Mungkinkah perang datang dari Tuhan?

“Banyak orang yang tewas karena mati terbunuh, sebab pertempuran itu adalah dari pada Allah. Lalu mereka menduduki tempat orang-orang itu sampai waktu pembuangan. 1 Tawarikh 5: 22

Alkitab dalam 1 Tawarikh 5: 18-22 mengisahkan perang anak-anak Ruben, orang Gad dan setengah suku Manasye, melawan orang-orang Hagri, Yetur, Nafish dan Nodab. Ayat 20 menyatakan bahwa anak-anak Israel berseru kepada Tuhan di tengah-tengah pertempuran, dan Tuhan membantu mereka dalam perang melawan musuh-musuh mereka. Ayat 22 di atas menyatakan, “banyak orang yang tewas karena mati terbunuh, sebab pertempuran itu adalah dari pada Allah”. Pertempuran yang datang dari Allah? Jika Tuhan itu baik (Mazmur 100: 5) dan jika Tuhan adalah Tuhan yang damai (Roma 15:33), bagaimana Dia bisa mengobarkan perang?

Peperangan apapun adalah hal yang tidak disukai oleh siapapun. Peperangan selalu dihubungkan dengan kekejaman, penderitaan dan kematian. Karena itu, semua orang tentu berusaha untuk menghindari terjadinya peperangan. Walaupun demikian, adanya peperangan sering kali seakan tidak dapat dihindari. Dalam Perjanjian Lama kita bisa melihat bagaimana bangsa Israel berperang melawan berbagai bangsa yang ada disekitarnya. Pada saat itu, sering kali peperangan terjadi karena perintah Tuhan kepada bani Israel, bangsa pilihan Tuhan pada waktu itu, untuk menyerang dan menghancurkan bangsa lain. Jika itu terjadi pada zaman sekarang, tidak dapat diragukan bahwa Tuhan akan dituduh berlaku sangat kejam kepada ciptaanNya.

Mengobarkan perang dan menjadi Tuhan yang mahakasih dan mahabaik tidaklah harus selalu bertentangan. Pertama, adalah keliru untuk menganggap bahwa perang tidak sejalan dengan kebaikan. Seorang ahli bedah mengambil tindakan drastis melawan kanker untuk mendatangkan kebaikan tertinggi bagi pasien. Namun, kejahatan spiritual jauh lebih serius daripada kejahatan fisik. Ketika Tuhan mengobarkan perang di Perjanjian Lama, itu melawan kekuatan roh jahat. Tuhan mengambil tindakan drastis untuk membersihkan tanah dari pengaruh jahat penduduknya.

Kedua, adalah keliru untuk menganggap bahwa berperang tidak sejalan dengan perdamaian. Tidak akan ada kedamaian di dunia jika Tuhan tidak melawan kejahatan. Sesungguhnya, damai sejahtera Tuhan sekarang tersedia bagi semua orang yang percaya, karena Tuhan mengobarkan perang melawan kekuatan jahat – peperangan yang mencapai puncaknya di Golgota di mana darah Anak Tunggal Tuhan dicurahkan. Memang, terkadang perang diperlukan untuk menghasilkan perdamaian yang langgeng.

Setiap tahun pada tanggal 6 Juni banyak negara memperingati hari peringatan 75 tahunnya D-day dimana pada tahun 1944, tentara sekutu mendarat secara besar-besaran di pantai-pantai Normandy, Perancis utara. Pendaratan tentara sekutu di daerah yang saat itu dikuasai oleh tentara Nazi Jerman adalah permulaan dari usaha pembebasan benua Eropa yang menewaskan ratusan ribu prajurit dari kedua pihak. Karena berhasilnya tentara sekutu dalam melakukan invasion itu, perang dunia kedua tidak lama kemudian berakhir dengan menyerahnya pihak Nazi Jerman. Dengan berakhirnya perang dunia kedua, dunia kemudian menjadi lebih tenang, dan dengan demikian keadaan ekonomi, teknologi, sosial dan budaya di banyak negara mengalami kemajuan pesat.

Semua peperangan terjadi dengan seijin Tuhan dan sekalipun sebagian di antaranya bukanlah sesuatu yang dikehendaki Tuhan, setiap peperangan pada akhirnya bisa menunjukkan bahwa Tuhan tetap bekerja dalam keadaan yang bagaimanapun buruknya. Peperangan bisa juga terjadi karena dosa yang dilakukan oleh suatu bangsa atau oleh pemimpinnya. Mereka yang berusaha memberontak dari norma-norma kebaikan dan kebenaran Tuhan, dengan sengaja melakukan tindakan-tindakan yang menyebabkan pertikaian. Tetapi, sejarah membuktikan bagaimanapun buruknya tindakan manusia, Tuhan yang mahatahu selalu dapat mengatasinya dan bahkan menunjukkan kebesaran dan kasihNya melalui tindakan orang-orang yang dipilihNya.

Hari ini kita harus bersyukur bahwa keadaan dunia pada saat ini pada umumnya tidaklah seburuk abad-abad yang telah lalu. Walaupun demikian, tiap hari selalu ada saja berita-berita yang menyedihkan, dan itu mungkin yang disebabkan oleh tindakan seseorang, sekelompok tertentu, pemimpin rakyat ataupun negara tertentu. Bahkan dalam rumah tangga dan gereja pun, sering ada pertikaian yang membawa permusuhan dan perpecahan. Dalam hal ini, kita harus yakin bahwa Tuhan yang mahakasih pada hakikatnya bukanlah Tuhan yang merestui pertikaian manusia. Sebaliknya,Tuhan memerintahkan semua umatNya untuk bisa mengasihi sesama mereka.

Sebagai umat Kristen kita memang terpanggil untuk menunjukkan kedamaian dari Tuhan yang sudah kita terima kepada semua orang. Tetapi, selama kita hidup di dunia, kekacauan karena perbuatan manusia selalu muncul silih berganti. Bagaimana kita harus bersikap dalam menghadapi suasana yang tidak menyenangkan itu? Firman Tuhan hari ini menunjukkan bahwa Tuhan selalu memperhatikan keadaan dunia. Ia selalu memperlihatkan kuasaNya dengan perbuatan tanganNya dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya. Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya, tetapi Ia meninggikan orang-orang yang rendah hati dan berserah kepada bimbinganNya. Karena itu, biarlah kita mau meyerahkan hidup dan masa depan kita kepadaNya sambil percaya bahwa keadilan Tuhan selalu terlihat pada akhirnya.

“Ia memperlihatkan kuasa-Nya dengan perbuatan tangan-Nya dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya; Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah” Lukas 1: 51 – 52

Jangan ragukan Tuhan kita yang Maha Esa

“Sesudah dibaptis, Yesus segera keluar dari air dan pada waktu itu juga langit terbuka dan Ia melihat Roh Allah seperti burung merpati turun ke atas-Nya, lalu terdengarlah suara dari sorga yang mengatakan: “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.” Matius 3: 16 – 17

Di dunia ini ada banyak agama dan ada banyak orang yang beragama. Jika kita mungkin mengenal adanya sekitar 10 agama di suatu negara, itu tidaklah banyak. Diperkirakan ada sekitar 4200 agama di dunia. Sekitar 84% penduduk dunia mengaku beragama, dan sepertiga diantaranya menganut agama Kristen. Walaupun demikian, tidak ada data yang menjelaskan berapa banyak orang beragama yang mengenal Tuhan mereka. Juga kurang jelas ada berapa “Tuhan” yang dikenal seisi dunia.

Bagi mereka yang beragama, adanya Tuhan tentunya adalah suatu kenyataan tidak dapat dibantah. Mereka bisa melihat bahwa seluruh jagad raya tidak bisa muncul dengan sendirinya tanpa ada yang mencipta dan yang mengatur. Apalagi, dalam hidupnya manusia bisa mengalami hal- hal yang ada di luar kuasa mereka. Karena itu, dari zaman purba manusia selalu berusaha mengenal siapa yang dibalik semua hal yang terjadi dalam alam semesta. Oknum yang mahakuasa yang ada dari awalnya itulah yang mereka percayai sebagai Tuhan,

Walaupun demikian, jika kepada orang yang beragama diajukan sebuah pertanyaan apakah mereka mengenal Tuhan mereka, sering kali jawabnya kurang meyakinkan. Tidak seorang pun yang pernah melihat sang tuhan, dan apa yang bisa dilihat biasanya adalah gambar, patung atau wakil/penjelmaan tuhan mereka. Sifat apa yang seharusnya nyata ada dalam Tuhan, seperti mahatahu, mahakuasa, kekekalan dan lain-lainnya, tidaklah bisa ditemukan di dunia. Semua “tuhan” yang ada di dunia adalah benda mati atau manusia yang pernah hidup atau yang bakal mati.

Bagaimana dengan Tuhan orang Kristen? Dapatkah orang Kristen mengenal Tuhan mereka? Manusia tidak akan dapat mengenal Tuhan yang mahabesar dan mahasuci jika Tuhan sendiri tidak membuat diriNya dikenal oleh umatNya. Pada zaman Perjanjian Lama, Tuhan menyatakan diriNya dalam berbagai bentuk yang ajaib seperti api atau suara, tetapi manusia yang berdosa tidak dapat melihat Dia secara pribadi atau menyebutkan namaNya. Tuhan memang mengirimkan nabi-nabi untuk mewakiliNya, tetapi mereka semua adalah manusia fana yang berdosa dan tidak sempurna.

Manusia hanya dapat mengenal Tuhan jika Ia turun ke dunia sebagai manusia seperti kita, hanya saja Ia tidak berdosa dan tidak dapat mengalami kematian. Tuhan yang benar adalah sumber kehidupan dan karena itu tidak dapat dikalahkan maut. Tuhan yang mahahadir, sudah tentu ada dimana-mana di antara umatNya di segala zaman. Hanya satu Oknum yang bisa memenuhi persyaratan di atas: Yesus Kristus.

Pada ayat di atas ditulis bahwa pada saat sesudah dibaptis, Yesus segera keluar dari air dan pada waktu itu juga langit terbuka dan Roh Allah turun seperti burung merpati turun ke atas-Nya. Lalu terdengarlah suara dari sorga yang mengatakan: “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.”

Ayat di atas menegaskan bahwa bagi umat Kristen hanyalah ada satu yakni Tuhan yang Maha Esa, dan Yesus Anak Allah adalah Allah sendiri yang turun ke dunia sebagai manusia yang dipenuhi Roh Allah. Yesus sudah lahir, mati, bangkit dan naik ke surga, dan itu dapat dilihat mata manusia dan tercatat dalam sejarah. Karena itu, bagi kita tidaklah sulit membayangkan bahwa Allah adalah seperti Yesus: mahakasih, mahaadil dan mahakuasa. Lebih dari itu, karena Yesus yang sekarang di surga sudah mengaruniakan Roh Kudus sebagai Penolong kepada setiap umatNya, tidaklah sulit bagi kita untuk merasakan bahwa Tuhan beserta kita setiap saat dan untuk selamanya. Pujilah Tuhan yang dalam Yesus Kristus sudah menebus dosa kita dan memberikan pengenalan akan kasih dan kebesaranNya!

Berapa harga keselamatanmu?

“Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus.” Roma 3: 23 – 24

Alkisah, ada seorang tokoh agama yang berdoa dalam hatinya: “Ya Allah, aku mengucap syukur kepadaMu, karena aku tidak seperti orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti orang yang tidak pernah berpuasa dan yang kurang memberi amal ibadah” Mungkin anda tahu bahwa ini adalah sebuah cuplikan dari perumpamaan Tuhan Yesus tentang orang Farisi dan pemungut cukai dalam Lukas 18: 9 – 14. Tuhan Yesus dalam ayat 14 menyatakan bahwa orang semacam tokoh agama ini justru bukan orang yang dibenarkan Tuhan.

Memang menurut ukuran banyak orang, bukan saja yang tinggal di Indonesia tetapi juga di negara lain, orang yang disenangi Tuhan adalah mereka yang banyak memberi amal ibadah. Dengan demikian, amal ibadah seringkali dianggap dapat memberi manfaat seperti:

  • Menghindarkan marabahaya
  • Membuka pintu rezeki
  • Memperpanjang umur
  • Menyembuhkan penyakit
  • Melipatgandakan rezeki
  • Memberi naungan di hari kiamat
  • Menghapus dosa.

Jika ayat pembukaan diatas mengatakan bahwa keselamatan diberikan kepada manusia secara cuma-cuma, sebagian orang berpendapat itu adalah sesuatu yang sulit dipercaya. Kelihatannya begitu mudah untuk menjadi Kristen jika orang hanya harus percaya kepada Yesus. Bagaimana mungkin Tuhan memberi keselamatan secara cuma-cuma jika itu adalah sesuatu yang berharga? Bukankah tidak ada yang gratis di muka bumi?

Bagi banyak orang, seringkali juga ada pertanyaan mengapa orang Kristen tidak diharuskan melakukan berbagai ritual dan amal ibadah seperti pengikut agama lain. Lebih dari itu, orang Kristen sering nampak seperti orang sombong atau orang bodoh karena mereka percaya bahwa mereka sudah terpilih untuk diselamatkan tanpa harus menyumbangkan amal ibadah kepada Tuhan dan sesama. Mengapa orang Kristen tidak perlu membayar harga keselamatan mereka dengan berbuat sesuatu untuk Tuhan?

Dalam kenyataannya, hanya sebagian orang Kristen yang percaya bahwa keselamatan mereka bukan hasil jerih payah mereka sendiri, tetapi semata-mata adalah pemberian Tuhan. Mereka yang mau menerima penebusan darah Kristus dan percaya bahwa Ia adalah Juruselamat, mendapat jaminan bahwa mereka akan ke surga setelah tugas di bumi selesai. Semua hal diatas bisa terjadi karena Tuhan yang mereka percayai adalah Tuhan yang mahaadil, mahasuci dan mahakasih.

Karena Tuhan adalah mahaadil, Ia tidak membedakan manusia yang satu dengan yang lain. Baik mereka yang kaya maupun miskin, baik mereka yang hidup di dunia barat ataupun timur, baik mereka yang kurang berpendidikan atau yang mempunyai berbagai gelar, baik mereka yang tergolong rakyat jelata ataupun yang tergolong ningrat, semua orang pada akhirnya harus menemui kebinasaan karena dosa mereka.

Selain mahaadil, Tuhan adalah mahasuci. Karena itu, manusia tidak dapat berbuat baik bagaimanapun untuk menjadi suci dan memenuhi standar kesucian Tuhan. Bagi Tuhan tidak ada dosa kecil dan dosa besar, semuanya adalah dosa di mata Tuhan. Apapun amal ibadah yang kita lakukan tidak akan menebus hidup kita yang penuh dosa jika kita tidak percaya kepada penebusan melalui kematian Yesus di kayu salib.

Jika Tuhan hanya mahaadil dan mahasuci, manusia tidak dapat memperoleh jalan keluar dari hukuman dosa, yaitu kematian abadi. Tetapi, Tuhan adalah mahakasih dan karena itu tidak mau membiarkan ciptaanNya binasa. Hukuman untuk semua orang harus terjadi, kecuali ada yang bisa membayar harga tebusan yang sempurna. Manusia yang sebaik apapun tidak dapat menebus dosanya. Hanya satu oknum yang suci yang bisa melakukannya, yaitu Tuhan sendiri yang menjelma menjadi manusia dalam diri Yesus Kristus. Dengan kematian Yesus di kayu salib dan kebangkitanNya, ada jaminan bahwa setiap orang yang percaya kepadaNya akan memperoleh hidup yang kekal di surga.

Hari ini, kita harus sadar mengapa keselamatan hanya bisa terjadi sebagai karunia cuma-cuma dari Tuhan. Ini adalah sesuatu yang luar biasa. Karunia kasih itu diberikan cuma-cuma karena kita sendiri tidak mampu menebus dosa kita. Oleh sebab itu, kita tidak dapat menyombongkan kebaikan dan amal ibadah kita karena semua itu tidak ada harganya dalam konteks keselamatan. Hanya Yesus, Anak Allah, yang mampu melakukannya dengan membayarnya dengan harga tertinggi. Karena itu kita harus menunjukkan rasa syukur kita kepadaNya setiap hari melalui perbuatan dan kelakuan kita.

“Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang karena rahmat-Nya yang besar telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada suatu hidup yang penuh pengharapan, untuk menerima suatu bagian yang tidak dapat binasa, yang tidak dapat cemar dan yang tidak dapat layu, yang tersimpan di sorga bagi kamu.” 1 Petrus 1: 3 – 4

Kebangkitan Yesus adalah kemenangan atas kuasa dosa

“Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus” Filipi 3: 8

Di berbagai negara, orang Kristen merayakan Paskah atau Easter, untuk memperingati kebangkitan Kristus. Kristus yang sudah menang atas kuasa dosa yang membawa maut. Perayaan ini seharusnya adalah lebih penting dari perayaan Natal, karena kebangkitan Kristus itulah yang membuat iman kita tidak sia-sia (1 Korintus 15: 14, 17).

Setelah kita merayakan Paskah pada hari Minggu, penduduk beberapa negara masih mempunyai satu hari libur tambahan yaitu hari Senin Paskah atau Easter Monday. Tetapi, di Indonesia orang kembali bekerja pada hari Senin sesudah Paskah. Hidup kembali berjalan seperti biasa.

Hidup yang kembali normal umumnya berarti menjalankan tugas sehari- hari seperti biasa. Mereka yang bekerja di kantor, pabrik, sekolah, universitas, dan gereja dan juga yang bekerja di rumah, harus menghadapi segala hal rutin dan tidak rutin, yang harus diselesaikan. Segala cara hidup yang sudah biasa dilakukan, harus dijalankan seperti sebelumnya. Dunia berputar dan tidak ada yang berubah. Benarkah?

Kebangkitan Kristus sebenarnya adalah suatu hal yang tidak masuk akal untuk ukuran manusia. Manusia sudah seharusnya mati pada saatnya, dan kematian itu merupakan akhir segalanya. Yesus mengubah persepsi yang salah itu dengan menyatakan bahwa kematian tubuh adalah permulaan segala yang indah bagi mereka yang percaya, tetapi adalah permulaan penderitaan abadi bagi mereka yang menolak Dia.

Hal merayakan Paskah pada hari apa dan dengan cara bagaimana, sudah menjadi bahan perdebatan orang Kristen sejak ratusan tahun yang lalu. Tetapi, itu sebenarnya kurang penting jika dibandingkan dengan maknanya. Apa arti kematian dan kebangkitan Kristus dalam hidup sehari-hari orang percaya? Mati dalam Kristus, seperti yang Paulus tulis dalam Filipi 4: 8, adalah menanggalkan cara hidup yang lama, yang menggantungkan diri pada hal-hal yang serupa sampah (atau kotoran binatang dalam bahasa Yunani). Mungkin itu berupa cara hidup atau bekerja yang kurang jujur, tingkah laku yang kurang sopan, kecintaan akan kesenangan duniawi, dan pikiran yang dipenuhi hal-hal yang tidak patut.

Hari ini kita diingatkan bahwa perayaan Paskah itu bukan hanya sekali setahun, tetapi sesuatu yang harus kita rayakan dan rasakan setiap hari dan setiap saat. Kemenangan Yesus atas kuasa dosa harus dapat menjadi nyata dalam hidup kita!

“Tetapi Allah yang kaya dengan rahmat, oleh karena kasih-Nya yang besar, yang dilimpahkan-Nya kepada kita, telah menghidupkan kita bersama-sama dengan Kristus, sekalipun kita telah mati oleh kesalahan-kesalahan kita oleh kasih karunia kamu diselamatkan.” Efesus 2: 4-5

Apa yang anda lakukan selama menanti?

“Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru.” Roma 6: 4

Hari Sabtu Suci (juga disebut Sabtu Paskah, Sabtu Sunyi atau Sabtu Sepi (bahasa Latinnya adalah Sabbatum Sanctum yang berarti “Hari Sabat Suci”) berada di antara hari Jumat Agung dan hari Paskah. Hari Sabtu Suci merupakan hari terakhir dalam Pekan Suci yang dirayakan oleh orang Kristen sebagai persiapan perayaan Paskah. Hari Sabtu Suci memperingati saat tubuh Yesus Kristus dibaringkan di kubur setelah mati disalibkan pada hari Jumat Agung.

Berbeda dengan hari Jumat Agung dan Hari Paskah, hari Sabtu Suci tidak dirayakan di semua gereja. Khotbah tentang hari Sabtu Suci juga jarang ditemui. Karena itu, mungkin banyak orang Kristen menganggap bahwa hari ini adalah sekedar hari penantian Yesus untuk menuju ke hari Paskah. Benarkah begitu? Alkitab memang tidak begitu jelas menerangkan apa yang Yesus lakukan selama tiga hari di antara kematian dan kebangkitanNya. Namun ada bagian Alkitab yang menyebut bahwan Yesus pergi memberitakan kemenanganNya ke atas malaikat-malaikat yang telah jatuh dan roh orang-orang yang tidak percaya (1 Petrus 3: 19). Jadi, tidaklah benar jika Yesus dikatakan hanya menantikan kebangkitanNya dan tidak berbuat apa-apa selama berada di kubur.

Hidup ini memang sering dibayangkan seperti sebuah perjalanan menuju ke suatu tujuan. Tiap orang yang dilahirkan di dunia ini tentunya mempunyai, atau setidaknya pernah mempunyai tujuan hidup. Untuk mereka yang percaya bahwa hidup di dunia ini adalah satu-satunya kehidupan yang ada, perjalanan hidup itu mudah diterka. Ada yang dari kecil ingin untuk melanglang buana, ada juga yang ingin untuk menjadi orang ternama, dan banyak juga yang ingin untuk menjadi kaya raya. Perjalanan hidup yang mereka lakukan adalah usaha untuk mencapai tujuan hidup itu. Dan setelah itu tercapai, hidup hanyalah untuk melewati hari-hari tanpa tujuan berarti. Sebaliknya, mereka yang gagal untuk mencapai tujuan hidup mereka, rasa bosan, kecewa dan putus asa mudah datang karena penantian yang tidak kunjung berakhir.

Bagi umat Kristen, kebahagiaan duniawi bukanlah tujuan karena mereka mempunyai tujuan yang mulia yaitu hidup bersama Tuhan di surga. Pada hari Jumat Agung dua ribu tahun yang lalu, sebagai manusia Yesus menunjukkan bahwa perjalanan hidup manusia di dunia memang berakhir dengan kematian. Tetapi apa yang sudah dilakukanNya selama di dunia bukanlah sia-sia. Dalam perjalanan hidupnya menuju Golgota untuk menebus dosa manusia, Ia memakai hidupNya untuk menolong mereka yang menderita dan mengajarkan jalan kebenaran. Selama di kubur, Ia juga tetap bekerja sehingga semua yang telah diciptakan Tuhan mengakui kuasaNya. Dengan demikian, sesuai dengan ayat pembukaan di atas, kematian Yesus di kayu salib, penguburanNya dan kebangkitanNya pada hari yang ketiga adalah sebuah kesatuan yang menunjukkan kuasa dan kasih Tuhan.

Hari ini marilah kita belajar dari Tuhan Yesus bahwa hidup kita di dunia adalah sebuah perjalanan yang harus kita alami dan bukanlah tujuan hidup. Seperti Yesus, kita harus memakai seluruh hidup kita untuk memuliakan Tuhan, melayani sesama, serta memberitakan injil kebenaran sampai akhir hayat kita. Hidup kita harus juga berangsur-angsur berubah selama dalam perjalanan: mematikan hidup lama yang penuh dosa, untuk menjadi orang yang semakin dekat kepada Tuhan. Dan bila tiba saat kita untuk meninggalkan dunia ini, pada saat itulah kita mencapai tujuan perjalanan hidup kita!

“Sebab jika kita telah menjadi satu dengan apa yang sama dengan kematian-Nya, kita juga akan menjadi satu dengan apa yang sama dengan kebangkitan-Nya.” Roma 6: 5

Adakah rasa syukur kita?

“Dia dianiaya, tetapi dia membiarkan diri ditindas dan tidak membuka mulutnya seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian; seperti induk domba yang kelu di depan orang-orang yang menggunting bulunya, ia tidak membuka mulutnya.” Yesaya 53: 7

Ayat diatas menggambarkan bagaimana seekor domba mengalami penderitaan di tangan manusia. Domba itu dianiaya, tetapi dia tidak membuka mulutnya. Seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian; seperti induk domba yang tidak dapat bersuara di depan orang-orang yang menggunting bulunya, ia hanya berdiam diri. Apa yang mengherankan ialah domba yang tidak berdaya itu sebenarnya adalah Oknum yang mahakuasa.

Tuhan Yesus datang ke dunia sebagai Anak Allah yang berwujud manusia. Sebagai manusia ia adalah sepenuhnya seperti kita, hanya saja Ia tidak berdosa. Sebagai Anak Allah, Ia adalah Tuhan yang mahakuasa, tetapi ia tidak menggunakan kemahakuasaanNya sebagai sesuatu yang menguntungkan diriNya sendiri, tetapi Ia justru merendahkan diri sehingga dapat merasakan segala penderitaan kita. Sebagai Tuhan, Ia sudah membuat berbagai macam mujizat yang tidak mungkin dilakukan oleh manusia biasa.

Adalah satu hal yang paling menakjubkan yang dapat kita lihat dari Anak Domba Allah ini. Pada hari menjelang penyalibanNya, kita mengenang betapa hebatNya pergumulan Yesus di taman Getsemani. Sang Domba yang tidak bersalah akan menghadapi kematian yang mengerikan, yang seharusnya dialami oleh seluruh umat manusia. KeringatNya mengucur deras seperti darah, dan hatiNya hancur karena Ia menyadari bahwa sebentar lagi murka Allah kepada umat manusia harus ditanggungNya di kayu salib. Pada waktu Yudas datang menjumpai Yesus dan memberi ciuman yang merupakan isyarat agar Yesus ditangkap, tentu Dia merasa sedih bahwa Yudas mengkhianatiNya.

Mengapa Yesus mau berkurban untuk umat manusia? Mengapa Ia yang mahakuasa tidak membuka mulutNya atau melawan mereka yang ingin menyalibkanNya? Mengapa Ia menghadapi kematian di kayu salib dengan kerelaan dan bahkan menyerahkan diriNya sepenuhnya kepada mereka yang ingin membunuhNya?

Sebagai manusia kita tidak dapat membayangkan bahwa semua ini terjadi karena kasih Tuhan yang sangat besar kepada seluruh umat manusia. Tuhan melihat kejatuhan manusia kedalam dosa dan tahu bahwa tidak ada jalan lain untuk menghindarkan manusia dari hukuman yang sepadan dengan dosanya. Pemberontakan kepada Tuhan yang mahakuasa dan mahasuci harus diberi hukuman yang setimpal: kematian dalam bentuk yang paling mengerikan.

Tuhan tahu bahwa tidak ada manusia yang bisa tahan menghadapi hukuman Tuhan. Tidak ada manusia yang bisa terlepas dari hukuman kecuali ada orang yang tidak berdosa, yang menggantikan seluruh umat manusia. Tebusan yang sangat besar karena seluruh umat manusia tersangkut didalam dosa kepada Tuhan yang mahasuci hanya bisa dibayar dengan harga tertinggi: Anak TunggalNya.

Hari ini, jika kita merenungkan penderitaan yang sudah dialami Yesus, kita mungkin takjub akan besarnya kasih Tuhan. Kita tidak dapat membayangkan bagaimana Tuhan dengan kasihNya ingin menyelamatkan seluruh umat manusia, tetapi kita sadar bahwa dengan keadilanNya Ia harus menghukum mereka yang tetap tidak percaya kepada AnakNya. Biarlah kita boleh hidup dalam rasa syukur atas besarnya kemurahan Tuhan kepada kita dan mau membagikan kabar baik ini agar makin banyak orang yang diselamatkan!

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Yohanes 3: 16

Apakah anda seperti Petrus?

Tetapi Petrus menyangkal, katanya: “Bukan, aku tidak kenal Dia!” Lukas 22: 57

Beberapa hari lagi, kita akan memperingati hari kematian Yesus, dan tentunya banyak orang Kristen yang membayangkan bagaimana suasana di Yerusalaem pada saat itu. Setelah Yesus ditangkap, Ia dibawa orang ke rumah imam besar. Yesus mungkin masih merasa lelah setelah bergumul dalam doa di taman Getsemani. Jelas penderitaan Yesus saat itu bukan hanya penderitaan jasmani. Yesus tahu bahwa penderitaan yang besar akan dialamiNya. Ia sebagai Anak Allah, juga merasa sedih karena orang-orang yang berseru “Hosana” sewaktu Ia memasuki Yerusalem di atas seekor keledai, sekarang tidak ada yang membelaNya. Yesus juga menderita secara rohani karena pengkhianatan Yudas yang dengan sebuah ciuman, menyerahkan diriNya kepada para orang-orang yang ingin mengadiliNya. Iebih dari itu, Yesus yang seharusnya diadili oleh yang berwenang, ternyata harus menghadapi orang-orang yang penuh rasa benci.

Petrus waktu itu melihat apa yang terjadi dengan rasa kuatir. Ia berusaha membela Yesus dengan memakai sebuah pedang, tetapi Yesus menegurnya. Petrus kemudian menyelundup ke rumah imam besar, tempat berkumpul orang-orang yang menangkap Yesus. Memang, diantara murid-murid Yesus Petrus terlihat sebagai murid yang paling setia. Petruslah yang secara tegas pernah mengakui Yesus sebagai Mesias dari Allah (Matius 16: 16). Tetapi pada malam itu, Petruslah yang menyangkal Yesus tiga kali.

Yesus jelas menyayangi Petrus sebagaimana adanya. Yesus tahu kelemahan Petrus, tetapi Ia dari awalnya meminta Petrus untuk menggembalakan pengikutNya. Yesus pasti tahu bagaimana kualitas iman Petrus yang sekalipun sering terombang ambing, selalu diiringi dengan keinginan untuk menjadi lebih baik.

Pada malam itu, Petrus teringat bahwa Yesus sudah pernah berkata sebelumnya bahwa ia akan menyangkali Yesus tiga kali sebelum ayam berkokok. Itu membuatnya sangat menyesal atas apa yang sudah diperbuatnya. Ia menangis dan menyesali perbuatannya. Mungkinkah peristiwa itulah yang membuat Petrus menjadi murid Yesus yang setia sampai akhir hidupnya?

Berbeda dengan Yudas, penyesalan Petrus bukan atas kesalahannya terhadap orang yang baik hati yang bernama Yesus. Yudas menyesali pengkhianatannya, tetapi tidak sadar bahwa Yesus adalah Tuhan yang mahakasih. Petrus menyesali pengkhianatannya karena Ia sadar bahwa ia menyangkali Yesus, yaitu Mesias yang mengasihinya sejak awal sekalipun ia penuh cacat cela. Yesus yang menantikan setiap orang untuk bertobat dan mengikut Dia.

Seperti Petrus kita juga mempunyai berbagai kelemahan. Kita pun sering kali mengingkari Yesus untuk mengikuti jalan duniawi. Mungkin kita terkadang menyesali perbuatan-perbuatan kita, tetapi jika itu tidak disertai dengan kesadaran bahwa Yesus itu Tuhan yang mahakasih, penyesalan itu tidak bisa membuat kita kembali ke jalan yang benar. Seperti Petrus, kita bisa menjadi orang beriman yang yakin bahwa Yesus adalah Tuhan, dan Mesias yang sudah menebus dosa kita. Seperti apa yang terjadi pada Petrus, Yesus juga bertanya kepada kita apakah kita mengasihi Dia lebih dari siapa pun (Yohanes 21: 15). Dengan demikian, kita sendirilah yang bisa menjawab apakah kita bisa menjadi seperti Petrus yang akhirnya bisa kembali hidup sesuai dengan apa yang dikehendaki Tuhan.

“Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.” Matius 16: 18

Mengabdi kepada satu Tuhan

Ada berapakah Tuhan anda? Kebanyakan orang Kristen mengaku hanya mempunyai satu Tuhan. Tetapi. banyak juga orang Kristen yang tidak bisa menjelaskan hubungan antara Allah Bapa, Yesus dan Roh Kudus. Dalam hal ini, Injil Yohanes 1: 1-14 memberikan sebuah penjelasan.

“Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan. Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia. Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya. Datanglah seorang yang diutus Allah, namanya Yohanes; ia datang sebagai saksi untuk memberi kesaksian tentang terang itu, supaya oleh dia semua orang menjadi percaya. Ia bukan terang itu, tetapi ia harus memberi kesaksian tentang terang itu. Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia. Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan oleh-Nya, tetapi dunia tidak mengenal-Nya. Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya. Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya; orang-orang yang diperanakkan bukan dari darah atau dari daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah. Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.”

Ayat di atas sangat menarik karena menyebut tentang:

  • Firman yang ada sejak semula dan bersama-sama dengan Allah.
  • Firman yang adalah Allah yang menciptakan alam semesta.
  • Firman itu sudah datang ke dunia sebagai Terang.
  • Dunia menolak Terang itu, tetapi orang yang menerimaNya dijadikanNya anak-anak Allah.
  • Firman itu adalah Anak Tunggal Bapa yang sudah menjadi manusia.

Dengan demikian, bagi kebanyakan orang yang mengaku Kristen, Yesus adalah Anak Allah dan Tuhan yang turun ke dunia. Walaupun demikian, ada juga orang yang percaya bahwa Yesus bukanlah Tuhan, tetapi oknum ilahi yang diutus Tuhan untuk menebus dosa manusia. Bagi mereka, Yesus tidaklah sama dengan Allah, sekalipun Yohanes menulis bahwa Yesus dan Allah adalah satu.

“Aku dan Bapa adalah satu” Yohanes 10: 30

Alkitab menyatakan bahwa manusia yang berdosa tidak mungkin diselamatkan jika Tuhan sendiri tidak menebus mereka dengan kurban yang sempurna. Tetapi, tidak ada manusia atau oknum ilahi yang sempurna, kecuali Tuhan sendiri. Dengan demikian, Yesus adalah satu-satunya oknum dan Tuhan yang memenuhi syarat kesucian Tuhan dan yang bisa menyuci bersih dosa manusia.

Orang-orang yang menolak kesatuan Bapa, Anak dan Roh Kudus sudah ada sejak lama. Memang konsep Allah Tritunggal itu tidak mudah dimengerti dan sering menjadi bahan cemooh kelompok-kelompok tertentu. Malahan, akhir-akhir ini makin banyak orang yang mengaku Kristen tetapi tidak mengakui adanya Allah yang satu, yang mempunyai tiga “pribadi”.

Ada juga orang-orang yang percaya bahwa Yesus adalah orang yang baik, dan bahkan seorang nabi, tetapi Yesus bukanlah Tuhan. Ini tidaklah jauh berbeda dengan orang Farisi pada zaman Yesus yang tidak menerima pernyataan Yesus bahwa Ia dan Bapa adalah satu. Mereka ingin membunuh Yesus karena mereka menganggap Yesus sudah menghujat Allah.

Yesus bukan hanya mengklaim bahwa Ia dan Allah adalah satu. Ia juga berkata bahwa mereka yang melihat Dia, sudahlah melihat Allah. Dengan kata lain, mereka yang percaya kepadaNya adalah percaya kepada Allah sendiri.

“Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa” Yohanes 14: 9

Oleh sebab itu, tidaklah mungkin jika kita bisa percaya bahwa Tuhan adalah Allah Bapa, tetapi tidak mengakui bahwa Yesus juga Tuhan. Yesus dan Allah Bapa tidaklah dapat dipisahkan.

Sebagai orang Kristen sudah seharusnya kita juga yakin dan percaya bahwa Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus adalah satu. Pada waktu Yesus dibaptis, ketiga “pribadi ilahi” ini muncul secara bersamaan.

Sesudah dibaptis, Yesus segera keluar dari air dan pada waktu itu juga langit terbuka dan Ia melihat Roh Allah seperti burung merpati turun ke atas-Nya, lalu terdengarlah suara dari sorga yang mengatakan: “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.” Matius 3: 16 – 17

Kesatuan antara ketiganya juga ditekankan Yesus pada waktu Ia memerintahkan murid-muridNya untuk mengabarkan injil.

“Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus” Matius 28: 19

Hari ini, keraguan bahwa Yesus adalah Tuhan haruslah dihilangkan dari pikiran kita. Kesangsian akan satunya Bapa, Anak dan Roh juga harus dihapus dari iman kita. Itu tidak mudah jika kita hanya bergantung pada kekuatan dan kemampuan diri kita sendiri. Biarlah kita mau berdoa kepada Tuhan Yesus untuk memohon pengertian yang benar sambil percaya bahwa Ia akan memberikan apa yang kita butuhkan agar nama Tuhan dipermuliakan.

“….dan apa juga yang kamu minta dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya, supaya Bapa dipermuliakan di dalam Anak. Jika kamu meminta sesuatu kepada-Ku dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya.” Yohanes 14: 13 – 14

Rayakanlah Paskah setiap hari

“Demikianlah hendaknya kamu memandangnya: bahwa kamu telah mati bagi dosa, tetapi kamu hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus.” Roma 6: 11

Sebentar lagi, umat Kristen di seluruh dunia merayakan kebangkitan Tuhan kita, Yesus Kristus. Meskipun ini adalah hari suci yang kita rayakan sekali setiap tahun, kebangkitan adalah sesuatu yang harus diingat dan dirayakan setiap hari.

Sejujurnya, saya sering mengalami kesulitan pada hari-hari khusus seperti Natal, Jumat Agung, dan Paskah. Saya melihat adanya peningkatan dan promosi pemasaran dari pendeta dan gereja yang difokuskan untuk menarik orang banyak ke layanan mereka. Alasan saya mengapa mengkhawatirkan hal ini adalah karena saya tidak melihat kegembiraan dan upaya yang seimbang untuk merawat dan memuridkan orang setiap hari.

Sering kali tampaknya ini semua tentang meningkatkan keramaian gereja pada beberapa hari khusus daripada memperlengkapi orang percaya untuk menjadi pekerja Yesus setiap hari. Memang, hari-hari bersejarah itu penting. Kita melihat di seluruh Alkitab bahwa Tuhan memerintahkan umat-Nya untuk merayakan festival dan mengatur peringatan sehingga mereka tidak akan melupakan apa yang telah Dia lakukan. Tetapi perintah Tuhan tidak terbatas pada hari-hari seperti itu. Dia adalah “Tuhan sehari-hari” yang telah memberi kita “misi sehari-hari” untuk mengabarkan injil dan melayani sesama.

Mungkin saya agak sinis, tetapi saya merasa sedih melihat keadaan gereja zaman sekarang, terutama di dunia Barat. Sementara saudara dan saudari kita di banyak negara mempertaruhkan nyawa mereka hanya untuk datang ke pertemuan ibadah, orang percaya di dunia Barat meremehkan kebebasan dan keamanan mereka. Kita sering hidup dengan iman yang lesu sementara orang lain mempertaruhkan nyawa mereka untuk melakukan apa yang Yesus perintahkan untuk kita lakukan setiap hari. Kita mungkin kurang mau untuk hidup bagi Allah dalam Yesus Kristus di setiap saat.

Bukan maksud saya untuk mempermalukan siapa pun, tetapi untuk menantang semua orang percaya agar memegang iman mereka erat-erat. Memang merayakan hari-hari bersejarah seperti Jumat Agung, Paskah, dan Natal, adalah penting, tetapi jangan sampai mengabaikan tugas setiap hari yang telah Tuhan berikan kepada kita untuk urusan pembangunan KerajaanNya. Apalagi, beberapa golongan mengajarkan bahwa hari-hari bersejarah itu hanya boleh diperingati pada hari tertentu saja, sesuai dengan kebiasaan dan pengertian mereka.

Hari ini, firman Tuhan mengajak kita untuk mengingat dan merayakan kebangkitan Yesus setiap hari dengan menjalani kehidupan yang dipimpin oleh Roh. Jangan hanya datang ke acara keagamaan sekali setahun pada tanggal yang ditentukan oleh pimpinan gereja. Alkitab dalam ayat di atas menyatakan bahwa ke mana pun kita pergi setiap hari, fokus dan niat kita adalah untuk membagikan pengharapan yang kita miliki karena Yesus benar-benar bangkit kembali pada hari ketiga setelah membayar harga dosa dunia di kayu salib. Itu adalah iman yang sejati.

Jika kita kenal, kita akan mengasihiNya

“O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya!” Roma 11: 33

Hari ini hari Minggu, hari yang diberikan Tuhan kepada manusia untuk beristirahat dan untuk memuji Dia. Jika pada hari ini kita bisa ke gereja bersama keluarga dan menikmati kebersamaan dalam Tuhan, menjelang malam kita mungkin mulai memikirkan tugas-tugas yang harus kita lakukan esok hari. Memang, jika dibayangkan, betapa enaknya jika kita tidak perlu menghadapi tantangan kehidupan. Setiap hari berjalan seperti weekend, dimana kita bisa menikmati hari libur yang santai. Tetapi, apa boleh buat, setiap manusia harus bekerja; jika tidak untuk mencari sesuap nasi, pastilah itu untuk memenuhi kewajiban lainnya.

Jika dipikirkan dalam-dalam, hal yang paling berat dalam hidup ini sebenarnya bukan soal berjuang atau bekerja, tetapi soal apakah kita akan memperoleh apa yang kita upayakan. Banyak keraguan akan masa depan atau kekuatiran atas apa yang akan terjadi timbul karena tidak ada orang yang bisa menjamin bahwa kita akan berhasil dalam mencapai tujuan kita.

Memang jika kita percaya bahwa Tuhan itu adalah oknum yang mahakasih, seharusnya dari apa yang terjadi dalam hidup kita, kita bisa mengenali kasihNya. Dalam kenyataannya, jika apa yang terjadi dalam hidup kita adalah kurang menyenangkan, rasanya sulit untuk kita bisa mengerti bahwa apa yang terjadi adalah dengan seizin Tuhan yang mahakasih. Kalau begitu, benarkah kita mengenal Dia?

Ada orang Kristen yang percaya bahwa jika Tuhan itu mahakasih, tentunya hidup umatnya akan penuh dengan hal-hal yang menyenangkan. Tuhan yang mahakuasa dan mahakaya tentu akan memberikan apa yang terbaik. Tetapi, pikiran yang sedemikian adalah membuat Tuhan setara dengan kita, sehingga apa yang kita senangi dan kehendaki, adalah selalu sama dengan apa yang Tuhan senangi dan kehendaki. Pendapat sedemikian juga mengklaim bahwa kita mengenal Tuhan dengan sepenuhnya, dan bahwa kehendak kita selalu sesuai dengan kehendakNya.

Hari ini firman Tuhan diatas berkata bahwa kita tidak dapat menyelami dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah. Jika kita mengakui Dia sebagai Tuhan yang mahabesar, kita tidak perlu gundah jika kita tidak mengerti keputusan-keputusanNya dan tidak dapat menyelami jalan-jalanNya. Apa yang kita tahu ialah bahwa Tuhan yang mahakuasa dan mahakasih sudah mengirimkan AnakNya yang tunggal, Yesus Kristus, untuk menebus dosa kita. Karena itu, sekalipun kita tidak tahu apa yang akan terjadi pada hari-hari mendatang, kita tetap bisa bersyukur kepadaNya dan tetap mau mencari kehendakNya setiap hari. Semoga saja pengenalan kita akan Tuhan membuat kita percaya bahwa apapun yang terjadi dalam hidup kita, Tuhan tetap mengasihi kita. Dengan demikian, kita akan bisa mengasihi Dia dengan segenap hati kita dan dengan segenap jiwa kita dan dengan segenap akal budi kita (Matius 22: 37).