Bolehkah kita bernegosiasi dengan Tuhan?

“Jauhlah kiranya dari pada-Mu untuk berbuat demikian, membunuh orang benar bersama-sama dengan orang fasik, sehingga orang benar itu seolah-olah sama dengan orang fasik! Jauhlah kiranya yang demikian dari pada-Mu! Masakan Hakim segenap bumi tidak menghukum dengan adil?” Kejadian 18: 25

Bacaan: Kejadian 18: 23 – 33

Kata “nego” adalah salah satu kata yang populer di Indonesia. Arti kata ini adalah tawar-menawar. Kata nego berasal dari kata negosiasi yang berarti proses tawar-menawar dengan jalan berunding guna mencapai kesepakatan antara satu pihak dengan pihak yang lain. Proses ini bisa mempunyai beberapa tujuan seperti:

  • untuk mengatasi atau menyesuaikan perbedaan,
  • untuk memperoleh sesuatu dari pihak lain,
  • untuk mencapai kesepakatan yang dapat diterima kedua belah pihak dalam melakukan transaksi,
  • untuk menyelesaikan sengketa/perselisihan pendapat.

Di beberapa negara, hal tawar-menawar sudah menjadi norma dan bukan merupakan sesuatu yang tidak etis. Di kota Solo misalnya, ada pasar Klewer dimana kita bisa melakukan tawar-menawar harga pakaian batik, kain batik, pakaian anak dan orang dewasa, aksesoris hingga suvenir. Begitu juga kota Surabaya mempunyai pasar Atom, dan kota Jakarta mempunyai pasar Tanah Abang. Mereka yang tidak faham soal tawar-menawar atau tidak menyukai tawar-menawar di pasar tentunya tidak akan bisa memperoleh harga yang terbaik. Tidak mau menawar akan merugikan diri sendiri, kata orang.

Dalam kitab Kejadian 18:23 – 33 dikisahkan bagaimana Abraham melakukan negosiasi dengan Tuhan mengenai rencanaNya untuk menghukum penduduk kota Sodom yang sudah lama hidup dalam dosa dan mengabaikan perintahNya. Mungkin sebagai seorang pengusaha lahan pertanian dan peternakan, Abraham sudah terbiasa untuk melakukan tawar-menawar dengan banyak orang. Tetapi, pada kali ini ia mencoba ber-nego dengan Tuhan.

Tuhan menyatakan rencanaNya untuk menghancurkan Sodom dan penghuninya. Untuk Abraham, ini adalah sesuatu yang terlalu berat karena ia merasa ada orang-orang yang baik di kota itu yang tidak perlu dihukum bersama yang lain. Dari ayat-ayat bacaan di atas kita bisa membaca bahwa Abraham cukup ulet dan tidak sungkan-sungkan dalam melakukan tawar-menawar dengan Tuhan, Namun pada akhirnya Abraham tidak berhasil memperoleh apa yang diharapkannya. Semua usahanya sia-sia karena Tuhan sudah mempunyai rencana berdasarkan apa yang sudah diketahuiNya. Apakah tindakan Abraham keliru?

Barangkali apa yang diusahakan Abraham adalah serupa dengan apa yang kita lakukan ketika ada masalah besar yang kita hadapi. Mungkin kita memohon kepada Tuhan untuk mengubah apa yang terjadi dalam hidup kita. Dalam keadaan pandemi saat ini, dengan doa-doa yang tidak berkeputusan, doa bersama dengan orang beriman, atau dengan puasa, kita mungkin berusaha agar Tuhan melakukan sesuatu untuk menolong kita atau orang lain. Kita melakukan semua itu karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan dan apa yang akan Tuhan lakukan. Tetapi Tuhan yang mahatahu tentunya tahu apa yang akan terjadi dan pasti sudah mempunyai rencana untuk menghadapi semua itu.

Dalam keadaan putus asa, mungkin karena kita merasa bahwa Tuhan mempunyai pendapat yang berbeda dengan kita, seperti Abraham kita berusaha untuk mencapai kompromi dengan Tuhan, walaupun kita tahu bahwa Tuhan adalah mahabijaksana dan mahatahu. Sebagai manusia kita tidak tahu jalan pikiran Tuhan dan tidak dapat memberi nasihat kepadaNya agar Ia mengambil keputusan yang kita anggap baik.

“O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya! Sebab, siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan? Atau siapakah yang pernah menjadi penasihat-Nya?” Roma 11: 33-34

Satu hal yang mengherankan adalah kenyataan bahwa Tuhan mau mendengarkan tawaran Abraham dan tidak murka kepadanya. Sudah tentu Abraham kuatir bahwa Tuhan akan marah karena ia berani ber-nego, tetapi Tuhan tetap dengan sabar mendengarkan “tawaran” Abraham. Tuhan tidak juga menertawakan Abraham karena kebodohannya, Tuhan tahu bahwa Abraham adalah manusia yang terbatas kemampuannya. Tuhan justru seakan menikmati suasana “tawar-menawar” antara Dia yang mahabijaksana dengan manusia yang bodoh.

Hari ini, kita harus sadar bahwaTuhan menganjurkan umatnya untuk berdoa kepadaNya. Ia senang jika kita ber-nego dengan Dia. Sekalipun Dia tidak pernah keliru dalam rencana maupun keputusanNya, Tuhan tidak akan marah mendengarkan semua alasan dan tawaran kita. Mengapa demikian? Tuhan menghargai umatNya yang mau mendekatiNya sekalipun mereka bukanlah orang yang bijaksana. Tuhan senang kalau kita mendekati Dia dan berusaha mengerti apa yang dikehendakiNya. Melalui doa, kita bernegosiasi dengan Dia agar kita makin percaya kepada Dia dan yakin bahwa apa yang direncanakanNya adalah baik adanya. Sekalipun kita tahu bahwa sebagai manusia kita tidak dapat mengubah rencana dan keputusanNya, kita akan bisa lebih yakin akan masa depan karena adanya kesadaran bahwa Tuhan kita bukanlah Tuhan yang bisa melakukan kesalahan dan yang tindakanNya perlu dikoreksi oleh manusia ciptaanNya, tetapi Dia adalah Tuhan yang mahakuasa, mahatahu, mahabijaksana dan mahakasih.

“Karena itu berdoalah demikian: Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.” Matius 6: 9 – 10

Doa tanpa kebosanan adalah tanda hidup dalam iman

“Tetaplah berdoa” 1 Tesalonika 5: 17

Pesan Paulus mengenai doa dalam ayat di atas cukup singkat: kita harus tetap berdoa. Dalam bahasa Inggrisnya “continually” atau “unceasingly” yang artinya terus-terusan atau tidak berhenti. Apa maksud Paulus dalam menyuruh jemaat di Tesalonika untuk berdoa terus menerus? Tuhan yang Mahakuasa dan Mahabijaksana itu tentunya tahu apa yang kita butuhkan, memutuskan apa yang akan terjadi dan manusia tidak dapat melawan kehendakNya. Lalu apa gunanya berdoa? Dan apa guna berlama-lama berdoa?

Memang banyak orang Kristen yang kuat dan ulet dalam berdoa. Sebagian malah percaya bahwa makin kuat dan lama doanya, makin besar kemungkinan Tuhan akan mengabulkan doa mereka. Malahan ada yang percaya bahwa ritual-ritual dan doa-doa tertentu mempunyai khasiat besar pada kemungkinan terkabulnya doa. Ada juga mereka yang berdoa terus- terusan karena mereka percaya bahwa itulah yang dikendaki Tuhan dan karena itu harus dilaksanakan sekalipun mereka tidak mengerti apa maksud dan tujuannya. Mereka paling tidak mendapat kelegaan dan ketenangan karena sudah menjalankan perintah Tuhan. Dalam hal ini doa mungkin hanya merupakan keharusan dan kebiasaan saja.

Doa sebenarnya adalah sebuah percakapan antara seorang anak Allah dengan sang Bapa. Memang itu menunjukkan adanya hubungan antara kedua pihak. Hubungan yang baik membawa banyak percakapan, dan banyaknya percakapan seharusnya menunjukkan hubungan yang sehat. Walaupun demikian hubungan dalam hal ini adalah berbeda dengan hubungan antar manusia. Doa adalah komunikasi antara manusia dan sang Pencipta.

Doa yang baik adalah doa yang disertai dengan rasa hormat, syukur, jujur, rendah hati dan berserah kepada Tuhan. Doa bukanlah sekedar “omong-omong”, “omong kosong” atau “nodong” seperti yang sering kita lakukan kepada teman dekat kita. Doa adalah sebuah kesempatan untuk manusia agar bisa mengutarakan isi hatinya dan mendengarkan pendapat Allah tentang hal itu. Doa adalah sebuah komunikasi dua arah yang perlu dilakukan setiap saat dan sesering mungkin.

Setiap kali kita berdoa, kesulitan kita adalah dalam hal mendengar suara Tuhan. Kita cenderung mendengar suara kita sendiri dan suara-suara lain yang memengaruhi hati dan pikiran kita, sehingga sukar untuk bisa mendengar suaraNya. Dengan demikian, jika kita tidak mendengar jawaban Tuhan, lama-kelamaan kita akan bisa menjadi bosan dan bahkan marah kepada Tuhan. Tetapi dalam setiap doa kita, sebenarnya Tuhan selalu mendengar apa yang kita sampaikan karena Ia adalah Bapa yang baik. Ia senang jika kita mau menghampiri tahtaNya.

Melalui doa jugalah kita menyampaikan segala permohonan kita. Bukan untuk yang kita ingini, tetapi untuk apa yang kita butuhkan. Tetapi mungkin kita lebih sering berdoa untuk apa yang kita ingini; itu adalah lumrah. Karena keterbatasan kita sebagai manusia, kita sering sulit membedakan antara keinginan dan kebutuhan. Hanya Tuhan yang selalu tahu apa yang benar-benar kita butuhkan dan menjawab permohonan kita karena Dialah yang Mahatahu. Karena itu, semakin sering kita berdoa, semakin bisa kita mengetahui apa yang kita butuhkan karena melalui doa, Tuhan bisa menunjukkan apa yang dikehendakiNya. Melalui doa yang tetap kita lakukan, kita belajar menyesuaikan keinginan dan hidup kita dengan kehendakNya dan bersabar menunggu jawabNya.

Hari ini marilah kita mengambil keputusan untuk tetap berdoa sekalipun keadaan saat ini kurang bisa memberi semangat. Kita harus berdoa bukan dengan doa yang selalu mengutarakan keinginan kita, tetapi doa yang menunjukkan bahwa kita mau belajar mendengar apa yang dikatakan Tuhan. Doa yang mencerminkan ketundukan kita atas kehendakNya dan kemauan kita untuk menerima apa yang akan Dia berikan, karena Dialah yang tahu apa yang kita butuhkan. Dengan seringnya kita berdoa selama menunggu jawaban Tuhan, kesabaran dan iman kita juga akan terlatih.

“…., karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya.” Matius 6: 8b

Apa harapan anda saat ini?

“Sebab kita diselamatkan dalam pengharapan. Tetapi pengharapan yang dilihat, bukan pengharapan lagi; sebab bagaimana orang masih mengharapkan apa yang dilihatnya?” Roma 8: 24

Setahun sejak munculnya Covid-19, pandemi ini belum nampak mereda. Memang beberapa negara sudah berhasil mengurangi jumlah penambahan kasus positif harian mereka, tetapi selama vaksin belum bisa dibagikan secara meluas ancaman kembalinya virus ini akan tetap ada. Keadaan yang serba tidak menentu ini sudah pasti membuat banyak orang merasa gundah karena tidak dapat membuat rencana untuk masa depan. Dengan demikian, semua harapan manusia mungkin akan tetap tinggal sebagai harapan untuk jangka waktu yang cukup lama.

Dalam keadaan saat ini, apa harapan anda untuk masa depan? Apa juga harapan anda untuk sanak saudara anda? Semua orang tentu mengharapkan apa yang baik, untuk dirinya sendiri dan untuk semua orang yang dikasihinya. Apa yang diharapkan selagi hidup di dunia, tentunya berkisar pada kebahagiaan, kesehatan, kesuksesan dan sejenisnya. Itu adalah wajar. Tidak ada orang yang mengharapkan sesuatu yang buruk bagi dirinya atau kerabatnya. Walaupun demikian, pada saat ini hal-hal yang buruk bisa saja terjadi pada diri siapa saja sekalipun itu bukan karena kesalahan orang yang bersangkutan. Harapan yang bagaimanapun baiknya, belum tentu bisa terwujud dalam hidup kita.

Apa yang diharapkan manusia pada umumnya adalah hal yang bisa dilihat, karena apa yang bisa dilihat adalah mudah untuk dimengerti dan dinikmati. Tetapi apa yang bisa dilihat juga merupakan sesuatu yang mudah untuk membawa kekecewaan. Apa saja yang kita inginkan dan miliki di dunia ini, mungkin terlihat baik pada hari ini, tetapi bisa berubah rupa esok hari dan bahkan lenyap tidak berbekas. Apa yang bisa dilihat manusia adalah hal yang fana, yang tidak kekal adanya.

Ayat diatas menyebutkan pengharapan yang berbeda, karena pengharapan ini adalah untuk sesuatu yang tidak bisa kita lihat. Sesuatu yang hanya bisa dirasakan dalam hati selama kita ada di dunia. Tidak semua orang bisa mempunyai pengharapan akan apa yang tidak terlihat, tetapi itu adalah pengharapan yang benar. Apa yang tidak terlihat saat ini adalah keselamatan yang sudah dijanjikan Allah kepada setiap orang yang percaya kepadaNya. Allah adalah Bapa kita yang bukan seperti orang tua yang hanya bisa mengharapkan agar sesuatu yang baik terjadi pada diri anak-anaknya, tetapi Ia adalah Allah yang sanggup memberikan masa depan yang terbaik untuk mereka.

“Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia.” Roma 8: 17

Malam hari ini, jika kita bersiap untuk tidur, mungkin tidak mudah bagi kita untuk memejamkan mata. Mungkin kita masih sedih memikirkan masa depan kita dan juga hal-hal buruk yang dialami oleh teman dan sanak keluarga kita. Adakah harapan bahwa kita bisa mencapai apa yang kita idamkan dengan adanya pandemi yang berkepanjangan ini? Ataukah kita merasa bahwa hidup yang ada di saat ini adalah sebuah perjalanan tanpa tujuan dan harapan?

Mungkin kita sulit untuk tidur nyenyak karena pikiran kita terpaku pada hal-hal yang dapat kita lihat setiap hari: segala penderitaan, kekecewaan, kehilangan dan kegagalan. Kita mungkin lupa bahwa apa yang tidak terlihat sekarang ini sebetulnya adalah pengharapan yang benar dan terbesar. Kita mungkin tidak sadar bahwa apa yang tidak terlihat itu sebenarnya adalah rencana Bapa kita yang di surga. Ialah yang membimbing kita selama hidup di dunia dan memberi ketekunan dan kekuatan agar kita tetap bisa berharap dan berdoa untuk masa depan yang cemerlang bersama Dia. Sekalipun hidup di dunia ini penuh tantangan dan penderitaan, kita harus yakin bahwa Tuhan bisa dan mau menguatkan mereka yang menantikan saat itu dengan tekun.

“Tetapi jika kita mengharapkan apa yang tidak kita lihat, kita menantikannya dengan tekun. Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan.” Roma 8: 25 – 26

Perjuangan melawan siluman

“Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis; karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara.” Efesus 6: 11 – 12

Bagi mereka yang mengikuti perkembangan militer, kemajuan teknologi militer yang dicapai oleh beberapa negara dalam dua dekade yang terakhir memang sangat mengagumkan. Sekalipun tidak ada perang yang sedang dihadapi, berbagai negara berlomba-lomba mengembangkan kemampuan militernya, terutama dalam hal teknologi pesawat udara. Beberapa negara saat ini sedang giat-giatnya mengembangkan pesawat tempur yang dijuluki pesawat siluman (stealth aircraft), yaitu pesawat yang menggunakan teknologi yang membuatnya lebih sulit untuk dideteksi.

Pada umumnya tujuan pesawat siluman adalah melancarkan serangan selagi pesawat itu masih berada di luar jangkauan pendeteksian musuh. Pesawat siluman memiliki kemampuan untuk menghindari deteksi secara visual, audio, sensor panas, maupun gelombang radio (radar). Perlu diketahui, dalam bahasa Inggris, “stealth” bukanlah siluman, hantu atau jadi-jadian, tetapi berarti “tidak terlihat” atau “secara sembunyi”.

Mengapa pesawat itu disebut pesawat siluman dalam bahasa Indonesia? Siluman dalam berbagai cerita rakyat Indonesia adalah makhluk halus yang tinggal dalam komunitas dan menempati suatu tempat. Mereka melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari sebagaimana layaknya manusia biasa, tetapi seringkali melakukan hal-hal yang mengganggu manusia. Walaupun demikian, banyak orang yang mempunyai siluman atau jin yang bisa membantu mereka untuk memperoleh kekayaan, kedudukan, kekebalan, dan sebagainya.

Mereka yang tidak percaya adanya siluman tentunya bisa merasa geli mendengar adanya istilah “pesawat siluman”. Tetapi mereka yang tidak percaya adanya iblis juga bisa merasa geli membaca ayat di atas. Dalam ayat di atas Paulus mengingatkan jemaat Efesus akan adanya “pemerintah-pemerintah, penguasa-penguasa, penghulu-penghulu dunia dan roh-roh jahat di udara”. Paulus tentunya tidak berbohong. Siluman itu ternyata memang ada, tetapi bukan yang nampak sebagai makhluk yang mengerikan seperti yang digambarkan dalam dongeng.

Iblis memang berusaha menghancurkan apa yang baik yang diciptakan Tuhan sejak dari awalnya. Iblis dengan berbagai penampilan yang memikat, sangat pandai untuk membujuk manusia agar mereka mengabaikan firman Tuhan. Iblis tidak terang-terangan mengajak umat Tuhan untuk berbuat dosa, tetapi ia membuat manusia merasa tidak merasa bersalah dalam dosa yang diperbuatnya. Iblis mampu membuat apa yang salah, yang jahat, yang kejam dan yang licik, terlihat sebagai sesuatu yang indah. Iblis mengajarkan manusia membuat berbagai dalih untuk membenarkan perbuatan jeleknya. Karena itu, ada orang Kristen yang menghalalkan segala cara dan mengeluarkan berbagai kebohongan “dengan maksud baik”. Iblis sering juga membuat banyak orang merasa bahwa hidup mereka tidak berarti sehingga mereka ingin mengakhirinya.

Perjuangan orang Kristen dalam hidup ini bukanlah menghadapi sesuatu yang mudah dilihat. Iblis yang bekerja seperti siluman (stealth) sudah memasuki segala segi kehidupan manusia, baik itu menyangkut hukum, politik, ekonomi, medis, agama, keluarga dan kemasyarakatan. Iblis secara perlahan-lahan dan tersembunyi sudah menggerogoti nilai-nilai hidup suci yang sudah diberikan Tuhan sehingga semuanya nampak sebagai hal-hal yang sepele, yang bisa dilupakan. Iblis jugalah yang membuat manusia percaya bahwa hidup-matinya ada di tangan mereka sendiri. Manusia yang sudah diserang dan dikalahkan oleh iblis biasanya justru tidak menyadari keadaannya, karena ia tidak dapat melihat iblis, si siluman yang bekerja di balik semuanya.

Sebagai orang Kristen, kita adalah orang-orang yang sudah menang bersama Yesus dalam mengalahkan kuasa maut. Iblis sudah ditaklukkan dan karena itu ia tidak dapat menganggu-gugat keselamatan kita. Tetapi, ia masih bisa melukai kita dan membuat hidup kita rusak berantakan. Memang iblis tidak bisa lagi mengambil jiwa kita, tetapi jika ia melukai kita, nama Tuhan ikut ternoda. Ada banyak orang Kristen yang kurang berhati-hati dalam menghadapi musuh yang tidak kelihatan ini dan akhirnya menjadi orang-orang yang menimbulkan berbagai masalah dan kekacauan dalam keluarga, lingkungan dan gereja. Dengan demikian, pekerjaan Tuhan di dunia bisa terganggu karenanya.

Hari ini firman Tuhan berkata bahwa perjuangan kita melawan iblis yang tidak kelihatan tidaklah mudah.  Apa yang kita lihat mungkin menawan dan nyaman, tetapi di balik semua itu iblis sudah siap untuk menjatuhkan siapa saja yang tidak berhati-hati. Dengan demikian, kita harus mau mengenakan seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kita dapat bertahan melawan tipu muslihat si penipu. Kita harus makin kokoh dalam memegang kebenaran dan keadilan Kristus, ikut mengabarkan injil kepada semua orang, berlindung di balik iman, berpegang pada fiman Tuhan dan rajin berdoa untuk memohon penyertaan Tuhan kepada semua orang percaya.

“Jadi berdirilah tegap, berikatpinggangkan kebenaran dan berbajuzirahkan keadilan, kakimu berkasutkan kerelaan untuk memberitakan Injil damai sejahtera; dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman, sebab dengan perisai itu kamu akan dapat memadamkan semua panah api dari si jahat, dan terimalah ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu firman Allah, dalam segala doa dan permohonan. Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk segala orang Kudus.” Efesus 6: 14 – 18

Beware of the stealthy creatures

“Put on the whole armor of God, that you may be able to stand against the schemes of the devil. For we do not wrestle against flesh and blood, but against the rulers, against the authorities, against the cosmic powers over this present darkness, against the spiritual forces of evil in the heavenly places.” Ephesians 6: 11-12

For those who follow military developments, the military technology advances made by several countries in the last two decades have been very impressive. Even though there is no war being faced, various countries are competing to develop their military capabilities, especially in terms of aircraft technology. Several countries are currently in full swing to develop combat aircraft known as stealth aircraft (“pesawat siluman” or “ghost aircraft” in Indonesian), which is an aircraft that uses technology that makes it more difficult to detect.

Generally, the objective of a stealth aircraft is to launch an attack while the aircraft is still outside the enemy’s detection range. Stealth aircraft have the ability to avoid detection by visual, audio, heat sensors, or radio waves (radar). Why the plane is called a “ghost aircraft” in Indonesian? I do not exactly understand. However, ghost in various Indonesian folk tales are spirits who live in communities and occupy a place. They carry out activities of daily life as normal humans, but often do things that disturb humans. In English, “”stealth” is not a ghost or demon, but means “invisible” or “in secret”.

Those who do not believe in ghost can certainly be amused by the term “ghost aircraft”. But those who do not believe in the devil can also be amused by reading the above verse. In the above verse Paul reminded the Ephesians of the existence of “rulers, authorities, cosmic powers and spiritual forces of evil”. Paul certainly wasn’t lying. These demons do exist.

The devil does try to destroy what is good that God created in the first place. Satan is very clever at persuading people to ignore God’s word. Satan does not openly invite God’s people to sin, but he makes people feel guilty about the sins they have committed. The devil is able to make what is wrong, what is evil, what is cruel and what is cunning, look beautiful. Satan teaches people to make various excuses to justify their bad deeds. The devil also often makes humans feel exalted and therefore happily follows astray paths.

The struggle of Christians in this life is not something that is easily seen. In contrast with the depiction of satan in various books and movies, demons who work like stealthy creatures (“ghosts”) have entered all aspects of human life, be it those related to law, politics, economics, medical, religion, family and society. Satan and his demon armies have slowly and secretly undermined the values of a holy life that has been given by God so that everything appears as trivial things, which can be forgotten. The devil is also the one who makes people feel great and believes that their life and death are in their own hands. Humans who have been attacked and defeated by demons usually don’t even notice their situation, because they can’t see the devil, Satan, who is working behind everything.

Today, God’s word says that our struggle against invisible demons is not easy. What we see may be charming and comfortable, but behind all that the devil is ready to take down anyone who is not careful. Thus, we must be willing to put on the full armour of God, so that we can defend against the tricks of the deceiver. We must be stronger in holding the truth and justice of Christ, share in preaching the gospel to all people, take refuge behind faith, hold on to God’s faith and pray diligently to ask God’s inclusion in all believers.

“Stand therefore, having fastened on the belt of truth, and having put on the breastplate of righteousness, and, as shoes for your feet, having put on the readiness given by the gospel of peace. In all circumstances take up the shield of faith, with which you can extinguish all the flaming darts of the evil one; and take the helmet of salvation, and the sword of the Spirit, which is the word of God, praying at all times in the Spirit, with all prayer and supplication. To that end, keep alert with all perseverance, making supplication for all the saints” Ephesians 6: 14-18

Kita tetap harus berdoa

Ketika orang-orang Aram itu turun mendatangi dia, berdoalah Elisa kepada TUHAN: “Butakanlah kiranya mata orang-orang ini.” Maka dibutakan-Nyalah mata mereka, sesuai dengan doa Elisa. 2 Raja-Raja 6: 18

KehendakMu jadilah..

Tak dapat disangkal bahwa adanya pandemi sudah membuat banyak orang Kristen memikirkan apa maksud Tuhan dengan membiarkan banyak manusia mengalami berbagai penderitaan. Kebingungan terjadi juga karena orang tidak tahu apakah memang Tuhan menghendaki semuanya. Barangkali Tuhan bermaksud menghukum seisi unia karena sudah terlalu banyak orang yang berani melawan kehendakNya? Pada pihak yang lain, ada juga mereka yang percaya bahwa semua ini hanya bagian kehidupan manusia di dunia yang sudah jatuh dalam dosa. Walaupun demikian, tidak dapat dipungkiri bahwa dengan adanya pandemi ini, makin banyak orang Kristen yang berdoa kepada Tuhan untuk memohon pertolongan.

Waktu itu, Aram sedang bermusuhan dengan Israel. Di dalam 2 Raja-Raja 6: 8 – 17 diceritakan bahwa tentara Aram selalu diperdaya oleh tentara Israel. Setiap kali tentara Aram mengubah posisi penyergapannya, tentara Israel tidak lewat di situ. Begitu terus yang terjadi, sehingga Raja Aram sangat murka. Dia lalu memerintahkan pasukan tentara yang sangat besar jumlahnya beserta kuda dan keretanya, untuk mengepung Dotan, dimana Elisa dan pelayannya tinggal. Karena jumlahnya sangat banyak, tidak ada celah yang bisa digunakan Elisa untuk meloloskan diri dari kepungan mereka. Ketika orang-orang Aram itu turun mendatangi dia, berdoalah Elisa kepada Tuhan: “Butakanlah kiranya mata orang-orang ini.” Maka dibutakanNyalah mata mereka, sesuai dengan doa Elisa. Tuhan agaknya menuruti permintaan Elisa.

Seperti ayat di atas, banyak contoh dalam Alkitab yang dipakai sebagai dasar argumen bahwa jika kita bersungguh-sungguh meminta Tuhan untuk bertindak, Ia akan melakukannya.

“Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan.” Matius 7: 8

Ayat ini adalah ayat yang sering dipakai untuk memberi semangat kepada umat Kristen untuk rajin berdoa guna memohon kepada Tuhan apa saja yang diinginkan mereka. Baik itu untuk kesuksesan, kekayaan, kesembuhan dan apapun, umat diyakinkan bahwa kalau mereka bersiteguh dalam iman, niscaya Tuhan menuruti permintaan mereka (Lukas 17: 6). Karena itu, sebagai orang Kristen, mereka dinasihati bahwa kesempatan untuk meminta sesuatu kepada Tuhan yang mahapemurah haruslah digunakan tanpa keraguan.

Kembali ke soal pandemi, agaknya setiap orang Kristen mengakui bahwa Tuan mahakuasa, mahatahu dan mahabijaksana. Tetapi mengapa Ia membiarkan pandemi ini terjadi? Mengapa Ia seolah-olah tidur atau tidak peduli? Banyak orang Kristen yang percaya bahwa seperti apa yang dialami Elisa, Tuhan akan tergerak untuk mengubah keadaan yang ada, jika mereka berdoa, berpuasa dan melakukan ritual-ritual lainnya. Dengan demikian, mereka seolah menyatakan bahwa mereka kurang puas dengan apa yang dilakukan Tuhan saat ini. Secara tidak langsung mereka mungkin merasa lebih tahu tentang apa yang diperlukan, saat yang tepat dan tempat yang sesuai bagi Tuhan untuk bertindak. Sekalipun mereka mungkin sadar bahwa Tuhan mungkin mempunyai rencana yang berlainan dengan keinginan mereka, mereka mungkin berharap kalau-kalau Tuhan berubah pikiran.

Tetapi, anggapan sedemikian adalah merendahkan Tuhan dan membuat Dia seolah sederajat dengan manusia. Tuhan kita adalah Tuhan yang baik, yang tidak pernah berubah-ubah keputusanNya (Yakobus 1: 17). Memang, jika kita berada dalam keadaan yang berat dan menanti-nantikan jawaban Tuhan, adalah mudah bagi kita untuk merasa bahwa kita perlu untuk berbuat sesuatu agar Tuhan sadar akan keadaan kita. Mungkin kita akan memanjatkan doa yang panjang kepada Tuhan. Atau mungkin kita pergi menemui seseorang untuk minta bantuan agar Tuhan mau mendengarkan permintaan kita. Mungkin saja orang itu dikenal sebagai hamba Tuhan yang doanya manjur, atau mempunyai karunia untuk melakukan mukjizat. Sebagian orang juga percaya bahwa doa mereka akan lebih didengar oleh Tuhan jika mereka berdoa bersama banyak orang yang seiman (Matius 18: 20).

Tuhan pasti mendengarkan doa umatNya, tetapi apakah Ia selalu mau melakukan apa yang diminta mereka? Jika memang Tuhan menantikan permohonan umatnya sebelum bertindak, ada pertanyaan untuk kita apakah kita percaya bahwa Tuhan kita yang mahakuasa, mahakasih, mahatahu dan mahabijaksana bisa dipengaruhi oleh manusia yang penuh cacat-cela. Sebaliknya, jika kita yakin bahwa Tuhan mempunyai rancangan yang baik, dan bahwa Ia adalah Pemimpin yang mahakuasa, doa kita tidak lain adalah penyerahan kita kepada bimbinganNya yang disertai dengan rasa syukur.

Jadi janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya. Matius 6: 8

Tuhan mau memenuhi permintaan kita, jika itu mengenai kebutuhan kita dan bukan keinginan kita, dan itu sesuai dengan kehendakNya. Lebih-lebih lagi jika doa kita tidak selalu berpusat pada materi dan kenyamanan hidup semata. Hari ini, jika kita berdoa, kita harus sadar bahwa doa yang selalu berpusat pada kepentingan diri sendiri tidak akan membuat Tuhan senang, karena itu bertentangan dengan tujuan Tuhan dalam menciptakan kita. Tuhan menciptakan kita untuk bisa membina hubungan yang baik dengan Dia. Doa adalah nafas kehidupan Kristen yang menguatkan kita sewaktu mengalami masalah dan memberi kehidupan selama kita menantikan pertolonganNya. Tetaplah berdoa sekalipun kita tidak tahu apa yang akan terjadi!

Maukah anda menerima sukacita yang terbesar?

“Bagiku tidak ada sukacita yang lebih besar dari pada mendengar, bahwa anak-anakku hidup dalam kebenaran.” 3 Yohanes 1: 4

Ayat di atas bukan ditulis sebagai pernyataan orangtua tentang anak-anaknya yang sudah berhasil menjadi “orang baik-baik”, sekalipun bisa disalahtafsirkan seperti itu. Tidak semua “orang baik-baik” adalah orang yang beriman. Sebaliknya, semua orang berdosa yang sudah dibeli dengan darah Kristus dan yang hidup dalam persekutuan dengan Tuhan Yesus, dapat dikatakan berjalan dalam kebenaran firmanNya. Mereka yang benar-benar dilahirkan kembali dan hidup dalam persekutuan dengan Tuhan adalah mereka yang menjalani hidup mereka melalui roh yang baru. Mereka tidak lagi hidup sebagai orang duniawi, yang terus menjalani kehidupan mereka di bawah pengaruh dosa lama.

Rasul Yohanes menulis surat ketiga yang singkat ini kepada temannya, Gayus, yang sangat ia kasihi. Tidak seperti beberapa pengikut Kristus lainnya, pria yang dibicarakan oleh rasul Yohanes ini adalah saksi setia kebenaran Injil – ia selalu berjalan dalam Roh dan kebenaran. Kelakuan dan sikap pria ini terhadap sesama orang percaya serta orang asing yang melintasi jalannya, yang sudah mencerminkan kasih Tuhan Yesus, menyebabkan Yohanes menulis bahwa ia sudah mendapat sukacita yang terbesar dalam hidupnya!

Tidak ada yang lebih menggetarkan hati orang Kristen, yang telah berpengaruh dalam mengarahkan mereka yang lebih muda kepada kebenaran Injil, selain melihat mereka yang sudah hidup menurut kebenaran – berjalan dalam persekutuan dengan Tuhan Yesus – hidup dalam ketundukan kepada tuntunan Roh Kudus. Hidup di bawah pengaruh manusia baru di dalam Kristus dan mencerminkan kasih karunia dan kebenaran.

Adalah suatu hal yang menarik jika Yohanes menulis bahwa ia tidak memiliki sukacita yang lebih besar daripada mendengar bahwa anak-anaknya berjalan dalam kebenaran. Ini adalah bahasa yang akan digunakan oleh seorang rasul lanjut usia ketika berbicara tentang mereka yang telah bertobat oleh perantaraannya, dan yang memandang dia sebagai seorang ayah. Karena itu, kita dapat menyimpulkan bahwa Gayus telah bertobat di bawah pelayanan Yohanes, dan bahwa dia mungkin jauh lebih muda dari Yohanes.

Ucapan “sukacita yang terbesar” ini mungkin agak membingungkan karena bagi setiap orang Kristen tentunya sukacita yang terbesar adalah ketika mereka menyadari bahwa Yesus sudah mati untuk menebus dosa mereka. Dalam hal ini, terjemahan yang lebih baik mungkin adalah “berkat yang terbesar”; dan itu jelas bukan umur panjang, kekayaan, kemasyhuran dan sebagainya.

Hari ini kita harus menyadari dari tulisan rasul Yohanes bahwa berkat Tuhan yang terbesar bisa kita rasakan kalau kita menjalankan perintahNya untuk mengabarkan Injil di mana pun kita berada:

(a) Sebagai penyebar Injil, yang melihat kenyataan bahwa orang-orang yang mereka latih dan layani, baik yang masih di bawah tuntunan mereka atau yang sudah bekerja di ladang lain, tetap bertahan dalam keteguhan pada ajaran yang benar dan hidup sesuai dengan itu.

(b) Sebagai orangtua atau guru-guru yang menghargai anak atau murid mereka, akan merasa sangat diberkati ketika mengetahui bahwa anak atau bekas muridnya, baik jauh atau dekat, tetap berpegang pada kebenaran agama, dan hidup sesuai dengan kaidah Injil Kristus.

(c) Sebagai “orang awam” kita sudah memancarkan terang Kristus kepada masyarakat di sekeliling kita sehingga banyak orang yang kemudian mau mengikut Dia.

Maukah anda memperoleh sukacita yang terbesar dalam hidup anda? Biarlah anda bisa menjadi contoh teladan yang baik dalam kebenaran seperti Yohanes selagi masih ada kesempatan.

Bersukacitalah senantiasa

“Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!” Filipi 4: 4

Hari ini melalui WhatsApp saya menerima sebuah kisah tentang seorang kaya-raya dari Nigeria yang bernama Femi Otedola, yang mencari kebahagiaan dalam hidupnya. Dikisahkan bahwa setelah mencari kebahagiaan sejati dengan cara mengumpulkan harta, menyimpan benda-benda berharga, dan juga dengan mengendalikan banyak proyek besar, akhirnya ia menemukan kebahagiaan sejati dengan cara menolong orang-orang yang hidup dalam penderitaan. Femi mengatakan bahwa kita akan diingat untuk kebaikan yang sudah kita perbuat untuk orang lain. Penghargaan orang lain atas kebaikan kita ini adalah kunci kebahagiaan. Betulkah begitu?

Memang, menurut banyak ahli sosial, kebahagiaan manusia bukanlah hak ataupun berkat. Kebahagiaan bukanlah sesuatu yang dapat kita tuntut ataupun sesuatu yang harus kita syukuri sebagai suatu pemberian. Tetapi, kebahagiaan adalah pilihan setiap orang atau choice. Kebahagiaan sudah ada tersedia bagi seluruh umat manusia, tetapi orang harus memilihnya untuk bisa berbahagia. Dengan kata lain, kita harus menemukan apa yang bisa membuat kita berbahagia.

Konsep kebahagiaan menurut Alkitab lain dengan konsep duniawi diatas. Kebahagiaan duniawi, happiness, adalah menyangkut soal happy, yaitu kebahagiaan karena kebutuhan manusiawi kita sudah terpenuhi. Dalam hal ini, penghargaan dari orang lain nampaknya bisa memberi kebahagiaan bagi kita. Tetapi, keinginan untuk mendapat penghargaan dari orang lain bisa juga membuat kita kurang berbahagia jika penghargaan itu tidak kunjung datang. Sebaliknya, kebahagiaan surgawi adalah kebahagiaan kekal yang tidak tergantung situasi dan kondisi. Dalam bahasa Inggris mungkin kata joy, lebih cocok dari pada kata happy. Sehubungan dengan kata joy atau sukacita itu, ada kata joyful untuk menyatakan rasa sukacita besar yang datangnya dari hati.

Dari mana datangnya rasa sukacita? Menurut Alkitab, sukacita yang sejati datang dari Tuhan. Manusia dengan keterbatasannya hanya bisa mendapat kebahagiaan yang datang dari apa yang bisa dilihat, didengar, dirasakan dan dialami. Tetapi rasa sukacita datang melalui iman kepada Tuhan, karena dengan iman manusia percaya bahwa Tuhan yang mahakasih selalu menyertainya. Lebih dari itu, sebagai orang Kristen kita bersukacita karena sudah menerima keselamatan melalui pengurbanan Yesus di kayu salib.

Rasa sukacita adalah karunia Tuhan, karena tanpa Dia, apa yang kita rasakan sebagai kebahagiaan hari ini, mungkin tidak dapat membuat kita bahagia esok hari. Kebahagiaan dari dunia tidak akan kita bawa setelah kita mati. Tidak ada yang kekal di muka bumi! Tetapi, Tuhan yang mahakasih adalah Tuhan yang menghendaki kita mempunyai rasa sukacita, karena itu Ia memberi kita keyakinan akan penyertaanNya pada setiap saat. Rasa sukacita sejati yang abadi hanya diberikanNya kepada orang yang percaya.

Tuhan juga memerintahkan umatNya untuk bersukacita dalam setiap keadaan. Ini tidak mudah karena iman kita selalu diuji pada saat penderitaan terjadi dalam hidup kita. Paulus dalam hal ini adalah seorang Rasul yang sudah belajar untuk mencukupkan diri dalam setiap keadaan dan untuk tetap bisa bersukacita, rejoicing, setiap saat. Ia tahu bahwa jika ia bisa tetap bersukacita dalam segala keadaan itu karena adanya kekuatan dari Tuhan. Dengan demikian, nama Tuhanlah yang akan dipermuliakan dalam sukacitanya.

Saat ini, apakah anda mengalami masalah yang besar? Apakah anda merasakan sulitnya untuk mendapatkan kebahagiaan dalam hidup? Firman Tuhan berkata bahwa kita seharusnya bersukacita karena keselamatan yang sudah kita terima. Kita juga bersukacita karena iman yang membawa keyakinan bahwa Tuhan menyertai kita sampai akhir zaman. Lebih dari itu kita bisa bersyukur karena apa yang tersedia di surga untuk kita, tidaklah dapat dibandingkan dengan apa yang ada saat ini.

Bagaimana reaksi anda atas perintah Tuhan untuk bersukacita senantiasa? Itu adalah pilihan anda, menurut atau tidak adalah keputusan masing-masing. Biarlah Roh Kudus yang membuka hati kita dan mengingatkan kita kepada kemurahan Tuhan dalam hidup kita. Dengan kesadaran itu, kita akan bisa berbuat baik untuk orang lain sebagai tanda terima kasih kita kepada Dia.

Dalam penderitaan, Tuhan tetap di pihak kita

“Sebab itu apakah yang akan kita katakan tentang semuanya itu? Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?” Roma 8: 31

Hal pengadaan vaksin corona agaknya menjadi pusat perhatian banyak orang di seluruh dunia pada saat ini. Tua muda, pria maupun wanita, yang menantikan berakhirnya pandemi ini tentunya berharap dan bahkan berdoa agar seluruh sanak-keluarga bisa tetap sehat dan diindungi Tuhan selama mereka menantikan giliran untuk divaksin. Lebih dari itu, mereka mungkin berharap agar mereka bisa divaksinasi secepatnya. Tidaklah mengherankan adanya “perlombaan” untuk mendapat vaksin, baik itu antar negara ataupun antar sesama warga. Berharap untuk menang memang sering bersifat egocentric, berpusat pada diri sendiri. Tidak peduli akan orang lain, asal diri sendiri berhasil.

Di kalangan orang Kristen pun ada banyak orang yang secara sadar atau tidak, bersifat egosentris; memohon berkat dan keberhasilan dari Tuhan, sekalipun itu mungkin berarti kesusahan, kerugian dan kekalahan bagi orang lain. Mungkin itu karena merasa bahwa mereka adalah anak-anak Tuhan yang paling disayangi sehingga Tuhan akan mengabulkan permintaan apa saja. Mereka merasa tidak perlu mencari kehendak Tuhan. Mereka tidak mengerti bahwa Tuhan memberi kan berkatNya kepada semua orang di dunia. Mereka tidak paham jika Tuhan mengabaikan kebutuhan orang non-kristen di dunia ini, tentu seluruh sistim pemerintahan, perekonomian, teknologi dan sebagainya akan jatuh berantakan.

“Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.” Matius 5: 45

Banyak juga orang Kristen yang percaya bahwa sebagai orang yang dipilih Tuhan, mereka adalah orang-orang yang bisa mendapatkan apapun yang mereka ingini. Selalu menang dan selalu mendapatkan apa yang terbaik. Dengan demikian, ayat diatas sering dipakai untuk memberi semangat kepada mereka yang kuatir dalam menghadapi kesulitan hidup, agar mereka yakin bahwa bersama Yesus mereka akan selalu berhasil. Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita? Benarkah begitu?

Ayat diatas tidak dapat dipakai sebagai pedoman umum jika kita tidak mau membaca ayat-ayat lain sesudahnya. Dari ayat-ayat itu, kita bisa melihat bahwa Paulus menulis ayat diatas dalam konteks mengalami penderitaan dan apa yang diartikan sebagai kegagalan. Bukan dalam konteks mencapai keberhasilan. Paulus mempersiapkan orang-orang Kristen di Roma dalam menghadapi penderitaan!

“Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang?” Roma 8: 35

Hari ini, jika kita merasa takut dalam menghadapi kegagalan dan penderitaan, firman Tuhan berkata bahwa Tuhan beserta kita senantiasa. Dalam keadaan apapun, kita boleh yakin bahwa kita adalah pemenang sejati yang lebih dari pada orang-orang yang terlihat menang, karena kita mempunyai Tuhan yang mengasihi kita. Kita juga bisa merasakan adanya kekuatan yang diberikan Tuhan, karena tidak ada sesuatu pun yang bisa memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.

“Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” Roma 8: 38 – 39

Jujur saja di hadapan Bapa

“Mengapa kamu berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, padahal kamu tidak melakukan apa yang Aku katakan?” Lukas 6: 46

Ampunilah aku ya Bapa..

Bagi banyak orang Kristen, hal bersenandung lagu rohani, berdoa khusyuk dan mengucapkan “kata-kata rohani” seperti shalom, amin dan haleluya, adalah umum. Orang Kristen juga sering menyebut panggilan Bapa, Abba, Tuhan dan Yahwe dengan mesranya setidaknya pada hari Minggu, hari kudus, hari berkelakuan baik. Sepertinya agar Tuhan itu senang dengan usaha pendekatan kita, walaupun hidup kita sehari-hari sebenarnya kacau dan berantakan.

Ayat diatas secara tegas mengungkapkan perasaan Yesus yang resah karena adanya orang yang bermanis-manis kepadaNya tetapi tidak mau menuruti apa yang diperintahkanNya. Jika mungkin untuk manusia membuat pernyataan dan laporan palsu dan setengah palsu sekedar untuk memuaskan atasan-atasan mereka di dunia, manusia tidak dapat membohongi atasan mereka yang di surga karena Dia adalah Tuhan yang mahatahu. Tidaklah mungkin bahwa Tuhan bisa kita bohongi dengan kehidupan kita yang palsu, yang tidak benar. Sia-sialah kita bersikap sopan dan hormat kepada Tuhan jika tingkah laku kehidupan kita di dunia ini mempermalukan Dia yang mahasuci.

Iman Kristen memang unik karena hanya dengan iman kita diselamatkan, dan itu bukan karena perbuatan kita. Tetapi itu bukan berarti kita bisa menjadi persembahan yang hanya harum di luar tetapi berbau busuk di dalam. Bukan berarti bahwa kita bisa menjadi orang Kristen yang nampak indah cemerlang dalam penampilan luar kita tetapi gelap gulita dalam kehidupan sehari-hari kita.Bukan juga berarti kita bisa jujur dalam lingkungan gereja tetapi culas di dalam hidup bermasyarakat.

Begitu banyak orang Kristen yang berpedoman asal Tuhan senang, peduli amat dengan orang lain. Tetapi ini tidak sesuai dengan apa yang diperintahkan Yesus:

“Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini.” Markus 12: 30-31

Tambahan pula, manusia tidak dapat mengasihi Tuhan yang tidak kelihatan jika ia tidak mengasihi sesamanya yang kelihatan (1 Yohanes 4: 20).

Hari ini kita diingatkan bahwa Tuhan tidak dapat kita tipu dengan persembahan hidup yang tidak benar, tidak lengkap atau yang sudah direkayasa. Tuhan tahu jika kita berlagak kasih dan hormat kepadaNya tetapi tidak mempunyai rasa kasih dan hormat kepada sesama kita. Tuhan tahu jika kita seolah mau bekerja keras untuk Dia tetapi tidak mau mempedulikan kebutuhan keluarga kita sendiri. Tuhan bisa melihat jika kita hanya mengasihi sesama orang Kristen dan bukannya sesama manusia. Di lain pihak, Tuhan juga tahu jika kita hanya berusaha menyenangkan orang-orang tertentu, mengagumi kehebatan ajaran gereja dan pimpinan gereja kita, dan bukannya berusaha untuk menaati perintah Tuhan.

“Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang di dunia ini dalam segala hal, jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan mereka, melainkan dengan tulus hati karena takut akan Tuhan.”  Kolose 3: 22

Marilah kita bersama berusaha hidup dengan jujur di hadapan Tuhan kita yang mahatahu dengan menaati segala perintahNya, supaya dalam setiap saat dan keadaan kita bisa memanggilNya Bapa tanpa keraguan dan kecanggungan!