Kasih adalah salah satu tanda keselamatan

“Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih. Dalam hal inilah kasih Allah dinyatakan di tengah-tengah kita, yaitu bahwa Allah telah mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dalam dunia, supaya kita hidup oleh-Nya.” 1 Yohanes 4: 8 – 9

Di dunia ini ada berbagai macam aliran kepercayaan dan agama. Sudah tentu, bagi mereka yang baru mulai mempelajari hal kerohanian, adanya berbagai agama bisa menimbulkan kebingungan. Manakah agama yang benar? Ataukah semua agama pada hakikatnya baik?

Teringat saya akan ucapan teman yang menyatakan pendapatnya tentang bagaimana orang beragama berusaha meyakinkan orang lain bahwa apa yang diimaninya adalah satu-satunya yang benar. Menurut teman itu, orang beragama tidaklah jauh berbeda dengan seorang penjual produk, salesman, yang berusaha menjajakan barangnya dengan slogan “nomer satu”. Kecap nomer satu.

Memang ada benarnya bahwa setiap agama umumnya bersifat ekslusif, karena keselamatan hanya tersedia untuk pengikutnya. Walaupun demikian, beberapa kepercayaan mengajarkan bahwa ada banyak jalan ke surga, dan ada juga yang mengajarkan bahwa manusia dapat menemukan Tuhan dalam dirinya sendiri. Wajarlah banyak orang bertanya: manakah ajaran yang benar dan siapakah Allah yang sebenarnya?

Seorang penginjil terkenal pernah dalam sebuah siaran radionya menyebutkan 4 unsur utama yang seharusnya dipertimbangan mereka yang ingin mempelajari agama:

  1. Asal: dari mana datangnya manusia,
  2. Arti: apa arti hidup manusia,
  3. Akhlak: apa yang diajarkan agama mengenai moral manusia, dan
  4. Akhir: bagaimana hidup manusia akan berakhir.

Agama Kristen adalah satu-satunya kepercayaan yang secara konsisten bisa menghubungkan keempat unsur di atas secara harmonis karena adanya kepercayaan akan Tuhan Sang Pencipta yang mahakasih. Karena kasih-Nya, Tuhan sudah menciptakan manusia agar mereka dapat hidup berbahagia dalam hubungan yang baik dengan Sang Pencipta. Karena kasih-Nya juga, Tuhan membimbing manusia agar mereka tetap bersandar dalam iman yang benar sampai saat di mana mereka menemui Sang Pencipta di surga.

Allah yang mahakasih dengan demikian menciptakan manusia bukan secara sembarangan, tetapi sebagai peta dan teladan atau gambar-Nya, dan memberi mereka kedudukan sebagai wakil-Nya di dunia. Sayang sekali, bahwa dengan jatuhnya manusia ke dalam dosa, manusia kemudian kehilangan kemuliaan dan kedudukan yang dikaruniakan Tuhan. Manusia yang sudah jatuh dalam dosa pastilah akan menuju ke neraka, jika Allah tidak mengambil inisiatif untuk menyelamatkan mereka yang bertobat.

Iman Kristen mengajarkan bahwa Allah adalah Tuhan yang mahabesar, mahakuasa dan mahasuci, yang tidak dapat dijangkau oleh manusia dengan usaha sendiri. Manusia dengan keterbatasan dan dosa mereka tidak dapat mengenali atau mendekati Tuhan, sekalipun sudah berusaha menunaikan amal ibadah mereka. Manusia tidak dapat membeli tiket ke surga. Ini adalah ajaran yang sangat berbeda dari banyak agama lain.

Hanya karena kasih Allah, manusia dapat mengenal-Nya. Ia yang mahasuci, yang tidak dapat didekati manusia, sudah menyatakan diri-Nya kepada umat manusia melalui Yesus Kristus. Yesus adalah pernyataan kasih Allah yang memungkinkan manusia untuk mengenal Dia sebagai Allah yang mahakasih. Melalui pengurbanan Yesus di kayu salib, mereka yang percaya dapat memperoleh pengampunan atas dosa-dosa mereka.

“Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita.” 1 Yohanes 4: 10

Manusia baru adalah mereka yang sudah dipindahkan Tuhan dari kematian dan alam maut, ke dalam hidup baru yang kekal dalam kasih Tuhan. Dengan demikian, mereka yang sudah diselamatkan akan dapat memancarkan kasih Tuhan yang sudah mereka terima kepada orang lain. Mereka yang belum bisa mengasihi sesamanya adalah orang-orang yang belum menerima kasih Tuhan yang menyelamatkan.

Memang tidaklah mungkin bagi mereka yang sudah merasakan besarnya kasih Tuhan untuk tetap hidup untuk kepentingan serta kenyamanan diri sendiri saja. Mereka yang sudah hidup dengan rasa syukur atas keselamatan yang diterimanya pasti akan melimpah dalam kasih mereka kepada sesamanya.

“Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.” 1 Korintus 13: 4 – 7

Iman Kristen adalah iman yang percaya bahwa Allah itu kasih. Karena itu, orang yang sudah mengenal Allah akan terpanggil untuk mengasihi sesamanya. Banyak orang yang nampaknya saleh dan dermawan, dan mereka mungkin terlihat sering berkurban untuk Tuhan dan sesama. Tetapi mereka mungkin berbuat baik untuk keuntungan diri sendiri, supaya pahala mereka diterima Tuhan dan mereka bisa masuk ke surga. Selain itu, banyak orang cenderung untuk mengasihi orang-orang tertentu saja, mungkin hanya mereka yang sealiran atau segereja. Orang-orang yang sedemikian tentu bukanlah orang yang benar-benar mengenal Tuhan.

Orang yang mengenal Allah adalah mereka yang mengenal Yesus sebagai Juruselamatnya. Mereka tahu bahwa Allah mengasihi seisi dunia dengan mengurbankan Anak-Nya untuk ganti dosa mereka yang percaya. Karena itu, orang yang sudah diselamatkan bisa mengasihi Tuhan dan sesamanya tanpa pamrih karena Tuhan sudah lebih dulu mengasihi.

“Kita tahu, bahwa kita sudah berpindah dari dalam maut ke dalam hidup, yaitu karena kita mengasihi saudara kita. Barangsiapa tidak mengasihi, ia tetap di dalam maut.” 1 Yohanes 3: 14

Iman yang tidak sia-sia

“Tetapi andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu.” 1 Korintus 15: 14

Adakah hal yang pasti dalam hidup manusia? Banyak orang berpendapat bahwa tidak ada apa pun yang pasti. Semua akan berubah pada masanya, seperti apa yang dinyanyikan penyanyi jazz terkenal, George Benson, dalam lagunya “Everything must change” atau “Semuanya harus berubah”.

Everything must change

Nothing stays the same.

Everyone must change

Nothing stays the same.

The young become the old,

Mysteries do unfold.

‘Cause that’s the way of time

Nothing and no one goes unchanged.

Semuanya harus berubah,

Tidak ada yang tetap sama.

Setiap orang harus berubah

Tidak ada yang tetap sama.

Yang muda menjadi tua,

Misteri memang terungkap.

Karena itulah jalannya waktu

Tidak ada yang tidak berubah.

Semua harus berubah dan untuk manusia apa yang bisa dipastikan adalah kematian. Dengan demikian, selama hidup di dunia ini orang tidak dapat memastikan  datangnya apa yang baik dan indah, tetapi bisa memastikan apa yang buruk, yaitu kematiannya. Hidup manusia agaknya seperti apa yang dikatakan Allah sesudah Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa:

“Lalu firman-Nya kepada manusia itu: “Karena engkau mendengarkan perkataan isterimu dan memakan dari buah pohon, yang telah Kuperintahkan kepadamu: Jangan makan dari padanya, maka terkutuklah tanah karena engkau; dengan bersusah payah engkau akan mencari rezekimu dari tanah seumur hidupmu: semak duri dan rumput duri yang akan dihasilkannya bagimu, dan tumbuh-tumbuhan di padang akan menjadi makananmu; dengan berpeluh engkau akan mencari makananmu, sampai engkau kembali lagi menjadi tanah, karena dari situlah engkau diambil; sebab engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu.” Kejadian 3: 17 – 19

Sejak saat itu, hidup manusia agaknya menjadi suram dan tidak mempunyai harapan. Tetapi, karena Allah adalah Tuhan yang mahakasih, Ia tidak membiarkan manusia menderita di dunia untuk selamanya. Tuhan dalam kitab Kejadian juga menyatakan rencana penyelamatan umat manusia; dengan menjanjikan datangnya seorang Manusia yang akan mengalahkan iblis, yaitu Yesus Kristus.

“Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya.” Kejadian 3: 15

Yesus Kristus mengalami penderitaan di kayu salib, tetapi dengan itu Ia meremukkan kepala iblis. Kematian Yesus menebus manusia yang berdosa dan kebangkitan-Nya memungkinkan mereka yang sudah menerima Yesus sebagai Juruselamat untuk memperoleh keselamatan. Memang selagi hidup di dunia orang percaya tidak akan luput dari berbagai penderitaan seperti kemiskinan  dan penyakit, tetapi mereka mempunyai harapan untuk masa depan, yaitu hidup kekal di surga.

Selagi di dunia, mereka yang percaya tentu saja hanya dapat membayangkan bagaimana indahnya kehidupan di surga, di mana tidak ada lagi tangis dan duka. Tetapi, karena tidak ada seorang pun yang pernah ke surga, hal itu haruslah diyakini dengan iman selama masih hidup di dunia. Itu tidak mudah dilakukan. Apalagi, dengan adanya berbagai masalah hidup, kita akan mudah hilang harapan. Bagaimana jika hidup kekal itu ternyata tidak ada? Bukankah iman kita akan menjadi sia-sia?

Untunglah bahwa hidup kekal memang benar-benar ada karena Yesus yang sudah mengalahkan kematian. Kenyataan itu tidak akan berubah. Di hari Paskah ini kita merayakan kemenangan Yesus atas iblis dan atas maut, dan karena itu kepercayaan kita tidaklah sia-sia. Bagi umat Kristen apa yang pasti bukanlah penderitaan dan kematian, tetapi adanya hidup yang kekal dalam Yesus Kristus. Haleluya!

Harapan sesudah kematian

“Atau tidak tahukah kamu, bahwa kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus, telah dibaptis dalam kematian-Nya? Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru.” Roma 6: 3 – 4

Ketika itu Yesus dan murid-murid-Nya sedang dalam perjalanan ke Yerusalem dan Yesus berjalan di depan. Murid-murid merasa cemas dan juga orang-orang yang mengikuti Dia dari belakang merasa takut. Mengapa demikian? Mereka kuatir bahwa sesuatu yang sangat buruk akan terjadi pada diri mereka dan juga pada diri Yesus. Mereka tahu bahwa ada banyak orang Yahudi yang membenci-Nya. Apa yang akan terjadi tidaklah bisa diterka, tetapi pastilah sesuatu yang buruk. Lebih payah lagi, mereka bisa melihat bahwa Yesus bukanlah seorang panglima perang yang mempunyai ribuan serdadu. Yesus ternyata adalah seorang guru yang mengajarkan kesabaran, pengampunan dan kasih. Dan ini diajarkannya sekalipun banyak orang yang memusuhi-Nya!

Dengan berlalunya waktu, murid-murid Yesus dan pengikut-Nya menjadi takut karena suasana yang makin memanas. Yesus Anak Allah nyata-nyata tidak mempunyai malaikat pengawal. Malahan, Yesus berkata bahwa Ia akan diserahkan kepada imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, dan mereka akan memberi-Nya hukuman mati. Ia akan diolok-olok, diludahi, disesah dan dibunuh. Tidak dapat kita bayangkan bagaimana perasaan sedih dan takut yang dialami murid-murid-Nya. Walaupun demikian, mereka belum sadar bahwa esok hari adalah hari yang kelabu.

Jumat Agung adalah hari yang diperingati orang Kristen sebagai hari kematian Yesus. Hari ini biasanya diperingati secara khusyuk, terutama jika kita mengingat bagaimana Yesus pada waktu itu diejek, dipermalukan, disiksa dan kemudian mati digantung di kayu salib. Segala yang terjadi pada Yesus adalah bukti kejahatan manusia yang tidak bisa menerima apa yang datang dari Allah. Manusia yang lebih mementingkan kepuasan diri sendiri daripada menurut perintah Allah. Manusia yang menolak Anak Allah karena mereka ingin hidup seperti  yang dikehendakinya. Mereka tidak sadar bahwa bukannya merdeka, mereka justru hidup dalam belenggu dosa yang membawa kematian. Manusia tidak mengerti bahwa Yesus datang untuk memerdekakan mereka.

Memang banyak manusia di dunia ini yang merasa bahwa hidup hanya sekali dan karena itu harus dinikmati. Kesempatan yang ada harus dipergunakan untuk mencari kebahagiaan, kesuksesan, kekayaan dan segala kenyamanan hidup lainnya. Hal hidup sesudah mati adalah sesuatu yang tidak dapat dilihat mata dan karena itu tidak perlu dipikirkan dalam-dalam. Lain halnya dengan orang Kristen; hidup di dunia adalah hidup untuk  sementara, sedangkan hidup di surga adalah kekal. Dengan demikian, hidup di dunia ini adalah jauh lebih singkat dari hidup sesudahnya. Hidup yang ada sesudah mati adalah hidup yang jauh lebih penting dan lebih berharga dari hidup yang sekarang.

Jelas bahwa apa yang sangat berharga tidaklah mudah untuk diperoleh.  Apa yang sangat berharga tentunya harus dibayar dengan harga sangat tinggi. Tidak ada seorang pun yang bisa ke surga dengan usaha sendiri. Dengan kemampuan kita tidaklah mungkin kita bisa membayar harga keselamatan kita. Hanya melalui darah Yesus yang disalibkan di bukit Golgota, Allah mau menerima kita sebagai anak-anak-Nya.

Ayat di atas menulis bahwa Yesus sudah mati disalibkan dan kita yang telah dibaptis dalam Kristus, telah dibaptis dalam kematian-Nya. Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya kita mati dari hidup lama kita dan memperoleh hidup yang baru melalui kebangkitan-Nya. Sama seperti Kristus kemudian dibangkitkan dari antara orang mati oleh Allah Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru sebagai anak-anak Allah.

Hari Jumat Agung dengan demikian bukanlah semata-mata peringatan akan hal yang sedih. Sebaliknya, itu adalah suatu perayaan di mana kita mengingat bahwa Yesus sudah taat kepada Allah Bapa dan menggenapi rencana-Nya. Sebagai Anak-Nya yang tunggal, Yesus sudah taat sampai akhir dan karena itu Ia menerima kemuliaan dari Allah Bapa. Seperti itu jugalah, jika kita mau menguburkan hidup lama kita, kita akan menerima kemuliaan dari Allah Bapa dalam hidup yang baru di sorga.

Saat ini, barangkali kita sedang mengalami berbagai persoalan berat dalam hidup kita sehari-hari. Masalah yang besar, ancaman bahaya dan tantangan kehidupan datang silih berganti. Walaupun demikian, kita tahu bahwa kematian Yesus berarti kematian bagi pengaruh hidup duniawi. Dengan demikian, hari Jumat Agung adalah satu hari yang perlu dirayakan dengan rasa sukacita, karena kita tahu bahwa anugerah keselamatan surgawi sudah kita terima melalui kematian dan kebangkitan Yesus. Kematian Yesus memberi kita harapan baru untuk masa depan baik di dunia maupun di surga, karena Ia yang sudah datang ke dunia sekarang sudah bertahta di surga sebagai Tuhan yang mahakuasa.

Iman yang benar = iman + perbuatan

“Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati.” Yakobus 2: 17

Ada beberapa pertanyaan yang harus dijawab oleh setiap orang yang ingin mengaku percaya dalam sebuah upacara di gereja, antara lain:

  1. Apakah dia mengaku percaya, akan Allah Tritunggal yang Esa : Allah Bapa, Yesus Kristus, dan Roh Kudus.
  2. Apakah dia mengaku, bahwa firman Allah (Alkitab) yang dia pelajari dan ketahui akan membimbingnya pada jalan keselamatan.
  3. Apakah dia mengaku, untuk menolak segala dosa dan tindakan yang bertentangan dengan firman Tuhan dan mau hidup sesuai dengan firman Tuhan.
  4. Apakah dia mengaku dan mau, untuk mengikuti segala bentuk ibadah dan persekutuan dalam gereja.

Tentunya, untuk semua pertanyaan di atas seseorang seharusnya menjawab dengan “ya” karena hanya dengan itu ia menyatakan pengakuan imannya.

Memang untuk menjawab dengan “ya’ tidaklah terlalu sulit, apalagi semua pengertian atas pertanyaan di atas sudah diperoleh dari katekisasi. Walaupun demikian, dalam kenyataannya, apa yang diamini belum tentu dijalani. Banyak orang Kristen yang sudah faham akan seluk-beluk kekristenan secara teori, ternyata tidak mempunyai perhatian penuh dalam hal melaksanakan firman Tuhan.

Bagi banyak orang Kristen, teori adalah jauh lebih mudah untuk dipelajari daripada pelaksanaannya. Untuk mereka, iman adalah satu hal dan perbuatan adalah suatu tambahan yang terpisah. Bukankah orang Kristen diselamatkan hanya oleh iman? Bukankah iman Kristen berbeda dengan iman agama lain yang menyatakan bahwa manusia harus banyak berbuat baik untuk bisa menerima hidup kekal di surga? Dengan demikian, banyak orang Kristen yang bersikap pasif atau tidak tergerak untuk selalu berbuat baik. Tidaklah mengherankan kalau orang yang beragama lain menganggap orang Kristen percaya akan jalan yang termudah dan tidak masuk akal untuk ke surga.

Bagaimana orang bisa mengakui apa yang benar tetapi tidak melaksanakannya dalam hidup adalah sebuah tanda tanya besar. Apakah orang itu benar-benar percaya kepada Tuhan dan firman-Nya? Tidak sadarkah orang itu bahwa untuk menjadi umat Tuhan ia harus menolak segala dosa dan tindakan yang bertentangan dengan firman Tuhan dan mau hidup sesuai dengan perintah-Nya? Tidakkah orang itu mengerti bahwa sebagai orang Kristen ia harus menegakkan kebenaran dan keadilan di mana pun ia berada?

Sebenarnya ada bagian Alkitab yang menonjolkan hal perbuatan. Kitab Yakobus sering dipandang orang sebagai bukti pentingnya perbuatan baik untuk mencapai keselamatan. Tetapi, ayat di atas tidaklah menyatakan bahwa manusia diselamatkan karena perbuatan. Ayat itu hanya menjelaskan bahwa iman yang benar tidak mungkin untuk tidak disertai dengan perbuatan. Iman yang tanpa perbuatan adalah seperti teori yang diakui kebenarannya tetapi tidak pernah dipraktikkan.

Kitab Yakobus agaknya berbeda dengan kitab-kitab lain dalam Alkitab. Bagi sebagian orang Kristen, ada sedikit kesan bahwa Yakobus agaknya mementingkan perbuatan dan bahkan menyetarakan iman dengan perbuatan baik. Oleh karena itu, kitab Yakobus mungkin kurang disenangi oleh mereka, dan bahkan ada yang berpendapat bahwa kitab ini mungkin bukan bagian dari Alkitab. Pada pihak yang lain, ada orang Kristen yang sering memakai kitab Yakobus untuk menekankan pentingnya perbuatan, dan bahkan mengharuskan perbuatan baik untuk menjamin adanya keselamatan.

Keyakinan akan adanya sesuatu yang akan datang, yang jauh lebih lama dan lebih signifikan daripada apa yang dialami di dunia, tidak mungkin untuk tidak mempengaruhi hidup kita yang sekarang. Karena itu, jika kita benar-benar beriman, tidaklah mungkin bagi kita untuk tidak merasakan adanya dorongan hati untuk bersyukur atas kasihNya, dan untuk mempersiapkan diri kita sebaik-baiknya untuk masa depan dengan menyempurnakan iman kita (Matius 5: 48). Memang kita diselamatkan hanya karena iman, tetapi iman yang benar akan nampak dalam hidup kita di dunia sebagai hidup yang taat kepada perintah Tuhan.

Kamu lihat, bahwa iman bekerja sama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna.” Yakobus 2: 22

Firman Tuhan mengingatkan kita bahwa iman harus disertai dengan perbuatan yang seirama. Karena kita percaya bahwa kita akan hidup bersama Tuhan di surga, kita harus bisa memakai hidup kita yang sekarang ini untuk kemuliaan Tuhan dan untuk mengasihi sesama kita, baik mereka yang seiman ataupun mereka yang mempunyai kepercayaan yang berbeda.

Kita tidak perlu jauh-jauh melihat adanya orang yang mengaku Kristen tetapi gagal untuk hidup secara Kristen. Sebagai orang Kristen mereka hampir tidak ada bedanya dengan orang lain yang tidak peduli jika ada pelanggaran hukum, keadilan dan hak azasi dalam masyarakat atau menutup mata atas hal-hal buruk yang dilakukan penguasa. Pada pihak yang lain, kita pun sering mengalami pertentangan batin antara melakukan hal yang baik dan tinggal berdiam diri. Pagi ini kita tentunya tahu bahwa hidup sebagai orang Kristen memang lebih mudah dan aman jika dijalankan di lingkungan gereja. Karena itu, kita mungkin ingin memisahkan hidup kerohanian dari hidup sehari-hari. Apa yang kita pelajari dan akui dari Alkitab sering kali hanya menjadi pengetahuan dan bukan pengalaman praktik. Tetapi, bagaimana seseorang bisa mengaku beriman jika ia tidak pernah mau sepenuhnya melaksanakan perintah Tuhan?

“Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa.” Yakobus 4: 17

Kita berbuat baik untuk kemuliaan Tuhan

“Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa.” Yakobus 4: 17

Satu perbedaan besar antara iman Kristen dan kepercayaan yang lain adalah dalam hal berbuat baik. Dalam kepercayaan lain,  berbuat baik, memberi sedekah dan sesajen mungkin dianggap bisa menyelamatkan manusia dari murka Tuhan di dunia. Agama lain juga ada yang menekankan bahwa berbuat kebaikan, terutama untuk sesama, adalah penting untuk menjamin tempat di surga. Selain itu diajarkan pula bahwa makin banyak amal sedekah kita, makin enak hidup kita di surga.

Agama Kristen memang berbeda dengan agama lain karena iman kepada Tuhan yang mahakuasa dan mahasuci tidak memungkinkan manusia berbuat baik untuk menghindari murka Allah atas dosa manusia. Hanya melalui pengurbanan Yesus kita bisa diselamatkan. Selain itu, karena Allah itu mahabesar dan mahakaya, persembahan yang kita berikan tidaklah berarti apa-apa untuk-Nya. Jika kita terpilih oleh panggilan kasih-Nya, kita akan bersama Tuhan di surga dan menikmati segala kemuliaan surgawi yang ada di sana. Tuhan sebenarnya menghendaki persembahan hidup kita dan bukannya persembahan materi. Persembahan materi kita hanyalah untuk menyatakan rasa syukur dan melambangkan penyerahan hidup kita kepada Tuhan.

Karena perbuatan baik manusia itu seolah tidak dipentingkan dalam iman Kristen, banyak orang Kristen yang kurang bersemangat untuk berbuat baik. Bagi mereka, asal tidak berbuat jahat sudah cukup. Pokok tidak ikut-ikutan berbuat dosa, cukuplah!  Biarkan orang lain berbuat dosa, kita tidak perlu ikut campur! Jangan ikut-ikutan berusaha menegakkan hukum dan keadilan karena risikonya besar. Ini sudah tentu bukanlah sikap yang baik, karena mempersembahkan hidup berarti bukan saja menyangkut segi rohani. tetapi juga jasmani kita.

“Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.” Roma 12:1

Dalam sejarah dunia, memang ada orang yang heran dan kagum melihat adanya orang-orang Kristen yang berjuang keras untuk berbuat baik dalam melayani gereja dan masyarakat, menegakkan keadilan sosial dan hukum, memajukan kesehatan dan pendidikan dan sebagainya. Tetapi mungkin ada juga orang yang mencemooh orang Kristen yang demikian dan menuduh mereka itu sekadar mencari keuntungan untuk diri mereka sendiri.

Ayat pembukaan kita di atas jelas mengatakan bahwa jika kita tahu bagaimana harus berbuat baik tetapi tidak melakukannya, kita berdosa. Ini pernyataan yang berat dan tajam. Sudah tentu, setelah Tuhan menggerakkan hati kita untuk menerima anugerah keselamatan, mata kita dicelikkan sehingga kita bisa membedakan apa yang baik dari apa yang jahat. Kita sadar bahwa mencuri misalnya, adalah perbuatan jahat, dan memberi adalah perbuatan baik. Sebagai orang yang sudah bertobat, kita mungkin sudah berhenti berbuat jahat, tetapi belum sepenuhnya merasa terpanggil untuk berbuat baik. Sering kali kita berpikir bahwa ada orang-orang lain yang ditentukan Tuhan untuk berbuat baik dan menjadi pejuang-pejuang Kristen. Kita sendiri cukup menjadi orang Kristen biasa.

Dalam kehidupan kekristenan saat ini, kita menjumpai adanya gereja yang sangat aktif dalam hal pengajaran atau hal penginjilan, dan ada juga yang mementingkan puji-pujian, yang menggaris-bawahi hal kesucian hidup, atau menekankan pelayanan sosial. Semua itu adalah baik asalkan dilandasi dengan hukum Kasih yang diucapkan Yesus Kristus,

“Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini.” Markus 12: 30-31

Kita harus sadar bahwa dalam melaksanakan kedua hukum itu, kita harus menempatkan kewajiban untuk mengasihi Tuhan sebagai hal yang terutama, di atas hal yang kedua yang menyangkut kasih kepada setiap orang. Kita tidak boleh menganggap hal melayani sesama lebih penting dari usaha kita untuk mengasihi Tuhan dengan seluruh hidup kita. Kita harus sadar bahwa kita tidak dapat mengasihi sesama kita dengan cara yang benar jika kita tidak mempunyai hubungan yang baik dengan Tuhan. Pada pihak yang lain, jika kita mengasihi Allah, kita harus juga bisa mengasihi sesama kita seperti apa yang diungkapkan dalam perumpamaan Yesus tentang orang Samaria yang baik hati..

Jikalau seorang berkata: ”Aku mengasihi Allah,” dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya. Dan perintah ini kita terima dari Dia: Barangsiapa mengasihi Allah, ia harus juga mengasihi saudaranya. 1 Yohanes 4: 20-21

Pagi ini kita diingatkan bahwa Tuhan menciptakan seisi dunia ini dengan maksud agar semuanya indah dan baik. Manusia diciptakan-Nya untuk hal-hal yang baik, untuk memuliakan Tuhan; tetapi karena dosa, manusia tidak lagi dapat memenuhi tugas Ilahi itu. Hanya melalui darah Kristus, kita bisa menjadi ciptaan baru. Sebagai ciptaan baru yang bersyukur atas kasih-Nya, panggilan untuk berbuat baik itu diteguhkan kembali.

Menjadi ciptaan baru dalam Tuhan bukanlah hal yang remeh. Adalah sebuah ironi jika kita mau mengaku dosa, bertobat dari hidup lama kita dan menerima hidup baru, tetapi mengabaikan perintah Tuhan untuk berbuat baik. Sangat menyedihkan kalau orang Kristen dapat tidur lelap setelah menyaksikan kejahatan dan penderitaan yang terjadi atas diri orang lain. Hidup baik dengan aktif berbuat baik untuk Tuhan dan sesama adalah ciri manusia yang sudah dilahirkan kembali!

“Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” 2 Korintus 5: 17

Adakah kemarahan yang benar?

“Tetapi sekarang, buanglah semuanya ini, yaitu marah, geram, kejahatan, fitnah dan kata-kata kotor yang keluar dari mulutmu.” Kolose 3: 8

Mengapa orang bisa menjadi sangat marah sampai melakukan perbuatan tercela? Biasanya kemarahan yang luar biasa disebabkan oleh harga diri yang terasa diinjak-injak oleh orang lain. Orang mungkin marah karena perlakuan orang lain, tetapi selama mereka tidak merasa tersudut atau sangat terhina, kemarahan itu biasanya dapat diredakan. Sebaliknya, kemarahan yang didasari oleh kesombongan sering kali membuat orang geram dan mata gelap. Dengan demikian dosa terjadi karena munculnya pikiran dan tindakan jahat yang tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah (Yakobus 1: 20).

Tidak bolehkah orang Kristen marah? Tentu saja boleh jika itu pada tempatnya, misalnya ketika melihat adanya kejahatan atau ketidakadilan dalam hidup bermasyarakat. Walaupun demikian, kemarahan orang Kristen sebenarnya tidak boleh berdasarkan pada kebencian kepada sesama manusia, tetapi kepada kejahatan yang mereka perbuat. Kemarahan yang pantas bukanlah untuk membenarkan diri sendiri, tetapi untuk menegakkan kebenaran.

Kemarahan juga sering terjadi pada umat Kristen yang merasa tidak setuju atas pengertian atau cara hidup orang Kristen yang lain. Sering kali ini disebabkan oleh adanya perbedaan teologi atau pengajaran. Hal ini bisa menimbulkan berbagai debat, polemik dan tindakan lainnya. Dalam hal ini, setiap golongan merasa yakin bahwa golongan lain adalah salah dan mereka sendiri yang benar. Setiap pihak merasa bahwa mereka harus membela kebenaran yang mereka kenal dan Tuhan yang dikenal mereka. Mereka tidak sadar bahwa Tuhan seluruh umat Kristen adalah satu adanya dan Ia mengasihi seluruh umat manusia.

Tuhan kita adalah Tuhan yang mahakasih, tetapi Ia juga Tuhan yang bisa marah kepada umat manusia. Kemarahan yang muncul dalam bentuk yang mengerikan pernah terjadi ketika manusia secara sengaja tidak menghormati-Nya sebagai Tuhan yang mahakuasa dan mahasuci. Karena itu, Alkitab menuliskan bagaimana orang-orang yang melawan atau menipu Tuhan mengalami nasib yang menyedihkan. Walaupun demikian, Tuhan tidaklah membenci semua orang yang jahat. Semua orang pada hakikatnya adalah orang yang jahat, yang seharusnya menerima kebinasaan; tetapi, kepada mereka yang mau bertobat, pengampunan dan keselamatan tersedia untuk mereka.

Sebagai manusia kita memang boleh marah jika itu memang sesuai dengan kehendak Tuhan. Tetapi, kemarahan yang tidak pada tempatnya, yang berlama-lama, yang tidak membawa kebaikan, yang disebabkan oleh kesombongan pribadi, yang mengabaikan hukum kasih, yang tidak berdasarkan kebenaran firman Tuhan, dan yang tidak membawa kemuliaan bagi Tuhan adalah kemarahan yang harus kita hindari. Sebagai umat Tuhan kita percaya bahwa Ia mahaadil dan karena itu kita yakin bahwa Tuhanlah yang pada akhirnya mengambil tindakan yang paling tepat.

“Jangan marah karena orang yang berbuat jahat, jangan iri hati kepada orang yang berbuat curang; sebab mereka segera lisut seperti rumput dan layu seperti tumbuh-tumbuhan hijau.” Mazmur 37: 1 – 2

Ketika Yesus membersihkan bait suci dari para penukar uang dan penjual hewan, Dia menunjukkan emosi dan kemarahan yang besar (Matius 21:12-13; Markus 11:15-18; Yohanes 2:13-22). Emosi Yesus digambarkan sebagai “cinta” untuk rumah Tuhan (Yohanes 2:17). Kemarahannya murni dan sepenuhnya dibenarkan karena pada akarnya adalah kepedulian terhadap kekudusan dan penyembahan Tuhan. Karena ini dipertaruhkan, Yesus mengambil tindakan cepat dan tegas. Ini berbeda dengan saat Yesus menunjukkan kemarahan di sinagoga Kapernaum. Ketika orang-orang Farisi menolak untuk menjawab pertanyaan Yesus, Ia memandang ke sekeliling mereka dengan amarah, sangat tertekan oleh hati mereka yang keras kepala (Markus 3:5).

Sering kali, kita menganggap kemarahan sebagai emosi yang egois dan merusak, yang harus kita hilangkan dari kehidupan kita sama sekali. Namun, fakta bahwa Yesus terkadang menjadi marah menunjukkan bahwa kemarahan itu sendiri adalah normal. Ini dibuktikan di tempat lain dalam Perjanjian Baru. Efesus 4:26 menginstruksikan kita “janganlah berbuat dosa” dan “janganlah matahari terbenam” atas amarah kita. Perintah-Nya bukan untuk menghindari kemarahan (atau menekannya atau mengabaikannya) tetapi untuk menghadapinya dengan benar, pada dan untuk waktu yang tepat.

Marilah kita perhatikan beberapa fakta berikut tentang kemarahan Yesus:

1) Kemarahannya memiliki alasan yang tepat. Dengan kata lain, Dia marah karena alasan yang benar. Kemarahan Yesus tidak muncul dari argumen kecil atau penghinaan pribadi terhadap-Nya. Tidak ada keegoisan yang terlibat.

2) Kemarahannya memiliki fokus yang tepat. Dia tidak marah pada Allah atau pada “kelemahan” manusia. Kemarahannya menargetkan perilaku berdosa dan ketidakadilan sejati.

3) Kemarahannya memiliki pendukung yang tepat. Markus 3:5 mengatakan bahwa kemarahan-Nya disertai dengan kesedihan karena kurangnya iman orang-orang Farisi. Kemarahan Yesus berasal dari kasih kepada orang-orang Farisi dan kepedulian terhadap kondisi rohani mereka. Itu tidak ada hubungannya dengan kebencian atau niat buruk.

4) Kemarahannya memiliki kontrol yang tepat. Yesus tidak pernah lepas kendali, bahkan dalam murka-Nya. Para pemimpin bait suci tidak menyukai pembersihan bait-Nya (Lukas 19:47), tetapi Dia tidak melakukan dosa apa pun. Dia mengendalikan emosi-Nya; tetapi emosi-Nya tidaklah mengendalikan Dia.

5) Kemarahannya memiliki durasi yang tepat. Dia tidak membiarkan kemarahan-Nya berubah menjadi kepahitan; Dia tidak menyimpan dendam. Dia menangani setiap situasi dengan benar, dan Dia menangani kemarahan pada waktu yang tepat.

6) Kemarahannya memiliki hasil yang tepat. Kemarahan Yesus memiliki konsekuensi tak terelakkan dari tindakan saleh. Kemarahan Yesus, seperti juga semua emosi-Nya, dikendalikan oleh Firman Bapa; jadi, tanggapan Yesus adalah selalu untuk menggenapi kehendak Bapa.

Pagi ini, kita disadarkan bahwa adalah fakta jika kita marah, terlalu sering kita memiliki kendali yang tidak tepat atau fokus yang tidak tepat. Sering kali kemarahan kita seakan menghancurkan orang lain dan bahkan sesama orang beriman. Dengan demikian, kita bisa gagal dalam satu atau lebih poin di atas. Inilah murka manusia, yang tentangnya kita diberitahu, “Setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah, sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah” (Yakobus 1:19-20). Kita harus ingat bahwa Yesus tidak pernah menunjukkan kemarahan manusia yang membawa kehancuran, tetapi kemarahan Allah yang adil yang bisa membawa manusia ke arah pertobatan.

Perdebatan antar umat Kristen

“Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan! Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat, dan dengan hati nurani yang murni, supaya mereka, yang memfitnah kamu karena hidupmu yang saleh dalam Kristus, menjadi malu karena fitnahan mereka itu.” 1 Petrus 3: 15 – 16

Dalam kehidupan bergereja, pada umumnya jemaat menghormati para pemimpin gereja, penatua dan pendeta. Walaupun demikian, dengan perubahan sosial, hukum, teknologi dan pendidikan, para pemimpin gereja sekarang sering juga harus menghadapi berbagai komentar, kritik dan bahkan tantangan yang berasal dari jemaat atau orang Kristen yang lain. Perdebatan dan pertengkaran sering terjadi di antara umat Kristen baik secara langsung atau melalui media.

Bagi mereka yang hidup di daerah yang sudah terjangkau teknologi, komunikasi antar manusia mengenai soal kepercayaan mungkin lebih sering terjadi melalui media sosial. Kita bisa mengikuti debat antar agama, antar aliran gereja dan antar individu melalui Youtube, Whatsapp, Facebook dan sejenisnya. Terkadang diskusi semacam ini menjadi sangat hangat dan berkelanjutan dengan saling menyerang dan saling merendahkan yang lain. Sungguh menyedihkan.

Karena kemajuan teknologi, banyak yang menduga bahwa menjadi umat Tuhan tidaklah semudah abad-abad yang lalu. Itu ada benarnya. Tetapi pada zaman rasul-rasul keadaan gereja tidaklah serba tenang dan tenteram. Karena pada saat itu gereja baru mulai tumbuh, berbagai masalah internal dan eksternal sering menyebabkan ketegangan dan pertengkaran. Peraturan gerejani, sosial dan organisasi pada waktu itu masih sangat minim, dan masyarakat tentunya masih bergumul dalam hal etika dan hukum. Karena itu, sering terjadi berbagai persengketaan di antara umat Tuhan.

Bayangkan jika anda berjumpa dengan seseorang teman lama. Mungkin perjumpaan itu diawali dengan basa-basi, tetapi kemudian muncul pertanyaan apakah anda pergi ke gereja setiap minggu; dan selanjutnya perbincangan berlanjut dengan hal iman Kristen. Jika orang itu mengira bahwa anda kurang mempunyai pengertian tentang iman, ada kemungkinan ia kemudian mencoba untuk menjelaskan bahwa mendalami iman adalah perlu. Mungkin, orang itu kemudian mencoba untuk memperkenalkan apa yang benar dan baik menurut apa yang dipercayainya. Ini juga dapat menimbulkan salah mengerti dan percekcokan yang bisa membuat persahabatan menjadi hancur.

Ayat di atas mengajarkan bahwa jika orang mempertanyakan hal iman kita, kita harus menjawabnya dengan lemah lembut dan hormat, tanpa maksud buruk, supaya mereka yang membenci kita menjadi malu karena hidup dan sikap kita yang tak bercela. Baik dalam kehidupan sehari-hari atau dalam pertemuan di dunia maya, berbeda dengan apa yang dilakukan oleh orang tidak mengenal Kristus, orang Kristen harus menyatakan kasihnya kepada sesama manusia. Mengasihi sesama manusia bukanlah berarti hanya mengasihi orang yang seiman dan segolongan saja, tetapi semua orang yang hidup di dunia. Mengasihi berarti menghargai orang lain dan mau menolong mereka yang dalam kesulitan. Sekalipun kita tidak menyetujui apa yang dilakukan atau dipercayai orang lain, kita tidak dengan sengaja mencari musuh dengan berusaha menghancurkan atau menghina mereka.

Action speaks louder than words. Apa yang kita perbuat adalah lebih efektif dari kata-kata, begitu kata peribahasa Inggris. Kita boleh berdebat dengan orang lain mengenai hal iman, tetapi pada akhirnya apa yang lebih mudah dimengerti adalah tingkah laku kita dalam kehidupan sehari-hari. Jika kita benar-benar sudah menerima penebusan Kristus, hidup kita pastilah diisi dengan kasih, sukacita  dan kelemahlembutan. Dengan demikian, banyaklah orang yang mengambil keputusan untuk mau mengenal Kristus karena mereka melihat Dia hidup dalam diri kita.

Apa yang ditulis Paulus adalah cocok untuk diperhatikan dan dilaksanakan oleh setiap umat Kristen, terutama para pemimpin jemaat. Paulus menasihati kita untuk menghindari perdebatan tentang soal-soal yang dicari-cari, yang bodoh dan tidak layak. Semua orang tentunya tahu bahwa soal-soal itu cenderung menimbulkan pertengkaran. Kita sebagai pengikut Tuhan tidak boleh bertengkar, tetapi sebaliknya harus ramah terhadap semua orang.

Bagaimana kita harus menghadapi mereka yang gemar mendebat firman Tuhan? Kita harus mampu mengajar dengan sabar dan dengan lemah lembut dan dapat menuntun orang yang suka melawan, sebab mungkin Tuhan masih memberikan kesempatan kepada mereka untuk bertobat dan memimpin mereka sehingga mereka mengenal kebenaran. Biarlah firman Tuhan di hari Minggu ini memberikan kita insentif untuk bisa menjadi terang dunia!

“Hindarilah soal-soal yang dicari-cari, yang bodoh dan tidak layak. Engkau tahu bahwa soal-soal itu menimbulkan pertengkaran, sedangkan seorang hamba Tuhan tidak boleh bertengkar, tetapi harus ramah terhadap semua orang. Ia harus cakap mengajar, sabar dan dengan lemah lembut dapat menuntun orang yang suka melawan, sebab mungkin Tuhan memberikan kesempatan kepada mereka untuk bertobat dan memimpin mereka sehingga mereka mengenal kebenaran” 2 Timotius 2: 23 – 25

Evangelism is not about bringing people to our church

“Go therefore, and make disciples of all nations, and baptize them in the name of the Father and of the Son and of the Holy Spirit.” Matthew 28:19

The Great Commission of Jesus above must have been read by all Christians. The term was introduced by an Austrian evangelist, Justinian von Welz (1621–88), and popularised by Hudson Taylor, almost 200 years later. Jesus gave the command that all nations should be made disciples of Him. What exactly did Jesus mean? Does He command us to Christianise all people in the world or does He command us to invite people to come to our church?

The term “Christianisation” is a sensitive term for non-Christians. History shows that various countries have experienced bad events when Christianity was introduced to the society. Various methods of evangelism are used, including some bad ones. Currently, this term still often creates tension among religions. What is our real motivation when it comes to preaching the gospel?

Indeed, the main task of Christians is to spread the gospel. Therefore, many Christians passionately desire that other too can be saved. Because of this, it is often seen in various media that there are various speeches, writings and recordings that are “loud” and attack people of other religions or with different theology. Is that okay? The Bible states that even if the cause is good, evangelism must be carried out in a good way because otherwise chaos and hatred will arise.

“The purpose of that advice is love that comes from a pure heart, from a pure conscience and from sincere faith. But there are those who do not reach that goal and who go astray in vain talk.” 1 Timothy 1:5-7

Paul in his letter to Timothy stated that to bring others to salvation, believers must be able to give true advice. He explains that if we are trying to bring others to safety, it must be done without giving rise to pointless debates that lead to chaos.

The purpose of the exhortation is to express love that comes from a pure heart, from a pure conscience and from sincere faith. Not based on hatred, dislike, or self-interest. Thus, the purpose of preaching the Gospel is to express our love to those who do not know God, so that they will realize how great His love is, who gave His only begotten Son to atone for the sins of those who believe. Therefore, everyone who then believes in God will have His love. Those who sow God’s love will reap love and not hate.

Indeed, there are those who say that the ends justify the means. Those who have good intentions should not hesitate to act. For Christians, of course, the goal does not justify the means. If the goal must be good, so must the means to achieve it. This is not easy to do because often people are ambitious to achieve good results in the shortest possible time and in the easiest possible way. Indeed, there is a sense of satisfaction and perhaps a sense of pride if success can be felt without having to wait for long. If the church is full of visitors, they think that it is a testament to their evangelistic success.

In Acts 8:26-40, an Ethiopian eunuch who was on a horse-drawn carriage trip to Jerusalem complained to Philip that he could not understand what he was reading unless someone helped. Philip, who with God’s instructions, was able to meet the eunuch, then had the opportunity to sit side by side in a horse-drawn carriage and explain the meaning of God’s words so that the eunuch finally understood and asked to be baptised.

Philip had indeed carried out the commandment of Jesus in Matthew 28:19 above. However, without the Holy Spirit everything will be in vain. Philip needed the Holy Spirit to choose a certain path that would allow him to meet the eunuch. It was also the Holy Spirit that enabled Philip to communicate with the eunuch. And it was the Spirit who guided the eunuch and opened his heart and mind so that he believed and wanted to be baptised.

If growing the number of churchgoers can be done by anyone, the reason is that there are people, like Philip and the Ethiopian eunuch, willing to listen to God’s voice in their lives and open their lives so that the Holy Spirit can work freely. In other words, humans can become disciples of God not because of their own efforts. Even if we work as hard as we can, we ourselves cannot make other people become disciples of God. The all-knowing God calls those whom He wills. All we can do is spread the gospel and live according to God’s command so that everyone around us can see God’s love.

“So let your light shine before people, that they may see your good works and glorify your Father who is in heaven.” Matthew 5:16

The true task of Christians in fulfilling the Great Commission is not to force people to become Christians nor to persuade them to come to our church, but to share the good news and God’s blessings with those who live in physical and spiritual drought, so that with the guidance of the Holy Spirit they will answer “yes”. This task, although it will not bring everyone to salvation, can make many people understand the principles of life and ethics based on the love of Christians. They will also be able to see that as Christians we are also active in enforcing the law, defending the weak and establishing social justice in society.

“But you will receive power when the Holy Spirit has come upon you, and you will be my witnesses in Jerusalem and in all Judea and Samaria and to the ends of the earth.” Acts 1: 8

Menginjil bukan untuk membawa orang ke gereja kita

“Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus.” Matius 28: 19

Amanat Agung Yesus di atas pasti pernah dibaca semua orang Kristen. Istilah “the Great Commission” ini diperkenalkan oleh seorang penginjil asal Austria, Justinian von Welz (1621–88), dan dipopulerkan oleh Hudson Taylor, hampir 200 tahun sesudahnya. Yesus memberi perintah agar semua bangsa dijadikan murid-Nya. Apa sebenarnya maksud Yesus? Apakah Ia memerintahkan kita untuk mengkristenkan semua manusia di dunia? Ataukah Ia memerintahkan kita untuk mengundang orang banyak untuk datang ke gereja kita?

Istilah “kristenisasi” adalah istilah yang sensitif bagi orang-orang yang bukan Kristen. Sejarah menunjukkan bahwa berbagai negara pernah mengalami peristiwa buruk ketika agama Kristen mulai diperkenalkan kepada masyarakat. Berbagai cara penginjilan dipakai, termasuk cara-cara yang tidak baik. Di zaman ini, istilah ini masih sering menimbulkan ketegangan antar agama. Bagaimana sebenarnya posisi kita dalam hal mengabarkan injil?

Memang tugas utama umat Kristen adalah mengabarkan injil. Oleh sebab itu, banyak orang Kristen dengan semangat yang menggebu-gebu ingin agar orang lain juga bisa diselamatkan. Karena itu, sering terlihat di berbagai media adanya berbagai pidato, tulisan dan rekaman yang bernada keras dan menyerang orang yang beragama lain atau yang berbeda teologinya. Baikkah itu? Alkitab menyatakan bahwa sekalipun tujuannya baik, penginjilan harus dilaksanakan dengan cara yang baik karena jika tidak, kekacauan dan kebencian justru akan muncul.

“Tujuan nasihat itu ialah kasih yang timbul dari hati yang suci, dari hati nurani yang murni dan dari iman yang tulus ikhlas. Tetapi ada orang yang tidak sampai pada tujuan itu dan yang sesat dalam omongan yang sia-sia.” 1 Timotius 1: 5 – 7

Paulus dalam suratnya kepada Timotius menyatakan bahwa untuk membawa orang lain kepada keselamatan, orang percaya harus bisa memberi nasihat yang benar. Ia menjelaskan jika kita berusaha membawa orang lain kepada keselamatan, itu harus dilakukan tanpa menimbulkan perdebatan sia-sia yang menimbulkan kekacauan.

Tujuan nasihat itu ialah untuk menyatakan kasih yang timbul dari hati yang suci, dari hati nurani yang murni dan dari iman yang tulus ikhlas. Bukan didasarkan pada kebencian, rasa tidak suka atau kepentingan pribadi. Dengan demikian, tujuan mengabarkan Injil adalah untuk menyatakan kasih kita kepada mereka yang belum mengenal Tuhan, agar mereka menyadari betapa besar kasih-Nya yang sudah menurunkan Anak-Nya yang tunggal untuk menebus dosa mereka yang percaya. Karena itu, setiap orang yang kemudian percaya kepada Tuhan akan memiliki kasih-Nya. Orang yang menabur kasih Tuhan akan menuai kasih dan bukan kebencian.

Memang ada orang yang berkata bahwa tujuan menghalalkan cara. Siapa yang mempunyai maksud baik, tidak perlu ragu-ragu untuk bertindak. Bagi orang Kristen, sudah tentu tujuan tidak menghalalkan cara. Jika tujuan harus baik, begitu juga cara untuk mencapainya. Ini bukanlah mudah untuk dilakukan karena sering kali orang berambisi untuk mencapai hasil baik dalam waktu yang sesingkat mungkin dan dengan cara yang semudah mungkin. Memang, ada rasa puas dan mungkin rasa bangga jika keberhasilan dapat dirasakan tanpa harus menunggu lama. Jika gereja penuh dengan pengunjung, mereka berpikir bahwa itu adalah bukti kesuksesan penginjilan mereka.

Dalam Kisah 8: 26-40, seorang sida-sida Etiopia yang sedang dalam perjalanan berkereta kuda ke Yerusalem, mengeluh kepada Filipus bahwa dia tidak mungkin mengerti apa yang dibacanya jika tidak ada orang yang menolong. Filipus yang dengan petunjuk Tuhan dapat bertemu dengan sida-sida itu, kemudian memperoleh kesempatan untuk duduk berdampingan dalam kereta kuda dan menjelaskan arti firman Tuhan sehingga sida-sida itu akhirnya bisa mengerti dan minta untuk di baptiskan. 

Filipus memang sudah menjalankan perintah Yesus dalam Matius 28:19 diatas. Tetapi, tanpa Roh Kudus segala sesuatunya akan sia-sia. Filipus membutuhkan Roh Kudus untuk memilih jalan tertentu yang memungkinkan ia bertemu dengan sida-sida itu. Roh Kudus jugalah yang membuat Filipus dapat berkomunikasi dengan sida-sida itu. Dan Roh jugalah yang membimbing sida-sida itu dan membuka hati dan pikirannya sehingga ia percaya dan mau dibaptiskan.

Jika menumbuhkan jumlah pengunjung gereja dapat dilakukan setiap orang dengan segala cara, apa yang menumbuhkan jumlah orang percaya adalah adanya orang yang seperti Filipus dan sida-sida Etiopia, mau mendengarkan suara Tuhan dalam hidupnya dan membuka hidupnya agar Roh Kudus bisa bekerja dengan bebas. Dengan kata lain, manusia dapat menjadi murid Tuhan sebenarnya bukan karena usaha manusia.

Sekalipun kita bekerja sekuat tenaga, kita sendiri tidak dapat membuat orang lain menjadi murid Tuhan. Tuhan yang mahatahu memanggil orang-orang yang mau dipanggil-Nya. Yang dapat kita lakukan adalah mengabarkan Injil dan hidup menurut perintah Tuhan agar semua orang disekitar kita bisa melihat kasih Tuhan.

“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” Matius 5: 16

Tugas umat Kristen dalam memenuhi Amanat Agung bukanlah memaksa orang untuk menjadi Kristen dan bukan juga untuk mengajak mereka untuk datang ke gereja kita, tetapi untuk membagikan kabar baik dan berkat Tuhan kepada mereka yang hidup dalam kekeringan jasmani dan rohani, sehingga dengan bimbingan Roh Kudus mereka mau untuk menjawab “ya”. Tugas ini, sekalipun tidak akan membawa semua orang ke dalam keselamatan, bisa membuat banyak orang untuk mengerti prinsip hidup dan etika yang berdasarkan kasih dari orang Kristen. Mereka akan juga dapat melihat bahwa selaku orang Kristen kita juga aktif dalam menegakkan hukum, membela yang lemah dan membentuk keadilan sosial dalam mayrarakat.

“Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.” Kisah 1: 8

Jesus came for those who admit their sins

Jesus said to him, “Today salvation has come to this house, because this man too is the son of Abraham. For the Son of Man came to seek and to save that which was lost.” Luke 19: 9-10

The story of Zacchaeus the tax collector is a record of Jesus’ encounter with a convert. This story is very well known, especially among Sunday school children who have a special song about Zacchaeus being short.

The Lord Jesus used the “tax collector” as a model for repentant people. Through the parable of the Pharisee and the tax collector, we see that He rebuked the proud Pharisee for his own righteousness and accepted the publican’s humility and repentance. He also did not hesitate to choose a tax collector to enter the class of the twelve Apostles, namely Matthew.

Christ considered the door of repentance open to all. He came to offer salvation to anyone who believes in Him. When the disciples asked why their teacher ate with tax collectors and sinners, Jesus replied that it is not the healthy who need a healer, but the sick. He came not to call the righteous, but sinners, to repentance (Luke 5:31-32).

Zacchaeus appears to have heard of Jesus, His teachings and miracles, and that Jesus accepted tax collectors and “eat and drink with sinners” (Luke 5:30). Perhaps this is where his longing to see Jesus grew, to know who He is. But two obstacles stood in the way of his initial encounter with Jesus.

The first is that many people do not welcome the existence of “sinners” among them, and the second is that Zacchaeus was short, not only physically, but spiritually as well. However, these obstacles did not prevent him from committing acts that were considered childish and shameful that were inconsistent with the behaviour befitting his status as “chief tax collector”.

Zacchaeus didn’t care about what people would say about him, about their criticism and ridicule. He just wanted to see Jesus, who forced him to climb a fig tree. But we read that before he saw Jesus, Christ had seen him. In the same way, God is always willing to meet us, if only He sees that we want and keen to meet Him.

When Jesus came to that place, He saw Zacchaeus sitting on a fig tree and said: “Zacchaeus, come down quickly, for today I must stay at your house.” We may wonder: why did Jesus want to visit the house of a stranger? But of course, Jesus knew who Zacchaeus was and what was in his life. Jesus could see that Zacchaeus really wanted to live a good life, but never succeeded on his own.

At this point, having been invited by Christ to come down from the tree, Zacchaeus rushed down and was eager to welcome Jesus into his home. Regarding this, the church father Augustine once said: “The Lord, who has welcomed Zacchaeus into His heart, is now ready to be welcomed by Zacchaeus into his home.” Jesus had acted before Zacchaeus could express his heart and desires. And Zacchaeus welcomed Jesus’ actions with open arms.

None of Zacchaeus’s actions and efforts were in vain because Jesus chose him from the great crowd that surrounded Him, to enter his house and receive blessings and salvation. Zacchaeus became the chosen one. We should notice that Jesus expressed His will but did not force Zacchaeus. It shows us how God values every human effort, no matter how small or seemingly insignificant, and He complements it with Divine initiative, which in Christian theology is referred to as synergy or cooperation between human and Divine efforts.

Throughout the Bible, we see that every example of the Lord Jesus accepting one sinner is met with criticism from the crowd. This incident was no exception. The evangelist Luke records that everyone who saw this groaned and said that Jesus had come to the house of a sinner. But the crowd’s hostile attitude did not stop Zacchaeus from pursuing his path to full repentance. No one who has truly felt Jesus with his heart can live in his crimes much longer. Zacchaeus stood up and said to Christ, “Lord, half of what I have I will give to the poor, and if I have extorted anything from anyone I will give back four times as much.” Before Jesus confessed his guilt, Zacchaeus wanted to humble himself and confess his sin.

Zacchaeus showed genuine repentance through his actions, not only through his words but through his actions. Not only did he confess, but he also showed a willingness to return what he had done the wrong way, and he not only promised this, but did it. His sincerity is expressed by his willingness to return four times what he earned the wrong way. Indeed, a living faith is faith with works (James 2:13-26.

This confession and attitude of repentance was enough for Jesus, who said: “Today salvation has come to this house, because this man too is a son of Abraham”. Zacchaeus was not one of Abraham’s descendants according to the body, but as a son of Abraham according to faith. The Lord Jesus came again and reminded the crowds and His disciples about the essence of ministry in His message: “For the Son of Man came to seek and save the lost.” It was a call to repentance, which became the starting point in Christ’s ministry in the world.

For Jesus, Zacchaeus was not only a sinful tax collector, but also a project of repentance. Christ saw Zacchaeus differently than the crowd did. He looked at him with a look of compassion, love and acceptance, and it was this look that prompted Zacchaeus to open his heart to repentance and then open his home to accept Jesus as Saviour.

What if we were Zacchaeus this morning? Can we express our repentance like him? We Christians must be like Zacchaeus to overcome the crowds and busyness of the world that prevent us from seeing Christ. We must be willing to humbly overcome our little faith and use the opportunities available to meet our Saviour in person. God wants and can change our lives if we open the doors of our hearts.