“Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan.” Yakobus 1: 2 – 3
Hari ini pikiran saya melayang ke Surabaya, tempat di mana saya dulu dilahirkan. Situasi pada saat ini dikabarkan cukup gawat dengan adanya beberapa rumah sakit yang tidak lagi bisa menerima pasien karena banyaknya tenaga medis yang terpapar Covid-19. Saya juga mendengar bahwa ibukota Jakarta sekarang ini berada dalam keadaan kritis. Pikiran saya menjadi gundah. Apalagi, keadaan di Australia pada saat ini juga mulai memburuk secara pelan-pelan, dan ini menambah kekuatiran saya. Mengapa hal ini bisa terjadi?
Setiap orang Kristen tentunya berharap agar Tuhan yang di surga bisa menolongnya jika ia mengalami masalah. Tetapi, keadaan saat ini benar-benar menguji iman siapa pun. Kita percaya bahwa Tuhan selalu ada dalam hidup kita dan menyertai kita. Benarkah demikian? Memang mudah untuk menjawab “ya”, tetapi dalam hidup ini ada kalanya kita merasa bahwa Tuhan itu jauh, terutama jika kita mengalami persoalan hidup yang berat.
Dalam kenyataannya, hidup orang Kristen memang tidak selalu berisi hal-hal yang indah. Ada saat-saat di mana hidup ini terasa sangat berat dan kita tidak dapat merasakan kehadiran Tuhan. Itu adalah lumrah, karena selama hidup di dunia kita belum dapat melihat kebesaran Tuhan sepenuhnya. Walaupun begitu, jika kita mengasihi Tuhan dan percaya kepada-Nya, sekalipun sekarang kita tidak melihat Dia, kita boleh bergembira karena kita telah mencapai tujuan iman kita, yaitu keselamatan jiwa kita (1 Petrus 1: 8 – 9). Ini adalah tujuan utama iman kita, yang membuat kita menjawab panggilan keselamatan-Nya pada saat kita menjadi orang percaya.
Hari ini, apakah anda merasakan beratnya hidup ini? Ayat di atas mengajar kita untuk tetap bertekun dalam iman. Memang segala penderitaan dan pencobaan hidup sering kali terasa sangat berat dan benar-benar menguji iman kita; tetapi hidup tanpa perjuangan bukanlah tujuan iman kita. Ujian hidup kita itu justru akan menumbuhkan iman kita kepada Tuhan, jika kita tetap bergantung kepada bimbingan dan penghiburan Roh Kudus yang selalu ada dalam hidup kita.
“Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu.” Yohanes 14: 27
“Maka Yesus memanggil kedua belas murid-Nya, lalu memberikan tenaga dan kuasa kepada mereka untuk menguasai setan-setan dan untuk menyembuhkan penyakit-penyakit. Dan Ia mengutus mereka untuk memberitakan Kerajaan Allah dan untuk menyembuhkan orang.” Lukas 9: 1 – 2
Pada saat pandemi ini, banyaklah orang yang sudah terpapar virus Covid-19, dan mungkin kita mengenal beberapa orang yang mengalami berbagai masalah kesehatan dan bahkan meninggal dunia karena hal itu. Sangat menyedihkan bahwa ada banyak orang yang dirawat di Rumah Sakit tetapi kemudian tidak tertolong. Memang Covid-19 ini belum ada obatnya. Tetapi, satu hal yang membesarkan hati ialah adanya vaksin bisa mengurangi kemungkinan tertular, dan juga bisa menghindari keparahan jika tertular. Kita juga tahu bahwa penyakit ini hanya mempunyai tingkat kematian sekitar 2-3% dari jumlah orang yang terpapar, dan tentang hal itu kita percaya bahwa segala seuatu terjadi dengan seizin Tuhan.
Adalah suatu kenyataan bahwa setiap orang di dunia ini tentunya pernah jatuh sakit. Memang, dunia sesudah kejatuhan manusia ke dalam dosa adalah dunia yang penuh masalah dan penderitaan. Alkitab menceritakan berbagai masalah kesehatan yang mengganggu hidup manusia, terutama dalam kitab perjanjian baru, di mana berbagai penyakit sudah disembuhkan oleh Yesus dan murid-murid-Nya.
Sudah tentu bahwa ilmu pengetahuan manusia pada zaman dulu tidaklah seperti zaman ini. Ilmu kedokteran saat itu belumlah berkembang dan dengan demikian orang mungkin lebih bergantung pada doa dan keajaiban untuk memperoleh kesembuhan dari penyakit yang tidak dapat diobati oleh para tabib yang ada.
Kedatangan Yesus ke dunia membawa dimensi baru dalam hal kesembuhan. Alkitab mencatat bahwa Ia menyembuhkan banyak orang, sehingga semua penderita penyakit berdesak-desakan kepada-Nya hendak menjamah-Nya (Markus 3: 10). Jika sebelum kedatangan-Nya, orang tidak mempunyai banyak harapan untuk mendapat kesembuhan, Yesus memberi kepastian bahwa sebagai Anak Allah Ia bisa mengalahkan segala penyakit dan bahkan kematian.
Kepada murid-Nya Yesus juga memberikan tenaga dan kuasa untuk menyembuhkan penyakit-penyakit. Memang, dalam paket keselamatan Yesus, Ia mengutus murid-murid-Nya untuk memberitakan Kerajaan Allah dan untuk menyembuhkan orang. Semua itu dimaksudkan agar orang pada zaman itu bisa mengenal Yesus Sang Juruselamat dan memuliakan Allah Bapa yang mengutus-Nya.
Bagaimana pula dengan keadaan di zaman sekarang? Hal kesembuhan yang ajaib masih kita dengar atau alami, tetapi agaknya tidak sesering dulu. Kelihatannya jarang orang yang menganjurkan kita untuk hanya berdoa dan bergantung kepada Tuhan jika terpapar virus Covid-19. Sebaliknya, kita melihat bahwa banyak penderita virus ini yang menjalani perawatan di rumah sakit, tetapi banyak juga orang yang memakai berbagai obat pilihan sendiri untuk menghindari atau menyembuhkan penyakit ini. Obat dan perawatan medis tentunya merupakan berkat dari Tuhan, yang memungkinkan apa yang baik untuk bisa dipakai manusia. Yesus yang sudah menyelesaikan tugas penyelamatan-Nya, tidak lagi perlu untuk mengelilingi dunia dan melakukan penyembuhan ilahi seperti dulu.
Sebagian umat Kristen masih percaya bahwa keadaan sekarang masih tetap seperti dulu. Akibatnya, mereka yang sakit mungkin kurang mempercayai ilmu kedokteran, tetapi lebih mengharapkan adanya keajaiban. Selain itu, ada juga orang-orang yang menganggap bahwa ilmu kedokteran adalah ilmu manusiawi, dan kesembuhan yang paling baik bukanlah melalui ilmu itu, tetapi melalui pengalaman orang lain pada saat ini, dengan kata lain berdasarkan prinsip empiris.
Salahkah jika kita masih mengharapkan pemeliharaan dan kesembuhan ilahi di zaman ini? Tentu tidak! Alkitab menulis bahwa Tuhan tidak berubah. Kasih-Nya tetap sama, begitu juga kuasa-Nya. Jika Ia menghendaki keajaiban terjadi di zaman ini, itu pasti akan terjadi. Kuasa Tuhan ada dan bekerja dalam segala hal, baik itu dalam hal yang kita mengerti maupun dalam hal yang kita kurang mengerti.
Ilmu kedokteran di zaman ini sudah jauh lebih maju daripada apa yang diketahui oleh Lukas, yang pada waktu itu bekerja sebagai tabib (Kolose 4: 14). Lukas yang pada waktu itu mengabarkan injil bersama Paulus, tentunya sadar bahwa dibalik semuanya Tuhanlah yang bekerja. Begitu juga kita yang hidup di zaman modern ini harus percaya bahwa Tuhan tetap memelihara kesehatan kita melalui segala apa yang baik. Ilmu kesehatan dan kedokteran adalah berkat Tuhan yang harus kita syukuri dan bukan sesuatu yang kita abaikan atau hindari.
Pagi ini, adakah masalah kesehatan yang anda hadapi? Percayakah anda bahwa Tuhan tetap peduli akan penderitaan manusia di bumi? Tahukah anda bahwa Ia ingin supaya manusia bisa mengenal-Nya melalui apa yang baik yang sudah diberikan-Nya? Tuhan sudah memberikan berkat-Nya melalui kemajuan ilmu pengetahuan manusia, dan karena itu kita tetap bisa melihat berbagai keajaiban yang dilakukan-Nya termasuk apa yang terjadi melalui ilmu kedokteran. Bersyukurlah bahwa Tuhan itu baik, dan jangan sia-siakan kasih-Nya!
“Tetapi, jikalau kamu bebas dari ganjaran, yang harus diderita setiap orang, maka kamu bukanlah anak, tetapi anak-anak gampang.” Ibrani 12: 8
Hari ini berita di media agaknya membuat banyak orang yang merasa risau. Mereka yang tinggal di Indonesia akan menjalani lockdown mulai tanggal 3 Juli untuk 3 minggu, sedangkan mereka yang tinggal di Australia berharap untuk bisa dibebaskan dari berbagai bentuk lockdown yang ada di negara bagian setempat. Lockdown adalah suatu keadaan yang tidak disenangi siapa pun, tetapi adalah hal yang perlu dijalankan untuk bisa menurunkan kasus positif Covid-19. Lockdown bisa membuat orang kehilangan pekerjaan atau penghasilan, dan sudah menyebabkan berbagai gangguan kejiwaan pada banyak orang karena beratnya kehidupan. Mengapa hidup ini bisa menjadi sedemikian sulit?
Life is not meant to be easy. Hidup tidak dimaksudkan untuk gampang. Begitulah bunyinya sebuah peribahasa Inggris yang sering didengar. Terutama dipakai jika ada keluhan mengapa ada saja kesulitan yang muncul, peribahasa ini bermaksud memberi nasihat bahwa kita tidak perlu merasa susah atau tertekan kalau kita menemui halangan, karena tiap orang memiliki masalah tersendiri. Tetapi itu bukanlah hal yang mudah dijalankan.
Ayat di atas agaknya mempunyai makna yang serupa, tetapi agak jarang kita dengar dalam khotbah. Memang di zaman ini orang lebih senang mendengarkan firman yang berisi kabar gembira, yang bernada positif dan yang selalu membahas kemurahan Tuhan.
Ayat di atas tidak ditujukan kepada semua orang, tetapi hanya untuk mereka yang beriman, orang-orang Kristen. Untuk orang yang sudah menjadi anak-anak Tuhan, bukan mereka yang belum mengikut Yesus. Jika mereka yang tidak percaya kepada Kristus seolah mempunyai “kebebasan” untuk melakukan apa yang mereka maui, dan dengan itu mereka menjadi sesat karena kemauan sendiri; orang Kristen sering kali harus mengalami halangan dan kesulitan hidup, terutama karena mereka harus hidup sesuai dengan perintah Tuhan di surga.
Sebagai anak Tuhan kita mungkin berharap agar hidup kita jadi enak, makmur dan tanpa penderitaan. Tetapi kepada semua umat-Nya, Tuhan justru memberikan berbagai tantangan hidup yang menumbuhkan kesabaran dan kekuatan iman. Memang Tuhan bermaksud mendidik orang yang dikasihi-Nya, dan Ia selalu mendisiplin orang yang diakui-Nya sebagai anak. Sebagai orang Kristen kita malahan harus heran jika iman kita tidak pernah atau jarang diuji dalam hidup ini.
Tuhan berfirman bahwa jika kita ingin agar kita dibebaskan dari kesulitan hidup, kita mengharapkan perlakuan istimewa dari Tuhan; dan itu tidak mungkin selama kita hidup di dunia. Karena itu, sebagai anak Tuhan kita tidak seharusnya meminta agar kita bebas dari kesulitan dan penderitaan hidup, tetapi memohon agar Ia memberikan kita kekuatan untuk menghadapi hal-hal itu. Pagi ini kita diingatkan jika kita berdoa, janganlah untuk Tuhan memberikan tantangan hidup yang sesuai dengan iman kita, tetapi untuk iman yang sebesar tantangan hidup kita!
“Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan,dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan.” Roma 5: 3-4
“Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu.” Daniel 3: 17 – 18
Siapakah yang tahu jalan pikiran Tuhan? Tentu tidak ada seorang pun. Jika manusia dengan logikanya mencoba menduga apa yang akan terjadi, sering kali justru kejutan yang datang. Jika apa yang datang bukan sesuatu yang jahat, manusia kemudian dengan mudah berkata bahwa kehendak Tuhan tidak dapat ditolak. Tuhanlah yang membuat itu terjadi. Titik.
Walaupun demikian, jika apa yang terjadi adalah sesuatu yang jahat atau kejam, pertanyaan muncul apakah Tuhan menghendakinya. Pandemi Covid-19 sudah menyebabkan jutaan orang dari seluruh dunia mengalami kematian dan penderitaan. Apakah Tuhan menghendaki virus corona untuk menghukum seisi dunia?
Sebagian orang Kristen percaya bahwa karena Tuhan mahakuasa dan tidak ada yang bisa terjadi tanpa kehendak-Nya, Tuhan jugalah yang dengan kedaulatanNya (sovereign will) membuat pandemi terjadi dan merajarela di mana saja. Mereka mungkin berpendapat bahwa banyak manusia sudah murtad, dan karena itu Tuhan menjadi murka. Sebaliknya, ada orang lain yang percaya bahwa Tuhan yang mahakasih tidak mungkin menghendaki adanya malapetaka yang menyangkut seisi dunia tanpa pandang bulu. Pandemi memang banyak terjadi di dunia yang sudah jatuh ke dalam dosa, tetapi semuanya terjadi dengan seizin Tuhan, dan sering kali membawa akibat yang baik bagi kehidupan manusia di masa mendatang.
Dengan seizin Tuhan? Apakah Tuhan yang mahakasih mengizinkan adanya pandemi? Jika Ia mengizinkan (permissive will) hal yang jahat, bukankah itu berarti Ia ikut bertanggung jawab atas apa yang dialami manusia? Sebaliknya, jika Tuhan tidak mengizinkan, bagaimana banyak orang, baik Kristen maupun bukan Kristen, dapat terkena dampak pandemi ini? Jika kemarahan Tuhan disebabkan banyaknya orang yang durhaka yang sudah memberotak dari hukum-Nya, mengapa kemarahan-Nya seakan membabi-buta? Inilah masalah manusia yang ingin mengerti apa yang ada dalam pikiran Tuhan yang mahakuasa.
Ayat di atas diucapkan Daniel dan teman-temannya yang menghadapi resiko hukuman mati karena mereka menolak untuk menyembah raja dan patung emasnya. Jika Daniel tahu bahwa Tuhan tidak menghendaki mereka menyembah berhala, ia tidak tahu apa yang akan Tuhan lakukan jika ia dan teman-temannya melawan kehendak raja. Apakah Daniel berpikir bahwa Tuhan menghendaki mereka mati terbakar? Tentu saja tidak.
Daniel tahu bahwa Tuhan yang mahakuasa adalah Tuhan yang mahakasih. Tetapi ia sadar bahwa Tuhan yang mahakuasa dan mahabijaksana berhak untuk memutuskan apakah Ia akan bertindak atau tidak. Jika mereka akhirnya dimasukkan ke dalam perapian yang menyala-nyala, itu pasti karena kejahatan orang-orang di sekitarnya. Bukan karena kehendak Tuhan untuk mengambil nyawa mereka dengan cara yang keji. Tuhan tidak dapat berubah dari gembala yang baik yang melindungi para umat-Nya di satu saat, menjadi Tuhan yang menghancurkan mereka pada saat yang lain.
Apa yang mungkin terjadi adalah bahwa Tuhan terkadang mempunyai kehendak aktif untuk melakukan sesuatu (activewill) pada suatu saat, tetapi pada saat yang lain Ia mempunyai kehendak untuk tidak bertindak (passive will), agar semua rencana-Nya bisa terjadi. Kehendak pasif ini sering diartikan sebagai “izin” dari Tuhan untuk terjadinya sesuatu yang kurang baik. Kedua kehendak itu bisa dilakukanNya pada saat yang dikehendaki-Nya, tanpa dipengaruhi oleh apa pun dan siapa pun karena Ia adalah Tuhan yang mahakuasa.
Hari ini, jika hidup kita sudah digoncang oleh pandemi ini dan kita merasa sangat menderita, janganlah kita menuduh bahwa Tuhanlah pencipta segala malapetaka di dunia. Dunia ini sudah jatuh ke dalam dosa, dan semua orang sudah berdosa, dan karena itu segala penderitaan dan bahaya bisa terjadi pada siapa pun. Tuhan kita yang mahakasih bukanlah Tuhan yang menciptakan malapetaka ataupun perbuatan jahat untuk umat-Nya. Malapetaka dan kejahatan adalah konsekuensi kejatuhan manusia dan mungkin juga hasil pekerjaan iblis. Memang terkadang Tuhan seakan tidak mau bertindak menolong umat-Nya, tetapi kita harus yakin bahwa itu bukan berarti Tuhan tidak peduli akan penderitaan kita. Sekalipun sulit kita mengerti, Tuhan terkadang membiarkan adanya penderitaan bagi umat-Nya untuk penggenapan rencana-Nya. Walaupun demikian, Tuhan akan bertindak pada saat yang tepat sesuai dengan kehendak-Nya. Karena itu, dalam menghadapi tantangan hidup, apa yang perlu kita pertahankan adalah keyakinan bahwa Ia adalah Tuhan yang mahakasih.
“Kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita. Allah adalah kasih, dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia.” 1 Yohanes 4: 16
“Dan janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka.” Matius 10: 28
Apa yang bisa kita baca dalam media setiap hari sering kali membuat kita merenung. Mengapa setiap hari ada saja orang berbuat jahat kepada sesamanya? Mengapa setiap hari selalu ada saja orang yang mengalami penderitaan dan bahkan kematian karena perbuatan jahat orang lain? Walaupun semua berita itu adalah berita yang masih sering menjadi topik yang menonjol di media, pada saat ini Covid-19 agaknya berada di peringkat nomer satu dalam hal pemberitaan. Mengapa ada orang-orang yang harus terpapar virus ini sekalipun sudah sangat berhati-hati? Mengapa ada banyak orang harus mati pada saat dan tempat yang tidak terduga?
Memang jika kita melihat semua yang terjadi, hati kita bisa menjadi kecil. Hidup manusia di mana saja tidak dapat menghindari adanya kecelakaan, malapetaka atau kekejian. Bagi sebagian orang, hal ini bisa membuat mereka selalu hidup dalam ketakutan. Kekuatiran dan ketakutan yang sangat besar sudah tentu bisa membuat orang seakan lumpuh, tidak dapat lagi menikmati hidupnya dan tidak lagi sanggup untuk menghadapi esok hari. Di manakah Tuhan ketika hal-hal jahat ini terjadi? Tidak dapatkah Tuhan berbuat sesuatu untuk menghentikan penderitaan umat-Nya di dunia ini?
Banyak orang yang berpikir bahwa sebagai Tuhan yang mahakuasa dan mahakasih, Ia seharusnya berbuat sesuatu jika ada hal-hal yang jahat yang akan mencelakai manusia. Lebih-lebih lagi, Tuhan seharusnya bisa melindungi umat-Nya sehingga tidak ada hal-hal yang buruk yang bisa menimpa mereka. Tetapi, dalam kenyataannya semua orang, baik yang mengikut Kristus ataupun yang tidak mengenal-Nya, bisa mengalami malapetaka. Dengan demikian, tentunya itu menunjukkan bahwa hal-hal yang buruk tidak selalu merupakan hukuman Tuhan atau sesuatu yang dikehendaki-Nya.
Tuhan pada hakikatnya bukanlah oknum yang suka membawa bencana ke dunia. Tuhan menciptakan manusia tidak dengan tujuan untuk membuat mereka menderita. Sebaliknya, Ia menempatkan mereka di sebuah tempat yang indah yang dapat mereka nikmati. Adalah manusia sendiri yang kemudian memilih untuk memberontak dari Tuhan, dan memilih cara hidupnya sendiri. Dengan demikian seluruh umat manusia sudah berdosa dan harus hidup di dunia yang penuh dengan kejahatan dan kekejian.
Bagi kita yang sudah bertobat dari dosa-dosa lama kita, hidup di dunia ini tidaklah secara otomatis berubah menjadi hidup yang indah. Dunia yang kita tinggali adalah dunia yang penuh dengan semak-duri dan rumput duri yang membuat hidup manusia sengsara (Kejadian 3: 18). Sebagai orang Kristen kita malahan bisa mengalami hal-hal yang lebih buruk dari orang yang lain. Jika demikian, apa keuntungan menjadi umat Tuhan?
Memang dunia ini dihuni bersama oleh anak-anak iblis dan anak-anak Tuhan. Dengan demikian matahari bersinar untuk semua orang, dan kenikmatan duniawi bisa dinikmati oleh siapa saja. Karena itu jugalah apa yang buruk bisa terjadi kepada siapa saja, termasuk orang percaya. Tetapi, sekalipun hal yang sama bisa terjadi pada siapa pun, apa yang diperoleh manusia setelah itu adalah berbeda. Bagi mereka yang tidak percaya kepada Tuhan, hal-hal yang jahat pada akhirnya akan menuju kepada kehancuran jasmani maupun rohani. Lebih-lebih lagi, bagi mereka tidak ada Tuhan yang bisa menyelamatkan jiwa mereka. Mereka boleh luput dari kesulitan jasmani di dunia untuk sementara waktu, tetapi Tuhan yang berkuasa membinasakan baik tubuh maupun jiwa akan menuntut pertanggung-jawaban mereka pada saatnya.
Hari ini, jika hati kita gundah karena adanya hal-hal yang menakutkan, yang kita dengar atau saksikan, firman Tuhan berkata bahwa sebagai umat-Nya kita tidak perlu takut atau kuatir. Memang selama kita hidup di dunia hal-hal yang jahat bisa terjadi dan orang-orang yang kejam bisa mencelakai kita. Tetapi, karena kita mempunyai Tuhan yang mahakuasa dan mahakasih, kita boleh menyerahkan jiwa dan raga kita kedalam tangan-Nya. Tanpa seizin Tuhan, apapun yang jahat tidak bisa terjadi kepada kita. Sebagai umat Tuhan kita percaya bahwa rencana-Nya harus terjadi baik di bumi maupun di surga. Sekalipun kita harus menderita di bumi, kita tahu bahwa Tuhanlah yang akan memberi kita hidup yang kekal di surga.
“Sebab itu jadilah penurut-penurut Allah, seperti anak-anak yang kekasih.” Efesus 5: 1
Bacaan: Efesus 5: 1-21
Dalam ayat di atas, Paulus menulis pesan kepada jemaat di Efesus agar mereka menjadi “penurut-penurut” Allah. Apa maksud Paulus? Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata penurut mempunyai tiga arti yaitu: pengikut, orang yang suka menurut dan orang yang patuh. Namun, dalam Alkitab yang berbahasa Inggris kata ini ternyata muncul sebagai “peniru” atau “imitator.” Dengan demikian, bukan saja kita menjadi orang-orang yang patuh kepada perintah Tuhan, kita juga harus mau meniru Tuhan atau menjadi tiruan-Nya. Bagaimana manusia bisa meniru dan menjadi tiruan Allah yang mahasempurna?
Pada waktu Allah menciptakan manusia (Kejadian 1: 26-27), Ia menciptakan manusia menurut gambar dan rupa-Nya. Sudah tentu setelah kejatuhan dalam dosa, manusia tidak lagi bisa menjadi gambar Allah yang sepatutnya. Alkitab mengatakan bahwa semua manusia itu adalah makhluk berdosa yang seharusnya menerima murka Allah, jika tidak karena kemurahan-Nya yang dinyatakan dengan pengurbanan Anak-Nya yang tunggal, Yesus Kristus. Jika ada seorang yang merupakan gambar Allah yang sempurna, itu adalah manusia Yesus yang turun ke dunia untuk menebus dosa manusia yang percaya kepada-Nya. Yesus adalah sempurna seperti Allah Bapa, karena Ia dan Bapa adalah satu adanya.
Dalam ayat diatas, Paulus berkata bahwa seluruh orang percaya haruslah meniru Tuhan. Bagaimana mungkin manusia yang berdosa ini bisa menjadi sempurna, tidak bercacat cela, suci seperti Yesus? Banyak orang yang berpendapat bahwa nasihat Paulus ini tidak mungkin bisa tercapai. Tetapi, dalam Matius 5: 48 Yesus juga menyuruh kita untuk menjadi sempurna,. Bagaimana pula kita bisa menjalankan perintah Yesus ini?
“Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.” Matius 5: 48
Mengenai apa yang sempurna, haruslah dimengerti bahwa kesempurnaan yang dipandang Tuhan adalah hal yang mutlak, karena Ia adalah Tuhan yang mahasuci. Sebaliknya, istilah sempurna (perfect) yang sering dipakai manusia adalah sesuatu yang relatif, karena tiap manusia mempunyai standar sendiri. Seringkali, umat Kristen berusaha mencapai taraf kesempurnaan rohani tertentu dengan melakukan hal-hal atau kebiasaan tertentu yang dianggap sebagai kesempurnaan dalam Kristus, tetapi apapun yang kita lakukan tidaklah akan menaikkan kesempurnaan kita dihadapan Allah. Penebusan dosa kita oleh darah Kristus adalah pengurbanan yang sudah sempurna sehingga Allah mau menerima kita sebagai anak-anakNya, sekalipun kita mempunyai banyak cacat cela.
Jika pengurbanan Kristus sudah cukup untuk membuka pintu surga bagi orang percaya, adakah yang harus kita lakukan selama hidup di dunia? Pertama-tama, kita harus selalu bersyukur atas kemurahan Tuhan. Hidup bersyukur adalah hidup dengan memuliakan Dia melalui segala apa yang kita lakukan. Yang kedua, kita harus membina hubungan kita dengan Tuhan, sehingga makin lama kita akan makin mengenal Dia yang mahabesar dan mahakasih. Dengan semakin mengenal Dia, kita akan semakin tahu apa yang dikehendakiNya atas hidup kita, sehingga makin hari kita makin menyerupai-Nya.
Dalam ayat diatas, Paulus mengajak kita untuk tiruan Allah dalam konteks kehidupan yang penuh kasih seperti Yesus yang sudah mengasihi kita dengan mengurbankan diri-Nya di kayu salib. Allah jugalah yang karena kasih-Nya kepada seisi dunia, telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal (Yohanes 3: 16). Paulus mengajak kita adalah untuk kembali menjadi gambar dan rupa Allah yang sempurna dalam hal kemauan untuk mengasihi sesama kita dan dalam menjalani hidup yang sesuai dengan firman-Nya.
“Apabila seorang dicobai, janganlah ia berkata: “Pencobaan ini datang dari Allah!” Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak mencobai siapapun.” Yakobus 1: 13
Kota Sydney di Australia sekarang mengalami lockdown lagi karena adanya peningkatan kasus positif COVID-19. Hal ini tentunya bukan sesuatu yang diharapkan atau bisa diramalkan. Dengan demikian, penduduk kota itu harus menerima kenyataan bahwa semua orang harus mengenakan masker dan tinggal di rumah jika tidak sangat perlu untuk ke luar rumah. Banyak orang yang mengeluh mengapa hal ini harus terjadi berkali-kali. Tetapi kebanyakan hal seperti ini disebabkan oleh kelengahan yang diperbuat beberapa orang sehingga penularan terjadi dalam masyarakat.
Peribahasa “Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak” adalah peribahasa yang sangat terkenal. Peribahasa itu dimaksudkan untuk menunjuk kepada ketidakberdayaan manusia dalam menentukan apa yang terjadi dalam hidupnya. Dikatakan bahwa manusia mau tidak mau harus berserah kepada “nasib”. Pengertian yang bersifat fatalisme ini sering dijumpai dalam ajaran agama-agama di luar agama Kristen. Baik dan buruk dianggap tergantung sepenuhnya kepada Sang Pencipta. Karena itu, sebagian orang percaya bahwa adanya pandemi dan korban pandemi adalah disebabkan oleh Tuhan. Betulkah?
Ayat dari Yakobus 1: 13 di atas jelas menunjukkan bahwa jika seorang mengalami cobaan, itu bukanlah karena “nasib” atau perbuatan Tuhan. Mereka yang menderita karena perbuatan jahat orang lain juga tidak dapat berkata bahwa Tuhan yang menyebabkan hal itu.
Tuhan memang menentukan jalan kehidupan manusia, tetapi tidak seperti yang digambarkan sebagai nasib mujur dan nasib malang. Tuhan mempunyai rencana-rencana yang harus terjadi di bumi seperti di surga, tetapi rencana itu bukannya membuat manusia tidak bertanggung jawab atas perbuatannya. Tuhan bisa melaksanakan rencana-Nya tanpa harus membuat manusia sebagai robot. Tuhan yang mahatahu dapat menyelami pikiran manusia. Tuhan yang mahakuasa dapat mencapai tujuan-Nya dengan melewati apa saja yang diperbuat manusia.
Setiap manusia bebas untuk melakukan apa saja yang dimauinya, tetapi tidak semua yang dilakukannya berguna atau membawa kebaikan. Malahan dalam kebebasannya, manusia bisa berbuat jahat dan melanggar firman Tuhan. Tetapi, sebagai orang Kristen kita sadar bahwa kita harus melakukan hal yang baik, yang sesuai dengan perintah Tuhan. Dengan hidup menurut firman-Nya kita boleh yakin bahwa Dia yang mahakasih akan memberkati kita dengan hal-hal yang baik.
“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Roma 8: 28