Tuhan tidak memaksa orang yang tidak mau diselamatkan

“Tetapi kami memberitakan Kristus yang disalibkan: untuk orang-orang Yahudi suatu batu sandungan dan untuk orang-orang bukan Yahudi suatu kebodohan, tetapi untuk mereka yang dipanggil, baik orang Yahudi, maupun orang bukan Yahudi, Kristus adalah kekuatan Allah dan hikmat Allah.” 1 Korintus 1: 23-24

Dalam sejarah ada tercatat bahwa banyak penduduk asli sebuah negara tertentu menganut satu agama baru setelah datangnya orang-orang yang menjajah negara itu. Sering kali dilaporkan bahwa penduduk asli negara itu “dipaksa” atau “terpaksa” untuk menganut agama baru itu. Kedatangan pendatang baru memang bisa menimbulkan perkawinan campur dan munculnya pendidikan, pengaruh dan bahkan pemaksaan agar penduduk asli negara itu ikut menjalankan adat-istiadat dan juga agama si pendatang. Jika itu benar terjadi dalam konteks perkembangan agama Kristen, apakah Tuhan memang memaksa manusia untuk percaya kepada-Nya?

Untuk mengerti hal ini, penting bagi kita untuk memahami bagaimana kita menjadi seorang Kristen, yaitu bagaimana kita diselamatkan. Alkitab mengajarkan bahwa kita diselamatkan oleh kasih karunia Allah, bukan karena kehendak dan perbuatan kita sendiri, atau karena perbuatan orang lain. Keselamatan kita tidak bergantung pada apa yang dilakukan manusia sebelum atau bahkan setelah kita diselamatkan. Kita dibenarkan hanya karena apa yang Yesus lakukan. Selain itu, semua dosa kita telah diampuni melalui kematian dan kebangkitan Kristus: di masa lalu, sekarang dan di masa depan. Dalam arti rohani, kita telah “disempurnakan” oleh iman kita.

“Sebab oleh satu korban saja Ia telah menyempurnakan untuk selama-lamanya mereka yang Ia kuduskan.” Ibrani 10: 14

Seseorang mungkin berkata, “Ya, Roh Kudus menarik kita kepada Tuhan, tetapi kita dapat menggunakan kebebasan kita untuk menolak atau menerima penarikan itu.” Itu sebenarnya pernyataan yang tidak benar. Jawaban yang benar adalah: kecuali ada upaya terus-menerus dari anugerah keselamatan, kita akan selalu menggunakan kebebasan kita untuk melawan Tuhan. Itulah yang dimaksud dengan “tidak dapat tunduk kepada Tuhan”. Manusia dalam kodratnya, selalu ingin melakukan apa yang melawan Tuhan. Jika seseorang menjadi cukup rendah hati untuk tunduk kepada Tuhan, itu berarti bahwa Tuhan telah memberi orang itu sifat baru yang rendah hati. Jika seseorang tetap berkeras hati dan sombong untuk tunduk kepada Tuhan, itu karena orang itu belum diberi semangat dan kemampuan untuk tunduk kepada Tuhan.

Jelas dari sini bahwa kasih karunia keselamatan Tuhan tidak pernah menyiratkan bahwa Tuhan memaksa kita untuk percaya jika itu bertentangan dengan keinginan kita. Memang, ada orang Kristen yang percaya bahwa kehendak Tuhan tentu tidak dapat dibantah atau dilawan oleh manusia. Tetapi, manusia dalam dosanya selalu cenderung untuk tidak menurut kepada Allah. Sebaliknya, Tuhan mempunyai kuasa untuk memungkinkan (bukan memaksa) orang untuk mau mendengar-Nya. Kasih karunia Tuhan bisa dibayangkan sebagai khotbah dan kesaksian yang mencoba untuk membujuk orang untuk melakukan apa yang masuk akal dan apa yang sesuai dengan kepentingan terbaik mereka. Di sini, pertobatan juga termasuk karunia Allah.

Lalu Ia berkata: ”Sebab itu telah Kukatakan kepadamu: Tidak ada seorang pun dapat datang kepada-Ku, kalau Bapa tidak mengaruniakannya kepadanya.” Yohanes 6:65

Yohanes tidak hanya mengatakan bahwa keselamatan adalah karunia Allah. Dia mengatakan bahwa prasyarat keselamatan juga adalah sebuah anugerah. Ketika seseorang mendengar seorang pengkhotbah menyerukan pertobatan, dia dapat menolak panggilan itu. Tetapi jika Tuhan memberinya karunia pertobatan, dia tidak dapat menolak karena itu adalah penghapusan perlawanan. Tidak mau bertobat sama dengan menolak Roh Kudus. Jadi jika Tuhan memberikan Roh Kudus yang bekerja sepenuhnya, itu sama saja dengan menghilangkan perlawanan.

Kembali ke ayat pembukaan dari 1 Korintus 1: 23-24 di atas, kita bisa melihat adanya dua jenis “panggilan” :

Pertama, pemberitaan Paulus ditujukan kepada semua orang, baik orang Yahudi maupun orang Yunani. Ini adalah panggilan umum Injil. Ini menawarkan keselamatan bagi semua orang yang akan percaya kepada Kristus yang disalibkan. Tetapi pada umumnya itu jatuh di telinga yang tidak mau menerima dan disebut kebodohan.

Tetapi kemudian, kedua, Paulus mengacu pada jenis panggilan yang lain. Dia mengatakan bahwa di antara mereka yang mendengar ada beberapa yang “dipanggil” sedemikian rupa sehingga mereka tidak lagi menganggap salib sebagai kebodohan tetapi sebagai hikmat dan kuasa Tuhan. Jika semua orang yang dipanggil dalam pengertian ini menganggap salib sebagai kekuatan Tuhan, maka sesuatu dalam panggilan itu harus mempengaruhi iman. Ini adalah sesuatu yang luar biasa dan yang tidak dapat ditolak.

Lebih lanjut dijelaskan dalam 2 Korintus 4: 6, “...yaitu orang-orang yang tidak percaya, yang pikirannya telah dibutakan oleh ilah zaman ini, sehingga mereka tidak melihat cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus, yang adalah gambaran Allah. Sebab bukan diri kami yang kami beritakan, tetapi Yesus Kristus sebagai Tuhan, dan diri kami sebagai hambamu karena kehendak Yesus. Sebab Allah yang telah berfirman: ”Dari dalam gelap akan terbit terang!”, Ia juga yang membuat terang-Nya bercahaya di dalam hati kita, supaya kita beroleh terang dari pengetahuan tentang kemuliaan Allah yang nampak pada wajah Kristus. Karena manusia dibutakan oleh dosa akan nilai Kristus, diperlukan mukjizat agar mereka dapat melihat dan percaya. Paulus membandingkan mukjizat ini dengan hari pertama penciptaan ketika Tuhan berkata, “Jadilah terang.” Sebenarnya ini adalah ciptaan baru, atau kelahiran baru. Inilah yang dimaksud dengan panggilan yang efektif dalam 1 Korintus 1:24.

Mereka yang terpanggil dibukakan matanya oleh kuasa penciptaan Allah yang berdaulat sehingga mereka tidak lagi melihat salib sebagai kebodohan tetapi sebagai kekuatan dan hikmat Allah. Panggilan yang efektif adalah keajaiban menghilangkan kebutaan kita. Jadi, sekalipun Tuhan tidak memaksa manusia untuk percaya kepada-Nya, Ia bekerja dan memberi manusia kemampuan untuk melihat jalan kebenaran dan tidak terus menerus melawan uluran tangan kasih-Nya. Ini adalah cara kerja Tuhan yang bisa menaklukkan orang yang ingin diselamatkan-Nya. Mereka akan menjadi orang-orang percaya.

Perlu diketahui bahwa tidak semua orang yang mengaku sebagai orang percaya benar-benar diselamatkan. Orang bisa saja mengaku atau merasa sebagai seorang Kristen walaupun belum benar-benar dilahirkan kembali oleh iman kepada Yesus Kristus. Dalam kasus seperti itu, orang tersebut akan terus berbuat dosa tanpa pertobatan karena mereka terus menerus melawan Roh Kudus yang berusaha menginsafkan mereka ke arah hidup yang benar dan yang menyenangkan Tuhan. Karena kita sulit untuk membedakan perbedaan antara orang Kristen yang tidak taat dan orang yang tidak percaya yang terus berbuat dosa, kita harus menahan diri dari membuat penilaian atau menarik kesimpulan tentang keselamatan seseorang hanya berdasarkan perilaku mereka. Penginjilan harus tetap dilakukan agar makin banyak orang yang mau mendengar panggilan untuk menjadi umat-Nya. Tuhan bisa membuat panggilan ini sebagai sesuatu yang mencelikkan mata rohani mereka untuk bisa mau menjawab “ya’ atas keselamatan yang ditawarkan oleh Yesus Kristus.


Hikmat untuk menghadapi masa depan

“Ketahuilah, demikian hikmat untuk jiwamu: Jika engkau mendapatnya, maka ada masa depan, dan harapanmu tidak akan hilang.” Amsal 24:14

Hari Sabtu mendatang ini, Australia akan menyelenggarakan pemilihan umum. Siapa pun yang akan terpilih sebagai perdana menteri harus siap untuk menghadapi berbagai tantangan. Mengapa begitu? Pandemi COVID-19 sudah memporak-porandakan banyak negara, termasuk negara-negara yang besar dan kaya. Karena itu, krisis ekonomi, sosial, hukum dan politik sudah mulai muncul di berbagai negara. Dengan banyaknya orang yang kehilangan pekerjaan, kebutuhan sehari-hari semakin sulit untuk diperoleh. Apalagi harga bahan makanan pun mulai naik karena inflasi yang makin meroket.

Tidak ada seorang pun yang tahu bagaimana dan kapan krisis kehidupan ini bisa diatasi sepenuhnya. Jika ada orang yang mencoba membuat prediksi tentang hal itu, semuanya hanya berdasarkan asumsi-asumsi tertentu yang belum tentu benar. Yang pasti, keadaan sosial dan ekonomi dunia ini akan menjadi makin buruk, paling tidak sampai akhir tahun ini. Karena itu, semua orang harus memikirkan bagaimana tahun ini bisa dilewati dengan baik. Setiap orang harus berhati-hati dalam membuat keputusan dalam keadaan yang tidak menentu pada saat ini.

Kebijaksanaan untuk mengambil keputusan harus dipunyai semua orang. Masa depan sepenuhnya ada di tangan kita, begitu sebagian orang berpendapat. Tetapi, sebagian orang sebaliknya yakin bahwa masa depan manusia ada di tangan Tuhan sepenuhnya. Mana yang benar? Bagi umat Kristen, sudah tentu apa saja yang terjadi adalah seizin Tuhan dan sesuai dengan rancangan-Nya. Tetapi ini bukan berarti manusia tidak perlu mengambil keputusan untuk mengatur hidupnya. Manusia harus menggunakan hikmat kebijaksanaan yang diterimanya dari Tuhan untuk dapat mengatur seisi dunia seperti apa yang diperintahkan Tuhan sejak awalnya (Kejadian 1: 28). Dengan demikian, menolak tanggung jawab untuk berusaha dan bekerja adalah dosa.

Dalam berusaha dan bekerja manusia haruslah melakukan apa yang sesuai dengan kehendak Tuhan. Jika manusia hanya mau melakukan apa yang dikehendaki mereka, Tuhan bisa menghentikan atau mengubah arah tujuannya agar sesuai dengan rancangan-Nya. Tuhan yang berkuasa tidak akan kehilangan jejak atau terlena jika manusia melakukan tindakan apa pun di dunia, dan dihadapan-Nya tidak ada seorang pun yang bisa menyembunyikan dosa dan kesalahannya.  Manusia selalu harus bertanggung jawab 100% atas apa yang dilakukannya. Karena itu, bagi kita umat Kristen, adalah bijak jika kita mau bekerja dan menjalankan tugas kita seperti yang dikehendaki-Nya. Kita harus memakai hikmat kebijaksanaan yang ada pada kita untuk bisa mencapai hasil yang baik. Hikmat kebijaksanaan dan hasil baik yang bagaimana?

Jika manusia hanya memakai hikmat dan kebijaksanaannya sendiri, apa yang diperbuatnya hanya menghasilkan sesuatu yang bodoh dimata Tuhan. Manusia tanpa Tuhan adalah bagaikan layang-layang yang ingin terbang tinggi tanpa menyadari bahwa talinya sudah putus.

Karena hikmat dunia ini adalah kebodohan bagi Allah. Sebab ada tertulis: “Ia yang menangkap orang berhikmat dalam kecerdikannya.”`1 Korintus 3: 19

Hikmat kebijaksanaan yang berkenan kepada Tuhan hanya bisa diperoleh dari Tuhan sendiri. Hanya dengan mengenal Tuhan dan perintah-Nya, manusia akan dapat bekerja dan mengambil tindakan yang sesuai dengan kehendak Tuhan. Mereka yang tidak takut akan Tuhan tidaklah mengenal Tuhan, dan karena itu mereka tidak dapat mengerti bahwa hidup mereka seharusnya untuk memuliakan Tuhan.

Pagi ini, kita sadar bahwa tantangan dan perjuangan besar ada di depan kita. Tetapi kita juga sadar bahwa Tuhan adalah lebih besar dari semuanya. Karena itu, dengan menyadari kuasa Tuhan, marilah kita hidup dengan rasa takut akan Dia. Takut bukan berarti kita merasa bahwa Ia kejam, yang sudah menentukan nasib kita; sebaliknya, kita percaya bahwa Ia adalah Tuhan yang mahakuasa dan mahakasih. Ia menghendaki umat-Nya untuk mempunyai hidup yang berbahagia dan karena itu mau mengaruniakan hikmat kebijaksanaan kepada mereka yang tunduk kepada-Nya. Dengan hikmat kebijaksanaan dari Tuhan, kita akan mempunyai harapan untuk masa depan.

Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN, semua orang yang melakukannya berakal budi yang baik. Puji-pujian kepada-Nya tetap untuk selamanya.” Mazmur 111:10

Kita bertanggung jawab sepenuhnya atas cara hidup kita

“Bertandinglah dalam pertandingan iman yang benar dan rebutlah hidup yang kekal. Untuk itulah engkau telah dipanggil dan telah engkau ikrarkan ikrar yang benar di depan banyak saksi.” 1 Timotius 6: 12

Tuhan 100 persen berdaulat dan manusia 100 persen bertanggung jawab, adalah semboyan yang dipakai oleh umat Kristen yang percaya bahwa segala sesuatu akan berjalan sesuai dengan rencana Tuhan, tetapi manusia tetap harus bertanggung jawab sepenuhnya atas hidup mereka. Bagi sebagian orang, semboyan ini dianggap tidak adil, karena mereka tidak bisa menerima kalau apa yang terjadi dalam hidup mereka berjalan sedemkian rupa sehingga semuanya cocok dengan rencana Tuhan, tetapi mereka harus menjadi “kambing hitam”.

Bagi orang lain, mereka tidak dapat menerima kenyataan bahwa segala sesuatu di alam semesta pada akhirnya akan membuat rencana Tuhan terjadi. Mereka percaya bahwa manusia mempunyai kebebasan untuk memilih cara hidupnya, dan Tuhan tidak akan memaksakan kehendak-Nya. Pada pihak yang lain, ada juga orang yang percaya bahwa karena kedaulatan Tuhan, manusia tidak perlu bertanggung jawab sepenuhnya atas hidup mereka. Bukankah segala sesuatu sudah ditetapkan Tuhan?

Bagi kita umat Kristen yang harus hidup di dunia, memang sering tantangan hidup menguji iman kita. Kita yang sudah berikrar untuk setia dan berharap kepada Tuhan dalam setiap keadaan, sekarang mungkin merasa bahwa hidup kita seharusnya dibimbing dan bahkan diatur sepenuhnya oleh Tuhan. Mengapa Tuhan masih mengharapkan kita untuk bertanggung jawab atas hidup kita jika pengampunan Tuhan sudah dijanjikan untuk umat-Nya? Bukankah kita sudah dipilih untuk diselamatkan?

Paulus dalam ayat di atas mengingatkan Timotius bahwa selama hidup di dunia kita berjuang untuk menang. Dengan iman kita harus berani menghadapi semua tantangan dan persoalan hidup agar pada akhirnya kita akan memperoleh mahkota kehidupan. Ini tidak mudah, tetapi kita sudah berjanji kepada Tuhan di hadapan banyak saudara seiman. Kita tidak boleh mundur dari iman kita.

Dalam ayat di atas tertulis “Bertandinglah dalam pertandingan iman yang benar dan rebutlah hidup yang kekal”. Ini adalah ajakan yang membingungkan. Bukankah sebagai orang Kristen kita sudah mengaku percaya kepada Yesus, dan Yesus sudah menang atas maut sehingga kita dapat memperoleh hidup yang kekal? Mengapa kita harus “bertanding” dan “merebut”? Bukankah itu menandakan bahwa kita harus berusaha untuk mendapatkan dan mempertahankan keselamatan kita dengan usaha sendiri?

Bertanding untuk iman yang benar berarti lari menghindari dosa dan mengejar hal-hal seperti kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri (Galatia 5: 22-23). Pertandingan iman yang benar adalah tentang membuat pilihan – pilihan untuk mengejar kehendak Tuhan dan kehidupan iman setiap hari. Ini adalah keputusan kita untuk taat kepada pimpinan Roh Kudus dalam melawan godaan dan faktor-faktor yang menjauhkan diri dari Tuhan dan sebaliknya bersandar kepada-Nya sepenuhnya.

Hari ini, jika kita ingat bahwa hidup di dunia adalah sementara, dan itu jauh lebih singkat dari hidup yang akan kita jalani bersama Yesus di surga, baiklah kita sadar bahwa kita harus mati-matian memilih cara hidup yang baik selama di dunia. Mengapa demikian? Karena Tuhan sudah mengampuni kita, kita harus menyatakan rasa syukur kita dalam kesetiaan dalam iman. Bukan justru merasa bahwa kita tidak perlu lagi bekerja keras karena sudah dipilih untuk diselamatkan. Paulus merujuk pertandingan yang baik lagi dalam 2 Timotius 4:7 di mana dia berkata, “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman.” Dengan demikian, patutlah kita meniru Paulus dengan tetap beriman, tetap setia dan tetapl berjuang memuliakan nama-Nya selama kita hidup.

Lemah lembut Tuhan Yesus memanggil

“Itulah yang baik dan yang berkenan kepada Allah, Juruselamat kita, yang menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran. Karena Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus, yang telah menyerahkan diri-Nya sebagai tebusan bagi semua manusia: itu kesaksian pada waktu yang ditentukan.” 1 Timotius 2: 3 – 6

Tuhan yang mahakuasa adalah mahakasih. Itulah Tuhan yang dikenal oleh umat Kristen. Memang kasih Tuhan itu terlihat dalam pemeliharaan-Nya setiap hari, tetapi yang paling bisa disadari adalah kasih-Nya yang memungkinkan manusia menerima keselamatan melalui darah Kristus. Siapakah manusia yang beruntung mendapatkan karunia Tuhan yang cuma-cuma itu? Dalam ayat di atas dikatakan “Allah menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran”. Apakah itu berarti semua orang akan diselamatkan? Tentu saja tidak. Allah memang ingin agar semua orang diselamatkan, tetapi tidak semua orang mau bertobat dan percaya kepada Yesus.

Pada zaman sebelum Yesus, orang Yahudi percaya bahwa merekalah satu-satunya bangsa yang diselamatkan. Tetapi, sesudah Yesus datang ke dunia, Alkitab menyatakan bahwa keselamatan tersedia untuk semua orang yang percaya (Yohanes 3: 16). Itu bukan untuk orang Yahudi saja, tetapi untuk segala bangsa dan seluruh umat manusia di dunia; dengan persyaratan bahwa mereka harus percaya kepada Yesus.

“Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia. Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah.” Yohanes 3: 17 – 18

Walaupun manusia sejak penciptaan makin berbudaya dan makin pandai, adalah kenyataan bahwa manusia tidak dapat percaya kepada Allah dan kepada Anak-Nya dengan usaha sendiri. Tanpa pertolongan Tuhan, tidaklah mungkin manusia mengenal Allah. Manusia tanpa karunia Allah tidak akan menemui jalan keselamatan. Seluruh umat manusia pada hakikatnya adalah orang-orang yang terhilang, yang tidak dapat menemukan jalan yang benar. Tetapi untunglah, karena kasih-Nya Allah mengaruniakan Anak-Nya untuk mencari mereka yang tersesat.

“Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.” Lukas 19: 10

Mungkin banyak orang yang kurang mengerti apa yang dimaksud oleh Yesus dengan pernyataan-Nya bahwa Ia datang untuk mereka yang hilang. Semua manusia yang pernah hidup di dunia adalah orang berdosa yang sudah menyimpang dari jalan kebenaran. Karena itulah Tuhan Yesus datang untuk mencari dan menyelamatkan mereka.

Sesudah Yesus naik ke surga, apakah usaha-Nya untuk menyelamatkan manusia sudah berhenti? Tidak! Sampai sekarang Tuhan Yesus tetap bekerja memanggil mereka yang berdosa untuk kembali ke jalan yang benar, dan menyerahkan hidup mereka sepenuhnya kepada Yesus Juruselamat. Hari ini, sebuah pertanyaan untuk kita semua, apakah kita menyadari bahwa kita pernah terhilang, menyimpang dari jalan kebenaran Tuhan. Di hadapan Tuhan, tidak ada orang yang lebih baik dan lebih pantas untuk diselamatkan. Bagi Tuhan, semua orang sudah berdosa. Tidakkah kita heran mengapa Tuhan menghendaki supaya semua orang diselamatkan, dan itu termasuk diri kita dan seluruh anggota keluarga kita? Bukankah Ia adalah Allah yang mahakasih? Pujilah Dia selalu!

Sungguh lembut Tuhan Yesus memanggil
Memanggil aku dan kau
Lihatlah Dia p’rihatin menunggu
Menunggu aku dan kau
Hai mari datanglah
Kau yang lelah mari datanglah
Sungguh lembut
Tuhan Yesus memanggil
Kau yang sesat, marilah

Janganlah ragu Tuhanmu membujuk
Membujuk aku dan kau
Jangan enggan menerima kasih-Nya
Terhadap aku dan kau
Hai mari datanglah
Kau yang lelah mari datanglah
Sungguh lembut
Tuhan Yesus memanggil
Kau yang sesat, marilah

Kabar baik atau kabar buruk?

“Jadi, kalau untuk menunjukkan murka-Nya dan menyatakan kuasa-Nya, Allah menaruh kesabaran yang besar terhadap benda-benda kemurkaan-Nya, yang telah disiapkan untuk kebinasaan justru untuk menyatakan kekayaan kemuliaan-Nya atas benda-benda belas kasihan-Nya yang telah dipersiapkan-Nya untuk kemuliaan, yaitu kita, yang telah dipanggil-Nya bukan hanya dari antara orang Yahudi, tetapi juga dari antara bangsa-bangsa lain” Roma 9: 22-24

Banyak orang yang berpendapat bahwa mengabarkan Injil tidak boleh dipengaruhi keadaan masyarakat. Itu karena isi Alkitab adalah sama sejak mulanya dan firman Tuhan tidak berubah untuk selama-lamanya. Walaupun demikian, banyak pimpinan gereja sekarang menyadari bahwa keadaan zaman sudah berubah, dan dengan itu cara penginjilan juga harus disesuaikan dengan kehidupan manusia di zaman ini. Sebagian di antara mereka bisa melakukan penginjilan dengan efektif tanpa mengurangi isi firman Tuhan, tetapi ada juga gereja yang tetap menjalankan cara penginjilan yang dipakai pada abad yang lalu. Oleh karena itu, banyak gereja yang saat ini mengalami kemunduran dan bahkan ditutup karena gagal dalam tugas pemuridan.

Sebenarnya, Injil adalah kabar baik bagi seluruh umat manusia. Itu karena orang yang diselamatkan melalui darah Yesus tidak akan pergi ke neraka setelah meninggalkan dunia ini. Itu semata-mata karena karunia Allah. Walaupun demikian, sebagian orang merasa ragu akan jaminan keselamatan Allah. Itu karena adanya ayat di atas, ada beberapa ayat lain dalam Alkitab yang menyatakan bahwa Allah sudah menentukan siapa yang ke surga dan siapa yang ke neraka sejak awalnya, karena Ia ingin menyatakan kasih-Nya kepada mereka yang dipilih-Nya. Ini bisa membuat sebagian orang berpikir apakah ia atau seorang yang dikenalnya memang termasuk golongan yang sudah “ditakdirkan” untuk ke neraka. Sayang sekali, berita Injil tentang Tuhan yang sudah memilih orang yang akan diselamatkan sejak awalnya, membuat orang segan untuk pergi ke gereja. Hal yang sama bisa membuat sebagian orang Kristen segan untuk memberitakan Injil.

Haruskah orang Kristen percaya bahwa Tuhan menakdirkan manusia ke neraka? Konsep Tuhan yang mahakasih sering dianggap bertentangan dengan adanya neraka. Tetapi kita harus sadar bahwa karena Tuhan adalah mahasuci, semua manusia seharusnya dihukum untuk pergi ke neraka. Jika ada orang yang diselamatkan itu berarti Tuhan mengampuni dosa mereka yang sebenarnya tak terampuni. Jika kita sekarang berusaha untuk menjadi makin sempurna dalam Kristus selama hidup di dunia, itu menandakan bahwa Roh Kudus bekerja dalam hidup kita, dan kita harus yakin bahwa kita sudah diselamatkan. Tetapi perbuatan baik apa pun yang kita lakukan bukanlah yang menyelamatkan kita. Hanya kasih karunia cuma-cuma yang menyelamatkan kita dari dosa-dosa kita, dan itu melalui iman di dalam Kristus Yesus yang memperkenalkan kebenaran-Nya kepada kita melalui Roh Kudus.

Alkitab menegaskan bahwa Allah mengatur apa yang ada di alam semesta. Jadi hidup dan dosa manusia tidaklah di luar pemeliharaan Tuhan yang mengatur segalanya. Tetapi hal pemilihan dan panggilan keselamatan merujuk pada karunia yang dibagikan Allah kepada orang-orang pilihan-Nya. Alkitab tidak menekankan kebalikannya: takdir ke neraka, penetapan untuk gagal, atau panggilan untuk berbuat dosa. Tuhan tidak membuat manusia berdosa, tetapi setiap orang sudah berdosa sejak lahir. Kita mengakui bahwa Tuhan memang mengeraskan hati Firaun (Keluaran 7: 3), namun Firaun bertindak sesuai dengan kapasitas alami dan kehendak bebasnya untuk melakukan kejahatan, sementara Tuhan mengarahkan tindakan jahatnya untuk mencapai tujuan-Nya. Dalam pengertian ini, tidak ada yang ada di luar kendali Allah.

Tentu saja bagi sebagian orang, mengapa dan bagaimana Tuhan sejak mulanya memilih orang yang akan diselamatkan dan orang yang akan dihukum adalah sebuah teka-teki yang sulit dipecahkan. Namun kita harus meninggalkan usaha untuk memahami hal yang misterius ini. Tuhan itu baik. Tuhan adalah kasih. Dan Dia bertindak dari adanya kelimpahan kebaikan dan kasih-Nya untuk memberikan kehidupan. Penyebab penghukuman kita adalah dosa kita. Hanya kesabaran dan kasih karunia ilahi yang mencegah adanya penghakiman terakhir bagi kita (Rom 2: 4). Tuhan tidak menyebabkan dosa; manusia sendiri yang melakukannya. Sebaliknya, Tuhan melakukan regenerasi hati pada siapa saja yang dikasihi-Nya sehingga mereka dapat mengalami kasih karunia ilahi yang melampaui kapasitas alami mereka.

Selama hidup di dunia, kita tidak tahu atau bisa memastikan apakah orang tertentu memang termasuk dalam pilihan-Nya. Dan kita juga tidak tahu siapakah yang pada akhirnya akan diselamatkan, karena Tuhan terus bekerja setiap saat memanggil mereka yang tersesat. Oleh karena itu, orang yang percaya bahwa dirinya sudah diselamatkan seharusnya tetap giat mengabarkan kabar baik ke seluruh penjuru dunia. Kita tidak bisa berkata bahwa orang itu, golongan itu atau bangsa itu sudah ditentukan Tuhan untuk ke neraka. Bagi kita tidak ada istilah “Tuhan menakdirkan manusia ke neraka” karena dosa tanpa pertobatanlah yang menyebabkan penghukuman atas manusia.

Bagaimana kita bisa menarik lebih banyak orang untuk bertobat dari hidup lamanya yang tidak mengenal Kristus untuk menjadi pengikut Kristus? Satu hal yang pasti adalah kita harus mengabarkan kabar baik melalui hidup kita. Kita harus hidup dengan memancarkan terang-Nya, sehingga setiap orang yang melihat kita akan memuliakan nama Tuhan di surga.

“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” Matius 5: 16

Kedaulatan Tuhan dan tangapan manusia

“Aku katakan ”di dalam Kristus”, karena di dalam Dialah kami mendapat bagian yang dijanjikan – kami yang dari semula ditentukan untuk menerima bagian itu sesuai dengan maksud Allah, yang di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak-Nya – supaya kami, yang sebelumnya telah menaruh harapan pada Kristus, boleh menjadi puji-pujian bagi kemuliaan-Nya.” Efesus 1:11-12

Ada seseorang yang pernah bertanya, “Sepertinya saya menyiratkan bahwa mereka yang tidak terpilih bahkan tidak diberi kesempatan untuk bertobat, karena mereka dilahirkan untuk kehancuran. Apakah ini benar, bahwa banyak orang diciptakan tanpa kesempatan untuk diselamatkan?” Pertanyaan ini sudah dilontarkan oleh banyak orang yang merasa bahwa Tuhan orang Kristen itu begitu kejam karena apa yang disebut faham “double predestination” atau “pemilihan ganda: Tuhan memilih orang yang diselamatkan, dan Tuhan memilih mereka yang diselamatkan.

Faham “pemilihan ganda” sebenarnya bisa dibagi lagi dalam dua jenis yaitu positif-positif, dan positif negatif. Pada jenis yang pertama, pemegang faham teologi ini percaya bahwa Tuhan secara aktif menentukan mereka yang selamat, dan sisanya secara pasti ditentukan Tuhan untuk tidak diselamatkan. Pada pihak yang lain, faham positif-negatif menyatakan bahwa Tuhan memilih mereka yang diselamatkan, tetapi menelantarkan sisanya sehingga memilih jalan kebinasaan. Semua gereja Kristen percaya predestinasi, tetapi ada yang percaya pada doktrin”pemilihan tunggal” yaitu Tuhan hanya menentukan mereka yang diselamatkan. Dalam pandangan apa pun, orang sering bertanya-tanya apakah mereka yang tidak dipilih tidak mempunyai kesempatan sama sekali untuk diselamatkan? Jika masih ada kesempatan, lalu bagaimana itu bisa terjadi?

Itu adalah pertanyaan-pertanyaan yang sulit dijawab. Jika ada orang yang menjawab bahwa dari semula orang-orang tertentu sudah tidak mempunyai harapan, jawaban itu tidak akan menjadi cara yang baik dan alkitabiah untuk menyatakan kasih Tuhan. John Piper, seorang teolog Reformed yang terkenal pernah menjelaskan adanya dua kebenaran alkitabiah yang dianggap banyak orang kontradiktif, tetapi sebenarnya tidak. Kedua hal ini adalah sangat penting dalam kehidupan orang Kristen karena adanya implikasi yang serius dari dua kebenaran itu yang mempengaruhi orang Kristen dalam cara mereka hidup dan menginjil.

Kebenaran pertama adalah, dari segala kekekalan, Allah telah memilih dari antara seluruh umat manusia yang jatuh dan berdosa, sebuah umat untuk diri-Nya sendiri — tetapi tidak semua orang. Jadi, pemilihan ini bukan karena adanya keistimewaan pada orang-orang terpilih itu. Allah mengejar keselamatan mereka tidak hanya dengan secara efektif mencapai penebusan dosa mereka melalui Kristus, tetapi juga dengan secara berdaulat mengatasi semua pemberontakan mereka dan membawa mereka kepada iman yang menyelamatkan.

Kebenaran kedua ialah bahwa setiap orang yang binasa dan akhirnya hilang dan terputus dari Tuhan karena peninggian diri yang nyata dan tercela, yaitu hidup dalam dosa. Karena hati mereka dikeraskan terhadap pernyataan dan kemuliaan Allah di alam semesta dan di dalam Injil, tidak ada orang yang tidak bersalah yang bakal binasa. Tak seorang pun yang dengan rendah hati menginginkan Kristus sebagai Juru Selamat akan hilang. Tidak seorang pun akan dihakimi atau dikutuk karena tidak mengetahui, atau mempercayai, atau mematuhi suatu kenyataan yang tidak dapat mereka peroleh. Semua kehilangan dan semua penghakiman adalah karena dosa dan pemberontakan terhadap pernyataan Allah yang sudah diberikan. Tidak akan ada orang yang tidak bersalah di neraka, dan hanya akan ada orang berdosa yang diampuni di surga.

Yang membuat kedua kebenaran itu tidak saling bertentangan adalah pertanggungjawaban moral manusia yang tidak dihancurkan oleh kedaulatan mutlak Allah dalam keselamatan. Dengan kata lain, pengaturan Tuhan yang final dan menentukan atas segala sesuatu, termasuk siapa yang beriman, sesuai dengan hakikat manusia yang harus bertanggung jawab secara moral kepada Tuhan dari awalnya: apakah mereka percaya atau tidak. Jadi, pada satu pihak Tuhan berdaulat 100% dan pada pihak lain manusia bertanggung jawab 100% atas hidupnya.

Sekarang, kita hidup di dunia yang pada umumnya menolak untuk menerima kedaulatan Allah dalam segala hal. Seperti tertulis pada ayat di atas, Allah bekerja di dalam segala sesuatu menurut keputusan kehendak-Nya. Orang-orang menolak kenyataan ini, sebagian besar karena adanya satu-satunya solusi yang dapat diterima oleh pikiran mereka, yaitu anggapan bahwa manusia bisa menentukan nasibnya sendiri baik di dunia maupun setelah mati. Tetapi penentuan nasib sendiri manusia tidak ditemukan di mana pun di dalam Alkitab. Sebaliknya, kedaulatan Tuhan ada, dan tanggung jawab manusia ada. Tidak ada hal yang bisa dianggap kontradiktif.

Oleh karena itu, jika ada orang yang mengira bahwa “banyak orang diciptakan tanpa adanya kesempatan untuk diselamatkan” , mereka adalah keliru. Setiap orang dirayu dan diundang oleh Tuhan setiap hari. Mereka sedang dirayu melalui wahyu alami — matahari terbit untuk yang baik dan yang jahat, atau hujan yang turun untuk yang baik dan yang jahat — atau melalui hati nurani, atau melalui kebenaran Injil. Pernyataan Allah ini adalah apa yang memberi mereka kesempatan untuk diselamatkan. Ini adalah undangan yang nyata. Hal ini penting karena jika mereka mau merendahkan diri, bertobat, dan menerima kasih karunia Tuhan, mereka akan diselamatkan. Dalam hal ini, manusia juga diselamatkan karena karunia Tuhan semata-mata, dan bukan karena perbuatan mereka.

Hari ini, kita belajar bahwa mereka yang merendahkan diri dan menerima kasih karunia Tuhan akan sadar bahwa hanya kasih karunia Tuhan yang berdaulat yang memungkinkan mereka untuk percaya. Dan mereka yang tidak melakukannya harus tahu bahwa itu karena dosa mereka sendiri. Bahwa mereka mencintai sesuatu yang lain lebih dari Tuhan adalah sebab mengapa mereka tidak percaya. Tidak akan ada orang yang tidak bersalah di neraka, dan hanya akan ada orang berdosa yang diampuni di surga. Segala puji untuk Tuhan yang mahakasih dan mahakuasa!

Mengobati hati yang dendam

“Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah, sebab ada tertulis: Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan, firman Tuhan.” Roma 12: 19

Dalam sejarah ada banyak konflik antar umat beragama, bukan saja antara dua agama yang berbeda, tetapi juga di anara umat Kristen. Perang Tiga Puluh Tahun, misalnya, adalah sebuah konflik yang terjadi antara tahun 1618 hingga 1648, khususnya di wilayah yang sekarang menjadi negara Jerman, dan melibatkan sebagian besar kekuatan-kekuatan di kawasan tersebut. Ada beberapa sebab mengapa perang ini terjadi. Selain konflik keagamaan antara kaum Protestan dan Katolik, persaingan antara Dinasti Habsburg dan kekuatan lainnya juga merupakan salah satu motif penting terjadinya perang ini. Perang ini sendiri mungkin hanya berlangsung tiga puluh tahun, tetapi konflik yang dipicunya tetap berlanjut hingga waktu yang lama. Perang ini diakhiri melalui Perjanjian Westfalen.

Sebenarnya perang apa pun buasanya disebabkan oleh kemarahan atau kebencian antara pihak-pihak tertentu. Hal ini mungkin disebabkan oleh pihak yang dianggap penyebab persengketaan, dan pihak yang lain tidak bisa menerima hal itu kemudian berusaha membalas dendam. Memang dalam hidup ini banyak orang yang agaknya masih menganut paham “mata ganti mata”. Dengan demikian, mereka menyukai hal-hal yang berhubungan dengan pembalasan (revenge, avenge, vengeance). Mereka yang merasa terluka akibat apa yang terjadi sebelumnya, berusaha untuk menghancurkan lawannya.

Di kalangan orang Kristern ini pun, perang mulut dan perang media sering terjadi antar umat Kristen yang berlainan aliran. Jika kita meneliti media Youtube, misalnya, ada ratusan penampilan yang bernada sumbang atau kebencian terhadap pihak yang berbeda teologi atau kebiasaan. Kebanyakan mereka yang menerbitkan media semacam itu pernah memiliki pengalaman pahit yang melukai perasaan mereka, yang dilakukan oleh pihak lain. Mereka mungkin merasa bahwa ada kewajiban bagi mereka untuk membela Tuhan dalam menegakkan kebenaran.

Alkitab memang mempunyai banyak ayat yang berhubungan dengan soal membalas dendam. Seperti yang tertulis dalam ayat diatas, baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, pembalasan dendam selalu dihubungkan dengan hak Tuhan. Mengapa Tuhan menyatakan bahwa Ialah yang berhak membalas dendam? Itu karena Tuhanlah yang memiliki seluruh jagad raya, termasuk semua mahluk hidup dan manusia. Manusia secara pribadi bukanlah pemilik apapun di dunia, dan juga bukan wakil Tuhan; karena itu ia tidak berhak menuntut balas. Selain itu, tiap orang dalam keterbatasannya tidak tahu sepenuhnya akan apa yang benar dan yang salah. Karena itu, hanya Tuhan yang pada hakikatnya berhak menjadi hakim.

“Segala jalan orang adalah bersih menurut pandangannya sendiri, tetapi Tuhanlah yang menguji hati.” Amsal 16: 2

Tuhan Yesus bukan saja melarang pengikut-Nya untuk saling membenci, Ia malahan menyuruh mereka untuk melawan kejahatan apa pun dengan kesabaran.

Kamu telah mendengar firman: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi. Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu.” Matius 5: 38 – 39

Jika membalas dendam adalah dosa yang melanggar perintah Tuhan, mereka yang mudah naik darah biasanya mudah terpancing untuk melampiaskan kemarahannya dengan melakukan kekerasan. Memang kemarahan yang tidak segera dihentikan, lambat laun akan berlanjut dengan kebencian dan pertengkaran (Amsal 10: 12). Karena itu Yesus memberikan perintah agar murid-murid-Nya tidak membiarkan kemarahan yang ada untuk berlanjut-lanjut, karena iblis menantikan kesempatan untuk menghancurkan mereka yang dikuasai amarah, seperti apa yang terjadi pada Kain yang membunuh Habel saudaranya.

“Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu dan janganlah beri kesempatan kepada Iblis.” Efesus 4: 26 – 27

Hari ini,kita harus sadar bahwa kesempatan untuk kita bisa menghilangkan rasa marah dan dendam sudah diberikan, dan apa yang selanjutnya terjadi dalam hidup kita akan menunjukkan apakah kita benar-benar sudah menjadi pengikut Yesus.

“Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.” Matius 6: 15

Mengikut Yesus keputusanku

Bacaan Matius 8:18–22

“Salah seorang murid berkata kepadanya, ‘Tuhan, biarkan aku pergi dulu dan menguburkan ayahku.” Dan Yesus berkata kepadanya, “Ikutlah aku, dan biarkan orang mati menguburkan orang mati mereka sendiri.” Matius 8: 21-22

Kerumunan besar datang berkumpul menjumpai Yesus ketika ketenaran-Nya menyebar di Kapernaum. Pada waktu itu Dia bersiap untuk menyeberangi danau Galilea (ayat18). Kita tidak tahu pasti mengapa Dia membuat langkah ini, tetapi banyak penafsir Alkitab yang percaya bahwa Yesus sedang mencari tempat istirahat. Memang, Dia ditemukan tertidur di perahu sesudahnya (ayat 24).

Melihat Yesus akan pergi, seorang ahli Taurat yang terlatih dalam hukum Musa mengungkapkan keinginannya untuk mengikuti Yesus ke mana pun Dia pergi (ayat 19). Yesus tidak menolak calon murid ini, tetapi Dia menjelaskan bahwa untuk mengikuti Yesus, orang berpendidikan ini harus mau ikut mengembara, bahkan mungkin kehilangan tempat tinggalnya (ayat 20). Memang, semua pengikut Yesus harus menerima kenyataan bahwa mereka adalah orang asing dan orang buangan di dunia (Ibrani 11:13-16).

Hidup di dunia tidaklah mudah untuk orang Kristen, tetapi di dalam Kristus suatu hari nanti kita akan bebas dari tekanan hidup (2 Timotius 2:12a). Kehidupan orang Kristen di dunia, seperti yang dikatakan Yesus adalah panggilan untuk memikul salib-Nya. Seperti Yesus, kita harus bersedia memberi tahu orang-orang bahwa ada harga yang harus dibayar untuk mengikuti Sang Juruselamat. Kita tidak menyatakan kebenaran jika kita mengajar atau menyiratkan bahwa Yesus dapat dimasukkan ke dalam struktur kehidupan kita tanpa dunia membenci kita (Matius: 24:9). Dunia sudah jatuh dalam dosa karena Iblis, dan Iblis dan pengikutnya membenci Yesus.

Setelah berbicara dengan ahli Taurat, seorang pria lain mengatakan bahwa dia bersedia untuk mengikuti Kristus jika dia dapat menguburkan ayahnya terlebih dahulu. Namun Yesus tidak mengizinkan keraguan ini (8: 21—22). Ini adalah perkataan yang sulit dimengerti, karena Alkitab mengajarkan kita untuk menghormati orang tua kita (Keluaran 20: 12). Tetapi, kemungkinan besar jawaban Yesus kepada orang itu adalah prinsip universal, bukan penerapan universal. Pada prinsipnya, hanya Yesus yang layak menerima pengabdian tertinggi kita, tetapi cara penerapan prinsip ini mungkin berbeda-beda. Walaupun demikian, jelas bahwa tugas keluarga seharusnya menempati urutan kedua ketika Yesus memanggil.

John Calvin berkomentar, “Anak-anak harus melaksanakan kewajiban mereka kepada orang tua mereka sedemikian rupa sehingga, setiap kali Tuhan memanggil mereka untuk pekerjaan lain, mereka harus mengesampingkan ini, dan menempatkan perintah Tuhan di tempat pertama. Apa pun kewajiban kita harus dilaksanakan, ketika Allah memerintahkan kepada kita apa yang harus segera menjadi hak-Nya.”

Hari ini, firman Tuhan mengingatkan kita bahwa setiap pengikut-Nya mempunyai tugas-tugas tertentu dalam hidupnya. Mungkin kesadaran akan hal itu belum terasa, sekalipun kita sudah menjadi orang yang diselamatkan sejak lama. Mungkin, pikiran kita merasa tenteram karena adanya keyakinan bahwa kita sudah menjadi orang terpilih. Tetapi, ayat pembukaan kita menunjukkan bahwa untuk menjadi pengikut Yesus yang sejati kita tidak dapat tidak harus mengubah prioritas hidup kita. Menjadi pengikut Kristus tanpa memberi pengurbanan adalah tidak mungkin. Setiap orang yang mau mengikut Dia harus mau membaktikan bagian yang paling utama untuk Tuhan. Itu mungkin berupa dedikasi, waktu, tenaga, kemampuan, pikiran, uang dan apa pun saja yang kita pandang berharga. Itu bukan untuk membeli keselamatan kita, tetapi untuk menyatakan rasa syukur kita kepada Tuhan atas keselamatan yang kita terima. Apa saja yang dapat kita pakai untuk melayani dan memuliakan Kristus. Jangan sampai kita menunda-nunda kesempatan yang baik untuk mengikut Dia. Siapa yang menunda panggilan Tuhan akan tertinggal di belakang.

Tetapi Yesus berkata: “Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah.”Lukas 9: 62

(Saduran bebas dari Ligonier)

Pengertian yang berbeda bisa membuat perpecahan

“Ingatkanlah dan pesankanlah semuanya itu dengan sungguh-sungguh kepada mereka di hadapan Allah, agar jangan mereka bersilat kata, karena hal itu sama sekali tidak berguna, malah mengacaukan orang yang mendengarnya. Usahakanlah supaya engkau layak di hadapan Allah sebagai seorang pekerja yang tidak usah malu, yang berterus terang memberitakan perkataan kebenaran itu.” 2 Timotius 2: 14-15

Reformasi Protestan adalah pergolakan agama, politik, intelektual, dan budaya pada abad ke-16 atas Gereja Katolik yang pada akhirnya melahirkan Protestantisme. Gerakan ini dipelopori oleh Martin Luther, yang kemudian diikuti oleh John Calvin, Ulrich Zwingli, dan Henry VIII. Para reformis mengkritik otoritas kepausan dan mempertanyakan fungsi Gereja Katolik sebagai pusat politik dan budaya Kekristenan di Eropa. Reformasi Protestan berujung pada perpecahan Gereja Barat menjadi Protestantisme dan Gereja Katolik Roma.

Konflik keagamaan antara kaum Protestan dan Katolik memuncak pada 1618-1648 atau kemudian dikenal sebagai Perang Tiga Puluh Tahun. Perang antar umat Kristen ini kemudian diakhiri dengan perjanjian damai Westfalen, yang menetapkan bahwa semua pihak memiliki hak untuk menentukan agama negaranya sendiri, dan adanya tiga aliran Kristen yang diakui yaitu Katolik Roma, Lutheran, dan Calvinis. Ini menjamin hak bagi orang-orang Kristen dalam menjalankan agamanya Perjanjian ini secara resmi mengakhiri kekuasaan politik kepausan di Eropa.

Di zaman ini, masalah perbedaan doktrin masih sering menimbulkan ketegangan antar aliran gereja. Karena itu, tidak semua gereja mementingkan pengajaran doktrin dalam penginjilan. Bagaimana sebenarnya posisi kita dalam hal mengabarkan injil? Memang tugas utama umat Kristen adalah mengabarkan injil. Oleh sebab itu, banyak orang Kristen dengan semangat yang menggebu-gebu ingin agar orang lain juga bisa diselamatkan. Karena itu, sering terlihat di berbagai media adanya berbagai pidato, tulisan dan rekaman yang bernada keras dan menyerang orang yang berbeda teologinya. Baikkah itu? Alkitab menyatakan bahwa sekalipun tujuannya baik, penginjilan harus dilaksanakan dengan cara yang baik karena jika tidak, kekacauan dan kebencian justru akan muncul.

“Tujuan nasihat itu ialah kasih yang timbul dari hati yang suci, dari hati nurani yang murni dan dari iman yang tulus ikhlas. Tetapi ada orang yang tidak sampai pada tujuan itu dan yang sesat dalam omongan yang sia-sia.” 1 Timotius 1: 5 – 7

Paulus dalam suratnya kepada Timotius menyatakan bahwa untuk membawa orang lain kepada keselamatan, orang percaya harus bisa memberi nasihat yang benar. Ia menjelaskan jika kita berusaha membawa orang lain kepada keselamatan, itu harus dilakukan tanpa menimbulkan perdebatan sia-sia yang menimbulkan kekacauan.

Tujuan nasihat itu ialah untuk menyatakan kasih yang timbul dari hati yang suci, dari hati nurani yang murni dan dari iman yang tulus ikhlas. Bukan didasarkan pada kebencian, rasa tidak suka atau kepentingan pribadi. Dengan demikian, tujuan mengabarkan Injil adalah untuk menyatakan kasih kita kepada mereka yang belum mengenal Tuhan, agar mereka menyadari betapa besar kasih-Nya yang sudah menurunkan Anak-Nya yang tunggal untuk menebus dosa mereka yang percaya. Karena itu, setiap orang yang kemudian percaya kepada Tuhan akan memiliki kasih-Nya. Orang yang menabur kasih Tuhan akan menuai kasih dan bukan kebencian.

Mengapa untuk Alkitab yang sama ada begitu banyak teologi yang berbeda? Itulah karena manusia adalah makhluk yang istimewa! Dalam segi yang baik maupun yang buruk, manusia adalah makhluk yang unik. Manusia diciptakan sebagai peta dan teladan Allah dan karena itu mempunyai kemampuan yang berbeda dari makhluk-makhluk yang lain. Manusia memiliki pikiran, perasaan dan perhatian yang jauh lebih tinggi dari makhluk yang lain. Jika makhluk lain bergantung pada naluri, manusia menggunakan akal budinya untuk menilai keadaan dan orang di sekitarnya. Tiap manusia bisa mempunyai pengertian dan perasaan yang berlainan terhadap hal yang sama.

Walaupun manusia mempunyai kemampuan intelegensi yang tinggi, ia tidak dapat menyamai Sang Pencipta. Bagaimanapun kita berusaha menyelami jalan pikiran Tuhan, tidaklah mungkin kita mengenalnya jika Tuhan sendiri tidak menyatakan diri-Nya dalam bentuk manusia Yesus Kristus. Untunglah setelah Yesus naik ke surga, Roh Kudus diberikan kepada setiap orang yang percaya kepada Kristus agar mereka dapat belajar mengerti apa yang dikehendaki Tuhan. Cara bekerja Roh Kudus dalam hidup anak-anak Tuhan tidaklah mematikan pola berpikir dan kehidupan mereka secara total dan drastis. Roh bekerja sesuai dengan keadaan manusia yang dihuni-Nya. Perubahan hidup manusia karena Roh Kudus terkadang cepat, tetapi bisa juga lambat tergantung pada sikap manusia (Efesus 4: 30). Memang tingkat kedewasaan dalam iman tiap orang tidaklah sama.

Roh Kudus tidak menghilangkan pribadi manusia, tetapi memperbaikinya. Karena itu jugalah, tiap anak Tuhan, baik yang baru maupun yang sudah lama, mempunyai sikap, pengertian dan hubungan yang berbeda terhadap Tuhan yang sama. Sekalipun berbeda dalam cara dan bentuk hubungan mereka akan Tuhan, setiap orang percaya adalah anak-anak-Nya. Kepada masing-masing telah dianugerahkan kasih karunia menurut ukuran pemberian Kristus (Efesus 4: 3-7).

Pada waktunya, semua orang percaya akan bisa mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Yesus dan memperoleh kedewasaan penuh yang sesuai dengan kepenuhan Kristus (Efesus 4: 13-15). Tetapi perbedaan yang sekarang ada, bisa membuat komunikasi antar umat Tuhan terkadang sulit. Salah pengertian dan perbedaan sering terjadi dan bisa menimbulkan pertikaian. Lebih serius lagi, orang mungkin merasa bertumbuh dalam pengetahuan tetapi sebenarnya tidak bertumbuh dalam iman dan cara hidupnya.

Hari ini kita diingatkan oleh Tuhan bahwa dalam menyatakan keyakinan iman kita, kita harus tegas dan memegang kebenaran Firman tetapi bisa menghindari perdebatan yang tidak membangun, karena selain tidak berguna, hal sedemikian malah bisa menimbulkan kebingungan dan kekacauan di antara mereka yang ingin mengenal Yesus Tuhan kita. Biarlah kita makin hari makin sempurna di dalam anugerah Tuhan!

“Sebab Allah tidak menghendaki kekacauan, tetapi damai sejahtera.” 1 Korintus 14: 33

Anugerah harus membawa perubahan hidup

“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” Roma 12: 2

Adalah menarik jika kita meneliti reaksi manusia terhadap bertambahnya umur. Pada waktu masih kecil seorang anak mungkin berharap akan cepatnya datangnya kedewasaan, karena dengan itu datang “kebebasan”. Walaupun demikian, orang dewasa sering membayangkan betapa enaknya mereka yang masih anak-anak, karena mereka tidak perlu memikirkan berbagai tanggung jawab kehidupan. Karena itu, ada orang yang sudah berumur yang ingin dianggap masih muda menampilkan tingkah laku dan penampilan orang muda. Tanpa melihat kartu identitas mereka, orang bisa salah duga.

Kalau kartu penduduk bisa dipakai untuk memastikan umur, dan dengan demikian kedewasaan jasmani orang dewasa dan anak-anak, bagaimana pula dengan kedewasaan rohani? Tingkat kedewasaan rohani jauh lebih sulit untuk diterka atau ditentukan. Mereka yang sudah cukup tua umurnya, belum tentu mempunyai tingkat kerohanian yang lebih tinggi dari anak muda. Mereka yang sudah dewasa secara jasmani, mungkin saja belum mempunyai pengenalan yang mendalam tentang kebenaran Tuhan. Mereka yang sudah lama menjadi orang Kristen, belum tentu lebih bisa menjalankan firman Tuhan.

Memang, reaksi manusia terhadap pertambahan umurnya tentunya berbeda-beda. Mungkin saja ada orang yang puas dengan umurnya atau yang ingin tetap berada dalam umur yang sekarang. Tetapi mereka yang realistis tentunya sadar bahwa bertambahnya umur adalah salah satu tanda yang mengingatkan bahwa dalam hidup ini kita akan mengalami berbagai kejadian, baik yang dikehendaki maupun yang sebenarnya ingin dihindari. Bertambahnya umur juga seharusnya membuat orang makin bijaksana dan hidup bertangggung jawab. Tapi itu belum tentu terjadi.

“Ketika aku kanak-kanak, aku berkata-kata seperti kanak-kanak, aku merasa seperti kanak-kanak, aku berpikir seperti kanak-kanak. Sekarang sesudah aku menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu.” 1 Korintus 13: 11

Mereka yang belum dewasa rohaninya, berkata-kata seperti kanak-kanak, merasa seperti kanak-kanak, dan berpikir seperti kanak-kanak. Ini tentunya dalam konteks rohani. Mereka itu tidak mempunyai kebijaksanaan yang cukup untuk bisa hidup dan bertingkah laku seperti orang yang sudah dewasa dalam imannya.

Ayat pembukaan di atas mengingatkan kita bahwa pada masa lalu kita mungkin sudah membiarkan hidup kita jatuh ke dalam kecemaran dan kedurhakaan. Rasa sedih dan rasa malu atas apa yang sudah kita lakukan mungkin ada, tetapi bagi banyak orang itu adalah sesuatu yang lebih baik dilupakan. Sebaliknya, bertambahnya umur seharusnya mengingatkan kita untuk memakai hidup kita untuk menjadi hamba kebenaran yang membuat kita makin menyerupai Kristus. Tetapi, bagi banyak orang, ini pun adalah sesuatu yang sering dilupakan karena semuanya hanya rencana untuk masa depan. Lalu apakah yang kemudian terjadi? Masa kini berubah menjadi masa lalu, dan masa depan tidak pernah datang karena tidak ada perubahan yang terjadi. Itulah ciri manusia duniawi yang dari lahir hingga mati tidak mengalami perubahan rohani.

Manusia yang tidak dapat mengerti apa yang dikehendaki Tuhan, tidak akan dapat membedakan apa yang baik dan adil dari apa yang jahat. Orang-orang semacam itu selalu ingin untuk menjadi orang Kristen dengan cara yang semudah mungkin, yaitu cara mereka sendiri. Mereka adalah orang-orang yang seperti bayi, yang merasa puas dengan makanan yang lunak yang mudah ditelan dan dicerna. Mereka merasa puas karena merasa bahwa keselamatan sudah dianugerahkan Tuhan, dan tidak merasa adanya panggilan untuk berubah dari hidup lamanya. Mereka tidak bisa membedakan apa yang baik dari apa yang jahat karena merasa puas dengan keadaan hidupnya saat ini. Mereka mungkin percaya bahwa keselamatan tidak akan hilang, tetapi tidak sadar bahwa ada kemungkinan bahwa mereka belum diselamatkan karena tidak pernah berubah dari hidup lamanya. Bagaimana pula dengan hidup kekristenan kita?

“Sebab barangsiapa masih memerlukan susu ia tidak memahami ajaran tentang kebenaran, sebab ia adalah anak kecil. Tetapi makanan keras adalah untuk orang-orang dewasa, yang karena mempunyai pancaindera yang terlatih untuk membedakan yang baik dari pada yang jahat.” Ibrani 5: 13 – 14