“Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur.” Kolose 2: 7

Teringat saya akan masa kecil saya di Surabaya. Ketika itu sekitar tahun 60an, dan saya masih berada di sekolah menengah. Keadaan ekonomi negara pada waktu itu sangat parah dan karena persediaan beras yang tidak cukup, rakyat dianjurkan untuk mengonsumsi nasi jagung dan bulgur. Bagi rakyat jelata, gaji bulanan memang tidak cukup untuk hidup sebulan, dan karena itu banyak orang yang harus hidup dengan cara “gali lubang tutup lubang”, yang artinya hidup dengan cara membayar hutang lama dan membuat hutang baru dari bulan ke bulan.
Satu hal yang masih membawa kesan indah tentang masa itu adalah apa yang diusahakan oleh orangtua saya setiap akhir tahun untuk menyenangkan anak-anak mereka, yaitu dengan berusaha memberikan hadiah Natal, seperti apa yang tentunya juga diusahakan oleh orangtua dimana saja. Memang, mendekati Natal kekuatiran saja sering timbul: jangan-jangan hadiah Natal itu tidak bakal datang karena tidak adanya dana. Tetapi, apa yang dapat saya lakukan? Saya hanya bisa berharap agar orangtua saya bisa memberi suatu hadiah, sambil berusaha menikmati apa yang sudah saya punyai. Puji Tuhan, seingat saya sekalipun keadaan memang payah saat itu, saya selalu mendapat hadiah Natal bagaimana pun kecilnya.
Jika seorang anak mengharapkan datangnya hadiah Natal dari orangtuanya, mungkin kita mengharapkan berkat dari Bapa kita yang di surga untuk tahun ini. Tetapi, keadaan yang kurang baik saat ini barangkali sudah membuat kita kecil hati: jangan-jangan kita dan keluarga kita justru akan mengalami berbagai masalah. Apa yang baik yang kita harapkan dari Tuhan mungkin tidak bakal terjadi, dan sebaliknya apa yang buruk dan menyedihkan mungkin tidak bisa kita hindari. Kita bisa tetap berharap akan datangnya pertolongan Tuhan, tetapi semua yang kita lihat sekarang ini seakan menguji iman kita. Akankah Tuhan menolong kita? Dapatkah Dia menolong kita?
Ayat di atas ditulis oleh Paulus kepada jemaat di Kolose. Paulus memperingatkan agar mereka tetap mempunyai hidup yang berakar di dalam Tuhan dan dibangun di atas Dia. Sekali pun keadaan bisa menjadi buruk, Paulus meminta mereka agar bertambah teguh dalam iman yang telah mereka terima, dan supaya hati mereka tetap penuh dengan dengan syukur. Iman jelas tidak dapat dipisahkan dari rasa syukur. Mengapa demikian?
Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat (Ibrani 11: 1). Tidaklah sulit bagi kita untuk mengerti bahwa jika kita bisa melihat dan menentukan apa yang akan terjadi dalam hidup kita, kita tidak perlu lagi meminta bimbingan dan pertolongan Tuhan. Jika kita selalu sukses dalam hidup kita, kita mungkin tidak lagi memerlukan atau percaya akan adanya Tuhan yang mahakuasa. Kita mungkin tidak perlu beriman kepadaNya. Pada pihak yang lain, sekalipun kita percaya adanya Tuhan, jika kita tidak dapat bersyukur atas kasihNya yang sudah dicurahkan dalam hidup kita, iman kita akan terasa pahit karena kita tidak dapat mengerti bahwa Tuhan juga mahakasih.
Firman Tuhan hari ini menyatakan bahwa kepada Tuhan yang mahakuasa dan mahakasih kita harus beriman. Kita harus percaya akan kemampuan dan kuasa Tuhan di dunia dan dalam alam semesta. Kita harus percaya bahwa Ia lebih besar dari segala masalah yang kita punyai, karena Ia bisa membuat apa saja terjadi sesuai dengan kehendakNya. Lebih dari itu, kita harus bersyukur bahwa Tuhan adalah mahakasih dan sudah mendatangkan AnakNya, Yesus Kristus, untuk menebus kita. Kita manusia berdosa yang seharusnya mati, sudah menerima hidup yang kekal karena kasihNya. Tidakkah hati kita harus dipenuhi dengan rasa syukur yang berlimpah setiap saat? Tuhan yang mahakasih adalah Tuhan yang mahakuasa yang mau dan bisa menolong kita dalam kesulitan apa pun. Tetaplah beriman, dan tetaplah bersyukur!
“Ya TUHAN, Engkaulah Allahku; aku mau meninggikan Engkau, mau menyanyikan syukur bagi namaMu; sebab dengan kesetiaan yang teguh Engkau telah melaksanakan rancanganMu yang ajaib yang telah ada sejak dahulu.” Yesaya 25: 1


Dalam suasana pandemi sekarang ini, komunikasi saya dengan sesama dosen dan juga dengan murid saya seratus persen dilakukan lewat internet dan telepon. Karena adanya PSBB, saya tidak dapat dan tidak ingin berbincang-bincang dengan orang lain muka dengan muka, kecuali dengan mereka yang serumah dengan saya. Dalam kehidupan bergereja, saya menghadiri kebaktian online dan mengikuti acara pemahaman Alkitab yang juga melalui dunia maya. Semua itu tentu rasanya kurang “sreg”; tetapi apa boleh buat karena tidak ada jalan lain, itulah yang bisa saya lakukan, bahkan dengan sanak yang tidak serumah.
Satu hal yang saya kurang sukai dengan berkomunikasi secara elektronik ialah tidak bisanya saya melakukan kontak mata dengan orang yang saya ajak bicara. Dengan tidak adanya kontak mata, saya sering tidak bisa menduga perasaan orang itu. Memang dalam hal ini benarlah pepatah “Dari mata turun ke hati”. Akibatnya, banyak hal yang saya ingin ucapkan harus disampaikan dengan lebih berhati-hati; dan apa yang saya pandang sulit untuk dikatakan tanpa berjumpa muka, akan saya tunda sampai saat dimana saya bisa bertemu dengan orang itu. Saya tentu berharap bahwa pandemi ini bisa diatasi secepatnya karena ada banyak orang, terutama mereka yang sudah lanjut usia, yang menderita karena tidak bisa berjumpa muka dengan muka dengan keluarga mereka.
Seperti komunikasi antar manusia, doa adalah percakapan antara Tuhan dengan umatNya. Setiap orang yang mempunyai hubungan yang intim dengan Tuhan tentu sering berdoa, bukan hanya dua atau tiga kali sehari, tetapi sesering mungkin, terutama jika ia rindu atau ingin untuk mencurahkan isi hatinya kepada Tuhan yang mengasihinya. Mereka yang tidak ingin berdoa mungkin saja terlalu nyaman hidupnya, terlalu sibuk, atau sedang terbenam dalam masalah hidup yang besar. Dalam suka memang banyak orang yang lupa untuk menyatakan rasa syukurnya kepada Tuhan. Bagi mereka yang hidupnya penuh dengan kesibukan, berdoa mudah untuk dikesampingkan. Dan bagi banyak orang berada dalam kesulitan, mengucapkan doa tidaklah mudah karena hati yang terluka atau penuh rasa duka.
Berdoa tidaklah mudah dilakukan karena kita tidak dapat melihat Tuhan. Berdoa hanya bisa dilakukan melalui iman. Apalagi, dalam keadaan sekarang ini pikiran kita mungkin terisi oleh berbagai macam kekuatiran. Dengan pikiran yang kusut, doa kita mungkin hanya berupa tangisan dan permohonan dan kurang berisi ucapan syukur kepada Tuhan. Dengan banyaknya tantangan, mungkin kita tidak ingin untuk berlama-lama berbincang dengan Tuhan. Dalam hal ini, iblis selalu mencari kesempatan untuk membuat kita makin malas untuk berdoa atau merasa kecewa kepada Tuhan. Untunglah, sebagai umat percaya kita sudah diberikan Roh Kudus untuk menegur kita jika jarang atau segan untuk berdoa.
Roh Kudus lah yang bisa meyakinkan kita bahwa Tuhan ada; bukan di sana, tetapi di sini bersama dengan kita. Roh Kudus juga membantu kita dalam berdoa jika kita tidak tahu bagaimana seharusnya berdoa, baik dalam suka maupun duka. Dalam menghadapi masalah yang besar, orang seringkali sulit untuk mencurahkan isi hatinya kepada Tuhan. Tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan.
Hari ini firman Tuhan mengingatkan kita bahwa ketika kita tidak ingin berdoa, itulah saat dimana kita harus berdoa. Jika kita tidak mau memohon sesuatu dari Tuhan, itulah tandanya bahwa kita sangat membutuhkan Dia. Dalam hal ini, apa yang harus kita lakukan hanyalah membiarkan Roh Kudus untuk memimpin kita. Jika Roh mengingatkan perlunya kita untuk dengan rendah hati berkomunikasi dengan Tuhan, biarlah kita boleh menurut bimbinganNya. Tuhan yang mahakasih ingin agar kita selalu dekat denganNya dalam setiap keadaan! 



