk dijadikan bahan bangunan.

Melihat adanya begitu banyak orang desa yang berlalu-lalang di tempat-tempat dimana bis kami sempat berhenti, mau tidak mau saya berpikir dalam- dalam. Apakah mereka ini adalah orang-orang yang sudah “ditakdirkan” Tuhan untuk tidak bisa ke surga?

Saya tidak percaya akan hal itu. Saya yakin bahwa James Hudson Taylor (21 Mei 1832 – 3 Juni 1905) pergi menginjil ke China dengan kepercayaan bahwa Yesus mencintai segala bangsa. Taylor menghabiskan 51 tahun di China, dan mampu berkhotbah dalam beberapa jenis bahasa setempat. Saya yakin bahwa Taylor paham akan ayat diatas, dimana Paulus mengulangi nasihat Simon bahwa Tuhan memilih bani Israel dari antara bangsa-bangsa, supaya semua orang lain yang mencari Tuhan dan segala bangsa yang tidak mengenal Allah menjadi milikNya.

Pagi ini, firman Tuhan menyatakan bahwa kalau anda sudah menerima Yesus, itu bukan hanya agar anda bisa masuk ke surga. Tuhan memilih anda untuk menjadi anakNya bukan hanya untuk menyelamatkan anda saja. Memang jika kita tahu bahwa kita telah diselamatkan, kita berbahagia karena kita sudah menerima kasihNya. Tetapi, jika kita tidak peduli akan keselamatan orang lain, itu berarti kasih Tuhan tidak ada dalam diri kita. Tuhan menghendaki kita untuk menjadi orang-orang Kristen yang menunjukkan hidup baru kita kepada semua orang, kepada semua bangsa, agar mereka bisa memuliakan nama Tuhan seperti kita.

Hal kelelahan

“Engkau akan menjadi sangat lelah, baik engkau baik bangsa yang beserta engkau ini; sebab pekerjaan ini terlalu berat bagimu, takkan sanggup engkau melakukannya seorang diri saja.” Keluaran 18: 18

Pagi ini saya berada di Chengdu, China. Perjalanan kesana cukup jauh dan melelahkan dan semalam saya hanya sempat tidur selama 4 jam. Karena itu sekarang saya merasa letih sekali. Kelelahan adalah keadaan yang tidak dapat kita hindari karena keterbatasan manusia.

Kelelahan sebenarnya bukan akibat dari dosa. Dari awalnya, Tuhan menciptakan siang dan malam, dan malam adalah waktu untuk beristirahat bagi manusia. Juga, hari ke tujuh adalah hari yang ditetapkan Tuhan sebagai hari bagi manusia untuk beristirahat.

Dosa memang membuat hidup di bumi ini menjadi berat, dan kelelahan bisa membuat manusia makin menderita. Tetapi, kelelahan bisa berguna untuk mengingatkan kita untuk berhenti bekerja untuk memulihkan kekuatan kita. Jika kita sering mengabaikan kelelahan kita, itu adalah dosa. Lambat laun kesehatan dan keseimbangan hidup kita akan terganggu karenanya.

Dalam ayat diatas, mertua Musa mengingatkan Musa agar berhati-hati dalam menjalankan tugasnya sebagai pemimpin agar ia tidak menjadi terlalu lelah. Sebagai pemimpin, Musa pada mulanya selalu menghadapi segala persoalan bani Israel seorang diri. Hal itu tentunya akan menghabiskan waktu dan tenaganya. Mertua Musa, dengan kebijaksanaan dari Allah, mengusulkan agar Musa memilih orang-orang yang pandai dan takut akan Allah untuk menolong Musa. Kelelahan membawa kesadaran akan keterbatasan kita dan mendorong kita untuk memohon kebjaksanaan dari Tuhan.

Pagi ini kita diingatkan bahwa kelelahan itu bisa menjadi berkat untuk kita jika kita tidak mengabaikannya. Banyak orang yang jatuh sakit karena mereka tidak bisa mengukur kekuatannya atau tidak bekerja dengan cara yang bijaksana. Seringkali juga orang menjadi lelah karena tidak mau menerima bantuan atau nasihat orang-orang lain. Lebih dari itu, kita juga sering menjadi lelah karena kita tidak mau menyerahkan persoalan kita kepada Tuhan.

“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” Matius 11: 28

Bertekun dalam doa

“Bertekunlah dalam doa dan dalam pada itu berjaga-jagalah sambil mengucap syukur.” Kolose 4: 2

Doa adalah komunkasi kita dengan Sang Pencipta. Untuk orang Kristen, kesempatan berdoa secara langsung kepada Tuhan adalah berkat karunia yang dimungkinkan oleh kematian Yesus Kristus untuk menebus dosa manusia.

Dalam doa yang diajarkan oleh Yesus, kita diajar untuk memanggil Tuhan sebagai Bapa kami. Itu menunjukkan adanya keeratan hubungan antara umat dan Tuhan. Itu juga menunjukkan bahwa sebagai anak-anak Allah, kita bebas berdoa dan bercakap-cakap denganNya setiap saat dan bukan hanya beberapa kali saja dalam sehari.

Berdoa bukan hanya kebiasaan saja, yang ditentukan oleh hukum Tuhan. Karena jika kita hanya berdoa dua kali sehari saja, seperti yang dibiasakan oleh sebagian orang Kristen, doa kita bisa menjadi sekedar ritual agama. Tetapi keKristenan bukanlah sebuah agama, melainkan sebuah iman kepercayaan bahwa kita mempunyai Bapa di surga. Karena itu kita bisa dan harus berdoa kapan saja, terutama jika kita merasa rindu bercakap dengan Bapa kita.

Kapankah kita merasa rindu kepada Tuhan? Itulah pertanyaan yang hanya bisa dijawab setiap pribadi. Tetapi jelas bahwa jika kita hanya berdoa dua kali sehari, itu menandakan bahwa diluar waktu berdoa itu kita mungkin melupakan bahwa Tuhan menunggu kita untuk bercakap secara intim dengannya.

Bagi kita yang mengalami masalah hidup yang berat, mungkin ada dorongan untuk kita agar lebih sering berdoa, karena kita membutuhkan pertolongan Tuhan. Tetapi, jika kita berada dalam keadaan nyaman dan aman, keinginan untuk berdoa mungkin berkurang.

Pagi ini kita diingatkan melalui ayat diatas bahwa dalam hidup ini kita harus bertekun dalam doa dan dalam pada itu berjaga-jaga sambil mengucap syukur. Rasa syukur adalah kunci iman yang harus kita nyatakan dalam doa kita dalam keadaan apapun. Rasa syukur membuat iman kita tetap kuat dalam menghadapi persoalan apapun. Karena itu, tidaklah ada alasan untuk kita membatasi saat berdoa. Jika kita beriman, kita harus bisa bersyukur setiap saat. Dan jika hidup kita penuh rasa syukur, pastilah kita ingin berkomunikasi dengan Tuhan sesering mungkin!

Tidak ada iman tanpa rasa syukur

“Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.” 1 Tesalonika 5: 18

Bersyukur. Rasa syukur. Lebih mudah mengucapkannya daripada melakukannya. Apalagi jika bencana atau kesulitan hidup datang menimpa. Orang mungkin bisa mengadakan acara syukuran akbar, tetapi hidupnya tidak sepenuhnya terisi rasa syukur. Orang juga bisa bersyukur, tetapi rasa syukur itu dinyatakan atas “nasib mujur” yang dialaminya.

Mengapa harus selalu bersyukur? Kita bersyukur karena itu yang dikehendaki Tuhan kepada setiap umatNya. Mungkin banyak orang tidak sadar bahwa rasa syukur itu bertautan dengan iman kepada Tuhan yang membimbing umatNya baik dalam suka maupun duka.

Mereka yang tidak mengenal Tuhan, tidak akan menjalankan perintahNya. Mereka yang tidak dapat merasakan bimbingan Tuhan dalam hidupnya, akan sulit untuk bersyukur. Tidak ada iman, tidak ada rasa syukur. Adanya rasa syukur menunjukkan adanya iman kepada Tuhan yang memegang kontrol.

Ada banyak orang Kristen yang bersyukur jika hidupnya berkelimpahan, kesehatan baik, dan segala sesuatu berjalan mulus. Bersyukur atas keadaan yang menyenangkan memang mudah. Tetapi, adanya tantangan kehidupan membuat orang merasa sulit untuk bersyukur. Padahal, jika iman itu masih ada, tentunya kita masih bisa bersyukur atas kekuatan dan penyertaan Tuhan yang masih bisa dirasakan. Dengan demikian, jika seorang tidak dapat bersyukur dalam hidupnya, patut dipertanyakan apakah masih ada iman dalam hatinya.

“Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” Filipi 4: 13

Pagi ini kita diingatkan bahwa Tuhan menghendaki kita untuk mempercayai Dia secara penuh dalam setiap keadaan sehingga kita tidak hancur dalam menghadapi tekanan kehidupan. Agar kita bisa bersyukur dalam setiap keadaan dan mempunyai iman bahwa Tuhan memegang kemudi kehidupan anak-anakNya. God is in control.

“Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah! Aku ditinggikan di antara bangsa-bangsa, ditinggikan di bumi! TUHAN semesta alam menyertai kita,kota benteng kita ialah Allah Yakub.” Mazmur 46: 10-11

Hal keadilan di dunia

Ada suatu kesia-siaan yang terjadi di atas bumi: ada orang-orang benar, yang menerima ganjaran yang layak untuk perbuatan orang fasik, dan ada orang-orang fasik yang menerima pahala yang layak untuk perbuatan orang benar. Aku berkata: “Inipun sia-sia!” Pengkhotbah 8: 14

Suatu pertanyaan bagi banyak orang yang hidup di dunia ini adalah soal keadilan sosial. Jika seorang mau melihat keadaan di sekitarnya, ia akan bisa melihat bahwa ada banyak ketimpangan keadaan dimana-mana. Ada banyak orang yang hidup menderita karena mereka tidak dapat memperoleh pekerjaan yang layak. Mungkin bukan karena kesalahan mereka jika begitu banyak orang yang harus bersaing untuk jumlah pekerjaan yang tidak cukup. Sebaliknya, ada orang-orang yang berkedudukan tinggi yang sebenarnya tidak pantas untuk menjabat, bukan saja karena kurangnya prestasi, tetapi juga karena berbagai hal yang tidak baik yang dilakukan mereka. Mengapa Tuhan membiarkan hal itu?

Pertanyaan ini adalah pertanyaan klasik yang sudah ada sejak dulu. Pertanyaan yang sama dilontarkan oleh penulis kitab Pengkhotbah. Ia membandingkan mereka yang hidupnya jujur dan baik dengan orang-orang lain yang tidak jujur dan jahat, dan Ia melihat ketidakadilan.

Tuhan seolah membiarkan ketimpangan terjadi di dunia ini. Menurut cara berpikir manusia, adalah mudah bagi Tuhan untuk meyakinkan manusia kepada kebesaranNya di dunia: dengan memberi hidup sengsara kepada orang jahat dan hidup nyaman kepada orang baik. Ini memang juga diajarkan oleh sebagian hamba Tuhan, bahwa Tuhan selalu memberi kesuksesan dan kelimpahan kepada orang yang benar.

Walaupun demikian, pandangan sedemikian tidak dapat dipertahankan setidaknya karena beberapa hal:

  1. Alkitab menunjukkan bahwa belum tentu orang yang mengasihi dan dikasihi Tuhan mempunyai hidup yang selalu mulus.
  2. Dalam sejarah manusia, banyak orang Kristen yang dianiaya karena iman mereka.
  3. Dunia ini sudah jatuh kedalam dosa sehingga seringkali manusia tergoda untuk menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya.
  4. Dalam kenyataannya, tidaklah ada orang yang baik di hadapan Tuhan. Semua manusia sudah berdosa dan tidak patut mendapat perlakuan istimewa dari Tuhan.
  5. Tuhan yang maha kuasa adalah Tuhan yang berhak memberi apa yang sesuai dengan kehendakNya.

Bagaimana manusia bisa mengeluh bahwa Tuhan itu tidak adil jika seisi dunia ini melalui dosa Adam dan Hawa sudah memilih untuk menjauhkan diri dari bimbinganNya? Salahkah Tuhan ketika Ia mengusir mereka dari taman Firdaus?

Pagi ini kita harus sadar bahwa karena kesalahan manusia sendiri, hidup ini menjadi berat (Kejadian 3: 17-18). Dengan itu, manusia pun bertambah jauh dari Tuhan dan bahkan tidak mempercayai adanya Tuhan yang tetap berkuasa atas mereka. Tetapi kematian dan kebangkitan Kristus adalah bukti nyata bahwa Tuhan masih tetap berkuasa atas dunia dan bahkan Ia sudah mengalahkan kuasa iblis. Bagi mereka yang percaya kepada Yesus, keadilan Tuhan pada saatnya akan dinyatakan.

“Ia tidak membiarkan orang fasik hidup, tetapi memberi keadilan kepada orang-orang sengsara; Ia tidak mengalihkan pandangan mata-Nya dari orang benar, tetapi menempatkan mereka untuk selama-lamanya di samping raja-raja di atas takhta, sehingga mereka tinggi martabatnya.” Ayub 36: 6-7

Buang saja sampah itu!

“Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus” Filipi 4: 8

Di berbagai negara, orang Kristen merayakan Paskah, hari kebangkitan Kristus. Ada sebagian yang menyebutkannya sebagai Easter celebration atau Passover celebration, tetapi semuanya mempunyai maksud yang sama: merayakan Kristus yang sudah menang atas maut. Perayaan ini seharusnya adalah lebih penting dari perayaan Natal, karena kebangkitan Kristus itulah yang membuat iman kita tidak sia-sia (1 Korintus 15: 14, 17).

Setelah kita merayakan Paskah pada hari Minggu, penduduk beberapa negara masih mempunyai satu hari libur tambahan yaitu hari Senin Paskah atau Easter Monday. Tetapi, di Indonesia orang kembali bekerja pada hari Senin sesudah Paskah. Hidup kembali berjalan seperti biasa.

Hidup yang kembali normal umumnya berarti menjalankan tugas sehari- hari seperti biasa. Mereka yang bekerja di kantor, pabrik, sekolah, universitas, dan gereja dan juga yang bekerja di rumah, harus menghadapi segala hal rutin dan tidak rutin, yang harus diselesaikan. Segala cara hidup yang sudah biasa dilakukan, harus dijalankan seperti sebelumnya. Dunia berputar dan tidak ada yang berubah. Benarkah?

Kebangkitan Kristus sebenarnya adalah suatu hal yang tidak masuk akal untuk ukuran manusia. Manusia sudah seharusnya mati pada saatnya, dan kematian itu merupakan akhir segalanya. Yesus merubah persepsi yang salah itu dengan menyatakan bahwa kematian tubuh adalah permulaan segala yang indah dan baik bagi mereka yang percaya. Selain itu, hidup baru di dalam Kristus bisa dimulai di dunia, setelah kita mengerti apa arti kematian dan kebangkitanNya.

Apa arti kematian dan kebangkitan Kristus dalam hidup sehari-hari? Mati dalam Kristus, seperti yang Paulus tulis dalam Filipi 4: 8, adalah menanggalkan cara hidup yang lama, yang menggantungkan diri pada hal-hal yang serupa sampah (atau kotoran binatang dalam bahasa Yunani). Mungkin itu berupa cara hidup atau bekerja yang kurang jujur, tingkah laku yang kurang sopan, kecintaan akan kesenangan duniawi, dan pikiran yang dipenuhi hal-hal yang tidak patut.

Pagi ini kita diingatkan bahwa perayaan Paskah itu bukan hanya sekali setahun, tetapi sesuatu yang harus kita rayakan dan rasakan setiap hari dan setiap saat. Kemenangan Yesus atas kuasa dosa harus dapat menjadi nyata dalam hidup kita!

“Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.” Filipi 4: 8