Maya atau nyata?

“Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita.” 1 Yohanes 1: 8

Mungkin sejak adanya Facebook, orang mulai mengerti bagaimana hidup dalam dunia maya. Perkembangan media elektronik memungkinkan orang di seluruh dunia untuk berkomunikasi, berteman dan bahkan jatuh cinta melalui internet. Kemajuan dalam teknologi ponsel juga membuat media lainnya seperti Youtube, Instagram dan TikTok bisa melaporkan “pandangan mata” dari mana saja.

Menampilkan foto selfie dan menyebarkannya ke seluruh dunia bisa membuat orang menjadi kaya karena kepopulerannya yang membawa penghasilan dari penampilan medianya. Walaupun demikian, sebagian orang tahu bahwa apa yang muncul di dunia maya sebagai hal yang memikat, tidaklah seindah yang sebenarnya. Banyak isi media itu adalah palsu, dan itu termasuk pribadi dan kehidupan orang yang muncul di sana.

Tanpa adanya media elektronik, hidup manusia sebenarnya sudah mirip dengan hidup di dunia maya. Apa yang terlihat bukanlah seperti yang sebenarnya. Orang yang nampaknya baik dari penampilannya, belum tentu demikian dalam hidupnya. Dan itu termasuk kita. Semua orang di dunia bukanlah orang baik di mata Tuhan yang tahu apa yang ada dalam hati dan pikiran kita.

Siapakah manusia yang tidak berdosa? Agaknya semua orang, dari segala bangsa dan segala agama, akan mengaku sebagai orang yang berdosa jika ditanya.  Semua orang, bagaimanapun baiknya umumnya mengaku bahwa mereka adalah orang-orang yang tidak sempurna. Walaupun demikian, jika ditanya apa yang sudah mereka lakukan untuk dosa-dosa mereka, mungkin tidak banyak yang bisa mereka katakan. Mungkin saja ada yang sudah bertobat dari dosa tertentu, tetapi tentunya banyak dosa-dosa lain yang tersisa.  Mungkin jika dosa-dosa itu tidak terasa sebagai dosa besar, mereka dengan mudah melupakannya atau mungkin saja tidak menyadarinya. Hidup manusia adalah seperti foto selfie saja. Semua terlihat baik dan indah.

Sebagian yang dianggap dosa, mungkin bertalian dengan etika kehidupan. Memang etika bisa menjadi pedoman praktis tentang apa yang baik dan yang buruk dalam hidup sehari-hari. Tetapi, setiap manusia, keluarga, suku atau bangsa tentunya mempunyai etika yang berbeda-beda. Apa yang bisa diterima oleh orang yang satu, belum tentu bisa diterima oleh orang yang lain.Tidaklah mengherankan jika kita melihat bahwa ada orang -orang yang dengan enaknya melakukan sesuatu yang dianggap tabu oleh orang lain. Apalagi mereka yang berkuasa dan ternama biasanya tidak lagi mempunyai rasa segan atau malu untuk melakukan hal yang salah.

Bagi orang Kristen pun ada berbagai faktor yang bisa menyebabkan perbedaan pendapat tentang apa yang baik dan apa yang buruk, antara lain pendidikan, kebiasaan, tekanan ekonomi, situasi politik dan sebagainya. Semua itu bisa membuat orang tidak peduli atau kurang peka dengan dosa-dosa yang ada pada dirinya, atau yang ada dalam masyarakat. Apa yang kelihatan sebagai dosa kemudian diterima sebagai sesuatu yang tidak bisa dihindari, dan bahkan mungkin sebagai kehendak Tuhan. Mereka mungkin berpendapat bahwa dosa bukanlah hal yang harus dipikirkan jika mereka sudah dipilih oleh Tuhan untuk diselamatkan. Mereka lupa bahwa jika firman Tuhan bisa ditafsirkan seenaknya atau ada yang bisa diabaikan, hidup manusia akan perlahan-lahan jatuh ke dalam kehancuran.

Sebagai orang yang sudah diselamatkan, kita percaya bahwa Roh Kudus diam dalam hidup kita. Roh Kudus yang pada mulanya membuat kita sadar bahwa kita perlu menerima Yesus Kristus agar kita bisa diselamatkan, adalah Roh yang tinggal dalam hati kita dan membimbing kita agar hidup kita makin lama makin baik. Tetapi, jika kita kerap kali mengabaikan suara Roh Kudus dan lebih sering mengikuti kehendak kita sendiri, lambat laun kita akan makin sulit untuk mendengarkan suara-Nya karena kita sudah mendukakan Roh itu (Efesus 4: 30). Secara perlahan-lahan kita menjadi orang yang tidak peduli akan dosa kita dan dosa orang-orang di sekitar kita. Kita tidak juga peduli dengan keadaan bangsa, negara dan dunia.

Ketidakpedulian akan keadaan diri kita dan diri orang lain yang melakukan berbagai dosa, adalah sama dengan tidak mengakui dosa kita. Kita mungkin tidak lagi merasa perlu untuk berdoa memohon pengampunan dan meminta kekuatan untuk menghilangkan dosa-dosa itu dari diri kita, dari keluarga dan dari bangsa kita, karena hal-hal itu sudah kita terima sebagai kenyataan yang tidak bisa kita hindari. Mungkin saja kita berusaha melupakan hal-hal itu karena adanya keraguan bahwa Tuhan akan bertindak, dan mungkin juga karena adanya kekuatiran bahwa orang lain akan tersinggung atau marah. Dengan demikian kita berbuat dosa dengan mengabaikan kuasa Tuhan dan kebenaran hukum dan firman-Nya.

Pagi ini, adakah kesadaran yang muncul dalam hati kita bahwa ada banyak dosa yang terjadi dalam hidup kita, dalam keluarga, pekerjaan, sekolah, masyarakat dan negara kita? Apakah kita masih bisa merasakan teguran Roh Kudus yang menyatakan kepada kita bahwa ada hal-hal yang tidak sepantasnya dilakukan oleh umat-Nya? Apakah kita masih bisa mendengar bahwa kita juga terpanggil untuk memerangi dosa yang ada dalam masyarakat di sekitar kita? Adakah rasa sesal dalam hati kita bahwa selama ini kita tidak mempunyai keberanian untuk menyatakan firman Tuhan dalam masyarakat? Biarlah  pengakuan dosa atas ketidakpedulian kita selama ini boleh membawa perubahan sikap hidup kita pada hari-hari mendatang.

“Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” 1 Yohanes 1: 9

Dosa yang membawa kebinasaan

“Tetapi apabila seorang menghujat Roh Kudus, ia tidak mendapat ampun selama-lamanya, melainkan bersalah karena berbuat dosa kekal.” Markus 3: 29

Ingatkah anda akan lagu “Tiada maaf bagimu”? Lagu yang dinyanyikan oleh Broery Marantika ini sangat terkenal dan juga pernah dinyanyikan oleh penyanyi-penyanyi lain, diantaranya Tetty Kadi. Lagu dengan judul yang sama tapi berbeda lirik, belakangan juga muncul dan mencapai ketenaran melalui beberapa penyanyi lain. Agaknya bagi manusia, tidak adanya maaf untuk orang yang sudah menyakiti hati mereka adalah hal yang biasa. Bagaimana dengan Tuhan? Adakah dosa tertentu yang membuat Dia tidak dapat mengampuni umat manusia sesudah banjir di zaman nabi Nuh??

Kita mungkin pernah mendengar tentang tujuh dosa utama (seven capital sins) atau tujuh dosa mematikan (seven deadly sins) yang pernah disebut dalam tradisi gereja di abad mula-mula. Sekalipun kita tahu bahwa di hadapan Tuhan semua dosa adalah dosa yang bisa membawa kematian, angka tujuh menempati posisi yang unik dalam kehidupan umat Kristen. Ketujuh dosa utama tersebut adalah:

Kesombongan (Pride, Superbia)
Iri hati (Envy, Invidia)
Kemarahan (Anger, Ira)
Ketamakan (Greed, Avaritia)
Nafsu-birahi (Lust, Luxuria)
Rakus (Gluttony, Gula)
Kemalasan (Sloth, Acedia)

Sebagian orang mungkin juga berpikir bahwa membuat kategori “tujuh dosa” adalah sia-sia, karena di mata Tuhan tidak ada dosa kecil atau dosa besar. Ini benar. Namun, dalam tradisi Kristen yang panjang ketujuh dosa utama ini terus didengungkan karena sikap realistis bahwa ketujuh dosa ini memang “utama,” dalam arti ia melahirkan banyak dosa-dosa lainnya. Karena itu mereka disebut dosa utama (capital, caput, kepala).

Ketujuh dosa tersebut bersifat generatif, melahirkan dosa lainnya. Membunuh istri tentu saja dosa yang berat, demikian pula di mata hukum, namun bagaimana dengan keserakahan (greed), satu dari tujuh dosa utama, yang melandasi tindakan membunuh tersebut, keserakahan karena mengingini uang asuransi kematian sang istri? Apakah memang pemerkosaan yang dilakukan seorang pria dewasa tidak berkorelasi dengan nafsu berahi orang itu saat ia masih remaja dan asyik-masyuk dengan gambar-gambar di majalah porno? Apakah kita mampu memahami pembasmian orang-orang Yahudi oleh Nazi tanpa mengaitkannya dengan kesombongan (pride) ras Aria?

Pada pihak yang lain, ada orang yang berpendapat bahwa tidak ada dosa yang bisa membawa kebinasaan kepada orang percaya. Orang yang sudah diselamatkan sudah dibasuh dengan darah Kristus dan karena itu tidak ada dosa yang bisa membatalkan penyelamatan itu. Sudah tentu pandangan ini ada benarnya, yaitu jika orang berdosa sudah menerima hidup baru dari Tuhan dan berubah dari hidup lamanya, ia adalah orang yang benar-benar dipilih oleh Tuhan. Pada pihak yang lain, ini bukan berarti bahwa setiap orang yang rajin ke gereja, tetapi tetap bergelimang dalam dosa adalah orang yang sudah diselamatkan.

Apakah Tuhan selalu mau mengampuni dosa manusia sekalipun dulunya mereka adalah penghujat Allah Bapa dan Yesus Kristus? Tentu! Jika mereka dengan pengarahan Roh Kudus mau mengaku dosa dan bertobat, mereka akan diampuni dan menerima keselamatan. Banyak orang yang dulunya penghujat Kristus, seperti halnya rasul Paulus, bisa diterima sebagai anak-anak Allah dan menjadi pengikut Kristus.

Jika setiap orang yang benar-benar bertobat akan diampuni Tuhan, ayat pembukaan di atas bunyinya terasa janggal. Kalau dibaca secara literal, seolah ayat itu mengatakan bahwa hanya satu dosa yang tidak bisa diampuni sekarang dan selamanya, yaitu dosa kepada Roh Kudus! Bagaimana bisa? Apakah Roh Kudus lebih tinggi dari Allah Bapa dan Yesus Kristus? Bukankah Tuhan itu satu adanya, sekalipun mempunyai tiga persona?

Mereka yang menghujat Roh Kudus adalah orang-orang yang dengan sengaja menolak bekerjanya Roh dalam hidup mereka. Jika Roh Kudus mengingatkan mereka untuk bertobat dari dosa dan memohon pengampunan, mereka menolak-Nya dengan keyakinan bahwa tidak ada yang salah dalam hidup mereka. Mereka percaya bahwa mereka adalah orang-orang yang hidupnya terlihat baik dan terhormat dalam masyarakat. Mungkin juga mereka adalah orang-orang yang merasa yakin sudah dipilih oleh Tuhan dari awalnya. Mereka menolak kenyataan bahwa Yesus adalah Anak Allah yang datang ke dunia untuk menyelamatkan orang yang mau bertobat.

Mereka yang menghujat Roh Kudus itu tidak akan dapat menyadari dosa mereka, dan karena itu tidak mau untuk memohon ampun kepada Tuhan dan mengakui Yesus sebagai Juruselamat mereka. Dengan demikian, orang yang menolak Roh Kudus akan menjadi orang-orang yang tidak dapat diampuni untuk selamanya.

Memang, jika kita benar-benar percaya kepada Allah dan Putra-Nya yang tunggal, Yesus Kristus, keselamatan sudah diberikan kepada kita. Itu adalah hasil pekerjaan Roh Kudus. Roh Kudus tidak akan meninggalkan kita dan Ia akan bekerja secara luar biasa dalam hidup kita. Pada pihak yang lain, mereka yang belum benar-benar percaya cenderung mengabaikan suara Roh Kudus, dan akan kehilangan kesempatan untuk menerima keselamatan. Tanpa Roh Kudus orang tidak akan bisa menjadi pengikut Kristus dan memperoleh mahkota kehidupan dari Allah seperti yang sudah diterima Yesus.

Biarlah Roh Kudus bisa bekerja makin hebat dalam diri kita, agar melalui hidup kita, mereka yang belum percaya mau mendengarkan suara Roh Kudus yang membawa mereka ke arah pertobatan dan keselamatan.

“Dan jika Roh Dia, yang telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati, diam di dalam kamu, maka Ia, yang telah membangkitkan Kristus Yesus dari antara orang mati, akan menghidupkan juga tubuhmu yang fana itu oleh Roh-Nya, yang diam di dalam kamu.” Roma 8: 11

Tuhan menghargai jerih payah kita

“Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.” Matius 25: 21

Ayat di atas muncul di saat Yesus menyampaikan perumpamaan tentang talenta (Matius 25: 14-30). Jika perumpamaan ini adalah sebua perumpamaan yang sering disampaikan dalam bentuk renungan atau khotbah, ayat di atas mungkin jarang dibahas secara mendalam. Kebanyakan pembahasan mengenai talenta adalah dikaitkan dengan tanggung jawab umat Tuhan dalam menggunakan berbagai berkat Tuhan untuk kemuliaan-Nya. Tetapi, ayat di atas jelas menunjukkan bahwa Tuhan menghargai perbuatan baik (good works) dari manusia, dan kita boleh berharap akan, dan bahkan menginginkan, pujian dari Tuhan atas hidup baik kita di duna.

Perbuatan baik tidaklah membawa keselamatan bagi manusia, tetapi perbuatan baik adalah respon kita atas keselamatan yang sudah diberikan Tuhan. Dengan demikian, mereka yang sudah diselamatkan tentunya akan menanggapi panggilan Tuhan untuk berbuat baik, karena itu adalah bagian dari proses penyucian umat percaya selama hidup di dunia. Mereka yang sudah benar-benar diselamatkan akan berusaha hidup baik dan berbuat baik dengan pertolongan dan bimbingan Tuhan, karena adalah baik jika kita menghadap Tuhan dan mendapat pujian dari-Nya daripada mendapat celaan.

Pemikiran tentang mendapatkan pujian dari Tuhan pada saat umat-Nya menghadap Dia, mungkin sering dikhotbahkan dalam gereja-gereja tertentu, tetapi jarang dan bahkan diabaikan pada gereja-gereja lain. Mengapa begitu? Pemikiran bahwa Tuhan sudah memilih umat-Nya untuk diselamatkan, dan sudah menentukan segala sesuatu dalam hidup mereka, membuat orang agak apatis untuk berbuat baik. Apalagi, seringkali perbuatan baik sering diberi konotasi yang kurang baik, karena adanya anggapan bahwa orang yang melakukannya adalah orang yang ingin diselamatkan melalui usaha sendiri.

Alkitab menggambarkan hubungan orang Kristen dengan Tuhan adalah seperti hubungan antara suami dan istri. Karena orang Kristen adalah seperti mempelai yang dikasihi oleh Yesus Kristus. Yesus yang sudah berjanji untuk menyertai kita untuk selamanya, mengharapkan agar kita juga setia kepada-Nya dalam setiap keadaan. Mau memuliakan Tuhan dengan hidup kita, dan tidak pernah menyia-nyiakan berkat-berkat yang sudah dikaruniakan-Nya dalam hidup kita.

Keinginan untuk menggunakan berkat Tuhan untuk kemuliaan-Nya sering kali padam ketika orang kurang bisa merasakan kasih-Nya dan berkat-Nya dalam hidup. Banyak orang Kristen yang mengharapkan hidup yang penuh kemakmuran dan kesuksesan jika mereka mengikut Yesus, kemudian goncang imannya ketika hidup berubah menjadi buruk, dan jika apa yang diberikan Tuhan dalam hidup mereka terasa kecil. Tuhan terasa tidak adil, dan karena itu keiniginan untuk memakai talenta guna memuliakan Tuhan menjadi berkurang (Matius 25: 24-25).

Bagaimana kita bisa berbuat baik dalam setiap keadaan? Rasul Paulus adalah contoh orang yang merasakan banyaknya asam-garam kehidupan. Ia pernah menjadi tokoh agama, orang kaya, pandai dan ternama, orang yang kejam terhadap pengikut Kristus. Tetapi, sesudah ia bertobat, Paulus berubah menjadi rasul yang bijaksana, penuh kasih, dan benar-benar taat kepada Kristus dalam setiap keadaan, dalam keadaan sehat ataupun sakit, dalam kelimpahan atau kekurangan; dan bahkan ketika hidupnya dalam bahaya, ia tetap bekerja untuk kemuliaan Tuhan. Ia setia sampai mati.

Paulus juga menggambarkan kesetiaan orang Kristen kepada Tuhan sebagai seorang prajurit yang tidak memusingkan persoalan hidupnya, sebagai seorang olahragawan yang mau mengikuti peraturan-peraturan olahraganya, dan sebagai seorang petani yang harus bekerja keras untuk menikmati hasil usahanya. Dengan demikian, memikirkan kepentingan Tuhan, menjalani hidup baik sesuai dengan firman-Nya, dan bekerja untuk kemuliaan-Nya adalah tugas kita.

Hidup sebagai pengikut Kristus memang tidak mudah. Tetapi, kenyataan bahwa Ia sudah mati berkurban untuk kita seharusnya membawa kesadaran bahwa kita yang sudah dipilih-Nya, adalah makhluk yang sangat berharga. Kesadaran inilah yang harus mebuat kita untuk setia dalam iman, dan mau bekerja untuk Tuhan dalam keadaan apa pun sehingga kita bisa menjadi contoh tentang kesetiaan yang sejati bagi orang lain.

“Karena itu aku sabar menanggung semuanya itu bagi orang-orang pilihan Allah, supaya mereka juga mendapat keselamatan dalam Kristus Yesus dengan kemuliaan yang kekal.” 2 Timotius 2: 10

Hari ini, pertanyaannya apakah kita mempunyai kesetiaan seperti hamba yang baik. Ataukah kita tidak perlu memikirkan apa yang kita lakukan dalam hidup kita karena keselamatan kita sudah terjamin?

”Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar.” Lukas 16: 10

Dosa adalah memusuhi Allah

“Sebab keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah, karena ia tidak takluk kepada hukum Allah; hal ini memang tidak mungkin baginya.” Roma 8: 7

Ketika Paulus berkata dalam ayat di atas bahwa “keinginan daging adalah permusuhan dengan Allah”, dia memberi arti yang paling penting untuk dosa. Dosa adalah kontradiksi dengan Tuhan, kontradiksi dengan kemuliaan Tuhan yang mahabesar. Tidak ada yang lebih dekat dengan kemuliaan Tuhan selain kebenaran-Nya; karena Dia adalah kebenaran. Iblis, si penggoda, tentu sangat menyadari hal ini, dan karena itu strateginya sampai sekarang adalah memutar-balikkan kebenaran Tuhan. Kepada Hawa dia berkata: “Sekali-kali kamu tidak akan mati” (Kejadian 3: 4). Ini adalah penolakan terang-terangan atas kebenaran Tuhan. Ketika Hawa dengan kehendaknya sendiri menerima kontradiksi ini, hubungannya dengan Tuhan menjadi berantakan dan karena dosanya ia terbelenggu oleh iblis. Kemarahan Tuhan terhadap iblis adalah karena apa yang diperbuatnya dulu, yang membawa kejatuhannya, adalah sama dengan apa yang ia gunakan untuk merayu Hawa.

“Iblislah yang menjadi bapamu dan kamu ingin melakukan keinginan-keinginan bapamu. Ia adalah pembunuh manusia sejak semula dan tidak hidup dalam kebenaran, sebab di dalam dia tidak ada kebenaran. Apabila ia berkata dusta, ia berkata atas kehendaknya sendiri, sebab ia adalah pendusta dan bapa segala dusta”`(Yohanes 8:44).

Jelas bahwa dosa adalah penolakan manusia terhadap kehendak Tuhan. Kejatuhan manusia ke dalam dosa bukanlah kehendak Tuhan, karena Ia memberi Adam dan Hawa sebuah larangan yang mudah dimengerti. Jika kehendak Tuhan tidak bisa ditolak manusia, tentu tidak akan ada dosa. Firman Tuhan sudah diungkapkan dalam Injil dan karena itu semua kontradiksi atas Injil adalah penolakan manusia yang sudah diketahui Allah sejak mulanya.

Di dalam Injil kita melihat bentuk kasih karunia Allah yang sudah dirancang sebelum kejatuhan, dan Kristus adalah perwujudan dari kasih karunia itu. Oleh karena itu, ketidakpercayaan kepada Kristus adalah penolakan atas kasih karunia Tuhan yang akan membawa maut (Roma 6: 23). Jadi, untuk mengatakan bahwa semua kasih karunia Tuhan tidak dapat ditolak berarti menyangkal fakta-fakta kehidupan manusia berdosa seperti apa yang dicantumkan dalam Alkitab.

Jika manusia dikatakan tidak dapat menolak karunia Tuhan, dan tetap ada banyak orang yang jelas-jelas memilih cara hidup yang keliru, mungkinkah itu karena Tuhan sengaja membuat mereka menolak karunia-Nya? Mungkinkah Tuhan sudah dari awalnya menetapkan mereka untuk ke neraka? Dalam hal ini, berbagai aliran teologi dan gereja mempunyai jawaban yang berlainan. Persoalannya, selama hidup di dunia kita tidak dapat mengetahui jalan pikiran Tuhan (Yesaya 55: 8 – 9) dan Tuhan tidak pernah mengatakan secara pribadi bahwa hidup kita adalah cukup baik bagi-Nya. Sebaliknya, Tuhan sudah berkata bahwa semua orang sudah berdosa dan kehilangan kemuliaan Allah (Roma 3: 23). Semua orang jelas memenuhi syarat untuk masuk ke neraka!

Alkitab berkata bahwa untuk diselamatkan, kita cukup dengan modal percaya.  Iman kepada Kristus ini adalah pemberian Tuhan kepada semua orang yang dipanggil-Nya. Mereka yang mau menyambut dengan baik pemberian iman yang menyelamatkan itu akan terlihat dari hidup mereka yang diperbarui. Iman yang benar akan terlihat dari perbuatan mereka dalam hidup  sehari-hari, karena iman tanpa perbuatan adalah mati (Yakobus 2: 26). Sebaliknya, mereka yang masih belum berubah dari hidup lama adalah orang-orang yang mungkin saja belum mengakui bahwa Yesus adalah Tuhan.

Roma 10: 9 mengatakan jika kita mengaku dengan mulut kita, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hati kita, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kita akan diselamatkan. Dengan kata lain, jika kita percaya kepada Yesus dengan sepenuhnya, yaitu baik luar dan dalam, maka kita tidak perlu meragukan keselamatan kita. Luar dan dalam? Ya, memang dari luar orang mungkin terlihat seperti orang beriman, tetapi apa yang ada dalam hatinya tidak ada seorang pun  yang tahu. Sebaliknya, ada orang yang merasa bahwa Yesus ada dalam hatinya, tetapi segala perbuatan dan perkataannya tidak mencerminkan hal itu.

Jika dosa adalah berasal dari manusia sendiri, bukankah itu yang menyebabkan manusia menolak karunia keselamatan Allah? Jawaban untuk pertanyaan ini adalah YA. Jika ada gagasan bahwa seseorang tidak mungkin menolak kasih karunia Tuhan, sejarah umat manusia adalah penuh dengan perlawanan yang tiada hentinya terhadap anugrah Tuhan. Memang kita mampu menolak kasih karunia Tuhan, dan dalam hidup lama kita, kita benar-benar sudah pernah menolak kasih karunia Tuhan. Tetapi, meskipun kita secara alami bisa menolak anugerah Tuhan, kasih dan kuasa Tuhan begitu kuat sehingga dapat mengatasi penolakan alami kita terhadap-Nya, jika Ia menghendaki-Nya.

Mereka yang benar-benar sudah menerima Kristus dan menerima Dia sebagai penguasa seluruh hidup mereka, luar dan dalam, sudah pasti akan masuk ke surga. Kata “benar-benar” disini harus digaris bawahi karena ini berarti tidak ada maksud untuk mengecoh atau membohongi Tuhan. Mereka yang dengan sengaja secara terus menerus membohongi Tuhan dengan mengabaikan Dia dan menolak untuk menaati perintah-Nya, adalah orang-orang yang belum benar-benar menerima Kristus. Mereka itu adalah orang yang sudah melakukan dosa yang membawa kebinasaan (1 Yohanes 5: 16-17).

Pada pihak yang lain, mungkin di antara kita masih ada yang bergumul untuk memutuskan, apakah mau memilih panggilan Kristus atau mengikuti kenikmatan duniawi. Mungkin juga kita mengenal orang-orang yang dengan sengaja menolak panggilan Kristus untuk menerima karunia keselamatan. Di sini peranan pemuridan dan doa orang Kristen adalah sangat penting (Matius 28: 19-20). Tuhan bekerja menurut rencana-Nya, dan kita tidak mengerti atau tahu apa yang akan dilakukan-Nya kepada orang-orang yang belum benar-benar percaya kepada-Nya. Dalam hal ini, doa dan usaha mengabarkan Injil kita adalah pernyataan kepada mereka yang belum tunduk kepada Tuhan bahwa Tuhan pada hakikatnya mengasihi seisi dunia dan ingin agar mereka bisa diselamatkan pada saat yang ditetapkan-Nya.

Pagi ini, kita mungkin merasa yakin bahwa Tuhan sudah menyelamatkan kita. Itu baik adanya. Karena Tuhan sudah memberi kesadaran kepada kita bahwa apa pun tidak akan menyelamatkan kita dari dosa, kecuali melalui darah Yesus Kristus. Hidup kita sudah diubah-Nya setelah kita percaya; kita tahu apa yang baik dan apa yang jahat di mata Tuhan. Lebih dari itu, kita sudah berusaha untuk memuliakan nama-Nya melalui mulut dan di hati kita, luar dan dalam. Jika demikian, kita tidak perlu meragukan janji keselamatan-Nya.

Tanggung jawab pribadi

“Demikianlah setiap orang di antara kita akan memberi pertanggungan jawab tentang dirinya sendiri kepada Allah.” Roma 14: 12

Apa yang sudah aku capai dalam hidupku? Apakah aku sudah memperoleh apa yang aku inginkan? Mungkin begitu pertanyaan seseorang kepada diri sendiri, jika ia mau meneliti hidupnya. Tetapi ada banyak orang yang memilih untuk tidak memikirkan hal-hal itu, terutama jika apa yang diharapkan tidak tercapai. Apalagi mereka yang sering mengalami badai kehidupan, mereka mungkin hanya ingin melupakan semua itu. Selain itu, ada orang yang kurang berminat untuk menganalisa hidupnya karena keyakinan bahwa semua itu sudah ditentukan Tuhan dari awalnya.

Bagi mereka yang beriman, sebenarnya hal di atas memang kurang penting. Bagi mereka, mencapai kesuksesan hidup duniawi bukanlah sesuatu yang didambakan. Sebaliknya, orang Kristen lebih mementingkan ketaatan kepada Kristus. Oleh sebab itu, jika ada kesempatan bagi orang percaya untuk meneliti apa yang sudah dilakukan selama hidup di dunia, itu sehubungan dengan apa yang diperintahkan Tuhan. Apakah kita sudah hidup, bertumbuh dan berbuah sesuai dengan apa yang dikehendaki-Nya?

Ada banyak orang Kristen yang tidak pernah bertumbuh secara rohani. Tahun demi tahun lewat, tetapi mereka tetap hidup seperti orang yang belum dewasa secara iman. Mereka mengaku Kristen karena ke gereja atau sesekali membaca Alkitab, tetapi tidak hidup menurut firman-Nya. Baik dalam kelakuan, perkataan, pikiran , dan perbuatan, mereka hampir tidak dapat dibedakan dengan mereka yang tidak mengenal Kristus.

Ada banyak orang Kristen yang masih mementingkan kesuksesan duniawi dan kecewa atau kuatir jika hidup tidak berjalan seperti yang dikehendaki. Ada juga yang selalu mengejar keuntungan dan kenikmatan dengan menghalalkan segala cara. Dan bahkan ada juga orang yang menggunakan firman Tuhan untuk mencari keuntungan pribadi. Semua itu menunjukkan hidup yang belum sepenuhnya dipakai untuk memuliakan Tuhan.

Dalam perumpamaan tentang talenta (Matius 25: 14 – 30), tiga hamba yang sudah diberikan modal bekerja yang berlainan oleh tuan mereka, pada akhirnya harus menunjukkan laba yang sudah mereka peroleh. Kita bisa membaca bahwa mereka yang dibekali dengan lima dan dua talenta, kemudian mendapatkan penghargaan yang sesuai dengan hasil yang mereka peroleh.

“Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia, engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam perkara yang kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.” Matius 25: 23

Hamba yang ketiga hanyalah menerima satu talenta. Ia merasa kecewa dan tidak yakin akan kegunaannya. Karena itu ia tidak mengolah talenta yang sudah dipercayakan kepadanya dan hanya menyimpannya di dalam tanah. Bagi hamba ini, bukannya upah yang diterimanya, tetapi hukuman atas kemalasannya.

Sangat menarik perhatian, bahwa dalam perumpamaan itu ketiga hamba itu hanya diperintahkan untuk mengolah harta majikannya. Mereka dipercayai untuk memegang sejumlah uang sesuai dengan kesanggupan mereka untuk mengolahnya. Sebagai hamba mereka tidak dijanjikan hadiah jika mereka mencapai hasil tertentu. Tetapi, tentunya setiap hamba tahu bahwa mereka harus berusaha sebaik mungkin untuk menghasilkan apa yang terbaik untuk sang majikan. Dengan demikian, sekalipun kita tahu bahwa Tuhan menghargai kesetiaan kita, “upah” dari Tuhan tidak seharusnya menjadi motivasi kita untuk bekerja bagi Tuhan karena segala sesuatu berasal dari Tuhan.

“Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” Kolose 3: 23

Sebagai orang percaya, kita tahu bahwa Tuhanlah yang sudah memberikan kita talenta, kemampuan untuk bekerja baik dalam bidang jasmani maupun rohani. Sebagai hamba Tuhan, kita hanya menjalankan perintah-Nya untuk mengembangkan apa yang sudah dititipkan-Nya kepada kita. Banyak orang yang merasa bahwa keberhasilan hanya terlihat dari benda-benda yang dapat diperolehnya. Mereka tahu bagaimana bisa mengkalim hadiah dari jerih payahnya, yaitu segala sesuatu yang bersifat jasmani dan materi. Tetapi, firman Tuhan berkata bahwa segala sesuatu, baik kemampuan jasmani ataupun rohani, adalah dari Tuhan, dan oleh Tuhan, dan kepada Tuhan. Karena itu bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya. Apakah kita sudah memakai hidup kita sebagaimana mestinya?

Pentingnya etika Kristen

Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.” Filipi 4: 8

Secara bahasa kata ‘etika’ lahir dari bahasa Yunani ethos yang artinya tampak dari suatu kebiasaan. Dalam hal ini yang menjadi perspektif objeknya adalah perbuatan, sikap, atau tindakan manusia. Pengertian etika secara khusus adalah ilmu tentang sikap dan kesusilaan suatu individu dalam lingkungan pergaulannya yang kental akan aturan dan prinsip terkait tingkah laku yang dianggap benar.

Pengertian etika secara umum adalah aturan, norma, kaidah, ataupun tata cara yang biasa digunakan sebagai pedoman atau asas suatu individu dalam melakukan perbuatan dan tingkah laku. Penerapan norma ini sangat erat kaitannya dengan sifat baik dan buruknya individu di dalam bermasyarakat.

Dengan begitu, etika adalah ilmu yang mempelajari baik dan buruknya serta kewajiban, hak, dan tanggung jawab, baik itu secara sosial maupun moral, pada setiap individu di dalam kehidupan bermasyarakat. Atau bisa dikatakan juga bahwa etika mencakup nilai yang berhubungan dengan akhlak individu yang berkaitan dengan benar dan salahnya.

Adapun banyak jenis etika yang dapat kita jumpai di lingkungan sekitar, misalnya, etika berteman, etika profesi atau kerja, etika dalam rumah tangga, etika dalam melakukan bisnis, dan semacamnya. Etika tentunya harus dimiliki oleh setiap individu dan sangat dibutuhkan dalam bersosialisasi yang mana hal itu menjadi jembatan agar terciptanya suatu kondisi yang baik di dalam kehidupan bermasyarakat. Bagaimana dengan etika untuk orang Kristen? Apakah orang Kristen memiliki etika yang sama dengan etika masyarakat umum?

Etika Kristen adalah pelaksanaan perintah Tuhan dalam hidup sehari-hari, yang walaupun tidak disebutkan secara terperinci dalam Alkitab, adalah suatu tanda bahwa Roh Kudus bekerja dalam hidup kita sehingga kita mengerti dan taat kepada firman-Nya. Jika etika umum bisa muncul dalam satu masyarakat dan karena etika berhubungan dengan budaya setempat, etika dalam sebuah masyarakat tertentu mungkin tidak dikenal dalam masyarakat lain. Sebaliknya, karena etika Kristen bertalian dengan firman Tuhan, seharusnya semua orang Kristen tahu apa yang baik dan buruk dalam hidup sehari-hari menurut ukuran firman Tuhan.

Etika Kristen adalah suatu cabang ilmu teologi yang membahas masalah tentang apa yang baik untuk dilakukan dari sudut pandang Kekristenan; jadi seharusnya berlaku untuk siapa saja, kapan saja dan  di mana saja. Apabila dilihat dari sudut pandang Hukum Taurat dan Injil, maka etika Kristen adalah segala sesuatu yang dikehendaki oleh Allah dan itulah yang baik. Dengan demikian, maka etika Kristen merupakan satu tindakan yang bila diukur secara moral adalah baik. Saat ini, permasalahan utama yang dihadapi etika Kristen ialah perbedaan yang mungkin ada antara kehendak Allah terhadap manusia dan reaksi manusia (yang mungkin dipengaruhi budaya setempat) terhadap kehendak Allah.

Etika dimaksudkan agar manusia tidak menjadi manusia “kurang ajar” yang hidup “ugal-ugalan”. Tetapi karena tidak semua apa yang dilakukan manusia dari jaman ke jaman itu belum tentu dibahas dalam Alkitab, permasalahan kedua dalam etika Kristen adalah bagaimana mengajarkan dan menerapkan etika menurut prinsip kekristenan jika itu tidak tertulis secara jelas dalam Alkitab. Dalam hal ini, mereka yang tidak mau atau bisa berpikir akan kurang bisa melihat hubungan antara etika dan Firman. Sebaliknya, ada kemungkinan bahwa mereka yang pintar berdalih akan memakai etika yang menguntungkan mereka saja.

Dalam ayat Kolose 3: 5 – 6 disebutkan bahwa kita tidak boleh melakukan segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan. Sebagai orang Kristen mungkin kita mudah berkata bahwa kita mengerti akan hal-hal di atas. Tetapi bagaimana pula dengan praktik tingkah laku dan pikiran kita yang sehari-hari tentang hal-hal itu? Adakah etika kita?

Yesus pernah menjumpai orang-orang yang sepertinya sudah melakukan apa yang diharuskan oleh agama tetapi mengabaikan etika-etika hidup yang benar. Sebagai contoh, ahli-ahli Taurat dan orang Farisi mungkin merasa bahwa mereka sudah membayar apa yang harus dibayar dalam hidup mereka, tetapi melupakan bahwa ada hal-hal lain yang menyangkut keadilan, belas kasihan dan kesetiaan yang perlu dilaksanakan.

“Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan.” Matius 23: 23

Hari ini kita diingatkan bahwa jika kita mau mengikut Yesus, kita sewajarnya memegang dan melaksanakan etika hidup Kristen yang berdasarkan kasih. Dalam bekerja, kita harus bekerja dengan rajin, menghormati atasan dan bawahan kita, menghargai orang-orang yang rajin bekerja dan mengasihani mereka yang kekurangan; karena Tuhanlah yang menjadi majikan kita. Dalam berkeluarga, kita harus setia, mau saling menolong dan menguatkan, serta membagi waktu untuk seluruh anggota keluarga. Sebagai seorang warganegara kita harus ikut menunjang pemerataan ekonomi, menolong mereka yang kurang mampu, dan menghormati pemerintah dan hukum yang berlaku. Sebagai anggota masyarakat kita harus menempatkan diri sama seperti yang lain dan tidak memakai kedudukan sosial kita untuk menguntungkan diri sendiri. Sebagai manusia kita juga harus menghargai hidup sehat jasmani dan rohani dan karena itu tidak melakukan hal-hal yang bisa merugikan kesehatan dan keselamatan diri sendiri dan orang lain. Selain itu, dengan etika Kristen kita bisa menghindari perbuatan, pemikiran dan perkataan yang merugikan orang lain.

“Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa.” Yakobus 4:17

Dibenarkan karena iman

“Karena kami yakin, bahwa manusia dibenarkan karena iman, dan bukan karena ia melakukan hukum Taurat.” Roma 3: 28

Dalam Alkitab berbahasa Indonesia, kata “agama” muncul lebih dari 30 kali dalam Perjanjian Baru. Tetapi, dalam terjemahan-terjemahan berbahasa Inggris, kata “religion” hanya muncul kurang dari 10 kali. Memang dalam penerjemahan Alkitab dari bahasa-bahasa aslinya (Yahudi dan Yunani) beberapa kata yang sebenarnya berbeda artinya dengan arti kata “agama” yang sekarang, diterjemahkan sebagai “agama”. Kata yang dipilih penerjemah itu memang bisa menyebabkan perbedaan dalam pengertian. Oleh karena itu, dalam mempelajari firman Tuhan kita harus memakai beberapa terjemahan Alkitab dan menggunakan buku bimbingan Alkitab yang baik, yang bisa mengartikan setiap ayat dalam konteks yang benar.

Hal terjemahan Alkitab memang bisa membuat sebagian orang untuk mengabaikan bagian-bagian tertentu dari Alkitab. Lebih dari itu, ada beberapa golongan yang memakai “Alkitab” yang berbeda dengan apa yang kita pakai. Sebagian dari mereka mengajarkan bahwa Perjanjian Baru hanya dapat dimengerti melalui sudut pandang Ibrani, dan ajaran Rasul Paulus tidak dipahami secara jelas oleh para pendeta Kristen di zaman ini. Tidak sedikit dari mereka yang mengakui adanya Perjanjian Baru dalam bahasa Ibrani dan, dalam banyak kasus, merendahkan akurasi naskah Perjanjian Baru dalam bahasa Yunani. Ini secara halus menyerang integritas naskah Alkitab yang sekarang kita pakai. Jika naskah Yunani tidak dapat diandalkan dan telah dikorupsi, seperti tuduhan mereka, Gereja tidak dapat mempunyai tolok ukur kebenaran.

Selain mengharuskan pengikut mereka untuk memanggil Allah dan Yesus dalam bahasa Yahudi untuk keselamatan mereka, pada umumnya golongan-golongan ini memercayai bahwa kematian Kristus di atas salib tidak mengakhiri Perjanjian Musa, melainkan memperbaruinya, menambah pesan dasarnya, dan menulisnya di atas hati para pengikut Kristus yang sejati. Mereka menuduh bahwa Gereja telah beralih dari akar Yahudinya dan tidak sadar bahwa Yesus dan para rasul-Nya merupakan orang Yahudi yang taat kepada hukum Taurat. Karena itu, pada umumnya mereka mendorong supaya setiap orang percaya menjalani hidup yang taat kepada ajaran Taurat. Ini berarti bahwa peraturan dalam Perjanjian Musa harus menjadi fokus utama dari hidup orang percaya pada zaman ini, sama seperti umat Yahudi di zaman Perjanjian Lama di Israel.

Mereka mengajar bahwa orang Kristen non-Yahudi telah dicangkok ke dalam Israel, dan oleh karena itu setiap orang yang lahir baru dalam Yesus Sang Mesias harus turut berpartisipasi dalam pemeliharaan cara hidup dan budaya orang Yahudi. Mereka mengajar bahwa pemeliharaan ini tidak dilakukan secara terpaksa, melainkan atas dasar kasih dan ketaatan. Pada pihak yang lain, mereka juga mengajar bahwa hidup yang berkenan pada Allah adalah hidup yang menaati hukum Taurat. Manusia tidak dapat diselamatkan tanpa menaati hukum Taurat. Ini jelas bukan ajaran Kristen.

Di Indonesia, golongan ini semakin tidak jelas arah dan tujuan pergerakannya. Beberapa orang mulai mengeluh mengenai perselisihan di antara pemimpin, beberapa orang lainnya mengeluh tidak siap melihat perubahan demi perubahan dan pembenahan demi pembenahan. Sebagian orang mulai merasa tidak nyaman dengan berbagai pengajaran tentang tata cara ibadah Yahudi dan hukum Taurat, sedangkan yang lain hanya berpuas diri dengan penggunaan nama Yahweh dan Yahshua namun pemahaman teologis maupun tata cara ibadah masih mencerminkan denominasi yang lama.

Apa yang tertulis dalam Alkitab mengenai hukum Taurat? Ayat di atas menulis bahwa manusia dibenarkan karena iman, dan bukan karena ia melakukan hukum Taurat atau karena memanggil Tuhan dengan nama-nama Yahudi. Berdasarkan ayat ini, dan untuk zaman ini, kita bisa menafsirkan bahwa orang Kristen dibenarkan karena iman kepada Yesus Kristus, dan bukan karena ia melakukan kewajiban-kewajiban agama. Mereka yang rajin melakukan kewajiban agama saja adalah seperti mereka yang digolongkan sebagai orang Farisi dan ahli Taurat. Mereka yang merasa sudah diselamatkan karena kesalehannya adalah orang yang beragama, tetapi belum tentu beriman kepada Tuhan Yesus yang satu dengan Allah Bapa.

Apa yang membawa kepada keselamatan adalah iman kepada Yesus, yaitu Tuhan yang sudah turun ke dunia untuk menebus dosa manusia. Jika manusia ingin berbuat baik untuk bisa masuk ke surga melalui agama, itu adalah usaha yang sia-sia karena sebagai manusia kita tidak dapat memenuhi syarat kesucian Allah. Agama penuh dengan peraturan yang dibuat manusia, tetapi iman datang dari Allah. Lebih dari itu, jika ketaatan pada hukum Taurat merupakan bagian syarat keselamatan, itu berarti bahwa pengurbanan Kristus di kayu salib adalah kurang sempurna.

“Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.” Efesus 2: 8 – 9

Pagi ini, baiklah kita bertanya kepada diri kita sendiri, apakah kita memang orang Kristen. Apakah kita sudah benar-benar beriman kepada Kristus. Apakah kita sudah memercayakan masa depan kita, baik di bumi maupun di surga, kepada-Nya. Ataukah kita masih berusaha berbuat berbagai kebaikan untuk memastikan keselamatan kita? Jika kita memang beriman, kita tidak perlu menguatirkan masa depan kita. Sebaliknya, dengan rasa syukur kita bisa hidup dalam kedamaian, dan dengan itu kita mau memuliakan Tuhan yang mahakasih dengan membaktikan kasih kita kepada-Nya dan sesama kita setiap hari.

“Sebab Kristus adalah kegenapan hukum Taurat, sehingga kebenaran diperoleh tiap-tiap orang yang percaya.” Roma 10: 4

Orang Kristen bisa tertipu

“Karena itu, dengarlah arti perumpamaan penabur itu. Kepada setiap orang yang mendengar firman tentang Kerajaan Surga, tetapi tidak mengertinya, datanglah si jahat dan merampas yang ditaburkan dalam hati orang itu; itulah benih yang ditaburkan di pinggir jalan. Benih yang ditaburkan di tanah yang berbatu-batu ialah orang yang mendengar firman itu dan segera menerimanya dengan gembira. Tetapi ia tidak berakar dan tahan sebentar saja. Apabila datang penindasan atau penganiayaan karena firman itu, orang itu pun segera murtad. Yang ditaburkan di tengah semak duri ialah orang yang mendengar firman itu, lalu kekuatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan mengimpit firman itu sehingga tidak berbuah. Yang ditaburkan di tanah yang baik ialah orang yang mendengar firman itu dan mengerti, dan karena itu ia berbuah, ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat.” Matius 13:18-23

Perumpamaan penabur (Matius 13: 3-8) adalah salah satu perumpamaan Yesus yang sangat sering disajikan dalam berbagai renungan dan khotbah. Ayat-ayat di atas adalah tafsiran atas perumpamaan itu. Jadi, perumpamaan itu rupanya berbicara tentang tanggapan atas Kerajaan Allah yang diwartakan dan diajarkan Yesus. Melalui penjelasan itu, Yesus seakan mengajukan pertanyaan kepada kita: di manakah posisi diri kita dalam perumpamaan tersebut? Apakah kita adalah benih yang jatuh di pinggir jalan, di tanah yang berbatu-batu, atau di tengah semak duri atau di tanah yang subur?

Seperti apa yang ditampilkan dalam perumpamaan di atas, Rasul Paulus pernah menyatakan kekuatirannya atas kemungkinan bahwa jemaat Kristen di Korintus diperdayakan oleh beberapa pengajar yang menyesatkan mereka dari ajaran yang benar. Pengajar-pengajar yang sesat itu diumpamakan seperti ular, si iblis,  si jahat yang dengan kelicikannya  sudah membuat Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa di taman Eden.

“Tetapi aku takut, kalau-kalau pikiran kamu disesatkan dari kesetiaan kamu yang sejati kepada Kristus, sama seperti Hawa diperdayakan oleh ular itu dengan kelicikannya.” 2 Korintus 11: 3

Ada tiga hal yang penting yang bisa kita simak dari ayat-ayat di atas. Yang pertama, tiap orang Kristen masih bisa dan mungkin malah sering diserang oleh iblis. Kedua, iblis sering muncul dalam bentuk yang penuh pesona sehingga orang yang tidak awas akan terjebak. Dan yang ketiga, iblis sering muncul pada tempat dan waktu yang tidak terduga, selagi umat Tuhan lengah atau lemah.

Bagaimana iblis berusaha memperdayai umat-Nya di Korintus? Korintus adalah kota niaga yang cukup besar dan karena itu banyak orang datang dari berbagai tempat. Dengan itu, Korintus dari mulanya mudah sekali menerima budaya atau agama lain, mungkin melalui praktik toleransi agama dan multikulturalisme yang sering didengung-dengungkan saat ini. Di antara berbagai ajaran di luar agama Kristen yang bisa melemahkan dan bahkan menyesatkan orang Kristen pada waktu itu dan juga sering ditemui sampai saat ini adalah ajaran bahwa keselamatan adalah berdasarkan apa yang kita perbuat dalam hidup, dan ajaran bahwa pedoman hidup baik adalah berdasarkan pikiran sehat manusia.

Di zaman ini pun banyak manusia yang tidak puas dengan ajaran Kristen yang menyatakan bahwa keselamatan adalah semata-mata adalah karunia Tuhan. Mereka kemudian mengikuti ajaran lain yang menekankan hukum Taurat, yang mengajarkan bahwa keselamatan manusia ada di tangan mereka sendiri, yang harus melaksanakan hukum Taurat untuk mencapai surga. Selain itu, ada berbagai pengajar yang mengajarkan bahwa keselamatan tidak akan ada jika kita tidak memanggil nama Tuhan dan Yesus dengan bahasa Ibrani dan menjalankan adat-istiadat orang Yahudi. Sudah tentu, ajaran sedemikian sering kali menyebabkan kebingungan di antara umat Kristen dan kemudian berakhir dengan perpecahan gereja dan jemaat yang kocar-cacir.

Iblis memang sering muncul pada saat dan keadaan di mana umat Kristen mengalami kelengahan atau kesulitan. Bagi sebagian orang, kelengahan terjadi ketika segala sesuatu berjalan lancar dan hidup terasa nikmat. Pada saat itu kesadaran akan Tuhan dan kasih-Nya mungkin menjadi samar karena orang lebih tertarik untuk menghabiskan waktunya untuk menikmati hidupnya. Selain itu, mudah bagi mereka untuk merasa bahwa Tuhan pastilah menyukai cara hidup mereka. Kelengahan juga bisa terjadi dalam keadaan yang sulit dan penuh perjuangan. Ketika keadaan yang menekan lagi menguasai hidup, orang menjadi terlalu sibuk berusaha melewati hari-harinya dengan rasa tegang, kuatir atau kecewa. Kelengahan juga bisa terjadi karena orang Kristen yang kurang mengerti dasar-dasar iman yag benar, dan karena itu mudah terbujuk ajaran sesat yang terlihat lebih “masuk akal”. Pada saat-saat d imana manusia lagi lemah seperti itu, iblis bekerja lebih giat untuk menggoda manusia agar mereka jatuh ke dalam dosa dan menolak Tuhan.

Hari ini, Yesus melalui perumpamaan penabur mengingatkan bahaya yang ada dalam kehidupan spiritual kita. Seperti jemaat Korintus kita diingatkan oleh Rasul Paulus bahwa iblis selalu mengintai umat Tuhan dan siap untuk menyesatkan kita. Karena itu, dalam keadaan apa pun yang kita alami saat ini, baik susah maupun senang, sakit maupun sehat, miskin ataupun kaya, kita harus tetap rajin berdoa dan membaca firman-Nya agar kita tidak tertipu oleh iblis yang berusaha menghancurkan iman kita.

“Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya. 1 Petrus 5: 8

Bapa dan Anak adalah satu

“Aku dan Bapa adalah satu.” Yohanes 10: 30

Manakah yang lebih anda sukai, Alkitab Perjanjian Lama atau Alkitab Perjanjian Baru? Mungkin anda merasa bahwa pertanyaan ini aneh. Sebagai orang Kristen kita tentunya percaya bahwa Alkitab adalah firman Tuhan, dan karena itu kedua bagian Alkitab itu penting untuk kita pelajari dan mengerti. Walaupun demikian, isi dan misi kedua bagian Alkitab itu adalah berbeda dan dengan demikian Perjanjian Baru mungkin lebih cocok bagi mereka yang bukan orang Yahudi dan yang mengenal doktrin Tritunggal.

Doktrin Kristen atau Kristiani tentang Tritunggal atau Trinitas (kata Latin yang secara harfiah berarti “tiga serangkai”, dari kata trinus, “rangkap tiga”) menyatakan bahwa Allah adalah tiga pribadi yang sehakikat (konsubstansial) – Bapa, Putra (Yesus Kristus), dan Roh Kudus – sebagai “satu Allah dalam tiga Pribadi Ilahi”. Ketiga pribadi ini berbeda, tetapi merupakan satu “substansi, esensi, atau kodrat”. Dalam konteks ini, “kodrat” adalah apa Dia, sedangkan “pribadi” adalah siapa Dia.

Tidak semua orang Kristen mau menerima doktrin Allah Tritunggal. Beberapa aliran gereja memandang istilah itu tidak alkitabiah karena tidak disebutkan dalam Alkitab. Dalam kebanyakan kasus, aliran-aliran itu mengangkat Taurat (lima kitab pertama dalam Alkitab) sebagai ajaran dasar gereja. Ini menyebabkan Perjanjian Baru dianggap sebagai bagian sekunder dari Alkitab dan hanya untuk dipahami dalam terang Perjanjian Lama. Selain itu, adanya anggapan bahwa Perjanjian Baru tidak selengkap atau seakurat Perjanjian Lama telah membuat doktrin Trinitas diserang oleh banyak pendukung aliran-aliran ini.

Ayat pembukaan di atas menyatakan bahwa Allh Bapa dan Yesus Kristus adalah satu. Dalam hal ini ada orang yang menafsirkan bahwa kata “satu” berarti Bapa dan Yesus adalah satu dalam tujuan, sehati, dan sepikir, tetapi hakikatnya bukan satu Tuhan. Mereka sering kali menyatakan bahwa Bapa adalah esa (echad), tetapi Yesus tidaklah sepenuhnya berada dalam keesaan ini. Ini adalah kekeliruan yang sudah terjadi sejak lama, dengan adanya berbagai aliran yang menolak keilahian Yesus atau kesetaraan-Nya dengan Bapa. Bagi mereka, Yesus adalah utusan Tuhan tetapi bukan Tuhan yang turun ke dunia dalam bentuk manusia.

Kebanyakan aliran yang menolak doktrin Trinitas yakin bahwa aliran-aliran Kristen utama (mainstream Christianity) telah menyimpang jauh dari ajaran yang benar dan konsep Ibrani dari Alkitab. Lebih lanjut, gerakan ini menyatakan bahwa Kekristenan telah diindoktrinasi dengan budaya asing dan kepercayaan filsafat Yunani dan Romawi dan bahwa pada akhirnya Kekristenan yang diajarkan di mayoritas gereja-gereja saat ini, telah dirusak dengan hal-hal yang bernada pagan dari Injil Perjanjian Baru.

Di antara aliran-aliran yang menekankan pentingnya hukum Taurat, ada yang mengharuskan penggunaan bahasa Ibrani. Mereka kemudian menawarkan proposisi yang tidak alkitabiah yang selanjutnya membuahkan doktrin yang keliru. Keselamatan kita tidak bergantung pada kemampuan kita untuk berbahasa Ibrani. Hubungan kita dengan Tuhan tidak didasarkan pada ketaatan kita pada Perjanjian Lama yang sudah digenapi oleh Yesus dengan sempurna. Hubungan kita dengan Allah didasarkan pada keselamatan yang telah Dia sediakan melalui Putra-Nya, dan hubungan itu dimungkinkan oleh kasih karunia saja, melalui iman saja, di dalam Kristus saja (Sola Gratia, Sola Fide, Sola Christus).

”Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.” Matius 5: 17

Banyak aliran-aliran semacam itu yang menyatakan bahwa kematian Kristus di kayu salib tidak mengakhiri Perjanjian Musa bagi bani Israel, melainkan memperbaruinya, memperluas pesannya, dan menuliskannya di hati para pengikut-Nya di zaman ini. Mereka mengajarkan bahwa pemahaman Perjanjian Baru hanya dapat datang dari perspektif Ibrani dan bahwa ajaran Rasul Paulus tidak bisa dipahami dengan jelas atau diajarkan dengan benar oleh para pendeta Kristen yang tidak mengenal budaya/bahasa Ibrani di saat ini.

Mereka yang mengajarkan bahwa Perjanjian Lama masih berlaku terlepas dari apa yang diajarkan Perjanjian Baru, atau memutarbalikkan Perjanjian Baru agar disesuaikan dengan Taurat, adalah ajaran yang salah. Mereka mengajarkan bahwa orang Kristen non-Yahudi telah dicangkokkan ke Israel, dan inilah salah satu alasan setiap orang percaya yang dilahirkan kembali di dalam Yesus untuk berpartisipasi dalam perayaan-perayaan Yahudi. Sekalipun mereka terdiri dari mayoritas non-Yahudi, termasuk para rabi non-Yahudi, banyak yang sampai pada kesimpulan bahwa Allah telah “memanggil” mereka untuk menjadi orang Yahudi dan telah menerima posisi teologis bahwa Taurat mengikat orang bukan Yahudi dan orang Yahudi.

Berlawanan dengan apa yang diklaim oleh gerakan-gerakan semacam ini, ajaran Perjanjian Baru dari Rasul Paulus sangat jelas dan jelas. Orang percaya non-Yahudi tidak dicangkokkan ke dalam Yudaisme Perjanjian Musa; mereka dicangkokkan ke dalam benih dan iman Abraham, yang mendahului hukum dan kebiasaan Yahudi. Mereka adalah sesama warga dengan orang-orang kudus (Efesus 2: 19), tetapi mereka bukan orang Yahudi. Paulus menjelaskan hal ini dengan jelas ketika dia memberitahu mereka yang bersunat (orang Yahudi) “untuk tidak berusaha untuk tidak bersunat” dan mereka yang tidak bersunat (bukan Yahudi) ” untuk berusaha disunat” (1 Korintus 7: 18).

Hari ini kita belajar bahwa seluruh orang yang mengaku Kristen tidak perlu merasa bahwa mereka harus menjadi apa yang bukan kebiasaan mereka. Sebaliknya, Allah telah membuat orang Yahudi dan bukan Yahudi menjadi “satu manusia baru” di dalam Kristus Yesus (Efesus 2: 15). “Manusia baru” ini mengacu pada Gereja, tubuh Kristus, yang tidak terdiri dari orang Yahudi atau bukan Yahudi (Galatia 3: 27-29). Penting bagi orang Yahudi dan non-Yahudi untuk tetap otentik dalam identitas mereka sendiri. Allah tidak pernah bermaksud agar orang-orang bukan Yahudi menjadi satu di Israel, tetapi menjadi satu di dalam Kristus. Dengan cara ini gambaran yang jelas tentang kesatuan tubuh Kristus dapat dilihat sebagai orang Yahudi dan bukan Yahudi dipersatukan oleh satu Tuhan, satu iman, satu baptisan di seluruh penjuru dunia (Efesus 4: 3-6).

Kita harus sadar bahwa Tuhan sendirilah yang telah menciptakan dunia dan orang-orang dengan budaya, bahasa, dan tradisi yang berbeda. Allah dimuliakan ketika kita menerima satu sama lain dalam kasih dan bersatu dalam kesatuan sebagai “satu” dalam Kristus Yesus. Penting untuk dipahami bahwa tidak ada keunggulan yang dimiliki mereka yang terlahir sebagai orang Yahudi atau bukan Yahudi. Kita yang adalah pengikut Kristus, terdiri dari banyak budaya dan gaya hidup yang berbeda, semuanya berharga dan sangat dikasihi karena kita telah masuk ke dalam keluarga Allah.

Mengenal Yesus sebagai Tuhan adalah tanda keselamatan

“Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan, karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia.” Kolose 1: 15 – 16

Ada orang Kristen yang sudah lama ke gereja tertentu, tetapi karena adanya daya tarik dari gereja lain kemudian meninggalkan gereja yang lama. Jika itu karena merasa bahwa bahwa gereja yang baru memiliki pengajaran kerohanian yang lebih baik, tentu itu tidak ada salahnya. Tetapi, sering terjadi bahwa orang pindah gereja karena adanya hal yang secara tiba-tiba menjadi sesuatu yang memikat hati dan pikiran.

Mengapa ada orang Kristen yang meninggalkan gerejanya untuk kemudian, tanpa berpikir panjang, mengikuti sebuah aliran yang aneh? Ada berbagai sebabnya, seperti perumpamaan benih yang ditabur (Matius 13: 19-23).

  • Kurang pengertian: Kepada setiap orang yang mendengar firman, tetapi belum tentu ia bisa atau mau mengertinya. Kemudian datanglah iblis dalam bentuk yang memikat hati, yang merampas apa yang ditaburkan dalam hati orang itu. Jika ada pendeta yang mengajarkan “wahyu baru”, orang yang kemudian merasa bahwa itu adalah lebih baik dari apa yang lama.
  • Kurang kuat: Ada orang yang mendengar firman itu dan segera menerimanya dengan gembira. Tetapi ia tidak berakar dan tahan sebentar saja. Apabila datang penderitaan atau goncangan hidup, orang itu pun segera berubah imannya.
  • Godaan duniawi: Ada orang yang mendengar firman itu, lalu kekuatiran dunia ini dan tipu daya kenikmatan menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah dan akibatnya hidup orang itu menjadi jauh dari Tuhan.

Ayat di atas adalah ayat yang sering dipakai oleh golongan tertentu untuk membuktikan bahwa Allah menciptakan Yesus sebagai “yang sulung, yang lebih utama dari segala yang diciptakan”. Yesus diciptakan sebagai manusia yang istimewa, begitu kata mereka. Walaupun demikian, kalimat selanjutnya menyatakan bahwa “segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia”. Ini seirama dengan Yohanes 1: 1- 7 yang menjelaskan bahwa Yesus bukan diciptakan, tetapi Ia adalah Allah yang menciptakan segala sesuatu.

“Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan.” Yohanes 1: 3

Siapakah Yesus itu? Ada aliran tertentu yang mengajarkan bahwa Yesus adalah nabi yang terbesar. Ada pula yang percaya bahwa Yesus adalah penjelmaan Allah dalam tubuh manusia. Selain itu, ada yang percaya bahwa Yesus adalah malaikat yang paling tinggi derajatnya Tetapi, sebagian besar orang Kristen percaya bahwa Yesus adalah Allah sendiri yang turun ke dunia. Manakah yang benar?

Dari ayat pembukaan di atas, Yesus yang adalah Allah, sudah ada sebelum apa pun yang ada di alam semesta ini diciptakan oleh-Nya. Tanpa Yesus, tidak akan ada makhluk dan benda apa pun di alam semesta ini. Tanpa Yesus, tidaklah ada persekutuan orang percaya atau gereja. Lebih dari itu, tanpa Yesus tidak akan ada keselamatan untuk orang percaya.

Yesus adalah Allah yang turun ke dunia sebagai manusia. Ia persis sama seperti kita, hanya saja Ia tidak berdosa. Sebagai Juruselamat manusia, Ia sudah menjadi Imam Besar yang menghubungkan kita manusia yang berdosa dengan Allah yang mahasuci. Sebagai manusia, Ia bisa merasakan segala penderitaan dan kelemahan kita. Karena itu, sebagai Allah, Ia mengerti apa yang kita butuhkan dalam hidup ini dan mau serta sanggup menolong kita dalam segala persoalan kita.

“Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa.” Ibrani 4: 15

Petang ini, firman Tuhan menegaskan bahwa Yesus adalah satu dengan Allah Sang Pencipta, dan segala sesuatu diciptakan Allah untuk Dia, untuk kemuliaan-Nya. Sebagai orang Kristen kita tidak boleh menurunkan derajat-Nya. Yesus bukanlah sekedar orang baik atau manusia istimewa. Yesus juga bukan manusia ciptaan Allah yang dihuni oleh Allah selama Ia hidup di dunia. Sebaliknya, Yesus adalah Allah sendiri dan sudah ada dari awalnya. Ia adalah Pencipta dan kita adalah ciptaan-Nya. Bukankah sudah sepatutnya setiap orang menyembah Dia, bergantung kepada-Nya dan menjalani hidup ini untuk memuliakan Dia? Jika kita mengenal Yesus sebagai Tuhan, kita akan mengenal Bapa yang sudah mengampuni kita.

“Aku dan Bapa adalah satu.” Yohanes 10: 30