Mengapa kita harus berusaha untuk hidup baik

“Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.” Matius 5: 48

Adakah orang yang sempurna di dunia ini? Kebanyakan orang berpendapat bahwa tidak ada orang pun yang sempurna, sekalipun mereka belum tentu percaya bahwa semua orang berdosa. Walaupun begitu, ada orang-orang yang mengajarkan bahwa kesempurnaan dapat dicapai manusia dengan melakukan hal-hal tertentu. Selain itu, ada yang percaya bahwa orang-orang tertentu adalah penjelmaan dewa-dewa, dan karena itu mereka adalah manusia yang sempurna.

Inginkah anda menjadi manusia yang sempurna? Pertanyaan ini mungkin dijawab orang dengan senyum skeptis. Sempurna? Apa bisa? Apa kriteria untuk menjadi manusia sempurna? Apakah bentuk tubuh, rupa, kepandaian, kesadaran, kebaikan dan sejenisnya?

Memang dengan adanya teknik kedokteran kosmetik, orang bisa mengubah bentuk hidung, bibir dan anggota tubuh lainnya untuk menjadi “sempurna”, tetapi itu bukanlah membuat fisik orang yang bersangkutan benar-benar menjadi sempurna. Selain itu, di dunia ini ada orang-orang yang mengajarkan nilai-nilai moral untuk menuju ke “kesempurnaan”, yang bisa membawa kesadaran manusia ke tingkat yang lebih tinggi, sehingga pada akhirnya mereka bisa mencapai surga. Semua hal-hal di atas hanyalah impian manusia saja.

Alkitab jelas menuliskan bahwa tidak ada seorang pun di dunia ini yang sempurna. Semua orang mempunyai kelemahan fisik dan akhirnya akan mati secara jasmani. Semua orang adalah orang berdosa dan pada akhirnya juga akan mati secara rohani jika tidak diselamatkan.

“Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah.” Roma 3: 23

Jika tidak ada manusia yang sempurna, mengapa Yesus mengatakan bahwa kita harus menjadi sempurna seperti Allah Bapa di surga? Bukankah ini adalah sesuatu yang tidak mungkin dicapai oleh siapa pun, sekalipun oleh orang-orang saleh pemimpin agama? Bagi umat Kristen, semua orang sudah berbuat dosa dan karena itu tidak ada yang sempurna. Hanya Tuhan yang sempurna, dan Ia pernah turun ke dunia dalam bentuk Yesus, manusia yang tidak berdosa.

Jika ayat di atas menuliskan firman Yesus agar kita menjadi sempurna seperti Allah Bapa, tentu saja ini bisa menimbulkan tanda tanya. Siapakah yang bisa menjadi manusia yang sempurna? Sudah tentu ajakan Yesus untuk umat-Nya bukanlah ajakan agar kita berusaha untuk menjadi manusia yang suci. Kesempurnaan hanya terjadi jika Tuhan menyambut umat-Nya di surga. Selama di bumi, kita berusaha untuk menjadi umat Tuhan yang baik; dan pengampunan dosa ada melalui darah Kristus, tetapi itu tidak akan membuat kita menjadi orang yang sempurna. Lalu bagaimana kita bisa melaksanakan perintah Yesus itu?

Banyak orang Kristen yang yakin bahwa menjadi umat Tuhan cukup dengan iman. Mereka dengan mulut mengaku percaya, tetapi dalam hidup tetap menjalankan kebiasaan lama. Dengan demikian perlu dipertanyakan apakah tujuan mereka untuk menjadi umat Tuhan, jika tidak untuk hidup dalam kasih sesuai dengan perintah Tuhan dan untuk memuliakan-Nya? Orang yang demikian sering disebut sebagai penganut antinomianisme. Mereka tidak mau menekankan pentingnya perbuatan baik dan nilai-nilai moral Kristen dengan alasan bahwa jika orang sudah diselamatkan, itu hanya karena karena Tuhan dan karena itu perbuatan manusia tidaklah mempunyai arti dalam konteks keselamatan.

Sudah tentu pandangan antinomianisme adalah keliru. Tetapi mereka yang menganut faham itu sudah tentu tidak merasa atau tidak mau dituduh berpandangan demikian. Dalam hidup Kristen, seharusnya setiap orang mempunyai tujuan dan mau bekerja untuk mencapainya. Lebih dari itu, orang juga mengharapkan hasil yang sesuai dengan tujuan dan cara hidupnya. Memang ada tiga hal yang penting dalam hidup: tujuan, cara dan hasil. Jika kita mau menjadi umat Tuhan, kita harus mempunyai tujuan hidup yang benar, cara hidup yang benar dan dengan demikian berharap untuk mendapatkan hasil yang baik.

“Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” 2 Korintus 5: 17

Menjadi sempurna di dalam Kristus tidaklah terjadi dalam sekejap mata, itu adalah proses penyucian seumur hidup. Dalam hal ini ada orang yang menafsirkan bahwa Yesus sebenarnya tidak mengharapkan kesempurnaan tetapi kedewasaan. Apa pun penafsiran kata aslinya (bahasa Yunani: teleios), jelas bahwa tiap orang Kristen harus mengalami perubahan selama hidup di dunia.

“Bukan seolah-olah aku telah memperoleh hal ini atau telah sempurna, melainkan aku mengejarnya, kalau-kalau aku dapat juga menangkapnya, karena akupun telah ditangkap oleh Kristus Yesus.” Filipi 3: 12

Dalam perspektif Alkitab, tujuan hidup yang utama berdasarkan ayat di atas adalah untuk menjadi seperti Yesus. Dengan tujuan ini, kita bisa memilih apa yang perlu dilakukan dan cara hidup yang harus dijalani. Ayat ini tidak menyatakan bahwa kita harus mencapai kesempurnaan agar dapat mencapai keselamatan. Kita tahu bahwa keselamatan adalah karunia Tuhan. Tetapi Yesus dengan ayat ini dan ayat-ayat sebelumnya dalam Matius 5 menetapkan tujuan hidup yang seharusnya dilaksanakan setiap orang Kristen, agar mereka menjadi manusia dewasa yang hidup dalam kasih seperti Tuhan mengasihi kita. Selain itu, dari apa yang baik (buah-buah Roh), orang Kristen bisa terlihat apakah ia benar-benar sudah diselamatkan.

“Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.” Galatia 5:22-23

Tuhan Yesus menyuruh kita untuk menjadi sama seperti Tuhan yang mengasihi manusia. Bagaimana pula kita bisa melaksanakan perintah ini dalam keterbatasan kita? Tidakkah tujuan adalah terlalu sulit untuk dilaksanakan guna mencapai hasil yang diharapkan? Tuhan Yesus dengan ayat ini bermaksud menetapkan tujuan hidup umat Tuhan. Tujuan ini memang terlalu berat dan tidak mungkin dicapai dengan kekuatan manusia sendiri. Kita harus berusaha tetapi sadar bahwa hanya Tuhan yang bisa menyempurnakan hasil perjuangan hidup kita.

Hari ini marilah kita memikirkan hidup kita saat ini. Apakah yang menjadi tujuan hidup kita? Sudahkah kita hidup sesuai dengan tujuan kita? Maukah kita meminta pertolongan Tuhan agar kita bisa hidup dalam kasih sesuai dengan perintah-Nya? Sadarkah kita akan perlunya proses kedewasaan dalam iman kita sehingga makin hari kita makin serupa dengan-Nya? Adakah kemauan kita untuk hidup dalam kasih agar nama Tuhan dipermuliakan melalui hidup kita? Sudahkah kita berubah dari cara hidup kita yang lama? Apakah kita mau mendengarkan suara Roh Kudus yang selalu membisikkan pesan-pesan agar kita mengubah hidup kita? Memang dengan kekuatan sendiri kita tidak akan bisa berubah, tetapi bersama Yesus kita akan makin lama makin menyerupai Dia!

“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” Matius 5: 16

Menghindari sikap antinomianisme

“Orang bijak berhati-hati dan menjauhi kejahatan, tetapi orang bebal melampiaskan nafsunya dan merasa aman.” Amsal 14: 16

Kata “antinomianisme” berasal dari dua kata Yunani, yaitu anti, yang berarti “melawan”; dan nomos, yang berarti “hukum.” Antinomianisme secara harafiah berarti “melawan hukum.” Secara teologi, antinomianisme adalah doktrin yang menyatakan kalau Allah tidak mengharuskan orang Kristen untuk taat kepada hukum moral apa pun. Antinomianisme memang mengambil ajaran dari alkitab, namun kesimpulan yang ditarik tidaklah alkitabiah.

Serangan yang paling sering dilontarkan terhadap doktrin keselamatan melalui “anugerah semata-mata saja” adalah: doktrin itu mendorong seseorang untuk berdosa. Orang bisa saja bertanya-tanya, “Jika saya diselamatkan oleh anugerah dan semua dosa saya telah diampuni, mengapa tidak sekalian saja berbuat dosa sesuka hati saya?” Pemikiran ini bukanlah hasil dari pertobatan sejati. Pertobatan yang sejati akan menghasilkan hasrat yang lebih besar untuk menjadi taat, bukan sebaliknya. Kehendak Allah – dan kehendak kita saat kita telah dilahirkan kembali oleh Roh Kudus – adalah bahwa kita akan berusaha keras untuk tidak berbuat dosa. Sebaliknya, kita akan berusaha untuk berbuat baik.

Yang lebih parah lagi, saat ini banyak gereja yang dirongrong oleh pengajaran antinomianisme, yang tidak menekankan pentingnya perubahan hidup orang Kristen setelah menerima hidup baru. Tahun demi tahun dilewati, tetapi mereka tetap hidup bergelimang dalam dosa lama. Itu karena adanya pendeta-pendeta yang terlalu menekankan doktrin predestinasi, yaitu bahwa Allah sudah memilih orang Kristen untuk diselamatkan, dan keselamatan itu tidak bisa hilang selama orang hidup di dunia. Antinomianisme adalah seperti penyakit kanker yang menggerogoti gereja.

Sebagai orang Kristen, kita adalah orang-orang yang beruntung. Terlepas dari rasa syukur kita atas kasih karunia dan pengampunan Allah, kita pasti ingin menyenangkan-Nya. Allah telah memberikan kasih karunia-Nya yang tak terhingga dalam keselamatan melalui Yesus (Yohanes 3: 16; Roma 5: 8). Respon kita seharusnya adalah menguduskan hidup kita untuk-Nya, sebagai tanda kasih, penyembahan dan syukur kita atas segala yang telah dilakukan-Nya bagi kita (Roma 12: 1-2). Antinomianisme tidak alkitabiah karena menyalahgunakan makna kasih karunia Allah. Antinomianisme adalah alat iblis untuk menghancurkan hidup orang Kristen.

Antinomianisme bertentangan dengan apa yang diajarkan Alkitab. Allah mengharapkan kita untuk menjalani kehidupan yang penuh moralitas, integritas, dan kasih. Yesus Kristus membebaskan kita dari berbagai perintah di Hukum Perjanjian Lama. Namun, ini tidak berarti bahwa kita memiliki kebebasan untuk berbuat dosa, melainkan supaya kita mendapatkan perjanjian kasih karunia. Pandangan sesat antinomianisme itu sudah ada sejak lama, dan Rasul Paulus membahas isu antinomianisme dalam kitab Roma:

“Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Bolehkah kita bertekun dalam dosa, supaya semakin bertambah kasih karunia itu? Sekali-kali tidak! Bukankah kita telah mati bagi dosa, bagaimanakah kita masih dapat hidup di dalamnya?” Roma 6: 1-2

Berbuat apa yang keliru bukan hanya terjadi dalam kehidupan jasmani. Dalam kehidupan rohani pun, orang mudah merasa tenteram dan lupa untuk berjaga-jaga jika mereka berada ditengah kelompok mereka. Umat Kristen yang merasa aman dalam lingkungan gereja mereka, cenderung untuk mengikuti apa yang sudah terbiasa dan tidak lagi berhati-hati dalam memilih jalan yang benar.

Ayat diatas menuliskan bahwa orang yang bijaksana selalu berhati-hati dan menghindari kejahatan. Yang menjadi persoalan ialah kenyataan bahwa tidak semua yang jahat terlihat begitu pada awalnya. Sering kali apa yang jahat justru muncul sebagai apa yang bisa dinikmati di tengah lingkungan yang aman, misalnya diantara anggota keluarga, kerabat atau teman. Karena adanya rasa aman selama berada dalam satu gereja, orang mudah untuk memakai pengertian teologi yang ada.

Lebih dari itu, mereka yang ada dalam suatu aliran gereja yang besar cenderung berpikir bahwa segala sesuatunya pastilah sudah dipertimbangkan masak-masak oleh orang lain, dan bagi mereka adalah lebih baik untuk menjalankan ajaran pendeta tanpa perlu berpikir atau berhati-hati. Mereka yang demikian tidak akan bertumbuh dalam kedewasaan iman dan dalam pengetahuan yang baik. Mereka tidak akan memperoleh pengalaman pribadi yang bisa membawa kebijaksanaan.

“Orang yang tak berpengalaman percaya kepada setiap perkataan,  tetapi orang yang bijak memperhatikan langkahnya.” Amsal 14: 15

Seperti itulah orang yang tidak berpengalaman akan percaya kepada setiap perkataan orang lain dan melangkah menuju tempat yang nampaknya indah. Sebaliknya, orang yang bijak selalu berhati-hati kemana kaki mereka akan pergi. Setiap langkah yang kita ambil adalah tanggung jawab kita sendiri, dan jika kita terjatuh atau tersandung dalam melangkah, semua itu pada akhirnya adalah kita yang merasakan akibatnya dan kita sendiri yang harus mempertanggungjawabkan kepada Tuhan.

Hari ini, mungkin kita merasa cukup bahagia dalam keadaan kita. Hidup berjalan seperti biasa, tanpa masalah yang berarti. Apa yang kita lakukan setiap hari selama ini berjalan terus. Untuk apa kita memikirkan hidup baik? Bukankah sebagai orang yang sudah diselamatkan kita bisa menikmati dan bahkan memanfaatkan apa pun selagi hidup? Firman Tuhan mencoba menginsafkan kita bahwa sebagai umat Tuhan kita tetap harus aktif dalam memilih apa yang baik menurut Tuhan dan apa yang baik untuk Dia dan sesama kita. Setiap orang bertanggung-jawab atas hidupnya, dan apa yang terjadi dalam hidup kita, baik jasmani maupun rohani, baik yang sekarang ataupun di masa depan, bergantung pada apa yang kita pilih dan lakukan. Sebagai pohon yang baik kita harus menghasilkan buah yang baik.

Antara mendukakan dan menghujat Roh kudus

“Dan janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah, yang telah memeteraikan kamu menjelang hari penyelamatan. Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan.” Efesus 4: 30 – 31

Pernahkah anda membuat orang lain merasa sedih karena tingkah laku atau perbuatan anda? Saya yakin jawabnya adalah “ya”. Semasa kecil, saya juga sering membuat orang tua saya menghela nafas dan bahkan marah karena apa yang saya lakukan. Walaupun demikian, orang tua saya selalu siap untuk melupakan apa yang sudah terjadi jika saya menyadari kesalahan saya dan menyesalinya. Saya bayangkan, jika saya terus membantah dan tidak mengakui kesalahan saya, tentunya orang tua saya akan makin merasa sedih atau marah.

Setelah dewasa, saya sering mendengar dan juga membaca berita tentang adanya anak yang berani melawan orang tuanya. Bahkan ada kisah yang menyedihkan mengenai anak yang memukul orang tuanya karena ia mendapat teguran atas cara hidupnya. Anak itu kemudian menjadi “teror” dalam keluarga karena berani memukul atau mengancam orang tua atau saudara-saudaranya. Biasanya, dalam keadaan sedemikian polisi harus campur tangan, dan jika keadaan tidak dapat diperbaiki, anak itu tentunya akan putus hubungan dengan orang tuanya. Anak itu bukan hanya mendukakan, tetapi sudah melecehkan orang tuanya.

Ayat di atas menyebutkan bahwa Roh Kudus bisa didukakan oleh perbuatan kita. Ini mungkin agak mengherankan sebagian orang Kristen, karena Roh Kudus sering digambarkan dengan api. Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Tesalonika memang pernah menulis agar mereka tidak memadamkan Roh (1 Tesalonika 5: 19). Jika Roh adalah api, atau “sesuatu”, memang kata “mendukakan” rasanya kurang tepat. Walaupun demikian, Roh Kudus sebenarnya adalah Tuhan sendiri yang tinggal dalam diri umat percaya. Ia adalah Oknum yang seperti Allah Bapa dan Yesus Kristus, mempunyai kepribadian dan eksistensi Ilahi. Dalam kenyataannya, Allah Bapa, Allah Putra dan Roh Kudus adalah satu, dan kepada-Nya orang Kristen berbakti. Dengan demikian, segala kelakuan, tingkah laku, pikiran dan perbuatan yang salah bisa membuat Roh merasa sedih dan terlukai. Roh Kudus melihat bagaimana kita perlahan-lahan menjauhkan diri dan menuruti jalan kita sendiri.

Bagaimana kita harus bersikap dalam hidup agar Roh tidak didukakan? Paulus menyebutkan dalam ayat di atas agar kita membuang segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian, fitnah, dan segala kejahatan. Hal-hal yang sedemikian hanya membuat Roh tidak mau bekerja membimbing kita dalam hidup sehari-hari. Sebagai akibatnya, hidup kita bisa menjadi makin kacau, dan rasa damai menjadi hilang.

“Karena itu, saudara-saudaraku, berusahalah sungguh-sungguh, supaya panggilan dan pilihanmu makin teguh. Sebab jikalau kamu melakukannya, kamu tidak akan pernah tersandung.” 2 Petrus 1: 10

Jika mendukakan Roh Kudus dapat diampuni, bagaimana dengan melecehkan atau menghujat Roh Kudus? Munghujat Roh Kudus adalah berbeda dengan mendukakan Roh Kudus. Menghujat atau melecehkan Roh Kudus hanya dapat dilakukan oleh orang yang belum lahir baru, tetapi mendukakan Roh Kudus dapat dilakukan oleh orang yang sudah diselamatkan dan sudah menerima Roh Kudus dalam hatinya. Orang yang terus-menerus menghujat Roh Kudus tidak akan dapat diampuni.

“Tetapi apabila seorang menghujat Roh Kudus, ia tidak mendapat ampun selama-lamanya, melainkan bersalah karena berbuat dosa kekal.” Markus 3: 29

Mereka yang menghujat Roh Kudus adalah orang-orang yang dengan sengaja menolak bekerjanya Roh dalam hidup mereka. Jika Roh Kudus mengingatkan mereka untuk bertobat dari dosa dan memohon pengampunan, mereka menolak-Nya dengan keyakinan bahwa tidak ada yang salah dalam hidup mereka. Mereka mungkin yakin bahwa mereka adalah orang-orang baik dan terhormat. Mereka menolak kenyataan bahwa Yesus adalah Anak Allah yang datang ke dunia untuk menyelamatkan orang yang mengakui dosanya dan mau bertobat.

Mereka yang menghujat Roh Kudus itu tidak dapat menyadari dosa mereka, dan karena itu tidak mau untuk memohon ampun kepada Tuhan dan mengakui Yesus sebagai Juruselamat mereka. Dengan demikian, orang yang menolak Roh Kudus akan menjadi orang-orang yang ditolak masuk dalam kerajaan surga. Mereka tidak bisa menjadi anak Tuhan.

Memang, jika kita benar-benar percaya kepada Allah dan Putra-Nya yang tunggal, Yesus Kristus, keselamatan sudah diberikan kepada kita. Itu adalah hasil pekerjaan Roh Kudus. Roh Kudus tidak akan meninggalkan kita dan Ia akan bekerja secara luar biasa dalam hidup kita. Kita tidak mungkin untuk menghujat Roh Kudus, tetapi dapat mendukakan-Nya. Pada pihak yang lain, mereka yang belum benar-benar percaya cenderung mengabaikan suara Roh Kudus, dan akan kehilangan kesempatan untuk menerima keselamatan.

Biarlah Roh Kudus bisa bekerja makin hebat dalam diri kita, agar kita berhenti mendukakan Roh Kudus. Biarlah melalui hidup kita, mereka yang belum percaya mau mendengarkan suara Roh Kudus yang membawa mereka ke arah pertobatan dan keselamatan.

Kepastian di antara ketidakpastian

“Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu.” Daniel 3: 17 – 18

Siapakah yang tahu jalan pikiran Tuhan? Tentu tidak ada seorang pun. Jika manusia dengan logikanya mencoba menduga apa yang akan terjadi, sering kali justru kejutan yang datang. Jika apa yang datang bukan sesuatu yang jahat, manusia kemudian dengan mudah berkata bahwa kehendak Tuhan tidak dapat ditolak. Tuhanlah yang membuat itu terjadi. Titik.

Dampak COVID-19 bukan saja menyangkut masalah kesehatan jasmani, tetapi juga kesehatan rohani. Tidak hanya orang menjadi tidak bebas untuk keluar rumah dan beraktivitas, banyak orang yang mengalami gangguan jiwa dan kehilangan rasa damai karena oleh adanya halangan untuk bertemu dengan orang lain. Syukurlah keadaan sekarang sudah mulai membaik dan sebagian orang sudah dapat berbakti di gereja, hampir seperti biasanya.

Walaupun demikian, jika apa yang terjadi adalah sesuatu yang jahat atau kejam, pertanyaan muncul apakah Tuhan menghendakinya. Virus corona yang sudah menyebabkan tewasnya lebih dari enam juta orang baik tua atau muda, baik orang Kristen maupun bukan Kristen, tentu dipandang sebagai malapetaka. Apakah Tuhan menghendaki COVID-19 untuk mewabah di dunia?

Sebagian orang Kristen percaya bahwa karena Tuhan mahakuasa dan tidak ada yang bisa terjadi tanpa kehendak-Nya, Tuhan jugalah yang dengan kedaulatan-Nya (sovereign will) membuat virus corona merajarela. Sebaliknya, ada orang lain yang percaya bahwa Tuhan yang mahakasih tidak mungkin menghendaki adanya kejahatan. Malapetaka bisa terjadi di dunia yang sudah jatuh dalam dosa, tetapi harus dengan seizin Tuhan.

Dengan seizin Tuhan? Apakah Tuhan yang mahakasih mengizinkan adanya kejahatan? Jika Ia mengizinkan (permissive will) hal yang jahat, bukankah itu berarti Ia ikut bertanggung jawab atas apa yang dialami manusia? Sebaliknya, jika Tuhan tidak mengizinkan, bagaimana malapetaka dapat terjadi sekalipun tidak dikehendaki-Nya? Inilah masalah manusia yang ingin mengerti apa yang ada dalam pikiran Tuhan yang mahakuasa. Semua itu membuat ketidakpastian.

Bagi kita dan pada saat ini, ketidakpastian bisa menyangkut banyak hal. Bukan saja mengenai kesehatan, tetapi juga menyangkut pendapatan, masa depan keluarga, keadaan ekonomi negara dan situasi dunia. Bagaimana dengan global warming dan climate change? , Pemanasan global atau global warming adalah meningkatnya suhu rata-rata atmosfer, bumi, dan lautan. Sedangkan perubahan iklim atau climate change merupakan perubahan yang signifikan pada iklim, seperti suhu udara atau curah hujan, selama kurun waktu 30 tahun atau lebih. Kedua hal ini juga menyebabkan ketidakpastian masa depan umat manusia di dunia.

Dalam keadaan sekarang ini, banyak orang yang berkata bahwa kunci kehidupan di dunia adalah adanya dana. Persoalan apa pun besarnya akan dapat diatasi jika uang ada. Ini ada benarnya, karena uang adalah salah satu kebutuhan manusia yang paling penting, mungkin setelah udara. Dengan demikian, banyak orang yang mati-matian mengejar kekayaan. Mengejar kekayaan merupakan jalan yang berbahaya bagi orang-orang Kristen dan menjadi sesuatu yang diperingatkan Allah: Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang.

Kalau kekayaan merupakan tujuan yang baik bagi orang-orang saleh, Yesus sudah pasti akan mengejar kekayaan. Namun, Dia tidak melakukan itu, dan lebih memilih tidak memiliki tempat untuk meletakkan kepala-Nya (Matius 8:20) dan mengajar murid-murid-Nya untuk bersikap serupa.

Yesus berkata kepadanya: ”Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.” Matius 8: 20

Inilah yang sulit dimengerti oleh orang di zaman ini, karena tentu kita perlu memerlukan bantal yang empuk untuk tidur, dan rumah untuk melindungi kita dari hujan dan angin. Kita tidak dapat hidup seperti serigala yang hanya mempunyai liang dan burung yang tinggal dalam sarang. Kita memerlukan kepastian dalam hidup! Itulah dalih mereka yang mengejar keuntungan.

Paulus memperingatkan Timotius akan orang-orang semacam ini dalam 1 Timotius 6: 6-10.

“Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar. Sebab kita tidak membawa sesuatu apa ke dalam dunia dan kita pun tidak dapat membawa apa-apa ke luar. Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah. Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan. Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.”

Memang Yesus pernah berkata bahwa orang tidak dapat mengabdi kepada dua tuan, dan kita tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada berhala Mamon (Matius 6: 24).

“Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.”

Ayat mas di atas, diucapkan oleh teman-teman Daniel (Sadrakh, Mesakh dan Abednego) yang menghadapi risiko hukuman mati karena mereka menolak untuk menyembah raja dan patung emasnya. Jika mereka tahu bahwa Tuhan tidak menghendaki mereka menyembah berhala, mereka tidak tahu apa yang akan Tuhan lakukan jika mereka melawan kehendak raja. Apakah mereka berpikir bahwa Tuhan menghendaki mereka mati terbakar? Tentu saja tidak. Tetapi, mereka tahu bahwa apa yang akan dilakukan Tuhan adalah ketidakpastian bagi mereka. Tuhan pasti akan melakukan sesuatu, tetapi mereka tidak pasti tentang apa yang akan terjadi. Ketidakpastian yang nyata, karena Tuhan adalah Tuhan yang berdaulat. Ia tidak perlu berunding dengan ciptaan-Nya untuk mengambil keputusan.

Adakah yang pasti bagi teman-teman Daniel? Ada! Mereka tahu bahwa Tuhan yang mahakuasa adalah Tuhan yang mahakasih. Mereka percaya bahwa Tuhan yang mahakuasa dan mahabijaksana berhak untuk memutuskan apakah Ia akan bertindak atau tidak. Jika mereka akhirnya dimasukkan ke dalam perapian yang menyala-nyala, itu pasti karena kejahatan orang-orang di sekitarnya. Bukan karena kehendak Tuhan untuk mengambil nyawa mereka dengan cara yang keji. Tuhan tidak dapat berubah dari gembala yang baik yang melindungi para umat-Nya di satu saat, menjadi Tuhan yang menghancurkan mereka pada saat yang lain. Lalu, apa yang akan terjadi? Mereka tidak tahu, tetapi bukan tidak beriman.

Apa yang mungkin terjadi adalah bahwa Tuhan terkadang mempunyai kehendak aktif untuk melakukan sesuatu (active will) pada suatu saat, tetapi pada saat yang lain Ia mempunyai kehendak untuk tidak bertindak (passive will), agar semua rencana-Nya bisa terjadi. Kedua kehendak itu bisa dilakukan-Nya pada saat yang dikehendaki-Nya, tanpa dipengaruhi oleh apa pun dan siapa pun karena Ia adalah Tuhan yang mahakuasa. Kehendak pasif ini sering diartikan sebagai “izin” dari Tuhan untuk terjadinya sesuatu yang kurang baik. Ini juga sering dipandang orang yang kurang percaya sebagai Tuhan yang alpa atau lupa akan penderitaan umat-Nya. Bahkan sebagai tanda Tuhan yang sudah mati.

Saat ini, jika hidup kita mengalami masalah yang besar dan kita merasa sangat menderita, janganlah kita merasa bahwa Tuhanlah membuatnya. Dunia ini sudah jatuh ke dalam dosa, dan karena itu segala penderitaan dan bahaya bisa terjadi pada siapa-pun. Tuhan kita yang mahakasih bukanlah Tuhan yang menciptakan malapetaka ataupun perbuatan jahat untuk umat-Nya. Malapetaka dan kejahatan adalah konsekuensi kejatuhan manusia dan mungkin juga hasil pekerjaan iblis atau hukuman/peringatan Tuhan untuk orang/bangsa yang sengaja mau melawan Dia. Tetapi hal yang menakutkan dan bisa menimbulkan ketidakpastian, seperti apa yang pernah dialami Daniel dan teman-temannya, terjadi dengan sepengetahuan Tuhan yang mahakuasa. Dan seperti yang terjadi pada Sadrakh, Mesakh dan Abednego, Tuhan bisa membuat itu menjadi pelajaran yang berharga untuk kita maupun orang lain.

Alkitab menegaskan bahwa bagaimanapun, penderitaan dan kematian adalah musuh (1 Korintus 15:26), kutukan (Kejadian 3:14-17) untuk semua ciptaan, termasuk makhluk hidup. Tetapi, penghakiman yang mengerikan itu adalah karena pemberontakan Adam (Kejadian 3:17; 1 Timotius 2:14), dan bukan merupakan bagian dari ciptaan Allah yang baik. Penderitaan manusia yang ada dalam rancangan Tuhan begitu asing bagi sebagian orang Kristen, sehingga mereka bingung dalam menghadapi orang yang menyarankan bahwa Tuhan “mengarang” kematian bagi ciptaan-Nya. Tetapi Daniel dan teman- temannya jelas tidak bingung, mengapa ia harus menghadapi kematian. Ia tahu bahwa penderitaan dan kematian adalah bagian hidup manusia yang berdosa. Tetapi, berbeda dengan orang yang tidak berTuhan, ia tahu bahwa baik dalam hidup atau mati, Tuhan senantiasa beserta dia.

Tuhan mengasihi setiap umat-Nya. Itu tidak perlu diragukan. Memang terkadang Tuhan seakan tidak mau bertindak menolong umat-Nya, tetapi kita harus yakin bahwa itu bukan berarti Tuhan tidak peduli akan penderitaan kita. Sekalipun sulit kita mengerti, Tuhan akan bekerja pada saat yang tepat sesuai dengan kehendak-Nya. Tuhan memegang kontrol atas keadaan di dunia. Karena itu, dalam menghadapi tantangan hidup, apa yang perlu kita pertahankan adalah keyakinan bahwa Ia adalah Tuhan yang mahakuasa adalah Tuhan yang mahakasih. Kita tidak pasti akan apa yang terjadi, tetapi kita pasti bahwa kasih-Nya senantiasa beserta kita.

“Kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita. Allah adalah kasih, dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia.” 1 Yohanes 4: 16

Manusia 100% bertanggung jawab atas hidupnya

“Demikianlah setiap orang di antara kita akan memberi pertanggungan jawab tentang dirinya sendiri kepada Allah.” Roma 14: 12

Tidak terasa tahun 2022 sudah hampir separuhnya dilalui. Apa yang sudah aku capai dalam tahun ini? Apakah aku sudah memperoleh apa yang aku inginkan? Adakah hal yang belum tercapai sampai sekarang? Mungkin begitu pertanyaan seseorang kepada diri sendiri, jika ia mau meneliti hidupnya pada saat ini. Tetapi ada banyak orang yang memilih untuk tidak memikirkan hal-hal itu, terutama jika apa yang diharapkan belum tercapai. Apalagi mereka yang masih mengalami badai kehidupan di saat ini, mereka mungkin hanya ingin melupakan semua itu.

Bagi mereka yang beriman, sebenarnya berbagai hal di atas tidaklah penting. Bagi mereka, mencapai kesuksesan hidup duniawi bukanlah sesuatu yang didambakan. Sebaliknya, orang Kristen lebih mementingkan ketaatan kepada Kristus. Oleh sebab itu, hari apa saja adalah kesempatan bagi setiap orang percaya untuk meneliti apa yang sudah dilakukan selama ini, sehubungan dengan apa yang diperintahkan Tuhan. Apakah kita sudah bertumbuh secara rohani sesuai dengan apa yang dikehendaki-Nya?

Ada banyak orang Kristen yang tidak pernah bertumbuh secara rohani. Tahun demi tahun lewat, tetapi mereka tetap hidup seperti orang yang belum dewasa secara iman. Mereka mengaku Kristen karena ke gereja atau sesekali membaca Alkitab, tetapi tidak hidup menurut firman-Nya. Baik dalam kelakuan, perkataan, pikiran , dan perbuatan, mereka hampir tidak dapat dibedakan dengan mereka yang tidak mengenal Kristus.

Ada banyak orang Kristen yang masih mementingkan kesuksesan duniawi dan kecewa atau kuatir jika hidup tidak berjalan seperti yang dikehendaki. Ada juga yang selalu mengejar keuntungan dan kenikmatan dengan menghalalkan segala cara. Dan bahkan ada juga orang yang menggunakan firman Tuhan untuk mencari keuntungan pribadi. Semua itu menunjukkan hidup yang belum sepenuhnya dipakai untuk memuliakan Tuhan.

Sebagai orang percaya, kita yakin bahwa Tuhan berdaulat atas segala ciptaan-Nya, dan karena itu tidak ada satu makhluk pun yang bisa mempengaruhi-Nya. Tuhan sudah mempunyai rencana untuk seisi jagad raya dan isinya, dan itu termasuk rencana untuk setiap manusia. Setiap manusia sudah ditetapkan-Nya untuk berada dalam lingkungan tertentu dan menerima apa yang sudah ditentukan-Nya dalam hidupnya. Tetapi itu bukan berarti bahwa manusia tidak mempunyai peran apa pun dalam hidupnya, karena Tuhan juga sudah menetapkan tugas dan peranan masing-masing. Itu berarti bahwa Tuhan 100% berdaulat, dan manusia 100% bertanggung jawab atas hidupnya.

Banyak orang Kristen yang merasa kedaulatan Tuhan itu berarti manusia tidak mempunyai opsi apa pun. Mereka percaya bahwa segala sesuatu sudah ditentukan oleh Tuhan sehingga manusia tidak mempunyai peran yang berarti dalam hidupnya. Ini adalah pandangan deterministik yang dalam bentuk ekstrim bisa menjadi pandangan fatalisme yang menyatakan bahwa manusia tidak bisa berbuat apa-apa selain menjalankan apa yang ditentukan Tuhan. Sudah tentu, pandangan sedemikian adalah keliru dan bertentangan dengan ayat di atas.

Setiap orang akan memberi pertanggungjawaban tentang dirinya sendiri kepada Allah, begitu bunyi ayat yang ditulis oleh rasul Paulus kepada jemaat di Roma. Ada pertanggungjawaban pribadi berarti ada yang dilakukan, dikatakan dan dipikirkan secara pribadi. Bagaimana dengan tanggung jawab manusia atas apa yang dilakukan oleh orang lain, apa yang terjadi di luar kuasanya, atau atas apa yang dilakukan Tuhan dalam hidupnya? Sudah tentu ia tidak bertanggung jawab atas hal-hal itu, tetapi ia bertanggung jawab atas reaksi atau responnya atas hal-hal itu. Dengan demikian, setiap manusia harus 100% bertanggung jawab atas hidupnya yang berada dalam rancangan Tuhan.

Manusia tidak dapat menolak tanggung jawabnya dengan alasan bahwa Tuhan sudah menentukan segalanya. Manusia juga tidak dapat menuduh Tuhan berlaku tidak adil dengan memberikan apa yang tidak seindah atau sebesar apa yang diberikan Tuhan atas orang lain. Tetapi setiap manusia bertanggung jawab atas talenta atau setiap karunia Tuhan yang sudah diterimanya.

Tuhan menentukan semua rencana-Nya, tetapi adanya manusia yang bertanggung jawab adalah bagian dari penetapan-Nya. Pertengahan tahun adalah kesempatan yang baik bagi kita untuk meneliti hidup kita, sampai di mana kita sudah berusaha untuk hidup dalam terang Kristus. Setiap orang sudah diberikan kebebasan oleh Tuhan untuk memilih jalan dan cara hidupnya. Firman Tuhan berkata bahwa setiap orang akan memberi pertanggungjawaban tentang dirinya sendiri kepada Allah!

Maya atau nyata?

“Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita.” 1 Yohanes 1: 8

Mungkin sejak adanya Facebook, orang mulai mengerti bagaimana hidup dalam dunia maya. Perkembangan media elektronik memungkinkan orang di seluruh dunia untuk berkomunikasi, berteman dan bahkan jatuh cinta melalui internet. Kemajuan dalam teknologi ponsel juga membuat media lainnya seperti Youtube, Instagram dan TikTok bisa melaporkan “pandangan mata” dari mana saja.

Menampilkan foto selfie dan menyebarkannya ke seluruh dunia bisa membuat orang menjadi kaya karena kepopulerannya yang membawa penghasilan dari penampilan medianya. Walaupun demikian, sebagian orang tahu bahwa apa yang muncul di dunia maya sebagai hal yang memikat, tidaklah seindah yang sebenarnya. Banyak isi media itu adalah palsu, dan itu termasuk pribadi dan kehidupan orang yang muncul di sana.

Tanpa adanya media elektronik, hidup manusia sebenarnya sudah mirip dengan hidup di dunia maya. Apa yang terlihat bukanlah seperti yang sebenarnya. Orang yang nampaknya baik dari penampilannya, belum tentu demikian dalam hidupnya. Dan itu termasuk kita. Semua orang di dunia bukanlah orang baik di mata Tuhan yang tahu apa yang ada dalam hati dan pikiran kita.

Siapakah manusia yang tidak berdosa? Agaknya semua orang, dari segala bangsa dan segala agama, akan mengaku sebagai orang yang berdosa jika ditanya.  Semua orang, bagaimanapun baiknya umumnya mengaku bahwa mereka adalah orang-orang yang tidak sempurna. Walaupun demikian, jika ditanya apa yang sudah mereka lakukan untuk dosa-dosa mereka, mungkin tidak banyak yang bisa mereka katakan. Mungkin saja ada yang sudah bertobat dari dosa tertentu, tetapi tentunya banyak dosa-dosa lain yang tersisa.  Mungkin jika dosa-dosa itu tidak terasa sebagai dosa besar, mereka dengan mudah melupakannya atau mungkin saja tidak menyadarinya. Hidup manusia adalah seperti foto selfie saja. Semua terlihat baik dan indah.

Sebagian yang dianggap dosa, mungkin bertalian dengan etika kehidupan. Memang etika bisa menjadi pedoman praktis tentang apa yang baik dan yang buruk dalam hidup sehari-hari. Tetapi, setiap manusia, keluarga, suku atau bangsa tentunya mempunyai etika yang berbeda-beda. Apa yang bisa diterima oleh orang yang satu, belum tentu bisa diterima oleh orang yang lain.Tidaklah mengherankan jika kita melihat bahwa ada orang -orang yang dengan enaknya melakukan sesuatu yang dianggap tabu oleh orang lain. Apalagi mereka yang berkuasa dan ternama biasanya tidak lagi mempunyai rasa segan atau malu untuk melakukan hal yang salah.

Bagi orang Kristen pun ada berbagai faktor yang bisa menyebabkan perbedaan pendapat tentang apa yang baik dan apa yang buruk, antara lain pendidikan, kebiasaan, tekanan ekonomi, situasi politik dan sebagainya. Semua itu bisa membuat orang tidak peduli atau kurang peka dengan dosa-dosa yang ada pada dirinya, atau yang ada dalam masyarakat. Apa yang kelihatan sebagai dosa kemudian diterima sebagai sesuatu yang tidak bisa dihindari, dan bahkan mungkin sebagai kehendak Tuhan. Mereka mungkin berpendapat bahwa dosa bukanlah hal yang harus dipikirkan jika mereka sudah dipilih oleh Tuhan untuk diselamatkan. Mereka lupa bahwa jika firman Tuhan bisa ditafsirkan seenaknya atau ada yang bisa diabaikan, hidup manusia akan perlahan-lahan jatuh ke dalam kehancuran.

Sebagai orang yang sudah diselamatkan, kita percaya bahwa Roh Kudus diam dalam hidup kita. Roh Kudus yang pada mulanya membuat kita sadar bahwa kita perlu menerima Yesus Kristus agar kita bisa diselamatkan, adalah Roh yang tinggal dalam hati kita dan membimbing kita agar hidup kita makin lama makin baik. Tetapi, jika kita kerap kali mengabaikan suara Roh Kudus dan lebih sering mengikuti kehendak kita sendiri, lambat laun kita akan makin sulit untuk mendengarkan suara-Nya karena kita sudah mendukakan Roh itu (Efesus 4: 30). Secara perlahan-lahan kita menjadi orang yang tidak peduli akan dosa kita dan dosa orang-orang di sekitar kita. Kita tidak juga peduli dengan keadaan bangsa, negara dan dunia.

Ketidakpedulian akan keadaan diri kita dan diri orang lain yang melakukan berbagai dosa, adalah sama dengan tidak mengakui dosa kita. Kita mungkin tidak lagi merasa perlu untuk berdoa memohon pengampunan dan meminta kekuatan untuk menghilangkan dosa-dosa itu dari diri kita, dari keluarga dan dari bangsa kita, karena hal-hal itu sudah kita terima sebagai kenyataan yang tidak bisa kita hindari. Mungkin saja kita berusaha melupakan hal-hal itu karena adanya keraguan bahwa Tuhan akan bertindak, dan mungkin juga karena adanya kekuatiran bahwa orang lain akan tersinggung atau marah. Dengan demikian kita berbuat dosa dengan mengabaikan kuasa Tuhan dan kebenaran hukum dan firman-Nya.

Pagi ini, adakah kesadaran yang muncul dalam hati kita bahwa ada banyak dosa yang terjadi dalam hidup kita, dalam keluarga, pekerjaan, sekolah, masyarakat dan negara kita? Apakah kita masih bisa merasakan teguran Roh Kudus yang menyatakan kepada kita bahwa ada hal-hal yang tidak sepantasnya dilakukan oleh umat-Nya? Apakah kita masih bisa mendengar bahwa kita juga terpanggil untuk memerangi dosa yang ada dalam masyarakat di sekitar kita? Adakah rasa sesal dalam hati kita bahwa selama ini kita tidak mempunyai keberanian untuk menyatakan firman Tuhan dalam masyarakat? Biarlah  pengakuan dosa atas ketidakpedulian kita selama ini boleh membawa perubahan sikap hidup kita pada hari-hari mendatang.

“Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” 1 Yohanes 1: 9

Dosa yang membawa kebinasaan

“Tetapi apabila seorang menghujat Roh Kudus, ia tidak mendapat ampun selama-lamanya, melainkan bersalah karena berbuat dosa kekal.” Markus 3: 29

Ingatkah anda akan lagu “Tiada maaf bagimu”? Lagu yang dinyanyikan oleh Broery Marantika ini sangat terkenal dan juga pernah dinyanyikan oleh penyanyi-penyanyi lain, diantaranya Tetty Kadi. Lagu dengan judul yang sama tapi berbeda lirik, belakangan juga muncul dan mencapai ketenaran melalui beberapa penyanyi lain. Agaknya bagi manusia, tidak adanya maaf untuk orang yang sudah menyakiti hati mereka adalah hal yang biasa. Bagaimana dengan Tuhan? Adakah dosa tertentu yang membuat Dia tidak dapat mengampuni umat manusia sesudah banjir di zaman nabi Nuh??

Kita mungkin pernah mendengar tentang tujuh dosa utama (seven capital sins) atau tujuh dosa mematikan (seven deadly sins) yang pernah disebut dalam tradisi gereja di abad mula-mula. Sekalipun kita tahu bahwa di hadapan Tuhan semua dosa adalah dosa yang bisa membawa kematian, angka tujuh menempati posisi yang unik dalam kehidupan umat Kristen. Ketujuh dosa utama tersebut adalah:

Kesombongan (Pride, Superbia)
Iri hati (Envy, Invidia)
Kemarahan (Anger, Ira)
Ketamakan (Greed, Avaritia)
Nafsu-birahi (Lust, Luxuria)
Rakus (Gluttony, Gula)
Kemalasan (Sloth, Acedia)

Sebagian orang mungkin juga berpikir bahwa membuat kategori “tujuh dosa” adalah sia-sia, karena di mata Tuhan tidak ada dosa kecil atau dosa besar. Ini benar. Namun, dalam tradisi Kristen yang panjang ketujuh dosa utama ini terus didengungkan karena sikap realistis bahwa ketujuh dosa ini memang “utama,” dalam arti ia melahirkan banyak dosa-dosa lainnya. Karena itu mereka disebut dosa utama (capital, caput, kepala).

Ketujuh dosa tersebut bersifat generatif, melahirkan dosa lainnya. Membunuh istri tentu saja dosa yang berat, demikian pula di mata hukum, namun bagaimana dengan keserakahan (greed), satu dari tujuh dosa utama, yang melandasi tindakan membunuh tersebut, keserakahan karena mengingini uang asuransi kematian sang istri? Apakah memang pemerkosaan yang dilakukan seorang pria dewasa tidak berkorelasi dengan nafsu berahi orang itu saat ia masih remaja dan asyik-masyuk dengan gambar-gambar di majalah porno? Apakah kita mampu memahami pembasmian orang-orang Yahudi oleh Nazi tanpa mengaitkannya dengan kesombongan (pride) ras Aria?

Pada pihak yang lain, ada orang yang berpendapat bahwa tidak ada dosa yang bisa membawa kebinasaan kepada orang percaya. Orang yang sudah diselamatkan sudah dibasuh dengan darah Kristus dan karena itu tidak ada dosa yang bisa membatalkan penyelamatan itu. Sudah tentu pandangan ini ada benarnya, yaitu jika orang berdosa sudah menerima hidup baru dari Tuhan dan berubah dari hidup lamanya, ia adalah orang yang benar-benar dipilih oleh Tuhan. Pada pihak yang lain, ini bukan berarti bahwa setiap orang yang rajin ke gereja, tetapi tetap bergelimang dalam dosa adalah orang yang sudah diselamatkan.

Apakah Tuhan selalu mau mengampuni dosa manusia sekalipun dulunya mereka adalah penghujat Allah Bapa dan Yesus Kristus? Tentu! Jika mereka dengan pengarahan Roh Kudus mau mengaku dosa dan bertobat, mereka akan diampuni dan menerima keselamatan. Banyak orang yang dulunya penghujat Kristus, seperti halnya rasul Paulus, bisa diterima sebagai anak-anak Allah dan menjadi pengikut Kristus.

Jika setiap orang yang benar-benar bertobat akan diampuni Tuhan, ayat pembukaan di atas bunyinya terasa janggal. Kalau dibaca secara literal, seolah ayat itu mengatakan bahwa hanya satu dosa yang tidak bisa diampuni sekarang dan selamanya, yaitu dosa kepada Roh Kudus! Bagaimana bisa? Apakah Roh Kudus lebih tinggi dari Allah Bapa dan Yesus Kristus? Bukankah Tuhan itu satu adanya, sekalipun mempunyai tiga persona?

Mereka yang menghujat Roh Kudus adalah orang-orang yang dengan sengaja menolak bekerjanya Roh dalam hidup mereka. Jika Roh Kudus mengingatkan mereka untuk bertobat dari dosa dan memohon pengampunan, mereka menolak-Nya dengan keyakinan bahwa tidak ada yang salah dalam hidup mereka. Mereka percaya bahwa mereka adalah orang-orang yang hidupnya terlihat baik dan terhormat dalam masyarakat. Mungkin juga mereka adalah orang-orang yang merasa yakin sudah dipilih oleh Tuhan dari awalnya. Mereka menolak kenyataan bahwa Yesus adalah Anak Allah yang datang ke dunia untuk menyelamatkan orang yang mau bertobat.

Mereka yang menghujat Roh Kudus itu tidak akan dapat menyadari dosa mereka, dan karena itu tidak mau untuk memohon ampun kepada Tuhan dan mengakui Yesus sebagai Juruselamat mereka. Dengan demikian, orang yang menolak Roh Kudus akan menjadi orang-orang yang tidak dapat diampuni untuk selamanya.

Memang, jika kita benar-benar percaya kepada Allah dan Putra-Nya yang tunggal, Yesus Kristus, keselamatan sudah diberikan kepada kita. Itu adalah hasil pekerjaan Roh Kudus. Roh Kudus tidak akan meninggalkan kita dan Ia akan bekerja secara luar biasa dalam hidup kita. Pada pihak yang lain, mereka yang belum benar-benar percaya cenderung mengabaikan suara Roh Kudus, dan akan kehilangan kesempatan untuk menerima keselamatan. Tanpa Roh Kudus orang tidak akan bisa menjadi pengikut Kristus dan memperoleh mahkota kehidupan dari Allah seperti yang sudah diterima Yesus.

Biarlah Roh Kudus bisa bekerja makin hebat dalam diri kita, agar melalui hidup kita, mereka yang belum percaya mau mendengarkan suara Roh Kudus yang membawa mereka ke arah pertobatan dan keselamatan.

“Dan jika Roh Dia, yang telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati, diam di dalam kamu, maka Ia, yang telah membangkitkan Kristus Yesus dari antara orang mati, akan menghidupkan juga tubuhmu yang fana itu oleh Roh-Nya, yang diam di dalam kamu.” Roma 8: 11

Tuhan menghargai jerih payah kita

“Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.” Matius 25: 21

Ayat di atas muncul di saat Yesus menyampaikan perumpamaan tentang talenta (Matius 25: 14-30). Jika perumpamaan ini adalah sebua perumpamaan yang sering disampaikan dalam bentuk renungan atau khotbah, ayat di atas mungkin jarang dibahas secara mendalam. Kebanyakan pembahasan mengenai talenta adalah dikaitkan dengan tanggung jawab umat Tuhan dalam menggunakan berbagai berkat Tuhan untuk kemuliaan-Nya. Tetapi, ayat di atas jelas menunjukkan bahwa Tuhan menghargai perbuatan baik (good works) dari manusia, dan kita boleh berharap akan, dan bahkan menginginkan, pujian dari Tuhan atas hidup baik kita di duna.

Perbuatan baik tidaklah membawa keselamatan bagi manusia, tetapi perbuatan baik adalah respon kita atas keselamatan yang sudah diberikan Tuhan. Dengan demikian, mereka yang sudah diselamatkan tentunya akan menanggapi panggilan Tuhan untuk berbuat baik, karena itu adalah bagian dari proses penyucian umat percaya selama hidup di dunia. Mereka yang sudah benar-benar diselamatkan akan berusaha hidup baik dan berbuat baik dengan pertolongan dan bimbingan Tuhan, karena adalah baik jika kita menghadap Tuhan dan mendapat pujian dari-Nya daripada mendapat celaan.

Pemikiran tentang mendapatkan pujian dari Tuhan pada saat umat-Nya menghadap Dia, mungkin sering dikhotbahkan dalam gereja-gereja tertentu, tetapi jarang dan bahkan diabaikan pada gereja-gereja lain. Mengapa begitu? Pemikiran bahwa Tuhan sudah memilih umat-Nya untuk diselamatkan, dan sudah menentukan segala sesuatu dalam hidup mereka, membuat orang agak apatis untuk berbuat baik. Apalagi, seringkali perbuatan baik sering diberi konotasi yang kurang baik, karena adanya anggapan bahwa orang yang melakukannya adalah orang yang ingin diselamatkan melalui usaha sendiri.

Alkitab menggambarkan hubungan orang Kristen dengan Tuhan adalah seperti hubungan antara suami dan istri. Karena orang Kristen adalah seperti mempelai yang dikasihi oleh Yesus Kristus. Yesus yang sudah berjanji untuk menyertai kita untuk selamanya, mengharapkan agar kita juga setia kepada-Nya dalam setiap keadaan. Mau memuliakan Tuhan dengan hidup kita, dan tidak pernah menyia-nyiakan berkat-berkat yang sudah dikaruniakan-Nya dalam hidup kita.

Keinginan untuk menggunakan berkat Tuhan untuk kemuliaan-Nya sering kali padam ketika orang kurang bisa merasakan kasih-Nya dan berkat-Nya dalam hidup. Banyak orang Kristen yang mengharapkan hidup yang penuh kemakmuran dan kesuksesan jika mereka mengikut Yesus, kemudian goncang imannya ketika hidup berubah menjadi buruk, dan jika apa yang diberikan Tuhan dalam hidup mereka terasa kecil. Tuhan terasa tidak adil, dan karena itu keiniginan untuk memakai talenta guna memuliakan Tuhan menjadi berkurang (Matius 25: 24-25).

Bagaimana kita bisa berbuat baik dalam setiap keadaan? Rasul Paulus adalah contoh orang yang merasakan banyaknya asam-garam kehidupan. Ia pernah menjadi tokoh agama, orang kaya, pandai dan ternama, orang yang kejam terhadap pengikut Kristus. Tetapi, sesudah ia bertobat, Paulus berubah menjadi rasul yang bijaksana, penuh kasih, dan benar-benar taat kepada Kristus dalam setiap keadaan, dalam keadaan sehat ataupun sakit, dalam kelimpahan atau kekurangan; dan bahkan ketika hidupnya dalam bahaya, ia tetap bekerja untuk kemuliaan Tuhan. Ia setia sampai mati.

Paulus juga menggambarkan kesetiaan orang Kristen kepada Tuhan sebagai seorang prajurit yang tidak memusingkan persoalan hidupnya, sebagai seorang olahragawan yang mau mengikuti peraturan-peraturan olahraganya, dan sebagai seorang petani yang harus bekerja keras untuk menikmati hasil usahanya. Dengan demikian, memikirkan kepentingan Tuhan, menjalani hidup baik sesuai dengan firman-Nya, dan bekerja untuk kemuliaan-Nya adalah tugas kita.

Hidup sebagai pengikut Kristus memang tidak mudah. Tetapi, kenyataan bahwa Ia sudah mati berkurban untuk kita seharusnya membawa kesadaran bahwa kita yang sudah dipilih-Nya, adalah makhluk yang sangat berharga. Kesadaran inilah yang harus mebuat kita untuk setia dalam iman, dan mau bekerja untuk Tuhan dalam keadaan apa pun sehingga kita bisa menjadi contoh tentang kesetiaan yang sejati bagi orang lain.

“Karena itu aku sabar menanggung semuanya itu bagi orang-orang pilihan Allah, supaya mereka juga mendapat keselamatan dalam Kristus Yesus dengan kemuliaan yang kekal.” 2 Timotius 2: 10

Hari ini, pertanyaannya apakah kita mempunyai kesetiaan seperti hamba yang baik. Ataukah kita tidak perlu memikirkan apa yang kita lakukan dalam hidup kita karena keselamatan kita sudah terjamin?

”Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar.” Lukas 16: 10

Dosa adalah memusuhi Allah

“Sebab keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah, karena ia tidak takluk kepada hukum Allah; hal ini memang tidak mungkin baginya.” Roma 8: 7

Ketika Paulus berkata dalam ayat di atas bahwa “keinginan daging adalah permusuhan dengan Allah”, dia memberi arti yang paling penting untuk dosa. Dosa adalah kontradiksi dengan Tuhan, kontradiksi dengan kemuliaan Tuhan yang mahabesar. Tidak ada yang lebih dekat dengan kemuliaan Tuhan selain kebenaran-Nya; karena Dia adalah kebenaran. Iblis, si penggoda, tentu sangat menyadari hal ini, dan karena itu strateginya sampai sekarang adalah memutar-balikkan kebenaran Tuhan. Kepada Hawa dia berkata: “Sekali-kali kamu tidak akan mati” (Kejadian 3: 4). Ini adalah penolakan terang-terangan atas kebenaran Tuhan. Ketika Hawa dengan kehendaknya sendiri menerima kontradiksi ini, hubungannya dengan Tuhan menjadi berantakan dan karena dosanya ia terbelenggu oleh iblis. Kemarahan Tuhan terhadap iblis adalah karena apa yang diperbuatnya dulu, yang membawa kejatuhannya, adalah sama dengan apa yang ia gunakan untuk merayu Hawa.

“Iblislah yang menjadi bapamu dan kamu ingin melakukan keinginan-keinginan bapamu. Ia adalah pembunuh manusia sejak semula dan tidak hidup dalam kebenaran, sebab di dalam dia tidak ada kebenaran. Apabila ia berkata dusta, ia berkata atas kehendaknya sendiri, sebab ia adalah pendusta dan bapa segala dusta”`(Yohanes 8:44).

Jelas bahwa dosa adalah penolakan manusia terhadap kehendak Tuhan. Kejatuhan manusia ke dalam dosa bukanlah kehendak Tuhan, karena Ia memberi Adam dan Hawa sebuah larangan yang mudah dimengerti. Jika kehendak Tuhan tidak bisa ditolak manusia, tentu tidak akan ada dosa. Firman Tuhan sudah diungkapkan dalam Injil dan karena itu semua kontradiksi atas Injil adalah penolakan manusia yang sudah diketahui Allah sejak mulanya.

Di dalam Injil kita melihat bentuk kasih karunia Allah yang sudah dirancang sebelum kejatuhan, dan Kristus adalah perwujudan dari kasih karunia itu. Oleh karena itu, ketidakpercayaan kepada Kristus adalah penolakan atas kasih karunia Tuhan yang akan membawa maut (Roma 6: 23). Jadi, untuk mengatakan bahwa semua kasih karunia Tuhan tidak dapat ditolak berarti menyangkal fakta-fakta kehidupan manusia berdosa seperti apa yang dicantumkan dalam Alkitab.

Jika manusia dikatakan tidak dapat menolak karunia Tuhan, dan tetap ada banyak orang yang jelas-jelas memilih cara hidup yang keliru, mungkinkah itu karena Tuhan sengaja membuat mereka menolak karunia-Nya? Mungkinkah Tuhan sudah dari awalnya menetapkan mereka untuk ke neraka? Dalam hal ini, berbagai aliran teologi dan gereja mempunyai jawaban yang berlainan. Persoalannya, selama hidup di dunia kita tidak dapat mengetahui jalan pikiran Tuhan (Yesaya 55: 8 – 9) dan Tuhan tidak pernah mengatakan secara pribadi bahwa hidup kita adalah cukup baik bagi-Nya. Sebaliknya, Tuhan sudah berkata bahwa semua orang sudah berdosa dan kehilangan kemuliaan Allah (Roma 3: 23). Semua orang jelas memenuhi syarat untuk masuk ke neraka!

Alkitab berkata bahwa untuk diselamatkan, kita cukup dengan modal percaya.  Iman kepada Kristus ini adalah pemberian Tuhan kepada semua orang yang dipanggil-Nya. Mereka yang mau menyambut dengan baik pemberian iman yang menyelamatkan itu akan terlihat dari hidup mereka yang diperbarui. Iman yang benar akan terlihat dari perbuatan mereka dalam hidup  sehari-hari, karena iman tanpa perbuatan adalah mati (Yakobus 2: 26). Sebaliknya, mereka yang masih belum berubah dari hidup lama adalah orang-orang yang mungkin saja belum mengakui bahwa Yesus adalah Tuhan.

Roma 10: 9 mengatakan jika kita mengaku dengan mulut kita, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hati kita, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kita akan diselamatkan. Dengan kata lain, jika kita percaya kepada Yesus dengan sepenuhnya, yaitu baik luar dan dalam, maka kita tidak perlu meragukan keselamatan kita. Luar dan dalam? Ya, memang dari luar orang mungkin terlihat seperti orang beriman, tetapi apa yang ada dalam hatinya tidak ada seorang pun  yang tahu. Sebaliknya, ada orang yang merasa bahwa Yesus ada dalam hatinya, tetapi segala perbuatan dan perkataannya tidak mencerminkan hal itu.

Jika dosa adalah berasal dari manusia sendiri, bukankah itu yang menyebabkan manusia menolak karunia keselamatan Allah? Jawaban untuk pertanyaan ini adalah YA. Jika ada gagasan bahwa seseorang tidak mungkin menolak kasih karunia Tuhan, sejarah umat manusia adalah penuh dengan perlawanan yang tiada hentinya terhadap anugrah Tuhan. Memang kita mampu menolak kasih karunia Tuhan, dan dalam hidup lama kita, kita benar-benar sudah pernah menolak kasih karunia Tuhan. Tetapi, meskipun kita secara alami bisa menolak anugerah Tuhan, kasih dan kuasa Tuhan begitu kuat sehingga dapat mengatasi penolakan alami kita terhadap-Nya, jika Ia menghendaki-Nya.

Mereka yang benar-benar sudah menerima Kristus dan menerima Dia sebagai penguasa seluruh hidup mereka, luar dan dalam, sudah pasti akan masuk ke surga. Kata “benar-benar” disini harus digaris bawahi karena ini berarti tidak ada maksud untuk mengecoh atau membohongi Tuhan. Mereka yang dengan sengaja secara terus menerus membohongi Tuhan dengan mengabaikan Dia dan menolak untuk menaati perintah-Nya, adalah orang-orang yang belum benar-benar menerima Kristus. Mereka itu adalah orang yang sudah melakukan dosa yang membawa kebinasaan (1 Yohanes 5: 16-17).

Pada pihak yang lain, mungkin di antara kita masih ada yang bergumul untuk memutuskan, apakah mau memilih panggilan Kristus atau mengikuti kenikmatan duniawi. Mungkin juga kita mengenal orang-orang yang dengan sengaja menolak panggilan Kristus untuk menerima karunia keselamatan. Di sini peranan pemuridan dan doa orang Kristen adalah sangat penting (Matius 28: 19-20). Tuhan bekerja menurut rencana-Nya, dan kita tidak mengerti atau tahu apa yang akan dilakukan-Nya kepada orang-orang yang belum benar-benar percaya kepada-Nya. Dalam hal ini, doa dan usaha mengabarkan Injil kita adalah pernyataan kepada mereka yang belum tunduk kepada Tuhan bahwa Tuhan pada hakikatnya mengasihi seisi dunia dan ingin agar mereka bisa diselamatkan pada saat yang ditetapkan-Nya.

Pagi ini, kita mungkin merasa yakin bahwa Tuhan sudah menyelamatkan kita. Itu baik adanya. Karena Tuhan sudah memberi kesadaran kepada kita bahwa apa pun tidak akan menyelamatkan kita dari dosa, kecuali melalui darah Yesus Kristus. Hidup kita sudah diubah-Nya setelah kita percaya; kita tahu apa yang baik dan apa yang jahat di mata Tuhan. Lebih dari itu, kita sudah berusaha untuk memuliakan nama-Nya melalui mulut dan di hati kita, luar dan dalam. Jika demikian, kita tidak perlu meragukan janji keselamatan-Nya.

Tanggung jawab pribadi

“Demikianlah setiap orang di antara kita akan memberi pertanggungan jawab tentang dirinya sendiri kepada Allah.” Roma 14: 12

Apa yang sudah aku capai dalam hidupku? Apakah aku sudah memperoleh apa yang aku inginkan? Mungkin begitu pertanyaan seseorang kepada diri sendiri, jika ia mau meneliti hidupnya. Tetapi ada banyak orang yang memilih untuk tidak memikirkan hal-hal itu, terutama jika apa yang diharapkan tidak tercapai. Apalagi mereka yang sering mengalami badai kehidupan, mereka mungkin hanya ingin melupakan semua itu. Selain itu, ada orang yang kurang berminat untuk menganalisa hidupnya karena keyakinan bahwa semua itu sudah ditentukan Tuhan dari awalnya.

Bagi mereka yang beriman, sebenarnya hal di atas memang kurang penting. Bagi mereka, mencapai kesuksesan hidup duniawi bukanlah sesuatu yang didambakan. Sebaliknya, orang Kristen lebih mementingkan ketaatan kepada Kristus. Oleh sebab itu, jika ada kesempatan bagi orang percaya untuk meneliti apa yang sudah dilakukan selama hidup di dunia, itu sehubungan dengan apa yang diperintahkan Tuhan. Apakah kita sudah hidup, bertumbuh dan berbuah sesuai dengan apa yang dikehendaki-Nya?

Ada banyak orang Kristen yang tidak pernah bertumbuh secara rohani. Tahun demi tahun lewat, tetapi mereka tetap hidup seperti orang yang belum dewasa secara iman. Mereka mengaku Kristen karena ke gereja atau sesekali membaca Alkitab, tetapi tidak hidup menurut firman-Nya. Baik dalam kelakuan, perkataan, pikiran , dan perbuatan, mereka hampir tidak dapat dibedakan dengan mereka yang tidak mengenal Kristus.

Ada banyak orang Kristen yang masih mementingkan kesuksesan duniawi dan kecewa atau kuatir jika hidup tidak berjalan seperti yang dikehendaki. Ada juga yang selalu mengejar keuntungan dan kenikmatan dengan menghalalkan segala cara. Dan bahkan ada juga orang yang menggunakan firman Tuhan untuk mencari keuntungan pribadi. Semua itu menunjukkan hidup yang belum sepenuhnya dipakai untuk memuliakan Tuhan.

Dalam perumpamaan tentang talenta (Matius 25: 14 – 30), tiga hamba yang sudah diberikan modal bekerja yang berlainan oleh tuan mereka, pada akhirnya harus menunjukkan laba yang sudah mereka peroleh. Kita bisa membaca bahwa mereka yang dibekali dengan lima dan dua talenta, kemudian mendapatkan penghargaan yang sesuai dengan hasil yang mereka peroleh.

“Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia, engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam perkara yang kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.” Matius 25: 23

Hamba yang ketiga hanyalah menerima satu talenta. Ia merasa kecewa dan tidak yakin akan kegunaannya. Karena itu ia tidak mengolah talenta yang sudah dipercayakan kepadanya dan hanya menyimpannya di dalam tanah. Bagi hamba ini, bukannya upah yang diterimanya, tetapi hukuman atas kemalasannya.

Sangat menarik perhatian, bahwa dalam perumpamaan itu ketiga hamba itu hanya diperintahkan untuk mengolah harta majikannya. Mereka dipercayai untuk memegang sejumlah uang sesuai dengan kesanggupan mereka untuk mengolahnya. Sebagai hamba mereka tidak dijanjikan hadiah jika mereka mencapai hasil tertentu. Tetapi, tentunya setiap hamba tahu bahwa mereka harus berusaha sebaik mungkin untuk menghasilkan apa yang terbaik untuk sang majikan. Dengan demikian, sekalipun kita tahu bahwa Tuhan menghargai kesetiaan kita, “upah” dari Tuhan tidak seharusnya menjadi motivasi kita untuk bekerja bagi Tuhan karena segala sesuatu berasal dari Tuhan.

“Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” Kolose 3: 23

Sebagai orang percaya, kita tahu bahwa Tuhanlah yang sudah memberikan kita talenta, kemampuan untuk bekerja baik dalam bidang jasmani maupun rohani. Sebagai hamba Tuhan, kita hanya menjalankan perintah-Nya untuk mengembangkan apa yang sudah dititipkan-Nya kepada kita. Banyak orang yang merasa bahwa keberhasilan hanya terlihat dari benda-benda yang dapat diperolehnya. Mereka tahu bagaimana bisa mengkalim hadiah dari jerih payahnya, yaitu segala sesuatu yang bersifat jasmani dan materi. Tetapi, firman Tuhan berkata bahwa segala sesuatu, baik kemampuan jasmani ataupun rohani, adalah dari Tuhan, dan oleh Tuhan, dan kepada Tuhan. Karena itu bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya. Apakah kita sudah memakai hidup kita sebagaimana mestinya?