Tuhan tetap ada sekalipun semua lenyap

Kata Filipus kepada-Nya: “Tuhan, tunjukkanlah Bapa itu kepada kami, itu sudah cukup bagi kami.” Yohanes 14: 8

Apabila Tuhan adalah satu-satunya yang anda punyai, Tuhan adalah satu-satunya yang anda butuhkan. If God is all you have, you have all you need. Begitulah bunyi sebuah ungkapan yang cukup terkenal. Ungkapan ini rupanya berdasarkan ayat diatas.

Pada waktu itu, Tuhan Yesus menjelaskan kepada murid-murid-Nya bahwa Ia akan pergi meninggalkan mereka untuk menjumpai Bapa-Nya yang mempunyai banyak tempat kediaman. Ia menghibur murid-murid-Nya dan berkata bahwa kemana Ia pergi, murid-murid-Nya akan kesana juga. Kemana Yesus akan pergi? Tomas tidak tahu, dan karena itu bertanya bagamana mereka bisa kesana jika mereka tidak tahu kemana Yesus pergi. Yesus kemudian menjawab bahwa Ia akan pergi menjumpai Bapa-Nya; dan hanya melalui Dia, manusia bisa menjumpai Bapa. Dengan jawaban Yesus itu, Filipus meminta agar Yesus menunjukkan Bapa itu, karena jika ia kenal Bapa, itu sudah cukup baginya. Apabila Tuhan adalah satu-satunya yang Filipus punyai, Tuhan adalah satu-satunya yang dibutuhkannya.

Jika Tuhan adalah satu-satunya yang kita miliki, itu mungkin diartikan oleh sebagian orang bahwa kita adalah orang yang miskin dan malang. Jika kita tidak mempunyai rumah, harta, karir, kesuksesan, kesehatan, keluarga dan segala yang dianggap kenikmatan di dunia ini, kita mungkin dianggap sebagai orang-orang yang tidak diberkati. Itu pendapat dunia. Sebaliknya, bisa kita lihat bahwa mereka yang mempunyai berbagai hal dalam hidup mereka, justru sering adalah orang-orang yang selalu merasa kurang puas atau tidak bahagia dalam hidup mereka. Hati mereka tidak terisi denganTuhan saja, tetapi juga dengan berbagai hal duniawi. Karena itu, mereka tidak pernah mengenal rasa cukup dalam hidup.

Di kalangan gereja pun, banyak yang percaya bahwa kita tidak dapat hidup dengan Tuhan saja. Kita harus bisa memperoleh kelimpahan dan kesuksesan dari Tuhan, begitu kata mereka. Padahal, Alkitab mengatakan bahwa kita tidak bisa berbahagia karena hal-hal duniawi.

Dari Alkitab kita tahu bahwa pada suatu ketika, Tuhan Yesus dibawa oleh Roh ke padang gurun untuk dicobai Iblis. Dan setelah berpuasa empat puluh hari dan empat puluh malam, akhirnya Yesus merasa sangat lapar. Lalu datanglah si pencoba itu dan berkata kepada-Nya: “Jika Engkau Anak Allah, perintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti.” Apa jawab Yesus?

“Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.” Matius 4: 4

Walaupun Yesus lapar, Ia tahu bahwa selama komunikasi dengan Allah tetap ada, hidup-Nya akan tetap terlindungi dan rasa bahagia tetap ada.

Adalah kekeliruan besar jika manusia merasa bahwa hidupnya bergantung kepada berkat Tuhan, dan bukannya kepada Tuhan. Adalah suatu dosa jika kita berkata bahwa kita tidak dapat hidup tanpa berkat Tuhan yang sudah diberikan-Nya. Ayub pernah berkata dalam kemalangannya:

“Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!”. Ayub 1: 21

Hidup kita bergantung kepada Tuhan, bukan kepada apa yang diberikan-Nya. Seperti Ayub, kita tidak dapat hidup tanpa Tuhan. Jika kita memuji Tuhan, kita bukan memuji berkat-Nya. Kita bisa hidup tanpa segala kekayaan dan kenikmatan, jika kita hidup didalam Tuhan yang tahu dan mau memberikan apa yang terbaik untuk kita. Tuhan jauh lebih besar daripada apa yang kita lihat dan kita terima. Karena itu motivasi utama kita dalam berbakti kepada Tuhan adalah untuk bisa dekat dengan-Nya, dan bukan untuk memperoleh berkat-Nya.

Pagi ini, adakah yang anda sangat butuhkan dan rindukan? Mungkin ada sesuatu yang terasa sebagai kebutuhan yang harus ada dalam hidup anda saat ini. Anda mungkin merasakan tekanan hidup dan sangat menderita karena tidak adanya hal-hal itu. Tetapi, apakah anda tetap memiliki Tuhan dalam hidup ini? Jika benar begitu, anda mungkin seperti Filipus yang percaya jika ia bisa melihat adanya Tuhan, itu sudah cukup baginya.

“Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” Roma 8: 38-39

Milikilah pandangan yang seimbang tentang Tuhan

“Allahku, gunung batuku, tempat aku berlindung, perisaiku, tanduk keselamatanku, kota bentengku, tempat pelarianku, juruselamatku; Engkau menyelamatkan aku dari kekerasan.” 2 Samuel 22: 3

Tentu kita tahu bahwa beberapa hari yang lalu terjadilah sebuah malapetaka di Korea. Bagi banyak orang, suasana gembira yang tiba-tiba menjadi suasana duka membawa pertanyaan mengapa semua itu harus terjadi. Apakah salah mereka sehingga menemui kemalangan yang begitu besar? Mengapa Tuhan membiarkan malapetaka semacam itu terjadi? Apakah Tuhan yang menyebabkan semua itu? Bagi mereka yang tidak atau kurang mengenal sifat hakiki Tuhan yang tidak hanya mahakuasa, tetapi juga mahakasih, sudah tentu ini bisa menjadi suatu pertanyaan yang tidak mudah dijawab. Sebagai Tuhan yang mahakuasa, Ia berhak melakukan atau tidak melakukan apa saja, sesuai dengan kehendak-Nya. Tuhan mengizinkan atau melarang apa saja, tanpa perlu meminta pendapat manusia. Tetapi, jika Ia adalah Tuhan yang mahakasih, Ia tentunya bukan penyebab malapetaka.

Dalam Alkitab, kita bisa membaca bahwa Tuhan yang mahakuasa sudah tentu bisa menghindarkan manusia dari bencana. Itu dilakukan-Nya pada bani Israel ketika mereka dikejar tentara Firaun dan terpojok di pinggir laut. Lebih dari itu, Tuhan juga pernah melindungi orang lain dari berbagai bencana, sekalipun mereka bukan orang Israel atau umat-Nya. Yesus dan murid-murid-Nya juga menyembuhkan banyak orang yang sakit tanpa memikirkan apakah mereka pantas untuk ditolong. Lalu, mereka yang tidak mendapat pertolongan dari Tuhan, apakah harus menerima kenyataan bahwa Tuhan mungkin mahakuasa tapi tidak mahakasih?

Sebagai orang Kristen, kita mempunyai pandangan pribadi tentang Tuhan, dan bisa merasakan pengaruh Tuhan dalam hidup kita, yang bergantung pada pengalaman hidup kita. Pengalaman setiap orang berbeda dengan apa yang dialami orang lain. Karena itu, Tuhan bagi seseorang bisa merupakan Tuhan yang mahakuasa, sedangkan bagi orang lain Tuhan itu mahakasih. Tiap orang seolah mempunyai “paket” yang khusus, yang cocok dengan apa yang diyakininya.

Jika orang mungkin memiliki paket rohani yang cocok dengan pengalaman hidupnya, itu bukanlah berarti bahwa ia sudah mempunyai apa yang komplit dan benar. Paket yang komplit dan benar harus sesuai dengan “spesifikasi” yang ada dalam Alkitab. Dalam hal ini, kita harus mengerti bahwa atribut Tuhan adalah mahakuasa, mahatahu, mahaada, dan mahakasih (omnipotence, omniscience, and omnipresence, omnibenevolent).

Jika Tuhan itu adalah begitu besar, mahabesar, dapatkah kita mengukur kebesaranNya? Sudah tentu tidak mungkin. Dengan keterbatasannya, manusia pada umumnya tidak bisa mendalami isi “paket” yang lengkap pengertian tentang Tuhan. Karena itu banyak orang yang hanya bisa mengerti akan sebagian kecil dari atribut Tuhan.

“Maka nyatalah kepadaku, bahwa manusia tidak dapat menyelami segala pekerjaan Allah, yang dilakukan-Nya di bawah matahari. Bagaimanapun juga manusia berlelah-lelah mencarinya, ia tidak akan menyelaminya. Walaupun orang yang berhikmat mengatakan, bahwa ia mengetahuinya, namun ia tidak dapat menyelaminya.” Pengkhotbah 8: 17

Dua atribut Tuhan yang perlu kita pelajari hari ini adalah mahakuasa dan mahakasih. Banyak orang yang hanya meyakini kemahakuasaan Tuhan, melupakan bahwa Tuhan juga mahakasih. Bagi mereka, Tuhan adalah Tuhan penentu “nasib” mereka. Sebaliknya, mereka yang hanya merasakan sifat mahakasih-Nya, selalu mengharapkan agar Tuhan memenuhi segala keiniginan mereka. Apa pun yang mereka minta, Tuhan diharapkan untuk memberikannya.

Apa untungnya untuk kita jika kita hanya mempunyai Tuhan yang mahakasih tetapi tidak dapat menggunakan kemahakuasaan-Nya untuk mengatur seluruh alam semesta dan melindungi umat=Nya? Apa faedahnya jika kita mempunyai Tuhan yang mahakuasa tetapi tidak mengasihi kita yang penuh dosa?

“Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” Roma 8: 38

Ayat diatas menyatakan bahwa dalam keadaan apa pun, apa yang harus kita pegang sebagai prinsip utama adalah bahwa Tuhan itu kasih. Dengan mengingat kasih-Nya, kita akan dapat menghadapi segala tantangan kehidupan dengan keberanian. Dengan mengingat kasih-Nya, kita juga percaya bahwa Tuhan mengasihi seisi dunia dan bukan hanya umat-Nya.  Kasih Tuhan sebenarnya sudah diperlihatkan-Nya ketika Adam dan Hawa jatuh ke dalam bencana besar akibat dosa. Adam dan Hawa diusir dari taman Firdaus dan hidup manusia sejak saat itu menjadi hidup yang penuh bahaya dan tantangan.  Walaupun demikian, Tuhan menjanjikan datangnya seorang Juruselamat yang akan menyelamatkan keturunan mereka. Janji Tuhan ini sudah ditepati dengan kedatangan Yesus ke dunia di hari Natal yang sebentar lagi kita peringati.

Hari ini kita disadarkan bahwa dalam menjalani hidup kita ini, setidaknya kita harus menyadari bahwa kemahakuasaan Tuhan adalah atribut Tuhan yang sama penting-Nya dengan sifat mahakasih-Nya. Karena kasih-Nya, Tuhan sudah mengurbankan Anak-Nya ganti kita, karena kuasaNya Yesus sudah mengalahkan maut sehingga kita mempunyai harapan untuk masa depan. Seperti itu jugalah, didalam mengarungi hidup di dunia ini, kita boleh percaya bahwa Tuhan akan melindungi dan memelihara umat-Nya karena Ia mahakuasa dan mahakasih. Ia yang mahakuasa bisa menggunakan segala sesuatu untuk menolong kita yang sudah menerima Dia.

Jika hati Anda gundah karena apa yang terjadi di sekitar Anda, janganlah hati Anda menjadi kecil. Tuhan bukanlah oknum Ilahi yang karena kemahasucian dan kemahakuasaan-Nya bertindak dengan semena-mena. Sebaliknya, Tuhan menghendaki setiap orang agar mau menyerahkan hidup dan masa depan mereka kepada Tuhan yang mempunyai rencana yang baik untuk seluruh umat manusia, yaitu untuk memberikan keselamatan yang kekal kepada mereka yang mau menerima kasih-Nya yang dinyatakan dalam diri Anak-Nya, Yesus Kristus.

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Roma 8: 28

Dapatkah kita berharap akan pertolongan-Nya?

Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti. Sebab itu kita tidak akan takut, sekalipun bumi berubah, sekalipun gunung-gunung goncang di dalam laut; sekalipun ribut dan berbuih airnya, sekalipun gunung-gunung goyang oleh geloranya. Mazmur 46: 1 – 3

Manusia manakah yang tidak pernah takut? Setiap manusia yang normal dan sehat pikirannya tentu pernah merasa takut. Rasa takut adalah mekanisme kehidupan yang membuat orang bisa mengatasi adanya bahaya, dan itu yang sering mendorong orang untuk berusaha membela diri, menyembunyikan diri atau lari dari bahaya. Walaupun demikian, keadaan sering kali membuat orang kehilangan harapan, karena mereka bisa melihat bahwa baik dengan melawan, bersembunyi ataupun melarikan diri, mereka tidak akan dapat melepaskan diri dari ancaman yang ada. Sebagian orang juga merasa pasrah karena mereka percaya bahwa karena Tuhan sudah menetapkan segalanya, tidak ada yang dapat diperbuat manusia.

Sejarah menuliskan berbagai pengalaman manusia dalam menghadapi bahaya besar. Adanya banjir besar di berbagai negara baru-baru ini menunjukkan adanya orang-orang yang berani tetap tinggal di rumah mereka, tetapi ada juga yang mengambil keputusan untuk mengungsi selagi jalan masih bisa dilewati. Adakah orang yang berharap atas pertolongan Tuhan? Adakah orang yang merasa sudah ditolong Tuhan? Jika ada, bagaimana bentuk pertolongan itu? Kelihatannya, jika satu daerah kebanjiran semua orang, Kristen maupun bukan, tidak ada yang bebas dari banjir. Tidak ada orang yang mengalami apa yang dialami bani Israel ketika melarikan diri dari Firaun dan tangan Tuhan membelah laut menjadi dua sehingga mereka dapat lewat. Walaupun demikian, selalu ada orang yang bersyukur, entah karena bisa diungsikan, atau rumahnya yang tidak terlalu rusak karena banjir.

Bagaimana jika kita dihadapkan kepada bahaya yang besar dalam hidup kita? Bagaimana perasaan kita jika kita melihat adanya banyak orang yang saat ini mengalami kesulitan ekonomi dan kita pun mungkin mengalami hal yang serupa karena resesi dunia yang diramalkan mungkin akan terjadi? Jika kita tidak mempunyai harapan apa pun untuk bisa menghindari hal itu, mungkin kita terpaksa untuk hidup dan bekerja seperti biasa tetapi dengan lebih berhati-hati dan menjaga diri. Tetapi, bagaimana pula jika kita tidak yakin bahwa kita akan bisa menjaga diri sepenuhnya? Mungkin kita memutuskan untuk sebisa mungkin menghemat uang kita dan tidak membeli barang jika tidak benar-benar diperlukan. Tetapi, ini pun belum tentu 100 persen aman karena setiap orang tentunya perlu membeli bahan makanan dan sebagainya, yang naik harganya seiring dengan tingkat inflasi Indonesia yang sudah mencapai 5.71% selama setahun terakhir.

Mazmur 119 adalah bab yang terpanjang dari Alkitab karena mempunyai 176 ayat. Penulis mazmur ini kurang diketahui, tetapi diduga Ezra, Daud atau Daniel. Tetapi yang jelas adalah penulisnya mengalami penderitaan atau masalah yang sangat besar. Seluruh ayat yang ada menunjukkan pergulatan jasmani maupun rohani yang dialaminya. Walaupun demikian, dalam setiap kesempatan si penulis menyatakan kerinduan dan pujian kepada Tuhan, sumber pengharapannya. Ia juga menyatakan bahwa dalam Tuhan ia bisa menemukan tempat persembunyian dan perlindungan.

“Engkaulah persembunyianku dan perisaiku; aku berharap kepada firman-Mu.” Mazmur 119: 114

Mazmur 119 jelas menunjukkan perbedaan antara orang yang memiliki (atau lebih tepat, dimiliki) Tuhan dengan orang lain yang tidak mengenal Tuhan dalam menghadapi masalah kehidupan. Adanya Tuhan dalam hidup seseorang membuat perspektif hidupnya berubah sama sekali. Beruntunglah orang yang mengalami masalah tetapi masih mempunyai harapan. Malanglah orang yang mengalami penderitaan dan tidak mendapat penghiburan.

Ayat pembukaan di atas menyatakan bahwa Tuhan itu bagi orang percaya adalah tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti. Tuhan bukannya Tuhan yang hanya menonton apa yang terjadi, yang sudah direncanakan-Nya, tanpa meresponi doa-doa umat-Nya untuk memberi pertolongan dan penghiburan. Sebab itu orang yang beriman tidak akan takut, sekalipun bumi berubah, sekalipun gunung-gunung goncang di dalam laut; sekalipun ribut dan berbuih airnya, sekalipun gunung-gunung goyang oleh geloranya. Itu karena Tuhan adalah Sang Pencipta yang berkuasa atas langit dan bumi dan segala isinya.

Hari ini, adakah rasa takut dan kuatir dalam diri anda? Adakah masalah yang besar yang seakan tidak akan dapat anda atasi atau hindari? Tuhan yang memiliki kita adalah Tuhan yang mahakuasa dan mahakasih. Ia mau mendengarkan doa kita dan sanggup memberi kita keteguhan hati dalam menghadapi semuanya. Kasih-Nya tidak pernah berubah dalam keadaan apa pun, dan kepada-Nya saja kita boleh berharap akan datangnya pertolongan, perlindungan dan penghiburan.

Dari mana datangnya perang?

“Banyak orang yang tewas karena mati terbunuh, sebab pertempuran itu adalah dari pada Allah. Lalu mereka menduduki tempat orang-orang itu sampai waktu pembuangan. 1 Tawarikh 5: 22

Tak terasa perang di Ukraina sudah berlangsung lebih dari 8 bulan. Invasi Rusia ke Ukraina 2022 adalah sebuah perang sehubungan dengan tentara Rusia yang menyerbu Ukraina. Invasi ini memaksa sepertiga penduduk Ukraina untuk berpindah tempat kediaman, dan menyebabkan 7 juta orang Ukraina meninggalkan negaranya, yang memicu krisis pengungsi Eropa yang paling cepat tumbuh sejak Perang Dunia kedua. Invasi tersebut mendapat banyak kritik internasional. Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa mengesahkan resolusi yang mengkritik invasi dan menuntut pemunduran penuh pasukan Rusia. Mahkamah Internasional memerintahkan Rusia untuk menghentikan operasi-operasi militer dan Majelis Eropa mengeluarkan Rusia. Banyak negara menetapkan sanksi terhadap Rusia, yang mempengaruhi ekonomi Rusia dan dunia, dan memberi bantuan kemanusiaan dan militer ke Ukraina. Tetapi sampai sekarang perang ini tidak kunjung mereda.

Konflik di Ukraina ini sudah bertumbuh sedemikian rupa sehingga ada kekuatiran akan munculnya perang besar yang melibatkan banyak negara. Kekuatiran ini bukan hanya bayangan saja, sebab banyak ahli militer dan intelejen dunia yang sudah memperhatikan gerakan beberapa negara lain yang saat ini mengawasi jalannya perang di Ukraina ini, agaknya karena adanya keinginan untuk menyerbu negara lain. Keadaan yang agaknya cukup genting saat ini ditanggapi oleh sebagian orang Kristen sebagai apa yang sudah ditentukan Tuhan. Dalam hal ini, Paul Symon, direktur badan intelejen Australia yang akan turun jabatan sebentar lagi mengatakan dia tidak tahu apakah perang besar antara negara-negara raksasa adalah kemungkinan yang nyata. “Pendapat bahwa hal-hal ini sudah ditetapkan sebelumnya, adalah tidak benar,” katanya. “Ada banyak kesempatan bagi para pemimpin dan manusia untuk membuat perbedaan dan untuk melangkah dan mengubah jalur dan pengaturan hidup yang Anda jalani.” Saya tidak tahu apakan Paul Symon adalah orang Kristen, tetapi komentarnya bahwa manusia seharusnya mampu untuk menghindari perang membuat saya bertanya-tanya: Dari mana datangnya perang?

Alkitab dalam 1 Tawarikh 5: 18-22 mengisahkan perang anak-anak Ruben, orang Gad dan setengah suku Manasye, melawan orang-orang Hagri, Yetur, Nafish dan Nodab. Ayat 20 menyatakan bahwa anak-anak Israel berseru kepada Tuhan di tengah-tengah pertempuran, dan Tuhan membantu mereka dalam perang melawan musuh-musuh mereka. Ayat 22 di atas menyatakan, “banyak orang yang tewas karena mati terbunuh, sebab pertempuran itu adalah dari pada Allah”. Pertempuran yang datang dari Allah? Jika Tuhan itu baik (Mazmur 100: 5) dan jika Tuhan adalah Tuhan yang damai (Roma 15:33), bagaimana Dia bisa mengobarkan perang?

Peperangan apapun adalah hal yang tidak disukai oleh siapa pun. Peperangan selalu dihubungkan dengan kekejaman, penderitaan dan kematian. Karena itu, semua orang yang sehat akalnya tentu berusaha untuk menghindari terjadinya peperangan. Walaupun demikian, adanya peperangan sering kali seakan tidak dapat dihindari. Dalam Perjanjian Lama kita bisa melihat bagaimana bangsa Israel berperang melawan berbagai bangsa yang ada disekitarnya. Pada saat itu, sering kali peperangan terjadi karena perintah Tuhan kepada bani Israel, bangsa pilihan Tuhan pada waktu itu, untuk menyerang dan menghancurkan bangsa lain. Jika itu terjadi pada zaman sekarang, tidak dapat diragukan bahwa Tuhan akan dituduh berlaku sangat kejam kepada ciptaan-Nya.

Mengobarkan perang dan menjadi Tuhan yang mahakasih dan mahabaik tidaklah harus selalu bertentangan. Pertama, adalah keliru untuk menganggap bahwa semua perang tidak sejalan dengan kebaikan. Seorang ahli bedah mengambil tindakan drastis melawan kanker untuk mendatangkan kebaikan tertinggi bagi pasien. Namun, kejahatan spiritual jauh lebih serius daripada kejahatan fisik. Ketika Tuhan mengobarkan perang di Perjanjian Lama, itu melawan kekuatan roh jahat. Tuhan mengambil tindakan drastis untuk membersihkan tanah dari pengaruh jahat penduduknya.

Kedua, adalah keliru untuk menganggap bahwa berperang tidak sejalan dengan perdamaian. Tidak akan ada kedamaian di dunia jika Tuhan tidak melawan kejahatan. Sesungguhnya, damai sejahtera Tuhan sekarang tersedia bagi semua orang yang percaya, karena Tuhan mengobarkan perang melawan kekuatan jahat – peperangan yang mencapai puncaknya di Golgota di mana darah Anak Tunggal Tuhan dicurahkan. Memang, terkadang perang diperlukan untuk menghasilkan perdamaian yang langgeng.

Setiap tahun pada tanggal 6 Juni banyak negara memperingati hari peringatan 75 tahunnya D-day dimana pada tahun 1944, tentara sekutu mendarat secara besar-besaran di pantai-pantai Normandy, Perancis utara. Pendaratan tentara sekutu di daerah yang saat itu dikuasai oleh tentara Nazi Jerman adalah permulaan dari usaha pembebasan benua Eropa yang menewaskan ratusan ribu prajurit dari kedua pihak. Karena berhasilnya tentara sekutu dalam melakukan invasion itu, perang dunia kedua tidak lama kemudian berakhir dengan menyerahnya pihak Nazi Jerman. Dengan berakhirnya perang dunia kedua, dunia kemudian menjadi lebih tenang, dan dengan demikian keadaan ekonomi, teknologi, sosial dan budaya di banyak negara mengalami kemajuan pesat.

Semua peperangan terjadi dengan seijin Tuhan, dan sekalipun sebagian di antaranya bukanlah sesuatu yang dikehendaki Tuhan, setiap peperangan pada akhirnya bisa menunjukkan bahwa Tuhan tetap bekerja dalam keadaan yang bagaimanapun buruknya. Peperangan sering kali terjadi karena dosa yang dilakukan oleh suatu bangsa atau oleh pemimpinnya. Mereka yang berusaha memberontak dari norma-norma kebaikan dan kebenaran Tuhan, dengan sengaja melakukan tindakan-tindakan yang menyebabkan pertikaian. Tetapi, sejarah membuktikan bagaimanapun buruknya tindakan manusia, Tuhan yang mahatahu selalu dapat mengatasinya dan bahkan menunjukkan kebesaran dan kasihNya melalui tindakan orang-orang yang dipilih-Nya.

Hari ini kita harus bersyukur bahwa keadaan dunia pada saat ini pada umumnya tidaklah seburuk abad-abad yang telah lalu. Walaupun demikian, tiap hari selalu ada saja berita-berita yang menyedihkan, dan itu mungkin yang disebabkan oleh tindakan seseorang, sekelompok tertentu, pemimpin rakyat ataupun negara tertentu. Bahkan dalam rumah tangga dan gereja pun, sering ada pertikaian yang membawa permusuhan dan perpecahan. Dalam hal ini, kita harus yakin bahwa Tuhan yang mahakasih pada hakikatnya bukanlah Tuhan yang merestui pertikaian manusia. Bukan Tuhan yang mengadu domba untuk menimbulkan permusuhan antar bangsa.Sebaliknya,Tuhan memerintahkan semua umat-Nya untuk bisa mengasihi sesama mereka.

Sebagai umat Kristen kita memang terpanggil untuk menunjukkan kedamaian dari Tuhan yang sudah kita terima kepada semua orang. Tetapi, selama kita hidup di dunia, kekacauan karena perbuatan manusia selalu muncul silih berganti. Bagaimana kita harus bersikap dalam menghadapi suasana yang tidak menyenangkan itu? Firman Tuhan hari ini menunjukkan bahwa Tuhan selalu memperhatikan keadaan dunia. Ia selalu memperlihatkan kuasa-Nya dengan perbuatan tangan-Nya dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya. Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya, tetapi Ia meninggikan orang-orang yang rendah hati dan berserah kepada bimbinganN-ya. Karena itu, biarlah kita mau meyerahkan hidup dan masa depan kita kepada-Nya sambil percaya bahwa keadilan Tuhan selalu terlihat pada akhirnya.

“Ia memperlihatkan kuasa-Nya dengan perbuatan tangan-Nya dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya; Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah” Lukas 1: 51 – 52

Kalau cinta salah alamat

“Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.” 1 Timotius 6: 10

Saya rasa setiap orang pernah jatuh cinta. Namun tidak semua orang berhasil mendapatkan apa yang dicintainya. Mungkin apa yang pernah dicintainya adalah orang yang menampik cintanya, dan itu bisa membuat dia patah hati. Tetapi orang juga bisa bersedih jika barang yang dicintainya ternyata tidak bisa dimilikinya. Mungkin itu karir, mungkin juga kepandaian, atau kemampuan. Memang kata orang, cinta bisa salah alamat. Itu jika apa/siapa yang dicintai seseorang ternyata tidak dapat diperoleh akibat salah pilih. Hal cinta salah alamat ini sudah pernah dijadikan film dan lagu di Indonesia, mungkin karena kejadiannya selalu menimbulkan rasa ingin tahu orang lain. Mengapa cinta seseorang bisa salah alamat?

Ayat di atas adalah tulisan Rasul Paulus kepada rekannya yang jauh lebih muda, Timotius. Seatu pesan untuk semua orang Kristen agar tidak mengalami cinta salah alamat. Paulus menulis agar kita tidak pernah jatuh cinta kepada uang atau harta. Uang dan harta tidak bisa mencintai kita, sekalipun besar cinta kita kepadanya.

Jika cinta seseorang kepada orang lain bisa salah alamat dan membuat orang patah hati, cinta salah alamat kepada uang atau harta bisa membuat orang menyimpang dari imannya dan mendatangkan berbagai siksaan dan duka dalam hidupnya. Mengapa demikian?

Ayat di atas tidak mengatakan bahwa kita tidak perlu mencari uang atau tidak perlu bekerja keras. Ayat di atas tidak bernada anti kekayaan. Apa yag digaris bawahi adalah hal mencintai uang atau harta, alias tamak. Siapakah yang mau dikatakan tamak? Saya kira tidak ada seorang pun. Tamak mempunyai konotasi yang jelek sebab kata itu dihubungkan dengan keserakahan dan kerakusan akan uang.

Memang, seringkali orang menghubungkan ketamakan dengan tingkah laku yang tercela untuk memperoleh keuntungan materi, seperti korupsi, penggelapan uang atau perampasan harta orang lain. Banyak orang yang berpikir bahwa orang kaya adalah identik dengan orang yang tamak. Karena tamak, orang bisa menjadi kaya, dan orang yang kaya tentunya tamak. Oleh karena itu ada orang Kristen yang berpendapat bahwa kekayaan adalah bertentangan dengan iman. Tentu saja, pendapat seperti itu adalah tidak benar. Baik orang kaya maupun yang tidak kaya bisa menjadi orang yang tamak, yang selalu tidak pernah merasa cukup dalam hidupnya.

Uang memang bisa membawa kebahagiaan, tetapi juga penderitaan. Banyak orang berpendapat bahwa jika ada uang, kebahagiaan akan mudah diperoleh. Bagi sebagian orang, banyaknya uang mungkin identik dengan besarnya berkat dan kasih Tuhan. Tetapi Tuhan tidak pernah memberi kemampuan untuk mencintai uang kepada manusia. Sebaliknya, Alkitab sering menyatakan kebencian Tuhan akan mereka yang memuja hartanya. Pada pihak yang lain, banyak orang yang merasa bahwa penderitaan hidup muncul karena tidak adanya uang, atau karena banyaknya uang yang harus dikeluarkan. Bagi mereka, rasa patah hati mungkin sering dirasakan, ketika uang dan harta meninggalkan mereka. Apa kata Yesus dalam hal ini?

KataNya lagi kepada mereka: “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu.” Lukas 12: 15

Menurut dunia, uang memang kunci kehidupan. Menurut dunia kebahagiaan dan penderitaan bisa diukur dengan uang yang masuk atau uang yang keluar. Karena itu banyaklah orang yang cinta salah alamat. Yesus dalam ayat di atas berkata bahwa hidup manusia tidak bergantung pada kekayaannya; sebab sekalipun seorang berlimpah-limpah hartanya, kebahagiaan belum tentu datang. Hal yang sebaliknya justru sering terjadi: karena harta yang berlimpah-limpah seorang bisa melupakan Tuhannya dan mengalami kehampaan hidup. Walaupun demikian, tidak dapat dipungkiri bahwa mereka yang hidup dalam kekurangan bisa merasakan bahwa hidup ini sangat berat dan Tuhan itu tampak jauh.

Dengan demikian, manakah yang lebih baik: menjadi orang kaya atau orang miskin? Jika kemakmuran bisa membuat orang jauh dari Tuhan, kemiskinan juga bisa mempunyai akibat yang serupa. Menurut ayat di atas, apa yang penting bagi kita adalah untuk menghindari ketamakan. Ketamakan bukanlah monopoli orang yang kaya saja: mereka yang kaya bisa menjadi tamak karena kecintaan kepada harta, tetapi mereka yang berkekurangan bisa menjadi tamak karena kerinduan untuk memperoleh harta. Dengan demikian, baik kaya atau miskin, orang bisa saja menjadi tamak. Orang yang tamak selalu ingin memperoleh harta yang lebih dari apa yang sudah dimilikinya.

Hari ini kita diingatkan bahwa jika cinta kita salah alamat, kita bisa lupa bahwa hidup kita hanya bergantung kepada Tuhan yang mengasihi kita. Dengan mengejar kekayaan orang bisa jatuh kedalam berbagai pencobaan, dan karena cinta akan uang orang bisa melakukan berbagai kejahatan. Mereka yang siang malam memikirkan harta, pada akhirnya bisa mendewakan harta dan kehilangan Tuhan. Karena itu, seperti Paulus kita harus mau melatih diri agar bisa merasa cukup dalam setiap keadaan. Hidup orang beriman akan terasa indah jika dipenuhi dengan rasa syukur atas apa yang sudah diberikan Tuhan.

“Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar.” 1 Timotius 6: 6

Pentingnya memuliakan Tuhan dan bersyukur kepada-Nya

“Sebab sekalipun mereka mengenal Allah, mereka tidak memuliakan Dia sebagai Allah atau mengucap syukur kepada-Nya. Sebaliknya pikiran mereka menjadi sia-sia dan hati mereka yang bodoh menjadi gelap.” Roma 1: 21

Mana yang ada lebih dulu, ayam atau telur? Pertanyaan ini bukan hanya untuk bergurau, tetapi sudah dipikirkan banyak filsuf dari ratusan tahun yang lalu. Mungkin bagi sebagian besar orang Kristen jawabnya sudah pasti ayam, karena Tuhan dalam kitab Kejadian menciptakan semua hewan dalam keadaan dewasa, bukan bayi atau telur. Tetapi, sekarang sebagian orang sudah bisa menerima kenyataan bahwa telur dulu ada sebelum ayam. Mengapa begitu? Ayam yang kita kenal sekarang adalah hewan yang umurnya relatif muda. Jenis ayam yang diternakkan sekarang mungkin muncul setelah burung-burung tertentu kawin silang dan menghasilkan telur yang berisi ayam.

Ayat di atas agaknya menyatakan bahwa ada orang-orang yang mengenal Allah, mereka tetapi tidak memuliakan Dia sebagai Allah atau mengucap syukur kepada-Nya. Karena itu, pikiran mereka menjadi sia-sia dan hati mereka yang bodoh menjadi gelap. Tetapi, kita mungkin melihat adanya banyak orang yang menjalani hidup dalam kegelapan, dan karena itu tidak dapat mengenal Tuhan dan bersyukur kepada-Nya. Mana yang lebih dulu ada, pikiran yang sia-sia, atau hidup tidak menghargai Allah? Agaknya pertanyaan ini sulit dijawab, seperti pertanyaan tentang telur dan ayam.

Alkitab jelas menyatakan bahwa rasa takut, hormat dan bersyukur kepada Tuhan adalah kunci kebahagiaan manusia di dunia. Pemazmur sebagai contoh menulis:

Berbahagialah orang yang takut akan TUHAN, yang sangat suka kepada segala perintah-Nya. Mazmur 112: 1

Ini sudah tentu bertentangan dengan pandangan dunia yang menyatakan bahwa takut akan Tuhan justtu membuat manusia tidak bebas untuk menikmati apa yang ada di dunia. Lebih lanjut, Raja Salomo menulis;

“Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan.” Amsal 1: 7

Dengan demikian, Paulus dalam ayat pembukaan di atas tentunya tidak menyatakan bahwa manusia yang tidak mengenal Allah, yang cara hidupnya tidak baik, akan menjadi manusia yang tidak dapat memuliakan Dia atau bersyukur kepada-Nya. Sebaliknya, mereka yang tahu adanya Allah, tetapi memilih untuk tidak memuliakan Dia atau bersyukur kepada-Nya, akan menjadi orang yang malang di dunia. Ini termasuk mereka yang merasa sudah menjadi orang Kristen, tetapi kurang menghargai karya penebusan Kristus dan memilih untuk tetap hidup dalam dosa. Hidup orang-orang sedemikian akan membuat pikiran mereka menjadi sia-sia dan hati mereka yang bodoh menjadi gelap. Mereka berbuat seolah-olah mereka penuh hikmat, tetapi mereka telah menjadi bodoh (Roma 1: 22). Semua itu bukanlah Tuhan yang menyebabkan, tetapi manusialah yang harus bertanggung jawab atas cara hidupnya yang keliru. Karena itu, Tuhan melepaskan tangan perlindungan-Nya dan meyerahkan mereka kepada keinginan mereka agar mereka mengalami berbagai masalah di dunia.

Pagi ini kita diingatkan bahwa sebagai orang Kristen yang mengenal Allah melalui iman, kita wajib menghormati dan memuliakan Dia sebagai Allah dan selalu mengucap syukur kepada-Nya. Kita tidak boleh mempersalahkan Tuhan yang kita anggap menyebabkan derita atau masalah dalam hidup kita. Dalam keadaan apa pun kita tidak boleh lupa bahwa karunia-Nya yang terbesar adalah pembebasan kita dari kuasa dosa.

“Tetapi syukurlah kepada Allah! Dahulu memang kamu hamba dosa, tetapi sekarang kamu dengan segenap hati telah mentaati pengajaran yang telah diteruskan kepadamu. Kamu telah dimerdekakan dari dosa dan menjadi hamba kebenaran.” Roma 6: 17-18

Sebagai umat-Nya kita tidak boleh menyerah kepada tantangan kehidupan, apalagi berhenti memulakan Tuhan dan bersyukur kepada-Nya. Dalam segala sesuatu yang ada, marilah kita tetap setia kepada-Nya dan hidup serta bekerja untuk kemuliaan nama-Nya!

“Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita.” Kolose 3: 17

Apa yang harus aku perbuat agar diselamatkan?

Jawab orang itu: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Lukas 10: 27

Pada suatu kali berdirilah seorang ahli Taurat untuk mencobai Yesus, katanya: “Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” Jawab Yesus kepadanya: “Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di sana?” Jawab orang itu: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Kata Yesus kepadanya: “Jawabmu itu benar; perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup.” Lukas 10: 25-28.

Ayat-ayat ini adalah bagian Alkitab yang sangat menarik, terutama jika dibandingkan dengan dua hukum yang utama yang disebutkan oleh Yesus dalam Matius 22: 34-40. Jika dalam Lukas 10 seorang ahli Taurat menayakan apa yang harus ia perbuat untuk bisa diselamatkan, dalam kitab Matius ditulis bahwa ahli Taurat itu mencobai Yesus dengan menanyakan hukum mana yang terutama dalam hukum Taurat. Perbedaan antara “hukum yang menyelamatkan” dan “hukum yang utama” ini yang mungkin dipertanyakan oleh orang Kristen di zaman ini.

Sebenarnya dalam penyampaian dalam Lukas dan Matius di atas tidak ada perbedaan. Memang, orang Yahudi yang saaat itu hidup di bawah hukum Taurat percaya bahwa mereka harus menjalankan hukum Taurat itu sepenuhnya agar dapat diselamatkan. Itu juga mirip dengan sebagian kecil orang Kristen di zaman ini, yang ingin mengembalikan pelaksanaan hukum Taurat dalam ibadah mereka. Masalahnya, jika Yesus menjawab bahwa kedua hukum itu membawa hidup dalam kitab Lukas, dan menyatakan bahwa keduanya adalah hukum yang utama dalam kitab Matius, mungkin ada orang Kristen yang percaya bahwa jika kita tidak dapat melaksanakan kedua hukum itu dengan baik, kita tidak akan diselamatkan. Paling tidak, kita harus berusaha hidup sesuai dengan kedua hukum itu agar bisa diselamatkan. Benarkah itu?

Kita harus ingat bahwa Yesus menjawab pertanyaan ahli Taurat itu sesuai dengan apa yang diyakini orang itu. Ahli Taurat percaya bahwa hidup manusia yang memenuhi hukum Taurat adalah satu-satunya jalan untuk mencapai surga. Ketika ahli Taurat itu mencobai Yesus dengan pertanyaan di atas, ia berusaha memojokkanYesus agar mengakui bahwa pelaksanaan hukum Taurat adalah mutlak diperlukan sebagai syarat ke surga. Tetapi, Yesus menjawab dengan pernyataan yang cocok untuk orang itu, sebab siapa yang hidup dibawah hukum Taurat akan dihakimi dengan hukum Taurat.

Adakah orang yang bisa menaati kedua hukum Taurat di atas? Dalam kenyataannya, tidak ada seorang pun yang bisa. Ahli Taurat pun tidak bisa, karena tidak ada manusia berdosa yang mampu untuk menggunakan kebebasannnya untuk memilih apa yang baik, yang berkenan kepada Tuhan. Mengasihi Tuhan dengan segenap hati dan dengan segenap jiwa dan dengan segenap kekuatan dan dengan segenap akal budi kita, dan mengasihi sesama manusia seperti diri kita sendiri adalah mudah dikatakan, tetapi sulit atau tidak mungkin dilaksanakan. Manusia dari awalnya punya kecenderungan untuk memikirkan diri sendiri; dan setelah Adam dan Hawa jatuh dalam dosa, secara sadar atau tidak, selalu menempatkan diri sendiri di atas segala-galanya.

Jelas bahwa manusia yang berdosa tidak akan dapat melaksanakan kedua hukum utama dari Taurat. Manusia dengan demikian tidak akan bisa mendapat keselamatan jika syaratnya adalah kedua hukum di atas. Apa yang bisa kita lakukan adalah berusaha untuk melakukannya “sebaik mungkin”, tetapi tidak ada seorang pun yang bisa memenuhi semua persyaratannya. Hanya Yesus yang dapat melakukan hukum Taurat dengan sempurna. Yesus sudah menggenapi kedua hukum utama itu dengan mati di kayu salib, karena kasih-Nya yang sempurna kepada Allah Bapa dan manusia.

Selanjutnya, mengenai keselamatan kita bisa memelajari apa yang dijelaskan oleh Rasul Paulus dalam kitab Roma 2. Paulus membagi seluruh umat manusia ke dalam dua kategori: Mereka yang menjalani kehidupan yang baik dan diberikan hidup yang kekal oleh Tuhan (Roma 2:7) dan mereka yang mementingkan diri sendiri dan mendapatkan murka Tuhan (Roma 2:8 ). Tuhan akan menghakimi setiap orang menurut standar itu, tulis Paulus, tidak peduli apakah orang Yahudi atau non-Yahudi. Ini nampaknya, pada awalnya, seperti dukungan keselamatan oleh perbuatan. Namun, seperti yang ditunjukkan Paulus, orang yang termasuk dalam kategori pertama sebenarnya tidak ada. Tidak ada yang bisa lepas dari sifat egois dan ketidaktaatan mereka sendiri.

“Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah.” Roma 3: 23

Pagi ini, pertanyaan “Apa yang harus aku perbuat agar diselamatan?” mungkin pertanyaan Anda juga. Jawabannya adalah sebuah pertanyaan: Sudahkah Anda merasakan kasih Yesus dalam hidup Anda? Jika Anda yakin bahwa kasih-Nya ada dalam hidup Anda, baik dalam suka maupun duka, kasih-Nya bisa 100% dipastikan sudah membasuh dosa-dosa Anda. Anda tidak perlu hidup dalam tekanan hukum dan kekuatiran akan dosa lama – karena keselamatan jiwa Anda sudah dijamin oleh Yesus yang sudah mengenapi dua hukum yang utama dengan sempurna. Menggenapi bukanlah berarti menjalankan kedua hukum itu untuk Anda, karena sebagai umat-Nya kita tetap harus mau berusaha sekeras mungkin untuk melaksanakannya dalam hidup kita sebagai rasa syukur kita kepada-Nya. Tetapi, kita boleh yakin bahwa dalam segala kekurangan kita, Yesus sudah menjadi Penebus kita.

“Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya dan semoga roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak bercacat pada kedatangan Yesus Kristus, Tuhan kita. Ia yang memanggil kamu adalah setia, Ia juga akan menggenapinya.” 1 Tesalonika 5:24

Mencari teman hidup

“Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya.” Amsal 27:17

Tidak dapat dipungkiri, sejak adanya berbagai media sosial banyak orang menjadi sangat bersemangat untuk berkomunikasi dengan “teman”. Dengan berbagai aplikasi orang bisa berkomunikasi langsung melalui pesan tertulis ataupun pesan lisan kapan saja. Memang, sebagai makhluk sosial manusia membutuhkan orang lain untuk bisa menjadi teman untuk berinteraksi. Kemajuan teknologi memang bisa membuat dua orang yang terpisah jarak ribuan kilometer, sepertinya ada dalam satu ruangan saja. Istilah teman sekarang ini bukan saja mencakup orang yang pernah kita temui, tetapi juga teman-teman maya yang sebenarnya tidak pernah kita kenal. Bahkan, dalam dunia maya, orang bisa jatuh cinta dan bermesraan bak sepasang merpati yang mabuk kepayang. Pada pihak yang lain, melalui media sosial orang juga bisa menabur benih kebencian atau menjadi korban tipuan orang lain.

Sebenarnya, lebih dari teman untuk berinteraksi, sebagian orang mungkin membutuhkan teman hidup. Teman hidup adalah tempat kita untuk bersandar dan mencari rasa aman. Kita dapat mempercayainya untuk segala hal dalam kehidupan dengan bergantung pada rasa cinta dan hormat, serta memahami kebutuhan dan keinginan masing-masing. Ini mungkin cocok untuk dipakai untuk pasangan kita, suami atau istri. Hubungan yang nyata ini tidak dapat dibayangkan secara maya dalam media sosial.

Walaupun bagi orang Kristen teman hidup berarti teman hidup untuk seumur hidup, terkadang seorang bisa kehilangan pasangannya, mungkin karena adanya penyakit, kecelakaan, atau juga usia tua. Lebih dari itu, di zaman ini banyak juga pasangan Kristen yang bercerai sekalipun itu bukan yang dijehendaki Tuhan. Karena itu, jika orang mengatakan bahwa suami dan istri adalah pasangan sehidup semati, itu tidaklah tepat. Teman hidup ada, tetapi teman mati tidaklah ada. Karena itu, dalam pernikahan orang Kristen, janji pernikahan hanya menyangkut kesetiaan selama hidup, sampai saat kematian memisahkan pasangan itu. Di surga, seperti yang kita ketahui, tidaklah ada hubungan suami istri. Di surga tidak ada kematian, karena yang ada adalah kehidupan kekal. Dengan demikian, di surga semua orang yang diselamatkan adalah teman hidup di dalam kasih karunia Yesus Kristus.

Jelas bahwa tujuan orang Kristen dalam berteman selama hidup di dunia adalah mencari teman hidup. Teman selama hidup di dunia, dan teman selama hidup di surga, untuk selama-lamanya. Ini tidaklah mudah, karena teman selama hidup di dunia, mungkin bukan teman hidup di surga. Teman yang ditemui di surga, mungkin bukan teman selama hidup di dunia. Tetapi, setiap orang Kristen tentu berharap agar semua sanak dan teman kita di dunia akan bisa menjadi teman hidup kita di surga melalui karunia keselamatan dari Tuhan dan iman yang bebar.

Ayat di atas adalah sebuah pengajaran kepada kita tentang makna sebuah hubungan antar sesama manusia sebagai makhluk sosial dalam sebuah komunitas. Komunitas hidup itu mungkin bisa di ibaratkan seperti sebuah tempat tukang besi dalam menempa besi atau logam untuk membuat sebuah alat. Misalnya membuat cangkul, pisau atau membuat alat-alat dapur lainnya. Besi dan logam itu telah dirancang namun membutuhkan tempaan, gesekan dengan sesama besi atau bahkan api yang sangat panas untuk menghasilkan benda yang baik dan berkualitas.

Hal ini telah menjadi gambaran yang tepat dan indah dalam membentuk kualitas hidup persahabatan yag lebih bermakna sekalipun melalui jalan dipukul dan digesekan hingga terluka. Pengajaran ini disampaikan seorang Raja yang sangat berhikmat yaitu Raja Salomo. Salomo agaknya berharap supaya pengajaran ini memberikan makna pembentukan diri setiap orang melalui hubungan persahabatan selama hidup di dunia, yang terkadang membawa situasi yang panas. Namin, ini seharusnya tetap bisa menemukan makna yang baik. Ini adalah faktor positif yang membangun persahabatan.

Walaupun demikian, beberapa teolog mencatat bahwa ayat ini menyangkut hubungan yang terkadang dapat berdampak negatif. Orang bisa memberi masukan ke orang lain, dan bisa memberi terlalu banyak usul, atau memaksakan pendapatnya. Seseorang dapat memperkenalkan yang lain kebiasaan buruk. Teolog-teolog ini berpendapat bahwa interpretasi negatif adalah lebih akurat secara alkitabiah. Misalnya, Ronald Giese berpendapat, “…bukti alkitabiah untuk bagian kata ‘tajam’ menunjuk pada pengertian yang negatif, seperti ‘lidah yang tajam’ yang menunjukkan niat untuk melakukan kecaman yang bisa membawa kehancuran. Pada dasarnya, penggunaan kata Ibrani yang diterjemahkan tajam dalam ayat ini, digunakan di tempat lain untuk hal-hal yang berkonotasi licik atau niat jahat. Ini sebenarnya bukan hanya terjadi di antara masyarakat non Kristen, tetapi juga sering terjadi di kalangan anggota gereja saat ini.

Sehubungan dengan hal persahabatan selama hidup di dunia, Rasul Paulus dalam hidupnya seakan sudah bisa membayangkan apa yang kita alami sekarang. Itu karena pada zamannya, orang Kristen yang tinggal di Korintus menghadapi masyarakat yang mempunyai berbagai kepercayaan, kebiasaan dan budaya yang seringkali tidak sesuai dengan iman Kristen. Dengan itu, tidaklah mengherankan jika ada orang Kristen di Korintus yang terpikat oleh apa yang nampaknya baik. Mereka kemudian jatuh dalam dosa dan cara hidup yang kurang benar, dan kemudian mempengaruhi yang lain. Kepada jemaat Korintus Paulus mengingatkan:

“Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik. Sadarlah kembali sebaik-baiknya dan jangan berbuat dosa lagi! Ada di antara kamu yang tidak mengenal Allah. Hal ini kukatakan, supaya kamu merasa malu.” 1 Korintus 15:33-34

Pagi ini mungkin kita bersiap untuk ke gereja. Di gereja, kita bersekutu dengan saudara-saudara seiman, memuji Tuhan dan mendengarkan firman-Nya. Kita merasa tenteram dan bahagia, dan Tuhan terasa dekat. Mungkin kita berharap bahwa ketenteraman dan kebahagiaan juga bisa ditemui diantara beberapa teman-teman Kristen kita. Tetapi, seusai kebaktian kita akan kembali menghadapi dunia dengan segala tipu muslihatnya. Dalam hal ini, firman Tuhan mengingatkan kita bahwa di dunia ini ada banyak orang Kristen yang sebenarnya tidak benar-benar mengenal Tuhan, atau tidak mengenal Tuhan dengan benar. Mungkin kita sudah terbiasa bergaul dengan mereka dan merasa bahwa mereka adalah orang yang baik. Tetapi firman Tuhan mengatakan bahwa kita tetap harus berhati-hati dalam berinteraksi, agar kita tidak mengikuti pandangan dan kebiasaan hidup yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan yang sudah memerintahkan kita untuk mengerjakan iman kita dengan sungguh-sungguh. Kita harus mencari apa yang positif; dan menghindari apa yang negatif dalam pergaulan, yang tidak membawa kemuliaan bagi Tuhan. Orang Kristen haruslah mencari teman untuk hidup di dunia dan di surga!

Jika kita mengasihi Tuhan, mengapa mendukakan Dia?

“Dan janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah, yang telah memeteraikan kamu menjelang hari penyelamatan. Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan.” Efesus 4: 30 – 31

Roh Kudus adalah oknum Ilahi yang membimbing kita dalam kehidupan sehari-hari dengan kelembutan-Nya. Ia tidak memaksa kita untuk melakukan sesuatu, tapi memberi kesadaran akan apa yang sesuai dengan kehendak Tuhan dan apa yang yang merupakan dosa. Tanpa Roh Kudus kita tidak mungkin bisa:

  • Lahir baru
  • Mengakui bahwa Yesus itu Tuhan
  • Menang atas dosa
  • Maju dalam hidup Kristen
  • Memperoleh kebijaksanaan yang benar
  • Mempunyai karunia Roh
  • Menghasilkan buah-buah Roh
  • Bangkit dari kematian

Begitu banyak apa yang bisa dilakukan oleh Roh Kudus, tetapi kita mungkin sering kurang mau untuk mendengarkan bisikan Roh Kudus dalam hidup kita. Mungkin kita cenderung memberi perhatian jika Roh Kudus memberikan sesuatu yang kita harapkan atau sukai saja. Kita sering ingin membatasi cara kerja Roh Kudus, seakan Roh Kudus bukanlah Tuhan.

Apakah Roh Kuudus adalah Tuhan? Bagi kita yang biasa ke gereja di Indonesia, ayat di bawah ini mungkin tidaklah asing untuk kita. Setiap akhir kebaktian, pendeta yang bertugas akan mengangkat kedua tangannya sambil mengucapkan salam berkat yang juga diucapkan oleh rasul Paulus kepada jemaat di Korintus.

“Kasih karunia Tuhan Yesus Kristus, dan kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus menyertai kamu sekalian.” 2 Korintus 13: 14

Apa yang diucapkan Paulus dalam ayat ini menyatakan adanya kesatuan antara Bapa, Anak dan Roh Kudus; satu Tuhan yang kita kenal sebagai Allah Tritunggal. Jika kita mengenal Allah Bapa yang menciptakan seisi bumi dan alam semesta, dan mengingat pengurbanan AnakNya di kayu salib ganti dosa kita, Roh Kudus seringkali dirasakan sebagai bagian Allah yang kurang bisa dimengerti sepenuhnya. Roh Kudus ada beserta kita, tetapi agaknya kita kurang menyadari bahwa hidup rohani kita bergantung kepada-Nya.

“Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu?” 1 Korintus 3: 16

Dalam kehidupan yang serba sibuk ini, sebagian umat Kristen juga mengalami berbagai persoalan yang membuat mereka hidup dan bertingkah laku seperti orang yang belum percaya. Ada yang mungkin terjebak dalam kebingungan dan keputusasaan. Sebaliknya, ada pula yang tenggelam dalam kesukaan dan kebebasan duniawi. Dengan demikian, mereka mudah lupa bahwa mereka yang sudah dibimbing Roh Kudus kearah keselamatan, sebenarnya adalah tempat kediaman Roh Kudus, yang bisa didukakan oleh perbuatan kita. Ini mungkin agak mengherankan sebagian orang Kristen, karena Roh Kudus sering digambarkan dengan api. Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Tesalonika memang pernah menulis agar mereka tidak memadamkan Roh (1 Tesalonika 5: 19). Jika Roh adalah api, atau “sesuatu”, memang kata “mendukakan” rasanya kurang tepat. Sebagian kecil orang Kristen yang sangat ekstrem dalam meninggikan kedaulatan Tuhan mungkin tidak yakin bahwa kita bisa mendukakan Roh Kudus, karena sebagai oknum Tuhan yang menetapkan segalanya, tentunya Tuhan tidak bisa terkejut atau sedih karena apa yang sudah diketahui-Nya dan direncanakan-Nya sebelum bumi diciptakan. Tuhan yang menetapkan tidak mungkin menyesali tindakan-Nya, begitu alasan mereka.

Walaupun demikian, Roh Kudus sebenarnya adalah Tuhan sendiri yang tinggal dalam diri umat percaya. Ia adalah Oknum yang seperti Allah Bapa dan Yesus Kristus, mempunyai kepribadian dan eksistensi Ilahi. Dalam kenyataan-Nya, Allah Bapa, Allah Putra dan Roh Kudus adalah satu, dan kepada-Nya orang Kristen berbakti. Dengan demikian, segala kelakuan, tingkah laku, pikiran dan perbuatan yang salah bisa membuat Roh merasa sedih dan terlukai. Roh Kudus melihat bagaimana kita perlahan-lahan menjauhkan diri dan menuruti jalan kita sendiri.

Mengingat doktrin alkitabiah tentang Trinitas, kita tahu bahwa setiap pribadi dari Ketuhanan Tritunggal menyukai apa yang dilakukan yang lain. Ada saling menghuni (perichoresis) di antara pribadi-pribadi Ketuhanan: Bapa di dalam Putra dan Roh; Anak di dalam Bapa dan Roh; dan Roh di dalam Bapa dan Anak. Mengenakan Kristus, dengan demikian, berarti mengenakan Bapa dan Roh juga, dan menjalani hidup baru di dalam Kristus menurut pola yang Dia berikan kepada kita menyenangkan Allah Tritunggal kita. Di sisi lain, melanggar perintah yang diberikan kepada murid-murid Yesus tidak hanya mendukakan Anak Allah tetapi juga Bapa dan Roh.

Rasul Paulus membuat poin ini dalam Efesus 4:30 ketika dia memperingatkan kita untuk tidak “mendukakan Roh Kudus Allah.” Ketika kita berdosa, Roh Kudus mengalami kesedihan dengan cara yang sesuai dengan keilahian-Nya. Dia tidak tahan dengan kehadiran dosa dan membencinya ketika kita, tempat kediaman-Nya, melakukan pelanggaran. Namun meskipun kenyataan kesedihan-Nya membuktikan kepribadian Roh, kesedihan-Nya tidak persis sama dengan kita. Roh tidak dapat dilumpuhkan oleh dukacita, dan dukacita-Nya selalu kudus, tidak tercemar oleh dosa, kecemburuan yang durhaka, dan segala kekurangan lain yang sering menyertai dukacita kita. Kesedihannya, pada akhirnya, adalah sebuah misteri. John Calvin pernah berkomentar, “Tidak ada bahasa yang dapat secara memadai mengungkapkan kebenaran khusyuk ini, bahwa Roh Kudus bersukacita dan bersukacita karena kita, ketika kita taat kepada-Nya dalam segala hal, dan tidak berpikir atau berbicara apa pun, tetapi apa yang murni dan suci; dan, di sisi lain, sedih ketika kita mengakui apa pun ke dalam pikiran kita yang tidak layak untuk panggilan kita.”

Roh Allah sangat peka terhadap dosa karena hubungan-Nya yang erat dengan kita, mereka yang telah diselamatkan dan didefinisikan sebagai umat Tuhan yang kudus (1 Petrus 1:13-16). Roh memeteraikan kita “menjelang hari penyelamatan” . Dia berdiam di dalam kita ketika kita percaya kepada Kristus Yesus, menandai kita sebagai umat Allah yang akan terhindar dari murka ilahi pada hari penghakiman. Dengan karya pengudusan Roh Kudus, kita semakin serupa dengan gambar Juruselamat kita, dan kembali ke pola hidup yang sepenuhnya didominasi oleh dosa tidak mungkin bagi semua orang yang telah dimeteraikan oleh Roh (Roma. 8:29–30).

Sebagai orang Kristen, kita masih mungkin jatuh ke dalam dosa yang signifikan, yang mendukakan Roh, membuat jarak antara Dia dan kita. Dalam kitab Perjanjian Lama ada banyak contoh dimana Allah dalam kemarahan-Nya kepada orang Israel, membiarkan mereka mengalami pengalaman pahit. Begitu juga banyak hal yang bisa mendukakan Tuhan yang tinggal dalam hidup kita, sedemikian rupa hingga kita tidak lagi dapat merasakan bimbingan dan pertolongan-Nya. Tidaklah mengherankan, jika orang hidup jauh dari Tuhan, yang mendukakan Roh Kudus, kemudian mengalami hal-hal yang semakin hari semakin parah. Tanpa bimbingan Roh, hidup orang Kristen adalah bagai layang-layang yang putus talinya.

Bagaimana kita harus bersikap dalam hidup agar Roh tidak didukakan? Paulus menyebutkan dalam ayat di atas agar kita membuang segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian, fitnah, dan segala kejahatan. Hal-hal yang sedemikian membuat Roh tidak mau bekerja membimbing kita dalam hidup sehari-hari. Sebagai akibatnya, hidup kita bisa menjadi makin kacau, dan rasa damai menjadi hilang.

Pagi ini, firman Tuhan menasihati kita bahwa sebagai orang percaya, kita harus mau hidup menurut firman-Nya. Dengan hidup yang baik, bimbingan Roh Kudus akan makin nyata dalam hidup kita, sehingga makin hari kita akan makin sempurna seperti apa yang dikehendaki Tuhan. Biarlah kita sadar bahwa Allah sudah memberikan Roh Kudus kepada kita melalui pengurbanan Yesus. Roh Kudus sekarang tinggal didalam diri tiap-tiap orang percaya. Karena itu kita harus berusaha untuk hidup sesuai dengan apa yang dibisikkan-Nya kepada kita, agar Ia bisa bekerja makin hebat dalam mengubah hidup kita, sehingga makin hari kita makin menyerupai Kristus.

“Karena itu, saudara-saudaraku, berusahalah sungguh-sungguh, supaya panggilan dan pilihanmu makin teguh. Sebab jikalau kamu melakukannya, kamu tidak akan pernah tersandung.” 2 Petrus 1: 10

Moralitas tanpa iman adalah mungkin, tapi iman tanpa moralitas adalah tidak mungkin

Tetapi mungkin ada orang berkata: “Padamu ada iman dan padaku ada perbuatan”, aku akan menjawab dia: “Tunjukkanlah kepadaku imanmu itu tanpa perbuatan, dan aku akan menunjukkan kepadamu imanku dari perbuatan-perbuatanku.” Yakobus 2: 18

Sebagai konsekuensi dari perilaku Adam dan Hawa di taman Eden, yaitu memakan buah dari pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat, manusia berubah dari ketidaksadaran menuju ke arah pengetahuan tentang pentingnya moralitas. Mereka menyadari adanya perbedaan antara apa yang “baik” dan yang “buruk” setelah mengalami pengalaman pahit dan mendapat hukuman Allah. Dalam menjalankan kebebasan memilih, Adam dan Hawa melakukan pelanggaran berat. Mereka sudah mengabaikan prinsip moralitas Tuhan: bahwa mereka harus taat kepada perintah Allah.

Moralitas adalah panduan umum tentang kualitas dalam perbuatan manusia yang menunjukan apakah pandangan manusia dalam hidup itu benar atau salah, baik atau buruk. Moralitas mencakup pengertian tentang baik buruknya suatu perbuatan tertentu (etika). Dalam teologi Kristen klasik, semua manusia secara inheren dipandang berdosa karena tindakan Adam dan Hawa (sebuah gagasan yang dikenal sebagai “dosa asal”). Sebaliknya, pemikiran Yahudi, sementara mengakui dorongan manusia menuju kejahatan (yetzer ha-ra), juga menegaskan dorongan menuju kebaikan (yetzer ha-tov). Baik dalam ajaran Kristen maupun Yahudi, setiap manusia harus bertanggung jawab atas karakter moralnya. Masalahnya, manusia sesudah jatuh ke dalam dosa, tidak mampu untuk mencapai apa yang benar-benat baik, yang seturut kehendak Tuhan, sekalipun ia mungkin sadar akan apa yang diperbuatnya dan juga akibatnya. Mengapa demikian?

Sebagian orang Kristen menganggap bahwa sesudah kejatuhan, manusia adalah rusak total (totally depraved), tetapi ini bukan berarti bahwa manusia tidak lagi mengerti arti moralitas. Kain, misalnya, tahu bahwa membunuh Habil adalah suatu hal yang jahat. Tetapi, melalui pilihannya ia justru melakukannya, dan ia kemudian berusaha untuk menghindari pertanggungjawabannya kepada Allah. Manusia setelah kejatuhan bukan rusak sebobrok-bobroknya, terapi rusak dari dalam budinya (radical depravity). Dengan demikian, tanpa bimbingan dan karunia Tuhan manusia akan hidup dalam dosa dan mengabaikan prinsip moralitas yang diberikan Tuhan.

Paulus menulis kepada jemaat di Roma bahwa mereka harus mengindari pandangan moralitas dunia. Mereka harus berubah dari dalam sehingga dapat hidup sesuai dengan kehendak Tuhan,

Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. Roma 12: 2

Jelas Paulus mengemukakan tiga hal yang penting: bertindak, berubah dan belajar (act, change, and learn). Orang Kristen harus bertindak untuk menghindari pengaruh dunia, berubah secara rohani, dan belajar untuk mencari kehendak Allah. Ini berarti bahwa manusia harus melaksanakan prinsip moralitas yang benar.

Kembali ke ayat pembukaan, kita melihat bahwa raul Yakobus menasihati umat Kristen agar mereka hidup dalam iman dan perbuatan, dalam arti hidup dalam iman yang dinyatakan melalui moralitas yang benar. Sebagian orang Kristen percaya bahwa m mereka sudah mempunyai iman karena perbuat baik, karena moralitas yang mereka miliki. Tetapi ini belum tentu benar karena adanya moralitas yang dipandang baik bukan berarti bahwa mereka mempunyai hubungan yang baik dengan Tuhan dan mengenal apa yang benar menurut Dia. Rasul Yakobus menantang orang-orang itu untuk menunjukkan iman mereka dan bukannya perbuatan atau moralitas yang mereka kerjakan. Dengan kata lain, Yakobus berkata bahwa moralitas yang terlihat baik bukan tanda bahwa mereka mengenal Tuhan. Perbuatan baik saja (menurut mata manusia) bukan bukti bahwa mereka percaya kepada Tuhan yang berkuasa atas hidup mereka. Moralitas tanpa iman adalah mungkin, tetapi sia-sia.

Pada pihak yang lain, Yakobus menyatakan bahwa ia dapat menunjukkan iman melaui apa yang dilakukannya, melalui moralitas yang ada dalam hidupnya. Karena melalui cara hidup rasul Yakobus, orang bisa melihat bahwa ia menjalankan prinsip moralitas yang ada dalam firman Tuhan. Moralitas yang dilaksanakan melalui bimbingan Roh Kudus untuk kemuliaan Tuhan. Moralitas yang bukan dilaksanakan untuk kepuasan diri sendiri. Moralitas yang bukan merupakan usaha untuk mendapatkan keselamatan di surga.

Moralitas hidup yang benar akan ada jika orang Kristen mendengarkan suara Roh Kudus dalam hidupnya, bukan suara orang lain, bukan apa yang serupa dengan apa yang dianggap baik di dunia ini. Moralitas dari Tuhan selalu menuntut hati orang Kristen untuk berbuat baik, memikirkan yang baik dan mempelajari yang baik, agar hidup kita terus menerus mengalami pembaharuan untuk kemuliaan Tuhan. Iman tanpa moralitas adalah tidak mungkin. Mereka yang mengaku beriman tetapi mengabaikan prinsip moralitas dan etika kristiani, bukanlah orang Kristen sejati.