Janji yang harus ditepati

“Aku hendak memuliakan TUHAN selama aku hidup, dan bermazmur bagi Allahku selagi aku ada.” Mazmur 146: 2

Masih ingatkah pertanyaan yang diajukan kepada kita ketika kita akan dibaptis atau mengaku percaya di hadapan jemaat gereja? Tiap gereja mempunyai tata cara pembaptisan yang berlainan, tetapi pada umumnya pertanyaan itu menyangkut kepercayaan orang yang akan dibaptis kepada Allah TriTunggal: Bapa, Allah Putra dan Roh Kudus. Selain itu biasanya ada janji yang diucapkan bahwa yang dibaptis akan setia dalam hidupnya kepada Yesus Kristus, dan bahwa tujuan hidupnya sesudah dibaptis adalah untuk hidup dan bekerja untuk kemuliaan Kristus. Ini tentunya berbeda dengan keadaan sebelum ia mengenal Kristus.

Sebenarnya apakah tujuan hidup atau purpose of life dari kebanyakan orang yang tidak mengenal Kristus? Mungkin ada orang yang menjawab bahwa ia ingin menjadi orang yang sukses, orang yang pandai atau orang yang berguna untuk masyarakat dan negara. Semua ini adalah cita-cita. Tujuan hidup adalah sesuatu yang lebih luas dan menyeluruh jika dibandingkan dengan cita-cita dan karir. Tujuan hidup juga sering berbentuk abstrak dan tidak dapat dilihat atau diukur. Walaupun demikian, adanya tujuan hidup adalah penting untuk membuat orang kuat dalam menghadapi semua tantangan. Orang boleh mengejar keinginan tertentu dan senang ketika itu tercapai, namun jika tujuan hidup tidak terwujud, semua yang dicapai mungkin tidak berarti. Sebaliknya, mereka yang tidak mencapai kedudukan tinggi atau mendapat kekayaan yang berlimpah bisa saja berbahagia jika tujuan hidupnya tercapai.

Dalam hidup ini memang kesibukan sehari-hari sering menyita waktu dan karena itu kita mungkin tidak sempat memikirkan apakah tujuan hidup kita sudah tercapai. Apakah kepuasan hidup sudah tercapai, sedang mendatangi ataukah belum terasa, mungkin tidak pernah dipikirkan dalam-dalam. Walaupun demikian, seringkali ketika orang mengalami suatu kejadian yang tidak menyenangkan dalam hidup, secara tiba-tiba ia mungkin terbangun dan sadar bahwa hidup yang ada sampai saat ini adalah hampa. Jika pada saat-saat yang lalu ia tidak memikirkan apa arti hidupnya, dengan  memeriksa realitas kehidupan kemudian timbul kesadaran bahwa apa yang dipunyainya bukanlah tujuan hidupnya.

Apakah kita sudah mencapai tujuan hidup kita?  Kita bisa memeriksa hidup kita sendiri. Reality check untuk apa yang sudah kita capai secara jasmani mudah dilakukan, tetapi bukan itu saja yang dituju dalam hidup manusia. Penulis Mazmur di atas menyatakan keinginannya untuk memuliakan Tuhan selama ia hidup, dan bermazmur bagi Dia selagi  masih bisa. Memuliakan Tuhan dan memuji Dia adalah suatu sikap yang harus diambil setiap orang Kristen dan seharusnya menjadi tujuan hidup kita juga. Tujuan hidup yang indah  ini seringkali lebih mudah dikatakan daripada dilaksanakan dalam kesibukan sehari-hari. Sekalipun sebagai orang percaya kita mungkin ingin hidup seperti pemazmur, bagaimana kita bisa memuliakan Tuhan dan bermazmur untuk Dia sepanjang waktu dalam hidup kita?

Untuk bisa mempunyai hidup yang memuliakan dan memuji Tuhan, tidaklah cukup dengan pergi ke gereja setiap minggu, atau aktif dalam kegiatan gereja. Jika itu adalah tujuan hidup kita, kita harus bisa melakukannya setiap saat. Dalam hal ini banyak orang Kristen yang berpikir bahwa mereka dapat mencapai tujuan ini secara rohani, melalui perenungan, pemikiran, dan perasaan. Itu benar, tetapi tidak sepenuhnya. Jika kita memang ingin untuk memuliakan dan memuji Tuhan di setiap waktu, itu berarti bahwa apa  saja yang kita kerjakan sehari-hari harus bisa menyatakan hal itu. Tujuan hidup orang Kristen bukan sekedar konsep rohani, tetapi sesuatu yang nyata di dunia.

Pagi ini, ayat di atas menantang kita untuk berpikir dalam-dalam. Jika kita memang mengasihi Tuhan dan sesama kita, apakah yang kita kerjakan hari ini yang bisa membuktikan hal itu? Jika kita ingin memuliakan dan memuji Tuhan, apakah yang bisa kita lakukan pada setiap saat dalam hidup kita? Mungkin kita berpikir bahwa tidak ada hal-hal yang signifikan yang bisa kita lakukan dalam hidup kita saat ini. Mungkin karena umur, kesehatan, pendidikan, pekerjaan atau lingkungan, kita merasa tidak mampu untuk melakukan hal-hal yang “besar”. Tetapi, memuji Tuhan tidak harus berarti berbuat sesuatu yang hebat dalam pandangan manusia. Tujuan hidup kita ini bisa dicapai dalam keadaan apa pun kalau saja kita mau menepati janji bahwa segala sesuatu yang kita perbuat, kita akan melakukannnya untuk memuliakan Tuhan dan sesuai dengan perintah-perintah-Nya.

“Dan inilah tandanya, bahwa kita mengenal Allah, yaitu jikalau kita menuruti perintah-perintah-Nya. Barangsiapa berkata: Aku mengenal Dia, tetapi ia tidak menuruti perintah-Nya, ia adalah seorang pendusta dan di dalamnya tidak ada kebenaran. Tetapi barangsiapa menuruti firman-Nya, di dalam orang itu sungguh sudah sempurna kasih Allah; dengan itulah kita ketahui, bahwa kita ada di dalam Dia. Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup.” 1 Yohanes 2:3-6

Mengapa malapetaka harus terjadi?

“Ingatlah hal-hal yang dahulu dari sejak purbakala, bahwasanya Akulah Allah dan tidak ada yang lain, Akulah Allah dan tidak ada yang seperti Aku, yang memberitahukan dari mulanya hal yang kemudian dan dari zaman purbakala apa yang belum terlaksana, yang berkata: Keputusan-Ku akan sampai, dan segala kehendak-Ku akan Kulaksanakan” Yesaya 46: 9  – 10

Jika kita membaca berita dalam surat kabar atau dari media eletronik, pastilah kita bisa melihat bahwa setiap hari selalu ada saja kabar buruk yang terjadi di dunia. Tidak hanya berita tentang adanya kekacauan di bidang sosial, ekonomi dan politik di berbagai tempat, tetapi juga adanya penderitaan yang dialami manusia karena adanya kelaparan, penyakit, penganiayaan, kejahatan, perang atau kecelakaan. Apalagi, ada kejadian-kejadian dimana sejumlah besar manusia yang nampaknya tidak bersalah, menemui kematian pada waktu yang bersamaan akibat suatu bencana, seperti jatuhnya sebuah pesawat udara.

Saya mengunjungi tempat Memorial 9/11 beberapa tahun yang lalu, dan membaca nama-nama korban di sana, mau tidak mau saya merasa sangat sedih. Di manakah Tuhan pada waktu tragedi itu terjadi? Saya yakin bahwa pada tanggal 11 September 2001, Tuhan berada persis di mana Dia selalu berada – di surga, memengang kendali penuh atas segala sesuatu yang terjadi di alam semesta. Lalu, mengapa Allah yang baik dan pengasih membiarkan tragedi seperti itu terjadi? Ini adalah pertanyaan yang sulit untuk dijawab.

Pertama, kita harus ingat, “Karena sama seperti langit lebih tinggi dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu, dan rancangan-Ku dari rancanganmu” (Yesaya 55:9). Mustahil bagi manusia yang terbatas untuk memahami jalan Allah yang tidak terbatas (Roma 11:33-35).

Kedua, kita harus menyadari bahwa Tuhan tidak bertanggung jawab atas tindakan jahat orang jahat. Alkitab memberitahu kita bahwa manusia dalam kebebasannya sangat jahat dan berdosa (Roma 3:10-18, 23).

Ketiga, Allah mengizinkan manusia melakukan dosa karena alasan-Nya sendiri dan untuk memenuhi tujuan-Nya sendiri. Kadang-kadang kita berpikir bahwa kita mengerti mengapa Tuhan melakukan sesuatu, hanya untuk mengetahui kemudian bahwa itu untuk tujuan yang berbeda dari yang kita pikirkan semula.

Satu hal yang juga harus kita sadari ialah sifat Tuhan yang mahakasih tentulah bertentangan dengan pandangan sebagian agama atau pendapat beberapa pemuka agama, bahwa Dialah yang menyebabkan munculnya malapetaka. Dalam Yohanes 3:16 kita tahu bahwa karena Tuhan mencintai seisi dunia, Ia sudah memberikan jalan keselamatan melalui Yesus Kristus. Dengan kasih yang sedemikian besarnya, tidaklah mungkin bahwa Tuhan bermaksud membiarkan orang-orang atau bangsa-bangsa tertentu untuk menderita jika tidak ada sebabnya.

Kita harus menyadari bahwa karena bumi ini sudah jatuh kedalam dosa, hidup semua makhluk tidak lagi dapat memperoleh ketenteraman. Karena dunia ini adalah dunia yang tidak sempurna, manusia secara perorangan atau kolektif, bisa membuat kesalahan yang bisa mencelakakan orang lain atau dirinya sendiri. Dalam hal ini, kita harus ingat bahwa iblis dengan segala usahanya juga berusaha menghancurkan kehidupan manusia.

Dalam keadaan yang demikian, bagi umat Kristen satu-satunya pegangan hidup adalah kasih Tuhan yang sudah mengurbankan Anak-Nya yang tunggal untuk menebus dosa manusia. Karena sedemikian besar kasih Tuhan kepada manusia, Ia sebenarnya tidak menginginkan adanya bencana apapun pada diri manusia. Walaupun begitu, karena dosa yang diperbuat manusia, Tuhan bisa memungkinkan terjadinya hal-hal yang menyedihkan sebagai peringatan dan hukuman. Selain itu, dalam berbagai penderitaan, kuasa Tuhan bisa terasa dan membuat orang mau berserah kepada-Nya.

Pagi ini, jika kita mendengar adanya sebuah malapetaka, hati kita mungkin bertanya-tanya mengapa Tuhan seakan berdiam diri. Apakah Tuhan benar-benar mahakasih, maha adil dan mahakuasa? Ayat diatas menunjukkan bahwa keputusan-Nya akan terjadi dan segala kehendak-Nya akan terlaksana. Apa pun yang terjadi adalah dengan sepengetahuan-Nya.

Kita seringkali tidak mengerti mengapa Ia mengambil keputusan tertentu atau membiarkan hal-hal yang buruk terjadi di dunia. Tetapi, satu hal yang kita mengerti adalah hidup di dunia ini hanyalah sebagian kecil dari hidup manusia. Orang mungkin hidup di dunia untuk 70-80 tahun dan dalam jangka waktu yang relatif singkat itu berbagai kesukaran dan penderitaan bisa muncul (Mazmur 90: 10). Tetapi apa yang datang sesudah hidup di dunia adalah yang lebih penting; masa yang abadi dimana kita sudah menerima garansi untuk bisa menikmati kebahagiaan yang penuh dengan Tuhan. Hidup yang singkat di dunia, dengan demikian bisa kita gunakan untuk menolong mereka yang menderita, agar mereka bisa mengenal Tuhan yang mahakasih seperti kita. Biarlah nama Tuhan dipermuliakan segala bangsa dalam segala keadaan!

Tahu tapi tidak mau melakukan

Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa.” Yakobus 4: 17

Sudah lebih dari 40 tahun sejak Australia meluncurkan kampanye pertama ” Do the Right Thing” (Lakukan Hal yang Benar). Itu adalah ajakan bagi warga Australia untuk melakukan hal yang benar dengan membuang sampah ke tempat yang semestinya. Faktanya saat ini, seiring dengan bertambahnya populasi dan gaya hidup pendiduk yang bebas, semua orang perlu diingatkan agar memiliki tanggung jawab untuk memberi contoh dan mencegah polusi sampah. Hidup memang boleh dinikmati, tetapi harus disertai dengan pelaksanaan etika hidup dengan baik.

Secara bahasa, kata ‘etika’ lahir dari bahasa Yunani ethos yang artinya tampak dari suatu kebiasaan. Dalam hal ini yang menjadi perspektif objeknya adalah perbuatan, sikap, atau tindakan manusia. Pengertian etika secara khusus adalah ilmu tentang sikap dan kesusilaan suatu individu dalam lingkungan pergaulannya yang kental akan aturan dan prinsip terkait tingkah laku yang dianggap benar.

Sebagai anak-anak Allah, motif dan sikap kita harus hidup bagi Kristus setiap saat sepanjang hari – mempersembahkan hidup kita sebagai persembahan yang hidup kepada-Nya, untuk memercayai Firman-Nya dan berjalan dalam ketergantungan total kepada-Nya, saat demi saat. Menjalani kehidupan Kristen seperti yang dimaksudkan dan diperintahkan Tuhan, yang sesuai dengan etika Kristen, harus menjadi tujuan utama orang Kristen, dan kegagalan untuk melakukannya diidentifikasi oleh Yakobus sebagai dosa yang harus diakui kepada Tuhan. Memang, jika dalam hidup kita kita ingin hidup kudus, persekutuan dengan Bapa akan bertumbuh dalam kasih karunia, untuk kehormatan dan kemuliaan-Nya.

Dan ayat di atas, rasul Yakobus berusaha menjelaskan kepada para pembacanya konsekuensi dari mengetahui apa yang saleh dan mulia di mata Tuhan, etika yang benar, namun menolak untuk melaksanakannya. Oleh karena itu, dia memperingatkan, kepada orang yang mengetahui hal yang benar untuk dilakukan namun tidak melakukannya, itu adalah dosa. Seiring dengan itu, mereka yang mengerti dan sudah melaksanakan apa yang baik, tentunya harus mau mengajarkan hal itu kepada orang lain.

Etika Kristen adalah pelaksanaan perintah Tuhan dalam hidup sehari-hari, yang walaupun tidak disebutkan secara terperinci dalam Alkitab, adalah suatu tanda bahwa Roh Kudus bekerja dalam hidup kita sehingga kita mengerti dan taat kepada firman-Nya. Jika etika umum bisa muncul dalam satu masyarakat dan karena etika berhubungan dengan budaya setempat, etika dalam sebuah masyarakat tertentu mungkin tidak dikenal dalam masyarakat lain. Sebaliknya, karena etika Kristen bertalian dengan firman Tuhan, seharusnya semua orang Kristen tahu apa yang baik dan buruk dalam hidup sehari-hari menurut ukuran firman Tuhan. 

Dalam ayat Kolose 3: 5 – 6 disebutkan bahwa kita tidak boleh melakukan segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan. Sebagai orang Kristen mungkin kita mudah berkata bahwa kita mengerti akan hal-hal di atas. Tetapi bagaimana pula dengan praktik tingkah laku dan pikiran kita yang sehari-hari tentang hal-hal itu? Mungkin kita tidak melakukan hal- hal yang jahat itu, tetapi apakah kita selalu mau mengingatkan dan mengajar mereka yang mengabaikan kenyataan hidup mereka? Ini adalah panggilan kita sekalipun kita diselamatkan oleh iman dan bukan oleh perbuatan. Tambahan pula, sebagai orang yang sudah menerima karunia Tuhan yang luar biasa besarnya, apakah kita tidak tergerak untuk melakukan dan mengajarkan hidup baik sebagai pernyataan rasa syukur kita kepada-Nya?

Yesus pernah menjumpai orang-orang yang sudah merasa saleh tetapi mengabaikan etika-etika hidup yang benar. Sebagai contoh, ahli-ahli Taurat dan orang Farisi mungkin merasa bahwa mereka sudah membayar apa yang harus dibayar dalam hidup mereka, tetapi melupakan bahwa ada hal-hal lain yang menyangkut keadilan, belas kasihan dan kesetiaan yang perlu dilaksanakan. Serupa dengan itu, sebagai orang Kristen kita yakin bahwa dosa kita sudah diampuni karena Kristus sudah membayar hutang kita dengan darah-Nya, dan karena itu kurang menekankan pentingnya hidup menurut etika yang benar.

“Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan.” Matius 23: 23

Hari ini kita diingatkan bahwa jika kita mau mengikut Yesus, kita sewajarnya memegang dan melaksanakan etika hidup Kristen yang berdasarkan kasih. Dalam bekerja, kita harus bekerja dengan rajin dan jujur, menghormati atasan dan bawahan kita, menghargai orang-orang yang rajin bekerja dan mengasihani mereka yang kekurangan; karena Tuhanlah yang mengendakinya. Dalam berkeluarga, kita harus setia, mau saling menolong dan menguatkan, serta membagi waktu untuk seluruh anggota keluarga. Sebagai seorang warganegara kita harus ikut menunjang pemerataan ekonomi, menolong mereka yang kurang mampu, dan menghormati pemerintah dan hukum yang berlaku. Memilih dan melakukan hal yang baik adalah suatu keharusan dan bukan pilihan.

Sebagai anggota masyarakat kita harus menempatkan diri sama seperti yang lain dan tidak memakai kedudukan sosial kita untuk menguntungkan diri sendiri. Sebagai manusia kita juga harus menghargai hidup sehat jasmani dan rohani dan karena itu tidak melakukan hal-hal yang bisa merugikan kesehatan dan keselamatan diri sendiri dan orang lain. Selain itu, sebagai orang Kristen kita harus mau mengajar orang lain untuk hidup baik, sebab menyadarkan orang lain tentang kehendak Tuhan ini juga termasuk perbuatan baik.

“Dan apa yang telah kamu pelajari dan apa yang telah kamu terima, dan apa yang telah kamu dengar dan apa yang telah kamu lihat padaku, lakukanlah itu. Maka Allah sumber damai sejahtera akan menyertai kamu.” Filipi 4: 9

Kebenaran tidak bergantung pada keajaiban

Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga?Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!” Matius 7: 22-23

Setiap hari kita bisa menjumpai banyak berita yang menunjukkan adanya berbagai penderitaan yang dialami manusia. Hati kita mungkin menjadi sedih jika kita membayangkan bahwa banyak di antara mereka yang tidak dapat memperoleh pertolongan baik untuk kebutuhan jasmani maupun kebutuhan rohani. Walaupun demikian, kita harus bersyukur bahwa dalam keadaan yang buruk bagaimanapun, kita bisa melihat Tuhan masih tetap bekerja baik secara langsung maupun tidak langsung, untuk menolong mereka yang menderita.

Memang kebutuhan manusia itu berbagai ragam adanya, dan sekalipun mereka yang kaya-raya tetap juga mempunyai berbagai hal yang masih mereka cari. Sering kali, dalam usaha untuk mencari apa yang sangat diperlukannya, manusia mengalami jalan buntu dan karena itu hanya bisa berharap akan adanya mukjizat. Sebagian menemukan “miracle” yang terjadi melalui datangnya pertolongan yang tidak disangka, melalui mukjizat, maupun kejadian-kejadian yang tidak bisa diterima oleh pikiran sehat manusia. Dan jika itu terjadi, manusia mungkin merasakan adanya keajaiban atau faktor keberuntungan.

Mereka yang selalu mengharapkan datangnya sesuatu yang luar biasa, sering kali terperangkap dalam hal-hal yang nampaknya spektakuler namun sebenarnya hanya sekadar bayangan atau impian saja. Karena harapan yang terlalu besar, apa pun yang muncul lebih mudah diterima sebagai manifestasi apa yang mereka inginkan. Serupa dengan efek plasebo dalam ilmu obat-obatan, apa yang mereka alami, baik dalam hal jasmani ataupun rohani hanyalah semu dan bersifat sementara saja.

Ayat di atas adalah ayat yang sering dibahas. Yesus menyatakan bahwa hari terakhir banyak orang akan berseru kepada Dia dan mengaku bahwa mereka sudah membuat banyak keajaiban dalam nama-Nya. Pada waktu itulah Yesus akan menjawab bahwa mereka akan ditolak-Nya. Mengapa begitu? Penafsir Alkitab Matthew Henry menulis bahwa Kristus di sini menunjukkan bahwa kita tidak cukup mengakui Dia hanya dalam kata dan lidah. Sebaliknya, adalah penting untuk keselamatan kita bahwa kita percaya kepada Kristus, bertobat dari dosa, menjalani kehidupan yang kudus, dan saling mengasihi. Ini adalah kehendak-Nya, agar kita berhenti mengharapkan atau melakukan hal-hal iyang nampaknya ajaib, agar jangan sampai kita menipu diri kita sendiri, dan binasa selamanya, seperti yang dilakukan orang banyak.

Kata “kejahatan” dalam ayat itui merupakan indikator utama untuk mengenali kepalsuan para nabi palsu tersebut. Dalam Matius 7: 17-20, Yesus menyebutkan bahwa buah yang baik dihasilkan dari pohon yang baik. Sebaliknya buah yang tidak baik dihasilkan dari pohon yang tidak baik. Yang dimaksud dengan buah disini bukanlah hasil pekerjaan berupa kemampuan untuk “bernubuat, mengusir setan dan penyembuhan”, melainkan menujuk kepada “motivasi dan karakter pribadi”. Karena disini Yesus memberikan petunjuk untuk mengidentifikasi nabi palsu itu dari sisi etika, bukan dari sisi doktrinal, maka para nabi palsu itu perlu diuji dengan memperhatikan buahnya, bukan pada tindakan supranatural yang mereka lakukan.

Mengapa orang Kristen bisa jatuh kedalam jerat mukjizat dan keajaiban palsu? Itu pada umumnya disebabkan oleh fokus kehidupan sehari-hari. Mereka yang memusatkan perhatian pada kekayaan, mengharapkan Tuhan membuat mukjizat dalam hal harta dan kesuksesan. Mereka yang selalu memikirkan hal kesehatan, mudah terperangkap dalam hal kesembuhan ilahi yang bisa dilakukan oleh orang-orang tertentu. Dengan demikian pandangan mata rohani mereka menjadi sangat terbatas kemampuannya. Bagi mereka, kehadiran Tuhan hanya bisa terasa ada karena adanya mukjizat yang bisa mereka lihat atau alami. Secara doktrin, memang Tuhan bisa memberi kemampuan istimewa kepada orang-orang tertentu, tapi itu bukan berarti setiap orang yang bisa melakukannya adalah orang-orang yang diselamatkan.

Pagi ini, ayat di atas mengingatkan kita bahwa iblis adalah oknum yang pintar. Iblis bisa memanfaatkan kelemahan manusia yang selalu bergantung pada mukjizat, dengan membuat berbagai perbuatan ajaib, tanda-tanda dan mukjizat-mukjizat palsu, dan dengan rupa-rupa tipu daya jahat. Tipu daya iblis pasti berhasil jika ada orang-orang yang masih tidak sadar bahwa mereka sudah menerima keajaiban terbesar yang sudah ditawarkan oleh Yesus Kristus, Anak Allah yang lahir di palungan, yaitu keselamatan jiwa mereka.

Mereka yang tidak berpegang pada kebenaran yang dapat menyelamatkan mereka, akan tetap tinggal dalam kebodohan mereka dan menerima apa yang tidak ada gunanya di hadapan kemuliaan Tuhan. Kita harus sadar bahwa sekalipun kita tidak melihat tanda-tanda ajaib dengan mata kita, keajaiban yang terbesar sudah terjadi pada diri kita. Karena itu, biarlah kita selalu sadar bahwa:

  • Iman kita tidak berlandaskan pada mukjizat, tetapi berlandaskan pada Yesus.
  • Kita tidak memuliakan mukjizat, tetapi memuliakan Tuhan.
  • Kita tidak mencari mukjizat, tetapi mencari kehendak Tuhan.
  • Kita tidak memasyhurkan mukjizat, tetapi memasyhurkan nama Tuhan.

Semoga kita tetap berfokus pada dasar iman yang benar!

“Kedatangan si pendurhaka itu adalah pekerjaan Iblis, dan akan disertai rupa-rupa perbuatan ajaib, tanda-tanda dan mujizat-mujizat palsu, dengan rupa-rupa tipu daya jahat terhadap orang-orang yang harus binasa karena mereka tidak menerima dan mengasihi kebenaran yang dapat menyelamatkan mereka.” 2 Tesalonika 2: 9 – 10

Kita adalah warga satu bangsa yang diselamatkan karena iman

“Dan Kitab Suci, yang sebelumnya mengetahui, bahwa Allah membenarkan orang-orang bukan Yahudi oleh karena iman, telah terlebih dahulu memberitakan Injil kepada Abraham: “Olehmu segala bangsa akan diberkati.” Jadi mereka yang hidup dari iman, merekalah yang diberkati bersama-sama dengan Abraham yang beriman itu. Galatia 3: 8 – 9

Dalam keadaan dunia saat ini, banyak negara mengalami masalah serius. Kemarin suku bunga resmi (official cash rate) di Australia dinaikkan lagi untuk kesekian kalinya dalam setahun. Hidup rakyat yang sudah suilit karena harga BBM yang tinggi dan tingkat inflasi yang lebih besar dari kenaikan gaji, sekarang bertambah berat karena bunga pinjaman bank juga naik seiring dengan kenaikan suku bunga resmi.

Di antara banyak negara di dunia, kita memang bisa melihat bahwa tiap negara mengalami persoalan yang berbeda. Sebagian mengalami persoalan yang sangat besar, yang terlihat jauh lebih parah daripada yang lain. Bagi orang yang melihat adanya perbedaan yang terjadi di antara berbagai negara, mungkin ada pertanyaan mengapa hal itu bisa terjadi. Bagi orang yang beragama, pertanyaan yang sudah ada sejak dulu, sekarang muncul lagi: mengapa Tuhan kelihatannya lebih memberkati negara yang satu daripada yang lain? Apakah Tuhan lebih menyayangi negara-negara tertentu?

Dalam kitab Perjanjian Lama dikatakan bahwa bangsa Israel adalah bangsa pilihan Tuhan. Bangsa Israel adalah bangsa yang dibebaskan Tuhan dari perbudakan di tanah Mesir. Banyak bangsa lain yang mengalami hukuman Tuhan karena mereka berusaha mengganggu dan bahkan menghancurkan bangsa Israel pada waktu itu. Dengan demikian, dapatlah dimengerti banyak orang yang sampai sekarang menganggap bangsa Israel adalah tetap merupakan pilihan Tuhan: bangsa ini dikasihi Tuhan lebih dari bangsa lain. Tuhan sudah pilih kasih, dan itu nampaknya tidak adil, tetapi itu semata-mata hak-Nya. Begitu mungkin orang berpikir.

Alkitab memang menyatakan bahwa bangsa Israel adalah bangsa pilihan Tuhan. Tetapi bangsa ini dipilih untuk memenuhi rancangan penyelamatan Tuhan, bukan untuk diselamatkan. Ayat di atas menyatakan bahwa Allah menyelamatkan orang-orang bukan Yahudi oleh karena iman. Kita yang bukan termasuk bangsa Yahudi menjadi orang yang diselamatkan melalui darah Kristus. Siapa pun orangnya, ia akan diselamatkan jika mempunyai iman kepada Yesus Penebus.

Di dunia, kita mungkin bisa melihat bahwa ada bangsa-bangsa dan negara-negara yang mempunyai tingkat ekonomi, teknologi dan sosial yang lebih baik dari bangsa atau negara lain. Hal ini tentunya terjadi sesuai dengan rancangan Tuhan. Tetapi, ini tidak berarti bahwa Tuhan memilih negara-negara tertentu menjadi favorit-Nya. Tuhan mempunyai rencana tertentu di dunia dan adalah hakNya jika Ia memilih bangsa atau negara tertentu untuk berperan dalam rencana-Nya di dunia.

Ayat di atas menyebutkan bahwa sebagai orang percaya kita sudah terbilang keturunan Abraham dalam hal rohani, yaitu dalam menerima janji keselamatan yang datang melalui Yesus Kristus (Galatia 3: 29). Bani Israel sudah dipilih untuk melaksanakan rencana Tuhan, termasuk kelahiran Yesus di dunia. Tetapi setelah itu, bangsa Israel sendiri yang menyebabkan Yesus disalb dan bahkan menolak Yesus sebagai Juruselamat atau Mesias. Dengan demikian, secara rohani bangsa Israel bukanlah orang-orang pilihan Tuhan.

Bangsa-bangsa (orang-orang) yang dipilih Tuhan adalah orang-orang yang percaya kepada Kristus. Mereka adalah orang-orang yang sudah dselamatkan melalui penebusan darah Yesus di kayu salib. Mereka adalah orang-orang berdosa yang sudah diampuni oleh Tuhan dan bebas dari kematian abadi. Umat Tuhan mungkin saja tidak mempunyai hidup senyaman mereka yang tidak percaya kepada Tuhan. Umat Tuhan mungkin saja harus menderita karena iman mereka. Tetapi semua itu terjadi selama hidup di dunia, dalam hidup jasmani.

Hari ini, jika kita menyadari bahwa kita sudah diangkat menjadi keturunan Abraham dalam hal menerima warisan keselamatan, haruslah kita hidup dalam sukacita. Sekalipun keadaan di sekeliling kita nampaknya tidak nyaman secara jasmani, itu bukanlah menunjukkan bahwa Tuhan tidak mengasihi kita. Sebaliknya, apa yang terlihat secara jasmani tidak dapat dibandingkan dengan kasih Allah yang sudah sudah memilih kita untuk diselamatkan secara rohani. Karena itu, keadaan jasmani apa pun yang saat ini kita alami tidak akan menutupi kebahagiaan kekal yang kita miliki.

Hidup baru sebagai orang percaya

“…sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus, sehingga kita bukan lagi anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan…” Efesus 4: 13 – 14

Kapan anda mengambil keputusan untuk mengikut Yesus? Masih ingatkah? Sebagian orang bisa menyebutkan saat tertentu (lahir baru, regenerasi) dimana mereka, oleh pertolongan Roh Kudus, mengakui Yesus sebagai Juruselamat mereka dan bertekad untuk bertobat dari hidup lama mereka. Pada waktu seseorang mengalami kelahiran baru, ia dapat dibayangkan sebagai seorang bayi yang baru dilahirkan. Dari keadaan mati, berubah menjadi hidup (regenerasi). Ini terjadi pada satu saat tertentu, dan bukan melalui proses. Itu terjadi hanya karena karunia Tuhan.

Jika regenerasi merupakan pemberian hidup yang baru, maka artinya regenerasi merupakan awal dari proses-proses pembaharuan hidup. Dengan demikian, orang yang lahir baru telah mengalami langkah pertama dari pembaharuan. Proses-proses pembaharuan hidup yang mengikuti regenerasi itu bersifat progresif dan disebut “pengudusan yang dinamis”. Paulus mengingatkan “..karena kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya, dan telah mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya” (Kolose 3:9-10). Dalam ayat ini Paulus bukan bermaksud memberitahu orang-orang percaya di Kolose bahwa mereka sekarang atau setiap hari harus menanggalkan manusia lama dan mengenakan manusia baru berulangulang kali, tetapi Paulus menegaskan bahwa mereka telah mengalaminya pada saat regenerasi dan telah melakukannya perubahan ini ketika mereka di saat konversi menerima dengan iman apa yang telah dikerjakan Kristus bagi mereka.

Lalu apakah yang dimaksud Paulus dengan frase “terus menerus diperbaharui”? Walaupun orang-orang percaya adalah pribadi-pribadi baru, akan tetapi mereka belum mencapai kesempurnaan yang tanpa dosa; mereka masih harus bergumul melawan dosa. Pembaharuan ini merupakan proses perndewasaan seumur hidup. frase ini menjelaskan kepada kita bahwa setelah lahir baru, seperti seorsng bayi, kita harus terus menerus mengalami proses pengudusan mencakup pengudusan pikiran, kehendak, emosi, dan hati nurani.

Alkitab menyebutnya dengan istilah “pengudusan”, yang bersifat dinamis bukan statis, yang progresif bukan seketika; yang memelukan pembaharuan, pertumbuhan dan transformasi terus menerus. Jadi, orang-orang percaya yang telah lahir baru dan menjadi ciptaan baru di dalam Kristus masih diperintahkan untuk mematikan perbuatanperbuatan daging dan segala sesuatu yang berdosa di dalam diri mereka berupa keinginan-keinginan daging (Roma 8:13), serta menyucikan diri dari segala sesuatu yang mencemari tubuh dan roh (2 Korintus 7:1). Ini adalah kewajiban dan tanggung jawab setiap umat Kristen.

Dengan berlalunya waktu, sang bayi tentunya diharapkan untuk tumbuh secara spiritual, tumbuh dalam iman dan perbuatan. Walaupun demikian, apa yang dikenal sebagai hidup baru belum tentu dapat jelas terlihat sesudah itu. Mereka yang mengaku Kristen itu mungkin belum bisa bertumbuh kerohaniannya sehingga tingkah laku dan perbuatan mereka tidaklah jauh berbeda dari apa yang ada sebelumnya. Memang dalam kenyataannya, pertumbuhan setiap bayi tidaklah sama. Ada orang-orang yang cepat bertumbuh secara rohani, tetapi ada juga yang lambat sehingga mereka hanya bisa mencerna makanan bayi. Mereka tidak bertumbuh dalam iman dan pengertian kekristenannya.

“Sebab sekalipun kamu, ditinjau dari sudut waktu, sudah seharusnya menjadi pengajar, kamu masih perlu lagi diajarkan asas-asas pokok dari penyataan Allah, dan kamu masih memerlukan susu, bukan makanan keras.” Ibrani 5: 12

Mengapa orang tetap bayi secara rohani walaupun sudah lama menjadi Kristen? Sebab yang utama adalah karena hubungannya dengan Tuhan yang kurang erat. Karena itu, keinginan mereka untuk mengenal karakter Tuhan tidaklah besar. Mereka tidak mengenal Tuhan secara pribadi walaupun sudah lama mengaku Kristen. Mereka tidak memberi kesempatan kepada Roh Kudus untuk memimpin hidup mereka karena mereka terlalu sibuk mengurus kepentingan pribadi. Mereka mungkin mengharapkan perubahan, tetapi tidak mau bekerjasama dengan Roh Kudus untuk mengganti cara hidupnya.

Selain itu, ada juga orang-orang yang gampang merasa puas dengan janji keselamatan yang mereka peroleh. Mereka percaya bahwa jika mereka mengaku percaya kepada Yesus, itu sudahlah cukup. Mereka tidak mengerti bahwa iblispun percaya adanya Tuhan, tetapi ia tidak mau tunduk kepada kehendak Tuhan. Mereka yang hidup dengan mengandalkan akal budi saja, cenderung tidak mau menerima bimbingan Tuhan. Mereka sering mengabaikan firman Tuhan. Sebagai akibatnya, orang-orang yang sedemikian tidak bertumbuh dan berbuah. Dengan demikian, seperti pohon yang berdaun hijau belum tentu pohon yang hidup, mereka yang mengaku Kristen mungkin adalah orang-orang yang masih berada dalam hidup lama yang membawa kematian (Matius 7: 19-20).

Sekalipun cara hidup dan penampilan yang baik seringkali dianggap sebagai tanda hidup baru, itu belum tentu bukti hidup baru. Hidup baru benar-benar bisa terlihat jika orang tetap bertahan dalam iman sekalipun menghadapi semua tantangan atau masalah kehidupan baik yang bersifat jasmani maupun rohani. Seperti pohon yang tetap berdiri kokoh walaupun diterjang badai. Dalam situasi dunia saat ini, mereka yang benar-benar sudah hidup baru mungkin mengalami berbagai penderitaan, tetapi tetap teguh dalam iman. Dalam kesulitan hidup mereka mungkin menjumpai berbagai godaan dan jalan pintas yang memikat, tetapi tetap bisa berdiri tegap dalam kebenaran firman Tuhan.

“Sebab barangsiapa masih memerlukan susu ia tidak memahami ajaran tentang kebenaran, sebab ia adalah anak kecil. Tetapi makanan keras adalah untuk orang-orang dewasa, yang karena mempunyai pancaindera yang terlatih untuk membedakan yang baik dari pada yang jahat.” Ibrani 5: 13 – 14

Hari ini, kita diingatkan bahwa sebagai orang percaya kita harus terus bertumbuh secara rohani dan menghasilkan buah yang baik dalam suka maupun duka. Selama hidup kita tidak boleh berhenti mempelajari firman Tuhan dan melaksanakannya sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, yaitu tingkat kedewasaan penuh. Dengan spritual maturity seperti yang diharapkan Kristus, kita akan berubah dari kanak-anak, yang mudah diombang-ambingkan oleh berbagai tipu-daya dan keadaan, menjadi orang dewasa yang teguh dalam iman dan penuh kebijaksanaan. Mereka yang benar-benar sudah mempunyai hidup baru adalah orang-orang yang tetap setia kepada Tuhan dalam keadaan apapun. Mereka yang memang sudah lahir baru akan membenci dosa dan selalu ingin dan berusaha untuk hidup dalam kebenaran.

Tanggung jawab kita untuk mendidik yang lebih muda

Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu. Amsal 22: 6

Saat ini dunia pendidikan sekolah dasar dan lanjutan di Australia mengalami goncangan. Sebenarnya, keadaan sudah memburuk selama lebih dari 20 tahun. Bukan saja mutu pendidikan merosot, kemampuan belajar para murid pun memburuk. Bukan saja dalam hal belajar ilmu pengetahuan, terapi juga dalam hal belajar berdisiplin dan bersopan-santun. Banyak guru yang memutuskan untuk berganti karir karena tekanan jasmani dan rohani yang tidak tertahankan. Masalah pendidikan ini bertambah serius, karena jumlah orang mau bekerja sebagai guru menjadi berkurang karena gaji yang dirasakan kurang.

Di antara komentar yang muncul, ada beberapa hal yang sangat menarik untuk di simak. Yang pertama adalah kenyataan bahwa sudah lama pendidikan anak di Australia “diperlunak” dengan alasan untuk tidak menyebabkan rasa terpukul terhadap mereka yang kurang berhasil. Guru-guru tidak dapat lagi memakai kata-kata seperti “gagal”, “tidak memenuhi syarat” atau “buruk”. Sebagai akibatnya, banyak orang yang merasa bahwa anak sekolah di zaman ini menjadi kurang serius dalam belajar. Mereka kemudian menyia-nyiakan pelajaran yang diterimanya dengan merasa puas atas hasil “asal lulus” saja.

Kesulitan yang kedua, menurut beberapa tokoh pendidikan adalah berkurangnya peranan orang tua dalam pendidikan anak-anaknya. Banyak orang tua yang karena sibuk dengan pekerjaannya, tidak mempunyai waktu untuk mendidik anak-anak mereka. Mereka menganggap bahwa pendidikan anak adalah tugas guru di sekolah.

Masalah yang ketiga ialah sulitnya mendapatkan guru-guru yang berkualitas tinggi. Adalah kenyataan bahwa di antara mereka yang masuk ke universitas untuk belajar menjadi guru, banyak yang sebenarnya terpaksa karena tidak bisa memasuki jurusan lain. Lebih dari itu, satu dari sepuluh orang yang belajar untuk menjadi guru sains misalnya, sebenarnya tidak memenuhi syarat untuk mengajar bidang itu.

Terlepas dari banyaknya kemungkinan penyebab kemunduran pendidikan anak yang dikemukakan orang, adalah kenyataan bahwa di dunia barat peranan orang tua sudah sangat berkurang. Orang tua di zaman ini, cenderung merasa bahwa kebebasan anak adalah penting agar mereka dapat berdiri sendiri di kemudian hari. Ada juga yang merasa bahwa selama kebutuhan keuangan terpenuhi, hidup anak akan terisi kebahagiaan. Hidup anak mereka adalah tanggung jawab mereka sendiri.

Adalah kenyataan bahwa bentuk dan fungsi keluarga di zaman ini juga sudah berubah sehingga anak-anak mereka tidak lagi merasa perlu untuk belajar dari orangtua. Anak zaman sekarang lebih senang belajar dari teman-teman seumur. Dengan demikian, rasa hormat anak kepada orang tuanya menjadi berkurang dan orang tua mulai kehilangan pengaruh terhadap anak-anaknya.

Berbeda dari apa yang tertulis dalam Amsal di atas, banyak orang tua di zaman ini yang mengabaikan pentingnya kedudukan dan tugas mereka. Mereka kurang menyadari bahwa anak mereka mendengar apa yang diucapkan dan apa yang diperbuat mereka. Mereka kurang berusaha untuk menjadi contoh yang baik bagi generasi muda. Dalam hal ini, orang Kristen pun mudah jatuh dalam perangkap serupa. Lebih dari itu, banyak gereja yang kurang menekankan pentingnya hidup berdisiplin dan menghindari dosa.

Pagi ini, firman Tuhan mengingatkan bahwa peranan orang tua (baik orang yang mempunyai anak atau orang yang sudah dewasa) adalah sangat besar dalam pendidikan kaum muda. Pendidikan bukan saja yang menyangkut pengetahuan, tetapi justru lebih penting dalam hal moral dan etika. Orang tua harus bisa memberikan bimbingan yang baik berdasarkan prinsip kasih sesuai dengan firman Tuhan agar anak-anak mereka bisa memakainya seperti sebuah karangan bunga yang indah bagi kepala mereka, dan seperti kalung bagi leher mereka. Generasi muda akan bisa belajar dari generasi sebelumnya, jika mereka bisa melihat nilai dan manfaat dari apa yang diajarkan dan dipraktikkan dalam hidup sehari-hari.

Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN, semua orang yang melakukannya berakal budi yang baik. Mazmur 111: 10

Jangan mengabaikan adanya dosa dan Roh Kudus

“Dan janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah, yang telah memeteraikan kamu menjelang hari penyelamatan. Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan.” Efesus 4: 30 – 31

Pernahkah anda merasa sedih karena perlakuan orang lain terhadap anda? Saya yakin jawabnya adalah “ya”. Dari kecil kita bisa merasakan kesedihan jika ada hal-hal yang diperbuat orang yang menyinggung, melukai dan membuat kita merasa kurang dihargai atau disayangi.

Dengan bertambahnya umur, mungkin orang lebih tahan sabar dalam menghadapi hal-hal semacam itu; tetapi, jika banyak hal-hal yang melukai hati setiap hari, perlahan-lahan kepribadian orang itu akan berubah. Memang perasaan yang terluka bisa membuat orang menutup diri terhadap mereka yang menyebabkannya.

Ayat di atas menyebutkan bahwa Roh Kudus bisa didukakan oleh perbuatan kita. Ini mungkin agak mengherankan sebagian orang Kristen, karena Roh Kudus sering digambarkan dengan api. Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Tesalonika memang pernah menulis agar mereka tidak memadamkan Roh (1 Tesalonika 5: 19). Jika Roh adalah api, atau “sesuatu”, memang kata “mendukakan” rasanya kurang tepat.

Walaupun demikian, Roh Kudus sebenarnya adalah Tuhan sendiri yang tinggal dalam diri umat percaya. Ia adalah Oknum yang seperti Allah Bapa dan Yesus Kristus, mempunyai kepribadian dan eksistensi Ilahi. Dalam kenyataanNya, Allah Bapa, Allah Putra dan Roh Kudus adalah satu, dan kepadaNya orang Kristen berbakti. Dengan demikian, segala kelakuan, tingkah laku, pikiran dan perbuatan yang salah bisa membuat Roh merasa sedih dan terlukai. Roh Kudus melihat bagaimana kita perlahan-lahan menjauhkan diri dari hidup kudus dan menuruti jalan kita sendiri dan bahkan hidup bergelimang dalam dosa.

Hidup kudus? Apakah orang Kristen adalah orang bisa hidup tanpa berbuat dosa, alias menjadi orang yang suci? Tentu saja tidak. Meskipun dosa kita sudah diampuni Tuhan karena darah Yesus, kita tidak akan bisa menjadi orang yang tidak bisa jatuh dalam dosa. Selama hidup di dunia kita tidak akan bisa menjadi manusia yang sempurna tanpa cacat cela. Walaupun demikian, kita sudah diberi kemampuan untuk tidak berbuat dosa lagi dengan adanya Roh Kudus yang sudah diberikan kepada kita. Kemampuan itu akan ada jika kita tidak mengabaikan adanya berbagai dosa baik besar dan kecil, dan jika kita tidak mendukakan Roh Kudus.

Dalam kitab Perjanjian Lama ada banyak contoh dimana Allah dalam kemarahan-Nya kepada orang Israel, membiarkan mereka mengalami pengalaman pahit. Begitu juga banyak hal yang bisa mendukakan Tuhan yang tinggal dalam hidup kita, sedemikian rupa hingga kita tidak lagi dapat merasakan bimbingan dan pertolongan-Nya. Tidaklah mengherankan, jika orang hidup jauh dari Tuhan, yang mendukakan Roh Kudus, kemudian bisa mengalami hal-hal yang semakin hari semakin parah selama hidup di dunia, sekalipun orang itu yakin bahwa ia adalah orang yang sudah dipilih Tuhan seperti bangsa Israel. Tanpa mau menerima bimbingan Roh Kudus dan berusaha mengindari godaan dosa, hidup manusia adalah bagai layang-layang yang putus talinya.

Bagaimana kita harus bersikap dalam hidup agar Roh tidak didukakan? Paulus menyebutkan dalam ayat di atas agar kita membuang segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian, fitnah, dan segala kejahatan. Jika hal-hal buruk itu diterapkan pada hidup kita di saat ini, itu berarti kita harus mau menghindari semua bentuk dosa dengan mawas diri, dan mau belajar apa yang menjadi kehendak Tuhan yang sudah dinyatakan dalam Alkitab. Pagi ini, firman Tuhan menasihati kita bahwa sebagai orang percaya, kita harus mau hidup menurut firman-Nya. Hidup kudus. Dengan memilih cara hidup yang baik, bimbingan Roh Kudus akan makin nyata dalam hidup kita, sehingga makin hari kita akan makin sempurna seperti apa yang dikehendaki Tuhan.

“Karena itu, saudara-saudaraku, berusahalah sungguh-sungguh, supaya panggilan dan pilihanmu makin teguh. Sebab jikalau kamu melakukannya, kamu tidak akan pernah tersandung.” 2 Petrus 1: 10

Buat apa hidup suci?

“Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.” Matius 7: 21

Satu perbedaan besar antara iman Kristen dan kepercayaan yang lain adalah dalam hal berbuat baik. Dalam kepercayaan lain,  berbuat baik, memberi sedekah dan sesajen mungkin dianggap bisa menyelamatkan manusia dari murka Tuhan di dunia. Agama lain juga ada yang menekankan bahwa berbuat kebaikan, terutama untuk sesama, adalah penting untuk menjamin tempat di surga. Selain itu diajarkan pula bahwa makin banyak amal sedekah kita, makin enak hidup kita di surga.

Jika perbedaan antara iman Kristen dan kepercayaan lain adalah jelas, bagaimana pula perbedaan antar umat Kristen dalam hal berbuat baik dan hidup baik? Sebagian orang Kristen mengajarkan bahwa umat Kristen dapat hidup baik, dan makin lama makin baik, sehingga pada akhrnya kita menjadi orang yang suci. Aliran ini dinamakan aliran kekudusan atau holiness movement. Jika aliran kekudusan sering dianggap kurang benar, ada aliran Kristen yang sangat mementingkan kedaulatan Tuhan dalam hal manusia diselamatkan semata-mata karena karunia Tuhan (by grace only). Karena mereka mementingkan pengertian bahwa sebaik bagaimanapun manusia tidak cukup baik untuk Tuhan, aliran ini cenderung mengabaikan ajaran untuk hidup suci. Mereka seakan percaya bahwa sejahat bagaimanapun manusia bisa masuk ke surga jika memang sudah dipilih Tuhan.

Saat ini makin banyak aliran yang nampaknya tidak lagi mementingkan perlunya hidup baik karena kuatir mengurangi kedaulatan Tuhan dalam penyelamatan. Padahal dalam ayat di atas jelas tertulis bahwa orang Kristen yang benar adalah mereka yang taat kepada kehendak Tuhan yang sudah dinyatakan. Tidaklah mengherankan bahwa teolog Reformed seperti Kevin DeYoung merasa prihatin akan gejala perkembangan golongan yang kurang aktif dalam mengajarkan pentingnya hidup baik. Kevin menulis sebuah buke yang berjudul “The hole in our holiness” yang berarti “lubang yang ada dalam kekudusan kita”. Memang banyak hal yang bisa kita lakukan untuk bisa makin taat kepada kehendak Tuhan, dan para pendeta dan pengajar Kristen harus giat mengajarkan hal-hal yang bisa membuat kekudusan kita menjadi makin utuh.

Agama Kristen memang berbeda dengan agama lain karena iman kepada Tuhan yang mahakuasa dan mahasuci tidak memungkinkan manusia berbuat baik untuk menghindari murka Allah atas dosa manusia. Hanya melalui pengurbanan Yesus kita bisa diselamatkan. Selain itu, karena Allah itu mahabesar dan mahakaya, usaha berbuat baik tidaklah berarti apa-apa untuk-Nya. Jika kita terpilih oleh panggilan kasih-Nya, kita akan bersama Tuhan di surga dan menikmati segala kemuliaan surgawi yang ada di sana. Walaupun demikian, Tuhan sebenarnya menghendaki persembahan hidup kita sebagai rasa syukur atas kasih-Nya dan melambangkan penyerahan hidup kita kepada Tuhan. Tanpa adanya tanda-tanda hidup baru, orang mungkin belum benar-benar mengenal Tuhan.

Jika perbuatan baik manusia kurang dipentingkan dalam pengajaran Kristen, banyak orang Kristen akan menjadi kurang bersemangat untuk berbuat baik. Bagi mereka, asal tidak berbuat jahat sudah cukup. Pokok tidak ikut-ikutan berbuat dosa, cukuplah!  Biarkan orang lain berbuat dosa, kita tidak perlu ikut campur! Jangan ikut-ikutan berusaha menegakkan hukum dan keadilan karena risikonya besar. Banyak di antara mereka justru mengira bahwa orang lain yang berusaha hidup baik dan berbuat baik adalah orang yang ingin menyelamatkan dirinnya melalui perbuatannya. Ini sudah tentu bukanlah sikap yang baik, karena mempersembahkan hidup berarti bukan saja menyangkut segi rohani tetapi juga jasmani kita.

“Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.” Roma 12:1

Dalam sejarah dunia, memang ada orang yang heran dan kagum melihat adanya orang-orang Kristen yang berjuang keras untuk berbuat baik dalam melayani gereja dan masyarakat, menegakkan keadilan sosial dan hukum, memajukan kesehatan dan pendidikan dan sebagainya. Tetapi mungkin ada juga orang yang mencemooh orang Kristen yang demikian dan menuduh mereka itu sekadar mencari keuntungan untuk diri mereka sendiri.

Ayat pembukaan kita di atas jelas mengatakan bahwa bukan setiap orang yang berseru kepada Tuhan akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Tuhan, Dengan demikian, mereka mungkin saja adalah orang-orang yang bukan Kristen sejati. Sudah tentu, setelah Tuhan menggerakkan hati kita untuk menerima anugerah keselamatan, mata kita dicelikkan sehingga kita bisa membedakan apa yang baik dari apa yang jahat. Sebagai orang yang sudah bertobat, kita mungkin sudah berhenti berbuat jahat, tetapi belum sepenuhnya merasa terpanggil untuk berbuat baik. Sebagai pohon, kita belum menghasilkan buah-buah yang baik.

Hari ini kita diingatkan bahwa Tuhan menciptakan seisi dunia ini dengan maksud agar semuanya indah dan baik. Manusia diciptakan-Nya untuk hal-hal yang baik, untuk memuliakan Tuhan; tetapi karena dosa, manusia tidak lagi dapat memenuhi tugas Ilahi itu. Hanya melalui darah Kristus, kita bisa menjadi ciptaan baru. Sebagai ciptaan baru yang bersyukur atas kasih-Nya, panggilan untuk berbuat baik itu diteguhkan kembali. Menjadi ciptaan baru dalam Tuhan bukanlah hal yang remeh. Adalah sebuah ironi jika kita mau mengaku dosa, bertobat dari hidup lama kita dan menerima hidup baru serat rajin mengabarkan karunia keselamatan dari Tuhan, tetapi mengabaikan kehendak Tuhan yang sudah dinyatakan dalam Alkitab untuk berbuat baik. Hidup baik dengan aktif berbuat baik untuk Tuhan dan sesama adalah ciri manusia yang sudah dilahirkan kembali!

“Jikalau suatu pohon kamu katakan baik, maka baik pula buahnya; jikalau suatu pohon kamu katakan tidak baik, maka tidak baik pula buahnya. Sebab dari buahnya pohon itu dikenal.” Matius 12: 33

Menghindari dosa kerakusan

“Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar.” 1 Timotius 6: 6

Bacaan: 1 Timotius 6: 6 – 10

Ayat di atas menyebutkan bahwa hidup orang Kristen yang disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar. Mengapa begitu? Banyak orang yang berpendapat bahwa hidup bahagia bisa tercapai jika orang bisa mencapai apa yang diinginkan. Di zaman ini sering diajarkan bahwa melalui Tuhan berbagai berkat akan datang melimpah kepada mereka yang mau meminta. Tetapi, ayat di atas menyatakan bahwa kebahagiaan justru bisa tercapai dengan mengurangi apa yang diinginkan dari Tuhan.

Dalam ayat di atas kata “ibadah” dipakai, tetapi dalam Alkitab berbahasa Inggris kata “godliness” lah yang sering dipakai. Kata ini diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia sebagai “kesalehan”, yaitu hidup yang sesuai dengan perintah Tuhan. Apa sebenarnya arti kata “ibadah”? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia , ibadah adalah perbuatan untuk menyatakan bakti kepada Allah, yang didasari ketaatan untuk mengerjakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Hal ini, jika disertai rasa cukup, akan membawa kebahagiaan dalam hidup kita.

Hidup dengan rasa cukup dikatakan akan memberi keuntungan besar. Tetapi bagaimana mengartikan rasa cukup? Setiap orang tentunya menafsirkan ini menurut ukurannya sendiri. Bagi sebagian orang, rasa cukup sulit dicapai karena adanya keinginan dan kebutuhan yang semakin lama semakin besar. Dengan demikian, rasa bahagia dan rasa puas tentu saja sulit untuk dicapai. Karena itu Paulus dalam suratnya kepada Timotius menulis bahwa jika orang ingin untuk berbahagia, ia justru harus bisa merasa puas dengan apa yang sudah ada.

Paulus melanjutkan dengan menulis bahwa manusia tidak membawa sesuatu apa ke dalam dunia dan mereka tidak dapat membawa apa-apa ke luar. Karena itu, asal ada makanan dan pakaian, cukuplah. Dengan adanya rasa cukup, rasa sukacita akan tumbuh; tetapi tanpa adanya rasa cukup orang akan selalu merasa kurang puas dan kecewa. Tidaklah mengherankan bahwa mereka yang rakus sering terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan derita!

Kerakusan yang disebut sebagai salah satu dari tujuh dosa yang mematikan (Seven Deadly Sins) ialah dosa pokok yang dapat menyebabkan terjadinya dosa-dosa lainnya seperti pencurian, korupsi, penipuan, penyalahgunaan kekuasaan, tetapi juga sifat kikir dan tidak mau berbagi. Bahasa Latin menyebut jenis dosa ini sebagai avaritio, berakar pada kata avarus, dengan avere sebagai kata kerja, yang artinya ‘memiliki hasrat internal yang sangat kuat’ (to crave) setelah terpapar pada sesuatu. Di sini kita sekarang mengerti mengapa jenis dosa ini berhubungan dengan indera penglihatan (mata). Artinya, setelah melihat suatu kekayaan/kemewahan di tempat lain, seseorang memiliki hasrat yang sangat kuat dalam dirinya untuk mendapatkan kemewahan tersebut. Umumnya kata ini digunakan untuk mendeskripsikan sifat manusia yang tidak pernah merasa puas dalam mengejar,menumpuk, dan memamerkan kekayaan material. Ini memang sekarang sudah berkembang pesat sehingga julukan “crazy rich people” atau “orang super kaya” sudah menjadi kebanggaan atau status yang hebat.

Tidak mudah menjelaskan sifat rakus sebagai dosa. Ada berbagai pertanyaan mendasar yang harus dijawab, misalnya, apa ukurannya seseorang yang memiliki kekayaan material dianggap rakus atau tidak rakus? Jika ukurannya bersifat subjektif, bukankah sifat rakus tidak bisa disematkan pada perilaku orang tertentu? Memiliki harta atau barang-barang yang terlihat indah memang bukanlah hal yang salah. Benda-benda material yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan manusia bukanlah sesuatu yang jahat atau buruk pada dirinya. Benda-benda tersebut bernilai instrumental, dan nilai itu diberikan manusia. Kita pantas memiliki benda-benda tertentu karena bermanfaat untuk memenuhi kebutuhan primer, seperti makanan, pakaian, perumahan. Selain itu kebutuhan manusia lainya bisa menyangkut berbagai hal, seperti seni, hiburan, olahraga dan sebagainya.

Salahkah kalau kita menjadi orang yang kaya? Tetntu saja tidak, selama kekayaan itu diperoleh dengan cara yang halal. Walaupun demikian, kekayaan yang diperoleh untuk kepentingan diri sendiri bukanlah apa yang dikehendaki Tuhan. Demikian juga jika keinginan dan kebutuhan sudah menjadi kerakusan, itu justru akan menjadi ilah yang menjauhkan kita dari Tuhan. Kehendak Tuhan yang sudah dinyatakan dalam Alkitab mengajarkan kita untuk bersikap ‘murah hati’ dengan sesama kita. Sikap murah hati inilah keutamaan yang bisa menangkal kerakusan. Mereka yang berhasil, tidak hanya mampu menyeimbangkan upaya meningkatkan dan mempertahankan kekayaan material, tetapi juga harus punya kesadaran tentang pentingnya sikap ‘ketidaklekatan’ atau sikap lepas-bebas dalam diri, bahwa meskipun kaya raya, dia tidak menaruh hati dan kelekatannya pada harta kekayaan tersebut. Mereka mau untuk membagikan kekayaan mereka kepada orang lain untuk memuliakan nama Tuhan.

Pagi ini, firman Tuhan mengingatkan bahwa sekalipun hal mencapai kesuksesan matetial bukanlah sebuah perkara hitam-putih, tetapi kita harus mampu memeriksa batin kita secara saksama dan jujur. Pada akhirnya, baik yang kaya maupun yang kurang mampu, kita dituntut untuk mampu membedakan manakah yang utama/pokok dan manakah yang kurang penting dalam hidup ini. Kita diajak untuk tidak melekatkan hati pada kekayaan material, dan bersikap murah hati pada sesama. Semua itu akan membawa keuntungan dan kebahagiaan dalam hidup kita di dunia.